Kisah Sukses Si Raja Speaker Lokal yang Mengglobal


Karena mau belajar, mencoba dan berusaha, Harry sukses membangun bisnis speaker V8Sound.com. Sebanyak 19 negara di Asia dan Eropa membeli produknya. Bagaimana pergulatannya?

Nama Harry Kiss boleh jadi kalah populer dibandingkan penyanyi muda Vidi Aldiano. Meski hubungan mereka adalah ayah-anak dan sama-sama menggeluti bidang seni suara, dua laki-laki beda generasi ini beda nasib. Vidi dikenal sebagai penyanyi muda top, sementara kiprah Harry sebagai pengusaha penghasil suara alias speaker merek V8Sound.com dan event organizer(EO) tidak banyak terdengar. Padahal, Harry Kiss Production sudah meramaikan bisnis sejak 1994 dan bersaing di pasar internasional.

Barangkali, soal popularitas hanya masalah waktu. Pasalnya, bulan lalu, tepatnya pada 6-9 April, speaker V8Sound.com milik Harry menjadi buah bibir dalam pameran internasional pro-audio Mess Frankfurt Prolight +Sound 2011. Masih di hari pertama ekshibisi saja, sudah ada 19 negara yang memesan produk V8.Sound.com dengan nilai transaksi order mencapai US$ 3,8 juta. Jumlah itu naik US$ 1,6 juta dibandingkan tahun 2010. Adapun 19 negara itu adalah Oman, Meksiko, Maroko, Jerman, Jepang, Thailand, Amerika Serikat, Taiwan, Selandia Baru, Malta, Spanyol, Rusia, Cyprus, Prancis, Filipina, Cina, Belgia, Kroasia dan Italia. “Terbukti orang Indonesia bisa bikin speaker bagus dan mendunia kok,”ujar pemilik nama lengkap Harry Aprianto Kissowo itu.

Dikatakan pria kelahiran Semarang 5 Oktober 1961 itu, awalnya dia menjalani bisnis EO (sejak 17 tahun lalu). Kemudian, dalam perjalanan, dia merambah usaha sound systempada 2003. Usaha sound systemini pun sebenarnya bukan yang pertama. Tahun 1986 Harry menjadi karyawan perusahaan rekaman Puspita Record milik Astakona Hartono.

Menurut Harry, banyak hal yang serba kebetulan dalam hidupnya, termasuk bisnis-bisnis yang digelutinya. Bisnis EO berawal dari ketidaksengajaan melihat presentasi open plan Amway Network21 di Wisma Karsa Pemuda, Senayan. Ketika sedang menunggu calon klien (waktu itu Harry menekuni bisnis desain & arsitektur dengan dua teman musisi, Erwin Gutawa dan Jay Subiakto), Harry mencium peluang bisnis dari event yang digelar saban bulan. Apa itu? Menjual kaset presentasi Network 21. Sebab, ia melihat, selama Paul Agus, petinggi Amway Network21 Indonesia, memberikan presentasinya, hampir semua peserta merekamnya. “Kalau rekaman ini dikelolanya, selain lebih baik kualitasnya, juga pasti lebih murah,” pikirnya waktu itu.

Paul Agus, yang kebetulan rumahnya tak jauh dari tempat tinggal Harry, menyambut gembira. Harry menjelaskan bahwa dia bergerak di industri rekaman. Rupanya mereka berjodoh, lantaran Paul juga sedang mencari pengusaha rekaman. “Saya ke rumah Paul memakai BMW seri terbaru, pemberian dari Pak Astakona yang menyarankan agar penampilan produser rekaman tidak boleh kelihatan miskin, meski tidak punya uang banyak,” ujar suami Besba Rini itu mengenang.

Hasil pertemuan empat mata itu cukup melegakan Harry. Network21 sepakat memakai jasa Harry Kiss

Production (HKP) untuk mencetak kaset presentasi Network21 sebanyak 150 kaset. Awalnya, dia agak kecewa karena jumlah order kaset sedikit. Di Puspita Record saja, order untuk album terjelek, minimum diproduksi 5.000 kaset. Namun, karena saat itu masih memiliki proyek penggandaan low speed, order itu tetap diterima. Harry pun sadar, kalau order kecil Network21 tidak diterima saat itu, belum tentu bisnisnya akan semaju sekarang.

Seiring dengan berjalannya waktu, jumlah permintaan duplikasi kaset dari Network21 naik menjadi 300, 500, 1.000, 10.000, hingga akhirnya mencapai puluhan ribu kaset per bulan dan sekarang beralih ke bentuk compact disc (CD). Penjualan kaset dan CD hanya untuk internal anggota jaringan Network21. Sayang, Sarjana Teknik Elektro dari Universitas Indonesia itu ogah menyebutkan nilai uang proyek tersebut.

Tidak puas hanya menggarap produksi kaset/CD Network 21, Harry menawarkan diri untuk mengurus eventperusahaaan multilevel marketing itu lewat bendera HKP. Tak diduga, tawaran itu pun diterima. Alhasil, selama melakukan duplikasi kaset/CD, pihaknya juga menggarap event-event Network 21 di Senayan. Pada oktober 1994, HKP sudah membuat eventdi Istora Senayan dengan panggung besar yang didesain oleh Peter Saerang. “Menurut saya, itu adalah pertama kalinya saya menyaksikan desain panggung terbagus,” kata Harry memuji. Namun, waktu itu HKP belum memiliki sound, sehingga terpaksa sewa lighting, sound system,dan berbagai perlengkapan panggung dari sejumlah macam kontraktor. Salah satunya, lighting dari Mata Elang. Bahkan, selanjutnya HKP juga diberi wewenang memproduksi video acara-acara Network21.

Batu kerikil sempat menganggu perjalanan bisnis Harry yang sedang mulus. Rental soundyang sempat diandalkan HKP ternyata justru membuat nama baik perusahaan tercoreng. Ini dikarenakan perusahaan rental soundalih daya itu memberi soundberkualitas buruk. Akibatnya, pihak Network21 marah dan HKP diultimatum untuk segera memiliki fasilitas sound systemsendiri. Tahun 2000, Harry menyanggupi dan membeli sound systemsejenis JBL. Berikutnya, HKP membeli produk merek Meyer yang luar biasa karena harganya mencapai US$ 11-14 ribu per boks yang isinya cuma speaker.

Lantaran harga dan biaya perawatan Meyer mahal, Harry berusaha mengembangkan speaker sendiri. Berbekal pengalaman dan perkenalannya dengan Eddy Vermerch, teknisi Meyer asal Belgia yang tinggal di Bangkok, tahun 2006, dia berhasil mengembangkan sendiri. Kebetulan bisnis HKP pun makin besar, sehingga dia mampu mengimpor kayu asal Rusia untuk membuat speaker berkualitas.

Tahun 2006 itu juga Harry memutuskan menyediakan rental speaker. Dan, merek speaker perdana yang diproduksi bernama Minime V8Sound.com. Nama V8Sound.com disematkan karena dia menggemari muscle car dari AS yang selalu memakai mesin dengan spesifikasi V8 kapasitas 5000 cc. Mengapa memakai merek mirip alamat situs perusahaan? Menurut Harry, jurus itu untuk memudahkan konsumen mengingat merek speaker dan meminimalisasi pemalsuan karena speaker tersebut hanya ada di situs miliknya. Adapun nama Minime terinspirasi dari salah satu karakter fiksi film Austin Powers.

Kini, produk V8Sound.com sudah dipakai hampir di seluruh acara televisi nasional. Khususnya untuk perayaan acara ulang tahun atau pertunjukan musik. Bahkan, V8Sound.com juga digunakan untuk acara kenegaraan. Antara lain, acara pelantikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk masa jabatannya yang ke-2, penyambutan Presiden Barrack Obama, dan penobatan gelar doktor honoris causa untuk Sultan Brunei dari Universitas Indonesia. V8 pun menjadi speaker yang menarik banyak perhatian saat pameran di Frankfurt 2011.

Konsumen pun puas dengan speaker V8Sound.com. RCTI, misalnya, telah menggunakan produk buatan Harry itu sejak proyek Indonesian Idol 3 digelar. “Speaker V8Sound.com itu moveable, rapi, kecil, dan mutu tidak kalah dari produk luar. Apalagi, mampu menghemat biaya produksi hingga 30%-40% dibandingkan speaker buatan asing,” Nanang I. Budi, Kepala Kru Audio RCTI, menjelaskan.

Daya tarik lainnya, speaker V8Sound.com juga mengandung unsur nasionalisme. Tanpa sengaja, Harry memberikan sentuhan warna merah-putih. Ini terjadi karena saat V8Sound.com ditarik ke atas seperti menarik bendera merah-putih. “Rupanya Pak SBY suka,” ujarnya bangga seraya menambahkan, SBY datang langsung saat sound checkdilakukan. Selanjutnya, selain speaker, untuk memenuhi kebutuhan rental dan pertunjukan, HKP juga memproduksi subwoofer. Asal tahu saja, speaker V8Sound.com dipasarkan seharga Rp 1,25-25 juta per unit.

Keberhasilan speaker V8Sound.com mengilhami Harry untuk mengembangkan speaker religius dengan nama Al Karim untuk masjid seharga Rp 20 juta/unit. Ternyata, di pasaran produk itu juga diminati untuk speaker gereja dan upacara keagamaan lain.

Setelah itu, Harry juga memproduksi speaker untuk militer dengan nama V8 Commando. Speaker jenis militer ini unik, sehingga menarik banyak pengunjung pameran di Jerman. Diakuinya, produk itu lahir karena proses diskusi dengan Kolonel CHB Kembar Maruto Widhi, Kahubdam IX/Udayana. Mereka bertemu ketika Harry mengadakan pameran di Bali tahun 2009. “Dari sana muncul cerita kebutuhan sound system untuk militer, sehingga lahirlah speaker V8 Commando dan Ironman (masih ujicoba),” ujar Harry.

Meski bisa memproduksi speaker plus subwoofer, menurut Harry, aset terpenting HKP adalah kru. Alasannya, kru yang menentukan layak-tidaknya untuk terjun ke rental, memberikan masukan dari kualitas mid-hi, jangkauan suara (kurang jauh atau tidak), hingga letak pemasangan baut speaker. Kini, Harry sudah mempekerjakan 350 kru.

Di pasar domestik, produk V8Sound.com lebih banyak disewakan. Namun, speaker buatan Harry itu sudah diekspor ke Swiss, Myanmar, Singapura dan Cina. Sayangnya, Harry enggan mengatakan berapa nilainya. “Masih kecil sekali karena kami baru mulai tahun 2010,” dia berkilah. Dia berpendapat, pasar speaker Indonesia akan berkembang dengan sendirinya bila pasar ekspor sudah bagus. Pemasaran ke mancanegara adalah misi Harry, sehingga pihaknya jarang mengikuti pameran di dalam negeri.

Produksi speaker V8Sound.com belum mempunyai pabrik tetap. Meski sudah ada ruang pajang di Bintaro, karena kebutuhan meningkat, tempat itu tidak muat. Akibatnya, Harry memproduksi dengan mengalihdayakannya ke beberapa pabrik, seperti Tangerang, Batam, Surabaya, bahkan ada yang di Cina khusus untuk speaker seri V8 C3PO. Kayu tetap impor langsung dari Rusia, dan di sini tinggal merakitnya. Driver dibuat di pabrik Surabaya, dan sebagian dibeli dari Italia dan Prancis. Sementara subwoofer dibuat di pabrik Jakarta.

Bagaimana gambaran omset V8Sound.com? Harry mengaku, kini omsetnya sedang naik lantaran kebutuhan perusahaan untuk rental terus meningkat. Dari tiga set sound system yang dimiliki, berkembang menjadi 18 unit. Harga 1 set sound system minimal Rp 1 miliar.

Bagi Handito Hadi Joewono, Harry adalah pengusaha yang jeli membidik celah pasar. “Meski pasarnya miss karena tidak bisa berkembang lagi, Pak Harry bisa kreatif. Ke depannya dituntut untuk lebih kreatif dan tidak boleh cepat berpuas diri,” ujar pengamat kewirausahaan itu menyarankan.

Ke depan, Harry berharap bisa membangun pabrik sendiri. “Speaker itu butuh sentuhan tangan sendiri

karena produk V8Sound.com untuk segmen pasar premium,” ungkap Harry tentang alasannya hendak mendirikan pabrik sendiri. Dia optimistis terhadap prospek bisnis speaker V8Sound.com. Pasalnya, konsumen bukan hanya dari dunia hiburan, tetapi juga kalangan masjid, gereja, militer, polisi, dan mereka yang membutuhkannya untuk acara seremonial yang lain.

Apalagi, potensi bisnisnya masih besar. Omset V8Sound.com setidaknya tergambar dari kebutuhan acara televisi. Tayangan acara terkecil yang butuh dana Rp 100-150 juta belum butuh mixer. Namun, kalau size acara lebih besar dibutuhkan 15-18 mixer, di mana kalau beli, per unitnya mencapai Rp 350-800 juta.“Jadi kalau sewa dengan biaya Rp 100 juta , ya murah sekali,” kata Harry. Sejauh ini investasi Harry untuk pengadaan mixer di atas Rp 30 miliar.

Langkah selanjutnya, Harry membuat monitor speaker yang dapat dimanfaatkan untuk iklan. Dia juga akan mengenbangkan V8Sound.com dengan banyak inovasi.

Yang pasti, kini Harry sedang menikmati buah kesuksesannya. Salah satu mimpinya adalah memproduksi mikrofon yang mulai jadi prototipe, dengan standar mutu tidak jauh dari mikrofon merek Nuemann. “Kebutuhan akan mikrofon untuk rental juga sangat besar dan kalau bisa tahun ini bisa mulai,” ucap mantan dosen elektronik dasar dan instrumentasi di sebuah perguruan tinggi itu tentang alasannya membuat mikrofon. Harry mengaku, kunci sukses bisnisnya adalah tidak pernah mengesampingkan sebuah peluang. Apalagi, dalam membangun usaha selain kerja keras juga diperlukan gaya hidup hemat. (*)

Reportase: Yurivito Kris Nugroho

Perjalanan Bisnis Harry Kiss

  • 1986, terjun ke bisnis arsitektur & furnitur

  • 1988, bekerja di Puspita Record sembari belajar bisnis rekaman

  • 1994, mendirikan perusahaan event organizer Harry Kiss Production
  • 2003, menngembangkan produk speaker yang pertama, hasil mentoring dengan Eddy Vermech, teknisi speaker Meyer di Bangkok
  • 2006, mengembangkan speaker Minime V8Sound.com
  • Selanjutnya, memproduksi speaker religius, speaker militer (Commando & Ironman)
  • Produknya menjadi buah bibir dalam pameran internasional pro-audio Mess Frankfurt Prolight +Sound 2011

(oleh : Eva Martha Rahayu)

sumber: http://swa.co.id/2011/07/raja-speaker-lokal-yang-mengglobal/

About wirasmada

Wirausaha Muda

Posted on 11/06/2011, in Teknologi. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: