Monthly Archives: August 2011

Mantan Karyawan Bank, yang Kini Sukses Menggeluti Usaha Sepatu Handmade

Berawal dari penolakan desain, Lulu Sayyidatu bersama suaminya, Penni Ahlani, menjajal bisnis pembuatan sepatu buatan tangan. Ia mengajak beberapa pemuda di sekitar kompleks Padasuka Indah, Cimahi, Bandung, untuk membuat sepatu. Meski baru skala industri rumahan, produk Mimosabi sudah digemari pasar di luar negeri.

Lulu Sayyidatu mulai memproduksi sepatu handmade sejak April 2007. Setelah mantap pada pilihannya, menjadi pengusaha, Lulu yang pada waktu itu adalah seorang karyawan bank, memutuskan keluar bekerja untuk mengembangkan usaha yang dirintis dengan sang suami.

Lantas, ia pun merekrut tujuh pemuda di sekitar rumahnya untuk memproduksi sepatu. Para pemuda yang hanya lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini biasanya menganggur atau hanya menjadi pengamen.

Bersama suami, Lulu melatih mereka untuk membuat sepatu handmade. Berkat usaha ini, para pemuda itu memperoleh penghasilan tetap.

Mengusung merek Mimosabi, Lulu menjual beragam model sepatu. Mulai dari flat shoes, high heels, dan wedges. Pada awal berdiri, Mimosabi hanya mengeluarkan 50 desain produk.

Tiga tahun berlalu, Lulu sudah meluncurkan hingga 170 desain sepatu. “Selain itu, kami juga mengeluarkan koleksi tambahan, seperti sneakers, kids shoes, dan sandal,” tutur Lulu.

Ia mengaku tak menemui kesulitan ketika merintis usahanya. Meski persaingan kian ketat dan produk Mimosabi relatif lebih mahal, sepatu buatan Lulu cukup digemari.

Maklum, produk Mimosabi memiliki ciri khas dan berbeda dengan produk lainnya. Produk itu menggunakan aplikasi kain perca, mute, dan jelujur tangan. Lulu bilang, harga sepatu lebih mahal, karena memakai bahan baku kanvas.

Buktinya, delapan bulan sejak Mimosabi meluncur di pasaran, Lulu mendapatkan pesanan dari beberapa negara seperti Singapura, Malaysia, dan Swedia. Meski jumlahnya tidak terlalu besar, lanjut Lulu, ini adalah gerbang Mimosabi untuk melangkah ke pasar ekspor.

Pada tahun pertama usaha ini berdiri, Lulu mampu mendulang omzet sekitar Rp 30 juta hingga Rp 45 juta per bulan. Nah, setelah sepatunya makin laris, Lulu bisa mendulang omzet hingga Rp 165 juta per bulan.

Kini, Lulu juga memiliki pelanggan tetap dari Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Setidaknya, 1.000 pasang sepatu dikirimkan untuk ketiga negara tersebut dalam sebulan.

Seiring meningkatnya pesanan sepatu Mimosabi, Lulu pun memberikan order kepada beberapa perajin di Bandung. Bahkan, ada satu desa di Bandung yang khusus mengerjakan pesanan sepatu Mimosabi. Sayang, Lulu enggan menyebutkan nama desa tersebut. Berkat pesanan sepatu dari Lulu itu, pendapatan warga desa itu pun bertambah.

Dalam bisnis selalu ada pasang surutnya. Lulu juga pernah mengalami masa-masa sulit. Ketika itu, penjualannya sempat menurun hingga 60%. “Alhamdulillah, bisa kita antisipasi dengan mengeluarkan desain-desain baru dan strategi pemasaran baru,” kata Lulu.

Tak mau sendiri menangguk keuntungan, Lulu membuka kesempatan untuk menjadi distributor. Lulu optimistis, prospek sepatu handmade ini cukup bagus. Apalagi dengan ciri khasnya, daya jual sepatu Mimosabi, cukup tinggi. Di tengah persaingan, produk Mimosabi pun tetap bertahan. “Karena produk handmade ini bukan produk musiman,” kata Lulu.

Sumber: http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1322635004/84024/Penni-dan-Lulu-berdayakan-pemuda-melalui-sepatu

Wasno dulu buruh, sekarang juragan boneka yang punya 50 karyawan

etelah lama bekerja menjadi buruh pabrik pembuat boneka, Wasno banting setir dan menjalani bisnis pembuatan boneka sendiri. Selama lebih dari 15 tahun dia menggeluti bisnis boneka, saat ini omzetnya sudah mencapai Rp 400 juta per bulan. Namun persaingan bisnis pembuatan boneka semakin ketat.

Berawal dari keinginan untuk mengubah taraf ekonomi keluarga, Wasno keluar dari pekerjaannya dan memulai bisnis sendiri. Jika dahulu Wasno hanya buruh di pabrik pembuat boneka milik perusahaan Korea di Karawang, kini dia telah mempekerjakan 50 karyawan yang menghasilkan omzet Rp 400 juta per bulan.

Bisnis yang digeluti Wasno saat ini tidak jauh dari pekerjaannya dahulu yaitu boneka. Mulai berbisnis pembuatan boneka sejak 1991, dia mengaku hanya bermodalkan Rp 200.000 dan tiga mesin jahit. “Saya dibantu tiga orang,” katanya.

Tiga orang itu adalah warga sekitar rumah yang sudah dididik untuk membuat boneka. Sebab, saat itu dia menjadikan rumahnya sebagai bengkel kerja pembuatan boneka.

Sebanyak 50 pekerja tersebut dibagi dalam beberapa proses produksi, seperti bagian pola, menjahit, mengisi, membuat aksesori sampai pengepakan. Setidaknya 300 hingga 400 boneka bisa diproduksi per bulan dengan berbagai ukuran.

Selama dua tahun pertama, Wasno menjual boneka dengan keliling, terutama di kereta ekonomi yang berhenti di Stasiun Cikampek. Tak lama kemudian dia menjadikan rumahnya tak hanya sebagai bengkel kerja namun juga toko penjualan. Dengan toko yang menetap, para pelanggan bisa langsung memesan dengan datang ke rumahnya.

Ia bercerita, mayoritas pelanggan yang datang ke rumahnya adalah pembeli boneka saat dia menjajakan langsung di kereta. “Mereka biasanya bertanya dahulu ke orang-orang, kemudian mereka datang ke rumah,” kata Wasno. Karena itulah, menurut Wasno, usahanya besar karena promosi dari mulut ke mulut

Saat ini, pembeli yang datang ke tokonya sebagian besar adalah pedagang yang ingin menjual kembali boneka ke Medan, Lampung, Yogyakarta, dan Jakarta. Untuk pasar Jakarta, pedagang yang kerap membeli ke tempatnya adalah pedagang Tanah Abang, Pasar Baru, dan Ragunan.

Rata-rata pelanggannya adalah pedagang kaki lima. “Orang kaya membeli boneka di mal, masyarakat menengah bawah beli boneka di kaki lima. Di situlah pasar terbesar saya,” kata Wasno.

Walau mengaku tak menemui banyak kendala dalam membesarkan bisnisnya, Wasno juga pernah mengalami masa sulit. Masalah permodalan dan pemasaran pada 1995 menjadi penyebab bisnisnya hampir runtuh.

Tapi, Wasno tak menyerah. Pada tahun 1998, dia bahkan berhasil mendirikan toko boneka pertamanya di Karawang. Toko di rumahnya sudah tidak bisa menampung hasil produksi lantaran permintaan yang terus naik.

Selain mendirikan toko boneka, pada tahun 2000 Wasno juga memperluas bengkel produksi tepat di sebelah rumahnya di Kampung Mekar Sari, Karawang. “Itu untuk menampung tambahan mesin jahit, agar kapasitas produksi naik,” katanya. Dengan peningkatan kapasitas, pada 2001, dia membuat toko boneka lagi tak jauh dari rumahnya.

Penambahan toko diperlukan untuk menampung pesanan yang naik menjelang Natal dan Tahun Baru. Sebab pada saat itulah lonjakan permintaan boneka sangat tinggi. Berbeda dengan musim menjelang bulan puasa yang sepi. “Di akhir tahun sangat ramai, pagi dibuat, sore sudah dibeli. Namun menjelang Ramadan sepi, dan akan ramai kembali setelah Lebaran,” katanya.

Di akhir tahun itulah, Wasno mengaku terpaksa menolak pesanan. Dia tak mau mengalihkan pesanan itu ke produsen boneka lain demi menjaga kualitas. Menurutnya, walau sama-sama perajin boneka, namun kualitas yang dihasilkan tidaklah sama.

Memang, saat ini perajin dan pedagang boneka sudah banyak ditemui di sekitar Cikampek. Dengan persaingan yang semakin ketat, Wasno mengaku akan terus melakukan inovasi model dan desain.

Tak hanya itu, dia juga harus peka terhadap perkembangan zaman dan trend pasar. Contohnya sekarang ketika Upin dan Ipin ataupun domba Shaun the Sheep sedang trend. Selain boneka-boneka itu, dia juga memproduksi boneka karakter binatang, seperti harimau, singa dan beruang, yang tidak mengenal tren.

 

Keterbatasan modal memacu Wasno lebih kreatif demi menyiasati keadaan. Ia misalnya membuat boneka dari bahan sisa pabrik. Dengan cara ini, dia bisa menekan ongkos produksi dan harga jual produknya lebih murah. Toh, kualitas hasil karyanya tidak kalah bersaing dengan boneka buatan pabrik besar.

Seperti pengusaha lainnya, Wasno pernah mengalami kesulitan modal saat membangun usaha pembuatan boneka di Cikampek, Karawang. Namun kesulitan modal itu memicu Wasno lebih kreatif membuat boneka dengan biaya produksi lebih murah.

Karena tidak memiliki banyak modal membeli bahan kain, Wasno memutuskan membuat boneka dari bahan kain sisa potongan di pabrik boneka dan pabrik garmen. “Harga bahan kain sisa pabrik itu lebih murah dari pada membeli bahan kain baru,” kata Wasno.

Dengan bahan sisa potongan pabrik itulah Wasno berhasil membuat boneka yang berharga murah. Tapi membuat boneka dari bahan sisa potongan pabrik itu tidak mudah. Apalagi kain sisa pabrik itu memiliki ukuran yang beragam sehingga sulit untuk menjahitnya menjadi sebuah boneka.

Tapi berkat kreativitas, Wasno terus melakukan eksperimen agar mampu membuat boneka dari bahan sisa pabrik tersebut. “Sebelum saya produksi, saya belajar dulu membuat boneka dari bahan sisa pabrik,” terang Wasno.

Setelah mencoba berulang-ulang kali, boneka berbahan sisa pabrik itu pun selesai. Namun kualitas yang dihasilkan jauh dari harapan Wasno. Tapi dia tidak kehilangan akal, Wasno akhirnya membuat boneka dengan cara menggabungkan penggunaan bahan kain sisa pabrik dengan kain baru.

Walaupun harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli kain baru, tapi biaya pembuatan boneka tetap lebih murah ketimbang biaya produksi boneka pabrikan. “Pengetahuan membuat boneka saya peroleh secara otodidak,” jelas Wasno yang mengklaim kualitas bonekanya tak jauh beda dengan boneka pabrikan.

Selain belajar otodidak, Wasno sebenarnya sudah memiliki dasar pengetahuan membuat boneka sewaktu bekerja di salah satu pabrik boneka di Karawang. Pengetahuan dari pabrik itulah yang menjadi pedomannya membuat boneka dengan tangan sendiri.

Setelah berhasil membuat boneka dari bahan sisa pabrik dan bahan kain baru, Wasno kemudian memproduksinya dalam jumlah terbatas. Pertama kali ia memproduksi 10 sampai 20 boneka per hari. “Modal pembuatan boneka dari uang saya sendiri,” kenang Wasno.

Meskipun tidak mendapat bantuan atau pinjaman modal, tapi Wasno tidak menyerah untuk membesarkan usaha itu. Secara bertahap, Wasno menambah jumlah produksi boneka itu dengan memanfaatkan uang tabungan yang ia sisihkan dari setiap penjualan.

Sampai tahun 2000, Wasno berhasil memproduksi 150 boneka per hari termasuk mendirikan toko boneka di Karawang. Namun ia ternyata belum puas, Wasno ingin memperbesar usahanya itu dengan mengajukan pinjaman modal ke perbankan. “Bantuan modal mengalir setelah ada toko yang menjadi agunan ke bank,” ungkap Wasno.

Kucuran pinjaman perbankan itu mengalir Rp 50 juta. Uang itu digunakan Wasno untuk menambah kapasitas produksi dengan cara menambah mesin jahit, memperluas bengkel, dan menambah karyawan.

Proyek penambahan kapasitas produksi boneka berjalan sukses. Produksi boneka Wasno naik dari 150 boneka per hari menjadi 250 per hari. Kenaikan produksi itu berimbas pada kenaikan belanja bahan serta belanja karyawan.

Wasno beri contoh, dalam sehari ia mesti mengeluarkan Rp 5 juta untuk belanja kain bulu sebanyak 100 kilogram (kg). Untuk diketahui, harga kain bulu itu Rp 50.000 per kg. “Belum lagi komponen gaji karyawan yang juga turut bertambah,” tutur Wasno.

Walaupun biaya produksi membengkak, Wasno bisa tersenyum karena omzetnya juga bertambah. Jumlah produksi yang meningkat membuat banyak pelanggan baru berdatangan ke tokonya.

Dalam merintis usaha sendiri, Wasno mengaku kecewa dengan minimnya peran pemerintah. Ia menilai, pengusaha boneka di Cikampek banyak yang tidak mendapat perhatian. Mereka membangun usaha sendiri tanpa ada peranan pemerintah. “Seharusnya pemerintah berperan sebagai bapak angkat, sehingga usaha kami tidak jalan di tempat,” harapnya.

Wasno adalah tipe orang yang selalu ingin bertambah maju. Ia belum puas meski usaha pembuatan bonekanya telah menghasilkan omzet ratusan juta rupiah per bulan. Dia juga sudah punya toko. Namun Wasno tetap ingin memperluas pasar bonekanya hingga ke seberang lautan alias ekspor.

Meski usaha boneka milik Wasno semakin melar, tapi dia merasa usahanya belum sampai pada cita-cita yang dia idamkan. Wasno mengaku ingin sekali menjadi eksportir boneka. Namun keinginan ini belum juga kesampaian.

Saat ini, penjualan boneka yang ia produksi di Cikampek, Karawang, Jawa Barat itu baru bisa melayani pasar domestik. Keinginan Wasno untuk mengekspor boneka miliknya itu belum terwujud karena tidak mengetahui prosedurnya.

Agar bisa mengekspor boneka itu, Wasno sebenarnya sudah belajar kepada temannya yang menjadi perajin boneka di Bandung. Boneka buatan si teman ini sudah lebih dulu menjelajah pasar mancanegara. Selain belajar cara menjadi eksportir, “Saya juga membantu mengerjakan pesanan boneka jika teman saya itu tidak bisa layani seluruh pesanan,” terang Wasno.

Menurut Wasno, temannya itu sering kewalahan untuk melayani permintaan ekspor boneka ke Vietnam dan Thailand. Permintaan boneka dari kedua negara anggota ASEAN itu masing-masing 3.000 unit dan 2.500 unit per bulan.

Jumlah pesanan itu terkadang membengkak terutama saat perayaan Hari Valentine dan Tahun Baru. “Permintaan boneka itu banyak sekali, cuma saya belum mengetahui cara untuk mendapatkan pesanan itu,” keluh Wasno.

Namun pantang bagi Wasno untuk patah arang. Dia bertekad ingin mewujudkan keinginan itu dengan mengekspor sendiri. Ia berencana membuka pasar ekspor bersama seorang sahabatnya. “Tahun depan akan kami realisasikan,” target Wasno.

Nah, salah satu persiapan ekspor itu, Wasno kini sudah melakukan perluasan bengkel pembuatan boneka. Dia juga berencana menambah jumlah karyawannya sebagai antisipasi atas membeludaknya jumlah pesanan boneka.

Dari 50 karyawan yang ia miliki sekarang ini, Wasno berencana menambah 10 hingga 20 karyawan lagi di awal tahun depan. Sedangkan untuk kapasitas produksi, ia akan menaikkan dari 250 unit per hari menjadi 400 unit per hari.

Sebelumnya, Wasno sudah melakukan beragam cara agar bisa menjadi eksportir boneka. Mulai dari mengikuti pameran yang diselenggarakan oleh pemerintah hingga pameran mandiri.

Namun dari pameran ke pameran itu, Wasno tak kunjung mendapatkan pembeli dari luar negeri. “Selesai pameran tidak ada follow up. Boneka yang laku hanya yang ada selama pameran,” jelas dia.

Bahkan saat hendak ikut pameran Wasno pernah ditipu oleh oknum pemerintah daerah. Ketika itu, ia diajak ikut pameran namun dengan syarat, Wasno harus mengirimkan sampel boneka terlebih dahulu. Rencananya, boneka sampel itu akan dipajang di booth milik pemerintah daerah.

Setelah boneka untuk sampel telah dikirimkan, tapi pameran yang ditunggu-tunggu tak pernah ada. Hingga akhirnya Wasno menyadari ia telah ditipu, sejumlah bonekanya raib digondol oleh penipu tersebut.

Dari peristiwa itu, Wasno mengaku mengalami kerugian puluhan juta rupiah. Sejak saat itulah, Wasno mengaku kapok mengikuti segala bentuk pameran promosi produk terutama yang diselenggarakan pemerintah.

Selain berambisi untuk melakukan ekspor, Wasno juga berambisi untuk memiliki merek boneka sendiri. Ia berharap suatu saat merek bonekanya bisa terpampang di pusat perbelanjaan di Jakarta.

Menurutnya, dengan memiliki merek sendiri, produknya akan memiliki nilai jual lebih tinggi. Tapi untuk membuat merek boneka sendiri itu ternyata juga tak gampang bagi Wasno. Ia mengaku tak mengerti cara dan prosedur pembuatan merek. “Selain merek tentu ada hak cipta, dan saya tidak mengerti bagaimana membuatnya,” ungkap Wasno.

Menurut Wasno, dengan memiliki merek dan hak cipta boneka sendiri, maka produk boneka yang ia hasilkan bisa dilindungi Undang-undang. Jika ada pihak lain yang menirunya maka pihak itu bisa terkena sanksi. “Saat ini banyak yang meniru desain boneka saya,” jelas Wasno.

 

Sumber: http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1322633244/84020/Wasno-ingin-ekspor-dan-punya-merek-sendiri-3

Modal Awal Rp 3 Juta, Fatoni Kini Sukses Jaring 205 Mitra dengan Jamur Kriuk

Hanya dengan modal Rp 3 juta, Fatoni berhasil membangun jaringan usaha waralaba penganan Jamur Kriuk dengan investor dari berbagai kota di Indonesia. Lihat saja, hanya butuh waktu 2,5 tahun, ia berhasil menjaring 205 mitra. Selain mendapatkan royalty fee dari mitra Toni juga mendapatkan laba dari penjualan bahan bakunya.

Menjadi wirausaha sukses tentu menjadi idaman banyak orang. Apalagi sukses itu diraih dalam tempo terbilang singkat. Itulah nasib baik yang dialami Fatoni, pemilik CV Manggala Karya Abadi.

Pria yang akrab dipanggil Toni itu hanya butuh waktu 2,5 tahun untuk membangun bisnis kemitraan Jamur Kriuk (Jakri) yang berpusat di Purwokerto, Jawa Tengah. Toni kini memiliki 205 mitra yang berjualan Jamur Kriuk dengan gerobak di banyak kota di Indonesia.

Toni mulanya tidak menyangka, usaha pembuatan olahan jamur itu bisa berkembang seperti sekarang ini. Padahal, ia menemukan racikan olahan jamur itu secara tidak sengaja.

Ketika itu, Toni ingin membuat olahan penganan yang unik. Hingga akhirnya dia memutuskan membuat kudapan berbahan baku jamur. Ternyata masakan coba-coba lezat rasanya. “Mulanya saya hanya ingin membuat usaha yang memiliki racikan berbeda,” ujar suami dari Lita Desita Permatasari itu.

Akhirnya, dengan modal cuma Rp 3 juta, Toni memutuskan berjualan olahan jamur dengan gerobak. Ia rela menaruh ijazah Magister Manajemennya di lemari demi berjualan jamur. “Semua saya jalani dengan yakin, bahwa usaha ini akan berkembang,” kata alumni Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta itu.

Walaupun sempat laris di awal buka usaha, bukan jaminan usaha itu tetap laku. Penjualan jamur Kriuk milik Toni sempat turun, bahkan pernah ia hanya menjual empat bungkus dengan omzet Rp 20.000 per hari. “Saat itu saya hanya panas dan kehujanan,” kenangnya.

Dengan penuh kesabaran, ia berusaha mempertahankan usaha itu hingga omzetnya pelan namun pasti terus menanjak. Begitu omzetnya berkibar, saat itulah banyak investor yang datang dan mereka tertarik menjadi terwaralaba jika Toni mengembangkan usahanya menjadi waralaba.

Toni pun tertarik mengembangkan usahanya ini dalam bentuk waralaba. Dan ketika waralaba ini ditawarkan, gayung bersambung, para investor pun berdatangan. Hanya butuh waktu 2,5 tahun, Toni sudah mampu menjaring 205 terwaralaba, 28 di antara adalah pemegang master franchise. “Mitra terjauh kami saat ini ada di Pekanbaru,” kata Toni.

Untuk menjadi pemegang master franchise, Toni mensyaratkan terwaralaba harus setor modal sebesar Rp 30 juta sampai Rp 40 juta. Adapun untuk terwaralaba hanya membenamkan investasi sebesar Rp 6,8 juta.

Sebagai usaha waralaba, tentu juga mengutip royalty fee sebesar 2,5% dari omzet per bulan. Selain itu, ia juga mendulang untung dari penjualan bahan baku. “Setiap bulan ada tujuh sampai delapan terwaralaba baru yang bergabung dengan kami,” terangnya.

Tentu, usaha ini juga tak selalu berjalan mulur. Toni mengaku, kini sekitar 15% terwaralaba sudah tidak aktif lagi berbisnis Jamur Kriuk. Buktinya, mereka tak setor royalty fee.

Namun , Toni mengaku setiap gerai Jamur Kriuk yang aktif memperoleh omzet rata-rata Rp 300.000 – Rp 500.000 per hari atau omzet per bulan rata-rata sebesar Rp 4,5 juta.

Agar bisnisnya bisa berkembang, Toni melakukan ekspansi bisnis pada pertengahan Juni 2011 lalu. Ia membuat usaha waralaba baru bernama Pasta Jamur Kriuk (Pasta Jakri). “Gerai ini menjual jamur kriuk memakai bumbu pasta,” kata Toni.

Namun, sampai Desember ini, gerai Pasta Jamur Kriuk itu belum mendapatkan terwaralaba. Tapi dari gerai miliknya sendiri, Toni mengaku bisa mendulang omzet hingga Rp 1,5 juta per hari atau sekitar Rp 45 juta per bulan.

Dari seluruh usahanya, Toni mengklaim hanya mendapatkan omzet Rp 125 juta per bulan. “Saya bikin konsep waralaba bukan mencari laba tapi lebih kepada memberikan manfaat bagi orang lain,” ujarnya.

Dalam menjalankan usahanya itu, Toni berhasil menyelipkan pesan, jamur bisa diolah menjadi penganan lezat sekaligus menghasilkan laba yang menggiurkan.

Lewat tangan dinginnya, Toni berhasil mengemas jamur dengan aneka rasa seperti: rasa keju, barberque, balado, piza, superpedas, hingga rasa orisinal. “Usaha jamur ini sukses karena tidak ada pesaing,” katanya.

Sebelum sukses membangun bisnis waralaba Jamur Kriuk, Fatoni gagal membangun bisnis konstruksi dan penerbitan. Bahkan ia pernah merasakan pahitnya menjadi pengangguran walaupun sudah mencoba mencari pekerjaan di Jakarta. Tapi pintu sukses Fatoni terbuka usai mempersunting gadis idamannya, Lita Desita Permatasari.

Menjadi pengusaha sukses adalah cita-cita Fatoni. Pemilik CV Manggala Karya Abadi (MKA) di Purwokerto, Jawa Tengah, ini sejak kecil memang mendambakan memiliki usaha yang bisa mempekerjakan orang lain.

Demi mengejar cita-cita itu, ketika masih duduk di bangku SMA, Fatoni juga tak sungkan berjualan beras. Ketika itu, untuk melanjutkan sekolah, Fatoni harus indekos di Cilacap. Lantaran kiriman dari orang tua juga pas-pasan, Fatoni pun berjualan beras agar bisa bayar ongkos indekos. “Pelanggan saya adalah para tetangga kos,” kata pengusaha waralaba Jamur Kriuk ini.

Tapi, usaha itu tidak bertahan lama. Fatoni terpaksa gulung tikar lantaran ditipu teman kosnya sendiri sehingga modal dagangnya pun melayang. “Berasnya diambil namun tidak dibayar,” kenang Fatoni.

Namun pengalaman buruk itu justru semakin melecut pria kelahiran 4 April 1982 itu untuk mendalami ilmu berbisnis. Begitu lulus SMA, Toni melanjutkan kuliah di Yogyakarta sampai meraih gelar magister manajemen.

Merasa ilmunya sudah mumpuni, Fatoni membuka perusahaan patungan bidang konstruksi dan penerbitan bersama sahabatnya. Namun sayang, usaha ini gagal. Saat itu, Fatoni sempat meratapi kegagalannya itu.

Namun ia juga tidak mau berlama-lama larut dalam kesedihan. Fatoni berusaha bangkit lagi dengan mencoba mencari pekerjaan di Jakarta. Tetapi Ibukota tak mampu memberi harapan masa depan untuk Fatoni. Ketika itu, Fatoni sempat melamar ke perusahaan otomotif dan perbankan, namun dua perusahaan itu tak memberinya kesempatan.

Gagal mencari pekerjaan di Jakarta, Fatoni pun terpaksa mudik ke rumah orang tuanya di Purwokerto. Di kampung, Fatoni juga tak punya pekerjaan namun dia tetap percaya diri menikahi gadis impiannya, Lita Desita Permatasari. “Walaupun tidak memiliki penghasilan tetap, jodoh saya ternyata datang,” ujarnya, senang.

Dengan sang istri, Fatoni pun memulai lembaran baru dalam hidupnya. Karena tidak memiliki pekerjaan, Toni mengisi hari-harinya membantu usaha mertua berbisnis rumah makan.

Ketika membantu bisnis keluarga istrinya itulah Toni mendapatkan inspirasi untuk berbisnis makanan. Apalagi mertua dan istrinya mahir memasak.

Untuk mewujudkan impian bisnisnya itu, Fatoni berusaha mencari informasi lengkap tentang peluang bisnis makanan dari berbagai literatur. Dari situlah, Fatoni menemukan konsep bisnis waralaba. “Konsep ini saya diskusikan dengan istri, ternyata dia setuju,” ujar Fatoni.

Nah, setelah konsep bisnis selesai, Fatoni masih bingung, kira-kira makanan apa yang bisa dijual dan laris manis sehingga dengan gampang bisa diwaralabakan. “Kebetulan ketika itu istri saya memasak jamur goreng dan rasanya enak. Saya pikir, inilah menu yang pas untuk usaha saya,” cerita Fatoni, panjang lebar.

Fatoni mulai bereksperimen. Dia meminta sang istri untuk membuat jamur goreng namun dengan aneka varian rasa. Dan ternyata, jamur goreng dengan aneka rasa ini memang enak kalau jamur digoreng kering lagi garing renyah.

Lita Desita, istri Fatoni, menambahkan, ia bersama suaminya tidak membutuhkan waktu lama untuk mengeksekusi bisnis olahan jamur itu. “Setelah konsepnya matang dan produknya sudah ada, kami langsung membuka usaha jamur ini,” terang Lita.

Ternyata, perkiraan Fatoni benar, jamur goreng itu laris manis. Berkat pergaulan Fatoni yang luwes, para terwaralaba pun berdatangan. Mereka ingin berbisnis jamur goreng yang kemudian diberi nama Jamur Kriuk ini.

Dalam pandangan sang istri, Fatoni memang sosok yang mudah bergaul. Itulah sebabnya, dia tak kesulitan menjaring investor untuk mengembangkan bisnis ini.

Namun, Lita juga menyadari kelemahan sang suami yang mudah percaya kepada orang lain. “Ini sering disalahgunakan,” kata Lita.

Lita menilai kesuksesan sang suaminya itu tak lepas dari kerja keras mereka setelah hidup bersama. “Sebagai kepala keluarga, dia tidak mau ambil keputusan sendiri, tapi lewat diskusi dulu,” ungkap Lita.
Fatoni kini memiliki pekerjaan besar, yakni mempertahankan 205 terwaralaba Jamur Kriuk miliknya. Agar bisnis terus bisa berjalan pemilik CV Manggala Karya Abadi itu juga rajin melakukan inovasi produk. Selain itu, ia rajin menyambangi para terwaralaba untuk mengetahui kesulitan mereka.

Seperti kata pepatah, mempertahankan lebih sulit ketimbang merebut. Tamsil inilah yang menjadi tantangan Fatoni dalam mengelola 205 terwaralaba Jamur Kriuk yang tersebar di banyak kota di seluruh Indonesia.

Fatoni memang perlu bekerja keras agar jumlah terwaralabanya tidak menyusut, syukur-syukur kalau jumlahnya malah bertambah.

Namun, menambah jumlah terwaralaba tentu bukan pekerjaan mudah. Apalagi di tengah maraknya tawaran waralaba makanan yang menawarkan paket usaha yang sama-sama menggiurkan bagi investor.

Agar bisnisnya berkembang, Fatoni terus melakukan inovasi produk agar Jamur Kriuk aneka rasa tetap laku di pasaran. Salah satu bentuk inovasi yang ia tawarkan adalah produk baru bernama Pasta Jamur Kriuk.

Menilik namanya, penganan ini memang pengembangan produk Jamur Kriuk sebelumnya. Produk olahan jamur ini terbuat dari campuran jamur dan daging yang dibubuhi bumbu pasta. “Ini bisa menjadi variasi pilihan baru bagi pelanggan setia kami,” kata Fatoni.

Inovasi produk itulah yang dipersiapkan untuk menghadapi persaingan di bisnis makanan yang kiat sengit. Jika tidak ada inovasi, Fatoni khawatir pasarnya bakal mengalami kejenuhan. “Walaupun kami punya banyak pelanggan loyal, bisa saja mereka berpaling jika produk kami monoton,” tegasnya.

Menurut Toni, produk Pasta Jamur Kriuk itu bukanlah inovasi pertama yang dilakukan sejak ber bisnis Jamur Kriuk. Akhir 2009 lalu, Toni pernah mengeluarkan produk Yoghurt yang didistribusikan lewat gerai terwaralaba Jamur Kriuk yang ada di Purwokerto.

Namun sayang, inovasi produk Yoghurt itu terpaksa ia hentikan sementara karena sulit mempertahankan kualitas Yoghurt agar lebih bisa tahan lama. Maklum, “Yoghurt hanya bisa tahan sehari karena kami tidak memakai pengawet,” terang Fatoni.

Namun Fatoni belum menghentikan produk itu sepenuhnya. Ia masih mencari formula yang efektif agar bisa membuat yoghurt yang bisa tahan lebih lama namun tanpa pengawet di dalam minuman itu.

Bagi Toni, kesehatan dan higienitas produk lebih utama ketimbang sekadar mencari laba. Sebagai bukti keamanan produknya, Toni mengklaim memiliki izin edar dari Dinas Kesehatan Purwokerto, Jawa Tengah.

Selain inovasi produk, Fatoni juga tak pernah bosan mengunjungi para terwaralabanya. Di saat pertemuan itu, biasanya mereka sibuk berdiskusi mengenai bagaimana mengembangkan bisnis.

Fatoni perlu bersafari untuk melihat langsung perkembangan bisnis terwaralaba Jamur Kriuk. Selain itu, program ini juga bertujuan mencari solusi bisnis di setiap terwaralaba. “Saya harap mereka berhasil dan untung dengan Jamur Kriuk,” harap fatoni.

Yang jelas, ada kabar gembira dari Fatoni, ia tidak memiliki rencana menaikkan nilai investasi bagi calon investor baru. Seperti diketahui, paket investasi Jamur Kriuk saat ini adalah Rp 6,8 juta. Sedangkan nilai Master Franchise mencapai Rp 30 juta sampai Rp 40 juta tergantung lokasi. “Saya percaya usaha besar tidak harus dengan modal besar,” ungkap Toni.

Fatoni yakin uang hanyalah modal sekunder dalam berbisnis. Baginya, modal utama dalam berbisnis itu adalah semangat serta kemauan untuk bekerja keras. “Inti bisnis dari waralaba adalah memiliki keinginan untuk berkembang bersama-sama,” tandasnya.

Lita Desita Permatasari, istri sekaligus rekan kerja Fatoni, mengaku banyak memetik hikmah dari berbisnis Jamur Kriuk ini. Lita bilang, sejak membuka usaha Jamur Kriuk, suaminya mendapat tawaran menjadi dosen pengajar di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sufyan Tsauri Majenang, sekitar tiga jam perjalanan dari Purwokerto.

Toni diberi kepercayaan mengajar bidang studi ekonomi syariah untuk para mahasiswa. Kesempatan itu tidaklah disia-siakan Toni, ia meluangkan waktunya satu hari dalam dua pekan untuk mengajar. “Suami saya mengajar agar ilmunya bisa bermanfaat,” kata Lita.

