Category Archives: Industri Kreatif

Enday, dari Bisnis Pembuatan Wayang Golek Sukses Raup Omzet Ratusan Juta

Enday Media, Eloknya Bisnis Wayang Golek

“Wayang golek? Buat apa?”

Kalimat yang meremehkan ini

senantiasa terngiang dalam benaknya.

Perjalanan waktulah yang kemudian

Memberikan jawaban dalam kehidupan

perajin wayang golek sukses ini

Dari ayah, turun ke anak. Demikianlah

Enday Media memperoleh keterampilan

membuat wayang golek dari ayahnya,

Entang Sutisna, yang telah menjalani usaha

tersebut sejak 1965. Hasil karya tangan Entang

bahkan menarik minat Presiden Soeharto dan

Ibu Tien untuk mengunjungi rumahnya di

Kampung Tiawang-awang, Desa Sukamantri,

Kecamatan Ciomas pada tahun 1972. Pak Harto

memesan 120 karakter wayang golek yang biasa

dipakai untuk pertunjukan.

Usia Enday baru 13 tahun, masih duduk di

bangku SMP, saat ayahnya mulai mengajarinya

ilmu membuat wayang golek. Saat duduk di kelas

2 SMP, pria kelahiran tahun 1974 ini sudah bisa

membuat wayang golek sendiri dan menjualnya

untuk membiayai sekolah hingga lulus SMA.

“Bisa dikatakan wayang golek yang saya buat

di rumah sudah sampai ke luar negeri, karena

waktu itu saya jualannya ke orang asing di

Kebun Raya Bogor. Saya sekalian latihan bahasa

Inggris karena di situ banyak turis asing,”

kenang Enday.

Lulus SMA, Enday melanjutkan kuliah yang

tidak kunjung selesai hingga kini. Enday lantas

memilih untuk bekerja saja, meskipun menjadi

perajin wayang golek tidak termasuk dalam

pilihannya saat itu. Ia pun memilih pekerjaan

sebagai resepsionis di hotel berbintang di Bogor

dan Jakarta selama kurang lebih 11 tahun.

Namun pada tahun ke-8, skill membuat wayang

golek yang sekian lama terpendam mulai

menggelitik kalbu Enday. Tuntutan biaya dari

keluarga, istri, dan anak tidak sebanding dengan

gaji bulanan yang masuk ke kantongnya.

KANTORAN ATAU BISNIS?

Enday pun memutuskan untuk mencoba

menjajaki usaha wayang golek dengan menangani

usaha ayahnya. Enday mengatakan agar

ayahnya cukup berkonsentrasi membuat wayang

golek di rumah, dan ia berjanji bahwa

orang asing akan berdatangan ke sana. “Waktu

itu modal saya Rp 750 ribu, cash. Saya minta ke

bapak saya bikin wayang 10 biji, ternyata bapak

saya bikin 20 biji. Saya taruh di rak. Lalu saya

promosikan,” tutur Enday.

Salah satunya, Enday berpromosi ke Kebun

Raya Bogor. Setiap ada orang yang membawa

turis asing, diajaknya bicara. Namun, penolakan

demi penolakan menerpa Enday. Ternyata

perjalanan tak semudah dan semulus yang

dibayangkan.

Enday juga mendatangi teman-temannya di

Tourist Information Center, Bogor dan diterima

dengan baik. Tapi ternyata mereka sudah lebih

dulu bekerja sama dengan seorang penjual

wayang golek di Kebun Raya Bogor, yang dulu

membeli wayang golek dari ayahnya. Enday tahu

persis bahwa si penjual tersebut telah menjadi

orang yang terkenal, maju, dan berpunya.

Tapi Enday tak putus asa. “Saya tetap promosi

ke mereka dan mereka promosi ke orang asing.

Lama-lama terjadilah kunjungan orang asing ke

rumah saya. Pertama kali datang orang Swiss bersama

keluarganya. Dia beli sebuah wayang dengan

harga 50 Euro. Waktu itu tahun 2000. Kurang

lebih setelah dirupiahkan menjadi Rp 500 ribu.

Saya kemudian berpikir, dengan modal Rp 750

ribu mendapat 20 wayang. Lalu jual 1 wayang

seharga Rp 500 ribu sudah hampir menutupi

modal,” urai Enday.

Meski menyadari peluang emas yang terpampang

luas di hadapannya, Enday masih

tetap bekerja di hotel. Urusan kerja pun mulai

terganggu oleh urusan wayang golek. Saat

sedang bekerja, ternyata turis-turis asing banyak

yang datang ke rumahnya di Sirnagalih No.60

RT 01 RW 07 Kelurahan Loji, Bogor Barat, Jawa

Barat. Ia pun mengalami dilema, loyal kepada

pekerjaan di hotel atau kepada bisnis wayang

golek.

“Saya sedang di tempat kerja, orang-orang

yang mau bawa turis ke rumah telepon saya,

mau datang bawa tamu sekian orang jam 9 pagi.

Saya akhirnya cari alasan untuk bisa pulang,

saya bilang sakitlah, izinlah. Saya pulang, tamu

datang beli dua buah wayang seharga Rp 1,2 juta.

Lalu, ada lagi tamu beli 2 buah wayang seharga

Rp 1,5 juta. Saya pikir, wah dua kali jualan

saya dapat segini,” tutur Enday. Meski hasil

penjualan wayang golek cukup membuatnya

goyah, namun Enday mencoba bertahan dan

loyal pada perusahaan tempatnya bekerja. Tapi

‘gangguan’ tak kunjung berhenti.

Suatu hari, saat Enday berangkat bekerja, di

perjalanan ia menerima telepon dari orang yang

akan membawa turis ke rumahnya. Enday pun

kembali pulang dan beralasan ke kantor akan

datang terlambat. Setelah meladeni turis belanja

dan mengantongi Rp 1,2 juta hasil menjual dua

buah wayang, Enday segera menuju kantor. Namun

lagi-lagi Enday menerima telepon. Kali ini

ada 6 orang turis Belanda akan mengunjungi

rumahnya. Bingung mau memberikan alasan

apa lagi ke kantor, akhirnya Enday memutuskan

untuk tidak masuk kerja hari itu.

“Setelah tamu Belanda belanja, saya berpikir,

gaji saya enggak sampai segini. Akhirnya saya

ngobrol sama istri, sepertinya saya harus pilih

salah satu,” ujar Enday. Namun Enday belum juga

berani mengambil keputusan. Kerja kantoran

sambil menjual wayang golek dinikmatinya,

hingga akhirnya bisa membeli rumah.

MERASA SAKIT HATI

Suatu saat, Enday kepepet. Ia butuh modal Rp 5

juta dalam waktu seminggu untuk memproduksi

wayang goleknya. Dia pun menghampiri salah

satu bank dengan membawa sertifikat rumah

untuk mengajukan kredit. Enday yakin dan

penuh percaya diri bahwa pengajuan kreditnya

akan dikabulkan, sebab ada kerabatnya yang

bekerja di bank tersebut.

Saat pihak bank menanyakan apa usahanya,

Enday menjawab apa adanya, yakni perajin

wayang golek. Tak dinyana, Enday mendapat

jawaban yang menusuk hatinya. “Pimpinannya

bilang begini ke saya, ‘Wayang golek? Buat

apa?’ Sakit hati saya. Jujur, sampai sekarang

saya sakit hati dan merasa terhina. Dia bilang,

kalau usahanya sembako, besok juga dananya

cair. Saya bilang, tengok rumah saya. Setiap

hari ada 2-3 buah bus yang membawa belasan

turis asing. Belum terhitung mobil-mobil kecil

yang bawa 2-4 orang turis asing. Tapi akhirnya

ya sudahlah, rezekinya memang bukan di situ,”

kenang Enday.

Meski merasa sedih, Enday tak mau terpuruk.

Dia mencoba mendatangi Dinas Pariwisata dan

3 buah bank, namun kembali tak menemukan

solusi. Hingga akhirnya Enday mendatangi bank

bjb. Usaha yang digeluti Enday justru menarik

perhatian bank bjb, sehingga Enday mendapat

pinjaman. Masalah Enday pun teratasi. Problem

kekurangan SDM pun tertangani dengan merekrut

warga sekitar untuk dididik dan dilatih

membuat wayang golek. “Setelah dapat pinjaman

dari bank bjb, usaha saya mulai tertata,” ujar

Enday penuh syukur.

Setelah bisnis sampingan wayang goleknya

berjalan setahun, Enday berhasil membeli kendaraan.

Keberadaan ini mengundang komentar

miring dari orang-orang kantornya. Bahkan

ada yang menduga Enday melakukan korupsi, sampai

sampai bosnya juga menaruh kecurigaan serupa. Agar hal

negatif itu tak berkembang pesat, Enday mengajak salah

seorang asisten manajer ke rumahnya. Saat itu Enday

mendapat telepon bahwa ada pemandu wisata yang akan

membawa 2 orang turis Belanda ke rumahnya.

“Dia tanya, ngapain? Saya bilang, lihat saja. Lalu datang

orang Belanda, saya nyerocos pakai bahasa Belanda, dia

bingung. Terus setelah orang Belanda beli, saya tunjukin

uangnya. Dia tanya, uang apa nih?

Saya jawab, Euro. Besoknya begitu lagi, saya bawa lagi

itu orang. Dia tanya, berapa dapatnya? Saya jawab Rp 1,2

juta,” tutur Enday.

Meski selanjutnya Enday beroleh izin untuk mengurus

usaha wayang goleknya, namun lama-lama bosnya merasa

jengkel lantaran merasa Enday lebih mengutamakan bisnis

wayang goleknya sehingga ia jarang masuk. Suasana kerja

pun menjadi tidak enak karena Enday bolak-balik minta izin.

Puncaknya terjadi ketika seminggu Enday tidak masuk

kerja karena sakit. Bosnya mendatangi rumah Enday. Saat

itulah Enday menyatakan pengunduran dirinya.

“Itu terjadi setelah bisnis wayang golek saya berjahn

kurang lebih 4 tahun. Saya sedih ketika harus memilih bekerja

atau berusaha. Saya ‘sakit’, susah tidur. Tapi memang saya

harus pilih salah satu. Saya akhirnya mengundurkan diri

dari perusahaan pada 2005. Harapan saya, saya hanya

ingin maju,” cetus Enday.

TRIK SUKSES

Enday tetap mempertahankan tempat penjualan wayang

golek di rumahnya agar calon pembeli bisa sekaligus

‘berwisata’ melihat bengkel kerja pembuatan wayang.

“Awalnya produk wayang golek hanya

dipasarkan di Kebun Raya Bogor, tapi dengan semakin

banyaknya penjual wayang, akhirnya saya mencari

diferensiasi. Mulai dari produk,

tidak hanya wayang, tapi juga patung.

Dan, juga tidak lagi menjual di tempat umum.

Hanya menjual wayang di rumah,” tutur Enday.

Karena banyak turis asing yang datang, Enday pun

meletakkan gamelan sebagai daya tarik. Gamelan

tersebut cukup manjur menarik perhatian

para turis asing, sehingga bukan sekadar melihat

wayang golek. Enday juga kerap memainkan wayang

golek di hadapan turis agar mereka

tertarik membelinya. “Mereka bertanya, wayang

golek ini untuk apa. Saya bilang, sekarang sih

untuk dekorasi, tapi normalnya untuk dimainkan.

Saya pakai bahasa Inggris belepotan, tapi

alhamdulillah menghasilkan. Modal bahasa

Inggris kocar-kacir, nekat ngobrol dengan turis.

Yang datang ke sini 80 persen orang Belanda.

Akhirnya saya ngikutin pakai bahasa Belanda,

sedikit-sedikit bisa. Paling yah selamat pagi

bahasa Belandanya apa gitu, tahunya juga ya

dari mereka,” jelas Enday.

Enday juga memiliki buku berbahasa Belanda

tentang wayang golek asli karangan penulis

Belanda, Peter Gohan. Jika ada turis asing,

utamanya dari Belanda yang tidak percaya

dengan kualitas wayang golek buatannya—apa

lagi menyamakannya dengan wayang golek

berkualitas rendah berharga lebih murah—

Enday akan menyodorkan buku tersebut. Turis

asing tersebut akan menemukan persamaan

kualitas yang dipaparkan dalam buku tersebut

dengan buatannya, sehingga mereka kemudian

membeli karena sudah terbukti kualitasnya.

“Jadi, yang utama harus tetap membuktikan

kualitas. Ciri khas produk saya ada pada ukiran

yang halus dan menggunakan kayu lame.

Kalau yang di pinggiran jalan, kan, ukirannya

besar-besar dan pakai kayu albasia. Itu kayu

yang ringan sekali, hasilnya goyang-goyang

dan warnanya cokelat, muka dan pakaiannya

enggak rapi. Wayang yang dibuat Bapak saya

tahun 1965 sampai sekarang masih bagus

karena asli. Banyak orang di luar negeri juga

mempromosikan hasil karya Bapak saya,” tutur

Enday bangga.

Ini bukan sekadar kebanggaan semata.

Enday telah menyisir Bogor hingga semua

ujung Jawa Barat. Tidak ada wayang golek yang

memiliki ukiran sehalus buatannya. Enday pun

tidak takut dengan persaingan, karena kualitas

wayangnya ‘berani diadu’. Enday juga pernah

meminta perajin lainnya untuk membuat

wayang golek sebagus buatannya, namun tidak

ada yang sanggup. Meski gudangnya wayang

golek ada di Bandung dengan jumlah perajin

yang lebih banyak, menurut Enday, tetap saja

orang Bandung datang ke rumahnya.

Bagi pembeli yang tidak mengetahui perbedaan

kualitas wayang golek, Enday membagikan tipsnya.

Caranya dengan menekan

bagian pantat wayang golek yang terbuat dari

kayu. Jika kayunya terkopek dengan kuku jari,

berarti wayang tersebut berkualitas rendah

karena tidak menggunakan kayu yang kuat.

“Di JCC dan Smesco Jakarta, wayang golek

saya dibilang kualitas terbaik. Saya kaget, harga

wayang golek di Pasaraya Jakarta Rp 700 ribu,

padahal kualitasnya kurang. Saya jual Rp 400-

500 ribu dengan kualitas bahan lebih bagus.

Orang bule juga kerap menawar. Saya enggak

kalah trick. Mereka, kan, nawarnya 50 persen,

ya saya naikin saja lagi 50 persen. Tapi kalau

untuk orang kita, saya kasih harga Rp 300 ribu,”

ujar Enday.

Kini, Media Art and Handicraft Bogor yang

dibesarkannya sudah masuk dalam daftar

program kunjungan turis mancanegara. Volume

turis dalam seminggu mencapai 20-30

orang dalam sekali kunjungan untuk satu biro

perjalanan saja. Itu pun belum terhitung mobil-

mobil kecil yang membawa 2-4 orang. Kebanyakan turis

Belanda, Inggris, dan Kanada. Banjir order pun dialami

Enday. Hotel Indonesia Kempinsky di Jakarta minta di

buatkan 1.000 wayang golek untuk April 2011, setelah

tahun sebelumnya memesan 300 wayang golek. Pada bulan

yang sama, Sekolah Global Jakarta memesan 50

wayang golek untuk latihan pengecatan. Bulan Mei 2011,

Enday membuat 174 wayang golek untuk Jakarta

International School (JIS) di Jakarta. Enday

juga mengajari murid JIS mengecat wayang

golek yang kemudian mereka bawa pulang. Kegiatan ini rutin

setiap tahun dan sudah berjalan tiga tahun. “Saya mengajukan

pinjaman lagi ke bank bjb karena saya kekurangan modal

untuk memenuhi pesanan JIS. Ditambah lagi season libur

bulan Mei, Juni, Juli, Agustus, September. Itu kan untuk orang

asing semua,” kata Enday.

Enday juga sudah mempelajari pola dan perilaku turis

asing. Saat musim liburan, turis-turis asing itu datang dengan

membawa anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Kerap anak

anak kecil itu bermain bola di rumahnya yang penuh dengan

wayang golek. Awalnya Enday ngeri karyanya hancur. Namun

karena anak kecil itu tidak dimarahi orang tuanya, Enday pun

memilih diam. Kalau ada karyanya yang hancur, orangtuanya

tinggal ditagih bayaran. Ternyata mereka bisa menerima. Enday

juga membolehkan anak kecil mengecat wayang golek yang

belum jadi. Tak berapa lama, anak kecil itu akan menangis,

meminta agar wayang golek yang dicatnya bisa dibawa

pulang. Maka terjadilah permintaan, Enday tinggal

menyebutkan harganya. “Pokoknya saya sudah terbiasa

dengan pola-pola perilaku mereka. Seperti ketika

seorang Lebanon yang datang ke sini bilang bahwa wayang

golek harom, saya bilang terserah you, saya dapat duit

dari you buat kasih orang lain makan, lebih berguna mana.

Eh, akhirnya dia beli juga,”

katanya tersenyum lebar.

MANAJEMEN KETERAMPILAN

Omzet tertinggi yang pernah dicapai Enday adalah pesanan dari

Hotel Indonesia Kempinsky sebanyak 1.000 buah wayang. Ini di

luar dugaan dan rutinitas. Rata-rata omzet per tahun mencapai

Rp 120 juta dengan keuntungan bersih hingga 50 persen. Setiap

bulannya rata-rata ia bisa menjual 40 buah wayang golek.

Saking kewalahan menerima order, Enday pernah menolak

order 300 wayang golek cepot karena hanya diberi waktu 2 minggu.

“Tidak sanggup dan tidak mungkin terkejar,” ujarnya. Sedangkan

untuk pengerjaan 140 wayang golek Hanoman berbusana pencak

silat untuk perlombaan karate di Bali bisa dikerjakan dalam

waktu 2 minggU.

Selain berkat bantuan bank bib untuk permodalan dan

promosi, Enday juga merasa terbantu oleh Pemerintah Kabupaten

Bogor yang melakukan promosi melalui pameran. Contohnya pada

23 April 2011, di Supermal Karawaci, Tangerang, Banten digelar

pameran dengan menggunakan wayang golek. Pihak travel juga

kerap memberitahukan jadwal kunjungan turis

ke rumahnya.

Promosi juga dilakukan secara tidak langsung

oleh orang-orang asing yang membuatkannya

website. Padahal, Enday sendiri malah tidak

punya website, meski ia tetap menjaga hubungan

baik dengan pembelinya melalui telepon dan

email. Karya Enday juga terkenal berkat liputan

media televisi, koran, tabloid, dan portal berita

nasional, yang membuat Duta Besar Polandia

berkunjung ke rumahnya. Dari perwakilan

Polandia itulah Enday tahu bahwa ada orang

Polandia yang belum ke Indonesia pun sudah

mahir main gamelan. “Tapi kenapa anak muda

kita enggak mau? Apalagi bikin wayang golek

yang rumit. Itulah kendalanya,” keluhnya.

Kendala itu berpengaruh pada minimnya

sumber daya manusia perajin wayang golek.

Apalagi untuk generasi berikutnya, terutama

untuk pembuatan bagian kepala yang paling

sulit. “Sebenarnya, kalau mau belajar, satu atau

dua tahun saja sudah bisa. Masalahnya, sulit

menemukan anak muda yang berminat,” ujar

Enday menyayangkan. Padahal banyak anak

muda yang putus sekolah dan menganggur.

Enday pun mengajari anaknya agar mewarisi

skill turun-temurun.

Saat ini Enday memiliki 15 orang pekerja

untuk melakukan keseluruhan proses. Namun,

hingga saat ini pembuatan kepala hanya dapat

dilakukan oleh Enday dan ayahnya. Sementara

ibu, kakak, adik, dan saudara Enday juga terlibat

dalam pembuatan bagian lain, misalnya pakaian

dan badan wayang. Dalam 5 bulan mereka bisa

menghasilkan 1.000 wayang golek, dengan dua

ukuran standar, 65 cm dan 40 cm. Sedangkan

untuk ukuran yang lebih besar dari 65 cm dan

lebih kecil lagi dari 40 cm jarang dibuat karena

tidak tertangani.

“Ini memang bisnis yang ditangani keluarga.

Tapi saya tetap memperjuangkan agar warga di

sini juga bisa membuat wayang, dan saya pun

terbantu. Ada beberapa warga di sekitar sini

yang terlibat. Karena tidak punya bekal berupa

bakat, jadi mereka harus dilatih, diberdayakan.

Saya heran mengapa orang kita kok malah

bilang wayang golek buat apa? Padahal orang

asing datang ke sini mencari wayang golek dan

berani membeli dengan harga mahal” katanya

masih dengan nada kesal.

Diakuinya, karyawan yang bekerja memang

sebagian adalah keluarga. Karena dalam

industri pembuatan wayang golek, keahliannya

didapat secara turun-temurun, dan generasi ke

generasi. Dan, kualitas yang dihasilkan lebih

baik daripada menggunakan tenaga dari tempat

lain. Pernah juga ia merekrut tenaga dari luar,

hanya saja kualitas yang dihasilkan masih

jauh dibandingkan dengan buatan keluarganya

sendiri.

“Masalah yang timbul karena berbisnis

dengan keluarga adalah mereka akhirnya

mencari pekerjaan lain, sehingga saya akhirnya

tetap mengerjakan sendiri. Karyawan saya

belum pernah ada yang dibajak, tetapi ada

dari mereka yang keluar setelah bisa membuat

wayang sendiri,” tutur Enday.

Enday mengaku memang sudah saatnya ia

mempekerjakan karyawan profesional, “Hanya

saja di bidang pembuatan wayang, cuma sedikit

sekali perajin yang memiliki kemampuan

profesional untuk dapat menghasilkan patung

dengan kualitas baik.” Karena itu Enday

tetap bertahan dengan cara saat ini, memberi

pelatihan teknis kepada karyawan secara

mandiri. Meskipun Enday sadar, dengan sumber

daya yang terbatas, ia kerap harus berjuang

mati-matian jika tiba-tiba datang order dalam

jumlah besar.

Enday menjelaskan, bahwa sebagai usaha

keluarga, bisnisnya tumbuh dengan sendirinya.

Tidak ada sistem tertentu yang dijalankan. Sistem

manajeman masih tradisional, berdasarkan

intuisi saja. Bisnis serupa di daerah sekitarnya

memang ada, tetapi kualitasnya justru masih

berada jauh di bawah produksi Enday. Lagi

pula, mereka menggunakan pemasaran cara

lama, yaitu berjualan secara kaki lima di sekitar

Kebun Raya Bogor. dengan demikian, menurut

Enday usaha sejenis tersebut tidak menjadi

masalah karena diarahkan pada konsumen yang

berbeda.

Membuka outlet di pinggir jalan bukannya

tidak pernah dicoba oleh Enday, tapi ternyata

hasilnya kurang bagus. Ini berlawanan dengan

teori bisnis umum yang mengatakan bahwa

pemasaran di lokasi strategis lebih bagus

ketimbang di dalam kampung. Dalam kasus

Enday, ternyata pemasaran lebih baik dengan

posisi yang berada tidak di pinggir jalan raya.

“Posisi kami di dalam kampung. Orang asing

lebih tertarik dengan keberadaan kami di dalam

kampung. Apalagi orang Belanda banyak yang

ingin nostalgia mendatangi kampung tradisional

untuk melihat aktivitas sehari-hari orang kita,”

jelas Enday.

Masalah lain datang dari masyarakat sekitar

yang pro dan kontra atas kehadiran bus-bus

dan mobil-mobil turis asing, terutama masalah

lahan parkir di daerah perkampungan. Jika

ada kerusakan yang ditimbulkan akibat urusan

parkir, tanpa banyak bicara Enday langsung

memperbaikinya. Ia juga memperhatikan masalah

keamanan bagi kedua belah pihak.

MEMPELAJARI PERILAKU KONSUMEN

Meski sudah cukup sukses, Enday tak mau

berpuas diri. Enday ingin mengembangkan

usahanya lebih jauh lagi. Enday ingin menjangkau

turis asing yang tidak sempat mampir ke

rumahnya karena dianggap terlalu jauh. Target

pasarnya sudah jelas: turis asing. Menurut

perhitungan Enday, 80 persen pasarnya memang

untuk mereka.

Enday pun mengincar lokasi di dekat kantor Pos

yang kerap disinggahi turis. Enday

juga mempelajari biro perjalanan terbesar

dari Belanda, yang dalam seminggu bisa

mengirimkan 8 buah bus untuk singgah di kantor

pos. Belum lagi biro perjalanan lain dari

Malaysia, Jepang, Jerman, Cina, Lebanon, dan

Prancis.

Enday memutuskan bahwa ekspansi dilakukannya

tidak dengan membuka cabang, tetapi

melalui diferensiasi produk dan keunikan

tempat. Jadi, pembeli hanya dapat membeli

hasil kerajinan wayangnya di production house

langsung dan di pameran-pameran. Dari situ

mereka merasakan getaran-getaran seni,

originalitas sebuah handicraft. Mereka tidak

sekadar membeli, melainkan juga berwisata,

mendapatkan sebuah experience.

“Dari cara marketing seperti itu, order

langsung dari mancanegara menjadi lebih banyak.

Hanya saja kendala yang dihadapi tetap sama,

yaitu kekurangan tenaga untuk memenuhi

permintaan. Cara menyiasatinya adalah bekerja

sama dengan perajin-perajin di sekitar, yang

sebelumnya kita latih untuk menyamakan

kualitas,” jelas Enday.

Inovasi yang dilakukan Enday adalah dengan

melakukan diferensiasi produk. Manakala ada

pembeli dari luar negeri yang sebelumnya sudah

membeli produk sejenis, mereka bisa ditawarkan

lagi bentuk yang berbeda, atau jenis produk yang

berbeda, seperti patung atau hiasan meja, dan

lain-lain. Diferensiasi produk yang ia lakukan

ke pembuatan patung, menurut Enday, adalah

langkah yang paling mudah karena kualitas

dari hasil wayang sudah baik, sehingga kualitas

patung juga bisa mengikuti.

Enday bercita-cita kerajinan wayang

goleknya akan dikenal luas dan diakui oleh

masyarakat internasional. Ia juga berharap

usahanya bisa terus maju dari generasi ke

generasi. Jika ada yang bertanya ‘Wayang

golek? Buat apa?’ dengan nada sinis dan

meremehkan, kini Enday sudah punya jawabannya.

“Saya hidup dari wayang golek. Dulu

Bapak saya buat, jual wayang golek untuk

hidup dan pendidikan saya. Sekarang, saya

jual wayang golek untuk menghidupi keluarga

saya, anak buah saya, dan keluarga mereka.

Bisa merangkul tenaga kerja. Tradisi ini

semoga dipertahankan, jangan sampai hilang

atau punah,” harap Enday.

Catatan Rhenald Kasali

BANYAK ORANG MELAKUKAN pemasaran dengan menggunakan cara standar yang

beriaku dalam ravolusi industri. Produk standar dibuat oleh mesin secara

massal, lalu diciptakan dan didistribusikan secara massal. Produk-produk

seperti ini jauh sekali dari sentuhan manusia dan seni, sehingga lokasi

menjadi penting, yaitu sedekat mungkin jangkauan pasar.

Berbeda dengan produk-produk turunan revolusi industri, barang-barang

kerajinan adalah hasil karya manusia. Di dalamnya tidak hanya ada keindahan

produk, tetapi juga keindahan proses, impian tentang tokoh-tokohnya,

cerita tentang pembuatan, mitos-mitos yang diwariskan, bahkan cerita

tentang si pembuatnya. Jadi, manajemennnya tidak bisa dilakukan dengan

memisahkan antara cerita dengan produk. Memisahkan keduanya sama saja

memisahkan jiwa dari raga manusia. Berarti mati. Benda mati adalah benda

hasil ciptaan mesin. Sedangkan wayang golek, batik keris, patung,

ukir-ukiran, dan sebagainya adalah karya cipta yang kaya ‘ruh’. Ia akan

menjadi kekuatan kalau pemiliknya bisa memelihara ruh itu.

Ruh itu ditiupkan melalui story telling dan customer involvement. Jadi

lokasinya tidak tarus dekat dengan konsumen melainkan harus dapat memberi

kesan tersendiri, membangkitkan rasa ingin tahu, diperkaya oleh

cerita dan melibatkan konsumen dalam hubungan batin.

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun:  Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012

Sulaeman, dari Bisnis Gerabah Plered Sukses Raup Omzet Ratusan Juta Hingga Produknya Tembus Sampai Jerman dan Jepang

Eman Sulaeman, Mempertahankan Usaha Warisan Plered

Plered, Purwakarta merupakan salah

satu sentra kerajinan gerabah di

Indonesia yang terkenal di mancanegara.

Usaha di bidang ini pun kebanyakan

merupakan bisnis turun-temurun yang

konon sudah ada sejak tahun 1904.

Namun seiring waktu, usaha ini ternyata

tak lagi mudah. Dibutuhkan cucuran

keringat dan usaha yang luar biasa

untuk mempertahankannya.

SALAH satu pengusaha yang memulai bisnis

gerabah ini secara mandiri sejak 1993 adalah

H.Eman Sulaeman. Sejak duduk di bangku sekolah

dasar, pemilik Risman Wijaya Keramik ini sudah

ikut membantu orangtuanya memajukan bisnls

gerabah yang didapat ayahnya dari sang

Kakek. “Jadi, keseharian saya membantu orangtua

sejak SD. Dari proses produksi sampai

masalah finishing. Kecuali masalah pembentukan

dengan teknik putar, saya enggak bisa,” tutur

Eman yang ditemui di warungnya. Sekitar tahun

1982, bisnis gerabah memang sedang jaya-jayanya.

Gerabah jenis grafir sedang tren dan

amat disukai pasar untuk kebutuhan rumah tangga.

Namun adanya campuran timbal yang dilarang oleh

Pemerintah karena berbahaya menggeser tren grafir

Ke bahan terakota.

Bisnis keramik itu hanya sempat dinikmati

Eman sampai ia lulus SMA. Orangtua Eman memintanya

kuliah. Dia pun terpaksa meninggalkan

hiruk-pikuk Plered demi bersekolah di IKIP Bandung.

Namun, kuliah tidak memadamkan minat Eman pada

dunia gerabah yang sudah mendarah daging.

Tahun 1993, sebelum diwisuda,

dia memutuskan untuk terjun membuka usaha

keramik sendiri, tidak lagi ikut dengan ayahnya.

Dia sudah memutuskan tidak akan menjadi

pegawai negeri dan akan menekuni bisnis tersebut.

Target awalnya sederhana, mendapatkan 1

kontainer untuk diekspor dalam tahun pertama.

Target tersebut berhasil dilampaui, bahkan Eman

kebanjiran order sampai mampu mempekerjakan

sekitar 30 orang.

PASAR INTERNASIONAL VS LOKAL

Meski sudah mengerjakan bisnis sendiri, bantuan

tetap diberikan oleh orangtua Eman, berupa

modal awal sebesar Rp 200 ribu. Eman pun

masih menggunakan peralatan lainnya, seperti

tungku, dari usaha milik orangtuanya. Dengan

modal minim, Eman mampu menghasilkan

keramik ukuran 55 cm yang per unitnya dijual

Rp 30 ribu. Padahal biaya produksinya hanya

Rp2.500 dengan upah Rpl.250.

Berbeda dengan para perajin lain di Plered,

Eman lebih berkonsentrasi menembus pasar

internasional ketimbang lokal. Turis mancanegara

yang banyak menengok Plered memberi

order hingga jauh melebihi kemampuan Eman.

“Jadi, kemampuan saya ibaratnya cuma satu

gelas, tetapi order yang saya terima sampai satu

teko. Karena memang belum disiasati, saya

belum punya kemampuan untuk bikin kerja

sama dengan teman-teman, order dibuang ke

mana-mana,” kenangnya.

Tahun 1993-2002 adalah masa keemasan

Eman. Pada periode tersebut order dari pasar

internasional tidak pernah sepi. Kala itu dia

bisa menikah, membeli tanah, membeli rumah,

bahkan naik haji. Dia juga mengirimkan kontainer

dengan jumlah terbanyak, yaitu 10

kontainer senilai Rp 1 miliar. “Saya kalau hitung

satuan untuk retail, bingung. Dari dulu

hitungannya kontainer, jadi produksinya enggak

banyak item, tapi kuantitasnya banyak,”

jelasnya. Dari order ini, keuntungan bersih yang

diperolehnya mencapai sekitar Rp 250 juta.

Tahun 1998, dia bekerja sama dengan broker

besar yang khusus melayani pasar internasional

dengan produk gerabah untuk interior. Sejak

saat itu, hubungan Eman dengan pasar lokal

terputus. Konsumen lokal tidak terjaga dengan

baik, hal ini yang membuat bisnis Eman merosot

di kemudian hari. Dia hanya menarget produksi

pasar lokal sebesar 30 persen, sementara pasar

internasional hingga 70 persen.

Namun tahun 2002, pasar internasional

semakin sepi sedangkan pasar lokal semakin

bergairah. Sementara perajin yang berfokus di

pasar lokal mulai mendulang untung, Eman harus

memulai kembali dari nol untuk mendekati pasar

lokal yang sempat ditinggalkannya. “Tahun

2002 pasar lokal nyambung, pasar ekspor putus

hubungan. Bingung masuk ke pasar lokal lagi,

karena trennya sudah beda,” tutur Eman yang

harus mempelajarii lagi selera pasar lokal.

Di pasar lokal, tren keramik interior di tahun

1985-2000 bergeser menjadi tren eksterior di

tahun 2000-2010. Pot-pot cantik untuk kebun,

misalnya, merupakan salah satu produk yang

amat diminati. Hampir setiap bulan perajin

Plered mengirim barang ke Jakarta. Untuk

kembali meraih pasar lokal, selain mempelajari

tren eksterior, Eman pun memberi porsi yang

seimbang bagi kedua jenis pasar.

Setelah dua tahun menekuninya kembali,

Eman berhasil menggaet kembali pasar lokal.

Kuncinya adalah mengikuti kemauan pasar.

Selain menyukai produk eksterior, pasar lokal

pun menyukai warna yang ngejreng. Jika

dibawa ke Jakarta, produk-produk yang seperti

itu akan laris-manis. Hal itu bertolak belakang

dengan pasar internasional yang lebih menyukai

warna-warna lembut dan minim dekorasi. Dan,

belajar dari pengalaman, pasar internasional

tetap tak ditinggalkan.

Benar saja, karena tahun 2007 pasar internasional

ternyata kembali bergairah. Eman

membawa Risman Wijaya Keramik mengikuti

pameran internasional seperti Pameran Produksi

Ekspor (PPE). Bahkan Eman mengikuti

pameran yang digelar di Jerman. Hingga kini,

dia sudah 3 kali ikut pameran di negara itu.

Selain itu, di warungnya di Plered tetap

tersedia stok keramik dengan berbagai bentuk

untuk melayani permintaan pasar lokal. Pasar

ini pun dikembangkan dengan rajin mengikuti

pameran produk-produk kerajinan nasional, misalnya

CRAFINA. Dari pameran itu bisa diketahui,

misalnya, tren 2007-2010 kecenderungannya

minimalis, tanpa gagang. Jika tidak ikut pameran,

Eman yang menjadi ketua koperasi di

Plered ini mencari informasi perkembangan tren

dari perajin sekitar yang ikut pameran.

Dari situ, dia tidak ketinggalan

mengetahui kecenderungan pasar internasional maupun

lokal. Pasar internasional yang sudah dijangkau Eman

antara lain Amerika, Jerman, Hongkong dan Italia.

Namun sejak tahun 2004, importir sudah jarang

bertransaksi langsung dengannya. Biasanya sudah

ada eksportir lokal yang mendapatkan pesanan,

kemudian dilanjutkan ke Eman. Menurut prediksi Eman,

kecenderungannya saat ini pasar lebih suka datang ke

satu tempat, seperti ke sebuah pameran, dan di sana

mereka mendapatkan berbagai macam jenis barang

sekaligus. Biasanya eksportir semacam itu

paling sedikit memesan 200 unit.

Karenanya, mengikuti pameran adalah wajib hukumnya

agar tetap bisa eksis. Setahun minimal seorang

perajin harus mengikuti 3 pameran

‘wajib’, seperti PPE, IFFINA, dan INACRAFT,

untuk ajang promosi. Dan pameran-pameran

itulah order lokal maupun internasional berskala

besar didapat. “Kalau sekarang keramik sudah

enggak tren. Jadi, menyiasatinya beda dengan dulu.

Kalau dulu cukup disiasati dengan membikin

barang yang bagus. Kalau sekarang, barang

yang bagus juga harus kuat promosinya,”

jelas Eman. Berapa biaya yang harus

disiapkan Eman untuk mengikuti 3 pameran tersebut?

Eman memperkirakan minimal per tahun berkisar

antara Rp 45 juta hingga Rp 6o juta.

Biaya promosi yang tidak sedikit ini bisa diatasi

dengan mencari sponsor. Eman biasanya mendapatkan

dari bank bjb.

Kehadiran bank bjb pun dirasakan amat

membantu usaha Eman sejak ia menjadi debitur

bank tersebut tahun 2008. Dia bisa meminjam

terlebih dulu modal untuk membuat keramik

pesanan, mengingat biasanya buyer hanya

memberi uang muka sebesar 30 persen dan

pelunasannya baru dibayarkan 15 hari setelah

barang dikirim. Selain itu, kehadiran bank

bjb kerap mendukung perajin setempat untuk

mengikuti sejumlah pameran.

TANGAN TERAMPIL UNTUK PRODUKSI

Meskipun menghadapi masa sepi seperti tahun

2008, empat pekerjanya tetap memproduksi

berbagai macam jenis keramik setiap harinya. Saat

ini pekerja di tempat Eman berjumlah 12 orang.

Namun, jika order cukup banyak, Eman bisa

menambah pekerja hingga 30 orang. Kebanyakan

dari mereka terhitung masih keluarga. Misalnya

keponakan yang baru lulus sekolah. Namun,

mereka hanya dijadikan pekerja kasar, tidak

menangani manajemen.

Untuk memilih pekerja, Eman tidak sembarangan,

meskipun kerap diambil dari tetangga dan

kerabatnya sendiri. Berbekal

pengalamannya sejak kecil menjadi perajin

keramik, Eman mengetahui siapa saja di

antara mereka yang memiliki kemampuan

bagus. Karena lingkungannya adalah perajin

keramik, dia mengambil karyawan dari warga

sekitar. Alasannya, akomodasi lebih murah

dan lebih efisien mengingat orang sekitar tidak

memerlukan biaya transportasi, dan tidak

ada yang pulang ke daerah asal. Selain itu,

pengawasannya jauh lebih mudah. Pekerja yang

mudah loncat-loncat pun masuk dalam daftar

blacklist yang tidak diliriknya.

Para karyawan yang bekerja di tempat Eman

mendapat upah harian, yang berkisar antara

Rp 25 ribu hingga Rp 35 ribu. Mereka mulai

bekerja pukul o8.oo hingga 15.30, dengan jam

istirahat antara pukul 12.00-13.00. Selain itu,

ada juga yang dibayar secara borongan, yakni

untuk pekerja yang khusus membakar dan

memutar gerabah. Biasanya mereka mendapat

bayaran dalam kisaran Rp 75 ribu hingga Rp

150 ribu, tergantung dari jumlah barang yang

diproduksi. Perbedaan upah ini tergantung pada

kualitas barang yang dihasilkan. Jika barang

yang dihasilkan berkualitas ekspor, otomatis

upahnya pun tinggi.

Jika pesanan cukup banyak, Eman biasanya

akan merekrut karyawan harian yang mau

tak mau standar kemampuannya pun belum

jelas. Dan, mengingat usahanya masih belum

berskala besar, Eman belum menganggap

perlu adanya karyawan profesional. Untuk

pelatihan karyawan pun hanya diperoleh dari

pemerintah. Meski begitu, ke depannya dia akan

membuat sistem kerja yang lebih baik mulai dari

perekrutan, produksi, dan lainnya, mengingat

dia masih berorientasi memenuhi pasar keramik

internasional.

Selain masalah sumber daya manusia, Eman

juga terus berupaya memperbaiki teknologi

untuk produksi, seperti mengolah bahan baku,

teknologi pembakaran, sampai pengeringan.

Biasanya Eman menjalin kerja sama dengan

perguruan tinggi setempat, meski masih dalam

bentuk yang sederhana. Dukungan pun

didapatnya dari suku dinas setempat, berupa

bantuan alat produksi seperti tungku pembakaran.

Untuk pasar retail, biasanya Eman menyediakan

stok dari kelebihan produksi yang

ada hingga sisa ekspor. “Kalau ada pesanan

1.000 unit, biasanya saya buat 1.100 unit.

Pertimbangannya, 50 unit adalah barang reject yang

tidak sesuai kriteria, sementara selebihnya akan

dijual retail di warung,” urainya. Hanya saja,

bermacam-macam keramik yang diproduksi

kadang tidak sesuai dengan selera konsumen.

Sehingga ia harus jeli melihat kecenderungan

pasar lokal. Dan biasanya, trennya hanya bisa

bertahan selama 8-10 bulan saja.

Cara lain membaca tren pasar lokal adalah

mengandalkan majalah interior dan eksterior.

Eman juga pernah mencoba mengaplikasikan

tren internasional ke dalam pasar lokal.

Misalnya saja dari hasil pameran di Jerman pada

tahun 2010. “Kan tren internasional udah

ketahuan, tapi di Jakarta belum semuanya tahu.

Saya coba masuk. Kalau seleranya nyambung,

berarti ngetrennya begini,” paparnya.

Lebih dari 4 tahun mempelajari pasar

internasional maupun lokal, Eman mengetahui

keunikan setiap pasarnya. Misalnya, pasar Jerman

lebih menyukai desain minimalis dengan warna

lembut, sementara Jepang cenderung menyukai

keramik dengan desain sederhana yang kecil,

mengingat rumah-rumah di Negeri Sakura itu

kebanyakan berukuran mungil. Meski kecil

dan tampaknya remeh, pasar Jepang menuntut

bentuk yang sempurna.

Lain lagi dengan Korea yang cenderung menyukai

gerabah untuk eksterior. Pasar ini menuntut

perhatian sendiri karena yang paling

utama dari produk eksterior adalah daya tahan

untuk menghadapi 4 musim di Korea.

“Sayangnya, untuk masalah seperti itu saya

belum punya solusinya. Kalau nanti solusinya

ditemukan, bisa itu ditembus,” ujar Eman.

Beda lagi dengan pangsa pasar Amerika yang

lebih menyukai desain etnik dan dekoratif.

Kecenderungannya tidak banyak macam, namun

secara kuantitas banyak. Permasalahannya

hanya soal packing, karena harus aman dan

terlindungi dari kemungkinan rusak akibat

benturan sepanjang perjalanan. Selain itu,

pemasaran ke Amerika langsung dengan

packagingnya. Sehingga urusan pengemasan sama

persis dengan kondisi saat pengiriman dari

Indonesia. Hal ini berarti Eman pun harus

memperhatikan kemasan yang baik sejak gerabah

tersebut berangkat dari tempatnya. Cara

seperti ini biasanya dilakukan oleh buyer besar

yang memiliki ratusan showroom.

Masalah ukuran barang juga harus tepat

untuk pasar internasional, bukan hanya karena

permintaannya demikian, tetapi juga berkaitan

dengan biaya yang dikeluarkan untuk mengirim

barang. Dari segi ketelitian, pasar internasional

biasanya hanya memberi toleransi ukuran meleset

sebesar 2 cm saja. Jika meleset hingga 5 cm,

barang langsung di-reject.

Perbedaan ukuran dan bentuk barang pesanan

juga bisa memengaruhi packaging masuk ke dalam

kontainer. Jika barang pesanan

berukuran besar, jumlah yang masuk ke dalam

kontainer otomatis akan berkurang. Misalnya,

standarnya bisa mengangkut 1.200 unit barang,

bila dimasukkan barang-barang besar

berkurang bisa berubah menjadi 8oo unit saja.

Padahal harganya pun sama.

“Otomatis biaya transportasinya pun jadi

jauh lebih mahal. Itu hitungan fisiknya susah.

Maka desainnya yang sederhana-sederhana

saja,” imbuhnya. Racikan bahan baku dan pemanasan

di tungku yang tepat menjadi kunci

produk tersebut bisa sesuai dengan pesanan.

Namun, untuk barang-barang yang meleset

ukurannya itu, Eman tak hilang akal. Barang

barang tersebut dipajang di warung atau

dipasarkan pada pameran lokal.

SERBA DIURUS SENDIRI

Lulusan Fakultas Seni dan Sastra IKIP Bandung

ini juga berupaya menciptakan tren sendiri

dengan mempertimbangkan selera pasar. Biasanya

tren ciptaannya sendiri itu mendapat

sambutan lebih baik di luar negeri ketimbang di

pasar dalam negeri sendiri. Bahkan pada tahun

2007, order bisa mencapai Rp 400 juta per

tahun. Itu belum pemasukan yang didapat dari

warungnya.

Seperti kebanyakan UKM lainnya Eman

mengurus semuanya sendiri, mulai dan produksi

hingga packaging. Eman belum memercayakan

anak buahnya melakukan segala

pekerjaan tersebut tanpa pengawasan. Sebab

berdasarkan pengalamannya, ketika diserahkan

ke perajinnya tanpa diawasi, barang yang

dihasilkan malah mendapat komplain dari buyer.

“Semuanya saya urus sendiri. Pameran,

produksi…,” ujarnya. Sebenarnya Eman ingin

melepas salah satu supaya bisa mengurus pasar.

Apalagi ia juga menjabat sebagai ketua perajin

di Plered. Menurut Eman, seharusnya sesama

perajin keramik bisa bekerja sama. “Setiap

perajin kan punya kekhasan sendiri,” ujarnya,

“Jadi, dibagi-bagi saja. Kalau tidak laku, ya

dikembalikan. Yang penting jangan ada yang

nakal, jangan ada yang main sendiri.”

Untungnya, dari pengalaman Eman selama

ini, sesama perajin keramik di daerahnya tidak

ada yang berkarakter plagiat. Justru mereka

berlomba-lomba membuat desainnya masing

masing sehingga keramik Plered menjadi

beraneka ragam. Adik Eman sendiri mewarisi

pembuatan keramik dari orangtuanya. Mereka

banyak bekerja sama, di antaranya karena si

Adik kini telah menjadi eksportir keramik di

Jakarta.

Eman menyayangkan, persaingan yang

kian tinggi di antara perajin keramik mulai

menjadi masalah, bahkan membuat beberapa

usaha keramik di Plered gulung tikar. Mereka

bukan saja bersaing di antara sesama perajin,

melainkan juga dengan usaha-usaha lain yang

lebih menarik bagi pemilik modal. Mereka beralih

ke usaba lain, seperti menjual pulsa. Eman

amat menyayangkan hal tersebut, mengingat

nama besar Plered sebagai kota perajin keramik.

Eman berupaya mendorong teman-temannya

agar tidak menyerah dan tetap bertahan, salah

satunya dengan mendirikan koperasi. Koperasi

perajin di Plered didirikan untuk memecahkan

masalah bahan baku agar menghasilkan satu

formula untuk setiap keramik yang menjadi

tujuan negara-negara tertentu. Sebab, bila

perajin salah meracik bahan baku akan berdampak

pada mutu dan kualitas keramik hasil akhirnya.

Apalagi, harga bahan baku pun semakin

mahal. “Kalau dulu bahan baku tanah liat hanya

sekitar Rp 6o ribu satu ton, sekarang Rp 150

ribu. Sementara untuk kayu bakar sekitar Rp

120 ribu per 4 m3, kalau sekarang Rp 500 ribu.

Kalau upah enggak terlalu naik, paling 2 kali

lipat. Makanya, kalau sekarang ini eksportirnya

berat. Kalau dulu masa bulan madunya, kalau

sekarang sudah bukan. Bisa bertahan juga sudah

untung,” jelas Eman. Untuk urusan produksi,

menurut Eman, kendalanya memang di modal

untuk memulai proses dan tenggat waktu untuk

memenuhi pesanan.

Eman pun menjelaskan bahwa bahan

baku pembuatan keramik yang terbaik adalah

lumpur. Hasilnya sangat halus dan kuat, tetapi

lumpur yang bagus menuntut perlakuan yang

‘manja’, yaitu harus benar-benar disaring

supaya halus, dibakar dengan suhu tinggi, dan

seterusnya. Bahan lainnya adalah puder yang

kasar tetapi lebih cepat pengerjaannya. Dengan

demikian, untuk memenuhi tenggat waktu yang

diminta pelanggan, Eman harus pintar-pintar

mengombinasikan bahan-bahan tersebut dan

menyesuaikannya dengan permintaan pelanggan.

“Konsumen dari Jepang dan Jerman

sangat detail, mereka tidak mau kalau bahannya

dicampur,” jelasnya

Sementara untuk masalah pemasaran, Eman

mengaku masih pasif. Ia masih menunggu

permintaan melalui email. Kehadiran internet

menurutnya belum cukup membantu. Kendala

yang dimilikinya bukanlah kesulitan

mendapatkan akses internet, tetapi masalah

bahasa. “Kalau dulu kan buyer-nya datang

langsung, jadi meskipun bahasanya belepotan,

tetap nyambung,” ujarnya malu-malu, “Sekarang

kan ketika pameran hanya bertemu

1-2 jam, selanjutnya kontak lewat email. Jadi

kemampuan bahasanya harus bagus.”

Dengan kondisi sesulit apa pun, Eman

tidak berniat beralih profesi maupun

jenis usaha. “Ada ucapan guru saya, kalau

kaya itu takdir dari Allah, cuma kemauan

yang membikin kita tidak kelaparan. Jadi

prinsipnya begini, walaupun saya 70 kali ke

Jerman, tapi kalau enggak ada usaha dan ridho

Allah, enggak bakalan sukses. Paling tidak

pengalaman aja, enggak bikin rugi,” ujarnya

sambil mencontohkan nasib Briptu Norman

Kamaru yang mendadak tenar karena aksi

lipsync melalui situs YouTube.

Eman masih memiliki mimpi besar membuat
usahanya menjadi lebih besar dari yang

sekarang, dengan memperbesar kapasitas

produksi dan memperbesar pabrik, bukan

membuka cabang. Untuk itu, dia berupaya

memperkenalkan produksinya melalui website,

dan semakin rajin mengikuti pameran bertaraf

internasional. Setidaknya 3 kali dalam setahun.

Dia pun ingin usahanya memiliki badan

hukum, serta menyusun pembukuan yang

lebih baik untuk mempermudah pinjaman modal.

Dengan omzet Rp 200-350 juta per tahun

dan keuntungan bersih 20-30 persen, Eman

bersikukuh tetap mempertahankan usaha tradisi

khas di Plered, yang sudah turun temurun

di keluarganya. Dia memiliki keyakinan akan

muncul kembali momentum masa keemasan

perajin keramik. Dan ketika masa itu tiba, Eman

sudah siap beraksi.

 

Catatan Rhenald Kasali
SEKALI LAGI ANDA melihat betapa sulitnya UKM Indonesia untuk naik kelas.

Selain sepi dari pembinaan yang membina pun sering kali tidak paham apa

yang harus dilakukan. Kalau Anda tanya kepada pemerintäh jawabannya pasti

mereka telah berbuat sesuatu. Pemerintah telah memberikan fasliltas-

fasilitas untuk ikut pameran, bahkan mungkin teknologí tertentu.

Tetapi mengapa mereka tetap sulit naik kelas? Bukankah mereka telah bekerja

sangat keras? Mereka ulet, tekun, terus mempelajari selera pasar, mendalami

teknik pemasaran, proses pembuatan, dan seterusnya.

Jawabnya adalah, setiap usaha ada DNA-nya. Untuk memulai usaha saja Anda

cukup memiliki a start up DNA. Tetepi untuk membuat perusahaan Anda

menjadi sebuah lokomotif ekonomi yang besar, menjadi sebuah power

house seperti Siemens, Unilever, atau IKEA, Anda membutuhkan DNA manusia

alpha. Segalanya serba alpha, hurut A, the first of everything, the best of

the best.

DNA Manusia Alpha selain terdiri dari manusia-manusia pilihan, berpikirnya

besar, lompatnya besar, dan keberhasilannya juga tidak boleh tanggung-

tanggung. Anda membutuhkan manajemen yäng canggih dengan orang-orang

berkemauan tinggi dan berorientasi pada langkah-langkah besa.

Untuk menjadi besar, UMKM seperti Eman dan perajin tembikar dari Plered

harus sering-saring diajak melihat usaha-usaha besar. Ia juga perlu

disekolahkan untuk meningkatkan kemampuan bahasa, manajemen, dan

teknologinya. Ia harus bersentuhan dengan pelaku-pelaku usaha besar agar

tertular cara-cara berpikir baru. Pepatah lama mengatakan: the more ÿou

see, the more you do. Tanpa keberanian melihat, manusia akan diam di

tempat dan lambat laun tergerus evolusi.

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun: Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012

Maheka Yanti, Bisnis Pernik Unik yang Sukses Tembus Hingga Mancanegara

Maheka Yanti, akrab dipanggil Eka, sebelumnya

tidak pernah menyangka kalau produk bisnis

pernik unik yang dirintisnya mulai Februari 2006, kini

telah menyebar hingga mancanegara. Berkat online

store http://www.pernik-unikdiary.blogspot.com yang

didirikannya, Eka bahkan telah mengekspor

sebanyak empat container empat puluh feet untuk

produk furniture dan homewares sebagai trial order

dari seorang buyer di Prancis.

Sebetulnya, toko online tersebut didirikan Eka

dengan niat awal sekadar ingin mencari penghasilan

 

tambahan dan memanfaatkan waktu luang pada

akhir pekan. Berawal dengan modal sebesar Rpl,7

juta, kini pendapatan yang bisa dinikmati dari

bisnisnya sudah jauh melebihi gaji yang diterimanya

dari kantor tempatnya bekerja.

Saat pertama kali mendaftar gratis pada situs

direktori bisnis http://www.indonetwork.co.id pun, Eka

sebenarnya tidak terlalu serius. Sehingga bisa

dibayangkan betapa dia kelabakan saat ada e-mail

pertama masuk dan minta daftar harga. Padahal

saat itu, dia belum membuat daftar harga sama sekali.

Hatinya begitu gembira saat order pertama

diterima dan uang masuk ke rekeningnya. Walaupun

untungnya memang belum seberapa, transaksi

pertama tersebut memberikan kepuasan batin yang

benar-benar tak ternilai saat itu.

Seiring perjalanan waktu, berkat ketekunan Eka

dalam bisnis ini, pernik unik semakin banyak dilirik

orang. Konsekuensinya dia harus memanfaatkan

waktu malam hari dan akhir pekan untuk selalu

memenuhi pesanan. “Memang harga yang cukup

mahal untuk dibayar, tapi semuanya saya jalankan

dengan fun dan melibatkan keluarga. Pernik unik

serasa terus memberi spirit kepada saya untuk

bertahan. Spirit untuk membantah bahwa saya

tidak punya jiwa dagang. Spirit untuk menunjukkan

potensi dan kreativitas diri, dan spirit untuk mulai

membangun fondasi usaha,” ujar wanita yang fasih

berbahasa Inggris ini.

Banyak pengetahuan dan pengalaman yang Eka

 

dapatkan saat menjalankan bisnis ini. Kini, dia tidak

harus bolak-balik ke jasa ekspedisi untuk

mengantarkan paket. Dia sudah menemukan sebuah

jasa ekspedisi yang memberikan servis antar jemput

di tempat, dengan harga yang kompetitif, dan

delivery yang selalu on time. Waktu juga yang

kemudian mengantarkannya bertemu dengan satu

per satu pengrajin langsung, yang membuat harga

jualnya tetap kompetitif.

Kesabaran bersama waktu tersebut juga memberi

 

banyak hikmah positif bagi Eka. Bertemu

dengan seribu satu tipe pelanggan merupakan hal

yang menyenangkan baginya. Banyak orang yang

awalnya adalah pembeli produk pernik unik, kini

menjadi teman baiknya. Bahkan, beberapa di

antaranya sudah seperti adik dan saudara yang

hingga kini pun masih tetap menjadi pelanggan setia.

Tercatat beberapa kali ada customer yang

mengirimkan oleh-oleh khas daerahnya buat Eka

dan keluarga. Mereka juga berbagi cerita, bahkan

kadang curhat pribadi saat ada kesempatan untuk

chatting di Internet.

Pilihan Eka untuk mulai berbisnis secara online

didasarkan atas keyakinan bahwa ke depan orang

sudah akan terbiasa berbelanja via Internet. Toko

online tidak pernah tutup dan bisa menjangkau

pasar ke seluruh dunia. Saat baru berjalan,

pemintaan memang baru satu dua saja. Eka pun

pergi membeli dagangan hanya pada saat ada order

saja. Namun, seiring permintaan yang terus

 

meningkat, dia selalu belanja stok secara rutin tiap

akhir pekan.

Awalnya, semua pekejaan Eka ditangani sendiri.

 

Mulai dari hal kreatif, administratif, pembelian,

hingga urusan packing. Sementara suaminya

membantu untuk urusan keuangan dan akunting.

“Syukurlah sekarang saya sudah punya karyawan

yang membantu mengambil alih sebagian pekerjaan

yang biasa saya lakukan,” ujar wanita yang selalu

move forward ini.

Dalam berbisnis online, pertanyaan yang paling

sering ditanyakan seorang calon customer baru,

biasanya berhubungan dengan aspek kepercayaan.

Mereka ingin memastikan bahwa Eka benar-benar

akan mengirim produknya setelah mereka melakukan

transfer pembayaran.

Pertanyaan tersebut memang sangat wajar karena

 

interaksi yang terjadi memang hanya di dunia

maya. Eka pun berusaha meyakinkan bahwa dia

berbisnis dengan prinsip kepercayaan dan kejujuran.

Dia juga menjelaskan bahwa dirinya sudah berbisnis

online selama lebih dari satu setengah tahun, dan

hal ini bisa dibuktikan dengan melihat informasi

perusahaan di Indonetwork. Profil Eka yang dimuat

di majalah Wirausaha dan Keuangan edisi Mei 2007,

juga menjadi salah satu senjata untuk meyakinkan

calon customer.

Melalui online store-nya, Eka juga mendapatkan

 

kesempatan untuk melakukan ekspor ke

mancanegara, di antaranya ke beberapa negara

seperti Australia, Finlandia, dan Prancis. ‘Saya

 

memanfaatkan berbagai media direktori

perdagangan untuk memasarkan produk. Setelah

setahun lebih menjalankan bisnis ini, semakin

terjawab bahwa bisnis online adalah bisnis yang

sangat menjanjikan,” tegas istri Stenly ini.

Sejalan dengan perkembangan pernik unik, Eka

merasakan adanya perubahan mindset, terutama

cara pengambilan keputusan dan keberanian.

Pernik unik bukan hanya fondasi buat SOHO (Small

Office Home Office) saya, tetapi juga fondasi diri

untuk terjun seratus persen sebagai pengusaha.

Saya ingin Iebih fokus membesarkan bisnis ini agar

lebih banyak tenaga kerja yang bisa terserap,

harap wanita yang punya cita-cita tinggi dan selalu

mau belajar ini.

Demand yang semakin hari semakin besar sudah

 

barang tentu membahagiakan buatnya, namun

di sisi lain dia juga menghadapi masalah

ketersediaan stok. Permasalahan yang muncul

tersebut justru menantangnya untuk lebih inovatif

dan kreatif. Banyak ‘aha’ yang didapat justru ketika

dia mendapatkan masalah.

Akhirnya, karena membludaknya permintaan,

dia memutuskan menyuntikkan sejumlah dana

tambahan untuk membeli stok yang lebih banyak.

Jangan pernah leave opportunity dan sampai lost

opportunity lagi. Belajar dari kesalahan lalu, saya

 

sering kali meminta customer untuk menunggu

sampai batas waktu tertentu karena kosongnya

 

stok. Kini jangan sampai hal itu terjadi lagi, papar

wanita yang baru berusia 30 tahun ini.

Salah satu poin yang mendongkrak penjualan

pernik unik adalah semakin menjamurnya reseller

produknya. Untuk item produk yang masuk kategori

best seller dia lebih senang untuk ambil margin tipis

dengan harapan reseller tetap mampu menjual

dalam range harga kompetitif. Harapan lainnya agar

dia mendapatkan faktor kali pada jumlah pembelian

yang terulang kembali.

Dengan melempar harga yang kompetitif ke

pasar, pernik unik mengalami suatu fenomena lain.

Di mana pembelian yang selama ini kebanyakan

didominasi reseller ritel dan end user, kini pelan tapi

pasti, berbagi tempat dengan para reseller

wholesale atau grosir.

Dari sisi pengiriman, dulu di masa awal saya

melakukan pengiriman dua kali sebulan, berlanjut

menjadi sekali dalam seminggu, lalu dua kali

seminggu, dan kini hampir setiap hari selalu ada

pengiriman. Demikian dengan jumlah pembelian

wholesale juga tak kalah banyak dengan pembelian

ritel yang selama ini mensupport bisnisnya.

Berdasarkan pengalaman Eka, ada beberapa

tips praktis untuk sukses berbisnis online.

1. Foto produk yang menarik. Jangan pernah

menyepelekan tampilan foto produk.

Penglihatan adalah indra pertama yang disasar.

Jadi buatlah calon customer jatuh cinta pada

pandangan pertama. Pilih warna-warna yang

eye catching, dan gunakan latar belakang

 

yang mendukung performa produk. Eka

mengalami masa di mana tas-tas lama yang

sangat susah laku, penjualannya mengalami

peningkatan setelah difoto ulang;

2. Update koleksi produk secara berkala.

Usahakanlah untuk meng-update katalog

produk dengan item-item baru secara teratur.

Orang lama-lama akan jemu masuk ke toko

online jika yang dipajang hanya itu-itu saja.

Apalagi untuk produk fesyen, tren selalu

berkembang dengan cepat. Jadi, usahakan bisa

terus mengikuti tren. Jangan malas untuk

meng-update toko dengan barang-barang baru

jika tidak ingin dikatakan out of date;

3. Selalu suguhkan produk-produk baru setiap

minggu. Bahkan, kadang produk yang baru

di-posting, terjual satu menit setelahnya.

Mengejutkan, tapi inilah dunia online, setiap

waktu pasti ada orang terjaga.

Kesuksesan Eka dalam mengembangkan pernik

unik tidak terlepas dari passion yang dimilikinya

dalam bidang ini. Dia menjalankan bisnis ini

berdasarkan hobinya yang suka belanja akan

barang yang unik dan indah. Kecintaan Eka pada

fesyen dan craft yang serba unik menjadikannya

sangat fun dan bisa terus bertahan dalam

menjalankan bisnis ini.

Kilas balik ke masa kuliahnya dulu, Eka senantiasa

 

punya keinginan untuk bisa mandiri. Beberapa

kali dia sempat berjualan kartu nama unik yang dia

bikin sendiri. Dia juga pernah berjualan baju ke

 

teman-teman sendiri. Selain itu, Eka juga sempat

bekerja sama dengan teman yang menjual

barang-barang palimanan dan Jogja’s craft di

Indonesian Export Galery. Saat ini pun Eka masih

bekerja sebagai buying agent untuk Australian

importer yang membuatnya selalu bertemu dengan

furniture cantik, dan berbagai craft yang eksotik.

Perjalanan bisnis yang dirintis Eka dan suami

sebagai buying agent (furniture & homewares) kini

telah terdaftar dan telah lolos verifikasi sebagai

member berbayar trust pass (member yang sudah

lolos seleksi Global Authentication & Verification

sebagai member yang bisa dipercaya) di

alibaba.com. Mungkin pengalamannya bekerja

selama lebih dari enam tahun memberikan banyak

sekali pembelajaran dan juga membukakan mata

akan peluang bisnis di bidang ini.

Mimpi Eka untuk mempunyai sebuah showroom

dan warehouse pun kini sudah terwujud. Bangunan

garasi rumahnya dia sulap sebuah home office,

dan sebuah ruang untuk showroom sekaligus

gudang stok yang lega untuk memajang berbagai

produk koleksi pernik unik.

Kebutuhan akan showroom ini dirasakannya

cukup mendesak setelah ada beberapa customer

yang berkunjung ke Bali ingin melihat

showroomnya. Ada juga beberapa travel guide

yang ingin membawa tamunya untuk belanja ke

showroomnya di Bali. Satu alasan lain yang

menguatkan, kebetulan di area perumahannya,

terdapat sebuah hotel yang sangat ramai jika masa

 

liburan tiba.

Melengkapi kesuksesan pernik unik versi online,

Eka akan melakukan soft opening toko offline-nya

dengan nama Bali Etnic di Sunset Point Kuta Bali

pada kuartal terakhir 2007.

Lokasi tokonya sangat strategis, karena berada

di sebuah kompleks pertokoan yang nantinya akan

bersebelahan dengan Starbuck, Lotus (supermarket

bahan makanan impor langganan para ekspatriat di

Bali), Bali Bakery, Le Meridien Spa, dan toko

terkenal lainnya. Selain menjadi sarana berkreasi

dan berekspresi, toko Bali Etnic tersebut merupakan

salah satu perwujudan mimpinya untuk mempunyai

sebuah gift shop.

Keberhasilan Eka men-supply produk pernik

unik untuk hipermarket Carrefour di Bali, juga

membuka peluang lain untuk men-supply berbagai

produk pernik unik untuk Carrefour Prancis pada

2008 dan seluruh jaringan hipermarket Carrefour di

Indonesia.

Meyakini bahwa apa yang sudah dirintisnya

masih jauh dari sempurna, dengan tangan terbuka,

Eka senantiasa senang menerima kritik, saran, dan

masukan yang membangun. Dia akan senantiasa

berbenah dan melangkah menuju hal-hal yang pasti

lebih baik.

 

Dari Buku: Rahasia Jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan

Ari Bayat, Sejak Kecil Sudah Suka Berdagang, Kini Sukses Terjun di Bisnis Mainan Edukatif

Bermain memang menjadi dunia yang

menyenangkan bagi anak-anak. Dengan bermain, anak-anak sering kali mampu

 

mengetahui segala hal yang berada di sekitarnya. Mereka

kemudian secara kritis bertanya mengenai berbagai

hal yang baru diketahuinya. Dengan suasana yang

gembira ini, anak-anak akan dengan mudah

menerima ilmu. Pengetahuan mereka pun bertambah

dengan sangat cepat.

Kecintaan pada dunia anak-anak inilah yang

mengiihami Ari Bayat untuk terjun dalam bisnis

 

mainan edukatif. Berkat kegigihannya, pria kelahiran

Kiaten, Jawa Tengah ini, sedikit demi sedikit mulai

menikmati jerih payahnya dalam bisnis. Dengan

memakai bendera bisnis Arba Makmur, berbagai

produk mainan edukatif yang dibuatnya kini telah

menyebar ke berbagai daerah di Indonesia.

Bisnis ini dimulai Ari ketika masih aktif bekerja

di sebuah bank swasta nasional. Setiap Sabtu Ari

selalu berkeliling menawarkan mainan edukatif ini ke

berbagai playgroup dan Taman Kanak-Kanak yang

ada di sekitar indekosnya. Dia pun melakukan

pendataan nama kepala sekolah, alamat, serta

contact person yang bisa dihubungi. Begitu

informasi tersebut didapatnya, dia langsung

menelepon mereka satu per satu.

Dari situlah Ari bisa mengetahui bahwa ternyata respons dan animo

 

masyarakat terhadap maman edukatif ini sangat tinggi.

 

Bahkan, Ari sering merasa kewalahan dalam memenuhi permintaan

mereka karena produsen mainan edukatif yang

dipasarkannya cukup jauh dari tempat tinggalnya.

Kondisi kewalahan itulah yang membuat Ari

berpikir untuk memproduksi aneka mainan edukatif

sendiri. Dia pun mulai menabung untuk mewujudkan

keinginannya. Setelah menikah, Ari pindah ke

daerah Taman Mini, Jakarta Timur.

Selain faktor udara yang menurutnya masih

sejuk, dia pilih daerah itu karena dekat keramaian

dan Asrama Haji Pondok Gede. Dia sering melihat

berbagai acara yang diselenggarakan di sana. Salah

satunya adalah acara manasik haji yang selalu

 

ramai dan diikuti oleh berbagai siswa Taman

Kanak-Kanak dari berbagai sekolah. Dia berpikir

bahwa bisnis mainan edukatifnya pasti akan bisa

berkembang jika berhasil membidik target market

yang cukup besar.

Ari pun mulai sering berjualan di daerah Taman

Mini dan Asrama Haji. Pelanggannya sedikit demi

sedikit terus bertambah. Produknya pun mulai

dikenal di daerah tersebut. Pada 2004, Ari

memberanikan diri mengajukan pinjaman ke bank

untuk membuat workshop, dan membeli berbagai

mesin guna memproduksi berbagai jenis mainan

edukatif. Dalam dua tahun, pesanan yang

diterimanya terus meningkat. Kini Ari sudah

mempunyai empat orang karyawan. Dia pun sudah

mempunyai rencana jangka panjang untuk

memperluas workshop yang sudah ada.

Sampai saat ini, produk mainan edukatif yang

dibuatnya lebih banyak menggunakan bahan baku

kayu dan triplek. Ari kemudian memprosesnya

dengan mesin-mesin yang dimodifikasi sendiri

karena keterbatasan modal. Yang penting baginya,

kualitas tetap terjaga dengan baik dan produksi

bisa berjalan terus. Sambil jalan dia terus

mengumpulkan dana untuk menyempurnakan

mesin-mesin yang sudah ada.

Berbagai koleksi Arba Makmur ditujukan untuk

kalangan anak, mulai usia dua tahun hingga

sembilan tahun. Mulai kebutuhan untuk playgroup,

TK, dan keperluan anak autis. Ide desain sering Ari

dapatkan dari berbagai pameran, toko mainan

 

maupun browsing di Internet. Dia pun tidak

segan-segan untuk menjalankan prinsip ATM

(Amati, Tiru, Modifikasi).

Dari berbagai produk yang dihasilkannya, Ari

berusaha untuk menjadi salah satu pemain yang

diperhitungkan oleh seluruh pesaing. Pemasaran

produk ini pun sebetulnya relatif mudah karena

segmennya jelas. Dia membagi produknya dalam

dua segmen pasar yang berbeda, yaitu produk

untuk segmen menengah atas dan menengah

bawah.

Strategi pemasaran dan harga yang diterapkannya pun

 

berbeda mengikuti preferensi

konsumennya. Untuk menjangkau pasar, jenis

produk yang telah dihasilkannya sendiri antara lain

berbagai alat peraga edukatif, balok bangunan,

puzzle, maze, hammer, panggung boneka, dan

berbagai alat rumah tangga.

selama di dunia ini pernikahan masih di

halalkan, bisnis ini akan selalu hidup dan

berkembang, kata Ari dengan optimis.

Bisnis mainan edukatif ini biasanya sangat

ramai pada bulan Mei hingga Agustus. Setelah itu,

penjualannya akan turun sehingga Ari harus pandai

mencari peluang lain. Untuk itu, dia juga

memproduksi kerajinan kayu seperti tatakan piring,

gantungan cangkir, gantungan baju, box bayi, kursi,

dan meja anak, dan aneka produk dari kayu lainnya.

dengan strategi itu, Arba Makmur tetap terus eksis

dan bisa selalu mempersiapkan stok untuk

menyambut tahun ajaran baru papar pria yang

 

punya misi mewujudkan dunia belajar yang

menyenangkan ini. Bisnis di bidang ini

memang harus selalu kreatif, inovatif, dan

pandai melihat peluang.

Jika ada ide, renungkan,dan langsung jalankan.

Karena banyak orang yang punya pikiran sama

dengan kita. Hanya orang yang berani actionlah

yang akan mengambil peluang itu, ujar pria

 

kelahiran 25 Juli 1975 ini.

 

Melalui mainan edukatif, Ari ingin membantu

anak-anak menumbuhkan kepercayaan diri mereka.

Sifat percaya diri tidak hanya harus dimiliki oleh

orang dewasa, tetapi anak-anak juga memerlukan

dalam perkembangannya menjadi dewasa. Untuk

anak-anak, rasa percaya diri membuat mereka

mampu mengatasi tekanan, dan penolakan dari

teman-teman sebayanya.

Anak yang percaya diri mempunyai perangkat

yang lebih lengkap untuk menghadapi situasi sulit,

dan berani minta bantuan jika mereka

memerlukannya. Mereka jarang diusik. Justru

mereka sering mempunyai daya tarik yang membuat

orang lain ingin bersahabat dengannya. Mereka

tidak takut untuk berprestasi dan menunjukkan

 

bahwa mereka memang kreatif.

Kegigihan bisnis Ari memang tidak lepas dari

gemblengan masa kecil yang dilaluinya. Jiwa

entrepreneurship secara tidak sadar rupanya telah

tertanam dalam dirinya. Pada usia sepuluh tahun,

Ari sudah berjualan es lilin pada musim sadranan

(ruwahan) di daerah asalnya. Ada perasaan bangga

dan senang ketika dagangannya laku saat itu.

Di sela-sela hiburan panjang waktu SMP, Ari

memanfaatkannya untuk mencetak bata merah.

Begitu bangun pagi, dia langsung bergulat dengan

tanah dan mengaduk-aduknya hingga menjadi

adonan lumpur. Adonan tersebut kemudian dia

cetak menjadi batu bata yang siap dibakar. Jika

hasil cetakannya bagus, banyak yang mau membeli.

Hasil jerih payah selama liburan sekolah tersebut

biasanya bisa untuk membeli sepatu atau sisanya

buat sekadar uang jajan.

Saat hiburan SMA, Ari tidak malu berjualan es

krim dengan berkeliling dari gang ke gang, dari

kampung ke kampung, di daerah Makam Haji dan

Jongke di Kota Solo. Dia biasa bangun pagi sebelum

subuh, merebus air, memarut kelapa dan

memprosesnya menjadi es krim, serta menjualnya

hingga jam sembilan malam. sungguh sepenggal

penjalanan hidup yang sangat berkesan, padahal

saat itu saya tidak disuruh orangtua. Semua itu

saya lakukan karena niat saya yang kuat untuk bisa

mandiri, ujar Ari mengenang.

Kegemaran menjual ini kemudian menghiasi dan

mengisi hari-harinya saat menyelesaikan kuliah.

 

Mulai dari menjual soal-soal ujian masuk perguruan

tinggi, mengoordinasi fotokopi buat satu kelas,

menjual minuman saat pendaftaran mahasiswa

baru, menjual minyak wangi, dan sebagainya.

Baginya, kegiatan tersebut sangat menyenangkan.

 

Dengan berjualan, dia bisa menambah teman,

dan yang jelas bisa mendapatkan uang untuk

memenuhi kebutuhannya sendiri. Sayangnya, Ari

mengakui bahwa kegiatan bisnis kecil-kecilan

tersebut tidak dia tekuni dengan serius, karena

masih memikirkan kuliah dan harus segera lulus.

Berhubung Ari kuliah di jurusan perbankan, pada

saat itu yang tertancap dalam pikirannya setelah

lulus adalah bekerja di bank.

Ari berhasil menyelesaikan kuliah dengan susah

payah dan diwisuda pada akhir 1997. Dalam kondisi

ekonomi yang sangat tidak mendukung, karena

krisis ekonomi, Ari tetap berusaha mengirimkan

lamaran kerja ke berbagai bank di Kota Solo, Yogya,

dan Semarang. Sambil menunggu panggilan, dia ikut

bekerja dalam sebuah proyek perumahan di Yogya.

Penantiannya selama enam bulan ternyata tidak

menghasilkan panggilan sama sekali. Sempat muncul

ide untuk menjadi agen koran di suatu daerah.

Namun sayang, di samping tidak ada modal, dia

juga masih ragu untuk terjun sebagai wirausaha.

Akhirnya pada suatu hari, Ari memutuskan

 

untuk merantau ke Jakarta. Dengan bermodalkan

semangat yang tinggi, walaupun masih dalam

kondisi krisis ekonomi, dia mulai bergerilya

memasukkan lamaran dari pintu ke pintu. Akhirnya,

 

pada November 1998, Ari diterima bekerja di sebuah

bank swasta setelah lolos serangkaian tes.

Di bank swasta tersebut, Ari bekerja di pusat

data kredit. Pertengahan 2000 dia pindah ke

cabang Podomoro. Di sinilah hobi berjualannya

muncul dan membara kembali karena didukung

dengan kondisi kantor yang strategis, dekat dengan

pabrik yang mempunyai ribuan karyawan. Dia

berjualan keripik belut, batik solo, jagung turbo, dan

sebagainya. Hingga dia bisa mengambil kredit

sepeda motor. Pada akhirnya, Ari harus memilih

untuk keluar dari bank karena proses merger yang

terjadi saat itu.

Ari sangat bersyukur bahwa kini usaha yang

dirintisnya sudah membuahkan hasil. Walaupun

menghadapi berbagai kendala yang datang silih

berganti, namun dia tetap melangkah dengan

optimistis dan semangat yang tinggi. Kendala yang

dihadapinya mulai dari masalah sumber daya

manusia, permodalan, dan pemasaran. Berbagai

kendala tersebut, justru membuat Ari merasa

semakin tertantang untuk selalu mengatasinya

dengan baik. Dia mempunyai suatu keyakinan

bahwa semua kendala bisa diatasi dengan sikap

 

yang jernih dan berpikir positif.

Sikap optimistis yang didukung dengan

pengetahuan yang baik akan mengarahkan

seseorang kepada kesuksesan.

 

Keberhasilan Ari dalam mengembangkan

bisnisnya selama ini, juga tidak lepas dari

kegemarannya untuk selalu belajar. Seperti

membaca buku yang menjadi salah satu

kegemarannya sejak dulu. Selain itu, dia juga

memberikan apresiasi yang tinggi atas dukungan

teman-temannya yang sangat berarti dan selalu

mau diajak berbagi.

 

Dari Buku: Rahasia Jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan

Andika, Umur Masih 23 Produknya Sudah Melanglang Mancanegara dan Omzet Bengkel Modifikasi Motornya Ratusan Juta

Muda dan memiliki kreativitas
tinggi. Itulah yang kira-kira bisa
menggambarkan sosok Andika
Kairuliawan, pemilik bengkel Balu
Oto Work di Yogyakarta. Pria yang
baru berusia 23 tahun ini memiliki
segudang potensi.
Meskipun memiliki latar belakang
Ilmu Teknik Informatika, ia malah
lebih sukses jadi pengusaha
otomotif. Selain menjadi pengusaha
otomotif, sehari-hari Andika juga
bekerja sebagai dosen mata kuliah
Informatika di Universitas Teknologi
Yogyakarta (UTY).
Tidak hanya itu, ia pun tengah
melanjutkan sekolah alias mengejar
gelar master di Universitas Islam
Indonesia (UII) Yogyakarta.
Andika memulai bisnis otomotifnya
sejak tahun 2011. Bengkelnya
memiliki dua divisi, yaitu modifikasi
motor full body dan produksi
kepala motor dari bahan fiber
glass.
Andika bilang, bengkelnya bisa
memodifikasi motor jenis apa pun,
mulai motor bebek sampai motor
gede. Pelanggan hanya perlu
membawa mesin dan rangka motor
ke bengkelnya yang terletak di Jalan
Pramuka, Umbulharjo, Yogyakarta.
Ia menjamin, karyawan bengkelnya
bisa memodifikasi motor sesuai
keinginan pelanggan. “Misalnya, ada
pelanggan punya motor lawas tahun
90-an dan ingin menjadikannya
seperti motor baru, kami bisa bikin
sampai benar-benar jadi,” ujarnya.

Untuk modifikasi motor ini, Andika
mematok tarif Rp 7 juta – Rp 9 juta
per motor. Dalam sebulan,
bengkelnya menerima setidaknya 10
pesanan modifikasi.
Setiap pelanggan akan dilayani oleh
satu karyawan secara eksklusif.

Makanya, jika semua karyawan
sedang ada order, ia tidak akan
menerima pelanggan baru.
Meskipun bengkelnya ada di
Yogyakarta, Andika bilang,
pelanggan yang minta motornya
dimodifikasi bisa berasal dari
berbagai pelosok daerah. Pelanggan
luar Yogyakarta biasanya
mengirimkan mesin dan rangka
melalui jasa pengiriman.

Selanjutnya, ia akan berhubungan
via telepon atau email dengan
pelanggan untuk mengetahui
keinginan pelanggan.
Produksi kepala motor dari Balu
Oto Work tidak hanya dikenal
penggemar otomotif dari dalam
negeri.

Andhika sudah menjual kepala
motor berbahan fiber glass hingga
ke mancanegara, seperti Malaysia,
Singapura, dan India. Pasalnya,
kepala motor ini dijual secara
online, salah satunya melalui
Kaskus.
Tapi, ia juga memiliki dealer resmi
di luar negeri, yakni di Malaysia dan
Singapura. Balu Oto Work
memproduksi kepala atau bathok
motor dengan berbagai variasi.
Sebut saja, tokoh Optimus Prime
dari film Transformer, Kamen Rider,
Ghost Rider, hingga Alien. Ia
menjual kepala motor ini dengan
kisaran harga Rp 300.000 – Rp
600.000. Saban bulan, omzet
penjualan kepala motor saja bisa Rp
120 juta-an.

Berkat kreativitas ini, Andika
meraih beberapa penghargaan.
Contohnya, juara I dalam Lomba
Inovasi Bisnis Pemuda Kemenpora
2011, jawara Wirausaha Muda
Mandiri tingkat Jawa Tengah dan
DIY pada 2012.

Terjun ke bisnis modifikasi motor
bukanlah menjadi cita-cita awal
Andika Kairuliawan (23 tahun). Awal
bisnisnya ini dimulai dari rasa
kecewanya atas hasil modifikasi
orang lain yang pernah diorder di
Jakarta.

Andika merasa tidak puas dengan
hasil olahan tangan orang lain itu.
Ia juga mendengar ketidakpuasan
serupa dari teman-temannya yang
suka dengan modifikasi motor. Dari
sinilah, insting bisnisnya keluar.
Ia merasa ada ceruk pasar yang
besar dari bisnis modifikasi motor.
Ia bercita-cita untuk memenuhi
keinginan para penggemar motor
modifikasi.

Andika lantas mulai belajar
membuat kepala motor modifikasi
secara otodidak. Ia belajar
mengikuti pembuatan kepala motor
berbahan fiber glass yang
didapatnya dari situs Youtube.
Hingga akhirnya, ia memberanikan
diri membuka bengkel Balu Oto
Work pada Mei 2011 di Yogyakarta.

Untuk membuka bengkel, Andika
mengeluarkan modal sebesar Rp
800.000. Ia menggunakan modal itu
untuk membeli mesin kompresor
bekas yang digunakan untuk
mengecat bagian yang dimodifikasi.

Cetak kepala motor didapat dari
bahan-bahan yang sudah ada.
Sebagai awalan, Andika memasarkan
produk kepala motor hasil
modifikasinya lewat situs jual beli
online, di antaranya Kaskus.

Ia juga tak berhenti memasarkan
produknya secara langsung dengan
menggunakan ilmu pemasaran yang
didapatkannya dari pekerjaan
sebagai Audience Marketing
Manager untuk Microsoft
Innovation Center di Yogyakarta.
Tidak disangka, hasil olahan
tangannya menuai respon positif.
Pesanan untuk produk modifikasi
motor mulai berdatangan ke Balu
Oto Work. Ia pun harus merekrut
tambahan karyawan untuk
membantunya di bengkel.

Awal berbisnis, omzet Balu Oto
Work hanya mencapai Rp 2 juta per
bulan. Namun, sejak Andika
memenangi Lomba Inovasi Bisnis
Pemuda pada November 2011,
penjualan meningkat pesat.

Ia mulai menambah jumlah
karyawan karena permintaan kepala
motor dan order modifikasi terus
berdatangan. Kini, omzetnya
mencapai ratusan juta.

Andika mengkhususkan bengkelnya
sebagai produsen kepala motor
dengan karakter unik dari beragam
action figure. “Orang boleh
modifikasi motor di bengkel lain,
tapi kalau mencari kepala motor,
biasanya mereka pesan dari sini,”
ujarnya.

Bukan saja langganan kontes
otomotif, Andika juga sering
mengikuti pameran. Salah satunya,
ia menjadi perwakilan Indonesia
untuk International Auto Parts,
Accessories and Equip Exhibition
(INAPA) di JIEXPO Kemayoran pada
2012.

Ketika pameran berlangsung, ia
bertemu dengan warga Singapura
yang tertarik menjual produknya.
Sejak Juli 2012, produk modifikasi
motor Andika ikut dipajang di main
dealer di Singapura. Ia juga
memiliki main dealer di Malaysia.

Bisnis Andika terus berkembang.
Saat ini, ia memperkerjakan 28
karyawan di Balu Oto Work. Sekitar
40% karyawannya merupakan
orang-orang yang putus sekolah. Ia
rela memberikan pelatihan pada
mereka lantaran sulit menemukan
orang-orang yang mengerti betul
soal modifikasi motor.

Dalam perjalanan bisnisnya, Andika
sering menemukan hambatan. Salah
satunya, banyak orang meniru
produk kepala motor buatannya.
Namun, pria yang berprofesi
sebagai dosen itu tidak merasa
khawatir. Ia malah terpacu
menciptakan produk modifikasi
motor yang lebih inovatif dari
orang lain.

usianya yang masih relatif muda,
Andika Kairuliawan (23 tahun)
sukses menjadi pengusaha bengkal
modifikasi motor. Namun, ia tidak
ingin meninggalkan pengabdiannya
sebagai dosen di Universitas
Teknologi Yogyakarta (UTY).

Maklum saja, Andika sudah aktif
mengajar sebagai asisten dosen di
UTY semenjak duduk di semester
dua. Meski bebitu, keinginan
berwirausaha sudah timbul ketika
masih menjadi mahasiswa Teknik
Informatika UTY.

Melalui dukungan dan motivasi
yang diberikan kampusnya, Andika
pun bersemangat menekuni bisnis
otomotif. Meskipun tidak nyambung
dengan latar belakang kuliahnya, ia
mengaku bahwa kampusnya berjasa
dalam membentuk dia menjadi
seorang wirausahawan.

Makanya, semenjak menjadi dosen
di UTY, Andika kembali
menanamkan semangat wirausaha
pada mahasiswanya. “Saya
bersyukur karena UTY yang pertama
kali menanamkan pola pikir
berwirausaha pada saya,” kata dia.
Pekerjaan sebagai dosen juga
membantu Andika dalam bisnisnya.

Tidak jarang, ia harus mengajar
mahasiswa yang usianya lebih tua
dari dia. Dari situ, ia belajar untuk
berkomunikasi dengan pelanggan
yang usianya melebihi Andika.
Selain melanjutkan pengabdian
menjadi dosen, Andika pun ingin
produknya lebih dikenal lagi oleh
masyarakat. Salah satunya ialah
dengan mengikuti kompetisi.
Misalnya saja, kompetisi Wirausaha
Muda Mandiri. Kini, ia sudah
berada di jajaran finalis.

Ia berharap dengan ikut kompetisi
itu, kepala motor berbahan fiber
glass yang ia produksi makin
populer. Tidak hanya itu, Andika
berupaya terus berinovasi pada
produksi kepala motor buatannya.
Tahun ini rencananya, semakin
banyak karakter yang akan dijadikan
model kepala motor di Balu Oto
Work. Ia juga mendandani
pengendara motor dengan berbagai
aksesori. Di antaranya dengan
memproduksi sarung tangan dan
rompi.

Mimpi Andika tidak berhenti di situ.
Tahun ini, ia akan membangun 26
diler di beberapa provinsi di
Indonesia, serta lima diler resmi di
luar negeri, seperti Filipina dan
India.
Hal ini untuk memudahkan Andika
untuk memasarkan produknya.
Pasalnya, selama ini ia sendiri yang
menangani urusan pemasaran.
Padahal, orderan datang dari
berbagai daerah.

Andika juga berusaha membuat
pelanggannya merasa istimewa. Di
bengkel seluas 1.000 meter persegi,
ia selalu berusaha menjalin
komunikasi yang baik dengan
pelanggan.
Jika ada pelanggan yang ingin tubuh
motornya dimodifikasi, ia
menggunakan tanah liat sebagai
medium cetakan awal. Jika sudah
selesai, ia selalu membuang cetakan
itu agar tidak ada yang menyamai.
Untuk membuktikan bahwa
kepuasan pelanggan jadi nomor
satu baginya, Andika memberikan
jaminan produk. “Kalau ada
keretakan sedikit pun, apalagi ketika
dipasang, saya akan ganti tanpa
tambahan biaya,” ujarnya.

Andika juga tidak membedakan
pelanggan yang memesan eceran
maupun dalam partai besar. Semua
dilayani dengan maksimal. Baginya,
cara ini menjadi kunci sukses
pemasaran, khususnya promosi
getok tular. Ia sadar, pembeli
adalah raja.( Marantina )

sumber: http://mobile.kontan.co.id/news/mengembangkan-bisnis-andika-produksi-aksesori-3/2013/01/18

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,428 other followers