Blog Archives

Nyimas Hurmah Ryzka, Pemilik Rumah Tenun: Anak Muda Pencinta Kain Tua

Sungguh beruntung negeri kita kaya akan kain Nusantara. Bila saja setiap orang mau sedikit jeli, warisan budaya ini dapat menjadi sumber emas yang berlimpah.

 

 

TOKO TENON DI Jalan Taman Siswa, Palembang, itu tampak ramai oleh pengunjung. Pads tahun 2006 saja, lebih dari 10 ribu orang telah berkunjung ke tempat tersebut, Rumah Tenun, begitulah Hama toko yang menjual berbagai wastra atau kain tradisional Palembang itu. Menghidupkan kembali bisnis yang dulu ditekuni buyutnya, Nyimas tak menyangka usahanya akan maju sepesat itu, bahkan dengan omzet mencapai miliaran rupiah. Konsumennya—yang kebanyakan adalah wanita dari tingkat ekonomi menengah ke atas—bukan hanya datang dari kota sekitar, melainkan jugs dari Jakarta clan Medan. Bahkan, ada pula pelanggan yang datang dari Malaysia, Singapura, Thailand, dan Prancis.

 

MEWARISI DARAH BISNIS

Usia dara berdarah asli Palembang ini belum lagi 25 tahun. Tapi, ia sudah mantap menekuni bisnis kain. Padahal, latar belakang pendidikannya bukanlah bidang tekstil, marketing atau bisnis, melainkan hukum. Lulusan Magister Kenotariatan Universitas Sriwijaya ini sudah mempraktikkan bisnis sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Iseng-iseng, barang yang ia bawa dari rumah, dijual kepada teman-temannya di sekolah. Misalnya, bekal makanan, apa pun jenisnya. Lucunya, dagangannya laris manic di kalangan temannya. Nyimas kecil pun sudah pintar mengelola keuangan. Uang yang ia dapatkan dibagi menjadi beberapa pos. sebagian ia belikan jajanan, sebagian lagi ia ‘tabung’ dengan cara diselipkan dalam buku tulis.

“Belakangan, tak hanya bekal makanan, buku-buku di rumah yang sudah tidak terpakai pun saya jual,” ujarnya tergelak. Karena merasa senang saat mendapat uang, Nyimas makin semangat berniaga. Nyimas belia mulai berpikir ke depan. la menyisihkan sebagian uangnya untuk dijadikan modal agar bisa berjualan lagi. Kali ini ia ingin agar jualannya agak sedikit lebih serius. la membeli kacang atom dalam bungkusan besar. Saat malam hari, tangan-tangan mungilnya dengan telaten mengemas kacang-kacang tersebut dalam plastik-plastik es kecil-kecil, lalu kemasan itu ia ‘kunci’ dengan membakar lipatannya di atas api dari lilin. Pagi harinya ia tawarkan pads teman-temannya. Dan…, laris!

 

Belajar melihat peluang yang ada di sekitar. Songket Palembang milik keluarga telah ada cukup lama, namun hanya dia yang berhasil mengubahnya menjadi bisnis miliaran rupiah.

 

 

Makin banyak penghasilan yang didapat, Nyimas semakin semangat men- cari uang jajan dan tabungan. Nyimas bahkan merelakan hari Minggunya dihabiskan untuk membuat gula palu. Permen tradisional warna-warni dari gula ini adalah jajanan khas Palembang. Berdua dengan adiknya, ia menjual permen ini di camping rumah. Lama-kelamaan, barang dagangannya merambah ke mana-mana. Berawal dari bekal makanan, kacang clan permen, belakangan diam-diam ia membisniskan makanan yang tersaji di meja makan rumahnya! Entah itu kadang rebus atau nasi goreng. “Yang penting menghasilkan uang. Ha … ha—ha … . Begitu seterusnya. Uang yang saya dapat lalu saya kumpulkan untuk membeli sesuatu yang saya inginkan,” tuturnya bangga.

 

BONGKAR PINJAM SONGKET NENEK

Kedua nenek dari pihak ayah dan ibunya adalah pedagang songket dan perhiasan emas Palembang. Jiwa dagang sang nenek tampaknya mengalir pada darah ibunya, yang dikenal sebagai pedagang songket dari pintu ke pintu. “Dari situlah saya terbiasa mengikuti beliau berdagang songket Palembang, sampai mengikuti pameran tenun,” kisah Nyimas.

 

BIODATA

NYIMAS HURMAH RYZKA SUFTIANAH

Palembang, 29 September 1986

Pendidikan

Si Hukum, Universitas Sriwijaya, Palembang

S2 Kenotariatan, Universitas Sriwijaya, Palembang

Nama Usaha

Rumah Tenun

Alamat: A Taman Siswa No. 40, Lapangan Halta, Palembang

Penghargaan

2009 Finalis Nasional Wirausaha Muda Mandiri

 

Berjiwa wirausaha memang bukan berarti secara harfiah berbakat dagang, melainkan punya keinginan untuk hidup mandiri dan pandai melihat peluang. Inilah yang ada pada diri Nyimas. Suatu ketika, Nyimas melihat-lihal kain kuno khas Palembang yang dikoleksi neneknya. Warnanya masih sangat bagus, tapi sudah tidak bisa digunakan lagi karena kainnya sudah sangat tua, sehingga terlalu rapuh dan rentan sobek. la merasa sangat prihalin. “Songket milik Nenek adalah Songket Jantung, yaitu songket yang konon benang emasnya dicelup dengan emas 22 karat! Songket tersebut terbilang amat langka, sehingga harganya juga luar biasa mahal. Bisa mencapai Rp100 juta,” kata Nyimas.

la pun mulai memikirkan cara agar kain langka nan dantik itu bisa digunakan lagi. Ide cemeriang pun muncul, yaitu menduplikasi kain langka tersebut. Nyimas lalu meminjam kain milik neneknya dan ia bawa ke tempat perajin di dekat rumah. Dua bulan kemudian, songket yang ia idamkan pun selesai dibuat. “Saya sangat bahagia, akhirnya songket saya selesai,” katanya. Namun, karena merupakan hasil duplikasi, warnanya tidak bisa sama dengan songket aslinya. Songket yang kuno berwarna merah marun, sedangkan duplikatnya berwarna merah cabai. “Saat itu saya baru mengetahui bahwa songket kuno tidak bisa dibuat lagi dengan warna yang sama persis. Yang bisa sama hanya motifnya. Sebab, warna songket kuno ‘matang’ dengan sendirinya, seiring berjalannya waktu dan dipengaruhi kelembapan udara,” urainya.

Hal itu tak mematahkan semangat Nyimas untuk memasarkan duplikat songketnya. Selembar kain merah itu berhasil ia jual pada sahabat ibunya yang kebetulan memang sedang mencari songket. Sejak itu Nyimas makin ‘ketagihan’ menyambangi rumah neneknya, melakukan aksi ‘bongkar-pinjam’ kain koleksi lainnya. Nyimas pun terus membuat songket duplikat, meski belum tahu untuk apa dan akan dijual kepada siapa. Namun, ibu dan ayahnya tidak keberatan akan kreativitas anak mereka. Sebab, bukankah Nyimas telah membuktikan bahwa ia berhasil menjual songket kreasinya? Siapa tahu ini merupakan langkah awal perjalanan seseorang dalam merintis usaha, pikir orangtua Nyimas bijak.

 

Target market yang dibidiknya tepat, yaitu kelas menengah atas. Karena hanya kelas ini yang memiliki selera dan anggaran untuk membeli produknya.

 

 

 

TERJUN LANGSUNG KE PERAJIN

Pada 2006, Nyimas sekeluarga menempati rumah baru yang berlokasi di tengah kota. Lantai dasar sengaja dibuat lapang, tak diberi perabot apa pun. Awalnya akan dibuat kantor praktik notaris ayah Nyimas. Tapi, Nyimas punya ide yang lebih brilian. la mengusulkan agar lantai tersebut dijadikan toko, yang langsung disetujui oleh kedua orangtuanya. Mereka tahu benar bahwa kreativitas Nyimas membutuhkan wadah. Akhirnya, lantai itu menjadi display kain tenun. Meski hanya satu lantai, toko tersebut ia beri nama Rumah Tenun.

Untuk mempercantik ruangan, Nyimas meminjam koleksi barang antik milik ibunya untuk diletakkan di sudut-sudut ruangan. la pun mulai melancarkan rayuan pada orangtuanya, agar dipinjami modal. “Waktu itu saya sedang kuliah di semester 5. Saya belum punya keberanian yang cukup untuk meminjam pada bank. Lagi pula, apa yang bisa saya jadikan jaminan?” katanya.

Berbekal Rp400 juta dari orangtuanya, Nyimas membeli songket dari perajin. Karena modalnya memang tidak banyak (mengingat kain songket harganya sangat tinggi), ia hanya bisa mengumpulkan 25 pasang kain songket. Itu pun bukan kain yang harganya selangit, melainkan yang harga menengah. Otaknya mulai diputar lagi. Terlintas di kepalanya, kerajinan khas Palembang bukan hanya songket, melainkan juga kain jumputan, kain tajung, kain blongsong, kain prado, kain angkinan, dan batik Palembang.

 

Untuk mengembangkan usaha, dia membuat jaringan seluas-luasnya dengan banyak perajin.

 

Karena ingin memasukkan kain-kain tradisional itu dalam dagangannya, Nyimas pun mulai mengitari Palembang untuk mencari perajin kain-kain tersebut. Perlahan-lahan ia mulai menjalin kerja sama dengan mereka. Nyimas cukup beruntung karena tak harus berakrobat dengan waktu. Kuliahnya baru mulai pukul 16.00 sehingga ia punya banyak waktu untuk berburu. la lalu meminta dua orang tetangga untuk membantunya menjaga toko.

Kendati modalnya sudah cukup besar, Rumah Tenun tak lantas mampu menjaring konsumen dalam jumlah banyak. Nyimas sempat bingung memikirkan siapa sebenarnya target pasarnya dan bagaimana caranya agar konsumen mau melirik butiknya itu. Pikir punya pikir, ia lalu memiliki gagasan untuk menghiasi tokonya dengan koleksi kain neneknya. “Risikonya memang besar. Karena, kalau sampai rusak, bagaimana cara saya menggantinya? Padahal, modal belum kembali,” tutor Nyimas dengan cemas.

Namun, karena koleksi tersebut sangat penting untuk memancing ketertarikan pengunjung, Nyimas tetap nekat meminjam beberapa lembar batik kuno yang harganya sekitar Rp3-5 juta per lembar. Peminjaman itu berbuah manis. Sebuah instansi perbankan minta dibuatkan seragam dari bahan batik motif Palembang tersebut. Semangat bisnisnya makin terbakar.

 

BERANI TAMPIL BEDA

Di Palembang cukup banyak toko yang menjual kerajinan daerah. Inilah tantangan terbesar bagi Nyimas. la harus menaklukkan para kompetitor dengan cara yang manis agar usahanya dapat berkembang. la menyusun strategi baru dengan meminjam barang antik ibunya. Kursi tamu antik ia letakkan di toko, agar tamu merasa betah. Tak hanya itu, ia juga menjamu tamu-tamunya dengan berbagai camilan khas Palembang. Tampaknya strategi itu berhasil. Karena merasa betah di sana, para tamu jadi ingin berlama-lama di Rumah Tenun, dan akhirnya tergoda membeli lebih banyak.

Inovasi lulusan Magister Kenotariatan Universitas Sriwijaya ini pun dimulai. Nyimas memadukan songket dengan kain batik jumputan. Ternyata, kombinasi itu disukai konsumen. Perlahan-lahan Nyimas mulai bisa membaca selera pasar. “sejak itu saya termotivasi untuk terus melakukan modifikasi, agar konsumen tidak melihat yang itu-itu saja. Saya pun membuat perpaduan kain yang tidak mudah ditemukan di toko lain,” kata Pemenang I Bidang Kreatif Wirausaha Mandiri ini dengan bangga. Tak berhenti melakukan inovasi, Nyimas juga memadukan motif batik Palembang dengan batik Madura, batik Pekalongan, dan batik Jepara. Hasilnya, kain hasil karyanya makin diminati.

 

Bangun kepercayaan—itulah yang membuat klien datang kembali. la tak ragu melayani konsumen yang kecewa dengan produknya dan mengganti rugi kekecewaan itu dengan produk dan servis yang istirnewa, Tak heran konsumen yang kecewa tersebut justru menjadi loyal.

 

Kain yang ia gunakan pun sebagian besar adalah kain sutra, sehingga kualitasnya sudah ticiak perlu dipertanyakan lagi. Bentuknya bukan hanya lembaran kain, melainkan ada yang sudah dalam bentuk baju siap pakai dengan selera lebih muda, la ingin agar kain-kain ini juga digunakan oleh orang muda, termasuk anak-anak. Sebab, sejak awal terjun di bisnis ini Nyimas memang berniat melestarikan wastra nusantara tersebut.

Meski bisnisnya terkesan bebas hambatan, bukan berarti Nyimas tak pernah merugi. Suatu ketika, seorang konsumen memesan songket yang motifnya cukup butuh pengerjaan hingga 5 bulan. Padahal, waktu yang diberikan konsumen hanya 4 bulan. Berhali-hali dengan langkahnya, Nyimas kemudian berunding dengan perajin sebelum menyanggupi permintaan tersebut.

Satu ciri khas pengerjaan songket adalah tidak dapat berpindah tangan. Siapa nyana perajin yang telah ditunjuk terkena musibah dan songket yang sudah hampir jadi itu terpaksa berpindah tangan ke perajin lagi. Pada waktu yang dijanjikan, songket itu belum selesai. Karena konsumen marah-marah, Nyimas memberi pilihan pada konsumen tersebut agar memilih kain mana saja yang sudah ada di tokonya. Nyimas terpaksa menelan kerugian, karena songket yang dipilih sebagai gantinya lebih mahal daripada yang dipesan. “Ini menjadi pelajaran berharga buat saya. Sejak itu saya tidak main-main lagi dalam menerima pesanan,” kata Nyimas, yang menyebut bahwa konsumen itu kemudian justru menjadi konsumen tetapnya.

 

Memulai bisnis dari kecintaan. Nyimas sangat menyukai kain-kain tradisional dan punya keinginan kuat untuk melestarikannya. Sehingga, passion berbisnis pun semakin kuat.

 

Mengikuti pekembangan teknologi, Nyimas tak hanya berpromosi dengan cara tradisional, melainkan juga melalui internet. Media yang dipilihnya adalah situs jejaring sosial, Facebook. Dori sanalah konsumennya berkembang luas ke beberapa negara. Bahkan, konsumen di Singapura rutin melakukan pemesanan. Karena nilai rupiahnya cukup tinggi dan tak ingin mengalami penipuan, Nyimas menerapkan sistem pembayaran terlebih dulu, barulah produknya ‘dikirim. Hingga saat ini, setiap tahunnya Nyimas berhasil mendapatkan laba hingga Rp200 juta, dengan 9 karyawan tetap dan puluhan kelompok perajin yang sewaktu-waktu siap membuat songket.

 

TESTIMONI

KECINTAAN yang sangat besar terhadap kerajinan daerah khas Palembang sudah sangat melekat dalam dirinya sehingga Nyimas merasa amat sulit berpisah dari kain-kainnya. Impiannya adalah tumbuh besar bersama para pengrajin dan terus mengembangkan kerajinan daerah.

Q: Siapa yang mendorong Anda mernasukil bisnis ini?

A: Pendorong terbesar saya menjalani bisnis ini adalah kedua orangtua saya, terutama lbu. Apalagi, kami memiliki hobi yang sama. Jodi, rasanya bahagia sekah jika saya mempunyai “teman” untuk berbagi pikiran.

Q: Apa keunggulan bisnis Anda?

A: Saya dapat menjamin barang yang diterima pelanggan adalah barang pilihan dan tidak pasaran. Hal ini dapat dilihal dari bahan bake yang menggunakan benang sutra berkualitas. Motif Serta kombinasi warnanya pun tidak banyak di pasar.

 

Karena hobi, tanpa sadar ternyata kita mencintai pekerjaan tersebut dan menjalankannya dengan hali yang bahagia, sehingga tanpa terasa menjadi peluang.

 

 

HUKUM WIRAUSAHA #4

Menciptakan Keterikatan Emosional

 

“Disneyland adalah sebuah karya cinta. Kami tidak membuat Disneyland hanya karena ingin menghasilkan uang.” — Walt Disney

 

TAK SALAH JIKA banyak pujangga mengagungkan cinta sebagai esensi hidup. Dengan cinta, kita dapat melakukan berbagai hal luar biasa yang tidak terpikirkan saat kita tidak mencinta. Kecintaan pada seni adalah salah satunya. Seorang pencinta kain seperti Nyimas mungkin saja berkeliling Indonesia untuk mengumpulkan beragam kain khan daerah. Tapi Nyimas memilih untuk mengembangkan kain tradisional daerahnya, Palembang.

Wirausaha dalam bidang seni ini disebut artpreneur. Pada dasarnya artpreneur bersifat abstrak tetapi membutuhkan kejelian dan kreativitas bagi kita untuk memperbaharui dan menggalinya. Inilah yang dialami oleh Nyimas dengan bisnis kainnya.

Kain songket kuno adalah seni yang tak ternilai harganya. Ternyata, di tangan Nyimas, kain kuno itu bukan hanya sangat berharga, tetapi juga dapat menjadi inspirasi untuk menciptakan kain-kain jenis lainnya. Berikut ini adalah tips untuk wirausaha jenis usaha ini:

 

  • Kita harus mulai dengan detail. Untuk itu seseorang harus mampu berpikir deskriptif. Deskripsikan lagi segala sesuatunya, jangan sampai ada yang terlewatkan. Jadi, melihat celah berarti mengisi sesuatu yang masih kosong. Kita perlu melihat apa lagi yang perlu ditambahkan dan apa lagi yang bisa dikembangkan. Kita harus melatih diri untuk selalu berpikir demikian.
  • Ketika suatu hal telah berlangsung sedemikian rupa selama sertahuntahun, tugas kita adalah memperbaharuinya. Kain songket kuno sudah bertahun-tahun berbentuk seperti itu, bahkan sampai pada taraf tidak dapat digunakan lagi, hanya dipandangi layaknya ornamen. Karena itu kain ini perlu diremajakan dan diperbaharui.
  • Salah satu cara memperbaharuinya adalah dengan menghubungkan antara seni yang satu dengan seni yang lain. Artinya, kita bisa melakukan berbagai kombinasi. Dalam hal ini misalnya batik dengan tenun. Motifnya batik tapi dibuat dalam bentuk tenun, atau menggabungkan motif batik dart beragam daerah. Nyimas memilih cara-cara ini untuk memperbaharui produknya, dan ia tidak perlu khawatir karena Indonesia sangat kaya dengan beragam seni wastra seperti ini.
  • Pembaharuan lain dilakukan dengan memanfaatkan traffic atau lalu lintas kesibukan manusia. Traffic ada di mana-mana. Di dunia maya pun ada traffic. Kita harus menempatkan produk kita di tempat yang ada traffic-nya. Kenapa kita buka usaha di mal? Karena traffic di mal sangat padat, banyak orang ke sana. Demikian pula, di kantor itu ada traffic karena banyak orang berdatangan untuk mengurus keperluannya sehubungan dengan perusahaan. Masalahnya, traffic itu harus dibuat ‘hidup’.
  • Agar traffic dapat hidup, kita harus memberikan roh, memberikan apa saja yang bisa membuat suasana jadi hidup. Misalnya, kalau di taman, harus ada bunyi-bunyian, bisa diberi musik atau digantungkan angklung. Selain sebagai ornamen yang dapat menghidupkan suasana, bilah-bilah bambu yang bersentuhan tertiup embusan angin akan mengeluarkan suara yang merdu laksana sebuah lagu. Nyimas, dalam hal ini, menggunakan songket, barang-barang antik, dan camilan Palembang sebagai ornamen display yang menghidupkan tokonya. Dengan demikian tokonya tidak terlihal kosong. Orang tidak tertarik untuk datang ke tempat yang sepi.
  • Kita harus mencari, atau menciptakan, keramaian. Kalau orang yang ada hanya sedikit, maka kita harus mencari cara supaya kelihalan lebih banyak orang, minimal terlihal eksklusif. Tapi, intinya adalah menghidupkan suasana.
  • Semua display kita itu sebenarnya harus mampu menciptakan hubungan emosional. Untuk membangun hubungan atau relasi antara produk kita dengan orang yang akan membeli produk tersebut. Dengan memajang kain-kain koleksi neneknya, Nyimas memberi kesempatan kepada pengunjung untuk melihat-lihal contoh kain yang mungkin dipesan.
  • Nyimas sendiri juga bisa menceritakan kisah di batik setiap helai kain yang dijajakannya. Cara ini bukan saja menambah informasi bagi pelanggannya, tetapi juga menciptakan keterikatan emosional antara konsumen dengan produk. Buat mereka merasakan adanya kedekatan dan kenikmatan dengan produk kita. Buat mereka memiliki impian dan harapan tentang produk kita.
  • Membangun hubungan seperti itu bisa dengan berbagai macam cara, misalnya dengan melayani langsung para pembeli, menjelaskan proses pembuatan, menceritakan pengalaman unik dalam memenuhi pesanan pelanggan, atau tanpa ragu mengganti pesanan yang salah dengan produk yang lebih bernilai. Hal-hal tersebut dapat membangun relasi dan kedekatan emosional yang baik.

 

Dari Buku: Wirausaha Muda Mandiri Part 2: Kisah Inspiratif Anak-anak Muda Menemukan Masa Depan dari Hal-hal yang Diabaikan Banyak Orang. Oleh: Rhenald Kasali Penerbit: Gramedia.

Bandi Simarmata, Pemilik HOT Variasi: Dari Waktu Luang Jadi Mesin Uang

Banyak orang yang menganggap bahwa hobi hanya sekadar untuk mengisi kesibukan dan tidak bisa memberikan penghasilan untuk masa depan. Padahal, banyak orang sukses menunjukkan kebalikannya. Pria ini termasuk salah satunya. Awalnya hanya mengisi waktu luang dengan mengutak-atik sepeda motor sebagai hobi, tapi dengan sedikit kreativitas, ia menciptakan ‘mesin usaha’.

 

 

BERTENTANGAN DENGAN HARAPAN orangtua yang ingin anaknya menjadi pegawai kantoran, Bandi malah menjadi seorang pengusaha bengkel. Kini, ia bukan hanya menjadi pionir atas usaha sejenis di kampung halamannya, kesuksesan Bandi mematahkan anggapan bahwa menekuni hobi adalah kegiatan yang membuang waktu sia-sia. Meski pegawainya beberapa kali dibajak saingannya dan usahanya sempat mengalami kebakaran, Bandi berhasil bangkit dari keterpurukan dan membesarkan usahanya kembali. Kini usahawan muda ini sudah berhasil mempekerjakan 16 orang karyawan dan memiliki omzet Rp15-20 juta per hari.

 

BATAL JAD1 ORANG KANTORAN

Ingatan Bandi melayang ke masa kecilnya di desa Batu Marta, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Kenangan manic bersama ayah menjadi awal ketertarikannya pada dunia otomotif. “Sejak kecil saya merasa senang sekali clibonceng naik sepeda motor keliling desa oleh Bapak. Sehari saja tidak dibonceng, saya bisa merengek terus minta diajak jalan-jalan,” cerita Bandi.

Menginjak bangku SMU, ketertarikan Bandi pada sepeda motor kian membesar. Tanga persetujuan orangtuanya, Bandi nekat menguras habis isi tabungan untuk membeli sebuah skuter. Sambil menggandeng skuter barunya itulah Bandi kemudian bergabung pada sebuah klub Vespa di kota Palembang, KBS (King Blues Scooter). “Bersama teman-teman satu klub, saya mengikuti tur ke beberapa kota di Indonesia. Saya merasa amat bahagia saat melakukan kegiatan yang berhubungan dengan sepeda motor,” ujarnya.

 

Tidak malu sertanya, karena ilmu bisa diperoleh dari mana saja. Setibanya di Jakarta, Bandi mendapati dirinya belum memiliki pengetahuan yang cukup seputar barang-barang otomotif. la tak segan sertanya kepada siapa saja yang ditemuinya.

 

Lulus SMU, Bandi meninggalkan kampung halamannya menimba ilmu di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah, Palembang. Namun, kesibukan kuliah tak membuatnya berpaling dari hobi lama. Bandi masih saja asyik berkutat dengan skuternya dan bergaul dengan sesama pencinta sepeda motor. Tahun 2004, Bandi menamatkan kuliah dan pulang ke kampung halamannya.

Di kampung ternyata ada begitu banyak orang yang memiliki sepeda motor. Sayangnya, belum ada satu pun usaha yang bisa menampung aspirasi anak-anak muda dan orang-orang yang menganggap sepeda motor sebagai bagian dari gaya hidup. “Ini yang menginspirasi saya untuk mendirikan usaha perdagangan, variasi, dan modifikasi, Serta jasa-jasa lain di bidang otomotif. Saya sudah punya ilmunya, hasil bergaul dengan sesama pencinta motor. Kini tinggal penerapannya,” paparnya dengan yakin.

Meski niatnya sudah mantap, cita-cita anak muda berdarah Batak ini untuk mendirikan bengkel terbentur dukungan dan restu keluarga. Maklum saja, layaknya kebanyakan orangtua lain, ayah dan ibu Bandi ingin anaknya menjadi pegawai kantoran, baik pegawai negeri sipil (PNS) ataupun pegawai bank. “Sampai lima kali saya memohon-mohon supaya bapak dan ibu man merestui keinginan saya membuka usaha,” tutur Bandi.

Perjuangan meyakinkan orangtua itu akhirnya berbuah basil. Meski sedikit kecewa, ayah dan ibu Bandi bisa menerima pilihan hidup yang diambil putra mereka. Bahkan, untuk membantu anaknya yang batal jadi “orang kantoran” itu, orangtua Bandi menyuntikkan bantuan modal sebesar Rp13 juta. Sepetak kios berukuran 4×6 meter di sebuah pasar juga dipinjamkan orangtuanya untuk menjadi lokasi bengkel buah hati mereka.

 

BERJUANG MENCIPTAKAN PASAR

Berbekai lampu hijau dari orangtuanya, Bandi berangkat seorang diri ke Jakarta untuk membeli kunci-kunci, suku cadang, aksesori, Serta berbagai keperluan bengkelnya. Tapi, di luar dugaan, ternyata tak mudah menentukan apa saja yang mesti dibelinya. Bandi sempat kebingungan melihat lautan barang-barang otomotif. Bukan hanya tidak tahu kegunaannya, sangat banyak benda yang baruu sekali itu dilihatnya.

 

BIODATA

BANDI SIMARMATA 

Sarimatondang, Sumatera Utara, 10 April 1980

Email: bandisimarmata@yahoo.com

Pendidikan

S1 Hukum, Universitas Muhammadiyah, Palembang

Nama Usaha

HOT VARIASI (penjualan sparepart, variasi, modifikasi, bidang otomotif roda dua

Alamat: Dusun Trimulyo, RT 01/RW 01, Batumarta II, Kec. Lubukraja, OKU, Sumatera Selatan

 

Penghargaan

2008 Juara I Kelas Bebek 4 tak Pemula. Kejuaraan Road Race LA Light di Palembang

2008 Juara Umum Kejuaraan Grasstrack Bupati Cup di Lahal

2009 Juara Umum Kejuaraan Grasstrack, di Tulang Bawang Lampung Utara

2009 Finalis Nasional Wirausaha Muda Mandiri

2010 Juara Umum Kejuaraan Grasstrack Piala Bupati OKU Timur Cup di Blitang

 

Bandi tersadar bahwa ilmu otomotif yang didapat dari pergaulan dengan sesama pencinta motor belum cukup. Banyak yang perlu dipelajari kalau ia mau berhasil. Tapi, Bandi tidak patah semangat. Berusaha memanfaatkan waktu yang singkat, Bandi pun sertanya ke sana-sini, berguru kepada para penjual dan sesama pembeli yang ditemuinya di toko. “Saya tidak mau gagal sebelum mulai,” ujarnya.

Singkat cerita, Bandi kembali ke Batu Marta membawa barang belanjaan dan wawasan yang semakin luas. Hari pertama membuka usaha, banyak orang bingung menebak-nebak jasa apa yang ditawarkan bengkel milik Bandi tersebut. Bengkel bernama Hot Variasi ini memang bukan seperti kebanyakan bengkel lainnya yang menawarkan jasa memperbaiki sepeda motor, melainkan khusus untuk modifikasi dan variasi model kendaraan beroda dua.

lbarat pepatah `tak kenal maka tak sayang’, waktu itu cukup banyak orang yang mencemooh usaha Bandi. Tak heran, Batu Marta adalah daerah transmigrasi yang jaraknya jauh dari ibu kota. Meski jumlah penduduknya cukup banyak dan rata-rata memiliki penghasilan baik, mereka belum pernah melihat usaha seperti ini sebelumnya. Alhasil, sesama beberapa bulan Bandi hanya bisa gigit jari.

Kesuksesan memang tidak mudah diraih. sebelum roda usaha bergulir lancar, cobaan malah singgah silih-berganti. Baru tiga bulan bengkel Bandi beroperasi, pasar ternpat kios Bandi berada ludes dilalap api. “Masih untung barang-barang saya bisa diselamatkan,” ucapnya.

 

 

 

 

Menciptakan pasar. Saat belum banyak orang memhami jasa yang ditawarkannya, Bandi menggelar perlombaan modifikasi untuk mengedukasimasyarakat sekaligus menciptakan pasar bagi usahanya.

 

 

Tak mau berlama-lama larut dalam kesedihan, Bandi langsung bangkit. la mengontrak kios yang berukuran 3 x 8 m di lokasi lain, “Saya sadar, waktu dan kesuksesan tidak akan menunggu saya. Kalau mau berhasil, saya tidak boleh bertopang dagu,” ungkapnya tegas.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, Bandi pun memutar otak mencari cara yang lebih kreatif untuk menarik lebih banyak pelanggan. la sadar, kalau ingin bengkelnya ramai, masyarakat harus diberi tahu dulu layanan apa yang ia tawarkan. Bandi memberanikan diri mengadakan kontes modifikasi motor untuk anak-anak mufa. Selain itu, ia juga mulai rajin mengikuti roadrace dan kegiatan-kegiatan berbau otomotif lainnya. Di ajang tersebut, Bandi membangun koneksi dengan sesama pencinta sepeda motor sekaligus mempromosikan bengkel miliknya.

Usaha Bandi menunjukkan hasil yang menggembirakan. Semakin hari, kian banyak anak muda berfatangan ke bengkel dan memanfaatkan jasanya. Bandi berhasil mendongkrak popularitas kegiatan otomotif dan modifikasi motor di desanya. Dari yang dulunya sepi, bengkel Hot Variasi milik Bandi menjadi tempat yang “hip” di kalangan anak muda.

 

KUALITAS DI ATAS SEGALANYA

Memang benar kata pepatah, di mana ada gula, di situ ada semut. Menyaksikan bengkel milik Bandi tak pernah sepi pengunjung, sudah tentu menarik orang lain melakukan bisnis serupa. Sejak itu terjafilah pertempuran untuk merebut pelanggan. Mulai dari adu kualitas, perang harga sampai saling membajak karyawan.

 

Tahan banting. Meski pegawainya dibajak oleh saingan dan sernpat mengalami musibah kebakaran, Bandi cepat bangkit dari keterpurukan dan kembali menekuni usahanya dengan serius.

 

Dua tahun setelah bengkeInya dibuka, pada 2007, Bandi serasa menelan pil pahit ketika 4 dari 5 orang karyawan andalan bengkelnya “bedol desa” ke bengkel saingan karena diiming-imingi gaji yang lebih besar. “Saat itu adalah momen paling buruk dalam usaha saya. Tetapi, meski terpaksa bekerja hanya bergua saja dengan karyawan yang masih tersisa, saya selalu yakin bahwa pada akhirnya konsumen bisa menilai siapa yang terbaik,” katanya.

Seiring waktu, Bandi mulai menghimpun teman-teman sehobi yang menurutnya bisa dipercaya dan fapat diandalkan. Bandi berusaha bangkit lagi dan memberikan yang terbaik dengan menampilkan ciri khas pada setiap proyek modifikasi yang fikerjakan di bengkelnya. la juga mencari titik lemah dari setiap kompetitornya.

Keyakinan bahwa konsumenlah yang akan menilai terbukti benar. Beberapa tahun kemudian, pesaing yang pernah membajak 4 orang karyawannya mulai jatuh bangun mencari pelanggan, sementara nama bengkel Hot Variasi kian berkibar. “Sekarang adalah saatnya saya membuktikan kepada orangtua dan keluarga bahwa hobi yang saya geluti selama ini bisa menjadi sumber penghasilan yang layak,” ucap Bandi bangga.

 

“Sekarang saya bisamembuktikan kepada orang tua dan keluarga bahwa hobi yang sleama ini saya geluti juga bisa menjadi pekerjaan yang layak untuk menghidupi banyak orang dan bisa mencetak banyak wiraswasta-wiraswasta muda lain.”

 

Kini usaha Bandi telah menempati ruko dua lantai milik sendiri dan mempekerjakan 16 orang karyawan. Hot Variasi–yang dalam bahasa Batak berarti “akan selalu’–yang awalnya hanya bergerak di jasa modifikasi, kini sudah memiliki beragam pelayanan, seperti tune up, bubut, korter, dan lain-lain. Setiap harinya, bengkel Bandi mampu melayani puluhan kendaraan bermotor dengan omzet Rp15-20 juta per hari.

la merekrut anak-anak putus sekolah dan didorong untuk berani membuka usaha sendiri. “Anak-anak itu akhirnya menjadi mitra binaan saya. Saya mengajari mereka teknik membuka usaha dan memberikan barang-barang untuk modal. Mereka tinggal mencari lokasi untuk mendirikan usahanya,” ujarnya.

Obsesi terbesar Bandi saat ini adalah menjadikan Hot Variasi sebagai usaha yang terbaik di bidangnya dengan motto ‘one stop modification’. “Maksudnya, memberikan pelayanan yang lebih lengkap dan tepercaya, baik dalam penjualan barang maupun jasa di bawah satu atap. Jadi, orang tidak perlu pergi ke berbagai tempat untuk mendapatkan servis yang mereka butuhkan,” tutor Bandi mantap.

 

Mendahulukan kualitas. Strategi Bandi menghadapi pesaing persaingan adalah dengan meningkatkan kualitas layanan jasanya. Terbukti, usaha Bandi maju pesat, sementara kompetitornya mengalami kemunduran.

 

 

 

Tips

HUKUM WIRAUSAHA #3

Jeli Mencari Pelampung

 

Bisnis, lebih dari pekerjaan apa pun, terus-menerus berurusan dengan masa depan, yang meliputi perhitungan berkelanjutan, latihan nnengasah naluri dalam berpandangan ke depanHenry R, Luce

 

LANGKAH PERTAMA SELALU menjadi langkah yang paling sulit dan paling berat. Sayangnya, tanpa langkah pertama ini tidak akan ada langkah-langkah selanjutnya. Bandi telah mengentakkan langkah pertamanya dengan membuka bengkel di pasar. Sato rintangan telah dilalui. Namun, saat Bandi membuka pasar baru, belum ada orang yang pernah menawarkan bisnis serupa. Sehingga, jangankan konsumen, orang pun masih bingung dengan apa yang dikerjakan Bandi.

lbarat terdampar di suatu tempat, kita memerlukan pelampung sesegera mungkin. Sebatang kayu yang terbuang sia-sia pun dapat membuat kita mengambang di lautan. Setiap orang perlu mencari kayunya sendiri. Sayangnya, beberapa orang pemula gagal menemukan kayunya hingga ia tenggelam. Tetapi, bagi orang yang mau melatih diri dan ingin selamat, ia bisa mendapatkan kayunya.

Sebagai langkah awal, seseorang hares menentukan lebih dulu kayu seperti apa yang dapat membantunya segera mengapung. Dalam hal ini, Bandi terdampar di Pulau Bengkel. Tentu saja berpeluh keringat, oli, debu, dan bau bensin terasa berbeda dengan apa yang banyak dijalankan seorang sarjana. Bukannya di ruangan ber-AC, tetapi Bandi justru bekerja di ruangan yang kotor dengan oli dan minyak. Tetapi di situ ia mendapatkan kemandirian. Untuk mencapai hal ini diperlukan beberapa kejelian:

  • Melihat pasar apa yang dibutuhkan. Orang boleh saja mengatakan bahwa usaha ini hanyalah sekadar bengkel. Tapi, positioning menentukan masa depan. Meskipun ada jenis bengkel lain yang juga bisa diciptakannya—misalnya bengkel yang hanya sekadar ganti oli, bengkel khusus pengecatan, bengkel untuk akselerasi mesin, atau bengkel eksklusif untuk merek tertentu saja—Bandi secara kreatif memilih bisnis yang sesuai dengan jiwanya sebagai orang muda.
  • Mencari karyawan. Hal ini sudah dibuktikan dengan terjadinya pembajakan karyawan oleh kompetitornya. Ini menanclakan bahwa Bandi jeli dalam mendapatkan karyawan yang bagus. Namun risikonya, is harus selalu siap membangun kekuatan baru.
  • Belajar dari pengalaman. Saat menghadapi masalah, kita harus cepat belajar,jangan hanya menyesali dan march. Menerima keadaan dan segera melakukan introspeksi. Misalnya, sertanyalah mengapa karyawan meninggalkan kita? Saat mencari jawaban itulah Bandi menemukan cara untuk menjadi seorang profesional. la menyadari bahwa ternyata mengelola SDM sama pentingnya dengan mengelola bisnis itu sendiri.
  •  Mengelola usaha ke depan. Bandi harus berpikir membuka cabang lebih banyak atau membuat usaha baru yang lebih modern, Serta membuatnya lebih maju. Intinya, lebih menekankan pada pengembangan usaha. Usaha Bandi menyasar orang muda, paclahal kita ficlak selamanya menjadi muda. Saat usia menua, kita akan kesulitan membaca pasar segmen orang muda. Karena itu, kita harus merekrut orang-orang muda untuk melayani pasar kaum muda. Segmen orang muda merupakan moving target karena karakter orang muda berbeda setiap generasi.
  • Melakukan tinclakan untuk merealisasikan mimpi. Janganlah malu untuk mulai dulu dengan keadaan yang seadanya. Misalnya, Bandi memiliki atau menyewa tempat, lalu mulai menentukan langkah-langkah konkret. Jangan takut menyewa tempat dan membayar investasinya, karena tidak mungkin mencapai suatu tujuan tanpa langkah-langkah kecil.

 

Dari Buku: Wirausaha Muda Mandiri Part 2: Kisah Inspiratif Anak-anak Muda Menemukan Masa Depan dari Hal-hal yang Diabaikan Banyak Orang. Oleh: Rhenald Kasali Penerbit: Gramedia.

Gigin Mardiansyah, Pemilik CV d’create: Eloknya Bisnis Boneka Rumput

Dalam ilmu psikologi, boneka adalah salah satu alat yang biasa dipakai dalam bermain peran untuk membantu perkembangan social dan imajinasi anak. Namun, di tangan seorang sarjana hortikultura, boneka juga bisa berperan sebagai media edukasi untuk menunjukkan pertumbuhan tanaman pada anak-anak.

 

LOMPATAN BESAR DIMULAI dari satu langkah kecil. Tidak ada kesuksesan yang didapat secara instan atau semulus jalan tol. Kalaupun ada, hanya mereka yang sangat beruntung yang berhasil mendapatkannya. Bagi sebagian besar orang, sukses adalah keberhasilan yang didapat dari sebuah proses panjang yang memerlukan kerja keras, semangat, Serta cucuran keringat. Begitu pula yang terjadi pada Gigin Mardiansyah. Di usia 26 tahun, Gigin berhasil membuktikan bahwa kesuksesan bisa menjadi milik siapa saja.

Gigin memilih boneka Horta–boneka yang sekaligus berfungsi sebagai media tumbuhnya tanaman–sebagai ladang usaha. Terbukti, pria kelahiran Purwakarta, 1984, ini memiliki insting bisnis yang cukup tajam. Ketika orang lain menganggap bisnisnya mandek, ia malah tertantang untuk mengembangkannya lebih jauh. Pada akhirnya, ia membuktikan keyakinannya dengan hasil nyata. Boneka Horta laris manis berkat inovasi dan pemasaran yang masuk ke semua lini, termasuk dunia maya.

Kini Gigin memiliki tim produksi sejumlah 40 orang, tim pemasaran sebanyak 8 orang, dan lebih dari 100 agen yang tersebar di seluruh Indonesia. Diversifikasi usaha dilakukannya dengan mengembangkan produk kreatif berupa tas, yang pemasarannya dilakukan dengan menggandeng salah satu hypermarket terbesar di Indonesia. Gigin juga mewujudkan idealismenya dengan mendirikan lembaga pendidikan bagi warga kurang mampu dan lembaga keuangan mikro syariah, yang memberikan pinjaman modal bagi pengusaha mikro seperti dirinya dulu.

 

Jeli menangkap keinginan pasar. Ketika tinggal di asrama, Gigin mencari tahu apa yang menjadi kebutuhan para penghuni, kemudian memutuskan menjual donat dan rokok.

 

 

MENEMUKAN MOMEN SUKSES

Dunia usaha bukan hal bare bagi Gigin. Maklum, ia tinggal di lingkungan orang-orang kreatif dan senang berjualan. Lingkungan tempat tinggalnya merupakan sentry pembuatan dan pemasaran peuyeum (tape singkong), pembuatan wayang golek, dan keramik di Purwakarta, tepatnya di daerah Bendel, Sukatani.

Jiwa wirausahanya sudah terasah sejak duduk di kelas 2 SD. Saat itu, Gigin kecil sudah belajar mencari uang sendiri. Di saat anak-anak lain asyik bermain, ia membantu ibu dan neneknya membuat es lilin untuk dijual di warung-warung tetangga. Tidak hanya itu, sepulang mengaji, sekitar pukul 19.00, Gigin dan teman-teman sepermainannya menjadi pedagang asongan air mineral dan wayang golek. la menjajakan dagangannya kepada bus-bus pariwisata yang singgah untuk membeli oleh-oleh di kampungnya. “Untuk setiap botol air mineral yang berhasil dijual, saya mendapat keuntungan Rp100, sedangkan untuk satu buah wayang golek, keuntungan yang saya terima Rp500,” kenang Gigin.

Kegiatan membuat es lilin dan berjualan ia lanjutkan hingga tamat dari sekolah Menengah Pertama. Meski harus membagi waktu antara sekolah dan berjualan, prestasi Gigin tak pernah mengecewakan, bahkan ia termasuk murid yang cerdas. Terbukti, di SMU ia mendapat beasiswa penuh dari pemerintah provinsi Jawa Barat. Sejak SMU ia sudah tinggal terpisah dari keluarga. la mesti tinggal di asrama di daerah Cisarua, Bandung. Untuk menambah uang saku, ia berjualan jajanan pasar pada teman-teman di sekolah.

“Masa remaja saya praktis dihabiskan untuk sekolah dan mencari uang,” kata Gigin. Perjuangannya tidak sia-sia. Karena pada tahun 2002, ia berhasil masuk IPB lewatjalur PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan) jalur masuk kuliah tanpa tes yang diselenggarakan IPB pada program studi Hortikultura. “Dengan berbekal semangat dan rezeki dari ibu yang bekerja sebagai TKW di Arab Saudi, saya kuliah di IPB,” ujarnya,

 

BIODATA

GIGIN MARDIANSYAH

Purwakarta, 23 Maret 1984

Pendidikan

S1 Hortikultura, Institut Pertanian Bogor, Bogor

S2 Manajemen, Universitas Ibnu Khaldun, Bogor

Nama Usaha

CV D’create

Website: http://bonekahorta.blogspot.corn ; http://heejoubag.blogspot.com

Alamat: A Babakan Tengah No. 12, Darmaga, Bogor

Penghargaan

2005 Penyaji Terbaik Program Kreativitas Mahasiswa Pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional XVIII di Padang

2007 Best Inovatifldea, Inovatif Entrepreneur Challenge Tingkat Nasional, ITB, Bandung

2007 Finalis Nasional Wirausaha Muda Mandiri

2008 Finalis Lomba Wirausaha Muda Berprestasi MENPORA

2010 Pemuda Andalan Nusantara 2010, MENPORA Gigin Mardiansyah

 

Jiwa usaha Gigin kian terasah di bangku kuliah, “Kebutuhan sebagai mahasiswa semakin besar, sedangkan kiriman dari orangtua sangat minim, sehingga sejak masuk IPB, saya sudah mulai berpikir untuk berjualan apa saja. Yang penting halal dan menguntungkan,” ucapnya,

Di mana ada niat, di situ pasti ada jalan. Ungkapan ini berlaku bagi Gigin. Peluang mendapatkan uang muncul dari teman satu kamar yang kedanduan rokok, sementara warung di sekitar asrama tidak menyediakan rokok. Seakan memenuhi kebutuhan pasar, ia pun memutuskan berjualan rokok dan donat.

“Dua hal itu, rokok dan makanan ringan, merupakan peluang yang cukup baik saat tinggal di asrama,” katanya. Untuk donat, ia ambil dari pemasok. Dari satu kotak yang dikirim berisi 12 buah donat, 2 buah di antaranya merupakan keuntungan untuk dirinya. “Walaupun tidak setiap hari donat saya terjual habis, tapi saya bersyukur masih bisa makan donat setiap hari minimal 2 buah. Yah, hitung-hitung penghematan,” ujarnya.

Ketika tidak lagi tinggal di asrama, Gigin kembali memutar otak, mencari jalan untuk berjualan. Kesempatan itu datang ketika ia tahu bahwa salah satu teman di kelasnya berasal dari Pekalongan dan merupakan juragan batik di daerahnya. Gigin pun bekerja sama dengan temannya untuk berjualan batik di kampus. Tak hanya batik, Gigin pun berjualan tanaman yang modalnya ia peroleh dari teman kongsinya itu.

 

Ulet, Meski pada awalnya penjualan boneka Horta mandek, Gigin tetap mencari jalan keluarnya, Terbukti, keuletan Gigin mendatangkan hasil menggembirakan.

 

Setiap pengusaha memiliki momen sukses, dan momen sukses Gigin terjadi pada 2004. Saat itu, sernua mahasiswa ditugaskan untuk membentuk kelompok dan membuat ide usaha untuk diajukan ke Dirjen Pendidikan Tinggi (DIKTI) melalui kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa. “Kelompok saya terdiri dari Imam, Asep, Rachmatullah, Nurheidi, Nisa, dan Agustina,” katanya. Dosen pembimbing mereka kala itu adalah Ibu Dr. Ni Made Armini Wiendi. Dosen inilah yang memberikan ide untuk membuat mainan edukasi yang bisa mengenalkan dunia pertanian, yaitu boneka Horta (singkatan dari Hortikultura). Pada awal penelitian, mereka juga mendapat bimbingan dari Ibu Sinto Ardi dan kawan-kawannya.

Singkat kata, usaha tim Gigin berhasil menarik perhalian DIKTI, Guliran dana sebesar Rp4,75 juta pun lantas digunakan untuk melakukan penelitian dan pengembangan agar boneka yang dibuat bisa benar-benar menumbuhkan tanaman di bagian kepalanya. Penelitian yang dilakukan meliputi komposisi media tanam atau media boneka, jenis tanaman yang paling cocok untuk boneka, hingga bentuk bonekanya. Butuh waktu 4 bulan bagi Gigin dan timnya untuk melakukan penelitian dan pengembangan hingga akhirnya mendapatkan hasil yang memuaskan.

“Beberapa media tanam pernah kami coba, seperti tanah, cocopeot, sabut kelapa, sekam padi, sampai akhirnya menemukan media yang tepat, baik ketersediaan maupun nilai ekonomisnya, yaitu serbuk kayu. Serbuk ini merupakan limbah industri penggergajian kayu,” cerita Gigin.

Kendala lain yang harus dipecahkan adalah menemukan tanaman yang tepat agar bisa tumbuh di kepala boneka. Setelah menguji berbagai tanaman, dari tanaman pangan hingga tanaman hias, akhirnya ditemukan bahwa tanaman yang bisa tumbuh adalah rumput.

 

Inovatif, Supaya pembeli tidak bosan, Gigin berinovasi dengan mengubah kemasan fisik boneka Horta menjadi berbagai bentuk binatang lucu.

SEMUA DARI NOL

Pada 2005, DIKTI menyelenggarakan Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-18 di Universitas Andalas Padang. Di ajang ini, boneka Horta berhasil meraih juara. Kemenangan ini menjadi suntikan semangat bagi Gigin untuk terus mengembangkan boneka Horta. Di seta-seta jadwal kuliahnya yang padat, Gigin dan teman-temannya membuat boneka. “Biasanya kami lakukan usai pulang kuliah, dari sore hingga malam hari,” katanya.

Persoalan boneka telah selesai, tantangan berikut adalah pemasarannya: produk banyak, tapi pasarnya terbatas. Perlu usaha lebih keras untuk memasarkan produk dengan inovasi baru ini. Target utama pemasaran boneka Horta ini sebenarnya adalah anak-anak usia TK dan SD. Namun, setelah beberapa kali mengirimkan proposal ke sejumlah TK dan SD di Bogor, hasilnya nihil. Akhirnya, target pemasaran diubah. Sasarannya bukan lagi anak-anak usia TK dan SD, melainkan mahasiswa yang secara pengetahuan dianggap jauh lebih mengerti mengenai produk-produk dengan inovasi baru.

Uji pasar pertama dilakukan di kampus sendiri, tepatnya di Koridor Fakultas Pertanian IPB dengan cara menggelar tikar. Cara tersebut lumayan efektif dan 5-10 boneka berhasil terjual pada hari pertama. Selanjutnya mereka pasarkan secara door to door, dari satu mahasiswa ke mahasiswa lainnya. Berbagai bazaar dan pameran pun diikuti, juga dengan menawarkan boneka horta ke beberapa kios kecil di sekitar kampus IPB-Darmaga, demi mendongkrak angka penjualan.

Baru mulai sedikit dapat bernapas karena penjualan merangkak naik, tantangan berikut datang lagi. Kali ini persoalan produksi. Beberapa teman seperjuangan Gigin lulus dari IPB dan mencari pekerjaan di tempat lain. Secara tidak langsung, hal ini sangat memengaruhi proses produksi, karena mereka tidak lagi terlibat dalam pengelolaan boneka Horta. “Upaya memberdayakan adikadik kelas di IPB untuk membantu proses produksi kurang berhasil, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas,” kata Gigin. “Jadilah saya hanya bisa meminta bantuan para lulusan yang sedang menunggu jadwal wisuda serta menunggu panggilan dari perusahaan-perusahaan yang mereka lamar.”

Pada 2007, giliran Gigin dan dua temannya lulus dari IPB. la lulus dengan prestasi terbaik pada Organisasi Kemahasiswaan Himpunan Mahasiswa Agronomi dan Hortikultura IPB. Ketika dua orang teman lainnya memilih menjadi pegawai dan bekerja di perusahaan lain, Gigin tetap memilih menekuni bisnis boneka Horta. Padahal, banyak tawaran bekerja dari perusahaan-perusahaan besar yang datang kepadanya, namun tak satu pun yang ia tanggapi.

“Saya selalu teringat akan janji pada diri sendiri ketika ibu saya berangkat ke Arab Saudi untuk mencari nafkah. Waktu itu, saya bertekad ingin membuka lapangan pekerjaan yang bisa menampung banyak ibu rumah tangga, supaya tak ada lagi orangtua yang terpaksa meninggalkan anaknya ke negeri orang karena harus bekerja,” ujar Gigin sendu. Sekilas kenangan akan kesedihan ditinggal sang bunda yang menjadi breadwinner, karena kedua orangtuanya telah bercerai, terbayang kembali.

 

Kreatif. ketika jalur Dpemasaran konvensional menemukan hambatan, Gigin memanfaatkan dunia maya untuk memasarkan boneka Horta.

 

Saat itu, banyak orang meragukan bahwa usaha boneka Horta ini dapat berkembang, namun Gigin tetap teguh pada pilihannya. Keraguan mereka justru menjadi cambuk dan penyemangat bagi Gigin untuk benar-benar serius menggeluti usaha ini.

Dengan sisa uang modal seadanya, ia mencoba membangun bisnis lebih serius dengan mempromosikan boneka Horta melalui kegiatan perlombaan bisnis tingkat nasional. Pada tahun itu, boneka Horta diikutkan dalam ajang Innovative Entrepreneur Challenge tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB). Pada tahun yang sama, ia juga mengikuti ajang Bisnis Plan Pemuda yang diselenggarakan oleh KEMENEGPORA dalam lomba Wirausaha Muda Mandiri.

“Alhamdulillah, walaupun tidak pernah keluar sebagai juara pada lomba­lomba tersebut, tapi tujuan saya tercapai dengan sangat baik, yaitu memper­kenalkan boneka Horta ke tingkat yang lebih luas,” ucap Gigin. Setelah mendapatkan promosi gratis melalui lomba dan liputan oleh beberapa media, baik cetak maupun eiektronik, akhirnya Gigin memutuskan untuk menyewa sebuah kios kecil di sekitar kampus IPB Dermaga. Berawal dari kios ber­ukuran 4 x 2 m dengan uang sewa hanya Rp2,5 juta per tahun, usaha ini mulai berkembang.

Untuk mengatasi jumlah permintaan saat itu, Gigin memutuskan untuk Gigin Mardiansyah Eloknya Bisnis Boneka Rumput memberdayakan ibu-ibu rumah tangga di Ciomas. Setelah masalah bisa diatasi, berikutnya Gigin kembali membuat upaya sosialisasi boneka Horta di beberapa pameran dan berkenalan dengan pemasaran melalui internet. Meski saat itu hanya nebeng di Blogspot, namun hasilnya cukup menggembi­rakan. Permintaan terus mengalir melalui internet, begitu pun jumlah pengun­jung kios kecilnya di Bogor setiap hari.

Dalam bisnis kreatif seperti ini, tentu saja dituntut untuk terus melaku­kan inovasi agar konsumen selalu tertarik. Inovasi yang dilakukan adalah den­gan meng-upgrade bentuknya, bukan hanya boneka kepala dengan bahan dari bahan cup es krim. Pada 2007, Gigin berhasil membuat boneka Horta dengan bentuk yang berbeda, lalu dikembangkan lagi dengan memberi tambahan variasi maupun aksesori. Kini, boneka Horta tampil dengan beragam rupa. Ada yang berbentuk kura-kura, babi, sapi, dan panda.

“Metode saya sederhana saja, learning by doing,” kata Gigin. Cara itu ternyata berhasil memperkenalkan dan mengembangkan boneka Horta ke seluruh Indonesia. Saat ini Gigin memiliki 40 tenaga kerja yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga, remaja putus sekolah, dan kepala keluarga yang tidak memiliki penghasilan tetap setiap harinya. Angka nol yang dimulai Gigin telah berubah menjadi tak ternilai.

 

DIVERSIFIKASI USAHA

Sukses mengembangkan bisnis boneka Horta, Gigin melebarkan sayap bis­nisnya ke jenis usaha lain yang masih sejalan dengan bisnis utamanya. Masih sep­utar produk kerajinan, yaitu membuat tas unik dan lucu yang terbuat dari bahan jin, korduroy, wol, dan kanvas. Berbekal pengalaman menangani bisnis bonekan­ya, Gigin menerapkan strategi serupa pada bisnis tas Heejou ini. Berbeda dengan bisnis sebelumnya, kali ini bisnis tasnya tidak terlalu mengalami kesulitan dalam hat pemasaran. “Untuk model tas, kami selalu melihat potensi pasar dan terus belajar dari proses pengembangan boneka Horta,” kata Gigin.

 

“Tidak ada keterlibatan keluarga dan saya memang mengusahakan agar tidak ada saudara/keluarga yang terlibat dalam usaha saya. Kalau ada keluarga/saudara yang terlibat dalam usaha, saya yakin ikatan emosional pasti akan sangat berpengaruh pada setiap pengambilan keputusan, jadi bukan berdasarkan profesionalitas lagi.”

 

Gigin membuka kios di Botani Square Bogor dan Mal Pejaten Village. Cara lain yang ditempuh adalah rajin mengikuti pameran dan bazar. “Saya juga tetap melakukan penjualan melalui internet, sehingga jangkauan pemasaran semakin luas. Bahkan sampai Aceh dan Palembang, Saya pun bekerja sama dengan Carrefour untuk pemasaran.”

Sambil menjalani bisnis boneka Horta, Gigin belajar mengenai lembaga keuangan dan pendidikan. Dengan tujuan membantu pengusaha mikro dengan sistem bagi hasil, Gigin dan seorang rekan mendirikan Lembaga Keuangan Mikro Syari’ah atau Koperasi Baitul Maal Wat-tamwil (KBMT) El Umma, yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kampus IPB Darmaga. Modal awal sebesar Rp2 juta ia putarkan untuk memberi bantuan modal bagi pedagang kecil dan perajin golok di daerah Ciampea, Bogor.

Koperasi yang dikelola Gigin awalnya tidak berjalan mulus. Beberapa kali uang yang diberikan untuk modal usaha kepada pedagang-pedagang kecil tersebut tidak kembali. Tak putus asa, Gigin terus belajar dan belajar untuk mencari tahu mengapa bisnisnya tidak berjalan seperti yang diharapkan. “Seiring berjalannya waktu, kami mulai bisa mengenal beberapa karakter orang dan membefakan mana orang yang bisa diberikan modal pembiayaan dan mana yang tidak,” ucapnya.

Setelah berjalan kurang lebih dua tahun, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap KBMT semakin tinggi. Sampai-sampai PT Permodalan BMT mengucurkan modal tambahan hingga Rp200 juta. Saat ini, anggota KBMT mencapai 600 orang dan total asetnya mencapai Rp1,2 miliar. “Dalam waktu dekat, kami akan segera memiliki bangunan sendiri, sehingga tidak perlu lagi menyewa kantor dari orang lain,” ucapnya bangga.

Pada 2007, Gigin mendirikan lembaga pendidikan dengan membuka Taman Kanak-Kanak. Jumlah murid yang mendaftar waktu itu baru 19 orang. Seiring waktu, lembaga pendidikan ini mengalami perkembangan membahagiakan. Selain jumlah muridnya bertambah, Gigin juga mendirikan Sekolah Dasar untuk masyarakat kurang mampu. “Untuk tim pengajar, saya minta tolong teman-teman yang baru lulus dari IPB. Alhamdulillah mereka bersedia bersama-sama membangun yayasan ini, meski hanya dibayar Rp500 ribu,” katanya.

Gigin yakin apa yang dia dan teman-temannya perjuangkan akan memberikan hasil yang baik di masa depan. “Keinginan saya sederhana, hanya ingin membuat hidup saya bermanfaat untuk orang lain,” kata pria yang tak pernah mengirimkan satu Surat lamaran pun ke perusahaan ini.

Kini, apa yang menjadi cita-citanya sejak kecil telah terwujud. Niatnya untuk membuka lapangan kerja terealisasi. “Kalau dulu saya mendengarkan saran orang lain untuk menjadi karyawan, tentu saya tidak bisa seperti sekarang ini,” katanya.

Apa yang telah didapatnya tak lantas membuatnya berpuas diri dan berhenti berinovasi. Masih banyak mimpi yang ingin ia wujudkan, dan masih banyak lagi manfaat yang ingin ia berikan untuk masyarakat. Boneka yang sepertinya sepele, memberinya jalan untuk membukakan lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Sesuai dengan tekad Gigin sejak kecil.

 

Hukum Wirausaha #2

Bisnis Adalah Creating Value,

Bukan Melulu Creating Product

 

“Berbisnis tidak harus selolu dimulai dengan membuat produk. Kira dapat rnemulai bisnis dengan menciptakan nilai, yaitu membuat pasar menghendaki kita. ”

— Rhenald Kasali

 

BERAWAL DART KESEDIHAN karena ibunya harus bekerja di luar negeri demi menghidupi dirinya, Gigin menciptakan boneka sederhana yang memberi kesempatan bekerja bagi ibu-ibu di sekitar rumahnya. Harapannya sederhana, tidak ada lagi ibu-ibu yang jauh dari keluarganya untuk mencari nafkah.

Meski usaha ini telah membuahkan hasil yang menggembirakan, bisnis tidak pernah berhenti di satu titik, tetapi terus bergerak clinamis sehingga Anda harus terus memprecliksi masa depan. Dalam kasus Gigin, tampak perhaliannya sempat tersita oleh urusan produksi, termasuk mencari pekerja dan membuat modifikasi produk. Inilah yang disebut sebagai creating product, sehingga fokus perhalian Gigin terpaku cukup lama di sana.

Padahal, beragam apa pun produk yang kita hasilkan, biasanya keuntungan terbesarjustru dinikmati oleh para pedagang, bukan untuk produsen. Mengapa? Pedagang umumnya ‘tidak perlu’ modal besar, tetapi ia memikirkan penyerahan nilai (delivering the value) kepacla pelanggan akhir.

 

Berikut ini adalah beberapa tips untuk keluar dari perangkap produksi:

 

  • Harus berpikir kalau bisnis itu adalah creating value dan bukan creating product. Orang yang memiliki latar belakang sekolah teknik biasanya sering terpaku pada aspek-aspek teknis pembuatan dan formula tertentu, sehingga sering kali beranggapan bahwa bisnis adalah proses membuat produk. Membuat produk memang penting, tetapi ia hanya merupakan sebuah rantai kecil dari keseluruhan penciptaan nilai (the value chain).
  • Gunakan tangan orang lain untuk menciptakan produk. Kalau kita ingin melakukan semuanya, maka kita akan tenggelam dalam proses produksi itu sendiri. Seharusnya seorang entrepreneur lebih berfokus pada penciptaan nilai daripada membuat produk, karena produk bisa dikerjakan oleh banyak orang.
  • Inovasi dalam menciptakan nilai pasar akan bernilai jauh lebih tinggi daripada menciptakan inovasi produk standar. Seperti dalam pengalaman Gigin, yang dilakukan hanyalah membuat bentuk-bentuk baru dari bonekanya. Dia hanya berfokus di produksi. Tetapi ini normal bagi wirausahawan pemula. Setelah memiliki pengalaman bisnis biasanya entrepreneur akan beralih ke tahap creating value.
  • Kalau seseorang menciptakan value, dia akan berpikir bahwa dia tidak akan kesulitan memasarkan produknya. Dia mungkin akan kesulitan mendapatkan bahan baku, tetapi ketersediaan bahan baku akan mengikuti pasar. Sebaliknya, kalau seseorang hanya berfokus pada creating product, sudah pasti ia mengalami kesulitan untuk mendapatkan pasar karena pasar belum tentu mengikuti produk.
  • Bisnis harus digeluti pada mata rantai nilai, bukan mengikuti mata rantai produk atau produksi. Jika kita hanya fokus pada produksi, maka kita akan kelelahan dan hanya memprioritaskan produksi itu sendiri Serta tidak memikirkan apakah pasar itu bersedia membeli atau tidak.
  • Carilah lokasi yang harganya murah dan mudah dijangkau oleh konsumen. Tetapi ingatlah, lokasi yang mahal hampir tidak penting lagi karena sekarang masyarakat sudah terhubung dengan teknologi informasi. Setiap saat orang dapat menelepon dan menggunakan internet dengan mudah. Akses menjadi lebih penting daripada lokasi fisik.
  • Jika berorientasi pada pasar, kita akan memikirkan pasar lebih dahulu, baru kemudian memikirkan produksi, sehingga produk kita didasarkan pada keinginan pasar, bukannya berdasarkan kemampuan produksi. Konsekuensinya, ilmu teknis yang kita miliki belum tentu bermanfaat secara langsung. Namun dalam jangka panjang ilmu teknis akan sangat mendukung.

 

Dari Buku: Wirausaha Muda Mandiri Part 2: Kisah Inspiratif Anak-anak Muda Menemukan Masa Depan dari Hal-hal yang Diabaikan Banyak Orang. Oleh: Rhenald Kasali Penerbit: Gramedia.

M. Satria Nugraha, Pemilik Stranough International: Bisnis merdu mencipta gitar customized

Mendulang miliaran rpiah dari hobi bermain gitar, tanpa harus menjadi penyanyi ataupun pemain band. Caranya dengan memasarkan dan membuat gitar yang customized sehinggagitar buatannya menjadi ekslusif, limited edition, hanya dimiliki oleh satu orang saja di dunia!

 

 

KALAU SUDAH JATUH cinta, apa pun mungkin raja terjadi. Begitulah yang terjadi pada Muhammad Satrianugraha. Berawal dari kecintaannya bermain gitar, kini ia malah menjadi pengusaha gitar, bahkan gitar buatannya sudah beredar di sejumlah kalangan di Eropa. Di dalam negeri sendiri, gitarnya diburu oleh sederet artis karena keunikannya. Bisa dibilang itu semua serba tak sengaja. Tapi, setelah terjun langsung dalam bisnis gitar, Satria tak mau tanggung-tanggung. la kini serius menekuni bisnisnya, mencurahkan seluruh energinya. Ini semua untuk kecintaannya pada gitar, bukan sekadar miliaran rupiah yang masuk ke kantongnya dalam satu bulan!

 

PESANAN DARI LUAR NEGERI

Sebuah Surat elektronik (surel) dari negeri Belanda membuat Satria kelimpungan. Bagaimana tidak? la diminta membuat 250 buah gitar, padahal saat itu ia belum memiliki modal yang cukup. Namun, ibarat pepatah ‘banyak jalan menuju Roma’, selalu ada pintu terbuka untuk mereka yang bersungguh-sungguh. Dengan meminta pembayaran uang muka, Satria berusaha memenuhi permintaan tersebut. Untuk menunjukkan keseriusannya, ketika gitar selesai diproduksi, Satria minta agar kliennya mengirim orang dari bagian quality control untuk melakukan pengecekan. “Saya tidak mau setelah gitar dikirim, baru ketahuan ada masalah,” kata Satria memberi alasan.

Siapa yang menyangka bahwa petugas quality control yang diutus pembelinya dari Belanda ke Bandung, ke tempat Satria berbisnis, adalah guitar repairman untuk gitaris legendaris Jeff Beck dan juga gitaris Led Zeppelin, Jimmy Page. Satria bangga luar biasa. Ternyata, mengecek kualitas gitar memerlukan waktu yang tidak sebentar. Selama sekitar satu bulan melakukan pengecekan, orang tersebut ternyata juga meneteskan ilmu untuk mengembangkan gitar. “Saya banyak belajar langsung dari sang guru. Lucunya, bukan murid yang mendatangi gurunya, tetapi guru yang mendatangi muridnya,” tutur Satria tersenyum.

 

Pertahankan idealisme. Satria menanamkan pada ciri sendiri agar tidak berorientasi pada kekayaan. Menurutnya, ‘Jika kita mengawali segala sesuatu karena uang, akibatnya akan buruk.”

 

Situs yang mulanya sederhana, ia kembangkan dengan bantuan beberapa karyawan. Di sana ia menampilkan seluruh bagian gitar dengan standar penamaan internasional dan daftar harga, jika klien ingin memesan gitar yang biasa.

Satria tak menduga, ternyata tampilan di laman website-nya menjadi standar baku para perajin gitar di nusantara. “Saat saya berada di Yogya, saya mendatangi seorang perajin, seolah-olah ingin memesan gitar. Mereka lalu memberikan daftar harga berupa print out dari website saya. Ini sebuah kebanggaan tersendiri. Bahwa apa yang saya buat bisa bermanfaat bagi orang lain. Harga dan penjelasan yang saya letakkan di website membuka mata industri gitar rumahan lainnya sehingga mereka terbantu untuk maju. Apalagi, mulai ada standardisasi dari harga yang awalnya sangat beragam,” kata Satria bangga.

Untuk menarik lebih banyak konsumen, Satria menambah servisnya. la membuka konsultasi online gratis, menerapkan sistem pembayaran online (termasuk pembayaran dengan dolar), dan melakukan pengiriman barang ke seluruh Indonesia tanpa dikenakan biaya tambahan. Dalam sekejap, popularitas situsnya melonjak tajam. Pemesanan pun mengalir deras, termasuk dari sejumlah gitaris ternama. “Saya katakan kepada para gitaris itu bahwa saya dan mereka seperti berbagi tugas. Mereka sangat ahli memainkan gitar, saya lebih mengerti tentang detail gitar sampai menghasilkan suara yang mereka inginkan,” kata Satria.

 

 

 

BIODATA

MUHAMMAD SATRIANUGRAHA

Semarang, 29 Desember 1981

Pendidikan

Si Teknik Industri, Institut Teknologi Nasional, Bandung

Nama Usaha

PT Stranough International (industri gitar dan case)

Website: http://www.guitar-technology.com

Email: info@guitar-technology.com

Alamat: A Surapati No. 239 D, Bandung, Jawa Barat

Telp: 022-2512511

Penghargaan

2009 Pemenang I Wirausaha Muda Mandiri Kategori Mahasiswa Pascasarjana & Alumni Usaha Kreatif

2010 40 Tokoh Pilihan Media Indonesia versi Media Indonesia

2010 Indonesian Youngster Inc. Versi Majalah SWA

 

Jadikan kendala sebagai pemicu semangat untu maju dan membuat usaha menjadi naik kelas.

 

Untuk mengukuhkan semangat wirausaha dan makin percaya diri, Satria rajin menimba ilmu, baik lewat internet maupun secara langsung. Seiingga, proses bisnis ke depannya tidak hanya coba-coba dan mengambil banyak risiko, melainkan dibarengi dengan ilmu.

 

Gitar yang awalnya standar dikembangkan menjadi lebih customized, sesuai dengan keinginan pelanggan. Di mata Satria, gitar itu tak lagi sekadar alat musik, melainkan juga bagian dari seni, bahkan fashion. Sebab, kliennya yang kebanyakan adalah artis, tidak mau memiliki gitar yang sama dengan artis lain. “Mereka ingin membangun image mereka sendiri melalui fashion dan gitar yang dipakai. Ketika seorang artis sudah terkenal dengan gitar berciri khas tertentu, lalu dia tidak manggung dengan gitarnya itu, penonton akan merasa ada yang kurang. Karena, gitar dan gitaris adalah kesatuan tubuh dan roh,” tutur Satria.


BERAWAL DARI MIMPI

Mimpi membeli gitar seharga Rp19 juta adalah awal kesuksesan Satria. Di kantongnya saat itu hanya ada uang Rp2 juta. Itu pun pemberian dari orangtua. Sangat jauh dari harga gitar yang diimpikannya. la malah jadi penasaran, bagaimana bisa harga sebentuk gitar mencapai belasan juta. Satria lalu berselancar di internet, mencari apa yang membuat gitar itu berbeda dari yang lain. “Semua data saya kumpulkan. Akhirnya, data itu malah berkembang, tak hanya spesifikasi gitar, tetapi juga sampai ke pemilihan bahan kayu, proses produksi, dan perakitan. Makin’ penasaran, saya mencari tahu tentang model gitar yang lain,” tutur Satria.

Suatu ketika ia menyambangi rumah almarhum musisi Harry Roesli. Tanpa sengaja, ia mendengar pembicaraan tentang orang yang bisa membuat dan memodifikasi gitar. Berbekal alamat perajin tersebut, uang Rp2 juta, dan detail gitar yang ia inginkan, Satria mendatangi tempat pembuat gitar tersebut. Dari hasil obrolan, Satria mengetahui bahwa ilmu mereka membuat gitar bukanlah dari sekolah formal, melainkan warisan dari nenek moyang. Tak mengherankan, alat-alat yang digunakan masih sederhana dan semua dikerjakan secara manual. Bahkan, perajin itu menganggap data yang diberikan Satria demi mendapat gitar idaman itu terlalu detail.

Tak punya pilihan lain, Satria tetap memesan gitar dari perajin tersebut. Sudah diduga, gitar yang baru jadi seutuhnya dalam waktu satu tahun itu tidak sesuai dengan harapan. Namun, karena kerap datang untuk melihat proses produksinya, Satria menjadi paham bahwa teknik pembuatan gitar tidak sama dengan pengetahuan yang ia dapatkan dari internet. Menyadari peluang yang ada di depan matanya, Satria tak membuang waktu. la sertanya tentang kemungkinan berbisnis dan menjalin kerja sama dengan para perajin tersebut. Satria akan mengumpulkan modal (meski saat itu ia belum tahu akan mendapat modal dari mana) sekaligus menawarkan diri sebagai tenaga marketing dan administrasi. la juga bertekad akan ‘menurunkan ilmu’ tentang prosedur pembuatan gitar yang benar.

Satu-satunya `bank’ yang bisa dipinjami uang adalah orangtuanya. Karena masih kuliah, dan orangtuanya melihat bahwa bisnis gitar bukanlah sesuatu yang menjanjikan, permohonan pinjaman itu tidak mendapat persetujuan. Namun, berkat kegigihannya melakukan ‘presentasi” orangtuanya menyerah. Dana sebesar Rp7 juta pun diluncurkan sebagai modal. Langkah pertama yang dilakukan adalah mengontrak rumah sebagai kantor. Pertimbangannya, ia mendapatkan kontrakan yang lokasinya dekat dengan kampus, karena ia menargetkan untuk membidik mahasiswa terlebih dulu. Satria menggunakan lantai dasar sebagai kantor dan lantai 2 dibisniskan sebagai kamar kos. “Lumayan untuk menutupi kekurangan modal dan sebagai biaya operasional awal,” tutur Satria.

 

Rajin memperluas usaha untuk menggapai konsumen yang lebih besar.

 

Pada Mei 2004, usahanya resmi berdiri. Seperti juga awal usaha lainnya, perjuangan Satria tidak mudah. Apalagi, sangat spesifik, tidak seperti bisnis makanan, misalnya. Selama berbulan-bulan, hanya satu dua pesanan yang ia terima. Satria lalu mencoba membuat website perusahaan sendiri dan memanfaatkan iklan online gratis. Tak perlu waktu lama, beberapa surel mulai masuk. “Bahkan, ada orang-orang dari 4 negara yang berbeda, sertanya tentang bisnis saya yang masih rumahan,” kenangnya.

Salah satunya adalah pemesan dari negeri Belanda yang kemudian memesan ratusan gitar. Si pemesan memberikan detail spesifikasi gitar dan minta dibuatkan gitar contoh. “Tanpa ada kesepakatan harga atau detail tentang pengiriman, saya mengiyakan permintaan tersebut, karena saya terkesan pada desain gitar yang sangat unik itu. Dalam waktu satu bulan, gitar itu sudah jadi dan saya kirimkan fotonya kepada pemesan tersebut. la lalu minta agar gitar tersebut dikirim ke Belanda,” kenang Satria.

Saat itu, Satria merasa sangat puas dan bangga karena bisa membuat gitar yang bagus dan mengirimkannya pada konsumen di luar negeri. la bahkan tak menanyakan masalah pembayaran sama sekali. Ketika beberapa minggu kemudian mendapat kabar bahwa gitar tersebut sudah diterima dan ternyata mereka sangat puas, order datang seperti banjir bandang. Mereka memesan 250 gitar sekaligus. “Saya katakan bahwa saya tidak memiliki modal untuk membuat gitar sebanyak itu. Lagi pula, karena belum memahami sistem pemesanannya, saya meminta calon klien besar itu untuk datang ke Bandung. Ternyata mereka serius dan benar-benar datang untuk memberikan uang muka tahap awal,” kata Satria, senang. Dari situlah kisah sukses Satria berawal.

 

BERANI KEMBANGKAN BISNIS

Untuk membesarkan usahanya, Satria membuka divisi softcase dan hardcase (sarung gitar) yang juga dibuat khusus sesuai pesanan. Modelnya tak biasa, dan pasar merespons dengan cukup baik. Apalagi, Satria nyaris tak punya pesaing.

la membuat hardcase yang unik, misalnya berwarna-warni, diberi emboss nama band, dan gambar yang tak biasa. Walhasil, hardcase buatan Satria memang terlihal berbeda dari yang ada di pasaran.

 

Bisnis premium-seperti bisnis gitar Satria-mengarah ke keunikan. Karenanya, bespoke design atau tailor made adalah salah satu cara yang capat meningkatkan loyalitas pelanggan, sekaligus menjadikan daya tarik tersendiri.

 

Saat pesanan membanjir, Satria memperbarui dan melengkapi website-nya. Jumlah customer service yang menerima order online dan melayani konsultasi online juga ditambah. Pelanggan sangat dimudahkan, karena semua pemesanan bisa dilakukan lewat internet, mulai dari model gitar yang diinginkan, wadah atau sarungnya, bahkan servis. Pembuatan gitar biasanya memakan waktu 30 hari, dan agar konsumen tidak merasa menunggu terlalu lama, Satria punya siasat lain. Foto proses pembuatan gitar yang dipesan dikirimkan pada klien seminggu sekali. Mulai dari kayu yang masih balok, kemudian terpotong menjadi bentuk gitar, dirapikan, hingga perakitan. Dengan demikian, konsumen merasa ikut serta dalam proses pengerjaan itu.

Banyak orang yang percaya gitar buatan Satria berkualitas tinggi. Bagusnya, banyak pemain gitar yang mulai melirik gitar buatan lokal, dan tak melulu mencari yang buatan luar negeri. Sehingga, brand gitar milik Satria sudah terbangun dengan baik di pasar lokal maupun mandanegara. Kini ia sedang menyiapkan pabrik di Surabaya di atas tanah seluas 3.000 meter persegi untuk memenuhi pasar lokal dan pasar Eropa yang sudah berjalan, sekaligus mencari cara menembus negara-negara lain, “Pertengahan tahun 2011 saya akan mengikuti pameran di Amerika Serikat. Tujuannya ingin memperlihalkan pada dunia bahwa Indonesia juga memiliki industri gitar berkualitas, yang dibuat dengan alat-alat danggih,” kata Satria.

 

“saya yakin mimpi dan idealisme saya berbeda dengan orang lain. Dan untuk orang lain yang berada dibidang yang sama pun saya masih yakin mimpi saya berbeda dengan mereka. Mimpi dan idealisme saya mungkin lebih jauh dan leih tinggi. Pimpi dan masa depan untuk industri gitar Indonesia untuk mencapai pasar internasional.

 

Demi mengusung idealismenya, kini Satria bersama teman-temannya membangun organisasi nirlaba bernama MESA (Music Equipment Seller Association). “Tujuan utamanya adalah berbagi ilmu tentang pemasaran gitar yang selama ini masih dilakukan secara konvensional, serta menyatukan visi dan misi. Salah satunya agar mereka meninggalkan pemalsuan merek,” kata Satria.

 

 

Tips

HUKUM WIRAUSAHA #1

Keunikan Adalah Monopoli

 

“Saya menilai antusiasme bahkan lebih tinggi daripadoa keterampilan profesional. ” — Edward Appleton

 

SEKALI LAGI, KITA mendapat bukti bahwa hobi bukanlah sekadar kegiatan pengisi waktu luang. Berawal dari kecintaan bermain gitar, Satria kini menjadi pencipta nilai dalam industri gitar yang unik bahkan telah menerima pesanan dari mandanegara. Teknis membuat gitar dapat dipelajari dan dilakukan oleh siapa pun. Namun, antusiasme terhadap gitar, sehingga dapat melihat gitar bukan dalam bentuk fisiknya saja, merupakan hal yang lebih penting dalam bisnis.

Namun, tak berhenti sampai di situ. Yang lebih penting lagi adalah menemukan titik pembelajaran. Setiap saat alam memberikan kesempatan untuk belajar, bisa dari persoalan yang berhasil kita selesaikan, dari apa yang kita tangkap melalui pancaindra, dari kejenuhan yang kita hadapi, dan sebagainya. Di sinilah seseorang harus menemukan titik pembelajaran. Saat kita memiliki program dan kemauan, jangan biarkan diri kita kosong. Cari apa saja yang bisa kita pelajari dari waktu yang tersedia. Berikut adalah tips untuk menjadi artpreneur dengan sentuhan personal.

  • Saat kita mendengar ada orang yang hebat, kita harus berani belajar dengan mendatanginya. Dengan demikian kita belajar pada seseorang yang kita percaya memiliki kehebatan atau keunikan tertentu.
  • Titik pembelajaran juga datang pada saat kita menyerahkan produk. Orang mungkin akan memberikan komplain atau penjelasan, baik kita minta ataupun tidak. Meskipun terdengar negatif, ucapan mereka dapat dijadikan titik pembelajaran. Dengan masukan mereka, kita bisa mendapatkan cara baru, metode baru, produk baru, ataupun pemahaman baru tentang pasar.
  • Selanjutnya adalah menemukan titik pembelajaran dalam membangun hubungan/relasi. Misalnya, pemahaman bahwa ternyata pembeli tidak hanya sekadar membeli fungsi tetapi juga identitas. Pada saat kita menyerahkan produk, di situ juga terdapat identitas visual. Itulah yang perlu digali lebih dalam lagi sehingga dapat menciptakan keunikan, yakni bagaimana membuat alat musik itu menjadi sebuah produk yang mencirikan pemiliknya.
  • Membuat kesatuan antara produk dengan pasar dapat menciptakan hubungan personal unik dan menjadi monopoli bagi kita. Keunikan adalah salah satu bentuk monopoli. Jika tidak demikian, sebuah produk akan mudah ditiru.

 

Dari Buku: Wirausaha Muda Mandiri Part 2: Kisah Inspiratif Anak-anak Muda Menemukan Masa Depan dari Hal-hal yang Diabaikan Banyak Orang. Oleh: Rhenald Kasali Penerbit: Gramedia.

Jefri Van Novis, Pemilik PT. Bonita Tour and Travel: Juragan Bra yang terobsesi Bonita

Berawal dari kegigihannya menjual pakaian dalam wanita, bisnis Jefri terus berkembang. Setelah sukses mengembangkan usaha biro perjalanan di pasar grosir Aur Kuning di Bukittinggi, kini ia merangsek ke pusat grosir dunia di Tanah Abang Blok A, jakarta. “Saya bermimpi sekali waktu memiliki maskapai penerbangan Bonita Air,”katanya.

 

BONITA DALAM BAHASA Spanyol berarti wanita jelita. Nama inilah yang begitu lekat dan tak bisa dipisahkan dari Jefri Van Novis, pria lajang kelahiran Bukittinggi 27 tahun yang lalu. Ke mana-mana ia selalu membawa pakaian dalam wanita. Bahkan di pasar grosir Aur Kuning di Bukittinggi dan berbagai pasar di Padang, Sumatera Barat, Jefri identik dengan Bonita.

Meski begitu, jangan burn-burn salah sangka dan menudingnya banci. Bila ia selalu membawa-bawa pakaian dalam wanita, itu karena urusan bisnis semata. Tegasnya, bisnisnya adalah jual beli produk pakaian dalam wanita bermerek Bonita. Bisnis ini ditekuninya sejak menjelang ia masuk perguruan tinggi.

Usai menamatkan pelajaran di SMU Negeri 3 Bukittinggi, pada tahun 2000, meski sangat ingin, Jefri yang termasuk murid terpandai di sekolahnya ini tak terlalu yakin ia bisa melanjutkan studi ke univer­sitas. “Dari mana biayanya, orangtua saya bukan orang berada,” ke­nangnya. Meski begitu, ia tetap mengikuti SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) dan mengincar salah satu fakultas terfavorit di perguruan tinggi terfavorit di Sumatera Barat. Syukur kepada Allah, “Ketika hasil SPMB diumumkan, nama saya tercantum di daftar me­reka yang diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Andalas, Pa­dang,” ujarnya.

Meski senang dan bangga, namun membersit juga rasa khawatir: bagaimana membayar biaya kuliah yang terbilang tinggi bagi keluarga­nya, serta biaya hidup selama berkuliah di Padang. Maka muncullah gagasan untuk berkuliah sambil berdagang. “Semua keluarga mendukung pilihan ini. Apalagi keluarga kami memang berlatar belakang pedagang,” tuturnya.

 

Modalnya ada­lah tekad dan kepercayaan dari kakak sepupunya, karena Jefri tak memiliki modal sepeser pun. la mendapat kredit selama satu minggu.

 

Maka jadilah Jefri pedagang produk pakai­an dalam wanita – bra, celana dalam, korset, dan sejenisnya – merek Bonita, yang diproduk kakak sepupu di Jakarta. Modalnya adalah tekad dan kepercayaan dari kakak sepupunya, karena Jefri tak memiliki modal sepeser pun. la mendapat kredit selama satu minggu. Jadi produk yang di­ambilnya baru dibayar seminggu kemudian.

Untuk mencari uang guna membayar uang masuk kuliahnya, Jefri langsung bergerak memasarkan produk bagi kalangan menengah ke bawah ini di pasar Aur Kuning, Bukittinggi, pasar grosir terbesar di Sumatera Barat. Lokasi pasar ini sangat strategic, tak jauh dari termi­nal bis antarkota, sehingga membuatnya semakin ramai dikunjungi. Banyak pedagang dari daerah-daerah lain yang datang berbelanja ke pasar ini untuk didistrusikan ke berbagai kota lainnya.

Jefri memang tipikal orang Minang asli, ulet dan pantang me­nyerah. Hari pertama menginjak kota Padang, ia langsung memasar­kan produk ini. Semua peluang dijajalnya. Selain memasok toko-toko grosir, juga memasarkan ke pedagang eceran dan kaki lima – tentunya dengan harga yang berbeda, sehingga ia mendapatkan margin lebih besar lagi. Semua toko di Padang ditawarinya.

Tanggapannya sangat beragam. “Ada yang suka dan memuji, tak ada juga yang meremehkan produk kami,” katanya. Namun berbagai sambutan miring itu tak mampu mematahkan semangatnya. “Kalau kita menawarkan 10 toko saja, mudah-mudahan ada satu yang mem­beli produk kami,” ujarnya. Karena ia menawarkan ke ratusan toko, maka jumlah toko yang berkenan membeli produknya pun lumayan banyak.

 

BIODATA

JEFRI VAN NOVIS, SE

Bukittinggi, 16 November 1981

Alamat: JL. By Pass Pasar Aur Kuning, Bukittinggi Sumatera Barat

PENDIDIKAN:

S1 Universitas Andalas

NAMA USAHA:

PT. Bonita Anugrah Pratama Tour And Travel

Deskripsi usaha: Penjualan Tiket Pesawat, Paket Tour, Umrah, Haji Plus, Rental Mobil dan Voucher Hotel

Alamat: Bukittinggi, Padang, Payakumbuh dan Jakarta. HP. 0812 672 1668

PENGHARGAAN:

2008 Finalis Wirausaha Muda Mandiri 2008

Top Ten Tour and Travel in West Sumatera dari Dinas Pendidikan Darah Perak Malaysia

 

Ke kampus pun ia tak ragu membawa barang dagangannya ini dan menawarkannya kepada rekan kuliahnya. Sambutan teman­-temannya pun beragam, adanya yang salut terhadap semangatnya dan ada pula yang melecehkan. “Saga sempat dijuluki tauke bra. Biar saja, saya malah menikmatinya,” ujarnya santai. Malah julukan itu mem­buat Jefri dan dagangannya kian dikenal. “Banyak juga rekan-rekan wanita yang memesan dagangan saya,” katanya. Belakangan, ketika usahanya kian berkembang, koleganya yang sempat melecehkan itu malah berbalik salut kepadanya.

Meski sangat sibuk berbisnis, bukan berarti kuliahnya diabaikan. Bahkan Jefri mampu menyelesaikan studinya di Jurusan Manaje­men Pemasaran hanya dalam tempo 3,5 tahun. IPK (Indeks Prestasi Kumulatif)-nya pun terbilang tinggi, 3,3 dari skala 4.

Untuk bisa menyelesaikan kedua kegiatan – kuliah dan berbisnis – dengan baik, Jefri memang harus sangat disiplin membagi waktu­nya. Tiada kata berleha-leha dalam kamus Jefri. Tiap Senin hingga Jumat, sejak pagi hingga sore ia kuliah dengan tekun. Sore hari ia berkeliling Pasaraya Padang menagih pembayaran produknya kepada toko-toko yang mengambil produknya. Jumat sore ia pulang ke Bukit­tinggi, membawa uang untuk disetorkan, sekaligus mengambil produk barn untuk dipasarkan.

Sebelum pulang ke Bukittinggi, Jefri biasanya mendatangi satu semi satu toko yang biasa dipasoknya. “Cari order,” katanya. Minggu sore ia telah ada di Padang kembali untuk menyerahkan pesanan pe­langgan-pelanggannya. “Begitulah saya setiap minggu,” katanya. Toh di Bela-Bela kepadatan jadwalnya ini ia masih menyempatkan kursus bahasa Inggris. “Ini merupakan modal penting dalam menghadapi persaingan global,” katanya.

Usai berkuliah pada tahun 2004, Jefri masih tetap memasok ba­rang dagangannya ke Padang. Namun sehari-hari ia lebih banyak be­rada di Bukittinggi, membantu kakaknya berdagang pakaian dalam di pasar Aur Kuning. Sambil membantu kakaknya ini ia mempelajari seluk-beluk pasar grosir terbesar di Sumatera Barat ini dan mencoba mengenali potensi-potensi bisnis yang bisa digali dari jejaring yang dikembangkannya di sana.

Akhirnya pada tahun 2006 ia pun merasa mantap untuk membangun bisnisnya sendiri yang terpisah dari sang kakak. Bisnis pakaian dalam ditinggalkannya, semua pelanggannya diserahkan ke­pada kakaknya itu. Namun ada satu yang tak bisa dilepasnya: nama Bonita, yang dipandangnya sudah melekat dengan personal brand­nya dan membawa hoki. Perusahaannya yang bergerak di industri perjalanan dan wisata diberinya nama Bonita Tour and Travel. Per­usahaan ini terutama melayani pemesanan tiket pesawat udara untuk tujuan ke dalam maupun ke luar negeri.

Dengan modal yang tidak terlalu banyak, Jefri merintis usaha ba­runya dengan menjadi subagen penjualan tiket pesawat. Setelah seta­hun menjadi subagen, Jefri bisa mewujudkan keinginannya menjadi agen resmi. “Sebagai agen resmi, kita bisa menikmati komisi penuh, Berta mendapat sejumlah insentif lainnya,” katanya.

Pada April 2007 ia menggandeng sang kakak untuk mendirikan perseroan terbatas sebagai syarat untuk bisa menjadi agen resmi. Di sini pun ia merangkak dari bawah. Karena modalnya terbatas, ia hanya bisa mengajukan agen satu demi satu maskapai. Berawal dari Mandala Airlines, lalu Batavia Air. Namun berkat kegigihan men­jual tiket, kemudian satu demi satu penerbangan lainnya – termasuk maskapai besar seperti Garuda Indonesia – mulai mempercayakan penjualan tiket mereka kepada Bonita.

Potensi bisnis di sektor ini terbilang besar. Orang Minang dikenal sebagai perantau yang kerap bepergian ke seantero pelosok Nusantara – bahkan juga ke mancanegara – untuk berniaga dan menggerakkan roda bisnis mereka. Dengan jejaring lugs di kalangan para pedagang besar dan grosir di Pasar Aur Kuning, Jefri bisa meraup peluang itu. Hubung­an baiknya dengan sejumlah perusahaan dan instansi pemerintah juga membuat banyak di antara organisasi tersebut yang memesan tiket kepadanya. “Alhamdulillah, cukup banyak yang mempercayakan semua urusan perjalanan penerbangannya. kepada Bonita,” ungkap Jefri. Di antaranya ada perusahaan CNI, Tupperware, sejumlah showroom mo­bil di Bukittinggi, dan sekretariat DPRD Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Bahkan ia juga meraih kepercayaan dari Jabatan Pendidikan Perak Darul Ridzuan, Malaysia, karena mampu memberikan layanan yang sangat memuaskan kepada tiga rombongan dari Malaysia yang berkunjung ke Bukittinggi.

Jefri mengakui, ketatnya persaingan antarmaskapai penerbang­an dan banyaknya bis antarkota antarprovinsi membuat margin dari penjualan tiket perjalanan udara makin lama makin kecil. “Tapi jika kita geluti secara serius, lama-lama pelanggan kita kita makin banyak dan hasil hasilnya pun makin banyak,” ujarnya.

Setiap bulannya kini rata-rata Bonita bisa menjual sekitar seribu tiket ke berbagai destinasi. Sekitar 70% pelanggannya berasal dari ling­kungan Pasar Aur Kuning, selebihnya dari berbagai instansi dan peru­sahaan swasta. Selain menjual tiket perjalanan udara seluruh maskapai penerbangan domestik dan sebagian penerbangan internasional, kini Bonita menjual paket perjalanan wisata, perjalanan ibadah umrah, haji ONH plus, serta rental mobil dan voucher hotel.

Berbeda dengan kebanyakan biro perjalanan di Bukittinggi dan sekitarnya, yang sekadar menyediakan tiket, Bonita Tour and Travel memberi sejumlah nilai tambah dengan menyediakan travel untuk antar­jemput dari Bukittinggi ke Bandar Udara Mi­nangkabau Padang yang berjarak lebih kurang 100 km. Untuk pembelian 10 tiket sekaligus, ia juga memberi satu tiket travel gratis. Ia juga bersedia mengantarkan tiket yang dibeli ke alamat pelanggan. “Pemesanan bisa dilakukan melalui telepon atau SMS,” katanya. “Kami juga menyediakan hotline service untuk pemesanan maupun keluhan.”

 

Setiap bulannya kini rata-rata Bo­nita bisa menjual sekitar seribu tiket ke berbagai destinasi. Sekitar 70% pelanggan­nya berasal dari lingkungan Pasar Aur Kuning.

 

Kesungguhan Jefri membesarkan Bonita terlihat dari berbagai upaya promosi yang dilakukannya. Seluruh ilmu yang dipelajarinya di perguruan tinggi, dan yang dipetiknya dari pengalaman langsung berbisnis sejak semester pertama kuliah diterapkannya untuk mem­perkenalkan, menarik perhatian, membujuk, dan membangun loyali­tas pelanggan. Secara teratur ia rajin mengunjungi langganan perusa­haannya untuk mengakrabkan hubungan, sekaligus `menjemput bola’ jika ada kebutuhan tiket. “Untuk langganan saga juga tidak mengena­kan biaya pembatalan (cancelation fee) pesanan tiket,” kata Jefri. Se-lain itu, pembayaran tiket juga tak harus tunai. “Bonita bisa memberi waktu tenggang beberapa hari.”

Jefri tak ragu menyebarkan 2 ribu brosur ke berbagai toko di Aur Kuning dan menempel stiker promosi di angkot-angkot. Ia juga menggencarkan promosi dari mulut ke mulut, beriklan secara teratur di media cetak dan radio lokal, serta aktif membuka stand atau booth di berbagai pameran usaha. Jefri juga menerapkan memberikan bonus point untuk setiap pembelian tiket, travel, atau sewa mobil di Bonita. Untuk pelanggan yang mengumpulkan 88 point pesawat ia memberi­kan satu tiket gratis untuk ruse yang sama.

Sukses membesarkan Bonita di kota asalnya, Jefri bertekad me­rentangkan sayapnya ke Jakarta dan akan membuka cabang di ber­bagai kota lainnya. Di Jakarta, misalnya, akhir Mares lalu ia membuka cabang di Pasar Blok A, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Kita tabu lokasi ini sangat strategic karena merupakan pusat bisnis grosir yang bukan saja melayani seluruh Indonesia, melainkan juga ekspor dan impor ke kawasan Timur Tengah, Afrika, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam, bahkan juga ke pasar Amerika dan Eropa. Bisa dipastikan kebutuhan tiket ke berbagai penjuru dunia terbuka luas.

Namun berbeda dengan di our Kuning dan Bukittinggi umum­nya yang pasarnya telah dikuasainya dengan baik, di sini Jefri harus bekerja keras lagi – apalagi di sini juga tentunya telah banyak biro perjalanan lainnya yang telah menancapkan kukunya lebih dulu. Na­mun jika Bonita – si gadis cantik dan luwes – bisa merebut hati pelang­gan barunya, tak pelak lagi bisnisnya akan membuahkan hasil berlipat ganda. Namun Jefri tak kehabisan akal. “Pelanggan kami yang selama ini membc1i di Buht i mj,,gi banyak yang berdagang di sini. Merekalah target awal kami,” katanya. Banyak pelanggan loyalnya yang ber­tindak sebagai evangelist, merekomendasikan kepada calon pelang­gan baru. Hasilnya, “Pelanggan baru yang membeli di sini pun cukup banyak,” katanya.

Dari sekadar berjualan tiket, Jefri juga ingin membesarkan bis­nisnya ke bidang terkait. Lingkup usaha seputar bisnis ini memang masih sangat potensial untuk digali. “Usaha di luar ticketing pesawat sangat menjanjikan,” katanya. Untuk sasaran jangka pendek, ia berni­at mengembangkan layanan jasa pengiriman, seperti kargo dan titip­an kilat. Layanan ini sudah dirintisnya dari kantor barunya di Pasar Tanah Abang Blok A. “Respon pasarnya sangat bagus,” ungkapnya. Bahkan, berdasarkan kebutuhan pelanggannya, ia juga berniat masuk ke usaha penukaran uang (money changer). “Doakan agar semua usaha ini bisa berhasil,” katanya.

Seiring dengan itu, angannya pun melambung. “Impian terbesar saga adalah membangun perusahaan penerbangan Bonita Air,” kata­nya. Dan seiring dengan itu bisnisnya pun terns membumbung tinggi, lebih tinggi dari pesawat yang tengah terbang di udara.

 

Hukum Wirausaha #24

Bersahabat dengan Ketidakpastian

Di tengah-tengah kesulitan, selalu tersimpan kesempatan.

- Albert Einstein

 

SEGALA SESUATU YANG kita dipelajari di bangku sekolah adalah ilmu pasti. Seakan-akan di dunia ini hanya ada satu keadaan, yaitu keadaan yang pasti. Bahkan belakangan ini, telah terjadi tradisi baru dalam ilmu-ilmu sosial di mana para ilmuwan te­lah berupaya sangat keras menjadikan segala ketidakteratur­an alam semesta ke dalam hukum-hukum alam (a law) atau sesuatu yang mendekati hukum (a law like).

Dalam keteraturan kita menjadi lebih nyaman de­ngan kepastian, meski alam semesta sesungguhnya menyandang keadaan alami, sesuatu yang selalu penuh misteri. Terkadang diwarnai gejolak-gejolak, sesuatu yang terjadi tiba-tiba, tidak dapat dijelaskan dan ada saja ketidakakurasian prediksi. Dengan kata lain alam dan ma­nusia menyandang perbuatan ketidakpastian.

Demikian pulalah dengan perilaku manusia, bisnis, kesuksesan dalam menjalankan sesuatu, atau treatment­ apapun pun yang kita jalankan selalu saja diwarnai dengan ketidakpastian.

Banyak pemula gagal dalam berwirausaha dan memilih balik kembali ke dalam dunia kerja semata-mata karena mereka gagal menanamkan ‘passion” mereka ke dalam alam ketidakpastian. Mereka awalnya berpikir bah wa bisnis adalah kegiatan yang menguntungkan, penuh kekayaan. Kalau ada modal (baca: uang), maka akan ada pengembalian keuntungan (return). Padahal kegiatan ber­bisnis adalah berselancar di antara gelombang-gelombang ketidakpastian.

Supaya Anda tidak tergelincir dan kehilangan ‘pas­sion” sebelum usaha Anda mengalami aborsi, bersahabat­lah dengan ketidakpastian. Perhatikanlah tip berikut ini:

  • Ingatlah, tidak semua kehendak manusia selalu dapat menjadi kenyataan. Hendaknya kita selalu berharap pada hat yang terbaik, namun selalu bersiap menerima atau menghadapi kenyataan-kenyataan yang buruk.
  • Kita belum tentu mendapatkan apa yang kita inginkan, tetapi setiap langkah yang kita jalankan selalu ada yang dapat dipelajari. Kita tidak bisa meramalkan sesuatu dengan pasti namun talk akan ada hasil tanpa perbuatan. Kumpulan dari perbuatan itulah yang akan mengubah nasib kita, menjadi sesuatu.
  • Ketidakpastian eksis saat kita tidak mengenali apa yang kita hadapi, sesuatu yang jarang, unik, berbeda dari yang kita kenal, atau tidak ada umpan balik. Kenalilah, bersahabatlah dengan data dan informasi, sampai Anda mengenal betul pola, aktor, dan akibat-akibatnya.
  • Semakin pasti suatu bisnis, semakin kecil risiko yang Anda hadapi, namun semakin kecil kemungkinan keuntungan yang bisa Anda raih. Demikian pula sebalik­nya, semakin besar ketidakpastian – semakin besar ke­untungan yang tersandang di baliknya.
  • Cara berpikir sebaliknya juga perlu dihayati. Se­makin besar probabilitas keuntungan yang ditawarkan (misal­nya yang didapat dari berbisnis), semakin besar risikonya. Dan segala sesuatu yang semakin pasti (misalnya penerimaan gaji tetap sebagai karyawan), semakin kecil imbalannya.
  • Tidak ada kepastian yang sempurna. Sekalipun sesuatu terkesan lebih pasti, didalamnya selalu terkandung ketidakpastian. Yang ada hanyalah persepsi terhadap risiko.
  • Untuk mengurangi risiko, selain bersahabat dengan data dan informasi, milikilah payung-payung cadangan, jangan menaruh telur dalam satu keranjang, ciptakan faring laba-laba (melalui hubungan-hubungan pendukung), tanamkan keahlian dan reputasi, kurangi beban-beban yang berlebih (fokuslah pada keunggulan) dan jalani segala sesuatu yang Anda cintai.

 

Dari Buku: Wirausaha Muda Mandiri Part 1: Kisah Inspiratif Anak Muda Mengalahkan Rasa Takut dan Bersahabat dengan Ketidakpastian, Menjadi Wirausaha Tangguh. Oleh: Rhenald Kasali Penerbit: Gramedia.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,431 other followers