Monthly Archives: March 2012

Syahrial Yusuf, Sukses Lewat Lembaga Pendidikan LP3I dengan Puluhan Cabang Kampus

Menjalani panggilan hidup sebagai seorang entrepreneur, seringkali merupakan bentuk dari tanggung jawab moral seorang pengusaha di tengah-tengah lingkungan masyarakat. Terlebih lagi bagi entrepreneur yang bergerak di bidang pendidikan. Selain faktor bisnis, tentu saja mereka memiliki tanggung jawab moral untuk menciptakan tenaga kerja yang siap diserap oleh beragam industri, atau mendidik calon-calon entrepreneur muda untuk siap berbisnis.

Hal itulah yang kemudian mendorong Syahrial Yusuf untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan LP3I, yang menfokuskan diri untuk menciptakan lulusan yang terampil, siap kerja, atau siap menjadi seorang entrepreneur. Kini, LP3I telah melebarkan sayap dengan memiliki 48 lokasi kampus di seluruh Indonesia. Pencapaiannya pun terbilang sangat baik, yaitu dengan mencetak 95% lulusan yang langsung mendapatkan tempat untuk bekerja. LP3I pun makin mengukuhkan diri sebagai lembaga pendidikan yang sejak tahun 1995, konsisten menjaminkan lapangan pekerjaan kepada para siswanya.

Sebagai seorang entrepreneur yang kini telah sukses, Syahrial Yusuf banyak belajar dari pengalaman hidupnya sebagai mahasiswa rantau yang harus mencari biaya kuliahnya sendiri. Pria asal Medan, Sumatra Utara, yang merupakan alumnus Fakultas Ekonomi, Universitas Padjadjaran, ini mengaku harus kuliah sambil kerja demi memenuhi kebutuhannya di Bandung. Dari sanalah, Syahrial mulai mengenal sistem manajemen dalam sebuah perusahaan.

“Saya memulai bekerja saat kuliah, sebagai tenaga serabutan di sebuah bengkel. Lalu karena potensi saya, karir saya disana cukup baik. Dua bulan saya jadi staf pembukuan, lalu kabag pembukuan, dan tak lama saya jadi direktur keuangan. Jadi dalam waktu 8 bulan, saya sudah menjadi wakil direktur yang membawahi 40-an karyawan. Itu membuat saya percaya diri karena waktu itu usia saya baru 19 tahun,” kenang Syahrial saat berbincang dengan Ciputraentrepreneurship.com, di kantornya di kawasan Senen, Jakarta Pusat.

Setelah satu tahun bekerja, Syahrial mulai tertarik untuk mengembangkan relasi di dunia kemahasiswaan dengan terjun menjadi seorang aktifis di salah satu badan kemahasiswaan. Di sanalah Syahrial mulai menemukan jati diri dan idealismenya, khususnya di bidang pendidikan. Ia melihat, potensi besar mahasiswa saat itu kurang bisa diwadahi oleh pemerintah, sehingga munculah pengangguran dalam jumlah yang signifikan. Dari sanalah ia mulai bertekad untuk menjadi seorang entrepreneur.

Langkah awal yang dipilih Syahrial untuk menjadi seorang entrepreneur adalah dengan mengelola unit koperasi mahasiswa (Kopma) yang ada di kampusnya. Dengan berstatus mahasiswa UNPAD, Syahrial pun mulai mengembangkan potensi ekonomi Mandiri di lingkungan kampus.

“Saat mengurusi Kopma Unpad, saya memperbaiki system yang ada saat itu hingga akhirnya sedikit demi sedikit, Kopma Unpad mulai menghasilkan untung. Dengan lobi yang saya lakukan saat itu, sayapun menjalankan berbagai bisnis, mulai dari penyediaan toga untuk wisudawan, fotocopy, jaket Unpad, hingga mendirikan lembaga pendidikan komputer. Jumlah karyawan yang saya rekrut pun hingga 30-an orang. Dalam waktu 1 tahun, waktu itu Kopma Unpad menghasilkan keuntungan hingga Rp 25 juta,” ujar Syahrial.

Sebagai seorang mahasiswa, Syahrial melihat bisnis yang ia jalankan adalah bentuk dari protesnya terhadap pemerintah yang ia anggap tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup bagi sarjana. Ia pun menilai bahwa kurikulum yang ada saat itu tidak dilengkapi dengan soft skill, atau juga ilmu kewirausahaan yang bisa membuat para calon sarjana bisa Mandiri berusaha.

Yakin dengan jalan hidupnya sebagai seorang entrepreneur, Syahrial pun memilih jalur bisnis pendidikan sebagai peluang usaha. Dengan mengusung idealisme yang tinggi dalam mengurangi pengangguran, Syahrial pun fokus untuk mendidik SDM yang terampil dan siap bekerja. Pada tahun 1989 ia pun mendirikan Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia (LP3I), dan mengandalkan kurikulum yang disesuaikan dengan lapangan kerja (link and match antara dunia pendidikan dan usaha di Indonesia).

Di tiga tahun awal berdirinya LP3I, Syahrial melewati jalan terjal dalam membangun usaha pendidikannya. Ia mengaku terlalu fokus menjalankan idialismenya dalam mencetak lulusan yang berkwalitas, dan melupakan faktor bisnis yang merupakan tulang punggung penyangga idealismenya.

“Awalnya saya terlalu idealis menjalankan bisnis saya. Saya tak terlalu mengejar profit. Hal itu membuat saya kadang kesulitan untuk membayar karyawan saya. Tak jarang saya pun harus meminjam uang dari kerabat saya, agar bisa mempertahankan lembaga pendidikan ini. Setelah memasuki tahun ke-4, saya pun sadar jika bisnis pendidikan ini harus juga mendatangkan profit yang baik agar kualitas pendidikan yang kami berikan juga baik. Saya pun mulai dengan membangun cabang, dan cari mitra yang bisa memberikan modal,” jelas Syahrial.

Setelah lebih dari 20 tahun terkenal sebagai lembaga pendidikan penyedia tenaga terampil yang siap kerja, kini LP3I mulai serius membidik sektor entrepreneurship dengan proporsi target lulusan, 30% menjadi pengusaha dan 70% menjadi tenaga terampil. Untuk mencapai target tersebut, LP3I kini mulai mengembangkan beragam laboratorium (inkubator) usaha dan mempererat relasi di dunia kewirausahaan.

Atas pencapaiannya, beragam penghargaan pun telah diperoleh. Namun, bagi Syahrial kebanggaan terbesar adalah saat ia melihat anak didiknya menjadi orang yang sukses, baik sebagai pengusaha atau sebagai karyawan. Sebuah ibadah, yang tulus dijalankan lewat pengabdiannya sebagai seorang pendidik.

“Saya pernah punya murid, dia sarjan kami, yang lulus dan menjadi pegawai di Bank Indonesia. Dari ratusan pelamar dari beragam universitas yang terkenal, murid saya bisa lolos menjadi pegawai. Yang membuat saya terkesan adalah latar belakang murid saya yang datang dari keluarga yang kurang mampu. Dari enam ribu pelamar, hanya enam puluh yang diterima,” ujar Syahrial sambil tersenyum. (*/Gentur)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/exclusive-interview.html?start=7

Donny Pramono, Entrepreneur Muda Pendiri Sour Sally yang Cabangnya Sudah di Singapura

Ini dia Sally, gadis manis berkepang dua yang terpampang di semua produk Sour Sally. Seiring bertambahnya penggila froyo, Sally semakin terkenal

Yoghurt kini tampil lebih cantik dan sehat dalam kemasan froyo alias frozen yoghurt. Tak ayal, ia digemari banyak orang dan bisnisnya makin digandrungi.

Dari Hobi Lahirlah Sally
Gadis itu berkepang dua dengan dress mini berwarna hitam. Matanya melirik, menggoda siapa pun yang melewatinya. Namanya Sally. Dialah ikon dari butik frozen yoghurt (froyo) Sour Sally yang belakangan ini sedang naik daun. Bisnis yang dimulai dari hobi pemiliknya, Donny Pramono. “Saya memang hobi makan yogurt. Seminggu bisa makan lima kali.”

Kegemaran Donny makin tersalurkan saat ia kuliah di Los Angeles (LA), Amerika Serikat. Maklum, di sana banyak gerai penjual yogurt, Tempat itu kerap dijadikan tempat ngumpul Donny dan teman-temannya. “Akhirnya terinspirasi membuat brand yang bisa go international, dimulai di Indonesia,” urainya.

Untuk mewujudkan itu, selama di LA, Donny rajin mencoba membuat froyo. Apartemen adiknya, Darwis Pramono pun dijadikan tempat eksperimen. Mesin pembuat froyo yang disewanya, disimpan di sana. Lantaran listrik tak mencukupi, ia harus menyewa genset. Tapi, untuk menghidupkan genset, Donny harus main kucing-kucingan dengan tetangganya. “Sebelum jam 5, kami harus sudah selesai, karena tetangga sudah pulang kantor,” kata pria kelahiran 30 September 1982 ini.

Lewat riset itu, penggemar futsal ini menemukan citarasa froyo yang diinginkan. “Rasa harus disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Di Amerika, lebih milky (kental susunya) dan kecut. Kalau di sini, seimbang antara kecut dan manis.” Formula itu yang akhirnya dibawa pulang ke Indonesia di akhir 2007.

Lantas anak pasangan Suwitno Pramono dan Elien Limuwa ini mengajak sepupunya yang sudah malang melintang di dunia bisnis kuliner, Telly Limbara. Telly sepaham lantaran konsep bisnis Donny dinilai menarik. Modal awal pun mereka gelontorkan.

Donny dan Telly tak main-main. Untuk memulai bisnis ini, mereka juga menyewa konsultan brand profesional. Dari situ lahirlah Sour Sally. “Sour itu artinya kecut dan Sally itu nama cewek manis,” kata Donny. Desain interiornya pun sengaja dibuat kental dengan warna khas perempuan. Tengok saja dominasi warna hijau muda yang segar dan kursi-kursi empuk dengan warna pastel pada gerainya. Begitu pula dengan pegawainya, terutama yang perempuan, mereka tampil persis dengan Sally yang chic.

Gerai pertama Sour Sally dibuka di Senayan City, pada 15 Mei 2008. Dalam dua bulan, Sour Sally menjadi buah bibir. Antreannya bahkan pernah meluber hingga ke luar gerai. Sekarang ini sudah ada sepuluh gerai di ibu kota. “Hari biasa, pengunjung bisa ratusan. Kalau akhir pekan, beberapa outlet bisa dikunjungi ribuan pembeli,” urai alumni Penn State University.

Di Sour Sally tersedia tiga rasa yaitu plain yang seimbang manis dan kecutnya, green tea yang lebih kecut, pinklicious yang lebih manis. Topping-nya beragam, dari buah-buahan, hing­ga mochi, kenari, atau sereal. “Sampai sekarang ada 20 topping tapi masih banyak Sour Sally Lovers (sebutan konsumen) yang belum mencoba,” ucapnya yang bisnisnya sempat dikira franchise.

Sekarang, malah sudah tersedia waffle yang dibubuhi froyo dan topping bernama Pinklicious Waffle. Celah inilah yang sekarang sedang digali oleh Sour Sally. Karena bagi Donny, “Setiap orang mempunyai selera sendiri dan kami ingin memuaskan semuanya.” Dengan aneka macam froyo, topping, hingga menu yang beragam, tak heran jika Sour Sally selalu dipenuhi tua muda pria wanita setiap harinya.

Pada tahun 2010 dibuka cabang Sour Sally pertama di luar negeri, yaitu di Singapura, tepatnya di Wisma Atria Shopping Center, #B1-47, kini ada dua cabang di Singapura. Sedangkan di Indonesia cabangnya tersebar di beberapa kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya, Bali, Semarang. Omset tahunannya kini mencapai puluhan miliar. (Astrid Isnawati)

sumber: http://www.tabloidnova.com/Nova/News/Peristiwa/Si-Manis-Kecut-Yang-Bikin-Kepincut-1

Subagio, Dalam Tiga Tahun Gerai Donat dan Kopi ‘Double Dipps’-nya Sudah Seratus Gerai

Menjalankan sebuah bisnis, apapun jenis bisnisnya, memang memerlukan perencanaan yang sangat matang. Dengan perencanaan yang matang pula, seorang entrepreneur bisa mengolah sebuah peluang bisnis yang ada, menjadi bisnis yang sangat menjanjikan. Konsep itulah yang selalu dipegang oleh B. Subagio Hadiwidjojo, seorang entrepreneur yang bergerak di bidang food and beverages untuk kategori Donuts and Coffee, dengan brand Double Dipps. Kini dengan sistem waralaba yang dikembangkannya, Double Dipps telah memiliki lebih dari 100 gerai diseluruh Indonesia, hanya dalam waktu tiga tahun saja!

 

Jalan hidup menjadi seorang entrepreneur memang sudah menjadi cita-cita pria yang lahir di Tulung Agung, Jawa Timur, tahun 1964. Menjadi anak laki-laki pertama dikeluarganya, membuat Subagio sudah merasakan tanggung jawab yang besar untuk menghidupi keluarga, terutama dua orang adiknya. Terlebih lagi saat ia harus kehilangan sang ayah saat ia menginjak kelas dua SMP.

 

“Saya harus berfikir tidak untuk diri saya saja, tetapi bagaimana saya bisa menghidupi keluarga saya. Kalau saya dulu kerja ikut orang, saya mungkin bisa menghidupi diri saya sendiri. Tapi kenyataannya, saya harus menghidupi juga adik-adik saya. Jadi tekat saya bulat untuk menjadi seorang entrepreneur. Lalu setelah SMA, saya ambil S1 tehnik sipil dan bekerja sebagai seorang kontraktor,” kenang Subagio, saat menceritakan masa mudanya.

 

Sebagai seorang kontraktor, Subagiopun sudah terbiasa bekerja dengan konsep dan perencanaan yang matang. Pria yang mengidolakan Ir. Ciputra inipun mulai merancang mimpinya menjadi seorang wirausahawan dengan memulai bisnis kecil kecilan dibidang property. Baginya, konsep yang matang dalam berbisnis adalah kunci sukses seorang enterepreneur dalam menjalankan bisnisnya, terlepas bisnis apapun yang ia jalankan.

 

“Saya melihat ini suatu peluang, kalau peluangkan tidak harus sama dengan latar belakang yang kita punya. Yang penting kita punya konsep yang tepat untuk menjalankannya. Dengan konsep yang kuat, kita bisa mempekerjakan tim yang tepat, agar bisnis kita bisa berjalan baik. Itu mengapa saya awalnya terjun di bisnis donat dan kopi, yang memang jauh dari latar belakang saya sebagai seorang kontraktor,” lanjut Subagio.

 

Dalam menjalankan bisnisnya, Subagio pun tak lepas dari sebuah kegagalan. Baginya bisnis memang perlu melewati prosestrial and error, sebelum akhirnya mencapai kesuksesan. “Kalau bicara kegagalan, itu sudah merupakan makanan sehari-hari. Untuk sukses, kita harus terlebih dahulu melalui beberapa fase yang bisa membuat diri kita lebih dewasa. kalau diawal, karena kita ga punya modal, kita harus tunjukan kepada orang bahwa kita punya keahlian dan kejujuran. dari kejujuran itu, orang akan mulai percaya kepada kita. dari sana kita harus bina networking kita agar makin banyak relasi yang mempercayai kita untuk bekerjasama,” ujarnya.

 

Dalam menjalani bisnis donatnya, Subagio tergolong cukup senior, karena ia memulai bisnis ini disaat telah menginjak usia 40 tahun. Namun, hal itu tak membuatnya merasa kalah dari pebisnis lain yang usianya jauh lebih muda darinya. Justru sebaliknya, ia merasa usianya adalah usia yang tepat baginya untuk bersaing di bisnis food and beverages.

 

Diusianya yang telah matang dan pengalaman 20 tahun dibisnis property, ia pun sudah siap secara mental dan jam terbang, sebagai seorang enterepreneur. Baginya, pengalmanannya sebagai kontraktor telah menempa mentalnya, dan memberinya networking yang luas dikalangan pebisnis. Baginya, sebagai wirausahawan, seseorang harus bisa menjadi orang yang bisa dipercaya baik secara kemampuannya berbisnis maupun kejujurannya dalam menjalankan usaha. Hal itu nantinya akan memudahkannya untuk bisa menjalankan bisnis apapun, dan melewati kesulitan yang beragam dalam menjaga kelangsungan bisnisnya.

 

“Saya bangga memulai usaha di atas kepala empat, karena track record saya sudah kelihatan di luar, nama baik saya sudah cukup dipercaya. Bagi saya itu faktor kunci yang tidak bisa ditukar dengan apapun,” ungkap Subagio.

 

Sebagai enterepreneur yang cukup senior, pria yang juga sedang mengembangkan waralaba dibidang property inipun ingin agar bisnisnya bisa memotifasi orang lain untuk bisa terjun menjadi wirausahawan. Diapun yakin, dengan makin berkembangnya bisnis waralaba di Indonesia, akan membuka mata banyak orang tentang peluang bisnis dibidang kewirausahaan. Baginya, sebagai seorang wirausahawan, tantangan terbesar adalah bagaimana dirinya bisa menciptakan entrepreneur-enterepreneur baru. Jadi bukan hanya fokus terhadap bisnis yang digeluti saja, tapi seorangentrepreneur pun harus bisa menumbuhkan jiwa kewirausahaan lewat produk yang ia pasarkan.

 

Bagi Subagio, menjadi pengusaha adalah sebuah mimpi yang harus diraih. “Untuk jadi pengusaha itu kita harus punya impian. Seorang pengusaha akan sukses jika memiliki visi yang jelas dari bisnisnya. Lalu kita harus punya hasrat, itulah yang akan membuat kita semangat untuk mengejar mimpi kita. Selanjutnya, kita harus kerja keras dengan semangat yang juga tinggi. Terakhir, jangan lupa berdoa karena bagaimanapun Tuhanlah yang memberi kita jalan yang terbaik,” ujarnya, menutup perbincangan. (*/Gentur)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/exclusive-interview.html?start=6

Soegianto Pendiri Sedapur.com, Keluar Dari Zona Nyaman Sebagai Karyawan Demi Mengejar Impian Menjadi Social Entrepreneur

Berbekal keinginan untuk memberikan manfaat bagi sebanyak mungkin orang di sekitarnya, Soegianto meninggalkan zona nyamannya sebagai seorang karyawan menuju ranah baru yang lebih sesuai panggilan hatinya: entrepreneurship sosial.

Saat Anda pertama kali menemui Soegianto, yang akrab disapa Soegia, tampak seseorang yang berperangai tenang, tipikal seseorang dengan kepribadian  pendiam. Namun jangan salah sangka, saat Anda terus berinteraksi dengannya, Anda akan tahu bahwa anak muda pendiam ini bisa berubah begitu antusias dan banyak bicara bahkan hingga menggebu-gebu saat diajak berbicara mengenai dunia entrepreneurship sosial dan bisnis barunya, Sedapur.com.

Sedapur merupakan bisnis baru yang digagas Soetrisno (kakak) dan Soegianto yang baru saja berdiri tahun lalu. Bisnis ini bergerak dalam bidang e-commerce dalam bidang makanan. Menurutnya, e-commerce dalam dunia kuliner memiliki kekhasan sendiri karena Indonesia menyimpan potensi kekayaan kuliner yang begitu tinggi.

Ditemui CiputraEntrepreneurship.com dalam sebuah wawancara kemarin siang (26/10/2011) di kawasan Casablanca, pendiri Sedapur.com ini tampak asyik dengan ponsel pintar dan tablet PC-nya. Tak heran karena selain memiliki passion dalam dunia kuliner, ia juga mengakrabi teknopreneurship. Berikut adalah cuplikan wawancara yang berlangsung hangat  kemarin.

Sedang sibuk dengan kegiatan apa sekarang?
Baru-baru ini kami mengikuti dan menang di Nokia Entrepreneur Fellowship. Kami sebagai pemenang akan mendapatkan peluang untuk berkunjung ke Inggris, untuk mengikuti semacam bootcamp yang diadakan bersamaan dengan “Entrepreneurs Day” di sana. Ini kesempatan bagus karena sejumlah peserta dari Silicon Valley juga akan hadir.

Entrepreneurship sosial (social entrepreneurship) adalah bidang yang Soegia geluti. Menurut Soegia apa itu entrepreneurship sosial?
Pertumbuhan bisnis yang juga membawa ekosistemnya bertumbuh. Jadi tidak hanya tumbuh sendiri menjulang tetapi ekosistemnya juga tumbuh bersamaan. Dan yang paling saya sukai dalam entrepreneurship sosial adalah bahwa Corporate Social Responsibility (CSR) sudah menyatu dan menjadi urat nadi perusahaan, bukan hanya sebuah bagian kecil dari upaya pemenuhan kewajiban pemerintah dalam bidang sosial. Pertumbuhan bisnis dengan begitu tidak hanya diukur dari jumlah uang yang masuk saja tetapi juga seberapa besar perusahaan tersebut memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitarnya.

Apa yang membuat mas tertarik menekuni entrepreneurship sosial?
Awalnya saya membaca koran dan saya baca bahwa ada ratusan anak kurang gizi di Jakarta Utara. Saya yang tumbuh dan tinggal di Jakarta merasa hal ini merupakan sebuah tamparan. Bagaimana saya yang tinggal di Jakarta selama bertahun-tahun sejak lahir tidak mengetahui kenyataan menyedihkan yang terjadi di sekitar saya? Saya terpikir untuk memberi makanan pada mereka. Saya terinspirasi oleh ajaran dalam agama saya, bahwa untuk memberikan kontribusi yang nyata dalam masyarakat hanya perlu dilakukan dengan memberdayakan apa yang kita miliki semaksimal mungkin. Meskipun secara logika kita tidak mungkin membantu menyelesaikan masalah orang lain, dengan bantuan Tuhan semua bisa terjadi jika dilaksanakan dengan sepenuh hati.

Bisa Soegia jelaskan apa yang harus dilakukan seorang ibu rumah tangga untuk bergabung dengan Sedapur.com?

Mereka bisa mendaftar di situs sedapur.com atau menghubungi kami via telepon. Kami juga bertindak sebagai konsultan yang berusaha memahami masalah-masalah yang mereka hadapi. Kebanyakan mereka merasa kesulitan dengan pengantaran, produk yang tidak terfoto dengan baik, dan sebagainya. Jika mereka memberikan foto produk yang seadanya, kami akan bantu dengan melakukan foto ulang dengan hasil yang lebih profesional sehingga akan lebih menarik konsumen.

Berapa orang yang ada dalam tim Sedapur.com sekarang ini?
Kami satu admin, 2 marketing consultant, 2 pengembang situs. Setiap industri rumah tangga akan memiliki toko/ gerai di Sedapur.com tetapi sebelum itu akan dibantu agar produknya lebih layak jual di Sedapur. Pendiri Sedapur adalah Soetrisno, saya, Hadiyanto, Jacky Lokan, Adam Jaya Putra dan Didik Wicakasono.

Tentang perpindahan dari fase karyawan menuju entrepreneur, bagaimana Soegia dulu menjalani transisi tersebut?
Sebelum saya menjalankan Sedapur, saya bekerja selama 6 tahun di perusahaan lain. Beberapa tahun lalu saat saya berusia 29 tahun, saya  merasa terpanggil untuk mewujudkan impian yang bisa membantu saya di luar dunia pekerjaan sebagai karyawan, saya tidak mau menyesal suatu hari nanti karena tidak sempat mengejar impian itu. Saya saat itu tertarik untuk mengerjakan sebuah proyek sosial, membuat SOP pipa air untuk sebuah daerah di Gunung Kidul. Di sana, di luar tembok kantor saya berusaha memahami apa yang ingin saya kejar dalam hidup.

Yang menarik adalah saya dulu menabung untuk biaya pendidikan S2 saya. Dan kemudian karena saya ingin menekuni usaha ini, saya curahkan semua tabungan itu ke Sedapur. Jadi bisa dikatakan dua tahun saya selama ini di Sedapur setara dengan dua tahun menempuh pendidikan di bangku kuliah formal. Bedanya, saya tidak memiliki gelar akademis layaknya lulusan S2 tetapi saya memiliki sebuah usaha dan saya berhak disebut entrepreneur.

Selain dalam bisnis kuliner, ada bidang lain yang ditekuni?
Selama ini saya suka dengan dunia teknologi bahkan sejak sekolah dasar. Sayang saya tidak bisa mengikuti pendidikan di bidang itu saat kuliah.
Tetapi  pada suatu hari kakak saya memberikan sebuah modal usaha. Saya pikir saya akan diberi modal uang, ternyata saya diberi sebuah blog. Kata kakak saya, “Kamu punya visi, tulis di blog agar tidak hilang, dan bisa tersampaikan dan tersebar ke orang lain.” Saya yang saat itu belum tahu apa itu blog dan WordPress, akhirnya terpaksa belajar mengenai dunia blogging. Hal ini pada gilirannya mendorong saya untuk menjadi seorang teknopreneur.

Pesan untuk mereka yang ingin memulai usaha sendiri?
Yang selama ini saya telah pelajari, saya tahu bahwa ide itu murah. Yang mahal adalah eksekusinya. Teruslah bermimpi. Dan beranikan diri untuk menjadi pengeksekusi, bukan pemimpi.
Buktinya ide Sedapur ini saya pikir adalah ide yang localized, hanya ada di sini. Tetapi setelah saya  baca, di luar negeri juga ada usaha semacam ini. Hanya bedanya mereka lebih menjurus ke hasil pertanian, sementara Sedapur lebih fokus  ke masakan jadi.
Jadi meskipun kami dan mereka berada di tempat yang berbeda dan memiliki budaya yang berbeda, ide itu bisa sama persis. Yang membedakan hanyalah bagaimana realisasinya. Tidak ada ide yang 100% baru, yang ada hanyalah seberapa maksimal kita mampu mengeksekusinya.

Punyakah Soegia figur entrepreneur yang menginspirasi?
Sosok yang paling dekat yang paling menginspirasi saya adalah ayah dan kakak saya, Soetrisno. Ayah saya adalah wirausahawan yang tangguh, mengalami jatuh bangun beberapa kali dalam krisis-krisis, toh masih terus bangkit. “Kerja bagus saja tidak cukup!” begitu ayah saya selalu katakan. Meski bangga dengan apa yang saya kerjakan sekarang (menjadi entrepreneur), ayah saya awalnya kurang setuju dengan Sedapur karena terlalu idealis dan memikirkan orang lain. Kakak saya sendiri ialah orang yang mencetuskan dan mengajak saya untuk menggarap ide Sedapur ini. Figur entrepreneur inspiratif lainnya ialah Ir. Ciputra.

Apa yang membuat Anda menikmati dunia entrepreneurship?
Dahulu semasa menjadi karyawan, saya tidak pernah atau jarang sekali bertemu dan berbincang-bincang dengan banyak pebisnis hebat. Mereka kemungkinan kecil bisa saya temui karena kesibukan yang begitu menyita waktu. Tetapi justru setelah saya menjadi entrepreneur seperti sekarang, saya menyadari saya justru bisa berkomunikasi dengan mereka lebih leluasa. Saya seperti diantarkan menuju sebuah cakrawala baru dalam hidup. (*/Akhlis)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/exclusive-interview.html?start=4

Wahyu Aditya, Memutuskan Berhenti Jadi Karyawan dan Kini Sukses di Bisnis Multimedia Lewat HelloMotion

Industri kreatif, khususnya animasi, saat ini memang belum terlalu populer sebagai sebuah peluang bisnis di Indonesia. Namun, bukan berarti industri keratif kurang diminati oleh masyarakat, khususnya kaum muda. Dengan makin berkembangnya teknologi yang ada, maka makin tinggi pula minat dan peluang bisnis yang bisa ditawarkan oleh industri kreatif.

Hal itulah yang coba digarap oleh Wahyu Aditya, seorang entrepreneur muda yang bergerak dibidang bisnis kreatif, khususnya animasi. Melalui ranah multimedia, Adit, begitu ia biasa disapa, mencoba untuk memopulerkan animasi dan mengembangkan potensi diri kaum muda yang tertarik menjadi seorang animator. Dengan ketekunannya, Adit yang juga pemilik dan pendiri HelloMotion Academy telah menularkan “virus” kreatif kepada para siswa didiknya, yang bisa menjadi bekal sang siswa berkarir di industri kreatif.

Sejak kecil, Adit memang telah jatuh cinta terhadap dunia menggambar dan desain. Ia pun makin serius mengejar cita-citanya menjadi seorang desainer dengan mengambil jurusan desain dan multimedia, di salah satu universitas di Australia. Pulang ke Indonesia dengan membawa predikat mahasiswa terbaik, Adit lantas memilih untuk berkarier di Trans TV sebagai salah satu staf marketing promosi, yang menvisualisasikan ide dalam bentuk cetak maupun broadcast.

Saat bekerja di stasiun televisi itulah Adit melihat besarnya peluang untuk mengembangkan industri animasi di Indonesia. Menurutnya, saat itu tidak terlalu banyak institusi pendidikan kreatif yang sesuai dengan jiwa anak muda, seperti dirinya. Padahal, peluang untuk berkarier di bidang animasi masih cukup besar dan itu bisa menjadi peluang bisnis yang baru.

“Ambisi saya ingin mengembangkan industri kreatif, khususnya animasi di Indoensia. Ketika saya bekerja di stasiun TV, saya melihat namimasi Indonesia di layar kaca kurang banyak. Jadi saya harus memperbanyak orang yang paham animasi. Semakin banyak yang mengerti, akan semakin banyak lagi karya animasi di Indonesia. Saya punya imajinasi dan khayalan, yang jika saya kerja di kantoran akan terbentur dengan kepentingan perusahaan,” ucap Aditya saat dijumpai Ciputraentrepreneurship.com di kantornya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

Dengan bermodal tekad yang bulat, pada tahun 2004, Adit pun berhenti bekerja dan fokus menjalankan sekolah animasinya HelloMotion Academy. Sebagai seorang pekerja seni yang masih berusia sangat muda saat itu (24 tahun), Adit mengaku nekat saat awal membuka bisnisnya. Hal itu karena ia sama sekali tidak mempunyai pengalaman berbisnis, dan ia juga harus mengeluarkan modal yang tidak sedikit, Rp. 400 juta, untuk memulai usahanya.

“Awalnya, saya kelola sendiri usaha saya. Usia saya yang masih muda dan status saya yang masih lajang, membuat saya berani untuk terjun ke bisnis ini. Setelah saya menjadi seorang wirausahawan, saya pun harus melahap ilmu-ilmu yang dulu saya benci seperti ekonomi, akutansi dan manajemen. Bagi saya, itu juga salah satu bentuk kenekatan saya waktu itu,” jelas Adit, sambil tersenyum.

Nama HelloMotion sengaja dipilih karena Adit ingin bisnisnya menjadi gampang diingat, simple, dan tak terkesan formal. Selain itu, nama “motion” atau gerakan, melambangkan ide kreatif yang selalu bergerak dan terus berinovasi. Sebagai seorang yang pernah terjun dalam industri bisnis multimedia, Adit merasa ilmu dan pengalaman ia dapatkan akan sangat berguna untuk dibagi. Dari sana juga, Adit mengkonsep sebuah kurikulum yang aplikatif dan siap dipakai di industri multimedia. Tidak hanya untuk bekerja di dalam perusahaan saja, banyak juga dari lulusan HelloMotion Academy yang kini membuka usahanya sendiri dibidang multimedia. Kini, HelloMotion Academy menjadi sebuah nama yang cukup disegani dan terkenal sebagai penyalur tenaga kretif untuk industri televisi dan film.

Dalam menjalani bisnisnya, Adit banyak belajar tentang bagaimana cara mengelola sebuah lembaga pendidikan agar bisa berjalan dengan professional. Hal ini menjadi tantangan baginya, karena sebagai seorang entrepreneur ia pun ingin agar bisnis yang dikelolanya bisa mendapatkan profit yang baik. Salah satu langkah yang dipakainya adalah dengan terus memperbaiki kualitas kurikulum dan manajemen usahanya.

“Selain itu saya juga tak ragu untuk minta masukan dari murid-murud saya. Saya percaya, seorang wirausahawan harus bisa mengetahui apa yang dibutuhakan pelanggan dan apa yang bisa membuat mereka nyaman,” ujar Adit.

Untuk memperkuat image HelloMotion, Adit pun mengembangkan sejumlah inovasi dan strategi, yang salah satunya adalah melalui event. Sebuah festival animasi yang diberi nama Hellofest, rutin diselenggaran tiap tahunnya. Dari delapan perhelatan yang telah digelar, animo pesertanyapun terus bertambah tiap tahunnya. pada event terakhir, jumlah peserta yang datang bahkan mencapai 9.000 peserta.

Beragam penghargaan pun telah menghiasi portofolio pria kelahiran Malang, 30 tahun silam ini. Salah satunya adalah penghargaan International Young Creative Entrepreneur of The Year 2007 untuk kategori Screen. Dengan terus berkarya, Adit berharap bahwa karyanya dan siswa-siswa didiknya bisa menembus pasar global, sehingga Indonesia bisa dikenal sebagai salah satu negara pencetak animator kelas dunia.

Untuk mengejar ambisinya, Aditpun berencana untuk melebarkan sayap dengan mendirikan beberapa cabang di sejumlah kota besar di Indonesia. Baginya, bukan hal yang mustahil, suatu saat nanti, Jakarta bisa menjadi barometer industry kreatif dunia. Untuk melebarkan bisnisnya ke depan, Adit tak menutup adanya peluang kerjasama dengan investor yang ingin bergabung. Namun, Penting baginya sebuah kesamaan visi dan misi, sebelum memulai kerjasama.

“Bagi saya kerja sama bisnis itu sama seperti menikah. Artinya, tidak segampang kita membuka pameran waralaba lalu menawarkan bisnis kita ke siapa saja yang tertarik. Saya harus mengenal betul investor saya, dan harus yakin bahwa dia memiliki visi yang sama seperti saya. Mungkin, saat ini saya belum bertemu dengan jodoh yang cocok,” jelas Adit.

Sebagai wirausahawan penggiat seni kreatif, Adit mencoba untuk menawarkan sebuah jalan lain bagi mereka yang juga jatuh cinta kepada dunia animasi. Dan dari animasi juga, Adit pun mulai merintis jalan suksesnya sebagai seorang entrepreneur. “Kita harus bekerja sesuai lentera jiwa kita. Karir itu seperti berjalan di kegelapan, jadi kita harus punya pegangan yang jelas akan hidup kita. Bagi saya, lentera yang saya miliki adalah gairah saya terhadap desain dan seni. Itulah yang menuntun saya untuk keluar dari kegelapan, dan semakin lentera kita makin diasah dan makin terang, kita akan bisa melihat banyak peluang. Itu filosofi yang saya pakai untuk karier saya,” ucap Adit dengan yakin. (*/Gentur)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/exclusive-interview.html?start=3