Category Archives: Perniagaan
Sanin, Mantan Tukang Becak yang kini Jadi Juragan Garam dengan 50 Karyawan
Sanin, Berkah Garam Seorang Tukang Becak
Sepuluh tahun bertekun mengayuh becak
tak membuat Sanin menyerah begitu saja
terhadap nasib. Keringat yang mengucur
akhirnya mengkrista1 bagai garam.
Asinnya garam membuat kehidupan Sanin
tak lagi hambar.
DARI seorang tukang becak, Sanin meniti
usaha sebagai pembuat garam dapur dan pupuk
yang kini beroleh sukses. CV Sanutra Utama
yang didirikannya tahun 1985 dengan
modal awal Rp 1 juta dan dikerjakan sendiri,
kini telah memiliki 50 pekerja dan 0mzet
Rp 200 juta per bulan. Pemikirannya sederhana
saja: di Cirebon sangat banyak dan mudah
mencari bahan garam. Lalu, di usia 35 tahun,
Sanin pun mendirikan pabrik garam.
Memang bukan perjalanan yang mudah. Kesulitan
Modal pun masih dirasakannya hingga sekarang.
Namun, kalau sejak dulu ia mudah berputus
asa, mungkin bukan seperti ini hidup yang sekarang
digenggamnya.
PRODUKSI GARAM YANG BERBUAH MANIS
Selama 5 tahun mengayuh becak di Cirebon, Sanin
mengamati Cirebon sebagai sentral garam. Melihat ada
peluang untuk memperbaiki kualitas hidupnya, ia pun
berganti haluan. Becak ditinggalkan dan beralih menjadi
karyawan perusahaan garam sebagai pencetak garam dapur.
“Kerja dulu nyetak garam, berguru selama 5 bulan. Setelah
bisa, bikin sendiri di rumah. Dulu sama istri nyetak sendiri,
manggang sendiri, dipasarkan sendiri, kita kan pakai
sepeda dulu,” tutur Sanin. Usaha yang dirintisnya
ini terus bergulir. Sanin pun tak lagi hanya mengandalkan
istrinya. Ia mulai mengambil tetangga sekitarnya untuk
bekerja di pabrik garamnya. “Mereka datang sendiri
karena butuh pekerjaan,” kenang Sanin.
Mungkin para penduduk di sekitarnya mulai
merasakan pertumbuhan usaha garam Sanin.
Jadi, Sanin pun tak perlu pilih-pilih. “Rata-rata
saya sudah kenal dengan mereka. Jadi ketika
mereka minta pekerjaan, ya saya berikan,”
ujarnya lugas. Kini, ada 8 orang yang bekerja
di ladang garam, 30-an orang di pabrik, 6 orang
bagian distribusi, dan 4 orang sales.
Sanin sendirilah yang melatih semua pekerjanya
mengenai segala hal pengolahan garam. Ia fasih
mengenai pekerjaan di ladang garam, mengumpulkan
butir garam hingga menggenjot cetakan, juga
memasukkan dalam kemasan yang siap dijual.
“Kalau ada pelatihan mengenai pengolahan garam,
saya dan anak saya yang datang, sampai pernah ikut
pelatihan di Madura,” ujarnya. Lalu, mereka berdualah
yang mengajarkan semua karyawan. Sanin yang berhasil
menyekolahkan anak anaknya hingga lulus dari perguruan
tinggi negeri ternama di Yogyakarta kemudian melibatkan
anak-anaknya dalam usaha garam ini. Bagi Sanin, anggota
keluarganya adalah orang-orang yang paling mengetahui
dan memahami kondisi perusahaan. Merekalah orang-orang
yang paling tepat untuk membesarkan usaha yang
dirintisnya tersebut. “Selain itu, saya lebih tahu
kebiasaan anggota keluarga saya daripada
karyawan lain di luar keluarga,” ujarnya.
Jadi, tiga dari empat anaknya yang notabene
perempuan semua, kini berkecimpung mengurus garam.
Tak terkecuali, para suami mereka.
Bahkan salah satu menantunya kini dipercaya
mengepalai gudang, mengawasi produksi,
juga mengurus rekrutmen di pabrik. “Ada juga
yang mengurus pengadaan barang,” ujarnya,
“Jadi saya tinggal kontrol dan tanda tangan
untuk menjual BG.” Mungkin, firasat Sanin
tidak keliru. Hingga saat ini semua anggota
keluarga yang terlibat tetap rukun dan memiliki
hubungan yang baik.
Dalam benak Sanin, memang ada keinginan
untuk mempekerjakan orang-orang yang profesional
dalam bidangnya. Namun, melihat kondisi keuangan
dan pabrik saat ini, niat tersebut belum bisa
terwujud. “Ya, nantilah. Kalau sudah punya modal
besar dan pabriknya juga sudah besar. Saat ini kami
belum mampu mempekerjakan karyawan profesional,” ujarnya.
MENYIASATI KEUANGAN
Minimnya mengecap bangku sekolah sempat
membuat Sanin mengalami kesulitan saat berurusan
dengan pihak bank. Saat membuat bilyet biro (BG)
di sebuah bank swasta ternama,
Sanin kagok saat membubuhkan tanda tangan.
Semakin sering mencoba agar tanda tangannya
sama persis, semakin berbeda hasilnya.
Walhasil, Sanin pun ditolak menjadi debitur
bank tersebut, meski memiliki usaha dan mobil
sendiri serta perusahaan atas nama pribadi.
Sulitnya Sanin mencari suntikan modal mendapat
jalan keluar saat mulai bisa berutang ke
bank tahun 1997. Namun baru pada tahun 2003,
Sanin mendapat pinjaman sesuai jumlah yang
diinginkannya, yaitu Rp 100 juta dari bank bjb,
dengan jaminan perusahaannya sendiri. Sanin
butuh permodalan banyak, sebab minimal
dalam sehari harus memiliki 6 ton bahan baku
garam. Dalam sebulan ia membutuhkan kurang
lebih 200 ton garam, sehingga dalam setahun
minimal ia harus menyediakan 2.000 ton garam.
Apalagi, untuk membeli bahan baku tersebut ia
harus membayar kontan.
Lantaran ingin memiliki uang banyak untuk
membeli 2.000 ton garam sekaligus setiap
tahunnya, Sanin pun rutin meminjam ke bank
dengan jamjnan rumah dan kendaraan. Namun,
agar tertib dan disiplin dalam membayar utang,
Sanin selalu mengambil tempo pinjaman 1 tahun.
Tidak pernah lebih dari itu. “Minimal per bulan
bayar ke bank Rp 45 jutaan, lah. Alhamdulillah
belum pernah ada masalah. Lancar terus. Bulan
tujuh sudah ketutup lagi. Garam murah kami
beli lagi, pinjam lagi, setahun ketutup lagi,”
urai Sanin. Ia pun mengakui bahwa salah satu
yang membuatnya sukses dalam urusan kredit
ini adalah memilih bank yang bunganya paling
rendah.
Dengan menggunakan perputaran uang
pinjaman setahun sekali, Sanin lebih mudah
mengontrol dan mengetahui untung atau rugi
usahanya. Setiap menjelang bulan Juli, saat
hendak penutupan pinjaman bank, Sanin
menghitung hitung dana. Setelah utang
tertutupi, jika ada lebih, digunakan untuk
menambah aset seperti ladang garam, tanah
untuk perluasan pabrik garam, rumah, maupun
kendaraan.
Usahanya terus berkembang hingga perlahan
tapi pasti Sanin memiliki pabrik
pengolahan garam di Rawa Urip, 6 buah rumah,
serta 9 kendaraan yang terdiri dari truk dan
mobil pribadi. Selain itu, impian Sanin ke Tanah
Suci pun tercapai pada tahun 2000 dan 2010.
Setiap keuntungan yang diraih, dibelikannya
aset secara bertahap. Dengan membeli aset,
Sanin mengaku dapat mengetahui apakah
bisnisnya mendapatkan untung atau justru rugi
di tahun yang sedang berjalan. “Soalnya bisa
kelihatan wujudnya,” ujarnya lugu.
Karena setiap keuntungan dibelikan aset,
Sanin harus selalu kembali mengajukan
pinjaman ke bank untuk membeli bahan baku.
Dana yang dipinjam bisa cukup besar bila ia
merasa barga bahan baku garam sedang turun
dan dia perlu membeli banyak. “Kalau
musim kemarau, garam lokal bisa dibeli dengan
harga Rp300,” ujarnya. Setelah itu
disimpannya bahan baku tersebut dan dijual
secara bertahap. Harga jualnya bisa
mencapai Rp600, yang berarti dua kali lipat
dari harga beli. “Bahkan, kadang bisa saya
jual Rp1.000,” urainya, “Kalau saya jual
ke pelosok dengan harga Rp500, untungnya
sudah hampir 75 persen.” Dari keuntungan
itulah Sanin menutup utang dan membeli aset.
Meskipun berkali-kali meminjam, hingga
saat ini Sanin amat menjaga kepercayaan
agar tidak terjadi masalah ke bank, “Tutup
utang, lalu tahun berikutnya utang lagi!” Sanin
tampaknya tidak sekadar bicara. Pabrik yang
dibeli secara bertahap, sedikit demi sedikit
setiap ada keuntungan, juga ladang garam yang
kini mencapai luas 6 hektar adalah saksi bisu
perjalanannya mengolah garam selama hampir
30 tahun.
Sanin melihat kelemahan pengusaha yang
bangkrut dikarenakan manajemen keuangan
yang kurang terkontrol. Keuntungan yang
diperoleh tidak disimpan atau diputar kembali
untuk membeli bahan baku atau melunasi utang,
melainkan dibelikan hal-hal yang diinginkan.
Beda halnya dengan Sanin yang disiplin
memprioritaskan pelunasan utang bank. “Yang
penting adalah mencatat pemasukan dan
pengeluaran dengan benar,” demikian tipsnya.
Apalagi, bahan-bahan yang dibelinya harus
dibayar secara kontan. Pada saat diwawancara,
Sanin tengah menunggu dua trailer yang
membawa 105 ton bahan mentah garam dari Surabaya.
“Seratus lima ton itu harus dibayar Rp 105
juta kontan,” paparnya, “Jadi, kadang-kadang
saya jual BG.”
Meski berusaha disiplin dalam hal keuangan,
bukan berarti Sanin tidak pernah menghadapi
masalah keuangan. Ini terjadi pada tahun 2003
saat menantu sulungnya mencalonkan diri dalam
pemilihan kepala desa (Pilkades). Modal untuk
membeli garam yang saat itu harganya masih
murah digunakan untuk biaya pencalonan. Saat
hendak membeli garam pada tahun 2006, harganya
ternyata sudah melonjak tinggi. Apesnya
lagi, sang menantu tak memenangkan Pilkades.
Sanin pun berutang hingga Rp 6oo juta. Namun,
Sanin merasa lega dan bersyukur karena pada
tahun 2008, seluruh utang tersebut telah lunas.
“Alhamdulillah, pulih lagi. Malah akhirnya sampai
lebih. Sampai susah ngitung lebihnya,” ucap Sanin.
Pelajaran mahal yang dipetik Sanin adalah
tidak mau sembrono memperlakukan BG. Setiap
ada BG segera ditukar agar terus berputar dan
bergulir. Sanin menjaga namanya dengan baik
agar jangan sampai cacat dalam catatan bank.
“Kalau sekali nama kita tercemar, semua bank
akan tahu,” ujarnya, “Nanti kita juga yang jadi
tidak laku. Padahal kita harus bayar plastik ke
Semarang, garam ke Surabaya, banyak sekali!
Jadi, saya pesan benar-benar ke anak-anak,
supaya mereka jangan sampai menunggak.”
Dengan cara tersebut ia berharap kapan pun
membutuhkan pinjaman uang dari bank, ia tidak
akan mengalami kesulitan. Sanin yang pernah
dengan mulus meningkatkan pinjaman ke bank
bjb menjadi Rp 150 juta pun berencana menaikkan
jumlah utang menjadi Rp 200 juta. Faktor
kepercayaan dan tidak pernah menunggak
pembayaran dipegang teguh oleh Sanin.
Karena sudah mendapat kepercayaan, Sanin
mengaku tidak lagi sering dikejar-kejar
untuk masalah pembayaran. “Waktu tahun
pertama, telat sehari sudah ditelepon terus,”
kenangnya, “Padahal, saya mah orang usaha.
Kena bunga berapa pun pasti saya bayar. Yang
penting menutup utang di bulan itu.” Sanin
merasa beruntung karena bank bjb memahami
usahanya. “Lebih longgar dan tidak cepat
memberi peringatan,” katanya bersyukur.
PEMASARAN DAN PERLUASAN
Karena menjalankan pabrik berdasarkan intuisi
bisnisnya sendiri, Sanin tidak banyak melakukan
inovasi dalam usahanya. Setiap pagi
Sanin dan anak-anaknya menjual garam ke
pasar-pasar yang ada di sekitar tempat tinggal
dan pabrik mereka. Penjualan yang dulu
menggunakan sepeda, kini telah menggunakan
mobil yang disopirinya sendiri.
Sementara sore hari, para sales-lah yang
memasarkan garam ke toko-toko yang sebagian
besar berlokasi di wilayah 3, yaitu daerah
Cirebon, Kuningan, Majalengka, dan Indramayu.
Kadang mereka juga merambah
Jatibarang hingga Jawa Tengah. Garam dapur
tidak diberikan kepada agen, melainkan ke
pasar langsung, itu sebabnya Sanin langsung
mendapat hasil. Sales juga mendapat fasilitas
mobil sebagai modal untuk mengangkut barang
dagangan. Setiap hari sales-nya bisa membawa
rezeki Rp 3-6 juta. “Jadi, kalau untuk anak
sekolah atau kebutuhan sehari-hari, saya tidak
bingung. Selalu ada dana,” paparnya bangga.
Selain uang, membina karyawan agar bekerja
dengan benar dan baik juga menjadi
modal bagi Sanin, terutama untuk para sales.
Karena begitu pentingnya peran sales dalam
usaha garam ini, Sanin berencana menambah
sales yang bisa terjun langsung ke lapangan
dalam rangka memperluas pasar hingga seluruh
wilayah Jawa Barat. Sanin juga ingin membuka
cabang di tempat lain, selain di Paliaman yang
berfungsi sebagai distributor.
Tentunya, perluasan pasar tidak dapat dilakukan
jika produk yang dihasilkan masih
terbatas. “Saya ingin membuat garam dalam
kemasan botol karena selama ini saya cuma
membuat kemasan plastik yang beratnya
berbeda-beda,” jelasnya. Namun, hal ini pun
masih terkendala dengan kapasitas produksi
yang mampu dihasilkan. “Kesulitan memakai
tenaga manusia adalah tidak bisa diberikan
target. Kalau sudah terlalu lelah, hasilnya akan
sangat sedikit,” ucapnya.
Lantas, mengapa tak membeli mesin saja?
“Sebenarnya, kami sangat butuh mesin, tapi
terkendala modal. Mesin itu pembiayaannya
besar,” ujar Sanin. Sanin sendiri mengaku sudah
banyak mempelajari cara kerja mesin-mesin
pembuat garam dari hasil melihat langsung
ke pabrik-pabrik lain tempatnya belajar. Jadi,
kalau kelak mampu membeli mesin, ia sudah
tahu cara mengoperasikannya. Sanin
kini giat mencari pinjaman dengan bunga
rendah untuk mewujudkan mesin-mesin
impiannya. Setidaknya, separuh produksi dilakukan
secara manual, separuh dengan mesin.
GARAM LOKAL VS IMPOR
Langganan masa sulit bagi pengusaha garam adalah
ketika turun hujan. Bahkan pada tahun 2010
mereka mengalami gagal panen sehingga tidak
ada garam lokal. Di musim kemarau, garam bisa
dihasilkan dari ladangnya sendiri maupun
membeli dari masyarakat. “Garam lokal lebih murah,”
jelas Sanin. Misalnya, dengan harga jual Rp
300, Sanin bisa mendapat keuntungan Rp5o, atau
Sekitar 15 persen. Sementara garam impor hanya
menghasilkan keuntungan maksimal 10 persen
karena modalnya tinggi. Sanin juga
mengambil garam dari Surabaya, yang
didatangkan dan Australia dan India.
Sebagai petani garam, ia fasih menceritakan
proses pembuatan garam. “Kita seperti bikin
kolam yang besar, lalu dipetak-petak,
seperti orang menggarap sawah. Perbedaannya,
kalau ladang garam membutuhkan tanah yang
halus dan keras. Kalau orang sini
sih memakai silinder, sejenis silinder mesin
yang dipakai untuk mengeraskan jalan. Setelah
ladangnya bersih, air dipindahkan.
Setelah kering, dipindahkan lagi ke petak lain.
Jadi, kalau airnya sudah mengental, kita periksa
dengan arometer. Kalau di sini disebut
hipermil. Biasanya kalau udah jadi garam,
ukurannya minimal 22 arometer. Ketika masih
berupa air laut, ukurannya 0 arometer.
Kalau sudah 22 arometer, baru jadi garam,
keluar, dan bertumbuh,” urainya panjang lebar.
Kalau tidak ada hujan, Sanin mengibaratkan
garam seperti kumis atau jenggot: hari ini dikeruk,
kalau besok panas bisa dikeruk lagi. Perbedaannya
dengan garam di Madura, ketebalan
garam di daerah Sanin untuk dikeruk hanya 1 cm.
Kalau di Madura, ladang-ladang garam bisa
mencapai ketebalan 5 cm karena ditunggui hingga
minimal 15 hari. “Kalau di sini tidak
bisa begitu. Kalau kena hujan, wah! Istri bisa
ngamuk karena anaknya enggak bisa jajan,”
ujarnya sambil tergelak.
Menurut perhitungan Sanin, nilai murni
garam adalah Rp 500 per kilogram. Kalau sehari
saja pekerja di ladang garam bisa mendapat
sekuintal garam, ia sudah beroleh uang Rp 50
ribu. Padahal, setiap harinya setiap petak bisa
menghasilkan 5 kuintal hingga 1 ton garam.
Untuk menjadi garam balok, bahan garam
dari Australia butuh perlakuan khusus, karena
tidak mengandung air. Prosesnya harus diairi
dulu supaya melekat, dicetak balok, lalu di
masukkan ke dalam oven untuk dipanggang.
Sedangkan garam lokal yang memang sudah
mengandung air bisa langsung dicetak balok.
Sementara untuk garam halus, baik lokal
maupun dari luar negeri bisa langsung di
masukkan ke dalam plastik kemasan.
Diakui Sanin, warna garam dari Australia
lebih putih karena tumbuh seperti gunung di
pinggiran laut. Sedangkan garam lokal berasal
dari air sehingga terkadang ada kotoran debu.
Namun soal rasa, menurut Sanin, garam lokal
lebih enak dan gurih. Ini karena PPN atau
kadar keasinan garam lokal paling tinggi 70,
sedangkan garam Australia lebih dari l00.
“Kalau masak pakai garam Australia, saat
dicicipi sudah cukup asin. Tapi begitu masakan
sudah dingin, asinnya luar biasa. Nah, kalau
garam lokal, biarpun masakannya masih panas
atau sudah dingin, rasanya tetap sama. Cuma
kadang-kadang orang kota tuh suka yang putih,
yang putih sekali, padahal enggak enak,” kata
Sanin.
Untuk proses pemanggangan, awalnya Sanin
menggunakan solar sebagai bahan bakarnya.
Tetapi, pemakaian solar ternyata menjadikan
biayanya lebih tinggi. Karena itu, sejak tahun
ini ia menggunakan elpiji, yang lebih ringan dan
irit.
Selain memproduksi garam dapur, Sanin
mendiversifikasikan usahanya, yakni berjualan
pupuk untuk semua jenis tanaman. Pembuatan
pupuk memerlukan garam hingga 40 persen. “Lalu
ditambah kaptan, bahan kaptul seperti kapur dari
Sukabumi,” urainya. KCI dalam garam dibutuhkan
untuk menguatkan batang. Ia mengirim pupuknya
ke Sumatera karena tanah di sana cenderung
bersifat gambut. “Kalau tidak diberi garam,
tanamannya tidak bisa hidup, tidak bisa berbuah,
atau buahnya sedikit,” papar Sanin. Berbisnis
garam sangat menguntungkan bagi Sanin karena
tidak ada garam yang tersisa, “Semua garam
dipakai. Yang kotor dicampur untuk pupuk.”
Penjuaan pupuk pun dalam setahun
mencapai 2 ribu ton, bahkan pernah hingga
3 ribu ton. Tentu saja, garam yang digunakan
adalah jenis yang berbeda. Untuk garam dapur
menggunakan garam putih kualitas 1 dan 2.
Sedangkan untuk pupuk, Sanin menggunakan
garam kualitas 3.
Baik di bidang garam maupun pupuk, Sanin
tidak terlalu memusingkan urusan persaingan.
Ia percaya bahwa rezeki diatur oleh Yang Di Atas.
Apalagi Sanin melihat banyak pesaingnya yang
bangkrut. “Ada bisnis yang sama di daerah ini,
tapi perusahaannya kecil. Bahkan, untuk bahan
baku saja mengambil dari saya. Mereka tinggal
mengemasnya,” ujar Sanin. Bisa jadi, memang
tidak ada pesaing yang berarti di sekitar wilayah
tersebut.
Bagi Sanin, ia hanya beruntung. “Menyekolahkan
empat anak sampai jadi sarjana butuh biaya
yang enggak sedikit,” ujarnya. Ia mengisahkan,
anak bungsunya yang menjadi bidan setiap
bulan paling sedikit butuh Rp 4-5 juta. “Kalau
tidak mengandalkan usaha, ya repot,” ujarnya
sembari tersenyum.
Ketika ditanya, akan dibawa ke mana bisnis
garam ini, Sanin menjawab, “Saya hanya mau
memperbesar pabrik, menaikkan jumlah
produksi, menambah tenaga kerja, membeli
mesin, dan menambah jumlah armada agar
produksi saya bisa menjangkau seluruh Jawa
Barat. Setelah menggeluti usaha garam dapur
dan pupuk hingga seperempat abad, Sanin
yang kini berusia 60 tahun memercayakan
pengelolaan perusahaan kepada para anak dan
menantunya dengan berbagi tugas. Sanin hanya
tinggal mengontrol agar semuanya berjalan
dengan baik.
Pesan penting pun dibagikan kepada semua
anak dan menantunya, bahkan karyawannya,
dan siapa pun yang hendak terjun ke dalam
dunia usaha, yakni harus sabar dan jujur.
“Susahlah kalau kita berbisnis inginnya
langsung besar. Pelan-pelan saja, begitu.
Jangan sekali-kali kita banyak bohong. Kita
harus jujur. Suatu saat dalam usaha, kejujuran
pasti menjadi kesuksesan kita,” ujarnya
bersahaja.
Catatan Rhenald Kasali
SAYA TERTEGUN DENGAN cara Sanin membangun usahanya. Ya, seperti inilah
manajamen UMKM (usaha mikro kecil dan menengah). Tumbuhnya perlahan-lahan
sacara alamiah. Dan hanya mereka yang tekun jujur, serta disiplinlah yang
mampu bertahan dan tumbuh. Bagi Sanin untung itu ditandai dengan
membesarnya jumlah aset bukan yang lainnya. Seperti pangusaha lain Sanin
juga butuh bantuan cash flow dari bank. Namun cara kerja bank yang mampu
manyederhanakan proses dan membuat usaha UMKM ‘nyaman’ sangat menentukan
keberhasilan hubungan antara bank dengan UMKM. Jadi sederhanakanlah semua
proses dan mengertilah cara kerja mereka.
Sanin seperti UMKM lainnya adalah sebuah produk dari sebuah proses evolusi.
Mereka naik kelas secara alamiah dari bekal kerja keras dan kejujuran. Saya
sering menyebutkan, pengusaha-pengusaha kecil modalnya berawal dari sekolah
50 senti atau setangah meter. Dari ujung telapak kaki ke atas dengkul.
Mulai dari tukang becak sampai menjadi pemilik pabrik garam. Itu pun hanya
kecil-kecilan saja. Namun karena tekun, ia bisa berurusan dengan bank dan
mampu mencicil pinjaman hingga puluhan juta rupiah setiap bulannya.
Sanin berbeda dangan sarjana-sarjana yang hanya bersekolah lima senti,
yaitu hanya mengisi kepalanya dengan teori, namun kaki dan tangannya tidak
‘disekolahkan’ di lapangan. Mereka yang demikian hanya menjadi penganggur.
beban bagi msyarakat.
Bisnis ‘50 senti’ ini adalah bisnis yang marjinnya besar, namun nilainya
kecil dan volumenya besar. Bayangkan 105 ton hanya berharga Rp 105 juta.
Bagi para sarjana, nilai seperti itu terlalu kecil. Namun bagi rakyat
jelata, nilai seperti itu sudah sangat disyukuri. Apalagi oleh seorang
mantan tukang bacak.
Berbeda dengan kebanyakan usaha, bisnis UKM seperti ini mempunyai karakter
tunai (sehingga banyak uang recehannya). Karakter tunai yang demikian bisa
membuat pelaku usaha kecil terperangkap dalam ‘perilaku pedagang’ yang lupa
melakukan inovasi atau perluasan produksi. Setiap mendapat tawaran
berutang, mereka hanya berpikir untuk memodali pembelian bahan baku atau
barang-barang untuk dijual kembali, bukan untuk membangun pabrik yang lebih
besar, lebih efisien, atau lebih produktif.
Kedua, usaha kecil juga sarat dengan godaan-godaan duniawi yang bisa
berakhir kalau pemiliknya terperangkap dalam godaan. Secara alamiah kita
semua terpanggil untuk menjalankan ibadah ke Tanah Suci, namun semua ada
syaratnya yaitu mampu. Godaan pertama adalah ‘merasa mampu’ bukan karena
benar-benar mampu, melainkan karena gengsi, ingin terlihat hebat. Kedua,
godaan kawin lagi. Dan ketiga, godaan Pilkada. Mereka bisa menjadi besar
kalau mampu mengatasi godaan-godaan tersebut dan fokus pada upaya memajukan
usaha.
Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun: Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012
Nizar Sungkar, Mantan Notaris yang Kini Sukses Berbisnis Farmasi dengan Omzet Ratusan Juta per Bulan
Nizar Sungkar, Jeli Melihat Peluang di Industri Farmasi
Di kalangan pengusaha daerah Jawa
Barat, namanya tak lagi asing. Dia
Menjabat sebagai Ketua Kadin Kabupaten
Karawang dan memiliki 4 perusahaan.
Di balik kisah suksesnya saat ini, ada
mata yang jeli menangkap peluang di
mana pun dia berada.
NIZAR Sungkar tidak dilahirkan sebagai
pengusaha. Memegang gelar sarjana
hukum, pada tahun 1991, dia bekerja
di kantor notaris yang memberikan jasa hukum
kepada pengusaha. Karena banyak bersentuhan
dengan para pengusaha itulah jiwa usaha Nizar
terpengaruh.
Menginjak tahun kedua bekerja sebagai pegawai,
hatinya mulai resah. Dia pun berpikir
untuk memiliki usaha sendiri atau membuka
kantor notaris sendiri. “Kita kan hidup harus
punya rencana. Okelah saya di sini 2 tahun
saja, tahun ke-3 punya kantor notaris sendiri,
tahun ke-5 punya pilihan: tetap di notaris atau
memulai usaha,” ujar Nizar sambil tersenyum.
DARI FURNITUR KE RUMAH MAKAN
Sambil bekerja di kantor notaris, Nizar mulai
melirik usaha furnitur yang dibangun
orangtuanya sejak tahun 1994. Dia mengubah
konsep penjualan furnitur menjadi penjual
jasa desain furnitur yang disesuaikan dengan
selera dan kebutuhan konsumen. Sayangnya,
ide ini kurang mendapat sambutan baik dari
masyarakat di Karawang. Nizar pun kesulitan
menggiring masyarakat untuk mengenal desain
interior. Masyarakat Karawang lebih senang
langsung membeli tempat tidur atau lemari,
ketimbang kamar tidurnya di-setting sesuai
selera dan kepribadian mereka. Sementara
orang-orang yang punya uang lebih cenderung
membeli furnitur langsung ke kota besar, seperti
Jakarta dan Bandung.
Namun, semua itu tidak membuat surut semangat
Nizar. Dengan kucuran modal dari bank
bjb sebesar Rp 35 juta, dia membuka workshop
di Jalan Moh. Toha. Usahanya lumayan berkembang
hingga mendapat plafon Rp 500 juta,
dan terus ditambah hingga total mencapai lebih
dari Rp 1 miliar.
Begitu berkembang, seperti biasa, usaha yang
diberi nama CV Madu Segara ini mulai mendapat
tantangan dengan kehadiran workshop-workshop
besar di Karawang. Nizar pun harus memutar
otak menghadapi persaingan tersebut. Dia lalu
bekerja sama dengan workshop-workshop kecil
yang dahulu pernah dibinanya. Harga barang pun
diturunkan untuk melayani segmen yang lebih
rendah. Namun, CV Madu Segara juga menerima
order desain interior. Salah satu hasil produk dan
desain interiornya menghiasi lantai 1 hingga 3
kantor Bupati Karawang.
Saat persaingan pada usaha desain interior
semakin berat, bapak 2 anak itu mulai melirik
usaha lain: rumah makan. Ide ini beranjak dari
sulitnya menemukan tempat untuk meeting dengan
mitra bisnisnya. Keluhan tersebut ternyata
juga dialami oleh kawan-kawan Nizar sesama
pengusaha di Karawang. Akhirnya dengan
dukungan bank bjb, Nizar mendirikan rumah
makan dengan ruang meeting untuk 20-40
orang yang dilengkapi peralatan hiburan.
Menurut Nizar, kesulitan bisnis rumah makan
terletak pada kepuasan pelanggan. “Kita
ingin orang yang datang ke sini merasa puas, dan
kita ingin mereka menyampaikan lagi kepuasan
tersebut kepada teman-temannya. Di sinilah
yang agak berat,” akunya. Nizar masih terus
mengembangkan usaha rumah makannya. Namun,
kesibukannya pada usaha yang lain, membuat
dia harus menyerahkan usaha tersebut
kepada istrinya.
Nizar tampaknya terus mencari peluang.
Dari usaha desain interior dan rumah makan,
Nizar merambah dunia konstruksi. Namun,
rupanya bidang ini hanya menjadi batu loncatan
untuk menjadi supplier alat kesehatan di Rumah
Sakit Umum Karawang. Dia mengamati
berbagai pengadaan segala kebutuhan yang ada
di rumah sakit tersebut. “Saya memperhatikan
orang-orang di sekitar situ. Rumah sakit kan
spesifiknya alat kesehatan, kenapa saya
menawarkan ban mobil? Kenapa saya tidak
mengirimkan alat kesehatan?” tuturnya.
PELUANG DI ALAT KESEHATAN
Membaca adanya peluang di sana, Nizar
pun mempelajari seluk-beluk alat kesehatan.
Awalnya, dia hanya memasarkan produk pihak
lain. Namun melihat peluang yang semakin
bagus, tahun 1997 ia mendirikan PT Mizindo
Mitra Karya. Perusahaan ini menyalurkan alat
kesehatan ke rumah sakit-rumah sakit. Nizar
menawarkan berbagai alat kesehatan yang
memang selalu dibutuhkan oleh RS, seperti
jarum suntik dan selang infus, hingga akhirnya
dia menguasai betul seluk-beluk bisnis ini.
Bahkan Nizar juga menyediakan tempat tidur
pasien.
Untuk memperlancar penjualannya ke Rumah
Sakit Umum Karawang, Nizar mendirikan
kantor PT Mizindo Mitra Karya di dekat rumah
sakit tersebut. Saking dekatnya, perjalanan bisa
ditempuh dengan berjalan kaki. Pemilihan posisi
yang strategis ini karena Nizar menganggap konsumen
alat kesehatan sudah sangat jelas, yaitu
ke rumah sakit. “Tidak mungkin disalurkan
langsung ke masyarakat,” urainya.
Untuk menyediakan barang, PT Mizindo
bekerja sama dengan beberapa pabrik dan
distributor yang juga sudah bergandengan dengan
banyak pabrik. Nizar memanfaatkan kelemahan
dari distributor yang menolak mengirimkan
barang pesanan ke rumah sakit jika ada 3 faktur
yang belum dibayar. “Nah, saya memanfaatkan
celah itu,” cetusnya.
Sebagai pemilik alat, distributor menawarkan
produk ke perusahaannya, lalu Nizar yang
menawarkannya ke rumah sakit. Kelebihannya,
PT Mizindo tidak perlu repot melakukan
promosi alat kesehatan, sebab tugas itu sudah
dilakukan oleh distributor dan pabrik. Di sisi
lain, distributor dan pabrik terbantu dengan
keberadaan PT Mizindo karena mereka tidak
perlu mengikuti tender. PT Mizindo yang akan
melakukannya.
“Karena cuma dagang, urusan produksi dan
promosi sudah dilakukan bersamaan dengan
distribusinya. Kita cuma sedia tenaga dan
menggarap pasar. Sementara yang menagih
pembayaran semuanya tetap mereka. Yang
memperagakan barang kesehatannya juga mereka,”
terang Nizar, yang saat ini sudah memiliki
pelanggan pada tiga rumah sakit.
Jika rumah sakit sedang kesulitan keuangan
untuk membayar, Nizar mempermudah dengan
menggandeng bank bjb untuk ikut membantu
transaksi tersebut. Bank bjb yang kemudian
membayarkan ke distributor atau pabrik,
sementara setiap bulannya rumah sakit akan
mencicil ke bank bjb. Peran PT Mizindo hanya
menjadi leasing-nya. Namun jika rumah sakit
mengalami kesulitan membayar ke bank bjb,
beberapa kekurangannya harus ikut ditanggung
oleh perusahaan Nizar.
Melihat perkembangan usahanya yang terus
meningkat, Nizar pun pamit meninggalkan
kantor notaris yang telah dijalaninya selama 7
tahun pada 1998. Dia mengembangkan usaha
alat kesehatan hingga PT Mizindo mampu juga
melayani Rumah Sakit Umum (RSU) Kabupaten
Bekasi. “Kita pegang 2 rumah sakit saja sudah
kewalahan, Rumah Sakit Umum Karawang dan
Rumah Sakit Umum Kabupaten Bekasi. Tapi
yang paling banyak di Karawang,” terang Nizar.
GILIRAN BISNIS FARMASI
Hingga saat ini, usaha menyuplai alat
kesehatan itu bisa dikatakan ‘telah berjalan dengan
sendirinya’. Nizar hanya tinggal menunggu
laporan per bulan dari anak buahnya. Perkembangan
selanjutnya, Nizar tertarik dengan bisnis
obat-obatan. Kali ini dia terinspirasi dari
kisah pasangan suami-istri yang bekerja sebagai
apoteker. Si suami, yang merupakan saudaranya
sendiri, bekerja di pabrik obat sementara
istrinya menjadi apoteker di salah satu apotek di
Karawang.
“Saya melihat ada peluang di obat setelah
saya ngobrol-ngobrol dengan mereka,” ujar
Nizar, yang mengucurkan dana Rp 1 miliar
dari kantongnya sendiri untuk memulai usaha
ini. Setelah usaha ini mulai berjalan, Nizar
mendapat bantuan kredit Rp 400 juta dari bank
bjb. Lalu, dengan order yang semakin besar, dia
mendapat tambahan kredit lagi menjadi Rp 1,1
miliar.
Sebelumnya Nizar memang sudah mempelajari
adanya peluang di bisnis obat. Ia
melihat bahwa distributor dan pabrik obat
berskala besar hanya ada di kota Bandung.
Untuk melayani suplai obat di Karawang,
mereka membutuhkan waktu yang cukup
lama. Celah inilah yang dijadikan batu
pijakan Nizar untuk merambah bisnis farmasi
dan menganggapnya sebagai peluang yang
menjanjikan.
Tahun 2008, Nizar mendirikan PT HAS
Putra Harapan, yang diambil dari nama anak
keduanya, Hafidz Sungkar. PT HAS membidik
pasar obat-obatan ke sekitar 190 apotek (outlet)
di daerah Karawang, Subang, Purwakarta,
hingga Indramayu. Outlet di kota kecil ini
dianggapnya bisa meminimalkan persaingan
dengan distributor besar. Selain mengambil
obat-obatan langsung dari pabrik, Nizar juga
bekerja sama dengan 37 distributor obat.
Untuk mengatasi kendala waktu dan jarak
dari distributor, PT HAS menawarkan kerja
sama sehingga para distributor tidak perlu
lagi menyewa gudang dan membayar gaji
karyawan di Karawang. Pada tahun pertama,
Nizar menyediakan obat secara kelontongan ke
apotek. Namun, hal itu ternyata berisiko tinggi.
Sebab selama ini apotek di kota-kota kecil tidak
membeli dalam jumlah kartonan, hanya 1-3 slot
saja.
Oleh karena itu, PT HAS kemudian hanya
berkonsentrasi pada obat-obat tertentu saja
yang laku keras dan tidak tergoda ikut menjual
kelontongan lagi. “Kalau di obat, harus pintar
memilih siapa yang kita jadikan mitra. Kita
harus punya moril untuk membesarkannya
juga,” tutur Nizar mengenai pabrik yang menjadi
mitra kerja PT HAS. Meski begitu, dia tetap
menyuplai obat yang dibutuhkan apotek dengan
porsi yang lebih kecil. Seiring waktu, Nizar
semakin menguasai pasar. Dia membentuk tim
yang terdiri dari orang-orang yang mengenal
seluk-beluk bisnis obat, termasuk apoteker.
PUNYA APOTEK SENDRI
Kendala di bisnis farmasi tentu saja tetap ada.
Nizar melihat adanya ‘permainan’ dari hulu
hingga huir. Pabrik-pabrik obat tidak cuma
memproduksi obat, tapi juga memiliki anak
anak perusahaan yang bergerak di sektor outlet.
Outlet ini merupakan alat untuk meraup pasar
pula. Sehingga mau tidak mau, aturan tidak
tertulis ini pun harus diikuti olehnya.
“Tidak kuatlah kalau saya tidak ikut alur
mereka. Jadi, saya memutuskan untuk ikut
menjadi outlet mereka,” terangnya. Jika tidak
menjadi outlet, PT HAS semakin berat menjual
produk farmasi ke outlet karena distributor
biasanya memberi diskon langsung ke outlet.
Hal ini membuat PT HAS tidak lagi menjadi
pemain utama di Karawang. Dan pabrik atau
distributor, PT HAS mendapat keuntungan
sekitar 10-15 persen.
Di tahun kedua, Nizar melihat bahwa
keuntungan juga bisa didapat dengan menjual
langsung ke konsumen. Sementara kalau hanya
menjual ke outlet (dalam hal ini, apotek), ia
tidak bisa mendapatkan keuntungan sebanyak
yang didapatnya pada penjualan langsung
ke konsumen. Nizar pun membuka apotek,
sehingga keuntungan yang didapat lebih besar:
dari pabrik atau distributor dan dari konsumen.
Apotek yang didirikannya ini melayani segmen
bidan dan mantri kesehatan. Apotek ini juga
memberi keringanan pada mereka untuk kasbon dengan
nilai Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta dan jangka waktu
pembayaran 1 bulan. Jika sudah melewati limit
peminjaman, obat hanya bisa dibeli
kembali jika utangnya sudah dilunasi.
Saat melakukan perluasan pasar, Nizar mengalami
kendala yang tidak mudah, sebab cakupan pasar sangat
bergantung pada distributor. Tiap-tiap distributor
memiliki cakupan wilayah yang berbeda,
yang diberikan untuk setiap penjual. Misalnya, obat A
yang dijual Nizar hanya boleh dijual
di beberapa wilayah yang sudah ditentukan distributor,
sementara wilayah lain sudah diperuntukkan bagi penjual
lain. Hal ini terjadi karena distributor membawahi
beberapa penjual di daerah-daerah yang berbeda.
Kalaupun ingin memperluas pasar, Nizar harus membeli
obat secara lepas, artinya tidak melalui distributor.
Dengan cara ini Nizar tidak akan terikat oleh wilayah
Yang ditentukan distributor dan dapat menjual ke daerah
sesuai keinginannya sendiri.
Risikonya, harga obat yang dijual bisa jadi lebih mahal
dibandingkan harga obat yang dibeli melalui distributor.
Akhirnya, sampai saat ini Nizar lebih memilih membeli
obat ke distributor. “Lagi pula beberapa distributor ada
yang menitipkan tenaga kerja, seperti sales, pada kami.
Kamilah yang nantinya mengurus insentif mereka,” imbuhnya.
Nizar mengakui, peran sales sangat penting dalam
bisnis ini. Merekalah yang menjajakan dan mencatat
berbagai order dan outlet outlet. Petugas sales harus
bekerja cepat untuk mengambil order dari outlet.
Jika ia lambat, kesempatan itu bisa diambil pesaing.
Meski demikian, Nizar cenderung tidak memilih petugas
sales yang sudah mahir, karena menurutnya,
kalau sudah mahir mereka suka mengelabui.
Permainan yang dilakukan petugas sales
biasanya menabrak aturan kerja. Petugas
sales yang curang seharusnya hanya bertugas
menawarkan barang, namun ia juga menerima
pembayaran. Padahal, dari mulai menawarkan,
mengorder, mengantar, hingga menagih uang,
sudah ada petugasnya masing-masing. Petugas
sales seperti ini tidak layak dipertahankan.
Karena itu, untuk urusan sales, Nizar
memutuskan untuk menyerahkan langsung ke distributor.
“Jadi saya tidak gaji petugas sales. Kalau pabrik
mau kerja sama dengan saya, saya minta
petugas sales 3 orang, sama supervisor 1 orang.
Tempat saya yang siapkan. Jadi, untuk gaji
sales, mereka yang nanggung. Profitnya penjualan
dan saya, mereka dapat fee dan pabrik,” urainya.
Nizar juga menyerahkan urusan monitoring kepada
distributor tunggal, mengingat mereka yang
membayar petugas sales. Meski begitu, Nizar
tetap memberikan trik-trik kepada petugas sales-nya
untuk melawan persaingan. Misalnya dengan melakukan
subsidi silang pada beberapa jenis obat agar
outlet atau apotek terangsang mengambil
obat dan mereka. Selain itu, petugas sales diminta
tetap melakukan pekerjaannya secara door to door
tatap muka, tidak menggunakan jejaring sosial.
“Menemui orang. Itu tetap cara yang paling efektif
untuk memasarkan obat-obatan,” ujarnya.
MANAJEMEN USAHA
Pasang surut berdagang obat kerap terjadi, tergantung pada
kondisi keuangan masyarakat di Karawang. Jika sedang ada uang,
biasanya pasien berobat ke rumah sakit. Pada saat itulah daya
beli mereka tinggi. Sementara jika sedang kurang uang, biasanya
mereka berobat ke puskesmas dan mendapatkan obat generik,
yang merupakan obat bantuan pemerintah. Jika omzet sedang
turun, dievaluasi kendala-kendala yang dihadapi para petugas
sales sebagai ujung tombak penjualan.
Meski telah 3 tahun berjalan, jumlah pegawainya hingga kini
hanya 10 orang saja. Tapi Nizar benar-benar puas dengan para
karyawannya. Nizar menegaskan bahwa ia hanya mempekerjakan
karyawan profesional dengan merekrutnya melalui ikian di
media massa sekitar Karawang dan Bandung. Kalaupun ada yang
melalui rekomendasi, calon pegawai tersebut tetap harus melewati
prosedur melamar terlebih dulu.
Meski begitu, Nizar tidak ragu memberikan pelatihan
atau mengikutkan mereka pada beragam seminar demi
meningkatkan skill. Misalnya, untuk pegawai yang
mengurus masalah sumber daya manusia, diikutkan dalam
seminar motivasi. Bahkan, perusahaannya memiliki
konsultan dalam bidang SDM. Kebanyakan seminar atau
pelatihan itu merupakan undangan gratis, sehingga Nizar
tidak memiliki budget khusus untuk pelatihan karyawannya.
Pernah ada pegawainya yang diam-diam mengundurkan diri.
Belakangan Nizar tahu bahwa mereka dibajak
perusahaan obat lainnya. Meski hal ini cukup mengganggu,
Nizar tidak mau berlarut-larut dalam masalah. Ia pun
Segera mencari penggantinya, meski berarti ia harus
mengajar pegawai barunya dari awal lagi.
Demi mengembangkan PT HAS, Nizar memilih untuk
mempekerjakan saudaranya yang juga
telah memberi inspirasinya untuk terjun ke bisnis obat-obatan.
Nizar menganggap kemampuan mereka adalah hal penting
yang harus dimiliki bisnis apoteknya. Terlebih lagi,
salah satu saudaranya tersebut menjadi pengurus Pedagang
Besar Farmasi (PBF).
Untuk bisnis obatnya, mulai dari apotek dan distribusi, Nizar
sudah menerapkan sistem IT yang terintegrasi satu sama lain.
Sistem tersebut menghubungkan seluruh mata rantai usaha mulai
dari gudang hingga keuangan. Dia juga mempekerjakan pihak
ketiga untuk mengurus sistem tersebut. Pihak ketiga itu juga yang
memberikan pelatihan bagi pegawainya untuk menggunakan
sistem tersebut. Pegawainya pun cepat beradaptasi, mengingat
sistem yang digunakan adalah sistem standar yang telah
digunakan banyak orang. Namun, meski sistemnya sudah terintegrasi,
masih ada pegawai yang menerima gaji tunai. Ternyata tidak
semua pegawainya sudah memiliki rekening bank.
Sementara untuk pembayaran utang ke bank, Nizar sudah
pernah menerapkan berbagai sistem. Ada yang secara angsuran,
ada juga yang sistem investasi, yakni setahun sekali dibayar dan
bunga dibayarkan tiap bulan. Namun, Nizar tidak pernah
menggunakan sistem stand by loan.
“Saya tidak pernah menggunakan stand by loan
karena sistem tersebut baru bisa dilakukan
ketika ada kegiatan. Sementara kegiatan PT
HAS membutuhkan transaksi yang cepat.
Prosedur sistem itu terlalu lama, bisa-bisa malah
barangnya keburu diambil orang,” jelas Nizar.
Saat ini omzet PT HAS sudah mencapai Rp
300 juta per bulan dengan keuntungan bersih
hingga 10-15 persen. Namun, hal ini tak
membuatnya berhenti melihat peluang bisnis
lainnya. Nizar melihat masih ada peluang besar
dalam bisnis obat dan alat kesehatan. Malah, ia
terobsesi membuat pabrik obat dan klinik. “Saya
ingin konsentrasi ke alat kesehatan, saya ingin
bikin klinik. Target saya membuat rumah sakit.
Walaupun skalanya kecil, saya ingin bikin rumah
sakit yang beda, membuat orang nyamanlah,”
angannya.
Meski begitu, dia enggan tergesa-gesa untuk
mewujudkannya. Dia tetap melihat kemampuannya,
mulai dari urusan sumber daya manusia hingga
keuangan. “Cita-cita tinggi
dan ambisius akan membuat kita tergesa-gesa.
Padahal, jika SDM atau armada tidak kuat
dan finansial tidak mendukung, maka ambisi
tersebut akan sulit tercapai. Dalam arti lain,
mengejar cita-citanya perlahan-lahan dengan
cara menumbuhkan semua sektor terlebih
dahulu agar terjaga keseimbangan antara
kemampuan dan cita-cita,” papar Nizar berbagi
nasihat.
Nizar juga berangan-angan, dalam waktu 5
hingga 10 tahun ke depan, PT HAS bisa mempunyai
merek obat sendiri. Sebab dia tahu, semua obat
komposisinya sama, hanya mereklah yang
membuatnya berbeda. Namun, ia masih harus
menyiapkan hal tersebut dengan memperkuat
usahanya.
Catatan Rhenald Kasali
SAAT JUTAAN ORANG ‘tertutup matanya’ dan tak mampu melihat masalah sebagai
peluang, seseorang yang terbuka matanya justru melihat peluang-peluang baru
tiada henti. Ibarat membuka pintu, begitu satu pintu terbuka pintü-pintu
lain menunggu giliran itulah keajaiban yang ditemui seorang wirausaha yang
berhasil menemukan satu pintu emas.
Pintu emas memerlukan tangan emas, ÿaitu tangan yang berani masuk dengan
penuh kesungguhan. Ibarat menanam jagung, lubangnya tak perlu sedalam
menanam pohon jati. Anda perlu memahami perilaku setiap pasar dengan
menaruh tangan Anda selangkah demi selangkah. Bibit yang ditanam dalam akan
memberi hasil dalam jangka panjang, sedangkan bibit yang ditanam sejengkal
akan cepat berbuah. Yang cepat berbuah harus terus ditanam, yang
berbuah dalam waktu lama harus terus dirawat.
Orang-orang yang ‘terbuka matanya’ akan terus terbuka jalannya. Tetapi ia
Harus fokus dan berhenti berwacana, memilìh satu jalan dan
membangun istananya di atas fondasi yang kuat. Ia harus berhenti dari
kebingungan, dengan menetapkan hatinya pada satu jalan yang membawanya ke
tujuan, yaitu jalan utama. Jalan bercabang-cabang hanyalah godaan semata.
Tetaplah fokus, dalami usaha pada jalan utama dan tinggalkan jalan lainnya.
Maka bergeraklah, berjalanlah di mana pun Anda berada seperti yang ditempuh
Nizar. Mulanya Anda membangun keberanian lalu keterampilan memelihara
usaha dan mengenal masalah. Setelah itu Anda akah mengenal mana usaha yang
memberi peluang besar dan mana yang berjalan buntu. Anda juga akan
mengenal dinamikanya, hingga Anda mampu beradaptasi dan bertukar sebagai
pemenang. Ingatlah pemenang tak pernah berbenti dan hanya yang berhenti tak
pernah muncul sebagai pemenang!.
Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun: Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012
Koheri Latief, PHK Membawa Hikmah, Setelah di-PHK Koheri Sukses Raup Omzet Ratusan Juta dari Bisnis Sandal Hotel
Koheri Latief, Sandal Katrok Masuk Hotel
Sandal hotel yang ringan dan lembut
sering kali masuk di koper kita setelah
meninggalkan hotel. Bukan hanya
karena fungsinya, tetapi juga sebagai
tanda bahwa kita pernah menginap di
hotel tersebut.
Bisa jadi salah satunya adalah sandal
katrok produksi Koheri Latief. Ketika
pertama kali menjajakannya melalui
email, pria yang akrab dipanggil Koheri ini
memperkenalkan diri sebagai perajin sandal
katrok. Hal ini dilakukan untuk menarik
perhatian, meski kunci utamanya tetaplah
kualitas, on time delivery, dan harga yang
kompetitif.
Kisah Koheri menggeluti usaha ini pun tidak
sengaja. Tahun 2002 ketika menjadi korban
PHK, Koheri merasa mati kutu. Dia berpikir
keras untuk memulai usaha, namun belum juga
mendapatkan ide. “Mimpinya sederhana, dan
awalnya yang penting memiliki penghasilan
lebih baik daripada gaji saat masih menjadi
pegawai,” terang Koheri mengenang masa awal
ingin memiliki usaha. Saat itu Koheri berusia 36
tahun.
Dan, yang namanya ide memang dapat
muncul dari arah tak terduga. Ketika datang
kerumah salah satu temannya, ia melihat jajaran
botol sampo, sikat gigi, dan sabun ukuran mini.
“Saya tanya, ini apa? Buat apa? Dikirim ke mana?
Terus dia jawab, kalau itu semua buat ngisi ke
hotel,” cerita Koheri tentang ide usahanya.
SANDAL PENOPANG PHK
Koheri pun mendapat ide untuk membuat sandal
hotel. Ia mencari informasi dan dikenalkan ke
salah seorang perajin sandal di daerah Depok.
Awalnya berniat untuk sekadar bertanya, yang
terjadi justru sebaliknya. Mereka sepakat bekerja
sama dan Koheri mendirikan UD Herry Sandal
pada tahun 2003 dengan menjual rumahnya
seharga Rp 6o juta untuk modal usaha.
Meski masih dalam taraf belajar membuat
sandal, Koheri nekat menjajakan sendiri sandal-
sandalnya ke berbagai hotel, secara door to
door pada 2003. Dia hanya mengikuti intuisi
saja, melihat bahwa para calon pembeli lebih
mudah tertarik dengan barangnya jika melihat
langsung, ketimbang hanya dikirimi email
atau proposal. Dengan door to door, dia bisa
menjelaskan langsung kualitas barangnya. Hal
ini terus dilakukan Koheri seorang diri.
Di bulan pertama, Koheri berhasil menyuplai
sandal untuk Hotel Santika Cirebon dan Hotel
Bentani Cirebon. Namun, bukan keuntungan
yang didapat. Justru selama 6 bulan pertama
Koheri merugi karena biaya produksinya
terlalu tinggi, sementara pemasukan tidak
seberapa. Koheri pun menganggap proses
itu sebagai pembelajarannya. “Bisa dibilang
setahun pertama tidak ada keuntungan yang
berarti,” kenangnya, “Baru setelah setahun saya
merasakan nikmatnya usaha sandal.”
Selama setahun itu Koheri bisa dikatakan
bekerja apa saja, karena usaha sandalnya belum
menguntungkan. “Ada permintaan membuat
pensil, saya ambil. Ada yang meminta dibuatkan
tisu, saya iyakan,” ujarnya tergelak. Meskipun
untungnya kecil, tetapi usaha-usaha ini cukup
membantu mengamankan kondisi keuangannya.
Meski kecil, cash flow-nya berputar balik.
Minimal gaji dan tagihan listrik bisa dibayarnya.
Setelah bersabar setahun, usaha sandal
Koheri pun mulai mendapat sambutan bagus
dari pelanggannya. Kepuasan manajemen
Hotel Santika dan Bentani pada produk sandal
Koheri berbuah baik untuk bisnisnya. Dia
direferensikan ke cabang-cabang lain dalam
kelompok hotel tersebut, bahkan ke sesama
pengusaha hotel. Hingga Mei 2011, Koheri telah
menyuplai sandal ke sekitar 50 hotel di Cirebon,
Tegal, Pekalongan, Semarang, Yogyakarta,
Bandung, Jakarta, Bogor, dan Sumedang. Untuk
luar Pulau Jawa, sandal Koheri sudah menginjak
Balikpapan dan Belitung. Selain hotel, sandal
Koheri pun diminati oleh rumah sakit.
Sayangnya karena faktor kepercayaan,
kemitraan Koheri dengan perajin di Depok tidak
berumur panjang. Koheri kemudian membuat
usaha sendiri di Plered, lalu di Cirebon pada
2006.
Karena mengandalkan promosi mulut ke mulut
dari kliennya, Koheri mengaku tidak mengenal
langsung customer-nya. Transaksi yang mereka
lakukan hanya bermodal kepercayaan. Begini
sistem kerjanya: customer mengirimkan contoh,
Koheri kemudian membuatkan mock up yang
dikirim kembali untuk mendapat persetujuan.
Persetujuan ini memang sangat penting karena
setiap hotel biasanya memiliki desain sendiri
yang harus dipenuhi oleh Koheri. Misalnya
urusan pemakaian warna yang sesuai dengan
warna hotel tersebut. Koheri mengaku, kadang
ia juga memberi masukan terhadap desain yang
diinginkan konsumen. Tetapi, pada dasarnya ia
tidak mengubah terlalu banyak dari contoh yang
diajukan. Setelah mock up disetujui, proses
pembuatan sandal baru dijalankan.
Mengenai penetapan harga, Koheri berkata,
“Harga pokok produksi ya dihitung semua,
seperti bahan baku spons, lem, benang,
dan lain lain. Kemudian menghitung biaya
tenaga kerja dan ekspedisi. Untuk lingkup
Cirebon, kita pakai mobil sendiri. Kalau di
luar Cirebon, menggunakan ekspedisi yang
sudah berlangganan. Tapi terkadang konsumen
meminta ekspedisi yang dia percaya. Itu juga
bisa.” Setiap karung biasanya berisi 500 pasang
sandal yang dibagi-bagi dalam 50 kemasan plastik.
Jumlah pesanan dari setiap hotel memang
tidak sama, tergantung kebutuhan hotel itu
sendiri. Namun, agar biaya ekspedisinya tidak
terlalu mahal, untuk Pulau Jawa biasanya
Koheri mematok jumlah sandal minimal. “Oasis
Amir Hotel, Marbella, dan Parama itu biasanya
order sekitar 5.000 per bulannya, sedangkan
Hotel Santika Balikpapan itu sekitar 6.ooo per
bulan,” ujarnya memberi contoh.
MENOLAK DOWN PAYMENT
Koheri memegang teguh nilai-nilai yang harus
dipegang seorang pengusaha, seperti kejujuran,
kedisiplinan, dan keuletan. “Kejujuran adalah
hal yang paling tidak bisa ditawar. Tanpa itu saya
tidak akan mau berbisnis,” tegasnya. Sementara
kedisiplinan dibutuhkan agar dapat bertahan
walau kondisi tidak memungkinkan untuk
dilakukan, dan keuletan sangat membantu pada
saat menghadapi masa sulit dan tekanan yang
datang bertubi-tubi.
Menurut Koheri, kualitas dan pengiriman
yang tepat waktu menjadi faktor utama kelancaran
bisnisnya. Pasalnya, Koheri pernah
mendapatkan pengalaman pahit urusan pengiriman
barang. Ia pernah menggunakan
perusahaan ekspedisi yang kurang cermat
sehingga barang yang seharusnya berangkat
ke Bogor dikirim ke Bandung, begitu juga
sebaliknya. Di sinilah kredibilitas usaha
dipertaruhkan. Dia menuai protes atas kelalaian
yang bukan dilakukannya.
“Tapi saya belajar cerdik, ada copy bukti
kirim dari ekspedisi, kan. Saya kirim itu,
maka yang ada memang saya sudah kirim.
Cuma kenyataannya, di lapangan itu tertukar.
Diharapkan dia memaafkan saya. Tapi kalau
kita tidak bisa berargumentasi kayak begitu,
ya tadi, secara on time delivery saya kalah.
Kalau on time delivery kalah, hotel sudah
kehabisan sementara saya belum kirim. Jelek dong
kesannya. Dia pasti pindah ke tempat lain,”
paparnya. Ketepatan dan kecepatan perusahaan
ekspedisi termasuk faktor penting demi
mencegah customer-nya kabur.
Dari pengalaman tersebut Koheri selalu
berpesan kepada customer-nya untuk
memberitahu jika stok di hotel sudah menyentuh
kisaran 200-300 pasang. Sebab jika hotel
kehabisan sandal, sudah dipastikan toko
mana pun tidak ada yang menjual sandal
hotel tersebut. Dengan menjaga stok di kisaran
tersebut, hotel tidak sampai kehabisan
persediaan sandal dan Koheri mempunyai
cukup waktu untuk menyediakan sandal yang
dibutuhkan. Hal ini sudah termasuk waktu
pengiriman dari perusahaan ekspedisi di
sekitar Pulau Jawa yang memakan waktu 1
hari. Koheri memberikan keleluasaan kepada
customer-nya untuk menggunakan perusahaan
ekspedisi yang dipercaya. Jika customernya
menyerahkan kepada Koheri, baru dia
menggunakan perusahaan ekspedisi yang sudah
menjadi mitranya.
Urusan kualitas pun Koheri tak kalah berhati-
hati. Hal ini dipelajarinya dari pengalaman
pahit ketika ada pesanan dari salah satu hotel di
Malang, akibat PO (Purchase Order, dokumen
pemesanan) tertanggal 20 baru dibacanya
tanggal 25. Padahal, hotel tersebut sudah amat
membutuhkan sandal. Keterlambatan respons
Koheri membuat stok sandal keburu habis.
Koheri pun membuat sandal dengan terburu
buru tanpa mengontrol apakah sesuai seperti
yang biasa dikirimkan ke hotel tersebut, yakni
sandal mengilat. Seribu enam ratus pasang
sandal pun segera dibuat dan dikirim.
Heri tidak menyadari bahwa sandal-sandal
tersebut berbeda warna dan tidak mengilat.
Alhasil hotel tersebut mengirimkan kembali
sandal-sandal Koheri karena dianggap tidak
sesuai pesanan. Selain kerugian biaya produksi,
Koheri juga menelan kerugian akibat
pengiriman barang kembali. Nama baiknya pun
dipertaruhkan. Kliennya bisa saja berpindah
hati ke perajin lainnya. “Ketika tidak memenuhi
kualitas, dampaknya di saya,” cetusnya. Sandal-
sandal tersebut juga tidak bisa dijual ke mana
pun, karena nama hotelnya sudah tercantum.
Pun, tidak bisa didaur ulang. Sebagai pengusaha
kecil dan pemula, kerugian yang didapatnya
kala itu cukup besar, Rp 5 juta.
Di luar faktor pengiriman dan kualitas, Koheri
juga belajar untuk memiliki mitra kerja yang tidak
membuatnya rugi. Meski banyak yang berminat
menjadi agen sandal, Koheri hanya memberi
porsi 20 persen. Sedangkan 80 persennya, Koheri
memasok langsung ke hotel dan rumah sakit.
Dia pernah mengalami pengalaman pahit
ditinggal kabur agen sandalnya pada tahun 2004.
Awalnya, orang tersebut yang mengajak bekerja
sama. Koheri pun diajak ke tempat tinggalnya,
sebuah kos-kosan di Bandung. Secara kasat
mata, orang tersebut tampak berduit, terlihat
dari mobilnya yang berganti-ganti. Koheri pun
menyediakan sandal untuknya. Pembayaran
dilakukan dengan bilyet giro, yang ternyata
kosong. Dua kali dikirim nota, tidak juga dibayar.
Ketika dicari di kosannya, orang tersebut telah
pergi.
Hampir setiap hari Koheri menelepon ke
Surabaya, yang membuat tagihan teleponnya
membengkak. Hingga pada suatu titik, Koheri
memutuskan untuk merelakannya. Namun
sejak itu, Koheri meninggalkan perasaan ‘tidak
enakan’ dalam berbisnis. Ketika ada orang baru
yang ingin menjadi agen dan minta disediakan
sandal, dia dengan tegas meminta pembayaran
lunas sebelum sandal dibuat.
“Saya enggak mau sistem DP. Kalau DP
separuh, setelah sandal jadi dan dikirim,
masih perlu mengirim tagihan lagi. Saya mau
pembayaran full dulu. Logikanya, ketika sandal
saya sudah jadi lalu dia cancel, sandal itu jadi
sampah. Saya enggak mau seperti itu terulang
lagi,” jelasnya. Namun, perlakuan itu hanya
khusus untuk agen. Sementara untuk customer
tetap, yakni pihak hotel dan rumah sakit, Koheri
menggunakan asas kepercayaan, mengingat
mereka adalah customer yang setiap bulannya
sudah pasti memesan sandal dalam jumlah besar.
NIKMATNYA MUSIM LIBURAN
Setiap bulan, rata-rata Koheri memproduksi 80
ribu pasang sandal untuk menyuplai ke seluruh
hotel dan rumah sakit yang menjadi kliennya,
juga agen-agen sandal. Namun angka produksi
ini bisa meningkat hingga 2-3 kali lipat ketika
liburan sekolah, tahun baru, dan Lebaran.
Di ketiga musim ‘hot’ tersebut, permintaan
dari hotel bisa meningkat. Yang biasanya
memesan seribu pasang, menjadi dua ribu
pasang sandal. Namun, di antara 3 musim ramai
tersebut, Lebaran-lah yang paling mendapat
perlakuan istimewa. Pasalnya, tenaga kerja
libur nyaris 2 minggu, sementara hotel malah
sedang ramai-ramainya dengan tamu. Belum
lagi, perusahaan ekspedisi pun libur sejak H-3
hingga H+3 hari raya.
Pada awal usahanya, Koheri pernah kelabakan
hingga mengirim barang sendiri ke
kliennya karena sudah tidak ada perusahaan
ekspedisi yang beroperasi menjelang Lebaran.
Hal tersebut dilakukannya demi menjaga
kliennya tidak berpindah ke lain hati. Padahal
ongkos untuk pengiriman saja sudah cukup
tinggi.
Belajar dari itu, Koheri mewanti-wanti
customer-nya bahwa batas waktu order adalah
3 minggu sebelum Lebaran. Barang dikirim
beberapa hari sebelum hari raya. Lewat dari
masa itu, order yang datang terpaksa ditolaknya.
Mau tidak mau, hotel akan mengikuti aturan
tersebut karena tidak berani mengambil risiko
kehabisan stok sandal saat pengunjung
melimpah. Sehingga jauh sebelum Lebaran,
persediaan sandal mereka sudah cukup hingga
beberapa minggu pasca-Lebaran.
Tapi, banyaknya permintaan saat musim liburan
itu tak lantas membuat Koheri menaikkan
harga jualnya. Meskipun di saat Lebaran harga
bahan pokok menjulang, dia tetap menerapkan
harga yang sama. Koheri menyadari sulit
baginya menaikkan harga sandal saat Lebaran,
mengingat bahan bakunya, spons, yang didapatnya
dari Tangerang pun harganya relatif
stabil. Hanya saat harga BBM naik, customer
akan memaklumi jika Koheri meningkatkan
harga sandalnya.
“Kalau beli gula, beli heras, menjelang
Lebaran kan harga naik. Kalau saya mah tetep.
Aneh gitu. Pengennya ngaruh dong, biar saya
juga rezekinya banyak,” ujarnya dengan logat
Sunda yang kental sambil tertawa. Namun
sepanjang 8 tahun usaha sandal ini, dia masih
mampu memenuhi permintaan. Jika kekurangan
modal, dia masih dibantu oleh bank bjb yang
sudah meminjaminya uang 3 kali, yakni Rp 25
juta pada tahun 2005, Rp 30 juta pada tahun
2007, dan terakhir Rp 40 juta.
Apalagi, persaingan tampaknya tidak
menjadi masalah. Usaha Koheri berada di
kawasan kotamadya, sementara perajin sandal
lainnya biasanya berada di kawasan kabupaten.
Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa Koheri
tidak punya pesaing yang berarti. Ia memiliki
akses yang jauh lebih besar untuk berhubungan
dengan hotel di mana pun. “Sengaja beda
sendiri,” imbuh pria berusia 45 tahun ini sambil
tergelak.
Pada prinsipnya, Koheri tidak pernah pilih
pilih, “Konsumen dari berbagai macam tingkat
hotel, dari mulai hotel bintang satu sampai lima
dan diamond, semua saya layani.” Bahkan beberapa
temannya menjadikan sandal buatan
Koheri sebagai oleh-oleh! Koheri menyikapinya
dengan santai. Selama ada peluang tersedia,
Koheri yakin akan terus memanfaatkannya.
MANAJEMEN USAHA
Namun, yang namanya usaha, tidak selalu berjalan
semanis harapan. Koheri kembali harus
menutup tempat usahanya pada tahun 2010 yang
diprotes warga sekitar karena bau lem yang menyeruak.
“Padahal saya kurang apa ya sama mereka?
Ketika saya bikin usaha di situ, anak muda
di sekelilingnya kan saya rekrut. Walaupun,
talentanya tidak ada. Dididik dulu,” tuturnya
heran.
Jadi, untuk sementara Koheri memproduksi
sandal-sandal di 3 rumah kecil miliknya. Koheri
masih mengincar daerah di pinggiran
Cirebon untuk menjadi tempat produksinya.
Dia beralasan, jika di pinggiran, bau lem
yang merebak saat pembuatan sandal tidak
akan mengganggu penduduk sekitar. Namun
tempatnya masih dalam pencarian, alias belum
ketemu.
Kesulitan mencari lokasi ini memang terkait
dengan idealisme Koheri untuk memberdayakan
masyarakat sekitar namun mereka tetap
tidak terganggu dengan proses produksinya.
“Kalau dapat seperti yang di Plered itu enak,”
ujarnya. “Tidak menimbulkan benturan dengan
masyarakat sekitar, mengingat di desa itu
masyarakatnya juga perajin sandal.”
Selain itu, dalam waktu sepuluh tahun mendatang
Koheri berharap sudah memiliki pabrik
sendiri, lengkap dengan kantor berkaca di atasnya,
sehingga mudah mengawasi proses produksi secara langsung.
Dengan jumlah karyawan sekitar 30 orang—
per orangnya bisa memproduksi 3 ribu pasang
sandal per harinya—Koheri ingin agar produknya
bisa menjelajah pasar yang lebih luas lagi. Baru
baru ini, dia sudah berhubungan dengan calon
klien dari Singapura yang meminta sampel dan
mock up. Sayangnya, hingga saat ini Koheri
belum mendapat tanggapan positif. Selain itu,
Koheri juga ingin menjelajah pasar yang lebih
besar, yakni Timur Tengah.
Terkait masalah tenaga kerja, kedepannya
Koheri berencana memiliki karyawan profesional
seperti kepala pabrik dan akuntan.
Namun, penggunaan tenaga profesional masih
harus dilihat dari kemampuan produksi dan
pemasukan keuangan. Untuk saat ini, dengan
kondisi tempat usaha dan permodalan yang ada,
menggunakan tenaga profesional hanya akan
menambah beban biaya produksi. Oleh sebab
itu semua pekerjaan—mulai dari pengawasan
produksi, penggajian karyawan, penagihan,
hingga penawaran produk—masih dilakukan
sendiri oleh Koheri dan istrinya.
Koheri mengaku saat ini belum bisa
memercayakan orang luar untuk mengurus manajemen
usahanya karena khawatir ditipu. “Banyak
kejadian begitu manajemen diserahkan kepada
orang luar, pengawasan oleh pemiliknya masih
lemah, sehingga banyak terjadi penipuan,”
tuturnya. Dengan mengerjakan sendiri, Koheri
mengaku kadang terjadi perselisihan dengan
istri, meskipun tidak pernah besar. “Paling
sekadar masalah salah pesan atau salah
membeli,” ujarnya sambil tertawa.
Sementara untuk buruh kasar, Koheri
mempekerjakan orang-orang di sekitar lokasi
usahanya yang dipilih berdasarkan kekerabatan
dengan orang yang telah bekerja sebelumnya.
Koheri menyerahkan urusan pelatihan
keterampilan karyawan baru pada orang yang
membawanya, sebab kebanyakan dari mereka
sama sekali belum memiliki keterampilan.
Biasanya, mereka akan menjadi terampil setelah
bekerja selama satu hingga tiga bulan.
Namun untuk kesetiaan pegawainya, Koheri
merasa tidak memiliki jaminan. Bukan saja
dibajak oleh perajin lain setelah memiliki
keterampilan, karyawan yang pergi pun kadang
mencuri informasi tentang pemesanan sandal.
Padahal, persaingan di antara sesama produsen
sandal hotel sangat ketat, hingga masing-masing
produsen menyembunyikan dengan baik siapa
saja pelanggan yang mereka miliki. Maka,
ketika karyawan dibajak, info penting pun bisa
berpindah tangan. “Beberapa kali tiba-tiba
pelanggan membagi dua pesanan, satu kepada
kita, satu lagi kepada saingan yang membajak
karyawan kita itu,” ujar Koheri prihatin.
Jika karyawan sudah terampil, sebenarnya
menurut Koheri tidak ada masalah lagi.
Dalam bisnisnya, inovasi produk tidak terlalu
dibutuhkan, sebab konsumen sudah mempunyai
bentuk standar masing-masing. Bagi
Koheri, yang lebih penting adalah menekan
biaya produksi serendah-rendahnya yang
dapat dicapai dengan membuat produk dalam
kuantitas sebanyak-banyaknya.
Pembayaran honor pekerjanya dilakukan
setiap akhir minggu mengikuti tradisi upah
mingguan yang berlaku dalam industri ini.
Mungkin itulah penyebab turunnya
produktivitas pada setiap Senin, karena karyawan
masih terbawa suasana libur hari Minggu
sehingga hari Senin kurang semangat bekerja.
“Mereka masuk semaunya dan jam kerja
diabaikan,” kisahnya. Untuk mengatasi masalah
tersebut, Koheri menggunakan sistem borongan,
yaitu memperpanjang jam kerja hari
Sabtu. Koheri memberi insentif lebih untuk
setiap kelebihan produksi yang mereka hasilkan
pada hari Sabtu, sehingga kekurangan pada hari
Senin dapat tertutupi.
Dia berkeyakinan, bisnis sandalnya masih
menjanjikan dan terbuka lebar untuk
menyentuh seluruh hotel maupun rumah sakit
di Indonesia. “Modal berapa pun masuk, pasti
habis. Begini, pasar kita ke nasional masih
terbuka luas. Sekarang modal saya sudah di atas
Rp loo juta. Ketika saya punya modal di atas Rp
200 juta-300 juta, jelas dong lebih lebar, lebih
luas. Ngisi ke hotelnya lebih banyak,” ujarnya
yakin.
Koheri mengaku kini sedang menikmati
jadi pengusaha dengan omzet Rp 100 juta
per bulan, ketimbang kala menjadi pegawai.
Menurutnya, dialah yang menentukan besaran
gajinya sendiri. Apalagi keuntungan usahanya
mencapai 10-15 persen dari omzetnya per bulan.
“Jadi pengusaha itu, gaji kita tetapkan sendiri,
saya pengen targetnya mau gaji berapa, Rp
10 juta, targetnya sekian,” cerita bapak 4 anak
yang ditemui di rumahnya di Taman Indah,
Kecamatan Harjamukti, Cirebon, dengan bangga.
Catatan Rhenald Kasali
USAHA KECIL ADALAH usaha pemula yang menggantungkan keberhasi1annya pada
diri Anda sendiri. Andalah yang menentukan usaha ini berhasil atau tidak,
menjadi besar atau tetap kecil, berputar atau teronggok mati.
Usaha kecil serba terbatas: modal tarbatas, karyawan sadikit, lokasi
barpindah-pindah, dan seterusnya.
Namun saat Anda memulai usaha dalam nuansa ‘penuh keterbatasan’ itulah Anda
merasakan ‘berkelebihan’. Anda menjadi lebih efisien lebih berhati-hati,
dan lebih teliti. Berbeda benar dengan usaha yahg bisa langsung
mempekerjakan banyak orang dengan space yang luas. Anda dapat lihat
sendiri, orang banyak mengangur dan tidak produktif. Jadi, tetaplah
produktìf meski penuh keterbatasan.
Supaya usaha Anda tidak stagnan maka Anda harus punya keberanian, untuk
berubah. Berubah atau mendiamkan terbawa arus gejolak jiwa adalah suatu
pilihan. Hidup hari ini seperti kemarin atau hari ini lebih baik
daripada kemarin. Anda sendiri yang memilihnya, Banyak orang memilih hidup
yang stagnan sehingga masalah yang dihadapi dari hari ke hari tetap sama.
Sulitnya tetap sama. Rezekinya pun tetap sama.
Padahal masalah yang Anda hadapi adalah ancaman bagi keberlangsungan usaha
Anda, namun peluang bagi mereka yang mau memperbaikinya. Orang-orang yang
melihat bagaimana cara kerja Anda akan memukul Anda dengan cara-cara yang
lebih efisien dan 1ebih modern.
Oleh karena itu janganlah tanggung-tanggung dalam berusaha. Anda hanya
punya dua pilihan menjadi pengusaha biasa-biasa saja, sekadar menumpang
hidup, atau menjadi pengusaha luar blasa. Pengusaha luar biasa tidak
berusaha yang tanggung-tanggung. Tutup semua kekurangan dengan menunda
kesempatan hidup bermewah-mewah dan memperbesar investasi, baik dalam fisik
(bangunan) maupun nonfisik (citra usaha, sistem, keterampi1an
karyawan, hubungan jangka panjang, dan seterusnya).
Perhatikanlah pengusaha-pengusaha mikro dalam buku ini. Di antara mereka
ada yang sudah berpikir jauh ke depan, namun juga ada yang masih
terbelenggu masalah rutin yang sama sepanjang hari. Sekali lagi, Anda bebas
memilih.
Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun: Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012
Iyus Rohana, Pemuda Sukses Lewat Usaha Penyedia Berbagai Kebutuhan Petani dengan Omzet Usaha Rp 750 Juta/Bulan
Iyus Rohana Chandra, Menjadi Sahabat Para Tani
Berlokasi di lereng Pegunungan
Patuha, perjalanan UD Sahabat
Tani, membuktikan bahwa di desa
pun terdapat pemuda yang mampu
berkembang menjadi wirausaha
tangguh.
SEBAGAIMANA kisah kuno dari negeri
Cina tentang nasib manusia, Iyus Rohana
Chandra juga percaya bahwa tak ada
yang tahu nasib baik atau buruk seseorang.
Termasuk ketika pada suatu hari pamannya
memanggil Iyus untuk mendiskusikan hal
yang sangat serius. Di ujung pembicaraan, ia
menyatakan ingin mundur dan menyerahkan
usaha turun-temurun yang dirintis sang Kakek
ke tangannya.
“Saat itu Paman nggak bicara banyak soal
alasannya. Beliau hanya bilang akan beralih ke
agrobisnis,” kenang Iyus. Mendengar keputusan
paman, Iyus mengaku sangat terkejut, tapi ia
juga merasa bangga karena sang Paman percaya
padanya. “Cuma waktu itu saya enggak bisa
bilang apa-apa kecuali bersedia,” tambahnya.
Diserahi usaha yang membutuhkan tanggung
jawab besar, Iyus mengaku bahwa yang
terpenting usahanya dapat berjalan dengan lancar.
“Masalahnya, bisa nggak bisa, kan usaha ini
Harus jalan,” katanya sambil terkekeh, “Pokoknya
saya jalan saja dulu sesuai kebiasaan yang sudah
ada. Saya hanya berusaha menjalaninya dengan
sebaik-baiknya.”
Ternyata di tangannya, UD Sahabat Tani
berkembang dengan baik. Dan, setelah sepuluh
tahun, ia berhasil membuka cabang pertama
di Pasir Jambu, tahun 2003. Pengelolaannya
diserahkan kepada Dadang Ahmad Zakaria,
salah satu pamannya juga.
Setelah berhasil membuka satu cabang,
perkembangan UD Sahabat Tani tak terhentikan.
Dua tahun kemudian UD Sahabat Tani membuka
satu cabang lagi di Pasar Ciwidey, Kecamatan
Ciwidey. Cabang ini dikelola oleh salah seorang
saudara Iyus yang sebelumnya telah menjadi
karyawan. Secara tidak langsung Iyus mulai
menjadikan usahanya sebagai lahan pengaderan
calon pemimpin.
Dua tahun setelah cabang pertama dibuka,
UD Sahabat Tani kembali membuka 2 cabang
baru di Kecamatan Rancabali. Kemudian Iyus
membuka 1 cabang lagi di Kecamatan Ciwidey.
Dengan demikian hingga tahun 2011, UD Sahabat
Tani memiliki lima cabang.
FENOMENAL DARI LERENG PATUHA
Ayah dua anak ini menjalani tiga jenis usaha
sekaligus: penyedia berbagai kebutuhan petani
seperti benih, pupuk, dan obat-obatan; pemasok
stroberi dan kentang ke beberapa jaringan
ritel dan pusat belanja modern; serta pemilik
showroom sepeda motor.
Iyus memang bukan pemain baru di dunia
usaha. Sejak berumur belasan tahun dia telah
belajar berbisnis dari kakeknya yang juga seorang
pengusaha, Eman Sulaeman. Iyus mengenal
dan menguasai secara detail seluk-beluk bisnis
yang berkaitan dengan kebutuhan petani, mulai
dari pengambilan bahan, penataan, pemasaran,
hingga penagihan dan pembukuan.
Setelah Eman mundur, usaha tersebut diserahkan
kepada paman Iyus, Rahmat Suherman.
Meskipun berpindah tangan, pengelolaan usaha
ini tetap memerlukan tenaga Iyus. Sebab hanya
Iyus-lah yang menguasai hampir semua sisi,
dari pemasok sampai konsumen.
Namun, ketika lulus SMA Iyus sempat berpikir
untuk meninggalkannya dan melanjutkan
kuliah ke sebuah perguruan tinggi di Bandung.
Anehnya, belum lama menjalani kuliah,
Iyus sudah merasa bosan. “Mungkin karena
terbiasa pegang uang, saya merasa kuliah
menjadi tidak menarik. Saya merasa kuliah
seperti sia-sia karena enggak menghasilkan uang,”
kata Iyus. Melalui pertimbangan matang, akhirnya
Iyus memilih ‘cabut’ dan kembali bekerja.
Hanya saja, Iyus enggan kembali ke ‘pangkuan’ sang Paman.
Ia ingin mencari uang sendiri dan mandiri.
Keinginannya pun terkabul. Ia diterima di sebuah bengkel
sepeda motor. Namun ia hanya bertahan selama enam bulan.
Suami Mega Puspitasari, S.Pd. yang berprofesi sebagai
guru di SMAN Margahayu ini merasa
tak betah menjadi karyawan orang lain. Ia pun hengkang.
Iyus lalu menjalani usaha penjualan pulsa. Sayangnya
bisnis pulsa tersebut juga tak berkembang. Ia pun berhenti.
Karena merasa ‘mentok’, tahun
1990 Iyus kembali ke ‘pangkuan’ sang Paman.
Ternyata hokinya memang ada di dunia pertanian.
Selanjutnya, tak perlu banyak
belajar lagi, Iyus menguasai rantai usaha pertanian.
PENGALAMAN, PERGAULAN, DAN PELATIHAN
Sejak ditangani Iyus, pendapatan Sahabat Tani tak hanya berasal
dari penjualan kebutuhan petani, tetapi juga dari bidang usaha
lain. Iyus mengembangkan Sahabat Tani sebagai ‘lembaga
permodalan’ bagi petani yang ingin bergerak di bidang sayur
mayur dan buah-buahan, khususnya stroberi. “Tapi sejak awal
saya hanya berani memodali petani kalau pasar sudah ditemukan.
Setelah ketemu pasar baru berani,” katanya, “itu pun, petaninya
harus memiliki lahan dan tenaga.”
Dari mana Iyus memperoleh ilmu bisnis seperti itu? Menurutnya,
hal tersebut diperolehnya dari pengalaman, pergaulan,
dan pelatihan yang diselenggarakan oleh pemasok kebutuhan
sarana pertanian yang merupakan kepanjangan tangan produsen.
Mereka kerap menyelenggarakan berbagai jenis pelatihan untuk
para agen kebutuhan pertanian agar konsumen memahami
pertanian modern. Dengan cara itu produsen memiliki pasar
sekaligus agen bagi berbagai produk yang mereka hasilkan,
mulai dari bibit, obat-obatan hingga berbagai sarana
pertanian. “Setahun kami bisa dapat pelatihan sampai empat
kali,” katanya. Iyus memiliki kelebihan
pada cara menemukan pasar dan mempertahankan petani.
Salah satu yang dia lakukan
ialah melayani kebutuhan para petani dengan sebaik-baiknya
dan memperpendek jarak lokasi.
Untuk memenuhi kebutuhan jarak tersebut, diperlukan
waktu dua tahun sebelum memutuskan untuk membuka cabang.
Selain mempersiapkan lahan, Iyus harus menganalisis
pasarnya terlebih dahulu, mencari informasi mengenai
pesaing dan kebutuhan petani di lokasi tersebut.
“Sebelum pasarnya jelas, kami belum berani membuka cabang.
Kalau sudah yakin sebuah lokasi bisa menjadi pasar baru,
kami akan membukanya. Dibukanya cabang baru ini juga
mengurangi berbagai biaya yang
dikeluarkan Sahabat Tani karena selama ini memberikan layanan
gratis untuk mengangkut belanjaan pelanggan,” paparnya.
Namun, sebelum membuka usaha permodalan petani, Iyus
terlebih dahulu bermitra dalam usaha pemasaran kentang untuk
jaringan ritel modern di Jakarta. Kemitraan itu ternyata berjalan
dengan baik, bisnis pemasokan kentang pun berhasil. Usaha
kentang ini kemudian membawanya memasuki usaha pemasaran
stroberi.
“Setelah kedua usaha itu jalan, saya baru berani megang
petani dan memodali mereka,” ujarnya. Saat ini seluruh usahanya
berkembang, ia bukan hanya menjadi penyedia kebutuhan
sarana pertanian, tetapi juga pengusaha kentang dan stroberi, dan
lembaga permodalan untuk petani.
Iyus yang menggemari sepakbola dan sepeda motor,
menggunakan hobinya untuk menciptakan pasar dan pengaruhnya.
Tak jarang Sahabat Tani tampil sebagai sponsor pertandingan
sepakbola di kalangan petani agar dia bisa menjaga silaturahmi
dengan para pelanggan dan petani yang belum menjadi pelanggannya.
MENGELOLA USAHA DAN KARYAWAN
Seiring dengan perkembangan usaha, Iyus meningkatkan
tata cara pengelolaan Sahabat Tani. “Meskipun demikian
saya memberikan kepercayaan penuh kepada saudara-saudara
saya untuk mengembangkan cabang yang mereka
pegang,” katanya. Untuk urusan pembukuan,
Iyus menyerahkan masalah keuangan kepada karyawan yang
paling berkompeten. Demikian pula untuk pembelian dan
pengiriman barang. “Saya ingin semua yang bekerja dan
bermitra dengan Sahabat Tani sama-sama berkembang,” katanya.
Menurutnya, menangani karyawan bukan hal yang mudah
karena masing-masing orang memiiki watak, kemampuan,
dan cara menghadapi kondisi yang berbeda-beda. “Kalau
yang perempuan umumnya cepat menikah lalu pergi. Padahal
untuk bekerja di bidang pembukuan mereka lebih teliti daripada
karyawan laki-laki,” kata Iyus yang mengaku pembukuannya
masih konvensional. “Kami belum pakai sistem akuntansi modern.
Toh, ini bukan perusahaan besar di kota,” ujarnya enteng.
Dalam menerima karyawan baru, Iyus lebih memilih orang
luar daripada keluarga. Menurutnya bekerja dengan anggota
keluarga sendiri berpotensi sulit mengambil tindakan tegas.
“Kalau keluarga, akan ada rasa nggak enakan,” akunya. Selama
ini UD Sahabat Tani masih mempekerjakan karyawan lama dan
belum menerima karyawan baru. “Karyawan baru diterima ketika
kami membuka cabang baru,” katanya. Itu pun tanpa proses
yang rumit. Bagi Iyus, siapa pun yang mau kerja, bisa bergabung
dengannya.
Dengan cara demikian, Iyus mengaku hubungan antar
karyawan sudah terbangun seperti keluarga.
“Kami melakukan berbagai cara—mulai
dari arisan sampai jalan-jalan—agar selalu akrab. Tapi
saya juga membuat peraturan yang jelas dan sanksi yang
tegas bagi karyawan yang melanggar,” katanya. Karenanya,
walau banyak pesaing, karyawan UD Sahabat Tani
tetap setia. Hal yang sama juga berlaku
di setiap cabang. Namun, terhadap pengelola cabang Iyus
mengenakan peraturan yang sedikit berbeda, karena
pengaruh besarnya upah yang diberikan. Sementara untuk
pembagian keuntungan, cabang diwajibkan menyetor
60% untuk pusat.
Hubungan baik juga dia lakukan dengan pelanggan maupun
nasabahnya. Iyus bahkan mencoba untuk mengikat
hubungan dengan mereka. Pertama, memberikan diskon dan
pelayanan antar barang. Kedua, menggunakan
klub sepakbola yang didirikan sebagai sarana
promosi dan menjalin kesetiaan. “Selain untuk
alat promosi, ya untuk mengikat mereka. Yang
jadi anggota klub akan mendapatkan berbagai
prioritas dan kemudahan,” katanya.
BANTUAN KREDIT USAHA KECIL
Iyus paham bahwa bisnisnya berada di daerah
rawan bencana. Bahkan akibat sedikit tindakan
gegabah saja bencana mudah terjadi. Petani
Rancabali tinggal di lereng pegunungan yang
sebagian besar merupakan wilayah yang terkena
proyek reboisasi. Oleh sebab itu, Iyus selalu
bersikap hati-hati dalam bertindak. Bahkan dia
tak henti-hentinya mengajak para petani untuk
melakukan penghijauan.
Sebagai pelaku usaha, ia mengaku sering
dituntun oleh intuisi dalam membuat keputusan,
terutama jika di depan matanya terhampar
peluang. Contohnya, ketika Iyus menemukan
lahan yang dianggapnya potensial sebagai tempat
penanaman sayur-mayur dan stroberi
di Kecamatan Rancabali. Para petani pun
mendukung pemikiran tersebut, karena dengan
dibukanya lahan baru tersebut, mereka akan
mendapatkan pekerjaan tambahan. Meskipun
harus memulai dengan modal besar, dari proyek
ini Sahabat Tani memperoleh keuntungan yang
signifikan.
Namun, tidak berbeda dan usaha lainnya,
UD Sahabat Tani sempat mengalami kerugian.
Pada tahun 2007, misalnya, Perhutani menutup
lahan garapan petani yang dimodali Iyus karena
adanya kecemburuan sosial di antara para
petani. Pesaing menuding Iyus dan kelompok
taninya telah melanggar batas wilayah tertutup.
Mereka berdemo ke Perhutani. Akibatnya lahan
kami ikut ditutup,” jelas Iyus. Penutupan lahan
ini mengakibatkan 50% modal dan aset Sahabat
Tani melayang. “Kalau diuangkan nilainya mencapai
Rp 600 jutaan,” katanya.
Setelah menderita kerugian seperti itu, Iyus
langsung mencari solusi. Satu-satunya jalan
yang bisa mengatasinya adalah peminjaman dari
bank. Tetapi dari sejumlah bank yang ‘dilamar’nya,
hanya bank bjb yang mampu melihat
kekuatan usaha Iyus dan bersedia memberikan
bantuan. Setelah pinjaman modal sebesar Rp
250 juta dari bank bjb cair, Iyus bergerak lagi.
“Suntikan modal dari bank bjb itu membuat
Sahabat Tani bangkit lagi. Hanya dalam waktu
dua tahun pinjaman itu lunas,” katanya. Ia juga
merasa beruntung karena saat itu produsen
yang memasok obat-obatan juga memberikan
keringanan dalam bentuk kredit. “Kami boleh
mengambil duluan kebutuhan yang akan dijual,
bayarnya dua bulan di depan,” kenangnya.
Belum lagi pulih benar, tahun 2009 Sahabat
Tani harus menghadapi musim yang buruk.
Akibatnya beberapa proyek yang dibiayai
Sahabat Tani hancur dan jatuh lagi. Kerugian
yang dialaminya diperkirakan mencapai 30%
dari seluruh modal usaha. Mau tak mau Iyus
kembali pada bank bjb untuk mengajukan
pinjaman modal lagi.
Jika ditanyakan mengapa Iyus selalu kembali
ke bank bjb, menurut Iyus, alasannya
sederhana saja. Berdasarkan pengalamannya,
sistem pengembalian pinjaman dari bank lain
cukup memberatkannya. Iyus merasa berjodoh
dan menyebut bank bjb sebagai bank yang baik
dan terbuka. Terutama ketika Iyus berada dalam
keadaan terpojok, hanya bank bjb yang bersedia
membuka diri untuk meminjamkan modal.
“Saya merasa berjodoh dengan bank bjb.
Bahkan selama bersama bank bjb rasanya saya
seperti mendapat hoki,” katanya. Ia mengakui
pelayanan komunikasi dan informasi yang
diberikan bank bjb cukup lancar dan cepat
sampai ke nasabah. “Dengan HP-pun, bank
bjb mau melayani nasabah seperti kami.
Pelayanan informasinya juga bagus, selain itu juga
ada pendekatan yang membuat saya merasa
dimanusiakan,” kenangnya.
BISNIS KETIGA
Tahun 2010 kegiatan bisnis Sahabat Tani kembali
berjalan lancar. Iyus mulai kembali berani
melakukan diversifikasi usaha. Sebagai orang
yang memiliki hobi otomotif, Iyus mendirikan
showroom Yamaha yang diawali dengan membuka
bengkel. “Ini sebenarnya untuk menyalurkan bakat.
Waktu remaja, saya senang ngetrek, tapi
cita-cita mendirikan bengkel yang
merangkap showroom, belum kesampaian. Saya
rasa, saat itu saya bisa melakukannya,” katanya
Menjalani tiga bidang usaha sekaligus,
betapa repotnya! Tapi, itulah Iyus. “Saya hanya
terus berusaha untuk bisa maju. Apa yang bisa
saya jalankan akan saya kerjakan, terutama
kalau saya yakin bahwa hal tersebut bisa maju
dan bermanfaat bagi banyak orang,” katanya.
Dari seluruh usahanya itu Iyus mampu meraup
omzet antara Rp 500 juta sampai dengan
Rp 750 juta per bulan. Kini UD Sahabat Tani
yang beralamatkan di Jalan Perkebunan Patuha,
Kampung Cikoneng, Desa Alamendah,
Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung
menjadi mitra tetap bagi petani serta mereka
yang memerlukan pasokan kentang dan stroberinya.
Sampai saat ini Sahabat Tani masih dibantu
pinjaman dari bank bjb. Dengan melakukan
perluasan lahan garapan sedikit demi sedikit,
Sahabat Tani mampu membayar bunga cicilan
setiap bulannya dan melunasi pinjaman pokok
tepat waktu. Iyus berharap dengan melakukan
perluasan lahan, modal dapat terkumpul
sehingga dalam jangka waktu 5-10 tahun ke depan,
ia mampu membuat usahanya mandiri.
IMPIAN SANG LEGENDA
Sebagaimana orang desa, Iyus belum banyak
memanfaatkan teknologi modern dan hanya
paham sedikit tentang internet. Sementara
untuk teknologi pertanian, Iyus masih
mempelajarinya. Ia pernah menggunakan tenaga ahli
dan produksinya meningkat, tetapi biayanya
tidaklah kecil. Akhirnya tidak diteruskan.
Bak jago silat dari lereng gunung, setelah
mengembara ke luar, Iyus tampil sebagai
wirausaha yang tangguh. “Saya beruntung tumbuh
dalam keluarga yang menjalani usaha. Saya
mensyukuri nikmat dengan menjalani usaha
ini sebaik-baiknya. Saya hanya berusaha
menangkap peluang kemudian menjalaninya
dengan sebaik-baiknya,” katanya.
Namun, Iyus juga mengemukakan refleksinya
tentang nasib kaum tani di Indonesia
yang terus termaginalkan. Menurutnya, kalau
Indonesia benar-benar ingin petaninya maju,
maka harus ada perhatian yang nyata. “Selama
bermitra dengan petani, saya tidak menemukan
satu pun petani yang malas. Semuanya pekerja
keras, tapi mereka tidak punya akses. Selama ini
mereka enggak tahu jalan untuk mendapatkan
modal dan keperluan lain untuk bisa maju, juga
tak banyak yang menolong mereka. Saya hanya
mencoba mengisi kekosongan ini sebisa saya,”
katanya.
Iyus menjelaskan, ke depan ia akan mengembangkan
UD Sahabat Tani sebagaimana
namanya: benar-benar menjadi sahabat bagi
para petani. Dia ingin mengembangkan pola
yang sudah ada menjadi lebih modern, baik
untuk urusan jual-beli kebutuhan sarana
pertanian maupun lembaga permodalan bagi
kaum tani.
“Kami semua lahir dan tumbuh di sini. Kami
tidak akan jadi apa-apa kalau hanya tergantung
pada alam dan keadaan. Pengalaman telah
mengajarkan bahwa kita tidak boleh berhenti
belajar. Jelas banyak yang masih harus kami
pelajari supaya kami bisa lebih maju,” demikian
jelasnya.
Catatan Rhenald Kasali
KESULITAN YANG DIHADAPI para petani pasca reformasi adalah riil. Petani di
era ini bukan lagi menjadi subjek pambangunan industri pangan nasional
melainkan hanya diadikan objek. Saluran irigasi banyak yang rusak
air terkontaminasi sampah dan bahan-bahan berbahaya, pupuk menjadi
permainan para politisi, harga pokok bahan-bahan penopang lebih mahal
daripada harga jual output-nya, modal sulit didapat dan penyuluh-penyuluh
pertanian menghilang entah ke mana.
Maka tak mengherankan bila samakin hari semakin sedikit orang yang berminat
menjadi petani. Anak-anak meraka memilih menjual lahannya ketimbang
meneruskannya. Akibatnya pertanian Indonesia makin terpuruk,
digantikan oleh property dan Pilkada. Dan, kelak Indonesia akan kesulitan
pangan. Kasulitan? Bukankah “kesulitan” adalah urusannya wirausaha?
Benar! Seorang wirausaha mengubah masalah menjadi peluang. Jadi masalah
adalah peluang. Terbayang sekarang ada jutaan peluang di sektor partanian
mulai dari soal benih, pupuk alternatif, logistik, pengolahan (off
farming), permodalan, fasilitas pertanian, pengetahuan, lahan dan
seterusnya. Ini berarti dibutuhkan kreativitas dan kejelian membaca peluang
Melihat saja tidak cukup. Untuk menangkap peiuang ini Anda harus menjadi
“sahabat” petani dalam arti yang sesungguhnya menyelami masalah dan hidup
di tengah-tengah mereka.
Selebihnya action. Betul, dibutuhkan action, ringan tangan untuk bargerak
Sebab masalahnya begitu kompleks, sehingga menggunakan tabel cost-benefit
saja bisa membuat seorang wirausaha mengurungkan niatnya berpartisipasi.
Terlalu banyak cost ketimbang benefít-nya Tetapi itu terjadi bila Anda
menggunakan paradigma yang lama. Anda perlu bertindak untuk mengubahnya,
menciptakan sistem atau cara baru, bahkan produk-produk baru yang cost-nya
lebih rendah. Sebab masalah di sektor pertanian adalah masalah cost. Dan
ini berarti butuh inovasi.
UD Sahabat Tani saja berhasil menangkap peluang dalam skala dasa. Ia baru
menjadi sahabat belum menjadi inovator. Bayangkan apa jadinya usaha yang
digeluti Iyus Rohana Candra dan keluarga besarnya di lereng Gunung
Patuha, andaikan ia juga seorang inovator? Saya bayangkan UD Sahabat Tani
menjadi sebuah gerakan usaha yang besar, yang didukung dengan tenaga-tenaga
ahli dan relawan-relawan muda dari berbagai kampus, dengan puluhan truk
pengangkut benih dan hasil pertanian yang sibuk. Saya bayangkan UD Sahabat
Tani menjadi koperasi simpan pinjam atau lembaga keuangan mikro yang
tangguh.
Kuncinya hanya satu bagaimana mengubah sejuta masalah itu menjadi
kesempatan emas agar para petani kembali menjadi subjek, menjadi pahlawan.
Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun: Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012
Herizal, Tokonya sempat Hancur Diterjang Bencana Tsunami, Kini Bangkit dan Sukses Lewat Bisnis Celana Jeans
Terlahir dari keluarga pegawai tidak menyurutkan
langkah Heri, panggilan akrab Herizal Yuliansyah,
untuk terjun berwirausaha. Walaupun sebetulnya
kesempatan untuk masuk dalam birokrasi cukup
terbuka, tetapi dia tidak mau memanfaatkannya.
Heri lebih memilih jalan yang dirintisnya sendiri. Dia
memutuskan untuk terjun dalam dunia bisnis dan
perdagangan. ‘Saya ingin bebas berkreasi. Saya
ingin bebas melakukan apa yang ingin saya kerjakan
hari ini, ujar lajang kelahiran 1973 ini.
Kiprah Heri dalam dunia bisnis sebetulnya sudah
dirintis sejak lama. Ketika masih kuliah di
Yogyakarta, dia sering berbelanja batik di Pasar
Beringharjo. Di samping untuk hadiah para
kerabatnya, dia juga membelinya untuk dijual
kembali di luar daerah. Paling sering dia mengirim
batik tersebut ke kerabatnya di Banda Aceh yang
mempunyai sebuah toko grosir pakaian di sana.
Waktu itu usaha tersebut memang sekadar buat
iseng belaka. Namun, semangat untuk menghasilkan
nilai tambah dari yang dilakukannya sudah tampak
ketika dia menjalankan bisnis sambilan tersebut.
‘Saya sering mendapat pesanan drin saudara
saya di Aceh untuk dicarikan produk khas
Yogyakarta, biasanya saya langsung mencarinya ke
Pasar Beringharjo atau sentra produksi Iainnya,
ujarnya mengenang.
Seusai kuliah, di saat teman-temannya sibuk
mencari pekerjaan, Heri justru membantu pamannya
yang menjadi rekanan beberapa lembaga
pemerintah di Jakarta. Pekerjaannya mulai dari
mengurus surat-menyurat, melobi, mencari barang
yang dipesan customer, sampai mengawasi para
tukang yang ada di lapangan. Yang pasti semua
pekerjaan rekanan dari A sampai Z dia mau melakukannnya.
‘Saya ingin cepat belajar. Saya berharap suatu
saat saya bisa berdiri sendiri, cetusnya dengan
nada optimis.
Semenjak bergabung dalam bisnis tersebut,
banyak pengetahuan dan pengalaman yang
didapatnya. Heri belajar bagaimana rumitnya
berhubungan dengan birokrasi pemerintahan. Dia
juga belajar bersabar dalam menghadapi persaingan
yang semakin ketat di bisnis rekanan. Jaringan
supplier untuk beberapa produk tertentu juga mulai
dikenalnya. Pengalaman dan pengetahuan yang
didapat begitu berharga di matanya.
Pekerjaan yang pernah ditanganinya sebagai
rekanan sangat bervariasi. Mulai dari pengadaan
komputer, alat tulis kantor, servis AC hingga
renovasi ruangan di gedung milik pemerintah.
Awalnya nilai proyek yang ditanganinya tidak terlalu
besar. Pamannya sengaja memberikan kepercayaan
dari proyek yang bernilai di bawah RplOO juta dulu.
Setelah berhasil menangani berbagai pekerjaan
yang diamanahkan kepadanya, kepercayaan
customer mulai terbangun. Dia pun diberi amanah
untuk menyelesaikan pekerjaan yang nilainya lebih
besar. Salah satu proyek yang cukup besar nilainya
adalah, ketika dia mendapatkan kepercayaan untuk
menangani renovasi anjungan Aceh di Taman Mini
Indonesia Indah, Jakarta.
Berbekal pengalaman sekian tahun di bisnis
rekanan, Heri memberanikan untuk mendirikan
perusahaan sendiri. Tentu saja hal ini membuat
pamannya sangat senang. Sejak awal dia memang
ingin mendidik Heri agar suatu saat bisa mengelola
perusahaan sendiri.
Dengan bendera barunya, Heri mulai mengembangkan sayap.
Wilayah yang digarapnya juga
tidak lagi terbatas pada pekerjaan dari lembaga
milik negara atau pemerintah. Dia juga tidak
segan-segan bermitra dengan teman, jika
pekerjaan yang didapat membutuhkan modal yang
sangat besar.
Menangani sebuah proyek besar dengan beberapa mitra
ternyata tidak mudah. Banyak hal
terjadi di luar perhitungan rasionalnya. Di sinilah
biasanya kepercayaan antar anggota dalam tim
diuji. Keuntungan yang besar, kadangkala justru
membuat tim yang sejak awal cukup solid membuat
tercerai berai karena nafsu keserakahan. Beberapa
mitranya pernah tidak menepati janji soal
pembagian keuntungan. Bahkan, ada juga yang
berani memakai dana bersama untuk kepentingan
bisnisnya sendiri. Saat dana itu dibutuhkan, dana
tersebut tidak bisa ditarik karena sedang diputar di
bisnis lainnya. Ada juga beberapa rekanan yang
suka menelikung dari belakang.
“Sikut-menyikut dalam bisnis ini ternyata tidak
bisa terelakkan. Apalagi kalau nilai proyek sangat
besar, ungkap bungsu dari tiga bersaudara ini.
Perjalanan waktu ternyata justru mengarahkan
Heri untuk tidak semakin tertarik dengan bisnis yang
dijalaninya. Setelah berkonsultasi dan minta
pertimbangan pamannya, akhirnya dia memutuskan
untuk mengundurkan dari bisnis rekanan ini.
Entahlah, hati saya semakin merasa tidak nyaman
di bisnis ini, jawabnya lirih ketika ditanya
mengenai alasan utamanya.
Tidak tahan berdiam diri terlalu lama, Heri
segera mengeksplorasi berbagai peluang bisnis yang
bisa dijalaninya. Dia terus menggali, value apa yang
bisa diberikan dalam bisnisnya nanti. Dia juga
melakukan survei ke beberapa kota. Setelah
melakukan pengamatan yang mendalam dan
mempertimbangkan berbagai faktor, akhirnya dia
memutuskan untuk membuka toko busana khusus
pria. Lokasi yang dipilihnya bukan lagi di Jakarta,
melainkan di Banda Aceh, tempat kelahiran
orangtuanya. Walaupun lahir di Jakarta, tetapi Heri
sangat familier dengan daerah Aceh, karena dia
sering berkunjung ke sana untuk menengok kerabatnya.
Pada 2003, toko yang diberi nama Fokus akhirnya dibuka.
Toko tersebut menempati ruko di pusat
perdagangan Peunayong, Banda Aceh. Lantai dasar
dipergunakannya sebagai showroom, lantai dua
untuk gudang stock, sementara lantai tiga untuk
tempat tinggalnya selama berada di Banda Aceh.
Konsep toko yang diusungnya boleh dibilang
cukup unik. Hal ini sengaja dilakukannya untuk
membedakan dengan toko yang sudah ada di sana.
Heri menyediakan pakaian khusus pria, dan merek
yang sudah terkenal. Desain dan kualitas menjadi
pertimbangan utama dalam pemilihan produk yang
dijualnya. Tentu saja dia melakukan pelabelan harga
untuk semua produknya. Konsumen yang dibidiknya
adalah para pemuda gaul dari kelas menengah ke atas.
Heri selalu mengamati produk yang sedang
ngetren di Jakarta, untuk dibawa ke Banda Aceh.
Biasanya produk yang saat ini sedang ngetren di
Jakarta, baru akan in di Banda Aceh setelah dua
atau tiga bulan, ujar Heri menjelaskan pengalaman
yang diperolehnya.
Untuk menjalankan bisnis ini, Heri menggandeng
seorang mitra yang sudah berpengalaman dalam
bisnis fesyen dan tinggal di Banda Aceh.
Keputusannya untuk bermitra tersebut tentu
mempunyai pertimbangan tersendiri.
“Saya berharap dengan bermitra, akan terjadi
sinergi dan akselerasi sehingga toko Fokus bisa
lebih cepat berkembang, jelasnya singkat.
Berkat ketekunannya, omzet penjualan di toko
Fokus mulai menggeliat. Pelayanan yang terbaik
kepada pelanggan terus dibangun. Konsumen yang
pernah membeli, sebisa mungkin dikonversi menjadi
pelanggan setia. Berbagai pelayanan yang sifatnya
personal juga dilakukan. Hasilnya, rata-rata para
pelanggan mau datang kembali untuk melakukan
pembelian ulang. Apalagi sejumlah koleksi terbaru
selalu didatangkan secara rutin dari Jakarta. Heri
berusaha untuk selalu memberikan informasi kepada
para pelanggannya, jika ada model terbaru dari Jakarta.
Dalam rangka memenuhi permintaan pelanggannya
akan produk yang bagus dan berkualitas, tidak
jarang Heri memanfaatkan sale moment yang
diselenggarakan oleh berbagai department store
bergengsi di Jakarta. Saat sale tersebut, dia bisa
berburu berbagai jenis produk yang berkualitas
dengan harga yang cukup murah. Tercatat
beberapa kali dia memborong produk eksklusif saat
ada program sale di Metro Department Store Plaza,
Senayan dan Pondok Indah Mall.
Seiring berjalannya waktu, toko Fokus mulai
dipercaya beberapa pemilik merek busana terkenal,
untuk menjadi authorized agent di Banda Aceh.
Omzet pun terus meningkat. Dalam sebulan, tidak
sulit bagi Heri untuk meraih pendapatan bersih di
atas sepuluh juta rupiah. Bayangkan saja, saat
peak season menjelang lebaran, omzetnya bahkan
pernah mencapai 480 juta rupiah.
Saat Heri mulai menikmati hasil dan usaha yang
dirintisnya, bencana Tsunami yang meluluhlantakan
Banda Aceh pada akhir 2004 lalu, ikut
menghancurkan toko Fokus kebanggaannya. Saat
itu bersama ribuan orang lainnya, Heri berusaha
menyelamatkan diri. Tsunami yang menghentakkan
perhatian dunia, benar-benar di luar kekuasaan
manusia untuk menolaknya.
Akibat Tsunami tersebut, Herí sempat hidup
bersama ribuan pengungsi lainnya. Keluarganya di
Jakarta panik luar biasa, karena tidak berhasil
mendapatkan kabar keberadaan Heri selama
beberapa hari. Apalagi saat itu nyaris semua
saluran komunikasi terganggu. Baru selang
beberapa hari, Heri berhasil memberi kabar kalau dia
selamat.
Ketegaran Heri juga diuji, ketika menyaksikan
toko yang telah dibangunnya dengan susah payah
hancur berantakan. Toko Fokus yang berada di
jejeran ruko, kondisinya penuh lumpur dan porak
poranda. Stok barang dagangan yang tidak ikut
hanyut, kondisinya rusak parah dan tidak mungkin
dijual lagi. Heri hanya terdiam menyaksikan kondisi
tokonya. Dia merasa mendapatkan teguran Yang Maha Kuasa.
“Saya berusaha untuk mengihklaskan semua,”
ucapnya singkat. Matanya tampak berkaca-kaca.
Walaupun hatinya sangat sedih, dia terus berusaha
untuk tegar.
“Saya bersyukur masih diberi kesempatan oleh
Tuhan. Saya yakin semua pasti ada hikmahnya,
tambahnya sambil berusaha untuk tersenyum.
Kabar tentang selamatnya Heri dari bencana,
sungguh merupakan sebuah anugerah bagi
keluarganya. Orangtuanya yang tinggal di Jakarta
sangat bersyukur atas keselamatan Heri. Walaupun
mereka juga sangat bersedih karena kehilangan
kerabat yang tidak sedikit jumlahnya. Peristiwa
Tsunami yang dialaminya langsung memberikan
banyak pengalaman ruhani yang luar biasa.
Setelah berbagai urusan di Banda Aceh
diselesaikannya, Heri kembali ke Jakarta. Dia
menenangkan diri untuk sementara waktu. Dia
mencoba untuk terus mengambil hikmah dan
sepenggal episode hidupnya. Setiap melihat berita
tentang Tsunami, dia selalu teringat
pengalamannya yang luar biasa waktu itu.
Atas dorongan dan bantuan dari saudaranya
yang ada di Jakarta, Heri memutuskan untuk
memulai lagi denyut kehidupannya dengan kembali
membangun usaha. Namun, kali ini dia tidak ingin
meneruskan usahanya di Banda Aceh. Heri bertekad
untuk membangun usaha kembali di Jakarta. Meski
dia harus memulai dari nol. Semua modalnya habis
ditelan Tsunami. Uang tabungan yang nilainya tidak
seberapa dimanfaatkannya untuk kembali mencari
peluang yang bisa digarapnya.
Dia mencoba menjalin silaturahmi dengan teman dan
kerabat yang ada di Jakarta. Tidak lupa
dia juga mengunjungi beberapa rekan bisnis yang
pernah menjadi suppliernya saat masih mengelola
toko di Banda Aceh. Dari hasil komunikasi tersebut
dan masukan dari berbagai pihak, akhirnya dia
memutuskan untuk membuka bisnis dalam bidang
produksi dan pemasaran celana jeans khusus pria.
Bidang ini tentu saja bukan hal baru baginya. Sejak
dulu dia memang penggemar celana jeans. Sewaktu
berbisnis di Banda Aceh, celana jeans merupakan
salah satu produk andalan yang dijualnya.
“Saya ingin mencoba wilayah lain, kalau dulu
hanya sebagai distributor, kali ini saya akan
mencoba terjun sebagai produsen,” jelasnya
optimistis.
Berhubung terjun sebagai produsen adalah
pengalaman pertama baginya, Heri kembali
menggandeng mitra yang sudah punya banyak
pengalaman di bisnis celana jeans. Dengan modal
pinjaman dari beberapa kerabatnya, Heri
memberanikan diri untuk termain di pusat grosir
pasar Tanah Abang. Menempati sebuah kios di Blok
A lantai satu, bendera bisnisnya kembali dikibarkan.
Kali ini dia memakai nama toko Polly Jeans.
Sementara celana jeans yang diproduksinya
memakai merek Leyyos dan Volcano.
“Sebagai produsen, keberanian berbisnis di
Tanah Abang sangat diperlukan agar produk kita
segera dikenal di berbagai daerah, jelas Heri ketika
ditanya pertimbangannya dalam memilih pasar
Tanah Abang sebagai markas bisnis barunya.
Semua jenis pekerjaan dalam proses produksi
celana jeans, Heri serahkan ke perusahaan lain
dengan sistem makloon atau outsourcing. Dia
hanya perlu membeli bahan, menentukan model,
dan standar kualitas yang diharapkan. Pekerjaan
selanjutnya, mulai dari memotong kain, menjahit,
mencuci, sampai pekerjaan finishing, akan ditangani
perusahaan konveksi yang menjadi mitranya. Atas
jasa tersebut, Heri memberikan fee sesuai dengan
kesepakatan sebelumnya.
Walaupun kelihatannya sederhana, tetapi dalam
praktik, sering tidak semudah yang dibayangkan.
Kontrol terhadap konveksi yang ditunjuk harus
tetap dilakukan dengan ketat. Di samping untuk
menjaga standar kualitas barang, juga menghindari
keterlambatan penyelesaian suatu pekerjaan.
Dalam masalah model, misalnya, pengalaman
dan intuisi sangat diperlukan agar tidak terjadi
kesalahan dalam mengambil keputusan. Terutama
saat memutuskan untuk meluncurkan produk baru.
Apabila momentumnya tidak tepat, model yang
telah diproduksi bisa jadi hanya akan teronggok
manis di gudang. Model yang telah lewat atau out
of date, juga akan sulit terserap oleh pasar. Apalagi
bagi produsen yang bermain dalam jumlah besar,
kesalahan dalam meluncurkan model baru akan
sangat berpengaruh terhadap kinerja keuangan.
Lantaran semangatnya yang tinggi untuk terus
belajar, pernak pernik proses pembuatan celana
jeans pun cepat dikuasai Heri. Sadar atau tidak, dia
telah membangun jaringan bisnis dengan para
pemain senior di Tanah Abang. Perkenalannya
dengan para pemain yang menerima jasa makloon,
juga membuka wawasannya tentang peluang besar
di bisnis ini. Interaksi dengan para supplier kain ikut
menyumbangkan pengetahuan mengenai mata
rantai jalur distribusi kain di Indonesia.
Khusus untuk pembuatan celana jeans, kiprah
perusahaan yang bergerak khusus di bidang jasa
pencucian, juga menarik untuk dicermati. Teknologi
pencucian jeans, ternyata tidak sesederhana yang
dibayangkan Heri sebelumnya. Justru pada proses
pencucian inilah, kualitas dan efek kekhasan yang
ingin ditawarkan konsumen ditentukan.
Biasanya, di samping menggunakan formula
kimiawi tertentu, perusahaan jasa pencucian juga
memanfaatkan batu apung sebagai salah satu
media. Makin sulit dan bagus efek cucian yang
diharapkan, makin mahal jasa cuci per potongnya.
lntinya, hasil makin hancur, harga makin mahal,
cetus Heri sambil tertawa.
Pemberian aksesori tertentu juga menentukan
ciri khas dan difererisiasi produk. Aksesori juga
penting digunakan untuk membedakan dengan
produk pesaing. Semakin banyak aksesori, maka
akan semakin sulit ditiru pesaing. Tentu saja biaya
pembuatannya akan menjadi lebih mahal dan
berpengaruh terhadap harga jual akhir kepada konsumen.
Persaingan bisnis garmen di Tanah Abang juga
semakin ketat. Banyak sekali tantangan dan cobaan
yang harus dihadapi. Sebagai pusat grosir terbesar
di Asia Tenggara, Tanah Abang menjadi ajang
pertemuan para pedagang dari berbagai daerah,
bahkan mancanegara. Tentu saja tidak semua
pedagang tersebut menjunjung tinggi kode etik dan
nilai kejujuran dalam berdagang. Untuk itu, sangat
diperlukan sikap kehati-hatian dan selalu waspada
dalam setiap transaksi yang dilakukan.
Soal pembayaran tidak jarang menjadi masalah
utama bagi para pedagang di sini, terutama bagi
pendatang baru seperti Heri yang masih mencoba
untuk meraih pelanggan. Agar bisa bersaing dengan
para pedagang lainnya, sering kali dia tidak bisa
menolak pembayaran dengan giro mundur yang
cukup lama. Pelanggan dari luar daerah yang
membeli dalam jumlah besar, rata-rata selalu
menggunakan giro mundur sebagai alat
pembayarannya,” ujar Heri berterus terang.
Awalnya memang lancar-lancar saja. Tapi setelah
berjalan beberapa lama, masalah mulai
bermunculan ketika ada beberapa giro yang
diterimanya tidak bisa dicairkan alias kosong.
Berurusan dengan customer yang telah
memberikan giro kosong ini, sangat menyita energi
dan pikiran. Padahal Heri sudah terhitung sangat
hati-hati dalam melepas produknya, terutama
untuk pelanggan yang memakai sistem pembayaran
mundur ini. Namun, kadang-kadang ada saja
masalah yang muncul di luar kendalinya.
Kadangkala Heri harus mendatangi langsung
pelanggan yang tidak menunjukkan sikap kooperatif
dalam urusan pembayaran dengannya. Perjalanan
bisnis ke Sumatra pun pernah dilakukannya untuk
menyelesaikan masalah utang-piutang dengan
beberapa customer yang bandel.
Dalam kondisi sulit, karena tersendatnya aliran
dana masuk, Heri harus pintar memutar otak untuk
meyakinkan supphernya bahwa dia akan tetap
memenuhi kewajiban pembayaran kain kepada
mereka. Biasanya dia minta pengunduran jatuh
tempo kepada beberapa supplier yang sudah lama
menjadi mitranya.
Berpartner dengan orang lain ternyata juga
memberikan tantangan tersendiri. Pemilihan partner
yang tepat, sangat menentukan keberhasilan usaha
yang dibangun. Kecocokan dalam visi dan misi
diperlukan agar bila terjadi beda pendapat bisa
diselesaikan dengan baik. Namun dalam perjalanannya,
selalu ada perbedaan pendapat yang menuntut
sikap kedewasaan dan kebijaksanaan yang tinggi.
Salah satu tantangan yang paling berat adalah
bagaimana mengelola mental agar senantiasa
tegar dan tenang dalam menghadapi masalah apapun.
Heri menyimpulkan bahwa keberhasilan dalam
bermain di pusat grosir sekelas Tanah Abang tidak
hanya ditentukan oleh kemampuan teknis dan
manajemen yang tinggi.
“Kepiawaian dalam mengelola hati atau emosi
justru sangat menentukan keberhasilan pebisnis,”
ujar Heri sambil berusaha merekam pengalamannya.
Persaingan yang amat ketat disertai dengan
berbagai cobaan yang datang silih berganti,
menuntut kebijaksanaan tingkat tinggi. Apalagi
praktik persaingan bisnis yang tidak sehat sering
terjadi di pasar grosir terbesar ini. Godaan untuk
berbuat tidak fair selalu ada dan terbuka.
Keteguhan hati dan keyakinan terhadap prinsip
sangat diperlukan agar tidak terombang-ambing
oleh kuatnya gelombang kehidupan, tandas Heri
yang hobi menonton sepak bola ini.
Sampai detik ini, Heri terus belajar untuk bisa
mengelola mentalnya dengan baik. Aspek mental ini
berpengaruh langsung pada prestasi seorang
pebisnis. Setiap pebisnis perlu membekali diri
dengan sikap mental yang kuat, baik, tangguh, dan
tahan banting. Salah satu caranya adalah dengan
selalu belajar dan berlatih membangun serta
mempertahankan sikap mental yang sudah baik,
melalui kebiasaan hidup yang seimbang. Heri
menyadari sepenuhnya bahwa keberhasilan yang
ingin dicapainya harus dibayar dengan proses
perjuangan yang panjang.
Dari Buku: Rahasia Jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan
