Gelombang Bisnis Tuan Galumbang


oleh : Eva Martha Rahayu

Satu dekade merintis bisnis, sukses besar kini ditangguknya. Bagaimana mantan karyawan Telkom ini sanggup meraup pendapatan Rp 1 triliun?

Anda yang pernah mengunjungi Singapura pasti tidak asing dengan Orchard Road. Namun, Anda tentu cuma bisa melintasi jalan protokol nan bersih, rapi dan indah tersebut. Benar, kan?

Nah, ini berbeda dari Galumbang Menak. Ia bisa mengacak-acak jalan yang menjadi ikon Singapura itu. Peristiwa langka tersebut terjadi ketika ia membangun kabel serat optik melalui proyek konsorsium PT Mora Telematika Indonesia (Moratelindo) dan Mora International Pte. Ltd. untuk salah satu kliennya yang berkantor di wilayah elite tersebut.

“Moratelindo adalah perusahaan Indonesia pertama yang berhasil memasang fiber optic di Orchard Road,” ujar Galumbang, pendiri sekaligus pemilik Moratelindo, ketika ditemui di kantornya, Graha 9, Menteng, Jakarta Pusat, dengan bangga. Hebatnya, bagi lulusan Jurusan Telekomunikasi Fakultas Teknik Elektro Universitas Indonesia ini, fiber optic dan tower microwave di negeri jiran itu adalah bagian kecil dari proyek prestisiusnya. Masih banyak proyek lain yang digarap Moratelindo, terutama di dalam negeri, dengan nilai yang besar. Apa saja?

Pria kelahiran Tarutung, 17 Januari 1966, ini menggumuli dunia teknologi informasi & telekomunikasi (ICT) sejak 18 tahun lalu. Bermula sebagai profesional, ia kemudian mendirikan Moratelindo pada 2000. Berbeda dari perusahaan yang bergelut di industri ICT yang kebanyakan dimiliki nonperorangan atau grup konglomerat, Moratelindo dibesut dan dibesarkannya seorang diri.

Perjalanan bisnis Galumbang penuh liku. Sebelum mendirikan Moratelindo, ia bekerja di Telkom pada 1992, di bagian riset & pengembangan. “Waktu itu gaji saya Rp 500 ribu/bulan, sangat lumayan untuk masa tersebut,” ujar pengagum Jusuf Kalla ini, mengenang.

Tahun 1996, ia mendarat di Grup Rajawali, di PT Excelcomindo Pratama (kini PT XL Axiata). “Saya banyak belajar di Grup Rajawali, terutama dalam membangun dan mengimplementasikan rencana pengembangan bisnis,” ujar Galumbang yang saat itu memegang posisi Manajer Senior Pengembangan Bisnis XL.

Setelah itu, tahun 2000 Galumbang diminta menjadi Direktur Operasional PT Wahana Lintas Sentral Telekomunikasindo (WLST), salah satu anak perusahaan Dana Pensiun Telkom. Perusahaan ini membidangi menara base transceiver station (BTS) dan SIM card. Kebetulan pada masa ini industri telekomunikasi sedang booming dan diyakini prospeknya bagus. Buktinya, ketika diterpa badai krisis moneter tahun 1998, bisnis telekomunikasi terus tumbuh.

Momen ciamik itu tidak disia-siakan Galumbang. Tahun 2000 sekaligus menjadi tonggak bersejarah bagi kehidupannya, karena ia berani terjun ke bisnis sembari tetap sebagai profesional WLST. Lalu, ia membuka jasa konsultan bidang telekomunikasi. Banyak perusahaan yang ingin berkonsultasi dalam pembuatan desain teknologi, business plan hingga yang terkait dengan regulasi, termasuk Telkom.

Galumbang merintis cikal bakal Moratelindo dari nol. Mulanya, tahun 2000, ia mendirikan PT Indonusa Mora Prakarsa (IMP), konsultan bidang regulasi, dengan klien antara lain Kantor Dirjen Pos & Telekomunikasi.

Menurut Galumbang, bisnis konsultan adalah surga dunia. Pendapatannya lebih dari lumayan, karyawan pun cukup 4-5 orang. Asyiknya lagi, dalam setahun cukup bekerja lima bulan dan bisa liburan ke luar negeri sampai satu bulan. “Memang sekali kerja jadi konsultan bisa tidak kenal waktu. Tapi, penghasilannya besar, karena satu kontrak bisa senilai US$ 1 juta. Secara pribadi, saya merasa jauh lebih enak menjadi konsultan, yang dijual otak dan konsep,” ujarnya sembari menikmati sebatang rokok yang terselip di antara jari-jari tangan kanannya.

Lantaran masih mempertahankan jabatan sebagai eksekutif WLST, otomatis Galumbang tidak bisa day to day menjalankan perusahaan sendiri. Maka, ia pun menggandeng rekannya, Teddy Sukirman, yang pernah bekerja di Astra. Sayang, Teddy tidak lama bergabung dengan Galumbang karena lebih suka membuka usaha sendiri.

Meski ditinggalkan Teddy, bisnis Galumbang terus maju. Tak puas hanya menawarkan jasa konsultan, ia akhirnya mendirikan perusahaan riil di bidang TI. Tepatnya, tahun 2002 ia mengibarkan bendera PT Indo Pratama Teleglobal (IPT), yang bergerak dalam bisnis data komunikasi. “Bisnis konsultan saya tinggalkan karena saya sudah menjadi pelaku bisnis dan klien tentu tidak mau bersaing,” ungkap Galumbang yang mengenakan kemeja putih lengan panjang ketika wawancara ini berlangsung.

Alasan didirikannya IPT adalah tingginya kebutuhan para konsultan untuk mengakses Internet dalam mencari data, sementara koneksinya sering lambat. Selain itu, jika konsultan atau masyarakat menelepon ke luar negeri, tarifnya sangat mahal. Maka, lahirlah bisnis Galumbang di bidang ISP dan VoIP, penyedia jasa telepon murah.

Bisnis ISP dan VoIP membutuhkan modal besar. Sebagai gambaran, untuk membuka jaringan VoIP di Bali dengan kapasitas 128 Kbps, biaya sewanya US$ 20 ribu/bulan. Padahal, ia menjual cuma US$ 100 untuk 1 Mbp.

Namun, ia tidak putus asa karena potensi telepon murah di Bali sangat cerah mengingat pulau itu menjadi tujuan wisata internasional. Modal investasi ISP sekitar Rp 10 miliar. Dana sebesar itu diperoleh dari pendapatan selama menjadi konsultan TI. Untuk target pasarnya, IPT membidik pasar korporat serta warung Internet di Jakarta dan Bali.

Tahun 2004 Galumbang berekspansi ke bisnis infrastruktur dengan membuat menara bersama. Bisnis menara ini di bawah payung PT Indonusa Mora Prakarsa (IMP). Sebetulnya, pionir bisnis ini adalah WLST, perusahaan tempatnya bekerja, tetapi WLST, sebagaimana dikemukakannya, tidak sanggup memenuhi banyaknya permintaan. “Mereka (WLST) kesulitan dana, padahal potensinya bagus. Maka, saya bikin IMP karena banyak purchase order,” ujarnya. Untuk membangun perusahaan menara ini, ia membutuhkan dana sekitar Rp 15 miliar. Sumber pendanaan 70% dari kredit bank dan 30% dari kantong pribadi. Saat itu biaya mendirikan satu menara Rp 500 juta, tetapi sekarang mencapai Rp 1 miliar lebih. Hebatnya, jumlah menara IMP yang awalnya 100 unit kini menjadi 400. Galumbang belum tertarik mendirikan menara di luar Jawa. “Klien kami mayoritas semua operator, wilayah penyebarannya di Jawa saja. Kami coba sampai di situ (400 menara) dulu. Biaya membangun tower makin mahal, sementara harga sewa makin turun,” imbuhnya.

Karena kemajuan bisnisnya makin pesat, Galumbang akhirnya memutuskan keluar dari WLST pada 2005. Ia makin total membesarkan perusahaan-perusahaan yang dikenal dengan Grup Moratelindo itu.

