Category Archives: Manufaktur

Awalnya Karyawan, Kini Menjadi Raja Selang dan Regulator Gas

Dari hanya sebagai pedagang, Sukianto menjelma menjadi raja di bisnis selang dan regulator gas. Kini perusahaannya mulai merambah produk home appliance lainnya. Bagaimana pria yang hanya mengantongi ijazah SMA ini melakoninya?

Jeli membaca peluang. Itulah ungkapan yang paling tepat untuk menggambarkan sosok Sukianto. Kejelian pria kelahiran Medan 18 Januari 1968 ini dalam membaca peluang bisnis telah mengubah jalan hidupnya, dari hanya sebagai karyawan biasa menjadi pengusaha yang sangat sukses.

Tahun 1986, karena keterbatasan biaya, Sukianto tak bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan mengantongi ijazah SMA, ia nekat merantau ke Jakarta untuk membantu pamannya yang memiliki usaha kelontong. “Saya berasal dari keluarga yang kurang mampu. Keinginan melanjutkan sekolah terpaksa harus saya pendam karena keterbatasan biaya,” ujar Sukianto mengenang.

Datang ke Jakarta, Sukianto membawa ambisi yang sangat besar, yaitu memperbaiki perekonomian dia dan keluarganya. Namun, ia pun sangat sadar bahwa ia punya banyak keterbatasan, termasuk minimnya bekal pendidikan.

Akan tetapi, Sukianto tidak mau menyerah pada keadaan. Ia sangat percaya, jika ia mau berusaha dengan mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya, hasilnya akan berbuah manis. Prinsip tersebut juga ia terapkan selama menjadi karyawan di bagian pemasaran PT Gunung Mas. Terbukti ia berhasil menjadi salah seorang karyawan yang melejit prestasinya.

Akhir tahun 1990, suami Sherly S. ini menapaki babak baru dalam perjalanan hidupnya. Bermodal uang tabungannya, ia memberanikan diri pindah kuadran menjadi pengusaha dengan mengibarkan bendera PT Multi Lestari (ML). Yang menarik, bisnis yang dipilihnya berhubungan dengan kebutuhan rumah tangga, khususnya dapur, yaitu menjual selang dan regulator gas. “Ide awal bisnis ini sebenarnya dari adik saya yang bekerja di perusahaan sejenis. Kami melihat bisnis ini cukup menguntungkan dan potensinya sangat besar,” ungkap Sukianto.

Langkah yang dilakukan Sukianto terbilang cukup nekat. Maklum, kala itu kompor gas belum menjadi pilihan masyarakat untuk keperluan memasak. Harga minyak tanah masih jauh di bawah karena mendapat subsidi dari pemerintah.

Namun, fakta tersebut tak membuat Sukianto patah semangat. Dia mengatakan, di luar negeri, gas sudah menjadi pilihan utama sebagai bahan bakar di dapur. “Saya percaya, tren itu juga akan berlaku di Indonesia,” ujar Sukianto meyakinkan dirinya ketika itu.

Sukianto membangun usahanya secara bertahap. “Awalnya kami hanya sebagai pedagang,” tutur ayah dua anak ini. ML mulanya hanya memasarkan produk yang dibeli dari importir. Produk itu kemudian dikemas ulang dan di-branding dengan menggunakan merek Gascomp. ML sendiri fokus dalam hal pemasaran yang saat itu lebih banyak dilakukan dengan pola direct selling dibanding pemasaran melalui peritel.

Gascomp mendapat sambutan pasar yang cukup baik. “Hampir tak ada hambatan berarti yang kami temui kala pertama memasarkan produk ini, karena kami hanya membidik kota besar pada tahap awal,” ujarnya lagi.

Melihat perkembangan yang cukup baik, tahun 1992, ML mulai mengimpor sendiri barang-barang yang dipasarkannya. Dengan pola ini, ML semakin gencar memasarkan produknya, karena bisa mengelola sendiri stok barang yang dimiliki. Perkembangan selanjutnya, ML mulai membuat desain dan inovasi sendiri, walaupun produksinya tetap dilakukan di luar negeri. “Kami mengembangkan usaha ini secara bertahap,” Sukianto menambahkan.

Memasuki era tahun 2000-an, pasar semakin berkembang, sehingga persaingan pun kian tajam. Menyikapi kondisi ini, ML harus lebih efisien. Maka, sejak tahun 2001, ML memindahkan produksi barangnya ke Indonesia. “Kami harus efisien dalam hal biaya karena persaingan mulai ketat,” kata Sukianto seraya menambahkan, biaya produksi di Indonesia bisa ditekan lebih rendah.

Walau proses produksi dilakukan di pabrik milik orang lain, lanjutnya, ML tetap memberlakukan quality control yang ketat. Bagi Sukianto, kualitas merupakan hal yang paling penting dan tidak bisa ditawar. Menurutnya, Gascomp dapat berkembang dan menjadi besar hingga sekarang karena konsisten dalam mempertahankan kualitas produknya.

Tahun 2006, kala pemerintah menggulirkan kebijakan konversi minyak tanah ke gas menjadi berkah bagi ML. Apalagi ML merupakan salah satu dari tiga perusahaan yang ditunjuk pemerintah sebagai pemasok tabung gas dan perlengkapannya dalam program konversi tersebut. Total hingga saat ini sudah lebih dari 15 juta paket (kompor, selang, regulator dan tabung gas) yang dipasarkan ML lewat jalur konversi tersebut.

Bersamaan dengan itu, ML pun menggelontorkan investasi untuk membangun pabrik di kawasan Jababeka, Bekasi. Tahun 2008, ML membuka pabrik kedua yang masih berlokasi di kawasan yang sama. “Total investasi yang sudah kami benamkan mencapai Rp 65 miliar,” Sukianto mengakui.

Bersamaan dengan beroperasinya pabrik kedua, ML merambah ke beberapa produk home appliance lainnya, seperti kompor gas, rice cooker, exhaust dan tabung gas ukuran 3 kg. Sukianto menyebutkan, ketika membangun pabrik sendiri, ML banyak belajar soal teknologi dari perusahaan asal Italia. Selain itu, ML pun menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008. “Kami ingin semua proses sesuai standar agar bisa menghasilkan produk yang bermutu,” ia menegaskan.

Sekarang posisi ML di bisnis ini sudah cukup mapan dan disegani. Pasalnya, selama ini ML mampu mempertahankan kualitas produknya sehingga terus mendapat kepercayaan baik dari konsumen maupun peritel. “Kami tidak ingin bersaing dalam hal harga. Bagi kami yang paling utama adalah kualitas,” ia menandaskan.

Bukti bahwa ML sangat mengutamakan kualitas adalah kala pemerintah memberlakukan Standar Nasional Industri (SNI) tahun 2004. ML merupakan satu-satunya perusahaan yang melakukan penarikan produk dari pasaran hanya untuk melengkapi kode SNI pada produknya. “Biaya penarikan produk tergolong cukup besar, hingga Rp 6 miliar. Kami hanya ingin menaati aturan yang berlaku,” kata Sukianto lagi.

Menurutnya, untuk sampai pada posisi saat ini bukanlah perkara mudah. Pada awal perjalanannya ML hampir tidak menemukan hambatan yang berarti, tetapi ketika krisis moneter melanda negeri ini tahun 1997-1998, ML terkena imbas yang sangat parah. “Utang kami gagal bayar,” ungkap Sukianto.

Namun, Sukianto masih memiliki optimisme yang sangat tinggi. “Kami memutuskan untuk menjadwal ulang utang ketimbang harus pailit, karena kami masih bisa mencetak laba,” ujarnya. Seluruh utang, baik utang dalam negeri maupun luar negeri dijadwal ulang. “Tiga tahun kemudian kami sudah bisa rebound,” ia menjelaskan.

Menurut Jahja B. Soenarjo, bisnis regulator dan selang gas merupakan bisnis yang sangat menarik. Bisnis ini berkembang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir seiring bergulirnya kebijakan pemerintah tentang konversi minyak tanah ke gas. “Bisnis ini mempunyai potensi yang sangat besar ke depan,” ungkap Chief Operation Officer Dirextion Consulting ini.

Akan tetapi, lanjutnya, persaingan di kategori produk ini juga sangat ketat. “Ada lebih dari 80 merek yang beredar,” ujarnya. Maka, Jahja menyarankan agar Gascomp tetap konsisten menggarap pasar yang sudah ditekuninya selama ini, yaitu segmen menengah. “Gascomp jangan terjebak masuk ke segmen yang lebih bawah, karena bisa merusak pasar yang sudah ada.”

Sukianto sependapat dengan Jahja. Dia mengatakan, beberapa tahun lalu, ML memang pernah mencoba masuk ke segmen yang lebih bawah dengan mengusung merek yang berbeda. Namun kenyataannya, keberadaan merek tersebut malah menjadi beban. “Akhirnya sekarang kami putuskan hanya menggunakan merek Gascomp,” katanya.

Sejak tahun lalu, Sukianto melakukan spin off di perusahaanya. Dia membentuk satu perusahaan baru yaitu PT Gascomp Indonesia (GI) yang ditujukan sebagai badan hukum yang memasarkan produk Gascomp. “Multi Lestari hanya fokus dalam hal produksi, termasuk memproduksi produk orang lain.”

Dia menambahkan, untuk mengutilisasi mesin yang dimiliki, sejak tahun lalu, ML menerima pesanan produksi dari merek lain, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. “Kapasitas terpasang kami cukup besar, harus dimaksimalkan,” kata Sukianto.

Dengan terbentuknya Gascomp, pola distribusi yang digunakan Gascomp mengalami perubahan. Khusus di Pulau Jawa dan beberapa wilayah Sumatera, Gascomp menggunakan pola distribusi langsung dengan mengandalkan kantor cabang yang kini berjumlah 17. Kantor cabang itu tak hanya sebagai gudang dan pusat pemasaran, tetapi juga menjadi pusat layanan produk Gascomp. “Kami ingin lebih dekat dengan konsumen,” ujar Sukianto.

Jahja menambahkan, distribusi memang berperan sangat penting di bisnis ini. Menurutnya, langkah Gascomp untuk meningkatkan distribusinya sangatlah tepat. “Karena produk yang beredar sangat banyak, maka distribusi menjadi sangat penting. Konsumen harus mudah mendapatkan produk Gascomp,” ujarnya.

Menurut Jahja, langkah yang harus dilakukan Gascomp adalah mengedukasi pasar. Dia menyebutkan, saat ini masyarakat belum paham soal karekteristik produk selang dan regulator gas. “Produk ini punya daur hidup agar tetap aman digunakan. Jangan tunggu rusak baru diganti,” kata Jahja, yang menyarankan agar Gascomp lebih gencar lagi mengedukasi, khususnya lewat jalur below the line agar dapat langsung menyentuh target pasar dan konsumen.

Ke depan, Sukianto mengungkapkan, perusahaannya akan tetap konsisten dalam mengembangkan pasar. Masa depan merek Gascomp sangatlah baik. Ini bisa dilihat dari kontribusi penjualan yang mulai berimbang antara produk kompor, selang dan regulator gas. “Kami akan terus berinovasi untuk menghasilkan produk berkualitas dengan harga bersaing,” katanya menegaskan.

Sukianto berencana pula menjadikan Gascomp sebagai merek global. Saat ini ia mulai menjajaki memasarkan Gascomp ke luar negeri. “Kami sedang menjajaki ke beberapa negara Timur Tengah dan Asia Tenggara. Tapi fokus kami tetap di pasar dalam negeri.” (oleh : Taufik Hidayat)

sumber: http://swa.co.id/2011/12/raja-selang-dan-regulator-gas/

Kisah Sukses Yacob Membangun 16 Perusahaan Tekstil

Pernah dipenjara saat remaja, Yacob Kusmanto ternyata mampu mengubah jalan hidupnya. Kini, jebolan kelas 2 SMA itu sukses membangun 16 perusahaan tekstil dan distribusinya. Misi hidupnya kini: mencetak 2.000 pemimpin bisnis!

 “Maaf, saya terlambat turun. Tadi saya ditelepon orang yang saya beri mentoringbisnis. Dia dan keluarganya habis dipukulinwarga di rumahnya di Tangerang.” Kalimat yang membuat SWAagak terkejut itu diucapkan dengan nada biasa oleh seorang pria separuh abad yang hendak diwawancarai SWA, penghujung Februari lalu, di Apartemen CBD Pluit, Jakarta.

 Itulah Yacob Kusmanto, pengusaha handuk, tirai, gorden, perlengkapan dapur, dan perlengkapan bayi yang berbasis tekstil di Bandung. Bagi pengusaha yang kenyang makan asam-garam kehidupan dan mengalami jatuh-bangun kodisi perekonomian Indonesia ini, tidak ada lagi peristiwa yang membuatnya kaget. “Karena, memang semua situasi itu netral. Tidak ada kepahitan, tidak ada kesusahan. Kecelakaan pun punya kesan yang baik, yang positif. Semua kondisi menarik,” ujarnya.

Hal yang sama diajarkannya kepada mentee-nya atau orang yang diberi mentoringolehnya, yang dipukuli warga itu. “Saya bilang ke dia, bersyukurlah bahwa kamu dan ketiga anakmu yang masih kecil dan remaja itu sudah belajar kepekaan hidup sejak dini. Mereka kan digebukinkarena meledakkan petasan kencang-kencang sehingga warga sekitar marah. Ya sudah. Anggap saja itu pelajaran agar mereka lebih peka lingkungan ke depannya,” ungkap Yacob.

 Demikian juga di ranah bisnis. Saat salah seorang karyawannya hengkang dengan membawa banyak karyawan kunci, Yacob hanya tersenyum menceritakannya. “Itulah pilihannya,” ujar pria kelahiran Bandung, 13 Januari 1961, ini tanpa kesan mendendam.

Yacob memang tidak patut bersedih atas hilangnya karyawan ataupun hadirnya pesaing. Toh, perusahaan miliknya kini berjumlah total 16 buah. Jadi, roda bisnisnya tidak akan goyah hanya karena ada satu pesaing baru.

 Yacob bercerita, separuh perusahaannya digunakan untuk berproduksi dan separuhnya lagi untuk mendistribusikan produknya. PT Tirai Pelangi Nusantara memproduksi selimut, tas, handuk dan perlengkapan bayi bermerek Snobby. PT Tegar Prima Nusantara membuat perlengkapan bayi berbasis tekstil bermerek Dialogue. PT Harmoni menghasilkan tirai dan kelambu bermerek Harmoni. PT Imanuel memproduksi taplak meja. PT Adiguna membuat gorden tebal. CV Duta Baby menghasilkan tas gendong, kasur dan kelambu bayi. PT Kota Pelangi memproduksi perlengkapan dapur seperti kain penutup air mineral. PT Garmindo Utama mendistribusikan merek Dialogue. Lalu, PT Rabat dan PT Putra Raja Sejahtera mendistribusikan merek Snobby. “Saya lupa sisa nama perusahaan saya, ha-ha-ha,” ujarnya sambil tertawa kecil.

 Wajar bila Yacob, yang mempekerjakan kurang-lebih 2.000 karyawan, lupa. Sebab, ia mengaku kini hanya babat alas alias sekadar membuka jalan demi pendirian perusahaan. Setelah didirikan, perusahaan itu langsung dipercayakan kepada anak buahnya yang dirasanya kompeten dan berintegritas tinggi. “Kalau tidak begitu, kapan kita ada waktu memikirkan yang lain,” ujarnya santai. Ia tidak khawatir bisnisnya hancur dengan pola demikian. ”Saya kan juga kontrol sesekali. Kalau ada yang salah, ya saya tegur. Kalau tidak ada, ya silakan saja teruskan.”

Bagi Yacob, yang utama adalah integritas dan militansi seseorang dalam bekerja. Dia menyukai orang yang tidak hitung-hitungan dalam bekerja. Atas dasar itulah, ia kini memiliki seorang lulusan STM yang memimpin produksi merek Dialogue; seorang lulusan SMA yang notabene mantan pramuwiswa di rumahnya kini menjadi manajer pabrik perlengkapan bayi bermerek Snobby, dan seorang lulusan SMEA Akuntansi yang memimpin CV Duta Baby, pabrik perlengkapan bayi miliknya yang lain. Mudah saja dicari alasannya mengapa Yacob berprinsip demikian. Sebab, ia juga menerapkan perilaku serupa semasa menjadi karyawan dulu. “Itulah yang saya alami di masa lalu.”

Di ruang apartemennya yang jauh dari kesan mewah, Yacob pun mengajak SWAmenelusuri masa lalunya. Ia melewati masa kecilnya dengan penuh perjuangan. Sebagai anak pasangan sopir taksi 4848 di Bandung dan penjual kue, ia terbiasa dengan kondisi ekonomi pas-pasan. “Kami lahir dari keluarga miskin di Bandung. Kami miskin sekali,” ungkapnya. Tak ada kesan berupaya menarik simpati dengan pengulangan itu. Malah, yang terdengar justru nada ceria.

 Yacob mengaku bersyukur atas masa kecilnya. Dari kondisi yang penuh keterbatasan itulah justru dirinya diperkenalkan dengan kerja keras, pemahaman bisnis, dan pengelolaan keuangan yang cermat sejak dini. “Saya diajari bisnis sejak umur 4-5 tahun,” ungkapnya. Ketika itu, ia terbiasa mendapat uang jajan jika membantu memarutkan kelapa untuk usaha kue semprong, telur asin dan tauge yang dibuat ibunya. Berhubung “upah” yang diterimanya sangat kecil, ia jadi terbiasa berhemat dan menabung. Bahkan, untuk sekolah, ia hanya membawa bekal nasi hangat yang dikepal-kepal dengan “lauk” garam.

 Namun, perjalanan hidupnya sempat memasuki masa kelam saat remaja. Ketika bersekolah di SMA Santa Maria, Bandung, ia kerap berkelahi dengan sesama siswa di sekolahnya. “Saya lemah di sekolah. Maka, untuk eksis, saya berusaha menonjolkan diri dengan cara lain. Saya berkelahi dengan kakak kelas yang lebih besar agar saya populer,” tuturnya seraya tersenyum. Akibatnya, ia kerap mendapat perlakuan tidak enak. Bahkan, pernah karena kenakalannya, ia dipenjara di Bandung dan merasakan “kenikmatan” saat kakinya ditekan dengan kaki meja dan tulang keringnya digetok pistol. Akibat itu juga, ia terpaksa hengkang dari rumahnya dan terdampar di lingkungan yang penuh dengan minuman keras dan narkotika.

 Untung saja, pada suatu ketika Yacob sadar. Ia lantas meminta pekerjaan kepada Yamin Haryanto, teman sekampung orang tuanya, dari Cilacap, yang berbisnis tekstil di Bandung. Bahkan, sebelum memutuskan keluar saat kelas 2 SMA di usia 18 tahun, ia membolos seminggu untuk menjajal suasana kerja. Akhirnya, ketika mantap bekerja, ia langsung izin dari kantornya untuk pamit kepada pihak sekolah. “Setelah itu, saya fokus bekerja di CV Wiska milik Pak Yamin,” ujarnya seraya menyebut produk-produk CV Wiska seperti handuk, gorden dan tirai.

 Di sinilah titik balik seorang Yacob terjadi. Ia yang bertekad berubah lantas bekerja sangat keras melebihi jam kerja normal. Ia selalu masuk pukul 6 pagi dan pulang di atas pukul 5 sore. Selalu mematuhi perintah atasan dan tidak pernah membantah saat dikritik atasan. “Saya mendapat pelajaran di keluarga untuk menghormati pemimpin, bagaimanapun kondisinya. Dan saya selalu berprinsip memberi lebih dari gaji yang saya terima,” katanya.

 Setelah lewat enam bulan bekerja, ia memberanikan diri membeli handuk-handuk rejectdari CV Wiska. Ternyata, permintaannya dikabulkan. Beragam handuk cacat produksi itu lantas dipermaknya menjadi sapu tangan kecil dan wash lapsehingga cacatnya terbuang. Lebih jauh lagi, melihat ada tetangganya yang berbisnis printing, ia pun memberikan motif cetak di produknya. Ia lantas menjualnya di pasar tradisional Cibangkong, Bandung, tidak jauh dari kontrakannya saat itu di Gang Warta, Jalan Gatot Subroto, Cibangkong. Ternyata, hasilnya bagus. Ia pun mengangkat temannya sebagai tenaga penjualan untuk membantu pekerjaannya.

 Yacob kemudian menjajal peruntungannya di luar kota, Purwokerto tepatnya. Dengan kecerdikannya, ia bisa mengirim produknya dengan nyaris gratis ke luar kota. Pasalnya, ia kerap mencucikan kendaraan-kendaraan milik travel yang juga berlokasi tidak jauh dari tempat tinggalnya. Hasilnya, setiap libur kerja di Sabtu dan Minggu, ia mengirim produk ke daerah. “Maklum, orang kecil banyak akalnya,” ujarnya.

 Satu tahun 10 bulan bekerja di CV Wiska, Yacob digaji Rp 75 ribu/bulan. Namun, penghasilan dari bisnis sampingannya itu justru mencapai Rp 2 juta/bulan. Karena itu, 5 tahun kemudian, pada 1987 ia memutuskan membuka pabrik sendiri. Setelah pamit kepada atasannya, ia membuka pabrik pertamanya di Leuwigajah, Bandung, dengan mengontrak lahan seluas 1 hektare selama lima tahun. Berkat hubungan baiknya dengan mantan bosnya, ia diizinkan membeli mesin bekas milik mantan bosnya itu. Bahkan, tak cuma mesin, ia juga dipinjami suku cadang dan teknisi saat mesin-mesinnya mengalami masalah.

 Dari situ bisnisnya terus berkembang. Yacob mengakui, baginya sekarang lebih mudah membuka perusahaan. Sebab, pertama, selama ini ia selalu cermat mengalokasikan modalnya. Ia mengaku sebagai orang yang cukup hemat, baik dalam gaya hidup maupun pengeluaran perusahaan. Itu sebabnya, saat krisis 1997, dia justru mendapat untung besar dari pembelian aset-aset mesin perusahaan tekstil lainnya, sehingga perusahaannya bisa melakukan efisiensi biaya produksi dengan mesin-mesin yang baru tetapi bekas. Dari mana sumber dananya? “Ya, dari hasil penghematan itu,” ujarnya.

Kedua, ia memiliki perusahaan distribusi sendiri untuk produknya. Berkat strategi tersebut, ia memiliki jaringan nasional yang kuat sampai ke pasar becek. Berkat itu pula, ia merasa tidak perlu berpromosi besar-besaran. “Ada berbagai cara untuk ekspansi. Saya sendiri memilih menguatkan distribusi kami yang hingga kini sampai ke pasar modern dan pasar becek,” katanya.

 Pilihan strategi ini juga yang membuat perusahaan-perusahaan Yacob tetap bernapas di saat perusahaan produk tekstil lainnya limbung dihajar produk kembaran asal Cina. Menurutnya, kebanyakan perusahaan jatuh karena terlalu mengandalkan pasar grosir. “Sektor tekstil itu dulu dipuja-puja, jadi banyak yang hanya bermain grosir. Sementara saya sudah menyasar ke pasar-pasar langsung dengan perusahaan distribusi. Jadi, begitu produk Cina menyerbu pada tahun 2000-an, saya sudah memiliki jaringan distribusi yang kuat,” ungkap suami dari Puji Binarti, atau yang akrab disapa Rosa itu.

Strategi lainnya yang menurut Yacob menjadi salah satu kunci keberhasilan pengembangan bisnisnya adalah kemampuannya mencetak kader-kader pemimpin bisnis yang gres. Ia berprinsip, jika seorang karyawan sudah 10 tahun mengikutinya, itulah saatnya dia harus menjadi pemimpin. Kalau tidak, berarti yang salah pemimpinnya karena tidak mampu memercayai bawahannya. “Kalau saya terus-menerus menaruh curiga dan memupuk ketidakpercayaan, perusahaan saya tidak akan sampai sebanyak sekarang,” ujar ayah Sylviana Kusmanto dan Naomi Kristiana Kusmanto ini.

 Yacob menegaskan, bisnisnya yang sejati adalah mencetak pemimpin. Bisnis tekstil hanyalah kendaraan baginya. Dengan begitu, ia tidak sulit melepas perusahaan ke tangan orang yang dipercayainya. Bahkan, meski perusahaan itu baru didirikannya. Dengan pengalaman mengader orang, ia kini hanya menyingkat waktu kaderisasi dari 10 menjadi lima tahun saja.

Dengan kian cepatnya kemampuan mencetak pemimpin, laju ekspansi perusahaan juga kian kencang. “Dulu untuk menambah satu perusahaan bisa lima tahun, kini satu tahun bisa membuat 3-4 perusahaan,” katanya. Ia memang tak ragu mengader anak buahnya yang berkarakter jujur, gigih dan tak hitung-hitungan dalam bekerja. Mirip dirinya semasa muda dulu. “Yang terpenting bagi saya dalam menunjuk pemimpin adalah karakternya. Soal pendidikan, skill,dan lainnya itu bisa dilatih.”

Yacob mengaku prinsipmya merupakan kebalikan dari prinsip pengusaha lain yang kerap menutup rapat-rapat kondisi keuangan perusahaan. Di perusahaannya, mulai dari level kepala bagian sampai GM harus tahu kondisi keuangan perusahaan, berapa modal, berapa biaya pembelian, berapa harga jual, dan sebagainya. Ia tak takut rahasia bisnisnya dicuri pesaing atau karyawan yang berubah menjadi pesaing. Menurutnya, dari persaingan justru muncul kreativitas. Dan, Yacob lebih suka menyikapi kompetisi dengan dorongan untuk lebih kreatif ketimbang mengeluarkan sumpah serapah.

 Hal itu dibuktikan saat salah satu pegawainya hengkang dari perusahaannya dengan membentuk perusahaan sejenis, plus membetot beberapa karyawan kuncinya. “Memang, dia kurang elok keluarnya. Tapi ya sudah. Kami tidak perlu cemas. Kami terus saja berinovasi,” ceritanya seraya tersenyum. Yacob pun tidak merasa perlu mengubah pendiriannya. Toh, laju perusahaannya yang masih tak terbendung seakan-akan memberikan dukungan nyata bagi prinsip-prinsipnya.

 Retnowati, lulusan SMA yang menjadi Manajer Pabrik PT Tirai Pelangi Nusantara yang memproduksi Snobby, turut membuktikan implementasi prinsip bosnya. Sepuluh tahun lalu, Retno adalah pekerja di rumah Yacob yang juga dijadikan kantor. Berhubung turut tinggal di rumah Yacob di Bandung, Retno berinisiatif mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu dan mengepel sebelum masuk kerja dan setelah jam kantor usai. Semua itu dilakukan tanpa perintah Yacob. “Soalnya, saya sejak awal berkeinginan bekerja sebaik mungkin jika mendapat pekerjaan. Semua itu saya lakukan karena saya tidak ingin gagal karena sekolah saya saja dibantu orang lain. Jadi, saya harus berikan yang terbaik saat bekerja,” ungkap muslimah kelahiran Cilacap itu.

 Yacob pun ternyata memperhatikan kegigihannya. Walhasil, Retno yang awalnya bekerja di bagian pengemasan diberi keterampilan menjahit, selanjutnya menjadi pemimpin grup jahit, lalu dididik pengetahuan administrasi, kemudian diberi kepercayaan memimpin sebuah grup jahit di Kembangan, Jakarta Barat.

 Tentu saja, tak semuanya berjalan mulus. Saat dipindahkan ke rumah Yacob di Kembangan yang juga merangkap kantor, Retno gagal memimpin grupnya. Ia pun kembali ditarik ke Bandung menjadi staf biasa. Meski sempat merasa kecewa pada diri sendiri, Retno tidak patah semangat. Dan ketika ada posisi lowong di PT Tirai pada 2009, ia pun kembali dipercaya Yacob menjadi manajer yang membawahkan bagian produksi. Dan, Juni 2010 ia dipercaya memegang seluruh kendali operasional, produksi dan pergudangan perusahaan tersebut dengan karyawan sekitar 500 orang. “Saya bersyukur diberi kepercayaan kembali. Saya sendiri ingin menaikkan omset perusahaan jadi dua kali lipat,” ujarnya yakin.

 Di mata Felix Ferryanto Lukman, pengamat bisnis sekaligus dosen Manajemen Strategi Prasetiya Mulya Business School, Yacob mampu mengatasi salah satu masalah utama dalam bisnis keluarga, yakni delegasi kekuasaan karena minimnya kaderisasi. Umumnya, menurut Felix, perusahaan keluarga berpola one man show. Namun, tidak dengan Yacob. Ia mampu mendelegasikan hal-hal penting plus dengan tanggung jawab sepenuhnya ke calon pemimpin. “Jadi, dia tidak menitipkan pistol berpeluru hampa,” ujar Felix bermetafora.

Felix juga menyetujui langkah Yacob mendistribusikan produknya dengan memiliki perusahaan distribusi sendiri. Menurutnya, bisnis melulu bicara tentang sustainaibility. “Kalau Yacob mampu survivedengan cara ini, yamonggo,”ujarnya. Selain itu, dalam promosi tidak selalu harus mengandalkan iklan. Yacob bisa saja menggunakan word of mouthalias promosi getok tular dari para penjualnya yang terkadang bisa lebih berpengaruh ketimbang iklan di televisi.

Terkait corporate social responsibility(CSR) di bidang mentoringbisnis, Felix berpendapat seharusnya Yacob mempromosikannya ke publik. Karena, hal tersebut akan menguatkan keyakinan masyarakat bahwa orang yang berada di balik produk Dialogue, Snobby, dan sebagainya adalah orang yang kerap membantu sesama. “Dan cara terbaik melakukannya adalah dengan menggunakan strategi public relationsagar penerimaan masyarakat lebih baik.”

Yacob, yang selalu enggan memaparkan omsetnya, tidak berniat berhenti di sini. Dirinya kini masih memiliki impian besar: mencetak 2.000 pemimpin, baik di lini bisnis maupun ranah masyarakat. “Saya bermimpi mencetak banyak general manager.Rumus saya untuk karyawan yang sudah saya serahi tanggung jawab sederhana: kalau mau dihancurkan, silakan; kalau mau dikembangkan, silakan. Karena ini semua juga milik Tuhan, saya hanya dipercaya jadi pengelolanya. Kalau pembantu rumah saya saja bisa jadi manajer, tentu yang lain juga. Itu yang saya katakan. Kita sebagai pemimpin bekerjanya juga jangan sampai jadi lokomotif yang terus-menerus menarik muatan. Tapi, mereka sendiri yang harus bisa mendorong dirinya. Dan, pendorong selanjutnya bukan saya, melainkan mereka. Ini saatnya mereka tampil,” kata Yacob menandaskan.(*)

Riset: Evi

Mentoring Bisnis Ala Yacob

Tak hanya berhasil sebagai pengusaha, Yacob Kusmanto sekaligus mentor bisnis yang sukses. Dan, ia melakukan mentoringsecara cuma-cuma. “Saya banyak dibantu dan dibimbing mantan bos saya dulu, Pak Yamin. Makanya, sekarang saya mentoringorang-orang, siapa saja, asalkan mereka punya tekad menjadi pengusaha,” tuturnya.

  Meski tak tercatat, Yacob memperkirakan telah membantu puluhan orang menjadi pengusaha kasur lantai yang lazim dikenal dengan kasur Palembang sejak 1998 di Jakarta, Bekasi, Bangka Belitung sampai Kamboja. “Waktu itu tahun 1998 saya dengar orang Kamboja banyak kesulitan akibat peninggalan perang. Ya sudah, saya dan khususnya istri saya, Rosa, terbang membantu ke sana, mendidik orang sana jadi perajin kasur Palembang,” ujarnya. Yacob memilih kerajinan kasur Palembang karena pola pembuatannya yang mudah dan berharga jual lumayan.

Dalam mementor, ia memiliki tim yang terdiri dari beberapa profesional sekaligus mantan mentee-nya yang telah sukses. Demi menjaga kualitas, waktu mentoring-nya cukup lama, terkadang bisa sampai lima tahun. Selain itu, Yacob menekankan sistem referal. Jadi, harus ada yang merekomendasikan seorang calon menteeuntuk dididik. Tujuannya agar hanya orang yang bersungguh-sungguh yang bergabung.

Yacob juga kerap mementor para pengusaha yang patah di tengah jalan. “Mereka yang gagal ini harus disentuh dulu spiritnya,” ujarnya. Kalau tidak, biasanya kinerja hasil mentoring-nya tidak memadai. Karena itulah, dibutuhkan waktu yang lama untuk mementor seseorang hingga berhasil.

Namun, hasilnya sepadan. Di Indonesia, para mantan menteeYacob kini mampu memproduksi sekitar 10 ribu kasur Palembang per bulan dengan harga sekitar Rp 100 ribu/buah. Sementara di Kamboja mencapai 500 unit per bulan. Dan Yacob tidak mengambil untung. “Saya hanya membantu. Untuk bahan kasur Palembang pun tidak beli dari saya,” ujarnya.

Salah satu yang sukses dibantu Yacob adalah Eli Listiawati (49 tahun) dan suaminya, Bambang Widiatmoko. Pasangan suami-istri yang bisnisnya di Magelang hancur karena utang judi suaminya itu kini sukses menjadi pengusaha kapuk randu dan kasur Palembang di Cipayung, Jakarta Timur. Eli mengenal Yacob sejak di Magelang karena Yacob kerap membantu memberikan usaha bagi jemaat di gereja Eli.

 Eli yang pindah ke Jakarta tahun 2004 karena ingin membantu perekonomian keluarganya lantas secara tak sengaja bertemu kembali dengan Yacob. Mengetahui kesulitan Eli, Yacob lantas menawari kiosnya yang dikontraknya di Cipayung itu.

Setelah menyambangi lokasi itu, Eli lantas diminta Yacob membuka usaha. Eli melihat di sekitar sana banyak perajin kasur Palembang. Ia pun berinisiatif berjualan kapuk yang digunakan untuk isi kasur Palembang.

 Dengan bantuan modal mobil pikap dari Yacob, Eli lalu bergerilya mencari pemasok kapuk berharga terbaik. Hingga akhirnya ia menemukannya di kawasan Pati, Semarang, Jawa Tengah. Kembali Yacob membantu Eli dalam permodalan bahan baku dengan membelikan kapuk senilai Rp 26 juta.

Di bawah bimbingan Yacob, Eli gigih memasarkan kapuknya. Disambanginya para perajin kasur Palembang yang terbiasa mengisi kasurnya dengan kain bekas, bukannya kapuk. Usahanya perlahan berhasil dan akhirnya para perajin itu yang membeli darinya. Tak ketinggalan penjual kapuk keliling didatangi hingga ke pusatnya di daerah Condet, Kampung Makassar, dan sebagainya di wilayah Jak-Tim.

  Berkat kegigihannya, usaha Eli berkembang pesat. Dan meski gudangnya sempat dilanda kebakaran pada 2007, langkahnya tak surut. Hingga kini usahanya terus berkembang. Setiap hari dia mampu menjual sekitar 1.400 kilogram kapuk (50 bal) dengan harga Rp 9.000/kg. Selain itu, ia kini juga memproduksi hingga 1.800 kasur Palembang per bulan dengan harga Rp 80 ribu/buah. “Memang ini berkat Tuhan melalui tangan Pak Yacob. Kalau mau, Pak Yacob bisa saja hidup bermewah-mewah. Tapi dia memilih membantu orang lain. Saya kagum kepadanya,” ungkap Eli yang juga telah mementor beberapa orang, bahkan termasuk anak jalanan.

Eddy Dwinanto Iskandar

Tip Sukses Yacob Kusmanto

- Gigih dan tidak hitung-hitungan dalam bekerja

- Menjaga kepercayaan atasan sebaik mungkin saat menjadi karyawan

- Fokus di bisnis tekstilnya

- Hidup hemat

- Membelanjakan dana untuk barang modal saat krisis

- Mengader karyawan yang militan menjadi pemimpin masa depan

- Memercayai karyawan menjadi pemimpin sepenuhnya di perusahaannya

- Terus mencari peluang bisnis baru

- Mendistribusikan sendiri produknya dan menjalin hubungan dengan para pedagang di pasar becek

(oleh : Eddy Dwinanto Iskandar)

 sumber: http://swa.co.id/2011/05/kaderisasi-bisnis-gaya-si-mantan-anak-bandel/

Si Workaholic yang Jadikan Karyawan Aset Perusahaan

Bagi Ali Utomo, Presiden Direktur (Presdir) PT Arezda Purnama Loka, kemampuan perusahaan untuk maju dan berkembang tak bisa dilepaskan dari peran karyawan dan masyarakat di sekelilingnya.

Mengingat kontribusi besar karyawan dan masyarakat itulah, sebagai balasannya Ali Utomo berusaha memberikan apresiasi sepadan kepada mereka.

Beragam program untuk karyawan dan bantuan sosial kepada masyarakat melalui corporate social responsibility (CSR) dirancang PT Arezda Purnama Loka. Kepada para karyawan yang senantiasa menjadi tulang punggung produksi perusahaannya, Ali beberapa kali menggelar program-program untuk membantu perekonomian mereka.

Di antaranya kredit lunak kepemilikan sepeda motor, bazar murah untuk keluarga karyawan dan memberangkatkan haji setiap tahun bagi karyawan berprestasi.

“Karyawan kami berjumlah 300 orang, dari engineer sampai tukang kebun. Bagi kami mereka adalah aset paling berharga. Jadi, sudah sepantasnya bagi kami memberikan yang terbaik kepada mereka,” terang Ali Utomo yang ditemui belum lama ini.

Selain kepada karyawan, PT Arezda Purnama Loka juga memberikan bantuan kepada masyarakat yang tinggal di sekitar pabrik melalui program CSR.

Warga yang tinggal di sekitar pabrik di Citeureup, Bogor, Jawa Barat mendapatkan bantuan pendidikan, pembagian sembako, pembangunan jalan dan tempat ibadah,serta pembagian susu bagi balita.

“Kami membangun sekolah, musala, jalan, dan memberikan bantuan makanan bagi warga sekitar pabrik. Semua itu kami lakukan karena mereka adalah bagian tak terpisahkan dari maju mundurnya perusahaan,” tutur Ali.

Untuk semua program sosial bagi karyawan dan warga sekitarnya, Ali mengambil 30 persen dari omzet perusahaan yang bernilai Rp50 miliar-Rp60 miliar per tahun. Pria kelahiran Medan, 2 Desember 1949 ini menceritakan, kemajuan yang ditorehkan perusahaannya juga tak lepas dari peran Mandiri Business Banking.

Pada 1974, Ali menjadi nasabah Bank Bumi Daya, bank yang selanjutnya dimerger menjadi Bank Mandiri. “Saya mungkin salah satu nasabah terlama Mandiri Business Banking. Sejak saya pulang ke Indonesia sekira 1974, saya tidak pernah pindah-pindah bank sampai sekarang,” ujar lulusan metalurgi dari salah satu universitas di Taiwan tersebut.

Ali mengaku tak berpindah ke bank lain karena sudah merasa cocok dengan pelayanan, kontribusi, dan kerja sama yang selama ini terbangun dengan Mandiri Business Banking. Selama puluhan tahun bermitra, Ali menangkap ada perubahan besar pada tubuh bank ini.

Sekarang, kata dia, pimpinan Bank Mandiri tak lagi kaku, mau turun ke lapangan menjemput bola menemui nasabahnya. “Saya pikir ini adalah perkembangan positif dari sebuah bank pelat merah di mana pimpinannya tak lagi seperti birokrat, tapi mau membuka wawasannya terhadap kami para pemain di sektor swasta,” terangnya.

PT Arezda Purnama Loka yang memproduksi di antaranya sealing products, finned tubes, pressure vessels, jointing sheets dan rubber untuk perusahaan-perusahaan perminyakan, kimia energi, dan lainnya, berdiri pada 1982.

Ali Utomo mendirikan perusahaan tersebut setelah sejak 1974 menjadi agen produk sejenis di dalam negeri. Pria yang mengaku gila kerja itu menceritakan, sebelum menjadi agen produk sejenis di dalam negeri.

Selepas menyelesaikan pendidikannya di Taiwan, dia juga sempat bekerja paruh waktu di perusahaan serupa di Amerika Serikat. Dari sanalah, Ali menemukan ide mendirikan pabrik untuk produk serupa di Indonesia.

“Kalau soal penemuan ide dan teknologi orang asing memang jagonya. Tapi untuk penguasaan teknologi, saya pikir bangsa ini mampu melakukannya,” kata Ali mengungkapkan motivasinya ketika mendirikan perusahaan.

Kata-kata Ali bahwa bangsa ini mampu dalam hal penguasaan teknologi terbukti benar. Selang 28 tahun setelah PT Arezda Purnama Loka berdiri, perusahaannya menjadi salah satu yang terbesar di sektor tersebut. Yang lebih membanggakan lagi adalah 70 persen bahan-bahannya telah menggunakan muatan lokal.

PT Arezda Purnama Loka pun mampu meyakinkan dan menggandeng perusahaan-perusahaan besar seperti Pertamina, Pupuk Kujang, Petrokimia, Chevron hingga Conoco untuk menggunakan produk-produknya.

Perkembangan PT Arezda Purnama Loka pun bisa dilihat dari luas areal pabrik yang sekarang dimiliki. Kalau pada awal-awal pendirian hanya seluas 400 meter persegi sekarang telah menjadi enam hektare.

Ali mengakui, ke depan, tantangan yang dihadapi usahanya akan semakin berat. Baik berupa tantangan internal antara lain kebijakan-kebijakan pemerintah yang kontraproduktif seperti perizinan, kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dan lainnya maupun tantangan eksternal dengan munculnya kompetitor baru.

Menyikapi hal tersebut, pengagum berat almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tersebut mengaku siap menghadapinya. Bahkan dia tak takut apabila ada karyawannya yang menjadi kompetitor.

“Dulu sebagai seorang engineer saya memang egois. Sulit berbagi ilmu. Tapi, sekarang saya terbuka. Justru kalau ada kompetitor saya semakin tergugah lagi untuk lebih maju,” ujarnya.

Pria yang juga amat terkesan dengan ungkapan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif (yang dalam satu kesempatan pernah mengatakan bahwa manusia juga harus belajar mencintai apa yang tak dicintainya) tersebut juga memiliki obsesi besar dalam kariernya.

Dia ingin mendirikan pabrik pipa tanpa las sebagai yang pertama dan satu-satunya yang pernah ada di Indonesia. (sugeng wahyudi)(Koran SI/Koran SI/ade) (sumber okezone.com)

Sempat Tak Dilirik, Martha Tilaar Malah Go International

Ayyi Ahmad Hidayah – Okezone

Seorang yang sangat antusias terhadap seni dan kekayaan alam Indonesia, itulah kata yang pas untuk menggambarkan Dr Martha Tilaar, sang ahli kecantikan yang kini memiliki perusahaan multinasional Martha Tilaar Group.
Obsesinya untuk menciptakan produk kecantikan nan ilimiah dan ramah lingkungan, telah membawa wanita yang kini berusia 72 tahun itu menjelajahi dunia.

Mengawali pendidikan kecantikannya di Academy of Beauty Culture di Bloomington Amerika Serikat, Martha Tilaar muda mengawali karir bisnisnya di ruangan seukuran garasi, dengan bermodalkan home made cosmetics.

Dirinya yang hanya memiliki satu orang pegawai pun memasarkan produknya secara door to door. Kecintaan dan percaya dirinya terhadap dunia kecantikan makin besar, ketika timbul desakan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya yang miskin mengemuka.

Produk kecantikan pertama yang Ia buat adalah sebuah masker untuk pengobatan jerawat, tapi tak seperti perusahaan besar yang memiliki dana besar untuk penelitian, Martha Tilaar justru merelakan dirinya sebagai kelinci percobaan.

Namun bukan berarti semuanya berjalan dengan mudah, “Produk saya juga sempat tidak dilirik konsumen,” ungkapnya dalam acara Asia Pacific Entrepreneurship Award di Ritz Carlton Hotel, Jakarta, Senin (25/8/2008) malam.

Tetapi dengan kerja keras dan motivasinya untuk memperkenalkan kekayaan alam Indonesia di mata dunia, Martha Tilaar kini telah menjelma jadi ratu kecantikan Indonesia yang diakui internasional.

Berbagai penghargaan pun diraihnya, mulai dari Asia Pacific Women Entrepreneur of The Year 2008, Siddakretya Award dari Presiden Megawati Soekarnoputri di 2002, hingga penghargaan dari Sekretaris Jenderal Persatuan Bangsa-Bangsa Koffi Anan, atas keikutsertaannya dalam acara UN Global Compact.

Bahkan, wanita yang sudah 40 tahun menekuni karirnya disunia kecantikan ini, telah memiliki 6.000 orang karyawan, 2 orang doktor ahli kecantikan asal Jerman dan Belanda, serta 2 orang ahli farmacetical antropology asal Belanda.

Produk-produknya pun tidak hanya sebatas dipasarkan di Indonesia, namun telah merambah hingga Korea Selatan, Rusia, Kroasia, Polandia, Eastern Europe, sampai kawasan Asia Pasifik.

Dengan memegang filosofi Rupasampat Wahyabyantara yakni ide kecantikan alami yang abadi adalah memadukan antara kecantikan luar dan dalam, Martha Tilaar berharap agar dedikasinya bisa menumbuhkan jiwa entrepreneur dikalangan masyarakat Indonesia.

Karena menurutnya, negara besar dan kaya seperti Indonesia, tidak selayaknya bertingkah seperti layaknya orang miskin.

“Sebab jika Anda memiliki kejujuran, disiplin, inovasi, ketekunan dan kerja keras, semuanya akan bisa terlaksana,” ujarnya.

Wanita yang mengaku kesulitan untuk menembus pasar internasional ini juga berharap, agar pemerintah lebih melindungi keberadaan produk domestik.

Ke depannya, Martha Tilaar mengaku tengah fokus untuk memperdalam produk spa, wanita yang telah memiliki empat buah pabrik kosmestik, ribuan merek produk kecantikan, obat-obatan, suplemen makanan ini mengatakan, demam spa kini tengah melanda dunia, dan faktanya,masyarakat luar juga tengah gandrung untuk menggunakan produk-produk alami.

“Oleh karena itu, kita sebagai negara yang kaya akan bahan alam sangat berpeluang untuk meraup pangsa pasar yang besar,” tutur pemilik sekolah dan salon kecantikan yang telakh tersebar di seluruh Indonesia tersebut. (rhs) (sumber okezone.com)

Rufi, from Zero to Hero di Bisnis Alat Kesehatan

Rufi Irman Susanto sukses menembus pasar alat kesehatan di Indonesia. Dari nol, PT Fondaco Mitratama yang dia bangun bersama dua temannya, kini beromset lebih dari Rp 100 miliar.

Jumat 31 Desember 1999, beberapa menit sebelum pergantian malam menuju milenium ketiga. Di sebuah ruko tiga lantai di Jl. Biak, Jakarta Pusat, Rufi Irman Susanto duduk dengan gelisah bersama beberapa karyawannya. Mereka menatapi beberapa telepon yang ada. Ketegangan makin mencekam saat jarum jam menunjukkan pukul 00:00, tanda tahun 2000 pertama terlewati. Ketika Jakarta dan seisi dunia berpesta, pria yang kala itu berusia 27 tahun itu, bersama karyawannya, serentak mengangkat gagang telepon dan menghubungi 20 rumah sakit yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. “Hasilnya aman, tidak ada peralatan kesehatan kami yang bermasalah karena millennium bugs,” ujarnya mengenang.

Itulah bukti komitmen Rufi terhadap kliennya, yakni rumah-rumah sakit yang telah memercayainya. Wajar jika Rufi sangat khawatir akan gangguan pada produknya. Pasalnya, di bisnis alat kesehatan, gangguan yang muncul bisa mengorbankan nyawa pasien. “Karena itu, kami sangat berkomitmen terhadap pelayanan dan layanan pascajual,” ujar pendiri, pemilik dan Presdir PT Fondaco Mitratama (FM), distributor alat kesehatan untuk bagian jantung, perlengkapan instalasi gawat darurat (IGD) dan kamar operasi, instrumen bedah dan juga alat peraga untuk pendidikan kesehatan.

Berkat keteguhan komitmen Rufi beserta mitra pendirinya – Franky Tan dan Tjandra Miharja – kini FM yang berawak 280 karyawan itu sukses menembus angka penjualan di atas Rp 100 miliar per tahun. Pertumbuhan perusahaan yang resmi berdiri pada 2005 (sebenarnya telah beroperasi sejak 1997) itu mencapai 20% setiap tahun. Jumlah kliennya kini mencapai 500 rumah sakit dan 300 klinik. Tak kurang dari 2.700 item alat kesehatan, mulai dari alat tes darah hingga CT Scan dan MRI dari 12 merek, didistribusikan FM. Merek yang diageni secara eksklusif antara lain General Electric (GE), Hamilton Medical, Abbot, LMA, SLE, dan Hamilton Vygon.

Padahal, dulu, saat merintis bisnisnya, Rufi sempat “berkantor” di salah satu kamar hotel di Surabaya. “Mau bagaimana lagi, perusahaan baru, dana terbatas, sementara saya harus memasuki pasar Surabaya, ya jadi ngantor di hotel, hahaha,” ujar Rufi mengenang perjuangan dia dan mitranya.

Memang, saat awal berdiri, segmen pasar alat medis yang disasar Rufi dkk. sudah dikuasai pemain besar. “Di antaranya, Philips berjaya menguasai pasar monitor, begitu pula di kategori lain dikuasai pemain besar lainnya,” tutur sarjana bisnis lulusan Saint Leo University, Florida, Amerika Serikat itu. Namun, saat itu Rufi melihat ada kelemahan pemain besar di bidang distributor alat kesehatan. “Mereka supermarket. Punya semua alat kesehatan tapi tidak tahu mengedukasi dokter tentang kualitasnya.”

Karena itu, Rufi memilih segmen yang cukup menguntungkan buat disasar. Ia pun mulai bergerilya mencari berbagai prinsipal yang memiliki produk yang baik, meskipun produk itu tidak murah dan belum dikenal di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, Rufi mengikuti berbagai pameran alat kesehatan di AS dan Eropa di bidang jantung, perlengkapan IGD dan kamar operasi, instrumen bedah dan juga alat peraga untuk pendidikan kesehatan. “Bahkan, ketika itu, pameran pun saya pilih yang spesifik, seperti cardiology congress,” kata Rufi seraya memaparkan paradigmanya bahwa perusahaan yang bagus pastilah fokus di bidangnya.

Salah satu hasil buruannya adalah produk ventilator (alat bantu napas) merek Hamilton Medical asal Swiss. “It’s a very good product dengan mode adaptive support ventilation (ASV) yang bisa membantu otot paru-paru orang bernapas karena menempatkan alat sensornya di mulut,” ujarnya. Kini ASV adalah salah satu alat ventilator yang sangat besar penjualannya di Indonesia. Padahal, dulu produk ventilator dikuasai Siemens.

Rufi juga tak jenuh merayu para prinsipal di Singapura yang “menadahi” berbagai produk perusahaan-perusahaan AS. Contohnya alat diagnosis kardiologi buatan GE. Produk itu awalnya “ditahan” di Singapura, tidak masuk Indonesia. Alasannya, menurut Rufi, perusahaan di AS tidak mau tahu pasar Asia Tenggara hingga akhirnya semua pemasaran diserahkan ke Singapura untuk mengurusi semuanya. “Akhirnya, setelah saya yakinkan potensi pasar di Indonesia dan cara memasarkannya, mereka mau menyerahkan ke saya. I have a way to convince people,” ujar Rufi sambil tersenyum.

Setelah memegang beberapa merek dan produk, Rufi dkk. mulai menggarap pasar. Langkah pertama, mengontak para dokter untuk mengajarinya dunia kedokteran. “I’m very lucky. Ada a few good doctor di Surabaya yang mengajari saya dunia kedokteran,” ujarnya. Rufi sadar, sebagai perusahaan baru, ia harus memperkenalkan diri. Ia pun melakukan terobosan pemasaran dengan meminjamkan produknya ke berbagai rumah sakit untuk langsung dipakai pasien. Setelah berbagai demo, akhirnya banyak yang mulai percaya.

Rufi pun rajin mengedukasi pasar secara intens ke kalangan dokter di rumah-rumah sakit yang memakai produknya. “Saya lihat dokter perlu edukasi,” papar Rufi yang akhirnya mengirim beberapa dokter key opinion leader di Indonesia ke Swiss dan sebagainya untuk mempelajari teknologi alat kesehatan. Dalam pikirannya, jika dokter sudah paham peralatan berkualitas, mereka pasti akan memilih peralatan itu.

Tak ketinggalan berbagai pameran dan simposium digelar. Di antaranya, pameran alat-alat kesehatan IGD di Yogyakarta. Tak kurang dari empat simposium digelar setiap tahun. Belum lagi seminar kecil yang diadakan setiap bulan.

Demi meluaskan pasar dan kesiagaan layanan pascajual, FM juga membuka empat kantor cabang di Bandung, Surabaya dan Medan. “Salah satu faktor keunggulan kami adalah komitmen service 24 hours on call yang benar-benar kami wujudkan,” tutur Rufi. Jadi, kala itu hingga sekarang, setiap kali ada produk FM yang bermasalah, FM langsung menerjunkan teknisinya plus alat cadangan yang dipinjamkan ke klien. Jadi, ketika produk diperbaiki, klien tetap dapat menangani pasien. “Kini kami memiliki 70 teknisi yang tersebar di Jakarta dan kantor-kantor cabang.”

Hasilnya, tahun 1998, sebagai perusahaan baru, omsetnya sudah menembus Rp 30 miliar. Dan tahun 2001 FM berhasil meraih return on investment. “Terus terang, uang bukan tujuan. Sesuai misi kami, tujuan kami adalah helping you to save more lives,” kata Rufi seraya memaparkan prinsip bisnisnya yang selalu ingin membuat terobosan di industrinya.

Salah satu tonggak keberhasilan Rufi adalah ketika berhasil menembus pasar alat kardiologi dan ventilator di Surabaya pada 1998. “Saat itu Surabaya dikuasai merek lain,” ujarnya. Namun, bertepatan dengan momentum pembukaan dua rumah sakit besar, di antaranya RS Husada Utama, pihaknya berhasil memasukkan produknya. “Sejak itulah, Surabaya bisa dimasuki,” papar Rufi.

Perusahaannya pun terus berkembang hingga kini kantor pusatnya menempati sebuah gedung lima lantai seluas 2 ribu m2 di Jl. Taman Tanah Abang II, Jakarta Pusat. “Kini, produk-produk kami rata-rata berada di nomor satu atau dua di segmennya. Bohong kalau kompetitor tidak takut pada kami,” ujarnya sambil tersenyum kecil.

Berbagai pembenahan sistem manajemen pun terus dilakukan. Antara lain, menempatkan 6 manajer produk untuk menangani masing-masing kategori produknya, yakni produk kardiologi, monitoring, operating theatre, anestesi, area kritis dan ventilator. Ia juga menerapkan Oracle untuk meng-online-kan sistem penjualan. “Sekarang, data penjualan dan inventori di Jakarta bisa saya lihat seketika,” ujarnya. Ke depan, Rufi berharap bisa memasuki pasar manufaktur alat kesehatan. “Kini sedang dalam perencanaan.”

Uniknya, Rufi kini memasuki pula bisnis salon dengan mendirikan salon kelas atas Hair Studio Shunji Matsuo yang gerai pertamanya baru dibuka pada 1 Juni 2010 di Dharmawangsa Square lantai dua. “Seperti saya bilang, saya ingin membuat terobosan di setiap bisnis yang saya geluti.”

Di bisnis salon ini pun Rufi tidak main-main. Direncanakan, dalam lima tahun ke depan akan membuka 200 gerai. Karena itu, dia sudah menyiapkan lantai empat gedung kantornya untuk disulap menjadi akademi penata rambut. “I need my own army untuk menciptakan hair stylist bertaraf internasional,” katanya. Bahkan, Rufi berencana membuka SMK Hair Stylist.

Menanggapi bisnis Rufi, Sumardy, konsultan pemasaran dari Octovate, menjelaskan, bisnis Fondaco adalah business to business. “Karena itu, kuncinya terletak pada relationship dengan partner dan yang paling cocok adalah direct marketing. Rufi sudah tepat dalam hal pemasaran,” ujarnya. Sumardy melanjutkan, dengan kombinasi produk yang bagus dari prinsipal terpercaya, membuat FM memiliki kombinasi keunggulan yang baik. (sumber swa online)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,429 other followers