Author Archives: wirasmada

Budiono Darsono dan Kiprahnya Membangun Detik.com Media Online Pertama di Indonesia

JAKARTA: Transaksi pembelian Detik.com oleh Chairul Tanjung pada pertengahan  tahun ini mengejutkan pelaku bisnis media di negeri ini. Belum lama ini Bisnis menemui Budiono Darsono salah satu pendiri Detik.com untuk berbincang mengenai awal pendirian dan  transaksi penjualan tersebut. Sebagai catatan, Detik.com yang dibangun dengan modal awal Rp40 juta setelah 13 tahun  dilego senilai US$60 juta.

Siapa saja yang  semula mendirikan Detik.com ?

Ada 5 orang, kami anggap ada dua babak sebagai founder. Abdul Rahman, Budiono Darsono, Didi Nugrahadi, Yayan Sopyan, dan Calvin Lukmantara. Yang pertama empat nama pertama yang disebut. Didi dan Yayan pada 2002-2003 melepas semua sahamnya ke kami; ke Abdul, saya, dan Calvin. Tiger Investment kemudian masuk sekitar 2004-2005 dan saham kami terdilusi.

Bisa anda ceritakan sejarah detik.com ?

Pada akhir 1996, Agranet publishing Internet, membuatkan situs. Aku Yayan, Abdul, Didi, sebelum ada Detik menggunakan nama PT yaitu Agranet. Setelah kami bisa bikin situs sendiri, kami dapat klien yaitu Kompas.com.
Waktu itu Kompas.com ingin redesign, kami mengajukan tender dan menang. Lalu kami taruh server-server mereka di AS. Kontennya merupakan pindahan dari edisi cetak. Dalam proses perjalanan ini, kami enggak punya uang. Servernya kan gratis pada waktu itu, masih kecil kapasitasnya.

 

Uang pertama itu kami dapat dari Kompas.com. Kami gunakan uang itu sebagai modal. Lalu kami bilang ke Kompas, ini tidak salah, tapi akan lebih baik kalau versi online itu isinya berita terus menerus, jadi jangan hanya memindahkan edisi cetak saja.
Klien-klien kami yang media itu tidak ada yang melakukannya. Akhirnya, kami putuskan untuk membuat sendiri.
Saya sempat bersumpah untuk enggak jadi wartawan. Waktu itu Berita Buana dibreidel, Detik dibredel. Kapok saya. Ganti profesi jadi web designer. Akhirnya membuat untuk contoh.

 

Kami bermimpi macam-macam. Kami mulai dengan satu jurnalis pada 9 Juli 1998 yang sampai saat ini masih bekerja bersama Detik.com. Investasi awal Rp40 juta. Web designernya 40 juta itu digunakan untuk membelikan server Kompas. Kami deal dengan sebuah perusahaan AS, beli US$20.000 untuk server Kompas.

 

Tapi saya dapat server gratis. Kalau enggak ada Kompas, enggak ada Detik. Meskipun tidak secara langsung, rejekiku dari Kompas. Dalam berbagai seminar, aku ceritakan, yang menghidupi Detik itu ya dari Kompas.
Proses 10 tahun itu, aku, Abdul, dan Calvin sering terlibat diskusi. Memang ada pemikiran bahwa kami ini sudah mentok. Kalau diteruskan memang tetap tumbuh, tapi harusnya bisa lebih. Di Indonesia, potensinya besar, harusnya bisa lebih tinggi lagi.

Dalam perjalanan selama 13 tahun, kapan Anda dan teman-teman merasakan sebagai masa terberat?

Pada 2000-2002. Itu karena kan persepsi dotcom hancur-hancuran. Di dunia, tidak hanya Indonesia, bubble dotcom pecah. Persepsi kemudian hancur. Detik.com pada waktu itu sudah mendapatkan iklan yang lumayan. Tapi persepsi dengan industri yang hancur-hancuran ini kan berpengaruh ke detik.com. Pada 2001 itu, kami sempat PHK [pemutusan hubungan kerja] 27 orang karena harus menyelamatkan Detik.com.

 

Pada waktu itu saya sempat berantem dengan Abdul karena dia menganjurkan untuk mem-phk karyawan. Saya bantah. Dia bilang,  di luar negeri perusahaan rugi saja PHK karyawannya, kami juga harus melakukan hal yang sama. Dia bilang kita harus rasional, kalau hanya emosional, Detik.com bisa bubar. Kemudian, dengan berat hati akhirnya memberhentikan pegawai. Tapi justru karena keputusan Abdul, Detik.com selamat.

 

Sebanyak 27 orang diberhentikan dari jumlah karyawan waktu itu yang  masih 80 orang. Abdul itu rasional banget. Saya Indonesia banget, memikirkan banyak hal. Tapi keputusan Abdul betul. Kalau tidak mengambil langkah itu, mungkin sudah gulung tikar. Pada 2002-an kami sudah lebih baik, sudah bisa menghidupi diri sendiri, tapi saya dan Abdul tidak menerima gaji. Karyawan juga masih telat mendapatkan gaji. Pada 2004, kami sudah untung. Awalnya untung kecil, tapi lalu naik, naik terus.

 

Setelah dapat uang dari Tiger, kami gelindingkan dan hidup sendiri. Malah uangnya Tiger utuh. Saya lupa angkanya. Tiger itu sempat marah, karena uangnya idle. Jadi kami punya cash banyak. Tiger tidak menaruh perwakilan di sini; hanya menaruh uang saja. Mereka percaya sekali. Kami itu meski perusahaan begini, kami pakai akuntannya Price Water House. Tapi rapor selalu kami kirim kepada mereka. Setelah Tiger masuk, kami terus tumbuh. Mereka basisnya di New York, AS. Banyak menanamkan modal di perusahaan dotcom.

 

Mereka rutin berkomunikasi dengan kami. Mereka sepenuhnya menyerahkan kepada kami. Kadang-kadang memberi saran, ide-ide. Pernah juga mengajak kami untuk melihat investasi lain di dotcom yang mungkin dikembangkan di Indonesia.
Yang paling penting target tercapai dulu tahun ini. Pada 2012, harapannya tentu ide untuk mencapai lebih dari 100% bisa tercapai, meski saya bukan lagi pemilik. Kalau tidak, bisa sedih, kan dilepas untuk mencapai target itu.

Bagaimana anda membagi peran dengan pendiri yang lain ?

Abdul lebih ke bagian keuangan, bisnis kita kelola bareng-bareng, sedangkan saya mengurusi konten.Saya berteman dengan dia dari Tempo. Dia dulu dari Tempo ke Swa. Abdul itu kuncinya. Satu hari saya kan pengangguran begitu Tabloid Detik dibredel saya kan enggak ada pekerjaan. Lalu oleh Majalah Swa saya diminta melatih wartawannya. Abdul redaktur eksekutif di Swa. Kalau selesai mengajar, saya suka ngobrol bareng Abdul. Karena sebelumnya kami sudah dekat. Dia sudah mengerti Internet,  saya enggak mengerti waktu itu. Dia satu-satunya di redaksi Swa yang berlangganan Internet dengan biaya sendiri.

 

Pada waktu itu masih based on text, enggak ada gambarnya. Saya masih belum jelas bisnisnya bagaimana. Abdul sudah memiliki gambaran. Dari situ saya lalu bercerita kepada Didi, tetangga saya. Dulu dia pegawai Bank Exim. Lalu kami bertiga. Lalu muncul Yayan. Sofyan, yang pernah redaktur budaya Tabloid Detik yang juga menganggur. Yayan sebelumnya mencari pekerjaan untuk adiknya. Yayan akhirnya bergabung. Lahirlah PT Agranet. Satu keajaiban, keberuntungan, pada akhirnya saya harus bilang saya mesti berhenti. Akan jauh lebih bagus ketimbang diteruskan. Semakin cepat pensiun, lebih bagus, akan ada regenerasi, lebih segar.

Bisnis model detik.com seperti apa ?

Awal-awal itu bisnis model yang menjadi perhatian. Ketika mengelola ini, ketika saya turun dari mobil, ada satpam yang jemput untuk mengambil tas. Enggak boleh. Tidak boleh juga satpam bersikap terlalu hormat kalau saya datang. Lalu saya juga tidak memiliki ruangan. Semua orang bisa bertemu saya kapan saja. Saya membayangkan ini kan sejak awal saya  itu bukan siapa-siapa. Kalau Budi bukan siapa-siapa, enggak disapa, ya saya enggak apa-apa.
Saya tekankan juga ke anak-anak. Mereka enggak boleh ke Detik.com. Magang pun enggak boleh, cari tempat lain.

Siapa orang yang menginspirasi Anda ?

Aku belajar nulis itu dari Fikri Jufri. Roh-nya dari Goenawan Muhammad. Dua orang itu duduknya di seberang saya waktu saya di Tempo. Fikri itu guru saya langsung. Bersama Goenawan banyak berdiskusi macam-macam. Yang memberikan kesempatan itu Eros Djarot. Di Tabloid Detik, dilepas, dikasih duit, diminta mengurus penuh. Tiga orang ini sangat berpengaruh hingga hari ini.

Soal divestasi Detik.com, apakah semuanya dilepas ?

Semuanya dilepas. Kalau kemarin [Anda bertanya tetapi tidak dijawab] bukan karena ada perjanjian enggak boleh ngomong, tapi karena belum ada cerita [soal harga]. Jadi susah ngomong. Nanti bilang iya, tidak, bilang tidak, ternyata iya, kan repot. Mendingan diem.

Sebelum transaksi komposisi kepemilikannya detik.com seperti apa ?

Aku nggak mau cerita detail ya. PT-nya itu bernama Agranet, yang pemiliknya Budiono Darsono cs dan Tiger. Tiger ini dari Amerika Serikat sedangkan mayoritas Budiono cs. Yang diakuisisi dalam transaksi ini adalah 100% saham PT Agranet.

 

Negosiasi penjualan detik.com berlangsung 2 tahun, bisa diceritakan prosesnya ?

 

Pada tahap awal dulu itu tidak sepakat, ada perbedaan di harga.  Dua tahun itu mereka [CT Corp] gigih. Pak CT [Chairul Tanjung] menilai new media ini bisnis masa depan, akan tumbuh terus. Pertumbuhannya bagus namun kami sempat tidak sepakat pada harga. Tetapi setelah itu tidak berhenti. Setiap saat menanyakan. Mereka juga menaikkan harga akuisisi. Kami masih belum sepakat. Proses sampai menemukan kecocokan harga justru mendadak, kilat.

 

Prosesnya tergolong cepat. Kenaikan harga yang mereka tawarkan juga signifikan. Di samping soal harga, ada alasan kami harus melepas. Antara alasan dan harga itu nyambung. Alasannya yang pertama, kami sudah 13 tahun mengelola ini, saya dan Abdul Rahman.
CEO-nya itu Abdul Rahman, saya wakil CEO. Selama 13 tahun itu kan kami memiliki banyak obsesi. Memang kami setiap tahun keuntungan bisa tumbuh 100%, tetapi ini nominal yang jauh dari impian.

 

Tahun lalu, laba bersih kami kira-kira Rp20 miliar, tahun ini Insya Allah bisa Rp40 miliar. Ada pertumbuhan yang setiap tahun mencapai 100%. Tetapi bayangan kami, pertumbuhan itu masih jauh dari yang bisa kami capai. Karena kami tidak memiliki lebih banyak resources. Misalnya begini, kalau kami ingin investasi yang nilainya Rp30 miliar kan mikir. Kalau kami lakukan ada kemungkinan laba yang kami hasilkan habis. Banyak potensi besar yang tidak bisa kami ambil karena keterbatasan, tidak hanya finansial.

 

Kalau ingin bersinergi misalnya, ya kami tidak memiliki apa-apa. Detik.com kan hanya Detik.com tetapi tidak memiliki resources lainnya. Ini menjadi obsesi bagi kami. Satu hal yang bisa kami lakukan adalah detik.com akan dapat tumbuh besar kalau diambil oleh grup yang tepat. Grup yang memiliki sumber daya dan finansial. Selama proses pemikiran untuk melepas detik.com yang tertarik bukan hanya Pak CT. Ada banyak pihak, baik dari pemain lokal maupun dari luar negeri,  ada 3 hingga 4 pihak.

 
Kalau pada era 2003-2004 pemain dari luar yang datang. Mereka umumnya menaruh uang saja. Sejak tiga tahun lalu, pemain lokal juga mulai tertarik. Pada proses ini kami mulai memilih siapa pihak pembeli yang tepat. Kami bertemu langsung dengan CT Corp. Tidak melalui pihak ketiga.

Peralihan kepemilikan ini apa menjamin semua rencana Detik.com akan selaras dengan yang keinginan CT Corp ?

Mereka itu memiliki obsesi yang sama. Jadi obsesi saya itu, saya boleh sebut 99% sama dengan CT Corp. Idenya sama. Karena kita punya ide dan gagasan yang sama untuk mengambil potensi yang besar itu maka posisi Abdul Rahman akan tetap dipertahankan setelah perubahan kepemilikan. Saya juga tetap dipertahankan sebagai direktur untuk konten dan pemimpin redaksi. Kami sedang menyusun komposisi direksi. Tapi saya sudah diminta secara resmi. Abdul juga demikian.

Faktor apa lagi yang akhirnya membuat akuisisi ini terlaksana?

Saya dan Abdul kan bisa dibilang manajemen amatiranlah. Aslinya kan kemampuannya menulis. Kami tahu 13 tahun ini tumbuh dan bagus, tapi harusnya sebulan ini bukan Rp15 miliar, harusnya angkanya sudah Rp100 miliar.

 

Kenapa tidak bisa ?

 

Kami sendiri terobsesi. Jadi justru kalau ingin membawa Detik.com lebih besar, harus dilepas kepada yang lebih mampu. Jatah saya hanya sampai di sini. Kami tahu dirilah.

Bagaimana transaksi penjualan Detik.com bisa dituntaskan ?

Kebanyakan enggak formal, bukan suasana yang formal. Bukan dalam kaitan negosiasi. Matching justru di layer-layer informal. Kalau formal itu justru enggak ketemu. Kami sering bertukar ide menggunakan social media, twitter misalnya. Dari situ chemistry itu muncul. Justru tidak terucap. Baru setelah ini, oke, baru terucap. Tapi banyak yang tidak terucap. Selama 2-3 hari kita sudah teken. Ini mengalir dan sangat cepat. Dari pihak sini maupun Pak CT.

Ada perasaan menyesal ?

Jangan pernah menyesali apa yang kita lakukan.
Obsesi setelah ini apa ?

Saya hanya ingin membuka warung kopi. Saya tidak memiliki pemikiran untuk membuat bisnis serupa Detik dan mengulang kesuksesannya. Mustahil. Detik.com itu lahir, sukses, karena ada kondisi-kondisi tertentu. Momentum itu tidak dapat diulang. Misalnya, detik.com sebagai pionir. Kalau saya buat lagi kan bukan pionir tapi pengikut. Saya tidak pernah bermimpi mengulangi sukses pada hal yang sama.

Ide warung kopi dari mana ?

Saya dengan Hana, istri saya, sudah lama berpikir, kami harus punya aktivitas yang kami senang. Saya pengen punya warung, yang saya ikut bekerja di situ. Enggak hanya saya jadi bos. Harus melayani sendiri. Warung kopi. Sekarang kami belajar. Saya dan istri pergi berkeliling untuk mencari konsep. Saya bertemu istri saya di Surabaya Post, dia wartawan juga. Menikah 1989. Dengan dua anak.

Anda dulu sempat bermain di koran siang….

Banyak orang keliru menganggap kami ingin bikin koran. Tapi itu adalah biaya promosi. Biar tidak hanya sekedar promosi, kami ingin menghasilkan sensasi. Kami bikin koran, terbit dua kali, siang dan sore. Itu kalau akal sehat aja jontor jalanin begitu. Anggarannya Rp300 juta untuk 3 bulan. Setiap hari terbit. Edisi siang 10.000 eksemplar, edisi sore 6.000 eksemplar.

Kami sebar seolah-olah menggunakan agen. Pada waktu itu kami menjembatani pembaca untuk mengakses dotcom. Situasinya kan beda. Mereka harus dikasih koran untuk membawa ke konten dotcom. Selama ini kan kami juga tidak anti cetak. Setelah 3 bulan, kami putuskan untuk berhenti.

Kalau berbicara dukungan finansial, ada banyak opsi lain seperti IPO dan obligasi yang bisa diambil. Kenapa ini tidak dijadikan pilihan ?

Kami sudah memikirkan pilihan-pilihan itu, tapi enggak lah. Kembali lagi kami memikirkan bahwa kami ini manajemen amatir. Beruntung 13 tahun bisa seperti sekarang ini. Kami tahu, sebagai pemilik kami sampai di sini. Kami mendapatkan pihak yang datang dari chemistry yang sama, pandangan yang sama, dan sepakat perihal pricing.

Soal karyawan pascaakuisisi bagaimana?

Semua karyawan sudah kami ajak berbicara. Pak CT itu kan datang untuk mencari resources baru, bahkan mereka tekankan usahakan tidak ada satu pun yang keluar. Jumlah karyawan sekitar 320 orang ini resources baru. Marketing dan sales juga demikian. Apalagi bisnis dotcom itu berbeda, misalnya dengan televisi dan media cetak, skill-nya khusus.

Uang dari penjualan detik.com ini mau diinvestasikan kemana ?

[Sampai sekarang] Saya masih bekerja

 

Sampai kapan ?

Sampai Pak CT butuh saya. Tapi regenerasi harus terjadi, semakin cepat, semakin bagus. Enggak bagus orang terlalu lama di sini. 13 tahun jadi pemimpin redaksi, menurut saya, itu ngawur. Ha-ha-ha.

 

Apa rencana setelah pensiun ?

Saya mau pensiun buka warung kopi. Ketika Berita Buana dibredel pada 1990. Saya ke Parung di kompleks baru jualan beras dan lain-lain. Kira-kira 7 bulan, datang Ali, sekretaris Eros Djarot minta tolong untuk menjalankan Tabloid Detik. Berangkatlah saya bantu dia. Setahun kemudian, dibredel bareng Tempo dan Editor.

Rencana bisnis Detik.com seperti apa setelah transaksi penjualan ?

 

Kami masih menggunakan business plan yang ada, yang sudah dibuat sebelum akuisisi, hingga akhir tahun ini. Setelah itu, baru akan ketahuan, berapa suntikan dana yang dibutuhkan. Secara arus kas, kami masih sangat bagus. Tahun ini kami anggarkan sekitar Rp20 miliar, kebanyakan untuk teknologi informasi karena kami banyak mengembangkan aplikasi. Kami juga menambah kapasitas server dan sebagainya.

Apa yang sudah dan belum sampai Desember ?

Proyek baru banyak, kami tetap dalam schedule yang sama. Seperti mengubah desain tepat pada 9 Juli. Detikkios misalnya, khusus untuk iPad. Kami mengundang semua penerbit untuk berjualan di detikkios. Semacam pengecer, dengan pembagian Apple 30%, detik.com 30%, penerbit 40%. Ini sudah di-approve oleh Apple.

Ini sederhana sekali, pemilik konten hanya mengirimkan file PDF. Platform sementara ini di iPad. Nanti kami juga akan melihat Android dan RIM. Tapi yang paling siap kan iPad. Detikkios ini dikembangkan sendiri. Kami punya jagoan-jagoan. Kami juga mengembangkan aplikasi di luar detik.com tetapi sebenarnya ini sinergi. Kami misalnya telah meluncurkan Makan Di Mana.

Lalu kami luncurkan Masak Apa, di beragam platform; BlackBerry, Android, iPad. Aplikasi ada foto, resep. Misalnya orang di supermarket, dia bisa melihat bahan-bahan apa yang diperlukan untuk membuat masakan. Sesampainya di rumah, dia juga bisa melihat lagi cara memasaknya. Kalau aplikasi Makan Di Mana akan membantu pengguna mencari tempat makan. Misalnya dia ada di satu tempat, tinggal gunakan aplikasi ini, nanti akan tampak hasil tempat-tempat makan di sekitar itu. Kami juga memiliki Detikdeal. Ini yang sepertinya membutuhkan resources besar karena kami serius di commerce.

Masa depan Detik.com akan bergantung pada layanan apa ?

Ke depan itu ada dua hal yang perlu dilihat di new media. Pertama adalah tetap web, yang kedua mobile berbasis aplikasi. Karena itu, detik.com harus main di aplikasi. Kami juga mengembangkan aplikasi alamatku. Itu sudah dalam proses. Aplikasi di mana orang mencari alamat. Ini akan digabung dengan peta. Model bisnisnya akan ada misalnya iklan. Sekarang layanan sejenis tersedia dengan nama bukukuning.com. Nanti akan dikembangkan di dalam aplikasi alamatku.

 

Bagaimana mengenai rencana sinergi dengan media di bawah CT Corp [Ada Trans 7 dan Trans TV] ?

Kami sedang membahas. Belum bisa secara detail diceritakan. Kami juga akan membahas sinergi seperti apa. Ada beberapa contoh grup besar yang mencoba menyinergikan beragam konten tapi gagal. Ini akan menjadi pengalaman dan memberikan pelajaran. Tim ini solid. Tidak ada resistensi. Saya percaya tidak. Saya tekankan ini yang berubah hanya kepemilikan. Ke keluarga semua juga begitu. Ke istri dan anak-anak.

Proses kaderisasi yang Anda persiapkan seperti apa ?

Bagus, selama 2 tahun terakhir ini, sebetulnya saya lebih seperti pemimpin redaksi korporat. Di level wakil pemimpin redaksi ada dua orang. Mereka yang menjalankan operasional, meski saya tetap mengecek. Mereka sudah jagoan operasional, naluri sudah jalan. Naluri untuk melihat konten mana yang menarik dan perlu dikembangkan. Kalau jaman dulu kan enggak punya alat untuk mendeteksi, sekarang kan bisa real time untuk mengetahui mana yang sedang banyak dibaca. Skenario apa yang dipersiapkan untuk Detik.com? Saya enggak tahu karena saya bukan lagi pemiliknya. Saya yakin Pak CT memiliki skenario yang terbaik untuk Detik.com. Ada atau pun tidak ada saya dan Abdul.

Di Indonesia perbedaannya apa?

Di luar, seperti Spanyol dan Inggris, online advertising mengalahkan TV, apalagi cetak. Kenapa? Karena industrinya jalan, satu sama lain. Pemahaman juga terjadi. Di sini masih susah. Misalnya di biro iklannya belum paham, kliennya juga. Seiring dengan pertumbuhan ini, harusnya industri ini bergerak. Nah pergerakan ini bisa terjadi kalau betul-betul digali. Kalau di luar negeri, pemilik media cetak berani menutup media cetaknya dan pindah ke online. Berani mereka mengambil keputusan seperti itu.

 

Di sini? Enggak berani. Aku sudah bilang, cetak boleh mati, tapi media enggak akan mati. Di sini banyak yang mengerjakannya setengah-setengah. Nanti terlambat bisa enggak kebagian. Makanya kita lihat banyak yang gagal masuk ke online karena ragu-ragu. Kami pernah menerima kunjungan dari salah satu koran tertua di Denmark. Mereka datang ke Detik.com. Mendengar Detik.com sebagai media online pertama di dunia.

 

Mana sih media yang pertama murni menjalankan rule media online. Mereka belajar, 3 bulan kemudian, koran itu menutup edisi cetaknya, pindah ke online. Mereka mendapatkan iklan besar-besaran karena perubahan ini. Karena ketika koran itu tutup, pembaca mau enggak mau kan ke versi onlinenya. Saya memiliki keyakinan yang besar karena ada contohnya.(ratna.ariyanti@bisnis.co.id/munir.haikal@bisnis.co.id)

(M. Munir Haikal, Ratna Ariyanti)

sumber: http://www.bisnis.com/articles/budiono-saya-tak-pernah-menyesal

Sempat Jatuh Bangun Mencoba Berbagai Bisnis, Kini Santi Mia Sukses Berbisnis Jati

Keluar dari ruangan penjurian, matanya berbinar-binar dan bibirnya melafalkan Alhamdulilah  mengungkapkan rasa syukurnya pada sang Khalik atas keberhasilan tim juri melahirkan juara baru di ranah entrepreneurship wanita di negara ini.

Tahun lalu, Santi Mia Sipan, 45,  masih duduk di bangku finalis Ernst & Young Entrepreneurial Winning Women 2010. Namun tahun ini dia sudah di posisi sebagai juri yang  ikut menentukan wanita-wanita untuk mendapatkan penghargaan bergengsi dari organisasi internasional  itu.

Presdir PT Jaty Arthamas ini dalam kesehariannya memang cepat naik kelas dari seorang seketaris konglomerat menjadi pengusaha agroforesty dan menjadi satu-satunya wanita di Indonesia yang menggeluti bisnis kayu jati dari hulu hingga hilir, mulai dari pembibitan jati unggulan Solomon hingga bisnis baru yang tengah disiapkannya, supermarket jati.

“Tim juri tahun ini memilih empat orang pemenang dari berbagai bidang dan mereka adalah Anastassia Florine Limasnax (PT E-Motion Entertainment), Anne Avantie (Perancang busana pemilik label Anne Avantie), Donda Lucia Yuniar (PT Anugraha Weing Caranadwaya & PT Deva-Datta, dan Susanti Alie (PT Bersama Olah Boga),” jelasnya.

Santi mengaku lega tugasnya menjadi juri dari ajang penghargaan yang digelar untuk mendukung kiprah pengusaha wanita Indonesia ini sudah selesai dan keberhasilan empat pemenang penghargaan Ernst & Young Entrepreneurial Woman 2011 juga berangkat dari ide brilian yang diwujudkan secara realistis.

“Mereka semua adalah pengusaha yang merangkak dulu, memulai dari bisnis kecil-kecilan, hingga akhirnya memiliki usaha dengan omzet di atas Rp 10 miliar per tahun. Mereka juga sukses dalam berbisnis tanpa pinjaman di bank. Perempuan cenderung tidak berani meminjam uang kalau tidak bisa bayar,” jelasnya.

Menurut Santi mereka yang menang penghargaan ini adalah yang bisa melakukan terobosan, inovatif, bisnis yang digelutinya masih orisinal, berpikir ke depan dan berani namun tidak nekat. Para pemenang adalah wanita gigih dan berhasil mengembangkan bisnis secara signifikan dengan sistem yang benar dan cerdas.

Selain mampu menciptakan lapangan pekerjaan, mereka juga memberikan manfaat pada sebanyak mungkin orang melalui bisnis yang dibangunnya. Karakter pengusaha yang dapat memberikan dampak luas bagi keluarga, kerabat dan masyarakat memang menjadi keunggulan wanita, tandasnya.

Santi yang usahanya masuk lima besar bisnis kayu jati di negara ini mengatakan bidang yang digelutinya ini memungkinkannya menjalankan personal social responsibility (PSR), CSR maupun membantu pemerintah dalam hal melakukan penghijauan. Dari 250 ha kebun jati yang dikelolanya sebagai hutan rakyat, maka pihaknya juga sekaligus memberikan bimbingan dan memberdayakan para petani.

“Hutan jati milik rakyat kini lebih dominan memenuhi kebutuhan industri perkayuan dan permintaan akan kayu jati tidak pernah mati sepanjang tahun. Bahkan untuk kayu yang masih usia muda sudah banyak permintaannya.Berdasarkan data statistik selama 25 tahun terakhir, harga pohon jati meningkat dua kali lipat dalam 5 tahun,” kata Santi.

Kebutuhan kayu jati di Indonesia baru terpenuhi 30%, sedangkan mulai 2014 penebangan kayu alam akan dihentikan total. Menghadapi kondisi ini, masyarakat dapat menyubsidi kebutuhan kayu dengan menyiapkan hutan tanaman mandiri. Kelak, kayu yang dihasilkan dari hutan tanaman mandiri bisa digunakan untuk membantu pemasokan pada industri lokal maupun global.

Tak heran setelah paham kini banyak keluarga, kerabat, klien yang beralih ke bisnis kebun jati. Sebagai gambaran, ujarnya, untuk satu hektare tanah dan 1.333 bibit jati termasuk biaya perawatan 3 bulan pertama membutuhkan dana sekitar Rp400 juta. Namun hasil investasi bruto setelah 15 tahun penanaman nilainya mencapai sekitar Rp4 miliar.

“Kalau tanam sekarang, hasilnya 50% dinikmati dan ditebang sudah menghasilkan Rp439 juta lebih, lalu 25% lainnya di panen saat usia 10-12 tahun menghasilkan Rp823,3 juta dan sisa 25% lagi jika dipanen saat berusia 15 tahun menghasilkan Rp2,6 miliar karena harga per batang pohon jati di usia ini sudah Rp8 juta/pohon,” ungkapnya.

Tak heran kalau penawaran investasi kebun Jaty Arthamas di Jonggol, sekitar 60 km dari pusat kota Jakarta kini menjadi incaran para profesional muda karena mereka bisa investasi dengan luas tanah 1000 meter saja dengan harga investasi awal sekitar Rp55 juta.

Dia tidak menampik banyak profesional muda yang selama ini bermain investasi di saham dan apartemen kini justru beralih ke bisnis kebun jati. Kesadaran untuk berbisnis, menjaga lingkungan, melakukan pemberdayaan masyarakat dan berkontribusi pada gerakan global mengatasi perubahan iklim menjadi alasan mereka untuk bergabung.

Tentu saja Santi yang kini sudah menjadi orangtua tunggal bagi kedua anaknya, Adamas Harris Zain dan Annisa Al Sakina sangat bangga dengan fenomena di kalangan para profesional muda itu dan membimbing mereka layaknya sebagai start-up bisnis di bidang agroforestry.

Menularkan virus entrepreneurship kini menjadi bagian hidupnya sehari-hari baik di kebun, di rumah maupun diberagam aktivitas sosialnya.Santi tak segan-segan menjadi motivator dan kema hirannya berkomunikasi baik dalam bahasa daerah, bahasa asing seperti Inggris maupun Perancis memudahkannya menyampaikan pandangan-pandangannya.

Dia mengaku sejak menjadi pemenang E&Y Entrepreneurial Winning Woman tahun lalu banyak memenuhi permintaan sebagai pembicara seminar dan menjadi mentor. Perusahaannya juga menyabet penghargaan PGA Best Motivator of the Year 2010 dan sebuah penghargaan internasional lainnya juga akan diberikan pada wanita cantik ini dalam waktu dekat.

Prestasi yang dicapainya ini buah hasil kerja keras dan  pantang menyerah, jujur, serta keinginan berbagi dengan sesama umat manusia. Keputusannya meninggalkan kenyamanan karier sebagai assistant general manager di perusahaan konglomerat selama 11 tahun dan memberdayakan dirinya secara mandiri melalui wirausaha dinilainya sebagai pilihan terbaik dari yang Sang Pencipta untuk dirinya maupun keluarganya.

Memilih jati sebagai fokus bisnis tak datang tiba-tiba. Sebelumnya, Santi jatuh bangun dengan berbagai bisnis. Bergabung dalam bisnis MLM pada 2002 dan menuai sukses darinya pernah dialami Santi. Merintis bisnis rental kendaraan juga dilakoninya. Namun pada bisnis jati, Santi memantapkan hati dan seperti yang dikatakannya sejak awal mendirikan bisnis, berwirausaha baginya adalah juga berbagi.

Santi memimpin ratusan petani untuk merawat lahan jati dan selain menerima gaji bulanan mereka  juga berhak mendapatkan dana sosial yang dikumpulkannya dari para investor pula.  Untuk keberlangsungan bisnisnya, Santi juga merekrut mandor untuk memastikan lahan investor yang dikelolanya aman terjaga disamping memperbaiki infrastruktur jalan di sekitar kebun.

“Sekarang kalau melihat hamparan kebun dan sungai-sungai yang mengalir rasanya lokasi kami juga bisa dikembangkan untuk desa wisata kebun jati dimana wisatawan bisa datang menginap dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas pada masyarakat setempat,” katanya. Nampaknya apa yang diungkapkannya bukan sekedar angan-angan. Bukan tidak mungkin tahun depan Santi juga sibuk dengan bisnis homestay dan outbound di tengah hutan jati ? (faa) (Hilda Sabri Sulistiyo)

sumber: http://www.bisnis.com/articles/santi-mia-sipan-perempuan-sukses-di-bidang-perkayuan

Oktavia Erdian, Sosok Wanita Tangguh Dibalik Kesuksesan Terrant Books Publishing

“Kenapa, ya, tidak ada novel remaja karya penulis Indonesia?” batin ibu dua anak ini, saat melihat toko buku yang dipenuhi novel remaja terjemahan. Padahal, Via yakin Indonesia memiliki banyak penulis bagus yang mampu menghasilkan karya yang tak kalah bermutu.
Pada saat yang sama, Rachmania, adik Aziz, kesulitan memasarkan novel pertamanya, Eiffel I’m in Love. “Waktu itu Nia masih menerbitkan sendiri bukunya, cuma berbentuk fotokopi pula,” ujar Via. Belakangan ia mengerti, penerbit besar belum memercayai penulis muda Indonesia. Ia menduga, masih banyak Nia lain di luar sana, yang mampu menghasilkan novel bermutu, tapi kesulitan menembus penerbit besar.

Melihat prospek bisnis yang menjanjikan, ia dan suaminya sepakat merintis usaha penerbitan buku. Karena pernah bekerja di penerbitan buku, Aziz sudah memiliki modal pengetahuan seluk-beluk bisnis tentang dunia itu. Karya adik ipar jadi embrio Terrant Books. Gaya penuturan Rachmania yang witty dan ceritanya yang sangat remaja, membuat Via pede menggelontorkan dana Rp15 juta untuk mencetak 3.000 eksemplar dan promosi.
Kenekatannya tak sia-sia. Dalam hitungan 3 minggu, Eiffel I’m in Love cetak ulang berkali-kali dan sekarang telah laku sebanyak 50.000 copy. Popularitas itu meningkat setelah novel ini diangkat ke layar lebar. “Setelah itu,  banyak penulis remaja yang mengirimkan naskahnya ke Terrant,” ujarnya, senang.

Kini, bisnis penerbitan novel milik Via telah beromzet Rp25 juta per bulan. Angka didapat dari hasil penjualan buku yang sudah dikurangi biaya produksi, distribusi, promosi, dan royalti penulis sebesar 10%-15%. Meski kini bisnis penerbitan sedang turun dan buku memiliki pesaing tangguh, seperti e-book dan media online, Terrant tetap bertahan. “Berdasarkan hasil riset saya, remaja tetap memilih buku konvensional dibandingkan e-book, karena lebih mudah dibawa dan dibaca di mana saja,” jelasnya.

Namun, Via tak bisa memungkiri, masih ada buku-bukunya yang retur. “Setelah 3 bulan, sisa buku yang tak laku diretur. Biasanya sekitar 100 – 200. Kami menyiasatinya dengan membuat promo paket, misalnya 3 buku dijual Rp50.000,” ia menjelaskan strateginya. Cara itu mampu menutup ongkos produksi, yang cetakan pertamanya sekitar 1.500-3.000 copy per judul.

Sukses Eiffel I’m in Love memacu semangat pasangan suami-istri ini. Mereka terus mencari karya menarik yang bisa mengekor sukses Nia. “Sejak itu memang banyak naskah masuk. Sayangnya, mereka terlalu terinspirasi Eiffel I’m in Love. Karakter remaja dalam mayoritas naskah persis sama dengan Tita dan Adit (tokoh dalam Eiffel I’m in Love),” ungkapnya, kecewa.

Akhirnya ia melakukan aksi jemput bola dengan mengajak penulis-penulis ternama menulis novel untuk Terrant Books. Salah satunya, Monty Tiwa dengan Dunia Mereka. Strategi dan pemilihan penulis ini cukup tepat. Dunia Mereka mendapat apresiasi pembaca, hingga dibuat filmnya juga.

Tak hanya novel terbitannya yang diangkat ke layar lebar, Via juga mencoba menurunkan film ke atas kertas. Setelah menonton film 30 Hari Mencari Cinta karya Upi, Via ingin sekali membaca versi bukunya. Ia lalu meminta Upi menulis untuknya. “Tapi, saya tidak mau ceritanya sama seperti di film. Saya ingin tahu awal persahabatan Keke, Gwen, dan Olin, serta kelanjutan kisah mereka,” tegasnya, agar versi novelnya memiliki daya tarik dan nilai jual tersendiri.

Selain bekerja sama dengan penulis ternama, Via juga rajin mencari penulis baru di dunia maya. Menurut pengalamannya, banyak penulis berbakat siap diasah yang bersembunyi di sana. “Kan banyak remaja yang punya blog. Ternyata, selain curhat, mereka suka menulis cerita di blog,” kisahnya. Bahkan, Via sering terinspirasi oleh curhat blogger remaja di blog-nya. “Saya jadi tahu dunia remaja, problemnya, dan tren di kalangan mereka,” katanya.

Dengan cara itu juga Via berkenalan dengan Cassandra Niki, mahasiswi asal Yogyakarta yang rajin nge-blog dengan nama Casseybunn. “Cassandra sudah terkenal di antara blogger remaja. Waktu itu dia menulis cerita serial di blog-nya. Saat saya ajak dia untuk menulis buku, dia antusias sekali. Awalnya, dia tidak pede, tapi saya terus menyemangati karena saya tahu dia mampu,” ujarnya. Berkat bimbingan dan arahan dari Via, tahun 2010 lalu terbitlah buku perdana Cassandra, Letters, Stories and Dreams.

Meski menggunakan strategi jemput bola, Terrant Books terbuka menerima naskah novel. Ada tim naskah yang khusus menyeleksi naskah kiriman penulis. Setelah melewati seleksi mereka, barulah Via menyeleksi lagi. Salah satu triknya menyeleksi adalah hanya membaca beberapa halaman pertama. “Kalau setelah 5 halaman saya masih tertarik membaca, berarti naskah tersebut bagus,” ujarnya.

Via senang, buku terbitan perdananya menjadi trendsetter genre novel teenlit. “Setelah Eiffel I’m in Love, penerbit lain mulai berani menerbitkan novel remaja asli Indonesia,” kisahnya. Melihat tingkat persaingan yang mulai tinggi, Via mulai putar otak menciptakan diferensiasi.

Setelah menyelami lebih jauh tren di kalangan remaja, ia melihat popularitas manga (komik Jepang). Bahkan, manga mulai membangkitkan minat menggambar komik di kalangan remaja. Ide menerbitkan komik pun muncul. “Sepertinya menarik, ya, kalau ada komik karya komikus Indonesia dengan cerita dan karakter tokoh yang sangat Indonesia,” ujarnya, berkhayal.

Ia lalu menggandeng komikus Indonesia, seperti Beng Rahadian, Bayu Indie, dan Oyas-Iput-Ipot. Tahun 2005, Terrant Comic menerbitkan 3 komik, yaitu Selamat Pagi Urbaz (Beng Rahadian), Split (Bayu Indie), dan 1001 Jagoan: Factory Outlet Boys (Oyas-Iput-Ipot). Tapi, intuisi inovasi Via kali ini meleset. Animo pasar terhadap komik bergaya Indonesia masih sangat rendah. “Setelah 4 bulan ada di toko buku, komik-komik itu tidak laku dan hampir semuanya kembali,” tutur Via, yang merugi sekitar Rp30 juta.

Kegagalan itu menjadi pelajaran berharga baginya. Memang, novel terbitannya tak selalu menjadi bestseller. Tapi, baru kali itu bukunya kembali sebanyak itu. “Kesalahan saya adalah tidak melakukan analisis dan tes pasar dengan lebih teliti. Indonesia memiliki banyak komikus berbakat, namun kita belum punya pembaca yang mau menerima komik Indonesia. Penggemar komik kita masih manga-minded,” kata Via.

“Dalam bisnis penerbitan buku, selain karya yang bagus, distribusi dan promosi memegang peranan penting,” cetus Via. Yang sempat membuatnya cemas adalah perlakuan ‘anak tiri’ terhadap buku karya penulis dan penerbit baru. “Wah, buku saya pasti ditaruh di rak yang tak strategis. Kalau begitu caranya, bagaimana pengunjung toko buku bisa ngeh dengan Eiffel I’m in Love,” Via menceritakan kekhawatirannya saat itu.
Alumnus D-3 Hubungan Masyarakat, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, ini memanfaatkan strategi promosi dan media relations yang diperolehnya semasa kuliah. “Pokoknya, saya keukeuh ingin membuat acara launching buku Rachmania. Manajemen toko buku sempat menertawakan saya. Kata mereka, ‘Launching penulis besar seperti Dewi Lestari aja sepi, Mbak,’” kata Via, menirukan.

Untunglah, Via tetap melakukan launching dan mengundang banyak media massa. Sejak itu, nama Terrant dikenal publik sebagai penerbit khusus novel remaja. “Hubungan kami dengan media massa juga baik, karena Terrant rajin mengadakan kerja sama dengan mereka,” ujarnya, senang. Via menyadari, media massa punya peran besar dalam menyebarkan informasi dan memengaruhi pembaca. Publikasi media menjadi cara promosi jitu. Karena itu, Terrant Books selalu memprioritaskan peluncuran novel terbitannya. “Penulis tak perlu pusing, Terrant yang mengadakan dan membiayai,” katanya.

Terrant terus merancang program promosi bekerja sama dengan media, seperti lomba penulisan cerpen, serta acara diskusi film dan buku. “Terrant ingin membangkitkan semangat menulis anak muda, karena penulis sudah menjadi profesi yang menjanjikan,” jelasnya.

Itu sebabnya, Terrant Books punya program pelatihan penulisan bagi siswa SMP, SMA, dan mahasiswa. “Pelatihannya gratis. Terrant bekerja sama dengan banyak sekolah dan pelatihan itu diadakan di sekolah mereka,” ujar Via, yang juga menjual buku-buku terbitannya di koperasi sekolah. Program itu juga merupakan strategi Terrant Books dalam membina hubungan dengan pembacanya (Terrant menyebut pembacanya besties).

Hubungan baik dengan penulis juga menjadi prioritas. Karena itu, Via tidak menentukan pakem baku dalam gaya penulisan dan penggunaan bahasa. “Karena target pembacanya remaja, gaya bahasanya juga harus seperti bahasa sehari-hari remaja. Penulis kami juga bebas menulis sesuai gaya masing-masing,” ungkap Via, yang juga siap jadi teman curhat penulisnya kapan saja.

Menjadi sahabat dan mentor yang baik, kira-kira begitulah peran yang Via jalani. Bahkan, ketika ada produser film yang berminat membuat film berdasarkan novel terbitannya, Via siap mendampingi penulisnya. “Mayoritas penulis Terrant masih muda dan belum paham urusan kontrak. Tim legal Terrant siap jadi konsultan hukum mereka,” katanya, tersenyum.

Seperti nama Terrant yang dalam bahasa Prancis berarti underground movement, Terrant ingin memiliki hubungan bebas birokrasi dengan penulis dan pembacanya. “Gaya Terrant adalah indie publisher yang tidak banyak aturan. Tapi, untuk urusan kualitas isi novel, kami sangat serius,” tegasnya.

Karena itu, Via hanya menerbitkan 1 novel setiap bulan. “Kami ingin bisa memberikan yang terbaik bagi penulis kami,” ujarnya, bangga. Mimpi Via berikutnya? “Tahun 2012, saya ingin membuat toko buku sendiri agar Terrant dan penulis bisa lebih dekat dengan besties,” tuturnya, penuh harap.

(EKA JANUWATI
FOTO: M. HASRIEL)

sumber: http://wanitawirausaha.femina.co.id/WebForm/contentDetail.aspx?MC=001&SMC=006&AR=58

Irene Holle, Menyulap Sampah Menjadi Omzet Puluhan Juta Perbulan

Tak pernah terpikir oleh Irene akan menjadi pemilik dan pendiri PT. Recycle Indonesia Utama Mandiri (Recyclindo), perusahaan yang menyediakan solusi menciptakan lingkungan hidup yang bersih. Recyclindo menerapkan sistem pengelolaan sampah berbasis zero waste management. “Kalaupun mimpi punya bisnis, saya ingin berbisnis kuliner atau restoran, karena bidang saya F&B,” ujar wanita kelahiran 29 April 1974 ini.

Lantas, apa yang membuatnya tertarik pada masalah sampah hingga mau nyemplung dan menjadikannya sebagai ladang bisnis? Sejak lama ia prihatin melihat perilaku masyarakat yang cenderung cuek pada sampah. Kepeduliannya ini kemudian diwujudkan dengan membeli sampah dari staf housekeeping hotel, berupa kertas, botol, dan kaleng aluminium, untuk kemudian dijual lagi.

Irene lalu mulai belajar cara mengolah sampah dengan mengambil kursus 3 hari intensif mengenai zero waste management di BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). “Dari kursus itu, wawasan saya makin terbuka tentang apa yang bisa saya lakukan pada sampah.”

Saat mengambil kursus itu, ada pengalaman yang membekas, antara lain kunjungan ke tempat pembuangan sampah Bantar Gebang, Bekasi, dan rumah jagal DKI di Cakung. Di Bantar Gebang, Irene tertegun melihat berbukit-bukit sampah. “Saya sempat ‘mabuk’, mungkin karena tidak terbiasa mencium bau sampah. Apalagi, saya alergi terhadap debu,” kenangnya.

Lain lagi pengalaman yang ia peroleh saat mendatangi rumah jagal DKI, tempat pemotongan hewan. Di dekat situ ada tempat pengomposan dari bahan sisa daging. “Ya, ampun, baunya tajam dan menyengat! Setelah kunjungan itu, saya langsung jatuh sakit. Tapi, dalam 3 hari itu banyak sekali pelajaran berharga yang saya peroleh,” tutur Irene.
Usahanya berjalan setahap demi setahap. Dari awalnya berburu sampah kering, naik truk dengan membawa tas kresek ke mana-mana, sampai akhirnya ia punya langganan pemasok. Ia mendapat kontrak untuk mengangkut sampah non-organik. Sisanya masih
dibuang ke tempat pembuangan milik Pemda.

Ia tak segan merogoh kocek Rp100 jutaan sebagai modal awal, antara lain untuk membeli truk second-hand dan menyewa lahan sebagai gudang. “Mengolah sampah organik itu tidak mudah. Untuk itu, kami perlu lahan lebih luas. Kalau salah, nanti bisa-bisa dikomplain tetangga,” ujar Irene, yang mengambil lokasi di kawasan Cinangka, Sawangan, Depok.

Irene mulai mencari lahan baru di daerah Parung, Bogor. Ia ingin lebih memaksimalkan pengolahan sampah. Sejak akhir 2009, di tempat barunya itu ia mulai mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos. “Learning by doing. Kami hire konsultan untuk memastikan proses yang kami lakukan ini sudah benar. Misalnya, kompoisi dan kelelembapannya. Kompos harus selalu basah, supaya cepat busuk.”

Semua Sampah Bernilai

Untuk jasa pengangkutan sampah, Irene memperkirakan omzetnya sekitar Rp15 juta per bulan. Belum lagi, pemasukan dari penjualan sampah daur ulang yang beratnya beratus-ratus kg, menghasilkan lebih dari Rp15 juta. Untuk pengolahan sampah organik, kisaran omzet per bulan bisa sekitar Rp5 juta. Banyaknya sampah berupa sisa makanan dari hotel dan resto membuat Irene terpikir untuk membuat peternakan ikan lele di Parung. Sisa makanan itu bisa dimanfaatkan sebagai pakan ikan. Omzet dari kolam lele kira-kira Rp10 juta. “Total pemasukan dalam sebulan paling sedikit Rp45 juta.”

Irene menerangkan, belakangan ia dipercaya perusahaan besar untuk menangani sampah mereka. Perusahaan itu tidak ingin sampahnya terbuang begitu saja. “Mulai banyak perusahaan yang sudah menerapkan konsep ramah lingkungan kemudian memilih kami. Mereka tidak mau sampahnya tidak diapa-apain. Hal itu rupanya sudah menjadi bagian dari komitmen CSR mereka,” tutur Irene.

Untuk sampah daur ulang, seperti kantong plastik, kertas, kardus, dan botol kaca, banyak sekali pabrik yang memerlukannya. Antara lain, pabrik di Tangerang, Parung, Cikarang. “Yang jelas, semua sampah bisa diolah lagi atau dijadikan bentuk lain. Alumunium dan kaleng bisa langsung dilebur, digunting, atau diolah menjadi handycraft. Botol gelas bisa dipakai lagi. Yang sudah tidak bisa terpakai, diolah oleh pabrik keramik. Kardus dan kertas diolah lagi oleh pabrik kertas. Botol soft drink yang terbuat dari bahan jenis polyethylene terephthalate, bisa diolah menjadi bahan kain yang stretch,” terang Irene.

Sampah yang datang dikumpulkan di Parung, lalu diseleksi. Irene mengelompokkan sampah ke dalam beberapa kategori. Sampah plastik saja masih dibagi menjadi beberapa jenis, misalnya ada plastik yang berupa kemasan botol sampo, kemasan botol air mineral, kemasan soft drink, dan plastik hitam. Selain itu, dipisahkan mana yang bisa didaur ulang untuk dijual lagi. Sampah organik bisa dibuat pupuk kompos dan pupuk cair. Sampah dari sisa makanan untuk pakan ikan dan hewan ternak. Residunya, yang tidak bisa diapa-apakan, baru dibakar di oven pembakaran. “Yang tersisa Benar-benar tinggal debu,” kata Irene, senang.

Masih Banyak Peluang Lain

Di sisi lain, ada yang berpikir, sampah bernilai tinggi sehingga tidak perlu membayar jasa pelayananan. “Kan tetap ada biaya operasional. Untuk pengangkutannya saja perlu biaya. Mengangkut dan mengolah sampah adalah dua hal berbeda,” ujar lulusan D4 MTU (Manajemen Transportasi Udara) Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi Trisakti, ini.

Dulu Irene yang mencari-cari pabrik untuk dipasok sampah daur ulang, sekarang klien yang mencarinya. Kendati belum ada rencana untuk membesarkan bisnisnya, Irene masih terus memikirkan cara memberdayakan sampah, agar bisa digunakan kembali. Belum lama, Irene melakukan uji coba dengan menanam cabai dan papaya jenis california. Ia sedang mengeksplorasi bisnis nursery untuk memanfaatkan pupuk organiknya.

Sebenarnya, Irene melihat, masih banyak peluang lain yang bisa dijajaki dari limbah sampah. Misalnya, diolah menjadi kerajinan tangan, aksesori, barang fashion, dan manik-manik kaca. Ia akan menyambut positif, jika ada pihak yang ingin bekerja sama dalam pengolahan limbah untuk kerajinan.

“Kini saya sedang ingin mempelajari cara membuat pelet ikan dari sisa makanan. Saya dengar di Sumatra Barat ada orang yang mendapat penghargaan, karena sukses mengolah sampah pasar menjadi bahan makanan ikan. Saya sedang mencari infonya,” tutur Irene, bersemangat.

Irene punya kebiasaan unik setiap kali traveling ke luar negeri. Bukannya memotret tempat-tempat indah, ia mengamati tempat sampah dan pengolahan sampah di tiap kota yang disambanginya. Ia mengaku takjub dengan masalah manajemen persampahan di luar negeri. Kata Irene, tempat sampah di mana-mana sudah dipisah sesuai jenis. Di Australia, tempat sampah ditandai dengan warna kuning, biru, dan merah. Perusahaan yang menangani pengangkutan dan pengolahan sampah biasanya berdasarkan tender. Di sana, pemerintah punya plan pengolahan sampah dan menerapkan zero waste management.

Di Singapura, ada pusat daur ulang sampah kertas. “Sampah adalah proyek sangat mahal. Tapi, kalau kita tahu cara mengolahnya, bisa menjadi sumber pendapatan,” kata Irene, menirukan ucapan warga Singapura pengusaha distributor tempat sampah.
Irene bercerita Singapura juga punya tempat pembuangan sampah dengan teknologi maju. Sampah sudah dipisah-pisah, residunya langsung masuk ke tempat pembakaran sampah. Di Dubai, setiap beberapa unit rumah dan vila disediakan kontainer sampah tertutup. Truk sampah datang setiap hari pada saat gelap.

Irene merasa miris, jika bicara soal sampah di negeri ini. “Kesadaran masyarakat untuk tertib buang sampah pada tempatnya masih rendah. Dari pihak pemerintah, belum ada keseriusan dalam menangani sampah. Ada daerah yang warganya terpaksa patungan menyewa truk sampah, karena sampah mereka tak kunjung diangkut. Di pusat pembuangan sampah, limbah hanya dibiarkan tanpa diolah,” kata Irene, menyayangkan.

Agar tercipta lingkungan yang bersih, ia berharap pemerintah bersedia menyubsidi tempat-tempat sampah, di setiap beberapa titik disediakan tempat sampah besar atau kontainer. “Kalau melihat tumpukan sampah, saya geregetan ingin mengangkut. Tapi, kalau saya angkut hari ini, biasanya besok akan ada lagi. Hari ini ada satu, besoknya ada lagi yang melempar,” tutur Irene, yang akan menyambut baik para pemain baru di bisnis ini.

(Ficky Yusrini
Foto: Jennifer Antoinette)

sumber: http://wanitawirausaha.femina.co.id/WebForm/contentDetail.aspx?MC=001&SMC=006&AR=53

Kisah Sukses Usaha Ciputra dan Visi Entrepreneurshipnya Untuk Bangsa

Nama Ciputra hampir tidak bisa dilepas dari tema entrepreneurship. Hampir di segala kesempatan pemilik dan pendiri Grup Ciputra yang memiliki nama besar di industri properti itu tak henti-hentinya mengkampanyekan pengembangan kewirausahaan di negeri ini, sehingga virus entrepreneurship menyebar ke mana-mana.

Tentu dia tidak hanya berbicara, tetapi telah memberikan contoh dalam mengembangkan bisnisnya. Untuk lebih mengenal sepak terjang dalam mengembangkan bisnis, berikut petikan wawancaranya.

 

Bagaimana awal mula Anda mengembangkan bisnis di bidang properti?

 

Saya bersyukur bahwa orang tua saya pengusaha. Dia mempunyai toko kelontong dan sejak kecil saya diajarkan untuk menjadi pengusaha seperti dia. Saya lahir di ruko, saya bangun, saya buka mata lihat barang dagangan. Saya merangkak pertama saya pegang barang dagangan. Saya disuruh bekerja pertama untuk menjual barang dan sebagai pedagang.

 

Tiba-tiba ayah saya meninggal ketika saya berumur 12 tahun dan saat itu saya bertekad teruskan sekolah untuk menjadi pengusaha. Tak lama saya ingin menjadi seorang arsitek, lalu saya ke ITB Bandung. Di sana saya berubah pikiran. Saya bilang seorang arsitek mencari pekerjaan, mencari projek, yang telah diciptakan orang lain. Dan saya putuskan saya menjadi developer.

 

Apa yang mendasari untuk fokus ke bisnis properti?

 

Pertama saya merasa mempunyai bakat dan passion mencintai dunia properti. Oleh karena itu, saya mengambil arsitek. Arsitek itu merupakan satu alat bagi orang yang akan fokus sebagai developer. Itu sebabnya saya senang membikin rancangan dan merealisir rancangan tersebut menjadi kenyataan. Dari sekadar passion kemudian menjadi mimpi, sampai mewujudkan mimpi tersebut. Namun selain bidang properti, saya juga mengembangkan spesialisasi membangun kota-kota baru. Melalui tiga grup properti, lebih daripada 50 kota kecil maupun besar telah dibangun di Indonesia maupun luar negeri, baik saya sendiri maupun dengan teman-teman yang lain.

 

Pada krisis tahun 1997/1998 perusahaan Anda terkena dampak krisis. Bagaimana Anda bisa bangkit lagi?

 

Itu namanya enterpreneur yang baik, tentu harus punya integritas yang baik. Ya, kami membangun manajemen yang terbuka dan jujur. Semua utang kami yang begitu banyak kan dipakai untuk perusahaan, bukan untuk yang lain. Ya kita terangkan kepada bank, kemudian kita dialog, berunding, bagaimana agar bank bisa kasih discount dan kasih waktu yang lebih baik, angsur selama sekian tahun.

 

Nah itu integritas. Lalu jangan lupa minta berkah Tuhan, kita hidup dengan firman Tuhan menurut agama masing-masing. Tuhan ingin memberkati kehidupan sesuai dengan kehendak Dia. Makanya utamakan kejujuran, jangan melakukan penipuan, jangan melakukan dusta, jangan hidup percabulan, itu hindari semua.

 

Apa yang paling Anda hargai dari kepribadian manusia?

 

Integritasnya. Karena [integritas] itulah kunci segala-galanya. Sekali Anda melakukan penipuan akan tersebar kemana-mana, berita yang jelek disebarkan 10 kali, berita yang baik hanya lima kali. Itu menyia-nyiakan berkat Tuhan dan kejelekan itu akan tersebar kemana-mana. Anda tahu ucapan maupun lisan itu janji dan janji harus dipenuhi. Proyek kami misalnya, ada yang 10 tahun wajib kami selesaikan. Janji itu harus dipenuhi karena janji adalah utang.

 

Sebagai orang yang terlibat di properti, apa pendapat Anda soal kemacetan kota Jakarta?

 

Kalau Jakarta menjadi kota entrepreneur, kota properti, maka properti akan berkembang dengan pesat. Sehingga pembayaran pajak tanah dan bangunan itu dapat naik sekian kali lipat. Uang itu dipakai untuk membangun infrastruktur. Nah kota kita ini jauh dari kota properti, dari mana income [untuk membangun infrastruktur]? Coba, nah pertama musti ada income, baru kita dapat membangun. Mudah saja kalau ada income, misalnya kita bangun subway, hanya melalui subway dan elevated road bisa mengatasi Jakarta. Baik yang di atas maupun dalam tanah, nah itu kan perlu uang. Jadikan Jakarta itu [kota properti], undang investor, pembeli dari luar negeri. Pembeli dari luar negeri dia akan akan bawa uang. Dia akan kan bayar pajak.

 

Banyak orang yang mempersalahkan developer, termasuk Anda, karena salah satu penyebab banjir?

 

Pada waktu saya memulai perusahaan real estate ini, waktu itu kami disalahkan sebagai makelar tanah. Kepada pejabat, kami dapat buktikan bahwa real estate itu berguna, kita bukan makelar tanah, itu merupakan tantangan.

 

Kita buktikan berapa banyak pajak kita bayar, kalau kita menjadi kota properti, maka pendapatan akan naik 10 kali lipat dari kegiatan properti. Income ini bisa dipakai untuk membangun subway, kalau ada income dalam waktu lima tahun sudah bisa bangun subway. Sekarang dengan Rp1 triliun per km tanpa income, sampai kiamat tidak akan bisa [bangun subway]. Jakarta itu butuh subway 100 km. Maka kita semua ini harus menjadi entrepreneur. Entrepreneur itu macam-macam, sebut saja government, academician, pebisnis, society harus menjadi enterpreneur. Ini semua belum ke sana.

 

Masalah pembebasan tanah mempersulit pembangunan infrastruktur. Anda punya ide mengenai masalah ini?

 

Ikut saja seperti Malaysia. Pembebasan tanah itu sudah ada pembangunan, sudah ada peraturan pemerintah daerah, tapi tidak ada follow up. Bayangkan, hanya karena beberapa orang saja, seluruh daerah kacau balau.

 

Anda membangun banyak proyek di luar negeri padahal di dalam negeri masih banyak kebutuhan investasi. Tak khawatir dituduh kurang nasionalis?

 

Pemikiran itu yang harus ditinggalkan. Belum lama ini ada pertemuan Asean di Vietnam. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sempat melihat projek kami, yaitu Ciputra International Project. Rombongan itu bangga. Saya senang mereka bangga, mereka sebagian tinggal di Hotel Horizon yang kami bangun. Mereka juga bangga. Nah ketika kita mengundang orang luar negeri datang, apa karena mereka itu tidak nasionalis? Orang Malaysia investasi di sini, apakah mereka itu tidak nasionalis, atau orang Singapura, apakah mereka tidak nasionalis. Mereka cari laba dari sini, lalu laba dari sini bawa ke mana? Kan dibawa ke negeri masing-masing?

 

Nah, kenapa orang lebih suka dirikan perusahaan Singapura daripada di Indonesia, kita tinjau diri sendiri? Kenapa orang tidak suka, kenapa orang suka ke sana? Kalau kita tidak maju, tinjau diri kita sendiri dulu. Terus terang, kalau saya tidak maju, 90% saya salahkan diri saya sendiri.

 

Atau ada hambatan berbisnis di Indonesia?

 

Mindset, karakter, budaya. Itu watak, mental. Bukan karena penyakit kantong (kekurangan uang). Penyakit kantong juga akibat mental.

 

Anda juga punyak banyak proyek di Indonesia Timur?

 

Kami sekarang sedang survei di Kupang, Ambon sudah, sudah survei di Irian Jaya. Mungkin Ciputra Group tahun ini membangun lagi di beberapa kota, dikembangkan di Bali, Semarang, Jambi, Cirebon, Madiun, Irian Jaya. Juga ada di Kendari.

 

Sekarang ini Jakarta sudah jenuh, traffic sudah macet begini, kemudian di daerah ada otonomi. Jadi kami ke luar Jawa, luar kota Jakarta. Sedangkan luar negeri izin-izin lebih mudah, kita ke Singapura, Vietnam, Kamboja, India, RRC. Jadikan kebanggaan, masa dia [investor asing] cari uang di sini kita tidak cari uang ke sana. Saya kan punya rumah di sini, semua anak-anak itu tinggal di rumah sini, kalau ada pendapatan kan kita bawa ke sini.

 

Ada anggapan developer besar kurang konsen kepada perumahan rakyat?

 

Nah, saya kan punya Citra Indah dan Citra Raya. Satu di Bogor, satu di Tangerang. Tiap tahun saya bangun lebih dari 4.000 rumah yang harganya Rp55 juta. Siapa developer besar yang bangun sebanyak itu? Itu kan tidak kelihatan, kalau kita bangun di luar kota Jakarta. Tapi kita tidak masuk rusunami, kenapa? Karena peraturannya antardepartemen tidak sinkron. Lihat yang masuk rusunami sekarang jadi apa? Itu menuai masalah. Dia bikin, tapi jadi masalah. Lebih baik kita konsentrasi yang aturannya lebih gampang. Pengusaha untuk cari laba kan? Kalau bangun hanya memanen persoalan, kenapa Anda masuk?

 

Apakah itu artinya rumah murah adalah tugas pemerintah?

 

Memang tugas pemerintah. Makanya saya ketemu dengan Real Estat Indonesia pecahkan masalah tersebut. Hanya satu cara memecahkan dan ampuh sekali, membentuk dana perumahan. Pemerintah memberikan subsidi Rp3,5 triliun. Itu kan cuma kumur-kumur. Bagus, tapi lebih bagus lagi, kalau Rp100 triliun dana yang di Jamsostek itu sebagian buat subsidi perumahan. Oleh karena itu, harus dibentuk dana khusus buat perumahan yang dikumpulkan dari yang bersangkutan maupun dari perusahaan.

 

Ambil contoh di Singapura, 85% perumahan murah itu dibangun oleh dana perumahan yang dibentuk pemerintah. Modalnya dari karyawan dan dari perusahaan. Kalau itu dilakukan, kita punya itu kira-kira Rp25 triliun per tahun. RRC punya sistem yang sama, mereka berhasil, Moskow pun sudah punya sistem itu, kecuali kita.

 

Berarti kita paling terlambat?

 

Ya. Mental enterpreneur tidak ada.

 

Pengembang dituding lebih senang membangun perumahan mewah. Pendapat Anda?

 

Makanya begini, biarlah swasta membangun rumah mewah, artinya dia bayar pajak, pajak itu dipakai untuk membangun rumah yang murah. Kalau pengusaha membangun perumahan murah dari mana uangnya?

 

Ada juga anggapan banyak pengusaha sukses karena proyek pemerintah?

 

Itu nggak salah. Pengusaha kita harus dididik mencari peluang, proyek pemerintah itu mereka mencari peluang. Kita cipta peluang. Saya membangun Ancol untuk mencipta peluang, Jadi penting mencipta peluang.

 

Proyek Ancol disebut-sebut sebagian dibiayai dari uang judi?

 

Satu sen pun nggak ada.

 

Kalau ada judi di Indonesia seperti di Genting Island?

 

Genting Island kan judinya tidak masuk ke pulau itu, judinya gak masuk kepada pemerintah. Di Santosa, sudah berapa miliar dolar yang masuk ke situ? Ancol justru bayar dividen dan pajak. Saya sendiri bayar pajak dari 3 grup lebih dari Rp1 triliun per tahun dan mempekerjakan 5 ribu karyawan secara langsung dan secara tidak langsung menghidupi sekian ratus ribu manusia.

 

Anda kan berbisnis di banyak daerah, banyak yang bilang otonomi daerah malah menghambat bisnis di daerah itu?

 

Otonomi daerah saya setuju. Cuma sekarang dalam waktu peralihan. Dan akan muncul beberapa daerah yang maju dan daerah yang tidak maju akan mengambil contoh. Saya kira memang ini masih bayi, masih taman kanak-kanak. Nanti lima sampai sepuluh tahun lagi, lebih bagus lagi.

 

Ke depan, Ciputra tetap di properti atau mengincar bisnis lain?

 

Side business (bisnis sampingan) aja, seperti misalnya di komputer. Saya pemilik, pemegang saham terbesar di Metrodata. Ya itulah, tapi kita, anak-anak juga mulai melirik-lirik side business. Mudah-mudahan satu dua tahun akan muncul

 

Bisnis baru?

 

Begini, kita ingin bisnis spesial seperti McDonald. Dia kan ada di seluruh dunia, betul gak? Lupakan pertanyaan soal bisnis baru. Kita mau kembangkan properti ke seluruh dunia. Kami sedang mengerjakan proyek di Polandia, di RRC itu ratusan kota yang bisa dibangun, Malaysia pun kita merambah ke kota-kota kecil sekarang.

 

Jadi lebih go global?

 

Dan go global itu saja sudah bagus. Anda tahu perusahaan terbesar di Singapura itu apa? Orang terkaya Singapura siapa? Semua dari properti. Orang terkaya di Hong Kong siapa? Orang Jepang propertinya. Cuma kita kan durian runtuh, durian alam. Tujuan kita kan bukan menjadi terkaya, tujuan kita supaya bermanfaat buat masyarakat.

 

Anda selalu mengatakan bahwa membangun bukan pertama-tama dengan modal uang. Bagimana itu bisa dilakukan?

 

Modalnya enterpreneurship. Menurut saya, istilah enterpreneurship adalah kemampuan mengubah kotoran dan sampah menjadi emas. Jadi kalau Anda mempunyai kemampuan tersebut, tanah apapun serahkan kepada Anda, Anda bisa membuat menjadi emas. Dan kemampuan itu yang harus ada. Jadi kita bukan mencari peluang, kita mencipta peluang. Nah itu yang kami lakukan.

 

Bagaimana cara menjadi enterpreneur?

 

Kita harus melewati 3 front. Front pertama dari taman kanak-kanak sampai sekolah menengah, kemudian front kedua universitas, ketiga publik. Walikota Palembang, misalnya, akan mulai dari taman kanak-kanak sampai SMA, kemudian kami sudah mulai dengan Ditjen Dikti untuk perguruan tinggi. Sekarang [pelatihan bagi] umum juga sudah mulai dengan lembaga-lembaga yang ada.

 

Kami sudah melatih 2.000 orang dosen, ribuan guru-guru. Ini harus menjadi gerakan nasional. Jadikan abad ini abad enterpreneur buat Indonesia, anggap abad kebangkitan bangsa sudah abad yang lalu, sekarang abad enterpreneur. Saya bisa berkembang, karena saya enterpreneur. Yang lain, sudahlah. Umur saya 79 tahun, tinggal mengingat masa-masa lalu saja.

 

Apakah di usia begini masih terlibat langsung di bisnis?

 

Saya sebagai inspirator, sebagai motivator, dan sebagai mentor. Nah itu fungsi saya. Anak-anak di Ciputra Group, saya bagi tiga divisi. Sehingga mereka masing-masing memegang satu divisi. Suami istri memegang satu divisi, sedangkan pemilik sama semua. Demikian juga di Jaya Group dan Metropolitan Group mempunyai pemegang saham masing-masing sehingga mencegah conflict of interest.

 

Apakah ada satu dari putera Anda yang dipersiapkan menjadi putera mahkota?

 

Semua adalah putra mahkota dan mereka sekarang sudah memimpin divisi masing-masing dan ternyata berhasil sekali. Ada satu yang misalnya konsentrasi di Jakarta, satu di Jawa Timur, satu di luar negeri, jadi masing-masing mempunyai konsentrasi.

 

Apakah membedakan anak laki-laki dan anak perempuan ?

 

Saya tidak membedakan. Dan memang wanita itu karena punya suami yang aktif, dia menjadi semi housewife. Jadi saya punya anak lelaki yang full time, sementara anak perempuan saya sudah ada suami yang full time, sehingga tidak begitu aktif.

 

Bagaimana mereka dididik sehingga sekarang bisa memimpin unit-unit bisnis di grup?

 

Itu pertanyaan yang penting sekali. Dari mana mereka menjadi enterpreneur? Itu seperti anaknya Lulu (Lulu Terianto, Dirut PT Jurnalindo Aksara Grafika—yang ikut mendampingi wawancara)– dari kecil sudah diajak ke mana-mana. Tiap kali ambil keputusan, kita terangkan kepada dia. Misalnya kalau kita pergi ke toko, kita terangkan toko itu jual barang apa? Toko mana yang Anda suka? Kalau Anda buka toko, toko apa yang Anda mau pilih? Wah Anda lihat pemilik toko itu siapa pemiliknya.

 

Pada hari Sabtu-Minggu, saya ajak anak-anak misalnya ke Ancol. Biar mereka tahu tujuan saya membangun Ancol. Saya transferkan kepada mereka, bagaimana mengelolanya, bagaimana menarik orang datang kemari. Jadi dari kecil sudah ditanamkan the spirit of enterpreneur. Saya tanya kepada kalian, siapa mulai menerangkan tentang enterpreneurship kepada anak-anak. Mungkin tidak ada, karena karakter itu belum ada di budaya-budaya di sini, apalagi dari Jawa yang menganggap pengusaha pedagang itu strata rendah.

 

Coba tanya kepada mahasiswa di Andalas, kalau Anda tamat mau jadi apa? Saya kira 70% ingin menjadi pegawai negeri. Kalau di Jawa mungkin 95% ingin menjadi pegawai negeri. Di Jawa orang ingin abdi dalem, pamong praja. Tapi, itu kan dulu. Sekarang mulai berubah.

 

Saya melatih 28 orang di Universitas Gadjah Mada [Yogyakarta]. Enam kali saya terbang ke sana, enam kali saya biayai Rp900 juta lebih, sekarang 50% menjadi pengusaha yang sukses. Kita bisa. Tidak ada hubungan keberhasilan menjadi entrepreneur dengan etnis. Tidak, itu hanya hubungannya dengan passion.

 

Jadi Anda percaya bahwa sukses bisnis itu tidak berkaitan dengan etnis?

 

Tidak berkaitan, cuma ada yang punya bakat. Nah, ada 25% orang punya bakat, itu yang kita pilih, kita latih, jadi bukannya orang yang tidak punya passion dilatih, karena percuma. Nah bakat itu apa, Anda ingin menjadi pengusaha, Anda berusaha keras menjadi pengusaha, Anda percaya diri Anda bisa jadi pengusaha. Jadi enterpreneur itu ada yang namanya bakat. Kalau Anda mau tahu seorang yang punya bakat atau tidak, keinginan dia besar nggak? Mau kerja keras nggak? Punya confidence nggak? Nah ini yang namanya entrepreneurship.

 

Anda berminat mempersiapkan anak-anak ke politik?

 

Indonesia politiknya hebat, 350 tahun melawan penjajahan Belanda. Jadi waktu penjajahan Belanda, orang Indonesia gak bisa dagang. Tetapi politik hebat, apalagi politik lempar batu sembunyi tangan, itu nomor satu.

 

Jadi, kalau bisnis ke politik itu setback?

 

Saya kira setback, tetapi ada orang masuk politik untuk bisnis.

 

Pernahkah merasa gagal dalam menjalani bisnis?

 

Pasti adalah, tapi lupakanlah kegagalan [karena] saya gemar memperbaiki. Dan saya tidak menyesal saya masuk dalam bidang properti.

 

Pernahkah ada keputusan yang disesali?

 

Pasti ada, tapi bukan yang utamalah. Bahwa hidup itu yang kecil-kecil selalu ada. Itu bikin kita lebih baik.

 

Kesannya Anda berpandangan bahwa bisnis itu nggak butuh populis?

 

Tentu tidak perlu populer. Saya kalau menonjol ke publik itu dalam rangka public relations untuk mencapai tujuan perusahaan maupun tujuan tanggungjawab sosial. Jadi bukan untuk populer pribadi. Pengusaha makin populer makin susah.

 

Kesannya Anda sangat profit oriented.

 

Tentu, harus profit. Tetapi bukan cuma itu. Profit dalam rangka untuk dapat income, mencipta lapangan kerja, dan membayar pajak. Saya bangga saya membayar pajak lebih Rp1 triliun per tahun. Kalau tidak profit bagaimana bayar pajak, percuma saya cipta lapangan kerja.

 

Masih ada impian Anda yang belum kesampaian?

 

Masih banyak pegawai kita yang belum punya rumah. Tentu kalau di Singapura, sebagian gaji dikumpulkan, misalnya 15%, pengusaha 20%, untuk membeli rumah. Kita tidak perlu sampai seperti itu, paling tidak 5% dan 6%, yang penting uang terkumpul dan tidak habis untuk beli baju , consumer goods. Kita bisa pakai uang dengan lebih bijak.

 

Apa nasihat kepada para pebisnis baru?

 

Terus kembangkan kemampuan enterpreneurship, yaitu mencipta peluang. Kita melakukan terus perubahan, kreatif menciptakan yang baru. Anda lihat Nokia mundur karena apa? Sudah tidak ada yang baru dari dia. Kenapa Apple maju? Karena enterpreneurship.

 

Pada usia sedemikian ini Anda masih aktif di bisnis, juga masih banyak bepergian. Bagaimana menjaga kesehatan?

 

Itu persoalan terbesar sekarang, itu tantangan terbesar

 

Bagaimana caranya?

 

Terutama jalan-jalan. Hidup harus tahu kapan waktunya bekerja, kapan waktunya olahraga, kapan waktunya istirahat, begitu yang harus dijaga.

 

Siapa yang paling mendukung untuk kesuksesan Anda? Istri?

Tuhan.

sumber: http://www.bisnis.com/articles/ciputra-ini-abad-entrepreneur

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,427 other followers