Sigit Susilo, Raup Untung Jutaan Lewat Kue Brownies ‘mr BrownCo’ dari Tepung Singkong


SIGIT Susilo adalah salah satu dari segelintir anak muda yang sukses. Bagaimana tidak, di usianya yang masih 24 tahun, Sigit mampu meraup penghasilan hingga puluhan juta rupiah dari usaha yang dijalaninya. Ide dan kreativitas merupakan modal utama Sigit dalam menjalankan bisnisnya.

Buktinya, dia mampu menghasilkan produk, yakni kue brownies yang terbuat dari tepung singkong, mengingat kebanyakan brownies yang dijual di pasaran saat ini menggunakan tepung terigu.

Kemudian, brownies ciptaannya itu dia jual dengan merek mr BrownCo. Konsep mr BrownCo adalah memadukan antara produk pangan lokal dengan modern. Sigit mendirikan mr BrownCo pada 6 Februari 2008 di lingkungan kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Darmaga.

Sejak berdiri, sambutan konsumen sangat tinggi. Ini terlihat dari semakin meningkatnya angka penjualan dari bulan ke bulan. Kemudian diversifikasi dan inovasi produk terus dikembangkan dengan selalu mengikuti selera konsumen dan mengedepankan pelayanan terbaik.

Ketertarikan Sigit memulai bisnis bermula pada tahun 2004 sewaktu masih menjadi mahasiswa tahun pertama di IPB. Saat tinggal di asrama, kata Sigit, dia tertarik berjualan setelah melihat banyak teman-temannya yang jualan.

“Saya menjual produk orang lain, yakni nata de coco. Namun, sebenarnya peraturan asrama sendiri enggak membolehkan mahasiswa berjualan karena mengganggu ketertiban asrama. Selepas dari asrama tahun 2005, saya enggak jualan nata de coco lagi,” papar Sigit.

Pada waktu itu, Sigit dan seorang temannya, Indra, memutuskan untuk membuat brownies biasa yang berbahan dasar tepung terigu. Bisnis kecil-kecilan itu mampu berjalan hingga tahun 2008 dan pemasarannya sebatas di lingkungan komunitas IPB.

“Awalnya kami membuat sebanyak dua kotak per hari, dan mendapatkan pendapatan sebesar Rp60 ribu per hari. Lama-lama, pendapatan kami bertambah menjadi sebesar Rp200 ribuper hari. Tapi tidak hanya menjual di kelas, kami juga menjual ke perumahan sekitar kampus. Walaupun produksi terbatas, mengingat waktu itu kami masih kuliah,” papar Sigit.

Lalu pada tingkat akhir kuliah, bisnis yang dijalani Sigit dan Indra semakin berkembang, dan anggota tim pun bertambah dua orang, yakni Bahtiar dan Irna Melviyana. Ekspansi usaha pun coba dilakukan mereka, apalagi ketika itu mereka mendapatkan dana hibah Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional sebesar Rp4 juta.

“Saya mengajukan proposal bisnis brownies ke PKM. Jadi sambil berbisnis, kami juga sekaligus menjalankan program PKM selama setahun. PKM semacam kompetisi seluruh kampus di Indonesia. Waktu itu proposal program kami adalah brownies ubi jalar dan talas. Sementara modal yang kami miliki sendiri sebesar Rp2 juta, jadi modal awal total Rp6 juta. Itu bisa dibilang kami ikut lomba bikin business plan,” kata Sigit.

Modal Rp6 juta tersebut kemudian digunakan Sigit untuk membeli etalase toko di Bogor seharga Rp600 ribu, oven, mixer, sewa tempat sebesar Rp1,5 juta per tahun, pembuatan leaflet sebanyak 500 lembar, bahan baku brownies, dan sebagainya.

“Dalam setahun, modal itu berputar, dan pendapatan per bulan Rp9 juta. Waktu itu masih membuat brownies berbahan baku ubi jalar dan talas. Kita juga sering ikut pameran dan bazar. Selepas dari program PKM, kami mulai mengembangkan bisnis sendiri,” kata Sigit.

Kreativitas Sigit terus berlanjut dengan melakukan inovasi mencoba berbagai bahan baku umbi-umbi lainnya, mulai dari tepung ganyong hingga tepung singkong untuk membuat brownies. Sampai pada akhirnya, dia menemukan bahan baku yang cocok untuk membuat brownies, yakni tepung singkong.

“Karena kami memang selalu mengutamakan untuk mengembangkan bahan baku pangan Indonesia. Yang namanya industri kan bukan hanya sekadar unik, tapi kontinuitas dari bahan baku itu tetap harus ada. Kalau memakai singkong murni dikukus kan buat industri tidak efektif,” ujarnya.

Selain tertarik untuk menggunakan bahan baku pangan Indonesia, Sigit mengaku, juga ingin menekan penggunaan produk tepung terigu yang merupakan produk impor. Sementara itu, tahap percobaan menggunakan tepung singkong dan tes pasar hanya berlangsung selama sebulan.

Seiring dengan waktu, pada pertengahan 2009, Sigit berhasil meraup omzet sebesar Rp25 juta per bulan. Namun sayangnya, di tengah semakin berkembangnya usaha, semua anggota tim Sigit memutuskan untuk mencari pekerjaan lain. “Setelah lulus, saya baru kembangkan usaha sendiri,” ucapnya.

Kendati hanya seorang diri, Sigit tidak langsung putus asa dan tetap semangat untuk menjalankan usahanya. “Saya berharap brownies mr BrownCo ini nantinya bisa menjadi ikon oleh-oleh khas Bogor,” tutur Sigit.

Strategi marketing yang dilakukan adalah dengan melakukan bazar dan pemeran, baik di sekitar kampus IPB maupun di wilayah Bogor dan Jakarta. Selain itu, promosi via online juga sudah dilakukan untuk mempromosikan produk mr BrownCo ke seluruh wilayah Indonesia, yakni melalui http://www.mrbrownco.com, http://www.oleholehbogor.com, maupun melalui situs jejaring sosial.

Saat ini, Sigit sudah memiliki satu outlet yang berlokasi di kampus IPB yang merupakan tempat utama untuk memasarkan produknya. Dia juga memasok hasil produksi di Botani Square dan beberapa agen di sekitar Bogor.

Rencana pengembangan bisnis mr BrownCo adalah dengan memperluas pasar di pusat kota Bogor dan merambah area Jabodetabek. Ada dua rencana pengembangan bisnis. Pertama, konsep booth, display, atau stan di tempat-tempat strategis, seperti mal, pusat jajanan khas Bogor, tempat rekreasi, atau jalan-jalan utama di Bogor.

Kedua, membuka outlet atau gerai yang memadukan antara brownies, kopi, dan makanan khas Bogor, di mana konsumen juga disediakan tempat untuk menikmati secara langsung produk-produk yang ditawarkan sambil menikmati hidangan kopi dan menu aneka brownies siap saji.

Tahap pertama yang segera direalisasikan, yaitu meresmikan pembukaan mini cafe di kampus IPB Darmaga. Mini cafe pertama yang akan dibuka pada November 2010 adalah perpaduan antara brownies dan kopi. Untuk membuka mini cafe, Sigit bekerja sama dengan seorang temannya, Asyhar. Dana yang dibutuhkan untuk membuka mini cafe itu sebesar Rp100 juta.

“Kami sekarang mengarah kepada sistem cafe. Konsepnya sekarang orang bisa makan dan minum sambil nongkrong. Karena menurut saya cocok, menghubungkan brownies dengan kopi. Untuk keuntungannya, sistemnya nanti bagi hasil,” ungkapnya.

Sigit mengaku, mampu menjual sebanyak 25-40 kotak brownies singkong setiap harinya. Biasanya, Sigit memproduksi 48 kotak brownies singkong panggang, 16 brownies singkong kukus, dan 100 cup brownies per hari dengan kisaran harga mulai dari Rp2.000 hingga Rp55 ribu.

“Tapi tergantung event, kalau puasa dan Lebaran biasanya akan lebih dari itu. Pada waktu liburan panjang juga meningkat, karena para mahasiswa IPB yang ingin pulang ke rumahnya, biasanya membeli untuk oleh-oleh. Jadi, ya sudah menjadi semacam gaya hidup mereka. Bahkan dulu, produk saya pernah sempat diberi tagline ‘gawenya anak IPB’,” ucapnya.(Sandra Karina/Koran SI/ade) (sumber okezone.com)

About wirasmada

Wirausaha Muda

Posted on 06/04/2011, in Kuliner. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: