Mastura, Dari Coba-Coba, Kerupuknya Beromzet Puluhan Juta


Keputusan Mastura, 52, menjajal bisnis kerupuk pada 1997 silam berbuah manis. Ibu empat anak itu kini sukses berbisnis sehingga mampu memberdayakan puluhan pemuda putus sekolah di sekitar tempat tinggalnya.

Cek Tura, begitu wanita paruh baya ini biasa disapa, memulai bisnis kerupuk asli Palembang, Sumatera Selatan, dari nol. Dia bukan pelaku bisnis yang menjalankan usaha turunan keluarga. Pemahamannya soal membuat kerupuk pun didapatnya secara tak sengaja dari mertua.

Saat itu, tahun 1997-an, Cek Tura yang bersuamikan pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan hanya menjalani rutinitas sebagai seorang ibu rumah tangga dengan usaha warung manisan kecil.

Namun lantaran terus-terusan merugi, dia pun akhirnya memutuskan banting setir menjajal bisnis kerupuk kecil-kecilan setelah melihat usaha yang dilakukan ibu mertuanya.

“Waktu itu usaha saya warung manisan. Tapi tidak tahu atau mungkin karena belum rezeki, usaha itu tidak berkembang. Lalu saya terpikir untuk mencoba usaha lain,” ujarnya saat ditemui di tokonya di Jalan Faqih Usman, Kelurahan 1 Ulu Palembang, Sumatera Selatan.

Lantaran belum begitu paham seluk-beluk berbisnis makanan ringan khas Palembang, Cek Tura pun merasakan pahit getirnya menjadi pedagang kecil. Dia yang belum begitu paham soal pemasaran mau tak mau harus turun langsung mencari pelanggan.

Selain mendatangi pelanggan dari pintu ke pintu, Cek Tura pernah juga menjadi pedagang eceran di kawasan Pasar 7 Ulu yang berada persis di bawah Jembatan Ampera, Palembang. Berkat kegigihannya memperluas jaringan, perlahan usaha kerupuknya mulai dilirik konsumen.

Pelanggan mulai berdatangan memesan langsung ke rumahnya. Cek Tura juga memanfaatkan cara lain mempromosikan kerupuk buatannya. Dibantu sang suami, dia tak segan mendatangi loket-loket bus yang ada di sekitar jembatan. Alhasil kerupuknya kerap dibeli penumpang yang hendak ke luar kota.

Cek Tura mengungkapkan, saat pertama kali memulai usaha, dia hanya memutar modal Rp500 ribu. Dengan uang sebesar itu, dia membeli ikan gabus atau tenggiri 5-10 kg. Memanfaatkan bahan baku sebesar itu, Cek Tura hanya bisa menghasilkan beberapa kilogram kerupuk.

Kini, memasuki usia 13 tahun bisnisnya, omzet penjualan kerupuk naik drastis. Setiap bulan dia mampu memutar uang hingga Rp90 juta. Dia memproduksi ratusan kilogram kerupuk.

Produk buatan wanita kelahiran Palembang, 28 September 1958 ini mulai merambah berbagai daerah. Sebut saja Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Baturaja, Lahat, dan Lubuk Linggau. Pasarnya juga berhasil menembus Bengkulu, Padang, Jakarta, Surabaya, dan Bandung.

Permintaan umumnya melonjak 30-40 persen menjelang Lebaran. Jika pada waktu biasa karyawan yang dipekerjakan hanya 15-20 pekerja, menjelang Lebaran harus ditambah menjadi 25-30 orang. Hal ini wajar karena semua kegiatan produksi mulai penjemuran dan pemotongan masih dilakukan secara manual.

Cek Tura mengaku sangat senang karena bisa mempekerjakan warga di sekitarnya yang putus sekolah. Seiring banyaknya permintaan, Cek Tura terus mengembangkan aneka jenis kerupuk.

Sampai kini setidaknya ada beberapa jenis kerupuk yang dibuatnya seperti kerupuk putih, kerupuk pisang, kerupuk anggur, dan kerupuk usus.Tak hanya itu, dia juga membuat pempek dan tekwan instan yang telah dikeringkan.

Meski telah maju, usaha Cek Tura ini masih menemui kendala, termasuk keterbatasan modal. Dia pun pernah berusaha meminjam dari bank. Namun, sayang, SK PNS yang dimiliki suaminya tak mampu membantu mendapatkan banyak pinjaman modal yang dibutuhkannya. Alhasil dari anjuran sang suami, dia pun akhirnya memberanikan diri menjadi mitra binaan PT Pusri pada 2002.

“Tambahan modal itu sebenarnya saya butuhkan untuk membeli alat-alat masak seperti oven dan penggorengan. Nah pinjaman dari bank terlalu sedikit jadi tidak cukup,” katanya.

Setelah melalui proses singkat, Cek Tura akhirnya dengan mudah mendapatkan bantuan kucuran pinjaman dari PT Pusri. Saat itu dia langsung mendapatkan pinjaman pertama Rp15 juta yang harus dicicilnya selama dua tahun.

Dengan bunga yang sangat kecil, Cek Tura pun dengan mudah membayar cicilan sesuai waktu yang ditentukan. Uang pinjaman pertama itu digunakan untuk membeli alatalat masak dan memperluas dapur agar bisa memproduksi kerupuk dalam jumlah lebih besar.

“Saya bersyukur sekali karena sejak pinjaman pertama itu, saya selalu membayar cicilan tepat waktu. Karena itu pula, setiap mengajukan pinjaman baru, biasanya langsung disetujui. Pinjaman yang ketiga kemarin saya bahkan mendapatkan Rp50 juta,” ungkapnya.

Bantuan kemitraan yang diberikan Pusri itu benar-benar sangat dirasakan Cek Tura. Selain mendapatkan pelatihan-pelatihan wirausaha yang diberikan secara berkala, dia juga kerap diikutsertakan dalam berbagai pameran. Dari kesempatan ini pula dia semakin banyak mendapat pengalaman soal berbisnis.

Dia menuturkan, ikut serta dalam pameran sangat penting karena membantu proses pemasaran dan promosi. Setidaknya sudah dua kali dia diajak mengikuti pameran, yakni saat Pekan Raya Jakarta tahun 2008 dan tahun 2005.

Dalam kesempatan tersebut produknya habis diborong pembeli. Semua itu tak lepas dari kegigihannya mempertahankan cita rasa kerupuk kemplang asli Palembang yang terbuat dari ikan khusus. Kini seiring terus bertambahnya hasil produksi, Cek Tura punya harapan tersendiri.

Salah satu hal yang paling diinginkannya adalah mengubah tampilan kemasan. Kemasan yang masih berbentuk sablon biasa, menurutnya, belum begitu menarik perhatian dan kurang efektif.

“Kami nih masih kurang puas dengan kemasan, inginnya terbuat dari alumunium foil biar kerupuknya lebih tahan lama. Kalau yang sekarang ini paling setengah bulan,” tandasnya.

Namun untuk mewujudkan keinginannya itu, dia mengaku masih terbentur keterbatasan dana. Mesin pengemasan sangat mahal lantaran harganya bisa mencapai puluhan juta. Selain mengganti kemasan, Cek Tura juga berkeinginan membuat variasi kerupuk terbaru dengan bahan selain ikan. “Di Jepang itu orang buat kerupuk dari beras, nah kita kepinginnya juga seperti itu.

Tapi kalau bisa dengan rasa dan aroma lain seperti misalnya rasa stroberi atau sosis. “Tapi itu masih angan-angan karena kita belum tahu bagaimana caranya,” katanya. (komalasari)(Koran SI/Koran SI/ade) (sumber okezone.com)

About wirasmada

Wirausaha Muda

Posted on 06/04/2011, in Kuliner and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: