Monthly Archives: February 2012

Modal Awal Patungan dengan Teman, Ashari Sukses Kembangkan Beanstocks

Berawal dari kebiasaan hang out bersama teman, Ashari Yusuf berhasil mengembangkan Beanstocks dari Batam sebagai kedai waralaba yang mengadopsi konsep Western coffee shop & Asian coffee shop dengan lebih dari 40 bahan dasar minuman kopi. Ingin Mencapai jantung Kota mede, Milan.

Ngumpul dengan teman atau nongkrong di café sambil minum kopi atau istilah kerennya hang out bagi sebagian orang bisa jadi buang waktu sekaligus buang uang. Tapi, aktivitas seperti ini sudah menjadi gaya hidup perkotaan bagi kalangan muda, sehingga, pelakunya memiliki kepuasan sendiri. Apalagi nongkrong dilakukan bersama “the genk” alias teman-teman akrab. Wow… sudah pasti sangat menyenangkan.

Ashari Yusuf, mungkin bisa disebut salah satu kalangan muda di Batam yang paling suka hang out. Tempat favorit Ashari Yusuf adalah “kedai” kopi di Hotel Nagoya, Batam. Ashari yang saat itu (2002) masih menggeluti bisnis jual beli mobil (show room) dan juga berprofesi sebagai konsultan manajemen di Batam, menjadikan hang out sebagai rutinitasnya bersama kawan-kawannya.

Tapi sayang, pemilik hotel menutup kedai kopi kesayangan itu. Ashari harus mencari tempat baru. Ketika ingin mencari tempat baru itu, Ashari terpikirkan, kenapa tidak membuat tempat hang out sendiri saja. Hasil diskusi dengan temannya itu, ternyata diantara temannya itu ada yang punya mall dan bersedia memberikannya satu space untuk Ashari.

Awalnya sih, Ashari mengaku bingung, mau diapain lokasi itu. Karena secara kebetulan, tempat nongkrongnya sudah berubah, maka diapun kepikiran untuk membuat warung kopi untuk tempat dia nongkrong bersama genk-nya. “Mulanya bingung mau di buat apa lokasi itu, namun beberapa saat kemudian terbersit niat  kenapa tidak buat warung kopi aja. Toh kami sudah kehilangan warung kopi langganan,” katanya.

Maka dari situlah berawal ide kafe kopi ini, lanjut Ashari menjelaskan. “Mulanya hanya sekedar tempat nongkrong buat kalangan sendiri, tidak bermasud untuk dikembangkan jadi mesin duit,” tambahnya.

Dia pun kemudian mendirikan coffee shop Beanstocks. Karena awalnya hanya sebagai tempat singgah bersama-sama temannya, modalnya pun di-support dari teman-teman nongkrongnya. Waktu itu, kata Ashari, terkumpul senilai Rp 150 juta. Setidaknya, kedai ini bisa dinikmati sendiri sebagai tempat nongkrong sendiri. “Kondisinya lumayan enak, karena teman-teman sangat men-support sebagai pembeli setia,” katanya sambil tertawa.

Mungkin kedengarannya tidak terlalu serius, tapi coba lihat bagaimana perjalanan Beanstocks hingga bertahan dan mampu dikembangkan sebagai usaha waralaba. Beanstocks sendiri diambil dari kata yang berarti sari kopi.

2005, Ashari meninggalkan bisnis lamanya. Dia mulai fokus ke Beanstock. “Sejak 2005 tepatnya 5 bulan sebelum saya menikah, saya memutuskan untuk menggeluti 100% usaha ini dan saya meninggalkan usaha saya show room mobil & konsultan manajemen,” katanya.

Ashari kemudian mengembangkan Beanstocks dengan konsep campuran western dan asian. Yaitu western Coffe shop dan asian coffee shop. Tidak hanya sampai disitu, konsep ini kemudian dikembangkan dengan campuran nuansa tempo doloe dan masa kini. Tempo masa kini diwakili dengan western coffe yang menyediakan lebih dari 40 jenis minuman dari bahan kopi. Sedangkan tempo doloe diwakili dengan konsep kedai yang bernuansa oriental. “Sehingga merupakan capuran masa lalu dan masa sekarang,” kata Ashari Yusuf.

Ibaratnya, Ashari sudah nyemplung dan terlanjur basah, dia tidak ingin naik ke daratan hanya mengalami kedinginan. Dari hanya sekedar iseng, ternyata Ashari mulai tertantang. Apalagi, seminggu setelah ia membuka kedai, muncul Starbucks di kotanya itu. Diapun mulai konsentrasi penuh untuk mengembangkan Beanstocks.

Seperti apa perjalanannya? Pahit, kata Ashari mengenang masa awal mengembangkan Beanstock. Ternyata, tempat yang diperoleh dari sang teman itu tidak cocok. Sementara, dia melihat ada semangat dari team-nya untuk mengembangkan kedainya. Lagipula, banyak rekan-rekannya di Batam yang sudah terlanjur mengenalnya sebagai anak muda pengusaha café kopi.

Menyerahkah Ashari? Tidak. Baginya, ini adalah bisnis. Artinya, sebuah usaha sudah pasti mengalami banyak kendala dan kepahitannya.  Dia pun kemudian menanamkan keyakinan pada dirinya bahwa apa yang dilakukan saat itu adalah masa menanam, bukan memanen. Satu-satunya solusi saat itu adalah  bagaimana bisa bertahan dan tidak tutup.

“Saya cuma berprinsip apa dan bagaimanapun keadaannya saya harus tetap berusaha sekuat kemampuan yang saya miliki agar papan tulisan yang bergantung di pintu masuk kafe tertulis “OPEN”. Apapun yang terjadi, tulisan  itu harus tetap saya pertahankan. Karena saya tidak akan pernah meninggalkan usaha saya dalam keadaan mati,” tandasnya.

Ashari mengaku, uang yang sudah dikeluarkan tidak sedikit. Dia sudah menghabiskan dana untuk bisnisnya itu mencapai 1000 dolar Singapura. Dia kemudian mempertebal keyakinannya bahwa semakin pahit perjalanan yang harus dia tempuh dalam membesarkan bisnisnya, maka suatu saat semakin manis kenangannya. Prinsip seperti itulah yang membuatnya bisa terus bertahan.

Dia juga mengaku, dukungan teman-teman yang sudah menjadi pelanggan tetap, team di usahanya, terutama sang istri membuatnya bertahan untuk tetap mengembangkan usaha itu. “Mereka terus support saya baik dalam kondisi susah maupun nyaman,” katanya.

Ashari mengaku, sebelumnya tidak punya pengalaman di bisnis coffee shop. Bisnis inipun di-creat hanya untuk menyalurkan hobi nongkrongnya. Namun, kecintaannya pada suasana hang out mendorongnya terus belajar mengenai bisnis kafe kopi. Baginya, sekalian saja menciptakan tempat nongkrong buat customernya, sekaligus membantu karyawan dan menjadikannya sebagai tempat usaha yang bisa melahirkan profit.

Dari situlah, Ashari kemudian belajar dengan mengikuti berbagai seminar, pameran dan training, baik di dalam maupun di luar negeri. “Sejak  2002 saya terus belajar tentang bisnis kafe kopi dengan mengikuti pameran-pameran, seminar-seminar dan training baik di dalam maupun di luar negeri,” katanya.

Dia pun kemudian bertekad, Beanstock bisa menjadi sebuah merek yang bisa bersaing tidak hanya dengan merek-merek lokal, tetapi juga dengan merek-merek multinasional. Tidak hanya itu, dia juga bertekad, Beanstock tidak hanya unggul di Batam, tetapi bisa mendekati konsumennya di luar Batam.

Bahkan, Ashari punya mimpi yang besar terhadap mereknya ini. Suatu saat, katanya, dia ingin Beanstock bisa ada di jantung kota Milan (Itali). Bagi sebagian orang, mungkin harapan Ashari ini sebagai impian yang terlalu tinggi. Tapi bagi Ashari, impiannya itu sebagai klimaks dari harapannya terhadap Beanstock.

Menurutnya, selama ada usaha dan kesiapan baik moril maupun material, impian itu bisa terwujud. Milan, baginya, merupakan barometer mode dunia dan trend setter coffee shop dunia. “Ini soal waktu saja,” tegasnya.

Namun, sebelum sampai ke sana, Ashari berniat ingin mendirikan Indonesia Coffee Institute dahulu. “Dan saya rasa tidak terlalu sulit, ini hanya soal waktu saja,” tegasnya lagi.

Pria kelahiran Pane, Sumatera Utara, 21 Oktober 1974 ini sebenarnya memiliki beberapa merek coffee shop lain yang didirikan setelah Beanstocks. Dia memiliki tekad kuat terhadap Beanstock.

Meski sempat berdarah-darah dalam mengembangkan Beanstock, nyatanya dia keluar sebagai pebisnis coffee shop yang berhasil dari Batam. Keberhasilan itu tidak lepas dari upayanya yang tidak pernah berhenti berpromosi dan menyediakan produk yang berkualitas. Beanstock, kata Ashari menggunakan bahan baku mulai dari susu, kopi, coklat, syrup yang semuanya import.

Beanstock yang diwaralabakan sejak 2007 lalu, kini sudah memiliki 7 gerai. Omzet masing-masing gerainya berkisar antara Rp 50-160 juta perbulan. Bagi Ashari, perjalanan mengembangkan Beanstock ini bisa digambarkan seperti membaca buku dengan 21 bab. Dia baru mencapai bab kedua. “Bagi saya ini belum sukses. Ibarat membaca sebuah buku yang berisi 21 bab, perjalanan usaha ini baru bab ke-2,  masih banyak bab-bab lain yg berisi madu dan asam,” katanya.

(Zaziri)

sumber: http://www.majalahfranchise.com/?link=franchise_utama&id=62

Modal Awalnya Pinjam Orang Tua, Lewat Deboliva Kini Omzetnya Ratusan Juta/Bulan

Beda, menjadi kata kunci bagi sukses Deboliva yang dikembangkan dari sebuah stand di pusat jajan di Surabaya. Kini menjadi sebuah konsep bisnis ice cream shop yang menawarkan kenyamanan dan keramahan bagi pelanggannya.

Fujasera, salah satu pusat jajan di Surabaya, Jawa Timur telah mehirkan beberapa merek franchise terkemuka. Anda mungkin tahu, Bakso Malang Kota Cak Eko, yang cabangnya sudah tesebar di berbagai daerah termasuk di Jakarta, lahir dari pusat jajanan di Fujasera, Surabaya.

Deboliva, mungkin nama ini tidak setenar Bakso Malang Kota Cak Eko, merek ini pun lahir dari sebuah counter di Pujasera. Dari segi nama, boleh saja tidak setenar merek lain yang lahir di Surabaya, tapi dari sisi konsep, Deboliva merupakan salah satu unit bisnis yang sangat luar biasa.

Dari modal sebesar Rp 30 juta hasil pinjaman orang tua, Andre Soenjoto mencoba membuka usaha baru pada akhir 2000. Usaha yang dipilihnya berasal dari keahlian keluarganya meracik produk ice cream.

Usaha ini memang berasal dari sebuah counter yang relative kecil dengan 4 karyawan yang dibagi untuk dua shift. Omzetnya saat itu berkisar antara Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu per hari.

Perlahan tapi pasti, Andre, sang creator melengkapi bisnisnya dengan konsep yang modern. Jika Anda masuk ke website-nya, http://www.deboliva.com, Anda akan melihat keseriusan Andre menjalankan bisnis ini dengan konsep bisnis yang luar biasa. Maklum saja, Deboliva dikembangkan menjadi bisnis waralaba sejak pertengahan tahun lalu.

Surabaya sebagai tempat kelahiran Deboliva adalah kebetulan. Kebetulan karena Andre berasal dari Surabaya. Lagipula menurutnya, lebih mudah memahami karakter orang Surabaya. Pantas saja, jika bisnis ini bisa berkembang, karena Andre mengerti konsumennya. “Saya asli orang Surabaya, menurut saya lebih mudah untuk memahami karakter orang Surabaya,” kata Andre Soenjoto.

Pada awal berdiri, konsepnya tidak seciamik sekarang. Secara jujur, Andre mengakui perubahan konsep Deboliva terjadi setelah dia melihat coffee shop Starbucks. Dari sana dia kemudian ingin mengembangkannya menjadi ice cream café.

Konsep interior dikembangkan untuk memberikan suasana nyaman. Pelayanan ditingkatkan dengan keramahan. Karena, Andre menginginkan konsumennya di gerainya menjadi tempat khusus makan ice cream yang nyaman bagi para pelanggannya sekaligus tempat nongkrong. “Tempat nongkrong di Surabaya sangat sedikit sekali pada waktu itu,” kata Andre bercerita.

Bagaimana dengan produknya? Produk ice cream dikembangkan dari keahlian orang tua Andre yang biasa membuat ice cream. Meski buatan rumah, produk ice cream De Boliva dibuat khusus. Yaitu ice cream low fat. Produk ini sengaja dibuat untuk memberikan diferensiasi terhadap produk-produk ice cream yang sudah berkembang di Surabaya.

Saat itu, kata Andre, sebagian orang belum terbiasa dengan low fat ice cream karena konsumen sudah terbiasa ditawarkan ice cream yang umumnya sangat creamy dan full of fat.

Untuk sesuatu yang baru seperti biasa tidak mudah diterima. Andre sudah memperkirakan tantangan seperti itu sebelum menjadikannya sebagai keunikan ice cream Deboliva.

Andre juga mengakui, banyak kalangan yang menyarankan agar dia menawarkan ice cream yang umum sudah dikonsumsi konsumen di Surabaya. “Banyak yang memberi masukan bahwa ice cream itu harus seperti ice cream yang ada waktu itu,” kenangnya.

Saran banyak orang ditanggapi dengan empati. Tapi Andre percaya, suatu saat orang akan lebih melirik produknya yang low fat. Saat itu, Andre hanya berpikir, hanya butuh sedikit waktu untuk mengedukasi konsumen agar bisa menerima produknya.

Keyakinan Andre itu didasari bahwa pada dasarnya setiap orang akan memilih produk yang lebih sehat. Lagipula saat itu, konsumen sudah mulai percaya bahwa ice cream bisa membuat gemuk. “Saya berusaha untuk tetap percaya diri bahwa tujuan dari saya membuat Low Fat, untuk kepentingan kesehatan. Bilamana ada orang yang menjaga berat badannya, mereka tidak perlu kuatir dalam mengkonsumsi ice cream Deboliva,” ungkapnya.

Tidak hanya berhenti di situ, Andre optimis, suatu saat diferensiasi Deboliva akan menjadi kekuatan. Apalagi, dia sudah menyiapkan berbagai konsep marketing untuk mengedukasi konsumen terhadap produknya dan merek Deboliva. “Dan saya percaya bahwa konsep pemasaran ice cream yang berbeda ini akan menarik konsumen,” katanya ketika mengenang masa awal perubahan konsep Deboliva.

Boleh jadi Andre optimis usahanya itu bisa berkembang. Setelah tiga bulan pertama diluncurkan, data omset meningkat dari bulan ke bulan. Sehingga, perubahan konsep membuatnya lebih optimis Deboliva bisa berkembang sebagai ice cream shop modern. “Bilamana kita percaya pada produk kita sendiri, kita harus berani memperjuangkan kelebihan produk kita tanpa harus dilebih-lebihkan karena memiliki dasar pemahaman yang kuat,” tegasnya.

Kini, Andre konsentrasi mengembangkan bisnisnya ini secara waralaba sejak pertengahan 2008 lalu. Dari sisi persyaratan bisnis, Deboliva sudah memenuhi kriteria bisnis warlaba karena telah bertahan lebih dari tiga tahun den telah membuktikan diri sebagai bisnis yang memberikan keuntungan.

Memang sih, belum begitu lama bisnis ini dikembangkan dengan konsep waralaba. Konsep waralaba ini dipilih menurut Andre untuk mempercepat penyebaran. Saat ini, Deboliva sudah memiliki tiga gerai. Omzetnya bervariasi antara Rp 50 juta hingga 150 juta per bulan.

Andre sangat teliti dalam mengembangkan Deboliva. Baginya perubahan tidak bisa ditolak selama mendukung perkembangan bisnis. Namun dia mengingatkan, perubahan harus tetap berpijak pada kekuatan fokus pada bisnis dengan konsep dasar sebagai ice cream shop yang menjadi tempat nongkrong para konsumen. “Fokus kepada satu pekerjaan dan ditekuni sampai benar-benar mahir dalam bidangnya, serta tidak mudah menyerah, selalu berinovasi & memperbaiki yang kurang,” katanya.

Deboliva juga, kata Andre dikembangkan dengan sbuah konsitensi pada cita rasa. Menurutnya, konsumen harus merasakan cita rasa yang sama setiap kali menkonsumsi Deboliva. “Konsistensi yang selalu di terapkan dalam produk yang kita jual. Tidak bisa, kalau rasa produk hari ini lebih enak dari yang kemarin. Konsumen sangat peka bila mutu/rasa dari produk kita berbeda,” katanya.

Deboliva awalnya ingin difranchisekan pada 2005, namun baru bisa terpenuhi tahun lalu. Kini, dengan tiga outlet, Deboliva dikembangkan dengan 70 karyawan. Sukses Deboliva sebenarnya berada di sikap Andre yang selalu tenang menghadapi berbagai tantangan. Baginya, berpikir mencari soluasi adalah langkah tepat setiap kali menghadapi kendala. “Kita harus selalu menjadi problem solver. Karena bisnis selalu banyak tantangannya, dimana setiap rintangan harus di cari jalan keluarnya,” katanya.

(Zaziri)

sumber: http://www.majalahfranchise.com/?link=franchise_utama&id=64

Cikal Bakalnya dari Gerobak Keliling, Kini Berkembang Puluhan Gerai

Daerah menyimpan rahasia sukses bagi yang jeli melihat peluang. Ketika orang ramai menyerbu kota, Dobbi memulai dari daerah yang tingkat persaingannya masih rendah. Di Jogja, Irawan membidani Dobbi hingga meluncur ke berbagai daerah.

Semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk hidup lebih baik. Tinggal kita mau menjalani atau tidak, kata Irawan Kusumo Winarto. Kata-kata Irawan itu bukan isapan jempol semata. Wirausahawan muda bisnis franchise Kediri, Jawa Timur, 19 Februari 1976 ini sudah membuktikan melalui perjalanan usaha Dobbi.
Dari kota pelajar, Jogjakarta, Irawan membangun resto Dobbi menjadi sebuah resto cepat saji hingga memiliki 45 gerai yang tersebar di berbgai daerah termasuk Jakarta. Hebatnya, 43 outlet dimiliki oleh franchiseenya. Sebuah prestasi yang luar biasa untuk bisnis yang memulai dari daerah.

Sebelum bergerak di usaha resto cepat saji di bawah bendera PT Dobbi Mulia Sejahtera, Irawan sudah mulai berbisnis rumah pemotongan ayam pada 1998. Kemudian, Irawan mengembangkannya ke chicken processing pada 2002. Bahkan, bisnis Irawan juga tidak hanya bergerak di restoran, tapi juga ke hotel.

Tapi, asal tahu saja, resto cepat saji dengan merek Dobbi tidak dimulai dengan start yang memadai. Artinya, dari sebuah proses panjang dari bawah. Tahun 2000, tutur Irawan, dia melihat banyaknya sisa ayam dari proses pemotongan yang tidak digunakan alias disia-siakan. “Kemudian dari situ ada ide untuk menyajikan menu dari makanan ayam goreng,” katanya menjelaskan.

Bisnis ayam goreng pun dimulai. Irawan tidak melakukannya dengan membuat gerai. Justru konsep dagangnya adalah mendekati konsumen. Yaitu dijual dengan keliling menggunakan gerobak. “Awalnya dijual dengan keliling gerobak, kemudian berkembang menjadi restaurant,” katanya menjelaskan cikal bakal resto cepat saji Dobbi.

Dobbi, bukanlah merek pertama yang digunakan untuk resto cepat saji. Irawan menggunakan merek Samirono Fried Chiken yang diambil dari nama tempat di Jogja. Awalnya menggunakan Merek samirono Fried Chicken (MS Group) Karena lokasinya berdekatan dengan Wilayah Samirono, kemudian berubah menjadi Dobbi Burger dan Fried Chicken dengan slogan Dobel Jempol lezatnya,” tutur Irawan.

Resto dipilih sebagai unit usaha dari sebelumnya dagang keliling menurut Irawan karena ingin memaksimalkan pendapatan usaha sekaligus membuka lapangan kerja. Keunikan dari resto ini adalah citarasa yang khas tanpa menambahkan MSG serta pengolahannya dengan bumbu rempah-rempah pilihan. Usaha resto pertama kali dibuka di Condong Catur Sleman, Yogyakarta, dengan team yang hanya terdiri dari 5 orang saja.

Bagi Irawan, daerah seperti Jogja sebenarnya memiliki potensi yang besar bagi usaha resto ayam goreng. Sebab, dilihat dari usaha ini, sudah banyak yang digeluti masyarakat. Tetapi, mereka tidak melakukannya dengan konsep yang baik. “Kami melihat peluang di daerah lebih terbuka sebab banyak sekali penjual ayam goreng yang ada tapi belum terkonsep, ini membuat kami yakin dengan konsep yang  baik di daerah pasarnya sangat terbuka,” tukasnya.

Kini, usaha resto Dobbi sudah bisa merambah daerah luar Jawa. Merek ini bahkan sudah sampai ke Kalimantan dan Sulawesi. Ke depan, Irawan punya konsentrasi untuk mengembangkannya ke wilayah Sumatera dan Irian Jaya atau Papua.

Seperti usaha pada umumnya, Dobbi tidak besar begitu saja. Kendala yang dihadapi diantaranya, kesulitan standarisasi produk contoh adanya ayam sisa. Setelah produk, kendala lain berada di SDM. Lalu, system dan kinerja yang harus mendukung upaya branding Dobbi.

Kendala itu, bagi Irawan tidak bisa dihindari dan dijadikan sebagai sebuah proses perjalan Dobbi. “Dengan banyak belajar, membaca, mendengar & melakukan kami berusaha mengatasi kendala tersebut. Untuk masalah sisa ayam hal ini membuat timbulnya ide untuk menjadikan ayam goreng menjadi Dobbi Burger & Fried Chicken,” katanya.
Irawan Kusumo Winarto menjadi orang di balik sukses perjalana Dobbi. Dia sangat beruntung, usaha yang dimulai dari bawah ini disokong penuh oleh keluarga. Dia pun berterima kasih kepada dua pendiri lainnya, yaitu Sigit Wahyudi & Rio Prambudi dan back up Team Dobbi awal yang terdiri dari 5 Orang. “mereka ini menjalankan manajemen Dobbi dari awal dengan kejujuran, Berani Mencoba & Bertanggung Jawab,” katanya lagi.

Seperti usaha pada umumnya, kendala luar banyak meyertai perjalanan bisnis ini. Misalnya, isu flu burung sempat juga membuat konsumen menahan diri untuk mengkonsumsi ayam. Namun, kendala ini tidak bersifat abadi.

Namun sesungguhnya, kata Irawan, restoram, seperti apapun kondisinya adalah jenis usaha yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat karena menyediakan kebutuhan pokok. Dengan harga yang terjangkau bagi konsumen dan bahan baku yang berasal dari lokal, Dobbi mampu bersaing dengan merek-merek ternama di Indonesia.

Kini, Dobbi sudah memiliki 43 gerai yang tersebar di berbagai daerah. Irawan sadar, bahwa usaha yang diwaralabakan sejak 2005 ini memiliki ketergantungan pada komitmen investornya (franchisee). Karena itu, sedari awal dia sangat selektif memilih calon franchiseenya. “Kita harus memilih calon pembeli   Franchise secara selektif artinya orang yang akan membeli franchise diharuskan ikut memantau outletnya. Serta yang tidak kalah penting pemilihan daerah-daerah potensial, kalau kita yakin di daerah bisa sukses kenapa harus bertahan di kota besar, yang mana di daerah ceruk pasarnya masih terbuka lebar dimana kompetitor jarang bermain di sini,” ungkapnya.

Dengan cabang yang sudah cukup banyak, Irawan dengan rendah hati menjelaskan bahwa sukses tidak berhenti saat ini. Baginya, Dobbi masih punya peluang untuk sukses lebih jauh. Namun, dia bersyukur, perkembangan Dobbi hingga saat ini masih terus menanjak naik untuk mencapai sukses yang lebih besar.
(Zaziri)

sumber:http://www.majalahfranchise.com/?link=franchise_utama&id=65

Pernah Dicibir Waktu Merintis Usaha, Kini Usahanya Melesat dengan Puluhan Gerai

Gus Minging tahu, seharusnya bisnis jasa terapi kesehatan mulai dari kota, karena pasien terbanyak ada di kota besar. Namun, Solo membuktikan bisnis ini bisa dimulai dari daerah.

Terapi kesehatan yang menggunakan metodologi dari luar negeri umumnya dikembangkan sebagai bisnis di kota besar. Maklum saja, di kota besarlah konsumen terbesarnya berada. Kenapa? Karena kebutuhan terhadap jasa terapi kesehatan, terutama jurus refleksi sangat dibutuhkan oleh konsumen yang menghadapi tingkat kehidupan dan persaingan yang tinggi.

Nakamura The Healing Touch justru memulai dari kota Solo. Gus Minging, sang penggagas jasa terapi kesehatan blak-blakan memberi alasan, modal yang dimilikinya tidak terlalu besar. Karena itulah dia memulainya dari kota kelahirannya, Solo.

Meski begitu, Gus Minging percaya bahwa keterbatasan bukan hambatan untuk mengembangkan bisnis. Selain itu, memulai dari daerah juga bukan sesuatu yang harus ditakutkan. Karena, selama dilakukan dengan konsep yang benar dan tahapan yang baik, bisnis daerah bisa mengepung kota.

Dari keterbatasan itulah, Gus Minging justru memiliki ambisi untuk bisa menaklukkan pasar di kota besar. Bahkan, dari keterbatasan itu dia melihat ada kelebihan yang bisa dimunculkan untuk memperkuat usahanya. Menurutnya, daerah memiliki sumber tenaga kerja dan biaya operasional yang relative lebih murah. Kemudian, tenaga kerja relative lebih mudah dibentuk, karena mereka masih fresh. Tingkat persaingan pun masih rendah dan mudah untuk menjadi yang terbaik di daerah. “Orang bilang, untuk memulai di Solo itu pasti sulit. Saya ingin membuktikannya. Saya percaya, kalo bisnis ini bisa sukses di Solo, pasti akan sukses di tingkat nasional. Itu yang memotivasi saya untuk membuktikannya,” katanya sungguh-sungguh.

Nakamura The Healing Touch bergerak di bidang terapi kesehatan komplementary dengan jurus refleksi, acupressure dan chiropractic ala Jepang. “Pasien diterapi secara manual dengan tangan tanpa alat Bantu yang bertujuan untuk pencegahan, perawatan dan pencegahan penyakit. Tamu dengan kondisi sehatpun akan merasa lebih sehat,” kata Gus Minging menjelaskan metodenya.

Terapi yang dikembangkan Nakamura mengadopsi metodologi dari Jepang. Ilmu ini dipelajari langsung oleh Gus Minging di Jepang dari seorang sensei bernama Miyata. Sedangkan tenaga terapis di Nakamura dididik langsung oleh Gus Minging. Mereka semuanya berlatar belakang fisioterapis. Mereka inilah yang menjadi tim training dan quality control.

Gus Minging mempelajari ilmu ini ketika mendampingi sang istri nelajar di Negara Sakura tersebut. Di Jepang, Gus Minging sempat mengisi waktu dengan bekerja kasar. Saking capeknya, Gus Minging mengalami kecapekan yang luar biasa. Suatu ketika, istrinya mengenalkanya kepada temannya bernama Masumoto, seorang anggota Kagoshima Ki No Kai. Dari teman sang istri ini, Gus Minging belajar terapi penyembuhan diri, dengan melakukan gerakan penyegaran diri.

Ketika ikut berlatih, dia berkenalan dengan Sensei Miyata. Sang Sensei menariknya ke belakang ruang latihan dan menunjukkan kitab rahasianya, Jen Shin Chosei. Gus Minging setuju belajar ilmu yang ditunjukkan sang sensei.

SIngkat cerita, dia sukses mempelajari semua isi buku itu. Sang sensei kemudian memberinya nasehat sebelum pulang ke Indonesia. Sensei memintanya untuk menjadi terapis nomor satu di Indonesia dan mengembangkan ilmu itu untuk membantu banyak orang. “Sebelum pulang Miyata sensei minta saya buat janji seperti seorang samurai bahwa di Indonesia saya harus menjadi terapis no 1 di Indonesia dan mengembangkan ilmu ini demi kebaikan dan kesehatan umat manusia,” kisahnya.

Jangan dulu bayangkan Gus Minging memulai dari sebuah gerai yang bagus. Dia justru memulai dengan pijat keliling. Sambil naik sepeda, Gus Minging menawarkan jasanya door to door. Pekerjaan menjadi tukang pijat keliling itu dilakukan di Jakarta.

Banyak kawan-kawannya yang mencibir Gus Minging. “Lulusan psikologi koq jadi tukang pijit,” begitu antara lain cemoohan rekan-rekannya. Tapi, bagi Gus Minging, kerja pijat keliling hanya sebagai latihan ilmu saja.

Pekerjaan itu kemudian dieruskan di kampung halamannya di Solo. Bekas kamar tidur waktu kecil di rumahnya disulap menjadi ruang praktek. Sambutan customer ternyata cukup meriah. Diapun mulai menurunkan ke 5 murid pertamnya yang seluruhnya berlatar belakang fisioterapis.

Praktis, Gus Minging boleh dibilang memulainya hanya bermodalkan keberanian. Setelah sambutan pasiennya cukup banyak, dia membongkar celengan dan meminjam ruko dari orang tuanya. Tempat di-set untuk ruangan praktek dengan modal hanya Rp 20 juta. Nakamura hanya memulai dengan 5 terapis dan 1 kasir.

Nakamura diambil dari nama dua temannya di Jepang ketika ikut istri studi di sana. Dua nama itu disebut Gus Minging sangat berjasa kepadanya. Nakamura Momoe adalah kakak seperguruannya yang banyak memberinya bimbingan dalam belajar terapi di Jepang. Sedangkan Nakamura Otosan adalah ayah angkatnya semasa dia di Jepang. “Nama Nakamura untuk mengenang jasa mereka dan nama ini mudah diingat untuk orang Indonesia,” katanya.

Gus Minging, ketika memulai usaha itu banyak diragukan oleh lingkungannya. Tidak sedikit yang menyebarkan fitnah bahwa tempat usahanya bakal menjadi tempat mesum. Padahal, terapi yang dia terapkan tidak membuka baju pasien. Seiring berjalan waktu, banyak fasien yang mendapatkan benefit dari terapinya, sehingga masyarakat mulai mempercayai jasa yang ditawarkannya.

Gus Minging kemudian melihat bisnisnya itu sebenarnya bisa berkembang. Dia pun menjalankan bisnis dengan kejujuran dan kepercayaan, bukan atas dasar coba-coba. Dari situlah dia berniat, dari Desa Nakamura ingin merangsek ke kota.

Dia juga percaya, bisnis jasa terapi ini memiliki potensi pasar yang besar. Masyarakat, katanya membutuhkan terapi sentuhan dan manual yang mampu menghilangkan berbagai keluhan mereka. Kelahira Solo, 1973 itu percaya, jika jasa yang diberikannya bisa dipercaya, maka bisa menjadi sumber income baginya. “Saat ini, orang mengalami stress karena tingkat kehidupan yang memaksa mereka. Sehingga mereka butuh tempat untuk “escape” dan me”charge” baterei fisik dan jiwa mereka,” katanya.

Kunci sukses usaha Nakamura yang didirikan pada 2004 itu tidak lepas dari peran media massa setempat. Wartawan diberikan pengalaman terapi dan juga menjadi berita bagi mereka. Sehingga, masyarakat ikut mengenal terapi Nakamura.

2006, Nakamura difranchisekan. Ada pengalaman unik dengan usaha ini di franchiseenya. Suatu saat, tutur Gus Minging, dia mendapatkan franchisee. Tetapi, setelah tiga hari operasi, seluruh karyawannya tidak mau lagi bekerja pada sang franchisee. Dia sempat terganggu hingga tiga bulan dengan pengalaman itu, karena sang franchisee menggugatnya. Usut punya usut, ternyata figure sang franchisee menyeramkan. Dari pengalaman itu, Gus Minging mulai selektif memilih franchisee.

Kini Nakamura memiliki 21 gerai, 9 milik franchisee. Masing-masing outlet memiliki omzet rata-rata 30-65 juta per bulan.

(Zaziri)

sumber: http://www.majalahfranchise.com/?link=franchise_utama&id=68

Raul Hadin: Keyakinan Modal Awalnya Membangun British Five

Ada orang mengatakan jangan pernah melewatkan kesempatan. Tapi dimata founder franchise pendidikan bahasa inggris British Five Raul Haidin, hal itu tidak sepenuhnya benar. Tidak sedikit mereka yang mengambil kesempatan juga mengalami kegagalan. “Karena tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa pengalaman,” kata Raul menjelaskan alasannya. Untuk itu, Raul memilih bekerja dulu guna menambah pengalamannya sebelum terjun berwirausaha.

Keinginan memiliki lembaga pendidikan sendiri telah ada dalam diri Raul sejak kuliah. Demi mewujudkan mimpinya, ia bekerja di berbagai lembaga pendidikan, khususnya bahasa inggris. Ketika dibangku kuliah pun, Raul mereguk pengalaman bekerja di beberapa perusahaan. “Prinsip saya, mumpung masih muda harus kerja keras,” ujar kelahiran Denpasar, 3 Maret 1979 ini.

Dimata Raul, untuk sukses menjadi pengusaha diperlukan dua hal, bekerja ekstra keras dan pintar. Dapat bekerja dengan pintar merupakan hasil dari kemampuan dan pengalaman menekuni bidang bisnis yang digeluti. Sedangkan keras, berarti mampu menghadapi hambatan yang muncul. “Jangan sampai kegagalan membuat loyo. Harus tetap semangat dan konsisten,” tegas peraih MBA dari Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Indonesia (STIMI) ini.

Raul membangun British Five pada 2003 setelah terjadi konflik ditempatnya terakhir bekerja. Kala itu, dia sudah malas melamar bekerja di tempat lain dan akhirnya memutuskan membangun usaha sendiri. Seperti umumnya pengusaha yang merintis bisnisnya, diawal Raul juga merasakan berat. “Apa yang sudah direncanakan seringkali berbeda 180o dengan yang terjadi di lapangan,” ungkapnya. Tapi Raul tetap percaya dengan kemampuan yang dimilikinya.

“Kita harus yakin pada kemampuan diri sendiri,” ujar Raul. Hal itu berguna untuk mengantisipasi kemerosotan spirit pada saat gagal, terutama menyikapi masukan negatif dari orang lain.

(MIF-Ade Ahyad)

sumber: http://www.majalahfranchise.com/?link=franchise_tokoh&id=364