Monthly Archives: December 2011

Lengkungan Janur Kuning Jadi Bisnis yang Menjanjikan

ANDA tentu tidak asing mendengar kata janur kuning. Ya Anda biasa melihatnya di acara-acara besar seperti pernikahan, khitanan, dan sebagainya. Janur kuning yang sering Anda lihat di acara-acara tersebut ternyata bisa mendatangkan pundi-pundi rupiah yang cukup menggiurkan.

Adalah Bang Anas, warga Rawa Belong yang memanfaatkan daun kelapa untuk dijadikan janur kuning sebagai mata pencahariannya. Berawal dari sekadar membantu usaha orang lain membuat dekorasi dari janur kuning, akhirnya Bang Anas mencoba untuk memulai usaha janur kuning ini sendiri.

“Awalnya saya cuma bantu-bantu orang membuat dekorasi dari janur kuning. Tapi lama-lama kalau bantu orang terus penghasilan saya tidak cukup, maka dari itu saya coba usaha sendiri untuk buat janur kuning ini, dan hasilnya cukup berkembang,” ungkap pria berkumis tipis ini kepada okezone, belum lama ini.

Bermodal awal sebesar Rp2 juta, Bang Anas bisa meraup rupiah ke koceknya sebesar Rp4 juta-Rp5 juta per minggunya. Pesanan pun membeludak di bulan-bulan baik seperti Bulan Mulud (rabiul awal), dan Bulan Haji.

“Kalau bulan-bulan baik seperti bulan mulud, bulan haji omzet saya bisa naik 100 persen, yaitu per minggunya bisa mencapai Rp4 juta-Rp5 juta per minggunya. Itu sudah bersih masuk ke kantong saya dan sudah dipotong untuk membayar gaji-gaji beberapa pegawai yang membantu saya dan untuk beli-beli peralatan. Tapi kalau lagi bulan standar seperti bulan sekarang per minggu bisa mencapai Rp1 juta-Rp2 juta,” paparnya.

Adapun harga satu set janur kuning dihargai sebesar Rp70 ribu per set. Namun bila acara-acara seperti pernikahan jatuh pada tanggal yang unik seperti tanggal 11 bulan 11 tahun 2011, biasanya Bang Anas mematok harga dua kali lipatnya dengan ukuran janur kuning yang lebih besar.

“Biasanya kita membuat janur kuning sesuai dengan pesanan. Kalau yang ukuran standar kita hargai Rp70 ribu, kalau langganan meminta ukuran yang lebih besar tentu harganya berbeda bisa dua kali lipatnya,” ungkapnya.

Untuk bahan dasar pembuatan janur kuning, yakni daun kelapa, umumnya Bang Anas membelinya dari daerah Serang, Jawa Barat. Bahkan bisa juga mengambil hingga ke daerah sekitaran Jawa.

Bang Anas yang juga berasal dari Serang tersebut mengaku tidak kesulitan untuk mencari daun kelapa, karena sudah ada distributor tetap yang menyuplainya.

Pelanggan yang biasanya memesan janur kuningnya, biasanya berasal dari salon atau perias acara pernikahan, khitanan, dan lain-lain. Tak heran, “daerah jajahannya” pun sudah sampai ke Tanjung Priok, Tangerang, Serang, Karawang, hingga Bogor.

“Selain tukang rias, yang perorangan juga suka ada yang beli janur kuning saya. Tapi kan itu terbatas. Kebanyakan saya terima pesanan dari tukang rias itu tadi,” tegasnya.

Namun dikala pesanan sepi, seperti pada bulan puasa dan bulan Safar, omzet bapak tiga orang puteri ini bisa anjlok hingga 50 persen. Ini karena di bulan-buulan tersebut tidak banyak atau jarang orang-orang menggelar acara-acara resmi.

Di sisi lain, selain digunakan untuk pernikahan, Bang Anas juga membuat janur kuning itu sebagai bahan membungkus ketupat. Dihargai Rp5 ribu per ikatnya yang berisi 10 bungkus ketupat, bungkus ketupat bang Anas tidak hanya laris saat menjelang Hari Raya Idul Fitri saja, di hari-hari biasa pun bungkus ketupatnya laku keras.

“Tidak hanya saat menjelang Lebaran saja, yang jual ketupat sayur juga masih datang ke saya untuk beli,” ungkap Bang Anas.

Dia mengakui bila omzet penjualan bungkus ketupat tidak sebesar pembuatan janur kuning, namun cukup menjanjikan. Dalam satu hari saja, dirinya bisa menjual dua ribu hingga tiga ribu bungkus ketupat. Ini berarti dalam satu hari Bang Anas bisa membawa sekira Rp3 juta per bulannya ke rumah.

Namun, dalam menjual janur kuning ini Bang Anas pun harus memperhitungkan berapa janur kuning yang akan dibuat, karena tidak jarang Bang Anas membuang janur kuning yang tidak laku karena sudah layu.

Sekadar informasi, janur kuning ini hanya bertahan selama lima hari dan itu pun bertahan setelah dimasukkan ke dalam plastik, untuk mencegah agar janur kuning tersebut tidak layu, karena jika lebih dari lima hari, janur kuning tersebut akan layu.

Namun untuk mengantisipasi hal tersebut, Bang Anas sudah membuat perkiraan yakni hanya membuat pesanan dalam jumlah banyak ketika ada yang memesan. Selebihnya, Bang Anas akan membuat lebihnya untuk dijadikan cadangan.

“Biasanya untuk buat janur kuning ini saya sudah ditelepon oleh langganan saya untuk bikin janur kuning. Misalnya sudah ada yang memesan sebanyak 50 pasang tinggal saya bikin cadangan 20 pasang, jadi saya sudah ada target perkiraan,” pungkasnya. (mrt) (rhs) R Ghita Intan Permatasari – Okezone

sumber: http://economy.okezone.com/read/2011/10/20/455/517857/lengkungan-janur-kuning-jadi-bisnis-yang-menjanjikan

Raup Untung Lewat si Mini Beromzet Besar

TIDAK semua hal kecil menghasilkan nilai yang kecil. Coba saja tengok barang tiruan yang diperkecil alias miniatur. Semua hal dalam bentuk miniatur rasanya memang terlihat menarik dan unik. Tilik saja, kereta api dalam bentuk mini, bajaj mini, atau bahkan kendaraan pengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam bentuk mini rasanya akan menarik bagi sebagian orang.

Pemandangan tersebut dapat dilihat kala kita melintas di sekitar Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta . Jika Anda berasal dari arah Pancoran mengarah ke Pasar Minggu, maka di sebelah kiri jalan akan banyak dijumpai barang-barang unik miniature, mulai dari aneka mobil, bajaj, truk, kereta api, yang memang sudah ada sejak 34 tahun silam.

Maklum saja, usaha dari pria bernama Marsa’ad atau lebih dikenal sebagai Umar (70) berlabel “UD Senang Anak” ini sudah ditekuni sejak 1977, setelah dirinya bangkrut dari usaha stempel miliknya. “Awalnya saya usaha pembuatan stempel pada 1972. Namun, karena bangkrut, akhirnya saya mencoba membuat kerajinan. Awalnya coba-coba, mungkin ini yang dimaksud orang-orang, saya bakat,” kenang Umar kala berbincang dengan okezone.

Setelah bangkrut, Umar mengisi waktunya dengan kegiatan iseng seperti membuat kincir angin dengan hiasan berbentuk manusia. Kincir tersebut akan bergoyang saat tertiup angin. Dari situlah usahanya berkembang. Diawali hanya membuat kincir, lambat laun pesanan pun mulai berdatangan. “Dulu modalnya kecil banget hanya Rp800, dan yang saya buat baru kincir angin. Dari modal segitu, Rp200-nya saya belikan triplek bekas, dan dapat satu becak penuh triplek,” katanya seraya tertawa.

Tak hanya kincir angin, pelanggan Umar banyak yang memesan kendaraan berbentuk truk. Umar sendiri optimistis kemampuannya lebih dari cukup untuk memproduksi miniatur tersebut.

Semakin hari, model yang dibuatnya semakin bertambah. Dari hanya membuat bentuk truk pengangkut pasir, saat ini sudah tidak terhitung lagi banyaknya bentuk yang dibuat. Truk, kereta api, bajaj, mobil, transportasi massa Jakarta “Trans Jakarta”, dan becak.

Namun, seiring dilarangnya becak di Jakarta , maka keberadaan miniatur becak ini juga mulai tergerus peminatnya. Akhirnya, Umar memutuskan untuk tidak lagi membuat miniatur becak itu. “Yang paling laku bentuk truk ini. Harganya ada yang sampai Rp100 ribu-an,” jelasnya.

Sejalan dengan bertambahnya miniatur ciptaannya, omzet penjualannya pun turut melambung seiring banyaknya peminat. “Per harinya memang tidak tentu, tapi rata-rata bisa menjual sampai 20 buah. Waktu paling ramai ya Sabtu dan Minggu. Per bulan ya bisa sampai 400-an yang terjual. Tapi beda dengan sekarang, sekarang ini kadang hanya laku lima buah,” tuturnya.

Lelaki asal Serang ini menuturkan, penjualannya saat ini memang tidak selaris sebelum krisis moneter melanda Indonesia 1998 silam. Saat itu, penjualannnya per hari bisa mencapai 40-100 buah per hari.  Tidak heran jika omzetnya waktu itu bisa menembus angka hingga Rp40 juta per bulannya.

Lebih jauh dirinya menjelaskan, saat ini selain pengrajin jumlahnya semakin sedikit, modal untuk membuat miniatur ini juga tidak mudah didapatkan. Beberapa tahun silam, dirinya sempat memperoleh pinjaman dari sebuah mitra binaan sejumlah Rp35 juta untuk modal. “Sekarang memang tidak semudah dulu. Yang penting sekarang bisa buat makan. Tapi yang penting, anak saya kelimanya sudah kuliah semuanya,” imbuhnya.

Untuk memperoleh pinjaman dari bank misalnya, dirinya harus mempunyai agunan yang bisa digunakan sebagai jaminan ke bank yang bersangkutan. “Waktu itu mau meminjam ke BRI, tapi karena saya tidak punya jaminan, tidak bisa. Ya tidak jadi,” kata Umar.

Sehingga, saat ini modalnya diperoleh dari hasil penjualan. Berapa banyak miniatur yang dijual, barulah dirinya membeli bahan baku untuk membuat yang baru. berbeda dengan sebelum krisis moneter, modal melimpah, dirinya juga bisa mempekerjakan orang untuk membuat miniatur, dan ketersediaan barang juga terjamin banyaknya.

Harga yang ditawarkan per buah memang tidak bisa terbilang murah. Semua lantaran miniatur yang dihasilkan benar-benar buatan tangannya. “Kisaran hrganya paling murah Rp40 ribu lalu ada yang sampai Rp300 ribu,” akunya.

Pasar Eropa

Umar menuturkan, kincir angin hasil buatannya tak hanya digemari oleh masyarakat sekitar. Kincir angin tersebut juga diminati oleh negara-negara lain. Dia mengatakan, dahulu tak jarang ada pesanan yang datang dari negara tetangga seperti Australia , bahkan ada yang memesan langsung dari Jerman dan Belanda.

“Yang memesan dari Belanda itu ada. Orang itu minta per bulannya disiapkan 300 buah. Tapi saya tidak bisa menyanggupi. Karena semua dikerjakan sendiri dan hanya dibantu beberapa orang. Jadi, banyaknya 300 itu, kadang baru ada beberapa bulan. Biasanya orang Belanda itu datang langsung untuk mengambil pesanannya,” tutur dia.

Di Belanda, kerajinan buatannya itu kembali dijual dan lumayan diminati. Diceritakannya, jika per buahnya dijual dengan harga Rp75 ribu, namun sesampainya di negara Kincir Angin, harganya bisa melambung beberapa kali lipat menjadi Rp600 ribu hingga Rp700 ribu per buahnya.

Meski begitu, Umar menyesalkan minat para pemuda yang menyepelekan kerajinan miniatur ini. Dia mengungkapkan, pengrajin miniatur sudah semakin sedikit jumlahnya. Bahkan, kelima anaknya pun enggan meneruskan usahanya meskipun menjanjikan. Padahal, bahan baku pembuatan miniatur ini tidak susah didapat. Karena hanya berasal dari kayu, triplek, paku kecil, dan beberapa jenis plastik.

“Bahan baku tidak sulit dicari. Yang sulit itu orang yang membuatnya. Waktu membuat satu miniatur memang tidak tentu. Ada yang sampai satu bulan baru selesai, dan ada yang satu hari bisa dibuat dua jenis miniatur,” jelasnya. (mrt) (rhs) Yuni Astutik – Okezone

sumber: http://economy.okezone.com/read/2011/11/10/455/527479/raup-untung-lewat-si-mini-beromzet-besar

Andalkan Jejaring Sosial, Usaha Makaroni pun Laris Manis

USAHA rumahan sebenarnya dapat diberdayakan menjadi bisnis yang cukup menggiurkan. Bila cerdik, tidak perlu merogoh kocek untuk pemasarannya, cukup maksimalkan ponsel cerdas yang ada. Adalah Devi, seorang mahasiswi salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta yang menjalankan usaha penjualan makaroni dengan mengandalkan teknologi terkini yaitu BlackBerry Messenger (BBM) dan Twitter. Melalui jejaring sosial tersebut, Devi telah berhasil berjualan makaroni.

Devi mengaku, sejak kecil memang sudah menyukai dunia bisnis. Berawal dari ibu yang juga seorang pebisnis makaroni, Devi kecil kala itu sering diajak sang ibu berjualan. Dari sini lah jiwa pebisnis Devi tumbuh sehingga ia mencoba berbisnis yang sama untuk melanjutkan usaha ibunya.

“Dari kecil sudah sering ikutan mama bikin makaroni. Sekarang terpikir untuk menjadikannya sebuah usaha. Selain itu juga karena saya suka bisnis,” ungkap Devi ketika berbincang dengan okezone, di Jakarta, belum lama ini.

Dalam memasarkan makaroni garapannya, Devi menggunakan cara yang efisien. Dia mencari pelanggan hanya mengandalkan BBM yang ternyata terbilang sukses. Sampai saat ini, Devi telah mempunyai sekira 1.600 kontak sebagai pelanggannya. Melalui BBM, pelanggan bisa berkomunikasi langsung dengannya untuk memesan makaroni maupun hanya bertanya seputar makaroni buatannya.

Selain dari BBM, Devi mengaku juga ikut sering ikut bazaar dalam memasarkan makaroni, serta mencari jaringan pelanggan. “Iya jualannya di rumah, pelanggan biasanya pesan melalui BBM dan juga dari satu bazaar ke bazaar lain. Pendekatan jualannya ke mereka yang mau jadi reseller dan menggunakan BBM plus twitter,” jelasnya.

Anak keempat dari lima bersaudara ini mengaku, dari penjualan makaroni ini telah bisa memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Adapun pesanan dari pelanggan dalam sehari bisa mencapai 30-150 cups dengan ukuran sembilan centimeter (cm). Untuk modalnya sendiri pun tidak telalu mahal, berkisar antara Rp100 ribu-Rp500 ribu. “Tergantung pesanan juga, tapi rata-rata segitu,” imbuhnya.

Dari berjualan macaroni ini, Devi mengaku bisa meraup laba dua kali lipat modal pembuatan makaroni. Hanya bermodal BBM dari pelanggan yang memesan makaroninya, dia bisa meraup laba dua kali lipat dari modal awal. Harga makaroni yang dijual juga bermacam-macam, tergantung bentuk dan ukurannya yang berkisar antara Rp10 ribu-Rp160 ribu. “Karena ini baru usaha kecil, aku menghitung labanya per hari. Keuntungannya dua kali modal,” ungkapnya.

Devi yang juga kerja di perusahaan media sebagai account executive ini mengaku sampai sekarang belum kawalahan untuk memenuhi permintaan pelanggan. Menurutnya, semua usaha yang dijalani dengan ketekunan dan perasaan senang tidak akan merasa capek dan kawalahan. “Pasti enjoy saja,” katanya singkat.

Macaroni buatan Devi ini juga bisa dipesan untuk memenuhi kebutuhan ulang tahun, hadiah, atau hanya sekadar camilan dan bahkan juga bisa dipesan untuk bingkisan. “Bentuk dan ukuran juga bisa sesuai permintaan. Untuk memesan makaroni buatan saya bisa melalui kontak BBM dengan no pin 20F04DE6 atau bisa langsung follow Twitter di @macaroni_ku,” tutur Devi. (mrt) (rhs) Idris Rusadi Putra – Okezone

sumber: http://economy.okezone.com/read/2011/11/17/455/530837/andalkan-jejaring-sosial-usaha-makaroni-pun-laris-manis

Belajar 3 Jam, Sekarang Omzetnya Rp10 Juta/Bulan

JAKARTA – Sudah tak bisa dipungkiri lagi, industri kerajinan adalah sebuah usaha yang mempunyai marjin keuntungan yang cukup tinggi, yakni hingga 70 persen.

Lihat saja pengusaha glass painting Dyah Rachmanita, hobi melukisnya bisa berbuah pundi-pundi uang. Padahal, dirinya hanya belajar tiga jam saja untuk bisa melukis di atas gelas.

Kepada okezone, dia menceritakan sejak dulu, dirinya memang sudah hobi melukis. Suatu saat, Mei 2007, dia kedatangan pelukis dari Rumania yang mengajarkannya kerajinan melukis gelas. “Hanya tiga jam saya diajari dan selanjutnya saya kembangkan sendiri,” ujarnya kepada okezone.

Lebih dari empat tahun setelah dia belajar, Dyah kini telah memiliki sebuah showroom untuk memajang kerajinannya di Plaza Araya, Malang. Perempuan yang mengaku sampai saat ini masih mendesain dan mengerjakan hasil akhir karya-karyanya sendiri ini, sudah bisa mempekerjakan lima perajin.

Menariknya, dari usahanya ini, ia dapat memperoleh omzet usaha sekira Rp10 juta sebulan dengan margin keuntungan mencapai 70 persen. “Ya, untungnya sebesar itu karena ini kan barang seni ya. Mereka yang beli menghargai karya kita,” ucapnya.

Meskipun semua bahan baku gelasnya didapatkan dengan mudah di pasaran, tetapi khusus untuk catnya, dia langsung mengimpor dari Italia dan Prancis.

Dalam sehari, dia bisa menggarap berbagai kerajinan dari gelas seperti toples, botol, lampu petromak, dsb. “Lama pengerjaannya tergantung ukuran dan rumitnya desain,” tambahnya.

Meskipun terlihat sangat menarik dan diminati pengunjung, tapi ia mengaku belum memikirkan untuk mengekspor kerajinannya. “Belum lah, kita belum mampu ngekspor, harus skala besar banget dan kita belum sanggup,” lanjutnya lagi.

Ia juga menganggap bahwa acara-acara seperti pameran Inacraft ini sangat baik untuk mendukung usahanya. “Yang sering-sering saja kayak gini,” tutupnya. (ade) Gina Nur Maftuhah – Okezone

sumber: http://economy.okezone.com/read/2011/04/26/22/449972/belajar-3-jam-sekarang-omzetnya-rp10-juta-bulan

Bisnis Olahan Durian Raup Omzet Rp1 Juta/Hari

King Of Fruit atau Durian termasuk salah satu buah yang banyak penggemarnya. Entah itu mulai dari anak-anak maupun orang dewasa. Durian nampaknya tidak hanya dimakan sebagai buah, namun juga nikmat disantap sebagai kudapan lain yang berbeda.

Hal ini menginspirasi Ammy Syamsudin (60 tahun) untuk membuat sesuatu yang berasal dari durian. Berawal dari hanya menjual macam-macam minuman seperti es koktail dan es kelapa, dirinya mencoba membuat sesuatu yang berbeda dari buah durian.

Warung tempatnya berjualan pun terbilang cukup sederhana. Ditandai dengan menumpuknya buah durian di depan pintu masuk. Es durian BBT sendiri sudah melegenda sejak 1970-an.

“BBT diambil dari Baba Tong, nama kakek dari Ibu saya (Ammy Syamsudin). Jadinya disingkat BBT,” ungkap Anak dari pemilik warung, Feri Gunawan saat ditemui okezone di warungnya.

Diceritakannya, dahulu warung yang sudah berdiri sejak 1978 tersebut hanya menjual dua macam minuman. Yaitu es koktail atau es buah dan es kelapa. Namun, ketika disadari banyak buah durian yang tersedia di pasaran, Ibu Ammy mencoba membuat es durian.

“Awalnya memang coba-coba. Kalaupun enggak laku juga enggak masalah. Karena saat itu Ibu saya suka juga makan durian,” kisahnya.

Awal menjual es durian, sehari Ibu Ammy hanya mampu menghabiskan lima buah durian sebagai bahan olahan es durian. Modalnya kala itu masih terbilang kecil yakni sekira Rp200 ribu. “Dulu pertama jual paling laku lima buah durian. tapi sekarang bisa habis sampai 50 buah durian,” paparnya.

Warung yang pada awalnya hanya mampu meraih omzet Rp3 ribu per hari, saat ini sudah semakin berkembang. Ini terbukti dari penghasilan kotor yang saat ini diperoleh bisa menembus angka Rp1 juta per harinya. Atau jika dengan hitungan berapa banyak pengunjung yang datang bisa mencapai 100 pengunjung per harinya.

Sabtu dan Minggu pun menjadi hari yang dikunjungi banyak pembeli. Meskipun banyak menu es durian lain seperti durian kopyor, durian campur, durian nangka maupun durian alpukat, namun rata-rata para pembeli lebih banyak memesan es durian.

“Untuk es durian yang lain itu, pelanggan yang meminta. Mereka yang menelurkan ide, dan menu itu baru setahun terakhir, belum lama,” terangnya.

Es durian yang dijual memang sederhana, daging buah durian dicampur dengan sedikit es serut, kemudian ditambahkan sedikit susu kental manis. Jadilah es durian khas BBT.

Diceritakannya pula, es durian BBT mempunyai ciri khas yang membuatnya berbeda dari es durian yang lain yaitu daging durian yang digunakan asli, tidak ada campuran apapun. Selain es serut yang digunakan sedikit, daging duriannya juga lebih banyak, sehingga tekstur buah durian lebih terasa.

Lelaki kelahiran 25 Desember 1976 ini menjelaskan jika sudah ada beberapa cabang es durian BBT. Di antaranya di Blok M plaza, dan Taman Ubud Lestari Tangerang. Namun menurutnya, kedua cabang tersebut tidak seramai warung yang terletak di jalan Matraman raya persis di samping sekolah Marsudirini.

“Kalau saya lihat, tempat menentukan sekali. Di mal mungkin orang mikirnya sudah biasa es durian. Omzet di mal kecil, paling hanya Rp200 ribu. Orang sepertinya lebih suka makan di pinggir jalan seperti ini,” ungkapnya lagi.

Menurutnya, musim hujan tidak menjadi kendala dalam menjajakan es duriannya tersebut. Karena, menikmati es durian tidak hanya pas saat panas ataupun hujan. Buah durian ternyata mampu juga memberikan efek hangat pada tubuh, sehingga tidak masalah untuk menyantapnya kapan saja.

Namun demikian, bukan berarti dirinya tidak mempunyai kendala dalam berjualan es durian. Kendala yang dialami selama berjualan berasal dari buah durian itu sendiri, yang biasanya berasal dari lokal seperti Sumatera, dan Jawa. Namun jika ternyata stok dalam negeri habis atau kurang bagus, Feri menggunakan buah dari Thailand.

“Kalau lokal enggak ada, biasanya kita ambil dari Thailand. Masalah harga relatif sama. Lagi pula saat ini di supermarket sudah banyak yang jual buah durian, jadi tidak terlalu khawatir akan kehabisan stok durian,” tambahnya.

Harga es yang ditawarkan warung yang buka dari pukul 07.00 WIB hingga 19.00 relatif terjangkau. Dengan hanya bermodal Rp12 ribu kita sudah bisa menikmati legitnya daging durian. Atau jika ingin sesuatu yang berbeda, coba alpukat campur durian yang rasanya tidak kalah segarnya. (ade) Yuni Astutik – Okezone

sumber: http://economy.okezone.com/read/2011/05/01/22/451917/bisnis-olahan-durian-raup-omzet-rp1-juta-hari