Bisnis jaringan mulai digarap tahun 2007. Proyek perdana yang ditangani Galumbang adalah membangun jaringan internasional Jakarta-Batam-Singapura melalui microwave dengan kapasitas 2xSTM-1. Tiga tahun kemudian, pihaknya baru membangun jaringan kabel fiber optic. “Kami sebetulnya terlambat masuk, yaitu tahun 2007,” ucapnya sembari mengungkapkan, pihaknya menggarap proyek ini sendiri. Berbeda dari Indosat yang bersinergi dengan perusahaan Singapura karena memiliki konsorsium. “Kami mendirikan Mora International Pte. Ltd. (Moratel Singapore), operator sekaligus pemegang lisensi jaringan kabel di Singapura,” kata ayah Reynahe (15 tahun) dan Cristo (8 tahun) ini .

Walaupun terlambat memasuki fiber optic, kualitas backbone yang dikerjakan Moratelindo cukup bagus. Hal itu diakui manajemen XL Axiata yang pernah menjadi klien Moratelindo. “Mutu backbone serat optiknya bagus, layanan pascajual dan service level agreement-nya pun memuaskan,” ujar Titus Dondi, VP Enterprise & Carrier PT XL Axiata, memuji kiprah Moratelindo.

Senada dengan bisnis ISP dan VoIP, usaha jaringan juga menguras dana. Umpamanya, untuk membangun jaringan fiber optic butuh modal sekitar US$ 12 juta. Galumbang mengaku menggunakan revenue dari jaringan microwave untuk pendanaan serat optik. Sebelumnya, microwave yang dibangun dengan investasi US$ 1 juta bisa menghasilkan pendapatan US$ 500 ribu/bulan.

Tak selamanya bisnis berjalan mulus. Usaha Galumbang pun tak luput dari batu sandungan. Kendala yang dihadapi adalah persaingan, baik bisnis jaringan maupun jasa penyewaan menara bersama yang belakangan berkembang dahsyat. Akibatnya, harga sewa pun turun. Lihat saja, dulu untuk membangun satu menara modalnya Rp 500 juta dan disewakan Rp 21 juta/bulan untuk dua operator. Jadi, dalam setahun total Rp 250 juta diraup, atau dua tahun balik modal. Sekarang? Untuk membangun satu menara modalnya Rp 1,2 miliar, tetapi tarif sewanya cuma Rp 15 juta/bulan.

Kendala lain terletak pada perkembangan teknologi yang berimbas positif bagi pelanggan: harga makin murah. Awalnya, kapasitas 1 Mega jaringan microwave bisa dijual seharga US$ 5 ribu/bulan. Tahun 2007, ketika Moratelindo membuat jaringan kabel laut, harganya bisa mencapai US$ 1.000/bulan. Mau tahu sekarang? 1 Mega cuma US$ 100/bulan. Ya, konsumen yang diuntungkan dengan kondisi ini. Contohnya, dulu tarif telepon interlokal dari Jakarta ke Surabaya mencapai Rp 4.500 per menit, sekarang paling mahal hanya Rp 45 per menit.

Bisnis Internet juga makin ketat. Hal ini diamini Adi Kusuma. “Kompetisinya makin berat. Banyak pemain baru muncul, tapi bukan dari penyelenggara Internet fixed line, sehingga harus berkompetisi dengan mobile operator,” ungkap Presiden Direktur PT Supra Primatama Nusantara (Biznet), kompetitor Moratelindo, itu. Sebagai informasi, pertumbuhan industri Internet di Indonesia diperkirakan 20%-30% per tahun.

“Bisnis ini banyak yang meniru, tetapi yang penting kami bertahan,” ujar Galumbang seperti menghibur diri. Kendati tidak terlalu agresif, Moratelindo tetap melakukan pengembangan. Ia berujar, para pemain baru sekarang mungkin bisa lari sekencang mungkin, tetapi bisnis ini seperti lari maraton. Mereka pada akhirnya akan kelelahan dan berhenti di satu titik tertentu. Moratelindo sekarang memperlambat larinya dan pada saatnya nanti akan berlari kembali meninggalkan para pesaingnya. Galumbang mencontohkan operator seluler yang sekarang jumlahnya 10 kelak akan semakin berkurang. Mereka akan berafiliasi, seperti yang sudah dilakukan Mobile 8 dan Smart Telecom. “Telekomunikasi bukan bisnis yang mudah. Harus sabar, tidak cukup dangan modal investasi yang besar, tetap butuh pengalaman dan keahlian,” Galumbang menandaskan.

Agar organisasi perusahaan lebih baik, Galumbang merestrukturisasinya. Terhitung tahun 2008, berdiri PT Gema Lintas Benua (GLB) dan Galumbang sebagai direktur utamanya. Sektor bisnis yang digeluti Moratelindo lebih banyak di telekomunikasi, sedangkan GLB melebarkan sayap ke bisnis lain, seperti properti dan bakal masuk sektor energi. “Ke depannya, kami tertarik untuk membidik sektor energi, pertambangan batu bara dan gas alam. Saat ini masih dalam tahap survei,” ungkap pehobi golf ini.

Ada beberapa anak usaha di bawah holding GLB. Pertama, Pokkandian Property, yang sedang menggarap apartemen di kawasan Cassablanca, Jakarta, dan town house Ciganjur Golf View dengan kapasitas 59 rumah. Kedua, Asia Ritel, distributor vocer XL. Ketiga, PT Ketrosden Triasmitra (KT), kontraktor proyek bawah laut. Saat ini selain menggarap proyek kabel bawah laut Batam-Dumai sepanjang 350 km, KT telah mengerjakan proyek-proyek dari Indosat, PT Gas Negara dan PT PGAS Telekomunikasi Nusantara. Terakhir, KT sedang menunggu penggarapan proyek senilai US$ 2,1 miliar dari perusahaan Malaysia berupa kabel listrik dan telekomunikasi sepanjang 700 km. “Kami sudah menang tender, tinggal menunggu izin dari Perdana Menteri Malaysia karena proyeknya besar,” kata Galumbang menegaskan.

Di bawah holding Moratelindo juga berdiri beberapa perusahaan. Pertama, Mora Advertising Content, yang membidangi creative content, seperti ring-back tone, wallpaper, serta menggarap beberapa konten dari operator seperti Flexi Muslim. “Industri ini sangat menarik dan butuh kreativitas tinggi, dari 10 konten yang di-develop, satu saja yang sukses sudah untung,” kata Galumbang. Kedua, PT Graha Telekomunikasi Indonesia, bergerak dalam pemenuhan

kebutuhan jaringan telekomunikasi gedung seperti telepon PABX, Internet dan Wi-Fi. “Moratelindo juga membuat sebuah layanan one stop solution untuk kebutuhan ritel, berupa paket Internet, TV kabel, telepon dan konten, yang diberi merek Quarto seharga Rp 350 ribu per paket,” Galumbang menambahkan. Sampai kini sudah dibangun 20 ribu sambungan dan ditargetkan 100 ribu sambungan hingga akhir 2010.

Galumbang mengklaim, tahun 2009 GLB berhasil membukukan pendapatan hingga Rp 1 triliun. Menyoal hal itu, menurutnya, apa yang telah diraih sampai saat ini membutuhkan kerja keras, keberanian, kepercayaan dan kesabaran. Ia pun pernah mengalami kegagalan di bisnis pengisian elpiji. Kepercayaan yang telah diberikan disia-siakan oleh rekannya, sehingga usaha itu gulung tikar. Persaingan di industri ICT yang sekarang gegap gempita dihadapinya dengan sabar dan tenang. Strategi Galumbang ini didukung oleh kliennya. “Ke depan, sebaiknya Moratelindo terus fokus pada lini bisnisnya,” ujar Titus menyarankan.

Tidak kalah pentingnya, sebaiknya Galumbang mendengarkan saran Dian Rachmawan, klien Moratelindo. “Meski bisnisnya tumbuh cepat dan besar, Galumbang harus tetap hati-hati. Jangan terlalu agresif,” kata Direktur Operasi dan Pengembangan Telkom International itu, mewanti-wanti. (***)

Eva Martha Rahayu & Moh. Husni Mubarak (sumber swa online)

About these ads

About wirasmada

Wirausaha Muda

Posted on 06/05/2011, in Teknologi. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,428 other followers

%d bloggers like this: