Monthly Archives: May 2011

Dino, Sukses Berpindah Kuadran Dari Karyawan Menjadi Pengusaha Muda

dino wicaksonoDino, pemilik Dream Design Creative ini awalnya karyawan di sebuah perusahaan percetakan dan desain ternama di Surabaya, dari tahun 2002 hingga 2005 Dino menjadi desainer tetap di perusahaan tersebut, lalu pada akhir 2005 Dino memutuskan resign sebagai karyawan dan mendirikan DD Creative. Dino Wicaksono begitu nama lengkapnya adalah alumni SMA 2 Kediri tahun 2000 yang kini sukses membuka usaha sendiri sebuah studio desain yang sekarang berkembang pesat di Surabaya. Usahanya sudah merambah ke percetakan, dari mulai cetak brosur, kalender, sticker, buku, undangan, packaging, majalah, dan semua jenis cetakan lainnya.

Pengusaha muda kelahiran 29 tahun silam ini begitu mencintai dunia desain. Sempat mengenyam kuliah hukum selama empat semester di Ubaya, namun karena merasa dunia desain begitu menarik baginya, akhirnya memutuskan untuk terjun sepenuhnya sebagai desainer grafis dan lebih memilih meninggalkan bangku kuliah untuk serius menggeluti bidang desain.

Berkarir selama tiga tahun sebagai graphic designer tetap di sebuah perusahaan desain dan percetakan ternama, memberi bekal pengalaman desain yang dirasa cukup bagi Dino untuk kemudian memutuskan membuka usaha sendiri di bidang desain. Kecintaan pada dunia desain, jiwa usaha yang sudah dimiliki, idealisme untuk mandiri bisa membuka usaha sendiri yang mendorong Dino berani melangkah keluar sebagai karyawan dan mulai merintis studio desain miliknya.

Dino yang sudah dikaruniai dua anak ini menuturkan, bahwa di awal-awal membuka usaha, tantangannya cukup berat, “yang paling berat adalah meyakinkan istri kalau ini jalan Dino untuk maju… karena istri masih belum yakin akan kemampuan Dino tapi akhirnya mengijinkan” begitu tuturnya. Tantangan lainnya ialah modal yang sangat terbatas, uang untuk bertahan hidup tidak ada, hanya cukup untuk sebulan karena itu adalah gaji terakhir. Namun dibalik keterbatasan modal yang dihadapi, Dino terus maju melangkah. Mulai dari memasang iklan di koran sampai dia bergerilya mencari pelanggan lewat Yellow Pages dan menawari mereka jasa desainnya lewat SMS, “aku ambil acak nomor dari Yellow Pages, dari sekitar 100 SMS nyantol cuma satu, tapi dari satu ini muncul gunung es..” ungkapnya.

Pelan tapi pasti usaha desainnya mulai dikenal banyak orang, dan pesananpun datang dari mana-mana.  Kini tak kurang dari 30 pelanggan setiap bulan mempercayakan desainnya pada Dino. Pelanggan tak hanya datang dari Surabaya saja dan Jawa Timur, tapi juga datang dari Pangkal Pinang, Pontianak, Banjarmasin, Barabai, Makassar, Maluku, Mataram, Bali, Lombok, Jakarta, Bandung,  Jogja, dan kota-kota lainnya. Portofolio lengkapnya bisa dilihat di http://dd-creative.blogspot.com

Menjalankan usaha di bidang desain memang dituntut kreatifitas dan harus selalu update dengan trend serta perkembangan terbaru, untuk itu Dino selalu mengikuti perkembangan dunia desain baik lewat internet maupun lewat buku-buku.

Dino kini merasa sudah sangat bersyukur sebagian impiannya sudah terwujud untuk dapat memiliki usaha sendiri, bekerja sendiri tanpa paksaan dari orang lain, “bisa dekat anak istri bahkan bisa bantu masak..” selorohnya. Yang jelas kini pendapatannya sebagai pengusaha jauh lebih besar ketimbang dulu masih sebagai karyawan, “..berkali-kali lipat” katanya. Mengenai omzetnya, young entrepreneur yang ketika di Smada terakhir duduk di kelas 3 IPS 1 ini mengatakan, dalam sebulan rata-rata sekitar Rp 60 Juta bisa diraupnya.

Meskipun kini Dino sudah menuai kesuksesan dari bisnisnya, namun bukan berarti dia tidak pernah mengalami kegagalan, sering juga dia mengalaminya, pernah dia tertipu broker percetakan hingga harus menjual mobil satu-satunya untuk menutupi kerugian. Tapi sebagai pengusaha yang sudah tentu harus bermental tahan banting dan tentu menyadari segala resiko Dino tak gentar mengalami kegagalan dan dijadikannya itu sebagai pembelajaran berharga.

Mengenai persaingan, diakuinya banyak sekali kompetitor, “banyak pemainnya… tapi semakin rame semakin asyik….. kayak pasar…… ngga usah takut persaingan karena rejeki itu udah ada yang ngatur… yang penting niatnya baik Insya Allah pasti lancar” terangnya.

Ketika ditanya apa kiat-kiatnya sukses dalam berbisnis, Dino membagikan tips ‘sederhana’ “yang penting berdoa dan jangan patah semangat dan terus berusaha saja pasti jalan itu akan terbuka dengan sendirinya ketika kita berusaha”

Kesuksesan Dino dalam berwirausaha ini sekaligus membuktikan, bahwa untuk membuka usaha sendiri modal uang bukan segalanya, yang penting adalah modal kemauan. Dan meskipun Dino bukan berlatar belakang pendidikan desain grafis namun ia tetap bisa menggeluti usaha di bidang desain grafis, kuncinya adalah SUKA, karena ia suka dan jatuh hati pada dunia desain grafis, apapun dilakukan, belajar dari manapun dan dari siapapun dilakukan.

Dino kini masih mempunyai impian dan berusaha mewujudkannya yaitu untuk mengembangkan studio desainnya bisa memberikan solusi desain terlengkap dan terintegrasi serta bisa membuka kantor cabang di berbagai kota di Indonesia, pada akhirnya impiannya kelak bisa menjadi World Class Design Company. Semoga apa yang diimpikannya bisa segera terwujud. Itulah sosok alumni Smada Kediri yang sukses bertransformasi dari karyawan menjadi pengusaha muda yang sukses.

Dino bisa dihubungi di:

dreamdesigncreative@yahoo.co.id

Telp. +62.31.7100.3300
+62.31.70255.448
+62.81.331.44.0800

http://dd-creative.blogspot.com

ddcreative

 

 

 

 

(sebagaimana diceritakan kepada Wirasmada via online interview)

Merry Riana, Sukses Menjadi Miliuner Di Usia Muda

KEAJAIBAN akan muncul dari pribadi yang berani dan gigih! Demikian yang akan kita temui saat menyimak kisah sukses Merry Riana, salah seorang miliuner muda di Singapura asal Indonesia.

Di usia 26 tahun dia sudah mampu mengumpulkan kekayaan sebesar S$1,000,000 (sekitar Rp 7 miliar) . Padahal beberapa tahun sebelumnya  dia hidup di Singapura , salah satu negara dengan biaya hidup tertinggi di dunia, tinggal di kontrakan dengan bekal  hidup Rp 10.000/hari.

Pada saat yang sama dia menuntaskan kuliah dengan gemilang di Jurusan Electrical & Electronic Engineering di Nanyang Technological University (NTU), Singapura hanay dalam waktu empat tahun.

Dia kini memimpin 50-an konsultan dan manajer di bidang konsultasi keuangan dan sebagian besar di antaranya warga Singapura. Dia juga meraih berbagai penghargaan, baik di saat kuliah maupun setelah menjadi wirausahawan. Bahkan, dialah motivator wanita termuda di Asia dan menghasilkan buku laris “A Gift from A Friend” yang diterjemahkan ke dalam tujuh bahasa.

Seperti tanaman, bibit yang baik hanya akan tumbuh subur jika kita menyiapkan tanah dan pupuk yang baik. Begitu juga keajaiban. Keajaiban pada dasarnya datang menghampiri orang-orang yang selama hidupnya bekerja keras dan berbuat yang terbaik dengan tujuan hidup yang jelas.

Keajaiban sebenarnya merupakan buah dari “multi upaya” yang kita lakukan bertahun-tahun. Atau, mengutip ucapan Merry dalam “A Gift from A Friend”, “keberuntungan (atau keajaiban) adalah hasil dari saya berada dalam keadaan siap ketika kesempatan itu datang”.

Pada diri Merry, keajaiban datang dari perpaduan visi, tindakan, dan hasrat. Dalam diri perempuan kelahiran 29 Mei itu, visi tak lepas dari kecintaan dan penghormatannya yang mendalam kepada orangtua yang telah mendidik sekaligus membesarkannya dengan segala upaya hingga menjadi orang sukses.

Sebagai anak yang berbakti, dia memang bermimpi untuk membalas kebaikan orangtua dengan memberi mereka kebahagiaan. Tapi Merry sadar, dia hanya bisa membahagiakan orangtuanya di saat mereka masih sehat dan relatif muda, bukan setelah mereka tua dan sakit-sakitan. Hal itulah yang menguatkan tekadnya untuk sukses dan kaya di usia muda. Maka, sulung dari tiga bersaudara ini pun rela merantau sendiri ke Singapura.

Ayah-ibu Merry memutuskan mengirim putri sulungnya ini untuk menuntut ilmu ke Singapura, sesaat setelah kerusuhan melanda Indonesia di bulan Mei 1998. Sebagai anak dari keluarga sederhana, Merry bukan saja membawa bekal materi yang minim, melainkan juga bahasa Inggris yang pas-pasan namun dengan tekad yang membara.

Saat tiba di Singapura, uang di sakunya hanya S$1,000 (Rp 7 juta). Hanya dalam waktu singkat, uang tersebut nyaris tak bersisa untuk membeli buku pelajaran yang harganya mahal dan kebutuhan sehari-hari.

Saat diterima di NTU, dia pun terpaksa mengajukan pinjaman S$40,000 (sekitar Rp 280 juta) ke pemerintah Singapura. Itu jumlah yang amat besar untuk seorang gadis lugu namun tetap saja nilainya amat kecil untuk hidup di sebuah negara yang sangat moderen.

Dia pun terpaksa lebih sering mengonsumsi roti dan mie instant untuk mengisi perutnya sehari-hari. Sebagai gambaran, pada tahun pertama kuliah, dia harus bertahan hidup hanya dengan S$10 (Rp 70 ribu) untuk tujuh hari atau Rp 10 ribu perhari untuk makan.

Guna menambah penghasilan, di saat libur, dia bekerja paruh waktu sebagai seorang pelayan restoran (waiter), penjaga toko bunga, dan penyebar pamflet beragam produk di jalanan. Sebagai mahasiswa yang dibekali student pass, dia memang tidak mungkin bekerja di kantor.

Kondisi yang serba minim justru membuatnya bekerja keras dan pantang menyerah. Bahkan, dia berkali-kali mendapat berbagai penghargaan di kampusnya. Di akhir masa kuliah (2006), dia berhasil mendapat gelar “Winner of Nanyang Young Oustanding Alumni Award” untuk pencapaiannya yang luar biasa di bidang akademik.

Di tengah-tengah kesibukannya belajar, Merry juga menyempatkan diri aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan. Kegiatan ini membuatnya bisa memperluas jaringan sosial sekaligus meningkatkan kemampuannya berbahasa Inggris.

Setelah selesai kuliah, dia juga berkali-kali menemui kegagalan ketika mencoba berwirausaha. Di awal kariernya menekuni bisnis, dia kehilangan lebih dari S$10,000 (Rp 70 juta) hanya dalam waktu 30 hari saat melakukan transaksi saham. Padahal, uang itu merupakan hasil jerih payahnya selama 4 tahun bekerja saat masih kuliah.

Tak hanya itu, dalam kondisi hampir bangkrut, suatu saat dia kehilangan S$200 (Rp 1,4 juta) saat mendaftar untuk bergabung dalam bisnis MLM (Multi Level Marketing). Di luar dugaan, perusahaan MLM itu menghilang tanpa jejak. Tentu saja ,itu jumlah uang yang amat kecil bagi seorang warga Singapura namun amat berarti untuk Merry yang hanya memiliki sedikit uang di rekening.

Meskipun demikian, berbagai kegagalan memberinya pelajaran yang amat bergharga dalam dunia bisnis, yang tidak didapatnya di bangku sekolah atau kuliah. Wanita yang menyukai lagu “The Greatest Love of All” (Whitney Houston) dan “You Raise Me Up” (Josh Groban) ini pun tetap dengan tekadnya untuk kerja mandiri dan melepaskan peluang untuk menjadi karyawan. Padahal tak ada satu pun orang-orang di sekitarnya (orangtua, dosen maupun sejumlah sahabatnya) yang mendukung rencana tersebut.

Mereka khawatir dengan pilihan tersebut karena Merry nyaris tidak punya bekal apapun, khususnya tiga syarat utama untuk terjun ke dunia bisnis: modal, relasi, dan keahlian. Modal uang bisa dibilang nol, relasi yang dimilikinya hanya jaringan teman-teman kampus, plus keahlian di bidang elektro. Di luar itu, dia masih harus menanggung utang Rp 280 juta kepada pemerintah Singapura.

Namun, tekad dan niat membahagiakan orangtua ternyata mampu mengalahkan semua rintangan. Maka, dengan gagah berani seperti seekor rajawali, dia pun terbang untuk menjemput mimpinya di langit. Dia ingin menjadi orang luar biasa sehingga harus siap dengan cobaan yang juga luar biasa.

Dia tidak mau sekadar menjadi ayam yang mencari makan dengan mematuk-matuk tanah untuk mendapatkan cacing. Dia ingin menjadi Rajawali yang bisa terbang jauh-tinggi dan memilih aneka makanan yang tersedia di alam. Dia tidak rela menjadi bagian dari golongan karyawan yang rutin bekerja dari pukul 09.00 pagi hingga pukul 05.00 sore, dan tentu saja dengan “rutinitas aliran rekening yang itu-itu saja sebagai gaji”.

Sebagai gambaran, di Singapura, sarjana S-1 yang baru lulus hanya mendapat gaji sekitar S$2,500 (Rp 17,5 juta), suatu jumlah yang relatif kecil untuk standar hidup di negara yang memiliki biaya hidup yang tinggi. Sebab, seorang pekerja harus membayar 20% dari gajinya untuk CPF (Contributions Payable for Singapore Citizens atau tabungan wajib untuk hari tua), juga S$1,000 (Rp 7 juta) untuk biaya hidup (makan, akomodasi, transportasi, biaya telepon genggam, dan lain-lain).

Padahal, dia bertekad mengirim S$500 (Rp 3,5 juta) untuk orangtuanya di Jakarta. Otomatis, setiap bulan, uang di kantong hanya tersisa S$500 untuk membayar pinjaman. Dengan bunga 4% pertahun, sedikitnya diperlukan waktu 10 tahun untuk melunasi hutangnya ke pemerintah Singapura.

Belajar Wirausaha

Karena itu, setelah lulus kuliah, dia langsung terjun ke dunia wirausaha sebagai tenaga sales (penjualan) dalam bidang Financial Consultancy (Konsultasi Keuangan). Hanya bermodal waktu dan tekad untuk bekerja keras; 14 jam sehari, 7 hari seminggu, dan nyaris 365 hari dalam setahun. Di saat yang sama, dia menambah pengetahuannya tentang bisnis, baik dengan membaca buku, mengikuti seminar maupun bertanya kepada orang-orang yang ahli di bidangnya.

Maka, dia pun mulai mencari klien yang berniat melakukan investasi, membeli polis asuransi, dan menabung secara regular (fixed deposit). Hasilnya tidaklah sia-sia. Dalam waktu 6 bulan, peraih gelar “Winner of Nanyang Young Oustanding Alumni Award 2006” ini mampu melunasi hutang sebesar Rp 280 juta.

Dalam waktu 1 tahun, dia berhasil mengumpulkan modal untuk mulai merekrut staf penjualan sekaligus mulai membangun tim impian (The Dream Team). Tim inilah yang menjadi cikal bakal Merry Riana Organization (MRO), perusahaan yang bergerak di bidang Konsultasi Keuangan.

Perusahaan ini pula yang kemudian memberinya kekayaan Rp 7 milyar, hanya 4 tahun setelah lulus dari NTU, saat usianya baru 26 tahun. Dengan begitu, dia pun mewujudkan mimpinya untuk membahagiakan orangtua; mencukupi berbagai kebutuhan mereka dengan kualitas terbaik dan secara rutin mengajak mereka berwisata untuk mendatangi tempat-tempat yang menyenangkan, baik di dalam maupun luar negeri.

Support dari Suami

MRO yang dijalankan bersama suami tercinta (Alva Tjenderasa) dengan sistem yang baik, mampu berjalan tanpa keterlibatannya secara penuh (auto-run). Dengan demikian, sejak 4 tahun lalu, Merry pun bisa mengejar passion pribadi untuk menjadi motivator dan memberikan inspirasi kepada orang lain.

Belakangan, setelah mengurangi kontrolnya terhadap perusahaan, dia makin sibuk mengunjungi berbagai negara di Asia untuk memberi motivasi dan pelatihan kepada ribuan profesional, manajer, eksekutif, pemilik bisnis, dan tenaga sales. Dia bermimpi, suatu saat bisa membawakan acara talk show di televisi, menjadi Oprah Winfrey versi Asia, yang memberi inspirasi kepada banyak orang melalui pengalaman hidupnya maupun beragam pengalaman manusia yang ditemuinya selama ini.

Kekayaan yang didapatnya di usia muda tidak membuatnya besar kepala. Dia tetap tampil sebagai pribadi sederhana yang hangat dan menyenangkan bagi orang-orang di sekitarnya, termasuk orang yang baru dikenalnya. Sikap rendah hati juga dia tunjukkan dalam kaitannya dengan pemanfaatan Twitter.

Untuk setiap orang yang menjadi follower-nya di Twitter, Merry langsung menjadi pengikut mereka (following). Karena itu, jumlah following justru lebih banyak dibandingkan jumlah follower-nya, yakni 27,336 orang dan 26,301 orang, berdasarkan data 22 Januari 2011.

Sebaliknya, hampir semua public figure di Twitter memiliki follower yang jauh lebih banyak dibandingkan following. Penyanyi Sherina Munaf yang menduduki ranking pertama untuk follower, misalnya, memiliki 833.540 follower dan hanya mengikuti (following) 4.515 orang. Artis film yang juga pemain drum, Titi Sjuman diikuti 251.061 orang namun hanya mengikuti 168 orang.

Berikutnya, jumlah follower dan following host berbagai acara di televisi, Sarah Sehan (304.759/1.750), mantan juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid, Wimar Witoelar (52.021/ 109), tokoh pers Gunawan Mohammad (48.112/ 1.026), dan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Komaruddin Hidayat (28.231/ 119).

Merry mengikuti semua follower-nya karena dia sadar, ketika dia menjadi follower, dia pun berharap orang yang diikutinya pun melakukan hal yang sama. Selain itu, dia percaya, dari orang-orang biasa yang menjadi follower-nya, dia bisa mendapat berbagai pengalaman dan gagasan yang bisa memperkaya kehidupannya.

Meskipun berkecimpung di dunia bisnis, dia tidak mengabaikan kehidupan rumah tangganya bersama Alva Tjenderasa, yang dijalaninya sejak tahun 2004, yang memberinya seorang puteri yang cantik. Kepada media The New Paper di Singapura, Merry mengungkapkan tips agar rumah tangganya tetap harmonis.

Menurut Merry, having a successful relationship is similar to building a successful business; both need hard work. It takes more than just love to be where we are right now. Dan salah satu tips yang penting dalam membangun pernikahan yang harmonis adalah melakukan komunikasi yang intensif dengan pasangan.

Rumah tangga yang harmonis membuatnya bisa membesarkan MRO bersama sang suami, yang juga lulusan NTU. Berkat dukungan penuh suami, dia pun meraih berbagai penghargaan, seperti Winner of Winner of Spirit of Enterprise Award (2008), Top 5 Female Finalist: 50 Most Gorgeous People (2009), Winner of My Paper Executive Look Readers’ Choice Award (2010), Winner of LG Asia Life’s Good Ambassador (2010), dan Winner of Great Women of Our Time Award (2010). Kini, dia juga menjadi duta sejumlah produk LG untuk Asia.

Sukses juga tidak membuatnya melupakan sesama. Tak lama setelah bukunya menjadi best seller di Singapura, dia mendirikan Proyek “A Gift From A Friend”, yang diambil dari judul bukunya. Komitmennya, untuk setiap buku yang terjual, dia menyumbangkan satu buku gratis ke institusi/ sekolah/ klub yang mendukung tujuan organisasinya, yakni “kewirausahaan pemuda” (youth entrepreneurship).

Selain itu, melalui program “Personal Mentorship Experience”, dalam sepekan, wanita energik ini menyediakan dua jam dari waktunya yang sangat berharga untuk membimbing anak-anak muda (20-30 tahun), yang ingin mengambil alih kontrol hidup mereka dan memenuhi impian mereka. Semua itu dilakukannya tanpa memungut biaya sepeser pun.

Hal ini sesuai dengan prinsip hidupnya yang ditulisnya di dalam blog: “The purpose of my life is to be significant as God’s living miracle, enjoying every moment and pieces of my miraculous life with my loved ones and testifying my blessed life story to the world as a gift of love for myself and others”.

Dia memang tidak ingin menikmati kekayaan dan suksesnya hanya untuk diri sendiri. Itulah wujud syukur dan rasa terima kasihnya atas cinta yang diberikan orangtua dan keluarganya, yang berhasil membuatnya mampu meraih kekayaan dalam usia yang sangat muda. Merry sadar, cinta telah memotivasinya untuk bekerja keras dan mampu meraih sebagian besar impiannya. Maka, dia pun membayarnya dengan cara membagikan pengalamannya kepada masyarakat lewat berbagai aktivitas sosialnya.

Masihkah anda menganggap omong kosong terhadap mimpi anda?Jangan pernah hancurkan kepercayan anda bahwa anda juga bisa dipeluk keajaiban kapanpun asalkan anda serius MAU. sukses selalu untun anda mulai hari ini

sumber: http://panturabisnisonline.com/article/64105/membaca-keajaiban-merry-riana.html

Saptuari Sugiharto Sang Pendiri Kedai Digital

Berbeda dengan generasi akhir 1990-an dan awal 2000-an yang umumnya terjun menjadi wirausahawan karena sulit mencari kerja akibat krisis ekonomi yang tengah melanda, generasi pengusaha muda berumur 20-an tahun saat ini tampak memiliki keyakinan diri yang lebih besar. Mereka sejak semula bersungguh-sungguh ingin menjalani hidup sebagai entrepreneur. Salah satu di antaranya adalah Saptuari Sugiharto. Lelaki berusia 29 tahun itu telah mulai berbisnis kecil-kecilan sejak kuliah di Jurusan Geografi Universitas Gadjah Mada. Tahun ini, ia terpilih sebagai runner-up Wirausahawan Muda Mandiri 2007.

Sejak masuk kampus UGM pada 1998, Saptuari telah mendambakan memiliki usaha sendiri. Sembari kuliah; beberapa usaha dijalaninya; mulai dari menjadi penjaga koperasi mahasiswa, penjual ayam kampung, penjual stiker, hingga sales dari agen kartu Halo Telkomsel. Lalu, pada 2004, ketika bekerja sebagai event organizer di sebuah perusahaan di Yogyakarta, mantan staf marketing Radio Swaragama FM ini terperanjat melihat antusiasme penonton berebut merchandise berlogo atau bergambar para selebriti. “Heran. Kenapa orang-orang begitu bersemangat mendapatkan kaus, pin, atau apa saja milik artis,” katanya. “Padahal, mereka bisa membuat merchandise apa saja sesuai dengan kemauannya.”

Bermula dari rasa heran itu, pada 2005 Saptuari mengambil langkah berani mendirikan Kedai Digital. Perusahaan itu bertujuan memproduksi barang-barang cendera mata (seperti mug, t-shirt, pin, gantungan kunci, mouse pad, foto dan poster keramik, serta banner) dengan hiasan hasil print digital. Waktu itu, ia bermodalkan uang sebanyak Rp28 juta; hasil dari tabungan, menjual motor, dan menggadaikan rumah keluarga.

Butuh waktu enam bulan bagi lelaki kelahiran Yogyakarta itu untuk memulai kegiatan Kedai Digital. Terlebih dahulu, ia mesti mencari mesin digital printing. Ia mendapatkannya (buatan China) di Bandung. Ia juga harus mencari tahu sumber-sumber bahan baku. Kemudian, ia harus mempersiapkan tempat usaha, menyusun konsep produk, dan merekrut para staf. Semuanya dilakukan sendirian.

Bisnisnya berjalan pelan tapi pasti. Ketika usahanya mulai stabil, Saptuari memberanikan diri merekrut desainer dari kampus-kampus seni yang memang tersedia cukup banyak di Yogyakarta. Untuk tenaga marketing, digunakan para mahasiswa dari perguruan tinggi lain yang juga tersebar di kota itu. Target pasar Kedai Digital adalah para mahasiswa. Karenanya, menurut Saptuari, perusahaannya tak boleh main-main soal kualitas. Karena itu, ia mesti menggunakan desainer yang memiliki latar belakang pendidikan formal.

Pada tahun pertama, Kedai Digital telah berhasil meraih penjualan sebesar Rp400 juta. Tahun berikutnya, perolehan bisnis melesat menjadi Rp900 juta. Seiring dengan pertambahan outlet, revenue pada 2007 menembus angka Rp1,5 miliar.

Hingga akhir tahun silam, Kedai Digital telah memiliki delapan gerai di Yogyakarta. Salah satunya adalah Kedai Supply yang menyediakan bahan baku untuk kebutuhan produksi di seluruh outlet lainnya. Sementara itu, gerai Kedai Printing dikhususkan melayani pesanan produk-produk advertising seperti banner. Di luar Yogyakarta, Saptuari telah memiliki lima outlet lain (di Kebumen, Semarang, Tuban, Pekanbaru, dan Solo) melalui sistem waralaba.

Menurut Nur Alfa Agustina, Kepala Departemen MikroBisnis Group Bank Mandiri (penyelenggara Wirausahawan Muda Mandiri), di antara 500 peserta yang mengikuti lomba, Kedai Digital dinilai inovatif karena merupakan pelopor industri merchandise dengan metode digital printing di wilayah Yogyakarta. Untuk penilaian dari sisi bisnis, Saptuari mendapat nilai lebih karena bukan berasal dari keluarga pengusaha. Pendidikannya pun tak terkait dengan ilmu ekonomi. Lalu, karena melibatkan banyak mahasiswa dalam menggerakkan usahanya dan mengajarkan mereka soal entrepreneurship, lelaki bertubuh kekar itu mendapat nilai yang tinggi dalam penilaian aspek sosial.

Soal yang terakhir itu, Saptuari memang mengajak para pegawainya yang berperilaku baik untuk ikut memiliki saham di outlet-outlet Kedai Digital. Kini, telah empat kedai yang sahamnya ikut dimiliki para pekerja. “Saya tak mau mereka terus-terusan hanya menjadi pekerja. Mereka juga harus menjadi owner,” katanya. Semangat wirausaha telah ikut disebarluaskan.

sumber: http://www.purdiechandra.net/gara-gara-purdi/2010/02/saptuari-sugiharto-kedai-digital

Kisah Sukses Surya Paloh di Bisnis Media

Surya Paloh , pendiri dan pemilik Media Group (koran Media Indonesia dan Metro TV), 40 tahun, lahir di Tanah Rencong, di daerah yang tak pernah dijajah Belanda. Ia besar di kota Pematang Siantar, Sumut, di daerah yang memunculkan tokoh-tokoh besar semacam TB Simatupang, Adam Malik, Parada Harahap, A.M. Sipahutar, Harun Nasution. Ia menjadi pengusaha di kota Medan, daerah yang membesarkan tokoh PNI dan tokoh bisnis TD Pardede. Aktifitas politiknya yang menyebabkan Surya Paloh pindah ke Jakarta, menjadi anggota MPR dua periode. Justru di kota metropolitan ini, kemudian Surya Paloh terkenal sebagai seorang pengusaha muda Indonesia.

Surya Paloh mengenal dunia bisnis tatkala ia masih Remaja. Sambil Sekolah ia berdagang teh, ikan asin, karung goni, dll. Ia membelinya dari dua orang ‘toke’ sahabat yang sekaligus gurunya dalam dunia usaha, lalu dijual ke beberapa kedai kecil atau ke perkebunan (PTP-PTP). Di Medan, Surya Paloh mendirikan perusahaan karoseri sekaligus menjadi agen penjualan mobil.

Sembari berdagang, Surya Paloh juga menekuni kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan Fakultas Sosial Politik, Universitas Islam Sumater Utara, Medan. Di kota yang terkenal keras dan semrawut ini, keinginan berorganisasi yang sudah berkembang sejak dari kota Pematang Siantar, semakin tumbuh subur dalam dirinya. Situasi pada saat itu, memang mengarahkan mereka aktif dalam organisasi massa yang sama-sama menentang kebijakan salah dari pemerintahan orde lama. Surya Paloh menjadi salah seorang pimpinan Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI).

Setelah KAPPI bubar, ia menjadi Koordinator Pemuda dan Pelajar pada Sekber Golkar. Beberapa tahun kemudian, Surya Paloh mendirikan Organisasi Putra-Putri ABRI (PP-ABRI), lalu ia menjadi Pimpinan PT-ABRI Sumut. Bahkan organisasi ini, pada tahun 1978, didirikannya bersama anak ABRI yang lain, di tingkat pusat Jakarta, dikenal dengan nama Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan Indonesia (FKPPI).

Kesadarannya bahwa dalam kegiatan politik harus ada uang sebagai biaya hidup dan biaya perjuangan, menyebabkan ia harus bekerja keras mencari uang, dengan mendirikan perusahaan atau menjual berbagai jenis jasa. Ia mendirikan perusahaan jasa boga, yang belakangan dikenal sebagai perusahaan catering terbesar di Indonesia. Keberhasilannya sebagai pengusaha jasa boga, menyebabkan ia lebih giat belajar menambah ilmu dan pengalaman, sekaligus meningkatkan aktifitasnya di organisasi.

Menyusuri kesuksesan itu, ia melihat peluang di bidang usaha penerbitan pers. Surya Paloh mendirikan Surat Kabar Harian Prioritas. Koran yang dicetak berwarna ini, laku keras. Akrab dengan pembacanya yang begitu luas sampai ke daerah-daerah. Sayang, surat kabar harian itu tidak berumur panjang, keburu di cabut SIUPP-nya oleh pemerintah. Isinya dianggap kurang sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik Indonesia.

Kendati bidang usaha penerbitan pers mempunyai risiko tinggi, bagi Surya Paloh, bidang itu tetap merupakan lahan bisnis yang menarik. Ia memohon SIUPP baru, namun, setelah dua tahun tak juga keluar. Minatnya di bisnis pers tak bisa dihalangi, ia pun kerjasama dengan Achmad Taufik Menghidupkan kembali Majalah Vista. Pada tahun 1989, Surya Paloh bekerja sama dengan Drs. T. Yously Syah mengelola koran Media Indonesia. Atas persetujuan Yously sebagai pemilik dan Pemrednya, Surya Paloh memboyong Media Indonesia ke Gedung Prioritas. Penyajian dan bentuk logo surat kabar ini dibuat seperti Almarhum Prioritas. Kemajuan koran ini, menyebabkan Surya Paloh makin bersemangat untuk melakukan ekspansi ke berbagai media di daerah. Disamping Media Indonesia dan Vista yang terbit di Jakarta, Surya Paloh bekerjasama menerbitkan sepuluh penerbitan di daerah.

Pada umurnya yang masih muda, 33 tahun, Surya Paloh berani mempercayakan bisnis cateringnya pada manajer yang memang disiapkannya. Pasar catering sudah dikuasainya, dan ia menjadi the best di bisnis itu. Lalu, ia mencari tantangan baru, masuk ke bisnis pers. Padahal, bisnis pers adalah dunia yang tidak diketahuinya sebelum itu. Kewartawanan juga bukan profesinya, tetapi ia berani memasuki dunia ini, memasuki pasar yang kelihatannya sudah jenuh. Ia bersaing dengan Penerbit Gramedia Group yang dipimpin oleh Yakob Utama, wartawan senior. Ia berhadapan dengan Kartini Grup yang sudah puluhan tahun memasuki bisnis penerbitan. Ia tidak segan pada Pos Kota Group yang diotaki Harmoko, mantan Menpen RI. Bahkan, ia tidak takut pada Grafisi Group yang di-back up oleh pengusaha terkenal Ir. Ciputra, bos Jaya Group.

Kendati kondisi pasar pers begitu ramai dengan persaingan. Surya Paloh sedikit pun tak bergeming. Bahkan ia berani mempertaruhkan modal dalam jumlah relatif besar, dengan melakukan terobosan-terobosan baru yang tak biasa dilakukan oleh pengusaha terdahulu. Dengan mencetak berwarna misalnya. Ia berani menghadapi risiko rugi atau bangkrut. Ia sangat kreatif dan inovatif. Dan, ia berhasil.

Surya Paloh menghadirkan koran Proritas di pentas pers nasional dengan beberapa keunggulan. Pertama, halaman pertama dan halaman terakhir di cetak berwarna. Kedua, pengungkapan informasi kelihatan menarik dan berani. Ketika, foto yang disajikan dikerjakan dengan serius. Faktor-faktor itulah yang menyebabkan koran ini dalam waktu singkat, berhasil mencapai sirkulasi lebih 100 ribu eksemplar. Tidak sampai setahun, break event point-nya sudah tercapai.

Ancaman yang selalu menghantui Prioritas justru bukan karena kebangkrutan, tetapi pencabutan SIUPP oleh pemerintah. Terbukti kemudian, ancaman itu datang juga. Koran Prioritasnya mati dalam usia yang terlalu muda. Pemberitaannya dianggap kasar dan telanjang. Inilah risiko terberat yang pernah dialami Surya Paloh. Ia tidak hanya kehilangan sumber uang, tetapi ia juga harus memikirkan pembayaran utang investasi.

Dalam suasana yang sangat sulit itu, ia tidak putus asa. Ia berusaha membayar gaji semua karyawan Prioritas, sambil menyusun permohonan SIUPP baru dari pemerintah. Namun permohonan itu tidak dikabulkan pemerintah. Beberapa wartawan yang masih sabar, tidak mau pindah ke tempat lain, dikirim Surya Paloh ke berbagai lembaga manajemen untuk belajar.

Pers memang memiliki kekuatan, di negara barat, ia dikenal sebagai lembaga keempat setelah legislatif, yudikatif dan eksekutif. Apalagi kebesaran tokoh-tokoh dari berbagai disiplin ilmu atau tokoh-tokoh dalam masyarakat, sering karena peranan pers yang mempublikasikan mereka. Bagaimana seorang tokoh diakui oleh kalangan masyarakat secara luas, kalau ia di boikot oleh pers. Dengan demikian, bisnis pers memang prestisius, memberi kebanggaan, memberi kekuatan dan kekuasaan. Dan, itulah bisnis Surya Paloh.

sumber: http://milyarderuniversity.blogspot.com/2011/03/kisah-sukses-surya-paloh.html

Kisah Sukses Chairul Tanjung Menjadi Raja Televisi

Apa jadinya jika seorang calon dokter gigi justru merambah bisnis televisi? Jika ingin tahu jawabannya, lihatlah sosok Chairul Tanjung, pebisnis asli pribumi yang kini namanya berkibar dengan Grup TransTV dan Trans7. Berkat kesulitan ekonomi yang menderanya, ternyata hal tersebut justru menjadi bekal mengasah ketajaman insting bisnisnya.

Saat kuliah di Fakultas Kedokteran gigi Universitas Indonesia, pada periode tahun 1980-an, ia memang harus memenuhi kebutuhan kuliahnya sendiri. Meski terlahir dari keluarga yang cukup berada, karena perubahan keadaan politik, keluarganya terpaksa menjalani kehidupan seadanya. Dari rumah yang tergolong besar, mereka harus menjualnya, dan menyewa sebuah losmen sempit.

Namun, ternyata, kesulitan ini justru membuat Chairul membulatkan tekadnya untuk kembali berjuang meraih kesuksesan,” Saya bercita-cita jadi orang besar.” Maka, lepas dari SMA Boedi Utomo Jakarta, ia pun masuk ke Fakultas Kedokteran Gigi UI. Kesulitan biaya kuliah membuatnya harus kreatif mencari dana untuk meneruskan sekolahnya. Maka, kelahiran Jakarta, 18 Juni 1962 ini pun lantas memulai bisnis kecil-kecilan. Mulai dari berjualan buku kuliah stensilan, kaos, sepatu, dan aneka barang lain di kampus dan kepada teman-temannya. Dari modal usaha itu, ia berhasil membuka sebuah toko peralatan kedokteran dan laboratorium di daerah Senen Raya, Jakarta. Sayang, karena sifat sosialnya – yang sering memberi fasilitas kepada rekan kuliah, serta sering menraktir teman – usaha itu bangkrut.Namun, rupanya, menjadi pebisnis telah memikat hatinya. Walau bangkrut, ia justru langsung mencoba usaha lain, kali ini di bidang kontraktor. Meski juga kurang berhasil, ia merasa mendapat pelajaran banyak hal dari bisnis-bisnis yang pernah ditanganinya. Dari bekal pengetahuan itu, ia memberanikan mendirikan CV pertamanya pada tahun 1984 dan menjadikannya PT pada tahun 1987. Dari PT bernama Pariarti Shindutama itu, ia berkongsi dengan dua rekannya mendirikan pabrik sepatu. Kepiawaiannya menjaring hubungan bisnis langsung membuat sepatu produksinya mendapat pesanan sebanyak 160 ribu pasang dari pengusaha Italia. Dari kesuksesan ini, bisnisnya merambah ke industri genting, sandal, dan properti. Namun, di tengah kesuksesan itu, rupanya ia mengalami perbedaan visi dengan kedua rekannya. Maka, ia pun memilih menjalankan sendiri usahanya.Ternyata, ia justru bisa makin berkembang dengan berbagai usahanya. Ia pun lantas memfokuskan usahanya ke tiga bisnis inti, yakni: keuangan, properti, dan multimedia. Melalui tangan dinginnya, ia mengakuisisi sebuah bank kecil yang nyaris bangkrut, Bank Tugu. Keputusan yang dianggap kontoversial saat itu oleh orang dekatnya. Namun, pengalaman bangkit dari kegagalan rupanya mengajarkannya banyak hal. Ia justru berhasil mengangkat bank itu, – setelah mengubah namanya menjadi Bank Mega – menjadi bank papan atas dengan omset di atas Rp1 triliun saat ini.

Selain itu, suami dari dokter gigi Ratna Anitasari ini juga merambah bisnis sekuritas, asuransi jiwa dan asuransi kerugian. Kemudian, di bisnis properti, ia juga telah membuat sebuah proyek prestisius di Kota Bandung, yang dikenal dengan Bandung Supermall. Dan, salah satu usaha yang paling melambungkan namanya yaitu bisnis televisi, TransTV. Pada bisnis pertelevisian ini, ia juga dikenal berhasil mengakuisisi televisi yang nyaris bangkrut TV7, dan kini berhasil mengubahnya jadi Trans7 yang juga cukup sukses.

Tak heran, dengan semua prestasinya, ia layak disebut sebagai “The Rising Star”. Bahkan, baru-baru ini, ia dinobatkan sebagai orang terkaya Indonesia, di posisi ke-18, dengan total kekayaan mencapai 450 juta dolar AS. Sebuah prestasi yang mungkin tak pernah dibayangkannya saat memulai usaha kecil-kecilan, demi mendapat biaya kuliah, ketika masih kuliah di UI dulu.

Hal itulah yang barangkali membuat Chairul Tanjung selalu tampil apa adanya, tanpa kesan ingin memamerkan kesuksesannya. Selain itu, rupanya ia pun tak lupa pada masa lalunya. Karenanya, ia pun kini getol menjalankan berbagai kegiatan sosial. Mulai dari PMI, Komite Kemanusiaan Indonesia, anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia dan sebagainya. “Kini waktu saya lebih dari 50% saya curahkan untuk kegiatan sosial kemasyarakatan,” ungkapnya.

Pencapaian Chairul Tanjung sebagai tokoh bisnis yang gemilang, dengan berbagai jenis usahanya, telah membuat ia dinobatkan sebagai “The Rising Star”. Ia mampu membuktikan, bahwa kebangkrutan dan kegagalan, justru bisa menjadi bahan pembelajaran guna meraih sukses yang luar biasa di kemudian hari. Dan, yang terpenting, di tengah kesuksesannya, ia kini tak lupa berbagi, dengan menjadi pegiat berbagai urusan sosial kemasyarakatan. Sebuah catatan kehidupan seorang Chairung Tanjung yang bisa diteladani kita semua.