Sukaryo, Dulu Di-PHK Kini Ciptakan Lapangan Kerja Lewat bisnis kerajinan boneka


”KALAU orang lain bisa, kenapa saya tidak?” Falsafah hidup itu terus menjadi penyemangat bagi Sukaryo, 38, dalam menekuni bisnis kerajinan boneka.

Namun bukan hal mudah bagi pemilik Tin Panda Collection itu meraih segala hal yang telah dicapainya saat ini. Pahit getir kehidupan telah dia jalani. Bermodal kenekatan dan ketekunan, bersama istri yang juga mitra kerjanya, Suratinah, 38, Sukaryo kini berhasil melampaui fase hidup miskin.

Sebagaimana anak desa pada umumnya, Sukaryo kecil sudah terbiasa hidup kekurangan. Selama enam tahun menimba ilmu di tingkat sekolah dasar (SD) di tempat asalnya, Desa Sanguwatang, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, Sukaryo tidak pernah menikmati enaknya bersepatu. Tiap hari dia harus berjalan tanpa alas kaki hingga belasan kilometer menuju sekolahnya.

“Itu belum termasuk keterbatasan (sarana prasarana) lain. Buku pelajaran jarang beli, lebih sering meminjam teman. Saat belajar pada malam hari hanya diterangi lampu teplok kecil,” ujar Sukaryo.

Selepas SD, niat Sukaryo untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat sekolah menengah pertama (SMP) harus terbentur masalah biaya. Apalagi sebagai sulung dari empat bersaudara dia memiliki beban harus segera bekerja agar bisa membantu otang tuanya membiayai sekolah adik-adiknya.

Sukaryo pun mengisi aktivitasnya dengan bertani dan bekerja serabutan. Akhirnya datang tawaran dari teman sekampung kepada Sukaryo untuk bekerja di Bandung. “Sekitar tahun 1990-an saya berangkat ke Bandung.Modal saya hanya nekat, sebab baca tulis pun tidak terlalu bagus,” ujarnya. Awal 1990-an tersebut ternyata menjadi titik balik Sukaryo menapaki kesuksesan.

Dua tahun bekerja di sebuah industri rumah tangga pembuatan boneka di Bandung telah mengajarinya banyak hal.Termasuk bisa berkenalan dengan gadis asal Dusun Candi,Desa Sidomulyo,Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, yang sekarang telah memberinya dua anak.Sebelum Sukaryo ke Bandung, Suratinah telah bekerja di home industry tersebut.

“Meski bekerja secara borongan dan hanya dibayar Rp250.000 per bulan, sedikit demi sedikit saya bisa menabung, dan selama bekerja di Bandung saya dan istri hidup di rumah kontrakan sederhana,” katanya. Belum sempat menikmati hasil kerjanya, pada 1994 Sukaryo dan Suratinah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Keduanya terpaksa harus menumpang hidup di tempat kerabat Suratinah yang lebih mapan di Bandung hampir setahun.

Malu dengan kenyataan itu,Suratinah mengajak suaminya hijrah, hidup di tempat asalnya di Kabupaten Magelang. Berbekal pengalaman bekerja di Bandung, Sukaryo menguatkan tekad untuk membuka usaha kerajinan boneka di Dusun Candi.Uang tabungan ditambah uang pinjaman hingga terkumpul Rp5 juta dia gunakan sebagai modal usaha.“Awalnya saya tidak yakin,bisa nggak boneka laku di Candi,” ujarnya.

Beruntung, Sukaryo memiliki istri Suratinah yang sangat paham dengan seluk beluk usaha boneka. Selama 10 tahun bekerja di industri rumah tangga boneka di Bandung, Suratinah menjadi orang kepercayaan bosnya. Suratinah pun mengetahui urusan bahan untuk pembuatan boneka, mulai dari harga yang murah hingga tempat penjualnya.

Dia juga memiliki keterampilan menggambar pola, tahap awal dalam membuat boneka. Keahlian itu sejalan dengan kemampuan menjahit yang dimiliki oleh Sukaryo. Alhasil, selain sebagai pasangan suami istri, keduanya juga merupakan mitra kerja yang saling membantu. Pemasaran produk boneka dilakukan secara bersama oleh keduanya. Sistem dari mulut ke mulut dan pintu ke pintu menjadi andalan dalam memasarkan boneka.

“Sering kami dianggap sebelah mata ketika datang ke sebuah toko untuk menawarkan barang. Tapi begitu melihat barang dan tahu harganya, mereka tertarik lalu menjadi pelanggan,” kata Suratinah. Kegigihan Sukaryo dan istrinya itu mendapatkan respons positif. Boneka yang diproduksi dari modal awal langsung ludes terjual.Namun belum sempat menikmati keuntungan, efek domino krisis moneter mulai menghadang. Harga bahan baku melonjak dua kali lipat.

Mau tak mau, langkah efisiensi produk mereka terapkan, antara lain dengan memperkecil ukuran boneka. Sukaryo juga mengganti bahan isian boneka dengan yang harganya lebih murah. Meski demikian, dia tetap memperhatikan kualitas produknya.Upaya itu pun membuat bisnisnya tetap berjalan. Terbukti, selama krisis moneter jumlah pelanggan tetap terjaga.

Bahkan seiring waktu, usahanya mulai dikenal luas oleh masyarakat Magelang. Melalui penetrasi pasar dan memajang barang di sejumlah gerai boneka milik langganannya, produk Tin Panda Collection makin diminati masyarakat. Permintaan pun mulai banyak. Dari semula hanya datang dari Kota Magelang dan Kabupaten Magelang, berkembang ke wilayah di sekitarnya. Selain itu di wilayah eks Karesidenan Kedu yang mencakup enam kabupaten dan kota, Semarang dan sekitarnya, bahkan ekspansi ke Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Kebanyakan pelanggan datang dari gerai atau toko boneka dan perseorangan.Banyak juga pelanggan eceran yang langsung datang ke sini,” ujar Sukaryo.

Seiring meningkatnya penjualan, omzetTin Panda Collection pun naik. Modal awal yang hanya Rp5 juta sekarang berkembang menjadi Rp50 juta. Omzet per bulan tak kurang dari Rp20 juta. Dari keuntungan usahanya itu, Sukaryo mampu membeli sebidang tanah yang kemudian didirikan dua rumah.Satu rumah untuk tempat tinggal, lainnya sebagai tempat produksi. Sukaryo juga merekrut tujuh warga sekitar, semuanya ibu rumah tangga sebagai mitra kerja.

“Paling tidak usaha yang saya jalankan telah mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Di sela rutinitas sebagai ibu rumah tangga, mereka bisa mendapat tambahan penghasilan dengan menjadi tenaga pengisi boneka,” kata Sukaryo bangga.
Untuk menjaga pangsa pasarnya terjaga, Sukaryo selalu membuat desain baru boneka sesuai perkembangan terkini. Jika dulu boneka yang disukai adalah model Winnie the Pooh, Hello Kitty, dan Doraemon, sekarang ada Spongebob, Upin dan Ipin.
“Desain juga menyesuaikan permintaan konsumen,” ujarnya. Produknya pun tidak hanya terbatas pada boneka anak-anak, tapi juga bantal atau guling, penghias mobil dan rumah.Dia menjual produknya menyesuaikan tingkat kerumitan dan penggunaan bahan baku. “Mulai dari Rp20.000 hingga Rp850.000,” katanya.

Hasil dari keuletan Sukaryo dan istri menjalankan usaha,Tin Panda Collection mendapat penghargaan tingkat nasional Citi Micro-Entrepreneurship Award 2007 dari Citi Indonesia dan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Sukaryo dinobatkan sebagai pemenang pertama, pengusaha kecil dan mikro kategori kerajinan. “Penghargaan itu membuat kami lebih termotivasi untuk mengembangkan usaha,” tandasnya. Sukaryo mengungkapkan, saat ini yang menjadi kendala bagi pengembangan usahanya adalah masalah permodalan dan pemasaran.

Selain itu harga bahan baku boneka dari waktu ke waktu terus naik. Selama ini Sukaryo selalu mendatangkan bahan untuk pembuatan boneka dari Bandung karena harganya lebih murah.

Adapun dari sisi pemasaran, Sukaryo dan istrinya terbentur pada persoalan pengetahuan. “Model pemasarannya masih seperti dulu, belum memanfaatkan teknologi,” kata Sukaryo seraya mengaku ingin belajar internet guna mendukung pemasaran usahanya. (agus joko)(Koran SI/Koran SI/rhs) (sumber okezone.com)

About wirasmada

Wirausaha Muda

Posted on 06/04/2011, in Industri Kreatif. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: