Category Archives: Kuliner

Deden, Sarjana yang Lebih Memilih Mengembangkan Usaha Kecap Ketimbang Jadi PNS, Kini Sukses Raup Omzet Ratusan Juta

Deden Narayanto, Mengincar Tukang Siomay dengan Kecap

Dalam bisnis kecap, namanya cukup

dikenal sebagai pemilik perusahaan

Kecap Segi Tiga yang ternama di

Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Usahanya memang bergerak perlahan

Namun pasti dan tengah merambah

ke Jakarta, Bekasi, dan Bandung.

Harapannya tidak mu1uk-mu1uk, ia hanya

ingin bersentuhan langsung dengan

tukang siomay, tukang sate, dan tukang

bakso yang jumlahnya ribuan.

 

Nama Kecap Segi Tiga mungkin belum

terlalu dikenal jika dibandingkan

dengan kecap-kecap nasional lainnya.

Namun, ini adalah salah satu perusahaan kecap

di Majalengka yang masih bertahan sejak tahun

1958. Kecap Segi Tiga didirikan oleh almarhum

Haji Lukman, kakek Deden, bersama 2 mitranya,

 

yaitu Aman dan Endek. Haji Lukman

tidak memberikan pengelolaan perusahaannya

kepada anaknya, tetapi ke Deden, yang notabene

adalah cucunya.

Hal itu terjadi tahun 2000, setahun setelah

Deden menyelesaikan kuliahnya. Deden tidak

bisa mengelak ketika kakeknya menanyakan

gaji yang dikehendakinya saat hendak melamar

pekerjaan. “Emang mau digaji berapa, gitu? Di

sini ada pekerjaan yang harus dikerjakan, kok

malah mau cari ke luar?’ Ini yang menyentak,

bukan karena berapa nilai gajinya. Tapi makna

pertanyaan itu yang menyentak. Sehingga saya

pun tidak jadi mencari kerja. Jadi, sampai

sekarang saya belum pernah melamar pekerjaan

sama sekali. Melamar ke istri doang,” kenang

 

Deden saat memutuskan untuk melanjutkan usaha

 

kakeknya.

 

MELANJUTKAN TONGKAT ESTAFET

 

Saat berpindah tangan, aset perusahaan tersebut

 

baru bernilai Rp 1 Miliar. Berbekal pengalaman

 

membantu kakeknya sejak duduk di bangku SMP

 

hingga kuliah, Deden melanjutkan usaha itu

 

dengan memperbaiki manajemen, dari tradisional

 

menjadi lebih modern. Deden ingat betul betapa

 

sibuk kakeknya mengurus segala sesuatu

 

untuk mempertahankan usahanya. Berbagai

 

urusan dipikirkan dan dikerjakan sendiri.

 

Manajemen seperti inilah yang menurutnya

 

sulit membuat perusahaan berkembang. Deden

 

memperbaikinya dengan merekrut orang untuk

 

mengurus administrasi, produksi, keuangan,

 

hingga pemasaran. “Jadi bukan hanya pimpinan

 

saja yang harus memikirkan. Tapi ada yang

 

memikirkan bagian-bagiannya. Ini alhamdulillah

 

sudah berjalan,” ucapnya bersyukur.

 

Pabrik yang awalnya berlokasi di rumah,

 

kemudian pindah ke lahan yang kecil pada

 

tahun 1980. Kini, lahan tersebut sudah

diperluas. Pertumbuhan penduduk Majalengka

 

yang cepat membuat Deden pun cepat

bertindak dengan membeli lahan kosong di

 

belakang pabrik tahun 2002. Tujuannya, untuk

melakukan perluasan sehingga kapasitas

 

produksi bisa ditingkatkan. Total karyawan

 

pun diperbesar menjadi 38 orang, kebanyakan

 

diambil dari masyarakat sekitar. Para pemula

biasanya hanya ditempatkan di bagian pengisian

 

kecap. Jika sudah menguasai kemampuan ini,

 

mereka bisa diajarkan keahlian baru, seperti

 

pemasakan. Syarat menjadi pegawainya pun

 

cuma satu, bisa membedakan rasa, mana yang

Kecap Segi Tiga dan mana yang bukan.

Khusus urusan produksi, Deden tidak mau

 

meninggalkan kekhasan Kecap Segi Tiga

yang kental dengan rasa kedelainya. Awalnya

 

Kecap Segi Tiga hanya memproduksi kecap

 

rasa asin dan manis sedang, sebab hanya 2 rasa

itulah yang disukai masyarakat Majalengka.

 

Selain itu, masyarakat Majalengka amat

menyukai kecap dengan rasa kedelai yang kental.

 

Deden memang tidak main-main untuk

urusan rasa. Kecapnya berbahan baku 50 persen

 

kedelai dan gula merah atau gula aren

yang berkualitas. Dan wanginya pun, menurut Deden,

 

masyarakat Majalengka sudah bisa membedakan

 

mana kecap Segi Tiga dan yang bukan.

Deden juga menanggung beban moral untuk

 

mempertahankan tradisi kecap Majalengka yang

 

kian tergusur.

Di tahun 1980-an ada 50-an pengusaha kecap. Namun,

kini tinggal 10 yang bertahan. “Ini sangat

 

mengkhawatirkan, karena kecap adalah produk

unggulan Majalengka juga. Harus benar-benar dijaga.

 

Bayangkan kalau anak cucu kita nanti tidak

 

tahu produk kecap Majalengka,” ujar bapak 2 anak ini.

Belajar dari rontoknya banyak perusahaan kecap yang

dulu tumbuh bersama, Deden menyadari bahwa jika tidak

mengikuti perkembangan pasar, dia akan tergerus oleh

perusahaan-perusahaan kecap besar. Selagi memperbaiki

 

manajemen, Deden pun mulai memikirkan inovasi untuk

ekspansi keluar Majalengka. Deden mulai dengan

 

mendaftarkan produknya ke Departemen Kesehatan,

 

meraih SNI, sertifikasi halai, bahkan mendaftarkan

 

hak cipta mereknya. Menurutnya, meskipun UKM,

 

perusahaannya harus mengikuti apa yang menjadi

perhatian masyarakat, termasuk packaging.

 

Selama ini, Kecap Segi Tiga hanya mengandalkan

 

botol bekas pakai yang dicuci dan diisi ulang.

 

Namun seiring waktu, banyak botol yang tidak

 

kembali karena hilang atau pecah.

Maka, mulai pertengahan tahun 2011, dibuat

 

kemasan standing pouch dari bahan plastik

 

dengan volume 225 ml. “Masyarakat

sekarang kan sudah berbeda, walaupun masih

 

ada orang yang pikirannya masih di sana, tapi

 

kan sekarang masyarakat memikirkan kesehatan.

 

Itu harus kita ikuti,” imbuh pria berusia 36

 

tahun ini. Ketika ditanyakan tentang sampah plastik,

Deden mengatakan bahwa plastik bekas tetap

bisa didaur ulang untuk dijadikan barang lain,

sehingga tidak mengotori lingkungan.

DIVERSIFIKASI USAHA

Untuk merambah pasar di luar Majalengka,

Kecap Segi Tiga mulai memproduksi kecap

 

manis. Pengalaman mereka menunjukkan ketika

 

menjual kecap asin dan manis sedang ke

daerah Bandung, produk tersebut ternyata tidak

dilirik sama sekali. Deden pun memperhatikan,

rupanya masyarakat kota besar seperti Jakarta,

Bandung, Bekasi, tidak senang dengan kecap

asin, manis sedang, dan encer. Mereka lebih

suka rasa manis dan kental. Dia pun meminta

kokinya untuk meracik kecap manis khas Kecap

Segi Tiga.

Dengan pengalaman meracik kecap sejak

tahun 1958, kokinya mampu membuat kecap

manis. Kelihaian sang koki sangat teruji. Terbukti

setiap ada kecap terbaru muncul di pasaran

selalu dicicipi, lalu dicoba meracik hingga

mendapatkan rasa yang sama, dan berhasil.

“Alhamdulillah kita bisa mendekati rasa begitu.

Jadi, walaupun tidak didukung keilmuan,

karena pengalaman, dia sudah paham; kurang

ini, kurang itu,” tutur lulusan manajemen teknik

industri Universitas Pasundan Bandung ini.

Selain memproduksi kecap, Deden sempat

melakukan diversifikasi usaha dengan membuat

minuman kemasan. Bahan bakunya dari jambu

merah yang berlimpah di Majalengka. Untuk

meraciknya, dia bekerja sama dengan pihak

ketiga. Sayangnya, ketika pihak ketiga itu jatuh,

perusahaan minumannya pun bangkrut karena

 

Deden tidak mengetahui bahan-bahan yang

perlu diracik. Namun, karena usaha ini dimulai

dari nol, Deden tidak merasa terbebani.

Setelah itu, Deden fokus mengembangkan

usaha kecapnya. Dia menargetkan pada 2013

kecapnya sudah menguasai pasar Jawa Barat.

Mulai dari rasa hingga ukuran akan disesuaikan

dengan produk yang beredar di Jawa Barat. Sejak

awal, produknya memang langsung ditujukan

ke pemakai—yakni langsung ke rumah tangga—

bukan ke toko-toko.

Sementara, pengguna kecap bukan hanya

rumah tangga. Bisnis makanan pun membutuhkan

 

kecap. Misalnya saja tukang siomay,

bakso, dan sate. Pangsa pasar ini belum

tersentuh oleh Kecap Segi Tiga yang berada

pada kisaran harga cukup mahal. Oleh karena

itu, kini Kecap Segi Tiga juga memproduksi

second line yang diberi nama Samara. Di sinilah

suntikan modal dibutuhkan. Sejak tahun 2009,

perusahaannya mendapat pinjaman secara

bertahap mulai dari Rp 500 juta hingga Rp 1,5

miliar dari bank bjb.

Namun, ternyata inovasi tak selalu mulus.

 

Pernah ada kejadian Deden kekurangan bahan

baku. Ia pun mengganti kedelai hitam yang

kurang itu dengan kedelai kuning. Hasilnya

cukup mengejutkan. Para pelanggan setianya

komplain karena mereka tahu rasa kecapnya

berubah. Untung saja perputarannya cepat,

 

sehingga setelah barang habis, Deden langsung

kembali menggunakan bahan-bahan racikan

seperti biasa.

Kejadian lain adalah saat Deden meng-update

label. Karena konsumen setia sudah hafal di

luar kepala label lamanya, maka ketika beredar

label baru, mereka malah mengira itu produk

palsu. Lagi-lagi Deden belajar arti penting

sosialisasi. Dia kemudian menyebar pamfiet dan

mengembalikan label ke model lamanya lagi.

“Namun saya berani berinovasi dan

 

mendiferensiasikan produk. Karena Kecap Segi

Tiga memiliki harga cukup tinggi, saya

membuat label Kecap Samara untuk segmen

di bawahnya. Saat ekonomi terganggu, saya

ciptakan merek Samara untuk mengatasi

masalah harga jual. Konsumen Segi Tiga tidak

terganggu, dan saya mendapat pelanggan

 

baru, termasuk pelanggan Segi Tiga yang

merasa harganya terlalu tinggi,” urai Deden.

Cara ini ternyata berhasil. Dengan menyasar

Pedagang-pedagang kecil, dalam waktu 2 tahun,

omzet Samara sudah menyamai Segi Tiga.

 

Pendekatan dijajaki ke para penjual siomay, bakso,

 

dan sate di Bandung dan Bekasi, bahkan saat

ini sedang menjajaki Jakarta dan Tangerang.

Di Bandung, Kecap Samara bekerja sama

dengan asosiasi tukang sate. Menurut Deden,

seorang tukang sate bisa menghabiskan 20 krat

kecap dalam sebulan. Sementara di Jakarta,

 

Deden sedang menjajaki kerja sama dengan

perkumpulan tukang siomay, yang kebanyakan

memang berasal dari Majalengka.

“Itu sampai ribuan orang. Di satu desa

saja sampai seribu orang yang pergi ke

Jakarta untuk jualan siomay. Sebotol habis

 

dalam 2 hari. Kemarin kita sudah ngobrol,

ternyata mereka tertarik. Selama ini mereka

menggunakan kecap merek terkenal, tapi

jatuhnya mahal. Kita tawarin kecap kita.

Kualitas sama, tetapi harganya lebih murah,”

terang Deden.

 

PRODUKSI & PROMOSI TRADISIONAL

Selain itu, Kecap Segi Tiga juga menggandeng

pengusaha yang memasok ke toko-toko atau ke

warung-warung kecil. Deden berhasil menggaet

seorang pengusaha yang memiliki jaringan toko

dan warung se-Jawa Barat. “Dia punya jaringan

500 outlet di satu kabupaten saja. Jadi kalau di

Jawa Barat ada 26 kabupaten atau kota berarti

kan lumayan,” hitungnya.

Menurut Deden, langkah tersebut dilakukan

mengingat biaya promosi yang sangat minim,

yakni 2 persen saja dari jumlah biaya-biaya

lainnya. Deden menyadari henar bahwa

 

perusahaan kecapnya lemah dari segi promosi.

Mereka hanya promosi di daerah lokal, melalui

radio dan koran. Kalaupun televisi, mereka

masih mencari yang gratis, misalnya dari

liputan media. Kecap Segi Tiga sudah pernah

diliput TVOne dan TPI (Sekarang MNC TV).

Menurutnya, ketimbang beriklan lebih efektif

mengikuti pameran. Misalnya saja pameran

Agro dari Dinas Industri dan Perdagangan.

Deden juga pernah mengikuti 2 kali pameran di

 

Singapura dan mendapat sambutan bagus dari

perusahaan negeri singa itu, sebab kecap di sana

terasa hambar. Namun untuk memasarkan ke

sana, penyalurnya belum didapat.

Pengalaman pahit pun pernah dialami Deden

dalam usahanya ini. Saat mengikuti pameran,

dia pernah mendapat pembeli dari Jakarta yang

memesan langsung 1 truk, dengan pembayaran

giro. Namun setelah kecap dikirim, giro tidak

bisa dicairkan. Selama sebulan menunggu,

hasilnya tetap sama. Ketika didatangi kembali,

kantor tersebut sudah kosong. Deden pun harus

menelan pu pahit, rugi Rp 20 juta.

Selain itu, Kecap Segi Tiga pernah bekerja

sama dengan sebuah pesantren terkenal

binaan dai kondang di Bandung yang banyak

memberikan pelatihan pada tahun 2000.

Deden berani berinvestasi karena pesantren

itu tumbuh pesat sekali. Kecapnya pun banyak

yang memesan, hingga mencapai 100 ribu botol.

Namun sayang, manajemen di dalam pesantren

itu rupanya belum bagus. Infrastruktur di

bawahnya belum siap, yang pada akhirnya malah

 

menimbulkan kekacauan dan harus dihentikan.

Hal itu pun berimbas pada perusahaan Deden.

“Tapi itu tidak membuat kita putus asa,” ucapnya.

Kelemahan bukan hanya dari promosi saja,

melainkan juga dari bagian produksi. Misalnya,

alat produksi yang digunakan masih sangat

tradisional. Untuk pengisian pun belum semi

otomatis. Walaupun sadar bahwa ada proses yang

 

memang tidak bisa dilakukan oleh mesin, seperti

fermentasi, Deden tidak ingin menggunakan

bakteri sintesis. Dia tetap menggunakan jamur

yang biangnya disimpan dalam lemari sejak

tahun 198o—meski prosesnya membutuhkan

waktu sebulan. Menurutnya, penggunaan bahan

sintesis akan mengubah kekhasan rasa kecap

Segi Tiga.

 

“Untuk fermentasi di tong pun bisa saja

kita pakai wadah stainless, tapi rasanya akan

berbeda. Makanya kita tetap pakai tong dari

kayu jati. Pokoknya untuk proses produksi

sebelum digodok itu tetap dipertahankan. Kalau

tidak ada jamur itu, kita tidak bisa produksi.

Karena bahan utamanya di situ,” paparnya.

Untuk bahan baku, Deden mengambil kedelai

hitam dari Jawa Tengah karena kualitasnya

lebih baik ketimbang kedelai impor dari Cina.

Apalagi bahan kedelai yang memakai bahan

pengawet sangat berpengaruh pada kualitas

kecap. Namun, proses mendapatkan bahan baku

ini tidak selalu berjalan mulus. Misalnya, ketika

petani yang menyuplai kedelai mengalami gagal

panen. Untuk itulah, Deden berencana bermitra

dengan petani Majalengka.

Deden memprediksi bahwa bermitra dengan

petani Majalengka untuk menanam kedelai

hitam di daerah tersebut akan memecahkan

permasalahan. Ongkos produksi otomatis

 

banyak terpangkas. Berdasarkan uji coba,

 

hasilnya memuaskan. Bahkan lebih baik dari kedelai

hitam Jawa Tengah. “Kotoran tanahnya itu

enggak ada karena proses panennya juga beda.

Kalau di sana dirabut sehingga tanahnya ikut.

Kalau di Majalengka diarit,”jelasnya. Sementara

 

untuk gula, Deden mengambil dari beberapa

daerah seperti Bandung, Purwokerto, dan

Ciamis, karena ketiganya merupakan penghasil

gula aren berkualitas.

Dalam sebulan, pabrik kecap Deden menghasilkan

 

30 ribu botol berbagai ukuran, yakni

140 ml, 250 ml, dan 500 ml. Sementara untuk

standing pouch dibuat ukuran 350 ml dan 600

ml. Ukuran lama, yakni 250 ml dan 500 ml

juga tetap diproduksi. Omzetnya berkisar Rp

300-400 juta sebulan. Deden juga memasok

produknya ke koperasi bersama yang berada

di dekat pabriknya, selain menjual ke agen di

Subang, Jakarta, Bandung, dan Bekasi. Untuk

pasar di luar Majalengka itu, pengiriman

dilakukan secara langsung.

MANAJEMEN PERSAINGAN

Di Majalengka sendiri peta persaingan kecap

lokal tidak terlalu ketat, mengingat pelakunya

tinggal 10 perusahaan. Selain itu, tidak ada

pengusaha lokal yang memasuki segmen yang

dibidik oleh Kecap Segi Tiga. Persaingan baru

terlihat pada segmen yang didiami Kecap

Samara. Di sanalah ke-10 produsen yang masih

bertahan memperebutkan segmen yang diambil

Kecap Samara.

 

Namun, persaingan tentu saja muncul

dari merek-merek kecap nasional. Dan, yang

membuat Deden tersanjung, dia sempat diajak

bekerja sama menyuplai produksi untuk

 

memenuhi permintaan pasar mereka. Namun,

tawaran tersebut ditolaknya secara halus, melihat

pengalaman beberapa UKM di sekitarnya yang

berakhir hanya sebagai penyedia produk semata

atau diambil alih.

Menipisnya persaingan membuat Deden

senang bercampur sedih. Senang, karena

 

tidak banyak pesaing. Sedih, karena hal ini

menunjukkan tidak adanya persatuan di antara

pengusaha lokal. Pernah Deden menggagas

asosiasi pengusaha kecap di tahun 2000, namun

yang terjadi hanya penolakan. Dia malah dicap

sebagai pesaing yang akan mengambil lahan

pasar mereka. “Ternyata mereka takut karena

hanya melihat kita sebagai pesaing, takut

lahannya diambil. Itu masih ada yang kayak

gitu. Kalau saya mah, walaupun pesaing masih

teman juga,” sesalnya.

Padahal, misi yang diusung Deden adalah

 

membuat koperasi pemasaran kecap bersama.

Dengan adanya koperasi, masalah tersebut

bisa diatasi lebih mudah. Sesama pengusaha

kecap bisa bahu-membahu mempertahankan

usahanya sehingga tidak mudah gulung tikar.

Apalagi, ada kalanya datang masa-masa suram

musiman untuk pengusaha kecap. Misalnya,

ketika kedelai hitam sulit didapat.

Sejak diterpa badai krisis tahun 2007

hingga kini, kedelai cenderung lebih sulit

dicari. Kalaupun ada, harganya naik hingga

20 persen, sementara harga kecapnya hanya

naik 5 persen setahun sekali, yakni menjelang

Lebaran. Padahal, bahan baku memakan 50

persen ongkos produksi. Jika saat krisis moneter

1997 tetap laris manis dengan keuntungan bisa

mencapai 50 persen, pada krisis global ini

mendapatkan keuntungan 10-20 persen sudah

sangat bagus.

Tak ingin usahanya hanya bermanfaat

untuk keluarga pribadi, Deden menaati ajaran

kakeknya agar perusahaan Kecap Segi Tiga

juga banyak memberi manfaat bagi masyarakat

 

melalui Yayasan Al Lukman. Laba perusahaan

dipakai untuk membangun gedung sekolah (TK

dan Madrasah Diniyah).

Agar semakin menyentuh masyarakat, Kecap

Segi Tiga harus terus mengikuti perkembangan

masyarakat. Seperti kisah terciptanya jenis

kecap rasa manis, ke depannya pun Deden

siap membentuk varian apa saja, jika memang

diinginkan pasar. “Kita mau bikin rasa stroberi.

Enggak ada, kan? Misalkan masyarakat suka,

kenapa kita enggak buat?” cetusnya sambil

tersenyum lebar.

 

Deden juga sudah mulai membiasakan

kedua anaknya berwirausaha, agar jangan

hanya mencari pekerjaan saja. Apalagi

menjadi pegawai negeri sipil (PNS). “Saya

sering dipanggil sharing, sama teman-teman

perguruan tinggi. Kita mencoba membuka

mindset, jangan sampai para kaum terpelajar

hanya terpaku menjadi PNS saja. Dari 10 pintu

rezeki, 9 di antaranya berasal dari usaha. PNS

hanya ada di 1 pintu itu. Jadi, kita harus buka

kemandirian,” demikian tutup pelaku usaha

mikro ini.

 

Catatan Rhenald Kasali

DI SELURUH WILAYAH Nusantara selalu ditemui dua tipe pengusaha. Pengusaha

 

nasional yang berambisi menjadi market leader dengan modal besar dan serbe

 

massal, dan pengusaha lokal yang hanya berambisi mengisi ceruk-ceruk kecil

 

di wilayahnya. Yang partama dibangun dengan kekuatan merek dan televisi,

 

sedangkan yang kedua dibangun dengan kekuatan rasa (produk) dan radio (atau

 

kekerabatan pedagang).

Pengusaha-pengusaha mikro yang bekerja dengan dua hingga tiga orang

 

pekerja, dengan perabotan produksi seadanya, akan punah dengan sendirinya

 

kalau merek tidak mengikuti irama evolusi. Selera pasar akan berubah,

kendati jaringan distribusi tetap diam di tempat dan loyal memasarkan

 

produk-produk buatan mereka. Demikian pula alam semesta ini ikut berubah

 

membuat peta perjalanan dan pasokan bahan baku dan metode pembayaran

berubah. Ini berarti pengusaha-pengusaha mikro dan kecil harus ikut

 

berubah, beradaptasi, dan tentu saja harus naik kelas.

Demikian pulalah dengan produk kecap. Setiap daerah memiliki lidah yang

 

tidak sama karena mereka mengonsumsi makanan-makanan lokal yang berbeda-

 

beda. Di satu daerah seleranya manis, di daerah lain tidak suka yang

 

manis, melainkan pedas, dan daerah lainnya senang yang ada rasa cuka dan

 

seterusnya. Namun, masing-masing mereka bisa mengalami masalah yang sama

 

yaitu serbuan makanan nasional yang dipasarkan melalui jaringan waralaba

 

dan beralihnya kedelai ka tangan produsen-produsen besar.

Dari perjalanan Kecap Segi Tiga kita belajar bahwa usaha mikro memang

 

tangguh dan tahan banting, namun juga ringkih dan mudah gugur kalau

 

fondasinya dibangun di atas pasar yang rapuh. Di masa depan, UMKM (Usaha

Mikro Kecil dan Menengah) memerlukan lebih dari sekadar semangat dan kerja

 

keras, melainkan visi besar, ambisi untuk maju, dan pengetahuan yang

 

memadai untuk memperbaiki produk, melakukan adaptasi, memperbaiki

manajemen, dan seterusnya.

 

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun:  Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012

Suhaemah, Awalnya Ibu Rumah Tangga Biasa, Kini Sukses Lewat Usaha Dodol Mangga dan Aneka Keripik Beromzet Ratusan Juta per Bulan

Popon Suhaemah, Sukses Semanis Dodol Serenyah Keripik

Melihat hasil panen raya dari 83 pohon

mangganya sia-sia, ibu yang tidak

bekerja ini pun berpikir untuk menjual

jus. Kebetulan ada sekolahan di dekat

rumahnya. Meski usaha jusnya tak

berlangsung lama, namun ia tetap

dapat memanfaatkan sumber daya

di sekitarnya menjadi camilan yang

membuat lidah berdansa.

Ide bisnis memang dapat datang dari mana

saja. Termasuk dari pelataran rumah Popon

Suhaemah di Kelurahan Cijati, Kabupaten

Majalengka. Sebelum menjual jus, Popon pernah

membuat usaha telur asin tahun 2000 yang

berakhir ketika peternak bebek menghilang dari

desanya karena musim kemarau.

Senasib dengan usaha telur asin, usaha menjual

jus pun tidak berlangsung lama. Pasalnya,

baru seminggu disimpan, jus buatannya sudah

mengeluarkan bakteri. Dia memutar otak agar

olahan jus mangganya bisa tahan lama, tidak

cepat busuk. “Akhirnya saya berkonsultasi ke

Dinas Kesehatan, kalau pengen lama bagaimana

nih, saya bilang begitu,” cerita Popon mengenang

awal usahanya.

Atas saran pegawai Dinkes, Popon mengikuti

pelatihan untuk mendapatkan Surat Penyuluhan

(SP)—kini Perizinan Industri Rumah Tangga

(PIRT). Dia mendapat ilmu baru bagaimana

mengawetkan mangga dengan bahan pengawet

yang sudah diperbolehkan. Pada 31 Oktober

2002, dengan SP di tangan, Popon mendaftarkan

dagangannya dengan nama ‘Ibu Popon’. “Saya

berpikir sederhana waktu itu, kalau orang

nyari saya gampang, karena saya orang sini asli.

Kalau orang tanya Bu Popon, semua pasti tahu,”

cetusnya.

MEMANFAATKAN BUAH YANG BERLIMPAH

Setelah suaminya di-PHK saat krisis moneter

tahun 1998, perempuan asal Majalengka ini memang

harus pintar-pintar mencari peluang. Pada

bulan Oktober 2003, pohon mangganya kembali

menghasilkan buah yang banyak. Bermodalkan

ilmu dan pelatihan sebelumnya, Popon mengolah

mangga tersebut menjadi dodol dengan

menambahkan pengawet yang sudah mendapat

izin Dinas Kesehatan.

Dengan mengendarai motor GL 86, Popon

menaruh dodolnya di beberapa warung di

desanya. Setiap warung dititipkan sekitar 20

bungkus dodol. Dalam pikirannya, dodol yang

dibuatnya harus habis, tidak lagi disimpan di

rumah.

Namun, harapan tidak seindah kenyataan.

Ketika seminggu kemudian Popon menagih

hasil penjualan ke warung-warung tersebut,

ternyata dodol yang laku hanya 2-5 bungkus

saja. Selebihnya dikembalikan. Kejadian ini

berlangsung beberapa waktu. Untuk menghindari

malu kepada ibunya, Popon selalu membawa

gunting di tasnya. Dodol yang tidak laku

digunting dan dibuang ke sungai. Sementara

merek ‘Ibu Popon’ yang tertera di bungkus, ia

bakar.

Siapa sangka, keuletannya menjual dodol

mangga ke warung-warung itu menarik minat

seorang staf Dinas Pertanian. Betapa senangnya

Popon ketika tempat usahanya dikunjungi orang

berseragam dinas cokelat-cokelat. Rupanya,

orang tersebut hendak membeli dodolnya untuk

dibawa ke provinsi. Ia ingin menunjukkan bahwa

Majalengka pun bisa menghasilkan penganan

khas, mengingat daerah ini memang terkenal

dengan banyaknya pohon mangga.

“Dari hari itu seperti ada titik terang bagi

saya. Seperti ada malaikat penolong. Terus,

setelah ngobrol, saya minta nomor teleponnya,

dikasihlah nomor telepon,” tutur Popon. Setelah

Lebaran, Popon berkunjung ke Dinas Pertanian

tingkat Kabupaten Majalengka. Dia bertemu

dengan Pak Nunu, yang mengenalkannya

kepada Kepala Seksi Usaha. Kesempatan itu

dipergunakannya untuk berkisah panjang lebar

tentang kendala usahanya dan mimpi-mimpi

pengembangan usaha. Gayung pun bersambut,

Popon diajak menjadi warga tani binaan Dinas

Pertanian dengan syarat membentuk kelompok.

Bersama dengan 4 saudaranya, Popon membentuk

kelompok Asri Rahayu. Mereka mengumpulkan

uang Rp 50 ribu per orang untuk

mengikuti pembinaan tani. Mereka terus

melakukan trial and error dalam pembuatan

dodol mangga tanpa kenal lelah. “Kadang-

kadang belum diedarkan, dodol tersebut sudah

jamuran. Kemudian kami berkonsultasi

dan disarankan memakai lemak sapi, namun

hasilnya bau,” kenang Popon.

Nyaris setiap hari Popon dan kelompoknya

melakukan uji coba dan hasilnya dikonsultasikan

ke Dinas Pertanian, hingga akhirnya dikirim

ke pelatihan pengolahan pascapanen di Balai

Pelatihan Pertanian Cihea, Cianjur. “Di situ saya

mulai mendapat ilmu. Ooohhh… rupanya begini

cara mengolah dodol. Mulailah saya diajak studi

banding ke Ciamis, lalu Sukasena. Dari situ saya

semakin semangat. Oh kalau orang lain bisa,

kenapa saya enggak,” yakinnya.

Sejak saat itu, Popon semakin aktif mengikuti

pelatihan, mulai dari proses pengolahan sampai

packaging. Di pelatihan itu juga dia baru

mengetahui bahwa sebuah merek yang kuat

sebaiknya memiliki arti dan pengaruh yang

besar. Namun hal tersebut tidak membuatnya

mengubah merek yang sudah teregistrasi.

Selain pelatihan, Popon juga mendapat

bantuan dari Universitas Padjajaran (Unpad)

dan Universitas Pasundan (Unpas). Setiap

permasalahan juga dikonsultasikan kepada

para profesor Jurusan Teknologi Pangan pada

kedua perguruan tinggi tersebut. Bahkan Popon

memberikan tempatnya untuk menjadi

tempat penelitian mahasiswa, yang menurutnya

amat membantu usahanya. Berkat penelitian

mahasiswa jualah camilan ‘Ibu Popon’ kini

sudah mencantumkan informasi kandungan

nutrisi. Produknya pun kerap diajak pameran

yang digelar di lingkungan kedua universitas

tersebut.

Tahun 2004, jenis olahan Popon mulai beraneka

ragam. Dia mendapat tawaran alat vacuum

frying untuk menggoreng keripik. Selama

setahun dia harus mempelajari kegunaan alat

tersebut dan menghasilkan produk keripik

dan buah-buahan. Popon hanya fokus agar

keripiknya bagus. Dia belajar bagaimana

keripik pisangnya tidak cepat letoy. Ia baru

tahu, ternyata jenis pisang dan tingkat

kematangannya pun sangat berpengaruh.

“Jadi kita sekarang sudah bisa menentukan

Pisangnya seperti apa, kulitnya seperti

apa, harus kita goreng hingga kematangan

seperti apa. Kalau yang lewat dari sortasi

itu jadi dodol. Kalau dulu mah dihantam aja,

digoreng semua pisangnya. Pikirannya

sederhana, daripada dibuang,” papar Popon.

Meski tak pernah putus belajar, baru saat

menginjak tahun ketiga, Popon bisa menggoreng

keripik yang tahan lama. Seiring waktu pun

orang makin mengenal produk dodol dan keripik

merek ‘Ibu Popon’.

Popon pun terus belajar menjalankan usahanya ini.

Misalnya dalam menentukan harga.

Dengan berat 1 ons, Popon menjual keripik

tersebut ke warung seharga Rp3.500 dan dijual

warung tersebut ke masyarakat seharga

Rp5.000. Padahal ada juga yang menjual keripik

pisang seberat 1/4 kg dengan harga Rp2.500.

Sukses? Ternyata belum. Keripik pisang Popon

ternyata tidak laku dan ia kembali menerima

banyak retur. Maka ia pun menata ulang

penentuan harga produk-produknya.

MEMBESARKAN USAHA

Seperti usaha kecil lainnya, Popon pun mulai

mengalami permasalahan modal. Dengan bantuan

Dinas Koperasi, dia mendapat jaminan

untuk mendapatkan pinjaman dari bank bjb

sebesar Rp 9 juta pada 2005. Dia juga diajak

mengikuti pameran-pameran oleh Departemen

Perindustrian. Saat ini hampir semua wilayah

Indonesia sudah dikunjunginya untuk pameran,

mulai dari Surabaya, Jakarta, Makassar, NTB,

hingga Batam. Bahkan produk ‘Ibu Popon’ sudah

ikut pameran ke Singapore Expo (Singex).

Dari pameran-pameran itu juga Popon mengenal

packaging yang baik dan menarik.

Packaging House di Bandung menyarankan

Popon untuk membuat packaging yang menarik

dan menimbulkan minat orang untuk membeli.

Ketika pameran di Singex, produk Popon tidak

hanya dikemas dalam plastik, tapi dimasukkan

dalam kaleng dan kardus suvenir.

Dari pameran—pameran tersebut merek ‘Ibu

Popon’ akhirnya mulai dikenal orang. Sekarang

banyak pihak yang justru ingin memasarkan

camilan produksi Popon. Pemasarannya pun

sekarang sudah tak lagi hanya di sekitar

Majalengka, tapi sudah masuk Jakarta, termasuk

rest area jalan tol dan koperasi di perkantoran

Jalan Jenderal Sudirman. Di Bogor, produk Popon dapat

ditemukan di sentra oleh-oleh Priangan Sari. Pusat

perbelanjaan besar seperti Carrefour dan Yogya

pun sudah menjual camilan khas ‘Ibu Popon’.

Setelah usahanya semakin berkembang,

kini saatnya gantian, Popon harus membina

kelompok ibu-ibu wanita tani di desa-desa di

Majalengka. Saat ini dia sudah membina sekitar

40 kelompok, yang tiap kelompoknya terdiri

dari 10 orang. Setiap kelompok dibuatnya

memiliki keahlian khusus, misalnya membuat

keripik pisang saja, keripik jagung saja, atau

keripik salak saja. Muiai dari bumbu hingga

standard operational procedure (SOP) dan

pengawasannya dikontroi langsung oleh Popon.

Produksi dari setiap kelompok tani itu dijual

ke tempatnya.

Hingga saat ini, kelompok wanita tani binaan

Popon bukan hanya menghasilkan berbagai jenis

keripik, tapi juga rempeyek kacang hijau, hingga

sumpia (sejenis makanan ringan berbentuk

lumpia kecil dan digoreng kering) isi oncom.

Sementara di fasilitas produksinya, Popon sudah

menghasilkan keripik pisang, keripik

nangka, keripik salak, dodol jambu biji, dodol

mangga, dan dodol pisang. Siapa sangka wanita

berpenampilan sederhana ini bisa menyulap

mangga, salak, pisang, nangka, jagung menjadi

camilan seperti dodol dan keripik?

Popon pun rajin mengutak-atik produknya.

Misalnya, sumpia yang biasanya berisi udang

atau ebi, kini diganti dengan oncom. Popon

mengaku terkejut karena idenya itu ternyata

diminati banyak orang. Awalnya, dia hanya

melihat bahwa desanya banyak memproduksi

oncom. Dia pun memberdayakan masyarakat

untuk membungkus oncom dengan kulit lumpia.

Upah yang diberikan sebesar Rp2.000 per

kilogram dan dibayarkan setiap hari Sabtu.

Popon tinggal mempekerjakan orang untuk

menggoreng sumpia oncom tersebut.

Sementara emping jagung Popon paling di

minati oleh konsumen di Bogor. Awalnya Popon

hanya membuat rasa original. Namun para

pembelinya meminta diberi taburan bumbu rasa

barbekyu, yang kemudian dia penuhi. Meskipun

demikian, emping jagung rasa original juga tak

kalah peminatnya.

Popon dengan cepat juga mempelajari bahwa

setiap daerah di Jawa Barat ini memiliki

permintaan yang berbeda. Jika orang Bogor suka

emping jagung, di Jakarta yang paling laris

adalah keripik pisang. Rest area pada jalan tol

di Jakarta bahkan mengorder 2 kuintal setiap

2 minggu sekali. Artinya, dia harus mengolah 2

ton pisang untuk menghasilkan keripik pisang

sebanyak itu. Padahal, dengan kemampuannya

saat ini hanya 600-700 kilogram yang bisa

diolah karena terkendala alat produksi yang

minim dan kurang memadainya luas fasilitas

produksinya saat ini.

“Dengan 5 alat vacuum yang dimiliki saat

ini, kapasitas kita baru 1.000 kg keripik tiap

bulan,” ujar sarjana pendidikan Islam yang

memelesetkan gelar S.Pd.I yang diraihnya

menjadi sarjana pembuat dodol Ibu Popon.

Untuk itu, dia pun meminta tambahan modal.

Setelah melunasi utang Rp 9 juta, tahun 2007

Popon mendapat pinjaman lagi dari bank

bjb sebesar Rp 50 juta. Bisnisnya bertambah

pesat, dan keberaniannya berbisnis semakin

besar. Dan, akhir tahun 2010 lalu dia mendapat

pinjaman Rp 250 juta untuk membeli alat

produksi dan memindahkan fasilitas produksi

ke sebelah tokonya.

Saat ini, Popon baru mampu menghasilkan

2.000 kilogram untuk seluruh jenis produknya.

Khusus keripik dapat dihasilkan 1.000 kilogram,

yang artinya membutuhkan 10 ton bahan baku.

Untungnya, di bumi Nusantara ini Popon tidak

pernah kesulitan urusan bahan baku. Bermitra

dengan petani dan pengolah setengah jadi (pure)

membuat ketersediaan bahan tidak pernah

kurang. Selain itu, misalnya untuk mangga,

Popon membuat stok dengan menyimpannya

dalam beberapa buah freezer. Untuk pisang,

Popon bermitra dengan petani dan pengumpul

di Rajagaluh, Majaengka. Untuk nangka, ada

temannya yang berburu nangka dan menyetorkan

hasil buruannya kepada Popon.

Keripik yang awalnya hanya dilakukan coba-

coba, kini menjadi dagangan yang paling

diandalkan, mengingat penjualannya selalu habis.

Apalagi bahan baku buah-buahan amat berlimpah

di daerahnya. Inilah keuntungannya memulai

bisnis dengan memperhitungkan masak

masak sumber daya alam yang dibutuhkan

untuk keperluan tersebut.

Dari perjalanan panjangnya di awal usaha,

Popon banyak memperoleh pelajaran dan

pengalaman yang mendukung kemajuan usahanya.

Misalnya saja, dia menyadari pentingnya merek.

“Sekarang saya baru sadar, merek ternyata besar

artinya. Merek harus punya ciri khas, hurufnya

jangan terlalu banyak. Nah, itu saya baru dapat

sekarang, tapi sudah telanjur jadi dan terdaftar,”

ujarnya sambil tertawa.

MELATIH MASYARAKAT SEKITAR

Untuk sumber daya manusianya, Popon tidak

mau lagi hanya sekadar banyak menyerap tenaga

kerja. Dia kini ingin usahanya memberi manfaat

untuk orang lain. Bukan hanya bermanfaat

bagi sanak saudara, tetangga, kelompok tani,

dan para santri dari pesantren yang didirikan

ayahnya, melainkan juga bagi anak sekolah yang

tidak mampu. Mereka bisa magang di pabriknya.

Popon memberi pelatihan produksi kepada

mereka secara langsung. Mereka diarahkan sesuai

dengan kemampuan masing-masing. Tak

tanggung-tanggung, Popon kini sudah memiliki

standar pelatihan, termasuk masalah kesehatan

serta kebersihan. Penggunaan celemek, penutup

kepala, dan penutup mulut, misalnya, adalah

sebuah keharusan. Bahkan ada modul yang

harus dipelajari calon pekerjanya.

Popon mencari anak-anak yang berpotensi.

Menurutnya, secara hukum alam, anak yang

kurang mau belajar akan tersingkir dengan

sendirinya, sementara yang bertahan akan

diberi pelatihan oleh suku dinas setempat. Ketika

mereka sudah keluar dari sekolah, Popon

mengajak mereka membantunya.

“Misalnya untuk membuat keripik jagung.

Kontrol, penjualan, dan bahan baku dari saya.

Jadi, hubungan saya dengan anak-anak ada

kaitan emosionalnya dan menjadi lebih panjang.

Bahkan petani mitra juga begitu, jadi banyak

berhubungan dengan santri-santri pesantren

yang saya kenal dari awal,” paparnya.

Saat ini, Popon memiliki 17 orang pegawai,

yang dibagi ke dalam 2 sif. Sementara untuk

urusan administrasi, ia memiliki 5 orang

karyawan yang sejak awal sudah ikut membangun

usaha keripik tersebut. Popon memberikan upah

untuk karyawannya yang bekerja

di fasilitas produksi dan outlet sebesar Rp 10

ribu per hari plus insentif dari jumlah pnoduksi

dan penjualan yang melebihi target. Kerajinan

masuk kerja pun memengaruhi pemberian insentif.

Sementana untuk tenaga teknis seperti orang

orang yang menangani mesin, dibayar sesuai

dengan jumlah alat yang dipegang. Tenaga

borongan, biasanya untuk bagian pembungkusan,

mendapat upah Rp 20 per bungkus. Biasanya

dibayarkan setiap minggu, atau sesuai dengan

permintaan tenaga borongan tersebut.

Popon tidak melupakan kesejahteraan masa

depan karyawannya. Zakat usaha diberikan

kepada karyawannya dalam bentuk tabungan

pensiun. Bahkan setiap tahunnya ada jatah

kurban Idul Adha untuk pegawainya yang

dilakukan secara bergantian. Kurban ini didapat

dengan menjual minyak goreng bekas yang

masih bersih kepada penduduk sekitar. Untuk

melepas jenuh, pada setiap tanggal 31 Oktober,

yakni hari ulang tahun usahanya, Popon dan

karyawannya pergi piknik bersama.

Popon juga telah menyiapkan regenerasi

untuk menjalankan bisnisnya. Dia melibatkan

langsung adiknya. Juga, salah satu keponakannya

diangkat menjadi sekretaris. Dengan

manajemen keluarga seperti ini, Popon merasa

lebih aman. Selain faktor kepercayaan, menurut

Popon, keluarga lebih mudah dipegang karena

ada rasa kebersamaan dan kepemilikan yang kuat.

Tentu saja, manajemen keluarga bukannya

tanpa masalah sama sekali. Misalnya, ada

anggota keluarga yang menitipkan anaknya

bekerja di pabrik, namun ternyata hasil

pekerjaannya atau disiplinnya tidak memuaskan.

Hal ini kerap menjadi dilema untuk Popon.

“Akan jadi omongan orang di kampung jika kita

sukses tapi saudara kita miskin. Tapi saya juga

enggak mau disangka tidak adil oleh anak-anak

lain. Sama saudaranya ngebela, tapi yang lain

tidak,” tutur Popon yang mengaku sudah pernah

mengeluarkan 4 orang karyawan yang berasal

dari keluarganya.

MENGATUR SISTEM PRODUKSI

Seperti usaha-usaha kecil yang tumbuh dari

bawah lainnya, Popon saat ini juga belum

menggunakan jasa profesional dalam

mengembangkan usahanya. Popon masih melakukan

pencatatan keuangan, perekrutan, dan

pemasarannya sendiri. Namun untuk urusan

rekrutmen karyawan, ia hanya mengandalkan

calon yang dibawa oleh karyawannya sendiri,

sehingga kesetiaan dan kejujurannya lebih

terjamin. Meskipun demikian, setiap calon

tetap harus diwawancara dan dites

kemampuannya langsung oleh Popon sendiri.

Pembagian tugas dan disiplin pun diterapkan.

Selain berdasarkan pengalaman, Popon juga

menerapkan pengetahuan yang ia dapat dari

berbagai pelatihan dan diskusi yang ia lakukan

dengan mahasiswa.

Untuk pencatatan keuangan, ia dibantu

seorang bendahara, demikian pula untuk

penghitungan keperluan produksi. Popon juga

sudah dapat membuat estimasi kemampuan

dan keperluan biaya produksi setiap minggu.

Misalnya, kebutuhan pengeluaran fasilitas

produksi mencapai Rp 20 juta per minggu. Jika

mengirim hasil produksi dengan nilai lebih dari

Rp 20 juta, outlet hanya akan membayar Rp 20

juta. Jika ada kelebihan keuntungan dan outlet

akan dialihkan ke investasi peralatan fasilitas

produksi. Misalnya untuk mengurus perizinan

halal, PIRT, merek, hingga barcode. Biaya-biaya

tersebut memang dibayarkan setiap tahun,

namun oleh Popon sudah disisihkan setiap bulan.

Terkait keuangan, meski belum memakai jasa

akuntan profesional, untuk membangun sistem

dan audit, Popon sudah memisahkan antara

biaya-biaya untuk urusan usaha dengan urusan

pribadinya. Rekening pun dibuat terpisah. Pada

tahun 2010, dia bahkan sudah memisahkan

antara urusan fasilitas produksi dengan outlet,

termasuk aset. Dari pendapatan, setiap minggu

dia menyisihkan Rp 2,5 juta untuk disetorkan ke

bank bjb sebagai pengembalian modal.

Untuk mengantisipasi kekurangan suplai

bahan baku, Popon mengelola banyak supplier.

Jika di antara supplier satu dan lainnya

memberikan harga berbeda, dia mengambil

harga tengah. “Pada periode tertentu memang

beberapa jenis bahan baku agak susah,” ujar

Popon, “Biasanya di bulan Maret-April.”

Untuk menyiasati hal ini, Popon menurunkan

jumlah produksi, meski menjual dengan harga

yang tetap. Untuk mengurangi ongkos produksi,

Popon juga memberikan libur tambahan bagi

karyawannya, yang biasanya hanya sehari dalam

seminggu menjadi dua hari. Bahkan kalau order

sangat sepi, karyawan pabrik diliburkan setiap

dua hari sekali. “Tapi sejak tahun 2010, pemasok

bahan baku jalan terus,” kata Popon. Untuk itu

karyawan bahkan tetap bekerja di hari Minggu

dan Popon memberi libur seminggu sekali

secara bergilir.

Kebijakan mengenai berapa banyak jumlah

produksi awalnya diambil Popon secara intuitif.

Namun seiring waktu ia mulai memberlakukan

pencatatan. Dengan demikian, berapa jumlah

order bulan depan sudah bisa terbaca dari

permintaan yang terjadi pada bulan ini dan

perkiraan produksi tahun lalu pada bulan yang

sama. Jika order sedikit, Popon menghentikan

produksi satu item dan berganti dengan

memproduksi komoditi yang lain.

“Setiap bulan saya mengadakan rapat sehingga

ketahuan data-data produksi dan penjualan

untuk membuat perencanaan produksi

berikutnya. Biasanya setiap tanggal 1 kita

kumpul dan hasil penghitungan kurang lebih

selalu sesuai dengan rencana produksi,” kata

perempuan murah senyum ini.

Untuk pencatatan barang masuk dan keluar,

Popon sudah menggunakan software pencatatan

yang mampu mendata dan menerima laporan

setiap hari dari bagian produksi dan outlet.

Teknologi pencatatan ini didapatkannya berkat

mengikuti diskusi-diskusi dengan banyak pihak.

Meski awalnya Popon mengaku mengalami

kesulitan, banyak dosen dan mahasiswa yang

secara sukarela tidak segan-segan menolongnya.

Penggunaan teknologi bukan hanya diperlukan

untuk pencatatan saja, melainkan

juga untuk menerima pesanan, yang bisa

dilakukan dengan internet. Sementara untuk

urusan promosi—juga dilakukan melalui internet—

allhamdulillah justru dilakukan oleh

mahasiswa-mahasiswa Unpad dan Unpas yang

kerap bekerja sama dengan Popon.

MERANCANG MASA DEPAN

Ke depannya, Popon bermimpi untuk menggunakan

tenaga profesional di bagian produksi

dan pemasaran. Misalnya saja manajer pemasaran

profesional, akuntan profesional, dan

manajer pabrik. Dia ingin mimpinya itu

terwujud pada tahun 2012.

Dia berharap, ke depannya juga bisa

memiliki pabrik yang lebih besar lagi, sehingga

bisa meraup omzet hingga Rp 1 miliar per

bulan. Popon juga ingin menambah berbagai

alat produksi, seperti menambah 5 mesin

vacuum frying, untuk menggenjot jumlah

produksi. Apalagi pasar Singapura sudah

meminta kiriman emping jagung, yang saat

ini masih terkendala dalam menentukan agen

yang bersedia memasaknya di sana. “Soalnya,

kalau dikirim matang dari Majalengka, di

khawatirkan sampai Singapura sudah remuk,”

kata Popon sambil tergelak. Di Jakarta, pusat

retail yang berada di Grand Indonesia pun

sedang memproses masuknya camilan ‘Ibu

Popon’ ke pusat perbelanjaan bergengsi di

Jakarta itu.

Impiannya tak berhenti sampai di situ.

Popon juga ingin agar fasilitas produksi, toko,

dan kantornya terletak dalam satu kawasan

saja. Kantor berada di atas pabrik, sehingga

proses produksi dapat diawasi dari atas. Saat

ini kantornya masih mengambil bagian dari

rumahnya, sementara fasilitas produksi dan toko

berada di tempat lainnya. Dengan menyatukan

lokasi Popon berharap bisa memenuhi berbagai

permintaan yang sudah membanjir. Apalagi,

setiap menjelang bulan puasa dan tahun baru,

permintaan bisa meningkat hingga 3 kali lipat.

Misalnya saja permintaan dari Carrefour.

