Monthly Archives: May 2012

Supriadi, Mantan Tukang Parkir yang Sukses Menekuni Usaha Produksi Kopi Luwak

Gunawan Supriadi pernah memiliki reputasi yang buruk. Pada masa lalunya, ia dikenal sebagai ”preman” yang menguasai sejumlah lahan perparkiran di Liwa, Lampung Barat. Namun, kini, warga lebih banyak mengenalnya sebagai pengusaha kopi luwak yang disegani.

Gunawan merupakan salah satu produsen kopi luwak di Way Mengaku, Liwa, Lampung Barat, dengan merek dagang Raja Luwak. Kopi luwak yang dihasilkan lewat pemeliharaan luwak di pekarangan rumahnya kini mampu menembus kafe-kafe mewah di Jakarta dan sejumlah kota besar di tanah Air.

Bahkan, kopi luwak yang dihasilkan dari ”kampung” ini menjelma sebagai komoditas termasyhur di dunia. Bekerja sama dengan sejumlah eksportir, kopi luwak yang dihasilkan itu kini dinikmati pencinta kopi di beberapa negara, antara lain, Korea, Jepang, Hongkong, dan Kanada.

Kopi luwak produksi Gunawan telah menambah khazanah kekayaan kopi-kopi eksotis Nusantara. Di mata dunia internasional, kopi luwak asal Indonesia, khususnya dari Liwa, memiliki reputasi teramat baik, bahkan disebut-sebut sebagai salah satu kopi termahal dan terlangka di dunia.

Di luar negeri harga bisa mencapai Rp 5 juta-Rp 8 juta per kilogram dalam bentuk bubuk. Bandingkan dengan biji kopi Hacienda dari Panama dan kopi St Helena, Afrika, yang masuk di dalam jajaran kopi dunia termahal dengan harga masing-masing Rp 1,5 juta dan Rp 1 juta per kg. Gunawan menjual kopi luwak dalam bentuk bubuk dengan harga tidak lebih dari Rp 600.000 per kg.

Selain mengharumkan nama daerah, bagi Gunawan, hal yang lebih penting adalah keberadaan kopi luwak dapat memberikan nilai tambah, yaitu penghidupan yang lebih layak bagi dirinya dan para perajin atau produsen kopi luwak lainnya. Pada gilirannya, para petani kopi juga bisa lebih terangkat kesejahteraannya.

”Usaha macam ini kan bisa menyejahterakan masyarakat yang penghidupannya rata-rata masih morat- marit. Petani (kopi) pun jadi punya uang tambahan di musim belum panen. Mereka tidak kesulitan harus menjemur dulu kopi di musim (ekstrem) ini,” ujar Gunawan.

Ketua kelompok perajin kopi Raja Luwak ini sekarang membina dan mengoordinasikan 10 produsen kopi luwak lainnya di Gang Pekonan, Way Mengaku, Liwa. Sebagian besar di antara mereka adalah para pemula yang tidak memiliki pasar ataupun merek dagang sendiri.

”Saya menampung sebagian kopi dari mereka, lalu membantu menjualnya, terutama jika kebetulan ada pesanan yang besar,” ujarnya. Setiap perajin diharuskan menyetor 5 kg kopi luwak dalam bentuk brenjelan (masih berupa kotoran) dan pemotongan hasil keuntungan.

Iuran-iuran ini memiliki banyak fungsi, di antaranya bantuan pinjaman permodalan, termasuk untuk membeli kandang dan luwak. Gunawan berpikir sebaliknya jika dibandingkan banyak produsen kopi luwak yang berpandangan bahwa usaha itu lebih baik dimonopoli mengingat kerasnya persaingan.

Liwa akan dikenal sebagai sentra kopi luwak budidaya. Pada gilirannya, Gunawan berharap usahanya juga akan menyelamatkan luwak yang populasinya sempat terancam akibat diburu dan dibunuh. ”Luwak ini dahulu sering dianggap hama karena suka menghabisi kopi. Di kebun-kebun (kopi), mereka diracun pakai Timex (racun babi),” kisah Gunawan.

Gunawan mulai menekuni usaha kopi luwak sekitar tiga tahun lalu. Itu berawal dari hobinya memelihara hewan-hewan liar, salah satunya luwak. Dua luwak pertamanya diberi nama Inul dan Adam, mengambil nama pasangan penyanyi dangdut beken dan suaminya. Waktu itu, luwak-luwak ini hanyalah dipelihara.

