Sriyono, Lewat ‘Siomay Yo Pink’ Pebisnis Ini Sukses Bangkit Dari Keterpurukan


Tubuh gemuk dan perut buncitnya tidak membuat pria ini ragu berpenampilan nyentrik. Ia nyentrik lantaran semua pakaiannya beratribut pink alias merah muda. Mulai dari topi, kaos ketat, kacamata, celana pendek, kaos kaki, dan sepatu. Tidak ada yang bukan pink, termasuk warna behel kawat gigi.

Inilah Sriyono. Ia adalah seorang pedagang siomay yang tidak biasa. Dagangan siomaynya menarik perhatian karena semua atribut penjualannya dipoles serba pink. Tidak hanya dirinya yang berwarna serba pink, sepeda gowes, kantong tas untuk uang, hingga gerabah tempat siomay dipanaskan pun berwarna pink. Bahkan, sebuah boneka Teddy Bear yang pastinya berwarna pink, juga ditempatkan di keranjang sepeda bagian depan sepeda siomaynya.

Siomay pink ini sudah dipatenkan dengan brand ‘Siomay Yo Pink’. Sriyono berhasil menjual 200 porsi Siomay per hari. Jumlah tersebut akan bertambah 3 kali lipat saat akhir pekan atau jika ada ajang Car Free Day di Jakarta. Daya tarik pink mendorong pecinta siomay betah berlama-lama menyantap Siomay Yo Pink. Bukan hanya siomay-nya yang dinikmati para pembeli, mereka juga menyempatkan diri berfoto bersama penjualnya. “Hidup dan mati saya di siomay,” ujar Sriyono seperti tertulis di gerobaknya.

Warna pink bisa jadi berhubungan dengan romantisme kisah hidup Sriyono. Ia sebenarnya adalah seorang mantan miliarder. Ia banting setir jadi pedagang siomay keliling sejak keluarganya berantakan. “Anak perempuan saya dibawa istri. Saya cerai. Saya kangen dua anak perempuan saya,” akunya.

Kisah sukses Siomay Pink ini dimulai pada 1969 ketika pria kelahiran 21 Juli 1954 ini merantau ke Jakarta untuk menjadi sales mobil. Ketika itu, tiba-tiba saja dia sangat gemar pada siomay dan memutuskan untuk belajar cara membuat makanan itu. Dia lantas berguru pada seorang keturunan Tiongkok asal Pulau Bangka. Orang inilah yang mengajari Sriyono membuat siomay. Setahun penuh Sriyono bekerja tanpa digaji untuk mendapatkan resep rahasia sang penjual siomay itu. Beberapa tahun kemudian, sang guru meninggal dan mewariskan usaha Siomay kepada Sriyono. Pada 1980-an, Sriyono memberanikan diri memulai usaha siomay keliling di Jakarta dengan modal patungan bersama beberapa teman.

Atas usahanya yang gigih, pada tahun 1996 ia berhasil membuat outlet di salah satu mal elit di ibu kota, yakni Plaza Senayan. Pendapatan bisnisnya ketika itu mencapai Rp 2 miliar per tahun. Dia menikmati sukses berjualan siomay dengan berstatus bujangan. Ia pun mendirikan outlet di beberapa tempat lain.

Ia sempat menjadi satu-satunya pengusaha siomay yang meneken kontrak dengan gerai waralaba Kentucky Fried Chicken (KFC). Dia menyuplai siomay di puluhan gerai KFC di Jakarta yang ketika itu memiliki menu khusus siomay.

April 1999, ia pun menikahi seorang putri polisi. Namun sayang, pernikahannya tidak direstui orangtua sang istri. Pertengkaran demi pertengkaran pun terus terjadi sehingga konsentrasi Sriyono pada bisnisnya mulai berkurang, hingga manajemen bisnisnya pun kolaps. Sriyono pun terpaksa menjual hak paten Siomay Senayan miliknya. Awal 2004, sang istri menggugat cerai Sriyono. Sang istri pergi dan membawa serta dua anak Sriyono. Sejak itu dia pun tidak pernah lagi bertemu dua buah hatinya.

“Saya selalu ingat anak saya dan rindu yang tidak tertahan membuat saya sulit berkonsentrasi,’’ katanya. Kegagalan kali ini membuat Sriyono tertekan. Ia sempat menggelandang di masjid di kawasan Senayan. Di masjid itulah ia bertemu dengan seorang jamaah yang bersedia memodali usahanya. Ia mulai berjualan siomay lagi dengan modal Rp 1 juta. Sebulan menjelang bulan puasa 2010, ia memutar otak dan mendapat ide brilian. Yakni, kembali memulai usaha siomay keliling, tapi dengan tampilan yang eksentrik. Sriyono pun memutuskan mengenakan warna pink sebagai seragam berjualan.

Menjadi penjual siomay keliling dengan pakaian dan aksesori serba pink membuat pria asal Klaten, Jawa Tengah ini menjadi terkenal, terutama di dunia maya. Mantan miliarder itu juga pernah menjadi bintang tamu di sebuah stasiun televisi. Bahkan, ada yang menawari bermain sinetron. Semua itu dia lakukan demi bisa bertemu anaknya.

Sriyono biasa berjualan di kawasan elit di Jalan Gandaria Tengah, Jakarta Selatan. Warga di sini telah akrab dengan Siomay Pink, mulai dari sopir bemo, satpam, tukang ojek, hingga anak-anak. Tidak hanya warga kota Jakarta, ia juga populer di kalangan komunitas entrepreneur. Berjualan dengan kostum dan perlengkapan mencolok serbapink, serta kegigihannya dalam berwirausaha, telah menjadi inspirasi tersendiri bagi para entrepreneur.

Kepopuleran siomay pink membuahkan hasil. Awal Januari 2010, sebuah televisi nasional berhasil mempertemukan Sriyono dengan anaknya.

Saat ini omzet dagangannya telah mencapai Rp 1 juta per hari. Bahkan ada pengusaha lain yang menawari Sriyono untuk membuka franchise siomay Yo Pink di beberapa lokasi di Jakarta. “Saya ingin anak saya bangga dengan bapaknya si penjual siomay berkaus pink ini. Saya akan bangkit demi putri-putri saya,” ujarnya. (*/Nilam/dari berbagai sumber)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/6296-sriyono-pebisnis-yang-pantang-menyerah.html

Advertisements

About wirasmada

Wirausaha Muda

Posted on 02/05/2012, in Kuliner. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: