Category Archives: Agribisnis

Yono, Mantan Sopir yang Sukses Menggeluti Bisnis Telor Asin

Seringkali orang menganggap bahwa untuk memulai suatu usaha tidaklah mudah. Diperlukan ketelatenan, keuletan, disiplin dan pantang menyerah, sehingga sering membuat beberapa orang ragu-ragu untuk memulai suatu usaha. Beberapa persyaratan tersebut, ternyata dapat dilakukan oleh Wiyono Hadi, sehingga ia  berhasil dalam merintis usaha pembuatan telur asin. Di sela-sela kesibukannya sebagai sopir bis dan sopir mobil carteran, lelaki yang akrap disapa Yono ini hanya dibantu istri dan keempat anaknya telah berhasil dalam menggeluti usaha ini sejak tahun 1978.

Menurut Yono, usaha telur asin tersebut pertama kalinya dirintis oleh  orangtua istrinya sekitar tahun 1970 di Purwokerto. Ketika itu ia belajar cara membuat telur asin dari orang tua Suwarni.  Kemudian pada tahun 1978 sepasang suami istri ini pindah ke Sragen dan memulai usaha telur asinnya. Untuk bahan baku berupa telor bebek , ia mengambil dari berbagai daerah di Sragen seperti Taraman, Plupuh dan Perum Margo Asri.  Setiap kulakan telor berkisar antara Rp1.000-1.500 butir telur yang dihargai Rp1.000/butir dari pemasok tetapnya.

Keuntungan yang didapat Yono diambil dari dari perhitungan selisih harga kulakan telur dengan harga telur asin yang sudah jadi dan dijual kembali Rp1.400/butirnya.

Untuk setiap produksi, keluarga pak Yono menghasilkan 600 butir telur asin. “Kami menghasilkan 600 butir telur asin dalam setiap angkatan yang kami setor ke berbagai langganan kami, seperti supermarket Luwes, toserba Seka, toserba Dian, pasar, dan sebagainya,”  katanya.

Tidak hanya di wilayah Sragen saja, Yono memasarkan  telor asinnya, namun sudah sampai keluar daerah seperti ke Kartosuro. Dari usaha pembuatan telor asin tersebut, Yono mampu meraup keuntungan, yang cukup  untuk membiayai kehidupan keluarganya. Keberhasilan usahanya tersebut telah mendapat apresiasi dari pemerintah, yakni pada  tahun 2001 lalu, mendapat kesempatan untuk  dikunjungi oleh Menteri Peranan Wanita RI pada waktu itu, yaitu  Sri Rejeki yang  didampingi oleh Bupati Sragen, H. Untung Wiyono.

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/6866-yono-raup-laba-dari-telur-asin.html

Eko Fajar, Sukses Berbisnis Makanan Halal di Jepang Dengan Omzet Puluhan Miliar

Selain dikenal sebagai ilmuwan muda Indonesia, Eko Fajar Nurprasetyo Ph.D juga adalah founding father perusahaan jasa pemasok makanan halal di seluruh wilayah Jepang. Melalui istrinya, Eko Fajar Nurprasetyo mengibarkan bendera Azhar Halal Foods. Kesuksesan Eko Fajar Nurprasetyo dalam membangun bisnis penyediaan makanan halal di seluruh pelosok negara matahari terbit itu berawal dari sebuah ketidaksengajaan. Azahar Halal Foods yang dirintis sejak 1992 tersebut, kini sudah menghasilkan pemasukan puluhan miliar.

 

Tinggal di Jepang karena memperoleh beasiswa pendidikan S1 dari Pemerintah Jepang, Eko yang tinggal di Osaka, selalu kesusahan mendapatkan daging halal. Kalaupun ada, Eko Fajar yang saat itu masih lajang harus mencari di lokasi yang cukup jauh dari tempat tinggalnya, yakni di Kobe. Tak hanya Eko yang saat itu berkuliah di Universitas of Kyushu, para pelajar muslim lain di negara itu juga merasakan hal yang sama. Terdesak oleh kebutuhan, Eko menjadi sukarelawan berbelanja daging halal bagi teman-temannya.

 

Namun, makin lama, cara ini mereka rasa cukup merepotkan. Akan lebih praktis jika dia bisa memastikan ayam hidup dipotong di tempat pemotongan hewan secara halal. Alhasil, Eko mencari tempat pemotongan yang memperbolehkannya memotong sendiri. Tahun 1992, sebuah tempat pemotongan ayam di Fukoka memperbolehkan Eko memotong sendiri ayam hidup. Konsekuensinya, harga daging menjadi lebih mahal 20%–30% atau setara dengan harga toko.

 

Eko lantas mendistribusikan daging ayam potong pada teman-teman yang sudah pesan. Jika harga beli ayam 800 yen, ia menjual seharga 900 yen, termasuk biaya ganti transportasi. Menjelang akhir 1992, usaha Eko tersebut mulai didengar lebih banyak orang. Jumlah ayam yang dipotong pun kian banyak, sampai 100 ekor seminggu seiring dengan semakin banyaknya pesanan. Pada tahun 1994, jumlahnya sudah menjadi 400 ekor per minggu. Kala itu ia sudah tidak sendiri. Dia lantas menggandeng adik tingkat pelajar dari Indonesia yang sekolah di sana. Eko pun dibantu oleh sang istri, Safitri yang hingga kini menjabat sebagai direktur utama perusahaan tersebut.

 

Semakin banyaknya pesanan yang lokasinya berjauhan membuat Eko dan pemilik tempat pemotongan kerepotan, akhirnya Eko terpaksa pindah ke tempat pemotongan yang kapasitasnya lebih besar. Tahun 1995, jumlah ayam yang dipotong per minggu mencapai 4.000 ekor. Jangkauan wilayah distribusi Eko meliputi seluruh Pulau Kyushu yang besarnya separuh Pulau Jawa.

 

Pada tahun tersebut, sebagai istri Eko, Safitri mulai turun tangan sebab Eko harus lebih konsentrasi menyelesaikan kuliah. “Tahun 1995, kami mulai serius berbisnis. Kami menata sistem pembukuan dan manajemen,” kata Safitri. Pembenahan itu mulai dengan pengadaan mobil dan kulkas jumbo yang nilainya sekitar Rp50 juta. Demi mempermudah pemesanan dan pemasaran, Eko dan Safitri juga membuka website resmi. Ia tidak menggunakan cara pemasaran lain. Selebihnya hanya dari mulut ke mulut. Safitri sendiri mengatakan omzet perusahaannya hingga kini sudah mencapai Rp 10 miliar dalam satu tahun.

Pada tahun 2006, Azhar Halal mulai menjual daging wagyu halal. Daging sapi berkualitas itu mereka ekspor ke Kuwait dan Qatar. Meski permintaannya tidak rutin, sekali pesan bisa sampai 300 kilogram. Tiga tahun terakhir, Safitri dan suami sudah pulang ke Indonesia. Roda bisnis di Jepang dijalankan oleh orang kepercayaan mereka. Kini mereka hanya memantau dari jauh. (*/surabayapost)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/9291-sukses-berbisnis-makanan-halal-di-jepang.html

Raih Ratusan Juta dari Jahe Merah, Darul Juga Sukses Mengekspor Produknya Ke Mancanegara

Indonesia yang kaya akan hasil bumi memberi kesempatan kepada pelaku usaha untuk mengeksplorasikan menjadi produk yang layak dijual. Jahe merah contohnya. Pamor herbal yang bisa diolah menjadi minuman berkhasiat ini membahana. Tak heran bila Darul Mahbar sukses meraup omzet ratusan juta sebulan berkat menjual minuman segar berbahan jahe merah.

 

Omzet fantatis pengusaha asal Jakarta itu diperoleh dari pemasaran minuman berbahan jahe merah bermerek Cangkir Merah dan Cangkir Mas. Selain laku di pasar lokal, produk Darul juga disukai pasar internasional. Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa merupakan pangsa pasar Darul dalam mengekspor minuman berbahan dasar jahe merah tersebut.

 

Demand akan jahe merah selama dua tahun terakhir ini menunjukkan grafik positif dan mengalami peningkatan yang cukup pesat. Wajar saja, di era healthy lifestyle saat ini, masyarakat semakin tertarik mengkonsumsi herbal berbahan alami untuk menjaga stamina serta kondisi tubuhnya.

 

Sayangnya, kenaikan permintaan itu tak diimbangi dengan stok. Pasokan jahe merah masih dianggap kurang mencukupi konsumsi masyarakat sehingga harganya pun melambung tinggi. Kenaikannya diperkirakan mencapai 400 persen dalam dua tahun ini. Darul menjelaskan, harga jahe merah yang paling murah di pasaran adalah Rp10 ribu per kg. Anomali cuaca serta menurunnya produktivitas jahe merah menjadi penyebab minimnya pasokan jahe merah tersebut.

 

Untuk mencukupi kebutuhan jahe merah yang bisa mencapai 15 ton per bulan itu, Darul menjalin kerja sama dengan petani di Wonosobo dan Palembang. Meski demikian, ia mengaku pasokan dari para petani itu belum mencukupi kebutuhan industri minuman jahe merahnya.

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/10240-raih-ratusan-juta-per-bulan-dari-jahe-merah.html

Soedomo Mergonoto, Pengusaha Sukses Dibalik Kebesaran Kopi Kapal Api

Di sejumlah kalangan, Soedomo Mergonoto amat dikenal sebagai raja kopi. Setelah sukses belasan tahun mengembangkan bisnis kopinya, pengusaha asal Surabaya ini melebarkan kepak sayap bisnisnya dengan salah satunya menekuni bisnis klinik kecantikan.

 

Tak ada yang meragukan kepiawaian bisnis Soedomo Mergonoto, salah satu pewaris pencipta merek kopi Kapal Api. Di samping populer sebagai raja kopi Indonesia, Soedomo juga dikenal memiliki lini bisnis lainnya. Sejak akhir 1970-an dipercaya memegang perusahaan orangtuanya, Soedomo mulai merambah ke bisnis ‘beraroma kopi’ sejak tahun 1986. Ia mendirikan PT Sulotco Jaya Abadi, perusahaan yang memproduksi Kalosi Toraja Coffee sembari mengiringi langkah suksesnya mengembangkan nama Kapal Api (PT Santos Jaya Abadi). Empat tahun kemudian, Soedomo pun mulai merambah bisnis kedai kopi melalui PT Excelso Multi Rasa yang membawahkan bisnis kedai kopi Excelso. Lantas di 1991 ia meluncurkan permen merek Relaxa dan Dorini di bawah bendera PT Agel Langgeng.

 

Pada 1994, ia mendirikan Monysaga Prima, produsen minuman dalam kemasan, di antaranya Ice Mony, Jelly Juice, Coffee Cream, Milk Coffee dan Soy Bean Milk. Tidak ketinggalan, ia pun menggarap ladang distribusi consumer goods (PT Fastrata Buana), dan pada 2000 mengakuisisi PT Inasentra Unisatya produsen aneka permen. Bisnis klinik kecantikan pun ia masuki melalui Miracle dan Meliderma. Di Surabaya, kedua klinik kecantikan ini melayani dua kelompok masyarakat, Miracle di kelas atas, sedangkan Meliderma menyasar golongan menengah-bawah. Di samping itu, ia mendirikan pabrik mesin kopi mini. Mesin seduh kopi itu dijual ke sejumlah hotel-hotel berbintang.

 

Tak heran Soedomo sangat ulet dalam berbisnis. Nurani bisnis pria bernama asli Go Tek Whie ini sudah terasah sejak ia masih muda. Meski ia tak bisa menamatkan pendidikan di SMA Sin Cong yang berada di Jl Ngaglik Surabaya karena terburu ditutup pemerintah, Soedomo tetap sukses membesarkan bisnis kopi yang dirintis orang tuanya ke panggung internasional. Tak bisa bersekolah, pria kelahiran Surabaya 3 Juni 1950 itu tidak putus asa. Ia pun membantu orangtuanya berjualan kopi dengan sepeda ontel keliling di Pelabuhan Tanjung Perak dan keluar-masuk kampung.  Selama inilah, ia belajar otodidak tentang cara berbisnis kopi. Ia banyak mengamati dan bertanya tentang seluk-beluk kopi dan mesin produksinya.

 

Soedomo sebenarnya memiliki tujuh orang saudara. Namun, bakat dagang orangtuanya agaknya lebih banyak diwarisi Soedomo. Tak heran, akhirnya anak pasangan Go Soe Loet dan Poo Guan Cuan ini dipercaya memegang tongkat estafet bisnis keluarga. Sekedar diketahui, Go Soe Loet (almarhum) mendirikan cikal bakal perusahaan Kapal Api pada tahun 1927. Bukannya tanpa maksud Go Soe Loet memilih nama Kapal Api untuk produk kopinya. Pria asal Fujian China ini berlayar dari negara asalnya dan sampai di Indonesia ternyata menggunakan kapal api sebagai sarana transportasi.

 

Babak baru perkembangan bisnis kopi Soedomo ini dimulai pada 1975, ketika Soedomo ditunjuk mengendalikan Kapal Api. Investasi awal dibenamkan dalam bentuk sewa pabrik di Jalan Panggung IX/12 Surabaya, beli mesin goreng lokal Rp 150 ribu dan mesin giling Rp 10 ribu. Saat itu, Kapal Api baru mempekerjakan 10 orang. Keinginan untuk terus berkembang membuat Soedomo merasa perlu melakukan sejumlah terobosan, antara lain, pengadaan mesin penggorengan yang lebih canggih guna meningkatkan kapasitas produksi, pembuatan kemasan eceran, promosi yang agresif dan lainnya, kebutuhan lahan luas untuk pabrik dan kantor.

 

Sempat tersandung pengadaan mesin penggorengan buatan Jerman seharga Rp 130 juta karena cekaknya modal, Soedomo pun akhirnya berhasil mendapatkannya setelah ia bertemu personel PT Triasa agen mesin Jerman itu di Jakarta. Soedomo hanya dipersyaratkan membayar uang muka 20%. Sisanya dibayar tiap 6 bulan selama 1,5 tahun. “Saya memberanikan diri ambil kredit yang hanya Rp 5 juta demi mendapatkan mesin itu,” ia menjelaskan. Dengan mesin baru tadi, kapasitas produksi Kapal Api melonjak dari 300 kg/hari menjadi 500 kg/jam. Selain itu, kualitas produknya pun makin bagus dan aroma kopi lebih harum.

 

Persoalan mesin sedikit tertanggulangi, Soedomo pun memikirkan cara praktis memasarkan produk kopi buatannya. Ia pun terinspirasi oleh kesuksesan Unilever pada 1970-an yang berhasil memasarkan produk sabunnya dalam kemasan apik, tapi dijual eceran. “Saat itu saya berpikir mengapa tidak mencoba kopi dipasarkan dengan kemasan ritel,” ujarnya. Maka, kopi bubuk yang sebelumnya diproduksi ukuran 50 kg per kaleng, selanjutnya dijual ketengan dengan cara ditimbang dan dibungkus kertas koran itu, disulap dalam kemasan plastik 1 ons. Variasi kemasan ini berikutnya dikembangkan 250 gram, 500 gram, sachet dan lainnya.

 

Mesin sudah lumayan bagus, kemasan pun menarik, Soedomo pun mulai mempertimbangkan luasan cakupan. Salah satu cara waktu itu yang ditempuh dengan beriklan di TV dengan mennggandeng tokoh populer saat itu di Surabaya. “Untuk itu, dipilihlah Paimo (almarhum) pelawak Srimulat kondang sebagai bintang iklan Kapal Api pada 1978,” ujar Soedomo. Apa yang dilakukan Soedomo boleh disebut  merupakan gebrakan dunia pemasaran kala itu. Disebut inovasi karena waktu itu tidak satu pun produsen kopi berpromosi di TVRI. Beberapa tahun kemudian Kopi Gelatik mencoba mengikuti, tapi tidak berlangsung lama karena pemerintah menghentikan acara Siaran Niaga (iklan) di TVRI. Maklum, saat itu teve swasta belum ada.

 

Meski iklan TV hanya satu tahun, ternyata pengaruhnya luar biasa. Di mata masyarakat, merek Kapal Api banyak dikenal. Karena merek Kapal Api sudah kondang, otomatis Soedomo mulai kewalahan memenuhi permintaan konsumen. Peluang ini tak disia-siakan. Maka, ia pun memutuskan memperluas pabrik dan merasa butuh kantor yang layak. Pada 1978 ia membeli tanah seluas 1 hektare di Jalan Raya Gilang, Sidoarjo dengan harga Rp 1.250/meter2. Sekarang, total lahan industri yang dimiliki Kapal Api mencapai 10 ha. Pabriknya sendiri menempati areal 3 ha. Sementara itu, kantornya menempati gedung berlantai tiga, berdiri di atas lahan 15 x 50 meter.

 

Berkat kemajuan yang dicapai Kapal Api, pada 1982 produk ini masuk pasar Jakarta. Lalu, pada 1984 meluaskan jaringan pemasaran ke Bandung, Semarang, Palembang, Medan, Pontianak Makassar dan Denpasar. Pendeknya, hampir semua provinsi di tanah Air sudah dirambah Kapal Api. Hebatnya, tidak hanya pasar dalam negeri yang direngkuh. “Kami tidak bisa cuma berdiam diri di Indonesia. Bisa-bisa nanti orang luar yang akan menyerang kita terus,” ujar Soedomo tentang alasan perlunya ekspansi ke mancanegara. Pada 1985, Kapal Api memenetrasi pasar Arab Saudi. Mula-mula ekspor itu hanya 500-600 kg, sekarang 6-7 kontainer/tahun. Pasar Hong Kong ditaklukkan pada 1987, lalu menyusul Taiwan dan Malaysia (1990). “Kapal Api adalah yang pertama kali mengajari orang Taiwan cara membuat kopi yang praktis,” Soedomo mengklaim.

 

Namun, merek Kapal Api tak selalu bisa diterima di pasar mancanegara. Di Hong Kong, Kapal Api mengganti mereknya menjadi Wenz, dan di Taiwan mengibarkan merek Excelso. Hanya pasar Malaysia dan Arab Saudi yang bisa menerima merek Kapal Api. Kini, di pasar dalam negeri, Kapal Api tampil sebagai pemimpin pasar. Merek ini menaklukkan para pendahulunya, misalnya Kopi Kedung Laju, Kopi Cap Gadis, Kopi Supiah, Kopi Wanita Utama, Kopi Gelatik dan Kopi Cap Oto Terbang. (*/SurabayaPost)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/11043-soedomo-mergonoto-sang-raja-kopi.html

Sejak SMP Sudah Berbisnis, Kini Baru Umur 30 Tahun, Irfan Sukses Ekspor Biji Kopi Hingga Ke 40 Negara

Tak ada yang menyangkal, bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang sangat kaya akan sumber daya alam. Salah satu hasil bumi yang cukup terkenal dari Indonesia adalah biji kopi yang memiliki beragam varian, sesuai dengan daerah penghasil biji kopi tersebut. Kini, salah satu jenis kopi yang sedang populer dikalangan penikmat kopi adalah jenis kopi luwak, yang memiliki banyak sekali peminat, khususnya di luar negeri. Tak salah jika nilai jual kopi tersebut sangat tinggi dan menjadi salah satu potensi bisnis eksport yang sangat menjanjikan.

Peluang bisnis itulah yang dicium oleh seorang pengusaha muda asal Sumatra Utara, bernama Irfan Anwar. Disaat usianya baru menginjak angka 30 tahun, Irfan yang juga pemilik dan direktur utama PT. Coffindo telah sukses melakukan penetrasi pasar biji kopi, hingga ke 40 negara mulai dari Amerika, Eropa, hingga Negara-negara di Timur Tengah. Dengan mengandalkan perkebunan kopi Aceh, Sumatera Utara, Lampung hingga Sulawesi, PT. Coffindo kini mampu mempekerjakan 300 pekerja dan berencana meningkatkan pertumbuhan 20% kapasitas produksinya.

 

Atas pencapaian yang telah dicapainya, entrepreneur kelahiran 20 Juli 1980 ini, tercatat sebagai satu-satunya penerima penghargaan termuda dari 24 penerima penghargaan Ketahanan Pangan Indonesia 2010, dan didaulan untuk menerima penghargaan dalam Kategori Perusahaan Eksportir Hasil Perkebunan 2010 yang diserahkan oleh.

 

Irfan mengisahkan, keinginannya untuk terjun sebgai seorang entrepreneur bermula karena ia termotivasi dan rasa kagumnya melihat sukses seorang eksportir kopi teman almarhum ayahnya, Amir Syarifuddin. Dan didukung kebiasaannya yang  sudah akrab bermain saham sewaktu duduk di bangku SMP, ia memberanikan diri membuka perusahaan kopi pada tahun 1999. Pahit manisnya operasional bisnis dialami hingga 2001. Ia bahkan mengumpulkan biji kopi mulai dari Aceh, Sidikalang, Lintong Nihuta hingga Lampung. Pada fase itu, hampir tidak ada laba yang berhasil dicatatkan. Maklum, kapasitas produksinya masih terbatas di kisaran 1 ton- 4 ton per bulan. Namun bukan berarti semuanya hampa, dalam kurun waktu dua tahun itu, ia rupanya mengasah pemahaman berbisnis kopi.

 

Hasilnya, secercah harapan kebangkitan mulai nampak. Pada 2001-2006, kapasitas produksi yang disempurnakan dengan kualitas terbaik biji kopi hijau, biji kopi goreng dan bubuk kopi siap minum, meningkat menjadi rata-rata 220 ton per bulan, yang otomatis mendorong laju pertambahan laba.

 

Ia pun mulai merambah pasar internasional, antara lain sejumlah negara di Amerika, Eropa, Jepang, Timur Tengah dan negara lainnya. Hanya sekitar 5% dari hasil produksi yang dilempar ke pasar lokal. Sukses bermain di kancah internasional, membuat Irfan semakin tertantang.

 

PT Coffindo, lanjut Irfan, melihat dan memahami prilaku masyarakat dunia yang tidak lagi menjadikan kopi sebagai minuman pembuka di pagi hari atau teman di saat santai. Lebih dari itu, Kopi juga menjadi unsur penting dalam gaya hidup. PT Coffindo menjawab kebutuhan itu melalui produk kopi premium dengan brand original Luwak, 100% kopi arabika luwak liar dari Aceh yang tersedia dalam empat kemasan. Selain itu, Coffindo pun turut memproduksi kopi berkualitas tinggi dngan 9 macam varian yang tergabung dalam Indonesia Speciality Coffee yang tersedia untuk biji kopi hijau, kopi goreng maupun kopi bubuk siap minum.

 

“Perusahaan selalu berupaya menjaga mutu agar memberikan kepuasan bagi konsumen. Sebab, bisnis kopi dibangun aras dasar kepercayaan antara pembeli dan penjual,” jelas Irfan, seperti dikutip dari Harian Ekonomi Neraca, (14/10/11).

 

Sejak Juli 2010, PT Coffindo melakukan ekspansi pasar secara nasional dengan membuka kantor perwakilan di Menara Kadin Lantai 24 Jakarta. Saat ini, sedang dalam proses tahap pembukaan kantor perwakilan di Surabaya dan menyusul kota besar lainnya di dalam dan di luar negeri. Rencana pengembangan ini, tambahnya, seiring dengan komitmennya menjadikan kopi Indonesia sebagai tuan rumah di negaranya dan di mata internasional, dimana Indonesia termasuk lima besar produsen kopi di dunia, yakni sebesar 2%, setelah Columbia 7%-8%, Vietnam 15% dan Brazil 65%.

 

“Saat ini kami sedang berupaya memperkuat pasar domestik dengan membuka kantor perwakilan di Jakarta dan Surabaya dan akan menyusul kota-kota lain. Saya harap produsen kopi nasional bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri sekaligus berbicara di kancah global,” tegas Irfan.(*/ Gentur)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/11952-irfan-anwar-tiupkan-aroma-kopi-indonesia-hingga-ke-mancanegara.html

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,427 other followers