Category Archives: Media

Jakob Oetama: Sang pendiri Kompas Gramedia, Merajai media tanpa jumawa

“Saya ini hanya seorang guru yang belajar sejarah dan belajar jurnalistik sehingga akhirnya, karena berkat, dapat membawa dan mengorganisasi rekan-rekan untuk bekerja dalam sebuah media massa sampai sekarang ini.” Begitulah cara Jakob Oetama, pendiri Kompas Gramedia, dalam menggambarkan dirinya, seperti dikutip Kompas.com Juni lalu.

Jakob Oetama menyampaikan hal itu dalam sambutannya di suatu acara yang dihadiri Wakil Presiden Boediono.

Ada nada rendah hati dan sederhana di sana. Tidak tampak kesan jumawa. Siapa pun yang berkesempatan berbicara langsung dengan Jakob Oetama hampir pasti akan mendapatkan kesan serupa tentang sosok wartawan sekaligus pengusaha senior itu.

Begitu pula kesan yang kami tangkap ketika mewawancarai pendiri Kompas Gramedia itu. Di ruang kerjanya, Jakob Oetama menjawab pertanyaan Bisnis dengan didampingi Agung Adiprasetyo, CEO Kompas Gramedia.

Jakob menyebut apa yang dihasilkannya di Kompas Gramedia dengan kata “lumayan”. Namun, “lumayan” dalam konteks ini ternyata sulit untuk sekadar dikatakan lumayan oleh orang lain. Lumayan di sini agaknya bisa pula dimaknai sebagai luar biasa.

Dalam grup yang disebutnya lumayan itu ada koran terbesar di Indonesia dengan oplag di atas 400.000 eksemplar, ada toko buku Gramedia (singkatan dari Graha Media) yang kini jumlahnya 98 buah dan tersebar di seluruh Indonesia.

Selain itu, grup ini juga mengelola belasan koran lokal serta 70 majalah dan tabloid (lihat ilustrasi).

Kompas Gramedia juga memiliki penerbitan, di antaranya Elex Media Komputindo, Gramedia Majalah, Gramedia Pustaka Utama, Grasindo, dan Kepustakaan Populer Gramedia.

Grup ini juga mengelola sekitar 26 hotel dan vila, antara lain Amaris Hotel, Santika Indonesia, The Kanaya, serta The Samaya.

Di sektor lainnya ada Bentara Budaya, Dyandra Promosindo, PT Gramedia Printing Group, PT Graha Kerindo Utama, dan di bidang pendidikan kini Grup Kompas Gramedia memiliki Universitas Media Nusantara.

Pada 2012, kelompok usaha itu menargetkan penambahan hotel hingga 62, toko buku 120 dan koran menjadi 26.

Begitulah “lumayan” versi rendah hati Jakob Oetama.

Namun, rendah hati bukan berarti tidak percaya diri.

Sepeninggal sohibnya, Petrus Kanisius Ojong pada 1980, Jakob Oetama seolah menjadi tumpuan utama bagi biduk konglomerasi yang sedang tumbuh itu, dan menjadi tumpuan semacam itu tentu memerlukan kepercayaan diri yang kuat.

“Saya nggak tahu bisnis. Tapi saya tahu diri kalau saya nggak tahu. Cuma barangkali otak saya dikaruniai kecerdasan yang memadai sehingga dengan kemauan belajar ya bisa menangkap apa yang diperlukan,” katanya menggambarkan apa yang dilakukannya sepeninggal mitranya dalam membangun Kompas Gramedia.

Dengan merendah dia mengaku basis bagi pembangunan grup sudah cukup kokoh ketika ditinggal oleh mitranya itu. “Saya melanjutkan saja,” paparnya.

Gayanya yang lembut, rendah hati, dan santun itu selalu dikaitkan dengan gaya seorang guru. Pria kelahiran Borobudur, 27 September 1931, agaknya tidak ingin melepaskan diri dari sosoknya sebagai seorang (mantan) guru. Sebelum terjun ke dunia jurnalistik, Jakob muda memang pernah menjadi seorang guru.

Dia pernah menjadi guru SMP Mardiyuana di Cipanas pada 1952 dan guru SMP Van Lith di Jakarta pada 1953, sebelum bergabung menjadi redaktur mingguan Penabur di Jakarta sejak 1955. Dari sanalah kariernya sebagai wartawan bermula.

Pada 1963 Jakob Oetama dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi Intisari, majalah yang polanya meniru Reader’s Digest. Dua tahun kemudian dimulailah kiprahnya sebagai pemimpin Redaksi Kompas. Dari titik itulah namanya kemudian melambung ke jagat media di Indonesia serta menjadi seorang pengusaha yang diakui konglomerasinya.

Jakob menempuh pendidikan sebagian besar di Yogyakarta. Dari SD hingga SMA (seminari) dilaluinya di Kota Gudeg itu. Kemudian dia melanjutkan pendidikan ke BI Ilmu Sejarah P & K, di Jakarta pada 1956, serta Perguruan Tinggi Publisistik, Jakarta.

Pada 1961, Jakob masuk ke Fakultas Sosial Politik Universitas Gadjah Mada. Empat puluh dua tahun kemudian, perguruan tinggi itu memberinya gelar Doktor Honoris Causa karena pencapaiannya yang dianggap luar biasa di bidang jurnalistik Indonesia.

Sulastomo pernah menulis bahwa semula Jakob Oetama ragu-ragu untuk menerima gelar dari almamaternya itu.

“Jakob Oetama tidak silau oleh pujian yang diberikan kepadanya,” begitu komentarnya dalam sebuah artikel tentang gelar Dr (HC) untuk Jakob Oetama.

Organik dan organis Jakob Oetama merumuskan apa yang dibangunnya di Kompas dengan istilah “organik sekaligus organis”. Lembaga pers, katanya, haruslah organik sekaligus organis.

Dia menggambarkan lembaga yang organik itu seperti tubuh manusia yang terdiri dari macammacam bagian, tetapi merupakan kesatuan. Ada tangan, kaki, mata, tapi semua merupakan kesatuan dan kesatuan yang organik ini lalu karena bersatu saling tergantung menjadi organis.

“Organik itu ya lebih ke sosoknya yang tampak, yang lahiriah. Organis itu kesatuannya, yang lalu mempunyai fungsi, mempunyai peran. Organik bentuknya konkret, organis menjadi satu karena mempunyai fungsi bersama. Sesuatu yang berbeda tetapi bersama,” begitu paparnya.

Lembaga pers seperti Kompas, terdiri atas bagian redaksi, bagian percetakan, ada distribusi yang mengedarkan, ada keuangan, ada yang berhubungan dengan agen. “Bagian- bagian redaksi dengan percetakan, dengan bagian manajemen, bisnis, harus kerja sama. Kalau tidak, omong kosong bisa maju. Ya itulah organik yang organis.” Lembaga organik yang tidak organis, katanya, tidak bisa berjalan serempak. Dia memberikan contoh media yang dari sisi redaksinya hebat, tapi distribusinya tidak karuan, percetakannya jelek dan tidak tepat waktu, akan sulit untuk sukses.

Keseimbangan ini, katanya, tidak mudah terwujud mengingat wartawan umumnya ‘cerewet’.

Lalu apa yang dianggap sebagai kunci keberhasilan yang harus ada dalam individu-individu? Menurut Jakob, salah satu yang terpenting adalah semangat untuk bekerja dengan all out alias tidak setengahsetengah.

Berkali-kali Jakob Oetama menekankan perlunya all out dalam bekerja baik oleh wartawan, pemasaran, bagian yang berurusan dengan agen, maupun bagian lainnya.

Semangat kerja all out ini, menurut dia, kurang ada pada bangsa Indonesia. “Kita ini perlu mengubah karakter bangsa kita yang baik, rajin, tapi kurang all out dan kurang konsisten,” begitulah dia menggambarkan peran all out dalam kesuksesan.

Khusus untuk pengelolaan bagian keuangan, Jakob Oetama punya resep tambahan. Orang yang dipercaya mengelola uang, selain cakap dan andal juga harus pandai menjaga mulut, harus tutup mulut.

“Misalnya orang yang pegang bisnis ya orang yang tahu bisnis. Saya ambil contoh, yang pegang uang bukan hanya perlu jujur, perlu tutup mulut. Kelihatannya sepele ya. Tapi coba orang yang pegang uang itu tidak tutup mulut. Nah itu keliatannya sepele, tapi itu etika profesi yang sangat diperlukan.” Penyesalan Berdasarkan pengalamannya lebih dari 4 dekade mengelola media, Jakob Oetama percaya bahwa koran tak akan mati kendati serbuan dari medium lain seperti televisi dan Internet kian gencar.

Dia menyebut apa yang disajikan televisi dan Internet itu sebagai tontonan.

Dan itu tak cukup. Surat kabarlah yang mengisi kekosongan itu dengan sajian yang lebih mendalam, tetapi juga dengan formula yang tetap menghibur.

Kendati begitu, Jakob mengakui peran penting televisi. Dia juga mengaku menyesal telah melepaskan TV7, yang awalnya dimiliki Kompas Gramedia, terlalu cepat. Pada masa kini, katanya, untuk menjangkau seluruh masyarakat mau tak mau harus melalui televisi.

Dalam soal Internet, Kompas telah mengembangkan Kompas Cyber Media. Belakangan, layanan blog Kompasiana semakin populer.

Grup itu bahkan mengantisipasi hadirnya era multimedia dengan membangun Universitas Multimedia Nusantara. Agaknya, meskipun Jakob Oetama percaya koran tidak akan mati, grup tersebut juga all out dalam menyongsong era multimedia. (widodo@bisnis.co.id)Setyardi Widodo)

sumber: http://www.bisnis.com/articles/jakob-oetama-merajai-media-tanpa-jumawa

 

Erick Thohir, Pengusaha Muda Yang Sukses Menggeluti Bisnis Media

JAKARTA: Erick Thohir dikenal sebagai salah satu dari sekian pengusaha muda yang sukses menggeluti bisnis media dan hiburan. Dia pun terobsesi menjadi salah satu raja media di negeri ini. Selain membidik pasar bisnis media yang segmented danme nyasar komunitas, Erick juga melejitkan klub bola basket Mahaka Satria Muda dan Mahaputri Jakarta.

Untuk mengikuti kisah sukses Grup Mahaka, berikut petikan wawancara dengan Erick :

 

Bisa diceritakan kapan mulai terlibat di bisnis media?

Saya pulang dari Amerika Serikat (AS) pada 1993. Saat itu masih berusia 23 tahun. Sekolah sudah selesai danmeraih gelar bachelor dan master[Erick lulus dari National University, California, AS]. Kenapa pulang? Kebetulanbapak saya yang sudah kerja [dagang] dari usia 10-11 tahun, sudahwaktunya istirahat. Kakak saya [BoyGa ribaldi Thohir], pulang pada 1991 langsung meneruskan bisnis keluarga, sehingga ketika saya pulang ke Indonesia, juga langsung membantu.

Kami punya grup [bisnis keluarga] namanya Tri Nugraha Thohir. Bergerakdi empat bidang yakni pertambangan batu bara, properti, restoran (makanan) yakni Hanamasa dan Pronto, serta otomotif (sepeda motor).

Bapak saya, awalnya memiliki belasan perusahaan lalu dijual dan fokus mengelola empat bidang tersebut.

Saya disuruh membantu menanganibisnis makanan (restoran), mulai 1993-1998. Saat itu kami barumemiliki Hanamasa.

Saat baru masuk, gerai Hanamasa baru 3 outlet dan terakhir saya tinggalkansudah ada 20-anoutlet yang tersebar diberbagai kota.

Pronto, yang kami ambil alih, waktu itu ada empat outlet, kemudian sayatutup tiga dan tersisa satu outlet di Pondok Indah.

Dari Pondok Indah kami start ulang lagi dan sekarang ada 3-4 gerai Pronto.

Sebelumnya saya tidak memiliki latar belakang pendidikan untuk bisnis makanan. Saya meraih gelar bachelor untuk advertising dan master dibidang marketing. Tidak ada hubungan, tapi mirip-mirip lah.

Pada 1998, ketika mau mengembangkan bisnis restoran, krisis terjadidan bunga bank naik. Padahal konsep pengembangan ini sudah jadi. Saya mau meminjam Rp10 miliar-Rp20miliar untuk mengembangkan gerai menjadi 50 outlet, ternyata begitu dapat uang Rp3 miliar, bunganya 80%.

Ketika bunga naik menjadi 80% itu berat sekali, tetapi kita bisa bayar sehingga langsung dibayar. Ekspansi tertunda. Memang kebetulan filosofi keluarga saya tidak berutang. Seperti Hanamasa sekarang tidak ada utang dibank sama sekali, nah itu yang menyelamatkan.

 

Kapan memiliki bisnis sendiri?

Ketika ekspansi bisnis resto tertunda, teman-teman saya semasa sekolah di AS, seperti M. Lutfi, Wisnu Wardhana,dan Harry Zulnardy mengajak untuk berbuat sesuatu. Obrolan ini sudah dimulai pada 1996-1997.

Bukannya tidak menurut pada orang tua dan kakak, tetapi sebenarnya saya juga ingin punya bisnis sendiri.

Kebetulan keluarga memutuskan Boy menjadi pimpinan dan kalau saya mau membangun usaha sendiri, tidak boleh menjalankan operasional bisnis keluarga, cukup menjadi komisaris saja, supaya jangan ribut. Lalu, bisnis otomotif, makanan dan lainnya dijalankan oleh para profesional dipegang Boy, saya beserta adik saya [Rika] menjadi komisaris.

Dari situ, setelah teman-teman mengajak, saya pikir-pikir kenapa tidakmencoba. Di keluarga, saya paling bandel, paling gaul. Awalnya bapak dan kakak saya tidak setuju. Mereka menilai sudah ada bisnis keluarga dan kenapa tidak itu saja yang di jaga?

Mereka mengetahui karakter saya, kalau makin ditahan makin rebel. Ya sudah disetujui tetapi tidak boleh yang ada hubungannya dengan bisnis keluarga. Itu yang membuat saya berani meninggalkan bisnis keluarga dan memulai sendiri.

Bersama teman-teman kami membentuk perusahaan, awalnya di trading mulai dari semen, pupuk, beras, kapur, pokoknya bahan kebutuhan. Ternyata sukses, karena memang Lutfi tukang lobi yang bagus, saya pedagang yang bagus, Wisnu tukang hitung yang bagus dan Harry treasury yang bagus.Ya semuanya saling melengkapi.

Dalam perjalanannya, saya diskusi dengan partner-partner saya dan sampaikan, kok trading ini sesuatu yang come and go, saya ingin mencoba ke media, Lutfi menyambut dengan baik, lalu kami mulai membeli perusahaan billboard dan radio, terus Republika (sekitar tahun 2000).

Nah, dari situ sudah mulai tidak bisa berjalan bersama, saya ke media, yang lain ke trading. Dalam perjalanannya masing-masing partner punya visi yang berbeda. Wisnu diminta membantu bisnis keluarga (Grup Indika]. Akhirnya waktu itu kami sepakati, kalau pada sibuk, saya yang mengurusi bisnis media. Saat itu kami membentuk perusahaan namanya Mahaka Media dan Mahaka Niaga. Persentase kami 30:30:30 dan 10.

 

Bagaimana awalnya menemukan nama Mahaka, lalu apa artinya?

Nama Mahaka itu tidak sengaja ditemukan.

Saat kami berbincang, saya membuka kamus Jawa Kuno [Sanskrit], di situ tertulis Mahaka, artinya langkah pertama yang baik, yang besar. Seperti mahakarya [karya besar], maha itu sesuatu yang besar. Saya tidak sengaja menemukannya dan teman-teman menilainya cukup bagus.

Waktu itu saya mendirikan Mahaka Niaga, sedangkan Mahaka Media belum lahir. Dalam perjalanannya, teman-teman sibuk dan saya fokus menangani bisnis media. Ketika Wisnuke luar 2007, sahamnya saya beli, Harry keluar untuk bisnis lainnya, saya beli sahamnya. Sisanya saya dan Lutfi, komposisi 60: 40, lalu go public.

Kisah go public ini juga seru. Sebenarnya tidak mau go public tapi Republika adalah public company meski tidak listed, jadi saya agak aneh. Saya minta tolong bursa efek dan akhirnya go public secara strategik.

Dari tidak terdaftar menjadi terdaftar, dari situlah ada pemegang saham publik sampai saat ini, saya pegang 61%, Lutfi ada 20-an%, sisanya publik.

Rosan P. Roeslani juga beli melalui Recapital, dari situ kami bertumbuh dibawah bendera Mahaka, mulai dari koran, radio, online, terakhir Alif TV.

 

Lalu bagaimana dengan posisi Anda di TV One?

TV One itu tidak berada di bawah bendera Mahaka Media, itu VivaNews. Saya berpartner dengan Anindya [Viva Group] di TV One. Dulu diajak dalam rangka membantu secara operasional dan investasi, saya punya saham sedikit di TV One. Saya berusaha profesional menaruh diri pada tempatnya, tidak boleh conflict of interest.

Mayoritas saham milik mereka sekitar 90%. Hanya mereka melihat saya bisa membantu secara operasional. Kebetulan saya juga melihat ini tantangan.

Saya ini kan problemnya kutu loncat,jadi duduk di satu perusahaan setelah 2-3 tahun kalau sudah jalan saya tinggal, penyakit juga sih. Kenapa saya seperti itu? supaya saya memberi kesempatan kepada profesional untuk menjalankannya. Saya kembali memikirkan aspek strategis. Ini bisa dilihat di struktur Mahaka Media, dirutnya orang lain dan saya komisaris saja.

 

Apa pertimbangannya memilih terjun ke bisnis media?

Sebenarnya saat itu ada tiga pertimbangan.

Pertama, Indonesia pada 1998 menjadi negara terbuka, saya melihat media akan tumbuh karena tidak dikontrol. Kedua, terlepas pada tahun itu masa susah karena krisis, saya yakin ke depan pertumbuhan consumergoods akan tinggi. Media is a consumer goods. Media kan seperti produk, cuma dari angle yang lain, dinikmati dengan mata dan telinga. Ketiga, saya percaya hidup itu mesti give and take, bukan take and give. Saya percaya dengan media juga bisa  berkontribusi sesuatu kepada masyarakat.

Makanya juga saya membatasi diri di areal politik, saya tidak ikut parpol.

Kenapa saya masuk ke media? Saya lihat itu peluang seiring era kebebasan dan consumer goods yang akan berkembang, lalu dari segi edukatif, ini memberikan sesuatu, tetapi konsekuensinya saya tidak boleh terjebak pula diputaran itu. Ini prinsip dan pilihan.

Walaupun, 2 tahun terakhir ini keluarga saya menerima oke. Jadi waktusaya keluar dari bisnis keluarga untuk mengurusi Mahaka, mereka berkata “waduh”. Ketika Mahaka jalankan bisnis trading, mereka happy, tapi begitu kita masuk ke bisnis media, keluarga bilang lagi “waduh cari musuh, kalau nulis salah dimusuhin.” Mereka easy going sekali, ketika kita masuk ya mereka agak kurang menerima, bukan mereka tidak setuju dengan kemauan saya, tapi khawatir karena mereka ini kan pedagang.

 

Berapa lama pergulatan memutuskan pindah ke media?

Sekitar 6 bulanan, dan saya rasa itu pilihan yang tepat, karena ketika beberapa partner kita fokus ke tempat lain, niaganya juga goyang, bagi tugasnya jadi tidak seimbang.

 

Ke depan, apakah ada rencana membeli media atau televisi lagi?

Saya juga mesti terima kasih dalam pengembangan hidup saya ini banyak partner, seperti di Mahaka ada Lutfiada Rosan, di JAK TV ada Artha Graha (Tommy Winata), di TV One ada Bakrie, jadi banyak partner. Tapi untungnya partner-partner tadi mempercayakan kepada saya, saya dianggap transparan dan profesional, kalau tidak mana mungkin mereka mau bekerja sama dengan saya, saya transparan dan professional, dan yang terpenting ketika menjalankan I act asa professional not as an owner.

Kami sekarang menjadi punya dua bendera, Mahaka Media dan Alif. Mahaka Media untuk media dan Alif untuk entertainment company. Alif ini menaungi produk-produk terkait hiburan.

Kami mulai pisahkan antara media dengan entertainment. Kalau Beyond Media itu saya, holding company saya. Basicly Beyond Media bergerak sebagai holding. Mahaka Media itu public company, untuk TV One itu my personal.

 

Bagaimana melihat bisnis media ke depan di Indonesia?

Bisnis 360 derajat integrated services, bercampur antara media, entertainment, multiplatform dan konten is theking. Beberapa hal yang memang bagian yang bisa diefisiensikan kita efisiensikan, distribusinya kita gabungkan karena tidak ada hubungan dengan konten.

 

Pengalaman yang Anda selalu kenang dalam berbisnis?

Keputusan yang selalu dikenang, ya ketika saya memtuskan memulai usaha sendiri, terus memutuskan juga dari Mahaka Niaga ke Mahaka Media.

Sebetulnya orang tidak tahu pada 2006 saya lagi susah-susahnya karena masalah cash flow, kebetulan bisnis lagi tidak jalan, tapi tiba-tiba ada ekspansi,tapi cash flow tidak cukup.

Maka saya mesti jual lukisan dan jual mobil. Saya sebenarnya bisa berutang ke bank, tapi saya pikir itu ada lukisan atau mobil, kenapa tidak dipakai, padahal sayang lukisan itu ada karya Affandi. Anak buah saya tahu bahwa saya berani mengorbankan sesuatu yang pribadi untuk kita semua. Loyalitas itu mesti dibentuk dari dua pihak, dari kita sebagai pimpinan dan dari tim. Kalau dari anak buah ke atasan itu normal, tapi pimpinan itu harus memberi contoh.

Saya memang kontradiksi, di satu pihak dikatakan ekspansi, tapi loyal. Jadi seperti dua sisi, saya ini Gemini.

Di sisi satu sangat eksploratif dan satu sisi lainnya, secure. Saya juga membagi area publik dengan private.

sumber: http://www.bisnis.com/articles/erick-thohir-berani-meninggalkan-bisnis-keluarga

Budiono Darsono dan Kiprahnya Membangun Detik.com Media Online Pertama di Indonesia

JAKARTA: Transaksi pembelian Detik.com oleh Chairul Tanjung pada pertengahan  tahun ini mengejutkan pelaku bisnis media di negeri ini. Belum lama ini Bisnis menemui Budiono Darsono salah satu pendiri Detik.com untuk berbincang mengenai awal pendirian dan  transaksi penjualan tersebut. Sebagai catatan, Detik.com yang dibangun dengan modal awal Rp40 juta setelah 13 tahun  dilego senilai US$60 juta.

Siapa saja yang  semula mendirikan Detik.com ?

Ada 5 orang, kami anggap ada dua babak sebagai founder. Abdul Rahman, Budiono Darsono, Didi Nugrahadi, Yayan Sopyan, dan Calvin Lukmantara. Yang pertama empat nama pertama yang disebut. Didi dan Yayan pada 2002-2003 melepas semua sahamnya ke kami; ke Abdul, saya, dan Calvin. Tiger Investment kemudian masuk sekitar 2004-2005 dan saham kami terdilusi.

Bisa anda ceritakan sejarah detik.com ?

Pada akhir 1996, Agranet publishing Internet, membuatkan situs. Aku Yayan, Abdul, Didi, sebelum ada Detik menggunakan nama PT yaitu Agranet. Setelah kami bisa bikin situs sendiri, kami dapat klien yaitu Kompas.com.
Waktu itu Kompas.com ingin redesign, kami mengajukan tender dan menang. Lalu kami taruh server-server mereka di AS. Kontennya merupakan pindahan dari edisi cetak. Dalam proses perjalanan ini, kami enggak punya uang. Servernya kan gratis pada waktu itu, masih kecil kapasitasnya.

 

Uang pertama itu kami dapat dari Kompas.com. Kami gunakan uang itu sebagai modal. Lalu kami bilang ke Kompas, ini tidak salah, tapi akan lebih baik kalau versi online itu isinya berita terus menerus, jadi jangan hanya memindahkan edisi cetak saja.
Klien-klien kami yang media itu tidak ada yang melakukannya. Akhirnya, kami putuskan untuk membuat sendiri.
Saya sempat bersumpah untuk enggak jadi wartawan. Waktu itu Berita Buana dibreidel, Detik dibredel. Kapok saya. Ganti profesi jadi web designer. Akhirnya membuat untuk contoh.

 

Kami bermimpi macam-macam. Kami mulai dengan satu jurnalis pada 9 Juli 1998 yang sampai saat ini masih bekerja bersama Detik.com. Investasi awal Rp40 juta. Web designernya 40 juta itu digunakan untuk membelikan server Kompas. Kami deal dengan sebuah perusahaan AS, beli US$20.000 untuk server Kompas.

 

Tapi saya dapat server gratis. Kalau enggak ada Kompas, enggak ada Detik. Meskipun tidak secara langsung, rejekiku dari Kompas. Dalam berbagai seminar, aku ceritakan, yang menghidupi Detik itu ya dari Kompas.
Proses 10 tahun itu, aku, Abdul, dan Calvin sering terlibat diskusi. Memang ada pemikiran bahwa kami ini sudah mentok. Kalau diteruskan memang tetap tumbuh, tapi harusnya bisa lebih. Di Indonesia, potensinya besar, harusnya bisa lebih tinggi lagi.

Dalam perjalanan selama 13 tahun, kapan Anda dan teman-teman merasakan sebagai masa terberat?

Pada 2000-2002. Itu karena kan persepsi dotcom hancur-hancuran. Di dunia, tidak hanya Indonesia, bubble dotcom pecah. Persepsi kemudian hancur. Detik.com pada waktu itu sudah mendapatkan iklan yang lumayan. Tapi persepsi dengan industri yang hancur-hancuran ini kan berpengaruh ke detik.com. Pada 2001 itu, kami sempat PHK [pemutusan hubungan kerja] 27 orang karena harus menyelamatkan Detik.com.

 

Pada waktu itu saya sempat berantem dengan Abdul karena dia menganjurkan untuk mem-phk karyawan. Saya bantah. Dia bilang,  di luar negeri perusahaan rugi saja PHK karyawannya, kami juga harus melakukan hal yang sama. Dia bilang kita harus rasional, kalau hanya emosional, Detik.com bisa bubar. Kemudian, dengan berat hati akhirnya memberhentikan pegawai. Tapi justru karena keputusan Abdul, Detik.com selamat.

 

Sebanyak 27 orang diberhentikan dari jumlah karyawan waktu itu yang  masih 80 orang. Abdul itu rasional banget. Saya Indonesia banget, memikirkan banyak hal. Tapi keputusan Abdul betul. Kalau tidak mengambil langkah itu, mungkin sudah gulung tikar. Pada 2002-an kami sudah lebih baik, sudah bisa menghidupi diri sendiri, tapi saya dan Abdul tidak menerima gaji. Karyawan juga masih telat mendapatkan gaji. Pada 2004, kami sudah untung. Awalnya untung kecil, tapi lalu naik, naik terus.

 

Setelah dapat uang dari Tiger, kami gelindingkan dan hidup sendiri. Malah uangnya Tiger utuh. Saya lupa angkanya. Tiger itu sempat marah, karena uangnya idle. Jadi kami punya cash banyak. Tiger tidak menaruh perwakilan di sini; hanya menaruh uang saja. Mereka percaya sekali. Kami itu meski perusahaan begini, kami pakai akuntannya Price Water House. Tapi rapor selalu kami kirim kepada mereka. Setelah Tiger masuk, kami terus tumbuh. Mereka basisnya di New York, AS. Banyak menanamkan modal di perusahaan dotcom.

 

Mereka rutin berkomunikasi dengan kami. Mereka sepenuhnya menyerahkan kepada kami. Kadang-kadang memberi saran, ide-ide. Pernah juga mengajak kami untuk melihat investasi lain di dotcom yang mungkin dikembangkan di Indonesia.
Yang paling penting target tercapai dulu tahun ini. Pada 2012, harapannya tentu ide untuk mencapai lebih dari 100% bisa tercapai, meski saya bukan lagi pemilik. Kalau tidak, bisa sedih, kan dilepas untuk mencapai target itu.

Bagaimana anda membagi peran dengan pendiri yang lain ?

Abdul lebih ke bagian keuangan, bisnis kita kelola bareng-bareng, sedangkan saya mengurusi konten.Saya berteman dengan dia dari Tempo. Dia dulu dari Tempo ke Swa. Abdul itu kuncinya. Satu hari saya kan pengangguran begitu Tabloid Detik dibredel saya kan enggak ada pekerjaan. Lalu oleh Majalah Swa saya diminta melatih wartawannya. Abdul redaktur eksekutif di Swa. Kalau selesai mengajar, saya suka ngobrol bareng Abdul. Karena sebelumnya kami sudah dekat. Dia sudah mengerti Internet,  saya enggak mengerti waktu itu. Dia satu-satunya di redaksi Swa yang berlangganan Internet dengan biaya sendiri.

 

Pada waktu itu masih based on text, enggak ada gambarnya. Saya masih belum jelas bisnisnya bagaimana. Abdul sudah memiliki gambaran. Dari situ saya lalu bercerita kepada Didi, tetangga saya. Dulu dia pegawai Bank Exim. Lalu kami bertiga. Lalu muncul Yayan. Sofyan, yang pernah redaktur budaya Tabloid Detik yang juga menganggur. Yayan sebelumnya mencari pekerjaan untuk adiknya. Yayan akhirnya bergabung. Lahirlah PT Agranet. Satu keajaiban, keberuntungan, pada akhirnya saya harus bilang saya mesti berhenti. Akan jauh lebih bagus ketimbang diteruskan. Semakin cepat pensiun, lebih bagus, akan ada regenerasi, lebih segar.

Bisnis model detik.com seperti apa ?

Awal-awal itu bisnis model yang menjadi perhatian. Ketika mengelola ini, ketika saya turun dari mobil, ada satpam yang jemput untuk mengambil tas. Enggak boleh. Tidak boleh juga satpam bersikap terlalu hormat kalau saya datang. Lalu saya juga tidak memiliki ruangan. Semua orang bisa bertemu saya kapan saja. Saya membayangkan ini kan sejak awal saya  itu bukan siapa-siapa. Kalau Budi bukan siapa-siapa, enggak disapa, ya saya enggak apa-apa.
Saya tekankan juga ke anak-anak. Mereka enggak boleh ke Detik.com. Magang pun enggak boleh, cari tempat lain.

Siapa orang yang menginspirasi Anda ?

Aku belajar nulis itu dari Fikri Jufri. Roh-nya dari Goenawan Muhammad. Dua orang itu duduknya di seberang saya waktu saya di Tempo. Fikri itu guru saya langsung. Bersama Goenawan banyak berdiskusi macam-macam. Yang memberikan kesempatan itu Eros Djarot. Di Tabloid Detik, dilepas, dikasih duit, diminta mengurus penuh. Tiga orang ini sangat berpengaruh hingga hari ini.

Soal divestasi Detik.com, apakah semuanya dilepas ?

Semuanya dilepas. Kalau kemarin [Anda bertanya tetapi tidak dijawab] bukan karena ada perjanjian enggak boleh ngomong, tapi karena belum ada cerita [soal harga]. Jadi susah ngomong. Nanti bilang iya, tidak, bilang tidak, ternyata iya, kan repot. Mendingan diem.

Sebelum transaksi komposisi kepemilikannya detik.com seperti apa ?

Aku nggak mau cerita detail ya. PT-nya itu bernama Agranet, yang pemiliknya Budiono Darsono cs dan Tiger. Tiger ini dari Amerika Serikat sedangkan mayoritas Budiono cs. Yang diakuisisi dalam transaksi ini adalah 100% saham PT Agranet.

 

Negosiasi penjualan detik.com berlangsung 2 tahun, bisa diceritakan prosesnya ?

 

Pada tahap awal dulu itu tidak sepakat, ada perbedaan di harga.  Dua tahun itu mereka [CT Corp] gigih. Pak CT [Chairul Tanjung] menilai new media ini bisnis masa depan, akan tumbuh terus. Pertumbuhannya bagus namun kami sempat tidak sepakat pada harga. Tetapi setelah itu tidak berhenti. Setiap saat menanyakan. Mereka juga menaikkan harga akuisisi. Kami masih belum sepakat. Proses sampai menemukan kecocokan harga justru mendadak, kilat.

 

Prosesnya tergolong cepat. Kenaikan harga yang mereka tawarkan juga signifikan. Di samping soal harga, ada alasan kami harus melepas. Antara alasan dan harga itu nyambung. Alasannya yang pertama, kami sudah 13 tahun mengelola ini, saya dan Abdul Rahman.
CEO-nya itu Abdul Rahman, saya wakil CEO. Selama 13 tahun itu kan kami memiliki banyak obsesi. Memang kami setiap tahun keuntungan bisa tumbuh 100%, tetapi ini nominal yang jauh dari impian.

 

Tahun lalu, laba bersih kami kira-kira Rp20 miliar, tahun ini Insya Allah bisa Rp40 miliar. Ada pertumbuhan yang setiap tahun mencapai 100%. Tetapi bayangan kami, pertumbuhan itu masih jauh dari yang bisa kami capai. Karena kami tidak memiliki lebih banyak resources. Misalnya begini, kalau kami ingin investasi yang nilainya Rp30 miliar kan mikir. Kalau kami lakukan ada kemungkinan laba yang kami hasilkan habis. Banyak potensi besar yang tidak bisa kami ambil karena keterbatasan, tidak hanya finansial.

 

Kalau ingin bersinergi misalnya, ya kami tidak memiliki apa-apa. Detik.com kan hanya Detik.com tetapi tidak memiliki resources lainnya. Ini menjadi obsesi bagi kami. Satu hal yang bisa kami lakukan adalah detik.com akan dapat tumbuh besar kalau diambil oleh grup yang tepat. Grup yang memiliki sumber daya dan finansial. Selama proses pemikiran untuk melepas detik.com yang tertarik bukan hanya Pak CT. Ada banyak pihak, baik dari pemain lokal maupun dari luar negeri,  ada 3 hingga 4 pihak.

 
Kalau pada era 2003-2004 pemain dari luar yang datang. Mereka umumnya menaruh uang saja. Sejak tiga tahun lalu, pemain lokal juga mulai tertarik. Pada proses ini kami mulai memilih siapa pihak pembeli yang tepat. Kami bertemu langsung dengan CT Corp. Tidak melalui pihak ketiga.

Peralihan kepemilikan ini apa menjamin semua rencana Detik.com akan selaras dengan yang keinginan CT Corp ?

Mereka itu memiliki obsesi yang sama. Jadi obsesi saya itu, saya boleh sebut 99% sama dengan CT Corp. Idenya sama. Karena kita punya ide dan gagasan yang sama untuk mengambil potensi yang besar itu maka posisi Abdul Rahman akan tetap dipertahankan setelah perubahan kepemilikan. Saya juga tetap dipertahankan sebagai direktur untuk konten dan pemimpin redaksi. Kami sedang menyusun komposisi direksi. Tapi saya sudah diminta secara resmi. Abdul juga demikian.

Faktor apa lagi yang akhirnya membuat akuisisi ini terlaksana?

Saya dan Abdul kan bisa dibilang manajemen amatiranlah. Aslinya kan kemampuannya menulis. Kami tahu 13 tahun ini tumbuh dan bagus, tapi harusnya sebulan ini bukan Rp15 miliar, harusnya angkanya sudah Rp100 miliar.

 

Kenapa tidak bisa ?

 

Kami sendiri terobsesi. Jadi justru kalau ingin membawa Detik.com lebih besar, harus dilepas kepada yang lebih mampu. Jatah saya hanya sampai di sini. Kami tahu dirilah.

Bagaimana transaksi penjualan Detik.com bisa dituntaskan ?

Kebanyakan enggak formal, bukan suasana yang formal. Bukan dalam kaitan negosiasi. Matching justru di layer-layer informal. Kalau formal itu justru enggak ketemu. Kami sering bertukar ide menggunakan social media, twitter misalnya. Dari situ chemistry itu muncul. Justru tidak terucap. Baru setelah ini, oke, baru terucap. Tapi banyak yang tidak terucap. Selama 2-3 hari kita sudah teken. Ini mengalir dan sangat cepat. Dari pihak sini maupun Pak CT.

Ada perasaan menyesal ?

Jangan pernah menyesali apa yang kita lakukan.
Obsesi setelah ini apa ?

Saya hanya ingin membuka warung kopi. Saya tidak memiliki pemikiran untuk membuat bisnis serupa Detik dan mengulang kesuksesannya. Mustahil. Detik.com itu lahir, sukses, karena ada kondisi-kondisi tertentu. Momentum itu tidak dapat diulang. Misalnya, detik.com sebagai pionir. Kalau saya buat lagi kan bukan pionir tapi pengikut. Saya tidak pernah bermimpi mengulangi sukses pada hal yang sama.

Ide warung kopi dari mana ?

Saya dengan Hana, istri saya, sudah lama berpikir, kami harus punya aktivitas yang kami senang. Saya pengen punya warung, yang saya ikut bekerja di situ. Enggak hanya saya jadi bos. Harus melayani sendiri. Warung kopi. Sekarang kami belajar. Saya dan istri pergi berkeliling untuk mencari konsep. Saya bertemu istri saya di Surabaya Post, dia wartawan juga. Menikah 1989. Dengan dua anak.

Anda dulu sempat bermain di koran siang….

Banyak orang keliru menganggap kami ingin bikin koran. Tapi itu adalah biaya promosi. Biar tidak hanya sekedar promosi, kami ingin menghasilkan sensasi. Kami bikin koran, terbit dua kali, siang dan sore. Itu kalau akal sehat aja jontor jalanin begitu. Anggarannya Rp300 juta untuk 3 bulan. Setiap hari terbit. Edisi siang 10.000 eksemplar, edisi sore 6.000 eksemplar.

Kami sebar seolah-olah menggunakan agen. Pada waktu itu kami menjembatani pembaca untuk mengakses dotcom. Situasinya kan beda. Mereka harus dikasih koran untuk membawa ke konten dotcom. Selama ini kan kami juga tidak anti cetak. Setelah 3 bulan, kami putuskan untuk berhenti.

Kalau berbicara dukungan finansial, ada banyak opsi lain seperti IPO dan obligasi yang bisa diambil. Kenapa ini tidak dijadikan pilihan ?

Kami sudah memikirkan pilihan-pilihan itu, tapi enggak lah. Kembali lagi kami memikirkan bahwa kami ini manajemen amatir. Beruntung 13 tahun bisa seperti sekarang ini. Kami tahu, sebagai pemilik kami sampai di sini. Kami mendapatkan pihak yang datang dari chemistry yang sama, pandangan yang sama, dan sepakat perihal pricing.

Soal karyawan pascaakuisisi bagaimana?

Semua karyawan sudah kami ajak berbicara. Pak CT itu kan datang untuk mencari resources baru, bahkan mereka tekankan usahakan tidak ada satu pun yang keluar. Jumlah karyawan sekitar 320 orang ini resources baru. Marketing dan sales juga demikian. Apalagi bisnis dotcom itu berbeda, misalnya dengan televisi dan media cetak, skill-nya khusus.

Uang dari penjualan detik.com ini mau diinvestasikan kemana ?

[Sampai sekarang] Saya masih bekerja

 

Sampai kapan ?

Sampai Pak CT butuh saya. Tapi regenerasi harus terjadi, semakin cepat, semakin bagus. Enggak bagus orang terlalu lama di sini. 13 tahun jadi pemimpin redaksi, menurut saya, itu ngawur. Ha-ha-ha.

 

Apa rencana setelah pensiun ?

Saya mau pensiun buka warung kopi. Ketika Berita Buana dibredel pada 1990. Saya ke Parung di kompleks baru jualan beras dan lain-lain. Kira-kira 7 bulan, datang Ali, sekretaris Eros Djarot minta tolong untuk menjalankan Tabloid Detik. Berangkatlah saya bantu dia. Setahun kemudian, dibredel bareng Tempo dan Editor.

Rencana bisnis Detik.com seperti apa setelah transaksi penjualan ?

 

Kami masih menggunakan business plan yang ada, yang sudah dibuat sebelum akuisisi, hingga akhir tahun ini. Setelah itu, baru akan ketahuan, berapa suntikan dana yang dibutuhkan. Secara arus kas, kami masih sangat bagus. Tahun ini kami anggarkan sekitar Rp20 miliar, kebanyakan untuk teknologi informasi karena kami banyak mengembangkan aplikasi. Kami juga menambah kapasitas server dan sebagainya.

Apa yang sudah dan belum sampai Desember ?

Proyek baru banyak, kami tetap dalam schedule yang sama. Seperti mengubah desain tepat pada 9 Juli. Detikkios misalnya, khusus untuk iPad. Kami mengundang semua penerbit untuk berjualan di detikkios. Semacam pengecer, dengan pembagian Apple 30%, detik.com 30%, penerbit 40%. Ini sudah di-approve oleh Apple.

Ini sederhana sekali, pemilik konten hanya mengirimkan file PDF. Platform sementara ini di iPad. Nanti kami juga akan melihat Android dan RIM. Tapi yang paling siap kan iPad. Detikkios ini dikembangkan sendiri. Kami punya jagoan-jagoan. Kami juga mengembangkan aplikasi di luar detik.com tetapi sebenarnya ini sinergi. Kami misalnya telah meluncurkan Makan Di Mana.

Lalu kami luncurkan Masak Apa, di beragam platform; BlackBerry, Android, iPad. Aplikasi ada foto, resep. Misalnya orang di supermarket, dia bisa melihat bahan-bahan apa yang diperlukan untuk membuat masakan. Sesampainya di rumah, dia juga bisa melihat lagi cara memasaknya. Kalau aplikasi Makan Di Mana akan membantu pengguna mencari tempat makan. Misalnya dia ada di satu tempat, tinggal gunakan aplikasi ini, nanti akan tampak hasil tempat-tempat makan di sekitar itu. Kami juga memiliki Detikdeal. Ini yang sepertinya membutuhkan resources besar karena kami serius di commerce.

Masa depan Detik.com akan bergantung pada layanan apa ?

Ke depan itu ada dua hal yang perlu dilihat di new media. Pertama adalah tetap web, yang kedua mobile berbasis aplikasi. Karena itu, detik.com harus main di aplikasi. Kami juga mengembangkan aplikasi alamatku. Itu sudah dalam proses. Aplikasi di mana orang mencari alamat. Ini akan digabung dengan peta. Model bisnisnya akan ada misalnya iklan. Sekarang layanan sejenis tersedia dengan nama bukukuning.com. Nanti akan dikembangkan di dalam aplikasi alamatku.

 

Bagaimana mengenai rencana sinergi dengan media di bawah CT Corp [Ada Trans 7 dan Trans TV] ?

Kami sedang membahas. Belum bisa secara detail diceritakan. Kami juga akan membahas sinergi seperti apa. Ada beberapa contoh grup besar yang mencoba menyinergikan beragam konten tapi gagal. Ini akan menjadi pengalaman dan memberikan pelajaran. Tim ini solid. Tidak ada resistensi. Saya percaya tidak. Saya tekankan ini yang berubah hanya kepemilikan. Ke keluarga semua juga begitu. Ke istri dan anak-anak.

Proses kaderisasi yang Anda persiapkan seperti apa ?

Bagus, selama 2 tahun terakhir ini, sebetulnya saya lebih seperti pemimpin redaksi korporat. Di level wakil pemimpin redaksi ada dua orang. Mereka yang menjalankan operasional, meski saya tetap mengecek. Mereka sudah jagoan operasional, naluri sudah jalan. Naluri untuk melihat konten mana yang menarik dan perlu dikembangkan. Kalau jaman dulu kan enggak punya alat untuk mendeteksi, sekarang kan bisa real time untuk mengetahui mana yang sedang banyak dibaca. Skenario apa yang dipersiapkan untuk Detik.com? Saya enggak tahu karena saya bukan lagi pemiliknya. Saya yakin Pak CT memiliki skenario yang terbaik untuk Detik.com. Ada atau pun tidak ada saya dan Abdul.

Di Indonesia perbedaannya apa?

Di luar, seperti Spanyol dan Inggris, online advertising mengalahkan TV, apalagi cetak. Kenapa? Karena industrinya jalan, satu sama lain. Pemahaman juga terjadi. Di sini masih susah. Misalnya di biro iklannya belum paham, kliennya juga. Seiring dengan pertumbuhan ini, harusnya industri ini bergerak. Nah pergerakan ini bisa terjadi kalau betul-betul digali. Kalau di luar negeri, pemilik media cetak berani menutup media cetaknya dan pindah ke online. Berani mereka mengambil keputusan seperti itu.

 

Di sini? Enggak berani. Aku sudah bilang, cetak boleh mati, tapi media enggak akan mati. Di sini banyak yang mengerjakannya setengah-setengah. Nanti terlambat bisa enggak kebagian. Makanya kita lihat banyak yang gagal masuk ke online karena ragu-ragu. Kami pernah menerima kunjungan dari salah satu koran tertua di Denmark. Mereka datang ke Detik.com. Mendengar Detik.com sebagai media online pertama di dunia.

 

Mana sih media yang pertama murni menjalankan rule media online. Mereka belajar, 3 bulan kemudian, koran itu menutup edisi cetaknya, pindah ke online. Mereka mendapatkan iklan besar-besaran karena perubahan ini. Karena ketika koran itu tutup, pembaca mau enggak mau kan ke versi onlinenya. Saya memiliki keyakinan yang besar karena ada contohnya.(ratna.ariyanti@bisnis.co.id/munir.haikal@bisnis.co.id)

(M. Munir Haikal, Ratna Ariyanti)

sumber: http://www.bisnis.com/articles/budiono-saya-tak-pernah-menyesal

Oktavia Erdian, Sosok Wanita Tangguh Dibalik Kesuksesan Terrant Books Publishing

“Kenapa, ya, tidak ada novel remaja karya penulis Indonesia?” batin ibu dua anak ini, saat melihat toko buku yang dipenuhi novel remaja terjemahan. Padahal, Via yakin Indonesia memiliki banyak penulis bagus yang mampu menghasilkan karya yang tak kalah bermutu.
Pada saat yang sama, Rachmania, adik Aziz, kesulitan memasarkan novel pertamanya, Eiffel I’m in Love. “Waktu itu Nia masih menerbitkan sendiri bukunya, cuma berbentuk fotokopi pula,” ujar Via. Belakangan ia mengerti, penerbit besar belum memercayai penulis muda Indonesia. Ia menduga, masih banyak Nia lain di luar sana, yang mampu menghasilkan novel bermutu, tapi kesulitan menembus penerbit besar.

Melihat prospek bisnis yang menjanjikan, ia dan suaminya sepakat merintis usaha penerbitan buku. Karena pernah bekerja di penerbitan buku, Aziz sudah memiliki modal pengetahuan seluk-beluk bisnis tentang dunia itu. Karya adik ipar jadi embrio Terrant Books. Gaya penuturan Rachmania yang witty dan ceritanya yang sangat remaja, membuat Via pede menggelontorkan dana Rp15 juta untuk mencetak 3.000 eksemplar dan promosi.
Kenekatannya tak sia-sia. Dalam hitungan 3 minggu, Eiffel I’m in Love cetak ulang berkali-kali dan sekarang telah laku sebanyak 50.000 copy. Popularitas itu meningkat setelah novel ini diangkat ke layar lebar. “Setelah itu,  banyak penulis remaja yang mengirimkan naskahnya ke Terrant,” ujarnya, senang.

Kini, bisnis penerbitan novel milik Via telah beromzet Rp25 juta per bulan. Angka didapat dari hasil penjualan buku yang sudah dikurangi biaya produksi, distribusi, promosi, dan royalti penulis sebesar 10%-15%. Meski kini bisnis penerbitan sedang turun dan buku memiliki pesaing tangguh, seperti e-book dan media online, Terrant tetap bertahan. “Berdasarkan hasil riset saya, remaja tetap memilih buku konvensional dibandingkan e-book, karena lebih mudah dibawa dan dibaca di mana saja,” jelasnya.

Namun, Via tak bisa memungkiri, masih ada buku-bukunya yang retur. “Setelah 3 bulan, sisa buku yang tak laku diretur. Biasanya sekitar 100 – 200. Kami menyiasatinya dengan membuat promo paket, misalnya 3 buku dijual Rp50.000,” ia menjelaskan strateginya. Cara itu mampu menutup ongkos produksi, yang cetakan pertamanya sekitar 1.500-3.000 copy per judul.

Sukses Eiffel I’m in Love memacu semangat pasangan suami-istri ini. Mereka terus mencari karya menarik yang bisa mengekor sukses Nia. “Sejak itu memang banyak naskah masuk. Sayangnya, mereka terlalu terinspirasi Eiffel I’m in Love. Karakter remaja dalam mayoritas naskah persis sama dengan Tita dan Adit (tokoh dalam Eiffel I’m in Love),” ungkapnya, kecewa.

Akhirnya ia melakukan aksi jemput bola dengan mengajak penulis-penulis ternama menulis novel untuk Terrant Books. Salah satunya, Monty Tiwa dengan Dunia Mereka. Strategi dan pemilihan penulis ini cukup tepat. Dunia Mereka mendapat apresiasi pembaca, hingga dibuat filmnya juga.

Tak hanya novel terbitannya yang diangkat ke layar lebar, Via juga mencoba menurunkan film ke atas kertas. Setelah menonton film 30 Hari Mencari Cinta karya Upi, Via ingin sekali membaca versi bukunya. Ia lalu meminta Upi menulis untuknya. “Tapi, saya tidak mau ceritanya sama seperti di film. Saya ingin tahu awal persahabatan Keke, Gwen, dan Olin, serta kelanjutan kisah mereka,” tegasnya, agar versi novelnya memiliki daya tarik dan nilai jual tersendiri.

Selain bekerja sama dengan penulis ternama, Via juga rajin mencari penulis baru di dunia maya. Menurut pengalamannya, banyak penulis berbakat siap diasah yang bersembunyi di sana. “Kan banyak remaja yang punya blog. Ternyata, selain curhat, mereka suka menulis cerita di blog,” kisahnya. Bahkan, Via sering terinspirasi oleh curhat blogger remaja di blog-nya. “Saya jadi tahu dunia remaja, problemnya, dan tren di kalangan mereka,” katanya.

Dengan cara itu juga Via berkenalan dengan Cassandra Niki, mahasiswi asal Yogyakarta yang rajin nge-blog dengan nama Casseybunn. “Cassandra sudah terkenal di antara blogger remaja. Waktu itu dia menulis cerita serial di blog-nya. Saat saya ajak dia untuk menulis buku, dia antusias sekali. Awalnya, dia tidak pede, tapi saya terus menyemangati karena saya tahu dia mampu,” ujarnya. Berkat bimbingan dan arahan dari Via, tahun 2010 lalu terbitlah buku perdana Cassandra, Letters, Stories and Dreams.

Meski menggunakan strategi jemput bola, Terrant Books terbuka menerima naskah novel. Ada tim naskah yang khusus menyeleksi naskah kiriman penulis. Setelah melewati seleksi mereka, barulah Via menyeleksi lagi. Salah satu triknya menyeleksi adalah hanya membaca beberapa halaman pertama. “Kalau setelah 5 halaman saya masih tertarik membaca, berarti naskah tersebut bagus,” ujarnya.

Via senang, buku terbitan perdananya menjadi trendsetter genre novel teenlit. “Setelah Eiffel I’m in Love, penerbit lain mulai berani menerbitkan novel remaja asli Indonesia,” kisahnya. Melihat tingkat persaingan yang mulai tinggi, Via mulai putar otak menciptakan diferensiasi.

Setelah menyelami lebih jauh tren di kalangan remaja, ia melihat popularitas manga (komik Jepang). Bahkan, manga mulai membangkitkan minat menggambar komik di kalangan remaja. Ide menerbitkan komik pun muncul. “Sepertinya menarik, ya, kalau ada komik karya komikus Indonesia dengan cerita dan karakter tokoh yang sangat Indonesia,” ujarnya, berkhayal.

Ia lalu menggandeng komikus Indonesia, seperti Beng Rahadian, Bayu Indie, dan Oyas-Iput-Ipot. Tahun 2005, Terrant Comic menerbitkan 3 komik, yaitu Selamat Pagi Urbaz (Beng Rahadian), Split (Bayu Indie), dan 1001 Jagoan: Factory Outlet Boys (Oyas-Iput-Ipot). Tapi, intuisi inovasi Via kali ini meleset. Animo pasar terhadap komik bergaya Indonesia masih sangat rendah. “Setelah 4 bulan ada di toko buku, komik-komik itu tidak laku dan hampir semuanya kembali,” tutur Via, yang merugi sekitar Rp30 juta.

Kegagalan itu menjadi pelajaran berharga baginya. Memang, novel terbitannya tak selalu menjadi bestseller. Tapi, baru kali itu bukunya kembali sebanyak itu. “Kesalahan saya adalah tidak melakukan analisis dan tes pasar dengan lebih teliti. Indonesia memiliki banyak komikus berbakat, namun kita belum punya pembaca yang mau menerima komik Indonesia. Penggemar komik kita masih manga-minded,” kata Via.

“Dalam bisnis penerbitan buku, selain karya yang bagus, distribusi dan promosi memegang peranan penting,” cetus Via. Yang sempat membuatnya cemas adalah perlakuan ‘anak tiri’ terhadap buku karya penulis dan penerbit baru. “Wah, buku saya pasti ditaruh di rak yang tak strategis. Kalau begitu caranya, bagaimana pengunjung toko buku bisa ngeh dengan Eiffel I’m in Love,” Via menceritakan kekhawatirannya saat itu.
Alumnus D-3 Hubungan Masyarakat, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, ini memanfaatkan strategi promosi dan media relations yang diperolehnya semasa kuliah. “Pokoknya, saya keukeuh ingin membuat acara launching buku Rachmania. Manajemen toko buku sempat menertawakan saya. Kata mereka, ‘Launching penulis besar seperti Dewi Lestari aja sepi, Mbak,’” kata Via, menirukan.

Untunglah, Via tetap melakukan launching dan mengundang banyak media massa. Sejak itu, nama Terrant dikenal publik sebagai penerbit khusus novel remaja. “Hubungan kami dengan media massa juga baik, karena Terrant rajin mengadakan kerja sama dengan mereka,” ujarnya, senang. Via menyadari, media massa punya peran besar dalam menyebarkan informasi dan memengaruhi pembaca. Publikasi media menjadi cara promosi jitu. Karena itu, Terrant Books selalu memprioritaskan peluncuran novel terbitannya. “Penulis tak perlu pusing, Terrant yang mengadakan dan membiayai,” katanya.

Terrant terus merancang program promosi bekerja sama dengan media, seperti lomba penulisan cerpen, serta acara diskusi film dan buku. “Terrant ingin membangkitkan semangat menulis anak muda, karena penulis sudah menjadi profesi yang menjanjikan,” jelasnya.

Itu sebabnya, Terrant Books punya program pelatihan penulisan bagi siswa SMP, SMA, dan mahasiswa. “Pelatihannya gratis. Terrant bekerja sama dengan banyak sekolah dan pelatihan itu diadakan di sekolah mereka,” ujar Via, yang juga menjual buku-buku terbitannya di koperasi sekolah. Program itu juga merupakan strategi Terrant Books dalam membina hubungan dengan pembacanya (Terrant menyebut pembacanya besties).

Hubungan baik dengan penulis juga menjadi prioritas. Karena itu, Via tidak menentukan pakem baku dalam gaya penulisan dan penggunaan bahasa. “Karena target pembacanya remaja, gaya bahasanya juga harus seperti bahasa sehari-hari remaja. Penulis kami juga bebas menulis sesuai gaya masing-masing,” ungkap Via, yang juga siap jadi teman curhat penulisnya kapan saja.

Menjadi sahabat dan mentor yang baik, kira-kira begitulah peran yang Via jalani. Bahkan, ketika ada produser film yang berminat membuat film berdasarkan novel terbitannya, Via siap mendampingi penulisnya. “Mayoritas penulis Terrant masih muda dan belum paham urusan kontrak. Tim legal Terrant siap jadi konsultan hukum mereka,” katanya, tersenyum.

Seperti nama Terrant yang dalam bahasa Prancis berarti underground movement, Terrant ingin memiliki hubungan bebas birokrasi dengan penulis dan pembacanya. “Gaya Terrant adalah indie publisher yang tidak banyak aturan. Tapi, untuk urusan kualitas isi novel, kami sangat serius,” tegasnya.

Karena itu, Via hanya menerbitkan 1 novel setiap bulan. “Kami ingin bisa memberikan yang terbaik bagi penulis kami,” ujarnya, bangga. Mimpi Via berikutnya? “Tahun 2012, saya ingin membuat toko buku sendiri agar Terrant dan penulis bisa lebih dekat dengan besties,” tuturnya, penuh harap.

(EKA JANUWATI
FOTO: M. HASRIEL)

sumber: http://wanitawirausaha.femina.co.id/WebForm/contentDetail.aspx?MC=001&SMC=006&AR=58

Chairul Tanjung: Bos CT Corp Yang Membangun Bisnisnya dari Nol

Alhamdulillah. Saya mencari uang dengan tidak merusak, tetapi dengan membangun….”

Begitulah gaya Chairul Tanjung. Putra wartawan, pemilik usaha Grup Para yang kini bermetamorfosa menjadi CT Corporation, itu bertutur kepada saya di kantornya yang megah, Menara Bank Mega, di suatu sore hingga menjelang maghrib tiba. Bank Mega adalah salah satu imperium bisnisnya yang tumbuh pesat, selain Trans TV dan Trans 7 serta sejumlah bisnis yang lain.

 

Sehari setelah itu, CT, begitu ia biasa disapa, menggelar konferensi pers dengan nuansa merah putih, mengumumkan pengambilalihan Carrefour, salah satu raksasa ritel asal Prancis. Ia mengambilalih 40% saham, yang berarti menjadi single majority di perusahaan itu. Pengambilalihan Carrefour dengan proses negosiasi yang hanya tiga bulan–dan dilakukan setelah ia mendirikan Trans Studio, pusat hiburan keluarga di Makassar–menambah perbendaharaan bisnisnya, yang mengukuhkan CT Corp sebagai pemain yang disegani di Indonesia.

 

Ia pun bercita-cita melebarkan sayap ke Singapura dan Malaysia. Karena itu, pengambilalihan tersebut diyakini bermakna strategis. “Akan survive bangsa kita, kalau kita kuasai jaringan distribusi di Asia. Karena pasar kita dari 200 juta langsung jadi 600 juta, tak ada hambatan tarrif, gak ada macam-macam. Kalau jaringan distribusi kita yang punya, semua yang bagus dari Indonesia kan bisa kita jual,” tuturnya.

 

Semua orang terhenyak dengan langkah CT itu. Pasalnya, Carrefour tengah menghadapi banyak masalah kala itu. Tetapi ia tak gentar, dan akan menyelesaikan masalah-masalah itu dengan caranya, termasuk mengembangkan social responsibility, dan pendekatan baru dalam bisnis perusahaan itu. Ia akan “mengubah” Carrefour.

 

Karuan aksi korporasi itu mengukuhkan kiprahnya sebagai usahawan yang berpengaruh di Indonesia. Ia dikenal memiliki jaringan luas baik dengan komunitas pengusaha, birokrat, maupun politik.

 

Belakangan, Chairul ditugasi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Ketua Komite Ekonomi Nasional. Ia memimpin sejumlah pengusaha lainnya serta sejumlah ekonom yang tergabung dalam think-tank Presiden SBY itu. Ia membawa visi 2030, di mana diyakini Indonesia akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

 

“Bangsa ini harus bangkit, [termasuk] dunia usahanya. Jangan sampai bangsa ini dibeli terus, menjual [asset] terus, lama-lama habis [asset] kita,” ujarnya.

 

Karena keyakinan itu, Chairul terus melaju. Kerja keras dan visi yang kuat menjadikan Para Grup, kini CT Corp, salah satu perusahaan yang disegani. Di bisnis media, Trans TV dan Trans 7 menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia saat ini. Tak berhenti sampai di situ, ia masih berniat masuk ke bisnis media online dan suratkabar, selain menambah stasiun TV lagi, “jika tiba saatnya.”

 

Maka, mengalirlah cerita Chairul, soal jatuh-bangun bisnisnya, klarifikasi keterlibatan Grup Salim, hingga strategi dan filosofi bisnis dan kehidupannya. Berikut sebagian kutipan cerita pengusaha, yang sebenarnya berlatar belakang dokter gigi itu:

 

Kok mau masuk bisnis ritel, padahal margin ritel kabarnya sangat kecil, terlalu banyak main diskon?

 

Di ritel, net profit kira-kira 2%-3%. Memang kecil. Tapi jangan dilihat cuma jualan sembilan bahan pokok. Saya kan punya bisnis yang lain. Melihatnya justru dari situ. Kartu kreditnya nanti Bank Mega. Di setiap Carrefour nanti ada cabang Bank Mega, Baskin Robbins, Coffe Beans, trafel, semua bisnis clients ada di situ. Jadi kita integrasikan. Carrefour ini kan powerhouse. Orang punya tanah di ujung dunia sana, taruh saja Carrefor di tengah. Itu gak lama jadi perumahan, coba bayangin sekarang.

 

Jadi bukan cuma membeli Carrefour?

 

Bukan, ini beyond. Kita membeli jaringan bisnis dan jaringan distribusi. Begini, saya selalu menyandingkan bisnis dengan idealisme. Semua orang bilang ke saya, “gak bisa idealisme sama bisnis jadi satu”. Saya bilang, “no way”. Kenapa? Kalau you bisnis dengan idealisme, maka akan sustain. Kalau you cuma bisnis doang tanpa idealisme, dia nggak akan sustain. Ini bener, demi Allah, saya ambil Carrefour niatnya baik, yang pasti untuk bangsa ini. I will do everythings untuk make sure bahwa [Carrefour] ini bisa jadi alat saya untuk membuat bangsa ini lebih baik.

 

Model kepemilikan dan pendanaannya?

 

Ini PMA, tetapi perusahaan Indonesia. Ini the first in the world yang dilakukan Carrefour. Makanya, ini jadi titik balik dunia bisnis Indonesia. [Untuk membiayai pembelian itu] Kita dapat pinjaman US$350 juta dari Credit Suisse, Citibank, ING dan JP Morgan. Prosesnya kira-kira hanya satu bulan. Saya transparan, ini bukan transaksi hanky panky .

 

Ketika beli Carrefour, apakah usaha ritel ada dalam grand strategy bisnis dari awal?

 

Nggak ada. Jadi saya percaya bisnis saya ini melalui mekanisme Tuhan. Saya mulai dari nol, dari bisnis informal untuk biaya sekolah saya sendiri, mulai dari CV, PT, semua pernah saya kerjain. Tak ada yang by design. Semua itu mulai dari visi yang selalu berubah, berubah lagi, dan berubah lagi. Baru beberapa tahun terakhir ini mulai terlihat, ternyata kita bisa konsentrasi hanya pada bidang-bidang ini saja. Di mana kolaborasinya akan luar biasa dan satu sama lain akan bersinergi luar biasa juga.

 

Jadi proses itu by nature, bukan by design, ini [mekanisme] Tuhan saja. Tuhan punya skenario tertentu buat saya. Jadi filosofisnya, ketika saya ibadah di depan Ka’bah, saya nyatakan, saya declare, bahwa saya siap menjadi prajurit Anda [Tuhan]“.Whatever you have to decide with me, whatever you instruct to me, saya akan laksanakan dengan keikhlasan saya”..

 

Di media, bagaimana ceritanya membangun bisnis dari Trans TV lalu mengembangkan Trans 7?

 

Semua rejeki itu dari Tuhan. Nggak usah ngotot, bahwa at all cost harus dapet, harus dapet. Saya nggak pernah begitu.

 

Bagaimana dengan pemberitaan?

 

Alhamdulillah. Saya mencari uang dengan tidak merusak, tetapi dengan membangun. Saya bilang begini ke teman-teman jurnalis, kalau kita tidak membuat bangsa ini menjadi lebih baik, kita ini berdosa.

 

Satu kali, di Palembang sama Hatta [Menko Perekonomian Hatta Radjasa], kita satu hotel, seberang-seberangan kamar. Ketika keluar hotel mau turun seminar malam [acara PWI], dia bilang, Rul, kebayang nggak ada investor datang ke Indonesia, datang sore, check-in, keluar sebentar makan, lalu kembali ke kamar lagi, sebelum tidur setel TV. Lalu lihat orang dibacok, kantor polisi dibakar, parlemen berantem. Saya yakin tuh, rapat investment besok pagi nggak jadi. Dia langsung pulang lagi, pakai pesawat pertama.

 

Kalau diminta pilih, idealisme atau bisnis?

 

Kalau ngomong idealisme, perut kosong, apa nggak jual idealisme untuk isi perut? Dan [untuk itu] saya nggak bisa sendirian. Membangun bangsa ini nggak bisa sendirian. Kita mesti bersama-sama, saling mendukung, tidak saling menjatuhkan.

 

Apakah visi CT Corp akan di bawa ke sana nanti?

 

Pasti. Kita kan punya CT Corp, sekarang sedang proses untuk pencitraan baru. Kan Para Group ini sudah terlalu kuno. Kita punya tiga holding company, Mega Corp untuk finansial, Trans Corp untuk media, lifestyle, retail dan entertainment, serta CT Natural Resources untuk agro dan lain-lain. Tiga itu saja. Kita nggak akan berkembang ke yang lain-lain.

 

Di natural resources termasuk pertambangan?

 

Nggak. Kita tidak akan masuk mining. Kita bukan mendahului Tuhan, tapi berupaya untuk tidak masuk ke sektor mining. Bukan apa-apa, sorry to say, saya berusaha untuk tidak merusak alam. Semua masuk mining karena benefit luar biasa. Saya bilang ke teman-teman, kita ini kurang apa sih. Udahlah, jangan serakah. Nanti 20-30 tahun lagi ada kejahatan baru, kejahatan lingkungan, yang sekarang kita lakukan tidak salah, nanti bisa jadi salah.

 

Jadi suburkanlah lahan, tanam tanaman. Lama memang. Tahu nggak, kelapa sawit itu butuh 10 tahun untuk sampai menghasilkan. Di TV, saya dua tahun sudah selesai urusan.

 

Wah, itu real? Di TV dua tahun sudah impas?

 

Betul. Dua tahun. Ini surprise.

 

Gimana bisa begitu?

 

Saya ini orang operation, selalu di dalam. Pernah lihat saya datang di acara-acara yang tidak penting? Kerja saya rapat internal. Saya ini orang kerja!

 

Bagaimana peran karyawan?

 

Saya pakai sistem insentif bonus. Ini kan bukan bisnis semua orang sama rata sama rasa. Kita punya sistem sharing. Kalau karyawan dapat target lebih, 50% dari kelebihan target itu milik karyawan.

 

Butuh keberanian terapkan model bisnis itu?

 

Bukan [hanya] keberanian, butuh jiwa besar.

 

Jadi Anda ciptakan best practices di industri TV?

 

Buat saya media sekarang ini is my business. It is my champion. Saya bayar gaji tak lebih buruk dari stasiun TV yang lain. Tapi mereka (karyawan) kerja di sini memang orang gila kerja, luar biasa. Mereka very happy karena dapat penghargaan dari kerja keras mereka. Jadi kalau ada orang ngomong underpaid itu omong kosong. Nggak ada perusahaan media yang bayar bonus [bagus] seperti Trans TV dan Trans 7.

 

Dalam bisnis, siapa yang paling mempengaruhi Anda?

 

Pemikiran. Saya banyak belajar dari sahabat dan orang-orang yang berhasil. Selalu, mentor saya, guru saya, orang-orang yang bertahap begitu. Kalau ketemu orang besar, pasti saya bertanya banyak. Ketemu kepala negara lain, pasti bertanya banyak. Ketemu CEO biggest multinational company, pasti ngobrol banyak. Saya ketemu CEO ING, dia bilang begini, ING adalah the biggest property manager in the world. Kenapa? Karena punya insurance. Asuransi itu kan uangnya harus diinvestasikan. Makanya, saya bilang, mau belajar how they manage.

 

Saat krisis global [2008], saya ke Amerika tiga kali. Saya temuin CEO-CEO, semua the top guys di Amerika termasuk [Robert] Rubin. Maka di situ baru tahu bubble seperti apa, apa kesalahannya. Saya belajar risk management ke depan. Saya tak boleh mengulang kesalahan yang sama.

 

Di bisnis TV, belajar dari mana?

 

Saya selalu memakai akal sehat, common sense. Kesuksesan media kita karena keluar dari pakem yang ada. Kalau saya ngikutin pakem yang ada, habis.

 

Ini rumusannya: jangan business as usual. Biasanya, orang bisnis ABC, orang lain ikutin bisnis ABC. Kalau Anda lakukan itu, maka rumusannya cuma dua: how low can you go dan how long you can pay. Jadi kalau bersaing sama, maka harganya makin murah, makin murah dan lama-lama bangkrut. How long you can pay? Apa you mau begitu? Yang baik adalah bikin sesuatu, yang orang lain, bukan cuma bikin, tapi berfikir saja tidak.

 

Bukannya TV adalah bleeding business?

 

Itu challenge saya. Waktu saya mau bikin Trans TV, semua teman dekat datang. Satu teman yang cukup disegani namanya TP Rachmat, he is my good friend. Chairul, jangan deh masuk ke bisnis itu. “Lha kenapa, Pak Teddy?”, kata saya. “Ya sayang, Pak Chairul kan punya masa depan, jangan deh, jangan masuk bisnis itu, nanti banknya bisa hilang karena TV-nya”.

 

Ini nasehat seorang kawan baik, sangat appreciate. Pak Teddy  waktu itu kan dirutnya Astra [PT Astra International], ngasih tahu karena sayang, mestinya saya ikutin. Tapi saya yakinkan, “Pak Teddy, ini sudah jalan. Ini sudah point of no return, sudah gak bisa mundur”. Malah digituin, saya makin ter-challenge.

 

Kuncinya apa?

 

Rumusan itu tadi, bahwa business is not usual.

 

Tetapi ada kalanya tak mudah convince strategi baru. Ada saran utk pebisnis baru?

 

Bisnis itu adalah proses. Perusahaan hanya bisa maju kalau dia punya the great vision. Saya yakin semua perusahaan akan bilang I have the great vision. Yang kedua, the great leader, mungkin banyak orang bilang I have the great leader. Ketiga, harus punya governance, orang juga akan bilang, I have the good governance. Yang keempat, harus punya strategi yang bagus. Tapi ini semua hanya bisa jadi kalau punya kemampuan implementasi, execution. Nah, implementasi ini butuh keuletan, kesabaran, passion.

***

 

Belajar dari Anthony Salim

 

Chairul Tanjung membantah dengan keras bahwa Grup Salim ada di belakang bisnisnya. “Saya mulai dari nol,” katanya seraya menambahkan, “30 Tahun I do it dan saya sabar untuk selalu bisa bekerja, bekerja dan bekerja. Saya tidak pernah menipu orang, menyakiti orang. Hampir semua bisnis, alhamdulillah, saya lakukan secara profesional.

 

Disebut-sebut Anthony Salim ada di belakang bisnis Anda?

 

Sekalian saya mau klarifikasi, banyak orang menyangka, saya berpartner sama Anthony. Sama sekali nggak. I tell you the truth. Para Group itu 100% is my own, start from zero. Bahwa ada partnership di unit [dengan Anthony Salim], iya. Tetapi di Para Group itu nggak ada [kepemilikan Salim].

 

Bank Mega disebut-sebut sebagai metamorfosanya BCA?

 

Di Bank Mega, mereka itu miliki saham dari publik. Yang namanya Para Corp, itu seperak pun mereka nggak ada [uang Anthony]. Di Bank Mega, Anthony memang punya saham, tetapi itu saham publik. Di saham yang dikontrol oleh Mega Corp, induk usaha saya, satu saham pun atau satu rupiah pun nggak ada yang namanya Salim di situ.

 

Tetapi publicly known, Anda diasumsikan yang “menyelamatkan” Salim. Jadi orang berasumsi bisnis Para Group besar karena itu?

 

Saya orangnya sincere saja, orang minta tolong saya bantu. Itu dasar filosofinya. Tetapi tidak ada keuntungan satu perak pun saya nolong dia. Serius. Bahwa saya banyak belajar dari dia, bagaimana dia membangun bisnis, bagaimana berkembang, iya. Saya banyak belajar [dari Anthony], itu saja yang saya dapet. Saya partner sama dia [Anthony] di Bank Mega, tapi bukan partner melainkan pemegang saham publik signifikan. Tapi saya mengendalikan sixty percent. Dia nggak ada urusan terlibat dalam direksi atau apapun.

Yang kedua, saya terlibat sama dia di satu perusahaan kesehatan di Singapura, namanya Asia Medic. Nah, itu bener-bener fifty-fifty. Itu saja yang riil. (Arief Budisusilo )

sumber: http://www.bisnis.com/articles/chairul-tanjung-business-is-not-usual

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,428 other followers