Monthly Archives: April 2012

Fauzan, Baru Usia 26 Tahun Ketika Warung Susu ‘Kalimilk’-nya Beromzet Ratusan Juta

Keinginan untuk mengajak orang hidup sehat dengan minum susu sapi, mengantarkan Fauzan Rachmansyah untuk membuka warung yang prospeknya sangat menjanjikan. Warung miliknya bukanlah sembarang warung. Warung yang ia dirikan itu adalah warung susu. Kaliurang Milk (Kalimilk) namanya. Letaknya berada di Lempongsari, Yogyakarta.

Bukan asal-asalan, Fauzan berbisnis dengan berpegang pada informasi. Ia melihat bahwa konsumsi susu orang Indonesia relatif sedikit, hanya 5,6 kilogram per kapita pada 2009.

“Angka itu sudah dicapai Malaysia pada 1961,” ucap pengusaha susu segar yang juga mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini.

Padahal, menurutnya, konsumsi susu di negara-negara maju sudah tinggi, sedangkan di Indonesia sebagai produsen susu, konsumsi susu justru rendah. “Kita harus ciptakan gaya hidup minum susu,” tegasnya.

Pria yang baru berusia 26 tahun ini sejatinya memang seorang petani susu di kawasan Wonorejo, Kabupaten Sleman, DIY. Dari sanalah ia banyak mendengar petani-petani susu mengeluhkan rendahnya harga susu. Harga pakan sapi yang terlampau mahal, tak seimbang dengan harga susu di pasaran sebesar Rp 2.900 per liter. “Susu yang berkualitas bagus pun tidak mempunyai harga bagus,” imbuhnya.

Untuk menjawab keluhan petani-petani tersebut ia membangun warung susu yang produknya berasal dari peternak sapi di Wonorejo dan Kaliboyong, Sleman. Bahkan karena adanya erupsi Gunung Merapi, pembukaan warung yang semula direncanakan Juni 2011 mendatang, dipercepat menjadi Januari 2011 lalu. “Sebagai upaya pemulihan petani susu di Kaliurang,” paparnya.

Warung susu miliknya bukanlah bisnis pertama yang ia lakoni. Karena terhimpit masalah ekonomi dan ditinggal ayahnya yang meninggal dunia tahun 2004, ia pun memutar otak untuk mencari biaya kuliah sendiri. Maka, berjualan  sepatu, sepeda, spare parts motor tua, sampai berprofesi sebagai sopir.

Di bulan ke tiga sejak berdiri, Kalimilk sudah mengalami tiga kali perluasan. Untuk menampung semua pembelinya, ia juga menambah kapasitas warungnya menjadi sekitar 100 orang. “Sekarang luasnya 30 kali 30 meter,” tambah Fauzan. Dari penjualan susu seharga Rp 8.000 (gelas biasa) dan Rp 15.000 (gelas jumbo), bisnisnya terus berkembang hingga sekarang ia memiliki 42 sapi perah. Saat ini, pemasukan yang ia terima telah mencapai Rp 10 juta per hari.

Hanya, Fauzan  mengaku belum melakukan banyak variasi pada produk susunya. Sejauh ini diferensiasinya hanya sebatas produk yogurt dan es krim. “Selanjutnya kami akan buat keju,” imbuh Fauzan.

Ia membutuhkan sekitar 280 liter susu per hari untuk memenuhi permintaan konsumen. Untuk itu, ia pun menambah pasokan susu dari para petani di kawasan Kaliboyong dan Wonorejo. “Susu mereka kami hargai Rp 4.000 per liter,” ucapnya.

Dengan perkembangan usahanya itu, pria kelahiran 17 Januari 1985 tersebut menargetkan penjualan per hari sebesar Rp 15 juta. Ia mengutamakan kepuasan konsumen atas produknya. Karena itu pula ia berniat menambah lima sampai enam warung lagi di DIY, dan akan membangun warung serupa di Jakarta. (*/Tribun Jogja)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/7542-warung-susu-ala-fauzan-rachmansyah.html

Andri Juanda, Wirausaha Sukses Dibalik Tahu Pop, Tahu Gaul Aneka Rasa

Tahu adalah makanan orang Indonesia. Olahan kedelai ini dapat dimakan sebagai lauk ataupun camilan. Salah satu tahu camilan yang terkenal adalah Tahu Pop. Namun Tahu Pop bukanlah sembarang tahu. Tahu Pop punya segmen pasar yang spesifik, yaitu anak muda. Lalu apa bedanya Tahu Pop dengan tahu umumnya? Tahu Pop disajikan sebagai camilan gaul dan modern.

Andri Juanda adalah orang di balik kreativitas olahan tahu ini. Ia ingin agar tahu sumedang jadi lebih populer di masyarakat dengan beragam rasa. “Agar para konsumen tidak merasa jenuh,” ujarnya.

Tahu Pop menyediakan tahu berbagai rasa, mulai dari rasa barbeque, keju, sambal balado, udang pedas, jagung pedas, ayam bawang, kari ayam, rendang sapi, sapi lada hitam, dan pizza. “Tahu Pop lebih kres, gurih, renyah, dan mantap dengan beraneka rasa untuk dijadikan teman nongkrong rame-rame sahabat gaul,” kata Andri.

Berdiri sejak tahun 2009, Tahu Pop pun melebarkan sayap usaha dengan menawarkan konsep waralaba. Hingga saat ini, Tahu Pop sudah memiliki 27 mitra yang tersebar di Bandung, Jatinangor, Garut, Majalengka, Sumedang, dan Tangerang.

Tahu Pop menawarkan kerjasama untuk jangka waktu tiga tahun dengan investasi awal Rp 6 juta. Mitra akan memperoleh satu unit outlet, satu set perlengkapan outlet, bahan baku awal, seragam, pelatihan karyawan, buku manual usaha, dan paket promosi usaha.

Mitra bisa mematok harga jual Rp 5.000 per kotaknya. Bila mitra bisa menjual sekitar 1.500 kotak setiap bulan, maka omzet rata-rata yang dapat mereka peroleh tiap bulan bisa mencapai Rp 7,5 juta hingga Rp 8 juta.

Sedangkan, untuk perhitungannya pengeluaran setiap bulan, Andri memperkirakan biaya bahan baku sebesar Rp 3,5 juta. Bahan baku tersebut termasuk sari kedelai untuk tahu dan minyak goreng. Kemudian, gaji karyawan sebesar Rp 1 juta dan sewa tempat Rp 1 juta. Ditambah dengan biaya manajemen quality control sebesar Rp 375.000.

Total hitungan pendapatan bersihnya mencapai Rp 2 hingga Rp 2,25 juta per bulan. Dengan peluang yang demikian besar dan prospektif, mitra usaha hanya membutuhkan waktu tiga bulan untuk balik modal.

Saat ini waralaba tahu memang telah menjadikan lahan bisnis baru yang layak untuk dicoba. Selain karena nilai investasinya yang tidak terlalu besar, balik modalnya terbilang cepat. Namun sayangnya usaha ini belum tentu langgeng, karena keunikannya tergolong hanya sesaat saja, kecuali jika pengusaha selalu berinovasi dalam hal rasa dan strategi pemasaran. (*/dari berbagai sumber)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/7601-tahu-pop-tahu-gaul-aneka-rasa.html

Inovasi Produk, Rahasia Sukses Sugito Mengembangkan Usaha “Bakmi Ceria”

Usaha berjualan bakmi belakangan ini memang sudah terlalu banyak yang melirik. Namun, banyaknya usaha sejenis justru menuntut masing-masing penjual berinovasi untuk membuat produknya dilirik bahkan disukai para konsumen. Dibutuhkan kiat khusus mengembangkan bisnis bakmi di tengah kompetisi antarpedagang yang ketat.

Upaya itulah yang dilakukan Sugito. Lelaki kelahiran Surabaya yang kini membuka stand bakmi di Pondok Daun Marina, Semarang, Jawa Tengah, ini patut dicontoh. Dalam menjalankan bisnis kuliner yang telah dirintis sejak tahun 2000 dengan nama “Bakmi Ceria”, berbagai inovasi produk telah dilakukan. Mulai perpaduan campuran dalam produk bakmi hingga membuat diversifikasi produk yang beraneka ragam. “Ini semata agar membuat konsumen maupun pelanggan tidak bosan datang ke tempat usaha saya,” katanya.

Kini, selain menjajakan beraneka ragam bakmi seperti bakmi ayam, bakso, pangsit, kuah dan goreng, dan bakmi komplit, dia juga menjual bakso kuah, pangsit dan goreng, hingga nasi bakmoy. Kecenderungan belakangan ini, para pelanggan justru menyukai nasi bakmoy yakni nasi dicampur daging ayam, telur, krupuk udang.

Selain mengandalkan rasa makanan yang lezat, Sugito juga menjaga kebersihan makanan yang dijual dan menetapkan harga yang kompetitif. Keramahan pelayanan tak luput menjadi jurus jitu membuat konsumen kembali datang ke tempatnya. Dia berkeyakinan, kalau kiat ini digunakan dalam bisnis bakmi, pasti bisnis jadi laris manis dan loyalitas pelanggan makin tinggi meski banyak pesaing sejenis.

Kelezatan bakmi racikan Sugito memang patut diacungi jempol. Menurut penuturannya, dia memiliki resep khusus dari pakar bakmi yang hingga kini terus dipraktikkan. Terbukti, usahanya terus eksis bahkan cenderung mengalami peningkatan omzet perbulan sekitar 10 hingga 25 persen. “Resep ini rahasia dan akan saya simpan terus,” tandasnya.

Dengan resep itu pula, banyak pelanggan yang beranggapan bakmi buatannya, beraroma wangi sehingga menggugah selera atau merangsang nafsu makan. Terjun ke bisnis kuliner, bagi Sugito merupakan hal yang tak disangka sebelumnya. Pasalnya, hingga mendekati usia lanjut, dia banyak menghabiskan waktu untuk mengabdi sebagai karyawan sebuah dealer mobil. (*/SM)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/7644-inovasi-produk-rahasia-sukses-sugito.html

Permadi, Ide Bisnis Sari Kacang Hijau-nya Datang dari Pengalamanan yang Tak Terduga

Apa yang dilakukan Paskasius Permadi dan Priyo Anggoro menunjukkan bahwa ide untuk berbisnis itu bisa datang dari pengalamanan yang tidak bisa diduga. Kisah tersebut bermula saat Paskasius mendampingi anaknya yang terbaring lemas di rumah sakit. Hampir tiap hari, rumah sakit memberikan sajian minuman kacang hijau. Rasa ingin tahu yang begitu besar akan khasiat kacang hijau inilah mendorongnya untuk berjualan sari kacang hijau dengan mobil bak terbuka.

’’Kebanyakan rumah sakit menyajikan kacang hijau sebagai menu wajib pada pasien. Saya penasaran kenapa kacang hijau yang disajikan,’’ ujar pria berkacama minus itu.

Kenapa tidak memilih jualan jus buah? Menurut dia, jus buah cenderung bisa dibuat semua orang. Tapi kalau minuman kacang hijau tidak semua orang bisa membuatnya. Karena alasan tidak praktis inilah, bapak dua anak itu pun melihat usaha tersebut menjadi peluang menarik. Bersama rekan satu kantor, pada akhir tahun lalu keduanya memulai bisnis tersebut dengan modal sekitar Rp 15 juta.

Ternyata dari coba-coba tersebut, keberhasilan mereka dimulai. Uji coba membuat sari kacang hijau itu tidak semudah yang dibayangkan. Paskasius pun berani mengklaim kalau usaha yang digelutinya itu baru satu-satunya di Semarang. Pasalnya, kebanyakan yang dijual bukan sari melainkan hanya rebusan kacang hijau. Selain itu, untuk menghasilkan sari kacang hijau, digunakan mesin ekstraktor khusus yang didatangkan langsung dari Malang, Jawa Timur. Priyo Anggoro, atau akrab disapa Gogor menimpali, khasiat kacang hijau tidak kalah hebatnya dengan buah-buahan.

Menurutnya, selain mengandung berbagai vitamin, mineral, dan zat gizi lainnya, kacang hijau juga bisa membantu menyembuhkan penyakit serta bagus dikonsumsi ibu hamil. Berbagai penyakit maupun gangguan yang bisa diatasi dengan mengasup kacang hijau antara lain beri-beri, radang ginjal, melancarkan pencernaan, tekanan darah tinggi, keracunan alkohol, pestisida, timah hitam, mengurangi gatal karena biang keringat, muntaber, menguatkan fungsi limpa dan lambung, impotensi, TBC paru-paru, jerawat, mengatasi flek hitam di wajah, dan lain-lain. Selain itu, kacang hijau juga bisa menurunkan demam.

Bahkan menurut hasil penelitian, kacang hijau adalah penurun demam terbaik bila dibandingkan dengan ramuan tradisional lainnya. Hebatnya lagi, biar direbus lama, sampai hancur, kacang hijau tetap berkhasiat, tidak terpengaruh dengan panas. Berbeda dengan kacang, sayur, buah, dan bahan ramuan tradisional lainnya yang bila direbus terlalu lama, akan menurunkan khasiat pengobatannya.

Namun kenapa yang diambil hanya sarinya saja. Ternyata, sambung Paskasius, kalau ampasnya diikutkan jika diminum akan terasa tidak nyaman di tenggorokan. Tiap hari sari kacang hijau bermerek Ge Ge ini mangkal di Jl Kelud Raya. Sedangkan tiap Jumat-Minggu, keduanya menyasar Pasar Semawis di Kampung Pecinan. Pendapatan yang dikantongi cukup lumayan, berkisar antara Rp 150.000-Rp 600.000 per hari. Ke depan, keduanya terobsesi bisa berjualan menjangkau 10 titik di kawasan Semarang.

Bagi mereka yang ingin membuka usaha, keduanya menawarkan waralaba dengan harga paket dari Rp 4 juta-Rp 4,5 juta. Keduanya tidak segan berbagi ilmu, dan memberi kesempatan bagi yang tertarik agar datang ke Jalan Lamongan I/No 3, Semarang, telepon 081575323872. (*/SM)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/7780-paskasius-priyo-sukses-berbisnis-sari-kacang-hijau.html

Bayu, Sukses Berbisnis Coklat ‘Ayla’ via Toko Virtual Setelah Resign dari Perusahaan IT

Pengguna internet adalah pasar yang bisa digarap untuk memulai sebuah bisnis. Berbekal keyakinan itu, sebagian anak muda merintis usaha dengan membuka toko di dunia maya. Apalagi, pengguna internet di Indonesia berkembang pesat.

Jumlah pengguna internet yang tumbuh pesat membuat Bayu Amperiawan optimistis bisnis toko cokelat yang ia kembangkan bersama Lisnawati, istrinya, bakal maju. Dengan memasang merek dagang Ayla, Bayu mendesain sendiri toko virtualnya dengan nama http://www.tokocoklat.com.

Sesuai dengan produk yang dijualnya, Bayu memakai warna serba coklat untuk toko virtualnya. Ia lalu memasang foto berbagai jenis produk cokelat buatan istrinya sendiri, berikut harga yang ditawarkan dan tabel ongkos kirim ke luar kota. Selain cokelat, Lisnawati juga memproduksi kue basah dan kue kering.

Bayu dan Lisnawati memulai bisnis di dunia maya pada tahun 2006. Sebelumnya, Lisnawati hanya memasarkan cokelat dan kue kering buatannya dari pintu ke pintu. Namun, karena penjualan mereka tidak tumbuh baik, Bayu berinisiatif memasarkan produk itu melalui internet.

Sejak awal diluncurkan, toko cokelat virtual itu sudah berkembang pesat. Lisnawati memang yakin bahwa produk cokelat bisa diterima pasar karena awet hingga 16 bulan. Cokelat juga tidak mengenal musim seperti kue kering yang hanya laris saat Lebaran atau Natal.

”Kapan saja orang ingin mengungkapkan perasaan hatinya, mereka bisa mengirimkan cokelat,” kata Bayu. Toko Coklat menjual produknya dengan harga Rp 2.000 untuk cokelat batangan dan Rp 20.000-Rp 90.000 untuk cokelat dalam kemasan kotak atau stoples.

Karena bisnis yang dibangun bersama istrinya menunjukkan kemajuan, Bayu memutuskan keluar dari pekerjaannya setelah 15 tahun bekerja di perusahaan teknologi informasi di Jakarta. Ia ingin total mengelola situs dan melayani pesanan toko virtualnya, sementara sang istri lebih berkonsentrasi pada pengembangan produk. (*/Kompas Cetak)

sumber; http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/7837-tawarkan-cokelat-lewat-internet.html