Hadi Rumpoko, Mantan TKI yang Kini Sukses Berbisnis ulat Hong Kong


Berikhtiar selama bertahun-tahun merawat dan menjual ulat Hong Kong, Hadi Rumpoko, 54, warga Kelurahan Satriyan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, kini menjadi pengusaha yang berhasil.

Namun suami Hj Nurul Hayati, 49, ini tidak akan pernah lupa, kesuksesan yang diraihnya merupakan buah dari kerja keras. Sebelum menyandang status haji serta memiliki aset bernilai ratusan juta rupiah, Rumpoko hanyalah pedagang kecil yang menjual dagangannya secara obrok (keliling).

Rumpoko mengungkapkan, kesuksesan yang dia raih juga tak lepas dari bantuan Mandiri Business Banking yang selama ini memberi dukungan modal bagi usahanya.

Apalagi sebagai nasabah Kredit Usaha Rakyat (KUR), dia selalu mendapat sokongan pinjaman modal dari Mandiri Business Banking. Diakui Rumpoko, berkat bantuan modal tersebut, usaha peternakan ulat Hong Kong yang dia geluti maju pesat.

Usaha ini mampu mendatangkan rezeki ratusan juta rupiah setiap bulannya. ”Mandiri Business Banking sangat membantu usaha saya,” terang Rumpoko tanpa mau menyebut omzetnya secara terperinci.

Mengilas balik perjuangannya, terbayang jelas di mata Rumpoko,setiap pagi dia dan sang istri harus membungkusi ikan asin, terasi, garam, dan gula. Selanjutnya, semua bahan untuk memasak itu ditempatkan di dua keranjang bambu yang sebelumnya sudah terpasang di sepeda onthel miliknya.

Mata pencaharian itu dia tekuni selama dua sampai tiga tahun pada 1980-an. Itu setelah usaha perkebunan tebu yang dia geluti bangkrut. Bagi ayah Nur Isna Kusumastuti,21,dan Nurega, 13, ini, hidup tidak boleh menyerah dengan keadaan sesulit apa pun.

Dia bahkan sempat menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Namun dia memilih kembali ke Blitar karena tidak bisa berpisah lama dengan keluarga.

Dia lalu memulai menjadi pedagang obrok. Keuletan serta semangat disiplin tinggi membuat usahanya berkembang. Rumpoko bisa membeli sepeda motor dan dia gunakan untuk berjualan menggantikan sepedanya.

Semangat pantang menyerah dan berani mencoba mendorong Rumpoko melirik usaha lain dengan harapan bisa meraih keuntungan yang lebih besar. Masih bekerja sebagai pedagang obrok, Rumpoko mengalihkan sebagian modalnya untuk memproduksi minuman limun.

Dia lalu membeli satu mobil pick up untuk angkutan distribusi produk limunnya. ”Ini berlangsung pada 1984-1986,” terang Rumpoko. Distribusi limun itu menjangkau sebagian daerah Kabupaten Nganjuk, Jombang, Mojokerto, Blitar, dan Kediri.

Rumpoko pun beralih usaha dari pedagang obrok menjadi penjual limun. Dari rutinitasnya mengantarkan sendiri limun ke sejumlah konsumen, Rumpoko mengenal ulat Hong Kong dari salah seorang warga di Kabupaten Malang.

Rumpoko tertarik dengan usaha yang menurut penglihatannya sederhana sekaligus menjanjikan keuntungan lebih dibandingkan menjual limun. Tahun 1987, bersama sang kakak bernama Puji Purwanto, Rumpoko mencoba membeli bibit ulat di Pasuruan.Kurangnya modal membuat Rumpoko terpaksa menjual perhiasan emas milik istrinya.

”Saat itu saya beli 70 kg bibit ulat dengan harga Rp40.000/kg. Saya jual kalung istri saya dengan harga Rp700.000,” terangnya.

Minim kemampuan dan lemah dalam pengelolalan, ditambah harga bibit ulat hong kong sedang merosot, membuat usaha yang baru dirintis selama enam bulan itu berantakan.

Selain harga bibit jatuh menjadi Rp1.500/kg, banyak bibit yang mati saat proses pemeliharaan. Sebab semuanya dikerjakan oleh Rumpoko secara autodidak. Kegagalan tak membuat Rumpoko patah arang. Setelah sempat terhenti, dia kembali mencoba usaha peternakan ulat Hong Kong.

Sebanyak 20 kg bibit dia beli senilai Rp800.000. Sedikit demi sedikit keuntungan berhasil diraih Rumpoko. Keuntungan yang diperoleh hampir seluruhnya digunakan untuk mengembangkan ulat.

Dengan optimistis dia menggeser produksi limun hanya sebagai pekerjaan sampingan. Setiap bulan Rumpoko secara rutin melayani pesanan ulat Hong Kong sebanyak 11 ton. Permintaan datang dari Jawa Barat, Kudus (Jateng), Pasuruan (Jatim), Surabaya, dan Jakarta.

”Informasinya ulat ini diekspor ke Amerika dan Jepang untuk makanan ular dan kura-kura. Kalau di sini biasanya untuk makan burung ocehan,” jelasnya.

Dia membeli ulat dari petani seharga Rp28.000/kg dan dijual Rp30.000/kg. Rata-rata transaksi yang dia lakukan setiap minggu berkisar Rp25 juta-Rp30 juta. Untuk biaya perawatan sekaligus pakan ulat Hong Kong sebelum dikirim ke penjual, Rumpoko menghabiskan biaya Rp5 juta per minggu.

Dari hasil usaha yang terus berkembang, Rumpoko bersama istrinya, Nurul Hayati, bertolak ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji pada 2007. Dia juga membeli tanah yang di atasnya kini dibangun tempat tinggalnya. ”Saya juga membeli mobil dan mampu menyekolahkan anak sampai universitas di Surabaya,” ungkapnya.

Seiring meningkatnya usaha, musibah datang menghampiri. Hubungan arus pendek listrik di tempat pemeliharaan ulat menghanguskan hampir seluruh bangunan.

Untung, api berhasil dipadamkan sebelum menjalar ke rumah induk yang berjarak hanya beberapa meter. ”Itu terjadi tahun 2009,” katanya.

Meski cukup membuat shock, musibah itu tidak sampai mengganggu kelancaran usahanya. Apalagi setelah kembali mendapat pinjaman dana dari Mandiri Business Banking, Rumpoko makin optimistis bisa mengembangkan usahanya lebih besar. Jumlah karyawan yang sebelumnya hanya lima orang kini menjadi 10 orang.

Untuk menjaga hubungan sosial di lingkungan terdekatnya, Rumpoko juga menggunakan modal pinjaman dari Mandiri Business Banking untuk menolong warga miskin dengan cara memberi pinjaman dengan bunga lunak.

Sebab, tidak semua warga mengetahui cara-cara meminjam uang di bank. Rumpoko mengatakan, ada sejumlah kepala keluarga yang sebelumnya menganggur kini menekuni pekerjaan setelah memperoleh manfaat dari separuh pinjaman modal dari Mandiri Business Banking.

Bagi Rumpoko, kucuran modal dari Mandiri Business Banking sangat membantu usaha mikro kecil menengah di lingkungan terdekatnya.” Rata-rata untuk usaha ternak kambing. Nominalnya bervariasi, ada yang Rp5 juta hingga Rp10 juta,” ujarnya. Saat ini dia hanya mengawasi kinerja anak buah selain menjaga hubungan baik dengan mitra kerja.

Kendati demikian, tebersit di pikirannya untuk membuka usaha lain yang bisa menghasilkan keuntungan lebih besar. ”Kalau ditanya cita-cita, saat ini saya ingin membuka usaha dealer motor. Kalau memang ada cukup dana, termasuk pinjaman dari Mandiri Business Banking, saya akan mencobanya,” tandas Rumpoko. (solichan arif)(Koran SI/Koran SI/ade) (sumber okezone.com)

About wirasmada

Wirausaha Muda

Posted on 06/04/2011, in Agribisnis. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: