Monthly Archives: November 2011

Mendulang Untung dari Rangkaian Tulang-belulang

KOMPAS.com – Tulang unggas, tulang ikan, hingga tulang sapi yang biasanya jadi sampah ternyata ada gunanya juga. Lihat saja, di tangan Beni Tri Bawono, tulang ternyata bisa dimanfaatkan menjadi sebuah karya seni yang dapat mendatangkan rupiah. Dari tulang itu pula, Beni mampu menciptakan miniatur sepeda, sepeda motor, naga, dan aneka perhiasan.

Kerajinan tulang sapi atau kerbau sudah populer di Bali. Namun, siapa yang mengira tulang belulang ayam atau ikan ternyata juga bisa menjadi karya seni yang menarik dan mampu menyedot rupiah. Tapi, itulah yang dibuktikan oleh Beni Tri Bawono, perajin tulang asal Boyolali, Jawa Tengah.

Di tangan terampil Beni, tulang-belulang yang mestinya tak berguna itu bisa berubah wujud menjadi miniatur becak, miniatur sepeda, miniatur Harley Davidson, hingga miniatur kapal layar dan patung naga sepanjang 1,5 meter dan tinggi 80 cm.

Beni mengungkapkan, awal mula dia bergelut dengan tulang-belulang itu setelah dia kehilangan pekerjaan pada 1998 silam. Nah, agar tak menjadi pengangguran, Beni pun berinisiatif beternak lele.

Namun, inisiatif itu bubar setelah usai menguras kolam lele, Beni malah menemukan tulang-belulang ayam dan unggas bekas pakan lele. Di benak Beni ketika itu, tulang belulang itu bisa dirangkai menjadi aneka miniatur yang menarik. “Sejak itulah pergumulan saya dengan tulang dimulai,” ujar Beni.

Beni mengaku tidak kesulitan mendapatkan tulang untuk bahan baku kerajinannya. Karena di kedai-kedai di sekitar rumahnya limbah tulang ini sangat berlebihan. Apalagi Beni juga menggunakan tulang selain ayam, seperti tulang ikan hingga tulang bebek.

Cara Beni membuat miniatur juga unik. Dia mau tak mengubah bentuk tulang namun dia menyesuaikan bentuk tulang itu dengan miniatur yang ingin dia ciptakan. Misalnya, sadel motor, dia ciptakan dari punggung ayam, ban sepeda dari tulang leher, jeruji dibuat dari patahan tulang sayap, sedangkan kemudi dari tulang bebek.

Proses menggabung-gabungkan aneka tulang itu tentu memakan waktu. Beni mengungkapkan, untuk membuat miniatur sepeda saja, dia setidaknya butuh waktu hingga 15 hari lamanya. Adapun untuk bentuk naga yang lebih rumit, pengerjaan bisa sampai empat bulan lamanya.

Proses pembuatan miniatur itu sendiri diawali dengan membersihkan tulang dari sisa-sisa daging. Untuk menghemat tenaga, hasil berburu tulang pada malam hari di warung-warung makan itu dia lemparkan ke kolam lele di belakang rumahnya.

Setelah tiga hari, tulang itu diangkat dan direndam dalam air berformalin selama sehari semalam. Selanjutnya tulang-tulang dijemur hingga kering dan berwarna putih sambil sesekali disemprot formalin.

Nah, tulang yang sudah benar-benar kering kemudian direkatkan dengan lem sesuai dengan motif tulang. Setelah jadi, sebagai sentuhan akhir, rangkaian itu disemprot dengan cairan pembersih dan disapu dengan pewarna mutiara. Untuk memberi nilai tambah pada produknya, kerajinan itu dimasukkan ke dalam kotak kaca.

”Kotak kaca ini juga kami potong sendiri dan sengaja dibentuk agar bisa dibuka. Ini supaya miniatur mudah dibersihkan dengan menyemprotkan pembersih saja. Asal tidak berada di tempat lembap, kerajinan ini bisa tahan lama,” kata Beni.

Meski terbilang unik, Beni mengaku pemasaran produk miniatur dari tulang ini masih tertatih-tatih. Ia baru bisa berharap dari pameran ke pameran yang biasanya diadakan di Yogyakarta atau di Jakarta. “Biasanya sekali ikut pameran bisa laku hingga 15 unit,” ujar Beni.

Beni sendiri bercita-cita punya galeri untuk karya seninya itu. Tapi sayang, modalnya belum ada. “Untuk membuat karya yang dipamerkan di Jakarta saja, saya sudah habis-habisan. Uang hasil jualan lele nyaris semuanya dipakai untuk modal membuat kerajinan,” keluh Beni.

Beni menjual karya miniatur yang termurah seharga Rp 250.000 hingga Rp 1 juta. Namun, untuk miniatur naga dia membanderol harga mulai Rp 2,5 juta hingga Rp 10 juta, tergantung tingkat kerumitan. Menurut Beni, harga yang sedemikian tinggi itu merupakan penghargaan atas kreativitasnya.

Meski pemasaran secara langsung tertatih-tatih, Beni tak patah arang. Dengan dibantu sepupunya, Beni menawarkan aneka miniatur itu melalui internet. Di dunia maya itu, Beni membuat blog yang berisi foto-foto dan narasi singkat tentang kerajinan tulang produknya dalam http://www.boneart-tlatar.blogspot.com dan http://www.boneart-tlatar.blogspot.com.

”Saya tetap merasa kerajinan ini unik dan bernilai tinggi. Saya berharap setelah pemasarannya bisa lebih luas, saya bisa mengajak orang-orang di kampung untuk ikut membuatnya. Sepanjang ada kreativitas, pasti ada jalan,” tukas Beni penuh semangat.

Lain halnya dengan perajin tulang asal Bali, Ida Bagus Made Astika. Namun perajin ini menggunakan tulang sapi atau kerbau untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan perhiasan. “Dari tulang itu saya bisa menciptakan anting-anting, dan gelang,” ujar Astika.

Astika mengaku, kerajinan tulang buatannya itu banyak diminati konsumen domestik maupun turis mancanegara. “Biasanya dalam sebulan saya mampu menjual anting-anting seharga Rp 300.000 sebanyak 20 pasang,” ucap Astika.

Pasar kerajinan tulang ini paling besar memang datang dari mancanegara. Bahkan, saat sebelum krisis 2008, Astika mampu mengekspor anting-anting tulang hingga Amerika Serikat dan Eropa. Sekali ekspor dia bisa mengirim 8.000 pasang, namun sekarang hanya bisa mengirim 100 sampai 1000 pasang saja. (Bambang Rakhmanto/Kontan)

sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/08/18/14204472/Mendulang.Untung.dari.Rangkaian.Tulang-belulang

Mencicipi Manisnya Laba Donat Madu

KOMPAS.com – Banyak cara yang ditempuh pengusaha kuliner agar masakan mereka cocok dengan lidah konsumen. Salah satunya dengan meracik donat menggunakan madu. Nah, donat madu yang diberi nama Donat Madu Cihanjuang besutan Ridwan dan istrinya itu laris manis. Kini, donat madu racikannya telah berkembang dengan empat gerai terwaralaba dan tiga gerai mitra usaha.

Kue berbentuk bulat dan kadang-kadang dibuat dengan lubang di tengah itu atau dikenal dengan nama donat itu semakin populer di Tanah Air. Jumlah pelaku bisnis donat itu sudah tidak terhitung banyaknya. Mulai dari pedagang kelas kaki lima, kelas gerai, hingga kelas restoran.

Ramainya penjaja donat itu juga menggambarkan ketatnya persaingan di bisnis ini. Namun, bukan berarti tidak ada pemain baru di bisnis ini. Lihat saja yang dilakukan Ridwan Iskandar dengan isterinya Fanina Nisfulaily yang dengan berani ikut nimbrung di bisnis donat.

Namun suami isteri itu menekuni bisnis donat bukan dengan tanpa jurus baru. Pasangan ini punya racikan baru dengan menambahkan madu pada adonan donat. “Butuh satu tahun bagi saya meracik donat dengan campuran madu itu,” klaim Ridwan yang mengaku menggunakan madu asli Sumbawa.

Setelah diuji coba dengan hasil meyakinkan, pasangan ini pun memberanikan diri membuka gerai di Jalan Cihanjuang Nomor 158 A Cimahi, Jawa Barat, Mei 2010 lalu. “Karena itu donat kami berani nama Donat Madu Cihanjuang,” tambah Ridwan.

Walaupun terbilang baru, Donat Madu Cihanjuang ternyata cocok di lidah warga Cimahi. Hingga kini, Ridwan telah memproduksi 27 varian donat, di antaranya rasa almond, durian, pisang, abon, choco crispy, lemon, dan lainnya.

Setahun beroperasi, Ridwan memutuskan untuk mengembangkan usaha dengan cara kerja sama kemitraan. Tiga mitra pertama Donat Madu Cihanjuang mulai beroperasi April lalu, yakni di Depok, Bogor, dan Cinere.

Ridwan menilai, kemitraan perdana ini berjalan sukses. Sebagai bukti, tiga gerai itu semuanya ramai pengunjung.

Nah, dari situlah Ridwan kemudian ingin mengembangkan usaha ini dengan cara waralaba sejak Juli 2011 lalu. Ridwan membuka waralaba hanya dengan investasi sebesar Rp 10 juta. Nilai investasi itu untuk mendapatkan hak atas penggunaan merek Donat Madu Cihanjuang, pelatihan karyawan, serta biaya promosi.

Setelah beroperasi, investor nanti mesti membayar royalty fee 9 persen dari total omzet per bulan. Adapun untuk kebutuhan peralatan kerja, seperti mesin pembuat adonan, interior gerai, etalase donat dan tempat usaha harus disediakan oleh terwaralaba. “Peralatan dan tempat sepenuhnya dari investor,” kata Ridwan.

Untuk bahan baku donat, sepenuhnya disediakan Ridwan atau pemilik waralaba. “Bahan baku dibeli Rp 7,5 juta untuk kebutuhan satu bulan,” tambah Ridwan.

Dengan penawaran itu, saat ini Ridwan sudah mempunyai empat gerai waralaba. Keempat gerai terwaralaba Donat Madu Cihanjuang itu ada di Situ Gintung, Lenteng Agung, Cireundeu, dan Tanjung Barat.

Untuk menjaga kualitas dan cita rasa donat tetap prima, Ridwan mempersiapkan sistem manajemen kontrol untuk seluruh gerai Donat Madu Cihanjuang. “Kami mengontrol mulai dari kebersihan dan juga pelayanan di masing-masing gerai,” kata Ridwan yang merekrut dua karyawan khusus bagian kontrol ini.

Dalam simulasi hitungan balik modal dari Ridwan, gerai waralaba Donat Madu Cihanjuang bisa balik modal dalam waktu lima sampai enam bulan. Agar cepat balik modal, investor setidaknya mesti menjual empat paket adonan atau setara dengan 300 potong donat dengan omzet Rp 900.000 per hari atau setara dengan Rp 27 juta per bulan. Setiap potong donat dijual seharga Rp 3.000 per potong.

Rully Lamryana, pengelola gerai Donat Madu Cihanjuang di Bogor mengaku sudah bisa menjual sebanyak 600 donat dengan omzet Rp 1,8 juta per hari atau Rp 54 juta per bulan. “Sekitar 80 persen pembeli kami sudah menjadi pelanggan tetap,” terang Rully.

Dalam waktu dekat ini akan ada tujuh calon terwaralaba Donat Madu Cihanjuang lagi. Namun, Ridwan mengaku tidak mau gegabah mencari terwaralaba baru. “Kami mesti memastikan lokasi dan tempat usaha mereka dulu,” tegas Ridwan yang baru buka cabang milik sendiri di Tebet, Jakarta Selatan itu. (Dea Chadiza Syafina/Kontan)

sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/08/25/10301922/Mencicipi.Manisnya.Laba.Donat.Madu

Meraup Dolar dari Pengawetan Serangga

Jakarta – Keanekaragaman serangga di Indonesia tercatat salah satu yang terbesar di dunia bersama negara latin Brasil. Kekayaan alam ini bisa dimanfaatkan menjadi bisnis yang menarik dan menjanjikan asalkan dilakukan dengan rambu-rambu hukum.

Muchamad Chatim Magfur rupanya melihat jeli peluang ini. Krisis 1998 lalu justru membuat Chatim terdorong membangun bisnis penangkaran serangga seperti kupu-kupu dan kumbang hidup untuk diekspor ke Jepang, Taiwan dan Korea.

Sejalan berjalannya waktu, akhirnya ia memutar kreasi baru dengan mengembangkan produk pengawetan serangga sebagai produk suvenir. Jenisnya macam-macam, mulai dari gantungan kunci, hiasan hingga bingkai serangga kumbang dan kupu seharga puluhan juta rupiah.

“Awalnya dulu saya hanya main di serangga hidup untuk diekspor ke Jepang, banyak serangga yang mati, akhirnya kita buat untuk suvenir. Saya mulai tahun 1998 untuk serangga hidup, suvenir serangga baru tiga tahun ini,” jelas Chatim kepada detikFinance, Senin (12/7/2011).

Ia menuturkan menjalankan bisnis suvenir pengawetan serangga harus mendapat izin dari Kementerian Kehutanan dibidang konservasi. Maklum saja, sebagian serangga yang diawetkan adalah jenis yang dilindungi yang bernilai tinggi asalkan diperoleh dari proses penangkaran atau bukan dari alam bebas. Pasokan serangga ia peroleh dari penangkaran sendiri hingga penangkaran kupu-kupu di Maros Sulawesi Selatan.

Chatim mengaku kini ia lebih fokus menggarap usaha pengawetan serangga ketimbang mengekspor hidup-hidup. Setidaknya ia sudah membuat 16 item produk yang terdiri dari berbagai jenis serangga seperti kupu-kupu, kumbang tanduk, capung, kelabang, kalajengking dan lain-lain.

Menurutnya dengan diolah menjadi suvenir nilai tambah dari produknya bisa melonjak hingga 5 kali lipat. Meskipun ada serangga tertentu yang justru lebih mahal jika dijual masih hidup.

“Yang menarik dari bisnis ini adalah keunikannya, belum banyak yang bermain, pasarnya masih terbuka, ini pasar yang unik. Memang kalau kita tak ngerti kita tak bisa jualan. Ada unsur keilmuannya juga, misalnya soal spesies serangga banyak orang yang tidak tahu, padahal ini dari seluruh Indonesia,” katanya

Produk yang ia jual mulai dari Rp 10.000 untuk jenis gantungan kunci sampai jenis serangga langka seharga Rp 25-30 juta di pasar. Para pembelinya umumnya adalah kolektor serangga di Negeri Matahari Terbit.

Bahkan untuk jenis serangga kupu-kupu unik dan langka, sampai ada yang dihargai hingga ratusan juta rupiah. Chatim pun mengaku tetap berpegang pada prinsip aturan hukum konservasi, yaitu serangga-serangga itu harus diperoleh dari proses penanggakaran bukan dari alam bebas.

“Para konsumen pun di luar negeri meminta sertifikat terutama dari pembeli Eropa, ini terkait perjaniian internasional soal spesies serangga yang dilindungi,” katanya.

Chatim menuturkan segmen produk suvenir pengawetan serangga ini memang lebih banyak diminati oleh pasar ekspor. Meskipun permintaan pasar dalam negeri cukup tinggi.

“Khusus untuk orang Jepang punya kultur dari dulu kumbang yang menemukan orang Jepang, mereka buat koleksi seperti kupu-kupu, demi kepuasan. Untuk pasar lokal belum optimal,” katanya.

Selama ini, Chatim memproduksi suvenirnya tergantung permintaan pasar. Ia bersama 12 karyawannya kini sedang panen permintaan karena secara musiman pada Mei-Juli terjadi order yang tinggi khususnya dari pasar ekspor.

Misalnya untuk produksi gantungan kunci berhias serangga diproduksi 1000-2000 unit per bulan, ini di luar dari produk lainnya. Ia menghitung omset bisnisnya dari permintaan pasar dalam negeri saja mencapai Rp 20-30 juta per bulan.

“Ini di luar permintaan ekspor. kalau ekspor, jumlahnya tak pasti, sampai ratusan juta sekali ekspor,” katanya.

Dikatakanny,a permintaan produk suvenir pengawetan serangga relatif stabil. Untuk tetap terus tumbuh, ia pun mengembangkan diversifikasi produk seperti suvenir kaos berlukiskan serangga-serangga cantik.

“Sekarang kembang biak serangga dipengaruhi juga iklim global,” ucapnya.

Dahlia Insects Souvenir
Muchamad Chatim Magfur

Galeri

Museum Serangga Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur.
Email: chatim2007@yahoo.co.id

(hen/qom) Suhendra – detikFinance

sumber: http://finance.detik.com/read/2011/07/13/105121/1680229/480/meraup-dolar-dari-pengawetan-serangga

Coklat ‘Monggo’, Rasanya Semanis Untungnya

Jakarta – Mungkin masih banyak yang belum mengenal cokelat bermerk ‘Monggo’. Namun, kiprah merk coklat rumahan ini dalam industri hilir cokelat ini rupanya sudah tidak perlu diragukan.

Awalnya pada tahun 2003, merk dagang ini hanya mengolah sekitar 200 kg biji kakao setengah jadi per bulan untuk dijadikan cokelat khas Monggo yaitu dark chocolate. Namun, pada tahun 2011 ini, industri rumahan ini telah mengolah sekitar 5 ton kakao setengah jadi per bulan.

Edward Riando Picasauw, salah seorang pendiri perusahaan coklat Manggo ini menyatakan adanya kenaikan konsumsi coklat merknya disebabkan adanya pergeseran selera masyarakat yang tadinya menyukai coklat dengan campuran susu, kini mulai tertarik dengan cita rasa cokelat internasional yang merupakan pure butter cacao dengan sensasi rasa pahit.

“Trennya konsumen itu suka cokelat susu, tapi kini mulai mengerti rasa coklat yang sebenarnya. Coklat Monggo ini adaptasi dari cokelat Belgia, lalu disinkkronkan dengan selera Indonesia, seperti Hazelnut diganti dengan kacang mete,” ujar lelaki yang akrab dipanggil Edo ini saat ditemui pada acara Chocolate Party on Sunday di pelataran parkir Gedung Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Minggu (11/12/2011).

Edo tidak sendiri, dia bersama temannya asal Belgia, Thierry Detournay memproduksi cokelat dengan 80 persen karya tangan manusia, hanya 20 persen menggunakan mesin. Sementara bahan bakunya berasal dari Sulawesi yang merupakan pulau penghasil coklat terbesar di Indonesia.

“Mesin ini kita gunakan hanya untuk menghancurkan biji kakao yang keras-keras, selebihnya menggunakan tangan manusia,” ujarnya.

Coklat asal Kotagede ini mulai dipasarkan di seluruh Jawa dan Bali. Tidak heran, omzet perusahaan ini pun tembus USD 1 juta dalam setahun. Tidak mau berhenti di situ, Edo menyampaikan pihaknya berencana untuk Go International. Dengan peluang tersebut, dia mengharapkan produksi dan omzet pun dapat meningkat 2 kali lipat.

“Ya mudah-mudahan bisa 2 kali lipatnya,” ujar Edo segan.

Rencananya, coklat asal kota Gudeg ini akan sambangi negara-negara seperti Amerika Serikat pada tahun 2012 mendatang. Namun, Edo menyatakan rencana tersebut masih menunggu izin ekspor dari Direktorat Jenderal Bea Cukai.

“Sudah banyak permintaan yang menghubungi kami, itu dari Swedia, Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Greendland. Tapi ini aspek legalitasnya baru kami urus, nanti baru setelah di-ACC oleh Bea Cukai, kami akan ekspor,” jelasnya.

Sebagai pengusaha coklat, Edo melihat adanya beberapa kendala selain dalam bidang permodalan untuk mengembangkan usaha ini. Salah satunya adalah ketidakmampuan pemerintah Indonesia dalam menentukan harga cokelat dunia. Padahal posisi Indonesia sebagai negara ketiga terbesar penghasil komoditas kakao tersebut sudah sangat kuat di mata dunia.

Akibatnya, pengusaha coklat dalam negeri masih was-was jika sewaktu-waktu harga bahan baku coklat internasional melonjak tajam. Pasalnya, kebanyakan pengusaha kakao akan mengekspor ke luar negeri karena tergiur harga yang tinggi. Hal ini dapat menganggu produksi coklat dalam negeri jika bahan bakunya menghilang di pasar domestik.

“Indonesia belum bisa memengaruhi harga, ini kan masih tergantung dolar, padahal kita negara ketiga penghasil kakao, Pantai Gading dan Ghana kalau perang bisa tentukan harga, tapi nanti kalau terjadi kenaikan harga bahan baku, hancur kita,” tandasnya.

Bagaimana tertarik?

Hubungi Edo via:

Email: info@chocolatemonggo.com

(nia/dru) Ramdhania El Hida – detikFinance

sumber:

Ikan Asap Citayam Mengepul Hingga Ritel Moderen

Jakarta – Jalan hidup seseorang memang tidak pernah ditebak, misalnya seorang pensiunan pegawai negeri sipil dari Pusdiklat Pertamina kini sukses sebagai pengusaha ikan asap.

Adalah Amril Lubis, seorang pengusaha ikan asap yang saat ini produk dagangannya sudah sangat terkenal di kalangan peritel modern. Padahal produksi ikannya ia olah dari sebuah kampung di kawasan Citayam Bogor, Jawa Barat.

Bayangkan saja, dulunya dia hanya berjualan dari mulut ke mulut atau hanya menjajakan dagangangannya di gerai di pameran-pameran yang diikutinya.

“Kalau dibandingkan dengan pedagangan lain yang ngurus surat ini itu waktu mau masuk, saya dulu didatangi ke rumah,” ujarnya kepada detikFinance pekan lalu.

Lubis menceritakan pengalaman pertamanya mengikuti pameran, ia pada waktu itu mewakili Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2003. Setelah itu, Lubis mulai mengikuti berbagai macam pameran, baik pameran makanan minuman atau pun pameran yang berskala nasional tahunan yang diadakan di Pekan Raya Jakarta, Kemayoran.

Kemudian, setelah mendapatkan sertifikat makanan halal dari MUI, Lubis pun semakin gencar mengikuti pameran-pameran. Pada tahun 2005, ketika ikan asapnya mengikuti pameran di UKM yang diadakan oleh Kementerain Koperasi dan UKM di gedung SMESCO, dirinya diundang untuk mengunjungi salah satu pasar ritel modern yang terkenal, Giant, yang berada tidak jauh dari tempat pameran tersebut.

“Waktu pameran UKM di SMESCO, saya tiba-tiba dapet telepon. katanya diminta untuk datang. Datangnya ke mana saya juga bingung. Ternyata Cuma nyebrang gedung SMESCO itu ketemu Giant, saya disuruh ke sana. Akhirnya ketemu dan ngobrol dengan bosnya,” ujarnya.

Dua tahun kemudian, pada tahun 2007, Lubis melanjutkan bisnisnya, ia didatangi oleh seseorang yang mengaku dari PT Carrefour Indonesia. Ia diajak untuk bergabung dan menjual ikan asapnya di pasar ritel Carrefour. Untuk yang kali ini, Lubis menceritakan, Carrefour mengaku mendapatkan informasi dari Pertamina yang dulu pernah ia bekerja.

“Habis saya ke Kuala Lumpur untuk ikut pameran food and beverages. Saya diutus dulu sama Pertamina. Pas saya pulang, orang dari Carrefour datang ke rumah tuh menawarkan, saya mau nggak jualan di sana,” imbuhnya.

Lubis menambahkan, hal yang sama pun didapatnya ketika ikan asapnya akan masuk ke Hypermart. Dirinya didatangi unutk diajak bekerja sama. “Saya nggak tahu mereka dapet dari mana. Mungkin ada yang ngambil kartu nama atau brosur saat pameran. Saya tiba-tiba ditelpon terus datang ke rumah,” ungkapnya.

lebih lanjut ia menceritakan, untuk menjual di Carrefour, ikan asap buatannya sudah mempunyai kemasan khusus yang berbeda apabila dijual di pasar-pasar ritel lainnya. Namun, dari sisi kualitas yang didapat dari ikan asap yang dijual di manapun sama.

“Kalau mau jual di Carrefour harus pakai kemasan sendiri, pakai kemasan plastik terus divakum. Kalau yang lain masih pakai plastik di dalamnya terus dibungkus kardus,” jelasnya.

Lubis memaparkan, nama yang digunakan untuk berjualan di pasar-pasar ritel modern adalah IACHI ikan asap Citayam. Sampai saat ini, dari hasil jualannya ke pasar ritel omset yang diterimanya per bulan mencapai Rp 40 juta.

Lubis memiliki tempat tersendiri untuk memelihara ikan dan membuatnya menjadi ikan asap di Jalan Akar Wangi Raya Rt 01/01 Kampung Sawah, Desa Raga Raya, Citayam, Bogor.

Berikut ini adalah harga ikan asap yang dijual Lubis di pasar ritel modern. Kemasan plastik vakum 195 gram:

  • Ikan Marlin Rp 16.500
  • Ikan Layaran Rp 15.000
  • Ikan Tuna Rp 14.500
  • Ikan Cakalang Rp 13.500
  • Ikan patin Rp 13.500
  • Ikan lele Rp 13.500
  • Ikan Pati Rp 12,500

Iachi Ikan Asap Citayam

Amril Lubis

Penjualan:

Jl. Wisma Karti (Hankam) No 7 Ragunan Pasar Minggu
Jakarta Selatan 12550

Work Shop:

Jl. Akar Wangi Raya Rt 01/01
Kp. Sawah, Desa Raga jaya Citayam Bogor

Email: ikanasap_petikancitahalus@yahoo.com

(ade/hen) Ade Irawan – detikFinance

sumber: http://finance.detik.com/read/2011/08/04/112544/1696309/480/ikan-asap-citayam-mengepul-hingga-ritel-moderen