Monthly Archives: August 2011

Kisah Perjuangan Jatuh-Bangun Bisnis Raja Bolen

David telah merasakan pasang-surut dalam mengarungi dunia bisnis. Sekarang ia fokus mengembangkan bisnis pastrydengan mengibarkan bendera Mayasari Pastries.

Diilhami keberhasilan ibunya yang berprofesi sebagai penjahit, semangat kewirausahaan sudah tumbuh di dalam jiwa David B. Santosa sejak ia duduk di bangku sekolah. Sedikit demi sedikit David menyisihkan uang jajannya. Tujuannya hanya satu: bisa mengikuti jejak ibunya menjadi penjahit.

Lulus sekolah, tahun 1977 David akhirnya bisa membeli sebuah mesin jahit bekas. Ia pun lantas menekuni profesi sebagai penjahit. Berkat kerja kerasnya, usaha jahit-menjahit yang awalnya hanya berskala rumahan menjadi semakin besar. Ia akhirnya memiliki perusahaan konveksi di Bandung, di bawah bendera PT Bineksindo. Ia memproduksi hampir semua jenis pakaian dewasa.

Tahun 1988, David mampu mengekspor jaket training hingga ke Eropa dan menjadi pemain besar di Indonesia. Dengan dukungan lebih dari 300 karyawan, Bineksindo setiap bulan mampu menghasilkan beberapa kontainer pakaian yang siap dijual untuk pasar luar negeri. “Omset kami saat itu mencapai Rp 2 miliar,” ungkap David.

Memasuki 1990-an, bisnis konveksi David mulai surut. Pecahnya Perang Teluk memukul bisnisnya secara langsung. Pengiriman barang ke luar negeri terhambat, bahkan terputus. Namun, ia tidak kehabisan akal. Ia mencoba menjadi pemasok Matahari Dept. Store dengan mengusung merek dagang Andy ‘n Vania ( A n V). Perlahan usahanya kembali bergairah, tetapi tak seagresif tahun-tahun sebelumnya.

Meredupnya bisnis konveksi membuat David harus memutar otak untuk mencari bisnis baru. Tahun 1998, secara kebetulan ia bertemu seorang rekannya yang mengajaknya berdagang kue di Pasar Kue Subuh. Tanpa pikir panjang, ia langsung menerima tawaran tersebut.

Bermodal Rp 75 juta, David memulai usahanya dengan penuh keyakinan. Uang tersebut ia gunakan untuk menyewa rumah, mobil, hingga membeli peralatan produksi. Ia tak bekerja sendiri, tercatat ada lima orang yang membantunya setiap hari. Rekannya lebih banyak mengurusi masalah dapur dan keuangan. Sementara David lebih fokus ke masalah operasional. Di minggu pertama dan kedua, penjualan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Kepercayaan David bahwa bisnisnya akan sukses semakin tumbuh. Namun, menjelang bulan kedua, aroma ketidakberesan pengelolaan keuangan menyengat. “Jumlah produksi yang dilaporkan turun drastis. Biasanya 600-700 dus menjadi hanya 300 dus. Omset juga menurun sampai hanya Rp 6 juta sebulan,” tutur David mengenang.

Merasa dibohongi, David akhirnya memutuskan kembali ke Bandung. Namun, obsesinya menjadi pengusaha kue yang sukses tidak begitu saja padam. Apalagi, ia juga membawa semua alat produksi yang dimilikinya ke Kota Kembang. Ia mengatakan, kondisi bisnis garmennya yang semakin tidak menentu membuatnya harus mencari jalan keluar. “Usaha garmen saya hampir kolaps,” ujarnya.

Berkali-kali ia mencoba membuat resep sendiri untuk bisa memulai lagi bisnis kue dari nol. Ratusan eksperimen ia coba. Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya ia menemukan resep yang ia cari selama ini. “Resep ini lebih enak daripada resep buatan rekan saya dulu,” ucap David yang mengaku hampir putus asa.

Setelah menemui titik cerah, kepercayaan dirinya perlahan tumbuh kembali. Hal ini juga didorong rekannya, Senjaya Hidayat, yang membantu mengembalikan semangatnya dalam berbisnis. Hasilnya, awal 1999, Mayasari Pastries resmi didirikan di Bandung. Lucunya, nama Mayasari berasal dari nama istri Senjaya, Maya.

Gerai pertama di daerah Kebon Kawung menjadi bukti keseriusan David demi mewujudkan mimpinya menjadi pengusaha kue. Ia mengucurkan dana Rp 125 juta sebagai modal tambahan untuk memulai kembali bisnis kuenya.

Perlahan tapi pasti, Mayasari Pastries mulai tumbuh. Memasuki 2002, bisnis David semakin agresif. Meski mengaku senang, ia tak memungkiri sedikit kewalahan karena banyak tawaran untuk terus membuka gerai di sejumlah tempat. Kondisi tersebut mendorongnya membuka kerja sama dengan pihak kedua dengan sistem beli putus di awal 2004. Di tahun yang sama, bisnis konveksi David karam dan resmi ditutup total. “Saya benar-benar tak kuasa menangani bisnis ini. Makin tumbuh besar, tapi makin sulit diurus,” ujar pria berusia 51 tahun ini.

Bagi David, kerja sama tersebut merupakan salah satu cara terbaik untuk membendung bisnis yang semakin melaju kencang. Kerja sama tersebut menguntungkan kedua belah pihak, baik Mayasari Pastries maupun mitra bisnis. Harga per dus kue dijual 20% lebih murah kepada pihak kedua.

Kini, setelah 12 tahun berdiri, usaha David semakin melaju pesat. Kerja kerasnya dibayar dengan hasil yang maksimal. Saat ini ia memiliki 40 gerai: 30 di Bandung, delapan di Jakarta, serta masing-masing satu di Batam dan Medan. Untuk pembangunan satu gerai dibutuhkan dana Rp 5-8 miliar (bangungan milik sendiri), tetapi untuk yang menyewa harganya jauh di bawah itu. Dari 30 gerai yang berada di Bandung, 10 gerai adalah milik pihak kedua yang menjalin kerja sama dengan sistem beli putus.

Ester Linawati merupakan salah seorang mitra David. Sejak 10 tahun lalu, Ester menjadi mitra Mayasari Pastries dengan membuka cabang di Sumber Sari, Bandung. Ester mengatakan, awalnya banyak warga sekitar yang membicarakan kue pisang bolen buatan David. Tanpa ragu, Ester pun menyambangi David untuk menawarkan kerja sama dengannya. “Prosesnya tak ribet dan cukup mudah. Sejauh ini kami diuntungkan karena produk Mayasari Pastries juga dikenal baik oleh masyarakat,” ujarnya.

Setiap hari Ester memesan 100 dus untuk dijual kembali di tokonya. Tingkat penjualan mencapai 90% setiap hari. Jika memasuki hari libur ataupun akhir pekan, permintaan melonjak.

Kue yang menjadi primadona antara lain pisang bolen rasa duren dan keju. “Pelayanan dari pihak Mayasari Pastries juga tak mengecewakan. Mereka sangat on time mendistribusikan kuenya setiap hari. Jika ada keluhan, kami pun dilayani dengan baik,” katanya.

Saat ini David mempekerjakan lebih dari 200 pegawai yang terbagi dalam dua

shift kerja. Setiap hari Mayasari Pastries mampu memproduksi 2.000-3.000 dus kue (satu dua berisi 12 kue) yang diproduksi di pabrik yang menampati area seluas 1.000 m2 di Sumber Sari, Bandung. Menjelang akhir pekan, kapasitas produksi meningkat hingga 4.000 dus per hari. “Hampir 95% dari kue kami terjual habis setiap hari,” David mengklaim.

Setiap tengah malam, kue didistribusikan ke semua gerai, baik yang di Bandung, Jakarta, maupun Batam dan Medan, menggunakan jasa angkutan penerbangan, Merpati Airlines. Bagi pihak kedua, kue diantarkan selambatnya pukul 2 pagi. Umumnya mereka yang bekerja sama membeli 75-100 dus setiap hari.

Kue yang dijajakan antara lain pisang bolen, kue tar, dan makanan ringan. Kue pisang bolen menjadi andalan Mayasari Pastries. Selain memiliki citarasa yang enak, pisang bolen olahan Mayasari juga dikenal memiliki varian yang sangat beragam, seperti rasa keju, durian, cokelat, kacang, tape dan nanas. Pisang bolen Mayasari merupakan kue yang cukup tersohor di Bandung yang sering dijadikan sebagai oleh-oleh. Jadi jangan heran, nama Mayasari Pastries dengan pisang bolennya begitu sangat digandrungi pencinta pastry dan pelancong.

Harga per dus pisang bolen dijual mulai Rp 26.000 hingga Rp 30.000. Soal harga, kue-kue di Mayasari Pastries bisa dibilang paling kompetitif. Namun, David tidak mau kompromi dalam hal kualitas. Ia tak pernah main-main dalam memilih dan memilah bahan yang digunakan dalam membuat semua kuenya.

Erly Desianti, salah seorang pelanggan setia Mayasari Pastries, mengaku sangat cocok dan puas dengan kualitas Mayasari. Sejak pertama kali mencoba kue di Mayasari delapan tahun silam, paling tidak dua kali dalam sebulan Erly menyambangi gerainya. “Kalau sedang tidak sibuk, bisa seminggu sekali,” ujarnya seraya menyebutkan, makanan favoritnya adalah pisang bolen durian.

Erly menandaskan, soal citarasa, Mayasari Pastries tidak perlu diragukan lagi. “Kalau harga justru di sini yang paling murah. Saya sudah bandingkan dengan kue dari pedagang lain. Pelayanan juga oke,” ungkapnya.

Menurut David, membangun bisnis kuliner, khususnya pastry, sangat menjanjikan. Balik modalnya pun tergolong cepat, yakni tidak lebih dari setahun. “Tidak perlu menunggu lama bagi saya untuk memetik hasil.”

Ia menambahkan, kesuksesan membangun bisnis kue tergantung pada kejelian melihat pasar dan pada pengembangan inovasi produk. Karena itu, ia selalu mencari eksperimen baru guna memperkaya citarasa dan jenis kuenya. Setiap tahun ia terbang ke luar negeri untuk belajar tentang roti dan pastry.

Setibanya di Indonesia, ia praktikkan apa yang ia dapat dari luar negeri. Misalnya, mulai dari adonan yang baik, pemilihan margarin yang sesuai, hingga memasukkan rasa baru pada kuenya. Dengan begitu, orang akan tertarik mencoba kue dengan rasa baru yang ditawarkan.

Kue-kue di Mayasari Pastries tidak menggunakan bahan pengawet sehingga masa kedaluwarsanya sangat pendek, yakni 3-5 hari. “Saya turun dan memantau langsung ketika proses produksi untuk memastikan semuanya sesuai dengan SOP,” ungkap David.

Tak ada strategi khusus yang diterapkan David dalam membesarkan Mayasari Pastries. “Sama seperti produk-produk lainnya,” ujarnya singkat. Pada tahap awal, ia menggunakan iklan di radio untuk memperkenalkan Mayasari Pastries. Ia juga pernah mengeluarkan Rp 200 juta/tahun untuk pemasangan iklan billboard di jalan protokol di Kota Bandung. “Awal-awal memang butuh awareness,” kata ayah Andy Santosa (23 tahun), Vania Christianty (21 tahun) dan Cinthya Christianty (13 tahun) ini.

Untuk meperluas cakupan bisnisnya, ia bekerja sama dengan pengusaha katering di Bandung. Mayasari Pastries menjadi penyumplai kudapan pada pesanan katering yang diperoleh mitranya. Ia juga membidik segmen korporat sebagai salah satu target pasarnya. “Pelanggan korporat saya kebanyakan dari industri perbankan,” ujarnya.

Saat ini, omset Mayasari Pastries mencapai Rp 300 juta/bulan, dengan margin 15%. Kontribusi pendapatan terbesar masih didapatkan dari gerai-gerai di Bandung. Ia menyebutkan, masa menjelang dan sesudah Ramadan merupakan hi-season bagi bisnis ini. Menjelang Ramadan atau tepatnya H-10 penjualan akan naik hingga 50% dari bulan biasa. Adapun pada H+2 penjualan semakin terkerek hingga 200%.

David kini sedang menjajaki untuk membuka gerai di Bali dan beberapa tempat lain di Bandung. Ia tak menargetkan berapa jumlah gerai yang mesti dibangun setiap tahun. Selain akan membuka gerai di beberapa daerah di dalam negeri, ia juga tengah membicarakan rencana membuka gerai di Singapura dan Malaysia tahun depan. Ada beberapa investor yang tertarik bekerja sama dengannya. “Saya masih tarik ulur dengan investor. Saya tak mau begitu saja meng-iya-kan. Karena, saya tak ingin gagal lagi kali ini. Everything must clear and directional,” ujar pria religius ini menandaskan.(*) (oleh : Taufik Hidayat)

Reportase: Ario Fajar/Riset: Dian Solihati

sumber: http://swa.co.id/2011/10/jatuh-bangun-bisnis-raja-bolen/

Jagoan Furnitur Hotel Bintang 7, Produknya Merambah Mancanegara

Bermodal warisan 4 kg emas, empat bersaudara ini berhasil menembus pasar mebel premium internasional. Inilah liku-liku mereka menaklukkan jaringan hotel dan properti mewah dunia.

Jangan gentar dengan nama-nama besar di dunia. Setidaknya itulah pesan moral yang bisa diteladani dari keberhasilan keluarga Enggalhardjo menaklukkan bisnis furnitur premium di mancanegara. Produk mebel merek Saniharto buatan wong Semarang ini sudah menghiasi banyak hotel bintang 7 dan gedung supermewah di Amerika Serikat, Prancis, Jepang dan Mesir seperti Hotel St. Regis, Hotel Four Seasons, Hotel Alexis, Hotel Ritz-Carlton, Hotel Wynn, serta Taj Mahal Palace & Tower. Bahkan, menyuplai panel-panel yang digunakan Baker Furniture, perusahaan mebel premium asal Inggris.

Bagaimana reputasinya di Tanah Air? Hingga kini, pemasaran mebel Saniharto 40% untuk ekspor, sedangkan pasar domestik 60%. Meski demikian, produk-produknya hanya dipajang di tempat-tempat elite. Sebut saja di Hotel Mulia, Pakubuwono Residence, Senayan City, SCTV Tower, Trans Studio Hotel Bandung, Apartemen The Peak, Hotel Shangri-La Jakarta, serta Hotel Sheraton Surabaya.

Beberapa konglomerat Indonesia juga terpincut mebel Saniharto. Di antaranya, Fofo Sariatmadja, bos SCTV (untuk mengisi rumah pribadi di Australia); Trihatma Kusuma Haliman, pemilik Grup Agung Podomoro (untuk kediamannya di Jakarta); serta Chairul Tanjung, bos Grup Para (untuk tempat tinggalnya di Singapura).

Siapakah sosok di balik keberhasilan Saniharto menembus pasar dunia?

Mereka adalah empat bersaudara keluarga Enggalhardjo: Santoso, Yani, Harsono dan Winarto. Merek Saniharto pun diambil dari singkatan nama mereka. Meski terkesan ndeso, merek ini membawa hoki. “Beberapa klien di luar negeri sering menyarankan kami untuk ganti merek menjadi nama yang berbau internasional. Tapi, kami tetap pakai Saniharto. Yang penting kan kualitasnya, bukan namanya,” kata Harsono yang didapuk sebagai CEO perusahaan keluarga tersebut, PT Saniharto Enggalhardjo (SE).

Diceritakan Harsono, usaha mebel ini dirintis tahun 1990. Kala itu orang tua mereka yang memiliki toko emas meninggal dunia dan mewariskan 4 kg emas. Lalu, mereka sepakat mendirikan usaha bersama dari modal 4 kg emas tadi. Berdirilah SE. Uniknya, perusahaan baru ini tidak bergerak lagi di usaha terkait emas, melainkan perkayuan. Mengapa? “Kebetulan saat itu kami mendapat limpahan proyek dari teman Yani di PT Palma, perusahaan besar perkayuan, untuk produsen vinir mebel mewah, untuk memproduksi 100 kubik slash vinir (kayu tipis-tipis hasil sayatan),” ujar Harsono mengenang.

Modal 4 kg emas digunakan untuk membangun pabrik seluas 7.000 m2 di Sayung, 12,9 km dari Semarang. Selain itu, untuk membayar upah 50 karyawan dan membeli mesin dari Italia. Lantaran modal tidak cukup, Harsono mencari kredit bank dan mendapat US$ 500 untuk letter of credit yang diperpanjang.

Produksi perdana dimulai tahun 1991. Itu pun tidak semanis yang diharapkan. Bagaimana tidak, untuk menghasilkan slash vinir satu kubik saja butuh waktu seharian. Namun, keempat bersaudara ini berani maju sehingga menyanggupi permintaan 100 kubik slash vinir dari Palma yang harus diselesaikan dalam tempo tiga bulan. Tidak dinyana order kedua datang dari PT Wintrad pada Juni 1991. Tidak tanggung-tanggung, mereka diminta memproduksi 500 kubik slash vinir senilai US$ 600 ribu. Untungnya, baik Palma maupun Wintrad bersedia memberikan uang muka 50% untuk biaya produksi.

Kepercayaan dua pelanggan dan kenyataan bahwa produk slash vinir Saniharto merupakan pionir di industri ini membuat usaha empat bersaudara ini terus berkembang. Sampai 1993, lima pelanggan dari kalangan korporat pun datang mengorder.

Agar produk makin diterima pasar, inovasi ditempuh. Dari slash vinir dikembangkan menjadi vinir yang menempel di kayu MDF dan kayu lapis (plywood). Hasilnya memuaskan. Produk baru itu mendapat sambutan antusias pelanggan. Order pun datang dari pabrik mebel di Jakarta dan Surabaya, seperti Ligna dan Sigma. “Saya mendapatkan order dari pabrik besar dengan cara door- to-door,” kata Harsono.

Tahun 1993 kemampuan Saniharto dalam produksi olahan kayu vinir makin berkembang. Mereka pun membuat vinir dengan inlay: menggambar di atas vinir, seperti mosaik, bahkan wajah orang. Harsono mengklaim vinir inlay jarang diproduksi pihak lain. Hasilnya bisa ditebak: produk makin menarik, order pun datang silih berganti, di antaranya dari perusahaan mebel Furinaka, Palma dan Ligna.

Boleh dibilang, sejak awal berdiri produksi Saniharto mengolah vinir adalah untuk menghasilkan papan-papan kayu berkualitas sebagai bahan pembuatan mebel yang dipesan oleh para produsen furnitur. Saat booming bisnis properti tahun 1995-96, Saniharto mendapat berkah. Sejak itu, perusahaan yang telah memiliki 250 pegawai tersebut mulai memproduksi pintu kayu yang sudah di-finishing, jadi tidak polos lagi seperti sebelumnya.

Didorong keinginan mempromosikan ke wilayah yang lebih luas, Saniharto pun rajin ikut pameran. Hasilnya, tidak sia-sia. Mereka dipercaya mengerjakan pembuatan pintu apartemen di 30 tower di Jakarta, antara lain Apartemen Oasis (empat tower), West Wood (dua tower) dan Mitra Bahari (4 tower). Tak ketinggalan order pintu inlay dari Hotel Sheraton Surabaya. Untuk mendukung ini semua, Saniharto meluaskan pabriknya dari 7.000 m2 menjadi 5 hektare, sehingga lahannya juga ditambah dari 3 ha menjadi 15 ha.

Tak puas hanya membuat pintu mewah, Harsono tergiur merambah bisnis mebel. Lalu, dia belajar kepada Benny, temannya di Semarang yang menjadi pengusaha furnitur dan telah menjelajahi pasar ekspor. Setelah belajar ilmu mebel cukup memadai, Harsono memberanikan diri mengikuti Pameran Produk Ekspor yang digelar Departemen Perdagangan pada Oktober 1996. Waktu itu Saniharto memamerkan karya meja Louis (hasil berguru pada Benny). Di luar dugaan, ada pengunjung yang tertarik. Namanya Jane, orang kepercayaan Joko Tjandra, konglomerat Grup Mulia yang berjaya di rezim Orde Baru.

Tidak disangka, Joko Tjandra ingin bertemu Harsono. “Akhirnya saya bertemu dengan Pak Joko Tjandra dan beliau kasih proyek untuk membuat pintu dan mebel 1.000 kamar Hotel Mulia di Senayan dalam waktu hanya sembilan bulan. Saya mesem saja dan beliau marah dikira main-main,” kata Harsono mengenang. Ketika itu, tambahnya, Joko mengkritik brosur Saniharto yang dinilai jelek.

Saniharto menyanggupi proyek presitisius itu. Agar pengerjaannya cepat, semua kayu diimpor. Saniharto berhasil mengerjakan perabotan untuk 650 kamar Hotel Mulia Senayan selama 9,5 bulan. Pesanan berbagai furnitur — 1.000 unit lebih meja kopi, 800 unit lemari TV, ribuan tempat tidur, 5.000 pintu (pintu masuk, pintu kamar mandi, pintu penghubung, kusen pintu, serta pintu kloset), bahkan 8.000 panel untuk kebutuhan hotel yang ditujukan bagi penyambutan atlet-atlet SEA Games kala itu bisa diselesaikan. Joko pun puas dengan hasil garapan mebel buatan Semarang itu.

Krisis moneter 1997-98 datang melibas bisnis Saniharto. Mereka sepi proyek di dalam negeri. “Kami hanya menyelesaikan proyek-proyek lama yang molor dan tersendat,” ungkapnya. Dengan kondisi itu, pihaknya mulai memikirkan apa lagi yang harus dikerjakan ke depan. Lantas, diputuskan untuk fokus menggeluti bisnis mebel saja. Dari proyek Hotel Mulia itulah, mereka belajar banyak membuat furnitur kelas atas. “Saya akui itu lompatan besar kami,” Harsono menegaskan.

Saat krismon, Saniharto mulai agresif menggarap pasar ekspor, tepatnya mengirim produk panel ke pabrikan. Panel ini digunakan di pabrikan untuk membuat furnitur dan produk apa pun dari kayu.

Tahun 1998 bisnis Saniharto terbilang stagnan. “Bisa membayar pegawai saja sudah untung,” tutur Harsono. Namun, Dewi Fortuna masih berpihak padanya. Kala itu ada klien di luar negeri yang membayar terlambat, manakala nilai US$ melambung. “Begitu bayar, klien minta diskon, saya kasih 20% karena posisi US$ 1 saat itu Rp 13 ribu. Saya kaget duit kok jadi banyak, sehingga masih dapat membiayai operasional perusahaan,” dia menguraikan. Sejak itu pasar ekspor fokus digarap. Saniharto serius mengikuti pameran. Tahun 1998-99 kondisi pameran perdagangan masih sepi. Hingga akhirnya Harsono bertemu orang Indonesia yang mendapat proyek di AS tahun 1999. Malang, “Ternyata orang itu penipu, ada proyek pengadaan mebel di dua Hotel Holiday Inn di Karibia dan Florida tidak dibayar penuh. Mereka cuma bayar 40% dan saya rugi 60%.”

Namun, mereka tak luruh. Tahun 2000 Saniharto mengikuti pameran Koln Messe, Jerman. “Di sana, saya mengenal banyak perusahaan besar, termasuk perusahaan di Dubai,” ucap Harsono. Tak dinyana, di pameran itu, dia bertemu dengan klien lamanya, Enso, desainer mebel asal Italia. Enso pun mulai order barang, meski sedikit. Sukses pameran di Eropa, Saniharto merangsek ke AS.

Dari rekomendasi Enso, Saniharto mendapat kepercayaan dari pengembang Italia, yaitu menggarap furnitur dan pintu 750 kamar dalam waktu empat bulan. Sebanyak 7.000-8.000 piece produk yang dikerjakan Saniharto itu rupanya untuk proyek Hotel Radisson, bersebelahan dengan Disney World, Florida, AS. “Saya banyak mendapat proyek di luar negeri karena rekomendasi klien ke klien lain,” ungkap Harsono.

Saniharto pun kian berkibar. Proyek pengadaan mebel hotel di luar negeri terus berdatangan. Tahun 2000-01 mereka mengerjakan 15 hotel di dunia yang tersebar di AS, Jepang, Prancis, Mesir, Afrika — salah satunya mengerjakan proyek-proyek Hotel Four Seasons. “Saya mengakui dari 15 hotel, ada 6-7 hotel yang memberi proyek kami adalah Mohanat, bos Enso,” Harsono menjelaskan.

Kendati kian berkibar, Harsono mengakui bisnis Saniharto bersifat pasang-surut. Tahun 1997-98 sempat diterpa badai krismon, tahun 2003 juga sempat surut. Memang di awal tahun 2000-an kiprah Saniharto di mancanegara sedang gesit-gesitnya. Saat itu, mengerjakan mebel untuk Hotel Vermount di AS, memasok mebel untuk pabrikan furnitur premium merek Hickory Chair dan Milton Smith asal AS. Akan tetapi, tahun 2003 kiprah ekspor tidak agresif lagi. Lalu, diputuskan tahun 2003 membangun showroom pajang perdana di Jakarta, tepatnya di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Kehadiran ruang pajang ini membuahkan hasil, karena selanjutnya mendapat proyek pengadaan mebel di Pakubuwono Residence tahun 2004.

Menurut Harsono, pasar ekspor mulai kembali digarap serius setelah dua putrinya balik ke Indonesia. Mevilia Enggalhardjo (kelahiran 1977) dan Merysia Enggalhardjo (kelahiran 1981), kedua putrinya itu, kemudian bergabung di perusahaan tahun 2005. Melivia lulusan MBA dari Carnegie Mellon, AS, dan Merysia tamat dari Jurusan Foodprocessing Enginering Purdue University, AS. Setelah kehadiran mereka, sistem teknologi informasi, komunikasi dan manajemen mulai dibenahi. Ada website, komunikasi langsung dengan pemilik proyek di luar negeri, sistem keuangan dan manajemen perusahaan (lihat http://www.saniharto.com). Hasilnya? Proyek-proyek besar dari mancanegera terus mengalir. Ada proyek dari Hotel Wynn, Wynn & Encore at Wynn, Paradise Point, Ritz-Carlton, Four Seasons, St. Regis, Willard Intercontinental Washington, dll.

Krisis ekonomi di AS tahun 2008 membuat Saniharto berganti haluan. Mereka melirik pasar India. Umpamanya, menggarap proyek dari Hotel Taaj Mahal, Ritz-Carlton Bangalore, dan Shangri-La. “The best hotel di India, hampir semua kami yang garap,” Harsono mengklaim.

Dia mengaku tidak ada resep khusus keberhasilan Saniharto. “Bagi kami, tidak ada yang tidak mungkin. Asal punya keyakinan, pasti bisa. Kalau orang lain bisa, kita juga harus bisa. Yang jelas, kami selalu membuat produk yang bagus, jujur, kerja keras dan punya komitmen untuk memenuhi janji klien,” ucapnya tentang rahasia sukses bisnis keluarga Enggalhardjo.

Selain itu, mereka berbagi tugas sesuai dengan kapasitas masing-masing. Artinya, meski berbeda latar belakang pendidikan dan pekerjaan, keempat pendiri SE tetap menjalankan tugas masing-masing dengan baik. Santoso (72 tahun), lulusan sekolah pembukuan yang mengelola toko emas, bertugas sebagai komisaris. Yani (70 tahun), lulusan Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung yang sebelumnya bekerja di Ligna Furniture, mulai tahun 2002 total mengelola Saniharto. Harsono (62 tahun), lulusan Teknik Sipil Universitas Diponegoro, sejak awal menjadi Dirut SE. SementaraWinarto (61 tahun), tamatan Kedokteran Gigi Universitas Airlangga dan kini masih praktik dokter gigi, menjadi Direktur Produksi SE.

Kerukunan keluarga juga dipegang teguh oleh manajemen SE. “Kami selalu mengambil keputusan berempat, bersama dan kompak,” ujar Harsono menandaskan. Tiap dua tahun sekali mereka piknik bersama di dalam negeri atau ke mancanegara.

Sejumlah klien mengakui kehebatan Saniharto. “Saya kagum dengan hasil karya Saniharto, produknya tidak kalah dari produk Italia kelas atas. Mereka mampu mengharumkan nama Indonesia di dunia,” kata Irwan Hidayat, Dirut Sido Muncul yang akan menggunakan produk Saniharto untuk hotelnya, Hotel Tentrem.

Acungan jempol juga diberikan mitra bisnis asing. Laura Herzog, Direktur Pembelian Wynn Design & Development, perusahaan kelas dunia yang mengerjakan pembangunan Encore Property di seluruh dunia, mengatakan bahwa hubungan kerja pihaknya dengan Saniharto sangat sukses selama lima tahun terakhir. “Partisipasi Saniharto dalam proyek-proyek kami di Amerika dan luar negeri terus tumbuh,” imbuhnya. Proyek-proyek itu di antaranya Encore Property di Las Vegas (2.000 kamar), Hotel Encore di Makau (400 kamar), serta renovasi Hotel Wynn di Las Vegas (566 kamar).

Keberhasilan yang dicapai sekarang tidak membuat Saniharto puas. “Kami akan menggarap proyek Wynn Hotel di Makau,” ucap Harsono. Dia bangga mebelnya sekelas mobil Rolls Royce yang banyak digunakan hotel bintang 7. Kalaupun ada yang masih mengganjal, “Kami belum dipercaya pasar lokal. Padahal, pasar hotel asing sudah, dan menjadi tujuan utama proyek super high end,” katanya. (*) (oleh : Eva Martha Rahayu)

Reportase: Herning Banirestu

sumber: http://swa.co.id/2011/12/jagoan-furnitur-hotel-bintang-7/