Awalnya hanya Carrefour Kiaracondong yang

menempatkan produk Popon pada bagian Pojok

Rakyat. Sekarang berlanjut dengan meminta

Popon menyuplai cabang-cabangnya di Jakarta,

Yogyakarta, dan Bali. Padahal untuk menyuplai

ke Carrefour di Bandung saja, Popon sudah

merasa kewalahan dan pernah mengorbankan

permintaan dari yang lainnya. Karena itu, dia

menambah 1 vacuum frying lagi, meski itu pun

dianggapnya masih kurang. Selain Bandung,

Popon juga ingin memusatkan pengirimannya

di Jakarta sehingga biaya pengiriman atau

distribusi bisa seminimal mungkin.

Untuk inovasi komoditas, Popon tidak pernah

berhenti. Setelah jus mangga, dodol pisang dan

tomat, berbagai jenis keripik, sumpia, Popon

berencana membuat sambal oncom dan ulukutek

(leunca khas Sunda) yang dikemas dengan

botol. Eksperimen biasanya dilakukannya pada

bulan-bulan sepi produksi dan order, yakni

antara bulan Maret hingga Mei. Dengan begitu,

eksperimen komoditas baru tidak mengganggu

kegiatan produksi.

“Banyak mimpi saya. Keripik pisang cokelat

juga baru saya tes, tapi belum launching di pasar.

Banyak PR untuk pengembangan. Biasanya dari

saya sendiri, lalu saya akan masukkan ke lab untuk

dites, setelah itu saya baru berani lepas ke pasar,”

ujar Popon.

Dengan kerja kerasnya selama 8 tahun, kini

omzet Popon sudah mencapai Rp 120 juta per

bulan, dengan keuntungan bersih sekitar 15-20

persen. Popon pun cukup senang karena dengan

caranya berkreasi, praktis ia sulit dikejar saingan

di sekitarnya ini. Kegigihannya membangkitkan

usaha kecil di Majalengka, membawa kelompok

Asri Rahayu yang dibinanya mendapat Penghargaan

Ketahanan Pangan Bidang Pengolahan

dan Pemasaran Hasil Pertanian dari Dirjen

Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian

Kementerian Pertanian pada tahun 2009.

Yang paling dibanggakan Popon adalah

penghargaan yang diserahkan langsung oleh

Wakil Presiden Boediono pada bulan Desember

2010 di Istana Negara. Penghargaan Ketahanan

Pangan Tingkat Nasional itu diperoleh Kelompok

Asri Rahayu melalui Kementerian Pertanian

karena kelompok tersebut dianggap sukses

membina ibu-ibu mengolah hasil pertanian.

“Saya senang bisa masuk Istana, meski banyak

aturannya. Misalnya enggak boleh pakai celana

jeans. Seharusnya Presiden yang memberikan,

tapi saat itu beliau sedang berada di Kopenhagen,

jadi diwakilkan,” kenangnya riang. Foto-foto

Popon saat menerima penghargaan dari Wapres

Boediono pun terpajang manis di kios camilannya

di Kelurahan Cijati, Kabupaten Majalengka.

Begitu juga dengan piala dari Dirjen Pengolahan

dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian

Pertanian.

Menurut Popon, mimpinya untuk memberdayakan

masyarakat sekitar, termasuk kaum

ibu, telah terwujud. Popon percaya, kunci

sukses usaha terletak pada kesungguhan,

niat yang tulus di dalam hati, fokus, dan

membangun usaha untuk membantu orang

lain. “Dengan membantu orang lain, insya

Allah urusan kita juga dibantu sama Yang

Kuasa,” ujarnya menutup pembicaraan.

Catatan Rhenald Kasali

SEORANG KREATIF MENEMBUS berbagai belenggu dengan berlari tiada henti.

Ibaratnya ia menari-nari mengikuti tabuhan tifa yang digendang seseorang.

Ia terus menari tiada letih, tetapi lambat laun tariannya mulai tidak

keruan, asal saja. Waktu tak bisa ditahan, umur bergerak ke depan. Ia terus

maju saja, padahal kesegaran sangat dibutuhkan.

Itulah gambaran sebagian besar usaha kecil Indonesia yang matanya baru

terbuka. Ia berlari terus seperti rusa yang dikejar cheetah, bergerak zig-

zag. Ia meraih kemajuan, namun pasar butuh kedalaman. Untuk mendapatkan

kedalaman, seseorang harus berhenti berlari dan mengendapkan pikiran-

pikirannya ke dalam selembar kertas yang bersih, dan menata usahanya pada

segala sisi, mulai dari manusia hingga ke mesin. Dari mesin hingga ke

produksi. Dari produksi hingga ka pasar, dan dari pasar sampai menghasilkan

uang.

Itu pula yang terjadi dengan Popon dan sebagian besar usaha kecil Indonesia

Kalau tidak terlalu aktif, mereka terlalu pasif. Yang satu penuh gairah tak

mau berhenti yang satunya lagi tak punya gairah dan selalu mengeluh.

Memang yang pertama lebih baik karena rezekinya lebih lancar, pintu selalu

terbuka. Tetapi Popon dan kawan-kawannya juga harus bisa naik kelas dengan

berhenti berlari membenahi usaha dan menempatkan usaha dalam desain yang

lebih strategis.

Ia perlu menata perusahaannya, bukan melulu membuat produk. Bila Popon

terus bergerak membuat produk, ia akan keletihan dan pasar dapat menjadi

jenuh. Saatnya sekarang bekerja dengan pikiran dan memakai tangan orang

lain.

Untuk berhentí berlarì, para pelaku usaha kecil dan mikro dapat menempuh

beberapa cara beríkut ini. Pertama, dalamilah manajemen. Setelah berusaha

empat-lima tahun, silakan mengendurkan kreativitas dalam membuat

produk baru, dan arahkan energi pada kreativitas manajemen.

Kedua, jangan takut merekrut orang-orang yang punya pengalaman untuk menata

SDM, keuangan, dan sistem. Ketiga, kurangi waktu dari operasional dan

perbanyak waktu untuk berkomunikasi internal.

Dengan berkomunikasi secara intens ke dalam, Anda dapat memperkuat tim

bisnis Anda sehingga perusahaan tidak terlalu tergantung pada cara

berpikir satu orang. Manajemen yang solid akan sangat membantu kemajuan

usaha Anda, dan mereka akan sangat membantu memajukan usaha Anda.

Maka bangunlah tim yang kuat. Tim yang kuat akan menjadikan Anda lebih dari

sekadar pengusaha kecil, melainkan menjadí wìrausaha yang inovalíf dan

kreatif.

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun:  Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012

Kiki Gumelar, Mantan Manager yang Kini Sukses Lewat Bisnis Kuliner ‘Chocodot’ Cokelat dengan Dodol Garut

Kiki Gumelar, Tak Sengaja Mencipta Chocodot

Katakan dengan cokelat! Dan Kiki

Gumelar pun melakukannya dengan

Kreatif. Di tangan pria muda asal Garut

ini usaha makanan ringan berbahan

cokelat hadir sebagai keajaiban. Kiki

juga melihat peluang besar untuk

membawa Indonesia menjadi produsen

cokelat kelas dunia.

 

DALAM waktu dua tahun Kiki Gumelar

berhasil mengembangkan usaha dengan

omzet Rp 1 miliar per bulan. Berawal

dari modal sebesar Rp 17 juta pada tahun 2009,

Kiki mencoba untuk membuat makanan ringan

olahan berbahan dasar cokelat. Kini, Kiki

mampu memproduksi berbagai jenis makanan

cokelat dengan merek Chocodot Indonesian

Chocolate, atau lebih dikenal dengan nama

 

Chocodot. Usaba inilah yang membuat kota Garut

memiliki citra baru, dari kota dodol menjadi

kota cokelat.

Sebenarnya usaha Kiki sudah dirintis sejak

dia tinggal di Yogyakarta, tahun 2007. Saat itu

Kiki bekerja sebagai karyawan PT Nirwana Lestari,

 

distributor cokelat terbesar di Asia Pasifik,

Ceres. Namun, hobinya di bidang kuliner telah

menuntunnya menjadi pengajar di bidang

bakery dan cokelat. Akhirnya Kiki memutuskan

untuk membuka sendiri usaha bakery dan

cokelat bernama UD Tama Cokelat, yang diambil

dari nama anaknya semata wayang, Tama.

Tahun 2009, Kiki berniat untuk serius

 

mengembangkan usahanya. Dia ingin melakukan

ekspansi usaba ke Garut, Jawa Barat agar bisa

 

membangun kota asalnya. Di Garut, Kiki

 

menghasilkan panganan ringan dari cokelat yang

unik, yang dikenal dengan nama Chocodot,

sebuah akronim yang dibentuk dari kalimat

chocolate berisi dodol Garut. -

Penemuan Chocodot sendiri merupakan

serpihan kisah yang menarik. Suatu hari,

 

ketika sedang bersiap mengajar kelas cokelat di

rumahnya di Yogya, ibunya datang dari Garut

untuk menengok cucunya. Saat itu ibunya

datang membawa oleh-oleh khas dari Garut

yaitu dodol. Karena sibuk memanasi bahan

cokelat, Kiki tidak terlalu tertarik untuk

mencicipi oleh-oleh tersebut. Namun, secara

spontan Kiki justru memasukkan beberapa

potong dodo tersebut ke dalam cairan cokelat

yang sedang dipanasinya. Setelah coke!at

tersebut padat, Kiki pun mencicipinya. “Enak

juga,” pikirnya.

Peristiwa yang berlangsung hanya ‘sekejap’

itu ternyata sangat membekas di hatinya. Dan,

catatan tersebutlah yang akhirnya berubah

menjadi sebuah langkah kecil untuk melahirkan

usaha pembuatan produk makanan ringan baru

di Indonesia.

 

PRESTASI MENUJU SUKSES

Ketika mulai membangun usahanya di Garut

 

bulan Juli 2009, Kiki masih bekerja di PT

Nirwana Lestari, sebagai business development

 

manager untuk area Jawa Tengah dan

Yogyakarta. Meskipun sudah beberapa kali

mengajukan surat pengunduran diri, permohonannya

 

selalu ditolak. Masuk akal, karena selama

tiga tahun berturut-turut Kiki berhasil

 

menyelenggarakan festival bakery bernama D’Java

Bakery Festival. Festival makanan berbahan

cokelat itu berlangsung di Solo (2006), Semarang

(2007), dan Yogyakarta (2008), serta mendapat

sambutan hangat masyarakat. Barulah pada

November 2009, Kiki resmi meninggalkan PT

Nirwana Lestari.

Kiki bukan hanya kaya ide, tapi juga mampu

merealisasikan ide-ide tersebut. Kehebatan ini

sudah terlihat sejak masih duduk di bangku

SMA. Berbagai macam prestasi diraihnya. Pada

tahun 1997, Kiki terpilih sebagai Jajaka Garut

dan Runner-Up Jajaka Jawa Barat. Prestasi

lainnya menjadi Duta Boga dari PT Bogasari di

 

Yogyakarta dan Runner Up II di tingkat Nasional

tahun 2000.

Prestasi, kepandaian, dan kepribadian yang

menyatu ini rupanya tercium sejumlah perusahaan.

 

Ketika usianya baru menginjak 21

tahun, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang

 

tepung terigu, PT Pangan Mas Inti Persada

Cilacap, mengajaknya bergabung. Pada 2002,

dia direkrut oleh perusahaan kecap, PT Aneka

Food Semarang. Lalu tahun 2003, Kiki pindah

ke perusahaan santan, PT Kara Santan Pratama

Jakarta sebagai promotion supervisor. Terakhir,

pada 2005, Kiki bergabung dengan PT Nirwana

Lestari.

Rupanya di PT Nirwana Lestari inllah kelekatan

 

Kiki dengan dunia cokelat semakin

terbentuk. Saat menjadi distributor technical

officer di sana, ia belajar banyak untuk dapat

menjelaskan cara mencairkan cokelat, serta

mengolah cokelat dan mengaplikasikannya pada

roti, cake, juga makanan lainnya.

Walaupun sudah memiliki pekerjaan tetap,

Kiki tidak melupakan passion-nya di bidang

kehumasan dan mengajar. Kiki tidak pernah

melewatkan undangan atau tawaran mengajar

atau melatih yang datang dari berbagai lembaga

pendidikan, khususnya yang memiliki jurusan

boga. Kegiatan ini membuat Kiki semakin terdorong

 

untuk mendalami dunia kuliner terutama di bidang cokelat.

 

Dampaknya terlihat ketika ia semakin mahir

mengolah cokelat. Dari pengalaman inilah,

Kiki mendapat inspirasi untuk membuat usaha

cokelat sendiri. “Waktu mengajar saya sering

memberi saran agar mereka membangun usaha

berbahan cokelat. Lama-lama saya mikir,

mengapa menganjurkan orang lain melakukan

itu? Mengapa saya enggak merintis sendiri?”

katanya.

Suatu hari, ketika sedang menjelajah internet,

 

secara tak sengaja ia menemukan informasi

bahwa Ceres ternyata lahir di Garut. Informasi

ini semakin memperkuat niat Kiki untuk membuka

 

usaba di bidang cokelat. Dan, karena saat

itu Kiki dan keluarga juga berencana untuk

pulang ke Garut, Kiki memutuskan untuk

 

mengembangkan idenya tersebut di kota asalnya.

“Toh, sejarahnya sudah ada,” katanya mengenang

 

ide dan pemikiran awal bisnisnya itu.

Ketika kembali ke Garut, Kiki terus teringat

pada peristiwa dodol Garut yang tanpa sengaja

dimasukkannya ke dalam adonan cokelat. Ia

 

kemudian melakukan berbagai percobaan untuk

menemukan resep yang tepat. Hasilnya adalah

cokelat berisi dodol Garut.

Awalnya Kiki mengusulkan tiga nama, yaitu

Chodol (akronim untuk chocolate dan dodol);

Chodot (chocolate isi dodol Garut), dan Choqodot

(chocolate with dodol Garut). “Tapi akbirnya

yang muncul justru nama Chocodot dan langsung

 

saya daftarkan ke Ditjen HAKI (Hak Kekayaan

 

Intelektual) untuk merek, kemasan, dan

resep,” katanya.

Namun, ternyata usaha cokelat tersebut tidak

mendapat dukungan dari ayahnya yang tidak

ingin Kiki menekuni usaha kuliner. Pasalnya,

Kiki pernah mengalami kegagalan tahun 2003

dalam usaha bakery. “Tapi saya enggak bisa

berhenti. Saya jalan terus,” kenangnya lagi.

Pada bulan Juli tahun 2009, Kiki nekat

membuat dummy Chocodot sebanyak 20 kg,

yang kemudian ditawarkan ke toko-toko di

Garut. Dari toko-toko yang didatangi, hanya 4

toko yang menerimanya. “Dengan empat toko

itu saya ingin langsung beroperasi. Tapi saya

enggak punya modal. Minta Papa, enggak punya

uang. Akhirnya Mama iba dan meminjamkan

modal sebesar Rp 17 juta berupa kartu kredit,”

tuturnya.

Dengan modal tersebut, Kiki mulai merintis

kembali UD Tama Cokelat-nya di Garut. Awalnya,

 

upaya ini tak berjalan mulus. Tetapi, dengan

 

dukungan pamannya yang sudah memiliki bisnis

sendiri, Kiki kembali memiliki keberanian

untuk berbisnis. “Beruntung saya punya paman

yang penuh perhatian dan selalu meyakinkan

bahwa saya bisa melakukan sesuatu,” katanya.

Dari hasil diskusi dengan sang Paman,

Kiki semakin bersemangat. “Indonesia adalah

produsen besar tanaman cokelat tingkat dunia,

tapi ternyata enggak punya oleh-oleh cokelat

yang ready to eat. Saya bermimpi Garut harus

menjadi kota cokelat. Perusahaan sebesar Ceres

saja lahir di Garut, jadi apa lagi yang perlu

dibuktikan?” ungkapnya.

INOVASI DAN MENGOLAH PENAMPILAN

Seminggu setelah produksi pertama Chocodot

berhasil masuk ke empat toko di Garut, Kiki

bertemu dengan seseorang dari Koperasi Wanita

Indonesia di Garut Summit. Orang tersebut

menyarankan agar Kiki mengikuti Pameran

Pangan Nusa di Kementerian Perdagangan,

Jakarta. Walau sedang sibuk mempersiapkan

peluncuran Chocodot di Garut, Kiki tetap

menyanggupi pameran tersebut.

 

Melihat keseriusan menjalani usahanya,

akhirnya hati kedua orangtuanya luluh. Mereka

memberikan biaya dan bantuan untuk acara

peluncuran Chocodot di Garut, sementara Kiki

mempersiapkan pameran di Jakarta. Dengan

mengusung tema ‘Garut Gemar Chocodot’, acara

peluncuran yang dimeriahkan oleh pemilihan

ikon Chocodot dari semua umur—sejak balita

hingga dewasa—ini berjalan lancar dan sukses.

Sementara itu Pameran Pangan Nusa juga

memberikan hasil yang memuaskan. Kehadiran

Chocodot di ajang pameran pangan tersebut

mendapat sambutan cukup meriah dari

pengunjung, terutama media massa. Mereka

tertarik pada Chocodot yang unik baik dari

segi kreativitas, kesegaran ide, dan kemasan.

Kiki yang mengenal baik dunia humas dan

komunikasi, tidak menyia-nyiakan kesempatan

tersebut. Dia melayani media-media tersebut

dengan sebaik-baiknya. Akibatnya Chocodot

mendapatkan publikasi cukup besar di sejumlah

media, khususnya media kuliner.

Sejak Pameran Pangan Nusa, usaha Chocodot

berkembang pesat. Pada 1 Agustus 2009, Kiki

menyewa rumah seluas 36 meter persegi sebagai

 

tempat usaha. Rumah yang terletak di Jalan

Babakan Salawi, Garut tersebut kemudian diberi

nama Saung Cokelat.

Di sisi lain, Kiki juga tidak pernah jeda

 

melakukan inovasi. Ia merasa sudah saatnya berbuat

lebih dan memberikan sesuatu bagi Jawa Barat.

Karena itu, lahirlah Van Java Cokelat. Lewat

merek Van Java Cokelat, Chocodot melahirkan

produk inovasi berbahan dasar cokelat yang

belum pernah dipikirkan oleh banyak orang.

Produk inovasi tersebut antara lain cokelat

rasa bajigur, bandrek, sekoteng, dan kacang.

Namun, produk inovasi paling unik yang pernah

ia hasilkan adalah cokelat rasa cabai. Produk

produk baru ini kemudian diluncurkan pada

tanggal 14 Februari 2010, berbarengan dengan

dibukanya mitra cabang Chocodot di Jalan

Ottista, Garut, dengan nama Warung Cokelat

Intan.

Selain kaya ide, kekuatan Chocodot terletak

pada kepekaannya dalam menangkap dan mengemas

 

gagasan dari lingkungan, seperti kondisi

alam dan budaya Garut. Ia merefleksikan

 

kekayaan lingkungan ke dalam kemasan produk

 

Chocodot. Hal ini dapat dilihat pada

kemasan produk Chocodot tentang gunung

di Jawa Barat; Gunung Haruman untuk Dark

Chocolate; Gunung Talaga Bodas untuk White

Chocolate; dan Gunung Papandayan untuk

 

Milk Chocolate. Sementara untuk pertanian,

Chocodot memproduksi dua edisi khusus yaitu

Jeruk Garut untuk Dark Cholocolate with Dodol

Buah Jeruk dan Candi Cangkuang untuk Dark

Chocolate with Aneka Dodol.

Potensi geografis, legenda, dan produk

 

kerajinan anyaman khas Garut pun dijadikannya

bagian dalam kemasan produknya. Dalam

 

perkembangannya, Chocodot melahirkan beberapa

produk baru lain, yaitu Brodol dan Gage. Brodol

merupakan akronim dari brownies dodol,

sedangkan Gage adalah akronim Garut Geulis.

Gage adalah paket cokelat berisi krim buah yang

dikemas dalam besek atau bakul yang terbuat

dari anyaman cantik khas bumi Parahyangan.

Kemasan seperti itu tidak hanya mendatangkan

 

keuntungan bagi produk Chocodot tetapi

juga untuk para perajin anyaman di Garut.

“Kami juga menggandeng para remaja desa

untuk membuat paper bag dari tali berbahan

 

eceng gondok. Rantai ekonomi dan sosial ini

berkontribusi dalam membersihkan lingkungan

 

dari ancaman gulma,” paparnya.

Setelah mengeluarkan produk-produk

cokelat inovatif tersebut, langkah Kiki

 

selanjutnya adalah membuat rencana promosi

dengan mengemas kekayaan sosio-kultural

Garut. Kiki mengaku terkesan pada Jepang

yang mengemas kekayaan alam dan sosial

budayanya dalam sikap hidup sehari-hari

serta berbagai produknya. “Garut punya

banyak potensi alam dan sosial budaya seperti

Jepang. Cuma satu kekurangannya: promosi!”

ujarnya penuh semangat.

Untuk mewujudkan rencana promosinya

tersebut, ia mengikiankan produknya di

stasiun televisi lokal. Sejak ikian tersebut

muncul, ia mulai dikenal banyak orang dan

selain menjadi incaran media cetak, Kiki dan

Chocodot-nya mulai menjadi incaran stasiun

televisi nasional. Terhitung sejak tampil pada

Pameran Pangan Nusa hingga awal 2011, Kiki

dan Chocodot sudah 40 kali ditayangkan

oleh berbagai stasiun TV dan sudah tampil

di berbagai media cetak seperti tabloid Saji

dan majalah Sedap. Kiki ‘Chocodot’ yang

tak pernah kehabisan ide ini tampil sebagai

pengusaha UKM yang berhasil.

 

POSITIVE THINKING

Setiap usaha, pasti ada rintangannya.

 

Demikian pula usaha yang dijalani Kiki Gumelar.

Pemilik rumah yang disewa Kiki sebagai toko

pertamanya, kerap menaikkan barga sewa.

Awalnya harga sewa rumah tersebut hanya Rp

4 juta per tahun, lalu pada tahun kedua naik

menjadi Rp 7 juta per tahun, dan pada tahun

ketiga menjadi Rp 13 juta per tahun. Kiki tidak

bereaksi negatif terhadap tindakan tersebut

sebab pasar Chocodot terus meluas. Jumlah

cabang toko yang menjual Chocodot bertambah

menjadi 10 toko, sehingga jumlah karyawan

yang semula hanya satu orang terus bertambah

menjadi i6 orang.

Selain itu, Kiki juga sempat mengalami penipuan.

 

Pernah suatu ketika, Kiki didatangi

relasi bisnis yang ingin menjadi agen penjualan

Chocodot untuk Jakarta. Kiki pun tidak

 

menyiakan-nyiakan kesempatan ini. Namun, setelah

 

kerja sama berjalan dan barang-barang dikirimkan,

 

ternyata sang agen menghilang tanpa

jejak. Akibatnya uang sebesar Rp 50 juta pun

bablas.

Kiki memang cenderung tidak memiliki prasangka

 

buruk. Sayangnya, justru sifatnya inilah

yang membuatnya mudah diperdaya. Suatu kali

ia mendapatkan telepon dari seseorang di Pekanbaru,

 

Riau yang mengajaknya pameran di sana.

 

Tanpa buruk sangka, Kiki pun menyetujuinya.

Tapi sejak pameran selesai hingga saat ini, uang

hasil penjualan Chocodot sebesar Rp 33 juta,

tak pernah diterimanya. “Selain itu saya juga

sering menghadapi pemilik toko yang handel.

Mau utangnya, tapi susah bayarnya. Tapi saya

menganggap semua ini sebagai peringatan agar

saya bisa naik kelas. Intinya saya harus teliti,”

katanya.

Dalam mengalami berbagai masalah, Kiki

tetap berpikir positif. Dia pun mencari modal

tambahan dari bank. Meskipun setelah mengajukan

 

ke beberapa bank, belum juga berhasil,

Kiki tidak pernah mengeluh. Masalahnya

 

terpecahkan ketika Kiki tampil dalam suatu

 

seminar yang diselenggarakan oleh UMKM Centre

bank bjb. Saat itu Kiki menemukan jalan untuk

mendapatkan modal tambahan dari bank bjb

sebesar Rp 100 juta. Sejak saat itu, Kiki tak henti

memberikan apresiasi kepada bank daerah yang

tengah berjuang untuk menjadi bank nasional,

sama seperti dirinya.

Selain masalah keuangan, Kiki juga sempat

mendapatkan tekanan dari para pendahulunya

yang sudah lama dan menjadi ikon kota Garut.

Mereka merasa sebaiknya Chocodot tidak

 

menggunakan istilah cokelat isi dodol Garut atau

chocolate with dodol Garut karena mengancam

popularitas produk dodol Garut. Tidak ingin

 

masuk ke lingkaran persaingan yang tidak sehat,

Kiki memutuskan untuk mengganti istilah

 

tersebut menjadi Chocodot Indonesian Chocolate.

“Hikmahnya saya terpicu untuk menjadi lebih

kreatif,” katanya.

Walau awalnya berpikiran positif sempat

membuatnya sulit, namun kini Kiki berhasil

membuat kekurangannya tersebut menjadi kelebihan.

 

Berpikir positif membuatnya tetap melangkah maju,

 

melawan semua kendala.

MANAJEMEN USAHA

Bisnis UD Tama Cokelat ini tentu belum bisa

dilepaskan dari pendirinya. Pengalamannya

bekerja dalam bidang kuliner membuat Kiki

menjadi perancang utama. Kiki jugalah yang

menentukan dan merancang sistem manajemen

usahanya.

Pengalaman terdahulu mengajarkan Kiki

 

dan keluarganya agar tetap bersikap terbuka

dan lebih profesional. Kini, ia mulai menggeser

karakter bisnis keluarga menjadi usaha yang

profesional. Ia mulai merekrut tenaga profesional

dalam bidang manajerial. Ia berharap struktur

organisasi perusahaannya juga akan semakin

profesional, dengan 60 orang karyawan di luar

keluarganya.

Meski demikian Kiki masih melibatkan orang-

orang yang memiliki hubungan keluarga dengannya.

 

Ibunda Kiki, Nina Herlina, bertugas sebagai

 

pengawas produksi. Ayahnya yang masih

berstatus karyawan negeri sipil di Dinas Tenaga

Kerja, Garut, Tatang Kurnia, bertugas menangani

karyawan dan informasi seputar dunia tenaga

kerja. Sementara adiknya, Mila Ariani, dipercaya

sebagai manajer keuangan.

Dengan sistem keterbukaan dan profesionalitas,

 

Kiki mampu membangun relasi yang manusiawi.

 

UD Tama Cokelat memberikan gaji di

atas UMR sesuai dengan kinerja masing-masing

karyawannya. Sistem ini terbukti mampu

 

mengembangkan bisnisnya dan tidak ada kendala

yang berarti.

Intuisinya mengatakan usaha ini memiliki

masa depan yang cerah. Bukan hanya karena

penduduk Indonesia yang sangat besar,

 

melainkan juga posisi Indonesia sebagai penghasil

cokelat. Untuk itu, diperlukan kreativitas dan

pengelolaan yang tepat, baik di sisi hulu maupun

hilir.

Di sisi hulu, selain produktif melahirkan inovasi

 

produk baru yang berkualitas, Kiki tidak lupa

untuk terus belajar dan memperbarui teknologi

produksi. Melalui internet, Kiki mendapatkan

informasi mengenai perkembangan teknologi

produksi dan marketing. Karenanya Kiki pun

tidak lupa untuk mengembangkan keahlian para

karyawan dengan memberikan pelatihan yang

sesuai kepentingan karyawannya. Misalnya,

pelatihan marketing, pelatihan membuat cokelat,

 

dan pelatihan keterampilan lainnya.

Sementara di sisi hilir, Kiki giat melakukan

promosi. Selain menggunakan media cetak,

Kiki juga menggunakan jejaring sosial.

 

“Tentunya kami tak melupakan kekuatan word of

mouth, pelayanan yang menyenangkan, mau

 

mendengarkan, dan memberikan diskon sesuai

KTP. Kalau ada pembeli berusia 70 tahun kami

berikan diskon 70 persen; 60 tahun mendapat

diskon 60 persen, dan seterusnya,” katanya.

Karena promosi dan pemasaran tersebut

cukup berhasil, maka Chocodot mulai dikenal

di mana-mana. Kini, Chocodot sudah bisa di

dapatkan di Jakarta. “Kami juga sudah

 

mendapatkan pelanggan di kalangan pejabat dan

public figure,” ujar Kiki bangga.

Selain itu, UD Tama Cokelat juga mulai

mengeksplorasi pengembangan jaringan dengan

metode business opportunity. Dengan cara

ini Kiki telah memiliki dua gerai pribadi dan

dua gerai milik mitranya. Gerai-gerai yang

telah beroperasi itu menggunakan nama yang

berbeda-beda, yaitu Saung Cokelat, D’Jieun

Cokelat, Warung Cokelat Intan, dan Toko Cokelat

Neo. “Pendirian D’Jieun Cokelat mendapatkan

 

bantuan modal dari bank bjb sebesar Rp 450

juta. Luasnya 500 meter persegi,” paparnya.

Sikap bank bjb yang memberikan bantuan

modal dengan mudah bagi pengusaha UKM

membuat Kiki memiliki kelekatan emosional

khusus terhadap bank ini. Kiki yang melunasi

pinjaman dari bank bjb dengan sistem

 

membayar cicilan tepat waktu setiap bulannya,

 

tidak segan-segan menempelkan logo bank bjb besar-

besar di tempat usahanya. “Saya senang menjadi

PR (public relations) bank bjb,” katanya.

Kini, praktis tidak ada kendala yang berarti.

Tiga impian besar bagi usaha cokelatnya ini

mulai tampak hasilnya. Pertama, membuat

Garut terkenal karena cokelatnya. Bahkan

 

terkenal dengan wisata belanja cokelat. Kalau

Yogya bisa mengembangkan bisnis wisata agro

sekaligus rumah inap dan spa, maka siapa pun

yang datang ke Garut pasti akan singgah di

 

berbagai gerai cokelat miliknya untuk mencari

oleh-oleh cokelat khas Garut.

Kedua, men-cokelat-kan Indonesia. Indonesia

merupakan penghasil tanaman cokelat ketiga

terbesar di dunia, tetapi masyarakat Indonesia

belum memiliki produk cokelat dalam negeri.

Karenanya ia harus lebih menyebarluaskan

produk cokelat ke seluruh Indonesia.

Yang ketiga, memiliki istana cokelat di Garut,

 

Yogyakarta, Bali, Makassar, Kalimantan, dan

Sumatera. Untuk mewujudkan ini ia perlu

 

menyiapkan sistem kemitraan yang lebih baik

dan membentuk sistem untuk memantau

 

perkembangan pasar di daerah-daerah tersebut.

Semua impian tersebut tentu saja juga akan

tampak dalam omzet usahanya. Saat ini, omzet

UD Tama Cokelat baru mencapai sekitar Rp

1 miliar per bulan. Kiki percaya dia mampu

 

meningkatkannya menjadi sekitar Rp 2 miliar

dalam waktu dekat. Selain peningkatan omzet,

tujuannya yang paling penting adalah agar bisa

membuka lapangan kerja. “Semakin banyak

lapangan kerja yang dapat dibuka, maka

semakin banyak orang bisa membuka usaha

bersama Chocodot,” katanya mantap.

 

USAHA KECIL MENENGAH

ASGAR DAN COKELAT DODOLNYA

Chocodot jadi buah tangan baru di Garut.

Meraih penghargaan di Italia.

NUANSA SERBA KECOKELATAN menghiasi sebuah toko di Jalan Oto Iskandar

 

Dinata, Tarogong, Garut, Jawa Barat. Tak hanya dinding, kusen-kusen kayu di

 

rumah berdesain minimalis itu pun dilabur kelir cokelat cerah. Ruangan

 

depannya penuh rak yang memajang bermacam penganan dari cokelat. Ada

permen, cokelat batangan, hingga bolu cokelat. Bahkan dipajang pula patung

 

replika prajurit terakota dari Tiongkok setinggi 1 meter yang juga terbuat

 

dari cokelat.

Sekilas cokelat di toko itu biasa saja. Tapi, ketika dikunyah, terasa ada

 

yang unik. Ternyata makanan cokelat ini dilapisi lempengan dodol Garut

 

empuk dan legit. Inilah Chocodot atau cokelat isi dodol yang

belakangan jadi buah tangan favorit dari Kota Intan. “Paduan enak dan

 

unik,” ujar Resti Eka, 21 tahun, warga Tangerang, Banten, yang menyambangi

 

gerai itu, Kamis pekan lalu.

 

Lantaran keunikannya itulah Chocodot menjadi istimewa. Selain laris manis,

 

penganan ini kerap meraih penghargaan. Chocodot sudah meraih 10 penghargaan

 

sejak diproduksi dua tahun lalu. Pertengahan Mei lalu, misalnya, Chocodot

 

dianugerahi gelar Product Niche dalam TuttoFood Milano World Food

 

Exhibition di Italia, pameran dua tahunan yang dilkuti produsen makanan

 

dari 65 negara. Product Niche adalah penghargaan untuk produk yang

 

melestarikan tradisi, inovatif, dan tentu saja laku di pasar. Sekarang

dalam setiap kemasan Chocodot ada tambahan logo Tutto Food.

Sukses di balik sukses Chocodot tak lain Kiki Gurnelar. Pria asal Garut—

 

terkenal dengan sebutan Asgar—ini memilih jalan sebagai pengusaha kuliner

 

karena ingin pulang kampung dan mandiri. Rupanya, setelah beberapa tahun

 

bekerja di Yogyakarta sebagai kepala cabang sebuah pabrik cokelat ternama,

Kiki merasa jenuh. Kebetulan seluruh keluarga mendukung,” kata dia.

Dengan modal Rp 17 juta, Kiki mendirikan toko roti dan cokelat. Duitnya

 

pinjam dari sang Ayah, Tatang Kurnia, yang kebetulan pegiat Usaha Kecil dan

 

Menengah (UKM) di Garut. Meski pemiliknya berpengalaman jadi kepala cabang

 

produsen cokelat, usaha mandiri ini terantuk-antuk juga.

Lelaki berusia 31 tahun itu lalu putar otak. Muncul ide meromnbak dodol

 

ketan penganan khas Garut.

Iseng-iseng camilan kenyal itu dicelupkan ke cokelat cair. “Ternyata jadi

 

lebih enak.” Kiki menjual makanan baru ini. Modalnya, Rp 52 juta, pinjam

 

lagi dari orangtua. Dana ini buat membeli bahan baku dan menyewa

toko kecil di kawasan Babakan Selawi, Cipanas, Garut. Pada 19 Juli 2009,

 

Chocodot diperkenalkan pertama kali dalam sebuah pameran yang digelar

 

pemerintah daerah.

Toh, bisnis baru Kiki tak langsung sukses. Toko makanan di seputar Garut

 

ogah menampung Chocodot. Apes, kontestan Jejaka Jawa Barat 1997 ini bahkan

 

sempat tertipu. Barangnya dibawa kabur mitra dagang. “Mungkin semua itu

 

pelajaran buat naik kelas,” ujarnya seraya menolak menyebut angka

kerugian.

Kepalang basah, ayah satu anak ini terus berusaha. la merangkul kolega dan

 

sesekali memasarkan produknya lewat jejaring sosial Facebook. Chocodot juga

 

tak pernah absen ikut berpameran, hingga akhirnya menarik perhatian Dicky

 

Chandra. Mantan artis yang kini menjadi Wakil Bupati Garut itu punya

program mengembangkan UKM. Kegigihan Kiki kali ini membuahkan hasil.

 

Pemerintah daerah Garut menjadikan Chocodot sebagai salah satu suvenir buat

 

tetamu. Chocodot semakin terkenal dan diincar wisatawan. “Toko yang dulu

 

menolak Chocodot kini antre minta jatah,” ujar Kiki terkekeh-kekeh.

Bank-bank juga mulai melirik. Sukses mendapat kredit Rp 100 juta, Kiki

 

berekspansi menambah peralatan, bahan baku, dan membangun dua gerai. Dengan

 

bendera UD Tama Cokelat, produksi per bulan mencapai empat ton cokelat dan

 

dodol. Jenis produknya pun bertambah. Kini Chocodot memiliki

30 varian, misalnya cokelat rasa cabai, brownies, dan pizza isi dodol.

Kemasannya bermacam-macam, dari bakul bambu, sangkar burung, kertas

 

alumunium, hingga dalam boneka domba Garut. Dalam bungkus cokelat batangan

 

dipasang gambar dan informasi obyek wisata Garut. Dari penganan yang

 

harganya Rp 5 ribu hingga Rp 40 ribu sebungkus itu, Kiki bisa meraup

omzet Rp 1 miliar saban bulan.

Bagi pengusaha lain, meski Chocodot menjadi pesaing anyar, toh ada juga

 

sisi positifnya. Ato Hermanto, pemilik merek Picnic, produsen dodol ternama

 

asal Garut, mengatakan pamor dodol justru semakin terangkat. “Pasar lebih

 

menggairahkan lagi,” ujarnya. Kini merek legendaris itu malah latah

membuat produk serupa: Cokodol.

(Fery Firmansyah, Sigit Zulmunir, Tempo 20-26 Juni 2011 Hal. 112)

 

 

Catatan Rhenald Kasali

 

SEMUA ORANG BISA membuat sesuatu lebih baik. Dan semua orang bisa berbicara

 

bahwa produk atau makanan buatannya lebih baik dari buatan orang lain.

 

Tatapi sedikit sekali orang yang berani menggulirkan produknya ke pasar,

 

berhenti berbicara, beralih profesi menjadi wirausaba, sarta membangun

 

usaba dari nol.

Berbada dengan Kiki, ia benar-benar berhenti dari pekerjaan bagusnya dan

 

mengambil langkah berani. Pulang kampung, mambuat ookelat buatannya

 

sendiri, dan menjajakannya dari toko ke toko, memungut bayaran-bayaran

kecil mendengarkan suara pelanggan dan menyewa rumah untuk mengembangkan

 

usahanya sampai usaha itu tumbuh menjadi lebih stabil. Ia juga berani maju

 

menghadapi tantangan demi tantangan dari para incumbent yang bishisnya

 

terancam.

Seperti dodol garut yang terancam dengan kehadiran dodol berbalut cokelat

 

masa depan setiap produk pangan selalu menghadapi tantangan-tantangan baru

 

Selalu muncul inovasi yang mengubah salera. Maka itu perbaruilah produk

 

Anda dan beradalah selangkah di depan salera-salera baru

Setiap usaha memiliki dua sisi yaitu aspek tangibles (fisik, kasat mata)

 

dan aspek intangibles (melekat pada manusia, nonfisik tak kalihatan)

 

Pengusaha selalu terkait oleh kedua hal itu tetapi sering melupakan atau

 

tidak paham bahwa segala yang tak terlihat, kasat mata (intangibles) jauh

 

lebih penting daripada yang kasat mata.

Apa sajakah aspk-aspek intangibles itu? Aspek-aspek intangibles itu adalah

 

sagala sesuatu yang hanya didapat kalau kita melatih dan melangkah, dan

 

melekat pada diri manusia. Keterampilan mernasak, reputasi, kelincahan

kaki melangkah mendatangi outlet, keberanian berhenti dari pekerjaan dan

 

mengambil resiko, kejelian melihat lokasi, jaringan pertemanan, nama usaha

 

(brand image), kegelisahan tangan untuk membuat produk-produk inovatif dan

Seterusnya.

Kiki Gumelar melatih dirinya melalui serangkaian tindakan. Ia tidak hanya

 

sekolah lima sentimeter melainkan sekolah dua meter. Ia belajar mengolah

 

tepung di Bogasari, belajar membuat kecap dan mengolah cokelat dari

 

perusahaan tempat ia bekerja. Ia belajar menghadapi suara ibu-ibu, mengajar

 

di sekolah dan mendengarkan apa kata pasar. Lalu, ia melangkah pulang

 

kampung membuka usaha memberi nama yang unik, menghubungi orangtua untuk

mencari pinjaman modal, menghubungi para pemilik toko, membangun kerjasama

 

dengan perajin, dan seterusnya.

Intangibles tak pernah terputus. Ia terus mengakumulasi harta Anda, harta

 

yang tak terlihat. Dari bisa membuat satu menjadi serba bisa. Dari tak

 

dikenal menjadi mulai dikenal dan sangat terkenal. Inilah modalnya Kiki

 

Gumelar, modal yang memperbesar Chocodot. Ini pulalah yang membedakan usaha

 

Yang tetap kecil—berkisar jutaan rupiah saja—dengan usaha yang berevolusi

 

menjadi besar—berkisar miliaran rupiah.

Maka berhentilah berbicara dan mulailah bekerja, eksplorasi dunia ini

 

dengan segenap kreasi dan impian Anda. Kelak dunia mimpi itu

 

akan jadi milik Anda jua.

 

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun:  Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012

Carsim Cahyadi, Bermodal Awal 600 Ribu Kini Sukses Raup Omzet Miliaran dari Bisnis Kuliner Tape Ketan

Carsim Cahyadi, Tarikolot Punya Ketan, Kuningan Punya Nama

Meskipun Kabupaten Kuningan, Jawa

Barat dikenai sebagai penyedia oleh-o1eh

Tape ketan, namun produksi penganan

itu sendiri berasal dari jerih payah para

pembuat tape ketan di Desa Tarikolot

dan Cibeureum. Carsim Cahyadi adaläh

salah satunya. Mimpinya sangat besar

suatu hari kelak Kuningan akan menjadi

gudang tape ketan untuk Indonesia.

Siapa tak kenal tape ketan? Penganan ini

sangat dikenal di Indonesia bahkan di kawasan Asia Tenggara.

Masyarakat di kawasan ini sudah lama mengonsumsi makanan khas

berbahan beras ketan atau beras pulut. Dibuat

melalui proses fermentasi atau peragian, tape

ketan dihidangkan pada hari besar keagamaan

atau hajatan.

Dan segi volume dan pasar, tape ketan merupakan

jenis tape terbanyak yang diproduksi

masyarakat. Di sejumlah daerah di Sumatera

penganan ini dikenal dengan nama tape pulut.

Dengan rasa manis keasaman, lembek, berair,

dan memiliki tekstur yang lengket, tape ketan

merupakan makanan yang mengandung alkohol.

Dilihat bahan dasarnya, ada dua jenis tape

ketan, yakni tape ketan putih dan tape ketan hitam.

Di Kuningan, Jawa Barat—khususnya di Desa

Tarikolot dan Cibereum— tape ketan tampil sedikit

berbeda. Jika di daerah lain dibungkus

atau dikemas dengan daun pisang, maka

tape ketan yang dihasilkan oleh kedua desa

tersebut dikemas dengan daun jambu air. Di

samping bahan tambahan seperti daun katuk,

penggunaan jambu air sebagai bungkus inilah

yang membuat tape ketan Kuningan tampil berbeda.

Biasanya setiap menjelang atau pasca lebaran,

banyak orang dari luar Kuningan menyempatkan diri

datang ke Tarikolot dan Cibeureum untuk membeli

tape ketan. Pada umumnya mereka adalah penduduk Bandung

dan Jakarta yang sedang melakukan perjalanan

ke Cirebon, Kuningan, atau Majalengka. Hal ini

memang didukung oleh letak geografis Kuningan

yang berada di perbatasan Provinsi Jawa Barat

dan Jawa Tengah.

Di Tarikolot dan Cibereum, orang-orang

dari berbagai kota itu rela mengantre panjang

untuk mendapatkan tape ketan yang

akan dibawa sebagai oleh-oleh. Sementara

penduduk Kuningan sangat membanggakan

tape ketan sebagai oleh-oleh kebanggaan

ketika bepergian ke daerah lain. Salah satu

pembuat tape ketan di Tarikolot yang banyak

didatangi orang ialah Tape Ketan “Sari Asih”

milik Danasih.

METAMORFOSA LELAKI PERENUNG

Meskipun “tradisi” membuat tape ketan di Tarikolot

dan Cibeureum sudah berlangsung lama,

para pembuatnya belum memandang penganan

ini sebagai komoditas yang menguntungkan.

Sejumlah pembuat tape ketan memperkirakan

usaha pembuatan tape ketan di Tarikolot dan

Cibeureum untuk kepentingan komersial baru

dimulai pada dekade 1980-an. Demikian pula

dengan Danasih. Justru tetangganya, Carsim

Cahyadi —seorang pedagang keliling perkakas

rumah tangga yang sempat berganti pekerjaan

menjadi karyawan perusahaan kontraktor di

Jakarta— yang memperhatikan fenomena ini.

Setiap pulang mudik, terutama menjelang

Lebaran, Carsim selalu menyaksikan pemandangan

yang menarik di kampungnya. Orang-

orang dari berbagai kota rela mengantre panjang

di depan rumah Danasih untuk membawa pulang

buah tangan berupa tape ketan. Carsim kerap

diminta membantu Danasih yang kewalahan

menghadapi permintaan konsumen. Tetapi setelah

Lebaran pikirannya selalu diganggu oleh

pertanyaan, apakah tape ketan ini juga bisa laku

di luar waktu Lebaran sehingga bisa menjadi

usaha yang menguntungkan.

Carsim mulai berpikir untuk mengembangkan

pembuatan tape ketan ini. Pikirnya saat itu,

tape ketan akan sulit berkembang jika hanya

menunggu datangnya ‘musim’ Lebaran. Hidung

bisnisnya yang terlatih saat menjadi pedagang

keliling pun kemudian mengendus peluang.

“Deretan mobil yang antre di depan rumah

Bu Danasih menginspirasi saya untuk

melakukan pemasaran tape ketan secara aktif.

Saat itu muncul pikiran untuk menjemput bola,”

kata Carsim. Carsim yang merasa tak betah

hidup di Jakarta akhirnya membuat keputusan

bulat: Pulang kembali ke Tarikolot. Ia bertekad

ingin menjadikan pembuatan tape ketan sebagai

usaha yang lebih maju.

Kembali ke Tarikolot tahun 1996, setahun

menjelang terjadinya krisis keuangan yang

berkembang menjadi multikrisis di Indonesia,

Carsim langsung membuka usaha rumahan tape

ketan. Modalnya hanya uang Rp 600 ribu yang

digunakan untuk membeli bahan dasar dan

peralatan seadanya.

Carsim pun melakukan survei ke kota

Kuningan lalu Cirebon. Ia langsung memutuskan

untuk memasarkan tape ketan produk

Tarikolot di salah satu sudut kota Kuningan.

Bundaran Cijoho, Jalan Siliwangi, Kuningan,

dipilih sebagai lokasinya. Tetapi kenyataan

yang dihadapi lelaki bersahaja ini jauh dari

impiannya. Usaha perdananya kandas. Saat

itu masyarakat belum memandang tape ketan

sebagai penganan harian. Mereka lebih

memperlakukannya sebagai oleh-oleh. Itu pun,

mereka tetap memilih datang langsung ke Tarikolot

atau Cibeureum.

Kondisi yang buruk itu berlangsung selama

empat tahun. Pada tahun keempat Carsim

mulai digerogoti perasaan putus asa. Padahal

ayah dua anak itu sudah berusaha memberikan

kemudahan bagi siapa pun yang ingin menjalani

usaha ini, yakni dengan sistem konsinyasi.

“Terus terang, empat tahun membabat hutan

sendirian seperti itu membuat saya lebih banyak

menangis daripada tertawa. Barang enggak laku.

Mau dibawa pulang malu. Alšhirnya hanya saya

bagi-bagikan saja ke tukang becak,” kenang Carsim.

“Waktu itu saya sudah putus asa. Inginnya lari

meninggalkan usaha ini,” tuturnya menambahkan.

Meski putus asa dan sempat berpikir menghentikan

usaha, Carsim masih memiliki pikiran

positif. Boleh jadi empat tahun ini ia mengalami

kegagalan. Tetapi, mungkin akan datang sesuatu

yang berbeda pada tahun kelima usahanya.

Suatu hari Carsim bertemu kenalannya yang

bekerja sebagai pegawai negeri di Kuningan. Setelah

menceritakan pengalaman dan impiannya,

kenalan tersebut menawarkan tempat di sekitar

Bundaran Cijoho untuk dipinjamkan. Carsim tak

mau membuang waktu. Tawaran tersebut langsung

disambar dan keesokannya dia langsung

melakukan pemasaran lagi. Peristiwa yang

tak terlupakan itu terjadi pada tahun kelima

usahanya.

Ternyata benar, tahun 2000 itu merupakan

langkah awal terlihatnya tanda-tanda keberhasilan.

Di lokasi yang baru itu tape ketannya

mulai laku. Dia mengakui bahwa faktor tempatlah

yang membuat tape ketannya mulai laku.

Setelah berjualan di tempat yang dipinjamkan

kenalannya, sebagian orang mulai tertarik untuk

datang dan membeli. Mulai banyak orang yang

mendengar mengenai usaha Carsim dan tertarik

untuk datang. Setelah mencicipi enaknya tape

ketan Carsim, banyak orang menjadi pelanggan.

Sejak saat itu promosi dari mulut ke mulut pun

berlangsung dengan sendirinya.

“Tempat baru itu membuat saya punya sarana

promosi gratis. Saya mulai dengan menata dagangan

secara menarik. Kalau dagang di pinggir

jalan kan susah menata dagangan jadi menarik.

Papan nama usaha Tape Ketan ‘Pamela’ yang

saya pajang di luar juga gampang dibaca orang

dan membuat orang tertarik untuk datang,” urai

Carsim.

U5AHA YANG MULAI BERKEMBANG

Dari segi volume, produksi tape ketannya terus

meningkat dan habis diserap pasar. Ketika

usahanya sudah mulai lancar, setiap harinya

dia membutuhkan 20 kg heras ketan. Dalam

hitungan bulan naik menjadi 50 kg dan kemudian

menjadi loo kg per hari. “Kalau menjelang Lebaran

biasanya meningkat antara empat sampai

enam kuintal per hari. Berapa persen ya?” tuturnya lugu.

Pada tahun 2000-an Carsim menjual tape ketan

buatannya dengan harga Rp 15 ribu per 100 bungkus.

Saat itu Carsim mengemas produknya

dalam ember plastik warna hitam dan dilabeli merek

Pamela. Kini Carsim menjual dengan harga Rp 45 ribu per

ember berisi 100 bungkus. Sebagai catatan, nama Pamela

adalah hasil penggabungan nama panggilan kedua anak

nya, Fajar (ii tahun)—yang sehari-hari dipanggil Pajar—

dan Mela (17 tahun). Kedua anaknya ini merupakan buah

perkawinannya dengan Rusti Cahyadi (41 tahun) yang ber

profesi sebagai guru SD. Keberhasilan Carsim langsung

menjadi buah bibir warga Tarikolot. Hal inilah yang

akhirnya membuat Carsim mendapatkan tawaran kerja

sama oleh Danasih. Ketika itu Danasih sedang mendapatkan

banyak pesanan, tetapi ia tidak mampu

meningkatkan produksi tape ketannya. Agar

dapat memenuhi permintaan tersebut, Danasih

menawarkan kerja sama pada Carsim dalam

bidang produksi. Demi mengembangkan usahanya,

Carsim pun menerima tawaran tersebut.

Kerja sama keduanya memberikan hasil yang

baik. Carsim mampu memenuhi kekurangan

produksi usaha Danasih, sehingga permintaan

pasar yang meningkat menjelang Lebaran dapat

terpenuhi. Keberhasilan mereka mendorong

para tetangga melakukan hal yang sama. Satu

per satu warga desa Tarikolot mengikuti jejak

Carsim dan Danasih: serius menekuni usaha

pembuatan tape ketan.

Keberhasilan Carsim juga terendus oleh

BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana

Nasional) setempat. Lembaga yang terkenal

pada zaman Orde Baru sebagai pengendali

populasi penduduk melalui berbagai program

pendampingan ini memiliki UPPKS (Usaha

Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera).

BKKBN Kuningan berusaha merangkul warga

Tarikolot dengan memasukkan mereka keprogram

UPPKS dan memberikan bantuan

modal serta berbagai pelatihan, termasuk pada

usaha yang digeluti Carsim.

Uniknya, setelah berhasil dipasarkan secara

intensif di Kuningan, tape ketan yang dikemas

dengan daun jambu air ini kemudian lebih

dikenal sebagai oleh-oleh khas dari Kuningan,

bukan dari Tarikolot dan Cibeureum. Maka,

berlakulah peribahasa ‘kerbau punya susu, (te

tapi) sapi (yang) punya nama’. Tarikolot yang

mengembangkan, Kuningan yang dapat nama.

PELOPOR DAN WIRAUSAHAWAN DESA

Menurut sejumlah tetangganya, Carsim bukan

sekadar pembuat tape yang gigih. Pada dirinya

tumbuh dan berkembang jiwa wirausaha. Semangat

untuk maju pun tinggi. Ketika produksi

tape ketannya meningkat, lelaki yang memiliki

hobi menyendiri dan merenung di alam bebas

ini langsung menyadari sejumlah kelemahan

yang melekat pada usahanya, yakni pada proses

pembuatan.

“Terutama menyangkut urusan cuci beras.

Untuk jumlah yang sudah mencapai ratusan

kilogram, kami tak sanggup lagi melakukannya

secara manual,” tutur Carsim. Lalu, pucuk

dicinta ulam tiba. Suatu hari kawan Carsim

menawari mesin pengaduk bahan snack yang

tak lagi digunakan karena sudah berganti usaha.

Tanpa pikir panjang Carsim pun langsung

menyambarnya.

Setelah mencoba mengotak-atik, Carsim

menemukan ide untuk “menyulap” alat tersebut menjadi

mesin pencuci beras. Meski digunakan bukan untuk

fungsi yang semestinya, mesin tersebut dapat

dioperasikan dengan mudah, sehingga tidak

diperlukan waktu lama untuk membuat karyawannya

memahami cara menggunakannya.

Tak lama kemudian langkah tersebut segera diikuti

para tetangganya. Hingga kini para pembuat tape

di Tarikolot dan Cibeureum hanya menggunakan

mesin untuk mencuci beras ketan. Sedangkan proses

produksi tape ketan secara umum masih dilakukan

secara manual, demi menjaga rasa

khas dan kualitas makanan. Selain berkembang

menjadi sosok yang senang melakukan

inovasi, Carsim juga menjadi

model dalam hal mengelola usaha. Hal itu terlihat

ketika Carsim dan Danasih memasarkan produknya dengan

sistem keagenan. Tak berapa lama, agen-agen tape ketan

Tarikolot dan Cibeureum pun

tersebar di Kuningan dan Cirebon. “Bagaimanapun kultur

warga desa ini adalah kultur petani. Mengajak petani

untuk berubah itu mudah kalau tahu

caranya. Beri mereka contoh melalui keberhasilan.

Tak perlu disuruh-suruh atau diajari mereka pasti akan

ikut,” tutur Carsim.

Kepeloporan Carsim dalam menjalani industri rumahan

tape ketan berskala kecil dan menengah ini berlanjut.

Kini ia melakukan inovasi terhadap rasa dan kualitas.

Menurut Carsim, inovasi rasa sangat penting bagi

masyarakat perkotaan yang akan menjadi sasaran

pemasaran mereka.

Carsim yang pernah tinggal di Jakarta memahami bahwa

selera orang kota terhadap rasa telah dibentuk oleh pasar.

Dan, pasar kuliner perkotaan terutama di kalangan orang muda,

telah mengalami kemajuan yang pesat dalam

hal variasi rasa. Carsim kini berusaha menciptakan variasi

pada rasa ketan yang selama ini dikenal memiliki rasa

manis keasaman.

“Sekarang kan semua makanan dan minuman

orang kota dibikin banyak rasa. Tape ketan pun

punya peluang untuk tampil dalam banyak rasa.

Misalnya stroberi, cokelat, vanila, dan lain-lain,”

kata Carsim.

Setelah berhasil menemukan cara pemasaran

dan mencuci heras yang efektif, Carsim kini

tengah melakukan inovasi dalam hal kemasan.

Lelaki ini tengah berusaha keras memperoleh

pengganti daun jambu air. Pasalnya, para

pembuat tape ketan semakin kesulitan memperoleh daun

jambu air, terutama saat musim kemarau.

“Mungkin ada dua langkah yang bisa di

tempuh dan mudah-mudahan sama-sama menguntungkan.

Saya ingin mengajak masyarakat

Lebih banyak lagi membudidayakan pohon jambu

air. Cara lain mungkin mencari pengganti daun

jambu air,” ujarnya menyampaikan pikirannya.

BERSAING SEKALIGUS BERTETANGGA

Dari sisi kualitas Carsim menyadari bahwa mutu

penganan asal Tarikolot ini masih bisa di

tingkatkan lebih jauh, terutama menyangkut

keawetan alami, kebersihan, sanitasi, dan tampilannya.

“Masyarakat kota adalah masyarakat

yang sadar akan kebersihan, kesehatan, juga

kemasan. Saya sering melihat soal kemasan ini

menjadi hal yang sangat penting di dunia usaha

makanan jadi,” katanya.

Selain bahan dasar berupa beras ketan, produk tape

ketan Tarikolot dan Cibereum menggunakan bahan

tambahan yang serba alami.

Misalnya, daun katuk yang digunakan sebagai

pewarna dan daun jambu sebagai pembungkus

sekaligus pencipta aroma. Bahan-bahan tersebut

membuat tape ketan Tarikolot tak gampang berair, selain

tampilannya yang hiiau muda dengan aroma alami.

Sebagai salah satu pelopor usaha pembuatan dan

pemasaran tape ketan, Carsim juga tampil di barisan

depan dalam menghadapi persaingan. Dia selalu berusaha

membangun ikiim usaha yang sehat. Lelaki ini mengaku

sampai saat ini dia belum pernah mengalami konflik

dengan produsen tape lainnya. “Meskipun bersaing, kami ini

kan hidup sekampung, saling bertetangga. Tak ada

manfaatnya membawa pulang persaingan ke kampung. Kami

masih tetap selalu menjaga silaturahmi,” kata Carsim.

Carsim mengaku tidak segan membuka rahasia dalam

menjaga kualitas produknya. Ia tak pernah khawatir kalau

para pembuat tape mengikuti langkahnya. Sebab, Carsim

sadar bahwa dirinya tak pernah berhenti melakukan inovasi,

sementara para pembuat tape lainnya lebih banyak menunggu

hasil inovasi orang lain lalu mengikutinya.

Jiwa kepeloporan Carsim juga tampak dalam memperlakukan

karyawannya. Sebagai warga Kuningan yang sangat memahami

kultur sosial Sunda yang halus, Carsim berusaha memperlakukan

karyawan dan semua pihak yang menjalin hubungan kerja

dengannya secara manusiawi. Bahkan hubungan tersebut telah

dia lakukan sejak Pamela baru memiliki dua orang karyawan.

Semua karyawannya berasal dari satu desa yang sama

dengan Carsim. Dalam melakukan penerimaan

karyawan baru, Carsim tidak mensyaratkan

seleksi khusus. “Syaratnya cuma satu, mau

bekerja membuat tape,” Carsim menjelaskan

sambil tertawa.

Kini, ketika Pamela telah memiliki 35 karyawan pun

Carsim menyatakan belum pernah

sekalipun menghadapi konflik. “Kalaupun ada

yang keluar, lebih karena ada urusan lain seperti

ganti pekerjaan atau karena akan merintis usaha

sendiri,” jelasnya.

Lelaki yang ramah ini mengaku bahwa hal

yang paling membanggakan sebagai pelaku

usaha ialah ketika melihat karyawannya berhasil

membangun usaha pembuatan tape ketan

sendiri. “Saya merasa bahagia kalau ada bekas

karyawan Pamela berhasil membangun usaha

sendiri dan sukses,” katanya.

Masih terkait perkara karyawan, Carsim juga

dikenal sebagai pemberi upah yang baik. Upah

yang diterima karyawan Pamela berada di atas

UMR resmi setempat, yaitu Rp 30 ribu per hari,

ditambah makan, bonus bulanan, dan THR.

Pada hari-hari tertentu Pamela juga mengajak

karyawan dan keluarganya melakukan wisata

bersama.

INGIN MENGUASAI PASAR NDONESIA

Pada tahun 2004, setelah Pamela berkembang

semakin stabil, Carsim mengajukan permohonan

pinjaman modal ke bank bjb. Saat itu

bank bjb belum memiliki produk kredit mikro

sehingga yang ditawarkan adalah pinjaman

modal melalui melalui Program Peduli Jabar.

Jumlah modal yang pertama kali dipinjam

Carsim sebesar Rp lo juta dan lunas dalam

waktu singkat. Pelunasan pinjaman tersebut

dilakukan dengan cara membayarkan bunga

pinjaman sekaligus pokoknya setiap bulan.

Setelah lunas, pinjaman Carsim meningkat jadi

Rp 20 juta.

Selanjutnya melalui Program Pinjaman Umum,

Carsim meningkatkan lagi pinjamannya menjadi

dua kali lipat lebih, yakni Rp 50 juta, lalu Rp

200 juta. “Bagi saya, program pinjaman modal dari

bank bjb seperti itu adalah cara yang

bagus untuk membina UKM,” tuturnya. Namun, sejak 2011

ini Pamela tidak mengajukan pinjaman modal ke bank lagi

karena sudah memiliki modal sendiri dari hasil usahanya

selama ini. Sikap yang diambil Carsim

sangat masuk akal. Carsim telah

‘naik kelas’ dan mandiri. Saat ini omzet penjualan

yang diperoleh Pamela telah

mencapai Rp 240 juta per bulan atau Rp 2,88 miliar per tahun.

Dari omzet sebesar itu Pamela mampu meraih keuntungan

bersih antara Rp 280 juta hingga Rp 300 juta per tahun.

Hingga tahun 2011, Carsim terhitung telah bergelut dengan

usaha pembuatan tape ketan selama 15 tahun. Omzet dan

keuntungan yang diperolehnya jelas terhitung besar untuk

ukuran UKM yang berlokasi di desa. Namun, Carsim mengaku

tak ingin bersantai-santai. Dia bertekad akan terus melakukan

upaya agar makanan tape ketan bisa tampil sesuai tuntutan

zaman. “Saya ingin tape ketan tampil seperti makanan modern

tapi tetap dengan cita rasa daerah yang eksotis,” katanya.

Untuk itulah Carsim membangun Pamela menjadi usaha yang

lebih modern. Sebagai mantan karyawan perusahaan kontraktor

di Jakarta, dia ingin usahanya menjadi lebih baik di bidang

kebersihan, inovasi rasa, kemasan, serta kualitas. “Saya merasa

bersyukur memiliki istri yang bekerja sebagai guru. Dukungannya

untuk mendorong karyawan meningkatkan kebersihan dan menjaga

kualitas besar sekali. Juga dalam hal tertib administrasi,”

kata Carsim menyinggung peran istrinya.

Kini, ditambah pelajaran yang dia peroleh selama menjadi

debitur bank bjb, Carsim terus mengembangkan Pamela

menjadi usaha yang maju dari segi manajemen. Namun dia

mengaku belum berani mengambil tenaga profesional. “Sebagai usaha

rumahan di desa kayaknya belum terlalu perlu mengambil tenaga

profesional. Kami belum kuat bayarnya, lagian kami masih bisa

menangani sendiri,” ujarnya bersahaja.

Demikian pula dalam hal pemasaran. Sistem keagenan

yang dirintis Carsim dianggap masih sesuai untuk Pamela.

Pada awalnya Carsim memang mencari rekanan yang mau

menjadi agen Pamela. Namun, seiring dengan perkembangan usaha,

banyak orang yang justru datang menawarkan

kerja sama menjadi agen.

Sistem keagenan dilakukannya dengan sistem

retail sederhana: Carsim memberikan harga

retail yang lebih murah bagi para agen. Kemudian

masing-masing agen akan menjual dengan harga

yang berbeda untuk mendapatkan keuntungan.

Sampai saat ini tidak ada kendala yang berarti

dari sistem keagenan tersebut. “Para agenlah

yang bergerak melakukan promosi. Kami lebih

banyak mengurusi produksi,” kata Carsim seraya

mengatakan bahwa di pasar tape ketan, para agen

telah melakukan berbagai cara pemasaran mulai

dari cara konvensional hingga modern, termasuk

memanfaatkan teknologi internet.

“Saat ini saya akan berkonsentrasi di sisi

hulu karena masih banyak yang perlu kami

benahi,” katanya. Kalau sisi hulu sudah bagus,

tambahnya, dia baru akan bergerak di sisi hilir.

Carsim juga masih mempunyai satu mimpi

besar sebagai wirausahawan. Dia ingin

mengajak masyarakat Kuningan membuat tape

ketan tersedia di berbagai kota di Indonesia.

Namun ada kendala besar yang menghadang,

yaitu jarak dan waktu. Tape ketan merupakan

penganan yang tidak tahan lama. “Paling lama

hanya mampu bertahan selama satu minggu,”

ujarnya. Karenanya daerah tujuan pemasaran

Carsim saat ini masih menyasar seputar

Bandung dan Jakarta. Jika Carsim berhasil

menaklukkan Bandung dan Jakarta, maka kota

sasaran Carsim selanjutnya adalah kota-kota di

daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Kelemahan tape ketan yang tidak tahan lama

tersebut memang bukan penghalang bagi Carsim

untuk mewujudkan impiannya memasarkan

tape ketan ke seluruh Indonesia. Saat ini Carsim

sedang memikirkan cara untuk memodifikasi

tape ketan agar bisa menjadi penganan yang

lebih tahan lama. Salah satu cara yang sedang

dipikirkan Carsim adalah kemungkinan

membuat tape ketan menjadi bahan tambahan

kue atau penganan lain. Tetapi, Carsim ingin

penganan modifikasi tersebut tetap memiliki

unsur ciri khas daerah Kuningan, sehingga pada

akhirnya Kuningan dapat memproduksi tape

ketan yang bisa dinikmati sampai ke pelosok

Indonesia.

“Kalau 15 tahun yang lalu kami warga

Tarikolot berhasil membuat tape ketan menjadi

makanan oleh-oleh dari Kuningan. Kami yakin

ke depan, Kuningan bisa menjadi pemasok

tape ketan untuk kebutuhan tape di seluruh

Indonesia,” tutur Carsim.

 

Catatan Rhenald Kasali

SALAH SATU ciri khas usaba kecil di Jawa Barat adalah kerumunan. Tukang

Tape singkong (tape gantung) di Purwakarta, mainan berbentük buah-buahan di

Cianjur, gerabah di plered, colenak di  Pasar Lembang, sepatu di

Cibaduyut, usaba bordir di Tasik, dodol di Garut, tahu di Sumedang. genteng

di Jatiwangi dan seterusnya.

Satu orang berhasil, yang lain mengíkuti. Mereka saling meiengkapi dan

berbagi. Seperti sebuah keluarga besar, mereka tidak hanya bersaing

melainkan menjadi magnet besar ýang menarik pembeli dan wisatawan. Pasar

oleh-olah tetab menjadi ciri yang penting dalam UMKM di Jawa Sarat.

