Monthly Archives: May 2011

Belajar dari Elang Gumilang: Mahasiswa beromzet 17 Milyar

Pertama kali saya membaca profilnya di majalah Pengusaha yang berjudul
“Kepak Elang Memburu Intan”. Yang membuat saya kagum, statusnya yang masih
mahasiswa berusia 22 tahun, dan sudah memiliki perusahaan beromzet miliaran
rupiah.

Alhamdulillah, dalam satu seminar entrepreneurship, saya bisa bertemu
langsung dengan dia. Sosoknya yang ramah dan rendah hati, serta gaya
berbicara menunjukkan prinsip hidup yang dipegangnya.

Bagaimana kiprahnya dalam menjalankan bisnisnya ?? Saya cari di internet,
akhirnya dapat artikel mengenai profil Elang.. Saya sharing disini saja ya…

*Elang Gumilang, Mahasiswa Bangun Perumahan untuk Orang Miskin Demi
Keseimbangan Hidup*

Selama ini banyak developer yang membangun perumahan namun hanya bisa
dijangkau oleh kalangan menengah ke atas saja. Jarang sekali developer yang
membangun perumahan yang memang dikhususkan bagi orang-orang kecil. Elang
Gumilang (22), seorang mahasiswa yang memiliki jiwa wirausaha tinggi
ternyata memiliki kepedulian tinggi terhadap kaum kecil yang tidak memiliki
rumah. Meski bermodal pas-pasan, ia berani membangun perumahan khusus untuk
orang miskin. Apa yang mendasarinya?

Jumat sore (28/12), suasana Institut Pertanian bogor (IPB), terlihat
lengang. Tidak ada geliat aktivitas proses belajar mengajar. Maklum hari
itu, hari tenang mahasiswa untuk ujian akhir semester (UAS). Saat Realita
melangkahkah kaki ke gedung Rektorat, terlihat sosok pemuda berperawakan
kecil dari kejauhan langsung menyambut kedatangan Realita. Dialah Elang
Gumilang (22), seorang wirausaha muda yang peduli dengan kaum miskin. Sambil
duduk di samping gedung Rektorat, pemuda yang kerap disapa Elang ini,
langsung mengajak Realita ke perumahannya yang tak jauh dari kampus IPB.
Untuk sampai ke perumahan tersebut hanya membutuhkan waktu 15 menit dengan
menggunakan kendaraan roda empat. Kami berhenti saat melewati deretan rumah
bercat kuning tipe 22/60. Rupanya bangunan yang berdiri di atas lahan 60
meter persegi itu adalah perumahan yang didirikannya yang diperuntukan
khusus bagi orang-orang miskin. Setelah puas mengitari perumahan, Elang
mengajak Realita untuk melanjutkan obrolan di kantornya.

Elang sendiri merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan H. Enceh
(55) dan Hj. Prianti (45). Elang terlahir dari keluarga yang lumayan berada,
yaitu ayahnya berprofesi sebagai kontraktor, sedangkan ibunya hanya ibu
rumah tangga biasa. Sejak kecil orang tuanya sudah mengajarkan bahwa segala
sesuatu diperoleh tidak dengan gratis. Orang tuanya juga meyakinkan bahwa
rezeki itu bukan berasal dari mereka tapi dari Allah SWT..

Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar Pengadilan 4, Bogor, Elang sudah
mengikuti berbagai perlombaan dan bahkan ia pernah mengalahkan anak SMP saat
lomba cerdas cermat. Karena kepintarannya itu, Elang pun menjadi anak
kesayangan guru-gurunya.

Begitu pula ketika masuk SMP I Bogor, SMP terfavorit di kabupaten Bogor,
Elang selalu mendapatkan rangking. Pria kelahiran Bogor, 6 April 1985 ini
mengaku kesuksesan yang ia raih saat ini bukanlah sesuatu yang instan.
“Butuh proses dan kesabaran untuk mendapatkan semua ini, tidak ada sesuatu
yang bisa dicapai secara instan,” tegasnya. Jiwa wirausaha Elang sendiri
mulai terasah saat ia duduk di bangku kelas 3 SMA I Bogor, Jawa Barat. Dalam
hati, Elang bertekad setelah lulus SMA nanti ia harus bisa membiayai
kuliahnya sendiri tanpa menggantungkan biaya kuliah dari orang tuanya. Ia
pun mempunyai target setelah lulus SMA harus mendapatkan uang Rp 10 juta
untuk modal kuliahnya kelak.

Berjualan Donat. Akhirnya, tanpa sepengetahuan orang tuanya, Elang mulai
berbisnis kecil-kecilan dengan cara berjualan donat keliling. Setiap hari ia
mengambil 10 boks donat masing-masing berisi 12 buah dari pabrik donat untuk
kemudian dijajakan ke Sekolah Dasar di Bogor. Ternyata lumayan juga. Dari
hasil jualannya ini, setiap hari Elang bisa meraup keuntungan Rp 50 ribu.
Setelah berjalan beberapa bulan, rupanya kegiatan sembunyi-sembunyiny a ini
tercium juga oleh orang tuanya. “Karena sudah dekat UAN (Ujian Akhir
Nasional), orang tua menyuruh saya untuk berhenti berjualan donat. Mereka
khawatir kalau kegiatan saya ini mengganggu ujian akhir,” jelas pria
pemenang lomba bahasa sunda tahun 2000 se-kabupaten Bogor ini.

Dilarang berjualan donat, Elang justru tertantang untuk mencari uang dengan
cara lain yang tidak mengganggu sekolahnya. Pada tahun 2003 ketika Fakultas
Ekonomi dan Manajemen IPB mengadakan lomba Java Economic Competion se-Jawa,
Elang mengikutinya dan berhasil menjuarainya. Begitu pula saat Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia (UI) menyelenggarakan kompetisi Ekonomi, Elang
juga berhasil menjadi juara ke-tiga. Hadiah uang yang diperoleh dari setiap
perlombaan, ia kumpulkan untuk kemudian digunakan sebagai modal kuliah.

Setelah lulus SMU, Elang melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi IPB
(Institut Pertanian Bogor). Elang sendiri masuk IPB tanpa melalui tes SPMB
(Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru, red) sebagaimana calon mahasiswa yang
akan masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Ini dikarenakan Elang pernah
menjuarai kompetisi ekonomi yang diadakan oleh IPB sehingga bisa masuk tanpa
tes. Saat awal-awal masuk kuliah, Elang mendapat musibah yang menyebabkan
uang Rp 10 jutanya tinggal Rp 1 juta. Namun Elang enggan memberitahu apa
musibah yang dialaminya tersebut.

Padahal uang itu rencananya akan digunakan sebagai modal usaha. Meski hanya
bermodal Rp 1 juta, Elang tidak patah semangat untuk memulai usaha. Uang Rp
1 juta itu ia belanjakan sepatu lalu ia jual di Asrama Mahasiswa IPB. Lewat
usaha ini, dalam satu bulan Elang bisa mengantongi uang Rp 3 jutaan. Tapi
setelah berjalan beberapa tahun, orang yang menyuplai sepatunya entah kenapa
mulai menguranginya dengan cara menurunkan kualitas sepatunya. Satu per satu
pelanggannya pun tidak mau lagi membeli sepatu Elang. Sejak itu, Elang
memutuskan untuk tidak lagi berjualan sepatu.

Setelah tidak lagi berbisnis sepatu, Elang kebingungan mencari bisnis
apalagi. Pada awalnya, dengan sisa modal uang bisnis sepatu, rencanaya ia
akan gunakan untuk bisnis ayam potong. Tapi, ketika akan terjun ke bisnis
ayam potong, Elang justru melihat peluang bisnis pengadaan lampu di
kampusnya. “Peluang bisnis lampu ini berawal ketika saya melihat banyak
lampu di IPB yang redup. Saya fikir ini adalah peluang bisnis yang
menggiurkan,

” paparnya. Karena tidak punya modal banyak, Elang menggunakan
strategi Ario Winarsis, yaitu bisnis tanpa menggunakan modal. Ario Winarsis
sendiri awalnya adalah seorang pemuda miskin dari Amerika Latin, Ario
Winarsis mengetahui ada seorang pengusaha tembakau yang kaya raya di
Amerika. Setiap hari, ketika pengusaha itu keluar rumah, Ario Winarsis
selalu melambaikan tangan ke pengusaha itu. Pada awalnya pengusaha itu tidak
memperdulikannya. Tapi karena Ario selalu melambaikan tangan setiap hari,
pengusaha tembakau itu menemuinya dan mengatakan, “Hai pemuda, kenapa kamu
selalu melambaikan tangan setiap saya ke luar rumah?” Pemuda miskin itu lalu
menjawab, “Saya punya tembakau kualitas bagus. Bapak tidak usah membayar
dulu, yang penting saya dapat PO dulu dari Bapak.” Setelah mendengar jawaban
dari pemuda itu, pengusaha kaya itu lalu membuatkan tanda tangan dan stempel
kepada pemuda tersebut. Dengan modal stempel dan tanda tangan dari pengusaha
Amerika itu, pemuda tersebut pulang dan mengumpulkan hasil tembakau di
kampungnya untuk di jual ke Amerika lewat si pengusaha kaya raya itu. Maka,
jadilah pemuda itu orang kaya raya tanpa modal.Begitupula Elang, dengan modal surat dari kampus, ia melobi ke perusahaan
lampu Philips pusat untuk menyetok lampu di kampusnya. “Alhamdulillah
proposal saya gol, dan setiap penjualan saya mendapat keuntungan Rp 15
juta,” ucapnya bangga.Tapi, karena bisnis lampu ini musiman dan perputaran uangnya lambat, Elang
mulai berfikir untuk mencari bisnis yang lain. Setelah melihat celah di
bisnis minyak goreng, Elang mulai menekuni jualan minyak goreng ke
warung-warung. Setiap pagi sebelum berangkat kuliah, ia harus membersihkan
puluhan jerigen, kemudian diisi minyak goreng curah, dan dikirim ke
warung-warung Pasar Anyar, serta Cimanggu, Bogor. Setelah selesai mengirim
minyak goreng, ia kembali ke kampus untuk kuliah. Sepulang kuliah, Elang
kembali mengambil jerigen-jerigen di warung untuk diisi kembali keesokan
harinya. Tapi, karena bisnis minyak ini 80 persen menggunakan otot, sehingga
mengganggu kuliahnya. Elang pun memutuskan untuk berhenti berjualan. “Saya
sering ketiduran di kelas karena kecapain,” kisahnya.

Elang mengaku selama ini ia berbisnis lebih banyak menggunakan otot dari
pada otak. Elang berkonsultasi ke beberapa para pengusaha dan dosennya untuk
minta wejangan. Dari hasil konsultasi, Elang mendapat pencerahan bahwa
berbisnis tidak harus selalu memakai otot, dan banyak peluang-peluang bisnis
yang tidak menggunakan otot.

Setelah mendapat berbagai masukan, Elang mulai merintis bisnis Lembaga
Bahasa Inggris di kampusnya. “Bisnis bahasa Inggris ini sangat prospektif
apalagi di kampus, karena ke depan dunia semakin global dan mau tidak mau
kita dituntut untuk bisa bahasa Inggris,” jelasnya. Adapun modalnya, ia
patungan bersama kawan-kawannya. Sebenarnya ia bisa membiayai usaha itu
sendiri, tapi karena pegalaman saat jualan minyak, ia memutuskan untuk
mengajak teman-temannya. Karena lembaga kursusnyanya ditangani secara
profesional dengan tenaga pengajar dari lulusan luar negeri, pihak Fakultas
Ekonomi mempercayakan lembaganya itu menjadi mitra.

Karena dalam bisnis lembaga bahasa Inggris Elang tidak terlibat langsung dan
hanya mengawasi saja, ia manfaatkan waktu luangnya untuk bekerja sebagai
marketing perumahan. “Saya di marketing tidak mendapat gaji bulanan, saya
hanya mendapatkan komisi setiap mendapat konsumen,” ujarnya.

Bangun Rumah Orang Miskin. Di usianya yang relatif muda, pemuda yang tak
suka merokok ini sudah menuai berbagai keberhasilan. Dari hasil usahanya itu
Elang sudah mempunyai rumah dan mobil sendiri. Namun di balik
keberhasilannya itu, Elang merasa ada sesuatu yang kurang. Sejak saat itu ia
mulai merenungi kondisinya. “Kenapa kondisi saya begini, padahal saya di IPB
hanya tinggal satu setengah tahun lagi. Semuanya saya sudah punya, apalagi
yang saya cari di dunia ini?” batinnya.

Setelah lama merenungi ketidaktenangannya itu, akhirnya Elang mendapatkan
jawaban. Ternyata selama ini ia kurang bersyukur kepada Tuhan. Sejak saat
itulah Elang mulai mensyukuri segala kenikmatan dan kemudahan yang diberikan
oleh Tuhan. Karena bingung mau bisnis apalagi, akhirnya Elang shalat
istikharah minta ditunjukkan jalan. “Setelah shalat istikharah, dalam tidur
saya bermimpi melihat sebuah bangunan yang sangat megah dan indah di
Manhattan City, lalu saya bertanya kepada orang, siapa sih yang membuat
bangunan megah ini? Lalu orang itu menjawab, “Bukannya kamu yang membuat?”
Setelah itu Elang terbangun dan merenungi maksud mimpi tersebut. “Saya pun
kemudian memberanikan diri untuk masuk ke dunia properti,” ujarnya.

Pengalaman bekerja di marketing perumahan membuatnya mempunyai pengetahuan
di dunia properti. Sejak mimpi itu ia mulai mencoba-coba ikut berbagai
tender. Tender pertama yang ia menangi Rp 162 juta di Jakarta yaitu
membangun sebuah Sekolah Dasar di daerah Jakarta Barat. Sukses menangani
sekolah membuat Elang percaya diri untuk mengikuti tender-tender yang lebih
besar. Sudah berbagai proyek perumahan ia bangun.

Selama ini bisnis properti kebanyakan ditujukan hanya untuk orang-orang kaya
atau berduit saja. Sedangkan perumahan yang sederhana dan murah yang
terjangkau untuk orang miskin jarang sekali pengembang yang peduli. Padahal
di Indonesia ada 70 juta rakyat yang masih belum memiliki rumah. Apalagi
rumah juga merupakan kebutuhan yang sangat primer. Sebagai tempat berteduh
dan membangun keluarga. “Banyak orang di Indonesia terutama yang tinggal di
kota belum punya rumah, padahal mereka sudah berumur 60 tahun, biasanya
kendala mereka karena DP yang kemahalan, cicilan kemahalan, jadi sampai
sekarang mereka belum berani untuk memiliki rumah,” jelasnya.

Dalam hidupnya, Elang ingin memiliki keseimbangan dalam hidup. Bagi Elang,
kalau mau kenal orang maka kenalilah 10 orang terkaya di Indonesia dan juga
kenal 10 orang termiskin di Indonesia. Dengan kenal 10 orang termiskin dan
terkaya, akan mempunyai keseimbangan dalam hidup, dan pasti akan melakukan
sesuatu untuk mereka. Melihat realitas sosial seperti itu, Elang terdorong
untuk mendirikan perumahan khusus untuk orang-orang ekonomi ke bawah. Maka
ketika ada peluang mengakuisisi satu tanah di desa Cinangka kecamatan
Ciampea, Elang langsung mengambil peluang itu. Tapi, karena Elang tidak
punya banyak modal, ia mengajak teman-temannya yang berjumlah 5 orang untuk
patungan. Dengan modal patungan Rp 340 juta, pada tahun 2007 Elang mulai
membangun rumah sehat sederhana (RSS) yang difokuskan untuk si miskin
berpenghasilan rendah. Dari penjualan rumah yang sedikit demi sedikit itu.
Modalnya Elang putar kembali untuk membebaskan lahan di sekitarnya. Rumah
bercat kuning pun satu demi satu mulai berdiri.

Elang membangun rumah dengan berbagai tipe, ada tipe 22/60 dan juga tipe
36/72. Rumah-rumah yang berdiri di atas lahan 60 meter persegi tersebut
ditawarkan hanya seharga Rp 25 juta dan Rp 37 juta per unitnya. “Jadi, hanya
dengan DP Rp 1,25 juta dan cicilan Rp 90.000 ribu per bulan selama 15 tahun,
mereka sudah bisa memiliki rumah,” ungkapnya.

Karena modalnya pas-pasan, untuk media promosinya sendiri, Elang hanya
mengiklankan di koran lokal. Karena harganya yang relatif murah, pada tahap
awal pembangunan langsung terjual habis. Meski harganya murah, tapi
fasilitas pendukung di dalamnya sangat komplit, seperti Klinik 24 jam,
angkot 24 jam, rumah ibadah, sekolah, lapangan olah raga, dan juga dekat
dengan pasar. Karena rumah itu diperuntukkan bagi kalangan ekonomi bawah,
kebanyakan para profesi konsumennya adalah buruh pabrik, staf tata usaha
(TU) IPB, bahkan ada juga para pemulung.

Sisihkan 10 Persen. Dengan berbagai kesuksesan di usia muda itu, Elang tidak
lupa diri dengan hidup bermewah-mewahan, justru Elang semakin mendekatkan
diri kepada Tuhan. Salah satu wujud rasa syukur atas nikmatnya itu, dalam
setiap proyeknya, ia selalu menyisihkan 10 persen untuk kegiatan amal. “Uang
yang 10 persen itu saya masukkan ke BMT (Baitul Mal Wa Tanwil/tabungan)
pribadi, dan saya alokasikan untuk membantu orang-orang miskin dan orang
yang kurang modal,” bebernya. Bagi Elang, materi yang saat ini ia miliki ada
hak orang miskin di dalamnya yang musti dibagi. Selain menyisihkan 10 persen
dari hasil proyeknya, Elang juga memberikan sedekah mingguan, bulanan, dan
bahkan tahunan kepada fakir miskin.

Bagi Elang, sedekah itu tidak perlu banyak tapi yang paling penting adalah
kontinuitas dari sedekah tersebut. Meski jumlahnya kecil, tapi jika
dilakukan secara rutin, itu lebih baik daripada banyak tapi tidak rutin.

Elang sendiri terbilang sebagai salah satu sosok pengusaha muda yang sukses
dalam merintis bisnis di tanah air. Prestasinya patut diapresiasi dan
dijadikan suri tauladan bagi anak-anak muda yang lain. Bagi Elang, semua
anak muda Indonesia bisa menjadi orang yang sukses, karena kelebihan manusia
dengan ciptaan mahkluk Tuhan yang lain adalah karena manusia diberi akal.
Dan, ketika manusia lahir ke dunia dan sudah bisa mulai berfikir, manusia
itu seharusnya sudah bisa mengarahkan hidupnya mau dibawa kemana. “Kita
hidup ibarat diberi diary kosong. Lalu, tergantung kitanya mau mengisi
catatan hidup ini. Mau hura-hurakah? Atau mau mengisi hidup ini dengan
sesuatu yang bermanfaat bagi yang lain,” ucapnya berfilosof. Ketika
seseorang sudah bisa menetapkan arah hidupnya mau dibawa kemana, tinggal
orang itu mencari kunci-kunci kesuksesannya, seperti ilmu dan lain
sebagainya.

Menjaga Masjid. Adapun kunci kesuksesan Elang sendiri berawal dari perubahan
gaya hidupnya saat kuliah semester lima. Pada siang hari, Elang bak singa
padang pasir. Selain kuliah, ia juga menjalankan bisnis mencari
peluang-peluang bisnis baru, negosiasi, melobi, dan sebagainya. Namun ketika
malam tiba, ia harus menjadi pelayan Tuhan, dengan menjadi penjaga Masjid.
“Setiap malam dari semester lima sampai sekarang saya tinggal di Masjid yang
berada dekat terminal Bogor. Dari mulai membersihkan Masjid, sampai
mengunci, dan membukakan pintu pagar untuk orang-orang yang akan shalat
Shubuh, semua saya lakukan,” ujarnya merendah.

Elang mengaku ketika menjadi penjaga Masjid ia mendapat kekuatan pemikiran
yang luar biasa. Bagi Elang, Masjid selain sebagai sarana ibadah, juga
tempat yang sangat mustajab untuk merenung dan memasang strategi. “Dalam
halaman masjid itu juga ada pohon pisang dan di sampingnya gundukan tanah.
Saya anggap itu adalah kuburan saya. Ketika saya punya masalah saya merenung
kembali dan kata Nabi, orang yang paling cerdas adalah orang yang mengingat
mati,” ujarnya.

Ikut Lomba Wirausaha Muda Mandiri Karena Tukang Koran “Ghaib”
Elang semakin dikenal khalayak luas ketika berhasil menjadi juara pertama di
ajang lomba wirausaha muda mandiri yang diadakan oleh sebuah bank belum lama
ini. Keikutsertaan Elang dalam lomba tersebut sebenarnya berkat informasi
dari koran yang ia dapatkan lewat tukang koran “ghaib”. Kenapa “ghaib”?,
sebab setelah memberi koran, tukang koran itu tidak pernah kembali lagi
padahal sebelumnya ia berjanji untuk kembali lagi.

Peristiwa aneh itu terjadi saat ia sedang mencuci mobil di depan rumahnya.
Tiba-tiba saja ada tukang koran yang menawarkan koran. Karena sudah
langganan koran, Elang pun menolak tawaran tukang koran itu dengan
mengatakan kalau ia sudah berlangganan koran. Tapi anehnya musti sudah
mengatakan demikian, si tukang koran itu tetap memaksa untuk membelinya,
karena elang tidak mau akhirnya si tukang koran itu memberikan dengan
cuma-cuma kepada elang dan berjanji akan kembali lagi keesokan harinya.
Karena diberi secara cuma-cuma, akhirnya Elang pun mau menerimanya.

Setelah selesai mencuci mobil, Elang langsung menyambar koran pemberian
tukang koran tadi. Setelah membaca beberapa lembar, Elang menemukan satu
pengumuman lomba wirausaha muda mandiri. Merasa sebagai anak muda, ia
tertantang untuk mengikuti lomba tersebut. Elang pun membawa misi bahwa
wirausaha bukan teori melainkan ilmu aplikatif. Saat lolos penjaringan dan
dikumpulkan di Hotel Nikko Jakarta, Elang bertemu dengan seorang Bapak yang
anaknya sedang sakit keras di pinggir jalan bundaran Hotel Indonesia. Elang
merasa ada dua dunia yang sangat kontras, di satu sisi ada orang tinggal di
hotel mewah dan makan di restoran, tapi di sisi lain ada orang yang tinggal
di jalanan. Akhirnya, pada malam penganugerahan, tim juri memutuskan
Elanglah yang menjadi juaranya. Padahal kalau diukur secara omset,
pendapatannya berbeda jauh dengan para pengusaha lainnya.

Dari Juara I Wirausaha itu, Elang membawa hadiah sebesar Rp 20 juta,
ditambah tawaran kuliah S2 di Universitas Indonesia. Melalui lomba itu,
terbukalah jalan cerah bagi Elang untuk menapaki dunia wirausaha yang lebih
luas.

Ingin Membawahi Perusahaan yang Mempekerjakan 100 Ribu Orang

Perjalanan Elang dalam merintis bisnis properti, tidak selamanya berjalan
mulus. Pada awal-awal merintis bisnis ini, ia banyak sekali mengalami
hambatan, terutama ketika akan meminjam modal dari Bank. Sebagai mahasiswa
biasa, tentunya perbankan merasa enggan untuk memberikan modal. Padahal,
prospek bisnis properti sangat jelas karena setiap orang pasti membutuhkan
rumah. “Beginilah jadi nasib orang muda, susah orang percaya. Apalagi
perbankan. Orang bank bilang lebih baik memberikan ke tukang gorengan
daripada ke mahasiswa,” ungkapnya.

Meski sering ditolak bank pada awal-awal usahanya, Elang tidak pernah patah
semangat untuk berbisnis. Baginya, kalau bank tidak mau memberi pinjaman,
masih banyak orang yang percaya dengan anak muda yang mau memberi pinjaman.
Terbukti dengan hasil jerih payahnya selama ini sehingga bisa berjalan.

Ada banyak impian yang ingin diraih Elang, di antaranya membentuk organisasi
Maestro Muda Indonesia dan membawahi perusahaan yang mempekerjakan karyawan
100 ribu orang. Motivasi terbesar Elang dalam meraih impian tersebut adalah
ingin menjadi tauladan bagi generasi muda, membantu masyarakat sekitar, dan
meraih kemuliaan dunia serta akhirat.

sumber: http://greensand.wordpress.com/2008/06/17/belajar-dari-elang-gumilang-mahasiswa-beromzet-17-milyar

Wong Kito, dari Kelakar Menjadi Bisnis

Banyak cara dilakukan orang untuk melestarikan budaya daerahnya. Lebih hebat lagi, seorang pengusaha kreatif dari Palembang mampu melakukan itu sambil mengembangkan bisnis busana yang digelutinya.

Adalah Yoki Firmansyah, sang pengusaha kreatif yang memulai bisnis kaus oblong bebaso Plembang (berbahasa Palembang) itu. Jika Bali memiliki kaus khas Joger yang sukses dengan “pabrik katakatanya”, maka Yoki memikat kawula muda Palembang dengan kaus bertuliskan kelakar khas wong kito dengan merek Palimo T-Shirt dan Kaus Nyenyes Palembang.

Menurut dia, konsep kaus kreatif itu diambilnya karena selama ini kaus oblong yang ditawarkan di Palembang masih terkesan sangat kaku. Padahal, kata dia, orang Palembang dalam kesehariannya justru amat senang saling berkelakar satu sama lain.

Kelakar, kata dia, bisa dibilang telah membudaya di masyarakat Sumatera Selatan. Hal itulah yang kemudian menimbulkan ide dalam benaknya untuk mengonsep kaus dengan kata-kata kelakar berbahasa Palembang tersebut.

Ide tersebut kemudian direalisasikannya dengan menguras tabungan senilai Rp20 juta yang dimilikinya dari berbagai bisnis kecil-kecilan yang telah digelutinya selama ini. Namun, modal Rp20 juta itu dinilainya masih belum cukup sehingga Yoki lalu mencari pinjaman pada sanak saudaranya sehingga akhirnya total modal terkumpul mencapai Rp50 juta.

Awalnya, bahan baku kaus oblong diperolehnya dari Bandung. Sementara desain dibuatnya sendiri, yang awalnya hanya terbatas 10 desain saja. Menurut Yoki, upaya perkenalan produknya dilakukan dengan mengikuti Pekan Nasional KTNA di daerah Banyuasin. Upaya tersebut berhasil, produk awalnya yang menggunakan merek Palimo T-Shirt ini ternyata diminati pengunjung Pekan Nasional KTNA.

Bisnis kaus oblongnya makin melejit ketika dipublikasikan media cetak lokal. Tawaran mulai berdatangan untuk mengisi sejumlah toko di Palembang. “Nah, mulai dari sinilah saya putuskan untuk lebih berkonsentrasi menjual kaus oblong khas bebaso Plembangini,” katanya.

Setelah sukses dengan produk Palimo T-Shirt, Yoki kembali berinovasi membuat desain baju bergambar dengan kata-kata kelakar berbahasa Palembang dengan merek Kaus Nyenyes, yang jika diartikan kurang lebih adalah kaus bawel.

Jika dulu semua desain dikerjakannya sendiri, kini Yoki telah memiliki karyawan khusus untuk bidang ini. Selain itu, dia pun mampu menggaji karyawan untuk bidang produksi dan pemasaran.

Dia mengaku kekuatan produknya adalah kata-kata lucu atau kelakar khas Palembang yang dicetakkan di kaus oblong tersebut. Kata-kata plesetan seperti “Tekone” (baca: tekwan, makanan khas Palembang) atau “Yang Kulu-Kilir di Palembang” dan kata-kata kelakar lainnya menjadi kekhasan tersendiri dan menjadi daya tarik tak hanya bagi warga Sumatera Selatan, namun juga bagi wisatawan atau orang daerah lain yang kebetulan mengunjungi Bumi Sriwijaya ini.

Untuk satu kaus oblong Palimo TShirt, Yoki mematok harga mulai dari Rp55.000 per potong. Sementara kaus oblong merek Kaus Nyenyes Palembang dijual Rp65 ribu-Rp85 ribu per potong.

“Semua bahan baku dibeli dari Bandung. Tapi, semua tulisan di kaus menggunakan bahasa Palembang. Alhamdulillah, semua produk bebaso Palembang itu disambut baik pembeli. Untuk kaus oblong Palimo T-Shirt kini sudah bisa didapat di 10 toko di Palembang,” tuturnya.

Dalam pemasarannya, Yoki mengatakan sejauh ini dirinya mengandalkan sejumlah gerai yang tersebar di berbagai daerah di Palembang. Di tiap gerai, kata dia, setidaknya sebanyak 2.000 potong kaus oblong dengan beragam warna dan ukuran siap dijual. Karena sasaran utamanya adalah anak muda, lanjut Yoki, maka gerai di mal menjadi salah satu ujung tombak pemasarannya.

Yoki kini memiliki dua gerai yang berada di Palembang Indah Mal (PIM) dan Palembang Trade Center (PTC). Dia juga berencana untuk menambah gerai baru di salah satu mal lain di Palembang.

Menurut Yoki, usaha yang digelutinya itu cukup potensial. Karena itu, dia tak ragu untuk mengembangkannya. Yoki mengaku sudah cukup lama mendalami dunia wira usaha untuk selalu optimistis menjalankan bisnisnya. Selain pengalaman berjualan semasa kecil,Yoki pernah menekuni sejumlah usaha saat masih bersekolah di Yogyakarta.

Di kota tersebut, Yoki sempat berjualan mi di area asrama tempat tinggalnya.Dari situlah ia memperoleh pengalaman bisnis pertamanya. Dia pun pernah melanglang daerah Sulawesi menjadi penjaja pisau kupas.

Pengalaman-pengalaman itu, tegas dia, memantapkan langkahnya untuk menekuni wirausaha. Menurut Yoki, banyak lagi pemuda yang memiliki orientasi serupa dengannya. Namun, permodalan kerap menjadi kendala dalam pengembangan usaha.

Karena itu, dia berharap perbankan mau mendukung pengusaha muda seperti dirinya. Dengan demikian, diharapkan lebih banyak tercipta lapangan kerja di daerah-daerah yang dipelopori pemuda seperti dirinya. (darfian mj suprana)(Koran SI/Koran SI/ade) (sumber okezone.com)

Wendy, Penguasa Media “Mainan” yang Bukan Main-main

oleh : wiend
Boleh saja disebut mainan, tetapi tak selamanya menjadi ajang main-main. Buktinya Wendy Chandra, pria kelahiran Bandung ini justru menjadikan mainan sebagai inspirasi bisnisnya. Ia mengembangkan media game mulai dari Animonster, Cinemags dan Gamestation. Di luar itu ada juga majalah Gadget dan Kiddo serta majalah lisensi MacWorld.

Mulanya Wendy adalah pehobi game dan komik Jepang. “Tahun 1991, saya bersama teman-teman kuliah sangat menggandrungi game,” ucap Wendy sembari mengenang awalnya bersentuhan dengan bisnis yang membesarkan namanya itu.

Ketika itu ia merasakan informasi tentang game masih kurang banyak, apalagi pasokan kaset game di Bandung hampir tidak ada. “Dari situlah kami berempat mulai merintis bisnis gerai game yang bernama Vega,” kata Wendy, Sarjana Manajemen dari Universitas Parahyangan dan Master Pemasaran dari San Francisco State University, Amerika Serikat, yang memulai usaha tahun 1994. Dengan modal awal sekitar Rp 20 juta yang dibagi rata, mereka pun eksis berbisnis.

Gerai di bawah bendera PT Vegindo Tunggal Perkasa yang berlokasi di Jl. Ranggamalela ini menjual game Super Nintendo, komputer dan komik asal AS seperti DC, Marvell, sekaligus alat permainan game. Momentum berkembang diraih saat era konsol game Sony Playstation hadir di Indonesia. Saat itu CD permainan Sony Playstation sangat laris.

Sejak itu bisnis mereka membesar dengan anggota sebanyak 1.000 orang lebih. Berawal dari sinilah langkah ke bisnis media diayunkan. Guna memberikan pelayanan dan informasi terbaru seputar game, Wendy membuat sebuah buletin yang berisi daftar game, preview, walkthrough dan cheats game dengan nama Mega Game Indonesia (Megindo).

Buletin tersebut perlahan-lahan berbiak dari 8 halaman menjadi 16 halaman lalu naik lagi jadi 32 halaman, hingga akhirnya berubah nama menjadi Majalah Gamestation pada 1996 di bawah naungan PT Megindo Tunggal Sejahtera. Promosi majalah ini selanjutnya digencarkan bukan hanya menggaet komunitas, tetapi juga menawarkan ke toko game dengan lebih dulu membuat sampling, ke forum di Internet seperti KasKus dan Kafegaul. Acara pun digelar untuk membangun citra perusahaan dan majalah. Contohnya penyelenggaraan kompetisi game Winning Eleven. “Itu paling besar, di Mall Ambassador, tahun 1995. Pesertanya mencapai 1.000 orang,” katanya.

Untuk mengisi kontennya Wendy berhasil mengembangkan jaringan hingga ke pengembang game di AS. Keberhasilan membangun jaringan ini selain karena Wendy pernah bekerja di penerbit game Konami selama dua tahun selulus dari San Francisco State University, juga karena dirinya sering nongkrong di Silicon Valley, tempat berkumpulnya para penerbit game.

Wendy pun kemudian mulai membuka kantor distribusi di Jakarta karena memang 70% dari total eksemplar Majalah Gamestation beredar di Jakarta. Wendy menuturkan, kendala ketika pertama kali menghadirkan majalahnya adalah di bidang distribusi hingga ke seluruh penjuru Indonesia. Awalnya majalah ini disalurkan hanya ke toko game, lalu berkembang hingga ke agen, toko buku dan lapak penjual koran di jalan.

Kerja sama distribusi pernah pula dilakukan Megindo dengan Grup Mugi Rekso Abadi (MRA) untuk mengantisipasi kebocoran distribusi. Namun, karena masalah internal, pegawai dari MRA ditarik untuk membidani distribusi independen milik Megindo. “Lalu dengan tim yang ada, kami mencoba melakukan ekspansi dengan menerbitkan dua majalah lagi yaitu Cinemags dan Animonster,” ungkapnya.

Dalam mempromosikan Cinemags yang mengulas film terkini, Wendy bekerja sama dengan jaringan bioskop 21 untuk mengadakan nonton bareng. Bagi Animonster yang menyasar penggemar komik Jepang, Wendy mencari kerja sama dengan televisi berbayar AXN untuk program Animax dan penerbit komik di Jepang yang lantas memberikan preview produk-produknya.

Sampai sekarang, Wendi dkk. telah memiliki 6 majalah dengan tambahan Gadget dan Kiddo tahun 2000, MacWorld tahun 2004, serta menerbitkan berbagai macam buku dan komik.

Wendy mengklaim Gamestation kini oplahnya mencapai 50 ribu eksemplar, dan Cinemags 50-100 ribu eksemplar per edisi tergantung offer dan event film tertentu. Lalu berturut-turut, rata-rata penjualan Animonster sebanyak 20 ribu, Gadget 20 ribu, Kiddo 10 ribu, dan MacWorld 10 ribu eksemplar. Wendy menyebutkan, Animonster pernah memperoleh predikat dari AC Nielsen sebagai majalah yang paling banyak dibaca di segmen anak-anak.

Meski kini memiliki banyak bisnis, perjalanan Wendy tak selalu mulus. Dia bahkan pernah menelan kerugian sampai Rp 7 miliar. Musibah itu terjadi saat dirinya mengambil S-2 di AS tahun 1996 dan tampuk kepemimpinan diserahkan kepada temannya. Saat itulah terjadi kerugian yang bersumber dari distribusi dan percetakan.

Sepulang ke Indonesia tahun 2000 Wendy berbenah-benah dan mencari investor baru. Dirinya juga lantas mencopot orang-orang yang tidak kompeten. Maka, lanjut Wendy, dirinya berhasil mengembalikan arus keuangan perusahaan setelah dua tahun. Kegigihan Wendy yang kini memegang 45% saham Megindo itu selain membuahkan bisnis yang relatif mapan, juga menghasilkan sebuah gedung berlantai empat di gerai pertama Vega. “Lantai satu untuk gerai game, ini yang terbesar di Bandung, sedangkan lantai dua, tiga dan empat merupakan kantor,” kata Wendy yang bisnisnya kini diawaki 200 karyawan dengan omset sekitar Rp 5 miliar per bulan.

Charly Himawan, Direktur Produk Megindo yang teman dekat Wendy menuturkan, sosok Wendy adalah pemimpin yang kreatif. “Sering kami berbicara tentang suatu konsep yang akhirnya ternyata dapat menjadi sebuah produk bisnis,” ujarnya. Adapun Nadya Tamara, Direktur Penjualan Megindo mengklaim, oplah berbagai majalah Megindo dari tahun ke tahun meningkat 5%-10%.

Meski usahanya sudah berjalan stabil di bawah kendali para profesional, Wendy belum puas. Salah satu rencananya yang sedang berjalan yakni mengembangkan sarana pembayaran online bagi penggemar game. Selain itu, Wendy ingin menjadikan medianya sebagai majalah gratis atau freemagz. Maka, Wendy berusaha menyasar jenis media baru yaitu media digital yang sekarang memang sedang booming. “Dalam satu-dua bulan ke depan kami akan mengeluarkan satu konsep majalah baru di dunia elektronik.”

Yurivito Kris Nugroho

Eddy Dwinanto Iskandar (sumber swa online)

Wahyu Hanggono, Mantan Plasma yang Tembus Pasar Lima Benua

oleh : Dede Suryadi
Berbekal modal Rp 10 juta, Wahyu Hanggono mampu membesut ekspor mebelnya hingga ke lima benua dengan omset US$ 6 juta per tahun. Bagaimana perjalanan eksportir kelahiran Sukoharjo 23 Juli 1975 ini?

Tak terbayangkan sebelumnya oleh Wahyu Hanggono, bisnis mebel yang dirintisnya bisa sebesar sekarang, dan mampu menembus pasar luar negeri di lima benua: Amerika Serikat, Eropa, Afrika, Australia dan Asia. Di bawah bendera PT Aqsa International sebagai induk perusahaan, Wahyu mempekerjakan ribuan pekerja dengan konsep inti plasma. Bahkan, Aqsa menjadi salah satu perusahaan yang memiliki pekerja plasma terbesar di Solo dan Sukoharjo, Jawa Tengah. Kini, Aqsa akan membangun pabrik barunya seluas 4,7 hektare di kawasan Kalijambe, Sragen, Jawa Tengah dengan konsep ramah lingkungan (green).

Tahun 1999 merupakan awal ia membangun bisnisnya. Berbekal modal Rp 10 juta hasil pinjaman orang tuanya, Wahyu mencoba peruntungan dengan membuat bisnis mebel di rumah orang tuanya. Ditemani dua pekerjanya, ia mulai mendesain produk mebel untuk memasok perusahaan inti plasma. “Saat itu, saya adalah plasmanya Pak Joko Widodo, Wali Kota Solo saat ini,” katanya mengenang.

Ketertarikan berbisnis furnitur timbul semasa ia masih mahasiswa di Jurusan Ekonomi Manajemen Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. “Saya melihat teman yang berbinis furnitur. Kayaknya enak dapat penghasilan,” ungkapnya. Dari situ, ia pun tertantang untuk meniru temannya. Berbekal kemampuan mendesain, Wahyu mulai merintis bisnisnya dari nol.

Kendati hanya seorang plasma kecil, tak menyurutkannya untuk mencari peluang bisnis. Maka, ia pun mulai ikut sejumlah pameran yang diselenggarakan Departemen Perdagangan di daerahnya. Nah, tahun 2000 ia memberanikan diri mengekspor produknya ke luar negeri. Produk mebel yang diekspor adalah mebel tradisional nan antik. Makanya, saat itu ia membuat perusahaan bernama Indonesia Antique yang hingga sekarang masih eksis.

Jumlah ekspor pertamanya satu-dua kontainer. Keuntungan pun mulai dipetik Wahyu, apalagi ketika itu nilai dolar sedang tinggi. Sejak itulah perusahaannya makin rajin menggelar pameran dan selalu diikutsertakan oleh Departemen Perdagangan. Wahyu pun memindahkan pabriknya ke daerah Luwang Sukoharjo yang berdiri di atas lahan 1.500 m2.

Mencicipi manisnya keuntungan saat baru lulus kuliah membuat Wahyu terlena dan merasa puas. Efeknya, kontrol kualitas terhadap pekerja plasmanya makin kendur, dan jadwal ekspor pun tak bisa tepat waktu. Para pelanggan di luar negeri komplain, sehingga membuat bisnis Wahyu limbung. “Perusahaan saya saat itu hampir bangkrut karena saya sudah mulai nyaman,” katanya sambil menceritakan kala itu banyak karyawannya yang di-PHK-kan dan bisnisnya mulai kedodoran. “Rasa nyaman harus saya waspadai sekarang karena akan menghancurkan bisnis,” ujarnya seperti menasihati dirinya sendiri.

Untunglah, tahun 2004 ketika dirinya menikah, bisnisnya mulai bangkit lagi. “Kata orang, menikah bisa memberi keberuntungan,” ucapnya sambil terbahak. Memang, sejak dirinya menikah, bisnisnya tertata kembali. Pelanggannya di luar negeri makin bertambah. “Tahun 2004, kami mampu mengekspor 25 kontainer per bulan. Saat itu bisnis kami mengalami booming,” ujarnya bersyukur.

Pabriknya yang ditempati di Sukoharjo juga semakin luas, dari awalnya 1.500 m2 kini mencapai 1,4 ha. Pabrik ini sekaligus menjadi kantor Grup Aqsa. Di pabariknya ini, pihaknya menampung 50 kelompok plasma yang memiliki sejumlah pekerja yang kalau ditotal mencapai ribuan. Ini belum termasuk 100 karyawan kantornya dan 400 pekerja di bagian finishing.

Andi Kurniyawan, Analis Finansial PT Aqsa International, mengatakan, Wahyu sangat gigih membangun bisnisnya dari bawah. Bosnya itu bukan keturunan pengusaha karena ayahnya, Djowo Semitoatmodjo, adalah pegawai negeri. “Berkat kegigihan Pak Wahyu, Aqsa bisa sebesar sekarang dan pasar produknya ada di lima benua,” katanya memuji.

Memang, jumlah ekspor Aqsa terus meningkat dan sekarang menjadi 25 kontainer per bulan atau senilai US$ 6 juta per tahun. Merek produknya, Aqsa Living, juga makin berkibar di lima benua: AS, Eropa (Prancis, Polandia, Italia, Belanda, Jerman), Asia (Korea), Australia dan Afrika. “Ekspor paling banyak ke AS dan Eropa, masing-masing 35% dari total ekspor Aqsa,” Wahyu menjelaskan.

Menurutnya, ada tiga jenis pelanggannya di luar negeri. Pertama, pasar proyek. Di segmen ini, Wahyu membidik pengembang properti, seperti hotel, apartemen dengan pesanan yang customized. Kedua, chain store seperti Tier 1, hypermarket di AS yang memiliki jariangan 1.200 toko. Ketiga, wholeseller yang membeli mebel dari Aqsa untuk dijual kembali ke pelanggan di negara masing-masing.

Agar produknya terus diminati pasar di setiap negara tujuan ekspor, Wahyu sangat menekankan sisi desain produk. Soal desain, Wahyu memang sangat serius. Bahkan, untuk memperoleh desain yang bagus, perusahaannya setiap tahun membuat sayembara desain mebel dengan hadiah ribuan dolar. Menurutnya, kondisi bisnis mebel di Indonesia menurun karena salah satunya masalah desain yang tidak mengikuti tren pasar. “Soal desain memang kelemahan produk mebel di negeri ini,” katanya. Padahal, dari pengalamannya menyelenggarakan sayembara desain, lanjut Wahyu, sejatinya sangat banyak desainer lokal yang karyanya mampu bersaing dan digemari pasar ekspor.

Selain sering menyelenggarakan sayembara desain, survei pasar pun sering dilakukan. Salah satu caranya dengan rajin mengunjungi pameran furnitur tingkat internasional. “Minimum setahun dua kali kami melakukan survei pasar,” ujarnya. Dengan cara itulah, produk Aqsa tetap digemari dan laku di pasar luar negeri. Apalagi, pasar luar negeri merupakan satu-satunya bidikan produknya karena ia belum memasarkan produknya di dalam negeri.

Saat ini, Aqsa berencana mengembangkan pasar yang lebih besar, terutama pasar AS yang ekonominya mulai tumbuh. Wahyu tengah mempersiapkan untuk membangun pabriknya yang lebih luas, modern dan terpadu di Kalijambe, Sragen, Ja-Teng seluas 4,7 ha. Pabrik baru berwawasan ramah lingkungan itu dibangun di kawasan sentra industri mebel Kalijambe yang total luasnya 24 ha. “Akhir tahun ini atau paling lambat awal 2011 pabrik tersebut akan dibangun,” kata Wahyu memberi bocoran. Modal yang digelontorkan untuk membangun pabrik barunya itu sekitar Rp 80 miliar.

Lagi-lagi, untuk membangun pabriknya di Kalijambe dengan konsep green itu, ia menyelenggarakan sayembara desain. “Pemenangnya adalah konsultan dari Bandung yang pemiliknya lama bekerja di Jepang,” ia menginformasikan.

Tujuan dibangunnya pabrik Kalijambe untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi mebelnya. Dengan adanya pabrik baru itu kualitas produk dan kualitas kerja para plasmanya akan lebih terukur. “Di pabrik baru ini akan dipekerjakan 25 kelompok plasma,” ujarnya. Memang, kendala lainnya dari para perajin mebel atau kelompok plasma di daerahnya adalah masalah perilaku, yaitu waktu bekerja tak terarah, kualitas dan keterampilan tak berkembang. Kadang pula membuat mebel semaunya sendiri tanpa terukur waktu dan kualitas produknya.

Maka, di pabrik Kalijambe itu hendak disediakan tempat bekerja yang memadai bagi para plasma: mulai dari kenyamanan tempat bekerja, permesinan yang modern dan pelatihan cara membuat mebel yang standar ekspor. Selain itu, dengan ditempatkan dalam satu lokasi yang terpadu, masalah jarak para plasma akan teratasi sehingga pengiriman produk ke luar negeri bisa lebih tepat waktu. “Problem-problem yang selama ini kami alami akan teratasi dengan adanya pabrik baru kami di Kalijambe,” kata wahyu berharap. Nilai ekspor pun ditargetkan meningkat menjadi 50 kontainer per bulan.

Pabrik di Kalijambe, selain untuk mengatasi masalah kerja plasma selama ini, digunakan pula sebagai tempat magang siswa di sekitar lokasi pabrik. Juga akan dibangun tempat berkumpul para desainer mebel agar makin kreatif.

Nantinya, diharapkan para plasma binaan Aqsa yang sudah mapan, bisa membangun sendiri bisnisnya dan menjadi usaha inti untuk menampung para plasma lainnya. “Mereka bisa mandiri dengan keterampilan yang sudah standar ekspor. Itu harapan saya ke depan,” katanya serius.

Wali Kota Solo, Joko Widodo, menyambut baik rencana Wahyu membangun pabrik di Kalijambe dengan konsep green dan sejumlah rencana ke depan. “Ia punya visi ke depan dengan pabrik barunya itu,” ujar Joko. Dan bagi Joko pun, Wahyu adalah mantan plasmanya dulu. “Pengusaha seperti Wahyu ini haruslah didukung agar makin berkembang dan mampu menyerap banyak tenaga kerja,” katanya memberi semangat.

Dengan bisnisnya semakin berkembang, Wahyu yang membuat induk perusahaannya PT Aqsa International sejak 2009 ini hendak melakukan ekstensifikasi bisnis dengan membidik pasar dalam negeri melalui anak perusahaan bernama Qabana. “Sementara Indonesia Antique tetap berjalan dan sekarang di bawah PT Aqsa International,” katanya.

Di bawah Qabana, Wahyu akan membangun toko mebel one stop shopping. Nantinya, setiap pelanggan yang datang ke tokonya bisa membeli segala kebutuhan mebel rumahnya. “Pelanggan tinggal membawa desain rumahnya, kami akan memberi masukan tentang furnitur yang sesuai dengan desain rumah pelanggan,” ujarnya sambil memimpikan tokonya bisa seperti jaringan Index yang berada di beberapa tempat. “Pasar dalam negeri sangat menarik digarap karena selama ini produk kami 100% diekspor.”

Tak hanya itu, Wahyu juga punya obesi dalam lima tahun ke depan, perusahaannya bisa go public dan listing di bursa supaya bisnisnya makin berkembang.

BOKS:Liku-liku Wahyu Hanggono Membangun Bisnis

= Tahun 1999 mulai membangun bisnis dengan modal Rp 10 juta hasil pinjaman orang tuanya. Ia memasok ke perusahaan furnitur milik Joko Widodo (sekarang Wali Kota Solo).

= Tahun 2000, mulai mengekspor produknya ke luar negeri. Pabrik dipindahkan ke daerah Luwang Sukoharjo, di atas lahan 1.500 m2.

= Tahun 2002-2003, perusahaan hampir bangkrut karena sudah merasa nyaman.

= Tahun 2004, bisnisnya bangkit lagi.

= Tahun 2010 akan membangun pabrik baru di Kalijambe Sragen seluas 4,7 ha dengan investasi Rp 80 miliar.

= Ke depan, akan membangun toko mebel seperti Index untuk membidik pasar dalam negeri dan berencana go public. (sumber swa online)

Usia 21 Tahun, Gaji Vicky Sudah Rp7,5 Juta

Meski masih menginjak usia 21 tahun, Vicky Kustri Hariyanto mampu menghasilkan pendapatan sekitar Rp7,5 juta per bulan. Siapa sangka uang tersebut merupakan hasil bisnis kecil-kecilan.

Usaha yang digelutinya tak lain adalah usaha pulsa telepon, jualan air serta isi ulang air galon, dan warung telepon (wartel).

Vicky, sapaan akrabnya, memulai usaha ini pada 2003. Kala itu teman-temannya tengah asyik berkumpul di mal atau adu tanding game Play Station, Vicky justru sibuk menata usahanya. Maklum, meski masih duduki di bangku SMU kelas 2, dia sudah bergelut nasib.

Saat merintis usahanya, dia mengaku hanya coba-coba dan mengisi waktu luang. Iklan di koran yang berisi ajakan berbisnis, mampu memancing hatinya. Kemudian, Vicky yang saat ini tercatat sebagai mahasiswa Semester VII jurusan sosiologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo ini, mengumpulkan modal senilai Rp500 ribu. Dengan dana minim itulah dia mengembangkan air galon serta isi ulangnya.

Usai meraup untung dari penjualan itu, Vicky memutar untungnya menjadi modal dengan membuka wartel (warung telekomunikasi) dan menjual pulsa di tahun yang sama.

“Daripada pulang sekolah hanya main atau tidak ada tujuan, mau menjalankan kegiatan apa? Lebih baik isi waktu dengan membuka usaha,” ceritanya kepada okezone.

Predikat sebagai anak sekolah atau mahasiswa tidak menjadi hambatan dalam berwirausaha. Waktu bersekolah, bercengkrama dengan teman sebaya pun masih bisa dilakoninya.

Dalam menjalankan usaha ini, Vicky masih mengandalkan bantuan keluarga. Sebanyak enam tenaga kerja berasal dari anggota keluarga. “Saya bagi waktu dengan orangtua dan kakak,” ujar putra dari pasangan Noorhadi dan Koesmeirina ini.

Oleh karena itu, Vicky membuka toko di rumahnya dengan nama toko Wahyu Morocel di Jalan S Batanghari No 29 Gandekan Tengen, Solo.

Kisah unik pun mengalir. Dia mengakui, tokonya seringkali tutup lantaran seluruh anggotanya pergi. Terkadang, jika dia dan saudaranya pergi, para pelanggan harus sabar menunggu kiriman pulsa elektrik karena orangtuanya tidak mengerti cara menransaksikannya.

Untungnya, kondisi tersebut tidak membuatnya kehilangan pelanggan. Buktinya, omzet Rp250 ribu per hari bisa mengalir ke sakunya. Pelangan pun berdatangan dari wilayah Solo dan sekitarnya.

Meski relatif kecil, namun hasil yang menjanjikan ini terus dikembangkannya. Dia merencanakan untuk memperbanyak jumlah karyawan dan merapihkan sistem administrasi usahanya. “Ada harapan untuk memperluas usaha dengan menambah jumlah karyawan,” harapnya.

Lima tahun menjalakan usaha ini, anak ke tiga dari empat bersaudara ini berhasil memperoleh penghargaan sebagai 12 terbaik Wirausaha Muda Mandiri 2007 kategori mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI).

Walau menjanjikan, namun dia tetap bercita-cita untuk bekerja kantoran. “Saya bercita-cita untuk menjadi wiraswasta dan karyawan tetap,” ungkapnya.

(//rhs) (sumber okezone.com)