Apin meraih sukses berkat kerja pantang menyerah


Tak pernah mengenal kata putus asa, Ilpin Hawadi mengawali usaha mebelnya dari nol. Lantaran tak bisa melanjutkan kuliah, ia pun memilih menjadi perajin mebel berbekal ilmu dari STM dan bangku kuliah yang tak sempat ditamatkan. Kini, Apin–panggilan akrab Ilpin–menjadi pengusaha mebel yang sukses di Sumatra dengan omzet mencapai Rp 120 juta per bulan.

Kerja keras dan pantang menyerah merupakan kata-kata yang sering didengar sebagai kunci kesuksesan. Begitu pula dengan Apin. Kedua hal itu menjadi syarat untuk meraih mimpinya menjadi wirausahawan yang sukses.

Memulai usaha mebel sejak 1993, sekarang, ia sudah membuka dua cabang di Bandarlampung dan Palembang. Pemilik CV Pinka Barokah di Palembang ini juga sudah memperkerjakan 45 pegawai dengan omzet Rp 120 juta per bulan.

Apin membuat beragam furnitur yang terbuat dari kayu jati. Mulai kursi dan meja tamu, lemari, meja makan hingga kursi lipat. Produknya pun merambah sampai ke Jawa.

Keberhasilan Apin menjadi pengusaha mebel tidak terlepas dari keberhasilannya mengetahui seluk beluk bahan baku. Sehingga, ia bisa memproduksi mebel dengan biaya yang lebih murah.

Selain itu, keahliannya memproduksi dan merakit mebel juga sangat menentukan. Kemampuan ini diperoleh Apin dari latar belakang pendidikannya.

Sejak masih di bangku sekolah menengah atas, ia memilih kuliah di STM Pembangunan. Pada 1988, ia sempat mengenyam bangku kuliah di Teknik Arsitektur Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta. Namun, karena keterbatasan dana, ia hanya sempat kuliah hingga semester enam. “Tentu saja, saya sempat merasa terpukul karena tidak mampu melanjutkan kuliah,” ujarnya.

Ia pun harus pulang ke tempat asalnya di Ogan Hulu, Sumatera Selatan. Namun, Apin tak putus asa. Dengan modal ilmu yang sudah diraihnya, ia mulai memutar otak dan mencari usaha yang bisa menjadi sumber mata pencahariannya.

Karena memiliki ilmu dasar yang berkaitan dengan bangunan, Apin pun mencoba terjun di dunia mebel. Maklum, seperti membangun rumah, pemakaian konstruksi yang tepat juga berlaku untuk membuat furnitur yang kuat. “Waktu itu, saya yakin, inilah satu-satunya usaha yang bisa menghidupi tanpa harus menjadi pegawai di tempat lain,” katanya.

Dengan modal seadanya, ia pun mulai menjalankan bisnis pembuatan kusen, pintu, lemari, dan kursi di Bandarlampung. Ia memilih kota di ujung Selatan Sumatra ini karena melihat prospek bisnis yang berkembang di sana, mengingat Lampung merupakan wilayah yang dikembangkan sebagai daerah transmigrasi.

Pada saat membuka usaha pembuatan dan pengukiran mebel, tentu saja, Apin menemui banyak kendala. Mulai dari modal hingga hambatan mental berupa rasa khawatir akan gagal.

Namun, ia menepis semua kendala itu dengan tekad yang kuat dan dorongan dari keluarga. “Kita tidak akan tahu hasilnya kalau tidak pernah mencoba,” ujarnya memberi nasihat.

Seiring dengan berjalannya waktu, usaha Apin terus berkembang. Kalau pada lima tahun pertama, penjualannya masih tak menentu. Kini, ia sudah bisa melego 20 unit furnitur per bulan.
Tak hanya langsung menjual kepada konsumen, Apin juga menjadi pemasok mebel mentah atau non-ukiran bagi para perajin di sekitar Lampung.

Ayah dua putri ini mengaku, kesuksesan menjadi pengusaha seperti sekarang ini tidak lepas dari keinginannya untuk maju dan membuang rasa malu. “Kalau anak muda sudah malu atau takut memulai usaha, maka kesuksesan tidak akan pernah datang,” ujarnya.

Apin bercerita, kemampuannya bisa mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di bangku STM dan kuliah lantaran motivasinya belajar memang murni mencari ilmu. “Banyak anak muda sekarang orientasi kuliahnya hanya sekadar mencari ijazah, setelah lulus mereka tidak bisa mengaplikasikan ilmunya,” kritiknya.

Untuk mendukung pengelolaan usahanya, Apin kuliah lagi di Fakultas Ekonomi Universitas Lampung (Unila) pada tahun 1995. Menurutnya, ilmu yang diperoleh di bangku kuliah tetap saja penting, meski banyak yang sukses menjadi wirausaha tanpa melewati perguruan tinggi. “Justru yang diasah dalam bangku kuliah adalah pola pikir kita, dan itu tidak ada di luar kuliah,” ujar Apin.

Ilpin Hawadi memulai usaha mebel dengan bahan baku kayu dan paku dari sisa-sisa proyek. Dengan usaha terus menerus, ia pun bisa mengumpulkan modal dan mencari pemasok kayu berkualitas dari Jepara. Namun, ia tertimpa kemalangan karena kebakaran gudang yang menghabiskan seluruh modalnya.

Menjadi seorang pengusaha sukses memang sudah menjadi cita-cita Ilpin Hawadi atau Apin sejak kecil. Baginya, menjadi seorang pengusaha memiliki nilai lebih karena bisa membantu membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas.

Lahir di Ogan Hulu, 8 Oktober 1969, Apin dibesarkan dari keluarga pengusaha. Setelah menyelesaikan pendidikan STM di Palembang, pada tahun 1988 ia merantau ke Yogyakarta dan melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Ia kuliah di Universitas Islam Indonesia (UII) Jurusan Teknik Arsitektur.

Setelah terkendala masalah biaya, akhirnya ia kembali ke kampung halaman pada tahun 1991. Walau gagal menyelesaikan kuliah, Apin tidak pulang dengan tangan hampa. Ia sudah memiliki ilmu yang mumpuni untuk bisa berwirausaha.

Apin semakin yakin dengan usaha mebel karena ia melihat prospeknya yang bagus. Selama kuliah di Yogyakarta, ia melihat banyaknya permintaan rak-rak buku dan meja belajar. “Saat itu saya terpikir pesaing di Yogya mungkin banyak, tapi tidak di Palembang atau Lampung,” ujarnya.

Tahun 1993, ia memulai usaha pembuatan mebel di Bandar Lampung. Ia membidik pasar mahasiswa untuk menjajakan meja atau rak buku. Karena modalnya belum cukup, ia memperoleh bahan baku seperti kayu dan paku dari sisa-sisa proyek. “Untungnya saya bisa memperoleh gratis dari penjaga proyek,” kenangnya.

Dengan modal utama keahlian menggambar dan kerja keras, usahanya berkembang pelan tapi pasti. Ia juga melanjutkan kuliah di Universitas Lampung Jurusan Manajemen untuk mendukung pengelolaan usahanya.

Dengan memiliki kenalan mulai dari mahasiswa hingga dosen di kampus, Apin makin mudah memasarkan produk-produknya. “Pemasaran dari mulut ke mulut saat itu lebih efektif,” ujarnya.

Setelah hampir tiga tahun bergelut dalam pembuatan dan perakitan mebel, ia mendirikan CV Karya Cipta Utama. Usaha ini terus tumbuh sehingga Apin memiliki cukup modal untuk mengembangkan usaha di Palembang, daerah asalnya.

Tahun 2000, ia membuka kantor baru di Palembang. Ia mempercayakan pengelolaan usaha di Lampung kepada adiknya.

Apin pun menjalin kerjasama dengan beberapa perajin asal Jepara. Dengan begitu, Apin bisa mendapatkan pasokan bahan baku jati yang murah. “Mereka saya bayar per barang mentah yang dikirimkan,” kata Apin. Dengan pemasok ini, ia tidak perlu khawatir dengan persediaan bahan baku.

Setelah ia mulai dikenal konsumen di Bandar Lampung dan Palembang, Apin meminjam Rp 250 juta ke salah satu bank pemerintah pada tahun 2007.

Ia memakai uang ini untuk memenuhi gudangnya di Palembang dengan bahan mentah mebel yang dikirim dari Jepara. Dengan rencana itu, ia berniat menjual setelah Lebaran ketika para pesaingnya baru mau memenuhi stok gudang.

Malang tidak bisa ditolak. Tiga hari menjelang lebaran gudangnya terbakar habis. “Saya sempat frustrasi dan bingung,” ujar Apin.

(sumber Kontan.co.id) *Bersambung*

About wirasmada

Wirausaha Muda

Posted on 29/04/2011, in Industri Kreatif and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: