Djamaluddin, Bermodal 3 Jt, Dodol Lidah Buaya ‘Barokah’-nya Kini Menjadi Oleh-oleh Khas Pontianak


Tanaman aloe vera mempunyai khasiat yang banyak. Tidak semua orang, meski yang sudah pernah mengonsumsinya tahu manfaat lidah buaya. Tanaman ini terasa pahit. Tapi Djamaluddin (32 tahun) berhasil mengolahnya menjadi panganan legit nan lezat yakni berupa dodol.
Putra pertama pasangan Rohadi dan Asmawati ini telah cukup lama berkecimpung mengelola bisnis dodol lidah buaya. Pemuda yang tinggal di rumah toko kontrakan di Jalan Budi Oetomo, Pontianak ini memulai merintis bisnisnya tujuh tahun yang lalu. Kala itu, Djamal—demikian ia disapa—yang masih kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen dan Ilmu Komputer Pontianak, bertekad untuk menyelami dunia bisnis. Dengan pengalaman bisnis yang terbilang minim dan uang Rp3 juta, dia memulai usahanya.

 

Sebelumnya, dia tidak begitu mengenal aloe vera apalagi sampai tahu bahwa tanaman berlendir itu bisa diolah menjadi makanan. Namun, dia dipertemukan dengan Mamad yang kemudian menjadi rekan bisnisnya. Pengalaman Mamad yang pernah bekerja sebagai pekerja di industri pengolahan lidah buaya itu dikolaborasikan dengan modal Djamal hingga akhirnya mereka mendirikan sendiri bisnis pembuatan dodol berbahan baku lidah buaya.

 

Awalnya, produksi dilakukan di rumah Roby kenalan mereka yang kemudian bergabung dalam ikatan bisnis bersama dengan Djamal dan Mamad. Produk mereka lantas diberi nama “Barokah”. Tak hanya sekedar fokus pada proses pengolahan, ketiganya juga harus namun meraka masih harus berjuang keras untuk memasarkan hasil olahannya itu. Dari toko kecil hingga toko besar mereka coba tawarkan produk ini. Ada yang bersedia menerimanya, tapi ada juga yang menolaknya. Namun mereka tidak patah arang. Semangat untuk berhasil tetap mereka pegang erat. Dari semangat besar itulah, mereka dapat menembus pangsa pasar minimarket serta supermarket.
Tidak lama berselang, masalah demi masalah timbul. Ketidaksamaan persepsi serta masalah internal lain yang menyelimuti benak para owner Barokah, membuat Roby dan Mamad memutuskan keluar dari bisnis skala rumah tangga itu. Lokasi produksipun bergeser ke sebuah rumah kontrakan di Jalan Dusti Situs Mahmud Gg Blitar. Ditinggal dua orang rekannya, akhirnya Djamal memutuskan untuk mencari partner yang bisa membantunya dalam hal produksi dan Ary adalah nama orang itu.
Kerikil tajam kembali menghadang langkah Djamal. Ia menerima omongan tak sedap dari orang-orang di sekitar lokasi produksinya. Berkeinginan untuk tetap mempertahankan bisnisnya, Djamal akhirnya memilih mengalah dan pindah ke rumah orangtuanya di Parit Lambau Mega Timur Sungai Ambawang.

Serangkaian cobaan telah berhasil dihadapinya, hingga suatu hari Djamal bisa merasakan manisnya buah dari kesabaran serta perjuangannya. Pada tahun 2010, dia mendapat banyak bantuan dari berbagai pihak. Salah satunya memberikan pengajaran untuk pengolahan lidah buaya di Lombok, Nusa Tenggara Barat serta tawaran mempromosikan produknya ke luar negeri. Kesempatan itu tidak ditolaknya. Diapun menyambangi negara Malaysia dan Brunei Darussalam memperkenalkan dan memasarkan dodol lidah buayanya.

Respon yang diterima Djamal sangat baik. Dari Malaysia dan Brunei, ia memeroleh banyak tawaran untuk memasarkan hasil karyanya di kedua negeri tersebut. Namun, dengan pertimbangan transportasi serta pertimbangan lain, dia memilih untuk menundanya dulu dan tetap fokus memperbesar industri dodol lidah buayanya. Terbukti, Djamal berhasil membangun gudang yang cukup luas untuk tempat produksi dan produk olahan yang semula hanya dodol kini merambah menjadi manisan lidah buaya, teh lidah buaya dan krupuk lidah buaya. Selain itu, bisnis yang dilakoni Djamal juga berimbas pada sesama di lingkungannya. Ia mempekerjakan delapan karyawan tetap dan pegawai non tetap yang membantunya ketika memasuki musim-musim tertentu.

Ayah dari Rabi’ah Al-Adawiah dan suami Fatlun sampai saat ini tetap mempertahankan olahan lidah buaya ini. Walau bersaing dengan aneka macam produk makanan instan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, ia tetap optimis dan bertahan dengan dodol Barokah-nya yang diolah secara tradisional. Seperti dilansir dari Pontianak Post, beberapa hari lalu, konsumen Djamal senantiasa bertambah. Dodol Barokah-nyapun dikenal sebagai oleh-oleh khas Pontianak, tidak hanya bagi warga lokal tapi juga warga daerah lain hingga bahkan warga internasional. (*/ely)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/12787-mereguk-untung-dari-dodol-lidah-buaya.html

Advertisements

About wirasmada

Wirausaha Muda

Posted on 04/04/2012, in Kuliner. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: