Monthly Archives: October 2011

Amalia, Anak Muda yang Sukses Mendulang Omzet Rp 200 Jt/Bulan Lewat Toko Fesyennya

Amalia Thessen adalah satu dari sekian banyak anak muda yang sukses dalam berbisnis. Di usia ke-27 tahun, Amalia mampu memproduksi sekaligus menjual aneka produk fesyen lewat gerai sendiri di Jakarta dan Surabaya. Sejak merintis bisnis fesyen pada 2006 lalu, kini ia telah berhasil mendulang omzet lebih Rp 200 juta per bulan.

Sukses berbisnis di kala usia masih muda memang bukan hal aneh. Namun, sukses itu bakal susah diraih kalau enggan merintis usaha sedari dini. Lihat saja, para pengusaha muda yang sukses, mereka sudah merancang bisnis sejak lulus kuliah atau bahkan di saat masih menjadi mahasiswa.

Salah satu pengusaha muda yang sukses itu adalah Amalia Thessen, pemilik Toko Unik (Tonik) di Jakarta dan Surabaya.

Lewat gerai Tonik itulah, Amalia yang berusia 27 tahun itu mampu menjual beragam produk fesyen yang dia produksi sendiri. Aneka produk fesyen itu seperti baju printing dan lukis, syal, tas wanita, aksesori, serta produk fesyen lainnya.

Lia, begitu sapaan akrabnya, mendirikan Tonik sejak 2006 silam, selepas lulus kuliah dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti. Perempuan ini memilih dunia bisnis karena ogah menjadi anak buah. “Kebetulan saya tipikal orang yang tak ingin terikat waktu dalam bekerja,” ucap dara berdarah Belanda ini.

Dara yang pengusaha ini memang punya pengalaman bagaimana tidak enaknya bekerja untuk orang lain. Pengalaman itu ia peroleh ketika mengikuti praktik kerja lapangan (PKL) semasa kuliah. Tiga bulan lamanya Lia magang di perusahaan periklanan. “Dari pengalaman itulah saya memutuskan untuk berwirausaha,” tegasnya.

Keputusan Lia itu mendapat dukungan penuh sang orang tua. Apalagi Lia menggeluti usaha fesyen yang memiliki potensi pasar yang luas.

Pilihan Lia ternyata tak keliru. Kini, setelah bisnis fesyen itu berjalan lima tahun, meraup omzet lebih dari Rp 200 juta per bulan bukan lagi perkara sulit. Omzet itu berasal dari tiga gerai Tonik yang berlokasi di Tamini Square, La Piazza Kelapa Gading, Cilandak Town Square (Citos), dan di Surabaya Town Square (Sutos). “Hampir setiap gerai cenderung ramai pengunjung karena kami menyediakan produk remaja hingga dewasa,” ujar Lia.

Di gerai Tonik itu, Lia menjual produk fesyen mulai dari harga Rp 10.000, seperti harga tiga pieces gelang, sampai harga termahal berupa tas wanita senilai Rp 175.000 per pieces. Produk andalan Lia adalah kaus printing, yaitu kaus wanita yang dipoles dengan motif yang dicetak secara digital. “Kaus ini kami jual Rp 55.000 per pieces,” ungkap Lia.

Selain memasarkan lewat gerai, Lia juga juga memasarkan produk fesyen miliknya itu melalui reseller yang tersebar di kota-kota seperti Makassar, Pekanbaru, Palembang, Bandung, Medan, dan Banjarmasin. Para reseller itu tentu turut menggembungkan omzet Lia.

Ebi Febrian, orang kepercayaan Lia yang sekaligus pengelola jaringan gerai Tonik, mengaku, kunci sukses Lia terletak pada inovasi. Lia menurut Ebi tak pernah berhenti melakukan inovasi desain fesyen. “Kami memiliki tim kreatif dan tim produksi yang selalu bekerja sama,” ungkap Ebi.

Masih menurut Ebi, Lia adalah sosok yang tak pernah puas. Itulah yang membuat Lia selalu ingin mencari gagasan baru dalam produk fesyennya. “Perbedaan mendasar kami dengan toko sejenis adalah: kami selalu meluncurkan model dan warna produk baru tiap minggu,” ujar Ebi.

Inovasi itu juga yang membuat pelanggan gerai Tonik loyal untuk belanja. Aneka produk dengan desain yang selalu baru membuat banyak pelanggan penasaran dan berniat kembali belanja. Kini, saban bulan, seluruh gerai Tonik itu mampu menjual 4.600 unit produk fesyen. “Hampir 30% omzet disumbangkan oleh reseller kami,” terang Ebi.

Lia menambahkan, kelebihan lain dari usahanya terletak pada layanan. Ia mengaku tak sekadar memproduksi dan menjual saja, tapi juga melayani pesanan produk dari pelanggan. “Kalau ditanya apa keunikan gerai Tonik? Maka saya menjawab kami membuat apa yang kalian minta,” terang Lia.

Selain itu, Lia menuturkan, kesuksesan dia berbisnis fesyen tidak terletak pada modal. Ia bilang, bisnis fesyen bisa berkembang jika dikerjakan langsung agar bisa melihat antusiasme pasar. “Dengan begitu, kami bisa menerima masukan dari pelanggan tentang produk kami,” ucapnya.

Sukses Amalia Thessen dalam membangun bisnis busana dan pernak-pernik bermerek Tonik bukanlah semudah membalik telapak tangan. Dia harus bekerja keras untuk mewujudkan bisnisnya agar bisa seperti sekarang. Amalia mulai membangun bisnisnya itu sedari dia masih menjadi mahasiswa.

Bisa dibilang kesuksesan yang diraih Amalia Thessen dalam mengembangkan jaringan Toko Unik (Tonik) merupakan hasil perpaduan tekad, kemauan, kerja keras, dan keyakinan kuat. Amalia yakin, bisnis yang mampu menggiringnya ke arah sukses adalah bisnis fashion.

Bakat Amelia dalam berbisnis sudah nampak ketika dia masih duduk di bangku kuliah. Saat kuliah di semester lima, dara kelahiran 14 November 1984 ini memulai debut bisnis dengan menjual pin, kalung, dan gelang remaja. Amelia sadar betul bahwa mahasiswa di kampusnya yang cenderung melek mode dan fesyen adalah target pasar yang potensial. “Ternyata feeling saya tak salah, responsnya positif,” ucap Lia.

Amelia menjual berbagai produknya juga sepadan dengan isi dompet mahasiswa, yakni mulai Rp 5.000 sampai Rp 35.000. “Saya juga memberi keringanan yang menarik, yakni bisa bayar dua kali,” tandasnya.

Dengan jualan barang secara kredit itu, omzet Amelia bisa mencapai Rp 1,5 juta per hari. Ia bilang, dari usaha kecil-kecilan itu bisa membiayai kuliahnya hingga selesai. “Motivasi awal saya berjualan adalah untuk meringankan beban ibu saya yang kebetulan single parent,” jelas Amalia.

Saat lulus kuliah pada 2006, keyakinan Amalia makin kuat bahwa bisnis adalah dunianya. Apalagi, sang ibu ketika itu mendukung penuh keinginannya tersebut.

Dengan modal cuma Rp 15 juta, Amalia mulai merintis usaha dengan mengikuti bazar to bazar di berbagai acara. Bagi Amelia tak masalah modal pas-pasan, yang penting dia paham dengan pasar yang bakal dia garap. “Saat itu modal saya belum cukup untuk membuka kios walau Tonik sudah terbentuk,” ungkapnya.

Keseriusan Amalia di dunia bisnis itu juga dia tunjukkan dengan master plan bisnisnya. Dia mengungkapkan, Tonik adalah bagian kecil dari bisnis fesyen yang bakal dia tekuni. Namun, dalam jangka waktu berikutnya, Amalia tak sekadar hanya menjadi penjual.

Dia bertekad untuk sekaligus menjadi produsen. Dan Tonik adalah sarana yang tepat untuk menjual berbagai produk fesyennya tersebut.

Bagi Amelia tak ada rumus rugi dalam hitungan bisnisnya. “Saya tak pernah memikirkan rugi,” ujar dara muda ini. Amalia beranggapan, asal terus berusaha dan berpikir positif, keberhasilan akan datang. “Wirausaha tak hidup dari gaji, jika tak ingin rugi harus selalu berkembang,” imbuhnya.

Terus berkembang. Dua kata itulah yang tertanam dengan baik di benak Amalia. Itulah sebabnya, Amalia tak ragu sedikit pun ketika membuka gerai pertamanya di Tamini Square. Bagaimanapun, “Menjadi produsen bisa untung lumayan besar ketimbang menjadi reseller,” tegasnya.

Amalia juga tak mau berpikir ribet dengan modalnya yang cekak. Bagi dia, mengelola modal cekak adalah seni tersendiri. Karena itulah, untuk menghemat modal, Amalia mengaku sengaja memproduksi tiap item barang dalam jumlah terbatas. “Itu cara juga menjadi cara jitu untuk menyiasati tak stabilnya harga bahan baku. Namun, di saat yang bersamaan ini juga menjadi strategi pemasaran bahwa barang yang kami produksi eksklusif atau limited edition,” terang Amalia.

Tak heran meski kini ia bisa memproduksi dalam jumlah besar. Ia juga masih mempertahankan tradisi membuat barang dalam jumlah terbatas. “Tonik dikenal karena jumlah produk yang terbatas, jika stigma itu diubah saya khawatir kesan yang muncul adalah produk kami jadi pasaran,” imbuhnya.

Strategi jitu yang dia kembangkan itu diakui oleh Yanti Riyanto, reseller Tonik yang telah bekerja sama selama tiga tahun dengan Amalia. Menurut Yanti, Amalia adalah seorang pebisnis muda yang hebat. Amelia selalu terbuka apabila diajak berdiskusi soal cara mengembangkan usaha. “Jarang saya menemukan anak muda seperti dia yang selalu berpikir jauh ke depan,” puji Yanti.

Amalia juga sosok pengusaha yang rendah hati dan kreatif. “Amalia merupakan wanita pekerja keras yang selalu pandai memotivasi orang lain untuk terus maju,” sanjung Yanti.

Walau Tonik terus berinovasi dari segi produk, model, dan warna, ternyata hal itu belum cukup membuat Amalia Thessen puas. Setelah enam tahun berjalan, ia merasa masih ada hal yang mengganjal dan bisa mempengaruhi kelangsungan bisnisnya ke depan, terutama mengenai manajemen dan pemasaran produk.

Memang bisnis fesyen dan aksesori yang dijual di Toko Unik atau Tonik bisa dibilang telah menimba sukses. Lihat saja, kini jaringan Tonik telah mampu menghasilkan duit ratusan juta rupiah per bulan. Namun kesuksesan itu tak lantas membuat si empunya Tonik, Amalia Thessen puas. Amalia merasa harus ada perbaikan dari segi manajemen agar usahanya ini dapat berkembang lebih melesat lagi.

Amelia mengenang, ketika kuliah, seorang karibnya menasihati, untuk mengembangkan usaha maka perlu manajemen yang baik, terutama mengenai manajemen keuangan. “Sobat saya bilang, usaha sudah punya pelanggan. Karena itu dengan manajemen yang baik pasti akan lebih berkembang,” ujar Amelia mengenang nasihat sobatnya itu.

Nasihat itu memang tak berlebihan. Amelia mengakui, dia memang terlalu fokus dalam pengembangan fesyen dan aksesori. Baginya, manajemen maupun pengelolaan pemasaran masih dinomorduakan.

Perempuan yang mengaku idealis dalam hal fesyen ini berniat untuk membenahi dan menyusun sistem manajemen usahanya ini. “Bulan depan kami juga akan menggunakan jasa akuntan untuk mengaudit keuangan,” beber Amelia.

Soal pemasaran pun bakal digarap lebih serius. Setelah memasang logo Tonik di paper bag dan produk seperti kaus, tas, dan dompet, kini Amelia berniat memasang logo Tonik di produk aksesori seperti gelang dan kalung. Selain itu, logo Tonik juga bakal mejeng di mana-mana. Kini logo itu baru tertempel di kendaraan operasional atau di lokasi bazar atau pameran.

Menurutnya, sistem manajemen dan pemasaran ini sangat penting. Maklum, pada 2012 nanti, Amelia berambisi membuka toko grosiran yang lebih besar. “Sebelum mencapai itu semua kami harus punya sistem manajemen yang kuat,” ungkapnya.

Niat Lia untuk membuka toko grosiran sudah mulai ia rancang. Ia sudah menyiapkan tempat di Mal Ambassador, Jakarta Selatan. Ia menganggap pengunjung mal itu sesuai dengan segmen pasar yang dia garap. “Kami tak asal tunjuk tempat, kami sudah riset sebelumnya bahwa produk kami banyak juga yang dijual di tempat tersebut,” tandasnya.

Ambisi Amelia lainnya adalah membuka Tonik di mal premium, sekaliber Grand Indonesia. Ia yakin, produk fesyen yang ditawarkan di Tonik bisa merepresentasikan produk fesyen lokal yang berkualitas yang tak kalah dengan produk impor.

Keyakinan itu dilandasi dari pengalamannya saat memproduksi dan menjual syal ikat dari bahan kaus, pada 2010 lalu. Tak dinyana, “Awal yang tidak disengaja itu ternyata sambutannya luar biasa besar,” ujar Amelia.

Dalam sehari syal itu bisa terjual hingga 150 pieces dengan harga Rp 75.000 per buah. Amelia menyatakan, antusiasme pelanggan terhadap produknya itu lantaran syal tersebut hampir memiliki persamaan dengan syal yang dijual di toko retail premium seperti Zara.

Hal itu pun dibenarkan oleh Ebi Febrian, sekondan Amelia dalam mengelola Tonik. Menurut Ebi, produk syal tersebut seharusnya bisa menjadi ikon Tonik. Namun karena buruknya manajemen pemasaran syal tersebut, penjualan syal itu tak berlangsung lama karena kompetitor langsung berbondong-bondong membuat produk serupa. “Bisa dibilang Tonik pernah menjadi trendsetter dalam syal ikat sebelum muncul pemain lain yang ikut memproduksi syal serupa tanpa kami ketahui sebelumnya,” ujar Ebi. Manisnya berjualan syal tersebut hanya bisa bertahan selama enam bulan.

Itulah sebabnya, Amelia menegaskan, ketika manajemen Tonik mulai kuat, ia bakal membangkitkan lagi produk yang pernah sukses dibesutnya seperti pin, sepatu lukis, dan syal ikat. “Karena tren pasar saat ini masih ke arah baju dan aksesori,” tukas Amelia.

Yanti Riyanto, reseller Tonik di Jakarta menambahkan, kelebihan produk Tonik adalah banyaknya referensi soal model serta kreativitas yang dimiliki oleh Amelia dan tim kreatifnya membuat pelanggan tak pernah jenuh dengan produk yang dihasilkan. “Saya juga nyaman kerja sama dengan Tonik dan Amelia,” pungkas Yanti.

Sumber: http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1322635713/84026/Amalia-Ingin-maju-manajemen-perlu-dibenahi-3

Hendra, Tamatan SD yang Bisnis Tata Lampunya Mendunia

Berawal dari kecintaan akan dunia musik, Hendra Lie menangkap peluang bisnis tata lampu. Dari usaha inilah, dia memiliki kerajaan bisnis tata cahaya pertunjukan, Mata Elang. Tak hanya proyek dari konser-konser musik, Mata Elang mendapat kepercayaan menggarap proyek bertaraf internasional, seperti SEA Games 2011 lalu.

Bermain musik merupakan hobi yang tak bisa menjadi pegangan hidup untuk selamanya. Itulah yang membuat Hendra Lie yang semula manajer dan produser God Bless melirik usaha tata lampu pertunjukan. Tentu usaha ini masih berkait erat dengan dunia musik yang memang sudah menjadi hobi Hendra.

Saat God Bless menapaki masa keemasan di era 1970-an, Hendra masih melihat ada kekurangan dari penampilan grup musik rock itu. Ia melihat, tata cahaya pertunjukan kurang mendongkrak performa musik.

Geregetan, Hendra pun membuat sendiri lampu pertunjukan dengan menggunakan alat sederhana, seperti sendok sayur (centong), seng serta mesin bajaj. Tak disangka, desain ala kadarnya itu justru memukau penonton dan mendukung penampilan penyanyi di atas panggung.

Dari situlah, Hendra pun makin rajin mengutak-atik alat-alat rumah tangga. Dia berharap, siapa tahu aneka peralatan rumah tangga itu bisa sebagai perangkat tata cahaya.

Hendra lantas mulai memutuskan untuk lebih serius menekuni usaha tata cahaya ini. Hendra yang hanya mengenyam pendidikan hingga kelas 4 SD itu yakin usaha ini bakal mendulang sukses.

Terbukti, seiring berjalannya waktu, usaha Hendra makin terkenal. Lantas, pada 1990, ia memberi nama usaha tata lampu ini Mata Elang, sesuai denganketajaman sorot lampunya.

Mata Elang pun menjadi jaminan mutu untuk kesuksesan pertunjukan panggung. Hingga pada 1997, ia dipercaya menggarap tata lampu acara SEA Games 1997 di Jakarta. Perhelatan inilah yang menjadi tonggak kesuksesan Mata Elang.

Alhasil, sejak saat itu, boleh dibilang, Mata Elang menjadi langganan setiap kali pertunjukan besar digelar di Tanah Air. Tidak hanya itu, kebesaran nama Mata Elang juga sudah melanglang buana hingga ke mancanegara. Nama Mata Elang sudah sangat dikenal di Malaysia, Singapura, Brunei, Vietnam, dan Filipina.

Hendra membuktikan bahwa ia sangat profesional di bidang tata cahaya. Buktinya, ia menjadi pemenang utama dalam kompetisi menghias gedung dalam Dubai Shopping Festival pada 1999. Di tahun yang sama, Mata Elang juga membuktikan keandalannya menjadi penata lampu Olympiade Sidney.

Yang terbaru, Hendra sukses menangani fasilitas lighting dan LED Visual untuk acara pembukaan maupun penutupan upacara SEA Games di Palembang pekan lalu. Dalam event ini, perangkat lampu yang digunakan menyedot tenaga lebih dari 3 megawatt, yang menyamai pemakaian listrik untuk sebuah kota.

Menurut Hendra, lighting atau tata lampu adalah pilar utama dalam sebuah pertunjukan. Karena, mulai dari pertunjukan musik yang sederhana hingga konser kelas dunia seperti Java Jazz dan Java Rock in Land, pasti membutuhkan penataan cahaya.

Dalam satu hari, Hendra mengaku tim Mata Elang sanggup mengerjakan hingga 10 proyek permintaan tata lampu pertunjukan di berbagai tempat. Dalam sebulan Hendra pun bisa meladeni 300 permintaan tata lampu mulai dari stasiun televisi, sampai dengan pertunjukan luar ruang.

Sayang, Hendra enggan mengungkapkan dengan gamblang tarif yang ditetapkan untuk jasa tata cahaya lampu Mata Elang. Alasannya, tarif tersebut berbeda-beda untuk setiap pertunjukan. “Ada yang gratis sampai dengan miliaran seperti event SEA Games yang kemarin digelar,” tandasnya.

Kini, cita-cita Hendra hanya satu, yaitu mewujudkan sebuah panggung pertunjukan bertaraf internasional yang memiliki tampilan tata cahaya spektakuler yang ada di Indonesia.

Dengan begitu, penyanyi dari dalam dan luar negeri akan merasakan sensasi yang tak terlupakan ketika menggelar pertunjukan di Tanah Air. “Saya kini sedang merintis berdirinya Mata Elang International Stadium, sehingga masyarakat Indonesia tak perlu pergi ke luar negeri untuk menonton pertunjukan musik,” kata ayah lima anak ini.

Sumber: http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1322814500/84275/Dunia-menyorot-nama-Hendra-Lie-berkat-sorot-tata-lampu

Mantan Konsultan IT yang Kini Sukses Terjun di Bisnis Jus Buah Premium

Tergelitik peluang pasar jus premium berkat tren gaya hidup sehat yang semakin merakyat, Hendrik Setiawan memutuskan terjun pada usaha jus premium. Persaingan ketat pun memaksanya memutar otak supaya penjualannya terus meningkat. Kini, Hendrik pun bisa menjual 70.000 botol jus segar setiap hari.

Modal semangat dan ketekunan mengantarkan Hendrik Setiawan menjadi pengusaha jus buah segar yang sukses. Hendrik yang sebelumnya telah mapan sebagai konsultan IT profesional, rela melepas kariernya demi mengembangkan usaha keluarga, yakni agen distributor kertas.

Setelah menjadi pengusaha, insting bisnis Hendrik pun makin tajam. Melihat tren gaya hidup sehat berkembang di masyarakat, tebersit ide untuk menggeluti usaha pembuatan jus segar. Apalagi, Hendrik juga mencintai gaya hidup sehat.

Hingga akhirnya, Hendrik pun menyerahkan pengelolaan usaha distributor kertas kepada anggota keluarga lainnya. Lantas, pria kelahiran 1969 ini memulai bisnisnya sendiri, tanpa campur tangan orang lain. “Saya melihat pasar jus segar makin luas karena banyak orang yang menerapkan gaya hidup sehat,” ujarnya.

Karena kepeduliannya akan dampak buruk bahan pengawet, Hendrik pun memproduksi jus bebas pengawet. Dengan modal

Rp 200 juta, uang tabungannya sendiri, Hendrik mendirikan PT Adelphi TransAsia, sebagai produsen jus buah Mama Roz pada 2005.

Sayang, persaingan pada industri minuman jus ini juga sudah ketat. Ia pun memutar otak supaya produknya diterima pasar.

Alhasil, ia pun membuat jus buah segar murni. Tak seperti jus buah yang banyak beredar, yang menurut Hendrik tak lebih merupakan jus buah konsentrat.

Ia pun membidik pasar kalangan menengah atas dengan banderol harga jus berkisar Rp 13.000 hingga Rp 25.000. Karena tanpa bahan pengawet dan konsentrat, jus Mama Roz hanya bertahan selama tiga hari.

Untuk merebut perhatian pasar, Hendrik pun lantas menerapkan strategi layanan pesan-antar jus ke seluruh wilayah Jakarta, tanpa memungut biaya tambahan. Menurutnya, sebagai pendatang baru di dunia bisnis minuman, ia harus pandai menjemput bola dan menangkap peluang.

Tak disangka, layanan pesan-antar jus buah segar ini menjadikan Mama Roz sebagai satu-satunya jus buah segar yang diantar hingga ke rumah pelanggan. “Pesanan satu botol jus pun akan kami antar,” jelas Hendrik.

Menjadi berbeda, baik dari sisi produk maupun layanan, memang tujuan Hendrik sejak awal. Dengan perbedaan inilah, masyarakat akan lebih mengenal produk jus buah segar buatannya. Selain itu, dengan memberikan layanan istimewa berupa pesan-antar ini, Hendrik dapat menggenggam pasar yang lebih bergengsi.

Di samping layanan, Hendrik pun memberi penawaran istimewa kepada para pelanggan Mama Roz. Yakni, pelanggan boleh menentukan sendiri buah yang akan dibuat jus. Pilihan ini pun bisa berganti-ganti, sesuai permintaan.

Menurut Hendrik, dengan memberikan kesempatan kepada pelanggan untuk memilih sendiri rasa jus buah akan memberikan pengalaman tersendiri bagi pelanggan. “Mereka seperti membuat jus sendiri, sesuai dengan selera,” ujarnya.

Dari pengalaman ini pula, Hendrik bisa terus berinovasi menciptakan rasa-rasa baru jus Mama Roz. Ia pun tak segan menampung usulan pelanggan yang menginginkan rasa jus berbeda.

Hendrik menambahkan, masukan maupun saran dari pelanggan merupakan hal yang tidak ternilai harganya. “Dengan menerima masukan ini, kami juga mendapatkan pelanggan yang setia,” tuturnya.

Karena kedekatan dengan pelanggan ini pula, Hendrik tak takut bersaing dengan produsen minuman buah lainnya. Ia yakin, produk buatannya yang benar-benar berkualitas diterima lidah masyarakat Indonesia. Pasalnya, racikan jus buah segar bikinannya pas dengan lidah masyarakat Indonesia.

Tak heran, bisnis Hendrik pun terus berkembang. Bahkan, pada tahun ini, ia menuai kenaikan permintaan cukup besar. Pada 2011 ini, permintaan naik 40% dibanding tahun lalu.

Setelah enam tahun menjalankan usaha, Hendrik pun terus menambah karyawan. Jika dulu, ia hanya dibantu 10 karyawan, kini dia telah memperkerjakan 160 karyawan yang mengoperasikan mesin-mesin jus di pabriknya, untuk memenuhi pesanan hingga 70.000 botol jus buah segar tiap hari.

Setelah meninggalkan profesi konsultan IT, Hendrik Setiawan fokus membangun bisnis jus buah segar Mama Roz. Menurutnya, membangun bisnis seperti berperang, perlu persiapan detail. Karena itu, segala aspek bisnis harus dipikirkan mulai dari produk, kemasan, maupun infrastruktur logistik.

Bermodalkan uang Rp 200 juta, Hendrik Setiawan mulai menggarap usaha jus buah segar Mama Roz. Dibantu 10 orang karyawan, Hendrik yakin bisnis barunya ini akan sukses. Optimisme inilah yang mendorongnya serius berbisnis jus meski dengan modal terbatas.

Dengan modal itu dia mendatangkan mesin pengolah jus dari Amerika Serikat dan Eropa. Keinginannya hanya satu, yaitu menciptakan jus yang memiliki kualitas prima.

Selain alat pengolah jus, dia juga mempersiapkan segala kebutuhan bisnis lainnya, mulai desain botol kemasan, ukuran kemasan, label botol, ukuran botol, sistem teknologi informasi (TI) serta call center Mama Roz. “Membangun dan mengembangkan bisnis sama seperti tentara yang hendak berperang,” seloroh alumnus jurusan keuangan Southern California University ini.

Dia juga membantu desain ukuran kemasan. Seperti saat penciptaan ukuran botol jus Mama Roz 600 mililiter (ml). Ia mengatakan, keputusan untuk membuat kemasan 600 ml sudah melalui pemikiran mendalam. Dengan ukuran botol yang tak terlalu besar, harapan Hendrik, konsumen dapat menikmati jus Mama Roz sambil berolah raga. “Ukuran botol mudah digenggam,” katanya.

Selain mudah digenggam, ukuran 600 ml juga muat dalam cup holder mobil. Dengan ukuran ini, konsumen dapat menyediakan jus di kabin kendaraan dan sesekali bisa menenggaknya bila jalanan macet atau pas traffic light menyala merah.

Setelah aspek bisnis selesai dibuat, aspek pemasaran juga tak kalah penting untuk dipikirkan. Untuk mendekatkan merek Mama Roz ke masyarakat, Hendrik mencantumkan cerita tentang asal-muasal buah segar yang terkandung dalam jus Mama Roz.

Hendrik terinspirasi dengan label produk sejenis yang mencantumkan cerita seorang ibu di Tuscani, Italia, yang setiap pagi memetik buah segar untuk disajikan sebagai jus anak-anak dengan cara tradisional. “Supaya pelanggan Mama Roz merasakan kedekatan emosional,” katanya.

Dia sengaja membuat cerita dalam Bahasa Inggris sebagai salah satu strategi pemasaran dan membangun brand image Mama Roz. Sebab, sampai saat ini masyarakat Indonesia masih lebih percaya dengan produk makanan dan minuman impor asal Eropa. Selain itu, untuk menarik pembeli, dia juga memperkaya tampilan label Mama Roz dengan gambar dan grafik lebih beragam.

Itulah sebabnya, Hendrik yakin, akan sulit mencuri perhatian pasar, jika kemasan minuman buah segar ini tidak dikemas dengan tampilan mewah dan mahal. “Bukan saya tidak cinta Indonesia, tapi ini merupakan strategi pengenalan brand,” kata Hendrik.

Ia mengakui, kentalnya sentuhan barat ini, membuat produknya sering dikira merupakan waralaba luar negeri atau produk impor.

Menurutnya penguatan brand image melalui label dan kemasan sangat penting. Sebab, sebagai produk yang memiliki banyak pesaing, Mama Roz hanya memiliki satu kali kesempatan untuk memberi kesan baik bagi konsumen. “Kita hanya memiliki satu kali kesempatan untuk memenangkan hati konsumen ketika melihat banyak produk jus berjajar di etalase. Karena itu, kita harus menyajikan kemasan yang menarik,” imbuhnya.

Selain kualitas produk dan kemasan, sistem TI dan call center yang mumpuni juga sangat penting. Bagi Hendrik, infrastruktur yang baik untuk layanan pesan-antar menjadi kebutuhan yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Dia mengaku membutuhkan waktu enam bulan untuk men-set up seluruh infrastruktur pesan-antar dan call center sebelum benar-benar menjalankan bisnis jus ini. Dengan infrastruktur yang kuat, Hendrik yakin, pelanggan Mama Roz yang dulunya hanya puluhan orang bisa terus meningkat menjadi ratusan dan bahkan ribuan pelanggan.

Setelah layanan pesan-antar menuai sukses, dalam jangka waktu tiga bulan, Mama Roz juga telah menembus pasar swalayan kelas premium.

Kini, senyum Hendrik bisa lebih lebar lagi. Lihat saja, meski baru berjalan enam tahun, penjualan jus Mama Roz telah mencapai rata-rata 50.000 botol per bulan. “Saya ingin bisnis perdana saya ini sukses,” ujar Hendrik.

 

Hendrik Setiawan memang mengambil jalur jualan jus di segmen yang berbeda. Namun perbedaan inilah yang mengantarkan Hendrik meraih sukses dalam mengembangkan bisnis. Berkat langkah bisnis yang berbeda itu pula, kini jus bermerek Mama Roz ini mulai menjajal pasar ekspor ke negeri jiran.

Untuk meraih kesuksesan dalam berbisnis memang butuh keberanian. Keberanian untuk membawa ide yang berbeda dan keberanian mengambil risiko dari perbedaan yang ditawarkan tersebut.

Keberanian itu pula yang ditempuh Hendrik Setiawan untuk meraih sukses membangun bisnis jus buah segar Mama Roz. Langkah berani itu ditunjukkan Hendrik dengan memproduksi jus segar tanpa pengawet dan hanya mampu bertahan selama tiga hari saja.

Namun dengan merendah Hendrik mengatakan, dia berani berbisnis jus di luar cara konvensional itu karena memang tak punya pengalaman di industri jus. “Ibaratnya seperti blessing in disguise. Karena tidak tahu justru jadi berani,” kata Hendrik.

Hendrik sempat berpikir, seandainya dia tahu seluk-beluk berbisnis jus, mungkin dia tidak akan membuat jus yang hanya mampu bertahan selama tiga hari. Dari sisi hitungan bisnis, langkah ini sangat berani. Sekali barang tidak laku, melayanglah modal usaha.

Bagi orang lain, sambung Hendrik, membuat jus yang hanya mampu bertahan selama tiga hari saja, mungkin hanya pemikiran pebisnis edan saja. Namun bagi Hendrik, seedan apa pun ide itu, tetap harus diperjuangkan untuk mengetahui secara pasti hasilnya.

Ide memberikan layanan pesan-antar juga ide berbeda dalam berbisnis jus. Namun bagi Hendrik, pesan antar ini menunjukkan kepedulian dia terhadap pelanggan. Selain itu, dengan pesan antar ini merek Mama Roz menjadi semakin dikenal. “Aset terbesar dan terpenting dari sebuah perusahaan adalah brand. Dan bagi kami, brand itu tercipta dari tiga hal penting yaitu kenyamanan, kemudahan, dan layanan Mama Roz jus,” imbuhnya.

Dengan brand yang sudah kuat inilah, Mama Roz pun mulai mengembangkan pemasaran dengan cara menjajaki kerja sama atau co-branding dengan vendor-vendor yang memiliki pelanggan luas. Kerja sama tersebut dapat berupa pemberian gratis satu botol jus buah segar Mama Roz dalam transaksi tertentu. Hal ini ditempuh Hendrik agar dapat meraih pelanggan yang lebih luas lagi.

Untuk mendukung pengembangan pasar itu, ia pun tengah membangun pabrik jus buah segar Mama Roz di kawasan Cikupa, Tangerang. Hendrik perlu membangun pabrik karena permintaan jus Mama Roz ini terus meningkat dari hari ke hari.

Rencananya, pabrik jus tersebut akan mulai beroperasi pada pertengahan 2012 mendatang. Pabrik ini nanti akan dilengkapi dengan mesin pembuat jus yang modern dan higienis dengan kapasitas produksi tinggi.

Faktor lain agar brand Mama Roz tetap melekat di hati penikmat jus buah segar karena Hendrik rajin mengeluarkan produk jus buah rasa baru.

Hendrik menyatakan, penyegaran pasar melalui produk baru ini dapat mendongkrak omzet hingga 50% sampai 100%. “Karena bersaing di industri minuman, kami harus kreatif dan rutin memperkenalkan rasa baru secara berkala,” tandas Hendrik.

Pengembangan dan perluasan pasar jus buah segar Mama Roz juga akan dilakukan dengan memperkenalkan brand kedua atau second brand dari produk jus selain Mama Roz. Ekspansi peluncuran produk baru ini dilakukan agar jus buah segar dapat dinikmati oleh seluruh kalangan dan tidak terbatas pada kalangan kelas menengah atas saja, Lihat saja, produk jus baru ini harganya lebih murah 30% dari harga jual jus Mama Roz.

Meski harga lebih murah, tak berarti menurunkan standar mutu dan kualitas. Hendrik menegaskan, jus buah ini tetap terbuat dari buah segar tanpa menggunakan konsentrat dan pengawet. “Kami ingin menjangkau pasar anak muda yang lebih luas dan tetap berusaha mengampanyekan hidup sehat,” jelas Hendrik.

Hendrik juga mulai melirik pasar ekspor ke Malaysia. Hendrik mengaku kini tengah mematangkan konsep ekspor tersebut agar lebih efisien. Dia punya dua pilihan, apakah dengan membangun pabrik di Malaysia atau langsung mengirim jus dari Tanah Air.

Sumber: http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1323671452/84986/Hendrik-Setiawan-bikin-jus-lebih-murah-dan-tetap-bermutu-3

Berawal dari Iseng, Lahirlah Bisnis Tas Bernilai Miliaran Rupiah

Berawal dari iseng, lahirlah bisnis tas bernilai miliaran rupiah. Tak hanya menaklukkan pasar lokal, mereka juga berhasil menembus pasar mancanegara. Bagaimana mereka melakukannya?

Sekilas, rumah yang berlokasi di tepi Jalan Ring Road Barat Yogyakarta ini terlihat seperti bangunan rumah tinggal biasa. Tidak ada yang istimewa, bentuk bangunannya pun terbilang sederhana, laiknya rumah tinggal lainnya. Namun, siapa yang menyangka bahwa dari rumah tersebut setiap hari dihasilkan ratusan tas buatan tangan yang dipasarkan dengan harga yang relatif mahal.

Rumah di kawasan Gamping, Sleman, DIY itu memang difungsikan sebagai pabrik tas berbahan alami dengan merek Gendhis. Tas Gendhis tak hanya dipasarkan di dalam negeri, tetapi juga sudah merambah pasar mancanegara – meski di luar negeri tidak menggunakan merek Gendhis.

Adalah pasangan suami-istri Indro Pranomo dan drg.Ferry Yuliana yang berada di balik kesuksesan Gendhis. Ketekunan mereka dalam membangun bisnis tas sejak 2002 kini telah menunjukkan hasil yang sangat positif.

Tas Gendhis awalnya merupakan hasil kreasi Ferry yang berusaha mengisi waktu sambil menunggu kelahiran buah hatinya. Ferry sebelumnya bekerja di perusahaan tas yang cukup dikenal di Yogya. Karena hamil, ia memutuskan berhenti bekerja. Iseng-iseng ia membuat tas dari bahan-bahan alami. Ferry membuat desain yang selanjutnya diteruskan kepada para perajin untuk mengerjakannya.

Melihat hasil produknya cukup bagus, Ferry merasa sayang bila hanya dikoleksi sendiri. Ia pun mencoba menawarkan ke beberapa koleganya. Ternyata, sambutannya cukup bagus. Para kolega tertarik membeli produk tas Ferry. “Mereka menilai produk istri saya layak jual,” kata Indro.

Dari situlah, Ferry kemudian memulai serius menangani bisnis pembuatan tas tersebut. Nasib baik agaknya sedang berpihak kepadanya. Ketika pada masa awal menekuni pembuatan tas tersebut, ia telah memberanikan diri mengikuti pameran Inacraft. Karena merasa yakin bahwa produknya akan diminati, ia memproduksi dalam jumlah yang lumayan banyak.

Menjelang pameran, Indro masih kebingunan menentukan merek yang akan digunakan pada pameran tersebut. Mereka memutar otak untuk mencari ide. Nama itu baru didapat ketika Indro dan istrinya sedang duduk di kafe sebuah hotel. Ide itu tiba-tiba muncul tatkala melihat kemasan gula pasir yang dibungkus kertas kecil dengan tulisan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. “Tiba-tiba saya teringat istilah bahasa Jawa dari gula, yakni gendhis,” ujar Indro.

Setelah diucapkan beberapa kali ternyata kata “gendhis” terasa akrab. Selain dari pengucapan yang dirasa enak, gendhis memiliki makna filosofis tersendiri. Mereka berharap, dengan menggunakan nama Gendhis akan membuahkan hasil yang manis. “Kami akhirnya sepakat menggunakan merek Gendhis,” ucap Indro.

Ternyata, mereka memang tidak salah memilih nama merek. Dengan merek Gendhis, usaha mereka terus merangkak naik. Perkembangan cukup signifikan mulai dirasakan setelah mereka mengikuti Inacraft di Jakarta, meskipun untuk mengikuti pameran tersebut mereka sampai menggadaikan sebuah sepeda motor untuk membayar biaya stand. “Waktu itu saya menggadaikan motor senilai Rp 5 juta,” ungkap Indro.

Hasil pameran berbuah manis. 400 item produk tas yang disiapkan habis dalam waktu beberapa hari pameran. Dari pameran ini, Ferry mengaku mendapat uang Rp 50 juta yang dia gunakan untuk mengambil motor ke pegadaian dan membayar utang. Selebihnya dia gunakan untuk modal kerja.

Selama dua tahun pertama, Ferry nyaris kerja sendiri. Maklum sang suami juga memiliki usaha sendiri sebagai dealer komputer. Baru pada 2004 Indro total bergabung untuk membesarkan bisnis yang dirintis sang istri. Setelah ditangani berdua, perkembangan Gendhis semakin bagus.

Suami-istri ini berbagi peran. Sang istri konsentrasi pada pengembangan produksi, sedangkan sang suami lebih fokus ke pemasaran. Selain rajin mengikuti pameran, Indro juga mulai mem-branding produknya lewat Internet. Ketika jejaring sosial mulai berkembang di dunia maya, ia tak mau ketinggalan. Segala lini jejaring dia masuki, mulai dari Multiply, Facebook hingga Twitter.

Perjalanan pasangan suami-istri tersebut dalam menekuni bisnis tas mirip dengan yang dialami Novita Yunus. Wanita berusia 39 tahun ini pada November 2009 memutuskan lebih banyak di rumah mengurus anak-anaknya. Dunia perbankan yang telah 12 tahun ia geluti ia tinggalkan. Ia mundur dari posisinya sebagai Kepala Cabang Bank DBS Pondok Indah. “Saya ingin lebih banyak di rumah, jadi terpikir akan buka konsultan atau jadi agen asuransi,” ujar Novita.

Setelah mendapat uang pesangon, ibu tiga anak ini ingin menghadiahi dirinya karena telah bekerja keras selama 12 tahun dengan sebuah tas. Saat sedang berbelanja, ia tertarik melihat sebuah tas seharga Rp 25 juta. Namun, ia terpaksa mengurungkan niatnya membeli tas tersebut karena sadar bahwa ia tidak punya penghasilan seperti dulu lagi. Lalu terpikir olehnya, “Mengapa tidak buat tas sendiri saja,” gumannya dalam hati.

Iseng-iseng Novita membuat sebuah tas batik. Kebetulan, ia punya saudara yang mempunyai pabrik pembuatan tas. Ia lalu meminta dibuatkan tas dari kain batik yang ia miliki. “Batik cari sendiri, kulit juga aku yang paduin, totally my design,” katanya mengenang. Tas idaman jadi, ia pakai, lalu fotonya iseng-iseng ia pajang di Facebook. Tak dinyana, banyak temannya yang tertarik. Mereka minta dibuatkan juga. “Di bulan pertama itu terima pesanan teman-teman yang minta dibuatkan sampai sekitar 50 tas, dari situ saya pikir, oh ini something serious,” ungkapnya.

Novita begerak cepat. Januari 2010 ia mulai berburu bahan batik, kulit, dan tukang yang akan membantunya membuat tas batik. Februari ia punya dua tukang. April 2010, ia buka toko di Plaza Kemang 88, Jl. Kemang Raya, Jakarta Selatan.

Kendati tidak punya latar belakang desain dan tidak pandai menggambar, sampai sekarang Novita sendiri yang mendesain produknya. Pada setiap koleksi yang ia keluarkan, ia mencoba tematik berdasarkan jenis batiknya. Misalnya, mengangkat batik Tuban, maka semua koleksi yang ia keluarkan dalam periode itu menggunakan bahan dasar batik Tuban. Selain batik Tuban, beberapa batik yang pernah angkat adalah batik Lasem, batik Bakaran, batik Sidoarjo, batik Solo, batik Yogya, batik Indramayu, batik Cirebon, batik Jambi, batik Madura, batik Garut dan batik Papua.

Dalam mendesain tasnya, ia berusaha modelnya sesederhana mungkin. “Saya ingin menonjolkan batiknya,” ujar sarjana Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran ini. Ia putuskan menyasar segmen menengah-atas. Harga tas dibanderol Rp 600-800 ribu per buah. Nama mereknya Batik Chic – yang belakangan disebut dengan BC (baca: bi-si). Kata “Chic” dipilih untuk menunjukkan batik bisa gaya dikenakan ke mana saja.

Awalnya, Novita memasarkan produknya dengan menggunakan media jejaring sosial Facebook. Namun, ia sadar bahwa tak banyak temannya yang online. Karena itu, ia berpikiran menggunakan reseller yang membantunya menjual produk. Februari 2010, ia punya dua reseller yang notabene adalah teman-temannya.

Kini ia punya sekitar 10 reseller di Jakarta, juga di Bandung, Balikpapan dan Bandung. Di luar negeri, ia punya reseller di Sydney, Kuala Lumpur dan Brunei Darussalam. Jika dirata-rata, tiap reseller di dalam negeri bisa menjual 20 tas/bulan. Di luar negeri, penjualan di Brunei yang terbesar bisa 30 tas/bulan.

Selain di gerainya di Kemang, ia juga menitipkan sejumlah barangnya di beberapa tempat: Alun-Alun Indonesia di Grand Indonesia, Central Park, Nusa Dua Bali, JW Marriot, Hotel Ritz-Carlton Mega Kuningan Jakarta, dan tiga butik personal milik temannya.

Gendhis juga menempuh strategi yang sama. Selain membuka gerai khusus di mal dan hotel, mereka juga memiliki gerai independen dan jaringan dealer di berbagai kota besar di Indonesia. Gerai-gerai tas Gendhis saat ini bisa ditemukan di Jakarta, Bandung, Semarang, Medan, Balikpapan, Solo dan Bali. Kecuali yang di Semarang, semua gerai yang dimiliki secara eksklusif hanya memajang produk Gendhis. “Yang di Semarang memang perkecualian karena mereka juga menjual produk fashion lain, tapi bukan tas,” kata Indro.

Indro dan istrinya saat ini tengah menikmati manisnya rezeki dari produksi tas Gendhis. Saat ini, setiap bulan mereka bisa memproduksi ribuan tas dengan aneka model dan bentuk. Hasil produk mereka terbilang bukan barang murahan lagi. Sebelumnya hasil produk mereka dijual Rp 100-400 ribu, tahun ini mereka memperkenalkan produk yang harganya di atas Rp 1 juta. “Kami memang sengaja memilih konsumen middle-up yang mengutamakan kualitas,” ujar Ferry yang menggunakan berbagai bahan alami seperti rotan, pandan, mendong, enceng gondok, agel, kain batik dan benang nilon untuk tas buatannya.

Seperti dituturkan Ferry, sekarang memang muncul kecenderungan perempuan mapan justru memilih produk asli Indonesia. Bukan sekadar peduli produk dalam negeri, tetapi karena banyaknya kasus pembajakan merek tas-tas branded. “Daripada memakai produk bermerek yang belum tentu asli, mereka memilih tas dalam negeri yang benar-benar jelas produsennya,” kata perempuan yang selalu mengenakan busana muslim itu.

Menurut Ferry, ceruk tas wanita untuk kalangan menengah-atas di Indonesia masih terbuka lebar. Untuk membidik pasar ini, selain menyediakan produk yang berkualitas, ia juga hanya menjual di tempat-tempat khusus. Untuk pasar modern, yang dia incar hanya pasar modern yang memang dikenal untuk kalangan menangah-atas, seperti Sogo, Sarinah, Centro dan Alun-Alun Indonesia, “Karena itulah, kami tidak membuka outlet di sembarang pusat perbelanjaan modern,” imbuh ibu dua anak kelahiran 18 Juli 1974 ini.

Untuk tetap memikat selera konsumen, pasangan suami-istri ini menerapkan prinsip inovasi setiap hari. Artinya, setiap hari mereka selalu melakukan ekplorasi untuk menemukan desain baru yang diprediksi meledak di pasaran. Mereka juga bertekad menjadi trendsetter dengan melahirkan motif-motif baru.

Bagi mereka, membuat tas bukan sekadar merangkai bahan-bahan tertentu untuk kemudian terbentuk menjadi benda yang berfungsi sebagai tas semata. Akan tetapi, setiap tas yang diproduksi harus “bernyawa”. Di dalamnya mengandung sesuatu yang mengesankan bagi pecintanya. Karena itulah, setiap desain memiliki tema tertentu. Dan demi menjaga eksistensi, setiap bulan minimal ada dua motif baru yang diluncurkan. Jika ada event akbar seperti Inacraft, dimunculkan puluhan motif baru ke pasar.

Indro mengatakan, untuk menimbulkan kesan eksklusif, setiap desain baru yang diluncurkan hanya diproduksi dalam jumlah tertentu, maksimal 25 buah, terkadang lima buah saja. “Kami juga melayani konsumen yang minta dibuatkan tas dengan desain khusus,” ujar pria kelahiran 1 Agustus 1973 itu.

Meski terbilang produktif melahirkan desain baru, ternyata Gendhis belum memiliki SDM yang memadai. Sampai kini tugas mendesain tas hingga memili bahan, motif dan aksesori masih dilakukan Ferry sendiri, sementara proses pengerjaannya diserahkan kepada para perajin yang tersebar di Jawa Tengah, Jawa Barat, DIY dan Kalimantan. Tahap finishing kembali dilakukan di dua rumah produksi yang ada Yogya. “Kini, jumlah tenaga kerja di bagian finishing mencapai 80-an orang,” ujar Indro yang bertekad akan terus meningkatkan kualitas SDM dan manajemen produksi agar tas Gendhis makin berkibar di pasar internasional. (oleh : Taufik Hidayat)

Reportase: Gigin W. Utomo dan Wini Angraeni

sumber: http://swa.co.id/2011/07/gairah-bisnis-tas-etnik-yang-menjanjikan/

Kegigihan Pelopor Bisnis Ayam Organik

Deraan krisis ekonomi justru menggiring sang arsitek banting setir menjadi pelopor bisnis ayam organik di Indonesia, tanpa dukungan modal raksasa.

 

Christopher Emille Jayanata sejatinya seorang arsitek lulusan Universitas Parahyangan, Bandung. Begitu pula ketika merintis jalan entrepreneurship di tahun kedua kuliah, ia bergerak di bidang arsitektur dengan mendirikan perusahaan kontraktor dan konsultan arsitektur lanskap PT Essi Cipta Lestari. Namun, perjalanan hidup akhirnya membawa Emil – sapaan akrabnya — menjadi pengusaha ayam organik bermerek Probio Chicken.

Perkenalan dengan bisnis unggas tersebut berawal dari persinggungannya dengan dunia tanaman. Tahun 2000, ayah dua anak kelahiran Bogor, 17 Oktober 1972, ini mulai merintis bisnis sampingan, pupuk cair. Deraan krisis ekonomi 1997 membuat sektor properti — yang menjadi andalan biro arsiteknya — limbung.

Berbekal kecintaannya pada tanaman yang diperoleh dari kedua orang tuanya yang lulusan Institut Pertanian Bogor, Emil mulai bergerak di industri agrokimia itu. Nasib pun membawanya pada perkenalan dengan I Putu Kompyang, seorang Ph.D. yang berstatus Ahli Peneliti Utama di Balai Penelitian Ciawi. “Dia mengembangkan probiotik untuk sapi,” ujarnya.

Probiotik yang sebenarnya merupakan mikroorganisme hidup yang disebut-sebut berefek baik jika dikonsumsi itu telah diuji oleh Kompiang. Dan memang, hasilnya ternyata bisa diaplikasikan tidak hanya untuk hewan, tetapi juga untuk tanaman. Penelitian Kompiang yang diuji lapangan di Dinas Pertanian Garut dan Laboratorium Agroindustri Bogor membuktikan probiotik mampu memperbaiki performa tumbuh tanaman padi dan tomat, serta hewan sapi, kambing, ikan dan ayam.

Tanpa ba-bi-bu, Emil langsung menyambar peluang itu dan melabeli produknya Tumbuh di bawah payung PT Essicipta Lestari. Dari 2001 hingga 2004, dijualnya produk buatan Kompiang itu kepada para petani, petambak dan peternak di Bogor, Jawa Tengah dan Jawa Timur, sampai Lampung. Sambil jualan, Emil mengaplikasikan barang dagangannya agar konsumen percaya. “Saya terapkan juga di semua sektor pertanian. Di Wonosobo, Malang. Saya terapkan aqua culture di tambak udang dan ikan.”

Emil yakin lidahnya akan pegal-pegal jika mengomunikasikan produknya dengan sebutan probiotik kepada para petani dan pembudidaya. Maka, ia mencari gampangnya. Produknya yang diproduksi 5.000 liter per bulan di rumah Kompiang di Ciawi, Bogor, disebut vitamin untuk tanaman. Kata Emil, Tumbuh mampu mengurangi penggunaan pupuk hingga separuh dan menihilkan penggunaan antibiotik. Hasilnya, peningkatan produksi konsumennya yang telah diujicoba diklaim meningkat 30% dengan kualitas panenan yang lebih baik.

Sayang, manuver Emil membangkitkan macan tidur. Produsen pupuk dan antibiotik kegerahan melihat aksinya. Apalagi, hal itu berdampak pada menurunnya penjualan produk mereka. Para produsen pun membanting harga pupuk dengan cukup signifikan. Emil tersungkur. Maka, pada 2004, ia banting setir. Berbekal modal Rp 10 juta dan hasil ujicoba lapangan selama masa praproduksi ataupun ketika berjualan probiotik, ia memilih fokus di sektor perunggasan, tepatnya ayam, dengan merek Probio Food. Pikirannya simpel: di Jakarta saja warganya mengonsumsi ratusan ribu ekor ayam per hari, yang kini angkanya menurut Emil melonjak hingga 1,2 juta-1,3 juta ekor per hari.

Untuk produksi, ia bekerja sama dengan Hendi Hermawan, sarjana lulusan IPB yang hingga kini masih menjadi mitranya dalam urusan pembudidayaan ayam. Emil fokus di pemasaran sekaligus sebagai pemegang merek. “Pak Hendi mantan profesional 13 tahun di Charoen Phokpand. Selain itu, ada Pak Rio Kunjung juga, yang dulu turut memiliki saham awal kami,” ujar Emil seraya menyebut pada 2007 Rio melepas sahamnya.

Hendi memproduksi ayam dengan nutrisi probiotik dan menggunakan sistem plasma

dengan para peternak, di antaranya di Parung dan Cimanggu, Bogor. Hendi menjadikan rumahnya di Cimanggu sebagai rumah potong hewan berkapasitas 20-30 ekor ayam per hari dengan standar yang baik. “Organik itu tidak cuma di proses pembudidayaannya,” kata Emil. “Tapi juga pemotongannya harus bebas desinfektan, bebas kaporit, air difilter jernih, plus, kami juga pakai standar halal.”

Urusan produksi beres, Emil lantas bergerilya di pasar Jakarta dengan hanya dibantu dua karyawan. Produknya kala itu dilabeli Probio Chicken, merek yang dipakainya hingga sekarang yang diambil dari potongan kata probiotik. Kebetulan ada temannya yang memiliki akses ke supermarket kelas atas Ranch Market di Pejaten, Pasar Minggu. “Saya pilih Ranch Market karena memang yang mampu membeli dengan harga ini hanya kalangan menengah-atas. Waktu itu, hanya bule yang membeli Probio Chicken,” tuturnya. Kala itu, ia bisa memasok hingga 300-400 ekor ayam negeri per bulan ke Ranch Market. Uji coba ini sukses, akhir 2004 jumlah pasokannya meningkat mencapai 500-600 potong.

Namun, Emil mengaku, kala itu bisnisnya hanya mampu mendekati titik impas saja. “Ini produk masa depan. Tidak dipaksakan,” katanya. Prediksinya tepat. Penjualannya kian berkembang. Penyaluran ke Ranch Market selanjutnya tumbuh ke dua toko. Tahun 2007 jumlah ayam yang disalurkan Emil mencapai 800-1.000 potong per bulan.

Tahun 2007, Emil menuturkan, tren makanan sehat dimulai di Jakarta. Sayur organik mulai banyak bermunculan. Tahun itu juga ada Pameran Slow Food di Karawaci, Tangerang. Slow food merupakan konsep tandingan fast food. Dari pameran itu Emil mengetahui produknya ternyata diminati pula oleh para ibu yang anaknya menyandang autisme. Terbuka lagi satu potensi pemasaran.

Selain itu, sejak 2007 pemasarannya menjangkau sebagian gerai Hero, Carrefour, Sogo dan Hypermart.

Probio Chicken yang kini dijual seharga Rp 45 ribu untuk konsumen akhir dan Rp 33 ribu-34 ribu untuk reseller diakuinya memakan biaya produksi yang besar. “Bahkan, untuk pemotongan pun memakan cost Rp 2.000-3.000. Belum lagi, sistem quality control yang kami terapkan dengan membuang ayam tidak layak menjadikan ongkos produksi kian membengkak,” kata Emil.

Dengan meningkatnya permintaan, jumlah peternak yang menjadi plasma otomatis berbiak. Awalnya hanya dua peternak, pada 2007 menjadi lima peternak, pada 2008 meningkat lagi menjadi 15 peternak, dan kini 60 peternak di Parung, Sukabumi, Cianjur, Bandung dan Lampung.

Tahun 2007, investor baru bermunculan untuk memperkuat permodalan. Yakni, Janny Lim, Lim Tjun Ijoeng, Yuke dan Dadang. Emil pun melepas Probio Chicken dari Essicipta Lestari dan menjualnya ke PT Jesshly Mitra Probiotic Organic Indonesia. “Jesshly itu nama para pendiri. Setelah dipikir, nama perusahaan kepanjangan, diubah tahun 2008 jadi PT Pronic Indonesia, he-he-he,” ungkap Emil yang masih menjadi pemegang saham sekaligus Presiden Direktur PT Pronic Indonesia.

Permasalahan lain muncul seiring dengan membengkaknya produksi. Bahkan, akibat tak layak jual maupun salah penanganan, Emil pernah memakamkan massal 1.000 ekor ayamnya di kantor sebelumnya di Pos Pengumben, Jakarta Barat. “Itu benar-benar masa belajar kami. Dengan biaya belajar yang mahal pula,” ujar Emil di kantor barunya di Kebon Jeruk Baru, Jak-Bar, yang ditempatinya sejak April 2010.

Dengan pembenahan manajemen yang lebih fokus, pembagian kerja yang jelas dan pola pemasaran yang terarah, kini Emil merasa perusahaannya telah berada di jalur yang benar. “Kami set up divisi produksi, distribusi, pemasaran dan corporate secretary. Kami juga terapkan pembagian kerja yang pasti. Ada karyawan khusus gudang, karyawan pemasaran supermarket, pemasaran reseller, finance, dan sebagainya,” ujarnya. Total karyawan Pronic kini sekitar 40 orang.

Untuk mengatasi persoalan produk tak terjual atau tak layak jual utuh, sejak 2009 Pronic mengolahnya menjadi nugget, chicken katsu dan karage. Kini penjualan produk olahan mencapai 200 pak seminggu dengan bobot seperempat kilogram per pak.

Selain itu, Pronic juga bekerja sama dengan perusahaan Green Line Care (GLC). “Mereka membuka jalur pemasaran khusus untuk produk hijau,” ujar Emil.

Bimantoro Abimanyu, Direktur Operasional GLC, memaparkan, perusahaannya mulai memasarkan Probio Chicken pada 2009. Targetnya adalah jaringan GLC di industri hotel, restoran dan kafe (horeka) serta 10 ribu alumni pelatihan kewirausahaan GLC di seantero Nusantara. Hingga kini, sekitar 25% produksi ayam Pronic diserap GLC. “Kami punya captive market industri horeka di Bali yang menyerap sampai 20% produksi Probio Chicken,” ungkap Bimantoro yang juga menjadi reseller pribadi Probio Chicken di perumahannya di Vila Cinere Mas dan mampu menjual 90 ekor ayam per minggu.

Selain lewat GLC, pasar dikembangkan dengan mengusung konsep reseller. Namun, Emil menolak sistem waralaba. “Mahal jadinya, kasihan pembeli franchise,” ujarnya. Dengan konsep reseller, pembeli bisa membeli produk Pronic saja atau sekalian dilengkapi dengan pernak-perniknya seperti banner, brosur, seragam dan freezer.

Nunky Koestoer, salah satu reseller Probio Chicken sejak tiga bulan lalu, mengaku tertarik memasarkan setelah membaca di media massa. Hingga kini, Nunky bisa memasarkan 50 ekor ayam Probio per minggu dari rumahnya di kawasan Bintaro Sektor 3, Jakarta Selatan. “Saya yakin bisa menjual karena benar-benar ayam sehat, tanpa antibiotik, tanpa kolesterol,” ujar pensiunan pegawai pemasaran pakan ternak di PT Charoen Phokpand Indonesia Tbk. itu. Nunky juga konsumen rutin produk Pronic. Dia bersama istri dan keempat anaknya mengonsumsi total dua ekor Probio Chicken setiap hari.

Nunky awalnya kesulitan memasarkan Probio Chicken. Dia memulainya dengan hanya 10 ekor per minggu. Akan tetapi, kegigihan Nunky menelepon kenalan dan teman menghasilkan peningkatan bisnis yang cukup signifikan dalam waktu tiga bulan.

Nunky bukan satu-satunya reseller Probio Chicken. Berkat pelebaran bisnis itu, kini

Pronic sudah memiliki sekitar 30 reseller. Katering pun sudah ada yang menggunakan Probio Chicken, yakni My Meal Catering di Gading Serpong. Ada pula resto yang menggunakannya, yaitu Healthy Choice dan Stevan Shop di Serpong, Tangerang Selatan. Tak ketinggalan, ada sekolah internasional yang menjadi pelanggannya seperti sekolah Prancis Lychee International Francois di Cipete, Jak-Sel.
Kini, total penyaluran ayam Probio mencapai 12 ribu ekor per bulan dan menjangkau wilayah Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar, Lampung dan Balikpapan. Rumah potongnya di Cimanggu pun kini berkapasitas 1.000 potong per hari. Meski demikian, Emil, yang perusahaan arsitekturnya kembali moncer dengan 60 pegawai dan jumlah proyek mencapai 600 buah, hingga kini belum beriklan. Ia lebih banyak bergerak melalui jalur kehumasan dan memasarkan melalui komunitas di Komunitas Organik Indonesia yang terdiri dari 8.000 anggota lepas dan 40 pebisnis.

Andre Vincent Wenas, pengamat dan praktisi bisnis, memaparkan bahwa bisnis Emil berpeluang sangat besar di tengah tumbuhnya kesadaran hidup sehat. Bahkan, Andre mengaku kini keluarganya telah memakai beras merah dan sayur organik. “Orang yang mampu secara ekonomis akan menjadikan hidup sehat sebagai prioritas dan mereka tidak akan berpikir panjang.”

Menurut Andre, pemasaran produk Emil harus disertai chanelling dan penjelasan yang tepat agar terjadi referral. “Dia bisa bekerja sama dengan komunitas yang akan memberikan referral ke lingkungannya. Selain itu, dia bisa membuat komunitas sendiri atau mendompleng komunitas yang sudah ada. Dia juga bisa membangun brand ambassador berpengaruh,” Andre memberi saran.

Emil tak berniat menghentikan langkahnya di kawasan Indonesia saja. “Target kami, 2012 ke Singapura,” ujarnya optimistis.

BOKS

Tonggak Sukses

Christopher Emille Jayanata

  1. Meyakini visinya

  2. Giat mencari lahan bisnis baru kala krisis

  3. Gigih mencari alternatif pemanfaatan produk

  4. Fokus membesarkan merek

  5. Tidak mengincar untung di awal berbisnis

  6. Bersedia merestrukturisasi perusahaan saat kesulitan manajemen

  7. Tak segan berbagi rezeki dengan mencari investor dan reseller untuk mendukung bisnisnya
  8. Terus berekspansi

oleh : Eddy Dwinanto Iskandar

Eddy Dwinanto Iskandar

Riset: Siti Sumariyati

sumber: http://swa.co.id/2011/11/kegigihan-pelopor-bisnis-ayam-organik/