Monthly Archives: September 2011

Keuletan di Balik Sukses La Tulipe

Bermula dari skala rumahan, bisnis kosmetik ini membesar hingga melibatkan ribuan karyawan. Bagaimana kisahnya?

Pertengahan Juni 2011. Suasana di Grand Ballroom Hotel Mulia, Senayan, malam itu begitu semarak. Di ruang tengah dilangsungkan peragaan tata rias komestik menampilkan berbagai tren warna terkini. Setidaknya ada 26 ahli tata rias yang memamerkan kreasi mereka menggunakan tren kosmetik terbaru. Di antara mereka ada ahli tata rias avant garde, pengantin internasional, fancy, modifikasi serta lukis tubuh yang sudah dikenal secara nasional. Mereka mengusung tema untuk musim semi/panas 2011 yang berkisar pada warna-warna oranye, merah muda, emas, cokelat ungu, dan koral pada eyeshadow, blush on dan lipstik. Semua ahli tata rias malam itu menggunakan kosmetik yang sama: La Tulipe dan LT Pro.

Kemeriahan acara peragaan tata rias komestik itu tak lain merupakan bagian dari event PT Rembaka untuk memberikan apresiasi kepada para ahli tata rias yang telah menggunakan produknya secara terus-menerus. Selain itu, ajang tersebut juga menjadi manifesto sukses perjalanan produsen kosmetik asal Surabaya itu dalam mengarungi bisnis kosmetik yang begitu ketat persaingannya. Mereka berhasil membesarkan nama La Tulipe di kalangan konsumen, khususnya pengguna produk make-up dan skin care.

Dalam konteks ilmu pemasaran, mungkin La Tulipe bisa dirujuk sebagai contoh tepat sebuah merek yang sukses menasional dengan model penetrasi flanking strategy: dimulai dari daerah pinggiran, kemudian merangsek ke pusat. Ia dimulai dari sebuah home industry kecil di Surabaya, lalu pelan-pelan melebarkan pasar dari daerah ke daerah hingga kemudian berkembang, dan kini sudah menjadi merek nasional yang total melibatkan 5.000 karyawan.

Usaha kosmetik berbendera PT Rembaka ini dirintis Indro Handojo (almarhum), seorang dokter bidang patologi klinik yang belajar autodidak tentang ilmu dermatologi di Surabaya. “Papa suka mencoba hal-hal baru, selain tekun dan rajin. Beliau ingin mendirikan perusahaan kosmetik sendiri, makanya tahun 1980-an memulai dari home industry. Ngracik sendiri,” tutur Anthonius Prabowo Handojo (33 tahun), putra Indro yang kini didapuk menjadi Manajer Operasional PT Rembaka.

Produk kosmetik yang pertama dibuat adalah pembersih dan penyegar. Setelah itu, menyusul produk pelembab. Proses produksinya belum memakai mesin alias manual. Indro – wafat awal 2011 – dibantu lima anak buah yang bekerja dengan peralatan seadanya, yang penting higienis. “Papa mengulek dan meracik sendiri resep agar sesuai dengan kulit orang Indonesia,” Anthonius yang lulusan University of Wollongong Australia ini menceritakan kiprah ayahnya. Untuk itu, ayahnya rajin membaca literatur tentang kosmetik dan sering mengikuti seminar dan kongres tentang kulit. Pada tahap awal, produksinya tidak banyak. Sebulan kira-kira memproduksi 1 boks (50 botol).

Dalam memasarkan produknya, sejak awal Indro sudah menggunakan merek La Tulipe. Tulip adalah nama bunga dari Belanda, sebagai penanda kecantikan wanita negeri itu. Sementara kata “La” berasal dari bahasa Prancis yang artinya sama dengan “the” dalam bahasa Inggris. “Pakai bahasa Prancis, karena Prancis merupakan barometer kecantikan dunia,” Anthonius, yang biasa dipanggil Thoni, menjelaskan sejarah merek perusahaan keluarganya.

Cara komunikasi pemasaran saat itu masih sederhana. Di sela-selah praktik dokter di rumah — Jl. Raya Gubeng 61, Surabaya — Indro memperkenalkan produknya ke calon pelanggan yang datang. Rupanya, cara promosi dari mulut ke mulut itu cukup manjur. Terbukti, tak sedikit kaum Hawa yang mengonsultasikan masalah kulit wajah kepadanya. Tidak hanya itu, kebanyakan dari mereka ternyata juga cocok dengan produk hasil racikannya. Tak mengherankan, pelanggan makin banyak, juga jumlah produksinya. Karyawan bertambah menjadi 10-an orang pada 1982-an. Bahkan pada 1985, berhasil memindah tempat produksi ke lahan yang lebih layak di daerah Prapen (Surabaya). Meski demikian, status tanahnya belum hak milik, masih sewa.

Russy Nikawati, karyawan yang bekerja di PT Rembaka sejak 1985, menjelaskan, meski pindah ke Prapen, lokasinya tetap masih kecil. Produksi menempati rumah tipe 120 dengan 10-an karyawan. Di Prapen, awalnya belum memproduksi menggunakan mesin. “Kami akrab semua di sana. Kalau ada bahan baku timun datang, ya kami makan sebagian ha-ha-ha…. Begitu pula kalau ada tomat atau bengkuang. Kami sering rujakan bersama-sama,” Russy menceritakan suasana sederhana di awal perintisan bisnis. Untuk pemasaran, waktu itu mengandalkan toko di Pasar Atom Surabaya dan dua tenaga beautycian yang melakukan demo promosi.

Setelah beberapa tahun melakukan produksi di Prapen, Indro akhirnya bisa membeli mesin sendiri walau bukan mesin baru. “Kami beli mesin kosmetik second dari Taiwan dan Jerman, dari salah seorang pengusaha di Surabaya,” kata Thoni. Dari situ produksi juga mulai bisa ditingkatkan untuk memenuhi permintaan. Rata-rata per bulan bisa memproduksi sebanyak 1 mobil boks. Selain itu, juga menambah 1-2 varian produk baru, yakni skin care, produk tata rias panggung, tata rias wajah dan tata rias fantasi.

Cara promosi juga mulai ditingkatkan dengan merambah program yang belum dilakukan. Antara lain, mengikuti lomba tata rias, baik taraf nasional maupun internasional. “Kami pernah meraih gelar sebagai Juara Umum Lomba Tata Rias Tingkat Nasional 1987 dan Juara Tingkat ASEAN 1987,” ujar Thoni. Promosi juga dilakukan dengan demo produk di instansi pemerintah, ibu-ibu Dharma Wanita dan Bhayangkari, serta organisasi Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Cakupan pasarnya masih mayoritas di Surabaya dan sekitarnya.

Yang membuat segenap pengelola optimistis usahanya bisa berkembang, mereka melihat respons pasar cukup baik. “Terus terang kami sendiri tidak tahu apa penyebab produk buatan Papa kok begitu diserap pasar. Yang saya dengar, produk-produknya cocok untuk kulit di daerah tropis. Inilah yang menjadikan permintaan terus meningkat. Produk kami benar-benar bermanfaat sehingga makin lama makin dicari orang,” ungkap Thoni.

Karena penjualan terus meningkat, akhirnya tempat produksi di Prapen tidak mencukupi lagi. Lebih-lebih, saat itu Indro sudah berencana mendatangkan mesin langsung dari Jerman dan Inggris. Lokasi produksi di Prapen menjadi terlalu sempit, tak mencukupi untuk ukuran mesin baru. Karena itu, pada 1990-an, pabrik beralih ke tempat baru, yakni di Jl. Rungkut Industri VIII/26-28, Surabaya (Kawasan Industri), dengan menyewa. Pada waktu itu juga mulai dipakai nama PT Rembaka. Kata Rembaka diambil dari bahasa jawa yang berarti “berkembang bersama”.

Sejak berproduksi di Jl. Rungkut Industri, boleh disebut usaha ini sudah mulai bergeser dari skala industri rumahan menjadi industri menengah. Sejak itu, skala usahanya terus berkembang. Otomatis, dari hasil penjualan bisa menabung untuk menambah kapasitas produksi dan menyiapkan memiliki pabrik sendiri, bukan sewa. Tahun 1995 sudah bisa membeli tanah sendiri untuk mendirikan pabrik, di Jl. Berbek Industri VII/4, Surabaya.

Dewi Fortuna rupanya mendekat. Pada waktu krisis moneter 1998, bisnis La Tulipe justru mendapatkan keuntungan. “Kami blessing. Kenapa? Karena, sebelum krismon orang kelas atas membeli kosmetik dari luar, namun begitu nilai rupiah goyang, mereka ramai-ramai membeli La Tulipe. Akhirnya, produk kami malah laku keras. Penjualan kami naik sampai 100% lebih. Ini benar-benar di luar dugaan,” Russy mengenang. Karena itu pula, Rembaka bisa mendirikan pabrik sendiri yang mulai dipakai sejak tahun 2000. Pada tahun itu pusat produksi diboyong dari Rungkut ke lokasi sekarang, di Jl. Berbek.

Sejak di Berbek, modernisasi produksi dilakukan hampir di semua proses produksi. Mulai dari mixer sampai filling. Filling, misalnya, dulu dilakukan satu demi satu, kini sekali produksi bisa langsung lima unit selesai. “Kebanyakan mesin berasal dari Jerman, namun juga yang dari Inggris (lipstik) dan Korea (proses penyaringan). Dalam keadaan tertentu, kalau memungkinkan, kami modifikasi mesin agar hasil produksi lebih optimal,” Thoni menerangkan.

Cakupan pasarnya juga bukan semata-mata di Jawa Timur, tetapi terus diperluas menjadi wilayah nasional, termasuk ke kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, Bandung, bahkan kota-kota di Sulawesi, Kalimantan dan Papua.

Salah satu fondasi penting yang dibangun Indro, membentuk bagian riset dan pengembangan (R&D) agar bisa menelurkan produk-produk yang bukan hanya sesuai dengan tren, tetapi menciptakan tren. Karena itu, meski Indro telah wafat, tim R&D tetap dikembangkan. Mereka siap meluncurkan produk untuk melayani pasar pada masa mendatang kalau-kalau ada perubahan. “Kami memiliki list produk untuk masa mendatang, yang kalau pasar sudah siap, kami akan luncurkan,” kata Thoni. Soal cara kerja tim R&D, pihaknya tidak memasang target tertentu, misalnya sebulan harus menciptakan satu produk baru. “Tidak begitu. Kami biarkan mereka berkreasi seoptimal mungkin supaya hasil benar-benar bagus,” dia menjelaskan kiatnya.

Distribusi Rembaka saat ini sudah mencakup seluruh wilayah Indonesia, menggandeng tiga distributor. Berdasarkan penelusuran SWA, salah satu distributor yang digandeng adalah PT Dos Ni Roha, salah satu distributor besar Indonesia. Guna memudahkan pengelolaan distribusi, Rembaka kemudian membagi area dalam dua wilayah: barat dan timur. Barat meliputi Sumatera, Jawa Barat, Jakarta dan Pontianak. Adapun timur, dari Jawa Tengah hingga Papua. Para distributor itu dikelola terus-menerus. “Kami jaga mereka, bisa melalui berbagai bonus, penghargaan, gathering-gathering, ataupun tour-tour,” katanya.

“Kami juga memiliki konter-konter sendiri di beberapa kota. Atau, bekerja sama dengan toko kosmetik tertentu untuk memasarkan produk,” lanjut Thoni. Kalau ditotal, gerai sendiri mencapai 30-an. Rembaka juga memasok serta melatih tenaga pemasar dan tenaga kecantikan sendiri guna ditempatkan pada konter dan toko-toko tertentu yang memiliki potensi penjualan. Sementara itu, untuk mengendalikan harga, Rembaka mengatur dengan pola Harga Eceran Tertinggi (HET). Dengan cara itu, para distributor dan peritel hanya diberi kesempatan bermain di diskon. “Mereka mau melempar produk ke pasar pada harga berapa, itu terserah mereka, yang penting tak melebihi HET,” ujar Thoni.

Pekerjaan promosi juga digenjot, tak semata-mata getok tular. Saat ini promosi dilakukan terintegrasi, dari below the line (BTL) hingga above the line (ATL). Untuk ATL, sebagian besar dilakukan melalui majalah dan media elektronik. “Tapi itu hanya sebagian kecil promosi kami sehingga cenderung tidak kelihatan. Bagi kami, yang terutama adalah dengan cara BTL, seperti bekerja sama dengan berbagai instansi dan organisasi,” tutur Thoni. Selain itu, melakukan pendekatan dengan para ahli tata rias. “Kami tidak ada kontrak eksklusif dengan mereka. Mereka percaya kami. Dari situ kami support kebutuhan mereka,” katanya lagi. Selain itu, cara lama seperti menggarap ibu-ibu PKK, melakukan demo dan mengikuti pameran juga terus dilakukan. “Pokoknya, semua sisi kami garap.”

Pada posisi saat ini, omset terbesar disumbang produk-produk skin care dan dekoratif. Untuk merek, jelas La Tulipe menjadi tulang punggung, menyumbang 75% penjualan, sisanya dari penjualan second brand, LT Pro. Menariknya, perusahaan ini sekarang juga mulai masuk ke pasar Singapura dan Brunei, tepatnya pada akhir 2009. Ceritanya, ada salah seorang karyawan yang menikah dengan warga Singapura dan kemudian menetap di sana. Dia lalu melakukan order sekaligus memasarkan untuk area Singapura. Untuk pasar Brunei, Rembaka bahkan punya salon sendiri untuk mulai menggarap pasar di sana. “Tahun 2010 kami dipercaya menjadi sponsor acara Kementerian Kebudayaan Belia dan Suka Brunei untuk pemilihan penyanyi dan penari cilik,” cerita Thoni.

Bambang Irawan, pengamat bisnis dari Surabaya, melihat perjalanan La Tulipe banyak

diwarnai sikap pemilik yang benar-benar sabar dan bermental ulet. Sabar dalam arti melakukan strategi disesuaikan dengan kondisi perusahaan. “Kalau masih kecil, dia bersabar untuk bersikap sebagai perusahaan kecil dan terus-menerus melakukan inovasi, guna memanfaatkan peluang yang ada. Quality yang cukup bisa diandalkan, walaupun melalui proses improvement ‘learning by doing’,” kata Bambang.

Dalam pandangan Bambang, La Tulipe adalah buah kesabaran dan ketekunan sehingga jadilah sebuah produk yang matang baik dari segi produksi maupun pemasaran. Dari sisi perubahan manajemen, Rembaka pun bisa melakukannya dengan baik. Termasuk, dengan membentuk tim profesional dalam R&D. “Saya kira mereka sudah masuk dalam era matang dan kepercayaan konsumen tidak goyah walau pendiri telah tiada. Brand sudah terbentuk,” Bambang menyimpulkan.

Russy yang kini menjabat sebagai Manajer General Affairs & HRD mengakui kini perusahaan tempatnya bekerja telah berkembang dengan baik. “Dulu agak berat karena tidak memakai media komunikasi apa pun. Kami masih kecil sehingga belum memiliki dana. Kami kenalkan produk melalui getok tular,” ujarnya mengenang. Dia pernah mengalami hal tidak enak ketika mendapat tugas membuka gerai Melawai Plaza Blok M Jakarta. Waktu mencoba mengajak kerja sama dengan menawarkan model in store (titip jual), pemilik toko meragukan. “’Ini produk dari mana ini? Cocok nggak dengan kulit orang Indonesia?’, tentu saja kami sempat down. Tapi kami tetap meyakinkan bahwa produk kami bukan sembarang produk,” katanya.

Russy juga melihat, pendiri perusahaan ini, Indro, sangat pandai mengelola anak buah, menjaga kedekatan, serta memberi penghargaan kepada karyawan. “Ya, kami membangun bisnis ini dengan prinsip kekeluargaan. Baik kepada karyawan, distributor, outlet, maupun karyawan. Kalau ada senang, kami rasakan bersama. Begitu pula kalau lagi susah,” Thoni menyambung. Selain kesabaran, sesungguhnya inilah values yang menjadi tulang punggung membesarnya La Tulipe.(*) (oleh : Sudarmadi)

Reporter: Suhariyanto (Surabaya)

sumber: http://swa.co.id/2011/09/keuletan-di-balik-sukses-la-tulipe/

Dari Karyawan, Arnawa Kini Sukses Menjadi Entrepreneur Dengan 500 Karyawan

Dari seorang karyawan, I Putu Arnawa bermetamorfosis menjadi entrepreneur dengan 500 karyawan. Bisnisnya terpancak di setiap jengkal Bandara Ngurah Rai. Juga di Nusa Dua, Sanur dan Kuta. Bagaimana ia mengawali?

Langit kemerahan dengan sapuan arakan awan merona jingga ditelan ufuk barat saat kaki menjejak di Bandara Ngurah Rai, Denpasar. Menyusuri selasar yang dipenuhi deretan gerai handycraft dan riuh orang-orang berkulit putih dengan mata biru dan rambut pirang kemerahan, pandangan mata menangkap beberapa gerai dengan nama yang sama. Prada Reflexology dan Prada Priority Restaurant dijumpai di hampir setiap gate, mulai dari Gate 1, 2, 3, sampai Gate 10 area kedatangan internasional Ngurah Rai. “Tujuh gerai Prada Reflexology, 6 restoran Prada, dan dua executive lounge.” Mengeja dan menyimpan dalam hati temuan mata yang membersitkan tanya, siapa pemiliknya?

Sosok bertubuh tegap dengan penampilan yang cukup kasual itu menjabat erat tangan kami. “Putu Arnawa,” katanya. Senyum hangatnya menebarkan keramahan. Sore itu, di Prada Priority Lounge, salah satu ruang tunggu eksklusif miliknya yang terletak di lantai bawah Bandara Ngurah Rai, Putu Arnawa yang akrab disapa Arnawa membagi cerita pergulatannya membangun bisnis. Di bawah payung PT Nu Prasada, saat ini ia memiliki puluhan gerai refleksologi, executive lounge, resto, spa, minimarket, ruko, vila butik, sampai hotel.

Bisnisnya tak hanya berserak di Bandara Internasional Ngurah Rai, tetapi tersebar di kawasan Kuta dan Nusa Dua. Di kawasan bergengsi Bali Collection Nusa Dua, jejak bisnis Arnawa terpancak megah. Selain ada empat resto dan empat gerai refleksologi, yang paling mencolok pandangan adalah keberadaan Prada Concept Store yang menyediakan aneka wine, cokelat, rokok dan camilan.

Arnawa juga ikut menggerakkan bisnis di Sanur. Di pusat bisnis Pulau Dewata ini, Arnawa merambah bidang properti dengan ruko dan vila. Prada Executive Villa yang mengusung konsep vila butik, baru diluncurkan awal tahun ini. Ada 10 unit dengan masing-masing luas 500 m2. Di setiap unit terdiri dari empat kamar utama, ruang tamu, dapur, dan kolam renang dengan full furnishing. “Seperti layaknya hunian, penyewa tinggal masuk,” kata Arnawa. Setiap unit vila disewakan minimum dua tahun dengan harga Rp 500 juta/tahun/unit. “Yang menyewa para ekspatriat dan sudah terisi semua,” kata Arnawa semringah. Setali tiga uang, 9 ruko yang dimiliki Arnawa di Sunset Road sudah terisi penyewa yang rata-rata perusahaan besar, seperti bank dan biro travel.

Bisnis supermarket dijalankan Arnawa di Kuta. Ia juga tengah ancang-ancang membangun hotel dengan 100-an kamar di Kuta, kawasan yang menjadi poros wisatawan domestik dan mancanegara. “Sedang mengurus perizinannya. Targetnya akhir tahun ini sudah mulai pembangunan,” kata Arnawa seraya menambahkan, hotel dengan konsep sama juga akan dibangun di Nusa Dua. “Konsepnya hotel butik, jadi lumayan mewah.”

Sejatinya, di panggung bisnis Pulau Dewata, Arnawa boleh dibilang pemain baru. Tahun 2001, Arnawa menceburkan diri ke gelanggang bisnis. Debut awalnya adalah gerai refleksologi di area kedatangan internasional Bandara Ngurah Rai. Waktu itu, ia masih tercatat sebagai manajer di sebuah lounge – satu-satunya ketika itu – di Bandara Ngurah Rai. Saat Arnawa bergabung, lounge tersebut tengah limbung. Tugas Arnawa menggeliatkan kembali bisnis lounge yang salah satu pemiliknya adalah Aerowisata. Sebelumnya, ia bekerja sebagai staf ground handling di Singapore Airlines dan Cathay Pacific.

Berbagai terobosan kemudian dilakukan Arnawa yang sempat mengikuti pelatihan bisnis lounge di berbagai bandara di belahan bumi lain. Salah satu terobosannya, menghadirkan fasilitas refleksologi untuk para tamu lounge yang kemudian disusul dengan layanan massage. “Kami yang pertama menawarkan fasilitas layanan refleksologi ini,” ungkapnya. Fasilitas anyar itu disambut antusias para tamu, terutama tamu dari Jepang. Standar higienitas di lounge, termasuk prosedur dan penyiapan makanan, ditingkatkan sesuai dengan standar internasional. Kerja sama dengan maskapai pun ditingkatkan. Berbagai upaya tersebut mampu menaikkan kembali pamor ruang tunggu eksklusif itu.

Seiring lounge yang dikomandaninya menggeliat kembali, ia tergelitik untuk membuka refleksologi di luar lounge tetapi masih di area bandara. Pertimbangannya, pasar yang dibidik lebih luas, tidak terbatas seperti di lounge yang hanya mengandalkan penumpang kelas bisnis. Waktu itu, dengan modal tabungan seadanya, ia memberanikan diri membuka gerai refleksologi pertama di bandara. Ia memulai dengan tempat yang kecil, sekitar 4 x 6 m2 dengan empat kursi dan lima karyawan. Prada Reflexology yang dibesut Arnawa ternyata dibanjiri pengunjung. Padahal, harga yang dibanderol cukup mahal, Rp 100 ribu untuk 30 menit.

Bagi Arnawa, keberhasilan itu sebuah awal yang bagus. Ia kemudian tergerak untuk menambah gerai lagi. Di bawah bendera UD Prasada, ia menambah gerai refleksologi di kawasan yang sama. Lagi, Dewi Fortuna memeluknya. Penambahan gerai justru makin memperbesar pasar. Gerai refleksologinya selalu penuh.

Intuisi bisnisnya kemudian mengendus peluang di bisnis food & beverages. Dari perbincanagn dengan tamu-tamu di gerai refleksologi, ia melihat ada peluang mengembangkan usaha resto dengan suguhan menu internasional. “Waktu itu memang belum ada restoran dengan konsep internasional,” katanya. Lagi-lagi, dengan modal yang dikumpulkan dari usaha refleksologi, ia membangun Prada Priority Restaurant di Gate 1 dan 2. Kapasitas resto yang mampu menampung 40-50 kursi itu juga mendapat respons positif dari pengunjung, terutama para ekspat.

Keberhasilan itu melecut Arnawa untuk fokus mengembangkan bisnis. Ia kemudian memilih keluar dari tempatnya bekerja. “Tidak enak juga mengurusi bisnis tapi masih bekerja di tempat lain,” katanya. Keberanian untuk keluar dari comfort zone, bagi Arnawa, adalah pilihan yang bukan tanpa risiko. Toh, itu harus diambilnya. “Waktu itu saya sudah mantap melangkah memasuki dunia usaha,” katanya. Bagi Arnawa, keberhasilan tidak akan bisa diraih kalau tidak berani melakukan perubahan.

Pilihannya tidak keliru. Dengan fokus pada usaha refleksologi dan resto, bisnisnya terus berkembang. Tahun 2005, status hukum usahanya ditingkatkan menjadi PT dengan nama PT Nu Prasada. Seiring perubahan status hukum, gerai refleksologinya terus bertambah. Ia juga membuka lagi resto di pintu keberangkatan 7 dan 8. Setiap ada peluang, ia menambah lagi gerai refleksologi dan resto. Padahal, mencari tempat di area tunggu keberangkatan internasional itu tidak gampang. “Hunting tempat di bandara itu tidak gampang. Apalagi, kami pemain baru,” ungkapnya.

Toh, kendala tersebut tak menyurutkan langkah Arnawa untuk “menguasai” setiap jengkal tempat di bandara. Bahkan, ketika pihak Angkasa Pura menawarkan pengelolaan lounge yang ditinggalkan pemiliknya karena pindah lokasi, Arnawa tak menyia-nyiakan kesempatan itu. “Awalnya, jujur saya tidak berani karena tempatnya luas sekali, lebih dari 350 m2,” ceritanya. Namun, setelah dipertimbangkan dengan saksama, ia pun menerima tawaran Angkasa Pura untuk mengelola lounge yang notabene tempat dulu ia merentas karier. “Saya sudah pernah mengelola lounge dan berhasil. Sebelum saya ambil, saya beri tahu teman-teman di airlines kalau saya akan punya lounge sendiri,” katanya sambil tertawa.

Diakui Arnawa, ketika memasuki bisnis lounge, tantangannya luar biasa. Meski ia sudah paham seluk-beluk dunia lounge, ia tetap nervous. Pasalnya, saat ini ia adalah pemilik. Investasi yang dikucurkan pun tidak sedikit. Waktu itu sekitar Rp 200 juta untuk membenahi interior saja. “Belum termasuk sewa tempat karena waktu itu saya dapat keringanan bisa dicicil. Ini juga yang jadi pertimbangan saya akhirnya bersedia mengambil lounge ini,” ungkapnya.

Tahun 1998-2001, di lounge itu ia sebagai manajer dan tahun 2005, ia sebagai pemilik. Tahun-tahun berikutnya, bisnisnya terus menggelinding, bahkan keluar bandara. Selain mengembangkan gerai refleksologi dan resto, ia merambah bisnis spa, supermarket dan properti. Perjalanan metamorfosis dari seorang karyawan menjadi entrepreneur sukses di genggamannya. “Saya selalu meyakinkan diri saya bahwa setiap usaha kalau dijalankan dengan sungguh-sungguh akan berhasil. Tentu keberhasilan ini juga berkat campur tangan Tuhan,” tuturnya.

Bagaimana bisnisnya bisa menggelembung? Arnawa adalah pengusaha yang sangat memahami bahwa bisnis adalah dunia kompetisi. Menurutnya, persaingan di dunia bisnis tidak bisa dielakkan. “Jangan takut terhadap persaingan bisnis, jalani bisnis dengan baik dan penuh perhitungan,” imbuhnya. Untuk menjadi pemenang, jurus yang dilakukannya adalah memberikan yang terbaik. A small step is part of a giant step, so do what ever you can do and give it your best. “Lakukan yang terbaik dan harus lebih setingkat bahkan beberapa tingkat dari yang sudah ada,” kelahiran Mengwi, Kabupaten Badung 14 Juli 1972 ini menandaskan.

Arnawa memang tidak mau setengah-setengah dalam menjalankan setiap ladang bisnis yang dimasukinya. “Harus something different. Kalau mau bikin yang besar ya besar sekalian, jangan tanggung-tanggung atau jangan sekalian,” ungkapnya. Dalam menjalankan setiap unit bisnisnya, lanjutnya, harus memberi pembeda dari pemain yang sudah lebih dulu hadir.

Berbekal prinsip tersebut, Arnawa memasuki setiap bisnisnya dengan menawarkan nuansa berbeda, yang pastinya tidak dimiliki pesaingnya. Refleksologi, misalnya. Sebagai pionir, ia tahu langkahnya akan banyak ditiru orang. Terbukti, di bandara sekarang ini puluhan gerai yang menawarkan refleksi dan pijat menjamur. Toh, Prada masih yang terdepan. Dengan keluwesan dan keramahan para terapis yang siap memanjakan tubuh, ditambah interior yang dibuat nyaman, membuat Prada Reflexology dengan tarif di kisaran Rp 80-140 ribu itu tak pernah sepi pengunjung. Apalagi, layanannya ditambah manikur dan pedikur.

Untuk resto pun begitu. Paduan menu, interior, dan pelayanan yang prima mengantarkan Prada Priority Restaurant selalu dijadikan pilihan bersantap, seperti restonya di Nusa Dua. Resto-resto milik Arnawa menyuguhkan atmosfer yang berbeda. Ada live music dengan jenis musik yang berbeda disuguhkan menemani para tamu bersantap. Ini tak ada di resto lain di kawaasan tersebut. Bagaimana dengan lounge? Tak seperti dua lounge lainnya di Bandara Ngurah Rai, Prada Lounge menjalin kerja sama dengan semua airlines. Bukan hanya penumpang kelas bisnis, semua segmen mendapat tempat di Prada Lounge. “Tinggal menunjukkan kartu kredit Gold saja,” katanya. Dengan membuka pintu lebar-lebar, pasar Prada Lounge otomatis semakin terbuka lebar.

Menurut Sumber SWA di Premier Lounge Bandara Ngurah Rai, meski boleh dibilang pemain baru, Prada Lounge cepat berkembang dan berhasil menarik pengunjung. Keberhasilan Prada Lounge, menurut sumber yang tidak mau disebutkan namanya itu, karena Arnawa sebagai pemilik menguasai detail bisnis lounge. “Beliau lama bekerja di lounge sehingga sangat paham bagaimana menjalankan bisnis lounge,” ungkapnya. Ia juga melihat Prada Reflexology tetap merajai di bisnisnya meski saat ini bermunculan pemain baru di bisnis refleksologi di bandara. “Karena dia pionir, mereknya sudah kuat, jadi tetap yang terdepan,” katanya.

Sementara di mata Nakrowi dari Garuda Indonesia (Bali), keberhasilan Arnawa karena ia fokus dalam mengembangkan bisnis. “Ia fokus di bisnis yang digelutinya,” ungkap pria yang akrab disapa Rowi ini. Menurutnya, Arnawa juga memiliki relationship yang bagus dengan semua maskapai yang singgah di Ngurah Rai. Karena lama bekerja di ground handling dan lounge, tambahnya, Arnawa memiliki jejaring yang luas di kalangan maskapai.

Keberhasilan Arnawa adalah akumulasi dari semangat, kerja keras, kreativitas, dan jejaring yang luas di ranah airlines. Dalam rentang sedasawarsa, bisnisnya menggurita. Memulai bisnis pada 2001 dengan lima karyawan, sekarang ia mengayomi hampir 500 karyawan. “Tantangannya juga tidak kecil,” kata ayah satu putra dan dua putri, yang aktif di organisasi kemasyarakatan ini.

Sewaktu membangun resto di Gate 7 dan 8, misalnya, restonya sempat terseok-seok. Pasalnya, itu pintu terakhir menuju pesawat. Untunglah, waktu itu ada airlines yang kerap delay sehingga memerlukan layanan untuk para penumpangnya. Awalnya hanya snack, kemudian makan. Sampai akhirnya semua maskapai menjalin kerja sama untuk urusan layanan penumpang karena delay.

Setelah 10 tahun berkiprah di dunia bisnis, Arnawa yang sewaktu kecil bercita-cita menjadi pramuwisata, dikenal sebagai pengusaha bertangan dingin dengan kepemimpinan yang kuat. “Beliau orangnya tegas, disiplin dalam urusan kerja meski hubungan dengan karyawannya dibangun dengan rasa kekeluargaan,” ungkap seorang karyawan yang tak mau disebut jatidirinya. Di matamya, sang bos yang lulusan Politeknik Pariwisata ini seorang pekerja keras dan taat beribadah. “Beliau orangnya baik dan rajin beribadah,” imbuhnya.

Jalan hidup telah mengantarkan Arnawa pada pencapaiannya saat ini. Ia meraihnya berkat keberaniannya meninggalkan zona amannya sebagai karyawan. “Bisnis ini jiwa saya, banyak mimpi yang ingin saya raih lewat bisnis ini,” ungkap Arnawa.

Ke mana lagi kepak sayap bisnisnya akan mengembang? Akankah ke luar Pulau Dewata? “Saya terlalu sederhana berpikir, saya belum tertarik untuk ekspansi ke luar Bali. Kalau mau, ya sekalian ke luar negeri,” ujarnya. Ia menilai Bali masih memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. “Saya akan tetap di Bali. Selain masih banyak peluang yang bisa dikembangkan, akan lebih mudah juga memonitornya,” ungkap suami N. L. Parwati ini. “Saya berangkat dari orang operasional. Jadi, kalau tidak lihat operasional, sepertinya ada yang kurang,” imbuhnya.

Ke depan, seiring perluasan Terminal Internasional Ngurah Rai, ia tengah berancang-ancang membuka lounge dan duty free. “Mungkin mengawali dengan wine dulu,” kata Arnawa yang baru saja menggenggam izin sebagai distributor wine untuk area Bali. “Supaya duty free yang sekarang ada lawannya,” katanya sambil tertawa.

BOKS:

Tip Sukses Ala Arnawa

  • Menguasai best practice bisnis lounge.

  • Fokus pada bisnis yang digeluti.

  • Jejaring yang luas dengan semua airlines yang beroperasi di Bandara Ngurah Rai.

  • Selalu menjadi yang terdepan di bisnisnya

(oleh : Henni T. Soelaeman)

sumber: http://swa.co.id/2011/12/%e2%80%9cpenguasa%e2%80%9d-ngurah-rai/

Sudarto sukses menjadi juragan rempeyek detelah terkena PHK

Pertunjukan harus tetap berjalan. Itu pula yang membuat Sudarto tetap semangat meski kena PHK. Pascakehilangan pekerjaan itu, Sudarto melihat di kampungnya di Yogyakarta ada potensi ekonomi yang bisa dikembangkan, yakni rempeyek. Sudarto pun terjun ke bisnis ini dan dia jadi makin yakin ada duit di balik rempeyek.

Pengalaman pahit adalah pemicu semangat yang paling besar. Pengalaman pahit ini pula yang membuat Sudarto, pria kelahiran Yogyakarta 47 tahun silam, sukses merintis usaha rempeyek.

Sudarto mulanya berstatus karyawan di PT Panasonic Gobel, produsen elektronik yang memiliki kantor cabang di Yogyakarta. Namun pada 2004 silam, Sudarto harus rela menjalani pemutusan hubungan kerja (PHK).

Bagi sebagian besar orang di-PHK itu ibarat menelan pil pahit. Bagi PHK-wan dunia seolah-olah runtuh dan hidup tak bisa berlanjut.

Namun, bagi Sudarto pil PHK itu ternyata tak pahit-pahit amat. Justru pil itu menjadi obat kuat untuk semakin bersemangat mencari rezeki buat keluarganya.

Sudarto menjadikan pemecatan itu sebagai pintu masuk ke ekonomi yang lebih baik. Lihat saja, usai dipecat, ia memutuskan untuk berwiraswasta dengan memproduksi rempeyek. Kebetulan saat itu, di daerah asalnya di Dusun Pelemadu, Kecamatan Imogiri, Bantul, Yogyakarta, banyak usaha rempeyek yang dikembangkan rumah tangga.

Namun, usaha rempeyek tidak berkembang baik karena kurang promosi. Nah, Sudarto tak mau melakukan kesalahan yang sama. Ia tetap memproduksi rempeyek namun juga melakukan promosi dan pemasaran yang benar untuk rempeyeknya itu.

Pada 2006, bersama sahabatnya, Sudarto bertekad bulat berbisnis rempeyek khas Yogya. Selain memproduksi sendiri, ia juga melakukan pengemasan rempeyek dengan apik. “Rempeyek itu makanan tradisional favorit orang Jawa,” ujarnya.

Selain menyiapkan kemasan yang apik, tak lupa Sudarto juga melakukan survei kecil-kecilan tentang kebutuhan rempeyek di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Semarang. Kesimpulannya, “Kebutuhan rempeyek masih tinggi,” ujar Sudarto. Kesimpulan lainnya, banyak warga kota besar yang ternyata lebih suka rempeyek kampung.

Hasil survei itu terbukti benar, penjualan rempeyek Sudarto berkembang pesat di kota besar. Setelah berjalan sekian waktu, kini ia telah memproduksi 3.000 sampai 4.000 kemasan atau setara dengan 1 ton rempeyek per hari dengan harga jual Rp 2.500 per kemasan. “Pesanan terbesar dari di Jakarta,” kata pemilik merek rempeyek Nyak Sus itu.

Sesampai di Jakarta, rempeyek yang diproduksi Sudarto bisa dijual hingga Rp 5.000 per kemasan. “Rempeyek ternyata bisnis yang menguntungkan di Jakarta,” pungkasnya.

Untuk memikat konsumen, Sudarto sengaja memproduksi lima jenis rempeyek. Mulai dari rempeyek kacang tanah, kedelai hitam, kedelai putih, teri, dan rempeyek udang rebon. Namun, rempeyek yang best seller adalah rempeyek kacang tanah.

Selain pasar ibu kota, ternyata rempeyek milik Sudarto juga laris hingga Sumatra dan Kalimantan. Khusus rempeyek kedelai hitam dan rempeyek kedelai putih laku keras di Sumatera.

Dari hasil penjualan itu saban bulan Sudarto mengantongi omzet Rp 300 juta. Bahkan kini ia sudah punya 36 karyawan yang ia bayar dengan sistem kerja borongan. Dengan sistem borongan itu, ia membayar jerih payah karyawan sesuai pekerjaan yang mereka hasilkan.

 

Usaha rempeyek Sudarto ikut bergoyang ketika gempa melanda Yogyakarta pada 2006 silam. Namun, Sudarto tak mau menghentikan produksi. Baginya, gempa ini juga peluang karena saat itu Yogyakarta dibanjiri relawan dari segala penjuru Tanah Air. Ini menjadi peluang emas baginya berpromosi agar rempeyeknya makin terkenal.

Sudarto memang tak pernah menyesal atas PHK yang menimpa dirinya. Sebaliknya, dia malah bersyukur. Karena PHK itu pula, statusnya berubah 180 derajat. Kalau dulu dia hanya buruh atau karyawan, sekarang dia berstatus sebagai juragan.

Dengan menjadi pengusaha, ia juga bisa mengatur sendiri waktu kerjanya. Yang terpenting, ia bisa mempekerjakan tenaga kerja di sekitar tempat tinggalnya

Satu hal yang dipetik Sudarto saat menjadi karyawan, yakni pengalaman. Dia membayangkan, seandainya tak pernah jadi karyawan, tentu bingung juga menjadi pengusaha. Ilmu saat menjadi karyawan, sekarang benar-benar berguna bagi Sudarto untuk menjalankan usaha rempeyek ini. “Saya jadi punya ilmu marketing dan sekaligus bagaimana mempraktikkan ilmu itu,” ujar Sudarto.

Dengan ilmu pemasaran itu pula, Sudarto memutar modal yang cuma sebesar Rp 5 juta. Awalnya, ia menjalankan usaha bekerja sama dengan para ibu-ibu pengasong untuk memasarkan rempeyek dari pintu ke pintu atau tempat-tempat yang banyak didatangi orang. “Awalnya saya ingin membuka toko, namun ternyata cara door to door ini lebih efektif,” ungkap Sudarto.

Bagi pengasong, pola jualan seperti itu memang lebih menguntungkan, karena pengasong bisa mengambil untung lebih banyak. Adapun bagi Sudarto, ia selalu menerima pembayaran tunai.

Namun saat pasar rempeyek mulai meluas, produksi sempat terganggu, bahkan terhenti, selama tiga minggu akibat gempa bumi melanda Yogyakarta pada 2006. Saat gempa mengguncang, rumah tempat produksi rempeyek rata dengan tanah. Sudarto pun merugi puluhan juta.

Tapi, Sudarto pantang meratapi nasib. Ia pun kembali bangkit dan memanggil semua karyawan untuk bekerja dan memproduksi rempeyek seperti semula.

Justru setelah gempa itu usaha rempeyeknya makin melebar. Waktu itu banyak relawan yang datang ke Yogyakarta dan memberikan bantuan. Nah, saat hendak menyerahkan bantuan ke Sudarto, lelaki ini malah mempromosikan rempeyeknya kepada para relawan itu. “Mereka datang dari berbagai kota di luar Jawa, sehingga saya bisa sekalian promosi,” tegasnya.

Meski saat itu ia belum bisa mengirim dalam jumlah besar kepada para pemesan karena ada bencana, setidaknya ia bisa meyakinkan bahwa produk rempeyeknya sangat berkualitas.

Setelah gempa itu, produksi rempeyek Sudarto pelan namun pasti normal kembali. Bahkan beberapa bulan setelah gempa, produksinya sudah mencapai 2.000 bungkus per hari. “Jumlahnya memang masih sedikit, namun responsnya bagus,” pungkasnya.

Sebagai strategi pemasaran, Sudarto memutuskan untuk lebih fokus menjual rempeyeknya di luar Yogyakarta. Karena ia sadar bahwa produsen rempeyek di Yogyakarta sudah cukup banyak. Kini, hampir semua produksinya dikirim ke Jakarta dan sekitarnya karena pasarnya masih sangat menjanjikan. Untuk mengirimkan rempeyek dari Bantul ke Jakarta, ia menggunakan truk yang ditutup dengan terpal dengan frekuensi pengiriman seminggu dua kali.

Untuk urusan ini, ia sudah memiliki langganan armada truk sehingga mereka sudah mengetahui teknis mengangkut rempeyek agar kondisinya tidak hancur dan tetap bagus sampai di ibu kota. “Mereka rata-rata sudah pengalaman lebih dari 10 tahun menjadi sopir angkutan barang makanan,” ujar Sudarto.

Ke depannya, Sudarto masih punya ambisi bisa menguasai pasar di Kalimantan. Karena selama ini baru sekitar 5% dari total produksi rempeyeknya yang sampai di Kalimantan.

Padahal kota-kota seperti Pangkalanbun, Sampit, Palangkaraya, Banjarmasin, dan Balikpapan sangat besar permintaannya. “Saat ini, kendalanya, produksi rempeyek masih kurang untuk memenuhi seluruh permintaan,” ujarnya.

Kebetulan, ia juga sudah memiliki beberapa konsumen lama yang siap menjadi agen penyalur rempeyeknya ke kota-kota di Kalimantan. Sehingga ia bisa memastikan bahwa produk rempeyeknya aman sampai ke tangan konsumen. Karena ia menyadari bahwa kendala utama dalam bisnis ini adalah masalah distribusi.

Sumber: http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1323939217/85315/Sudarto-Rempeyek-makin-renyah-pascagempa-2

Sukses Lewat Bisnis Mesin Penjernih Air Minum, Omsetnya Rp 7 M

Setelah beberapa kali gagal menjalankan usaha, akhirnyaFuji sukses mengembangkan bisnis mesin penjernih air minum dengan omset Rp 7 miliar setahun. Bagaimana lika-likunya?

Inspirasi bisnis bisa muncul dari mana saja. Fuji Wong misalnya, bermula dari mengantarkan tamu asing memancing, kebetulan saat itu relasinya membawa alat portable drinking water, dia kini dikenal sebagai pemain bisnis mesin penjernih air minum merek FujiRO dan depo air minum isi ulang FujiRO. Jaringan deponya mencapai 198 cabang yang tersebar di 70 kota atau kabupaten di Tanah Air dengan total omset Rp 7 miliar setahun.

 Bertempat di sebuah ruko sederhana di kawasan Gedongkuning, Yogyakarta, Fuji mengendalikan bisnisnya di bawah PT FujiRO Indonesia. Saban hari, ruko yang dipasang papan nama bertulisan FujiRO Bukan Air Minum Biasa itu tidak pernah sepi didatangi pengunjung. Kebanyakan mereka berasal dari luar kota atau pulau untuk sekadar mendapatkan informasi detail tentang peluang bisnis air minum tersebut. “Dulu, basis awal FujiRO di Jakarta, lalu saya pindahkan ke Yogyakarta, Makassar dan Bandung untuk memudahkan akses pengiriman ke cabang,” ucap lulusan SMA Bruderan, Purwokerto (1987) itu.

 Fuji meraih kesuksesan setelah melewati masa sulit yang panjang. Sebelum mendirikan FujiRO tahun 2002, Fuji dikenal sebagai Fishing Coordinator Indonesia. Dia berperan mengoordinasi para konglomerat atau kaum berduit yang memiliki hobi memancing di laut. Kliennya tidak hanya the haves dari Indonesia, melainkan juga kalangan ekspat. Bayangkan. Sekali memancing setiap klien harus merogoh kocek Rp 35 juta per jam.

 Dari olah raga dan hobi memancing ini, Fuji menjalin relasi dengan banyak orang penting. Nah, suatu ketika dia sedang melayani klien asal Jepang, Naomi Fuji Hiro. “Waktu itu Naomi membawa alat portable drinking water yang berfungsi untuk menyaring air hingga layak langsung diminum,” katanya mengenang. Fuji benar-benar terkesima. Keesokan harinya, dia langsung hunting alat tersebut ke sejumlah pasar dan toko. Hasilnya, dia menemukan alat serupa tetapi modelnya beda, mereknya Aqua Pure.

 Meski di pasaran Indonesia alat penjernih air itu sudah ada, Fuji tidak patah semangat. Ia tetap gigih mewujudkan impiannya untuk memulai bisnis baru. Dengan modal hanya Rp 4 juta, yang berasal dari menjual kalung emas istrinya, dia membeli sejumlah alat penjernih air di toko. Kemudian alat itu ditawarkan keliling dari rumah ke rumah di Jakarta. Sialnya, respons pasar tidak antusias.

 Lagi-lagi Fuji pantang mundur. Sepi penjualan di Jakarta, dia merangsek ke Banyuwangi, Jawa Timur, berkeliling menawarkan alat penjernih air minum tersebut. Kegigihannya memang patut diacungi jempol, Maklum, dia memiliki jam terbang tinggi sebagai salesman. Nyaris semua produk pernah dia pasarkan, mulai dari dagang bolpoin keliling, penjual granit, agen asuransi, memasarkan properti hingga multilevel marketing. “Barang apa saja pernah saya jual, kecuali tiga hal: wanita, narkoba dan pesawat terbang,” ujar mantan karyawan salon, bridal dan event organizer itu berseloroh.

 Tiga bulan pertama penjualan di Banyuwangi masih seret. Tiap bulan cuma mampu menjual tiga-empat unit alat penjernih air minum. Cara promosi yang digunakan saat itu, dengan mengatakan positioning alat sebagai produk kesehatan, sehingga layak dikonsumsi langsung.

 Namun, kondisi ini justru membuatnya berpikir lebih kreatif. Apa itu? Keturunan Tionghoa ini menemukan strategi penjualan yang benar-benar membuat bisnisnya booming. Ide brilian yang tercetus saat itu, tidak hanya menjual mesin penjernih air sebagai produk kesehatan, tetapi juga investasi yang bisa menghasilkan uang. Maksudnya, siapa saja yang membeli produknya bisa digunakan sebagai alternatif bisnis yang menguntungkan. Hasilnya? Rupanya, dengan jurus ini sambutan pasar luar biasa. Omset penjualannya meningkat tajam. “Ternyata, kalau orang ditawari sehat saja tidak tertarik. Tapi, begitu disodori peluang keuntungan atau investasi, langsung tergiur,” ujar pria kelahiran Banyumas tahun 1968 ini.

 Begitu mendapat respons yang bagus, Fuji terus berusaha mendapatkan suplai mesin penjernih air dengan kualifikasi jempolan. Lalu, dia merakit sendiri mesin tersebut dan diberi merek FujiRO. Sejak awal, dia sadar mengenai Hak Atas Kekayaan Intelektual, sehingga merek mesin tersebut langsung dipatenkan. Nama FujiRO diambil dari nama depannya sendiri dan dikombinasi dengan kata RO yang kepanjangan dari Reverse Osmosis, yaitu teknologi penjernihan air. Tahun 2003 sertifikat hak paten FujiRO resmi dikantongi Fuji dari Depkumham RI.

 Guna memperoleh mesin yang berkualitas, Fuji menyempatkan diri survei ke pabriknya secara langsung di luar negeri, sekaligus order barang dalam jumlah besar. Tidak tanggung-tanggung, untuk mesin dan membran, dia memilih produk Amerika Serikat, lalu alat filter dia lebih suka buatan Taiwan, sedangkan casing-nya dari Korea.

 Setiba di Tanah Air, komponen alat-alat dari mancanegara itu dirakit oleh Fuji dkk. Dia mematok harga mesin dengan sistem paket, mulai dari skala rumah tangga hingga untuk industri. Maka, harga paketnya pun bervariasi. Sebagai gambaran, satu unit mesin penjernih air minum untuk rumah tangga ada yang seharga Rp 4 juta. Sementara untuk depo isi ulang harganya berkisar Rp 19-60 juta dengan kapasitas produksi per hari 800-7.000 liter. Lalu, untuk mesin di industri air minum dalam kemasan (AMDK) harganya Rp 400 juta-2 miliar. Kapasitas produksinya minimum 60 ribu liter/hari.

 Target pasar yang dibidik FujiRO adalah segmen ritel dan korporat. Sejauh ini, pelanggan dari kalangan industri mendominasi penjualan. Kliennya antara lain Bank Mega, Kantor Pajak Bengkinang, teh Tong Tji, teh Gopek, PT Perkebunan Nusantara. “Pelanggan terbesar FujiRO adalah para produsen AMDK,” ujar Fuji mengklaim. Dari pelanggan industri ini Fuji juga berhak atas fee royaltidari setiap galon air yang diproduksi.

 Kendati kesannya hanya menjual air, nilai perputaran bisnis FujiRO lumayan besar. Fuji mengaku, rata-rata dalam setahun bisa membukukan omset Rp 7 miliar. “Omset itu tidak hanya dari penjualan mesin penjernih air dan royalti air minum isi ulang, tapi juga jasa konsultasi bisnis,” ucapnya seraya menambahkan, tarif konsultasinya Rp 3 juta per dua jam.

 Ya, ayah dua anak ini tidak hanya meraih untung dari penjualan mesin penjernih air dan royalti atas produksi air minum isi ulangnya. Fuji pun bertanggung jawab atas layanan pascajual mesin FujiRO. Bahkan, dia juga memberikan pelatihan bisnis dan konsultasi seputar air minum dan mesin penjernih yang ditekuninya. Inilah yang menjadi kekuatan bisnis FujiRO di tengah ketatnya gempuran bisnis sejenis yang belakangan ini marak.

 Bagi Prof. Basu Swasta, bisnis yang digumuli Fuji masuk kategori red ocean. “Tapi, Fuji Wong ternyata berhasil masuk dan menembus pasar hingga ke mana-mana. Dia sangat unik,” kata pengamat kewirausahaan dari Universitas Gadjah Mada itu memuji. Menurutnya, keunggulan Fuji terletak pada kemampuan membangun jaringan bisnis dan kreatif promosi dengan memasukkan unsur investasi untuk penjualan alat penjernih air. Selain itu, Fuji tidak menjual produknya secara putus, karena ada pelayanan servis gratis dan menjual suku cadangnya.

 Mitra bisnis Fuji pun puas. “Saya suka produk FujiRO bukan hanya soal jaminan pascajualnya, tapi motivasi yang selalu diberikan secara menarik dan komunikasi dengan konsumen juga terjalin baik,” ujar Sarjono, pemilik depo air minum isi ulang Nashiro. Diakuinya, selama ini Fuji memberikan kebebasan kepada konsumen untuk menggunakan merek air minum yang dihasilkan sesuai dengan yang diinginkan. Kalau mau menggunakan merek FujiRO, mereka akan memperoleh pendampingan karena memang ada fee royalti yang dipungut. “Kalau saya, lebih suka memakai merek sendiri, Nashiro. Tapi, kalau ada masalah, saya tetap kontak Pak Fuji lewat telepon atau SMS yang selalu siap dihubungi kapan saja. Beliau langsung kirim orang untuk servis secara gratis,” tutur pegawai salah satu BUMN itu dengan lega.

Setelah sukses menjual mesin penjernih air minum, tahun ini Fuji siap mengepakkan sayap bisnisnya, yakni hendak meluncurkan produk AMDK dengan merek FujiRO di beberapa kota di Indonesia. “Saat ini dalam persiapan,moga-moga tidak ada kendala untuk peluncuran tahun 2011,” ujar Fuji yang sempat kuliah di sebuah universitas swasta di Jakarta. (oleh : Eva Martha Rahayu)

Reportase: Gigin W. Utomo

 sumber: http://swa.co.id/2011/05/wong-banyumas-jadi-juragan-penjernih-air/