Prayitno, Raup Puluhan Juta dari Aneka Olahan Berbahan Dasar Lele


Setiap bagian tubuh ikan lele ternyata bisa diolah menjadi aneka pangan yang enak dan bergizi. Produk olahan ini diharapkan mampu meningkatkan citra ikan lele hingga setara nila dan ikan konsumsi harian lainnya. Pecel lele, siapa tak kenal? Harga ikan lele yang murah dibanding ikan konsumsi lainnya membuat pecel lele menjadi santapan populer yang mudah ditemui di warung-warung tenda pinggir jalan di seluruh Indonesia.

Namun, apa yang kami temui di pameran Adikriya Indonesia 2012 di Jakarta Convention Center (JCC) belum lama ini, sungguh berbeda. Dalam pameran tersebut, ikan lele tersaji dalam bentuk aneka camilan gurih dan renyah. Sebut saja keripik lele, keripik kulit lele, keripik sirip lele (crispy fin), dan abon lele dengan pilihan rasa pedas, manis atau gurih. Aneka olahan serba lele ini dapat ditemui di stan Usaha Kecil Menengah (UKM) bernama ”alang-alang 37”.

”Kami asalnya dari Desa Tegalrejo, Boyolali,” ujar Prayitno, sang pemilik stan yang juga pembudidaya lele di Boyolali, Jawa Tengah.

Menurut Prayitno, di Tegalrejo banyak terdapat tambak atau kolam ikan lele lantaran sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai pembudidaya lele. Tak heran, tahun 2006 desa ini dinamai Kampung Lele oleh Mardiyanto, gubernur Jawa Tengah saat itu.

Setahun kemudian, Kampung Lele juga mendapat kunjungan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Prayitno yang memulai budidaya lele sejak 1994 mengaku sulit menghilangkan citra lele sebagai ikan kotor yang senang hidup di air kotor atau berlumpur. Dengan citra itu, sulit bagi ikan berpatil ini untuk menembus konsumen pasar modern, restoran besar, apalagi hotel.

Karena itu, salah satu cara agar pamor lele bisa naik kelas adalah melalui produk olahan berbahan dasar ikan lele. ”Pameran seperti Adikriya ini sangat bermanfaat agar aneka produk olahan lele lebih dikenal luas, sehingga citra lele sebagai ikan kotor pelan-pelan hilang. Intinya, kami ingin supaya lele naik kelas seperti nila dan ikan lainnya,” tandasnya.

Menurut Prayitno, produk olahan lele lebih menguntungkan karena harganya lebih stabil dibanding harga lele segar yang naik-turun.

Pihaknya selaku produsen lele olahan juga turut membantu para pembudidaya lele dengan menampung lele-lele segar yang tidak bisa dijual ke agen lantaran ukurannya tidak sesuai untuk konsumsi. ”Lele segar yang ditujukan untuk konsumsi langsung, misalnya untuk pecel lele, biasanya ukurannya tertentu. Jadi, ikan lele yang ukurannya terlalu besar atau kecil kami tampung untuk diolah menjadi berbagai macam produk,” beber Prayitno yang bersama keluarga besarnya mengelola 600 kolam ikan lele.

Prayitno juga tidak sendirian dalam menjalankan roda bisnis ”alang-alang 37”. Sang istri, Tri Wahyuni, yang justru sejak awal membidani aneka produk olahan lele, sementara dirinya berfokus pada budi daya ikan lele. Tri Wahyuni mengungkapkan, awal mula ia menggeluti produksi makanan olahan serbalele pada Maret 2007. Produk perdananya adalah abon ikan lele. ”Kami ingin membuat abon yang tanpa meninggalkan citra ikan itu sendiri. Kami pelajari proses pembuatannya secara autodidak, lalu dipraktikkan. Jadilah abon lele dengan citarasa enak,” ujarnya.

Sukses dengan abon dari lele, Tri mengembangkan produknya dengan memanfaatkan semua bagian tubuh lele. Mulai daging, kulit, dan sirip lele yang diolah menjadi keripik renyah hingga duri lele yang dijadikan tepung ikan. Ada pula produk terbaru, yakni ikan lele asap. Selain penambahan produk, kemasan produk pun terus berkembang. Bermula dari kemasan plastik polos, meningkat menjadi plastik tebal yang disablon, lalu berkembang menjadi kemasan karton dan aluminium foil.

Persyaratan seperti nomor izin produksi, POM, label halal, hingga komposisi dan informasi nilai gizi juga tercantum lengkap di kemasan. ”Saya bersama kelompok perajin wanita yang menekuni usaha pengolahan ikan selama ini banyak mendapat penyuluhan dari dinas terkait setempat, termasuk soal pengemasan produk. Dari LIPI juga pernah melakukan uji kandungan gizi produk olahan lele kami,” tuturnya.

Perbaikan kemasan produk lele olahan itu juga sebagai upaya menarik konsumen menengah ke atas. Alhasil, jika awalnya Tri hanya memasarkan produknya dengan cara menitipkan di warung dan toko terdekat, kini produk olahan lele ”alang-alang 37” sudah bisa ditemui di supermarket modern seperti Carrefour dan Hypermart di berbagai kota, mal besar seperti Grand Indonesia di Jakarta, hingga toko oleh-oleh di Bandara Adisumarmo, Solo.

Dengan dibantu 12 karyawan, saat ini ”alang-alang 37” mampu memproduksi olahan lele hingga 1,6 ton per bulan. Proses produksi dilakukan di dua lokasi workshop, yakni di Desa Tegalrejo dan Ringinsari, Boyolali. Omzet pun perlahan meningkat menjadi sekitar Rp30 juta–40 juta per bulan. (*/Harian Seputar Indonesia)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/bisnis/makanan.html

About these ads

About wirasmada

Wirausaha Muda

Posted on 23/03/2012, in Kuliner. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Waw. . Inspiratif sekali kisah bapak prayitno ini.:-)
    semoga boyolali semakin terkenal dengan kampung lele nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,430 other followers

%d bloggers like this: