Monthly Archives: February 2012

Philip Soeharto: Pernah Jadi Sales door to door, Kini Punya Restoran

Dalam menjalani kehidupan, banyak hal yang terjadi. Dari mulai mimpi yang mejadi kenyataan sampai kejadian yang tidak sesuai dengan harapan kita sebelumnya. Reaksinya pun berbeda-beda untuk setiap individu, intinya adalah bagaimana kita bisa menyikapinya dengan terus mengevaluasi entah itu sesuai dengan harapan ataupun sebaliknya.
Hal itu pulalah yang menjadi filosofi hidup seorang Philip Wong S Soeharto, owner Chicken in Red. Jalannya mendirikan sebuah bisnis tidaklah mudah, mulai dari menjadi salles alat-alat memasak dengan cara door to door sampai menjadi pemilik dari beberapa unit bisnis yang kini mulai ia rasakan hasilnya. Lalu apa kunci rahasia kesuksesannya? “Intinya, dalam menjalani apapun kita harus berserah diri kepada yang memberikan kita hidup, tapi harus diingat, berserah bukan berarti harus menyerah, tapi dengan terus berusaha,” ungkapnya berapi-api.
Pria berkacamata ini telah membuktikan ucapannya, meski awalnya ia harus berdarah-darah dalam berusaha mengejar kesuksesan tapi kini ia bisa menikmati jerih payahnya itu. Buat ayah dari dua orang putera ini kehidupan ini seperti air yang mengalir, cukup jalani saja semuanya namun jangan sampai terbawa arus.
kini kelahiran Banyuwangi 06 Desember ini tercatat telah memiliki beberapa unit bisnis restoran yang dikelolanya sendiri. Philip pun punya keahlian lain selain ahli dibidang kuliner yakni desainer. Semua bisnis yang dimiliki konsepnya didesain oleh dia sendiri dari mulai nilai estetika outlet sampai dengan seragam para pegawainya. “Selalu belajar hal yang baru, itu merupakan keuntungan yang bisa kita andalkan nanti,” pungkasnya.
(MIF-Syaiful Anwar)

sumber: http://www.majalahfranchise.com/?link=franchise_tokoh&id=365

Paksi Dewandaru: Menjadi Wirausaha Terinspirasi dari Tukang Bakso

Ada dua hal yang membuat Paksi Dewandaru, pemilik Monsterjelly, Jejamur resto, D’mushroom, PLEKERS (pentol colek enak rasanya), Terang bulan Manchester dan Bebek Ngimul ini terjun sebagai pengusaha. Pertama adalah karena fakta banyaknya pengangguran di Indonesia yang membuatnya berpikir jika menjadi seorang entrepreneur maka bisa memfasilitasi para pengangguran di Indonesia.

Alasan kedua yang sangat sederhana, yaitu dari tukang bakso yang biasa berjualan di kampusnya ITS Surabaya. Saat itu pria kelahiran Pamekasan 25 tahun silam ini menyaksikan sendiri bagaimana si tukang bakso tersebut hanya dengan satu gerobak saudah mampu menghidupi keluarganya. Dari situ kemudian Paksi berangan-angan seandainya ia memiliki 10 gerai bakso, penghasilannya akan sama, atau bahkan lebih banyak daripada teman-temannya yang bekerja menjadi engineer di perusahaan multinasional.

Tak heran, ketika benar-benar telah menjadi wirausaha, Paksi sangat serius dalam mengembangkan bisnisnya. Tidak tanggung-tanggung, untuk menambah pengetahuan serta kemampuan manajemennya, saat ini Paksi tengah menyelesaikan kuliahnya di Jonkoping Intenasional Business School Swedia. ”Saya kuliah sembari mengurusi bisnis saya di kampung,’ ujar suami Diana Rahmawati ini.

Paksi yang mengaku sempat merasa kesulitan ketika pertama kali mengawali semua semua bisnisnya itu meyakini bahwa suatu saat akan menggapai mimpi-mimpinya. Kuncinya menikmati semua proses yang dilalui. ”Dan saya menikmati setiap proses yang saya lalui untuk mencapainya,” kata Paksi lagi.

Ada beberapa trik yang kerap dilakukan ayah satu orang anak ini ketika sedang menghadapi masalah dalam bisnisnya. Pertama, dia bersikap tenang dan mencoba untuk menganalisa permasalahan. ”Bagi saya sulit untuk mengatasi masalah kita panik apalagi stress,’ tuturnya. Kemudian memilah-milah masalah menjadi kecil. Menurutnya, dengan memisahkan masalah menjadi bagian yang lebih kecil, maka permasalahan menjadi lebih mudah dipecahkan. Dan yang terakhir adalah baru mengambil keputusan dan solusi terbaik dari semua kemungkinan yang ada.

Dengan berpedoman pada tiga trik tersebut, Paksi mampu mengawal bisnisnya maju dan sukses hingga ia bisa membiayai kuliah masternya di MM UGM Yogyakarta dan berangkat untuk belajar di Jonkoping International Bussines Scholl Swedia bersama istri dan anaknya. (Fahmi&Rahmat HM)

sumber: http://www.majalahfranchise.com/?link=franchise_tokoh&id=370

Rakhma Sinseria: Dari Gerobak Pinggir Jalan, Kini Menjadi Coffe Shop dengan Puluhan Outlet

Sejak berdirinya pada tahun 2006, Odi Anindito berhasil menjadikan Coffee Toffe miliknya terus berkembang pesat. Semua itu tak lepas dari peran sang istri Rakhma Sinseria. Sebesar apakah perannya dalam membesarkan Coffee Toffee bersama sang suami?

Ungkapan klise, dibalik suksesnya lelaki selalu ada peran wanita hebat di sampingnya, sepertinya memang banyak terbukti. Odi Anindito founder dan owner Coffee Toffee adalah salah satu contoh nyata dari ungkapan itu. Perjuangannya dalam membesarkan Coffee Toffee tak lepas dari sosok Rakhma Sinseria, istri tercintanya.

Coffee Toffee memulai kegiatan bisnisnya pada tahun 2006. Usaha ini adalah menjual minuman berbahan dasar kopi, coklat, dan teh. Odi menjelaskan, dengan biji kopi kualitas terbaik di kelasnya, biji kopi yang digunakan oleh Coffee Toffee adalah campuran antara biji kopi Java-Mocha dan Toraja Kalosi yang sudah terkenal akan kekuatan rasa dan aromanya, Coffee Toffee memberikan sebuah cara baru untuk menikmati secangkir kopi favorit Anda.

Setelah mengalami berbagai kondisi pasang surut, Coffee Toffee yang mengawali bisnisnya dengan menggunakan booth/gerobak di tepi jalan kini telah merubah bentuk menjadi coffee shop. Sebuah tempat dimana orang dapat dengan tenang menghabiskan waktu bersama teman, keluarga atau kolega dengan ditemani secangkir kopi pilihan.

Kini Coffee Toffee telah memiliki 70 outlet, 65 milik mitra dan 5 milik sendiri yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dengan dua kantor cabang di Surabaya dan Jakarta, Odi menargetkan akan menambah 60 outlet baru ke depannya. Dalam membesarkan Coffee Toffee, Odi tidak hanya sendiri. Bersama sang istri, Rakhma Sinseria, berdua mereka bahu membahu mengembangkan bisnis ini sehingga menjadi salah satu pemain yang diperhitungkan di kancah dunia bisnis Indonesia.

Sama seperti suaminya, ide awal Rakhma Sinseria, tertarik untuk mengembangkan Coffee Toffee adalah karena hobinya yang suka menikmati kopi. Sejak kuliah Ria, panggilan akrabnya, sudah menyukai minuman kopi walaupun hanya dari kopi sachet yang diseduh air panas. Kemudian pada saat bekerja, ia semakin menyukai kopi, dari yang tadinya kopi sachet, meningkat menjadi kopi murni. Ia  suka membeli minuman kopi di mall, karena menurutnya  memang enak dan bikin ketagihan.

”Cuman sayangnya, saya merasa harganya mahal sekali, jadi saya tidak sering-sering nongkrong di coffee shop mall. Suatu hari terlintas di kepala saya, kayaknya enak ya kalau bisa punya kayak gini,” tutur Ria.

Sejak saat itulah Ria dan pacar (yang sekarang menjadi suami) sepakat memulai usaha dengan mencoba-coba resep minuman kopi hingga akhirnya mendirikan Coffee Toffee. Selain itu, setelah mengetahui bahwa Indonesia merupakan negara penghasil kopi terbesar no.4 di dunia, Ria, bersama suami akhirnya sepakat untuk serius menggarap peluang bisnis ini. Dan hasilnya, Coffee Toffee tercatat sebagai pioneer dalam bisnis Take Away Coffee asli Indonesia.

Wanita cantik kelahiran Malang ini mengakui kalau aktifitasnya dengan turut andil dalam bisnis bersama suami sama sekali tidak mengganggu waktunya. Justru dengan membantu suami dalam mengembangkan Coffee Toffee membuat dirinya merasa semakin dekat dengan keluarga.

“Selama berbisnis, saya merasakan banyak sukanya daripada dukanya. Toh, kalau ada duka saya yakin bisa menghalaunya. Hikmah terbesar sejak saya memulai usaha sendiri adalah bisa lebih dekat dan membagi waktu dengan keluarga,” kata Ria

Untuk memperluas jaringan, Ria aktif mengikuti berbagai komunitas bisnis. Menurutnya mengikuti komunitas yang punya ketertarikan sama, yaitu bisnis, merupakan hal yang sangat penting. Ria sangat yakin dengan punya banyak teman akan lebih baik daripada hanya punya sedikit teman. Dengan mengikuti komunitas kita akan bertemu dengan banyak teman baru yang punya minat sama di bidang bisnis sehingga bisa saling sahre dan menjalin networking. Beberapa komunitas bisnis yang kini diikutinya adalah Women Entrepreneur Club, Tangan Di Atas, dan Wanita Wirausaha.

Terjunnya, Ria ke dunia wirausaha memang tidak main-main. Ia selalu optimal dan serius namun tetap enjoy menjalani usahanya. Keseriusannya dalam menggeluti bisnis bersama sang suami terbukti dengan berbagai prestasi yang ia dapatkan. Beberapa prestasi yang pernah ia raih seperti Pemenang 1 Wanita Wirausaha Femina-BNI tahun 2010, The Best in Business Concept Indonesia Franchise Start Up Award tahun 2010 versi majalah Info Franchise, Nominee Indonesia Franchise Start Up Award tahun 2009 versi majalah Info Franchise, dan lain-lain.

Ria punya harapan yang sangat besar untuk terus mengembangkan Coffee Toffee bersama suaminya. Wanita lulusan Universitas Brawijaya Malang ini telah merangcang sejumlah rencana dan target ke depan guna mencapai impian menjadi pemain kuat di tingkat nasional. Dan melihat besarnya peluang yang ada di depan mata, maka bukan tidak mungkin menjadi pemain di pasar regional dan global juga bisa tercapai. Didukung oleh kerjasama tim, konsep yang kuat dan kemampuan mengelola bisnis yang mumpuni bersama suaminya, membuat impian Ria akan segera menjadi kenyataan.

Rahmat HM
Coffee Toffee Indonesia
Jl. Dharmahusada 181 Surabaya
Telp : 031 592 9500 / Fax : 031 594 1921
Email : riacoffeetoffee@gmail.com
Website : http://www.coffeetoffee.co.id

sumber: http://www.majalahfranchise.com/?link=franchise_tokoh&id=379

Citra Hafiz: Dari Dawet Cah Mbanjar Hasilkan Omzet Ratusan Juta/Bulan

Berwirausaha ternyata menjadi pilihan hidup yang tepat untuk Citra Hafiz. Beralih profesi dari seorang penyiar, Ia kini sukses membangun Es Dawet Cah Mbanjar dengan omzet ratusan juta tiap bulan.

Awalnya banyak orang yang meremehkan usaha yang dijalani Citra Hafiz. Pandangan mereka yang masih konvensional waktu itu menganggap sepele kalau usahanya ini tidak akan berhasil. Bahkan pada saat Es Dawet Cah Mbanjar yang dijalani Citra mengalami kesulitan modal untuk mengembangkan sayap, tak ada satupun familinya yang mau membantu. Berkali-kali pengajuan hutang kepada orang tua, saudara, dan teman-temannya ditolak.

Saat itu, Citra dan suami hanya memiliki sebuah mobil pick Up yang juga masih dalam proses angsuran. “Untuk memperoleh tambahan modal, saya dan suami terpaksa menjaminkan mobil itu,” kenang Citra

Dan siapa sangka Es Dawet Cah Mbanjar yang dibangun Citra bersama suaminya Hafiz Khairul Rijal kini bisa berkembang sangat besar. Omzetnya mencapai ratusan juta tiap bulan. Jumlah gerainya (mitra) sampai saat ini berjumlah 275 outlet yang tersebar di Medan, Sumatera Utara, Banda Aceh, Nias, Jakarta, Surabaya, Palembang, Padang, Palu dan Makassar. Penjualannya tidak hanya tersebar di Indonesia, bahkan merambah hingga ke pasar di Singapura. Dalam waktu dekat, Citra akan berangkat ke Thailand untuk mempromosikan Es Dawet Cah Mbanjar. Padahal sebelumnya mereka seperti penjual es dawet lainnya, keliling pakai gerobak.

Citra kini bisa tersenyum lebar dengan kesuksesan yang diraihnya dari bisnis es dawet. Usahanya yang tekun dan gigih bersama suaminya tidak sia-sia. Meski sempat susah dan jatuh bangun, sukses pelan-pelan mereka raih. Di tahun 2008 mereka memenangkan juara pertama Wirausaha Muda Mandiri tingkat Sumatera Utara dan menjadi Finalis di Jakarta. Tak hanya itu, Citra dan suaminya juga meraih juara satu Bank Sumut Award 2008 untuk kategori UKM. Citra juga pernah mendapat undangan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura. Di Negeri Singa Putih itu pula ia diberikan kesempatan untuk mengisi acara Asia Pasific Food Festival..

Dari penyiar jadi tukang es dawet

Citra Hafiz, mengawali karirnya sebagai penyiar radio Most FM dan TVRI Medan. Hari-harinya dihabiskan untuk cuap-cuap dan kadang jadi MC dalam acara-acara tertentu. Citra mengaku begitu mencintai dunianya ini. Ketika menikah dengan suaminya, Hafiz Khairul Rijal pada tahun 2007, Citra mulai membuka usaha Djawara Fizta Group. Sayangnya sang suami keberatan jika Citra harus membagi konsentrasi antara menyiar atau berbisnis. Prinsipnya jelas, tak ada hasil maksimal jika bekerja di dua bidang. Harus memilih dan konsentrasi, itulah falsafah yang diberikan sang suami tercinta.

“Karena hidup adalah sebuah pilihan, akhirnya saya rela meninggalkan dunia siaran dan jurnalis demi berwiraswasta. Sejak saat itu saya dan suami konsentrasi membesarkan usaha Es Dawet Cah Mbanjar dan Bakso Mas Karyo,” ungkap Citra mengenang masa lalunya.

Citra mengatakan kalau dirinya tertarik mengembangkan bisnis es dawet ini karena senang minum jenis minuman yang sama tapi beda nama di Medan. Penjual minuman yang menggunakan gerobak ini banyak dijumpai di pinggir-pinggir jalan kota Medan. Kadang di emperan toko, tidak sedikit juga di bawah pohon rindang dan di persimpangan jalan. Sambil minum, Citra suka bertanya- tanya kepada penjual untuk mengorek informasi seputar minuman tersebut.
Sayangnya para penjual itu masih memakai sistem tradisional dan tenaga kerja langsung dari Jawa Tengah. Oleh karena itu Citra menemukan ide untuk membuat es dawet lebih tersistem dengan menggunakan sistem kemitraan. Setelah mendapatkan resep dari bos utama penjual minuman es itu, Citra dan suaminya mulai meracik es dawet khas mereka.
Kini Citra sudah bisa menikmati asyiknya berkecimpung di dunia usaha. “Di sini aku bisa bebas mengatur semuanya baik soal waktu maupun finansial,” katanya. Untuk merawat kedua buah hatinya Citra tidak perlu menyewa baby sitter. Waktunya sangat tak terbatas untuk tetap bersama keluarga dan anak-anaknya.Ke depan Citra sangat berharap bisa menciptakan World Class Company dari Es Dawet Cah Mbanjar yang dibangunnya.

(Rahmat HM)

sumber: http://www.majalahfranchise.com/?link=franchise_tokoh&id=380

Mahasiswa Ini Sukses Berbisnis Kuliner Aqiqah Beromset Ratusan Juta

Jakarta – Untuk menjadi pengusaha sukses di bidang kuliner ternyata tidak harus bisa atau jago masak. Contohnya yang dialami oleh Andi Nata yang merupakan Mahasiswa Universitas Indonesia (UI), berhasil mengembangkan bisnis masakan aqiqah.

Aqiqah merupakan menyembelih kambing pada hari ketujuh kelahiran seseorang anak sebagai tanda syukur bagi kaum muslim.

Andi Nata yang mengambil Jurusan Teknik Mesin, seperti tidak cocok dengan bisnis yang ia tekuni. Bisnis Aqiqah yang ia kembangkan menyediakan masakan yang identik dengan sate dan gulai kambing.

“Jujur, saya tidak bisa masak, apalagi mengolah masakan sate atau gulai kambing. Tapi hasil masakan saya sudah masuk ke Hotel Four Seasons dan tiga hotel bintang empat lainnya di Jakarta,” ujar Andi yang ditemui detikFinance beberapa waktu lalu.

Lalu, apa yang membuatnya sukses mengelola bisnis Aqiqah hingga beromzet ratusan juta rupiah per bulan?

Menurutnya menekuni bisnis kuliner tidak selalu bisa masak. Berkaca pada kemampuannya yang sama sekali tidak bisa masak namun ingin punya bisnis kuliner, dirinya harus ‘berkelana’ mencari juru masak handal.

“Saya punya niat besar untuk buka bisnis aqiqah, namun tidak bisa masak, untuk mewujudkan keinginan saya, maka ide saya tidak lain mencari juru masak andal. Namun pencarian tersebut tidaklah mudah, cukup banyak juru masak yang menolak khususnya dalam memberikan resep rahasianya,” ungkap Andi.

Ia mengakui sangat susah mencari juru masak yang enak dan mau diajak kerjasama. Tak habis akal Andi pun melancarkan berbagai trik, salah satunya bersilaturahmi atau mengunjungi orang-orang yang ia ‘incar’.

“Ya, dengan niat bersilaturahmi orang tak akan mungkin mengusir saya, walaupun kenal saja tidak. Sambil main ke rumah juru masak yang saya incar, hampir tiap hari tidak lupa membawa jajanan, seperti coklat, biskuit, dan lain-lain untuk anaknya, ya istilahnya nyogok,” tuturnya.

Akhirnya, hampir 2 (dua) minggu silaturahmi sambil mengungkapkan keinginan tulusnya, akhirnya si juru masak yang ia incar hatinya pun luluh. “Dia mau jalin kerjasama, hingga sampai saat ini,” ucapnya.

Apa yang membuat usaha aqiqah yang diberi nama Raja Aqiqah. Klaim Andi tidak lain karena kualitas bahan utama dan cita rasa masakannya yang jauh dibandingkan yang lain.

“Bahan bakunya bukan kambing seperti pada umumnya, tapi daging domba yang merupakan perkawinan domba Afrikan F1 dengan domba Jawa Barat. Hasilnya dagingnya empuk dan tidak amis, apalagi yang paling utama tidak mengandung kolestrol,” ungkap

Keunggulan tersebut membuat pelanggannya senang, dan menjadikan rekomendasi para calon pelanggannya yang lain. “Tidak kurang dalam sehari 2-5 domba yang disembelih atau rata-rata 100 domba tiap bulan,” ungkapnya lagi.

Lantas apa yang membuat Andi, melihat peluang usaha aqiqah ini, sementara dirinya merupakan mahasiswa jurusan mesin?

“Keluarga saya punya peternakan domba, pelanggan yang beli domba kami rata-rata digunakan untuk acara aqiqah, dari situ timbul pemikiran kenapa tidak saya buka usaha aqiqah juga, ternak sendiri, jual sendiri sampai buat sendiri (masakan aqiqah),” ucapnya.

Perhitungan bisnis Andi sederhana, dalam sebulan tidak kurang ada 1.000 acara aqiqah hanya di Jakarta saja.”Kalau saya ambil pasar 2% saja, sudah besar sekali,” ucap pria kelahiran 5 Januari 1989 ini.

“Bahkan saat ini, peternakannya tidak mampu memenuhi permintaan pesanan. Untuk memenuhi permintaan, saya membina sekitar 10 kelompok peternak domba yang tersebar di Cirebon, Depok, dan di daerah Jawa barat lainnya,” kata Andi.

Andi pun tidak menutup peluang pihak lain untuk menjalin kerjasama. Ia mengaku kini omzet bisnisnya bisa mencapai Rp 400 juta per bulan “Simpel saja kerjasamanya, kita bagi hasil 50:50 dari keuntungan bersih,” pungkasnya.

Anda berminat?

Raja Aqiqah Farm Maju Bersama
http://www.aqiqahjakarta.org

Andi Nata

Alamat: Depok Maharaja, New Sadewa Blok P12A No.15A
(hen/hen)(Rista Rama Dhany)

sumber: http://finance.detik.com/read/2012/02/20/104521/1846427/480/mahasiswa-ini-sukses-berbisnis-kuliner-aqiqah-beromset-ratusan-juta