Sumber: http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1324273099/85547/Fatoni-jaga-bisnis-dengan-inovasi-dan-silaturahmi-3

Farry Tandean: Anak pedagang kelontong yang sukses berbisnis mebel

Jika bukan karena orang tuanya, Farry Tandean tidak mungkin bekerja sebagai pengusaha mebel dan interior. Selain membuat mebel dengan desain inovatif, ia juga berbisnis ubin dan panel dekoratif berbahan limbah batok kelapa.

Di saat bisnis mebel ekspor melesu seperti sekarang, sebagian orang bakal menganggap industri ini sedang tiarap. Padahal, jangan salah, sebagian kecil eksportir tetap bertahan. Salah satunya adalah Farry Tandean. Pemilik PT Jati Vision Raya (Java) dan Cocomosaic Indonesia ini tetap bertahan dan mengekspor produk mebel dengan desain inovatif ke pelbagai negara.

Sejak memulai bisnis mebel 16 tahun silam, Farry memang berorientasi mengekspor produk ke luar negeri. Ia merupakan salah satu dari sedikit produsen mebel asal Cirebon yang sejak puluhan tahun silam aktif menjaring pembeli (buyer) luar negeri lewat pelbagai pameran. Saat ini banyak pembelinya berasal beberapa negara di Eropa, Asia, dan Amerika Serikat. Ia juga punya perwakilan penjualan di puluhan negara.

Tiap tahun, pendapatan Farry dari ekspor produk mebel bisa mencapai US$ 5 juta–US$ 7,5 juta. Salah satu keunggulan bisnis Java adalah memberi nilai lebih pada produk mebel dengan kualitas dan inovasi desain. Baru-baru ini, produk Cocomosaic berhasil masuk dalam lima besar Gaia Award 2011 di Dubai. Penghargaan ini diberikan bagi produk inovatif di bidang konstruksi dan bangunan yang ramah lingkungan.

Lahir dari keluarga pedagang kelontong di Cirebon, sejak kecil 45 tahun silam, orang tua Farry biasa menerapkan disiplin dalam penggunaan keuangan. Impian orang tuanya adalah anak-anaknya sekolah di luar negeri. “Saya rela tidak dibelikan mobil demi bisa bersekolah di Amerika,” ungkap anak keenam dari tujuh bersaudara ini.

Alhasil, setelah menyelesaikan SD dan SMP di Cirebon, saat kelas III SMA, Farry dikirim orang tuanya ke Kanada untuk persiapan kuliah di Amerika Serikat. Pada tahun 1990, Farry menamatkan pendidikan di University of Minessota, dengan menyabet dua gelar master di bidang electrical engineering dan computer science. Semuanya diselesaikan dengan predikat magna cum laude.

Setelah kuliah, Farry ikut program management trainee di General Electric sebagai accelerated candidate untuk fast track Information Systems Management Program (ISMP). Meski bergaji US$ 35.000 per tahun, ia merasa ada yang kurang. “Mungkin karena orang tua saya pedagang, ada yang kurang jika saya hanya menjadi karyawan,” katanya.

Pada tahun 1993, Farry memutuskan pulang ke Cirebon atas permintaan orang tuanya. Sebagai anak lelaki pertama di keluarga, ia merasa punya tanggung jawab besar merawat orang tuanya yang sudah tua. “Kakak-kakak perempuan saya ikut suami ke luar negeri, sementara saya dan adik lelaki saya di Cirebon,” katanya.

Usaha pertama Farry adalah meneruskan toko kelontong orang tuanya. Tiap bulan, ia hanya mendapat uang jajan sebesar Rp 500.000. Ia juga ikut membantu mengelola pemasar-an bisnis adiknya, Wika Tandean. “Adik saya menjual rotan mentah ke perusahaan mebel di Cirebon,” katanya.

Masuk ke bagian pemasaran membuat Farry mengenal banyak buyer rotan dan mebel dari luar negeri. Suatu saat, ia mendapat tawaran dari seorang buyer dari Jepang untuk memasok keperluan mebel ke Jepang. Alhasil, dengan modal Rp 300 juta dari orang tua, pada tahun 1993, ia mendirikan perusahaan patungan yang khusus menggarap pasar mebel untuk diekspor ke Jepang.

Kurang lebih satu setengah tahun berkongsi, Farry memilih mandiri dengan membuat perusahaan sejenis untuk menggarap pasar di luar Jepang. Tahun 1995, ia mendirikan Java. Saat pengusaha rotan dan mebel masih bergantung pada buyer yang datang, ia sudah aktif menawarkan produk lewat pameran. “Sampai-sampai kegiatan produksi dan kualitas kami kadang terbengkalai,” katanya.

Berkah krismon

Lantaran Farry menerapkan standar kualitas produk Eropa dan Amerika, para buyer langsung tertarik menjadi pelanggan. Pada tahun 1998, bisnisnya semakin besar. Saat terjadi devaluasi parah, sebagai eksportir ia malah pesta pora. “Saya bisa mendapatkan untung Rp 100 juta dengan hanya mengirimkan 1.000 keranjang kecil seharga US$ 12 per unit,” ujarnya. Saat itu, biaya produksinya hanya Rp 15.000, tapi kurs Rp 10.000–Rp 12.000 per dolar.

Tahun itu juga, Farry memindahkan usaha di lokasi seluas 50.000 meter persegi. Kini, di atas lokasi itu sudah berdiri tiga pabrik dan tiga ruang pamer. Perusahaan ini punya tiga divisi: Java, Bali luz (lampu dekoratif), dan Valentti Lifestyle.

Untuk memperluas pasar, tahun 2010, Farry mendirikan Cocomosaic yang mengolah limbah batok kelapa menjadi material dekoratif nan eksotis untuk keperluan arsitektur dan desain interior. Pasarnya ada di puluhan negara.

Farry mendapat pasokan batok kelapa dari masyarakat. Ia berharap, dalam tiga tahun, Cocomosaic bisa menambah nilai ekspor Java mencapai lebih dari Rp 30 miliar.

Siapa bilang anak orang kaya cuma bisa manja?

Sumber: http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1324364942/85689/Farry-Tandean-Anak-pedagang-kelontong-yang-sukses-berbisnis-mebel

Pernah Bangkrut dan Punya Utang Rp 62 M, Kini Bangkit dan Punya 3000 Karyawan

Kebangkrutan bisnis alat berat yang menyisakan utang Rp 62 miliar justru menjadi titik balik kebangkitan Heppy Trenggono merintis bisnis baru dengan 12 perusahaan dan 3.000 karyawan. Bagaimana bisa?

Dulu, tiap hari selalu tampak sejumlah lelaki berbadan tegap hilir mudik di kantor PT Balimuda Persada. Wajah-wajah garang itu datang silih berganti ke lokasi perusahaan milik Heppy Trenggono itu beroperasi. Mereka adalah para debt collector yang menagih utang perusahaan alat berat tersebut senilai Rp 62 miliar. “Itu kejadian sekitar enam tahun silam. Jumlah utang saya melebihi aset perusahaan,” ujar Heppy tentang masa sulitnya tahun 2005. Kini, Heppy adalah bos Grup Balimuda yang membawahkan 12 anak perusahaan dengan 3.000 pegawai.

