Monthly Archives: April 2012

Yono, Mantan Sopir yang Sukses Menggeluti Bisnis Telor Asin

Seringkali orang menganggap bahwa untuk memulai suatu usaha tidaklah mudah. Diperlukan ketelatenan, keuletan, disiplin dan pantang menyerah, sehingga sering membuat beberapa orang ragu-ragu untuk memulai suatu usaha. Beberapa persyaratan tersebut, ternyata dapat dilakukan oleh Wiyono Hadi, sehingga ia  berhasil dalam merintis usaha pembuatan telur asin. Di sela-sela kesibukannya sebagai sopir bis dan sopir mobil carteran, lelaki yang akrap disapa Yono ini hanya dibantu istri dan keempat anaknya telah berhasil dalam menggeluti usaha ini sejak tahun 1978.

Menurut Yono, usaha telur asin tersebut pertama kalinya dirintis oleh  orangtua istrinya sekitar tahun 1970 di Purwokerto. Ketika itu ia belajar cara membuat telur asin dari orang tua Suwarni.  Kemudian pada tahun 1978 sepasang suami istri ini pindah ke Sragen dan memulai usaha telur asinnya. Untuk bahan baku berupa telor bebek , ia mengambil dari berbagai daerah di Sragen seperti Taraman, Plupuh dan Perum Margo Asri.  Setiap kulakan telor berkisar antara Rp1.000-1.500 butir telur yang dihargai Rp1.000/butir dari pemasok tetapnya.

Keuntungan yang didapat Yono diambil dari dari perhitungan selisih harga kulakan telur dengan harga telur asin yang sudah jadi dan dijual kembali Rp1.400/butirnya.

Untuk setiap produksi, keluarga pak Yono menghasilkan 600 butir telur asin. “Kami menghasilkan 600 butir telur asin dalam setiap angkatan yang kami setor ke berbagai langganan kami, seperti supermarket Luwes, toserba Seka, toserba Dian, pasar, dan sebagainya,”  katanya.

Tidak hanya di wilayah Sragen saja, Yono memasarkan  telor asinnya, namun sudah sampai keluar daerah seperti ke Kartosuro. Dari usaha pembuatan telor asin tersebut, Yono mampu meraup keuntungan, yang cukup  untuk membiayai kehidupan keluarganya. Keberhasilan usahanya tersebut telah mendapat apresiasi dari pemerintah, yakni pada  tahun 2001 lalu, mendapat kesempatan untuk  dikunjungi oleh Menteri Peranan Wanita RI pada waktu itu, yaitu  Sri Rejeki yang  didampingi oleh Bupati Sragen, H. Untung Wiyono.

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/6866-yono-raup-laba-dari-telur-asin.html

Tirto Utomo, dan Kisahnya Merintis Pelopor Air Minum Kemasan ‘Aqua’

Siapa orang Indonesia yang tidak mengenal Aqua? Merk ini sangat dikenal masyarakat di seluruh daerah dari perkotaan sampai dengan pedesaan. Aqua menjadi pelopor air minum dalam kemasan di Indonesia, hal ini didasarkan ide Tirto Utomo selaku melihat peluang dalam industri air minum. Saat itu di Indonesia kekurangan air bersih siap minum. Hal ini disadarinya ketika istri salah satu kenalannya yang merupakan ekspatriat sakit setelah minum air di Indonesia. Kalangan ekspatriat adalah pasar yang dapat langsung dilayani produk Aqua. Saat itu banyak orang asing yang datang ke Indonesia tidak berani minum minuman dingin. Memang hanya terdapat air yang dimasak sendiri untuk minum.

Pada masa awal, Aqua menetapkan target segmen orang asing yang sedang makan di tempat makan Jakarta. Restauran dan hotel membeli Aqua dalam kemasan beling. Penjualan mencapai 2.5 juta liter pada tahun 1980, tetapi saat itu perusahaan belum memiliki jaringan distribusi untuk kemasan ini untuk wilayah di luar Jakarta. Perusahaan mengambil langkah antisipasi mengenai hal ini dengan menggunakan kemasan sekali pakai. Dengan kemasan ini, Aqua mengalami peningkatan penjualan terutama untuk wilayah operasional luar Jakarta. Kemasan diubah kembali diubah kembali dengan memakai bentuk lingkaran. Bentuk yang baru ini memungkinkan kemasan Aqua lebih mudah disimpan dan secara dramatis memperbaiki penampilan kemasan produk.

Pada tahun 1985, Aqua memulai kompetisi dengan minuman ringan. Kompetisi ini ditandai saat Aqua mulai memperkenalkan kemasan 220 ml. Kemasan ini yang sangat mendongkrak penjualan, dalam waktu setahun Aqua mencapai penjualan 42 juta liter dalam produk air kemasan.

Aqua kembali memperkenalkan kemasan baru pada tahun 1987. Kemasan terbuat dari bahan PET dan memiliki beberapa keunggulan bila dibandingkan kemasan sebelumnya seperti:

  • Bahan kemasan baru memiliki tingkat kejernihan lebih baik, bahan ini membuat air dalam kemasan terlihat jauh lebih bening
  • Ruang masuk untuk gas lebih sedikit, hal ini membuat isi kemasan lebih toleran pada perubahan atmosfer sekitar kemasan
  • Kemasan lebih kuat dan tahan lama
  • PET memberikan dampak yang lebih sedikit pada lingkungan daripada kemasan sebelumnya

Keberhasilan pemasaran perusahaan dimulai saat penentuan nama merk. Tirto memberi Aqua yang diambil dari bahasa latin yang berarti air. Di satu pihak, para orang asing yang datang Indonesia dapat mengerti makna Aqua dan di lain pihak dapat diterima dengan baik di kalangan orang Indonesia. Nama ini dianggap netral dan tidak menyerupai salah satu bahasa daerah yang digunakan di negara kita. Selain itu, nama Aqua cukup mudah diucapkan oleh orang-orang dari berbagai suku.

Image sangat penting di sini karena Aqua menyediakan air tanpa rasa dan manfaat seperti minuman berenergi. Oleh karena itu perusahaan harus berusaha keras untuk membangun image perusahaan. Pertama kali perusahaan memakai slogan “bersih, bening, dan bebas bakteri” pada empat tahun pertama. Namun slogan ini tidak banyak membantu kinerja perusahaan. Pada tahun 1979, Aqua mengganti slogannya menjadi “air sehat setiap saat”, slogan inilah yang lebih efektif memberikan dampak signifikan bagi perusahaan.

Meski awalnya hanya menargetkan konsumen kalangan ekspatriat, setelah dilakukan tes pasar berbagai kalangan masyarakat ternyata bersedia untuk membeli produk perusahaan. Hasil tes cukup mengejutkan karena respon positif juga datang dari konsumen di terminal-terminal bus, daerah pinggiran, dan kota kecil di sebagian wilayah Indonesia. Hasil tes ini memberikan kepercayaan diri perusahaan untuk menjual produk. Peforma baik operasionalisasi perusahaan menjadikan Aqua pemimpin pasar pada kategori air minum dalam kemasan sampai saat ini.

Artikel ini diadaptasi dari buku Cases in Strategy Management terbitan Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada

sumber: http://the-marketeers.com/archives/84-awal-kisah-hidupnya-merk-aqua.html

Irhamsyah, Bermodal 150 Ribu, Lulusan STM Ini Sukses Dengan Warung Bambu “I’am” dan Kini Punya Ratusan Karyawan

Irhamsyah Putra Pohan adalah seorang pengusaha muda di Binjai. Dia jadi pengusaha berhasil karena terbentuk oleh keadaan. Sang ibu, Siti Aminah, telah mengenalkan bisnis makanan pada Irhamsyah kecil.

Nah, kenyataan itu membuat dirinya berpikir. Ia sangat penasaran, kenapa usaha sang ibu tidak menjadi usaha yang besar. Keinginan untuk maju di bidang tata boga, sejatinya sangat berlawanan dengan disiplin ilmu yang dikuasai Irhamsyah. Ia bersekolah di Sekolah Tehnik Menengah jurusan Elektronik. Meski begitu, perbedaan ilmu bukanlah kendala. Yang paling penting dalam dirinya adalah membuat usaha ibunya maju dan dia bisa mengubah nasib.

Nah, berangkat dari kepenasaran itu, Irhamsyah melakukan riset kecil-kecilan. Ia meneliti menu masakan yang ada di Binjai. Ia menemukan bahwa di Binjai banyak tanaman bambu. Ia pun mulai membuka warung. Dengan bermodalkan uang sebesar Rp150 ribu, ia membuka warung dengan bahan yang terbuat dari bambu di tempat yang masih disewanya pada tahun 1994, di Jalan Samanhuddi, Kecamatan Binjai Selatan.

Setelah warung bambunya selesai, Irhamsyah Putra Pohan menambah menu makanan yang belum ada di Kota Binjai. Menu makanan yang baru itu diambilnya dari luar Kota Binjai yakni mieso dan bakso. Hal ini dilakukannya untuk menyajikan kepada masyarakat Binjai makanan yang belum pernah dirasakan. Dan, warungnya itu pun dia labeli I’AM. Bukan mau kebarat-baratan, namun ia memilih nama itu sebagai usaha untuk kemampuan dan kemauan diri untuk maju.

Hasilnya, tak sampai dua tahun, warung I’AM miliknya telah memperkerjakan 100 karyawan. Bahkan, Irhamsyah sudah dapat menggaji karyawannya sesuai dengan Upah Minimum Regional (UMR). Kemajuan usahanya tak terbendung, pada tahun 2000, tempat yang sebelumnya disewa, pun berganti tangan dengan namanya. “Di sekitar lingkungan saya saat itu masih banyak bambu, sehingga timbul di dalam pikiran saya agar membuat warung yang terbuat dari bambu. Sehingga, dengan modal Rp150 ribu saya dapat mendirikan warung itu sampai sekarang ini,”ujar Irhamsyah.

Irhamsyah yang juga sebagai Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Binjai, mengaku kemajuan usaha yang dibuatnya bukan karena modal semata. Tetapi, dengan keberanian dan kemuan serta kerja keras juga diperlukan untuk memajukan usahanya itu. “Usaha tentunya menghadapi kesulitan. Namun, bagaimana cara kita belajar dari kesulitan itu untuk menuju kesuksesan. Bagi saya, kunci membuka usaha agar berhasil, berangkat dari keberanian, kemauan, kerja keras, dan terus belajar menciptakan ide-ide baru,” kata Irhamsyah.

Usaha Irhamsyah terus melaju dan pada tahun 2009 ia membangun cabang warung bambu I’AM di Jalan Sultan Hasanuddin, Kecamatan Binjai Kota. Dengan menu khas warung bambu I’AM, seperti gulai asam baung, dan nasi goreng 15 rasa, serta ditambah menu khas lainnya. Menu khas tersebutlah yang membuat cabang warung bambu I’AM diminati dan terus dipadati oleh masyarakat yang ada di Kota Binjai maupun di luar Kota Binjai. Bahkan, Irhamsyah mengungkapkan, aset yang dihasilkannya dari warung bambu itu sampai saat ini mencapai Rp2,5 miliar.

“Untuk terus menumbuhkembangkan usaha ini saya akan terus mencari menu baru yang sesuai dengan lidah masyarakat Kota Binjai. Namun, untuk mencari menu baru itu, memang memakan waktu. Nanti, kalau sudah ada, boleh kita makan bersama,” ungkap Irhamsyah sambil tersenyum. (*/hariansumutpos)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/6950-lulusan-stm-elektronik-berhasil-di-tata-boga.html

Sunarto, Mulai Usaha Kupat Tahu ‘Mang Oman’ Bermodal 200 Ribu, Kini Bisnisnya Merambah Berbagai Jenis Usaha

Awalnya Ato Sunarto menjalani bisnis untuk mencari penghasilan tambahan. Tetapi sekarang, bisnisnya justru menjadi sumber pendapatan utama. Apa kiat sukses bisnis Ato?

“Teman-teman kasih saran agar saya fokus dalam bisnis. Kalau tidak, bisa berantakan. Tetapi, saya punya pandangan berbeda. Saya tidak harus fokus, sebab saya punya orang-orang yang fokus. Mereka yang ngurusin bisnis saya, siang malam,” ujar Ato Sunarto, pemilik usaha kupat tahu bandung ‘Mang Oman’ di warungnya di kawasan Kota Jababeka, Cikarang, belum lama ini.

Di kawasan Jababeka itu, Ato memiliki tujuh unit usaha dengan berbagai jenis bisnis. Mulai dari warteg, warung bakso, tempat cucian motor, tempat kursus Bahasa Inggris, bisnis tanaman hias, dan distributor minuman. “Semua berlokasi dekat kantor saya sehingga mudah mengontrol bisnis itu,” kata ayah tiga anak itu.

Bisnis-bisnis yang dikembangkan Ato itu semuanya berskala kecil. Kelas warungan. Paling tinggi sekelas ruko dengan modal kerja antara Rp 15 juta sampai Rp 50 juta. “Pertama kali saya buka usaha, modalnya ya seadanya saja. Usaha pertama, kupat tahu bandung. Saya mulai usaha itu dari rumah, dengan memanfaatkan perabotan yang ada di rumah. Modal kerjanya hanya Rp 200.000,” ujar Ato yang memulai bisnis pada tahun 2005 itu.

Belakangan model bisnis yang dikembangkan Ato itu dicoba ditularkan kepada masyarakat yang berminat menjadi wirausaha. Usaha Ato itu dilakukan lewat kegiatan pelatihan gratis “Cara Cepat Buka Usaha Pake Jurus APH (Action, Pikir, Hitung).” Kegiatan itu dimulai Maret 2010.

Melalui pelatihan itu, Ato ingin menyampaikan pesan kepada karyawan yang berminat membuka bisnis agar jangan terlalu banyak pikir dan berhitung untuk memulai bisnis. “Kuncinya action. Setelah itu pikir dan hitung. Soal modal? Nggak usah pusing. Usahakan kita pake apa yang ada saja. Dalam bisnis yang penting bukan modal besar tetapi mimpi, semangat, dan langkah yang besar,” ujar Ato.

Selain sebagai pengusaha sukses, Ato yang pernah bekerja lima tahun sebagai bankir itu kini masih tercatat sebagai karyawan pada perusahaan kawasan industri di Cikarang. “Kata orang, saya ini amfibi karena hidup dalam dua dunia berbeda. Sebagai karyawan dan pengusaha. Itu tidak masalah. Sebab, saya nyaman dan menikmati prosesnya,” ujar suami Yuli Nugrah Heni itu.

Ato bersyukur perusahaan tempatnya bekerja tidak melarang karyawannya berbisnis, malah memberi dukungan. “Semula, saya juga berbisnis di bidang properti. Tetapi, dalam perkembangannya, saya stop dulu karena khawatir terjadi konflik kepentingan. Pasalnya, tempat saya bekerja juga bergerak dalam bidang properti. Maka, kini saya arahkan bisnisnya pada bidang lain, terutama kuliner,” katanya.

Kebetulan bisnis pertama Ato adalah kupat tahu Bandung. “Ide usahanya berawal dari acara selamatan rumah saya. Pada acara itu, antara lain, disajikan kupat tahu, buatan paman saya, Pak Oman. Lalu, muncul ide, kenapa tidak dagang kupat tahu saja. Tetangga suka dengan makanan tradisional dari Ciamis itu,” ujar Ato.

Saat ini, rumah tinggalnya itu —Jalan Rusa Raya— sudah disulap menjadi tempat usaha. Ato pindah rumah ke tempat yang tidak jauh dari situ. “rumah ini direnovasi untuk tempat usaha setelah pasarnya jelas. Awalnya, lakunya masih sedikit 10 porsi. Semuanya dikerjakan sendiri. Lalu, naik kelas, mulai pake gerobak bekas yang saya beli Rp 500.000. Semuanya melalui proses. Step by step, tidak bisa langsung gede,” ujar Ato.

Untuk mencapai sukses, seseorang perlu waktu dan kesabaran dalam perjalanan bisnisnya. Ibarat roda pedati, kadang berada di atas, kadang berada di bawah. “Saya bersyukur semua usaha saya menguntungkan. Mulai dari warteg hingga tempat kursus bahasa Inggris. Tetapi, jangan salah, saya berapa kali bangkrut. Nggak usah kaget. Itu risiko bisnis. Kita harus berpikir positif agar bisa mengambil hikmah dari peristiwa itu,” kata Ato.

Nilai lain yang dipegang Ato dalam berbisnis adalah berani berinovasi. Tidak heran bila pasarnya terus berkembang. Contohnya, membuat promosi saat hari-hari tertentu, seperti Hari Ibu dan Hari Kartini. Dan, Ato masih punya banyak trik bisnis. Kreativitas itu yang membuat pundi-pundi milik karyawan perusahaan properti itu makin penuh. (*/Warta Kota)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/7391-fokus-dalam-bisnis-kunci-sukses-ato-sunarto.html

Keunikan dan Ciri Khas Produk Kunci Sukses Berbisnis Tahu Ikan Tuna ala Aditya Roby

Tahu telah menjadi salah satu makanan favorit masyarakat Indonesia. Meskipun terkesan murah, makanan yang terbuat dari kacang kedelai ini merupakan favorit berbagai kalangan. Bahkan, saat ini, konsumsi tahu terbilang tinggi. Maklum, selain punya kandungan protein nabati yang tinggi, harga tahu juga masih murah. Dan kini, para pengusaha camilan berbahan tahu pun mengemasnya dengan beragam rasa. Di Ponorogo, Jawa Timur, tahu merupakan camilan yang memiliki cita rasa agak beda karena dibuat dengan menambahkan ikan tuna sebagai bahan baku.

Adalah Aditya Roby si pemilik Tahu Ikan Tuna ini. Ia menyadari bahwa untuk menjual produk yang lebih menarik di pasaran, ia perlu menambahkan suatu ciri khas sebagai pembeda. “Perbedaan rasa akan membuat tahu saya memiliki ciri khas,” ujarnya.

Karena itu, Aditya meramu rasa tahu dengan tambahan ikan tuna dan racikan bumbu serta tepung agar tahunya terasa gurih dan enak. “Para pembeli tahu tidak hanya mengenal tahu buatan saya terasa enak tapi juga sarat akan gizi karena mengandung ikan tuna,” ungkap Aditya. Selama ini, ia tak pernah kesulitan memperoleh stok ikan tuna karena ia bekerja sama dengan temannya untuk memperoleh bahan baku ikan tuna. Meskipun tahu buatan Aditya agak lebih mahal dibandingkan dengan tahu biasa, tapi produknya ini tetap menjadi pilihan karena kandungan gizi yang tinggi.

Aditya pun telah menawarkan kemitraan Tahu Ikan Tuna sejak setahun lalu. Kini ia telah memiliki 18 mitra. Para mitra itu tersebar di Pulau Jawa, Jambi dan Kalimantan. Mitra yang bergabung dengan Tahu Ikan Tuna tertarik karena rasa tahu yang berbeda. “Mitra kami yakin mampu bersaing dengan
para penjual tahu yang lain,” jelas Aditya.

Selain itu, nilai investasi kemitraan ini cukup murah. Aditya mematok nilai investasi Tahu Ikan Tuna sebesar Rp 2,5 juta. Ia tak mengutip biaya royalti pada calon mitra. “Mereka cukup membeli bahan baku ke pusat setiap minggu, dengan nominal sebesar Rp 1,5 juta hingga 2 juta,” ujarnya.

Dari dapurnya, Aditnya mengirimkan bahan baku per paket sebanyak 300 bungkus. Jumlah ini sengaja dibatasi supaya bahan baku tak cepat basi, mengingat Aditya tak memakai pengawet.

Calon mitra sendiri harus menyiapkan dana sebesar Rp 5 juta. Mereka akan mendapatkan satu unit gerai atau gerobak, satu set kompor gas, satu tungku, dan tabung gas tiga kilogram. Selain itu, mitranya juga mendapatkan satu set alat penggorengan dan paket promosi usaha. Nilai ini, tentu sudah termasuk bahan baku sebanyak 300 bungkus.

Dengan asumsi penjualan Tahu Ikan Tuna sebanyak 50 porsi sehari, dengan harga jual Rp 5.500 hingga Rp 6.000 per porsi, maka mitra bisa meraup omzet Rp 300.000 per hari. Dengan hitungan ini, mitra hanya butuh waktu dua hingga bulan untuk mengembalikan modalnya.

Karena tidak mematok royalti kemitraan, mitra hanya perlu membeli bahan baku sesuai dengan kebutuhan mereka. Setiap bulannya, paket pembelian bahan bakunya mulai dari Rp 4 juta sampai Rp 5 juta.

Aditya pun memaparkan perhitungan, pengeluaran mitra tiap bulan mencapai Rp 7 juta tiap bulan. Rinciannya, pembelian bahan baku Rp 5 juta, gaji pegawai Rp 1 juta dan sewa tempat Rp 1 juta. Dari sini, mitra bisa memperoleh laba sekitar Rp 2 juta setiap bulan. (*/Kontan.co.id)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/7459-aditya-roby-sukses-berisnis-tahu-ikan-tuna.html