Monthly Archives: March 2012

Yana Hawiarifin, Keripik Karuhun-nya Sukses Terjual Puluhan Ribu Bungkus Perhari

Karena selalu memikirkan masa depan keluarganya yang tak jelas karena keterbatasan ekonomi, Yana Hawiarifin terpaksa putar otak untuk dapat membantu mereka. Sempat jaya dalam bisnis properti tahun 1994, omzet properti secara mendadak anjlok saat krisis ekonomi 1997-1999. Kejadian ini membuat Yana terpaksa meninggalkan bisnis properti.

Setelah diskusi dengan salah seorang keponakannya, lahirlah ide untuk menjual keripik pedas. “Tapi saya pikir harus ada pembeda karena yang jual keripik sudah banyak sekali. Setelah pikir sana-sini kami putuskan bahwa Keripik Karuhun identik dengan renyah dan aroma daun jeruk,” jelas Yana saat menceritakan kisah lahirnya keripik Karuhun kepada mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta, Depok, Jawa Barat, kemarin.

Yana mengaku pada awalnya sulit untuk memperkenalkan Keripik karuhun kepada masyarakat luas. Awalnya Ia menggunakan sanak saudaranya untuk memperkenalkan produknya ke semua teman-teman.

“Saya suruh keponakan-keponakan untuk bawa keripik ke sekolah, bagi-bagi saja ke teman mereka. Tujuannya untuk mengetes pasar,” ungkapnya.

Setelah itu ia menggunakan mobilnya yang ditempeli stiker keripik Karuhun berputar-putar keliling Bandung tanpa arah. “Supir sampai bingung mau ngapain sebenarnya, tapi saya bilang jalan saja pokoknya,” tambah Yana.

Setelah seminggu berputar-putar tanpa arah akhirnya Yana menentukan titik-titik jualan di Bandung. Namun setelah dua minggu Keripik Karuhun dijajakan di titik-titik yang telah ditentukan, tim penjualan Yana stres. Dua minggu pertama rata-rata penjualan tiap orang hanya 5-6 bungkus. Jika digabungkan penjualan keseluruhan keripik Karuhun hanya 32 bungkus.

“Saat-saat kritis inilah mental seorang pengusaha diuji. Pilihannya hanya dua, mau lanjut atau alih haluan ke bisnis lain. Dan saya pilih lanjut, saya yakinkan mereka bahwa produk kita unik dan pasti akan besar,” ujar pria yang memberdayakan semua keponakannya saat pertama kali menjual keripik Karuhun.

Dengan mental pemenang itu, akhirnya keripik Karuhun semakin kesohor di masyarakat. Saat ini penjualan per hari keripik Karuhun dapat mencapai 20 ribu bungkus dengan omzet per bulan mencapai puluhan juta rupiah.

Kesuksesan ini tak lepas dari kreatifitas strategi marketing Yana. Dengan sistem penjualan langsung yang mengadopsi sistem multilevel marketing, Yana memberdayakan mahasiswa dan kaum muda lainnya untuk ikut berjualan.

Dalam seminar “Entrepreneur In Action, Road to Success Entrepreneur” ini Yana juga menuturkan bahwa tiap pengusaha harus punya mimpi, ide-ide, dan aksi. Tanpa mimpi semuanya akan sia-sia karena kita tidak bisa berbuat apa-apa.

“Mengenai ide, tidak perlu repot mencari ide baru, lihat saja sekeliling kita. Nah masalahnya mampu tidak ide tersebut kita lakukan,” ujar pria yang biasa dipanggil Abah ini.

Selain itu, Yana pun berpesan kepada para mahasiswa yang ingin serius di dunia entrepreneurship agar konsisten dalam tiap bisnis yang dijalankan. Kuncinya adalah evaluasi dan inovasi.

“Masa awal itu merupakan masa kritis, tapi jangan kemudian meninggalkan begitu saja usaha yang kita bangun. Yakinkan diri kita bahwa kita bisa sukses dengan bisnis ini,” nasihat pria kelahiran 6 Agustus 1968 ini. (*/ian)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/15008-kisah-sukses-yana-hawiarifin-berbisnis-keripik-karuhun.html

Jovinus dan Angely, Suami Istri yang Merintis dari Nol Usaha Restonya, Kini Punya Ratusan Karyawan

Orang boleh bermimpi menjadi pengusaha sukses dan kaya. Tapi, jika tidak dibarengi keuletan, kerja keras, berdoa, serta keyakinan mimpi itu tak bakal menjadi kenyataan. Cerita pasangan suami-istri Jovinus Kusumadi dan Angely Chaery bisa jadi referensi bagaimana merintis usaha dari bawah, dan mewujudkan mimpi itu.

Pemilik restoran terkenal Oceans Resto, Kedai Mamad, Selat Makasar, Sop Konro, dan Waroeng Ijo ini baik di Balikpapan maupun kota-kota besar lain di Kalimantan, benar-benar merintis usaha dari nol besar. Keduanya merasakan bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.

Jovinus berperan sebagai pemilik mimpi, istri tercintanya mendampingi, memberi semangat, serta membantu mewujudkannya bersama-sama. Pasangan ini pertama kali merantau ke Balikpapan 2002 silam dari Makassar. Jovinus merupakan warga keturunan Hongkong yang sudah lama menetap di Makasar, begitu pun pula Angely.

Jovinus yang selama ini bekerja sebagai penyortir ikan laut, rela sehari semalam duduk di tepi pantai Losari Makassar, menunggu ikan segar kemudian dibawa ke tempat dia bekerja. Setelah itu, perusahaan tempatnya mencari nafkah mengekspor ke Hongkong. Selama bekerja di perusahaan itu, dia punya mimpi, suatu saat akan membuka restoran dengan menu ikan segar.

“Suami saya bercerita punya mimpi ingin buka restoran di Balikpapan. Padahal, bagi kami berdua itu merupakan hal yang baru. Membuka restoran dengan ikan-ikan segar. Setelah dipikirkan, kami berdua pun merantau ke Balikpapan tanpa memiliki keluarga dan teman. Suami berhenti bekerja di perusahaan tadi,” katanya, mengenang.

Dengan usaha tekad, keuletan serta tak pernah mengeluh, restoran akhirnya bisa berdiri. “Suami saya bertugas di lapangan, saya lebih banyak adminitrasi serta urusan di rumah tangga saya sendiri,” tuturnya saat ditemui di Ocean Resto, ruko Bandar, Jalan Jendral Sudirman, Balikpapan.

Jovinus menceritakan, ide membuka restoran, awalnya  selain keluarganya ga ada yang setuju juga sang istri. “Semua tidak setuju karena saya tidak ada back ground bidang kuliner. Tapi saya tetap menjalani visi saya,” imbuhnya.

Angley yang pernah dua tahun bekerja di salah satu bank swasta di Makassar dan melanjutkan studinya di Curtin University di Australia ini, ilmunya dimanfaatkan untuk mendukung usaha suaminya. Sebab, untuk seukuran restoran beromzet puluhan juta setiap hari, dibutuhkan ketelitian serta manajemen pengelohan yang baik dan profesional.

Tahun-demi tahun kemajuan pun tak terduga, Angley dan suami bisa membuka empat cabang lagi dan memiliki ratusan karyawan serta manajer-manajer handal. Dia pun setiap harinya harus mampu mengatur waktu mengurus seluruh kebutuhan hingga mengawasi karyawan.  Tak kalah penting, dia juga menjalankan peran sebagai istri dan ibu ketiga anak-anaknya.

“Inspirasi dari suami saya, jangan pernah mengeluh capek saat bekerja dan punya keyakinan pasti bisa berhasil. Ini juga saya terapkan pada ketiga anak saya,” ujar anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Seiring waktu berjalan membangun  usaha, banyak suka dan dukanya. Dukanya, waktu untuk berdua menjadi bekurang. Sebab, Angley punya aktivitas sendiri, berbelanja memenuhi kebutuhan restoran, mengantar anak sekolah serta menemani belajar. (*/Kaltimpost.co.id)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/15416-dari-nol-bangun-bisnis-kuliner.html

Sribudiawan, Pebisnis Muda di Balik Usaha Kopi Juleha, Rasa Coffee Shop, Harga Kaki Lima

Indonesia adalah negeri yang jumlah penduduknya begitu besar. Dan penduduk usia produktifnya juga tinggi. Maka dari itu, diperlukan banyak sekali lapangan pekerjaan agar semua generasi muda yang produktif ini bisa bekerja untuk Mandiri dan menggerakkan perekonomian bangsa.

Untuk itulah, muncul berbagai konsep bisnis yang berusaha menjawab tantangan ini: memberikan sebanyak mungkin lapangan pekerjaan bagi siapa saja. Salah satu yang paling memungkinkan untuk diakses oleh rakyat dari berbagai kalangan ialah bisnis yang berkonsep kemitraan mikro. Investasi yang diperlukan tidak terlalu tinggi, biaya pemeliharaannya juga tak membebani, namun menghasilkan laba yang relatif setimpal.

Konsep bisnis kemitraan mikro seperti inilah yang dicoba untuk diterapkan Sribudiawan, salah satu pebisnis muda di balik usaha Kopi Juleha. CiputraEntrepreneurship.com berkesempatan untuk mewawancarai Sribudiawan via surel dan berikut adalah petikan wawancaranya.

1. Dari mana datangnya ide Kopi Juleha ini?

Ide awalnya muncul karena seringnya saya nongkrong di warung kopi/coffee shop yang salah satunya adalah Starbucks Coffee. Hampir tiap hari saya menghabiskan waktu saya di sana. Karena seringnya nongkrong di Starbucks akhirnya saya kenal akrab dengan para barista-barista dan coffee master yang ada di sana. Saya sebetulnya bukan peminum kopi, saya berhenti minum kopi sejak 2 tahun yang lalu. Karena seringnya ngobrol dengan para barista dan coffee master di Starbucks secara tidak langsung menambah wawasan dan pengetahuan saya tentang minuman khususnya Kopi. Tiba suatu hari (Mei 2011) karena Starbucks Coffee lagi ramai banget dan saya pun tidak  kebagian tempat duduk akhirnya saya nongkrongnya di taman yang kebetulan lokasinya tidak begitu jauh dari Starbucks Coffee.

Tidak seberapa lama duduk di taman, saya melihat segerombolan karyawan yang waktu itu mungkin lagi istirahat yang sedang memanggil seseorang yang berada di luar area taman. Karena penasaran saya pun mencoba mencari tahu. Ternyata mereka memanggil mas-mas penjual kopi seduh yang menggunakan sepeda. Karena penasaran kok banyak banget yang beli akhirnya saya pun ikut membeli 1 cup kopi panas dengan harga Rp 3000,- walaupun tau kalau saya sebetulnya gak minum kopi karena sering pusing kalau habis minum kopi.  Saya pun memandangi sekeliling saya dan cukup terkejut karena 90% orang yang ada di area taman tersebut rata-rata memegang cup minuman kopi dengan berbagai varian rasanya. Dari sinilah awal munculnya ide untuk menjual kopi. Saya pun mencoba melakukan riset kecil-kecilan dengan melakukan survey di beberapa tempat dan hasilnya menakjubkan. Pangsa pasar penikmat kopi di luar sana sangat besar khususnya pasar kaki lima.

Analisis bisnis pun saya lakukan dengan menghitung perkiraan modal, potensi penjualan perhari dan sebagainya. Akhirnya saya pun membulatkan tekad untuk buka usaha minuman kopi juga. Awalnya kepikiran untuk menjual kopi sepedaan tapi dikemas dengan konsep yang lebih higienis, profesional dan dengan harga terjangkau. Tapi karena jualan menggunakan sepeda kapasitas jualnya sangat sedikit akhirnya saya pun mengganti konsepnya dengan menggunakan Kopi gerobakan tapi dengan konsep gerobak yang berbeda dari yang lainnya. Resep, teknik penyajian dan bahan baku yang digunakan pun saya buat berbeda berdasarkan pengetahuan yang saya dapat selama ini dari teman-teman barista dan coffee master yang saya kenal. Saya mencoba mengadopsi bahan baku dan teknik penyajian minuman dari beberapa coffee shop ternama di Jakarta. Jadi boleh dibilang saya memindahkan konsep coffee shop ke pasar kaki lima. Tujuannya agar pasar kaki lima pun bisa menikmati kopi yang enak dan higienis tapi dengan harga terjangkau (di level Rp. 5000 sd 7000 per cup). Maka terciptalah usaha kecil yang bernama “Kopi Juleha”. Kenapa saya memilih nama “Juleha” karena beberapa pertimbangan yaitu menyesuaikan dengan target pasarnya yang kaki lima, mencari nama yang terkesan seksi, gampang dilafalkan dan mudah untuk diingat.

2. Bisakah digambarkan bagaimana kegiatan sehari-hari di kopi Juleha?
Kegiatan saya sehari-hari di Kopi Juleha adalah mulai dengan mempersiapkan bahan baku yang akan digunakan, meracik bahan baku, mempersiapkan peralatan  dan perlengkapan yang akan digunakan dipastikan dalam kondisi bersih dan higienis. Kami pun biasanya berjualan di atas jam 5 sore sampai dengan jam 11 atau jam 12 malam. Pada saat selesai berjualan, peralatan dan perlengkapan biasanya kami bersihkan untuk kami pakai lagi keesokan harinya. Hasil penjualan pun kami coba bukukan per hari. Menu minuman yang kami jual saat ini ada beberapa varian yaitu Kopi Tarik, Teh Tarik dan Cokelat Tarik Juleha. Sehari-harinya pun kami berkoordinasi dengan para supplier untuk ketersediaan bahan baku dan yang lainnya. Saya pun saat ini akhirnya fokus diusaha ini dan meninggalkan aktivitas saya sebagai karyawan perusahaan.

3. Berapakah teman-teman yang bekerja untuk Kopi Juleha?
Ada 3 orang, semuanya mantan anak Coffee Master Jakarta.

4. Apa yang biasa dilakukan untuk memperoleh ide kreatif di sela-sela kesibukan?
Yang biasa saya lakukan adalah mengusahakan untuk selalu bangun pagi, keluar rumah untuk melihat dunia luar, menjalankan ajaran agama (sholat, sedekah, selalu berusaha berbuat baik kepada sesama dan sebagainya), selalu meminta restu dari orang tua utamanya Ibu dalam melakukan apapun. Semua hal di atas yang bisa membuat pikiran kita terbuka dan terciptalah ide-ide kreatif.

5. Apa yang mendorong untuk menekuni dunia kuliner?
Saya dibesarkan pada kehidupan yang memang sudah dekat dengan dunia kuliner. Eyang saya mantan koki, Ibu saya yang single parent dulunya memang usaha warung/kantin/catering.

6. Menurut Anda, apakah itu entrepreneur?
Menurut saya enterpreneur itu adalah orang memiliki keberanian bertindak untuk menciptakan lapangan kerja baru, keluar dari zona nyaman, berani menghadapi risiko, menjalankan usaha dengan berorientasi pada keberhasilan/keuntungan tapi dengan tetap mematuhi aturan-aturan atau kaidah yang ada.

7. Menurut Anda, bagaimana Kopi Juleha dalam 5 tahun ke depan?
Dengan modal konsep usaha yang berbeda, kreativitas, motivasi dan modal network relationship yang saya miliki saat ini, saya yakin bisa mengembangkan usaha saya ini ke arah konsep Waralaba dengan target outlet yang cukup besar (target 500 outlet).

Sribudiawan dengan Kopi Juleha-nya ini juga tak hanya ingin mencetak lebih banyak lapangan pekerjaan untuk sesamanya tetapi juga berniat membantu anak yatim dan anak usia sekolah yang tidak mampu meneruskan pendidikan karena berbagai alasan. Sebagian penerimaan dari penjualan kopi per cangkir akan disumbangkan kepada anak-anak yang kurang beruntung tersebut.(*AP)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/15420-kopi-juleha-rasa-coffee-shop-harga-kaki-lima.html

Prayitno, Raup Puluhan Juta dari Aneka Olahan Berbahan Dasar Lele

Setiap bagian tubuh ikan lele ternyata bisa diolah menjadi aneka pangan yang enak dan bergizi. Produk olahan ini diharapkan mampu meningkatkan citra ikan lele hingga setara nila dan ikan konsumsi harian lainnya. Pecel lele, siapa tak kenal? Harga ikan lele yang murah dibanding ikan konsumsi lainnya membuat pecel lele menjadi santapan populer yang mudah ditemui di warung-warung tenda pinggir jalan di seluruh Indonesia.

Namun, apa yang kami temui di pameran Adikriya Indonesia 2012 di Jakarta Convention Center (JCC) belum lama ini, sungguh berbeda. Dalam pameran tersebut, ikan lele tersaji dalam bentuk aneka camilan gurih dan renyah. Sebut saja keripik lele, keripik kulit lele, keripik sirip lele (crispy fin), dan abon lele dengan pilihan rasa pedas, manis atau gurih. Aneka olahan serba lele ini dapat ditemui di stan Usaha Kecil Menengah (UKM) bernama ”alang-alang 37”.

”Kami asalnya dari Desa Tegalrejo, Boyolali,” ujar Prayitno, sang pemilik stan yang juga pembudidaya lele di Boyolali, Jawa Tengah.

Menurut Prayitno, di Tegalrejo banyak terdapat tambak atau kolam ikan lele lantaran sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai pembudidaya lele. Tak heran, tahun 2006 desa ini dinamai Kampung Lele oleh Mardiyanto, gubernur Jawa Tengah saat itu.

Setahun kemudian, Kampung Lele juga mendapat kunjungan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Prayitno yang memulai budidaya lele sejak 1994 mengaku sulit menghilangkan citra lele sebagai ikan kotor yang senang hidup di air kotor atau berlumpur. Dengan citra itu, sulit bagi ikan berpatil ini untuk menembus konsumen pasar modern, restoran besar, apalagi hotel.

Karena itu, salah satu cara agar pamor lele bisa naik kelas adalah melalui produk olahan berbahan dasar ikan lele. ”Pameran seperti Adikriya ini sangat bermanfaat agar aneka produk olahan lele lebih dikenal luas, sehingga citra lele sebagai ikan kotor pelan-pelan hilang. Intinya, kami ingin supaya lele naik kelas seperti nila dan ikan lainnya,” tandasnya.

Menurut Prayitno, produk olahan lele lebih menguntungkan karena harganya lebih stabil dibanding harga lele segar yang naik-turun.

Pihaknya selaku produsen lele olahan juga turut membantu para pembudidaya lele dengan menampung lele-lele segar yang tidak bisa dijual ke agen lantaran ukurannya tidak sesuai untuk konsumsi. ”Lele segar yang ditujukan untuk konsumsi langsung, misalnya untuk pecel lele, biasanya ukurannya tertentu. Jadi, ikan lele yang ukurannya terlalu besar atau kecil kami tampung untuk diolah menjadi berbagai macam produk,” beber Prayitno yang bersama keluarga besarnya mengelola 600 kolam ikan lele.

Prayitno juga tidak sendirian dalam menjalankan roda bisnis ”alang-alang 37”. Sang istri, Tri Wahyuni, yang justru sejak awal membidani aneka produk olahan lele, sementara dirinya berfokus pada budi daya ikan lele. Tri Wahyuni mengungkapkan, awal mula ia menggeluti produksi makanan olahan serbalele pada Maret 2007. Produk perdananya adalah abon ikan lele. ”Kami ingin membuat abon yang tanpa meninggalkan citra ikan itu sendiri. Kami pelajari proses pembuatannya secara autodidak, lalu dipraktikkan. Jadilah abon lele dengan citarasa enak,” ujarnya.

Sukses dengan abon dari lele, Tri mengembangkan produknya dengan memanfaatkan semua bagian tubuh lele. Mulai daging, kulit, dan sirip lele yang diolah menjadi keripik renyah hingga duri lele yang dijadikan tepung ikan. Ada pula produk terbaru, yakni ikan lele asap. Selain penambahan produk, kemasan produk pun terus berkembang. Bermula dari kemasan plastik polos, meningkat menjadi plastik tebal yang disablon, lalu berkembang menjadi kemasan karton dan aluminium foil.

Persyaratan seperti nomor izin produksi, POM, label halal, hingga komposisi dan informasi nilai gizi juga tercantum lengkap di kemasan. ”Saya bersama kelompok perajin wanita yang menekuni usaha pengolahan ikan selama ini banyak mendapat penyuluhan dari dinas terkait setempat, termasuk soal pengemasan produk. Dari LIPI juga pernah melakukan uji kandungan gizi produk olahan lele kami,” tuturnya.

Perbaikan kemasan produk lele olahan itu juga sebagai upaya menarik konsumen menengah ke atas. Alhasil, jika awalnya Tri hanya memasarkan produknya dengan cara menitipkan di warung dan toko terdekat, kini produk olahan lele ”alang-alang 37” sudah bisa ditemui di supermarket modern seperti Carrefour dan Hypermart di berbagai kota, mal besar seperti Grand Indonesia di Jakarta, hingga toko oleh-oleh di Bandara Adisumarmo, Solo.

Dengan dibantu 12 karyawan, saat ini ”alang-alang 37” mampu memproduksi olahan lele hingga 1,6 ton per bulan. Proses produksi dilakukan di dua lokasi workshop, yakni di Desa Tegalrejo dan Ringinsari, Boyolali. Omzet pun perlahan meningkat menjadi sekitar Rp30 juta–40 juta per bulan. (*/Harian Seputar Indonesia)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/bisnis/makanan.html

Dede Suleiman, Pengusaha Muda Sukses Lewat Bisnis Kuliner ‘My Bento’ yang Kini Punya Puluhan Gerai

Dalam menghadapi persaingan bisnis, seorang entrepreneur harus cermat dalam membidik pasar yang sesuai dengan produk yang ditawarkannya. Dengan konsisten dalam menggali pasar yang telah ditentukan, sebuah bisnis bisa bertahan untuk bersaing dengan kompetitor bisnis sejenis yang telah mapan. Hal itulah yang menjadi startegi My Bento, untuk bersaing di ketatnya kompetisi bisnis kuliner di Indoensia. Dengan mengusung produk makanan Jepang, My Bento memilih untuk fokus menggarap pasar menengah ke bawah sebagai sasaran pembeli potensial.

Dengan jargon usaha “makan hemat makin dekat”, My Bento berharap agar produknya bisa tersebar hingga ke pelosok-pelosok daerah di Indonesia. Selain itu, dengan mematok harga jual yang tidak terlalu mahal, My Bento ingin agar masakan Jepang bisa menjadi salah satu makanan rakyat, yang terjangkau oleh semua golongan dan bisa diperoleh di mana saja. Selain harga yang murah meriah, My Bento pun ingin mengkampanyekan menu masakan Jepang yang menggunakan bahan baku 100% halal.

Kini, My Bento telah memiliki lebih dari 50 gerai di seluruh Indonesia. My Bento pun makin dikenal sebagai salah makanan cepat saji yang ramah dalam harga dan digemari dari segi rasa, khususnya di kalangan anak muda. Namun, siapa sangka jika bisnis ini awalnya lahir dari sebuah praktikum matakuliah yang diarsiteki oleh 4 orang mahasiswa?

Bermula saat Dede Suleiman dan empat orang rekannya mendapatkan sebuah tugas kuliah untuk membuka dan menjalankan sebuah usaha, tahun 2006. Pria yang kini baru berusia 26 tahun ini mengaku ingin total dalam menciptakan sebuah peluang bisnis baru, dan ingin sungguh-sungguh meneruskan bisnis tersebut. Ia pun melihat bahwa bisnis makanan Jepang cukup potensial untuk serius digarap.

“Awalnya memang tugas mata kuliah kewirausahaan yang mengharuskan kami untuk membuat suatu bisnis. Namun, kami harus mencari modal sendiri untuk usaha tersebut. Karena sudah mengeluarkan modal yang buat saya tidak sedikit, maka saya rasa sayang jika usaha ini tidak kami seriusi. Karena satu dari kami bisa memasak, maka kami memilih untuk mencoba bisnis kuliner, khususnya masakan Jepang. Apalagi saat itu tidak banyak bisnis kuliner Jepang yang ada,” Ungkap Dede saat berbincang dengan Ciputraentrepreneurship.com, di salah satu gerainya di Bintaro, Tangerang Selatan.

Nama My Bento dipilih karena memiliki arti “bekal saya”. Dengan demikian, Dede dan teman-temannya berharap suatu saat nanti bisnis ini bisa menjadi bekal dan rezeki yang baik di masa depan. Sadar bahwa sudah ada kompetitor produk sejenis yang telah jauh mapan, My Bento pun merancang strategi pasar dengan membidik golongan menengah ke bawah sebagai calon konsumen potensial. Dede berpendapat, saat itu restoran makanan Jepang hanya bisa ditemui di kota-kota besar saja, dan dibeli oleh orang-orang tertentu saja. Melihat peluang tersebut, My Bento pun ingin menciptakan citra makanan Jepang yang merakyat.

”Saat ini bisnis makanan Jepang yang ada, selalu memfokuskan pada pasar menengah ke atas dan ke kota-kota besar. Nah kami lalu melihat pasar masyarakat yang tinggal di kota-kota kecil, ternyata juga menyukai jenis makanan Jepang. Dari saya saya melihat sangat potensial jika kami mendekatkan produk kami ke mereka, terjangkau, dari segi tempat dan harga,” jelas Dede.

Sebagai sebuah proyek perkuliahan, Dede dan ketiga rekannya memang tidak memiliki modal yang besar saat memulai usaha. Dengan modal Rp 15 juta, Dede pun mulai usahanya dengan sangat sederhana, di daerah Lampung. Itupun dengan menggunakan ruko milik kerabat salah satu rekannya. Pada tahun pertama menjalankan bisnisnya, Dede pun hampir mengalami kebangkrutan, dan akhirnya dua orang rekannya mundur dari usaha My Bento, dengan alasan ingin berkarier sebagai karyawan. Menghadapi kondisi tersebut, Dede mengaku tak patah arang. Ia merasa bisnis yang dijalaninya adalah sebuah pertaruhan karier dan masa depannya. Ia pun memilih untuk tetap berjuang menjalankan bisnisnya.

“Ketakutan-ketakutan muncul ketika mulai sepi. Seandainya saya tidak bisa mengganti uang modal yang saya pinjam dari orangtua, pasti orangtua saya tidak akan mendukung langkah saya sebagai pebisnis. Karena dari awal memang orangtua saya sudah tidak setuju bila saya terjun ke dunia bisnis. Sebuah pertaruhan harga diri. Toh saat itu saya belum mempunyai tanggungan apapun, dan saya masih berstatus mahasiswa. Jika sampai saya lulus, bisnis saya belum berhasil, saya siap banting stir menjadi pegawai. Namun saya dan teman saya sampai sejauh ini bisa membuktikan bahwa kami bisa bertahan menjalankan bisnis My Bento,” sambung Dede.

Demi memajukan usahanya, My Bento pun kini memilih jalur waralaba dengan sasaran mitra di daerah. Dengan pilihan paket mulai dari Rp 21 juta sampai dengan Rp 250 juta, calon mitra bisa memilih untuk menjalankan usaha My Bento mulai dari paket sederhana hingga premium. Selain itu, My Bento pun menstandarkan gerai mereka dalam bentuk permanen, agar bisa memberikan kenyamanan pada konsumen. Dari segi menu, My Bento juga menawarkan menu Jepang yang otentik dan memilih untuk bekerja sama dengan perusahaan besar seperti Unilever, untuk menstandarkan racikan bumbu yang dipakai. Dengan cara tersebut, My Bento pun mulai dikenal sebagai makanan murah namun berkualitas.

Dengan bisnis yang terus berkembang, kedepannya My Bento menargetkan bisa membuka 10 gerai per tahunnya. Selain itu dalam waktu dekat ini, My Bento juga membidik pasar di wilayah Indonesia bagian timur sebagai target ekspansi usaha.

“Kami ingin agar My Bento bisa sampai ke tiap provinsi di Indonesia. Khususnya untuk daerah seperti Ambon, Sulawesi, dan Papua, yang rencananya akan segera kami dekati berikutnya. Setelah ambisi kami tercapai, selanjutnya bukan tidak mungkin kalau brand kami bisa menembus pasar Mancanegara, khususnya Negara-negara tetangga kita,” ujar Dede.

Di usianya yang masih sangat muda, Dede telah membuktikan bahwa seorang entrepreneur bisa bertahan menjalankan bisnisnya jika ada dedikasi dan konsisten menjalankan bisnisnya. Terlebih bagi anak muda yang memilih jalan hidup menjadi seorang wirausahawan, yang seringkali patah arang dalam menghadapi cobaan dalam bisnisnya.

“Secara umum, bila kita telah memilih sebuah usaha untuk dijalankan, kita harus bisa konsisten dalam mengembangkan usaha tersebut. Seorang wirausahawan harus memiliki dedikasi tinggi terhadap bisnis yang ia telah jalankan. Jangan pernah takut terhadap halangan, karena tidak ada bisnis yang tampa halangan. Masalahnya hanyalah bagaimana kita bisa menghadapi halangan tersebut,” ucap Dede dengan yakin. (*/Gentur)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/exclusive-interview.html?start=8