Diakui Heppy, kegagalannya saat itu berawal dari ambisi ingin kelihatan sukses. Untuk mencapai mimpinya, pria kelahiran 20 April 1967 ini nekat melakukan sesuatu di luar kemampuan: ekspansi besar-besaran tanpa kalkulasi bisnis dan prospeknya. Keberanian ini dipicu oleh kondisi bisnis Balimuda yang berkembang terlalu cepat dibandingkan rata-rata perusahaan lain. Pihaknya berani menyanggupi pekerjaan yang nyatanya tidak mampu digarap dan nilai proyeknya melampaui kapasitas finansial perusahaan.

 Cepat membesar, cepat terkapar. Kalimat itu cocok menggambarkan betapa rentannya bisnis Balimuda yang dibesut Heppy pada 2002. Dia terpincut terjun ke bisnis alat berat lantaran ingin mengikuti jejak sang kakak yang lebih dulu sukses. Maka, sembilan tahun lalu Heppy yang kala itu masih menjabat Direktur Teknik Lativi mengibarkan bendera PT Balimuda Persada. Baginya, dunia alat berat bukan hal asing. Apalagi, dia pernah bekerja sebagai Programmer Analyst di PT United Tractors selama lima tahun. Dengan pengalamannya itulah, dia berani memutuskan bekerja sambil berwirausaha.

Mula-mula Balimuda menangani proyek pembukaan lahan (land clearing) perkebunan sawit, yaitu menjadi subkontraktor beberapa perusahaan, seperti Pradiksi dari Malaysia. Adapun proyek pertama bukan-subkontraktor adalah proyek dari Gudang Garam yang ingin membuka lahan di Kalimantan Timur pada akhir 2002. Proyek itu didapat dengan susah payah. Kebetulan, intuisi bisnis Heppy tajam, sehingga dia mampu mencium peluang dari perusahaan rokok itu yang hendak buka lahan sawit. Dia pun jemput bola dengan mendatangi kantor Gudang Garam dari pagi hingga sore.

 Untuk menjalankan proyek Balimuda kala itu, tidak dibutuhkan dana besar. Dia hanya memutar uang untuk menggarap proyek dari klien. Pasalnya, lulusan Manajemen Informatika dari Universitas Gunadarma ini sudah mendapatkan kredit usaha dari Bank Niaga sebesar 80% dari total nilai proyek. Sementara untuk pengadaan alat berat, dia mencicil dari United Tractors. Uang muka 20%, sisanya diangsur selama 12 bulan. Begitu seterusnya, sampai suatu ketika Heppy yakin untuk serius menggeluti bisnisnya dan meninggalkan kursi empuk di Lativi (kini TV One).

 Ya, Dewi Fortuna masih berpihak pada Heppy. Nama Balimuda kian melambung dan banyak perusahaan yang meliriknya. Celakanya, “Di situlah agaknya awal kehancuran bisnis saya,” katanya mengenang dengan raut wajah sedih. Waktu itu, dia betul-betul terlena dengan pinjaman usaha dan tak mampu mengontrol diri. Ekspansinya kebablasan dengan menambah banyak alat berat, sehingga dia tidak mampu bayar utang. Bahkan, semua hartanya terkuras habis. Karyawan sebanyak 400 orang pun bubar, sebelum dilakukan pemecatan. “Mereka (karyawan) pergi membawa aset perusahaan yang ada,” ucap anak ke-3 dari 8 bersaudara ini. Dia mengaku tidak bisa berbuat apa-apa lantaran tak mampu menggaji pegawainya. Yang bisa dia lakukan saat itu cuma memohon perpanjangn tempo pembayaran utang kepada para kreditor.

 Heppy mengaku memetik pelajaran berharga dari pengalaman buruknya. “Saya mulai sadar bahwa nafsu untuk kelihatan sukses justru akan membuat diri sendiri terpuruk,” ungkap ayah empat anak ini. Pascajatuh, Heppy tidak berlarut-larut meratapi diri. Berawal dari kebangkrutan, dia ingin membuktikan bisa bangkit dan melesat kembali.

Lantas, apa yang dia lakukan?

 Langkah pertama yang diayunnya adalah mengubah haluan bisnis. Dia kapok menggumuli bisnis alat berat. Nah, agar tetap bisa menghidupi keluarganya, Heppy tidak malu menjadi broker bagi perusahaan yang akan terjun ke bisnis kelapa sawit. “Sebab, pekerjaan inilah yang paling memungkinkan dan risikonya kecil,” ujar pengusaha yang juga dikenal sebagai ustadz ini.

 Saat menjadi broker, Heppy mengandalkan jaringan lama yang masih percaya pada dirinya. Dia juga memperluas pergaulan hingga ke mancanegara. Sebagai perantara, tugasnya hanya mencarikan lahan sawit bagi investor. Atau, mempertemukan investor dan pengusaha yang bergerak di bidang sawit. Perlahan tetapi pasti, Heppy mampu membeli lahan sawit sembari melunasi tumpukan utangnya.

Tidak hanya itu, siapa sangka kini Heppy bersama mitra bisnisnya sudah memiliki 80 ribu hektare lahan kelapa sawit yang tersebar di beberapa daerah di Kal-Tim dan Sumatera. Tidak tanggung-tanggung, total investasinya hingga sekarang Rp 4 triliun.

 Makin lama bisnis broker kelapa sawit Heppy kian bersinar. Lelaki asal Desa Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, ini mendapat banyak mitra dari investor asing. Saat ini, Balimuda bersinergi bisnis dengan IGM Corp, Bless Resource, plus NBC. “Sebenarnya, masih banyak lagi,” katanya tanpa merinci nama perusahaan yang menaungi kerja sama itu. Yang jelas, anak perusahaan perkebunan itu antara lain PT Sinergi Agro Industri, PT Indonesia Plantation Synergi, PT Prima Alumga, PT Borneo Indo Subur, PT Prasetia Utama dan PT Buana Mudantara.

 Heppy mengaku, model bisnis kelapa sawitnya belum sampai ke tahap pengolahan. Malah, boleh dibilang, tidak sampai ke tahap panen. Kegiatan bisnisnya cenderung membeli lahan, baik yang masih kosong, siap tanam, maupun sudah ditanami. Kemudian, lahan tersebut dia kelola melalui berbagai anak perusahaan. Setelah itu, lahan dijual lagi pada umur tertentu. Nah, profit didapat dari selisih harga jual tersebut. “Kalau lahan sawit itu, makin tua kian mahal. Apalagi, jika bibitnya bagus, sehingga umur tiga tahun bisa memetik hasilnya,” kata Heppy yang enggan membeberkan omsetnya. Yang pasti, bisnis perkebunan itu memberi kontribusi pendapatan terbesar di Grup Balimuda.

 Tidak puas hanya menggenggam bisnis perkebunan, selanjutnya bidang produk konsumer pun disergap Heppy. Bisnis baru ini dipayungi Heppyfoods yang membawahkan PT Balimuda Food dan PT Industri Pangan Indonesia yang didirikan tahun 2006. Meski belum setenar perusahaan produk konsumer besar, produk Heppyfoods yang pabriknya berada di BSD City Tangerang mampu menyeruak di pasaran. Salah satu produknya adalah bubur instan berbahan kentang dengan merek Potayo. Dia mengklaim, produk ini menjadi pionir dan pemimpin pasar. Betul, secara brand awareness, Potayo belum terkenal karena Heppy sengaja tidak membuka jalur promosi, apalagi beriklan di media massa. Pasalnya, strategi penjualan yang dilancarkan langsung ke end user.

 Kendati demikian, jangan anggap enteng distribusi Potayo. Heppy justru langsung mengambil jalur modern channel seperti Carrefour dan Hero. Jadi, meski iklannya belum nongol di televisi, produk Potayo sudah menyebar ke seluruh wilayah Indonesia. Selain Potayo, belakangan dia juga memproduksi health coffee dengan merek Cordova. Produk anyar ini baru dirilis ke pasar dengan menyasar konsumen langsung, alias belum memakai jalur distributor.

 Handito Hadi Joewono memberikan aplausterhadap inovasi Potayo. “Heppyfoods punya peluang menjadi penguasa di pasar yang diciptakannya tersebut. Tapi, kalau tidak mau promosi gara-gara takut persaingan, itu berbahaya. Sebab, justru persaingan inilah potensi untuk tumbuh besar. Kuncinya, grow or die. Kalau tidak mau persaingan, justru nanti mati sendiri,” kata Chief Strategy Consultant & President Arrbeyitu. Menurutnya, jangan takut membangunkan macan tidur. Kalau tidak, malah bisnisnya akan kecil terus. Nah, untuk mengantisipasinya, dia menyarankan strategi menahan pertumbuhan kompetitor dengan menguasai daerah-daerah tertentu, jadi bukan head-on.

 Sekarang, di bawah United Balimuda Corp ada 12 perusahaan milik Heppy. Ini adalah buah dari kerja keras dan kegigihannya dalam berbisnis. Heppy sudah mandiri sejak ibunya wafat saat dia masih duduk di kelas III SD.

Aswandi As’an juga tidak meragukan sikap pantang menyerah bosnya. ”Beliau tidak ambisius, tetapi mampu mengerjakan apa yang ada dengan banyak relasi di dalam dan luar negeri,” kata staf Hubungan Eksternal United Balimuda Corp itu.

 Heppy mempekerjakan lebih dari 3.000 orang dengan sistem kekeluargaan. Dia cenderung ingin membangun karakter karyawan ketimbang menerapkan target yang muluk-muluk. “Memang target itu penting. Tapi, saya tidak pernah marah jika target tidak tercapai,” kata Presiden Direktur United Balimuda Corp ini tentang alasan sistem pengelolaan karyawannya. Yang bisa menyulut kemarahan Heppy justru ketika karyawan tidak bisa menerapkan falsafah “Inspiring and giving the world”. Prinsip inilah yang terus ditanamkan pada karyawan Balimuda. Dan perwujudannya, membentuk karyawan yang berkarakter dan berintegritas tinggi.

 Gaya leadership Heppy adalah keteladanan. Dia ingin menunjukkan bagaimana hidup secara benar kepada bawahan. Misalnya, soal kejujuran, dia selalu terbuka soal pengeluaran perusahaan. Ini dimaksudkan agar karyawan tidak berlaku culas ketika diberi tanggung jawab. Contoh lain? Untuk mewujudkan perusahaan yang menginspirasi, secara berkala dia melibatkan masyarakat sekitar kantor yang berada di Jl. Mampang Prapatan XIV/99, Jakarta Selatan, untuk beraktivitas. Heppy pun tiap hari memberikan sarapan kepada kaum dhuafa di sekitar rumahnya di Jl. Mampang Prapatan X. “Kita jangan sejahtera sendirian, tapi juga lingkungan sekitar,” ujar Heppy tentang sikap filantropinya. Untuk memberi contoh kehidupan berkeluarga, tak jarang anak-anak Heppy juga diajak menyambangi kantor. Bila umumnya istri pengusaha hanya di rumah, Heppy melibatkan sang istri sebagai Direktur Keuangan.

 Keteladanan Heppy dibenarkan oleh karyawannya. Pendapat Edi Cahyanto setidaknya menguatkan hal itu. “Saya seperti mendapatkan sosok guru pada diri Pak Heppy,” ucap Penyelia Produksi PT Industri Pangan Indonesia itu. Jadi, hubungannya dengan Heppy bukanlah antara atasan dan bawahan, melainkan antara guru dan murid. Nilai moral yang diajarkan Heppy dan sangat melekat di hati karyawan adalah tradisi untuk menyisihkan 10% penghasilan buat kegiatan amal. Heppy juga dinilainya jago memilih karyawan untuk menduduki posisi terentu. “Bagi Pak Heppy, orang pintar itu banyak. Tapi orang yang mau dididik itu sedikit,” kata Edi. Dia mencontohkan, dirinya sendiri yang tidak tahu apa-apa soal produksi justru diserahi posisi supervisor. Hebatnya, Heppy bersedia mengajari secara langsung anak buah yang ingin belajar sungguh-sungguh. Kelebihan lain sosok Heppy? “Orangnya sederhana, bahkan sering menyetir sendiri mobilnya,” Aswandi menambahkan.

Nah, seiring dengan semangat menginspirasi, Heppy juga membentuk komunitas Indonesian Islamic Business Forum. Ini merupakan komunitas yang beranggotakan pengusaha dan calon pengusaha. Kegiatannya, mulai dari berbagi pengalaman hingga pendampingan bisnis para anggota. Belakangan, Heppy juga menggagas lahirnya gerakan Beli Indonesia yang dicetuskan pada 27 Februari 2011 bersama 504 pengusaha dari 42 kota di Indonesia. Beli Indonesia adalah gerakan membangun karakter bangsa yang membela bangsanya sendiri, yaitu sikap untuk membeli produk bukan dengan alasan lebih baik atau lebih murah, tetapi karena milik bangsa sendiri. Pasalnya, dia prihatin dengan kondisi perekonomian Indonesia yang justru banyak dijajah produk asing. “Semua itu saya lakukan untuk memberi manfaat bagi orang banyak. Karena, saya hanya ingin hidup tenang tanpa dikejar-kejar nafsu untuk memperkaya diri,” kata pengusaha yang hampir selalu pulang kampung dengan helikopter sewaan ini. (*)

Eva Martha Rahayu & Sigit A. Nugroho

sumber: http://swa.co.id/2011/06/titik-balik-mantan-debitor-kakap/