Paralon Antar Jadi Pengusaha Beromzet Rp20 Juta


Jiwa seni mengalir deras dalam diri Ilham Wirahadikusuma. Tak mengherankan, meski sempat menekuni usaha konstruksi, dia memilih kembali menekuni seni kerajinan paralon.

Seni. Inilah yang membawa jalan hidup Ilham menjadi seperti sekarang, pengusaha seni paralon. Kalau bukan karena kecintaannya pada kerajinan tangan,mungkin Ilham masih menjalani profesi yang sempat dilakoninya sejak 1985, yakni usaha konstruksi.

Pria asal Sukabumi ini sempat malang melintang di bidang usaha konstruksi. Bersama seorang rekan dia bahkan pernah mendirikan perusahaan skala kecil di Jakarta. Usaha yang dikerjakan bersama koleganya itu sebenarnya berjalan baik. Beragam order pengerjaan bangunan didapat. “Waktu itu usaha kami lumayan bagus,” kata ayah dua orang anak ini tentang bidang usaha yang pernah dijalankannya.

Terbilang panjang juga waktu yang dihabiskan Ilham bersama koleganya menekuni usaha konstruksi. “Hampir 17 tahun,” ujar Ilham. Rentang waktu itu sebenarnya cukup untuk memancangkan eksistensi sebuah usaha. Terlebih perusahaan itu mampu bertahan di Jakarta, tempat persaingan begitu sengit. Tetapi Ilham memiliki pemikiran lain.

Di tengah usia perusahaan konstruksinya yang terbilang matang,jiwa seni yang sudah tertanam dalam dirinya memberontak. Ilham merasa konstruksi bukanlah jalan hidupnya.

Lalu pada 2002 Ilham memutuskan berhenti berkarier di bidang konstruksi dan memilih menekuni usaha kerajinan. “Sejak kecil saya memang sudah bersinggungan dengan seni kerajinan. Jadi rasanya saya tak bisa pisah darinya.Konstruksi bukanlah bidang saya,” Ilham memberikan alasan keputusannya meninggalkan usaha konstruksi.

Dia pun pulang kampung untuk menerjuni usaha kerajinan. Jenis usaha yang dipilihnya pun terbilang langka, kerajinan dari bahan paralon. Bahan paralon dibuat benda seni? Apa bisa? Pertanyaan itu mungkin muncul di benak banyak orang saat pertama kali mendengarnya. Itu tak mengherankan. Sejak mencetuskan ide nakal tersebut, banyak tetangga dan kerabat Ilham di Sukabumi menyangsikan jalan yang ditempuhnya. “Kamu tuh aneh-aneh saja, apa bisa paralon dibuat barang seni,” kata Ilham, menirukan keraguan kerabatnya dulu.

Ibarat pepatah anjing menggonggong kafilah berlalu, nada sumbang tak digubris oleh Ilham.Keyakinan sudah bulat, keterampilan sudah dia miliki. Ilham mulai pun mengawali usaha kerajinan paralon.

Pertama-tama Ilham membeli paralon baru yang biasa dijual di toko-toko material. Tangan terampilnya pun mulai bekerja mengolah paralon yang lazimnya digunakan sebagai pipa untuk mengalirkan air, menjadi sebuah barang seni.

Bagai sebuah tontonan sulap, pipa-pipa paralon itu berhasil dijadikan barang seni bernilai tinggi di tangan Ilham. Dia berhasil menjawab nada miring yang sempat muncul di awal pendirian usahanya. “Ketika pertama kali melihat hasil karya yang saya buat, puas rasanya hati ini. Saya semakin yakin bahwa senilah jalan hidup saya,” ungkapnya.

Sejak itu, beragam produk kerajinan dari bahan paralon berhasil diproduksi oleh bengkel yang dia beri label “Ilham Art”. Produk yang dihasilkan beragam, dari aksesori seperti kalung, gelang, sampai barang lain seperti lampu, vas bunga, tempat botol wine, cooler wine, cermin, dan meja kursi.

Produk meja dan kursi itu khusus. Ilham mengaku itulah satu andalan usahanya, selain cooler wine yang sempat dilirik importir asal Prancis. Kedua produk itu menjadi andalan karena pengerjaannya yang butuh ketelitian dan sentuhan seni lainnya. Untuk produk satu set meja kursi yang dapat digunakan sebagai kursi santai di halaman rumah, Ilham membuatnya serupa kursi dari kayu.

Alas untuk meja dibuat guratan-guratan seperti kulit kayu, sehingga saat pertama kali melihat seakan tak percaya bahwa itu dibuat dari bahan paralon. Pengerjaannya bentuknya pun tanpa sambungan.

Untuk masalah ketahanan Anda tak usah khawatir, Ilham menjamin produknya tahan diduduki orang dengan berat badan berlebih sekalipun. Ilham menjual produk yang dihasilkannya dengan harga variatif. Termurah untuk produk aksesori dia banderol Rp15 ribu, yang paling mahal untuk satu set meja kursi, Rp1,8 juta.

Produk Ilham Art sudah tersebar ke kota-kota besar Tanah Air Jakarta tentu saja; di Yogyakarta, dan kota lain di luar Pulau Jawa pun ada. Dengan cakupan pasar yang luas, Ilham Art mampu meraih omzet rata-rata Rp20 juta per bulan. Nilai omzet yang lumayan besar untuk kategori usaha mikro kecil menengah (UMKM), membuat Ilham Art mampu menyediakan lapangan kerja bagi orang lain.

Untuk saat ini Ilham Art telah menampung empat karyawan, warga sekitar tempat bengkel usahanya. Ilham ingin lebih banyak lagi menyerap tenaga kerja dari warga sekitar. Keinginan itu dia yakini bisa saja terwujud, apabila pasar ekspor untuk produknya telah terbuka. Dengan kata lain, jika mampu memenuhi permintaan ekspor, dengan sendirinya Ilham Art akan membutuhkan banyak tenaga kerja untuk memenuhi permintaan.

Ilham tahu, jalan ke arah sana cukup berliku.Tak banyak warga di sekitar bengkel usahanya yang memiliki jiwa seni. “Saya mesti memberikan pelatihan. Selama ini hampir 40 persen pengerjaan produk masih saya tangani sendiri. Setelah SDM siap, kami pun sudah bisa membuka pasar luar negeri,” kata suami Tini Rustini itu mantap.

Untuk mewujudkan cita-citanya menembus pasar ekspor, selain rencana membuat pelatihan, Ilham pun tengah mengurus hak paten untuk karya seninya. Syarat administrasi sudah terpenuhi. ”Tinggal menyelesaikan beberapa detail syarat lain,” ujar sosok yang juga ingin Sukabumi menjadi sentra kerajinan pipa paralon.

Kerja keras Ilham bisa dikatakan telah menemukan buahnya saat ini.Selain dukungan keluarga, Ilham tak lupa mengucapkan terima kasih pada BRI yang turut membesarkan usahanya. BRI adalah “malaikat” bagi Ilham karena sewaktu akan memulai usaha mendapat pinjaman kredit usaha kecil (KUK) sebesar Rp5 juta.

Malah BRI kini sudah menyanggupi pinjaman modal hingga Rp60 juta untuk pengembangan usaha lebih lanjut. Selain bantuan modal, Ilham juga mengaku BRI memberikan wujud kepeduliannya terhadap usaha kecil dengan menyertakannya pada acara-acara pameran tingkat nasional.

Terakhir dia juga difasilitasi mengikuti ajang pameran di JCC Senayan. ”BRI benar-benar memberikan kepedulian luar biasa kepada usahawan kecil seperti saya,” ujarnya seraya memuji fasilitas yang diberikan BRI selama mengikuti ajang pameran tersebut. (sugeng wahyudi)(Koran SI/Koran SI/ade) (sumber okezone.com)

About wirasmada

Wirausaha Muda

Posted on 06/05/2011, in Industri Kreatif. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: