Tekun Jualan Roti Bantal, Omzet Rp87 Juta/Bulan


Ketekunan, kerja keras, dan doa, menjadi poin penting dalam memulai usaha. Ini pula yang membuat Muslikhan berhasil mengembangkan usaha roti bantal. Berbagai rintangan dijadikannya sebagai pelajaran untuk menggapai kesuksesan.

Belasan pemuda tampak sibuk. Dua pemuda masuk ke dalam ruangan menggotong karung berisi tepung. Di salah satu sudut ruangan beberapa pemuda sibuk menyiapkan adonan. Ada juga yang sedang menggoreng roti di wajan berukuran besar.

Di sebelahnya, beberapa orang sibuk mengemas roti ke dalam bungkus plastik kecil-kecil. Itulah aktivitas sehari-hari di gudang pembuatan roti bantal milik Muslikhan, warga RT 09/05, Desa Garung Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus.

Gudang ini berdampingan dengan kediaman Muslikhan. Selain dikenal dengan sebutan roti bantal, produk buatan Muslikhan juga kerap disebut roti hajatan lantaran sering dihidangkan dalam acara keluarga, seperti pernikahan, khitanan, dan syukuran haji.

”Awalnya enggak di sini Mas. Dulu membuat rotinya di rumah orang tua. Maklum, waktu itu kami masih menumpang di rumah orang tua,” kata Muslikhan mengawali perbincangan.

Pria berusia 35 tahun ini menuturkan, sebelum membuka usaha roti bantal dia pernah bekerja di sebuah pabrik roti di Kudus, sekira tujuh tahun. Di perusahaan tersebut Muslikhan menjadi sales keliling. Tidak jarang pula dia ditugaskan membuat roti ketika ada pegawai yang libur.

Berangkat dari situ Muslikhan memiliki keahlian membuat roti. Setelah menikah pada 1999, ayah dua anak ini merasa uang yang didapat dari pekerjaannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Satu tahun kemudian, pada 2000, Muslikhan memutuskan untuk keluar dari pabrik dan memilih merintis membuat roti sendiri dengan diberi nama Roti Alvian.

”Beberapa pedagang di pasar yang biasanya dititipi roti juga menyarankan agar saya membuat roti sendiri. Ini semakin meyakinkan saya untuk membuka usaha,” papar suami Siti Sundari ini.

Namun, minimnya modal menjadi kendala utama. Akhirnya, Muslikhan memberanikan diri meminta kepada sang istri agar perhiasan yang digunakan sebagai mas kawin pernikahan dijual untuk mendapatkan modal.

Waktu itu dia sampai menitikkan air mata ketika sang istri rela melepaskan perhiasan yang dikenakannya. Dari menjual perhiasan terkumpul uang sekira Rp3 juta. Muslikhan kemudian menggunakannya untuk membeli satu unit mesin seharga Rp1 juta, oven seharga Rp1,5 juta, dan sisanya dibelikan bahan baku.

Sebenarnya Muslikhan sudah mengajukan permohonan kredit ke sejumlah bank. Akan tetapi, tidak ada yang menyetujuinya. Berkas sudah dimasukkan, namun pihak bank tidak kunjung melakukan survei dan memberikan jawaban. Di awal-awal merintis, Muslikhan mengerjakan pembuatan roti dibantu istrinya. Pekerjaan ini dilakukan setiap hari, mulai pukul 05.00 WIB.

”Setelah salat Subuh saya langsung bekerja. Karena masih minim modal, waktu itu hanya membuat 3 kg adonan. Pukul 11.00 WIB, roti sudah jadi dan saya bawa ke Pasar Jember dan Bitingan (Kudus). Sedangkan istri meneruskan pekerjaannya. Pukul 16.00 WIB saya kembali ke pasar untuk mengantar roti yang dibuat istri tadi,” ungkap pria lulusan sekolah dasar ini.

Rutinitas tersebut berjalan sekira tiga bulan. Setelah mendapatkan pelanggan pedagang di pasar, Muslikhan memberanikan mencari pegawai untuk mengembangkan usaha. Saat itu dia memulai dengan dua pegawai. Lima tahun berjalan, Roti Alvian semakin dikenal masyarakat.

Keuntungan dari penjualan roti ini digunakan untuk meningkatkan usaha dengan menambah mesin, sebagian ditabung. Uang hasil menabung ini kemudian digunakan untuk membeli sebidang tanah yang tidak jauh dari rumah orang tuanya. Di atas tanah seluas 315 meter persegi itulah Muslikhan mendirikan rumah dan gudang yang kini ditempati.

Sepuluh tahun berjalan, usaha yang ditekuni Muslikhan berkembang pesat. Jika di awal merintis usaha hanya mampu membuat 3 kg adonan roti dengan hasil yang belum seberapa, kini omzet per bulan mencapai Rp87 juta.

Salah satu kendala yang dihadapi Muslikhan adalah kenaikan harga-harga bahan baku. Di sisi lain, dia kesulitan untuk menaikkan harga roti. Dia mencontohkan, dari harga tepung per sak sekira Rp60 ribu beberapa tahun lalu, saat ini sudah naik menjadi Rp140 ribu. Padahal dia tetap menjual rotinya dengan harga Rp500 per potong.

”Kami pernah menaikkan harga menjadi Rp550 per potong, tapi tidak laku. Hanya bertahan tiga hari, kemudian harga tersebut kami kembalikan ke harga semula,” tuturnya.

Susahnya menaikkan harga itu tidak lepas dari persaingan antarprodusen roti yang semakin meningkat. Untuk mengatasi kendala tersebut akhirnya Muslikhan memilih mengecilkan ukuran roti. Strategi ini ternyata diterima konsumen dan pembeli kembali berdatangan.

Sejauh ini pangsa pasar produk Roti Alvian masih berkisar di Kudus dan kota-kota sekitarnya. Sasarannya pun masih menengah ke bawah. Di samping dijual di pasar, roti Alvian banyak dipesan kalangan keluarga. Misalnya saat mereka akan mengadakan hajatan atau menjelang hari raya.

Dia mengakui, menjelang Lebaran dan saat Lebaran Haji merupakan masa-masa permintaan roti meningkat. Dia bahkan kerap meminta pegawainya lembur. Disinggung kunci kesuksesannya, Muslikhan mengungkapkan bahwa pelayanan ekstra kepada pelanggan dan menjaga kualitas adalah poin penting yang terus dipertahankan sampai sekarang. Pedagang yang menjual Roti Alvian tidak perlu khawatir jika roti sudah memasuki masa kedaluwarsa.

Tenaga penjual Roti Alvian akan menarik roti-roti tersebut dan menggantinya dengan yang baru. Tidak jarang Muslikhan sendiri yang mengantarkan dagangan ke pasar. Mengenai kualitas, sampai sekarang adonan masih dibuat sendiri oleh Muslikhan. Proses penggorengan, oven, sampai pengemasan juga tetap menjadi perhatian. “Jangan sampai ada yang terlalu matang atau gosong,” katanya.

Saat ini, Roti Alvian telah memiliki pegawai 17 orang dan beberapa sales keliling.Sebuah mobil juga siap mengantarkan pesanan dalam partai besar. Jumlah mesinnya pun semakin banyak. Jika awalnya hanya satu, sekarang sudah menjadi empat unit ditambah tujuh mesin oven. Bagaimana dengan permodalan?

Dia mengaku selain mengandalkan keuntungan, juga mengajukan pinjaman modal ke sebuah bank. ”Kalau sekarang prosesnya lebih mudah untuk bisa disetujui. Ada juga petugas bank yang menawari untuk mengucurkan pinjaman,” tuturnya.

Namun karena kekuatan modal yang dimiliki sudah mencukupi, Muslikhan menolak tawaran dari bank-bank tersebut. Dia lantas teringat sulitnya mencari pinjaman modal di bank saat memulai usahanya dulu.

Hasil jerih payah dan kerja keras Muslikhan tersebut kini telah membuahkan hasil. Selain memiliki rumah dan gudang sendiri, dia telah membeli beberapa bidang tanah di sekitar rumahnya sebagai bentuk investasi.Muslikhan tidak lupa bersyukur dengan keberhasilannya ini.

Pada 2008 lalu dia dan istrinya telah menunaikan ibadah haji. Satu tahun kemudian dia memberangkatkan kedua orang tuanya ke Tanah Suci. ”Alhamdulillah, kami bersyukur dengan apa yang telah diberikan Allah SWT kepada kami sekarang ini,” imbuhnya.

Ke depan, Muslikhan berharap produknya dikenal lebih luas lagi. Di samping itu, dia berniat membuat kue dengan target pasar yang lebih tinggi. Muslikhan mengaku sudah memiliki kemampuan membuatnya.

Dia juga berniat membangun sebuah minimarket di depan sebuah rumah sakit yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Selain sarana memasarkan roti, tempat itu juga digunakan untuk menjual kebutuhan sehari-hari seperti minimarket kebanyakan. (sundoyo hardi)(Koran SI/Koran SI/ade) (sumber okezone.com)

About wirasmada

Wirausaha Muda

Posted on 06/05/2011, in Kuliner. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: