Category Archives: Teknologi

Eddy Permadi, Resign Sebagai Dosen, Kini Sukses Lewat Usaha Turbin Mikrohidro yang Sudah Menembus Luar Negeri

Eddy Permadi, Energi yang Menciptakan Kemandirian Ekonomi

Melepaskan pekerjaan tetap sebagai

dosen bukan berarti duduk berpangku

tangan. Dengan modal sendiri, mesin

turbin mikrohidronya tak hanya

menghasilkan energi, tetapi juga

berbagai minuman serbuk, seperti

bandrek. Perpaduan yang aneh

memang, tetapi inilah UMKM dengan

segmen keunikannya.

 

ADALAH Eddy Permadi, pemilik Cihanjuang

 

Inti Teknik, yang pertama kali menelurkan

 

ide menciptakan turbin embangkit listrik

 

mikrohidro di daerahnya.

Bapak tiga anak yang pernah belajar di Swiss

selama 3 tahun dan Jerman selama setahun

ini memang mendapat banyak pengalaman dari

 

periode singkat pembelajarannya di Eropa.

Menurut Eddy, kemajuan orang-orang Eropa dimulai

 

dari revolusi industri, yang berarti memberikan

 

nilai tambah pada sesuatu yang bernilai rendah.

Revo1usi industri dimulai dari revolusi

energi, dari mulai adanya kincir air untuk

menumbuk gandum, lalu ditemukannya tenaga

uap. Dengan demikian transportasi menjadi

bagus, jarak juga menjadi lebih dekat. Bahkan

di Zurich, Swiss terdapat laboratorium energi

yang memperlihatkan turbin, mulai dari

 

pembangkit yang paling sederhana dari kayu

 

sampai yang paling modern,” urainya panjang lebar.

 

Dari pengamatan inilah Eddy kemudian

menyimpulkan bahwa kalau ingin meningkatkan

 

ekonomi rakyat, jelas harus dimulai dari

 

energi. Pada titik itulah ia memutuskan untuk

mengeksplorasi dunia energi.

Eddy lantas mulai membuat proyek-proyek

percontohan, mulai dari turbin sederhana hingga

 

yang relatif modern. Hingga saat ini sudah

ada 7 turbin percontohan yang setiap tahunnya

ramai dikunjungi orang. “Tahun kemarin ada lebih

 

dari 5.000 orang yang berkunjung dan tahun

ini juga sudah mencapai angka 6.000 orang lebih

 

dan beberapa menteri juga sudah datang ke

tempat kami,” paparnya. Bahkan, turbin buatannya

 

sudah dipesan oleh pengusaha-pengusaha

dari negara lain. Tak kurang dari pemerintah

Malaysia dan Swiss kini mengoperasikan

 

pembangkit listrik buatannya.

MEMANFAATKAN AIR

“Meskipun debitnya tidak tetap, tapi kita punya

banyak air sungai untuk dimanfaatkan,” ujar pria

ramah senyum ini. Kelebihan turbin ciptaannya

adalah bisa disesuaikan dengan ketinggian

jeram berapa pun. Jadi, tidak perlu jeram yang

tinggi untuk menghasllkan listrik. Jeram pendek

pun tetap bisa membangkitkan listrik. Karena

 

fleksibilitas ini, sudah banyak

daerah yang memanfaatkan turbin mikrohidronya.

 

“Bahkan, masyarakat yang hanya bisa merasakan

 

8 bulan mendapat listrik pun sudah sangat

senang, karena mereka tidak perlu berada dalam

 

gelap sepanjang tahun,” kelakarnya

ketika diwawancara sebuah stasiun televisi.

Mikrohidro adalah pembangkit listrik tenaga air.

Berdasarkan besarnya daya yang dihasilkan, terdapat

 

beberapa jenis turbin. Pikohidro adalah pembangkit

 

yang menghasilkan kurang dari 3.000 watt listrik,

 

mikrohidro menghasilkan daya antara

3.000 watt sampai 1 megawatt,

sementara minihidro menghasilkan 1 hingga 3 megawatt.

Eddy memulai usahanya dengan modal uang tunai Rp 25

juta dan keahliannya di bidang teknik. “Saya membuat

 

banyak turbin,” ujar Eddy, “Lebih dari

300 lokasi sudah kita pasang di seluruh Indonesia.”

 

Eddy pun berhasil menyediakan lapangan

pekerjaan dan menampung ratusan tenaga kerja tidak langsung.

Lulusan PMS ITB (Polman) ini memang tidak tanggung

tanggung dalam menerapkan pengetahuannya bagi kepentingan

orang banyak. Yang ada dalam pikirannya adalah memberikan

solusi bagi sebuah permasalahan, “Dan, bagaimana memberi tahu

orang bahwa mikrohidro adalah solusi bagi masalah mereka,”

ujarnya.

Untuk itu ia membuat turbin percontohan bersama pemerintah

 

daerah dan dibuka bagi masyarakat umum, salah satunya

 

di Leuwikiara. Di sana terdapat masyarakat yang perlu

menempuh waktu sekitar 6-7 jam perjalanan ke Tasikmalaya

untuk bekerja sebagai buruh bordir. Setelah dipasang pembangkit

mikrohidro ditambah bantuan mesin bordir, di daerah kecil

 

itu kini menjamur industri bordir. “Dan yang

terjadi kemudian, bandar-bandar dari kota

berdatangan ke sana membawa bahan dan

benang sehingga kampung itu menjadi hidup.

Berhasil di Leuwikiara, hingga mendapatkan

Asean Energy Award, kini metode ini mulai

diaplikasikan ke daerah-daerah lainnya. Seperti

di Papua, listrik digunakan untuk pengolahan

umbi-umbian, kue, dan sebagainya,” urainya

bangga.

 

Apakah produknya akan menyaingi PLN?

“PLN sebenarnya masih sangat kekurangan

daya. Bahkan ada Keputusan Menteri Energi dan

Sumber Daya Mineral yang menyatakan bahwa

PLN wajib membeli listrik dari mikrohidro.

Kalau ada dana, tempat, dan air, kita bisa

bangun pembangkit lalu kita jual ke PLN dan itu

wajib dibeli,” jelasnya.

Saat ini Eddy sudah menyiapkan produksi

turbin untuk menghasilkan daya 100 watt hingga

 

500 kilowatt. Menurut Eddy, ia membutuhkan

investasi yang cukup besar. Untuk itu, Eddy

bermitra dengan bank bjb dan mendapatkan

pinjaman sebesar Rp 450 juta tahun 2005.

Saat itu modal dari bank bjb digunakan untuk

membeli tanah tempat pabriknya sekarang

berdiri. Lantas, tahun 2010 pinjamannya

meningkat menjadi Rp 1,1 miliar dan Rp 1,8

miliar di tahun 2011.

Selain untuk memproduksi mesin, yang

perlu dipikirkan adalah tempat. Pabrik yang

sekarang menempati tanah seluas 700 meter

persegi sudah tidak memadai lagi. “Saya sedang

mencari tempat baru. Sudah melihat beberapa

tempat, tapi belum ada yang sesuai,” ujarnya

menerawang.

KAMPUNG BANDREK HANJUANG

Idealnya, perluasan dilakukan tidak jauh dari

lokasi pabrik yang sekarang. Dengan demikian

biaya operasional menjadi lebih murah dan

 

pengendalian pun lebih mudah. Tapi, tentu saja

 

tidak mudah, karena kawasan itu sudah dipadati

perumahan. Kalaupun tidak mendapatkannya di

 

situ, Eddy berencana menempatkan pabrik

 

bandreknya tetap di sini, sementara pembuatan

 

turbin akan menempati lahan yang baru. “Soalnya

bandrek sudah menjadi brand kawasan ini,”

Ujarnya mantap.

Ya, bandrek juga merupakan produk buatan

Eddy. “Idenya muncul dari kondisi masyarakat

ketika mendapatkan listrik. Mereka justru

menginginkan kehidupan seperti di kota. Ada

televisi, radio, dan sebagainya,” jelas Eddy,

“Kalau hal ini saya teruskan, saya akan berdosa

 

karena membuat perekonomian mereka

menurun karena terbuangnya waktu untuk

kegiatan yang tidak produktif.” Tentu, Eddy

tidak menyalahkan turbin mikrohidro karyanya

sendiri. Justru ia mencari solusinya, dengan

memanfaatkan energi tersebut.

Awalnya, Eddy ingin membuat bandrek.

Tetapi ternyata sudah ada banyak jenis

bandrek di pasar. “Dai situlah timbul ide

menggabungkan kopi dengan bandrek yang

belum ada di pasaran.” Pada tahun 2001, ia

membuat proyek percontohan teknologi tepat

guna dengan membuat pengolahan jahe dan gula

 

aren menjadi minuman serbuk khas Jawa Barat.

Ia hanya ingin membuat hal-hal yang bernilai

ekonomi rendah memiliki nilai tambah setelah

diolah. Dengan membuat serbuk bandrek, Eddy

merasa ikut mendidik dan menciptakan lapangan

 

kerja di sini.

Periode sulit terjadi di tahun-tahun pertama.

Meski sudah menawarkan ke berbagai toko dan

warung, produk kopi bandreknya tetap saja

tidak diterima. “Saya menawarkan sendiri ke

warung karena menurut saya bandrek adalah

produk yang sederhana,” jelas Eddy. Tetapi,

dengan penolakan itu Eddy justru belajar bahwa

kemungkinan segmen pasarnya tidak tepat.

Langkah pertama yang dilakukan adalah

mengubah kemasan, dengan memberi lukisan.

“Kami mengundang pelukis dan menyampaikan

ide-ide untuk gambar kemasan ini,” kenang

Eddy yang ingin menonjolkan kesan tradisional.

Dipilihlah sosok Kabayan yang mewakili daerah

Jawa Barat.

 

Eddy mengirim produknya masuk ke toko

oleh-oleh di tepi jalan tol Cipularang, bertepatan

dengan dibukanya jalan tol tersebut. Segera

saja kopi bandrek ini laris-manis. Meski banyak

yang menyukai rasanya, namun ada juga yang

mengeluh karena tidak kuat dengan kandungan

kopinya. “Mereka minta kopi-bandrek, tetapi

jangan pakai kopi,” ujar Eddy sambil tergelak,

“Itu jadinya bandrek biasa seperti ide awal saya.”

Tapi, karena tidak ingin menolak permintaan

pasar, Eddy pun akhirnya membuat bandrek.

Sejak itu, Eddy serius menekuni bisnisnya.

Produk berikut yang dibuatnya adalah bajigur.

“Bajigur sebenarnya telah sangat dikenal di Jawa

Barat dan kami hanya merupakan salah satu

penggagas bajigur dalam kemasan siap seduh,”

paparnya. Memang belum pernah ada produk

minuman bajigur dalam kemasan. Bajigur ini

pun mendapat respons yang baik. Eddy lalu

mengembangkan rasa lainnya, termasuk kopi

bajigur, sekoteng, cokelat bandrek, teh bandrek,

 

hingga beas cikur (minuman sejenis beras kencur).

Kemasannya pun dibuat berbeda. Produk dengan

kemasan bergambar Kabayan dalam bungkus cokelat

konsepnya adalah oleh-oleh.

“Bandung kan kota belanja, jadi kemasan seperti

 

ini adanya di factory outlet dan tempat oleh-

oleh,” paparnya. Menurut Eddy, orang kota menyukai

 

kemasan untuk buah tangan, sementara

di kota-kota kecil, kemasan seperti ini tidak diminati.

Produk serupa juga dibuat daam kemasan sachet

 

rencengan, meskipun bergambar Kabayan, menyasar

 

konsumen yang berbeda. “Harganya relatif lebih murah

 

dan terjangkau, produk seperti ini bisa

dipasarkan di daerah seperti Tasik, Garut, sampai ke

 

pesisir pantai utara,” jelasnya.

Sedangkan untuk restoran, Eddy hanya menyiapkan

 

produk dalam kemasan plastik

 

transparan karena mereka tidak membutuhkan kemasan luarnya.

“Kami mengikuti kemauan pasar saja,” ujarnya ringan.

Kini produk bandreknya sudah dapat ditemukan di Alfamart,

Indomart, Griya, 7/11, Borma, dan Circle K. Sementara kemasan

klasik untuk buah tangan, selain dapat dijumpai di gerai factory

outlet, juga tersedia di Carrefour dan Gazebo di Bandung.

Untuk bahan baku, Eddy mengambil dari beberapa tempat.

Jahe, misalnya, bisa diambil dari Jawa Barat dan Lampung. Tetapi,

Eddy lebih suka jahe Lampung karena untuk menghasilkan 1 kg

jahe kering hanya membutuhkan 9 kg jahe basah, sementara dari

Jawa Barat diperlukan 12 kg.

Untuk gula aren, Eddy bekerjasama dengan masyarakat

 

di Gunung Halimun. “Ini betul-betul kelas

perajin. Mereka harus memilih nira yang bagus,

membuatnya jadi gula tepung, dikumpulkan,

kemudian dibawa ke sini,” urai Eddy. Di sini, gula

tepung itu disortir lagi dan dikeringkan, baru

diproses menjadi minuman serbuk. Sementara

bahan baku kopi diambil dari masyarakat sekitar saja.

MENJUAL SOLUSI

Kini, keyakinannya terbukti sudah. “Sekarang

bandrek merupakan solusi untuk menikmati

rempah-rempah. Kalau orang ingin membuat

bandrek tidak perlu membeli bahan-bahannya

dulu. Tinggal menggunting kemasan, praktis.

Solusi inilah yang menarik,” papar Eddy. Pasar

minuman serbuknya pun meluas, bahkan telah

dinikmati konsumen di Aceh, Nusa Tenggara,

dan Papua.

Di luar negeri, produk bandreknya telah

menjelajah Qatar. Ada pula yang membeli secara

 

borongan untuk dijual di luar negeri.

“Sebetulnya kami sudah menjajaki ke Australia

dan Amerika,” ujar Eddy, “Sudah sampai di

sana, tetapi tidak formal.” Eddy juga pernah

menjajal pasar di Malaysia, tetapi ternyata

penduduk negeri jiran itu tidak terlalu menyukai

rasa manisnya. “Kadang suka agak repot juga

 

dengan permintaan mereka, sehingga kita harus

menggunakan trik, kami sarankan untuk memperbanyak

 

airnya.” Produk terbarunya diberi nama Arjuna. “Ini

adalah produk khusus vitalitas untuk orang

dewasa,” ujarnya penuh arti. Menurut Eddy, produk

 

ini yang sekarang sedang booming. Selain

minuman serbuk, Eddy juga memproduksi

permen dengan varian rasa yang sama dengan

minuman serbuk. Angan-angannya, lima tahun

lagi daerah sekitarnya akan menjadi Kampung

Bandrek. Keuntungannya lumayan untuk memperkuat modal.

Seperti turbin, sebagian besar mesin yang

digunakan dalam produksi minuman serbuk

ini adalah buatannya sendiri. Dengan membuat

 

sendiri, ia bisa mendapatkan mesin yang

sesuai dengan keinginannya. “Kita juga tahu

kinerjanya. Kalau membeli produk yang sudah

jadi, belum tentu cocok dengan keinginan,”

paparnya. Selain itu, lebih murah produksi

 

maupun perawatan, karena mereka telah menguasai

seluk beluk mesinnya.

MEMBINA KARYAWAN DAN PERAJIN

Selain menguntungkan, tujuan kemandirian

sudah tercapai. Ia menggerakkan masyarakat

yang tinggal di sekitar untuk bekerja di pabriknya.

 

Dari awal yang sangat sederhana, Eddy kini berhasil

menciptakan lapangan kerja untuk tenaga kerja langsung

dan tidak langsung berupa kelompok kerja (pokja).

 

Pokja yang berada di sekitar pabrik bertugas untuk

 

mempersiapkan kemasan, sementara tenaga kerja

 

langsung yaitu sekitar 80 orang, sebagian besar

 

bekerja di dua bidang sekaligus, yaitu pembuatan

 

turbin dan membuat serbuk minuman bandrek. Kedengarannya

 

aneh memang, tetapi itulah UKM, selalu ada saja caranya,

 

“Jadi kalau lagi ramai pesanan di bandrek mereka

 

diperbantukan di produksi bandrek. Tapi kalau pesanan

 

turbin sedang banyak, mereka pindah mengerjakan turbin.

 

Malah ada pembuat mesin yang jago membungkus bandrek,”

 

urainya. Pembuatan turbin yang 100 persen dananya

 

dari APBD dan ABPN, biasanya ditenderkan

dan baru diterima Eddy sekitar bulan Agustus hingga

September. Ini berarti antara Januari hingga Juli praktis

tidak ada pesanan. Periode itulah yang dimanfaatkan

 

untuk memproduksi bandrek. Setiap tahun produksi

 

minuman serbuk membutuhkan sekitar loo ton jahe yang

 

dibeli pada saat panen raya karena harganya lebih murah.

Jahe tersebut kemudian diolah, disterilisasi, hingga di

keringkan. “Kalau dalam sehari kita bisa mengerjakan 1

ton pengolahan jahe, berarti butuh waktu sekitar 100 hari

atau 3-4 bulan untuk menyelesaikan semuanya,” paparnya,

 

“Pada periode Januari hingga Juli yang kosong ini,

para teknisi yang biasa ngebubut ikut mengolah jahe.”

Eddy mengaku tidak banyak keahlian yang dibutuhkan

 

untuk mengerjakan bandrek dan turbin, kecuali untuk teknisi

mesin turbin. “Yang penting mau kerja saja,” tegas Eddy.

Pekerjaan seperti mencuci dan mengepak tidak membutuhkan

keahlian khusus, sehingga para ahli mesin pun bisa

 

mengerjakannya. Cara seperti inilah yang membuat mereka

fleksibel dan bisa tetap eksis.

Selain itu, perusahaannya memiliki enam kelompok

kerja yang tersebar di rumah rumah warga. Satu pokja

 

beranggotakan sekitar 10 orang.

Mereka bertugas mengemas minuman serbuk. Setiap seribu

bungkus—yang biasanya di kerjakan dalam waktu 2 jam—

para pekerja mendapat upah Rp 16 ribu. Saking terampilnya,

membuat lipatan bungkus sampai mengelem hanya

perlu waktu 6 detik dengan hasil yang rapi jali. Dan,

setelah melewati pemeriksaan kualitas, minuman serbuk pun

siap dipasarkan.

 

Menurut Eddy, yang perlu diperbanyak adalah pokja, bukan

karyawan. “Soalnya pekerjaan ini bisa dibawa pulang,” jelasnya.

Selain itu, setiap tahunnya Eddy memilih beberapa orang

karyawan yang berprestasi untuk disekolahkan dengan biaya

dari perusahaan bekerja sama dengan Universitas Ahmad Yani.

“Karena jaraknya cukup dekat, kami juga bekerja sama untuk

program pelatihan dan praktik,” ujarnya.

Hampir setiap minggu selalu ada mahasiswa dari berbagai

perguruan tinggi yang mengadakan penelitian di tempatnya.

“Ada yang meneliti efisiensi produk, proses produksi, seni

merek, keuangan, pemasaran, dan sebagainya,” papar salah

satu stafnya. Eddy mendapat laporan dari setiap penelitian yang

dilakukan. Ia pun menyediakan tempat menginap selama mereka

melakukan penelitian.

 

MANAJEMEN PROMOSI

Kini, baik turbin maupun bandrek sama-sama

bersaing untuk menjadi lebih maju. “Sekarang

ini setiap tahun kita meluncurkan produk baru

yang memberikan peluang dan segmen yang

berbeda karena setiap daerah memiliki potensi

yang berbeda,” ujar Eddy. Beberapa daerah

membutuhkan jenis turbin besar, yang lain

hanya membutuhkan turbin kecil. Keunikan

produk yang menjadi kebutuhan masyarakat

inilah yang terus dikembangkan Eddy.

Eddy tetap mengandalkan promosi dari mulut

ke mulut karena untuk produk seperti ini orang

akan lebih percaya kalau mendengar langsung

dari orang lain tentang kebaikan suatu produk,

dibandingkan jika mendapatkannya dari iklan.

Menurut Eddy, “Bobot kepercayaannya akan

berbeda. Bobot yang paling kuat adalah cerita

dari teman ke teman.”

Prinsipnya adalah membuat semakin banyak

 

orang mengetahui produknya. Caranya,

dengan mengajak mereka mendatangi proyek

percontohannya. “Bayangkan kalau saya harus

ke daerah-daerah untuk berpromosi,” ujarnya,

 

“Biayanya akan jauh lebih besar. “Proyek

 

percontohan ini lambat laun menjadi objek wisata

teknologi. Mereka yang datang disuguhi minuman

bandrek. Dengan demikian, setiap orang pulang

dengan membawa cerita dan oleh-oleh. Cerita

orang-orang tersebutlah yang membesarkan

usaha turbin dan bandrek Hanjuang.

Promosi internet tetap dilakukan sebagai

pelengkap. “Kuncinya adalah ketika suatu produk

 

menjadi solusi, pasti laku,” ujarnya mantap,

“Sebaliknya, walaupun produk bagus, kalau

tidak bisa menjadi solusi, tidak laku.”

Eddy kini merasa bahwa bisnis turbin dan

bandreknya sudah tinggal menjalankan saja.

“Cash flow-nya sudah benar-benar mandiri,

bahkan bisa menyerap tenaga kerja,” urainya.

Lalu, ia pun mencari ‘mainan baru’. Melihat

kondisi air yang cukup baik di sekitar tempat

tinggalnya, ia pun berencana membangun

sentra ikan koi. Saat ini ia mulai membiakkan

ikan-ikan itu di tanahnya yang luas. “Apa pun

keadaannya saya selalu menikmati prosesnya,

termasuk kesulitan dan hambatannya juga saya

nikmati,” ujarnya.

 

Catatan Rhenald Kasali

KALI INI ANDA membaca sebuah proses membangun usaha berbasis teknologi

 

sederhana yang dimulai dari kesenangan. Seorang yang senang akan terus

 

bekerja, seperti seorang seniman yang keasyikan. Namun seperti

kebanyakan “seniman” bisnis lainnya, mereka mudah tergoda dalam

 

kesenangan-kesenangan yang sering kali kurang memikirkan kesatuan konsep

 

dalam bisnis Bahwa bisnis harus ditata dikelola secara sophisticated dengan

ahlì-ahli di luar produksi. Namun demikian, para seniman usaha ini selalu

 

menyatakan, “Kalau saya suka, sudah menguntungkan, den membuat saya happy,•

 

apa salahnya?”

Seniman-seniman UMKM seperti ini biasanya menggunakan survival instinct

 

naluri untuk bartahan atau beradaptasi. Mareka bukanlah expansionist

 

seperti pengusaha-pengusaha Barat atau pengusaha-pengusaha dari

Asia Timur (Cina, Taiwan, Korea, bahkan India). Mereka mudah puas kalau

 

cash flow-nya aman dan produknya selalu ada pesanan. Apalagi bila mereka

 

bisa secara langsung melihat dampaknya pada lapangan pekerjaan.

Eddy memulai usaha dari skll yang ia miliki dan ia melihat masalah energi

 

begitu luas di negeri ini. Ia pun mengisinya dengan membuat turbin, Tetapi

 

apa hubungan dengan bandrek? Ya tidak ada! Kalau Anda pakai strategi bisnis

 

dan Anda tidak romantis, maka Anda memilih usaha lain yang membantu usaha

 

utama Anda untuk tumbuh menjadì industri. Eddy memilih bandrek. Dugaan saya

 

ini pasti karena ia suka bandrek. Ia juga senang melihat orang

 

kumpul bekerja. Dan, ternyata bisa juga dihubung-hubungkan, karena Eddy

 

adalah seniman sekaligus tahu cara membuat mesinnya.

Orang-orangnya ternyata bisa juga dipekerjakan di sana. Walaupun nilai

 

ekonominya berbeda, sebagai survival instinct bolehlah. Toh, pada setiap 6

 

bulan pertama, pesanan turbin tidak besar. Mereka butuh pekerjaan. Namun

kalau UMKM ingin maju, mereka harus berefleksi dan berhenti berkreasi

 

barang sejenak. Berhentilah berlari-lari yang meletihkan barang sesaat,

 

lalu tuangkan mimpi-mimpi Anda dalam rencana bisnis yang terpadu. Dari situ

Anda akan bisa melihat labih bijak, ke mana Anda akan membawa usaha ini di

 

kemudian hari. Bukanlah waktu berjalan terus dan suatu saat Anda tak bisa

 

mencari makan dengan tangan sendiri?

Di masa depan Anda perlu mencari makan melalui tangan orang-orang lain, dan

 

produk Anda bisa berevolusi menemukan pintunya dengan pikiran-pikiran

 

dan tangan-tangan orang lain.

 

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun:  Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012

Iim Rusyamsi, Mantan Manajer Perusahaan Multinasional yang Kini Sukses Berbisnis di Dunia IT

Lantaran yakin dengan prospek dalam bisnis IT

disertai dengan kompetensi diri yang kuat, Iim

Rusyamsi memfokuskan diri dalam usaha yang

berbasis IT, education, dan Internet. Sebenarnya

dunia ini sama sekali bukanlah dunia baru baginya.

Iim berkecimpung di dunia IT sejak mengambil kuliah

pada Jurusan Teknik Informatika. Salah satu core

bisnisnya saat ini adalah penyelenggara training

center IBM AS/400 (www.400education.com).

Selain menjadi konsultan dalam bidang IT,

beberapa usaha yang dikeoIanya adalah PT SP

 

Prima (hardware service center) dan Yayasan

Pendidikan Sejahtera. Selain itu, Iim juga aktif di

komunitas bisnis Tangan Di Atas (TDA) sebagai

koordinator dalam bidang IT. Berkat

kepemimpinannya, Iim telah membantu lahirnya 20

orang pebisnis baru untuk berwiraswasta di bidang

ritel komputer di Mangga Dua Square.

Perjalanan bisnis Iim dimulai sejak 2000 ketika

dia masih mencari bentuk bisnis komputer yang

tepat. Pencairannya tersebut berujung pada

dibukanya sebuah toko komputer di Harco Mangga

Dua pada 2000 itu juga. Kemudian pada 2003, Iim

mulai membangun bisnis dalam bidang jasa IT

helpdesk outsourcing. Akhirnya, baru pada 2005,

dia menemukan satu jasa di bidang komputer yang

masih jarang disentuh oleh pebisnis komputer lainnya.

Pada 2005 inilah Iim membangun bisnis jasa

perbaikan komputer dan periperalnya di bawah

bendera PT Salira Putra Prima (SP Prima). Satu

tahun kemudian, lahirlah merek usaha

dokterkomputer.com. Dengan mengambil spesialisasi

dan keunikan ini, Iim berharap para pasien yang

kebanyakan adalah korporasi, lebih akrab dengan

perusahaannya dalam menggunakan jasanya.

Dokterkomputer.com mengkhususkan diri dalam

jasa di bidang perbaikan dan perawatan komputer,

printer, notebook, monitor, dan perangkat keras

lainnya. Layanan yang diberikan, meliputi layanan

gratis untuk antar jemput perangkat keras yang

sakit atau rusak, layanan pemberian back-up unit,

 

layanan garansi selama 2 (dua) bulan, dan jaminan

suku cadang asli.

Selain itu, dokterkomputer.com pun menganjurkan

 

“pasien” korporatnya untuk melakukan kontrak

pemeliharaan dalam waktu tertentu sehingga

mereka merasa nyaman dan terus sehat untuk

semua peralatan infrastruktur komputernya.

Layanan antar jemput perangkat keras yang

sakit atau rusak ini, akan membuat “pasien” merasa

nyaman. Mereka tidak lagi terjebak dalam

kemacetan dan berpanas-panasan di jalanan

menuju pusat komputer di Mangga Dua atau Glodok.

Karyawan dan dokterkomputer.com-lah yang akan

menjemput perangkat keras untuk diperbaiki. Dan

lebih nyaman lagi, mereka akan memberikan

back-up unit jika perangkat keras tersebut

diharuskan untuk dirawat inap. Garansi jaminan

keaslian suku cadang yang lebih lama, diharapkan

akan membuat pasien lebih percaya diri untuk

menggunakan jasanya.

Dengan berbagai layanan tersebut, Iim berharap

 

pasien korporatnya akan lebih produktif dan

berkonsentrasi dalam mengembangkan IT untuk

perusahaan mereka. Biarlah dokterkomputer.com

yang akan memberikan perawatan dan perbaikan

perangkat keras mereka sehingga mereka tidak lagi

dipusingkan dengan urusan perangkat keras.

Iim juga membangun portal khusus untuk para

‘pasien’ yang dapat di klik di

http://www.dokterkomputer.com. Portal tersebut berisikan

berita terbaru dari dunia komputer dan IT sehingga

 

para “pasien korporat, tidak tertinggal dengan

update teknologi mutakhir. Selain itu, kolom klinik

dokter komputer pun tersedia di portal tersebut

sehingga arsip-arsip dan praktik kedokteran

komputer serta tanya jawab dengan pasien

tersimpan dengan rapi, dan dapat terus diakses

oleh “pasien”.

“Untuk membuat pasien kami lebih mudah

menghubungi dan berinteraktif dengan kami, kami

pun memberikan layanan dokter jaga di portal kami.

Para dokter pun akan stand-by melalui layanan

yahoo messenger untuk siap memberikan jawaban,

atau layanan lainnya yang berhubungan dengan

perangkat keras mereka,” papar mantan Project

Manager sebuah perusahaan multinasional ini. Para

pasien atau kiien juga diberikan fasilitas mailing list

sehingga mereka dapat berinteraktif langsung

dengan dokterkomputer.com maupun pasien lainnya.

Untuk menyebarkan informasi tentang perusahaan ini,

 

Iim menggunakan Internet sebagai sarana

promosi. Selain itu, pada setiap perangkat keras

yang telah disembuhkan pun, ditempeli label yang

tertulis, “Hardware ini sakit? Hubungi

dokterkomputer.com”. Selain itu, para “dokter yang

berkunjung ke pasien-pasien korporat tersebut

selalu menggunakan seragam kedokteran

(t-shirt/kemeja/jaket) yang bertuliskan

dokterkornputer.corn di belakangnya.

Dalam berbisnis, Iim Rusyamsi selalu mengacu

pada visi dan misi perusahaan yang telah

ditetapkan. Visi dan misi perusahaannya juga selalu

 

dievaluasi, karena dia yakin visi dan misi adalah hal

penting yang terus berkembang.

Visi dan misi kadang terlupakan oleh kebanyakan

 

orang dalam memulai bisnis. Banyak orang

yang memulai bisnisnya tanpa mempunyai visi yang

jelas. Visi bisnis haruslah sesuatu yang mungkin

sulit tercapai, namun pasti kita akan dapat

mencapainya di masa yang akan datang. Visi pun

haruslah kita set agar kita menjadi yang terbaik

dalam bisnis yang kita lakukan di wilayah kita,

bahkan seluruh dunia. Visi merupakan impian yang

hendak kita wujudkan dan memberikan gairah dalam

berusaha.

Vlsi yang kita buat haruslah dapat memberikan

inspirasi dan spirit kepada seluruh team member

dalam bisnis. Bagaimana kita menuju visi yang kita

sudah buat. Misi adalah roadmap untuk mencapai

visi tersebut. Mission statement meliputi siapa

kita, bisnis apa yang kita sedang lakukan, siapa

customer yang kita inginkan, dan apa yang

membedakan kita dengan yang lainnya, papar pria

yang sering tampak kalem ini.

Semenjak memutuskan diri menjadi pengusaha,

banyak perubahan yang dialami Iim Rusyamsi, baik

 

dari segi pola pikir maupun kebiasaan sehari-hari.

 

Yang pasti Iim merasa kini dia bisa lebih menikmati

kehidupannya. Saat ini, dia hanya

membutuhkan waktu kurang dari 10 menit

 

dari rumah menuju kantor. 11m memang tinggal

 

di dekat kawasan Kota Baru Bandar

Kemayoran, Jakarta Pusat. Sementara kantor

bisnisnya saat ini ada 3. Yang pertama, di

Kemayoran yaitu PT Mitra Global Sejahtera, yang

ditempuh hanya S menit dari rumah. Yang kedua,

toko komputer di Mangga Dua Square yang bisa

ditempuh kurang dari 10 menit. Dan yang ketiga di

Mangga Dua Square juga.

Dulu sewaktu tinggai di Cengkareng dan berkantor

 

di Sudirrnan, Iim sering mengalami

kesuntukan di jalan setiap hari, selain itu juga

sangat boros bahan bakar dan tol. Pada 2003, dia

memutuskan untuk menjadi pengusaha dan

memberikan jabatannya kepada rekan kerja yang

membutuhkan. Pada 2004, dia pindah rumah

sebagai saiah satu strategi hidup untuk

mendapatkan kebebasan waktu yang lebih banyak.

Saiah satu impian Iim dari dulu adaiah

mendapatkan kebebasan waktu. Saat ini pada pagi

hari, dia masih bisa bermain dengan anak-anaknya

dan kadang berkantor dulu di rumah. Sore hari,

biasanya dia sudah di rumah dan belajar bersama

anak-anak. Kemana pun istrinya minta diantar, dia

seiaiu siapkan waktunya.

Iim pun tidak ketinggaian untuk dapat mengantar

 

anak-anaknya pergi les/kursus. “Yah,

kebebasan ini hanya bisa kita ciptakan sendiri,

harus ada cara yang berbeda untuk mendapatkan

hasil yang beda. Kita sendiriiah yang menciptakan

keadaan ini,” tutur Iim dengan bangga.

 

Untuk itu, dia menciptakan beberapa usaha

dengan kantor tidak jauh dari rumahnya sehingga

dia bebas kapan saja akan pergi ke kantor dan

pulang ke rumah. Dengan cara ini, dia tidak begitu

merasakan kemacetan yang ada, karena jika

memang ada kemacetan, dia tidak pergi pada saat

jam-jam macet tersebut. Dia bebas mengatur

waktu pergi kapan saja dia mau. Hal ini membuat

Iim merasa waktunya dapat lebih produktif untuk

kantor dan berkualitas untuk keluarga.

Dengan kondisi ini, Iim dapat juga bermasyarakat

 

di lingkungan sekitarnya. Terkadang pada

malam hari, dia yang kebetulan jadi ketua RT, dapat

berkumpul dengan warga dan petugas keamanan

atau kebersihan di lingkungan rumahnya. Iim juga

dapat aktif di kegiatan masjid, karena dia juga

mendapatkan kepercayaan untuk menjadi pengurus

yayasan masjid di dekat rumahnya. Jadi,

keseimbangan dalam bisnis dan sosial pun harus

bisa kita atur, kata Iim.

Ada tips yang pernah diterapkan Iim sehingga

dia bisa berbisnis secara smart di Internet. Tips

tersebut adalah menggunakan IT untuk membawa

pesan-pesan emosional kepada customer sehingga

 

mereka mendapatkan emotional benefit selain

thing benefit. Sebelum kita memberikan emotional

 

benefit kepada customer, pastikan

seluruh tim dalam bisnis kita merasa feel good.

Kecanggihan IT juga menyebabkan perubahan

pada faktor emosional pelanggan yang naik-turun.

Arus informasi menyebabkan kondisi emosi

pelanggan dapat berubah dengan cepat. Kita perlu

memberikan sentuhan khusus pada teknologi dari

produk bisnis kita yang dapat mengakomodasi

kebutuhan emosional pelanggan yang bersifat lebih

personal, papar Iim menjelaskan salah satu kiatnya.

Di samping itu, Iim menyarankan untuk bergabung

 

dengan komunitas yang berhubungan

dengan produk yang kita tawarkan. Akan lebih baik

lagi jika kita bisa secara aktif terlibat dalam

kegiatan atau diskusi dalam komunitas tersebut,

untuk dapat menyelami kebutuhan dan keinginan

konsumen. Di samping itu, menjaga hubungan baik

menjadi kunci sukses berikutnya.

 

Dari Buku: Rahasia Jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan

Agus Ali, Semula IT Manager Lalu Berani Keluar dari Comfort Zone, Kini Jadi Pengusaha Sukses

Meski dibesarkan dalam keluarga pegawai dan

sekian tahun bekerja sebagai profesional, Agus

Ali kini justru tampak sangat menikmati perannya

sebagai pengusaha. Kiprah Agus Ali sebagai

pengusaha, tepatnya dimulai pada 19 Januari 2007.

Saat itu adalah hari terakhir bagi Agus, demikian dia

akrab disapa, menyandang status sebagai

karyawan pada sebuah perusahaan Jepang,

tempatnya bekerja selama 13 tahun terakhir.

Keputusan Agus untuk terjun 100% sebagai

pengusaha tentu telah melalui pertimbangan yang

 

matang. Hal ini mengingat bahwa sebelumnya dia

sudah mencoba untuk hidup di dua alam (amfibi),

alias menjadi karyawan sekaligus pengusaha. Dia

pun pernah membangun beberapa bisnis, di

antaranya bisnis konveksi dan membuka toko di ITC

Mangga Dua. Sayangnya, beberapa bisnis yang

pernah dirintisnya belum berhasil seperti yang dia

harapkan. Namun, Agus tidak pernah menyerah dan

terus mencari peluang bisnis yang paling cocok dan

pas buat dirinya.

Pada awal 2007, Agus membuat keputusan berani dengan mengepakkan sayap

 

bisnis yang berhubungan dengan otomotif. Bersama seorang

partner, dia mengajukan diri sebagai franchisee

dengan membuka Autobridal 32 di daerah Cipinang,

Jakarta. Sampai saat ini bisnisnya masih berjalan

dan terus menunjukkan perkembangan yang baik.

Saat ini, bersama partnernya juga, Agus

mengembangkan bisnis dalam bidang pelatihan dan

konsultan dalam bidang teknologi informasi. Pada

bisnis IT ini, Agus seperti benar-benar menemukan

passionnya sehingga dia sangat menikmati ketika

harus terjun langsung ke lapangan.

Berlabuh pada bisnis IT, panggilan jiwanya ini,

tentu tidak lepas dari pekerjaan dia sebelumnya

yang menggeluti dunia IT selama 13 tahun. Bahkan,

ketika ada kesempatan sekolah lagi pada jenjang

pascasarjana, Agus juga mengambil program bidang

IT. Walaupun sempat mencoba berbagai macam

bisnis yang lain, Agus menyimpulkan bahwa

ternyata kehidupannya tidak jauh dari dunia IT.

 

 

Agus Ali mengakui, tidak mudah baginya untuk

keluar dan comfort zone. Ketika menjabat sebagai

manajer IT, semuanya serba terlayani. Setelah

keluar dari pekerjaan, dia harus melayani diri sendiri

dan tentu saja dengan biaya sendiri. Hal ini harus

dilakukannya ketika harus “kelayapan”, untuk

bertemu dengan berbagai kalangan, seperti

investor, pejabat, media, dan lainnya.

Namun, ternyata efek yang didapat setelah

keluar dari zona nyaman tersebut luar biasa.

Semuanya seakan mengalir begitu saja. Banyak

kejutan baru yang justru memberikan banyak

manfaat dan pelajaran baginya. Hal-hal yang

pernah dia rencanakan memang ada yang gagal,

tetapi dari kegagalan itulah, justu dia mendapat

jaringan dan hal-hal baru yang lebih dahsyat. Agus

semakin meyakini sebuah ungkapan yang sering

diutarakan para motivator bahwa untuk sukses,

seseorang memang harus berani keluar dari zona

nyamannya.

Proses menjadi pengusaha bagi Agus merupakan pengalaman yang luar biasa.

 

Untuk itulah dia selalu menikmati setiap proses yang dilaluinya.

Sebagai orang yang sangat menghargai sebuah

proses. Agus menekankan pentingnya melalui

berbagai tahapan untuk mencapai hasil. Kalau

diibaratkan sebuah proyek manajemen, apa pun

yang akan dilakukan tentu melewati sebuah proses,

 

mulai dari inisiasi, start, implementasi, review, dan

finish.

 

Mengenai hasilnya, kalau ada masalah pada hasil

akhir berarti ada masalah pada prosesnya. Proses

itulah yang harus diperbaiki lebih dulu. Hasil akan baik

bila prosesnya juga baik.

 

Jadi, kalau hasilnya balk tetapi prosesnya tidak

balk, ini hanya untung-untungan saja. Jika mau

berhasil menjadi pengusaha, seluruh langkah menuju

ke arah sana juga harus dikerjakan dengan sebaik-baiknya.

Knowledge is not power without action plus

brilliant idea, Ilmu pengetahuan tidak akan menjadi

kekuatan bila tidak disertai dengan tindakan konkrit

plus ide yang brilian. ujar pria yang suka bercanda

ini. Ilmu pengetahuan tidak akan menjadi sebuah

power yang dahsyat, jika hanya sekadar dibaca

namun tidak diaplikasikan.

Pengetahuan tanpa action memang akan

percuma. Namun, pengetahuan dengan action saja

pun tidak akan menghasilkan power yang dahsyat

bila tidak diikuti ide brilian. Pengetahuan dengan

action bisa dikatakan hanya sebatas proses amati

dan tiru. Bila menghasilkan ide brilian dan

menerapkannya, akan lengkaplah prinsip dalam

bisnis yang disebut ATM (Amati, Tiru, dan

Modifikasi).

Agus pun menyarankan bagi yang telah membaca buku atau ikut pelatihan

 

kewirausahaan, agar segera mempraktikkannya. Dengan mempraktikkan

 

ilmu dalam bisnis sendiri, berbagai ide brilian pasti

akan terus bermunculan, kata Agus meyakinkan.

Namun begitu, Agus juga menekankan penting

nya para pebisnis pemula mempunyai persiapan.

Jangan lompat ke batu yang rapuh, nanti bisa

terpeleset dan jatuh, kata Agus dengan bahasa

kiasan. Batu yang rapuh itu belum bisa dijadikan

pegangan, belum kokoh dan kuat. Para pebisnis

perlu memastikan juga batu tersebut cukup kokoh

dan kuat sebelum melompat di atasnya.

Pemaparan Agus tentang fenomena pindah

kuadran dari karyawan ke pengusaha ini didasarkan

pada pengalamannya sendiri. Saat pertama kali,

berhubung pijakan batu yang tidak kuat, Agus

sempat terpeleset dan merasakan jatuh bangun.

Namun, dia masih beruntung karena bisa cepat

bangkit. Agus pun kembali meneruskan “berenang”

sambil terus membuat fondasi yang Iebih kuat.

Sampai sekarang dia sudah berpijak pada fondasi

itu. Agus terus fokus untuk menguatkan

fondasinya, karena dia yakin dengan bertambahnya

pengalaman dan dukungan teman-teman, serta

network yang besar, fondasi yang Iebih kuat bisa

dia susun.

Secara pribadi, Agus kurang setuju dengan

pendapat yanq menyatakan bahwa kalau mau pindah kuadran, sebaiknya

langsung nyemplung begitu saja, karena nanti

pasti akan dapat ilmunya.

Menurut Agus, bagaimana pun berpindah kuadran dari karyawan ke pengusaha

membutuhkan persiapan yang tidak sederhana.

Terutama persiapan mindset dan mental.

Selain itu, Agus juga menekankan pentingnya

fokus dalam bidang bisnis yang dipilih. Dia sendiri

mempunyai pengalaman soal ini. Agus pernah

serakah dengan menjalani bisnis ini dan itu, namun

hasilnya malah tidak ada yang fokus dan bisnis

gagal satu per satu. Semua rencana jadi

berantakan. Modal jauh berkurang. Tenaga juga

terkuras habis. Namun, anehnya justru yang tidak

direncanakan malah ada yang berhasil.

Dengan latar belakang S2 dalam bidang IT dari

sebuah universitas ternama, dan memegang

sertifikasi internasional, Project Management, Agus

Ali kini juga mengajar berbagai kelas pelatihan untuk

materi IT Project Management dan IT Quality Assurance.

Ketika ditanya mengenai fllosofi work hard,

pray hard, dan play hard, Agus menjelaskan bahwa

kerja keras sudah tertanam sejak dia masuk kerja di

perusahaan Jepang. Dengan metode kerja sampai

‘mati’ saya di tempa habis-habisan selama 13

tahun, paparnya. Hasilnya badan Agus terasa

pegal-pegal kalau tidak melakukan aktivitas.

Otaknya serasa tumpul kalau tidak dipakai.

Terhadap work hard yang dia lakukan ter

hadap bisnisnya, Agus merasa hal itu bukanlah work

hard. Karena dia melakukannya dengan enjoy

sebagai hobi dan bukan kewajiban. Setelah work

hard, dia juga pray hard, dan play hard. Dia selalu

 

mengimbangi aktivitas bisnisnya dengan aktivitas

spiritual. Di sela-sela kesibukannya, Agus tetap

menyempatkan din untuk bermain tenis atau

badminton yang dilakukannya dua kali seminggu. Di

samping itu, dia juga selalu menikmati waktu

bersama keluarga dengan jalan-jalan atau liburan ke

luar kota.

Menurut Agus, apa pun yang kita kerjakan harus dikejakan

 

dengan sungguh-sungguh, apakah itu

aktivitas bekeja, olahraga, istirahat, dan

sebagainya. Hasilnya otak dan badan kita bisa

memilah-milah kapan waktunya bekeja keras,

kapan waktunya bermain, dan kapan waktunya

beristirahat.

 

Agus berusaha menjalani hidup ini sesuai

dengan perasaannya,sesuai hatinya. Dulu saat

mempunyai karier bagus, gaji bagus, rumah tangga

bagus, aset mobil dan rumah bagus, dia masih

merasa hampa, karena sudah tidak ada tantangan

lagi. Kemudian setelah menjadi pengusaha, semua

serasa menjadi tantangan baginya.

 

Dari Buku: Rahasia Jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan

Ade, Mantan Manajer IT yang Sukses Lewat Bisnis Software Development ‘Jsoft’, Produknya Kini Sudah Menembus Mancanegara

Berbekal ketekunan dan semangat pantang

menyerah, Ade Aan Wirama memantapkan diri

terjun sebagai pengusaha dalam bisnis software

development. Bersama dua orang partner, dia

mendirikan perusahaan software development

dengan nama Jade Software Indonesia. Selain itu,

Ade juga memfokuskan diri pada jasa

pengembangan software untuk urusan logistik,

pembuatan program yang disesuaikan dengan

kebutuhan costumer.

Berkat profesionalisme yang tinggi, perusahaan

Jsoft Indonesia kini telah dikenal, terutama di dunia

logistik. Klien perusahaan ini pun tidak hanya dari

dalam negeri, bahkan sudah banyak yang berasal

dari luar negeri. Perusahaan yang mempunyai

alamat situs http://www.jsoftindonesia.com ini berkantor

di Kelapa Gading, Jakarta.

Beberapa software andalan Jsoft di antaranya

adalah J-Freight dan J-Repair. Software J-Freight

yang sangat dibutuhkan oleh dunia logistik tersebut

kini telah mendobrak pasar Jerman, Hongkong, dan

Singapura. Sedangkan software J-Repair kini

menjadi program standar untuk berbagai bengkel di

bawah salah satu grup terkenal yang mempunyai

anggota 200 bengkel.

Perjalanan Ade menjadi pengusaha di bidang ini,

dimulai ketika dia mengambil keputusan untuk

mengundurkan diri dari sebuah perusahaan

pelayaran nasional pada awal 2000. Saat itu, dia

menjabat sebagai IT Manager dengan lima orang

staf IT dan sebelas staf EDP. Saat itu bisa dibilang

gaji Ade sudah cukup tinggi, selain menerima

fasilitas mobil dan notebook, dia juga mempunyai

hubungan yang sangat dekat dengan owner.

Dengan kenyamanan seperti itu, sangat wajar jika

banyak pihak yang menyayangkan bahkan

menentang keputusannya untuk mengundurkan diri,

termasuk orangtua dan mertua. Hanya istrinyalah

satu-satunya orang yang sangat mendukung

keputusannya saat itu.

Ade mulai berbisnis dengan modal keyakinan

yang kuat bahwa dia akan berhasil. Dia bahkan

memulainya tanpa mobil, notebook, atau komputer

yang bagi sebagian orang IT adalah salah satu

‘tangan’. Ade hanya mengandalkan sedikit

tabungannya yang masih tersisa. Selama empat

bulan pertama, dia telah menghabiskan sisa-sisa

tabungannya. Hingga akhirnya, dia memperoleh

proyek pertama berupa penjualan hardware dengan

keuntungan 10 juta.

Keuntungan tersebut langsung digunakannnya

sebagai modal membeli notebook. Berkat

ketekunannya, proyek berikutnya pun datang silih

berganti hingga akhirnya Ade bisa menyewa gedung

di Graha Kirana, Jakarta, lantai tujuh, dan

membawahkan tujuh orang karyawan.

Saat Ade mulai menikmati hasil perjuangannya,

tiba-tiba satu customer besamya menyatakan

bangkrut pada 2 Januari 2001. Imbasnya mereka

tidak bisa membayar tagihan penjualan komputer

dari perusahaan Ade sebesar 150 jutaan.

Customer-nya juga tidak bisa melunasi tunggakan

jasa lainnya yang nilainya ratusan juta. Sementara

saat itu, tidak ada satu pun aset yang bisa disita

karena sudah disita terlebih dahulu oleh perusahaan

lain yang juga memberikan kredit kepada

customer-nya. Karena manajemen yang belum

bagus, tingginya piutang yang tak tertagih,

akhirnya perusahaan Ade ikut bangkrut.

Sementara dia sendiri masih mempunyai utang

kepada supplier yang jumlahnya cukup besar.

Ade pun harus menerima kenyataan pahit ini

dengan lapang dada. Satu tahun setelah dia
memutuskan menjadi entrepreneur, kondisinya pada

saat itu seperti berbalik 180 derajat, dan secara

mendadak dia mempunyai utang sekitar 250 juta.

Saat itu benar-benar menjadi masa yang sulit

bagi Ade dan keluarganya. Karyawan dan

teman-teman yang dulu dekat dengannya tiba-tiba

seakan menjauh entah kenapa. Dalam kondisi

bangkrut, Ade juga masih harus berurusan dengan

kejaran para debt collector yang disewa para

suppliernya.

Ade pun menjual seluruh harta benda, mobil,

notebook, computer, dan handphone untuk

membayar sisa gaji karyawan dan sebagian utang.

Namun, dia tetap mempertahankan rumah untuk

keluarganya berteduh. Ade juga tidak pernah punya

niat untuk melarikan dir. Dia hadapi seluruh cacian,

telepon, surat, bahkan kedatangan 8 orang debt

collector dalam satu mobil kijang untuk menagih

utang. Dia hadapi semua itu dengan kebesaran jiwa

dan penuh ketabahan.

Namun, tidak ada satu pun di dunia ini yang

bisa menghalanginya untuk tetap hidup, tetap

bersemangat, dan tetap yakin bahwa dia bisa

menyelesaikan masalah yang menghimpitnya. Oleh

karena itu, dengan cobaan yang sangat berat

karena lilitan utang, Ade memberanikan diri

membuat proposal bisnis dan melamar kembali

menjadi profesional di sebuah grup perusahaan

ternama.

Ade selalu berkeyakinan bahwa Tuhan akan

memberikan yang terbaik buat hamba-Nya. Dia
yakin banyak hikmah dan pelajaran yang bisa

diambil dari peristiwa kebangkrutannya itu. Ade

sangat bersyukur bahwa dalam waktu satu bulan

setelah tragedi itu, dia bisa kembali bekerja sebagai

pimpinan pada sebuah perusahan consulting dalam

grup perusahaan ternama. Hasil dan bekerja

sebagai profesional, dia gunakan untuk melunasi

kewajiban secara bertahap, sambil terus melakukan

recovery terhadap perekonomian keluarganya.

Berkat prestasinya dalam mengelola perusahaan, Ade pun akhimya direkrut

sebuah perusahaan Swiss yang berbasis di Hongkong. Dia sempat

bekerja dan tinggal di Hongkong. Namun, jiwa

petualangan dan wirausaha yang mengalir dalam

dirinya, membuat Ade kembali tertantang untuk

menjadi pengusaha. Maka pada 2003, Ade kembali

memutuskan keluar dari perusahaan Swiss.

Walaupun saat itu, dia menerima gaji dalam dolar

dengan nilai yang cukup besar untuk ukuran

Indonesia.

Ade kembali dikatakan gila oleh kawan

kawan dekat, orangtua, dan mertuanya. Namun

sekali lagi, dukungan yang sangat besar diberikan

oleh istrinya. Dia begitu percaya bahwa Ade mampu

menjadi pengusaha. Apalagi waktu itu dia lebih siap

dengan modal seperti notebook, kendaraan, dana,

network dan sebagainya.

Kini, perusahaan yang didirikannya semakin

mantap melenggang sebagai pemain yang amat

diperhitungkan dalam bidang software

development, khususnya untuk dunia logistik.
Omzet semakin meningkat seiring dengan

bertambahnya jumlah customer. Apalagi Ade

berhasil melakukan negosiasi untuk bisa melakukan

pekerjaan secara remote sehingga pada saat yang

sama dia bisa melayani untuk banyak customer

sekaligus.

Ketika ditanya tentang lebih enak mana antara

menjadi karyawan atau pengusaha. Ade

menjelaskan dengan mengambil perbandingan satu

orang kawan yang paling bagus kondisinya, di

antara sekian banyak kawannya yang masih

menjadi karyawan hingga saat ini.

Saat pertama kali bekerja sebagai karyawan

sekian tahun yang lalu, kawannya itu memperoleh

gaji Rp500 ribu dan bisa menyuruh-nyuruh orang

karena grade-nya agak tinggi. Sementara Ade

hanya digaji Rp125 ribu, karena dia-lah orang yang

di suruh-suruh itu. Dua tahun kemudian, kawannya

naik pangkat menjadi manajer dengan gaji Rpl,5

juta dan dapat fasilitas inventaris mobil. Sementara

gaji Ade hanya naik hingga Rp750 ribu dan tetap

menjadi anak buahnya. Satu tahun kemudian, gaji

kawannya naik lagi menjadi dua juta, sementara

Ade harus pindah kerja supaya mendapatkan gaji

sebesar satu juta.

Lima tahun kemudian, kawannya tersebut masih menjadi karyawan sebagai IT

Manager di sebuah perusahaan Korea dengan 10 anak buah.

Sedangkan Ade sudah menjadi pengusaha dan

keluar dari kantor dengan jabatan IT Manager

dengan 16 anak buah. Selama empat bulan setelah
keluar kerja, Ade tidak mendapatkan income, dia

hanya mengandalkan hidup dan sisa-sisa

tabungannya. Padahal saat itu, dia baru punya

anak umur tiga bulan, baru pindah satu bulan dari

rumah mertua ke rumah sendiri, tidak ada mobil

atau motor, tidak ada komputer atau pun notebook.

Yang menjadi modalnya saat itu hanyalah planning

kerja sebagai wiraswasta, dan sebuah produk

software yang sudah jadi.

Empat bulan kemudian, kawannya masih menjadi karyawan sebagai IT Manager di

Perusahaan yang sama, sedangkan Ade telah mendapat proyek

pertama senilai RplOO juta. Keuntungan dari proyek

tersebut langsung dia jadikan untuk modal usaha,

membayar utang, membeli notebook, dan membuka

SOHO (Small Office Home Office).

Saat ini, kawannya masih menjadi karyawan

sebagai IT Manager di perusahaan yang berbeda.

Sementara Ade tetap menjadi pengusaha,

berkantor di Kelapa Gading, bisa masuk siang dan

pulang siang itu juga, bisa liburan kapan saja,

punya notebook dan komputer, punya mobil, rumah

lebih besar, bisa menggaji karyawan, dan bahkan

berteman dekat dengan presiden direktur dari

tempat kawannya bekerja.

Dari cerita ini, Ade tetap merasa lebih enak

menjadi pengusaha daripada menjadi karyawan.

Walaupun di pertengahan jalan, ada tahap di mana

dia banyak mengalami berbagai hambatan, tapi

ternyata hambatan tersebut tidak menjatuhkannya,

melainkan justru memperkuat mentalnya sehingga
kualitas bisnis dan kehidupan keluarganya justru

semakin meningkat.

Sebagai salah satu ungkapan syukur atas karunia yang diterimanya, Ade

selalu berusaha untuk berbagi kebahagiaan dengan yang lain. Dia pun

mendirikan lembaga sosial dengan nama CFH

(Coding For Humanity). Lembaga ini memberikan

pelatihan komputer gratis bagi anak jalanan dan

anak-anak tidak mampu. Berbagai aktivitas

sosialnya di CFH bisa dilihat di blog-nya

http://www.wirama.wordpress.com. Biog tersebut

dimaksudkan Ade sebagai wadah informasi kegiatan

CFH, karena CFH belum memiliki web sendiri. Dia

berharap semoga apa yang tertuang dalam blog itu

dapat memberikan inspirasi bagi orang lain untuk

dapat saling membantu dengan sesama.

Saat ini, CFH telah mempunyai beberapa cabang, bukan hanya di Jakarta,

melainkan juga merambah ke Surabaya dan Bandung. Anak-anak

jalanan yang dilatih pun semakin banyak. Sejak

didirikan pada 17 Juli 2006, berbagai pelatihan

komputer gratis bagi anak jalanan telah dilakukan.

Pelatihan pertama diadakan di Dilts Foundation, dan yang terakhir di Rumah

Singgah Pelita Rasamala Senen. Sejumlah relawan

programmer yang direkrut Ade juga bertambah dari

semula lima relawan hingga kini menjadi tiga puluh

lima relawan. Mereka semua tersebar di Jakarta,

Bandung, dan Surabaya.

Melalui CFH, Ade dan kawan-kawannya

meluangkan waktu, dana, dan tenaga demi sebuah

misi sosial, tanpa mengharapkan imbalan apa pun.

Bahkan, tidak jarang mereka harus mengeluarkan

dana sendiri untuk operasionalnya. Ade bertekad

menyumbangkan sebagian keuntungan bisnisnya

khusus untuk mengembangkan CFH ini.

Sejak awal, Ade memang tidak berniat untuk

menggalang dana atau meminta sumbangan dari

pihak lain. Selain mendapatkan pendanaan dari

keuntungan Jsoft Indonesia, Ade juga membuka

sebuah toko komputer di Mangga Dua Square untuk

menopang biaya operasional CFH.

Ade juga salut dan bangga dengan kawan

kawannya yang rela datang jauh-jauh dari

Pamulang sampai Tanjung Priok hanya untuk

mengajar di CFH Jakarta. Banyak kejadian yang

membuatnya terharu. Ada yang kehujanan saat

perjalanan pulang. Ada yang mengalami kecelakaan

kecil sebelum mengajar, tapi karena dia

bertanggung jawab untuk materi pengajaran serta

jadwal mengajarnya, dia tetap datang juga.

Walaupun masih terlihat bekas lukanya, kawannya

ini tetap semangat untuk mengajar dan memberikan

komitmennya.

Ade berkeyakinan bahwa bisnisnya akan

mendapatkan banyak rahmat dan rezeki berkat

aktivitas sosialnya di CFH. Ade merasa tercerahkan

dan menyadari bahwa ketika berbisnis saja dibantu

oleh Allah, apalagi ketika mengadakan kegiatan

sosial. Ade yakin dia tidak akan kekurangan atau

miskin dengan banyak mengeluarkan dana untuk

aktivitas sosialnya.
Fakta justru membuktikan bahwa sebetulnya

Allah telah memberikan rezeki yang begitu berlimpah

kepadanya semenjak CFH didirikan. Dia banyak

menerima pesanan software, baik untuk perusahaan

lokal maupun multinasional.

Sebagaimana pengusaha yang lain, Ade

menyatakan pentingnya fokus dalam usaha

membangun sebuah bisnis. Alhamdulillah saya bisa

menjaga fokus bisnis saya, yaitu dalam bidang

software development. Apa pun kondisi yang

sedang saya hadapi, customer mengenal saya

sebagai ahli di bidang tersebut, ungkap pria yang

sejak kecil jago main catur ini.

Berkat konsistensi, calon customer maupun

customer yang sudah ada, tetap melihat Ade

sebagai pebisnis yang konsisten dan fokus terhadap

jalur bisnisnya. Setiap mereka butuh software,

mereka akan ingat kepada saya atau perusahaan

saya, papar Ade yang menghabiskan masa

remajanya di Malang, Jawa Timur ini.

Dalam berbisnis, Ade juga menekankan pentingnya prinsip be yourself.

untuk menerapkan ini, seorang pebisnis

terlebih dahulu perlu mengetahui kemampuan,

keahlian, apa yang menjadi passion-nya, ujar anak

seorang PNS ini.

Bagi teman-teman yang ingin terjun menjadi wirausaha, Ade tetap

menyarankan pentingnya sebuah persiapan.

Persiapan di sini bukan hanya dan soal dana saja,

walaupun dana itu penting, yang paling

utama adalah persiapan mental. Selain itu juga

rencana bisnis yang matang, bidang apa yang akan

digeluti, dan berapa target kerja yang akan dicapai.

Persiapan juga mencakup pengetahuan tentang

berbagai hal yang berhubungan dengan industri

yang akan digeluti. Membina hubungan dengan

calon partner, ikut milis yang mendukung, dan

bergabung dalam komunitas juga akan membantu

perkembangan bisnis kita, ungkap pria yang senang

tampil modis ini.

Begitu target dibuat, “jangan mundur satu

langkah pun,” tegas Ade. Apabila ada hambatan di

jalan, anggap saja itu latihan sebelum bertemu

hambatan sesungguhnya di belantara bisnis. Satu

hal penting yang harus diingat adalah perusahaan

hanya akan menerima kita bekerja sampai batas

umur tertentu, tapi perusahaan milik kita sendiri

akan tetap menerima dan menampung kita seumur

hidup.
Dari Buku: Rahasia Jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan

Habibie, Keterbatasan Fisik Tak Halangi Kesuksesannya Menjadi Pebisnis Online

TIDAK perlu berwajah tampan,
berpostur proposional, dan
terlihat maskulin untuk dapat
menjadi seorang marketer. Ini
terlihat dari perjuangan Habibie
Afsyah sebagai seorang marketer.

Setiap orang pasti memiliki
kemampuan dan keahlian masing-
masing dalam memperjuangkan
hidupnya. Tetapi berbeda dengan
Habibie, pria kelahiran 6 Januari
1988 yang hanya tamatan SMA
Sunda Kelapa ini dapat meraup
ribuan dolar per bulan dengan
keterbatasannya, menderita cacat
kaki dan tangan.

Habibie memulai karirnya dengan
pegangan ingin membuat
pandangan orang lain bahwa dia
bisa mandiri. Dengan persepsi
tersebut, dia memulai bisnisnya
tidak jauh dari hobinya bermain
game di dunia online, yakni
internet Advertiser.

Pemenang Danamon Award 2012
ini, pada 2007 mendaftarkan diri
pada situs Amazon.com yang
merupakan situs penjual terbesar
saat itu. Dirinya pun hanya
mendapat imbalan kecil sekira
USD24 per bulan. Barulah
menjelang lima sampai enam
bulan kemudian, pengiriman
ceknya telah mencapai USD120
per bulan.

Singkat kata, imbalan yang terus
meningkat sampai ribuan dolar
pun membuat Habibie makin
bersemangat. Keterbataskan fisik
yang dialaminya seakan tak
mampu menyurutkan
semangatnya untuk bisa menjadi
seorang marketer sejati.
“Mulai dari situ saya menerapkan
ke orang lain, dan ingin
menghilangkan paradigma orang-
orang bahwa orang seperti saya
itu merepotkan dan mengganggu,”
tegas Habibie kepada Okezone.

Krisis Global Melanda
Orang berusaha pastinya
mempunyai banyak kendala dan
hambatan. Saat krisis global
melanda pada pertengahan 2008,
Habibie pun gagal menargetkan
keuntungan hingga USD10 ribu.
Namun dia tidak patah semangat,
Habibie memulai usahanya lagi di
pasar dalam negeri.

“Dunia online itu kan sangat cepat
perkembangannya, jadi saat surut
seperti itu, saya menambah ilmu
lagi untuk dapat menyamakan
dengan perkembangannya, dengan
cara keluar kota dan lain-lain.
Penghasilan dibuat untuk biaya
belajar dan biaya keluar kota
nantinya,” ujar Habibie.
Terus Berkembang Walau Surut
Motivasinya yang ingin terus
berkembang dan mandiri,
membuat dia tidak puas diri.

Pada 2011 dia mulai merambah
dunia marketing baru, yakni
AdSense.com, perusahaan ini
terafiliasi dengan Google.com.
“Ini menjadi penghasilan utama
saya. Iklan di atas nama Google
memberikan saya penghasilan dari
banyaknya orang mengklik
iklannya,” ujar Habibie.
Alhasil, dari bisnis ini Habibie
mengaku sempat mencairkan cek
sekira USD6 ribu. Hal ini tentu
saja membuatnya bagaikan
tertimpa durian runtuh. Berkat
pekerjaannya di dunia internet,
Habibie pun mendapat gelar
“Suhu Internet Marketer” dari
para blogger.
Habibie pun mendirikan yayasan
yang mengedukasikan para
penyandang cacat fisik, agar
dapat berusaha dalam dunia
Internet Marketer.

“Mendapatkan uang dari
Danamon Award 2012 sebesar
Rp60 juta. Uang tersebut akan
saya gunakan untuk
mengembangkan yayasan saya,”
pungkasnya.
(mrt)( Fakhri Rezy )

Sumber: http://m.okezone.com/read/2012/08/23/22/680124/keterbatasan-fisik-ubah-habibie-jadi-marketer-sejati

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,430 other followers