Produknya Jadi Properti Iklan TV Rokok Terkenal


SEBELUM mengembangkan usaha sendiri, Arum sebenarnya sudah mempunyai pekerjaan mapan. Dengan berbekal ilmu yang dia peroleh dari Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Telkom, warga Griya Bandung Asri Blok D No 147, Kabupaten Bandung ini sempat menikmati kerja di sebuah perusahaan telekomunikasi terkemuka.

Tapi, gaji yang cukup ternyata tidak membuatnya puas, apalagi dia merasa posisi karyawan sangat lemah karena perusahaan menggunakan sistem outsourcing. Setelah tiga bulan bekerja, dia pun memutuskan keluar dari pekerjaan. Perempuan lajang ini pun memutuskan berusaha sendiri.Tanpa bantuan orang tua,dia bekerja keras agar bisa mandiri dan mencari peluang bisnis yang bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu,dia juga mempunyai keinginan bisa menciptakan lapangan kerja untuk masyarakat.

”Sejak kecil saya memang suka jualan,bahkan sampai di bangku kuliah pun saya terbiasa berjualan di saat waktu luang,” tuturnya.

Perjuangannya tidak berjalan mulus. Awalnya, bersama beberapa orang temannya, Arum memulai bisnis dengan membuka rumah makan. Dengan menggelontorkan modal yang menurutnya cukup besar, dia sangat yakin bisnis rumah makan akan sukses. Tetapi, kenyataan berkata lain. Karena pengelolaan yang kurang baik, usahanya gagal. Saat jatuh, Arum merasa semua orang meninggalkannya, hingga dia harus sendirian menanggung segala permasalahan. ”Sampai saat ini pun masalah itu masih ada dan dalam proses penyelesaian, saya kecewa, tetapi tidak bisa berbuat banyak tentang kekecewaannya,” ungkap Arum. Walaupun beban yang ditanggung cukup berat, Arum tidak serta-merta melepas tanggung jawab seperti teman-teman seperjuangannya. Dengan sedikit tenaga yang tersisa, satu per satu dia menyelesaikan masalah, sembari mencari usaha lain dengan memanfaatkan sisa modal.

Pikirannya pun tertuju ke Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM) Provinsi Jawa Barat. Semasa kuliah, Arum sempat magang di Dinas KUKM Propinsi Jawa Barat. Saat itu dia terkagumkagum dengan kerajinan miniatur alat musik yang diproduksi perajin asal Jawa Barat. Miniatur gitar, bas, drum, piano, biola, cello, hingga alat musik tradisional seperti kecapi dan bonang dia buat dengan sangat detail dan mirip aslinya. Dia pun berpikir untuk mengembangkan kerajinan tersebut lebih serius.

Gayung pun bersambut. Arum bertemu kembali teman semasa kuliahnya yang akhirnya mempertemukan dia dengan seorang pemusik di Jakarta.

Sang pemusik meminta Arum mencarikan berbagai macam miniatur alat musik karena dia dan teman-teman seprofesinya sangat menyukai miniatur alat musik. Dia pun tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Awalnya, dengan sisa modal rumah makan sebesar Rp1 juta, dia memilih berbelanja langsung ke perajin yang banyak tersebar di Bandung Selatan. ”Pertama kali saya kirim barang ke Jakarta hanya miniatur gitar sebanyak 20 buah. Tetapi, tidak lama kemudian permintaan terus berdatangan,” kata Arum. Selain memenuhi pesanan klien di Jakarta, dia juga memasarkan kerajinan tersebut ke teman-temannya saat aktif di organisasi kampus yang tersebar di seluruh Indonesia, lewat internet. Di luar dugaannya, responsnya luar biasa.

Banyaknya permintaan membuatnya kebingungan. Arum terkendala terbatasnya pasokan barang karena tidak berimbangnya permintaan dan kapasitas produksi dari para perajin. Kondisi tersebut memaksanya untuk mengelola sumber daya terampil sendiri.

Saat ini Arum sudah memiliki delapan anak buah yang disebutnya mitra kerja. Empat orang perajin menjadi mitra tetap, dua perajin menjadi mitra tidak tetap bila order sedang sangat tinggi, satu orang untuk membantu pengemasan dan pengepakan, serta satu lagi bertanggung jawab pada pengiriman barang. Dalam tiga bulan terakhir, omzet bisnis yang baru dijalani setahun sudah menembus Rp20 juta per bulan. ”Alhamdulillah, omzet stabil di kisaran itu karena permintaan juga sudah rutin dan berpotensi tinggi terus berkembang,” kata Arum.

Perkembangan ini tentu membuat Arum gembira. Dia juga semakin optimistis karena produknya semakin dikenal masyarakat. Diungkapkan bahwa sebuah iklan TV produk rokok menggunakan produknya sebagai properti. Dalam iklan tersebut digambarkan orang sedang memainkan miniatur alat musik berupa gitar, bas, drum, dan piano buatan Arum dan perajinnya. Untuk mengembangkan produksinya, saat ini Arum sedang menjajaki mendapatkan modal perbankan. Dia mengaku butuh modal karena kewalahan memenuhi permintaan yang semakin hari semakin banyak.

”Saya bahkan pernah terpaksa menolak order ribuan barang dari mancanegara karena kapasitas produksi workshop saya hanya ratusan,” ungkap Arum.
Tambahan modal akan dialokasikan untuk membuka bengkel berikut ruang pamer atau workshop di Jakarta, merekrut karyawan tambahan, melakukan pelatihan SDM, membeli peralatan penunjang produksi seperti mesin bubut, dan lainnya.

”Saya lihat pasar barang-barang miniatur ini sangat besar. Sedangkan saat ini belum ada toko khusus yang menjual miniatur musik. Mudah-mudahan dengan tambahan modal, saya bisa memasok barang lebih besar dan sebanding dengan permintaan yang terus meningkat,” tuturnya. (CR-3)
(Koran SI/Koran SI/rhs) (sumber okezone.com)

Advertisements

About wirasmada

Wirausaha Muda

Posted on 06/05/2011, in Industri Kreatif and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: