Monthly Archives: July 2011

Awalnya Karyawan, Kini Menjadi Raja Selang dan Regulator Gas

Dari hanya sebagai pedagang, Sukianto menjelma menjadi raja di bisnis selang dan regulator gas. Kini perusahaannya mulai merambah produk home appliance lainnya. Bagaimana pria yang hanya mengantongi ijazah SMA ini melakoninya?

Jeli membaca peluang. Itulah ungkapan yang paling tepat untuk menggambarkan sosok Sukianto. Kejelian pria kelahiran Medan 18 Januari 1968 ini dalam membaca peluang bisnis telah mengubah jalan hidupnya, dari hanya sebagai karyawan biasa menjadi pengusaha yang sangat sukses.

Tahun 1986, karena keterbatasan biaya, Sukianto tak bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan mengantongi ijazah SMA, ia nekat merantau ke Jakarta untuk membantu pamannya yang memiliki usaha kelontong. “Saya berasal dari keluarga yang kurang mampu. Keinginan melanjutkan sekolah terpaksa harus saya pendam karena keterbatasan biaya,” ujar Sukianto mengenang.

Datang ke Jakarta, Sukianto membawa ambisi yang sangat besar, yaitu memperbaiki perekonomian dia dan keluarganya. Namun, ia pun sangat sadar bahwa ia punya banyak keterbatasan, termasuk minimnya bekal pendidikan.

Akan tetapi, Sukianto tidak mau menyerah pada keadaan. Ia sangat percaya, jika ia mau berusaha dengan mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya, hasilnya akan berbuah manis. Prinsip tersebut juga ia terapkan selama menjadi karyawan di bagian pemasaran PT Gunung Mas. Terbukti ia berhasil menjadi salah seorang karyawan yang melejit prestasinya.

Akhir tahun 1990, suami Sherly S. ini menapaki babak baru dalam perjalanan hidupnya. Bermodal uang tabungannya, ia memberanikan diri pindah kuadran menjadi pengusaha dengan mengibarkan bendera PT Multi Lestari (ML). Yang menarik, bisnis yang dipilihnya berhubungan dengan kebutuhan rumah tangga, khususnya dapur, yaitu menjual selang dan regulator gas. “Ide awal bisnis ini sebenarnya dari adik saya yang bekerja di perusahaan sejenis. Kami melihat bisnis ini cukup menguntungkan dan potensinya sangat besar,” ungkap Sukianto.

Langkah yang dilakukan Sukianto terbilang cukup nekat. Maklum, kala itu kompor gas belum menjadi pilihan masyarakat untuk keperluan memasak. Harga minyak tanah masih jauh di bawah karena mendapat subsidi dari pemerintah.

Namun, fakta tersebut tak membuat Sukianto patah semangat. Dia mengatakan, di luar negeri, gas sudah menjadi pilihan utama sebagai bahan bakar di dapur. “Saya percaya, tren itu juga akan berlaku di Indonesia,” ujar Sukianto meyakinkan dirinya ketika itu.

Sukianto membangun usahanya secara bertahap. “Awalnya kami hanya sebagai pedagang,” tutur ayah dua anak ini. ML mulanya hanya memasarkan produk yang dibeli dari importir. Produk itu kemudian dikemas ulang dan di-branding dengan menggunakan merek Gascomp. ML sendiri fokus dalam hal pemasaran yang saat itu lebih banyak dilakukan dengan pola direct selling dibanding pemasaran melalui peritel.

Gascomp mendapat sambutan pasar yang cukup baik. “Hampir tak ada hambatan berarti yang kami temui kala pertama memasarkan produk ini, karena kami hanya membidik kota besar pada tahap awal,” ujarnya lagi.

Melihat perkembangan yang cukup baik, tahun 1992, ML mulai mengimpor sendiri barang-barang yang dipasarkannya. Dengan pola ini, ML semakin gencar memasarkan produknya, karena bisa mengelola sendiri stok barang yang dimiliki. Perkembangan selanjutnya, ML mulai membuat desain dan inovasi sendiri, walaupun produksinya tetap dilakukan di luar negeri. “Kami mengembangkan usaha ini secara bertahap,” Sukianto menambahkan.

Memasuki era tahun 2000-an, pasar semakin berkembang, sehingga persaingan pun kian tajam. Menyikapi kondisi ini, ML harus lebih efisien. Maka, sejak tahun 2001, ML memindahkan produksi barangnya ke Indonesia. “Kami harus efisien dalam hal biaya karena persaingan mulai ketat,” kata Sukianto seraya menambahkan, biaya produksi di Indonesia bisa ditekan lebih rendah.

Walau proses produksi dilakukan di pabrik milik orang lain, lanjutnya, ML tetap memberlakukan quality control yang ketat. Bagi Sukianto, kualitas merupakan hal yang paling penting dan tidak bisa ditawar. Menurutnya, Gascomp dapat berkembang dan menjadi besar hingga sekarang karena konsisten dalam mempertahankan kualitas produknya.

Tahun 2006, kala pemerintah menggulirkan kebijakan konversi minyak tanah ke gas menjadi berkah bagi ML. Apalagi ML merupakan salah satu dari tiga perusahaan yang ditunjuk pemerintah sebagai pemasok tabung gas dan perlengkapannya dalam program konversi tersebut. Total hingga saat ini sudah lebih dari 15 juta paket (kompor, selang, regulator dan tabung gas) yang dipasarkan ML lewat jalur konversi tersebut.

Bersamaan dengan itu, ML pun menggelontorkan investasi untuk membangun pabrik di kawasan Jababeka, Bekasi. Tahun 2008, ML membuka pabrik kedua yang masih berlokasi di kawasan yang sama. “Total investasi yang sudah kami benamkan mencapai Rp 65 miliar,” Sukianto mengakui.

Bersamaan dengan beroperasinya pabrik kedua, ML merambah ke beberapa produk home appliance lainnya, seperti kompor gas, rice cooker, exhaust dan tabung gas ukuran 3 kg. Sukianto menyebutkan, ketika membangun pabrik sendiri, ML banyak belajar soal teknologi dari perusahaan asal Italia. Selain itu, ML pun menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008. “Kami ingin semua proses sesuai standar agar bisa menghasilkan produk yang bermutu,” ia menegaskan.

Sekarang posisi ML di bisnis ini sudah cukup mapan dan disegani. Pasalnya, selama ini ML mampu mempertahankan kualitas produknya sehingga terus mendapat kepercayaan baik dari konsumen maupun peritel. “Kami tidak ingin bersaing dalam hal harga. Bagi kami yang paling utama adalah kualitas,” ia menandaskan.

Bukti bahwa ML sangat mengutamakan kualitas adalah kala pemerintah memberlakukan Standar Nasional Industri (SNI) tahun 2004. ML merupakan satu-satunya perusahaan yang melakukan penarikan produk dari pasaran hanya untuk melengkapi kode SNI pada produknya. “Biaya penarikan produk tergolong cukup besar, hingga Rp 6 miliar. Kami hanya ingin menaati aturan yang berlaku,” kata Sukianto lagi.

Menurutnya, untuk sampai pada posisi saat ini bukanlah perkara mudah. Pada awal perjalanannya ML hampir tidak menemukan hambatan yang berarti, tetapi ketika krisis moneter melanda negeri ini tahun 1997-1998, ML terkena imbas yang sangat parah. “Utang kami gagal bayar,” ungkap Sukianto.

Namun, Sukianto masih memiliki optimisme yang sangat tinggi. “Kami memutuskan untuk menjadwal ulang utang ketimbang harus pailit, karena kami masih bisa mencetak laba,” ujarnya. Seluruh utang, baik utang dalam negeri maupun luar negeri dijadwal ulang. “Tiga tahun kemudian kami sudah bisa rebound,” ia menjelaskan.

Menurut Jahja B. Soenarjo, bisnis regulator dan selang gas merupakan bisnis yang sangat menarik. Bisnis ini berkembang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir seiring bergulirnya kebijakan pemerintah tentang konversi minyak tanah ke gas. “Bisnis ini mempunyai potensi yang sangat besar ke depan,” ungkap Chief Operation Officer Dirextion Consulting ini.

Akan tetapi, lanjutnya, persaingan di kategori produk ini juga sangat ketat. “Ada lebih dari 80 merek yang beredar,” ujarnya. Maka, Jahja menyarankan agar Gascomp tetap konsisten menggarap pasar yang sudah ditekuninya selama ini, yaitu segmen menengah. “Gascomp jangan terjebak masuk ke segmen yang lebih bawah, karena bisa merusak pasar yang sudah ada.”

Sukianto sependapat dengan Jahja. Dia mengatakan, beberapa tahun lalu, ML memang pernah mencoba masuk ke segmen yang lebih bawah dengan mengusung merek yang berbeda. Namun kenyataannya, keberadaan merek tersebut malah menjadi beban. “Akhirnya sekarang kami putuskan hanya menggunakan merek Gascomp,” katanya.

Sejak tahun lalu, Sukianto melakukan spin off di perusahaanya. Dia membentuk satu perusahaan baru yaitu PT Gascomp Indonesia (GI) yang ditujukan sebagai badan hukum yang memasarkan produk Gascomp. “Multi Lestari hanya fokus dalam hal produksi, termasuk memproduksi produk orang lain.”

Dia menambahkan, untuk mengutilisasi mesin yang dimiliki, sejak tahun lalu, ML menerima pesanan produksi dari merek lain, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. “Kapasitas terpasang kami cukup besar, harus dimaksimalkan,” kata Sukianto.

Dengan terbentuknya Gascomp, pola distribusi yang digunakan Gascomp mengalami perubahan. Khusus di Pulau Jawa dan beberapa wilayah Sumatera, Gascomp menggunakan pola distribusi langsung dengan mengandalkan kantor cabang yang kini berjumlah 17. Kantor cabang itu tak hanya sebagai gudang dan pusat pemasaran, tetapi juga menjadi pusat layanan produk Gascomp. “Kami ingin lebih dekat dengan konsumen,” ujar Sukianto.

Jahja menambahkan, distribusi memang berperan sangat penting di bisnis ini. Menurutnya, langkah Gascomp untuk meningkatkan distribusinya sangatlah tepat. “Karena produk yang beredar sangat banyak, maka distribusi menjadi sangat penting. Konsumen harus mudah mendapatkan produk Gascomp,” ujarnya.

Menurut Jahja, langkah yang harus dilakukan Gascomp adalah mengedukasi pasar. Dia menyebutkan, saat ini masyarakat belum paham soal karekteristik produk selang dan regulator gas. “Produk ini punya daur hidup agar tetap aman digunakan. Jangan tunggu rusak baru diganti,” kata Jahja, yang menyarankan agar Gascomp lebih gencar lagi mengedukasi, khususnya lewat jalur below the line agar dapat langsung menyentuh target pasar dan konsumen.

Ke depan, Sukianto mengungkapkan, perusahaannya akan tetap konsisten dalam mengembangkan pasar. Masa depan merek Gascomp sangatlah baik. Ini bisa dilihat dari kontribusi penjualan yang mulai berimbang antara produk kompor, selang dan regulator gas. “Kami akan terus berinovasi untuk menghasilkan produk berkualitas dengan harga bersaing,” katanya menegaskan.

Sukianto berencana pula menjadikan Gascomp sebagai merek global. Saat ini ia mulai menjajaki memasarkan Gascomp ke luar negeri. “Kami sedang menjajaki ke beberapa negara Timur Tengah dan Asia Tenggara. Tapi fokus kami tetap di pasar dalam negeri.” (oleh : Taufik Hidayat)

sumber: http://swa.co.id/2011/12/raja-selang-dan-regulator-gas/

Kreatifitas yang Berbuah Manis Lewat Alat Peraga Pendidikan

Prihatin atas mutu lulusan SMK, guru SMK Negeri 4 Jakarta ini pun membuat alat peraga pendidikan sendiri. Belakangan, SMK-SMK dari berbagai kota memesannya. Maklum, harganya cuma setengah, bahkan sepertiga, dari produk serupa yang selama ini diimpor.

Sebagai seorang guru, Agus Martoyo sangat berbeda dengan rekan sejawatnya. Tidak hanya kendaraan pribadinya — Mercedes-Benz Brabus C240 — tetapi juga inovasi dan jiwa bisnisnya. Semua itu berkat inisiatifnya membesut bisnis alat peraga pendidikan dengan bendera Citralab.

 Agus adalah guru pendidikan elektronika di SMK Negeri 4 Jakarta Utara yang gelisah atas kondisi pendidikan di sekolah menengah kejuruan. Ia tak puas terhadap kualitas lulusan SMK di masa lalu. Sebagian persoalan dirasanya terletak pada minimnya ketersambungan antara kompetensi lulusan SMK dengan kebutuhan industri yang akan menyerapnya. Tidak jarang ia melihat siswa SMK yang dimagangkan dengan tujuan mendapat praktik ilmu lapangan, tetapi ternyata hanya dijadikan office boy. “Sehingga, tujuan menciptakan lulusan siap kerja akhirnya berantakan,” ujar Agus ketika diwawancara SWA di laboratorium pendidikan elektronika di sekolahnya di Jalan Rorotan VI, Cilincing, Jakarta Utara.

Ditambah lagi, PNS golongan 3D itu melihat, betapa berantakannya pengelolaan alat peraga pendidikan impor di sekolah-sekolah. Sudah beli mahal, ketika rusak, suku cadangnya tidak murah dan sulit didapat. Selain itu, karena barang impor, belum tentu semua pengajar diberi pelatihan. “Jadi, alat itu tidak termanfaatkan maksimal,” ujar kelahiran Wonogiri, 4 Juni 1960, yang telah menjadi guru di Jakarta sejak 1980 itu.

 Karena itu, lulusan D-1 Keterampilan Elektronika IKIP Jakarta dan S-1 Pendidikan Luar Sekolah IKIP Bandung itu bertekad mengubah kondisi tersebut dengan cara yang dipahaminya, yakni membuatkan alat peraga bagi para siswa SMK. Tujuannya, siswa SMK bisa memahami pola kerja di perusahaan, dengan demikian mereka akan siap kerja ketika lulus. Selain itu, ketersediaan alat bantu pendidikan lokal membuat harganya semakin murah, dukungan suku cadang pun murah dan melimpah, serta memudahkan untuk mendidik para pengajar yang akan memakainya.

 Tak disangka, proyek dengan bendera Citralab itu akhirnya mengantarkannya menjadi inovator di bidang alat peraga pendidikan untuk SMK. Ini lantaran produk-produknya unik dan tidak banyak pesaing lokalnya di Indonesia. Ditambah lagi, dengan harganya yang hanya setengah bahkan ada yang sepertiganya dari produk sejenis impor, pesanan pun semakin meledak.

 Agus mengawali kreasinya pada 2003 bermodalkan Rp 100 juta, hasil tabungannya dari nyambi kanan-kiri di sela waktu luangnya mengajar. Karya pertamanya peralatan lab bahasa Inggris. Alasannya, kebutuhan penguasaan bahasa Inggris sangat krusial untuk bersaing di dunia kerja dan bisnis saat ini. Peralatan lab ini diproduksi dengan cara semudah mungkin. Ia mengombinasikan antara perangkat keras komputer dan peralatan audiovideo yang sudah tersedia di pasaran, plus menciptakan sendiri software bahasa Inggris. Ia dibantu siswa-siswa elektronika yang diajarnya. “Saya minta kerelaan mereka membantu seusai jam sekolah. Tidak semuanya saya minta, ada yang bersedia dan ada yang tidak, saya tidak masalah,” kata Agus yang pernah menjadi tenaga lepas desainer furnitur indoor dan outdoor serta desainer mesin di berbagai perusahaan.

 Hanya dalam tempo sebulan, jadilah produk peranti lab bahasa yang dirintis Agus. “Tapi persiapannya 3-4 bulan,” ungkapnya. Ia pun menawarkannya ke pihak SMKN 4 yang kemudian menghubungkannya dengan Suku Dinas Pendidikan setempat. Regulasi memang mensyaratkan semua penawaran alat bantu pendidikan melalui tender di Suku Dinas Pendidikan.

 Di Suku Dinas Pendidikan setempat, Agus kembali dibantu diperkenalkan dengan perusahaan yang biasa memasok peralatan pendidikan, PT Dinar Semesta. “Kemudian, Suku Dinas Pendidikan mengadakan tender kebutuhan lab bahasa Inggris yang diikuti Dinar dengan dukungan peralatan dari saya,” ujar Agus yang sampai kini belum memiliki badan usaha. Sebanyak 18 unit perangkat lab bahasa itu pun sukses dijual dengan harga total Rp 60 juta saja untuk digunakan di SMKN 4. “Saya memang tidak terlalu memikirkan laba, yang penting bisa membantu,” tuturnya.

Kunci harga kompetitif diperoleh Agus berkat penggantian komponen impor dengan berbagai peralatan yang tersedia di pusat belanja elektronik Glodok, Jakarta. “Misalnya, membuat instalasi listrik rumah tinggal kan alatnya sudah ada di pasar, meteran listrik, saklar, stop kontak,” katanya. Karena itu, Agus menyebut dirinya desainer produk semata, karena memang itu yang dilakukannya. Ia mendesain alat-alat elektronik yang tersedia di pasar menjadi alat peraga pendidikan. Karena strategi ini pula, harga produknya hanya mencapai sepertiga atau setengahnya dari harga produk impor. Sebagai contoh, ia bisa membuat peraga sistem kerja kulkas hanya seharga Rp 50 juta, atau hanya sepertiga harga alat serupa dari Cina.

 Perangkat lab bahasa ciptaan Agus di kemudian hari tidak hanya diminati dan dipakai di SMKN 4, tempat Agus mengajar sejak 1997, tetapi juga digunakan di Politeknik Bandung, Politeknik Medan-Sumatera Utara, Angkasa Pura di Cengkareng, dan STAN Kebayoran.

 Sejak itulah, kreativitasnya tak terbendung. Hingga kini, Agus sudah memproduksi puluhan alat peraga. Sebut saja, di antaranya, lab bahasa multimedia interaktif, trainer PLC, room speaker trainer, gasoline engine trainer, car air conditioner trainer, motor cycle trainer 4 tak, peraga mesin computer numerical control (CNC), dan hydraulic training system. Contoh kegunaan alat peraga Agus, misalnya, siswa SMK otomotif jadi tahu komponen-komponen yang digunakan di dalam mobil, apa fungsinya, bagaimana pengoperasiannya, dan sebagainya.

Agus mendapatkan ilmu membuat alat peraga, selain dengan melihat produk asli dari luar negeri (yang ditirunya dengan tambahan modifikasi agar tidak melanggar paten), juga dari buku-buku dan Internet. “Banyak orang baik lho di Internet. Syaratnya cuma bisa memakai Internet dan bisa berbahasa Inggris saja,” kata Agus yang memakai Apple Macbook Air 11,6 inci terbaru dan BlackBerry Onyx serta Pearl sebagai perangkat browsing dan messaging-nya. “Saya butuh yang ringan, praktis tapi kuat hardware

dan software-nya, makanya saya pilih produk-produk tersebut,” Agus memaparkan alasan di balik pemilihan gadget-nya.

Pria berputri kembar itu dengan jujur mengaku menggunakan SMKN 4 sebagai labnya untuk bereksperimen. Meski belakangan, pada 2007, ia mulai membangun workshop kecil di lahan seluas 400 m2 di samping rumahnya di Bekasi Utara. “Pak Teguh Priyanto dan Pak Riskan, dua pengajar di SMKN 4, yang membantu di workshop saya dulu,” Agus menyebutkan jasa kedua teman sejawatnya itu.

Di masa awal merintis usahanya Agus kerap begadang sampai pagi bereksperimen dan merakit berbagai produk di workshop-nya. Tanpa beristrahat panjang, saat matahari belum menampakkan sinarnya, ia sudah berangkat lagi ke tempatnya mengajar.

Tak cuma di workshop-nya, Agus pun sampai kini, meski tidak seintens dulu, masih menggunakan SMKN 4 sebagai sarana perakitan produk-produknya. “Kami sama-sama diuntungkan, sekolah mendapat peralatan gratis yang saya beli untuk produksi, siswa mendapat ilmu nyata merakit produk elektronik,” ujar Agus yang pernah menghibahkan trainer conveyor buatannya senilai Rp 150 juta bagi tempatnya mengajar.

Berkat promosi yang dilakukannya di berbagai pameran alat pendidikan dan pameran industri di Jakarta, ia pun kian berkibar sebagai produsen alat peraga pendidikan. Pada 2008, ia pernah mengikuti pameran 100 Tahun Kebangkitan Ekonomi Kreatif. Di sana, menurut Agus , ia bahkan menjadi fokus perhatian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Saya dengar dari peserta pameran lainnya, Pak SBY paling lama menghabiskan waktu di booth saya,” ceritanya riang.

Teguh Priyanto, rekan kerjanya di SMKN 4, mengaku keberadaan Agus sangat membantu menjembatani dunia pendidikan SMK dengan industri. “Kami menerapkan kurikulum berbasis produksi. Dengan begini, diharapkan lulusan SMK bisa menjadi pengusaha dan menciptakan lapangan kerja, tidak lagi mencari kerja,” kata Teguh yang juga tak keberatan sekolahnya dijadikan showroom sekaligus bengkel kerja Agus. “Karena, anak-anak bisa sekalian praktik dan mendapat kompetensi dengan alat dari Pak Agus, daripada nunggu kapan datangnya bantuan pemerintah yang jumlahnya pun gak banyak,” ungkap Teguh.

Agus, yang kini memproduksi sekitar 10 alat peraga per tahun, mengaku telah menembus omset Rp 2 miliar lebih per tahun. Ia pun tak berhenti di sini. Ia tengah membuat alat peraga peranti keras dan peranti lunak audiovideo. Untuk software-nya, Macbook Air miliknya banyak berkontribusi dalam pembuatannya. Ia juga tengah merancang alat peraga mobil dengan sistem fuel injection. Demi tujuan ini, Mercynya menjadi sasaran utak-atik. “Itu sebabnya saya beli Mercy. Soalnya, mengutak-atik barang orang lain atau punya sekolah saya gak berani, takut ngerusakin, berat pertanggungjawabannya,” tutur Agus, yang juga tengah merancang mesin batik tulis, bersungguh-sungguh.

Berkat gebrakannya yang menular ke sejumlah SMK lainnya, kini berbagai SMK di berbagai penjuru Indonesia seperti Yogyakarta, Jawa Tengah, Balikpapan hingga Makassar diajak Agus menjadi mitra perakit laptop, proyektor, sampai alat peraga milling machine seharga Rp 350 juta per unit. “Ini memang tujuan saya, agar SMK diberdayakan dan lulusannya memiliki keahlian sesuai kebutuhan industri, bahkan harus bisa menciptakan lapangan kerja sendiri,” papar Agus.

Felix Ferryanto Lukman, akademisi bisnis dari Prasetiya Mulya Business School, melihat bisnis Agus berawal dari pertemuan kesempatan dan skill. “Satu point yang seharusnya bisa ditambahkan adalah sebaiknya beliau memiliki perusahaan atau bendera sendiri, agar produknya tidak dibajak. Akan tetapi, itu akan terjadi benturan dengan peraturan yang membatasi beliau sebagai PNS. Jadi, bisa juga digunakan nama istrinya,” Felix menyarankan.

Menurut Felix, tantangan yang dihadapi Agus adalah jika nanti produsen sejenis dari Cina menemukan cara membuat produk serupa dengan lebih murah. “Pasti akan terjadi banting-membanting harga,” ujarnya. Untuk menghadapi kondisi tersebut, ia menyarankan penerapan strategi diferensiasi yang unik di mata konsumen, karena bila Agus terus menggunakan model bisnis obligation cost level, usahanya akan terlibas produk sejenis aal Cina.

Selain itu, Agus juga harus mengembangkan pasarnya ke perusahaan swasta atau institusi lain yang memerlukan mesin tersebut. Dengan demikian, aspek profitability, applicable dan sustainability dapat terwujud. “Biasanya, bisnis-bisnis baru terkendala di sisi sustainability (manajemen, pengembangan, dan aspek internal) sehingga terlihat akan seperti itu-itu saja,” ujar Felix. Satu lagi, ia menekankan, jika produknya belum dipatenkan, sebaiknya segera diurus. Sebab, hak paten adalah salah satu pelindung untuk kelangsungan produknya.

Agus, ketika ditanya SWA, menjawab tidak satu pun produknya yang dipatenkan. “Soalnya, untuk mematenkan satu jenis, kita harus menitipkan dua contoh produk di sana. Bayangkan, berapa miliar harus saya keluarkan untuk menitipkan produknya saja, belum biaya administrasinya,” ungkap Agus seraya berharap mendapat solusinya dari pemerintah untuk mengurus hak patennya.(*)

 

POINTERS

Kiat Bisnis Pak Guru

  • Memperkaya diri dengan berbagai pengetahuan tambahan

  • Mengambil pekerjaan paruh waktu di bidang lain demi menambah pengetahuan

  • Memiliki tujuan mulia: meningkatkan kualitas lulusan SMK

  • Berani mengambil risiko menginvestasikan dana sendiri dalam usahanya

  • Memberdayakan seluruh sumber daya yang ada, baik aset pribadi, aset di tempat kerja maupun sumber daya produk yang tersedia di pasar umum

  • Tidak segan menawarkan hasil karyanya ke sekolahnya

  • Tidak menjadikan laba sebagai tujuan utama

  • Terus belajar dari berbagai sumber offlinedan online
  • Terus mengamati, meniru dan memodifikasi produk impor pesaing

  • Terus berinovasi dan meriset penciptaan produk baru

(oleh : Eddy Dwinanto Iskandar)

sumber: http://swa.co.id/2011/06/bila-pak-guru-berbisnis/