Monthly Archives: December 2011

Kerajinan Batok Kelapa, Mengubah Limbah Jadi Rupiah

Jakarta – Limbah tak selamanya hanya menjadi sampah. Dengan sedikit kreatifitas, barang yang tidak bernilai bisa diubah menjadi ‘mesin penghasil uang’. Salah satu contohnya adalah cangkang atau batok kelapa.

Batok kelapa yang tidak bernilai, masih bisa disulap menjadi barang bermanfaat, salah satunya adalah dibakar untuk menjadi arang. Namun ternyata, cangkang kelapa ini masih bisa diubah menjadi barang yang lebih bernilai dari sekedar arang saja.

Adalah Ade Sumarno, seorang pria berumur 27 tahun yang berhasil menyulap batok kelapa inimenjadi berbagai barang unik. Mulai dari barang keperluan sehari-hari hingga hiasan rumah yang memiliki nilai seni.

Ade mulai menggeluti bisnis ini sejak tiga tahun lalu. Awalnya, ia mengubah limbah kelapa tersebut menjadi pernak-pernik untuk ucapan terima kasih di pernikahan. Bentuknya macam-macam, mulai dari sendok, garpu, asbak dan lain-lain.

“Modalnya tidak banyak, hanya perlu batok kelapa, alat potong seperti gergaji, lem dan ampelas saja,” katanya kepada detikFinance ketika ditemui di tempat kerjanya, Bandung, Minggu (6/11/2011).

Ia pun mulai melebarkan usahanya dengan mencoba menggali kreatifitasnya supaya bisa memberi nilai tambah bagi usahanya tersebut. Ade pun mulai mencoba membuat pajangan dan hiasan rumah dari batok kelapa tersebut.

Sudah beberapa pajangan ia hasilkan, berbentuk gajah, kuda bahkan mahluk mitologi yang hanya ada dalam dongeng, yaitu naga. Ia mengaku bisa menerima pesenan untuk hiasan rumah tersebut, tak hanya bentuk yang sudah ada, tapi tergantung keinginan pelanggan.

“Semua model juga bisa tergantung keinginan. Bisa model becak atau motor Harley (Davidson). Binatang lain juga bisa tak hanya kuda atau naga,” katanya.

Untuk waktu pengerjaan, Ade mengatakan, tergantung dari bentuk dan tingkat kerumitan pemesanan. Ia mencontohkan, pengerjaan model naga yang cukup rumit memerlukan waktu sekitar dua minggu, sementara model kuda yang lebih sederhana bisa rampung sekitar empat hari saja.

Harga yang ditawarkan pun beragam, sesuai dengan tingkat kesulitan dan hasil akhirnya. Ia menjual pajangan dan hiasan batok kelapa mulai dari Rp 500 ribu sampai Rp 1,5 juta.

Selama ini, Ade yang belum memiliki toko sendiri, menjajakan barang dagangannya dengan menitip di galeri-galeri seni hingga gerai-gerai di stasiun dan hotel. Namun, ia mengaku pembelian paling sering dilakukan oleh orang asing melalui pemesanan.

“Banyaknya yang beli memang dari luar. Mereka biasanya telepon ingin model seperti apa. Nanti setelah selesai langsung dikirim,” ujarnya.

Selain itu, ia kini sedang mencoba untuk mengkolaborasi buah karyanya itu dengan medium keramik. Salah satunya adalah merangkai batok kelapa yang sudah dipotong di atas papan keramik berukuran 30×30 cm.

Menurutnya, keramik tersebut bisa disusun di tembok sehingga menjadi hiasan dinding yang cukup menawan. Bahkan, ia mengaku pernah menerima pesanan dari salah satu direktur Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk menghias seluruh dinding kamar mandinya dengan ornamen batok kelapa tersebut.

Atas jerih payahnya tersebut, ia bisa meraup omzet sekitar Rp 10-20 juta per bulan. Uang yang cukup besar tersebut awalnya hanya dari modal yang sangat kecil, bahkan tak sampai jutaan rupiah.

“Dari satu karung (batok kelapa) itu tidak sampai Rp 100 ribu. Itu isinya sekitar 10 kg, bisa jadi puluhan bentuk akhirnya,” tambahnya.

Tertarik dengan peluang usaha ini?

Hubungi:
Ade Sumarno
Jalan Terusan Dursasana
Bandung 40173
Email: Ade_magrib@yahoo.co.id
Facebook: Ade_magrib@yahoo.co.id

(ang/qom) Angga Aliya – detikFinance

sumber: http://finance.detik.com/read/2011/11/07/081747/1761521/480/kerajinan-batok-kelapa-mengubah-limbah-jadi-rupiah

Mantan Karyawan BUMN yang Sukses Berbisnis Bunga

TIDAK semua orang berani memutuskan keluar dari pekerjaan yang mapan dan mendapatkan penghasilan tetap. Namun, itulah yang dilakukan Rosita Suwardi Wibawa yang kini terbukti tidak keliru membuat keputusan untuk terjun menjadi wirausahawan.

Meski dianggap kurang populer, Rosita memutuskan berhenti dari pekerjaannya di sebuah perusahaan BUMN yang didambakannya sekian lama. Ibu tiga orang anak ini pun terbilang berani untuk mencoba menjadi florist, mendirikan usaha karangan bunga yang terbilang sudah banyak pemainnya.

Akan tetapi, satu hal yang membuatnya percaya diri adalah sistem yang dipakai dalam menjalankan bisnis bunga. Dia menggunakan konsep business opportunity berupa franchise yang dianggapnya terbilang baru di Indonesia. Selain menjual rangkaian bunga untuk kalangan korporasi ataupun individu, Rosita memperkaya bisnisnya dengan beragam kegiatan formal ataupun nonformal yang tentu saja berkaitan dengan tanaman dan bunga-bungaan.

Dengan ini, jaringan bisnis rangkaian bunga Rosita semakin berkembang. Rosita mulai mendirikan usaha karangan bunga yang dinamakan “Tar A Porter” di daerah Tangerang pada awal 2010 lalu. Setahun kemudian, tepatnya Februari 2011, dia menawarkan kemitraan usaha ini untuk mengembangkan jaringan di seluruh Indonesia.

Pada tahun pertamanya dia sudah memiliki standard operating procedure (SOP) tersendiri berdasarkan pengalaman usaha di bidang penyewaan tanaman hias dan karangan bunga segar di kurun waktu 2003-2005. Di tahun keduanya, perempuan yang juga bergelar magister kenotariatan itu menduplikasikan usaha melalui business opportunity.

Saat ini sudah ada empat mitra cabang yang dibukanya. Di tahun kedua ini pula dia mengembangkan cara pengolahan limbah berdasarkan hasil riset sederhananya. Tujuannya, Tar A Porter harus membuat limbah bunga menjadi bernilai ekonomis seperti potpourri atau bunga kering yang dijadikan bahan aroma terapi. Ketertarikannya terhadap usaha bunga dimulai Rosita 2003 silam.

Saat itu alumnus Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada (UGM) ini merintis usaha sendiri berbendera “Rumah Daun” dengan bisnis utama penyewaan bunga. Bermodalkan Rp250 ribu, dia mendapatkan order pertama dengan menyewakan tanaman hias. Dari sana order bunga hiasnya terus berkembang dan mendapatkan klien perusahaan-perusahaan besar seperti Mitsubishi, Medco Energi, Bank Niaga,Auto Mall, Plaza, hingga pusat perbelanjaan seperti Plasa Semanggi.

Namun, setelah usahanya berjalan selama dua tahun, tiba-tiba kesabarannya teruji. Suaminya, Wibawa Prasetyawan, harus melanjutkan studi ke Inggris. Karena waktu persiapan hanya sedikit dan belum mempersiapkan manajemen untuk meninggalkan usahanya, Rosita merelakan menjual usaha beserta asetnya.“ Rasanya seperti menjual bayi sendiri,” ujarnya.

Rosita dan keluarga hidup di Inggris selama kurang lebih dua tahun.Di Negeri Ratu Elizabeth itu dia bekerja bergantian dengan suaminya karena harus menjaga anak-anak.Di samping bekerja, Rosita beruntung bisa mengambil kursus singkat di salah satu sekolah fashion terbaik di London, yaitu Central Saint Martin College, tempat desainer Alexander Mc Quinn dan Stella Mc Cartney belajar mode.

Hasil studinya di London diakuinya sangat berperan dalam mengenali taste dan kualitas desain dalam setiap rangkaian bunganya. Tak heran jika setiap rangkaian bunganya memiliki gaya dan model menarik konsumen. Sepulangnya dari Inggris, Rosita mendampingi suami keliling tugas di luar Jakarta.

Selama itu pula dia akhirnya merapat kepada teman-temannya yang menjadi pengusaha sekaligus mengambil Magister Kenotariatan di Universitas Airlangga. Barulah setelah suami kembali dinas di Jakarta, dia merintis kembali usaha dengan bendera Tar A Porter. Dua hari setelah membangun Tar A Porter Flower pada akhir Februari 2010, order datang bertubi- tubi dari klien-klien lamanya ketika masih mengelola Rumah Daun.

Berbekal pengalaman sebelumnya, pada tahun pertama Tar A Porter membuat SOP yang mendasari profesionalitas kerja karyawannya. Adapun, sistem business opportunity yang dikembangkannya memungkinkan mitra kerjanya menduplikasikan usaha dengan tujuan menjamin kualitas mutu dan desain produk bunga dari Tar A Porter.

Saat ini Tar A Porter Flower mempunyai empat cabang yakni di Alam Sutera (www.- taraporter.com/alamsutera), BSD (www.taraporter.com/bsd), BSD The Green (www.taraporter.com/bsd-thegreen) dan Jakarta Pusat. Ke depan, impiannya ingin memberikan servis dan kualitas terbaik di bidang bunga dan variannya.

Adapun, pengembangan potpourri diharapkan bisa mengurangi ketergantungan pada produk impor dari Jepang, India, China dan Thailand. “Dengan mengolah potpourri sendiri, Tar A Porter berharap dapat memberikan sumbangsih untuk Indonesia,” tukasnya. (Nanang Wijayanto/Koran SI/nia)
(Koran SI/Koran SI/ade)

sumber: http://economy.okezone.com/read/2011/09/21/455/505497/bisnis-bunga-masih-merekah

Bermodal Rp500 Ribu, Franchise Cemal Cemil Suguhkan “Tempo Doeloe

RINDU akan panganan masa kecil membuat tiga wanita cantik ini mempunyai ide untuk menghadirkan kudapan-kudapan tersebut saat ini.

Disamping itu, keprihatinan mereka terhadap mainan anak-anak saat ini yang kebanyakan terbuat dari plastik, membuat mereka ingin menyuguhkan mainan semasa kecil yang penuh dengan kreativitas dan edukasi yang kebanyakan terbuat dari bambu.

Adalah tiga wanita yakni Eby Kartiati, Yeni, dan Satyo, yang mempunyai ide untuk mewujudkan hal di atas. Ketiga ibu ini mempunyai ide untuk mendirikan sebuah toko yang memfasilitasi kerinduan seseorang dengan masa kecil mereka.

“Awalnya pada 2003 mereka kangen sama makanan-makanan semasa kecil. Seperti cokelat Ayam Jago, permen berbentuk rokok, kudapan mi Anak Mas, hingga permen karet Chiclet. Selain itu mereka juga concern sama mainan anak yang semuanya dari plastik. Makanya diadakan lagi mainan seperti gangsing dan yoyo,” tutur Asisten Pemilik Toko Cemal Cemil, Wili, kepada okezone.

Ketiga ibu ini langsung turun tangan alias hunting bahan baku makanan-makanan dan mainan tersebut ke daerah-daerah. Saat ini bahan baku didatangkan dari suplier di luar kota seperti Yogyakarta, Surabaya, Malang, Semarang, dan Bali, yang semuanya buatan sendiri alias home made.

“Barang-barangnya terbatas dan nyarinya di daerah-daerah. Tapi kalau sekarang tinggal telepon saja, nanti dianterin. Beda sama dulu yang harus terjun langsung,” tukasnya.

Wili mengisahkan, awal mula ketiga ibu-ibu yang bekerja di bidang periklanan tersebut bermodalkan Rp60 juta. Harga tersebut termasuk barang-barang dan properti seperti tokonya. Sementara omzet dari toko yang terletak di Jalan Kemang Selatan I Nomor 20, Jakarta Selatan, ini bisa mencapai Rp20 juta per bulan.

Dikatakannya, untuk kisaran harga di toko ini dimulai dari Rp4.000-Rp125 ribu. Di mana harga termahal itu berupa kaleng yang bahannya dari stainless steel.

“Sementara kendalanya kalau ada orderan partai besar karena pakai tangan, jadi harus pesan jauh-jauh hari. Paling enggak sebulan sebelumnya. Biasanya mereka pesan paket ulang tahun sama perkawinan. Dari awal berdiri sampai sekarang susah cari makanan Anak Mas yang model jaman dulu sama permen Benson,” tuturnya.

{Franchise}

Pihak Cemal Cemil juga mengadakan kerja sama dengan ritel dan individu untuk penjualannya. Saat ini pihaknya baru bekerja sama dengan Restoran Bumbu Desa, dan ke depan akan bekerja sama dengan Giant, Hero, dan Restoran Sambara.

“Kita juga di-franchise-kan, sistem kerja samanya namanya konsinyasi atau consignment. Kita taruh barang-barang di sana, mereka tinggal menyediakan tempat. Kalau individu beli dan datang langsung ke kantor, nanti kita sistemnya bagi hasil. Yang laku dibayarkan, dan yang enggak laku dikembalikan, dengan catatan kondisinya masih bagus,” bebernya.

Cara untuk individu ini, dijelaskannya, sangatlah mudah. Mereka hanya deposit dulu sebesar Rp500 ribu dan bebas memilih dan mengambil besaran barang dagangan sesuai dengan kebutuhannya. Target omzet dari franchise ini pun tidak ada, karena apabila barang yang diambil laku semua, tinggal dibayarkan saja sesuai dengan jumlah barang yang diambil.

“Nanti bagi hasilnya 20 persen. Nanti Kita pinjamkan bakul, tampah, dan taplak. Nanti dalam jangka waktu seminggu sudah ada yang laku dan dia mau apa aja disetorkan ke kita, terus mau stok lagi bisa, ambil dari toko,” pungkasnya. (ade) Ade Hapsari Lestarini – Okezone

sumber: http://economy.okezone.com/read/2011/09/26/455/507075/bermodal-rp500-ribu-franchise-cemal-cemil-suguhkan-tempo-doeloe

Bisnis Ayam Penyet Ini Bisa Raup Rp800 Ribu/Hari

Di mana ada usaha, di situ ada jalan. Beginilah yang dilakukan pria ini. Dirinya yang sudah bosan hanya menjadi karyawan swasta pun lalu memutar otaknya untuk mempunyai sebuah bisnis.

Pintar membaca peluang. Itulah yang dilakukan Fajar Aryanto ketika dirinya ingin membuka bisnis. Kecermatannya mendirikan bisnis berbasis olahan penyet itu berawal ketika tidak ada orang lain yang mengambil bisnis penyet.

Idenya pun lalu disampaikan kepada orangtuanya, yang saat itu langsung disambut baik. Warung Penyet Gandhi, yang diambil dari nama sang ayah, langsung melejit dari mulut ke mulut dalam waktu tiga bulan sejak didirikan.

“Ghandi itu nama ayah saya. Tiga bulan sejak beroperasi lumayan animo masyarakat. Lagipula, belum ada yang mengambil makanan olahan penyet. Kebanyakan kan seperti bakso, pecel ayam,” ungkap pria yang disapa Fajar ini kepada okezone, Kamis (13/10/2011).

Modal awal yang digelontorkan Fajar pun tak terlalu besar. Hanya sekira Rp4 juta-Rp5 juta, dirinya sudah bisa membangun usahanya. Gerobak bekas yang masih bagus pun dibelinya sekira Rp200 ribu untuk permulaan.

“Modalnya sekira Rp4 jutaan, itu sudah termasuk gerobak, meja, kursi, kompor dua buah, bahan baku seperti ayam, iga, bebek, dan lele,” jelas pria kelahiran 16 Januari 1983 itu.

Dengan modal yang tidak terlalu besar, dirinya bisa meraup keuntungan hingga Rp800 ribu per hari dengan omzet nyaris sebanyak dua kali lipat. Harga yang ditawarkan pun tak terlalu mahal, dengan menu andalan ayam, lele, iga, dan bebek penyet, dan soto Bandung, dia mematok harga sekira Rp12 ribu-Rp25 ribu saja.

Bisnisnya yang terletak di Jalan Cakrawala, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur ini, pun rencananya akan berekspansi ke daerah selatan Jakarta. Selama ini, Fajar pun baru mempromosikan usahanya melalui jejaring sosial, seperti melalui media Twitter @PenyetGandhi dan Facebook.

“Intinya, kalau kita mau berusaha, pasti akan ada jalan. Kalau ditunda terus, nanti malah enggak jadi-jadi berbisnisnya,” kelakarnya.
(ade) Ade Hapsari Lestarini – Okezone

sumber: http://economy.okezone.com/read/2011/10/13/455/514908/bisnis-ayam-penyet-bisa-raup-rp800-ribu-hari

Fajar, Pengusaha Tak Bersepatu Kantongi Omzet Ratusan Juta

BABEH, begitu dia dipanggil. Pemuda bernama lengkap Fajar Wisnu Wardhono ini merupakan seorang anak yatim serba bisa asal kota hujan, Bogor. Pemuda yang kini berusia 23 tahun ini memiliki lika-liku masa remaja tak seperti kebanyakan orang lainnya.

Kisahnya dimulai saat dia masih berseragam putih biru. Saat ditinggalkan ayahnya, Babeh bukan berasal dari keluarga mampu. Karenanya, saat temannya sibuk menimba ilmu guna mengejar cita-citanya, Babeh malah berusaha menyambung hidupnya dan ibunya. Dia  rela membanting tulang dengan berdagang majalah dan koran.

Dalam perjalannnya selama SMP, Babeh mengaku tidak mementingkan atribut yang dikenakan, bermodalkan celana saja sudah cukup bagi dia.  “Sepatu saja saya enggak punya waktu SMP, cuma celana sekolah tiga potong,” kata dia kala berbincang dengan okezone belum lama ini. Karenannya, tak heran jika pemuda ini lantas jarang mengikuti kegiatan study tour yang kala itu sering dilakukan.

Namun, Babeh tidak minder dengan keadaanya, justru demi mencari dana tambahan dia malah aktif berorganisasi. Organisasi dilakoninya bukan tanpa maksud, sambil menyelam minum air, begitulah kata pepatah yang di tekuni Babeh. Dalam organisasi tersebut, Babeh mengambil kesempatan sebagai penjual alat-alat graffiti, kaos serta jasa konveksi. Menurut dia, hasil dari jualan tersebut cukup untuk menghidupi dia dan ibunya.

Semakin bertambahnya umur, Babeh makin giat bekerja. Pemuda berbadan kekar ini pun sempat melirik usah mikro untuk bertahan hidup. Kala itu, dia memilih usaha krupuk. Awalnya, di hanya dititipi menjual oleh temannya, sejalan dengan itu, dia mulai meminjam modal untuk untuk berjualan. Namun, dirinya terbentur kendala distribusi kerupuk tersebut. ”Karena engga punya motor waktu dagang krupuk, akhirnya saya minjem motor temen saja,” kenangnya.

Dari usaha-usaha tersebut Babeh mulai mengumpulkan modal. Berbekal tanya-tanya, dia mencoba peruntungannya dengan berternak lele, gurami serta benih ikan. Hasilnya lumayan, kala itu Babeh berhasil menggarap untung lumayan. Dia mampu membeli sebuah sepeda motor dan merenovasi rumah. Saat okezone bertanya suka-duka berternak ikan, dia menuturkan, saat yang paling menyenangkan adalah kala menunggu waktu panen. “Tapi pernah juga sedikit lagi panen, malah kebanjiran,” ujarnya miris.

Cukup mapan dengan berternak lele dan lainya, Babeh yang kala itu telah menapaki bangku kuliah kembali menggembangkan usahanya menjadi supplier ayam dan daging. Saat itu, dia menyalurkan telur dan daging untuk warung nasi padang, restoran dan katering di daerah Bogor. Karena usahanya, Babeh pernah diusir dari kampus. “Waktu itu saya nganterin dagangan sambil bawa bronjongan ke kampus. Saya di usir-usir satpam kampus, gara-gara bawa bronjongan bau ayam,” kata Babeh.

Kerja keras dan kesabarannya memang patut mendapatkan apresiasi. Berkat usaha-usaha yang kini masih berjalan, Babeh sukses meraup untung ratusan juta per bulannya.  “Sekarang omzetnya sampai diangka Rp100 juta-Rp200 juta per bulannya,” ujarnya bangga.

Sukses tak lantas membuatnya lupa diri, Babeh kini bersedia berbagi pengalamannya dengan menjadi pendampingan Usaha Kecil Menengah (UKM), serta mengajar bahasa inggris untuk anak anak tidak mampu. Saat ini, pemuda tersebut mengatakan sedang melirik usaha housekeeping.

Sukses menjadi pengusaha kecil-kecilan, Babeh kini mencoba peruntungannya di bidang entertainment sebagai pemain beatbox atau beatboxer. Sekadar informasi, Beatbox merupakan salah satu bentuk seni yang mengfokuskan diri dalam menghasilkan bunyi-bunyi ritmis dan ketukan drum, instrumen musik, maupun tiruan dari bunyi-bunyian lainnya, khususnya suara turntable melalui alat-alat ucap manusia seperti mulut, lidah, bibir, dan rongga-rongga ucap lainnya.

Babeh, pemuda yang dulu tak mempunyai sepatu kala sekolah, kini telah manggung di beberapa stasiun televisi swasta dan dapat menghidupi keluarganya dengan layak dan berkecukupan. (mrt)
(ade) Idris Rusadi Putra – Okezone

sumber: http://economy.okezone.com/read/2011/10/16/22/515969/fajar-pengusaha-tak-bersepatu-kantongi-omzet-ratusan-juta