”Luwak-luwak saya ini kemudian sering dipinjam seorang kawan. Ia minta izin mengurus dan memberi makan kopi. Lalu, anehnya, kotorannya kok dikumpulkan. Penasaran, saya lalu minta kenalan saya mengeceknya ke internet, apakah kotoran luwak bisa dijual?” ungkapnya menceritakan pengalamannya merintis usaha kopi luwak.

Dari penelusurannya, ia kemudian memperoleh informasi bahwa di China, 0,5 kg kopi luwak bubuk dihargai Rp 3,2 juta. Dia melihat ini sebagai peluang usaha yang menjanjikan. Gunawan ketika itu masih bekerja serabutan. Kadang sebagai petugas satpam, kadang mengumpulkan uang parkir dari pasar-pasar. Ketika itu dia memiliki 16 anak buah.

Gunawan kemudian meminta anak buah dan jaringannya mencarikan luwak sebanyak-banyaknya untuk dipelihara dan mencoba memproduksi kopi luwak. Namun, pada awal usahanya, dia terganjal persoalan pemasaran. Ia terpaksa menawarkan dagangannya dari pintu ke pintu kafe dan hotel-hotel.

”Saya membawa langsung kopinya. Luwak yang masih kecil dan jinak pun saya bawa. Itu agar mereka percaya kopi ini asli. Bukan sekadar bicara (menawarkan) di internet,” ujarnya.

Perlahan, usahanya berkembang. Jumlah luwak yang dipeliharanya bisa mencapai 60 ekor saat musim kopi. Namun, saat ini yang dipelihara hanya 26 ekor. Sebagian luwak dia serahkan kepada perajin lainnya dan dilepasliarkan ke alam. Rata-rata ia memproduksi 20 kg kopi bubuk dan 2 kuintal bentuk brenjelan tiap bulan.

Kini, setelah perlahan mulai mapan, dia meninggalkan pekerjaan lamanya sebagai koordinator parkir. ”Usaha ini jauh lebih aman dan menjanjikan, terutama untuk masa depan saya dan keluarga,” tutur pria yang sempat dua kali masuk sel akibat perselisihan soal parkir ini.

Dari hasil usahanya itu, kini ia bisa membeli sebuah kendaraan dan tengah membangun kafe kopi luwak di rumahnya di Way Mengaku.

Usaha kopi luwak yang ditekuninya bersama belasan warga Way Mengaku lainnya merupakan suatu bentuk kemandirian ekonomi masyarakat. Mulai dari produksi, pengemasan, hingga pemasaran, semuanya dilakukan Mandiri, tak ada bantuan dari pemerintah ataupun pengusaha swasta.

”Dulu pernah ada pengusaha kaya dari Korea mau ikut usaha, memberikan bantuan modal. Saya sempat ditawari menjadi manajer, tetapi kami sepakat menolak. Kami khawatir nanti justru ’ditendang’. Meskipun kadang sulit, setidaknya ini usaha sendiri. Daripada kita ’dijajah’ asing lagi,” ujar Gunawan. (*/Kompas Cetak)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/6094-berjaya-berkat-kopi-luwak.html

Usia Senja Tak Menghalangi Aji Darmawan Membuka Bisnis Kuliner Resto Sunda

Berusia 60 tahun tak lantas membuat Aji Darmawan pemilik Saung Sunda memilih untuk pensiun. Meski usianya senja, Aji justru giat-giatnya berbisnis kuliner. Aneka masakan Sunda yang menjadi masakan favoritnya menjadi inspirasi untuk merintis usaha di Jalan Depok, Semarang, Jawa Tengah, sekitar empat tahun lalu.

”Berbisnis itu menyehatkan. Kalau saya pensiun tidak ada aktivitas sama sekali bisa-bisa malah sakit,” ungkapnya.

Pria yang memiliki dua cucu ini, awalnya menyukai masakan Sunda. Bersama menantunya yang asli Jawa Barat, Aji mencoba membuka usaha restoran makanan khas Sunda. Menu khas Sunda seperti ayam goreng gepuk, ikan bakar, iga bakar, nasi oncom, ayam goreng lombok ijo, tutug oncom, dan karedok menjadi masakan andalannya.

Menurut Aji, masakan Sunda adalah salah satu masakan menyehatkan, dan sesuai dengan cita rasa masyarakat Indonesia. “Membuka resto merupakan impian saya sejak dulu. Tadinya saya cukup bingung resto macam apa yang mesti saya buat. Dengan patokan agar semua orang suka, maka pilihan jatuh pada resto khas Sunda ini,” ujarnya.

Dalam mengelola restoran tersebut, pria kelahiran Semarang 23 September 1950 ini dibantu oleh menantunya. Aji sendiri turun langsung untuk mengontrol manajemen restoran. Menurut pria yang hobi olahraga ini, aneka masakan yang disajikan di restonya hampir semuanya spesial, baik dari menu masakan ikan, jerohan, lalapan sampai sambalnya. Demikian juga minuman yang ditawarkan dengan harga tidak memberatkan kantong kita.

Pria yang juga pebisnis di bidang tekstil ini mengaku, semua usahanya dia jalankan dengan penuh ketekunan. Aji lebih mengutamakan kualitas dan pelayanan dari masakan Saung Sunda miliknya itu. Ia tak memerlukan teori muluk-muluk dalam menjalankan bisnis. ”Terpenting masakan enak, pembeli menjadi senang, dan puas. Itu saja,” katanya.

Menjalankan bisnis kuliner bukan pertama kali dilakukan Aji. Bersamaan dengan bisnis Saung Sunda ini, Aji juga menekuni usaha di bidang perdagangan. Hampir semua usaha dia jalankan seperti tekstil, bahan bangunan, dan masih banyak lagi.

Berbuah hasil, usaha milik Aji kini semakin berkembang. Restoran Saung Sunda miliknya kini memiliki dua cabang di Semarang, yakni di Jalan Depok, dan Gelora Foodcourt ruko Mataram Plaza.

”Prospek restoran Sunda di Semarang cukup bagus. Tak sedikit mereka yang menyukai masakan ini. Ke depannya, saya akan membuka cabang lagi di Semarang. Mengenai lokasi masih akan kami cari yang letaknya cukup strategis,” terangnya. (*/SM

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/6244-aji-darmawan-ogah-pensiun-memilih-berbisnis.html

Sriyono, Lewat ‘Siomay Yo Pink’ Pebisnis Ini Sukses Bangkit Dari Keterpurukan

Tubuh gemuk dan perut buncitnya tidak membuat pria ini ragu berpenampilan nyentrik. Ia nyentrik lantaran semua pakaiannya beratribut pink alias merah muda. Mulai dari topi, kaos ketat, kacamata, celana pendek, kaos kaki, dan sepatu. Tidak ada yang bukan pink, termasuk warna behel kawat gigi.

Inilah Sriyono. Ia adalah seorang pedagang siomay yang tidak biasa. Dagangan siomaynya menarik perhatian karena semua atribut penjualannya dipoles serba pink. Tidak hanya dirinya yang berwarna serba pink, sepeda gowes, kantong tas untuk uang, hingga gerabah tempat siomay dipanaskan pun berwarna pink. Bahkan, sebuah boneka Teddy Bear yang pastinya berwarna pink, juga ditempatkan di keranjang sepeda bagian depan sepeda siomaynya.

Siomay pink ini sudah dipatenkan dengan brand ‘Siomay Yo Pink’. Sriyono berhasil menjual 200 porsi Siomay per hari. Jumlah tersebut akan bertambah 3 kali lipat saat akhir pekan atau jika ada ajang Car Free Day di Jakarta. Daya tarik pink mendorong pecinta siomay betah berlama-lama menyantap Siomay Yo Pink. Bukan hanya siomay-nya yang dinikmati para pembeli, mereka juga menyempatkan diri berfoto bersama penjualnya. “Hidup dan mati saya di siomay,” ujar Sriyono seperti tertulis di gerobaknya.

Warna pink bisa jadi berhubungan dengan romantisme kisah hidup Sriyono. Ia sebenarnya adalah seorang mantan miliarder. Ia banting setir jadi pedagang siomay keliling sejak keluarganya berantakan. “Anak perempuan saya dibawa istri. Saya cerai. Saya kangen dua anak perempuan saya,” akunya.

Kisah sukses Siomay Pink ini dimulai pada 1969 ketika pria kelahiran 21 Juli 1954 ini merantau ke Jakarta untuk menjadi sales mobil. Ketika itu, tiba-tiba saja dia sangat gemar pada siomay dan memutuskan untuk belajar cara membuat makanan itu. Dia lantas berguru pada seorang keturunan Tiongkok asal Pulau Bangka. Orang inilah yang mengajari Sriyono membuat siomay. Setahun penuh Sriyono bekerja tanpa digaji untuk mendapatkan resep rahasia sang penjual siomay itu. Beberapa tahun kemudian, sang guru meninggal dan mewariskan usaha Siomay kepada Sriyono. Pada 1980-an, Sriyono memberanikan diri memulai usaha siomay keliling di Jakarta dengan modal patungan bersama beberapa teman.

Atas usahanya yang gigih, pada tahun 1996 ia berhasil membuat outlet di salah satu mal elit di ibu kota, yakni Plaza Senayan. Pendapatan bisnisnya ketika itu mencapai Rp 2 miliar per tahun. Dia menikmati sukses berjualan siomay dengan berstatus bujangan. Ia pun mendirikan outlet di beberapa tempat lain.

Ia sempat menjadi satu-satunya pengusaha siomay yang meneken kontrak dengan gerai waralaba Kentucky Fried Chicken (KFC). Dia menyuplai siomay di puluhan gerai KFC di Jakarta yang ketika itu memiliki menu khusus siomay.

April 1999, ia pun menikahi seorang putri polisi. Namun sayang, pernikahannya tidak direstui orangtua sang istri. Pertengkaran demi pertengkaran pun terus terjadi sehingga konsentrasi Sriyono pada bisnisnya mulai berkurang, hingga manajemen bisnisnya pun kolaps. Sriyono pun terpaksa menjual hak paten Siomay Senayan miliknya. Awal 2004, sang istri menggugat cerai Sriyono. Sang istri pergi dan membawa serta dua anak Sriyono. Sejak itu dia pun tidak pernah lagi bertemu dua buah hatinya.

“Saya selalu ingat anak saya dan rindu yang tidak tertahan membuat saya sulit berkonsentrasi,’’ katanya. Kegagalan kali ini membuat Sriyono tertekan. Ia sempat menggelandang di masjid di kawasan Senayan. Di masjid itulah ia bertemu dengan seorang jamaah yang bersedia memodali usahanya. Ia mulai berjualan siomay lagi dengan modal Rp 1 juta. Sebulan menjelang bulan puasa 2010, ia memutar otak dan mendapat ide brilian. Yakni, kembali memulai usaha siomay keliling, tapi dengan tampilan yang eksentrik. Sriyono pun memutuskan mengenakan warna pink sebagai seragam berjualan.

Menjadi penjual siomay keliling dengan pakaian dan aksesori serba pink membuat pria asal Klaten, Jawa Tengah ini menjadi terkenal, terutama di dunia maya. Mantan miliarder itu juga pernah menjadi bintang tamu di sebuah stasiun televisi. Bahkan, ada yang menawari bermain sinetron. Semua itu dia lakukan demi bisa bertemu anaknya.

Sriyono biasa berjualan di kawasan elit di Jalan Gandaria Tengah, Jakarta Selatan. Warga di sini telah akrab dengan Siomay Pink, mulai dari sopir bemo, satpam, tukang ojek, hingga anak-anak. Tidak hanya warga kota Jakarta, ia juga populer di kalangan komunitas entrepreneur. Berjualan dengan kostum dan perlengkapan mencolok serbapink, serta kegigihannya dalam berwirausaha, telah menjadi inspirasi tersendiri bagi para entrepreneur.

Kepopuleran siomay pink membuahkan hasil. Awal Januari 2010, sebuah televisi nasional berhasil mempertemukan Sriyono dengan anaknya.

Saat ini omzet dagangannya telah mencapai Rp 1 juta per hari. Bahkan ada pengusaha lain yang menawari Sriyono untuk membuka franchise siomay Yo Pink di beberapa lokasi di Jakarta. “Saya ingin anak saya bangga dengan bapaknya si penjual siomay berkaus pink ini. Saya akan bangkit demi putri-putri saya,” ujarnya. (*/Nilam/dari berbagai sumber)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/6296-sriyono-pebisnis-yang-pantang-menyerah.html

Muslimin, Bermodal Awal Rp 25 Ribu, Kini Usaha Tempenya Mempekerjakan Lima Karyawan

Siapa yang tidak kenal dengan tempe? Makanan ini diminati semua kalangan. Bagi masyarakat yang suka dengan makanan yang terbuat dari kacang kedelai, dapat membeli secara langsung kepada pengusaha tempe satu ini.

Pengusaha ini bernama Muslimin, berasal dari Jawa Tengah. Ia membuka usaha di Jalan Puyuh, Pontianak. Dalam pembungkusan tempe yang dijual, ada dua pilihan. Daun dan plastik.

Awalnya ia berjualan tempe, sebagai jembatan untuk menyambung hidup. Namun, ia sekarang ini merasakan, bahwa pekerjaan itu menghasilkan banyak uang dan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.

Sebelum usaha itu dilakukan, dia membuka usaha membuat mie basah. Namun, usaha yang dijalankan menemui kegagalan, karena konsumen yang membeli kurang dan pendapatannya tidak menentu. Akhirnya, usaha itu tutup.

Akhirnya, ia mencoba membuat tempe. Dia pernah membuka usaha tempe di beberapa kota. Seperti, Banjarmasin, Kupang, dan Balikpapan. Di tempat itu, dia juga dia tidak berhasil. Akhirnya, karena tidak pekerjaan, ia merantau ke Pontianak pada 1987.

Di Kota Khatulistiwa ini, dia membuka usaha tempe dengan modal awal Rp25.000. Dulu, uang Rp25.000 sangat besar jumlahnya, bila dibandingkan sekarang, karena harga barang pada mahal semua.

Mengapa ia memilih Kota Pontianak, karena belum ada pengusaha tempe pada saat itu, dan persaingan juga belum ada. Dari waktu ke waktu, permintaan tempe terus meningkat. Kondisi ini secara langsung meningkatkan bahan produksi juga ikut meningkat. Ini bisa diatasinya. Hasil produksinya dijual di beberapa tempat, seperti Pasar Sentral, Pasar Dahlia, Siantan dan Sungai Raya. “Pasar-pasar ini merupakan pelanggan tetap bagi saya,” katanya.

Untuk menambah modal produksinya, ia pernah mencoba meminjam dari salah satu bank yang ada di Pontianak. Setelah ia mengajukan pinjaman yang menghabiskan banyak waktu dan rumit, dan tidak mendatangkan hasil, akhirnya ada pihak swasta yang mau bekerja sama dengannya. Kerja sama itu berlangsung hingga sekarang.

Untuk menambah hasil produksinya, dia harus membeli kacang kedelai dengan jumlah banyak. Setelah adanya kerja sama dari pihak swasta yang memberikan kacang kedelai, tanpa harus membayar terlebih dahulu. Pembayaran dilakukan setelah tempe terjual.

Harga normal kacang kedelai dipasaran untuk 1 kg sebesar Rp6.250. Dia mengambil dari pihak swasta seharga Rp6.900. Selisihnya Rp650. Walaupun demikian, ia tetap bersyukur karena sampai sekarang, usahanya masih terus berjalan dibandingkan dengan pengusaha tempe lain, yang sudah pada tutup karena kehabisan modal.

Ia menjual harga satu keping tempe Rp6.000, untuk ukuran 1 kg. Dalam satu hari, ia membutuhkan kacang kedelai sebanyak 350 kg. Hasil itu, bila diolah menjadi 135 keping tempe. Waktu yang diperlukan untuk jadi tempe empat hari.

Pendapatannya dalam satu bulan Rp3.500.000. Untuk sewa tempat usaha, ia harus membayar Rp7.000.000 per tahun.

Sekarang ini, untuk membantu dalam pembuatan tempe, ia punya karyawan sebanyak lima orang. “Dalam melakukan pengerjaan tempe harus bersih, tidak boleh kotor, sebab kalau kotor atau airnya tidak bagus, maka tempe tidak akan jadi,” kata Muslimin.

Agar para pembeli tidak pindah di tempat lain, dia selalu menjaga kualitas pembuatan tempe. Misalnya, ia harus menjaga kebersihan dan menjaga kepercayaan, baik itu kepada konsumen maupun kepada pihak swasta, yang telah bekerja sama sampai sekarang.

“Kalau tidak menjaga semua itu, tidak mungkin usaha sampai sekarang masih ada dan maju,” katanya.

Kendala yang dihadapi dalam pemasaran tidak ada. Kecuali, ada pinjaman dari bank sampai sekarang, belum bisa dia dapatkan. Untuk mendapatkan
modal dalam jumlah besar memang sulit, dan persyaratannya juga banyak.

Untuk kedepannya, ia berharap pemerintah mau memperhatikan pengusaha tempe. Dengan cara memberikan modal untuk mengembangkan usaha. (*/borneotribune)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/6543-muslimin-sang-pengusaha-tempe.html