Mehjadí magnet berti menciptakan kumpulan. Anda pun bisa melakukannya

dengan menjadikan produk sebagai milik bersama. Tentu, butuh beberapa

waktu untuk menarik kerumunan. Tetapi setiap keberhasilan

selalu mengundang kebersamaan. Dalam kebersamaan itu, mereka bisa sama-sama

memperbesar pasar karena konsumen senang hadir dalam kerumunan. Dalam

kerumunan itu ada variasi, warna dan selera. Dan itu tidak

selalu berarti kompetisi yang buruk karena pelanggan senang berada dalam

variasi itu.

Maka pilihkanlah apa yang akan dilakukan bila Anda harus berada dalam

suatu kerumunan. Pertama, bersikap bijak dalam diri dengan menyadari

bahwa setiap keberhasilan selalu mengundang kerumunan. Dalam sekejap

usaba Anda akan drtiru oleh tetangga-tetangga Anda. Kedua selalu ciptakan

keunggulan yaitu apa yang menjadi kelebihan Anda dibandingkan para

Pangekor. Hanya menjadi yang pertama, yang “asli’ atau “original’ saja

Tidak menjadikan Anda unggul dan diminati. Unggul berarti “lebih”,

seperti lebih bersih, lebih enak, lebib melayani, lebih

bervariasi lebih cepat, lebih bagus leblh harum, lebih kreatif,

lebih unik dan seterusnya.

Ketiga; ambil manfaat dari suatu kerumunan, Suatu kerumunan adalah magnet

untuk mendapatkan segala macam sumberdaya dan pengetahuan. Di sanalah

berkumpul SDM dengan keterampilan tertentu yang diwariskan

secara alamiah dari satu generasi kegenerasi berikutnya yang tinggal Anda

poles dan buat lebih kreatif. Di sana juga berkumpul informasi bahan

baku pengetahuan, dan pemasok-pemasok penting. Anda tinggal mengambil atau

memanggil mereka maka semua akan datang. Untuk menciptakan keunggulan,

dapatkan kombinasi-kombinasi sumberdaya yang unik.

Keempat, berikanlah sesuatu kembali kepada komunitas Anda, agar komunitas

dapat meneruskan keberlangsungannya dalam jangka panjang. Ingatlah Anda

meminjam semuanya dari generasi penerus Anda. Jadi Anda

pun wajib mengembalikannya.

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun:  Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012

Mulai Berbisnis Sejak Kuliah, Sulis Kini Sukses Lewat Ratusan Outlet ‘Lucky Crepes’

Semangat kewirausahaan memang sedang

menemukan momentum kebangkitan di negeri ini.

Fenomena ini dapat dilihat dari semakin banyaknya

entrepreneur muda yang mencoba untuk memulai

usaha di berbagai bidang. Tidak sedikit pula para

karyawan yang mencoba memulai usaha sambil

terus bekerja. Namun, tidak jarang para pemula ini

masih sangat sulit dan kebingungan memilih dan

mencari usaha yang akan ditekuni.

Melihat potensi pasar dan peluang yang begitu

besar, Bunda Sulis bersama 2 orang temannya, Teti

 

dan Nopy mendirikan bisnis Lucky Crepes dengan

sistem waralaba. Dengan sistem waralaba ini, Lucky

Crepes sebagai salah satu produk makanan ringan

cepat saji memberikan kesempatan kepada seluruh

masyarakat Indonesia pada umumnya, dan

entrepreneur pemula pada khususnya, untuk

menjalin kerjasama kemitraan dalam rangka

memperluas jaringan pemasaran. Lucky Crepes

memberikan kemudahan bagi pengusaha pemula

dengan mensupport sistem dan harga yang

terjangkau. Berkat kegigihan dan usaha yang tak

kenal lelah, saat ini Lucky Crepes sudah menembus

pasar nasional.

Bunda Sulis bertekad akan terus memperluas

jaringan Lucky Crepes. Hal ini berarti akan makin

banyak tumbuh entrepreneur baru sehingga dapat

memberikan manfaat yang lebih banyak lagi bagi

masyarakat.

Market Lucky Crepes mulai dari kalangan bawah,

 

menengah, dan atas. Karena, harga Lucky

Crepes sangat terjangkau, mulai dari Rp2.000 saja.

Sebagian besar anak-anak dan orang dewasa

menyukainya sehingga sekolah, arena bermain,

pusat perbelanjaan, dan kolam renang, merupakan

arena yang cocok untuk Lucky Crepes. Keuntungan

dari bisnis ini pun sangat menjanjikan. Terbukti

dengan semakin banyaknya peminat yang

mendaftar untuk menjadi pewaralaba atau franchise.

Bagi Bunda Sulis dan Teti, sebenarnya dunia

usaha bukan hal baru lagi. Karena sejak duduk di

bangku kuliah, kedua sahabat ini sudah mulai

 

merintis usaha kecil-kecilan di sela kesibukan kuliah

untuk menambah uang jajan. Berbeda dengan

Nopy yang memiliki semangat dan keinginan tinggi,

tetapi baru mencoba lewat gerai crepes yang

mereka dirikan.

Lucky Crepes mulai dirintis pada 2004, dengan

outlet crepes “tanpa nama”. Lalu dengan modal

pinjaman dari bank, ketiga sahabat ini melangkah

mengembangkan satu outlet menjadi tiga buah outlet.

Melihat kesuksesan usaha yang dirintis tiga

sahabat ini, ada beberapa orang yang tertarik

untuk membuka gerainya di tempat lain. Namun,

baru satu tahun, usaha mereka dikembangkan

dengan pola kemitraan setelah resmi memiliki nama

Lucky Crepes. Saat awal perintisan usaha, ketiga

sahabat ini masih bekerja sebagai karyawan dengan

profesi yang berbeda.

Bunda Sulis sebagai marketing strategy

manager, Nopy sebagai public relation manager

dan Teti bertindak sebagai operational manager.

Namun seiring perkembangannya, akhirnya Teti

memutuskan keluar dari tempat kerja untuk fokus

pada usaha yang mereka rintis yang hingga kini

sudah memiliki 100 outlet lebih tersebar di seluruh

Indonesia.

Dengan membidik pasar menengah ke bawah,

Lucky Crepes optimis masih terbuka peluang ke

depan walaupun makin banyak usaha sejenis bermunculan.

Strategi pemasaran yang dilakukan melalui

media Internet, penyebaran brosur, iklan media cetak,

dan program member get member oleh mitra.

Lucky Crepes juga pernah diliput berbagai media,

 

seperti Majalah Pengusaha, SWA, Info

Franchise, Pebisnis, Tabloid Peluang Usaha, Kontan,

dan media lainnya yang tentunya sangat membantu

dalam pemasaran.

Program kemitraan yang dirancang Lucky

Crepes berbeda dengan yang lain, yaitu tanpa

franchise fee dan juga tanpa royalti. Dengan tujuan

untuk tidak membebani mitranya. Paket kemitraan

yang ditawarkan pun sangat terjangkau mulai Rp5,5

juta rupiah sudah mencakup join fee, semua

peralatan dan gerai, seragam, dan pelatihan bagi

karyawan. Mitra hanya cukup menyiapkan lokasi

dan karyawan untuk berjualan.

Para mitra biasanya mendapatkan informasi

awal setelah mengunjungi http://www.luckycrepes.com

 

atau http://luckycrepes.multiply.com. Setelah

itu mereka bisa langsung telpon ke hotline Lucky

Crepes di 08159007272.

Kesuksesan Lucky Crepes tentu tidak terjadi

begitu saja. Perjalanan berliku telah mereka lalui

bersama. Berbagai hambatan yang datang telah

berhasil ditaklukkan. Bunda Sulis sendiri awalnya

bahkan tidak berniat untuk membuka bisnis crepes.

Saat pertama kali memulai bisnis, dia ingin membuat

bisnis tempat penitipan anak dan lembaga

pendidikan setingkat TK atau play group.

Berhubung waktu itu lokasi yang mau dibuat

berada di mal, sehingga terbentur masalah dana

yang cukup besar. Walaupun akhirnya sempat

ditawari investor, dalam realisasinya, jawaban pasti

dari investor tak kunjung tiba.

Lalu dalam perjalanannya, dia bertemu dengan

salah satu perusahaan yang mau bekerjasama

untuk merintis usaha dalam bidang pendidikan.

Namun, jenis pendidikannya lebih ke arah pendidikan

dan pelatihan kewirausahaan, bukan pendidikan

anak. Koordinasi yang kurang bagus, ditambah lagi

dengan kesibukan masing-masing, menyebabkan

kerjasama yang hendak dirintis belum bisa berkembang.

Ide membuka bisnis yang berhubungan dengan

makanan kemudian muncul ketika Bunda Sulis

menyadari bahwa dia dan temannya sama-sama

suka wisata kuliner. Saat Bunda Sulis dan temannya

‘nongkrong’ di pujasera, dia menemukan makanan

yang menurutnya aneh, kue iekker.

Kejadian itulah rupanya memberikan “aha”

baginya. Dari situ kemudian mereka mendapatkan

ide untuk membuat gerobak yang unik. Gerobak itu

rencananya akan dipakai untuk menjual crepes

yang akan mereka bikin. Ide ini terus di follow up

dengan mencoba membuat berbagai resep. Bahkan,

bisa dikatakan mereka sampai bosan dengan

eksperimen resep yang mereka bikin sendiri.

Langkah berikutnya adalah mencari berbagai

peralatan yang dibutuhkan.

Akhirnya, gerai pertama berhasil dibuka di

pasar rumput dan di sebuah sekolah di Bekasi.

Sayangnya, karyawan yang diserahi untuk menjaga

 

gerai di Bekasi kurang bertanggung jawab sehingga

Bunda Sulis harus nombok saat baru mengawali

usaha tersebut. Kejadian tersebut tidak

membuatnya putus asa. Bunda Sulis kembali

mencari karyawan yang lebih bisa dipercaya.

Hasilnya, dia mendapatkan karyawan yang bagus

sehingga penjualannya terus meningkat dari waktu

ke waktu.

Melihat perkembangan yang positif, Bunda Sulis

berencana menambah armada atau outlet.

Berhubung masih kekurangan modal, dia

memberanikan diri untuk mengambil kredit tanpa

agunan dari sebuah bank swasta. Keputusan

tersebut ternyata tidak salah, karena keuntungan

hasil bisnis Lucky Crepes ini memang jauh lebih

tinggi dari bunga yang harus dibayarkan ke bank.

Beberapa teman Bunda Sulis berminat bergabung

sebagai mitra ketika melihat perkembangan bisnis

yang dirintisnya.

Bunda Sulis pun berinisiatif untuk mendaftarkan

mereknya. Pada saat cabangnya bertambah hingga

mencapai 10 outlet, berbagai media bisnis meliput

perkembangan bisnis Lucky Crepes ini. Liputan

media inilah yang menjadi salah satu faktor

leverage (pengungkit) bisnis Lucky Crepes ini.

Terutama semenjak liputan dari sebuah tabloid

bisnis ternama, banyak sekali mitra usaha yang

mendaftar untuk bergabung.

Dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan

 

kinerja bisnis, kini Lucky Crepes mulai

berekspansi. Dari sisi produk, Lucky Crepes telah

mengeluarkan produk baru yang khas, yaitu

martabak manis, produk wafel, dan pukis parabola.

Inovasi ini dilakukan untuk melengkapi inovasi

dalam sistem penjualan dan kemitraan yang selalu

dilakukan Bunda Sulis. Berbagai inovasi tersebut,

tak ayal lagi semakin mengukuhkan Lucky Crepes

sebagai salah satu pemain yang cukup

diperhitungkan dalam bisnis makanan berbasis

sistem kemitraan.

Selain bisnis makanan, Bunda Sulis juga merintis

 

bisnis dalam bidang pendidikan. Memiliki

lembaga pendidikan anak yang sebenarnya

merupakan impian Bunda Sulis sejak melangkah ke

jenjang pernikahan. Usaha awal berbisnis, usaha

yang ingin dirintis sebenarnya adalah dunia

pendidikan anak. Namun, Allah punya kehendak lain

dan lebih tahu yang terbaik bagi hamba-Nya. Justru

usaha ini baru bisa terwujud setelah 2 tahun Lucky

Crepes berjalan.

Usaha Bunda Sulis dalam pendidikan anak ini

mulai dirintis sejak akhir 2005. Sementara, itu

yayasan yang menaunginya resmi berdiri pada

Februari 2006. Kelompok Bermain dan TKIT yang

diberi nama Ibnu Rusyid ini resmi beroperasi mulai

tahun ajaran 2006-2007 di Kencana Loka, Bumi

Serpong Damai.

Kelompok Bermain dan TKIT Ibnu Rusyid

dikembangkan dengan menonjolkan konsep

pendidikan karakter dan multiple intelligences. Para

siswa tidak hanya diajarkan membaca dan menulis

saja, tapi pendidikan “good character”-lah yang

lebih diutamakan. Hal ini mengingat bahwa masa

prasekolah dan TK adalah “golden age” yang sangat

penting dan menentukan dalam fase perkembangan

anak berikutnya.

Setelah satu tahun berjalan, Bunda Sulis ke

mudian membuka Kelompok Bermain dan TKIT kedua

yang berlokasi di Citra Raya Tangerang. Dalam

perjalanan selanjutnya, Kelompok Bermain dan TKIT

Ibnu Rusyid juga membuka program TPA Plus dan

English Club for Kids.

Bagi para orangtua dan guru yang ingin lebih

banyak tahu tentang konsep multiple intelegences

dan pendidikan karakter, Yayasan Ibnu Rusyid juga

menyelenggarakan seminar dan pelatihan-pelatihan

khusus. Termasuk bagi mereka yang ingin

mendirikan sekolah, Yayasan Ibnu Rusyid juga

memberikan pelatihan bagaimana menyusun

kurikulum berbasis multiple intelegences dan

pendidikan karakter.

Berhubung masih harus berbagi dengan waktu

kerja di kantor setiap hari, dalam menjalankan

yayasan, Bunda Sulis berpartner dengan tim yang

kesehariannya full time melakukan operasional

yayasan.

Dalam jangka panjang, Ibnu Rusyid juga akan

membuat lembaga pendidikan bagi para guru,

terutama pendidikan berbasis Multiple Inteligences.

Bunda Sulis bahkan mempunyai impian untuk

membuat sekolah khusus bagi para orangtua yang

ingin memperdalam ilmu tentang multiple inteligence

ini. Di samping tentu saja menambah cabang Ibnu

Rusyid yang saat ini baru ada dua.

Tidak berhenti sampai di situ, Bunda Sulis juga

telah mengembangkan sayapnya ke dalam bisnis

salon Muslimah. Salon Muslimah pertama yang

dirintisnya di daerah Villa llhami, Lippo Karawaci

 

ini memang masih embrio.

Namun, Bunda Sulis bahagia karena salonnya

tersebut juga menunjukkan perkembangan positif.

Ketika ditanya mengenai kesuksesannya, Bunda

Sulis menyatakan bahwa sukses itu sebuah proses,

tidak ada sesuatu yang instan. Seseorang yang

bisa menghargai proses, dia akan pantang

menyerah menghadapi tantangan. Kadang

seseorang sudah berputus asa saat proses masih

berjalan. Sebagai contoh, saat belum berhasil

mencoba satu kali, dia langsung berhenti. Padahal,

proses yang ditempuh tersebut merupakan

pelajaran berharga untuk langkah selanjutnya.

Bunda Sulis juga mengingatkan bahwa sering

kali kita lupa dan hanya berpatok pada hasil

oriented. “Kalau patokan dan tujuan kita hanyalah

hasil, setiap proses yang belum menghasilkan akan

kita anggap sia-sia,” tutur penulis buku Bunda Luar

Blasa ini.

Bagi para pemula dalam berbisnis, Bunda Sulis

menyarankan agar menentukan tujuan yang jelas.

Namun, saat belum sampai tujuan seharusnya kita

 

sudah berpikir bahwa jalan yang kita tempuh itu

adalah sukses. “Sebenarnya yang pertama

adalah kemauan. Rata-rata dari kita bukan tidak punya

ide, tapi kurang punya kemauan. Jika sudah ada

kemauan insya Allah akan ada jalan, akan ada

keberanian, dan ide akan mudah terealisasi,”

 

tutur Ibu muda berjilbab ini.

Bunda Sulis juga menjelaskan bahwa keraguan

dan ketakutan, biasanya dipengaruhi oleh mindset

dan pola pikir seseorang, sebagai hasil interaksi

dengan lingkungan. Kalau saat ini seseorang berada

pada zona nyaman dan tidak ada kemauan untuk

mengubahnya, pasti dia akan takut dan ragu-ragu terus.

Pikirannya akan dipengaruhi bayang-bayang

kegagalan. Dampaknya, dia tidak akan pernah

berani untuk memulai usaha. “Kalau mau niat mulai

usaha, belajar dan singkirkan dulu pikiran itu,

terutama dengan kemauan kita yang kuat,” tegas

Bunda Sulis yang saat ini masih menekuni karier

sebagai karyawan juga membesarkan beberapa bisnis.

 

Dari Buku: Rahasia Jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,430 other followers