Dadang dan Budi, Diawali Patungan, Kini Omzet Ikan Hiasnya Puluhan Juta


Kecamatan Ciparay selama ini dikenal sebagai sentra produksi ikan konsumsi di Kabupaten Bandung, bahkan di Jawa Barat. Namun, karena menjamurnya kelompok petani ikan konsumsi, usaha itu mengalami kejenuhan dan stagnasi.

Di tengah situasi tersebut, Dadang dan Budi tampil dengan ide dan terobosan. Kakak-beradik ini memutuskan untuk mengembangkan usaha ikan hias. Mereka berdua memulai usaha pada 2005.

Beberapa ikan hias yang mereka budidayakan antara lain ikan koi dan koki.Dadang bersama adiknya mulai menjalani usaha ikan hias ini sejak 2005 dengan nama Alvira Family. Usaha yang baru berjalan lima tahun tersebut makin menunjukkan eksistensinya ketika bantuan usaha dari Bank Mandiri mereka dapatkan.

Pada 2009, Dadang mengajukan kredit ke Bank Mandiri untuk tambahan modal demi membuat semacam showroom di tempat usahanya. ”Showroom diperlukan agar lebih menarik minat pembeli langsung yang datang ke tempat kami,” kata Dadang.

Mereka bercerita, usaha yang mereka geluti awalnya merupakan bisnis keluarga. ”Keluarga kami juga mulanya peternak ikan konsumsi. Kemudian ketika hendak beralih ke ternak ikan hias, kami pun patungan modal,termasuk modal dari orang tua,” terang Dadang.

Hingga akhirnya mereka bisa membeli lahan berupa kolam sekaligus membeli bibit ikan hias yang sekarang menjadi tempat usahanya di Jalan Raya Pacet No 219, Desa Sagaracipta, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung.

Berbagai benih ikan hias seperti koi dan koki, manfish, botia lantas ditebar ke dalam beberapa petak kolam di atas lahan satu hektare. Namun kakak-beradik ini mengaku lebih fokus pada ikan koi, koki, dan komet karena lebih cocok untuk daerah tropis. Dari tahun ke tahun, usaha mereka terus berkembang.

Dari yang semula hanya membuka toko ikan hias di Pasar Ciparay hingga akhirnya mereka berinisiatif untuk membudidayakan berbagai jenis ikan hias.

”Dalam tahun pertama hingga tahun ketiga kami menjalankan usaha, memang masih banyak kendala mengembangkan ikan hias. Misalnya dari kualitas ikan yang masih kurang diakui di pasaran. Tapi dari situ kami terus memperbaiki kualitas hingga pasar pun lebih banyak yang menerima produk ikan kami,” tutur Dadang.

Usaha mereka kini dalam sebulan menghasilkan 20 ribu ekor ikan koi. Namun biasanya terjual hanya 10.000 ekor, yang tergolong kelas 1, 2, dan 3.

Omzet usaha ini dalam sebulan bisa mencapai puluhan juta rupiah. ”Kalau semua digabung, omzetnya memang mencapai puluhan juta rupiah. Rata-rata sebulan bisa menghasilkan Rp80 juta, bahkan lebih,” ucapnya.

Dadang mengaku memasarkan ikan hias tersebut secara rutin ke kawasan Jalan Karapitan dan Terusan Pasirkoja, Kota Bandung. Ada juga pembeli dari Kabupaten Sumedang dan Garut yang langsung mengambilnya di Ciparay. Bahkan usahanya ini sudah dikenal ke pemasar ikan hias di daerah lain seperti Sukabumi, Blitar, dan Tulung Agung.

Sementara itu sang adik Budi mengaku dirinya agak pesimistis pada awal merintis usaha ikan hias ini. Namun setelah berkonsultasi dengan para pelaku usaha ikan hias lainnya, Budi merasa yakin bahwa usaha ini memiliki prospek yang baik.

Usaha ini akan terus berkembang mengingat masih terbatasnya jumlah peternak ikan hias. Disinggung soal kendala menjalankan usaha ini, Budi mengisahkan dirinya sempat beberapa kali merugi dan tertipu orang lain yang menjadi rekan bisnis. Karena itu, dia kini harus pandai-pandai memilih rekan bisnis. ”Makanya saya lebih banyak melibatkan anggota keluarga saja,” ucapnya.

Kerugian paling parah, tutur Budi, jika ikan terkena penyakit koi harvest virus (KHV).Seekor saja ikan terkena KHV, lebih dari 80 persen ikan lain pasti terjangkit pula. ”Kalau sudah begitu, kami harus menyelamatkan induk ikan agar jangan sampai terjangkit virus,” kata ayah dari dua anak ini.

Proses pengembangbiakkan ikan koi bisa berlangsung tiga sampai enam bulan hingga menghasilkan produk yang siap jual. Setelah induk bertelur,lantas telurnya dipindahkan ke kolam khusus hingga 15 hari kemudian menetas dan jadi bibit. Dari kolam pembibitan dialihkan lagi ke kolam pengembangan hingga cukup dewasa.

Harga satu ekor ikan hias bervariasi, tergantung kualitasnya yang biasa terbagi menjadi kelas 1, 2, dan 3. Kualitas ini dilihat dari pola warna serta pola dasar antara lain bentuk, berat, dan panjang badan.

”Yang paling mahal itu ikan dengan kualitas hampir sama kualitas ikan impor. Misalnya harga ikan koi dengan panjang 30 cm itu minimal bisa mencapai Rp100 ribu per ekor,” terangnya.

Ke depan, Budi ingin memasarkan ikannya melalui internet. Dia juga ingin ikut kontes atau pameran.” Kami juga masih membutuhkan ekspose ke luar agar usaha kami lebih banyak dikenal orang. Dengan demikian, pasar kami pun bisa berkembang,” ujarnya.

Saat ini, kata Budi, biaya produksi yang harus dikeluarkan tinggal untuk pembelian bibit, pakan ikan,dan gaji untuk lima orang pegawai. Dadang dan Budi pun ingin menjadikan usaha mereka, Alvira Family, berbadan hukum.

”Kami pun terus mengembangkan pasar mulai dari para penggemar ikan hias hingga perkantoran dan pabrik-pabrik.Makanya kami membuat showroom berupa kolam dan akuarium agar lebih memiliki daya tarik pembeli,” kata Budi. (iwa ahmad sugriwa)(Koran SI/Koran SI/ade) (sumber okezone.com)

About wirasmada

Wirausaha Muda

Posted on 06/04/2011, in Agribisnis. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: