Monthly Archives: June 2011

Ibrahim, Merintis Dari Nol, Kini Produknya Sudah Menembus Eropa dan Amerika

ibrahimIbrahim Mochamad merupakan salah satu sosok wirausahawan sukses alumni Smada Kediri yang merintis usahanya dari nol, namun kini produknya sudah berhasil diterima pasar Eropa dan Amerika serta sejumlah negara Asia.  Bahkan Ibrahim sekarang sudah mempunyai 50 karyawan lebih, serta omzet dalam sebulan mencapai ratusan juta rupiah, sebuah pencapaian yang mengagumkan di usianya yang masih 28 tahun.

Ibrahim lulus dari Smada Kediri di tahun 2001, pengusaha muda yang di Smada terakhir duduk di kelas 3 IPA 3 ini kemudian melanjutkan kuliah di ITB Bandung dengan mengambil jurusan Teknik Sipil. Selepas menamatkan kuliahnya di akhir tahun 2005, pada 2006 Ibrahim kemudian merintis usaha sendiri di bidang kerajinan (handycraft), namun usaha pertamanya ini masih belum mendapat respon yang bagus dari pasar, pemasukan sedikit sekali. Akhirnya Ibrahim memutuskan bekerja part-time sambil tetap menjalankan usahanya.

Sekitar satu tahun menjalankan usaha sambil bekerja part-time di sebuah kantor konsultan konstruksi, Ibrahim lalu memutuskan untuk fokus menekuni usahanya dan pada tahun 2007 Ibrahim mendirikan http://www.bipstuff.com  (CV Bina Indo Pratama), tetap di bidang industri kreatif namun kali ini lebih terspesialisai untuk memproduksi miniatur instrumen musik seperti miniatur gitar, biola, piano, drum, mandolin dan juga miniatur musik sesuai pesanan pelanggan.

Ketika ditanya darimana ide dalam membuat produk-produknya tersebut, ia menjawab “Berproses, awalnya saya munculkan sebuah ide kemudian pasar menolak, saya belajar dari permintaan pasar, akhirnya muncul ide baru lagi, apakah responnya bagus atau tidak, jika bagus, sepertinya idenya perlu ditingkatkan lagi dan lagi, jadi tidak pernah berhenti untuk mendapat dan mengaplikasikan ide”

Pada awal mendirikan usaha tersebut semuanya dikerjakan oleh Ibrahim sendiri, pada waktu itu dia belum mempunyai karyawan. Seperti ketika memulai usaha yang sebelumnya, setengah tahun pertama sejak ia mendirikan bipstuff penjualan tidak ada sama sekali, padahal semua modalnya ia dapat dari investor, ia hanya bermodal keberanian untuk menawarkan proposal bisnisnya ke beberapa investor, dari para investor itulah dia mendapat modal awal sekitar Rp12 juta.

Masa-masa awal mendirikan usaha bipstuff disebut Ibrahim sebagai masa survival, dimana pada masa itu dia harus berjuang agar bisa tetap survive, masa dua tahun pertama yang penuh perjuangan, ‘berdarah-darah’ tanpa kejelasan pendapatan, tanpa kepastian adanya penjualan. Seringkali dia bekerja lebih dari 16 jam sehari, bahkan minggu dan hari liburpun ia tetap mencurahkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk kelangsungan usahanya tersebut.

Tantangan pada awal-awal membuka usaha tidak hanya karena sepinya penjualan, tapi ketika itu orang tua Ibrahim sebenarnya menginginkan anaknya tersebut bisa berkarir di perusahaan di Jakarta. Namun dengan memberikan pengertian yang baik pada orang tua, meyakinkan orang tua bahwa dia sangat ber-passion dalam dunia entrepreneurship, dan dia benar-benar ingin serius mengembangkannya, lambat laun orang tuanyapun merestuinya.

Passion dan minat yang besar akan dunia kewirausahaan yang ada dalam diri Ibrahim didapat sejak ia kuliah di kampus ITB dulu, ketika itu ia rajin mengikuti seminar-seminar entrepreneurship. Ibrahim, sosok pebisnis muda yang mengidolakan pengusaha nasional Chairul Tanjung serta pengusaha kelas dunia yang juga seorang filantropis Warren Buffet, ini juga aktif di beberapa komunitas bisnis seperti TDA (Tangan Di Atas), EA (Entrepreneur Association), HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia), diakuinya dengan bergabung di komunitas-komunitas pengusaha sangat mendukung untuk pertumbuhan perusahaan.

Kembali ke masa-masa awal bipstuff berdiri, setelah berjalan kurang lebih dua tahun dan hasilnya masih belum seperti yang diharapkan, penjualan masih sepi, sementara biaya operasional terus berjalan, terlebih pada tahun 2008, setahun setelah bipstuff berdiri, dia sudah merekrut karyawan, disitu jiwa entrepreneur Ibrahim ditempa untuk tidak mudah menyerah, Ibrahim tetap yakin melangkah karena melihat prospek usaha ini yang masih sangat terbuka, kompetitor sangat jarang, sedikit sekali yang terjun di usaha miniatur instrumen musik. Disamping itu juga pertimbangan akan nasib para karyawannya dan mengingat amanah dari para investornya untuk membuat apa yang sudah mereka investasikan bisa berkembanglah yang tetap memacu Ibrahim pantang surut melangkah meski keuntungan penjualan tidak sebanding dengan pengeluaran usaha.

Namun pelan tapi pasti, pesanan miniatur instrumen musik mulai berdatangan dari mana-mana, mengandalkan online marketing lewat situs sendiri di http://www.bipstuff.com, juga lewat global marketplace seperti http://www.alibaba.com, http://www.wholesaler.com serta sosial media seperti facebook dan twitter, yang memungkinkan target konsumen dapat diraih dari seluruh penjuru dunia. Dengan kemudahan cara pembayaran yang ditawarkan, seperti bisa menggunakan credit card, paypal, wire transfer, dan L/C, buyer luar negeri utamanya dari Eropa dan Amerikapun mudah diraih, terlebih lagi karena memang Ibrahim begitu menekankan pada kualitas produknya yang benar-benar harus berkualitas nomor satu. Kini bipstuff memiliki kapasitas produksi puluhan ribu items perbulannya dan terus meningkat seiring dengan pesanan yang terus mengalir dari berbagai negara.

Perjuangan yang akhirnya menuai kesuksesan dalam mendirikan bipstuff tersebut memacu daya kreatif dan semangat optimisme Ibrahim untuk menelorkan usahanya yang berikutnya, ia juga mencoba terjun dalam dunia fashion dengan mendirikan TUNEECA (www.tuneeca.com) yang memproduksi dan memasarkan model-model busana alternatif  khusus wanita yang bernuansa modern dan etnik. Dan di tahun 2010 lalu ia juga merambah dunia IT dengan mendirikan bippo (www.bippo.co.id) yang berfokus pada penyediaan jasa solusi ERP (Enterprise Resource Planning) bagi perusahaan baik skala kecil maupun menengah yang bergerak dalam bidang penjualan barang, baik itu retail maupun grosir.

Brand-brand-nya bisa semakin lebih dikenal oleh dunia internasional serta produknya makin bisa tersebar di berbagai penjuru dunia adalah salah satu impian yang ingin digapai oleh Ibrahim. “Dulu, saya memulai usaha dari nol, sangat sulit sekali mencari investor. Akan tetapi sekarang, mudah sekali mencarinya, bahkan lebih seringnya datang sendiri, karena saya sudah mempunyai track record yang bagus” terang Ibrahim ketika menjelaskan kondisinya kini dibanding awal-awal memulai usaha dulu.
“Jangan setengah-setengah dalam memulai usaha” pungkasnya ketika ditanya pesan yang bisa disampaikan kepada para wirausaha muda pemula.
Ibrahim Mochamad bisa dihubungi di:

ibrahim@bippo.co.id

Telp:  022-5228987

http://www.bipstuff.com

bipstuff

 

 

 

 

 

http://www.tuneeca.com

 

tuneca

 

 

 

 

http://www.bippo.co.id

 

bippo

 

 

 

 

 

*Seperti yang dituturkan kepada Wirasmada via online interview*

Kisah Sukses Yacob Membangun 16 Perusahaan Tekstil

Pernah dipenjara saat remaja, Yacob Kusmanto ternyata mampu mengubah jalan hidupnya. Kini, jebolan kelas 2 SMA itu sukses membangun 16 perusahaan tekstil dan distribusinya. Misi hidupnya kini: mencetak 2.000 pemimpin bisnis!

 “Maaf, saya terlambat turun. Tadi saya ditelepon orang yang saya beri mentoringbisnis. Dia dan keluarganya habis dipukulinwarga di rumahnya di Tangerang.” Kalimat yang membuat SWAagak terkejut itu diucapkan dengan nada biasa oleh seorang pria separuh abad yang hendak diwawancarai SWA, penghujung Februari lalu, di Apartemen CBD Pluit, Jakarta.

 Itulah Yacob Kusmanto, pengusaha handuk, tirai, gorden, perlengkapan dapur, dan perlengkapan bayi yang berbasis tekstil di Bandung. Bagi pengusaha yang kenyang makan asam-garam kehidupan dan mengalami jatuh-bangun kodisi perekonomian Indonesia ini, tidak ada lagi peristiwa yang membuatnya kaget. “Karena, memang semua situasi itu netral. Tidak ada kepahitan, tidak ada kesusahan. Kecelakaan pun punya kesan yang baik, yang positif. Semua kondisi menarik,” ujarnya.

Hal yang sama diajarkannya kepada mentee-nya atau orang yang diberi mentoringolehnya, yang dipukuli warga itu. “Saya bilang ke dia, bersyukurlah bahwa kamu dan ketiga anakmu yang masih kecil dan remaja itu sudah belajar kepekaan hidup sejak dini. Mereka kan digebukinkarena meledakkan petasan kencang-kencang sehingga warga sekitar marah. Ya sudah. Anggap saja itu pelajaran agar mereka lebih peka lingkungan ke depannya,” ungkap Yacob.

 Demikian juga di ranah bisnis. Saat salah seorang karyawannya hengkang dengan membawa banyak karyawan kunci, Yacob hanya tersenyum menceritakannya. “Itulah pilihannya,” ujar pria kelahiran Bandung, 13 Januari 1961, ini tanpa kesan mendendam.

Yacob memang tidak patut bersedih atas hilangnya karyawan ataupun hadirnya pesaing. Toh, perusahaan miliknya kini berjumlah total 16 buah. Jadi, roda bisnisnya tidak akan goyah hanya karena ada satu pesaing baru.

 Yacob bercerita, separuh perusahaannya digunakan untuk berproduksi dan separuhnya lagi untuk mendistribusikan produknya. PT Tirai Pelangi Nusantara memproduksi selimut, tas, handuk dan perlengkapan bayi bermerek Snobby. PT Tegar Prima Nusantara membuat perlengkapan bayi berbasis tekstil bermerek Dialogue. PT Harmoni menghasilkan tirai dan kelambu bermerek Harmoni. PT Imanuel memproduksi taplak meja. PT Adiguna membuat gorden tebal. CV Duta Baby menghasilkan tas gendong, kasur dan kelambu bayi. PT Kota Pelangi memproduksi perlengkapan dapur seperti kain penutup air mineral. PT Garmindo Utama mendistribusikan merek Dialogue. Lalu, PT Rabat dan PT Putra Raja Sejahtera mendistribusikan merek Snobby. “Saya lupa sisa nama perusahaan saya, ha-ha-ha,” ujarnya sambil tertawa kecil.

 Wajar bila Yacob, yang mempekerjakan kurang-lebih 2.000 karyawan, lupa. Sebab, ia mengaku kini hanya babat alas alias sekadar membuka jalan demi pendirian perusahaan. Setelah didirikan, perusahaan itu langsung dipercayakan kepada anak buahnya yang dirasanya kompeten dan berintegritas tinggi. “Kalau tidak begitu, kapan kita ada waktu memikirkan yang lain,” ujarnya santai. Ia tidak khawatir bisnisnya hancur dengan pola demikian. ”Saya kan juga kontrol sesekali. Kalau ada yang salah, ya saya tegur. Kalau tidak ada, ya silakan saja teruskan.”

Bagi Yacob, yang utama adalah integritas dan militansi seseorang dalam bekerja. Dia menyukai orang yang tidak hitung-hitungan dalam bekerja. Atas dasar itulah, ia kini memiliki seorang lulusan STM yang memimpin produksi merek Dialogue; seorang lulusan SMA yang notabene mantan pramuwiswa di rumahnya kini menjadi manajer pabrik perlengkapan bayi bermerek Snobby, dan seorang lulusan SMEA Akuntansi yang memimpin CV Duta Baby, pabrik perlengkapan bayi miliknya yang lain. Mudah saja dicari alasannya mengapa Yacob berprinsip demikian. Sebab, ia juga menerapkan perilaku serupa semasa menjadi karyawan dulu. “Itulah yang saya alami di masa lalu.”

Di ruang apartemennya yang jauh dari kesan mewah, Yacob pun mengajak SWAmenelusuri masa lalunya. Ia melewati masa kecilnya dengan penuh perjuangan. Sebagai anak pasangan sopir taksi 4848 di Bandung dan penjual kue, ia terbiasa dengan kondisi ekonomi pas-pasan. “Kami lahir dari keluarga miskin di Bandung. Kami miskin sekali,” ungkapnya. Tak ada kesan berupaya menarik simpati dengan pengulangan itu. Malah, yang terdengar justru nada ceria.

 Yacob mengaku bersyukur atas masa kecilnya. Dari kondisi yang penuh keterbatasan itulah justru dirinya diperkenalkan dengan kerja keras, pemahaman bisnis, dan pengelolaan keuangan yang cermat sejak dini. “Saya diajari bisnis sejak umur 4-5 tahun,” ungkapnya. Ketika itu, ia terbiasa mendapat uang jajan jika membantu memarutkan kelapa untuk usaha kue semprong, telur asin dan tauge yang dibuat ibunya. Berhubung “upah” yang diterimanya sangat kecil, ia jadi terbiasa berhemat dan menabung. Bahkan, untuk sekolah, ia hanya membawa bekal nasi hangat yang dikepal-kepal dengan “lauk” garam.

 Namun, perjalanan hidupnya sempat memasuki masa kelam saat remaja. Ketika bersekolah di SMA Santa Maria, Bandung, ia kerap berkelahi dengan sesama siswa di sekolahnya. “Saya lemah di sekolah. Maka, untuk eksis, saya berusaha menonjolkan diri dengan cara lain. Saya berkelahi dengan kakak kelas yang lebih besar agar saya populer,” tuturnya seraya tersenyum. Akibatnya, ia kerap mendapat perlakuan tidak enak. Bahkan, pernah karena kenakalannya, ia dipenjara di Bandung dan merasakan “kenikmatan” saat kakinya ditekan dengan kaki meja dan tulang keringnya digetok pistol. Akibat itu juga, ia terpaksa hengkang dari rumahnya dan terdampar di lingkungan yang penuh dengan minuman keras dan narkotika.

 Untung saja, pada suatu ketika Yacob sadar. Ia lantas meminta pekerjaan kepada Yamin Haryanto, teman sekampung orang tuanya, dari Cilacap, yang berbisnis tekstil di Bandung. Bahkan, sebelum memutuskan keluar saat kelas 2 SMA di usia 18 tahun, ia membolos seminggu untuk menjajal suasana kerja. Akhirnya, ketika mantap bekerja, ia langsung izin dari kantornya untuk pamit kepada pihak sekolah. “Setelah itu, saya fokus bekerja di CV Wiska milik Pak Yamin,” ujarnya seraya menyebut produk-produk CV Wiska seperti handuk, gorden dan tirai.

 Di sinilah titik balik seorang Yacob terjadi. Ia yang bertekad berubah lantas bekerja sangat keras melebihi jam kerja normal. Ia selalu masuk pukul 6 pagi dan pulang di atas pukul 5 sore. Selalu mematuhi perintah atasan dan tidak pernah membantah saat dikritik atasan. “Saya mendapat pelajaran di keluarga untuk menghormati pemimpin, bagaimanapun kondisinya. Dan saya selalu berprinsip memberi lebih dari gaji yang saya terima,” katanya.

 Setelah lewat enam bulan bekerja, ia memberanikan diri membeli handuk-handuk rejectdari CV Wiska. Ternyata, permintaannya dikabulkan. Beragam handuk cacat produksi itu lantas dipermaknya menjadi sapu tangan kecil dan wash lapsehingga cacatnya terbuang. Lebih jauh lagi, melihat ada tetangganya yang berbisnis printing, ia pun memberikan motif cetak di produknya. Ia lantas menjualnya di pasar tradisional Cibangkong, Bandung, tidak jauh dari kontrakannya saat itu di Gang Warta, Jalan Gatot Subroto, Cibangkong. Ternyata, hasilnya bagus. Ia pun mengangkat temannya sebagai tenaga penjualan untuk membantu pekerjaannya.

 Yacob kemudian menjajal peruntungannya di luar kota, Purwokerto tepatnya. Dengan kecerdikannya, ia bisa mengirim produknya dengan nyaris gratis ke luar kota. Pasalnya, ia kerap mencucikan kendaraan-kendaraan milik travel yang juga berlokasi tidak jauh dari tempat tinggalnya. Hasilnya, setiap libur kerja di Sabtu dan Minggu, ia mengirim produk ke daerah. “Maklum, orang kecil banyak akalnya,” ujarnya.

 Satu tahun 10 bulan bekerja di CV Wiska, Yacob digaji Rp 75 ribu/bulan. Namun, penghasilan dari bisnis sampingannya itu justru mencapai Rp 2 juta/bulan. Karena itu, 5 tahun kemudian, pada 1987 ia memutuskan membuka pabrik sendiri. Setelah pamit kepada atasannya, ia membuka pabrik pertamanya di Leuwigajah, Bandung, dengan mengontrak lahan seluas 1 hektare selama lima tahun. Berkat hubungan baiknya dengan mantan bosnya, ia diizinkan membeli mesin bekas milik mantan bosnya itu. Bahkan, tak cuma mesin, ia juga dipinjami suku cadang dan teknisi saat mesin-mesinnya mengalami masalah.

 Dari situ bisnisnya terus berkembang. Yacob mengakui, baginya sekarang lebih mudah membuka perusahaan. Sebab, pertama, selama ini ia selalu cermat mengalokasikan modalnya. Ia mengaku sebagai orang yang cukup hemat, baik dalam gaya hidup maupun pengeluaran perusahaan. Itu sebabnya, saat krisis 1997, dia justru mendapat untung besar dari pembelian aset-aset mesin perusahaan tekstil lainnya, sehingga perusahaannya bisa melakukan efisiensi biaya produksi dengan mesin-mesin yang baru tetapi bekas. Dari mana sumber dananya? “Ya, dari hasil penghematan itu,” ujarnya.

Kedua, ia memiliki perusahaan distribusi sendiri untuk produknya. Berkat strategi tersebut, ia memiliki jaringan nasional yang kuat sampai ke pasar becek. Berkat itu pula, ia merasa tidak perlu berpromosi besar-besaran. “Ada berbagai cara untuk ekspansi. Saya sendiri memilih menguatkan distribusi kami yang hingga kini sampai ke pasar modern dan pasar becek,” katanya.

 Pilihan strategi ini juga yang membuat perusahaan-perusahaan Yacob tetap bernapas di saat perusahaan produk tekstil lainnya limbung dihajar produk kembaran asal Cina. Menurutnya, kebanyakan perusahaan jatuh karena terlalu mengandalkan pasar grosir. “Sektor tekstil itu dulu dipuja-puja, jadi banyak yang hanya bermain grosir. Sementara saya sudah menyasar ke pasar-pasar langsung dengan perusahaan distribusi. Jadi, begitu produk Cina menyerbu pada tahun 2000-an, saya sudah memiliki jaringan distribusi yang kuat,” ungkap suami dari Puji Binarti, atau yang akrab disapa Rosa itu.

Strategi lainnya yang menurut Yacob menjadi salah satu kunci keberhasilan pengembangan bisnisnya adalah kemampuannya mencetak kader-kader pemimpin bisnis yang gres. Ia berprinsip, jika seorang karyawan sudah 10 tahun mengikutinya, itulah saatnya dia harus menjadi pemimpin. Kalau tidak, berarti yang salah pemimpinnya karena tidak mampu memercayai bawahannya. “Kalau saya terus-menerus menaruh curiga dan memupuk ketidakpercayaan, perusahaan saya tidak akan sampai sebanyak sekarang,” ujar ayah Sylviana Kusmanto dan Naomi Kristiana Kusmanto ini.

 Yacob menegaskan, bisnisnya yang sejati adalah mencetak pemimpin. Bisnis tekstil hanyalah kendaraan baginya. Dengan begitu, ia tidak sulit melepas perusahaan ke tangan orang yang dipercayainya. Bahkan, meski perusahaan itu baru didirikannya. Dengan pengalaman mengader orang, ia kini hanya menyingkat waktu kaderisasi dari 10 menjadi lima tahun saja.

Dengan kian cepatnya kemampuan mencetak pemimpin, laju ekspansi perusahaan juga kian kencang. “Dulu untuk menambah satu perusahaan bisa lima tahun, kini satu tahun bisa membuat 3-4 perusahaan,” katanya. Ia memang tak ragu mengader anak buahnya yang berkarakter jujur, gigih dan tak hitung-hitungan dalam bekerja. Mirip dirinya semasa muda dulu. “Yang terpenting bagi saya dalam menunjuk pemimpin adalah karakternya. Soal pendidikan, skill,dan lainnya itu bisa dilatih.”

Yacob mengaku prinsipmya merupakan kebalikan dari prinsip pengusaha lain yang kerap menutup rapat-rapat kondisi keuangan perusahaan. Di perusahaannya, mulai dari level kepala bagian sampai GM harus tahu kondisi keuangan perusahaan, berapa modal, berapa biaya pembelian, berapa harga jual, dan sebagainya. Ia tak takut rahasia bisnisnya dicuri pesaing atau karyawan yang berubah menjadi pesaing. Menurutnya, dari persaingan justru muncul kreativitas. Dan, Yacob lebih suka menyikapi kompetisi dengan dorongan untuk lebih kreatif ketimbang mengeluarkan sumpah serapah.

 Hal itu dibuktikan saat salah satu pegawainya hengkang dari perusahaannya dengan membentuk perusahaan sejenis, plus membetot beberapa karyawan kuncinya. “Memang, dia kurang elok keluarnya. Tapi ya sudah. Kami tidak perlu cemas. Kami terus saja berinovasi,” ceritanya seraya tersenyum. Yacob pun tidak merasa perlu mengubah pendiriannya. Toh, laju perusahaannya yang masih tak terbendung seakan-akan memberikan dukungan nyata bagi prinsip-prinsipnya.

 Retnowati, lulusan SMA yang menjadi Manajer Pabrik PT Tirai Pelangi Nusantara yang memproduksi Snobby, turut membuktikan implementasi prinsip bosnya. Sepuluh tahun lalu, Retno adalah pekerja di rumah Yacob yang juga dijadikan kantor. Berhubung turut tinggal di rumah Yacob di Bandung, Retno berinisiatif mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu dan mengepel sebelum masuk kerja dan setelah jam kantor usai. Semua itu dilakukan tanpa perintah Yacob. “Soalnya, saya sejak awal berkeinginan bekerja sebaik mungkin jika mendapat pekerjaan. Semua itu saya lakukan karena saya tidak ingin gagal karena sekolah saya saja dibantu orang lain. Jadi, saya harus berikan yang terbaik saat bekerja,” ungkap muslimah kelahiran Cilacap itu.

 Yacob pun ternyata memperhatikan kegigihannya. Walhasil, Retno yang awalnya bekerja di bagian pengemasan diberi keterampilan menjahit, selanjutnya menjadi pemimpin grup jahit, lalu dididik pengetahuan administrasi, kemudian diberi kepercayaan memimpin sebuah grup jahit di Kembangan, Jakarta Barat.

 Tentu saja, tak semuanya berjalan mulus. Saat dipindahkan ke rumah Yacob di Kembangan yang juga merangkap kantor, Retno gagal memimpin grupnya. Ia pun kembali ditarik ke Bandung menjadi staf biasa. Meski sempat merasa kecewa pada diri sendiri, Retno tidak patah semangat. Dan ketika ada posisi lowong di PT Tirai pada 2009, ia pun kembali dipercaya Yacob menjadi manajer yang membawahkan bagian produksi. Dan, Juni 2010 ia dipercaya memegang seluruh kendali operasional, produksi dan pergudangan perusahaan tersebut dengan karyawan sekitar 500 orang. “Saya bersyukur diberi kepercayaan kembali. Saya sendiri ingin menaikkan omset perusahaan jadi dua kali lipat,” ujarnya yakin.

 Di mata Felix Ferryanto Lukman, pengamat bisnis sekaligus dosen Manajemen Strategi Prasetiya Mulya Business School, Yacob mampu mengatasi salah satu masalah utama dalam bisnis keluarga, yakni delegasi kekuasaan karena minimnya kaderisasi. Umumnya, menurut Felix, perusahaan keluarga berpola one man show. Namun, tidak dengan Yacob. Ia mampu mendelegasikan hal-hal penting plus dengan tanggung jawab sepenuhnya ke calon pemimpin. “Jadi, dia tidak menitipkan pistol berpeluru hampa,” ujar Felix bermetafora.

Felix juga menyetujui langkah Yacob mendistribusikan produknya dengan memiliki perusahaan distribusi sendiri. Menurutnya, bisnis melulu bicara tentang sustainaibility. “Kalau Yacob mampu survivedengan cara ini, yamonggo,”ujarnya. Selain itu, dalam promosi tidak selalu harus mengandalkan iklan. Yacob bisa saja menggunakan word of mouthalias promosi getok tular dari para penjualnya yang terkadang bisa lebih berpengaruh ketimbang iklan di televisi.

Terkait corporate social responsibility(CSR) di bidang mentoringbisnis, Felix berpendapat seharusnya Yacob mempromosikannya ke publik. Karena, hal tersebut akan menguatkan keyakinan masyarakat bahwa orang yang berada di balik produk Dialogue, Snobby, dan sebagainya adalah orang yang kerap membantu sesama. “Dan cara terbaik melakukannya adalah dengan menggunakan strategi public relationsagar penerimaan masyarakat lebih baik.”

Yacob, yang selalu enggan memaparkan omsetnya, tidak berniat berhenti di sini. Dirinya kini masih memiliki impian besar: mencetak 2.000 pemimpin, baik di lini bisnis maupun ranah masyarakat. “Saya bermimpi mencetak banyak general manager.Rumus saya untuk karyawan yang sudah saya serahi tanggung jawab sederhana: kalau mau dihancurkan, silakan; kalau mau dikembangkan, silakan. Karena ini semua juga milik Tuhan, saya hanya dipercaya jadi pengelolanya. Kalau pembantu rumah saya saja bisa jadi manajer, tentu yang lain juga. Itu yang saya katakan. Kita sebagai pemimpin bekerjanya juga jangan sampai jadi lokomotif yang terus-menerus menarik muatan. Tapi, mereka sendiri yang harus bisa mendorong dirinya. Dan, pendorong selanjutnya bukan saya, melainkan mereka. Ini saatnya mereka tampil,” kata Yacob menandaskan.(*)

Riset: Evi

Mentoring Bisnis Ala Yacob

Tak hanya berhasil sebagai pengusaha, Yacob Kusmanto sekaligus mentor bisnis yang sukses. Dan, ia melakukan mentoringsecara cuma-cuma. “Saya banyak dibantu dan dibimbing mantan bos saya dulu, Pak Yamin. Makanya, sekarang saya mentoringorang-orang, siapa saja, asalkan mereka punya tekad menjadi pengusaha,” tuturnya.

  Meski tak tercatat, Yacob memperkirakan telah membantu puluhan orang menjadi pengusaha kasur lantai yang lazim dikenal dengan kasur Palembang sejak 1998 di Jakarta, Bekasi, Bangka Belitung sampai Kamboja. “Waktu itu tahun 1998 saya dengar orang Kamboja banyak kesulitan akibat peninggalan perang. Ya sudah, saya dan khususnya istri saya, Rosa, terbang membantu ke sana, mendidik orang sana jadi perajin kasur Palembang,” ujarnya. Yacob memilih kerajinan kasur Palembang karena pola pembuatannya yang mudah dan berharga jual lumayan.

Dalam mementor, ia memiliki tim yang terdiri dari beberapa profesional sekaligus mantan mentee-nya yang telah sukses. Demi menjaga kualitas, waktu mentoring-nya cukup lama, terkadang bisa sampai lima tahun. Selain itu, Yacob menekankan sistem referal. Jadi, harus ada yang merekomendasikan seorang calon menteeuntuk dididik. Tujuannya agar hanya orang yang bersungguh-sungguh yang bergabung.

Yacob juga kerap mementor para pengusaha yang patah di tengah jalan. “Mereka yang gagal ini harus disentuh dulu spiritnya,” ujarnya. Kalau tidak, biasanya kinerja hasil mentoring-nya tidak memadai. Karena itulah, dibutuhkan waktu yang lama untuk mementor seseorang hingga berhasil.

Namun, hasilnya sepadan. Di Indonesia, para mantan menteeYacob kini mampu memproduksi sekitar 10 ribu kasur Palembang per bulan dengan harga sekitar Rp 100 ribu/buah. Sementara di Kamboja mencapai 500 unit per bulan. Dan Yacob tidak mengambil untung. “Saya hanya membantu. Untuk bahan kasur Palembang pun tidak beli dari saya,” ujarnya.

Salah satu yang sukses dibantu Yacob adalah Eli Listiawati (49 tahun) dan suaminya, Bambang Widiatmoko. Pasangan suami-istri yang bisnisnya di Magelang hancur karena utang judi suaminya itu kini sukses menjadi pengusaha kapuk randu dan kasur Palembang di Cipayung, Jakarta Timur. Eli mengenal Yacob sejak di Magelang karena Yacob kerap membantu memberikan usaha bagi jemaat di gereja Eli.

 Eli yang pindah ke Jakarta tahun 2004 karena ingin membantu perekonomian keluarganya lantas secara tak sengaja bertemu kembali dengan Yacob. Mengetahui kesulitan Eli, Yacob lantas menawari kiosnya yang dikontraknya di Cipayung itu.

Setelah menyambangi lokasi itu, Eli lantas diminta Yacob membuka usaha. Eli melihat di sekitar sana banyak perajin kasur Palembang. Ia pun berinisiatif berjualan kapuk yang digunakan untuk isi kasur Palembang.

 Dengan bantuan modal mobil pikap dari Yacob, Eli lalu bergerilya mencari pemasok kapuk berharga terbaik. Hingga akhirnya ia menemukannya di kawasan Pati, Semarang, Jawa Tengah. Kembali Yacob membantu Eli dalam permodalan bahan baku dengan membelikan kapuk senilai Rp 26 juta.

Di bawah bimbingan Yacob, Eli gigih memasarkan kapuknya. Disambanginya para perajin kasur Palembang yang terbiasa mengisi kasurnya dengan kain bekas, bukannya kapuk. Usahanya perlahan berhasil dan akhirnya para perajin itu yang membeli darinya. Tak ketinggalan penjual kapuk keliling didatangi hingga ke pusatnya di daerah Condet, Kampung Makassar, dan sebagainya di wilayah Jak-Tim.

  Berkat kegigihannya, usaha Eli berkembang pesat. Dan meski gudangnya sempat dilanda kebakaran pada 2007, langkahnya tak surut. Hingga kini usahanya terus berkembang. Setiap hari dia mampu menjual sekitar 1.400 kilogram kapuk (50 bal) dengan harga Rp 9.000/kg. Selain itu, ia kini juga memproduksi hingga 1.800 kasur Palembang per bulan dengan harga Rp 80 ribu/buah. “Memang ini berkat Tuhan melalui tangan Pak Yacob. Kalau mau, Pak Yacob bisa saja hidup bermewah-mewah. Tapi dia memilih membantu orang lain. Saya kagum kepadanya,” ungkap Eli yang juga telah mementor beberapa orang, bahkan termasuk anak jalanan.

Eddy Dwinanto Iskandar

Tip Sukses Yacob Kusmanto

– Gigih dan tidak hitung-hitungan dalam bekerja

– Menjaga kepercayaan atasan sebaik mungkin saat menjadi karyawan

– Fokus di bisnis tekstilnya

– Hidup hemat

– Membelanjakan dana untuk barang modal saat krisis

– Mengader karyawan yang militan menjadi pemimpin masa depan

– Memercayai karyawan menjadi pemimpin sepenuhnya di perusahaannya

– Terus mencari peluang bisnis baru

– Mendistribusikan sendiri produknya dan menjalin hubungan dengan para pedagang di pasar becek

(oleh : Eddy Dwinanto Iskandar)

 sumber: http://swa.co.id/2011/05/kaderisasi-bisnis-gaya-si-mantan-anak-bandel/

Mantan Profesional yang Sukses Menjadi Pengusaha IT

Berbekal kejelian meneropong potensi bisnis distribusi infrastruktur TI di masa depan, dua profesional menghidupkan kembali bisnis yang dibekukan induk perusahaan tempat mereka bekerja. Delapan tahun kemudian, bisnis mereka mampu menangguk omset ratusan miliar rupiah. Bagaimana strateginya?

Harry Surjanto merupakan contoh sukses profesional yang loncat ke kuadran pengusaha. Ketika di tahun 2000 menjabat sebagai Chief Operational OfficerPT Computrade Indonesia (CTI), anak usaha PT Multipolar Tbk., ia dan rekannya, Rachmat Gunawan, General Manager di perusahaan yang sama,melihat peluang besar. Kala itu Multipolar yang membidangi jasadan konsultansiintegrator sistem tengah menajamkan fokusbisnisnya dengan ‘membekukan’ lini usaha yang tidak sejalan dengan bisnis intinya.

Bidang usaha CTI, yakni perdagangan solusi server, dianggap kurang sesuai dengan bisnis inti Multipolar. Padahal, saat itu CTI sudah berjalan cukup baik dan telah memiliki existingbusiness partner danend user. Setelah CTI ‘dibekukan’ maka,kedua petingginya, Harry dan Gunawan, memutuskan menghidupkan kembali bisnis tersebut dengan entitas berbeda, PT Computrade Technology International, yang juga disingkat CTI.

Tak mau setengah-setengah, bersamaan dengan pendirian perusahaan pada tahun 2003, mereka berdua lantas mundur dari Multipolar. “ Selain memang harus terjun langsung dan fokus membesarkan perusahaan yang bagi kami masih baru itu, rasanya juga tidak enak kami bergerak di dua tempat,” ujar Harry yang mengaku mengucurkan dana Rp 5 miliar untuk pendirian dan operasionalisasi CTI sepanjang tahun 2003 itu.

Dan,keuntungan ‘meneruskan’ usaha dari bisnis yang telah berjalan sebelumnya adalah: entitas tersebut telah memiliki jejaring dan produk yang dapat diandalkan. PT Computrade Indonesia yang dimiliki Multipolar sebelumnya memang telah memegang hak distribusi produk server IBM dan Oracle. Nah, oleh Harry dan Gunawan, produk dari kedua merek itu lantas turut dipegang hak distribusinya di bawah PT Computrade Technology International.

Di bisnis terkait teknologi informasi (TI),dua bidang yang sangat sarat menggunakannya adalah perbankan dan telekomunikasi, kendati bidang lain juga banyak menggunakan TI,seperti ritel, pemerintah dan hospitality.Demi meluaskan pasar, mereka pun merambah berbagai industri, menggandeng banyak mitra bisnis, dan mengedukasi pasar. Sekadar informasi, dalam bisnis perdagangan atau distribusi produk TI untuk kalangan korporat seperti yang dilakukan CTI, para pemainnya diharuskan menjual melalui reselleralias mitra bisnis. Nah, resellerinilah yang menjual ke end userdi berbagai industri.

Meski CTI bisa dibilang diawali dari titik nol kembali, namun di akhir 2003 omsetnya sudah mencapai US$10 juta. Dan,dalam kecepatan yang tidak bisa dibilang lambat, bisnis mereka terus berkembang.

Selanjutnya, dalam berbisnis perusahaan yang berkantor pusat di Gedung BIP Lantai 7 Jalan Gatot Subroto, Jakarta itu menerapkan beberapa protokol untuk mengatur persaingan yang wajar. Tujuannya, menghindari konflik antarmitra bisnis. Misalnya, ada mitra bisnis baru yang hendak memasukkan penawaran produk CTI ke end user yang sudah “dipegang” mitra bisnis lain, maka CTI wajib menginformasikan dulu. ”Kami bilang ke pemain baru ini, ‘Lahan ini sudah ada yang garap, si A. Saran kami, Anda masuk ke lahan yang belum ada pemainnya, bidang x,y,z’,” Harrymenguraikan. Kepada si pemain yang sudah masuk alias incumbent, CTI juga menginformasikan bahwa ada pemain baru yang akan memasuki lahannya. Pemberitahuan dua arah ini diinformasikan kepada kedua pihak, calon pemain baru dan pemain lama, dengan terbuka. Tujuannya,demi menghindari konflik. “Sudah kenyang Mas kami menghadapi masalah konflik business partner,” tutur Harry menjelaskan alasan diterapkannya protokol tersebut.

Kedua, Harry membuatkan sistem online pipeline center lengkap dengan sistem business intelligence di dalamnya. Sistem yang sejatinya merupakan toolscustomer relationship management(CRM) ini mengelola dan mencatat data sejarah transaksi dan proses bisnis yang telah, sedang, ataupun akan berlangsung antara CTI dan paramitra bisnis. Jadi, business partnercukup berbicara dengan staf kami dan akan kami input-kan secara manual. Jadi,kami tahu business partnermana saja yang telah membeli produk kami, kamijuga akan mengetahui business partnertersebut sudah melakukan transaksi apa di end usermana,” ujar Harry.

Sebagai distributor, CTI rupa-rupanya sudah hapal dengan persoalan konflik antarmitra bisnis. Intinya,perselisihan itu berpangkal dari masalah “wilayah kekuasaan”. ”Jadi,dengan online pipeline center ini, kami jadi tahu detail siapa yang masuk duluan ke dalam suatu perusahaan yang tengah diincar kedua belah pihak,” kata Harry. Dengan demikian, tidak ada lagi debat kusir mempersoalkan siapa yang lebih berhak menawarkan solusi untuk suatu perusahaan.

Adapun untuk dapat memanfaatkan sistem ini, yang diperlukan hanyalah kemauan melaporkan proses bisnis yang tengah berlangsung di mitra bisnis. ”Karena sistem ini hanya melacak yang dicatat. Jadi, kalaubusiness partnertidak mau mencatatkan di sistem ini, ya terserah mereka. Tapi jika nanti ada konflik, yang keluar hanya yang tercatat,” ujar Harry lagi, menyinggung sistem yang dipasangnya pada 2008 itu. Dan,demi meningkatkan nilai tambahnya, sejak 2006 CTI juga telah memiliki sentra teknologi.Fungsinya untuk mengujicoba antara perangkat server,dan software serverdengan sistem di perusahaan klien. ”Kan gaklucu kalau sistem downpas uji coba di perangkat klien. Apalagi, di perbankan yang kalau error bisa bikin duit nasabah jadi nol, sama sekali tidak lucu itu,” ungkap Harry.

Sarana yang tidak dimiliki semua distributor itu juga dilengkapi dengan belasan unit komputer dalam satu ruang hingga menyerupai ruang kelas. ”Jadi, selain bisa untuk uji coba sekaligus trainingbagi end user. Business partneryang sedang mendekati kliennya silakan saja memakai tempat ini. Kami sendiri hanya mencoba memikirkan apa kebutuhan business partnerkami,” kata Harry seraya menyebutkan, sarana ini sangat memudahkan mitra bisnis dalam menjaring klien.

Terkait produk yang didistribusikannya, CTI rata-rata menambah satu prinsipal saja pertahun. “Berhubung sudah memiliki nama baik,belakangan beberapa prinsipal dengan merek yang tidak sepopuler produk sebelumnya mulai didistribusikan juga,” Harrymenerangkan. Total kini terdapat lebih dari 15 merek yang didistribusikan, antara lain dari IBM, Oracle, EMC, Fortinet, Sopphos, Redhat dan Riverbed. Adapun solusi yang ditawarkan berupa solusi server, solusi penyimpanan (storage) dan sistem operasi. Sementara mitra bisnis CTI kini mencapai 300 pihak lebih yang terdiri dari integrator sistem, vendor software independen, dan konsultan TI.

CTI pun memiliki kriteria tersendiri dalam memilih prinsipal, di antaranya keunggulan teknologinya dan komitmennya dalam memasuki pasar Indonesia. Tak ketinggalan, seberapa banyak distributor yang sudah eksis di Nusantara. “Karena distributor itu ibarat istrinya prinsipal. Kamitidak mau dong yang sudah memiliki istri banyak, nanti kurang perhatian ke kami, hahaha,” ujar Harry sembari tertawa.

Kini struktur organisasi tertata lebih rapi, tidak seperti saat awal merintis dulu. Dan kerja keras pun terus dilakukan, misalnya setiap Jumat meetingpukul 8 pagi. Staf yang terlambat meeting didenda Rp 20 ribu, manajer Rp 50 ribu, general manager Rp 100 ribu, dan direktur Rp 500 ribu. “Hasilnya,dibelikan makanan dan minuman ringan untuk mengisi kulkas kejujuran. Masukkan sendiri uangnya ke kotak uang bagi yang mau beli. Yang bahaya, kalau kulkas itu kosong,tapi gakada duitnya. Pada gakjujur berarti, ha-ha-ha,” ujar Harry, lagi-lagi sambil tertawa.

Harry sendiri lebih banyak mengurusi laporan keuangan, sedangkan Gunawan di pemasaran. Meski demikian, Harry mengaku tidak terlalu memusingkan uraian tugas karena lebih berfokus mengelola perusahaan dengan gaya management by objective. Jadi,kalau karyawan merasa suatu fungsi membantu dalam pencapaian tujuannya, itu menjadi pekerjaan dia juga,” ujarnya. Namun,tambahnya,Kalaulaporan keuangan jelek,itu jadi urusan saya. Gunawan banyak mengurusi marketing. Untuk urusan yang bersifat strategis, kami semua terlibat. Sementara sistem eksekusi pada saya.”

CTI juga menerapkan keleluasaan bekerja bagi karyawan. Contohnya, tidak menerapkan sistem absensi secara ketat. Yang terpenting, kemajuan pekerjaannya terpantau. Akan tetapi, jika seorang karyawan tidak masuk sebulan lebih,tentu atasan akan diminta mengingatkan bawahannya.

Karyawan juga diberi kartu membership salah satu pusat kebugaran di Jakarta. Tujuannya, agar CTI bisa meningkatkan produktivitas karyawan dan perusahaan. “Tapi,dari 200 karyawan kami, yang memakainya cuma100. Banyak yang gaksempat memakainya dengan berbagai alasan, sibuk, macet, dan sebagainya. Termasuk ini nih, ” ujar Harry seraya menunjuk Lugas M. Satrio,Kepala Komunikasi CTI yang turut mendampingi wawancara dan hanya bisa tertawa ditunjuk seperti itu.

Produktivitas juga menjadi salah satu alasan mengapa CTI memecah diri menjadi lima anak usaha di awal tahun 2011 ini. Menurut Harry, dengan membagi fokus ke dalam lima bidang, fleksibilitas akan tetap terjaga. Anak usaha tersebut adalah PT Blue Power Technology, PT Central Data Technology, PT Virtus Technology Indonesia, PT Niaga Prima Paramitra dan PT Xsis Mitra Utama. Ketiga perusahaan yang disebut terakhir merupakan hasil akuisisi CTI. Adapun CTI kemudian membagi pengelolaan produk-produk yang mereka distribusikan ke tiga anak perusahaan. Blue Power mengurus produk IBM, Central Data menangani produk Oracle, dan Virtus menangani produk dari prinsipal lainnya seperti Kace, EMC, Sopphos dan Redhat. Dua anak usaha lainnya menangani solusi infrastruktur alih daya dan pendidikan.

Hasil berbagai pembenahan yang dilakukan berkala dari tahun ke tahun itu terasa hingga kini. Hanya dengan 25 karyawan dan omset US$ 10 juta pada 2003, kini di akhir 2010 pendapatan CTI berlipat sembilan, menyentuh angka US$ 90 juta dengan 200 karyawan. “Tahun ini saya targetkan Rp 1 triliun. Dan di 2013 saya ingin omset mencapai Rp 1,5 triliun dan go public,” ujar Harry yang kini memegang 30% saham, sementara Gunawan 15% dan selebihnya dipegang beberapa partner mereka yang tergabung dalam perusahaan solusi TI Anabatic Technologies.

Tidak puas hanya dengan pasar dalam negeri,Harrydan timnya juga akan mengembangkan perusahaannya ke regional. “Sepengetahuan saya, belum ada perusahaan distributor TI yang masuk ke regional. Kalau dari luar ke Indonesia sih, banyak,”kata Harry yang akan memfokuskan diri berekspansi ke negara ASEAN dulu.

Ketika diminta komentarnya, Harijono Suwarno, Direktur Pengelola Multipolar,yang kini menjadi salah satu mitra bisnis CTI,mengatakan, keunggulan layanan CTI bukan semata dari hubungan bisnis. “Tetapi juga pendekatan personal dan technical support.Saya melihat CTI menerapkan layanan menyeluruh karena sebagai late comerharus memberikan value added,” ujarnya.

Harijono pun menyarankan CTI untuk mempertahankan winning valuestersebut meskipun perusahaan bertambah besar. Selain itu,CTI diminta menempatkan diri dalam posisi pelanggannya, sehingga bisa selalu memberikan layanan terbaik sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pelanggan. Harry dinilai Harijono sebagai pemimpin yang tegas. “Meski demikian, pendekatan personal tetap tidak dilupakan,” ungkap Harijono.

Pengamat dan praktisi pemasaran dan branding, Sumardy, pun memuji pencapaian Harry CS. “ Jika dilihat dari pencapaian revenue-nya, tentu saja ini adalah kesuksesan yang luar biasa dengan pencapaian yang fantastis di tengah iklim bisnis di kategori IT yang juga semakin meningkat tajam,” urai konsultan pemasaran di Octovate tersebut.

Sumardy memaparkan di dalam segmen business to business (B2B) seperti ini, salah satu kunci adalah kemampuan membangun jalur ke perusahaan yang merupakan pelanggan utamanya. “ Menggunakan business partner bisa menjadi pilihan yang cerdas karena CTI cukup fokus di core-nya sebagai distributor dan penyedia produk sedangkan urusan membangun relationship dan penjualan diserahkan kepada business partner.

Tantangan channel conflict menurut Sumardy sudah berhasil diatasi CTI dengan baik. “ Di dalam bisnis seperti ini yang mengandalkan business partner, konflik antar sesama partner merupakan hal yang paling krusial. Namun demikian, seiring dengan semakin banyaknya produk yang didistribusikan, melakukan spesialisasi dan fokus harus menjadi prioritas, sepertinya inisiatif ini sudah dilakukan dengan adanya 5 perusahaan yang dikhususkan untuk lini bisnis yang berbeda,” urai Sumardy.

Terakhir, Sumardy memaparkan, kecenderungan berbagai bisnis serupa CTI adalah mencoba masuk ke kategori lainnya misalnya dengan menjual sesuatu yang terintegrasi. “ Ada baiknya tetap fokus sehingga bisa menguasai industrinya dengan baik. Jadi fokus merupakan kunci utama yang akan membedakannya,” ujar Sumardy memberi saran. (oleh : Eddy Dwinanto Iskandar)

Riset:EviMaulidiyyah Amanayanti

sumber: http://swa.co.id/2011/07/mantan-profesional-yang-sukses-bertaruh-membesarkan-cti/

Nyomananda merajai titik iklan di Jakarta dengan bekal kecerdikan

Tuntutan mandiri sejak kecil membentuk Nyomananda menjadi pribadi yang kuat dan percaya diri. Dengan modal itu, ia membangun Media Indra Buana (MIB). Kini, ia menguasai ratusan titik iklan di Jabodetabek, Bandung, dan Surabaya.

Bisnis periklanan selalu menarik. Tiap tahun, perputaran duit di industri ini bisa triliunan rupiah. Tak heran, banyak perusahaan iklan mengincar titik-titik papan reklame raksasa di jalan protokol yang ada di Jakarta. Salah satu penguasa bisnis ini adalah PT Media Indra Buana yang lebih dikenal dengan logo MIB dalam lingkaran bola.

Kesuksesan MIB tak lepas dari peran Nyomananda, pemilik dan Presiden Direktur MIB. Memulai kiprahnya di bisnis media outdoor sejak 17 tahun silam, kini MIB sudah memiliki lebih dari 100 titik reklame strategis yang tersebar di Jabodetabek. MIB juga memiliki sekitar 60 titik papan iklan reklame yang memakai layar light-emitting diodes (LED). Mereka termasuk yang pertama mengadopsi teknologi ini di Indonesia.

Kesuksesan Nyomananda tidak dibangun sekejap. Ia menitinya dari bawah. Uniknya, sejak kecil, ia tidak pernah berpikir untuk menjadi pengusaha seperti sekarang. “Saya tidak punya cita-cita jadi pengusaha. Sejak dulu, saya hanya ingin sukses,” katanya.

Keinginan kuat untuk sukses muncul karena terdesak oleh kebutuhan hidup. Saat masih berusia enam tahun, Nyomananda, pria berdarah Bali tapi besar di Madura ini, melihat kenyataan bahwa bisnis orang tuanya bangkrut. Bungsu dari lima bersaudara terpaksa menjadi mandiri sejak masuk Panti Asuhan Don Bosco di Surabaya, Jawa Timur. Ia juga jarang bertemu orang tuanya hingga melanjutkan pendidikan SMP, SMA di Bogor, dan lulus perguruan tinggi di Jakarta.

Kehidupan Nyomananda lebih banyak nomaden. Kadang ia tinggal di rumah opanya, kadang ia tinggal di rumah temannya. “Tinggal berpindah dengan berbagai orang yang berbeda membuat saya belajar banyak,” katanya. Ia belajar bergaul dengan berbagai tipe orang, meraih kepercayaan orang, hingga membangun relasi bisnis.

Setelah lulus jurusan akuntansi dari Perbanas, Nyomananda bekerja sebagai akuntan di berbagai perusahaan. Tapi, ia tidak pernah betah lantaran tidak sesuai dengan ambisinya menjadi orang sukses. Setelah empat kali berpindah kerja, pada 1993, ia bekerja di perusahaan ekspor impor rotan dan mebel. Ia juga bekerja sambilan sebagai tenaga pemasaran di sebuah perusahaan media luar ruang, PT Citra Indraloka Puri (CIP). Ia bertugas mencari perusahaan untuk beriklan di beberapa titik papan reklame milik CIP. Komisinya lumayan besar, yaitu sekitar 10%–15%, dari hasil kontrak iklan.

Setahun bekerja dobel, ia merasa semakin jauh dari kesuksesan. Alhasil, pada 1994, pria kelahiran 25 Januari 1964 ini pun memutuskan membuka usaha periklanan sendiri. Modalnya sekitar Rp 275 juta, hasil simpanan dan komisi saat bekerja. Saat mendirikan MIB, ia hanya memiliki sekitar lima karyawan. Selain memimpin perusahaan, ia juga menjadi tenaga pemasaran.

Menjaring klien besar

Sebagai pemain baru di bisnis periklanan, strategi yang diterapkan Nyomananda adalah mencari izin titik reklame dan menarik perusahaan agar mau beriklan. Ia berhasil mendapatkan delapan titik iklan di Bandung, Jawa Barat, dan dua titik papan reklame di Jakarta.

Nyomananda juga membidik satu perusahaan besar. “Saya harus mendapatkan iklan dari HM Sampoerna,” katanya. Dengan mengail nama besar, ia yakin trust atau kepercayaan perusahaan lain ikut naik. Ia rela bolak-balik Jakarta–Surabaya naik kereta dan menginap di hotel murah untuk menembus akses ke HM Sampoerna.

Akhirnya, Nyomananda berhasil meyakinkan salah satu eksekutif sehingga mendapatkan proyek iklan. “Saya berhasil memberikan kualitas layanan yang membuat mereka percaya terus kepada kami,” katanya. Selanjutnya, beberapa perusahaan rokok juga mempercayakan iklannya ke MIB.

Strategi mendapatkan sebanyak mungkin titik iklan di Jakarta terus berlanjut. Nyomananda cerdik mengambil hati Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta dengan membantu renovasi Bundaran Hotel Indonesia (HI) pada tahun 2001. Sebagai kompensasi, ia mendapat 12 titik iklan pilihan.

Nyomananda kembali mendapatkan titik iklan setelah ikut membangun air mancur menari di Monas. “Sebenarnya, lebih mudah mengajukan izin titik papan reklame. Tapi, hal itu tidak memberikan keuntungan lebih bagi Pemprov,” katanya.

Nyomananda juga berani berinovasi dengan memasang banyak iklan videotron. “Layar videotron LED menjadi media iklan yang sekarang booming,” katanya. Dengan cara ini, perusahaan rokok masih setia beriklan lewat MIB.

Kini, pendapatan MIB mencapai Rp 100 miliar setahun dengan pertumbuhan bisnis 15%–20% setiap tahun. “Modal saya adalah kepercayaan pelanggan,” katanya. Ke depan ia ingin membangun 150 titik lagi di Surabaya dan kota-kota besar lain. Ia juga berharap menggaet investor asing strategis. “Salah satu rencana kami adalah dengan go public,” katanya.

Sumber: http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1324639568/86075/Nyomananda-merajai-titik-iklan-di-Jakarta-dengan-bekal-kecerdikan

Kisah Sukses Si Raja Speaker Lokal yang Mengglobal

Karena mau belajar, mencoba dan berusaha, Harry sukses membangun bisnis speaker V8Sound.com. Sebanyak 19 negara di Asia dan Eropa membeli produknya. Bagaimana pergulatannya?

Nama Harry Kiss boleh jadi kalah populer dibandingkan penyanyi muda Vidi Aldiano. Meski hubungan mereka adalah ayah-anak dan sama-sama menggeluti bidang seni suara, dua laki-laki beda generasi ini beda nasib. Vidi dikenal sebagai penyanyi muda top, sementara kiprah Harry sebagai pengusaha penghasil suara alias speaker merek V8Sound.com dan event organizer(EO) tidak banyak terdengar. Padahal, Harry Kiss Production sudah meramaikan bisnis sejak 1994 dan bersaing di pasar internasional.

Barangkali, soal popularitas hanya masalah waktu. Pasalnya, bulan lalu, tepatnya pada 6-9 April, speaker V8Sound.com milik Harry menjadi buah bibir dalam pameran internasional pro-audio Mess Frankfurt Prolight +Sound 2011. Masih di hari pertama ekshibisi saja, sudah ada 19 negara yang memesan produk V8.Sound.com dengan nilai transaksi order mencapai US$ 3,8 juta. Jumlah itu naik US$ 1,6 juta dibandingkan tahun 2010. Adapun 19 negara itu adalah Oman, Meksiko, Maroko, Jerman, Jepang, Thailand, Amerika Serikat, Taiwan, Selandia Baru, Malta, Spanyol, Rusia, Cyprus, Prancis, Filipina, Cina, Belgia, Kroasia dan Italia. “Terbukti orang Indonesia bisa bikin speaker bagus dan mendunia kok,”ujar pemilik nama lengkap Harry Aprianto Kissowo itu.

Dikatakan pria kelahiran Semarang 5 Oktober 1961 itu, awalnya dia menjalani bisnis EO (sejak 17 tahun lalu). Kemudian, dalam perjalanan, dia merambah usaha sound systempada 2003. Usaha sound systemini pun sebenarnya bukan yang pertama. Tahun 1986 Harry menjadi karyawan perusahaan rekaman Puspita Record milik Astakona Hartono.

Menurut Harry, banyak hal yang serba kebetulan dalam hidupnya, termasuk bisnis-bisnis yang digelutinya. Bisnis EO berawal dari ketidaksengajaan melihat presentasi open plan Amway Network21 di Wisma Karsa Pemuda, Senayan. Ketika sedang menunggu calon klien (waktu itu Harry menekuni bisnis desain & arsitektur dengan dua teman musisi, Erwin Gutawa dan Jay Subiakto), Harry mencium peluang bisnis dari event yang digelar saban bulan. Apa itu? Menjual kaset presentasi Network 21. Sebab, ia melihat, selama Paul Agus, petinggi Amway Network21 Indonesia, memberikan presentasinya, hampir semua peserta merekamnya. “Kalau rekaman ini dikelolanya, selain lebih baik kualitasnya, juga pasti lebih murah,” pikirnya waktu itu.

Paul Agus, yang kebetulan rumahnya tak jauh dari tempat tinggal Harry, menyambut gembira. Harry menjelaskan bahwa dia bergerak di industri rekaman. Rupanya mereka berjodoh, lantaran Paul juga sedang mencari pengusaha rekaman. “Saya ke rumah Paul memakai BMW seri terbaru, pemberian dari Pak Astakona yang menyarankan agar penampilan produser rekaman tidak boleh kelihatan miskin, meski tidak punya uang banyak,” ujar suami Besba Rini itu mengenang.

Hasil pertemuan empat mata itu cukup melegakan Harry. Network21 sepakat memakai jasa Harry Kiss

Production (HKP) untuk mencetak kaset presentasi Network21 sebanyak 150 kaset. Awalnya, dia agak kecewa karena jumlah order kaset sedikit. Di Puspita Record saja, order untuk album terjelek, minimum diproduksi 5.000 kaset. Namun, karena saat itu masih memiliki proyek penggandaan low speed, order itu tetap diterima. Harry pun sadar, kalau order kecil Network21 tidak diterima saat itu, belum tentu bisnisnya akan semaju sekarang.

Seiring dengan berjalannya waktu, jumlah permintaan duplikasi kaset dari Network21 naik menjadi 300, 500, 1.000, 10.000, hingga akhirnya mencapai puluhan ribu kaset per bulan dan sekarang beralih ke bentuk compact disc (CD). Penjualan kaset dan CD hanya untuk internal anggota jaringan Network21. Sayang, Sarjana Teknik Elektro dari Universitas Indonesia itu ogah menyebutkan nilai uang proyek tersebut.

Tidak puas hanya menggarap produksi kaset/CD Network 21, Harry menawarkan diri untuk mengurus eventperusahaaan multilevel marketing itu lewat bendera HKP. Tak diduga, tawaran itu pun diterima. Alhasil, selama melakukan duplikasi kaset/CD, pihaknya juga menggarap event-event Network 21 di Senayan. Pada oktober 1994, HKP sudah membuat eventdi Istora Senayan dengan panggung besar yang didesain oleh Peter Saerang. “Menurut saya, itu adalah pertama kalinya saya menyaksikan desain panggung terbagus,” kata Harry memuji. Namun, waktu itu HKP belum memiliki sound, sehingga terpaksa sewa lighting, sound system,dan berbagai perlengkapan panggung dari sejumlah macam kontraktor. Salah satunya, lighting dari Mata Elang. Bahkan, selanjutnya HKP juga diberi wewenang memproduksi video acara-acara Network21.

Batu kerikil sempat menganggu perjalanan bisnis Harry yang sedang mulus. Rental soundyang sempat diandalkan HKP ternyata justru membuat nama baik perusahaan tercoreng. Ini dikarenakan perusahaan rental soundalih daya itu memberi soundberkualitas buruk. Akibatnya, pihak Network21 marah dan HKP diultimatum untuk segera memiliki fasilitas sound systemsendiri. Tahun 2000, Harry menyanggupi dan membeli sound systemsejenis JBL. Berikutnya, HKP membeli produk merek Meyer yang luar biasa karena harganya mencapai US$ 11-14 ribu per boks yang isinya cuma speaker.

Lantaran harga dan biaya perawatan Meyer mahal, Harry berusaha mengembangkan speaker sendiri. Berbekal pengalaman dan perkenalannya dengan Eddy Vermerch, teknisi Meyer asal Belgia yang tinggal di Bangkok, tahun 2006, dia berhasil mengembangkan sendiri. Kebetulan bisnis HKP pun makin besar, sehingga dia mampu mengimpor kayu asal Rusia untuk membuat speaker berkualitas.

Tahun 2006 itu juga Harry memutuskan menyediakan rental speaker. Dan, merek speaker perdana yang diproduksi bernama Minime V8Sound.com. Nama V8Sound.com disematkan karena dia menggemari muscle car dari AS yang selalu memakai mesin dengan spesifikasi V8 kapasitas 5000 cc. Mengapa memakai merek mirip alamat situs perusahaan? Menurut Harry, jurus itu untuk memudahkan konsumen mengingat merek speaker dan meminimalisasi pemalsuan karena speaker tersebut hanya ada di situs miliknya. Adapun nama Minime terinspirasi dari salah satu karakter fiksi film Austin Powers.

Kini, produk V8Sound.com sudah dipakai hampir di seluruh acara televisi nasional. Khususnya untuk perayaan acara ulang tahun atau pertunjukan musik. Bahkan, V8Sound.com juga digunakan untuk acara kenegaraan. Antara lain, acara pelantikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk masa jabatannya yang ke-2, penyambutan Presiden Barrack Obama, dan penobatan gelar doktor honoris causa untuk Sultan Brunei dari Universitas Indonesia. V8 pun menjadi speaker yang menarik banyak perhatian saat pameran di Frankfurt 2011.

Konsumen pun puas dengan speaker V8Sound.com. RCTI, misalnya, telah menggunakan produk buatan Harry itu sejak proyek Indonesian Idol 3 digelar. “Speaker V8Sound.com itu moveable, rapi, kecil, dan mutu tidak kalah dari produk luar. Apalagi, mampu menghemat biaya produksi hingga 30%-40% dibandingkan speaker buatan asing,” Nanang I. Budi, Kepala Kru Audio RCTI, menjelaskan.

Daya tarik lainnya, speaker V8Sound.com juga mengandung unsur nasionalisme. Tanpa sengaja, Harry memberikan sentuhan warna merah-putih. Ini terjadi karena saat V8Sound.com ditarik ke atas seperti menarik bendera merah-putih. “Rupanya Pak SBY suka,” ujarnya bangga seraya menambahkan, SBY datang langsung saat sound checkdilakukan. Selanjutnya, selain speaker, untuk memenuhi kebutuhan rental dan pertunjukan, HKP juga memproduksi subwoofer. Asal tahu saja, speaker V8Sound.com dipasarkan seharga Rp 1,25-25 juta per unit.

Keberhasilan speaker V8Sound.com mengilhami Harry untuk mengembangkan speaker religius dengan nama Al Karim untuk masjid seharga Rp 20 juta/unit. Ternyata, di pasaran produk itu juga diminati untuk speaker gereja dan upacara keagamaan lain.

Setelah itu, Harry juga memproduksi speaker untuk militer dengan nama V8 Commando. Speaker jenis militer ini unik, sehingga menarik banyak pengunjung pameran di Jerman. Diakuinya, produk itu lahir karena proses diskusi dengan Kolonel CHB Kembar Maruto Widhi, Kahubdam IX/Udayana. Mereka bertemu ketika Harry mengadakan pameran di Bali tahun 2009. “Dari sana muncul cerita kebutuhan sound system untuk militer, sehingga lahirlah speaker V8 Commando dan Ironman (masih ujicoba),” ujar Harry.

Meski bisa memproduksi speaker plus subwoofer, menurut Harry, aset terpenting HKP adalah kru. Alasannya, kru yang menentukan layak-tidaknya untuk terjun ke rental, memberikan masukan dari kualitas mid-hi, jangkauan suara (kurang jauh atau tidak), hingga letak pemasangan baut speaker. Kini, Harry sudah mempekerjakan 350 kru.

Di pasar domestik, produk V8Sound.com lebih banyak disewakan. Namun, speaker buatan Harry itu sudah diekspor ke Swiss, Myanmar, Singapura dan Cina. Sayangnya, Harry enggan mengatakan berapa nilainya. “Masih kecil sekali karena kami baru mulai tahun 2010,” dia berkilah. Dia berpendapat, pasar speaker Indonesia akan berkembang dengan sendirinya bila pasar ekspor sudah bagus. Pemasaran ke mancanegara adalah misi Harry, sehingga pihaknya jarang mengikuti pameran di dalam negeri.

Produksi speaker V8Sound.com belum mempunyai pabrik tetap. Meski sudah ada ruang pajang di Bintaro, karena kebutuhan meningkat, tempat itu tidak muat. Akibatnya, Harry memproduksi dengan mengalihdayakannya ke beberapa pabrik, seperti Tangerang, Batam, Surabaya, bahkan ada yang di Cina khusus untuk speaker seri V8 C3PO. Kayu tetap impor langsung dari Rusia, dan di sini tinggal merakitnya. Driver dibuat di pabrik Surabaya, dan sebagian dibeli dari Italia dan Prancis. Sementara subwoofer dibuat di pabrik Jakarta.

Bagaimana gambaran omset V8Sound.com? Harry mengaku, kini omsetnya sedang naik lantaran kebutuhan perusahaan untuk rental terus meningkat. Dari tiga set sound system yang dimiliki, berkembang menjadi 18 unit. Harga 1 set sound system minimal Rp 1 miliar.

Bagi Handito Hadi Joewono, Harry adalah pengusaha yang jeli membidik celah pasar. “Meski pasarnya miss karena tidak bisa berkembang lagi, Pak Harry bisa kreatif. Ke depannya dituntut untuk lebih kreatif dan tidak boleh cepat berpuas diri,” ujar pengamat kewirausahaan itu menyarankan.

Ke depan, Harry berharap bisa membangun pabrik sendiri. “Speaker itu butuh sentuhan tangan sendiri

karena produk V8Sound.com untuk segmen pasar premium,” ungkap Harry tentang alasannya hendak mendirikan pabrik sendiri. Dia optimistis terhadap prospek bisnis speaker V8Sound.com. Pasalnya, konsumen bukan hanya dari dunia hiburan, tetapi juga kalangan masjid, gereja, militer, polisi, dan mereka yang membutuhkannya untuk acara seremonial yang lain.

Apalagi, potensi bisnisnya masih besar. Omset V8Sound.com setidaknya tergambar dari kebutuhan acara televisi. Tayangan acara terkecil yang butuh dana Rp 100-150 juta belum butuh mixer. Namun, kalau size acara lebih besar dibutuhkan 15-18 mixer, di mana kalau beli, per unitnya mencapai Rp 350-800 juta.“Jadi kalau sewa dengan biaya Rp 100 juta , ya murah sekali,” kata Harry. Sejauh ini investasi Harry untuk pengadaan mixer di atas Rp 30 miliar.

Langkah selanjutnya, Harry membuat monitor speaker yang dapat dimanfaatkan untuk iklan. Dia juga akan mengenbangkan V8Sound.com dengan banyak inovasi.

Yang pasti, kini Harry sedang menikmati buah kesuksesannya. Salah satu mimpinya adalah memproduksi mikrofon yang mulai jadi prototipe, dengan standar mutu tidak jauh dari mikrofon merek Nuemann. “Kebutuhan akan mikrofon untuk rental juga sangat besar dan kalau bisa tahun ini bisa mulai,” ucap mantan dosen elektronik dasar dan instrumentasi di sebuah perguruan tinggi itu tentang alasannya membuat mikrofon. Harry mengaku, kunci sukses bisnisnya adalah tidak pernah mengesampingkan sebuah peluang. Apalagi, dalam membangun usaha selain kerja keras juga diperlukan gaya hidup hemat. (*)

Reportase: Yurivito Kris Nugroho

Perjalanan Bisnis Harry Kiss

  • 1986, terjun ke bisnis arsitektur & furnitur

  • 1988, bekerja di Puspita Record sembari belajar bisnis rekaman

  • 1994, mendirikan perusahaan event organizer Harry Kiss Production
  • 2003, menngembangkan produk speaker yang pertama, hasil mentoring dengan Eddy Vermech, teknisi speaker Meyer di Bangkok
  • 2006, mengembangkan speaker Minime V8Sound.com
  • Selanjutnya, memproduksi speaker religius, speaker militer (Commando & Ironman)
  • Produknya menjadi buah bibir dalam pameran internasional pro-audio Mess Frankfurt Prolight +Sound 2011

(oleh : Eva Martha Rahayu)

sumber: http://swa.co.id/2011/07/raja-speaker-lokal-yang-mengglobal/