Monthly Archives: July 2011

Muliamin: Dari Tangerang, ritsleting menembus ke negeri seberang

Lahir dari keluarga pedagang tidak membuat Muliamin puas. Dia berpikir, pengusaha bukan hanya berdagang tapi harus menciptakan barang. Pikiran tersebut membawa dia menjadi produsen sekaligus eksportir ritsleting terkemuka di Indonesia.

Menggebrak pola pikir dari bisnis dagang menjadi produsen ternyata cukup sulit bagi Muliamin. Maklum, lahir dari keluarga pedagang yang mempunyai kios cukup mapan membuat orang tuanya sangsi dengan bisnis baru anaknya.

Tapi, kesangsian itu sudah terjawab. Saat ini, dengan membawa merek AmcoZip, ritsleting buatan Muliamin mampu menapaki pasar luar negeri. Produk itu sudah diekspor ke beberapa negara, seperti Turki, Bangladesh, Mesir, Argentina, Peru, India, dan Pakistan. PT Fajarindo Faliman Zipper yang membawahi bisnis ini kini memiliki kapasitas produksi sampai 70 ton per bulan.

Omzet Fajarindo juga terus bertumbuh 20%–30% tiap tahun. Pendapatan dari hasil ekspor di tahun 2008 sudah mencapai US$ 2,45 juta. Padahal, kontribusi ekspor hanya 40% dari total omzet Fajarindo. “Paling besar penjualan memang masih berasal dari dalam negeri,” cerita Muliamin. Di dalam negeri, Fajarindo melabeli produknya dengan nama IndoZip.

Saat ini Fajarindo memiliki sekitar 800 karyawan. Jumlah tersebut mulai menipis lantaran semua produksi sudah banyak menggunakan mesin. “Sebelumnya, karyawan bisa mencapai 1.500-an orang,” kenang Muliamin. Kebutuhan karyawan yang begitu tinggi lebih disebabkan Fajarindo telah menghasilkan ritsleting mulai dari hulu sampai hilir.

Pria kelahiran tahun 1946 ini mengaku sebelum memulai bisnis ini hidupnya tidak mulus. Orang tua Muliamin yang berprofesi sebagai pedagang melarang untuk merintis bisnis baru. “Orang tua saya bilang, ngapain kamu susah-susah harus memproduksi segala?” ujar dia.

Tapi, menurut Muliamin, berdagang adalah bisnis tidak ada nilai seninya. Bahkan, pria ini enggan jika harus membantu orang tuanya menjaga warung. “Saya justru bekerja di perusahaan elektronik yang memproduksi radio,” ujar dia. Pria asal Medan ini mengaku memang menyukai pekerjaan merakit atau memproduksi barang.

Tapi tidak dipungkiri, inspirasi memproduksi ritsleting ini memang dari dagangan orang tuanya saat di Medan. “Orang tua saya jualan kebutuhan jahit menjahit seperti benang, ritsleting, kancing, dan lain sebagainya,” tutur Muliamin.

Meski tidak mendapat restu dari orang tua, Muliamin yang saat itu sudah menikah, pada tahun 1979 mulai merantau ke Jakarta untuk memulai bisnis merakit ritsleting. Dia lantas menyewa rumah toko (ruko) di daerah Pinangsia, Jakarta Barat. Saat itu, ia memulai dari merakit ritsleting dari bahan setengah jadi (long chain).

Muliamin cukup diuntungkan dengan kondisi pasar. “Saat itu, permintaan (demand) jauh lebih besar dari pasokan,” aku dia. Tak ayal, produk ritsleting hasil rakitannya banyak diminati orang. Padahal, modal awal untuk membuka bisnis ini tidak besar, bahkan bisa dibilang nol. Soalnya, ia mengambil long chain dari Taiwan. Ada kawannya semasa kuliah yang bekerja di sana dan bersedia memasok barang untuk kemudian diolah kembali menjadi ritsleting jadi.

Muliamin juga diuntungkan karena biasanya orang yang pesan membayar di depan terlebih dahulu sebelum barang jadi. Karena itu, ia tak butuh modal cukup besar saat itu. Apalagi, istrinya sangat membantu dalam memulai bisnis ini. “Istri saya bahkan menjadi pekerja juga saat awal usaha,” ujar dia.

Meski sudah sukses, Muliamin tidak mau berhenti menjadi produsen ritsleting dari bahan setengah jadi. Ia lantas mencoba memproduksi dari awal. Tentunya, memproduksi ritsleting bukan perkara mudah. Di awal usahanya, hasil karyanya banyak dicemooh orang. Maklum, sebagai pemula di bisnis ini, produksinya jauh di bawah standar ritsleting pada umumnya. Tapi, dia tidak putus asa. Muliamin terus mencoba untuk membuat ritsleting dengan kualitas cukup bagus.

Belajar sampai Taiwan

Untuk meningkatkan kualitas produksi, Muliamin belajar ke Taiwan soal produksi ritsleting. Tapi, untuk masuk ke pabrik pembuatan ritsleting di sana tidaklah mudah. “Saya harus menjalin hubungan baik dengan pemilik pabrik untuk dapat belajar di situ,” kata dia. Butuh waktu lima tahun sampai dia bisa menemukan teknik membuat ritsleting dengan kualitas cukup bagus.

Mulai dari sana, kapasitas produksi Muliamin mulai bertambah tiap tahun. Ia lantas memindahkan tempat produksinya ke Jalan Faliaman Raya, Tangerang. Saat ini, di pabrik seluas 10 hektare tersebut, bisnisnya berkembang pesat.

Selain itu, dari semula hanya merambah pasar di Jakarta, Bandung, dan Medan, Muliamin mulai menjual produknya ke luar negeri. Ia mampu menembus pasar luar negeri lantaran punya jaringan dan kemampuan berbahasa Inggris.

Sumber: http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1322213210/83672/Muliamin-Dari-Tangerang-ritsleting-sampai-ke-negeri-seberang

Bambang Krista: Raja bisnis ayam kampung yang rezekinya tak kampungan

Bisnis ayam kampung bisa membawa rezeki berlimpah di ibu kota. Itulah yang dilakukan Bambang Krista, pemilik Citra Lestari Farm di Bekasi, Jawa Barat. Peternakan ayam kampung milik Bambang mampu memasok 5.000 ekor dan 10.000 butir telur ayam kampung per pekan.

Banyak yang berbisnis ayam kampung di negeri ini. Tapi siapa sangka, bisnis ayam kampung bisa menjadi bisnis primadona di perkotaan. Bambang Krista lewat Citra Lestari Farm di Bekasi, Jawa Barat, membuktikan, bisnis ayam kampungnya membuat dia terkenal sebagai pemasok ayam kampung dan telur di Jakarta.

Bambang sukses membangun rantai bisnis ayam kampung itu di Jabodetabek. Bambang tidak hanya menjual ayam kampung siap potong saja, dia juga menjual telur ayam kampung dan bibit ayam kampung atau daily old chicken (DOC).

Dari peternakan ayam kampung miliknya seluas enam hektare (Ha) di Bekasi, Bambang bisa menghasilkan 3.000 sampai 5.000 ekor ayam kampung siap potong per pekan. Selain itu dia juga menyuplai 10.000 butir telur ayam kampung per pekan untuk memenuhi kebutuhan di pasar-pasar di kawasan Jabodetabek saja.

Belum cukup hanya itu, Bambang juga menjual DOC ayam kampung sebanyak 7.000 sampai 10.000 ekor per pekan. “Omzet saya bisa lebih dari Rp 200 juta,” kata Bambang.

Ayam kampung dan telur ayam kampung dari peternakan Bambang tidak hanya masuk pasar tradisional. Bambang juga memasok ayam kampung itu ke pasar modern. Sementara permintaan DOC ayam kampung berdatangan dari peternak ayam kampung di seputaran Jabodetabek dan beberapa peternak di Jawa Barat.

Kesuksesan pria asli Solo ini membangun bisnis ayam kampung tidak datang begitu saja. Bambang bekerja keras agar bisa mengangkat pamor bisnis peternakan ayam kampung tersebut.

Salah satu kiatnya adalah, Bambang menyiapkan dengan baik sebelum terjun di bisnis ini. Lihat saja, sebelum membuka peternakan, Bambang lebih dulu melakukan riset untuk mencari bibit ayam kampung yang unggul. Dia meneliti dengan baik, mulai dari mencari induk unggul hingga telur yang layak ditetaskan.

Karena tekun, Bambang sukses menemukan DOC ayam kampung unggul yang diberi nama DOC ayam kampung super. Keunggulan DOC ayam kampung super itu terletak pada usia panen yang lebih cepat dibanding DOC ayam kampung biasa. “Saya butuh enam kali perkawinan silang untuk menemukan DOC ayam kampung super,” ujar Sarjana Peternakan dari Universitas Diponegoro itu.

Menurut Bambang, membesarkan DOC ayam kampung biasa butuh waktu empat sampai enam bulan. “Berbeda dengan DOC ayam kampung super yang bisa panen setelah usia dua bulan,” terangnya.

Setelah mengetahui kelebihan dari DOC ayam kampung super itu, barulah Bambang memberanikan diri membuka peternakan ayam. Dan tentu saja, Bambang juga melakukan pembibitan DOC ayam kampung super untuk dijual kepada para peternak.

Karena produktif, DOC ayam kampung super itu digemari peternak ayam kampung. Alhasil, nama Bambang Krista menjadi populer di mata peternak. Banyak peternak ayam kampung beralih membeli DOC milik Bambang karena lebih menguntungkan dari sisi produksi.

Apalagi harga jual ayam kampung lebih tinggi dibanding dengan ayam buras. Sebagai perbandingan, harga ayam buras di pasaran Rp 16.000 per kilogram (kg). Sementara, harga jual ayam kampung mencapai Rp 25.000 per kg.

Tapi, kesuksesan Bambang berbisnis tidak membuat dia lupa lingkungan sekitarnya. Bambang kini memiliki 20 peternak binaan di Jonggol, Bogor. “Tadinya warga itu menggantungkan hidup di sektor perdagangan saja,” terang Bambang.

Peternak binaan Bambang itu mendapat pasokan DOC dari Bambang. Setelah dibesarkan peternak, Bambang membantu mereka untuk memasarkannya. Saat ini, para peternak di Jonggol itu bisa menghasilkan 5.000 ekor ayam kampung setiap panen (dua bulan).

Selain memiliki binaan, Bambang juga sering bertandang ke berbagai kota untuk memberikan pelatihan beternak ayam kampung kepada sesama peternak. “Motivasi saya adalah ingin berbagi ilmu,” katanya.

 

Setelah gagal menjadi peternak ayam broiler, Bambang mulai melirik ayam kampung. Namun ia memilih tak menjual ayam namun menjual telur ayam kampung. Dengan kemasan yang baik, Bambang berhasil menjual telur 50% lebih tinggi dari telur lainnya. Setelah berdagang telur sukses, Bambang mulai melirik usaha breeding farm.

Bambang Krista adalah contoh peternak sekaligus pebisnis yang sukses menggabungkan teori dan praktik. Maklum, pria berusia 48 tahun ini merupakan alumni Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro (Undip), Semarang. Bahkan ketika masih kuliah ia kerap dipercaya sebagai asisten dosen untuk beberapa mata kuliah.

Namun, ketika kuliah dulu, Bambang tak pernah bercita-cita menjadi peternak ayam. Bahkan, saat kuliah dia malah tak mengambil mata kuliah tentang unggas. “Saya dulu bercita-cita ingin punya peternakan sapi, seperti di Eropa,” ujar Bambang

Walaupun awalnya tidak menyukai ayam, selepas kuliah pada 1989 ia terpaksa mulai merintis karier sebagai tenaga ahli di sebuah peternakan ayam broiler di Kramat Jati, Jakarta Timur. Dari situlah Bambang mulai tertarik dengan ayam. Dia melihat perputaran uang dalam bisnis ayam ternyata luar biasa besar.

Bayangkan, dalam waktu 25 hari hingga 40 sejak ayam berumur sehari atau day old chicken (DOC) ayam sudah bisa dipanen dan untung bisa diraih. Selain itu, ibaratnya, pembeli langsung datang ke kandang ayam alias tak perlu memasarkan.

Nahas, peternakan ayam broiler itu terpaksa tutup kandang alias bangkrut saat krisis moneter melanda Indonesia pada 1998 silam. Ketika itu, banyak peternak ayam di negeri ini gulung tikar lantaran tak mampu membeli pakan yang harganya melenting tinggi sekali. Sementara itu, “Harga ayam malah melorot menyesuaikan dengan daya beli masyarakat yang turun akibat krisis,” terang Bambang.

Setelah peternakan ayam broiler itu gulung tikar dan Bambang kehilangan pekerjaan, ia langsung banting setir menjadi pedagang sembako untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Namun jadi pedagang tak lama karena pada 1999, Bambang mendapat tawaran dari seorang temannya untuk bekerja di usaha pembibitan ternak atau breeding farm.

Meski sudah kembali bekerja, Bambang belum lupa dengan rezeki dari ayam broiler. Karena itu, dia masih beternak ayam ini. Bahkan, jumlah ayam broilernya itu pernah mencapai 100.000 ekor.

Sayangnya, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Lagi-lagi terpaan krisis menghantam peternak. Pada 2003, krisis melanda Asia, peternakan Bambang pun kembali runtuh. Dia rugi besar. Sampai-sampai hartanya ludes untuk menutupi kerugian.

Setelah gagal yang kedua ini, Bambang sadar, beternak ayam broiler berisiko tinggi. Ia mulai berpikir untuk beternak ayam kampung. Masalahnya, ketika itu pamor ayam kampung kalah dengan ayam bukan ras (buras) ini.

Namun Bambang tetap nekat. Menurutnya, bagaimanapun ayam kampung lebih tahan penyakit dan biaya perawatannya murah karena tak perlu dengan sistem intensif seperti beternak ayam broiler.

Menginjak 2008, Bambang mulai mantap dengan pilihannya beternak ayam kampung untuk diambil telurnya. “Awalnya sulit untuk mempromosikan telur ayam kampung tersebut,” ujar Bambang.

Agar telur laku, Bambang pun membuat kemasan serapi mungkin. Kemasan ini penting agar telur-telur itu bisa dijual di supermarket. Cara ini ternyata jitu, tak sampai setahun, telur ayam kampung kemasan Bambang mulai laris manis karena ia berhasil untuk menjaga kualitas telurnya. Selain itu, keuntungan Bambang juga 50% lebih besar dibanding penjual telur lainnya. “Dengan pengemasan yang lebih baik, saya bisa untung lebih banyak,” ujar Bambang

Sukses di telur, Bambang mulai mengembangkan usaha dengan menjadi pembibit ayam kampung. Memang risiko di bisnis pembibitan lebih besar dibandingkan dengan menjadi peternak. Namun, Bambang juga tahu persis tak banyak pebisnis yang bermain di pembibitan ayam kampung. “Karena itu saya yakin bibit saya pasti laku,” ujarnya.

Dengan menjadi penyuplai bibit, ia tidak perlu bersaing ketat dengan peternak lainnya, namun justru membantu usaha mereka. “Bidang breeding farm masih sangat dibutuhkan peternak,” ujar Bambang.

 

Setelah mampu membuktikan sebagai peternak ayam kampung yang sukses, Bambang pun sering diundang untuk memberikan pelatihan peternakan ayam kampung yang benar. Selain itu, karena banyaknya permintaan, di sela-sela waktu senggangnya Bambang juga tetap rajin menulis buku tentang peternakan ayam kampung.

Prospek bisnis ayam kampung kini mulai cerah setelah Bambang Krista memasyarakatkan cara beternak ayam kampung secara intensif. Usaha peternakan ayam kampung yang sebelumnya dilakukan secara tradisional mulai berubah ke cara beternak yang lebih modern seperti laiknya memelihara ayam bukan ras atau ayam ras.

Cara beternak ayam kampung modern itu memang membawa dampak besar. Lihat saja, kalau sebelumnya nilai ekonomis ayam kampung baru diperoleh setelah ayam berusia tiga bulan atau lebih, kini peternak hanya butuh waktu 45-60 hari untuk bisa panen.

Namun demikian, menurut Bambang, peternakan ayam kampung dalam skala besar masih bisa dihitung dengan jari. Saat ini, peternakan ayam kampung masih dikelola dalam skala menengah dan kecil. “Banyak yang beranggapan bisnis ayam kampung ini bisnis recehan,” ujar Bambang.

Padahal, melihat hasil yang diraih Bambang saat ini, sejatinya bisnis ayam kampung ini bisa lebih stabil dan punya masa depan yang cerah. Selain itu, beternak ayam kampung juga jauh lebih menguntungkan karena ayam ini lebih tahan penyakit dibandingkan dengan ayam broiler. Padahal, harga jual ayam kampung juga jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ayam buras itu. Apalagi saat ini lamanya masa panen beternak ayam kampung sudah bisa diatasi.

Ayam kampung hasil penelitian Bambang ini memang terbilang super. Lihat saja, ayam kampung yang diternak Bambang itu punya daging selezat ayam kampung namun masa panen sesingkat ayam broiler. “Perkembangan yang cepat tentu lebih menghemat biaya produksi dan memperkecil risiko kematian,” terang Bambang.

Contoh sukses Bambang itu tentu juga membuat masyarakat semakin tertarik untuk ikut beternak ayam kampung. Bambang yang suka berbagi ilmu ini pun tak pelit menularkan cara beternak ayam kampung yang efisien. Itulah sebabnya, Bambang rutin mengadakan pelatihan beternak ayam kampung di Cibubur dan Bekasi.

Tidak hanya itu ia juga kerap diundang sebagai pembicara mengenai ayam kampung ke berbagai daerah di Indonesia. Jam terbangnya yang tinggi membuat semua masalah berat peternak menjadi ringan. “Pelatihan tersebut sekaligus untuk memperkuat jaringan usaha,” ujar Bambang.

Jaringan usaha itu memang penting bagi pertumbuhan bisnis. Salah satu manfaat jaringan bisnis ini, di antara peternak bisa saling berkomunikasi untuk menjaga harga produk agar tidak jatuh.

Bagi Bambang, bisnis seperti ini harus dijaga agar tetap saling menguntungkan. Itulah sebabnya, “Saya juga sering memberikan bantuan pelayanan secara gratis di berbagai daerah,” imbuh Bambang.

Dalam membantu para peternak baru, ia biasanya akan mewanti-wanti mengenai kondisi kandang. Menurut Bambang, kesiapan kandang sangat penting untuk meminimalisasi risiko kematian bibit ayam akibat virus. Kandang yang siap menampung bibit bisa dilihat dari sirkulasi udara dan lingkungan sekitar kandang yang steril.

Situasi kandang sebaiknya berada di wilayah yang tenang dan tidak dimasuki oleh sembarangan orang. “Karakter ayam itu sensitif dan gampang stres kalau ada perubahan di sekitarnya,” ujar Bambang.

Bambang sendiri yang punya jam terbang panjang di bidang peternakan ayam juga masih tetap hati-hati. Ia mengaku pernah merugi lantaran bibit yang dijualnya kepada seorang mitra mati mendadak. Setelah diteliti, ternyata itu akibat virus yang berbiak di kandang yang tidak steril. “Karena itu saya akan memastikan para klien saya siap sebelum pengiriman bibit,” jelas Bambang.

Kini, di sela-sela waktu luangnya, Bambang masih rajin menulis buku tentang beternak ayam kampung ini. Hingga saat ini ia telah menerbitkan tiga buku yang laris manis diserbu pembeli. Buku-buku itu mengenai tata cara beternak ayam kampung untuk peternak dari kalangan awam hingga untuk keperluan studi. “Buku tersebut saya tulis karena permintaan masyarakat yang tinggi,” ujar Bambang.

Sumber: http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1323240540/84649/Bambang-Krista-Setelah-sukses-ilmu-beternak-pun-dibagi-3

Belajar Layout Majalah Secara Autodidak, Jun Reguk Pendapatan Rp 20 Jt/Bulan

Tampilan manis dan menarik tentu enak dilihat. Itu pula yang menjadi tugas desainer tata letak atau layout untuk membuat tampilan majalah menjadi apik dan enak dilihat. Selain perlu pengetahuan soal desain, seorang layouter atau penata letak juga butuh kreativitas tinggi. Sayang, meski pemain masih terbatas, permintaan jasa ini belum terlalu ramai.

Di Indonesia tidak terhitung banyaknya jumlah majalah yang sampai saat ini masih eksis di pasar. Jumlah ini pun masih terus bertambah, meski banyak juga majalah yang gulung tikar.

Supaya menuai banyak pembaca, selain isi, tampilan tata letak dan grafis sebuah majalah pun menjadi perhatian penting. Sering kali, pemilik atau pengelola media, memakai jasa konsultan tata letak atau desainer untuk membuat tampilan medianya lebih segar.

Adalah Junianto Bara yang menawarkan jasa konsultasi layout atau tata letak untuk majalah. Pria 23 tahun kelahiran Banjarnegara, Jawa Tengah, ini memulai debut pertamanya sebagai penata letak majalah pada tahun 2007. “Saat itu, saya masih kuliah sambil bekerja di sebuah perusahaan periklanan di Depok,” kata Jun, panggilan akrabnya.

Padahal, awalnya Junianto tak tertarik menjadi desainer majalah. Baru setelah menerjuni pekerjaan itu, timbul keinginannya untuk lebih serius belajar pada dunia artistik. Hingga akhirnya, pada 2009, Jun bersama dengan temannya, yang juga seorang desainer grafis, membuka bisnis periklanan yang diberi nama singitstudio.com.

Selain mendirikan perusahaan sendiri, Jun juga membuat blog pribadi, yakni Adverdreams untuk menjajakan kreativitasnya. “Kalau blog pribadi ini untuk bisnis yang spesifik, khusus membuat layout majalah tanpa isinya,” kata Jun.

Ia mengaku belajar secara autodidak untuk mendalami pernak-pernik desain tata letak. Berbekal hobi membaca, ia banyak trial and error saat belajar desain. Jun sendiri kuliah di jurusan komunikasi dengan spesialisasi periklanan.

Jun memilih menjadi penata letak majalah karena mengandalkan kreativitas. Ia memang memiliki bakat di bidang ini dan menyukai hal-hal yang berbau kreativitas. Maklum, tak semua orang memiliki bakat ini. Jun beranggapan, dengan kreativitas maka imajinasi bisa berkembang.

Meski belajar sendiri, Jun tidak mengalami kesulitan. Malah, menurutnya, membuat tata letak majalah adalah hal yang mudah untuk dipelajari.

Untuk merancang sebuah desain tata letak majalah, biasanya, Junianto akan menyesuaikan dengan karakteristik majalah itu sendiri. Pasalnya, setiap majalah memiliki target pembaca masing-masing. Pengemasan pun akan berbeda, sesuai dengan target pembacanya.

Ia mencontohkan, untuk majalah lifestyle dengan majalah politik, pasti memiliki desain tata letak yang berbeda. Desain majalah pengusung lifestyle sering lebih imajinatif, sedangkan untuk majalah politik, tata artistiknya cenderung sama sehingga cenderung monoton. “Jadi kalau di majalah politik susah bermain-main di font dan warna,” kata Jun yang pernah membuat layout majalah sebuah perusahaan multilevel marketing dan majalah pajak.

Sayangnya, kata Jun, dari segi ekonomis, bisnis desain tata letak majalah kurang menguntungkan. Sebab, banyak perusahaan majalah besar yang memiliki desainer grafis sendiri. “Pemainnya tak terlalu banyak karena permintaan memang masih sedikit,” kata Jun.

Permintaan biasanya datang dari perusahaan swasta yang menerbitkan majalah internal dalam periode tertentu. Dari usaha ini, Jun pun bisa menangguk pendapatan hingga Rp 20 juta per bulan.

Namun, meski pemainnya tak banyak, persaingan usaha ini cukup ketat. Tak jarang, Jun harus berkompetisi dengan teman seprofesi lainnya yang juga menawarkan bisnis pembuat desain tata letak.

Kompetisi ini sering terkait dengan tarif. Demi mendapatkan klien, tak jarang para penyedia jasa desain saling membanting harga. Jun sendiri mematok tarif antara Rp 40.000 hingga Rp 70.000 per halaman.

Sumber: http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1324537217/85939/Junianto-Bara-belajar-desain-tata-letak-secara-autodidak

Dody Faizal: Dari beternak itik, ratusan juta rupiah masuk kandang

Lima tahun jadi buruh pabrik dengan penghasilan pas-pasan, membuat Dody ingin berbisnis. Lantaran modal terbatas, Dody memilih bisnis ternak itik. Berkat keuletan dan kerja kerasnya, usaha ini berkembang. Sayang, usaha ini harus layu setelah Dody kena tipu jutaan rupiah. Tapi Dody pantang menyerah dan dia meraih sukses.

Lantaran modal terbatas, Dody memilih bisnis ternak itik. Berkat keuletan dan kerja kerasnya, usaha ini berkembang. Sayang, usaha ini harus layu setelah Dody kena tipu jutaan rupiah. Tapi Dody pantang menyerah dan dia meraih sukses.

Legitnya bisnis kuliner bebek membuat daging unggas ini makin diminati. Permintaan daging dan telur itik terus naik dalam beberapa tahun belakangan. Alhasil, usaha peternakan itik ini mulai banyak dilirik. Salah satu peternak itik yang terbilang sukses itu adalah Dody Faizal.

Dody memilih beternak itik Mojosari pada 2007. Sebab, itik yang satu asal dengannya, yakni Mojosari, di Mojokerto, Jawa Timur ini, merupakan salah satu itik lokal unggulan.

Sebenarnya, di keluarga Dody, usaha peternakan itik adalah usaha turun temurun. Hanya saja, sebelum dipegang Dody, peternakan itu tak dikelola secara profesional. “Itik-itik peliharaan itu asal diangon di sawah sudah cukup,” kenang Dody. Sedangkan Dody, mengembangkan itik dengan cara dikandangkan.

Sebelum menjadi peternak itik, Dody hanyalah buruh pabrik di Mojokerto. Ia bekerja sebagai buruh mulai 2004-2009. Penghasilan buruh yang pas-pasan, membuatnya Dody mulai berpikir untuk nyambi beternak itik secara profesional.

Dengan modal Rp 4 juta, Dody mulai usahanya dengan membeli 100 itik siap telur. Ketika itu, harga itik usia produktif hanya Rp 30.000 per ekor. “Waktu itu tahun 2007. Setelah membeli itik itu saya percayakan pada orang untuk merawat dengan sistem bagi hasil,” ujar Dody.

Ternak itik Dody berkembang pesat. Dalam waktu setahun, itiknya telah berbiak menjadi 500 ekor. Bahkan ia ketika itu sudah kebanjiran pesanan lantaran makin menjamurnya usaha kuliner bebek goreng.

Sayangnya, Dody sesaat mengecap manisnya bisnis itik. Tanpa sepengetahuan dirinya, orang kepercayaannya itu menjual seluruh itiknya dan membawa kabur uang hasil penjualan. Kalau dihitung harga itik Rp 30.000 per ekor, kerugian Dody mencapai Rp 15 juta.

Meski modal ludes, Dody tak mau menyerah. Ia bertekad akan membangun kembali peternakan itiknya. Masalah yang menimpanya, ia jadikan pelajaran yang berharga. “Seperti di awal bisnis ini, saya juga membeli lagi 300 ekor itik sebagai modal awal. namun dengan harga yang sedikit lebih mahal.” kenang Dody.

Belajar dari pengalaman pula, Dody mengubah sistem manajemen peternakan itiknya. Ia kemudian menyewa kandang dan mempekerjakan beberapa karyawan untuk merawat 300 itiknya. Tapi, usaha kali ini tak berjalan mulus. Soalnya, itik-itik yang dibeli Dody tersebut usianya terlalu muda, sehingga ia menjadi boros di pakan. Selain itu juga, bertelurnya Itik-itik milik Dody juga telat.

Hingga akhirnya, Dody memutuskan menjual 250 ekor dan menyisakan 50 ekor itik. “50 Ekor itu saya letakkan di kandang di rumah saya sendiri, saya pelajari karakteristiknya bagaimana,” ujar Dody.

Sambil belajar tentang itik, pada 2009, Dody membuat website untuk berdagang itik. Lewat website itulah Dody kebanjiran pesanan. Ternyata usaha jual beli itik juga menguntungkan dan membuat kantong Dody tebal. “Waktu itu ada pesanan dari Jakarta sebanyak 500 ekor,” kata Dody.

Namun Dody tak hanya menjadi pedagang saja. Dia tetap ingin membuka usaha peternakan itik sendiri. Dan dari hasil berdagang itik, modal Dody pun makin kuat.

Dody pun mulai serius mengembangbiakkan 50 ekor itiknya itu. Dan kali ini, dengan usia itik yang mencukupi dan penerapan sistem kandang, peternakan ini pun berkembang pesat. Kini Dody telah mempunyai 2.000 ekor itik untuk terus dia kembangkan.

Sukses membangun peternakan itik tidak membuat Dody Faizal lupa dengan lingkungannya sesama peternak itik. Ia mengajak mereka ikut menikmati lezatnya bisnis itik itu.

Dody mengajak kerja sama peternak itik dengan sistem plasma. Ia menerapkan sistem itu kepada peternak itik yang tersebar di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Kalimantan Selatan.

Menurut Dody, dengan sistem plasma, ia bisa menambah jumlah itik untuk memenuhi seluruh pesanan pelanggannya. Selain itu ia juga bisa memberdayakan warga untuk beternak itik.

Dody kini memiliki sekitar 100 peternak plasma di empat provinsi. Sebagai peternak inti, Dody tentu punya kewajiban memasok kebutuhan bibit itik untuk para peternak plasma tersebut.

Namun, Dody tak hanya menyuplai bibit itik mojosari saja. Para peternak juga mendapatkan bibit itik alabio, itik tegal, dan itik semarang. Selain itik lokal, Dody juga menyediakan itik khaki cambel dan itik peking. Juga itik hibrida atau itik hasil kawin silang itik peking jantan dengan itik jawa super.

Bibit yang disediakan Dody memiliki ukuran dan usia yang berbeda. Mulai dari bibit itik usia satu atau dua hari, usia satu bulan, usia dua bulan, usia tiga bulan, usia empat bulan, hingga bibit itik yang siap bertelur. “Saya menjamin keaslian dari jenis itik tersebut,” terang Dody.

Kerja sama dengan sistem plasma dengan peternak itu memang berhasil mendongkrak kinerja bisnis Dody. Dalam sebulan, Dody mampu memenuhi pesanan 10.000 ekor itik. Sekitar 2.000 ekor itik disuplai dari peternakan Dody sendiri, sedangkan sisanya, sebanyak 8.000 ekor itik, dipasok oleh para peternak plasma.

Walaupun datangnya pesanan mulai membuat Dody kewalahan, namun ia pantang menolak jika ada pembeli baru. Ia tetap berusaha mengirimkan pesanan itik meski jadwalnya tidak bisa tepat waktu. “Kalau minggu ini saya belum bisa memenuhi pesanan itu, saya akan kirim pada minggu depannya,” terang Dody.

Karena pesanan semakin banyak, Dody berniat menambah lagi jumlah peternak plasma yang mau bekerja sama dengannya. “Rezeki harusnya dibagi-bagi,” komitmen Dody.

Untuk menambah jumlah peternak plasma itu, Dody belakangan ini berusaha menjalin komunikasi dengan peternak itik di Indramayu, Banten, dan Tegal. Namun menjalin komunikasi dengan peternak tidaklah mudah. Kini, Dody masih mengatur strategi agar bisa menjalin silaturahmi dengan peternak dan bisa berbisnis dengan mereka.

Keinginan Dody sekarang ini, dengan memperbanyak peternak plasma, Dody berharap pesanan itik tak lagi datang dari pasar dalam negeri. Ia bercita-cita suatu saat nanti bisa ekspor itik ke Singapura. “Sekarang kami sedang mempersiapkan untuk bisa ekspor 2015 nanti,” ujar Dody.

Cita-cita Dody bisa mengirim itik ke Negeri Jiran itu memang masuk akal. Dari seorang pelanggannya di Batam, Dody tahu, saat ini, kebutuhan itik untuk industri kuliner di Singapura terbilang tinggi.

Tidak hanya itik saja yang bisa di ekspor ke Singapura, telur itik juga banyak dicari orang Singapura. Dalam hitungan bisnis Dody, ekspor itik ataupun telur itik ke Singapura lebih menarik dari pada menjualnya di pasar dalam negeri. “Contoh, harga telur itik di sini Rp 1.200 per butir, kalau di Singapura bisa Rp 6.000 per butir,” ungkap Dody.

Setelah dikurangi biaya kirim dan biaya pengurusan izin ekspor, Dody memperkirakan laba berjualan telur itik di Singapura bisa untung hingga 200%. Maklum, kebutuhan itik dan telur itik di Singapura memang naik drastis setiap tahunnya.

Meski beternak itik cukup menggiurkan, namun Dody menyarankan untuk melihat peluang pasar bagi investor yang mau beternak itik. Ia bilang, setiap daerah memiliki populasi itik yang berbeda. “Cek dulu pasarnya biar tidak bingung saat itik siap produksi,” katanya.

Menurut Dody, ada empat peluang bisnis yang bisa dikembangkan dengan beternak itik. Pertama beternak itik petelur, kedua beternak itik pedaging, dan ketiga, usaha pengembangan bibit itik atau DOD (day old duck). Yang keempat, beternak itik siap bertelur (bayah).

Berbagai tahapan perlu dijalani untuk bisa menjadi peternak itik. Dari tiga tahapan tersebut, tahap pertama paling riskan sehingga perlu penanganan ekstra. Dengan perawatan yang baik, tak hanya daging itik yang didapat namun juga telurnya. Keuntungan pun berlipat karena harga itik ditentukan peternak.

peluang usaha peternakan itik yang menjanjikan masa depan memberi semangat kepada Dody Faizal untuk terus menggeluti bisnis ini. Menurutnya, usaha peternakan itik akan cerah karena kebutuhan daging dan telur terus naik seiring meningkatkan populasi penduduk Indonesia.

Akses permodalan yang cukup mudah dengan berbagai program pemerintah, seperti kredit usaha rakyat (KUR) juga membantu berkembangnya bisnis ini. “Karakteristik itik yang kuat menghadapi penyakit dan pakan yang mudah juga menjadi keunggulan,” katanya.

Pria 31 tahun ini menjelaskan, untuk memulai usaha peternakan itik diperlukan tiga tahapan. Tahap pertama adalah memulai atau starter. Tahap kedua disebut grower atau pertumbuhan, dan tahap ketiga disebut layer atau bertelur.

Dari tiga tahap itu, menurut Dody yang paling riskan adalah tahap starter. Tahap starter dimulai saat usia itik sehari atau day old duck (DOD) sampai 30 hari. Saat-saat itulah, itik sangat riskan terhadap serangan penyakit.

Setelah melewati tahap starter, peternak akan masuk tahap grower, yakni saat itik berusia 2,5 bulan- 4,5 bulan. Di usia itu, yang benar-benar perlu diperhatikan adalah soal pakan. Pakan yang diberikan tidak boleh terlalu sedikit atau terlalu banyak.

Pemberian pakan yang terlalu tentu bakal menguras isi kantong artinya tidak efisien. Sedangkan jika terlalu sedikit maka perkembangannya akan terhambat. “Selain pakan, kebersihan kandang juga perlu dijaga,” katanya. Dia juga menyarankan agar cahaya matahari selalu bisa masuk sempurna ke dalam kandang.

Setelah usia 4,5 bulan terlampaui, peternak boleh sedikit merasa lega. Di tahapan layer tersebut, pakan itik tidaklah begitu rumit. Itik bisa mengonsumsi nasi aking atau karak termasuk sisa makanan dan sayuran.

Pada tahap ketiga itu, itik sebaiknya diberi pakan dengan kandungan protein tinggi. Itu dilakukan agar jumlah dan kualitas telur meningkat. Tak hanya telur, saat usia itik lebih 4,5 bulan juga sudah bisa dijual sebagai pedaging.

Harga jual itik sangat menguntungkan peternak. Sebab, peternak itik saat ini memiliki posisi tawar lebih baik dibandingkan dengan posisi pedagang. “Untuk pasar itik, harga mengikuti peternak bukan pedagang,” katanya.

Dody menambahkan, ternak itik sebenarnya sangat mudah. Apalagi saat ini informasi mengenai cara-cara beternak itik bisa didapatkan dengan gampang di internet. “Kalau bingung buka saja situs peternakandody.com. Saya menyediakan layanan tanya jawab bagi semua pengunjung,” katanya berpromosi.

Dia juga mengaku banyak belajar tentang itik secara otodidak, baik melalui internet, buku, atau bertanya dari pengalaman orang lain. Berdasarkan pengalaman ini pula, saat ini dia mengembangkan bisnis itiknya melalui dunia maya.

Berkat pemasaran melalui online, Dody mengaku mampu menjual rata-rata 10.000 itik per bulan. Menurutnya, pemasaran online sangat mudah dan murah. Walaupun begitu, pemasaran lewat internet juga berisiko.

Seperti yang pernah dialami Dody yang pernah menjadi korban penipuan melalui dunia maya. Dia bercerita, saat itu pernah mendapat pesanan 1.000 ekor itik. Namun setelah pesanan itik terkirim, pelanggan tersebut tak kunjung mengirimkan uang pembelian.

Oleh karena itu, ia mengingatkan agar penjualan melalui online lebih berhati-hati karena banyak modus penipuan. “Transaksi online dilakukan harus setelah uang pemesanan diterima,” ingatnya. Dody juga mengingatkan agar jangan mudah terjebak pada pembayaran uang muka karena kerap hanya akal-akalan penipuan.

Walaupun berisiko, Dody tak kapok. Dia mengatakan, keunggulan pemasaran dan penjualan melalui internet cukup sebanding dengan risiko yang mungkin terjadi dalam pemasaran online. Tak hanya mudah dan murah, pemasaran ini juga bisa mencakup pangsa pasar yang sangat luas.

Tak hanya di Pulau Jawa saja, pemasaran ini juga bisa mencakup seluruh wilayah Indonesia. Dengan begitu, diharapkan pelanggan yang membeli bisa lebih banyak.

Sumber: http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1324631539/86069/Dody-Faizal-Berguru-ternak-itik-lewat-dunia-maya-3

Perjuangan Remy Joe Usung Silver Crest ke Panggung Dunia

Meski “cuma” produksi Bandung, amplifier Silver Crest satu-satunya perangkat buatan lokal yang dipercaya mendukung ajang musik kelas dunia Java Jazz Festival. Bagaimana Remy Joe, penciptanya, mengusung produk yang tadinya cuma untuk kalangan menengah-bawah ini?

Perhelatan Java Jazz Festival 2011 pada awal Maret lalu di Jakarta International Expo Kemayoran, Jakarta Pusat, bisa dibilang sukses besar. Sebab, ajang ini dihadiri sejumlah bintang jaz kelas dunia, seperti Santana, George Benson, Kenny Logins, Joey De Francesco, Charlie Hadden, Roy Ayers, Maria Schneider, Sondra Lerche, dan Corinne Bailey Rae. Tiket pertunjukannya pun diserbu penggemar.

 

Di balik ingar-bingar pelaksanaannya, ada satu mitra pendukung penting yang patut mendapat apresiasi, khususnya di bidang sound system, yakni Silver Crest. Merek lokal inilah yang berperan menyediakan sistem amplifier di ajang jaz dunia ini, lewat produk andalannya, Java Jazz Series Amplifier. Amplifier ini menjadi produk lokal satu-satunya yang dipercaya mendukung suksesnya pelaksanaan ajang musik jaz itu. Silver Crest sendiri sudah terlibat sebagai mitra pendukung di ajang ini sejak 2009.

 

Perusahaan pemilik dan pengelola merek Silver Crest bermarkas di Bandung. Pabriknya ada di empat lokasi yaitu di Kopo (dua lokasi), Padalarang (Jawa Barat), dan Soekarno-Hatta (Bandung) – dengan total karyawan mencapai 95 orang. Menurut Sufun, karyawan Divisi Pembelian MG Sports & Music, di jaringan gerainya, Silver Crest merupakan satu dari dua produk lokal terbesar yang paling diminati konsumen. “Kelebihannya, harganya kompetitif dan kualitasnya bagus,” ujarnya.

 

Produk Silver Crest saat ini meliputi amplifier untuk gitar, amplifier bas, amplifier keyboard, dan professional audio system. Produknya sudah terdistribusi, dari Medan hingga Papua. Bahkan, sejak 2010 produk ini telah dipasarkan di Singapura, Thailand dan Filipina. Kini Silver Crest sedang dipersiapkan untuk diekspor ke pasar Eropa (Belanda dan Jerman). Peter Gontha, sang komandan ajang Java Jazz, juga ingin membawa produk buatan Silver Crest ke Los Angeles, Amerika Serikat. Total ekspor produk Silver Crest hingga saat ini baru 10% dari total produksi.

 

Produk amplifier dan audio system Silver Crest yang istimewa itu lahir dari tangan dingin pria berrpostur tinggi besar dan berkacamata minus bernama Remy Joe. Padahal, lulusan Universitas Parahyangan (Bandung) Jurusan Administrasi Niaga (angkatan 1980) ini mengaku tak bisa bermain satu alat musik pun dan tak mengerti banyak soal elektronik. Pengalaman terbesar pria low profile dan ramah ini adalah bekerja di ranah musik. Memang sejak tahun 1984, di usia 23 tahun, Remy bekerja di perusahaan (pabrik) alat musik terbesar di Indonesia saat itu, PT Tiga Negeri Raya (TNR). Di sini ia memulai karier dari staf biasa, hingga mencapai posisi vice president, dan ia memutuskan keluar pada1992.

 

Menurut pria kelahiran Sukabumi 50 tahun lalu ini, kontribusi terbaik yang pernah ia lakukan di TNR adalah menjadikannya sebagai salah satu perusahaan teladan dalam penilain Bapeksta/P4BM. Selain itu, ia berhasil menjadikan produk TNR dengan merek Prince sebagai market leader untuk pasar Indonesia di kategori amplifier, gitar akustik dan elektrik, drum, dan speaker. Bahkan, TNR saat itu merupakan satu-satunya perusahaan alat musik yang produknya ikut tampil di panggung internasional seperti Nan Show di AS dan Frankfurt Messe di Jerman. Tak heran, Remy mengaku belajar banyak hal di perusahaan ini mulai dari masalah industrinya hingga seluk-beluk impor.

 

Bergelut 12 tahun di industri alat musik, membuat pria bernama asli Remigio Jualim ini jenuh. Ia pun mencoba pekerjaan lain yaitu di PT Boga Rejeki yang berkiprah di bisnis department store, supermarket dan distributor air. Ia langsung menduduki posisi direktur pemasaran. Namun, tak seperti sebelumnya, di perusahaan ini ia hanya bertahan satu tahun. Pada 1993 ia pindah ke PT Irama Nada Agung (sekarang Bahana Nada), perusahaan importir dan distributor alat musik dan sound system, dengan posisi sebagai direktur pengelola.

 

Lagi-lagi, ia tak bertahan cukup lama dan memutuskan keluar pada 1997. Kali ini alasannya karena ingin membangun usaha sendiri. Berdirilah pada tahun itu, perusahaan bernama Intermusik Relasi Abadi yang juga bergerak di bidang alat musik dan sound system.

 

Tahun 2002, Remy meluncurkan merek Silver Crest di bawah bendera Sinergi Musik. “Silver Crest itu merek milik saya sendiri,” ujar pria kelahiran 8 Maret 1961 ini. Menurut Remy, nama Silver Crest terinspirasi dari merek Crest Audio yang tahun 2002 terkenal dengan power amplifier-nya. “Orang kita kan masih luar negeri minded,” katanya beralasan.

 

Keputusan Remy memproduksi amplifier dengan merek Silver Crest, sebenarnya juga lantaran pemain pentingnya, TNR, bangkrut. Pada 2002, Remy mengaku tak lagi melihat produk TNR di pasar. “Saya langsung melihat itu sebagai peluang,” ujarnya. Dan tanpa pikir panjang ia memutuskan untuk mendirikan pabrik amplifier.

 

Alhasil, Remy jadi punya dua perusahaan, yakni Intermusik yang mengurusi distribusi, dan Sinergi Musik untuk bisnis manufakturnya. Jika sebelumnya ia hanya membuat produk dengan merek sendiri, mulai 2011 Silver Crest juga melayani permintaan outsourcing untuk produksi (maklun) selaku OEM. Total investasi pembangunan pabriknya mencapai sekitar Rp 6 miliar, dengan kapasitas terpakai 90%.

 

Dari waktu ke waktu, produksi Sinergi Musik terus tumbuh. Pada awal berdirinya, total produksi hanya 200 unit/bulan atau 2.500-3.000 unit per tahun. Namun saat ini produksinya telah mencapai 10 ribu unit per tahun, yang 80% merupakan produk amplifier dan 20% speaker. “Saya coba seimbangkan persentasenya, mungkin akan menjadi 60%-40%.” Harga produk Silver Crest bervariasi, mulai dari Rp 800 ribu hingga Rp 3 juta per unit. Remy mengklaim, harga yang disodorkan perusahaannya ini lebih murah 40%-50% dibanding produk impor sejenis.

 

Latar belakang Remy memang bukan dari kalangan penggemar elektronik. Sebaliknya ia mengaku malah menyukai dunia pemasaran. Karena itu, untuk menggali pengetahuan seputar amplifier model terbaru atau yang paling diminati, ia kerap menyurvei ke toko musik (diler), musisi dan juga mencari lewat Internet. “Saya sering mengobrol dengan para diler dan musisi. Saya dapat anugerah dari Tuhan kalau saya punya banyak ide. Contohnya, Pak Peter, tidak menyangka saya akan membuatnya (Java Jazz Series Amplifier) dari rotan,” katanya bangga.

 

Sesekali, Remy merasa perlu pergi ke pameran di luar negeri. Dari sini ia mendapat gambaran utama mengenai desain dan tingkat kemajuan teknologi mereka. Yang juga penting adalah faktor harga. Yang jelas, dari segi model dan teknologi, menurut Remy, Indonesia berkiblat ke AS dan Eropa.

 

Dari sisi pemasaran, jika sebelumnya target pasar Silver Crest kalangan menengah-bawah, sekarang Remy menyiapkan produk untuk kalangan atas. “Kami sudah membuat ampli yang khusus (custom amplifier). Ini bukan produksi massal tapi satuan untuk orang perorangan,” ujarnya. Contohnya, acara Budjana Series by Silver Crest diperuntukkan bagi Budjana. Menurut Remy, ia bekerja sama dengan pemilik merek dalam bentuk pemberian royalti ketika produknya terjual di pasaran.

 

Remy berpendapat, punya lini produk kelas atas penting sekali untuk membangun citra, meskipun dari segi kuantitas masih kecil, yaitu 10%-15% saja. Ia pun menggunakan kalangan musisi top sebagai endorser. Ia menjelaskan, biasanya endorser dipakai oleh produk luar. “Karena itu, mereka (musisi) biasanya sudah pasang tarif.” Tarifnya tentu tergantung kelasnya. “Nah, saya tidak ingin seperti itu karena rasa memiliki mereka jadi tidak ada. Saya buat pemikiran, jangan mempersoalkan berapa uang yang dibayarkan, tapi saya cuma ingin coba ampli ini. Kalau mau, harus dipakai,” Remy memberikan ulasan panjang lebar.

 

Untuk pemasaran produknya, Remy mengaku hanya memanfaatkan strategi dari mulut ke mulut (WOMMarketing). Ia berusaha meyakinkan kalangan musisi atau para pengarah musik. Selain itu, ia bersama stafnya pun terjun langsung ke toko musik bertemu pemiliknya sembari membawa produk contoh untuk didemokan.

 

Remy kini boleh berbangga, karena hingga saat ini ada 160-an diler yang memasarkan produk Silver Crest. Menurut Remy, potensi pasar musik di Indonesia sangat besar, karena pasar yang digarap hingga sekarang baru mencapai 15%. Itulah sebabnya, ia sangat optimistis dengan industri ini.

 

Lalu bagaimana dengan persaingan? “Produk saya saat ini ada di tiga besar, karena lumayan berat persaingannya,” katanya mengklaim. Remy menjelaskan, pasar amplifier merupakan pasar yang crowded, terutama di kelas bawah. “Banyak yang asal bunyi dan asal kencang suaranya.” Kisaran harga amplifier murah ini Rp 200-500 ribu per unit. “Sedangkan kami bermain di pasar profesional, sehingga mementingkan kualitas,” ujarnya tegas.

 

Komitmennya pada kualitas mendorongnya menjalin jejaring perkawanan dengan berbagai pihak. Contohnya, Peter Gontha. Dua tahun lalu (2009), ia diminta Peter mendisplai amplifier SC di Java Jazz Festival. Tahun 2010, SC mendapat panggung untuk melengkapi aksi band luar (asing). Dan pada Oktober 2010 Peter membuat kontrak dengannya untuk membuat Java Jazz Series. Awalnya, pada produk ini tak dicantumkan merek Silver Crest. Namun Peter sendiri yang memutuskan untuk memakai merek tersebut.

 

Ternyata produk yang menggunakan casing dari rotan ini sudah masuk ke Istana. Bahkan Presiden SBY sudah mencobanya. Menurut Remy, ia sengaja menggunakan bahan rotan pada produk yang berharga Rp 4 juta per unit ini karena ia ingin menunjukkan sisi khas Indonesia.

 

Menonjolkan kekhasan Indonesia dan kampanye produk dalam negeri menjadi poin penting bagi produk amplifier Java Jazz Series. Itulah sebabnya ia juga gencar memperkenalkan produknya ke berbagai kalangan terutama para pejabat pengambil keputusan. Dengan bangga ia mengaku Menteri Perindustrian M.S. Hidayat sudah memberi tanda tangan di produknya. Saat ini, amplifier merek Silver Crest memang sudah termasuk salah satu produk lokal yang direferensikan dalam Program Pedoman Penggunaan Produk Dalam Negeri. (oleh : Yuyun Manopol)

sumber: http://swa.co.id/2011/10/perjuangan-remy-joe-usung-silver-crest-ke-panggung-dunia/