Monthly Archives: April 2011

Strategi Jitu Cak Fu, Bermodal Rp.25 Ribu Raup Untung Rp.10 Juta

Memulai usaha dan menjadi sukses tidak butuh keahlian hebat atau uang bermiliar-miliar. Hanya cukup komitmen kuat, inovasi cerdas, dan jaringan yang luas. Ini yang menjadi pengalaman berharga Fuad Zakiky, inspirator bisnis termuda dalam sesi “Dare 2 Innovate” yang digelar Suara Surabaya Media bersama Universitas Ciputra dan AIESEC di Atrium Tunjungan Plaza I, beberapa waktu lalu.

Motivator berusia 22 tahun ini bercerita tentang usaha nekadnya yang diawali saat dia berusia 19 tahun. Waktu itu, katanya, dia masih kuliah di semester dua Universitas Airlangga. “Saya ini tidak punya potongan jadi orang kaya. Orangtua saya PNS, nenek moyang saya tidak ada yang pernah jadi pengusaha. Tapi saya nekad,” katanya.

Waktu itu ia mengajak empat kawannya kerjasama bisnis. Tapi saat berdiskusi, bukannya kerjasama modal yang didapat, malah ungkapan bernada pesimistis disampaikan rekan-rekannya. “Punya uang darimana, wong kita masih sama-sama mahasiswa. Masih terlalu muda untuk memulai usaha,” kata dia.

Tidak dapat kongsi modal, Cak Fu-panggilan akrab Fuad-tidak menyerah. Kali ini ia mencoba bisnis kuliner. Meskipun tidak punya keahlian memasak, dia tetap nekad. Modalnya hanya keteguhan hati plus strategi untuk memperluas pemasaran. Setelah menemukan orang yang bisa memasak kue, ia memulai bisnis berjualan kue brownies. Untuk menjualnya, ia menitip ke toko-toko dengan pembagian hasil yang menguntungkan keduanya. “Lumayan juga, dalam dua bulan saya dapat tujuh toko yang mau dititipi kue saya. Hasilnya Rp500 ribu sampai Rp1 juta perbulan,” kata dia.

Tidak lama sejak memulai usaha brownies, Cak Fu mulai berpikir bagaimana memperluas usaha dan menambah keuntungannya. Akhirnya dipilihlah bisnis catering. Pertimbangannya, usaha ini punya skala lebih besar dan keuntungan lebih banyak. Tapi ada masalah serius untuk memulai bisnis ini. Apa itu? “Saya tidak bisa memasak, tidak punya alat masak, tidak punya dapur, dan tidak punya segalanya untuk memulai bisnis ini,” kata dia.

Menyerah? Tidak ada kata itu dalam kamus Cak Fu. Hanya bermodal Rp25 ribu, dia mulai menjalankan strategi kolaborasi. Uang Rp25 ribu itu ia belikan kartu nama untuk disebar ke mana-mana. Suatu ketika, dia mendapat order catering untuk 100 pax. “Saya bingung, mau memasak pakai apa karena saya tidak punya alat masak. Saya juga tidak bisa masak,” kata dia.

Memutar otak, dia mencari pengusaha catering kecil yang hidup segan, matipun tak mau. “Saya tawarkan order ke dia dengan panduan kualitas yang saya tentukan. Saya beli Rp13 ribu, kemudian saya jual lagi Rp20 ribu. Akhirnya saya bisa dapat untung banyak dari sini,” katanya. Bisnis ini terus ia jalankan sampai pada puncaknya, ia pernah mencapai keuntungan Rp10 juta hanya dari bisnis cateringnya ini.

Lebih lanjut, Cak Fu memberi tips agar tidak pernah takut memulai bisnis sejak masih belia. “Sebab jika kita gagal di usia muda, masih cukup banyak waktu untuk memulai kembali dan belajar dari kegagalan,” kata dia. (sumber ciputraentrepreneurship.com)

18 Tahun, Sudah Punya Puluhan Karyawan

KOMPAS.com – Bisnis aneka minuman cepat saji kian mengalir. Mulai mengusung merek pribadi hingga waralaba (franchise). Bahan dasarnya bisa susu, cincao, teh, sinom alias jamu, buah, hingga yang serba racikan sendiri. Bisnis teh kemasan siap saji misalnya, banyak diminati lantaran keuntungan yang diperoleh cukup besar, cara pembuatannya juga tak sulit.

Meracik teh yoghurt kini menjadi andalannya. Padahal, Victor Giovan Raihan, pelajar 18 tahun ini, semula hanya iseng-iseng saja membuat minuman yang memadukan teh dan susu fermentasi ini. Hasilnya, minuman olahannya ternyata memiliki banyak penggemar.

“Modal awalnya Rp 3 juta dengan meminjam dari orangtua sekitar 2010. Saat ini per outlet paling apes menghasilkan Rp 2 juta per bulan. Outlet lain yang ramai bisa lebih dari itu,” aku pemilik merek Teh Kempot ini.

Ide menamai Teh Kempot berasal dari cara orang minum teh kemasan dengan sedotan, jika teh terasa enak dan hampir habis pasti orang akan terus menyedot hingga bentuk pipinya kempot. Begitu kira-kira harapan Victor menjadikan teh yoghurt berasa paling yummy.

Sulung dua bersaudara yang bersekolah di SMA Negeri 1 Kepanjen ini memiliki 10 outlet yang dikelola sendiri dan 17 outlet yang dikelola oleh mitranya. Bermitra dengannya cukup bayar Rp 3,5 juta dan akan mendapatkan 1 paket booth (gerobak), alat masak dan 100 cup (gelas kemasan) pertama. Dua mitra diantaranya ada di Jakarta dan Palembang, lainnya tersebar di Kota Malang.

“Saya belum berani menjual hak dagang secara franchise karena masih sangat pemula. Jujur saja bisnis teh kemasan siap saji ini marjin keuntungannya bisa 350 persen. Kalau kuliner seperti, Bakso Mercon yang sedang saya kelola, marjin keuntungannya hanya 100 persen,” lanjut putra pasangan Sri Winarsih dan Bambang Hermanto.

Victor memang lebih dulu mengelola bisnis bakso, ketimbang teh yoghurt. Outlet baksonya baru ada lima, kesemuanya ada di Malang. Tahun ini, ia berencana nambah lima outlet. Bisnis yang dikelolanya ini belakangan berkembang ke minuman. Alasannya sederhana, kalau orang makan bakso pasti butuh minum.

“Saya coba beli daun teh setengah matang dari pemasok, saya kelola sendiri lalu saya mix dengan yoghurt (susu fermentasi). Ada rasa lemon tea, stoberi, dan cokelat,” ujar pria yang bermukim di Jl Panji II Kepanjen ini.

Per kemasan atau segelas teh yoghurt ukuran 250 ml dijual seharga Rp 2.000-2.500. Jumlah karyawan yang bekerja padanya kini tak kurang dari 50 orang, termasuk untuk outlet bakso dan teh yoghurt.

Setiap harinya, ia bisa menghabiskan 20 kg daun teh kering untuk diproduksi atau menjadi 70 gelas. Gula yang dibutuhkan 4 kg per outlet per hari. Sedangkan kebutuhan daging untuk bakso sekitar 20 kg per hari.

“Usaha bakso tetap akan jadi core business saya karena omzetnya besar. Kalau teh hanya sampingan. Ke depan, saya akan tambah mitra di kota-kota besar, seperti Surabaya dan Sidoarjo,” lanjut Victor.

Ia mengaku, jalan yang ia tempuh dari hasil kerja kerasnya kini membawa keberuntungan yang luar biasa di usianya yang masih belia. “Saya tidak tahu jika dulu saya mengikuti anjuran ayah untuk sekolah di kepolisian apa ‘omzet’nya akan sebesar ini. Keluarga besar saya semua di jalur angkatan bersenjata. Tapi saya tidak minat mengikuti jejak tersebut,” yakinnya.

Untuk perluasan usaha, Victor masih enggan mengajukan kredit kemana-mana. Pakai modal pribadi dan pinjam orangtua masih memungkinkan. “Toh bapak saya dapat fasilitas kredit dari bank, yakni kredit kepolisian. Saya pinjam dari situ juga,” pungkasnya. (Dwi Pramesti YS)

  • Editor: Erlangga Djumena
  • Sumber : Surya (dicopy dari kompas.com)

Kisah Sukses Erik Kadarman, Pemilik Burger Blenger

Mengerjakan sesuatu dengan hati bisa memberikan hasil maksimal, apalagi didasari niat mulia membahagiakan keluarga. Walaupun hanya dengan modal terbatas, kegigihan mampu menghasilkan kesuksesan.

Salah satunya dilakukan Erik Kadarman Subarna. Langkahnya mantap ketika memutuskan berhenti dari rutinitas kantornya sebagai manager operasi di sebuah perusahaan raksasa berskala nasional. Walau sempat dibilang tak mengindahkan akal sehat, Erik nekat menjadi entrepreneur dengan membuka depot burger di pinggir jalan. Apa yang melatarbelakangi Erik membuka bisnis makanan atau burger? Sangat sederhana.

Pria kelahiran Jakarta 22 Januari 1973 ini hanya menjalankan sebuah bisnis sesuai dengan hobinya, yaitu memasak. Kala itu, Erik pun menyadari bahwa bisnis yang akan dijalaninya kelak tidak akan terlepas dari masa-masa sulit dan jatuh bangun. Maka itu, apa yang disajikan kepada para pelanggannya adalah hasil karya sepenuh hati dan ucapan terima kasihnya hingga mencapai kesuksesan sampai saat ini. Ayah beranak dua ini menceritakan kisah perjuangan yang telah dilewatinya. Terbatasnya waktu yang bisa diberikan untuk keluarga, serta keadaan yang tidak memungkinkan pada saat itu,adalah alasan yang memaksa Erik untuk terjun langsung ke dalam bisnis makanan.

“Kebutuhan harus selalu dipenuhi, dan saya harus memutar otak untuk itu. Untuk keluarga saya,” ujar Erik belum lama ini.

Dengan meninggalkan atribut sebagai manajer di salah satu perusahaan terkemuka, Erik mengaku pada saat itu dirinya tidak bisa lagi mengharapkan penghasilan dari pekerjaan sebagai manajer di perusahaan yang ditinggalkannya tersebut maupun di tempat lain. Setelah pengunduran dirinya, pria lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti ini kemudian berdiskusi dengan sang istri mengenai ke mana akan dibawa modal yang mereka miliki, dan akan dikelola seperti apa ke depannya. Erik mengatakan bahwa saat itu istrinya ingin melanjutkan pendidikan tata busana dengan tujuan memfasihkan kemampuannya menggambar desain pakaian dan membuka usaha jahit kecil-kecilan nantinya.

Erik pun mendukung apa yang istrinya impikan.Dengan uang sebesar Rp17 juta yang ia miliki pada saat itu, Erik memberikan sebesar Rp10 juta kepada istrinya untuk membiayai pendidikan tata busana saat itu, sedangkan sisanya sebesar Rp7 juta digunakan Erik untuk membuka bisnisnya sendiri. Berawal dari situlah, Erik memberanikan diri membuka sebuah depot burger pinggir jalan miliknya. Dengan membidik tren baru di dunia kuliner, di mana para pencinta makanan sudah mulai bosan dengan nasi dan mencari penggantinya seperti roti, Erik mendapatkan ide untuk memulai bisnis makanannya.

Roti isi daging atau lebih dikenal burger pada saat itu mulai digemari para penikmat kuliner dan Erik pun mantap membuka depot burger di pinggir jalan. Terletak di Barito, daerah Blok M,Jakarta Selatan dengan depot sebesar 2×1 meter, Burger Blenger pun memulai debutnya pada 2004. Berasal dari bahasa Jawa, blenger memiliki ‘arti makan sampai kenyang atau kekenyangan’. Kata itu mewakili produk dari segi ukuran serta rasa yang berbeda dari burger lainnya.“Saya ingin menjual produk yang berkualitas, karena saya sangat serius menangani bisnis ini,” ujar pria yang tidak ingin membuka cabang di luar kota ini. Ketika itu, Erik masih menjadi seorang karyawan yang masih mempunyai tanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu sebelum menjual Burger Blenger.

Tidak terlepas dari kata persaingan, pria yang mengaku sempat mengalami masa-masa kesulitan untuk beradaptasi pada 2005 ini, menganggap persaingan sebagai pemacu dirinya untuk memberikan yang lebih baik lagi bagi para pelanggan setianya. Pada 2006, terdapat beberapa produk serupa yang meniru usaha miliknya Burger Blenger, tentunya dengan kualitas yang berbeda. “Di satu sisi, saya merasa hal tersebut bisa mengecewakan pelanggan karena mereka pikir itu adalah produk yang sama dengan Blenger. Namun dengan itu, pelanggan bisa merasakan mana yang benar-benar memiliki kualitas, bukan hanya sekadar ikut-ikutan,” ujar Erik.

Seperti yang dikatakan pemilik Burger Blenger yang telah tersebar di empat daerah di Jakarta ini, visi dari Burger Blenger itu sendiri adalah menjadi merek lokal dengan produk yang mengutamakan kualitas dan harga murah serta terjangkau. “Saya ingin membawa konsep makanan hotel, terjun ke pinggir jalan dan bisa dinikmati semua kalangan.”

Setelah melakukan beberapa inovasi hingga kini, terdapat beberapa varian Burger Blenger yang ditawarkan seperti Cheese Burger, Beef Burger, Chilli Dog, Cheesy Dog,dan Chilli Dog XL.

Berbicara mengenai kesuksesan Erik saat ini, tiap harinya Burger Blenger menjual 5.000 piece burger, dengan rata-rata harga Rp12.000; dan jika dikalikan omzet per harinya, Burger Blenger mencapai Rp60 juta per hari dan sebulan sebesar Rp1,8 miliar. “Saya sangat mensyukuri apa yang saya miliki saat ini. Dan, berusaha untuk tidak ngoyo melakukan sesuatu di luar batas saya,” tambahnya.

Saat ini Erik memiliki karyawan sebanyak 75 orang di seluruh gerai yang tersebar di Jakarta. Erik pun berbagi tips bagi siapa saja yang ingin memulai bisnis dan bisa berhasil seperti dirinya saat ini. Jangan takut untuk berusaha, jadikan kegagalan sebagai pelajaran dan cambuk agar lebih baik dari sebelumnya.

Jangan tunda keinginan untuk berusaha, karena memulai lebih awal lebih baik daripada hanya berangan-angan semata. “Jangan takut gagal. Kegagalan merupakan suatu proses dan keberhasilan itu sendiri adalah proses akhir dari apa yang kita lakukan.” (*/Koran SI)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/8123-kisah-sukses-erik-kadarman-pemilik-burger-blenger.html

Anita Roddick – The Body Shop dan Kisah Kepedulian Lingkungan

Produk-produk The Body Shop ® mungkin lebih terkenal daripada seorang Anita Lucia Perilli, nama kecil Anita Roddick. Sang pendiri yang dilahir tahun 1942 di Littlehampton, Sussex, England sebenarnya memiliki nama yang juga fenomenal. Ia adalah jiwa dan DNA dari The Body Shop ® produsen Body Butter, Pepermint Foot Lotion, atau Wild Cerry Body Shower yang menggunakan bahan alami dan ramah lingkungan.

Kisah fenomenal Anita Roddick dan The Body Shop ® kini banyak mengilhami perusahaan-perusahaan global dalam menerapkan Corporate Social Responsibility (CSR). Anita menjual produk Body Shop dengan pendekatan berbeda dengan strategi bisnis pada umumnya. Ia mengutamakan keseimbangan antara perkembangan dan keuntungan perusahaan dengan program pro lingkungan dan keadilan sosial. The Body Shop ® menghasilkan produk tanpa uji coba pada hewan dan membeli bahan baku dari para petani pribumi dari negara berkembang dengan perdagangan yang adil (fair trade)  

Cerita legendaris The Body Shop® sebenarnya bisa dikatakan mulai tanpa sebuah kesengajaan. Alasan agar lebih dekat dengan kedua putrinya dan keinginan menciptakan penghasilan yang mandiri. The Body Shop® pertama dibuka dari hasil pinjaman bank senilai £ 4.000 pada 26 Maret 1976 saat Anita Roddick berusia 33. Sesuai tujuan awalnya, toko pertama tersebut berdiri di Brighton – England yang terletak hanya sepuluh menit dari kediamannya.

Di saat yang sama, sang suami Gordon Roddick sedang melakukan perjalanan keliling Amerika dari Boenos Aires menuju New York . Tanpa pengalaman bisnis retail yang memadai, Anita hanya mengandalkan insting dan motivasi tinggi bahwa kewiraswastaan dapat memberi kelangsungan hidup dengan selalu memelihara pikiran positif yang kreatif.

Anita mengawali produksi Body Shop hanya terbatas 15 jenis produk kosmetik alami. Ia memproduksi di garasi sendiri yang dikemas dalam botol-botol kecil daur ulang dengan label tulisan tangan. Setiap orang yang mengembalikan botol kosmetik akan mendapat potongan harga tertentu. Cara ini secara tidak langsung justru menarik pelanggan yang merasakan pengalaman unik saat membeli kosmetik. Toko kosmetik unik berwarna hijau tua pun dirasakan oleh para pengunjung mampu menciptakan nuansa  alam menjadi pembicaraan banyak orang.

Sebenarnya, jujur dikatakan bahwa apa yang dilakukan bukanlah sebagai sebuah kesadaran terhadap lingkungan hidup. Pemakaian botol daur ulang hanyalah untuk efisiensi biaya. Warna hijau yang dominan sekedar menutupi noda-noda lembab di dinding toko dengan cat hijau. Namun, hati nuraninya yang peka segera menangkap bahwa banyak orang sebenarnya memiliki peduli terhadap keberlangsungan ekologi. Ia mulai menyadari bahwa Body Shop bisa menjadi sebuah kekuatan yang berdampak positif bagi dunia, jika menjadi entiti bisnis global dan memiliki basis pelanggan loyal.

Merek dan produk The Body Shop® menjadi fenomenal karena didasarkan pada filosofi bisnis yang unik dan berbeda. Tujuan bisnisnya tidak terbatas pada keuntungan semata, namun juga  mencakup prinsip-prinsip kesetaraan dan tanggung jawab sosial. Anita Roddick menggunakan teknik iklan yang berbeda. Ia melapisi trotoar menuju tokonya dengan parfum Body Shop dan memasang bunga-bunga rampai gantung yang alami. The Body Shop® ikut berkampanye menyelamatkan hutan tropis Brasil dan berjuang untuk aturan perdagangan yang lebih adil. Ia benar-benar telah mendedikasikan segenap jiwa dan perusahaannya untuk aktivitas sosial di dalam maupun luar negeri.

The Body Shop® menjadi satu dari sedikit perusahaan di dunia yang memiliki dedikasi luar biasa terhadap lingkungan hidup secara berkelanjutan. Tahun 1990, Anita Roddick membantu pendirian majalah The Big Issue yang keuntungan penjualannya digunakan untuk membantu tunawisma. Ia juga mendirikan yayasan amal Children On The Edge untuk membantu anak-anak yang kurang beruntung di beberapa negara Asia dan Eropa Timur.
Program-program The Body Shop® yang terkenal dalam menyampaikan pesan sosial yang positif dan mengkampanyekan perubahan, antara lain : Against Animal Testing, Active Self Esteem, Defend Human Rights, Protect Our Planet dan Support Community Trade. Bersama organisasi nirlaba pro lingkungan  Green Peace, Amnesty International dan Friend of the Earth melakukan upaya-upaya melindungi kelestarian alam secara jangka panjang.

Anita Roddick telah bekerja keras demi mimpi dan visinya untuk memastikan bahwa perusahaannya, The Body Shop® lebih dari sekedar mencari keuntungan finansial belaka. “Ini tentang pelayanan, melayani yang lemah dan rapuh, membawa konsep-konsep keadilan sosial ke dalam bisnis. Benar-benar menempatkan mereka dalam praktek (bisnis) adalah kuncinya. Mereka tidak hanya mendapat retorika belaka, tetapi keadilan yang nyata”, kata Anita suatu ketika.
Pada tahun 2004 ada lebih dari 1.980 toko The Body Shop® di lebih dari 40 negara di seluruh dunia. Kini, The Body Shop® telah memiliki lebih dari 2.400 toko di 61 negara. Bahkan menurut O Boticario (Brasil) menyebutkan bahwa The Body Shop® merupakan perusahaan  frinchise kosemetik terbesar kedua di dunia. Ia telah terpilih sebagai merek kepercayaan para pelanggan dan masyarakat dunia.

Atas dedikasinya, lusinan penghargaan telah ia terima dari berbagai institusi ternama. Annual Business Leadership Award, First Annual Woman power Award, Woman’s Center’s Leadership Award, adalah sebagian penghargaan tersebut. Vocalis The Police, Sting dan mendiang Princes Diana adalah sebagian orang yang mengidolakannya. Tahun 2003 Anita Roddick mendapat gelar kehormatan Dame Commander of the Order of the British Empire dari Ratu Elizabeth II. Dan secara resmi ia menyandang nama Dame Anita Roddick DBE.

Beberapa waktu lalu (2006), The Body Shop® dibeli oleh L’Oreal dengan nilai setara $ 1,2 milyar. Nilai yang sangat pantas untuk sebuah merek dan dedikasi luar biasa seorang Anita Roddick yang telah mengubah perspektif industri kosmetik seluruh dunia. Ia melepas The Body Shop® ke L’Oreal sebuah perusahaan raksasa Perancis dengan harapan visi-visinya tentang penyelamatan lingkungan hidup dapat lebih luas menyebar ke seluruh dunia.

Februari 2007,  Anita mengumumkan bahwa dirinya menderita Hepatitis C akibat transfusi darah yang dilakukan saat melahirkan putri bungsunya. Dalam kondisi tersebut ia sempat  mempromosikan yayasan Hepatitis C Trust dalam upayanya ikut serta melakukan kampanye penanggulangan hepatitis di seluruh dunia.

Anita Roddick, sang founder dan inovator The Body Shop® meninggal secara mendadak pada 10 September 2007 pada usia 64 tahun karena pendarahan otak di St Richard’s Hospital, Chichester, England. Tetapi, mimpi dan visinya terhadap lingkungan hidup dan keadilan sosial bagi kehidupan dunia tidaklah pernah terkubur bersama jasadnya.

sumber: http://savitriweddingbeauty.blogspot.com/2011/04/anita-roddick-kisah-kepedulian.html

Roihatul Jannah Inovator Boncengan Anak

Kesulitan memperoleh alat pengaman untuk membonceng anak dengan sepeda motor, justru melahirkan ide kreatif dari ibu dua anak ini. Berbekal tekad dan keberanian untuk mencoba, produk rancangan yang dinamai “Helmiat Bonceng Bocah” ini pun perlahan tapi pasti memikat konsumen dari Sumatera hingga Papua.

Roihatul Jannah (29) sungguh tak menyangka, setelah terpilih menjadi salah satu pemenang Shell LiveWIRE Business Start-Up Award 2008, pada 11 April lalu, cita-citanya lamanya merambah dunia wirausaha tercapai juga.

Ditemui di bengkel kerjanya di kawasan Cimanggis, Jumat, (19/9) perempuan yang akrab disapa Iat ini pun bercerita tentang usahanya yang ia rintis sejak akhir tahun lalu.

Bagaimana ceritanya sampai lahir ide Bonceng Bocah ini?
Awalnya ketika anak saya yang sudah beranjak usia pra sekolah, selalu saya bonceng dengan sepeda motor. Dan kebiasaan anak saya kalau dia di motor selalu tidur. Mau tidak mau saya berpikir bagaimana caranya biar anak saya safety di motor.

Pertama-tama saya cari alat pengaman untuk anak di toko-toko sepeda motor di Depok, Jakarta, tapi saya tidak menemukan. Dulu saya suka minta tolong Budenya untuk menjaga di boncengan belakang. Tapi, itu bukan solusi karena kalau suatu hari Bude enggak bisa ikut ngantar, bagaimana?

Kebetulan memang saya ada bakat desain, dari SD saya juga suka desain baju sendiri. Kalau saya mau pesan meja atau kursi juga saya desain sendiri. Akhirnya, saya cobalah itu mendesain boncengan anak. Saya lihat di motor, kira-kira alat ini bisa dipasang di bagian yang mana. Ternyata ada peluang. Lalu saya minta tolong ke bengkel las. Desainnya seperti ini, bahan dari stainless. Tapi kan harus ada bantalannya, biar enak. Awalnya sederhana saja.

Lalu, kalau anak ngantuk nanti bagaimana? Saya pakai gendongan bayi yang ada sabuknya, sehingga bisa diikatkan ke badan saya. (Proses desain) Itu bertahap ya. Terus kalau saya mengantarkan anak ke sekolah, banyak yang tertarik. Kalau berhenti di lampu merah, suka ditanya “Bu, beli dimana,”. “Enggak saya bikin,” Lalu saya pikir kenapa ini tidak menjadi peluang bisnis saya. Akhirnya saya bikin brosur, disebarkan ke teman-teman.

Anda sempat ikut kompetisi juga ya?
Waktu itu ada ajang yang disponsori Shell untuk menggugah semangat enterpreuner di kalangan mahasiswa, sebagai alternatif karier setelah lulus. Kemudian saya ditawari formulir lomba di ajang tersebut, saya tertarik karena itu sifatnya start up, untuk yang benar-benar baru mulai. Alhamdullilah saya lolos semua tahap seleksi sampai ke final. Ini Membuat saya tambah semangat. Lalu saya terpikirkan untuk bikin bengkel sendiri.
( Modal Iat membuka bengkel diperolehnya dari hadiah kompetisi sebesar Rp 20 juta dan bantuan orang tua).

Sudah berapa lama bengkel ini berdiri?
Bengkel ini baru jalan dulu bulan. Dulu sebelum ada bengkel pernah dibuat profilnya oleh SCTV. Nah, setelah tayang handphone saya pernah seharian enggak mati-mati, karena diteleponin yang mau pesan. Pas nganter anak sekolah saja (jarak dari rumah ke sekolah anak kurang lebih 20 menit), itu ada miscall dari 14 nomor yang berbeda. Itu melatih saya untuk “Oh, oya sekarang saya mulai menapak bisnis ini”.

Berapa unit yang diproduksi?
Itungannya seminggu, sekitar jadi 50 unit. Dari yang bengkel sendiri, belum termasuk bengkel orderan. Harga jual Rp 250.000/unit. Saya enggak mau nurunin harga dengan nurunin kualitas. Kami pakai bahan stainless steel.

(Iat menyesuaikan boncengan dengan jenis sepeda motor konsumennya. Soal warna dan gambar pada bantalan boncengan juga disesuaikan apakah si anak perempuan atau laki-laki)

Pemasaran dilakukan sendiri?
Saya juga punya distributor. Target pertama untuk distributor 50 unit. Nanti tahap berikutnya mau naik, supaya ke depannya jangan sampai orang yang mau beli di distributor, enggak ada barangnya. Distributor, dalam tahap penjajakan ada di Medan, Surabaya, Jakarta. Kalau pengiriman barang sudah sampai ke Lampung, pekan baru, palembang, padang, Samarinda, Balikpapan, Pare-pare, Bali, NTB, NTT, Ambon, Papua.
( Malahan, ada konsumennya, warga Indonesia yang memesan dari Jerman. Iat pun memiliki website sendiri untuk berpromosi, yaitu http://www.helmiat.com)

Sebelum punya bengkel sendiri, produksinya seperti apa?
Kerja sama dengan bengkel las yang dulu pertama saya minta tolong. Tapi dengan perjanjian bermaterai, jadi kalau ada yang pesan harus melalui saya dulu.

(Saat ini Iat memiliki enam orang karyawan, seorang di administrasi, seorang di bagian pekerjaan umum, yang lainnya di bagian perakitan. Selain itu, juga ada karyawan part time. Tak jarang, Mahasiswa Berprestasi Universitas Indonesia tahun 2002 ini pun membagi order ke bengkel tetangga)

Bagaimana pembagian kerja di bengkel?
Sift pagi jam 8, sampai sore jam lima atau 6. Untuk malam part time, selama Ramadhan mulai jam 8 sampai 11. Bukan bulan ramadhan mulai jam 7. Selesainya kadang-kadang sampai jam setengah 12 malam. Saya kan borongan, yang penting targetnya tercapai.

Pengaturan waktu?
Ngontrol di bengkel bisa pagi setelah pulang nganter anak sekolah. Siang jemput anak, nyiapin keperluan anak-anak, terus kalau memang diperlukan, sore balik lagi ke bengkel. Malamnya datang, bada Isa, tapi saya enggak nunggu sampai selesai.

Dari pernikahannya dengan Helmi Wahyudin, Iat telah dikaruniai dua orang anak, yaitu Mohammad Fathan Izzudin (5) dan Hasnah Imaratuzahran (4). Nama Helmiat sendiri merupakan gabungan nama Iat dan suaminya.

Suka ngajak anak ke bengkel?
Jarang. Soalnya rawan. Saya suruh pakai masker, mereka suka enggak mau. Kan ada debu-debu logam. Tapi saya untuk karyawan juga sebenarnya udah menyiapkan masker, sarung tangan, Cuma kan kadang-kadang orang suka enggak betah, enggak biasa.

Bagaimana dukungan suami?
Alhamdullilah keluarga mendukung. Suami saya terus terang senang, enggak membatasi ruang gerak saya. Apalagi saya orangnya enggak mau diem. Saya pernah pameran di Bandung, seminggu penuh dan dia enggak keberatan.

Punya role model khusus dalam bidang enterpreneur?
Orang tua sediri jadi panutan, mereka enterpreuner juga. Saya panggilnya Umi dan Abah. Masing-masing punya bisnis sendiri. Abah bisnis tekstil. Umi suka desain kain buat kebaya lalu, dikasih ke tukang jahit, terus dijual. Satu kakak dan tiga adik saya sekarang bisnisnya juga tekstil seperti Abah. Kecuali saya, lain sendiri.

(Iat merupakan putri kedua dari tujuh bersaudara. Masa kecil hingga SMA dihabiskannya di Tegal. Setelah menamatkan SMA, Iat melanjutkan S1 Fakultas Kesehatan Masyarakat UI)

Ada saran untuk yang ingin memulai usaha sendiri?
Ketika kita punya keinginan untuk sesuatu, yakin dan lakukanlah dengan segera. Karena ketika keinginan itu tiba, itu momentum kita untuk melakukan sesuatu. Jadi apa yang ditargetkan langsung dilakukan. Enggak hanya dipikirkan terus. Kalau begitu, sebelum melakukan, udah pusing duluan. Coba lakukan, supaya bisa tahu kesulitannya dimana. Ternyata setelah dicoba enggak sesulit yang kita pikirkan.

Sumber :http://www.ictwomen.com/profilpilihan/5/tahun/2008/bulan/12/tanggal/11/id/347/
sumber: http://www.tangandiatas.com/?ar_id=NDM0