Jerry Aurum, Pemilik Jerry Aurum Design Company & Photography: Jerry yang tak pernah jeri


Ia tak pernah jeri pada keadaan. Keterbatasan berhasil disulapnya menjadi peluang. Modalnya : keyakinan yang tak pernah patah

 

WHEN KOMPAS, THE biggest newspaper in Indonesia, came to give a talk to their photographers, I thought they had called a wrong Jerry. They apparently hadn’t. As part of t training program, Kompas constantly upgrades their photographers’ perspective by inviting photographers from different fields to share their ideas.”

 

Penggalan kalimat tadi menjadi pembuka sebuah tulisan Jerry Aurum Wirianta di blognya. Keterkejutan yang cukup mengejutkan, sebab terlontar dari seorang fotografer yang berada di papan atas dunia fotografi Indonesia. Sebut saja namanya, niscaya orang yang int,10 geluti fotografi akan segera meluncurkan pujian. Femalography, pameranrannya yang digelar dua tahun silam adalah salah satu yang menanguk banyak hal itu. Mengambil wanita sebagai objeknya, Jerry berhasil menampilkan mereka dari sisi terindah. Maka parade wajah cantik dan tubuh molek yang mengisi pigura-pigura di ruang pamer Senayan City kala itu berhasil melangkah keluar dari hanya sekadar menjadi sebuah objek. Mereka menjadi subjek yang bicara tentang keindahan yang dengan artistik diterjemahkan oleh Jerry.

Beruntung ia memang punya kemampuan yang memadai untuk menciptakan sebuah karya yang mengundang decak kag Kepiawaiannya di bidang desain, berpadu dengan kelihaiannya membidik kamera. Syarat yang cukup kendati masih harus pula didukung oleh dana tak sedikit hingga ia berhasil membuat rangkaian k yang melibatkan lebih dari 100 wanita cantik dan ternama; mulai Aktris dan model seperti Rachel Maryam, Dian Sastrowardoyo, Aline, Dinna Olivia, Indah Kalalo, Adella-Aletta, Endhita, VJ Cathy hingga wanita biasa yang tak kalah menarik ketika telah terekam lensanya.

 

la berhasil membuat rangkaian karya yang melibatkan lebih dari 100 wanita cantik dan ternama; mulai aktris dan model seperti R& chef Maryam, Dian Sastrowardoyo, Aline, Dinna Olivia, Indah Kalalo, Adella-Aletta, Endhita, VJ Cathy hingga wanita biasa yang tak kalahmenarik ketika telah terekam lensanya.

 

Menikmati karya-karya Jerry, ada sebuncah rasa yang agak sulit dijabarkan dengan kata-kata. Sesuatu yang tak terkatakan, manakala  kita menekuri gambar yang ada di depan mata dengan objek yang bisa  saja sangat jauh berbeda. Menatap wanita-wanita dalam piguranya akan menghadirkan kekeluan yang sama indahnya ketika kita menyaksikan ikan-ikan di kedalaman lautan yang ia bekukan ke dalam sebidang panel fotonya. Tak heran kemampuan primanya dalam fotografi dan desain memang sangat mumpuni. Predikat cum laude yang ia dapat dari Institut Teknologi Bandung adalah legitimasi kredibilitasnya. Hal itu seakan mengamini bahwa ia punya potensi yang nyatanya kini terus tergali. Bersama perusahaan desain dan fotografi yang ia bangun selepas kuliahnya ia menapak makin tinggi di dunia yang digelutinya.

 

MEMBIDIK SEGMEN TERBAIK

Jerry tak hanya paham bagaimana membidik sudut terbaik sebuah Foto, ia juga piawai mengelola perusahaannya. la memulai dari nol dengan modal 500 eksemplar kalender yang ia hiasi foto-fotonya. Sebelum membuka usaha sendiri, ia sempat dua kali berpindah kerja di dua perusahaan desain berbeda sebagai perancang grafis. “Saat tiba di Jakarta saya betul-betul buta kota ini. Bahkan jalur bis pun saya tak tahu.

 

BIODATA

JERRY AURUM

26 Mei 1976

Email: contact@jerryaurum.com

Website:

jerryaurum.com

jerryaurum.wordpress.com

 

PENDIDIKAN:

S1 Komunikasi Desain Visual, Institut Teknologi Bandung

 

NAMA USAHA:

Jerry Aurum Design & Photography

Website: http://www.jerryaurum.com

Praja Dalam D No.45, Jakarta 12240

Telp. 021 7291763, Fax: 021 7291762

 

BUKU :

Femolography, 2006.

 

Padahal gaji saya hanya 1,5 juta. Bayangkan saja bagaimana pergulatan bertahan hidup di kota ini,” katanya. Akhirnya prig kelahiran Medan ini memutuskan memulai perjalanan dan peruntungannya empat bulan setelah ia menetap di Jakarta.

Barangkali, kemewahan yang ia miliki ketika memulai usaha nya kala itu adalah selembar ijazah cum laude dari jurusan Desain Komunikasi Visual ITB dan berpeti-peti keyakinan yang menumpuk di benaknya. Dari segi modal ia tak banyak berbekal. Usia 24 tahun, Jerry mulai mengoperasikan Jerry Aurum Design and Photography dari sebuah rumah kecil berukuran 2.5 x 2.5 m di pinggiran Jakarta. Berbeda dengan kecenderungan yang dipilih mereka yang bermodal terbatas yang merasa lebih nyaman bermain di pasar menengah, Jerry justru memilih pasar premium sebagai sasarannya. Pilihan yang tak main-main mengingat ia sejatinya dihadapkan pada tantangan dan risiko yang sangat besar.

Kalender eksklusif yang ia buat sebagai modal itu sebagaiia pasarkan lewat kawan-kawan almamaternya di Toko Oleh-oleh Ganesha, ITB. “Separonya disebar secara gratis ke kenalan dan 300 perusahaan,” kenangnya. “Masak dari segitu banyak, satu persen saja nggak ada yang pesan?” katanya tentang perasaan yakin yang menetap di benaknya kala itu. Kekuatan keyakinan memang selalu berhasil menebar vibrasi positif. Upayanya menjaring peluang akhrnya menuai hasil. Lima tawaran kerja datang dari lima klien berbeda. Proyek pertama yang datang padanya berasal dari seorang pejabat perusahaan perminyakan, Connoco Philips, yang memintanya terlibat proyek pemotretan kilang minyak perusahaan tersebut di pedalaman Palembang selama tiga hari dengan nilai yang cukup lumayan.

Keuntungan yang ia peroleh dari pekerjaan yang nominal fee-nya mencapai Rp. 45 juta itu lantas menjadi pijakan bagi Jerry menetapkan posisi menapaki dunia usaha yang sesungguhnya. “Sejak saat itu saya tidak pernah lagi memberi harga murah untuk pekerjaan saya lakukan,” katanya. Menurut Jerry, pasar yang ia sasar, pasar premium, itu juga tak pernah melihat harga. Mereka mengutamakan kualitas, profesionalisme, dan tidak mentoleransi kesalahan sekecil apapun. Maka ia pun merasa pantas menerapkan harga tinggi demi tanggung jawab terhadap kualitas yang selalu berusaha ia junjung tinggi.

 

Mood Di Balik Lensa Jerry Aurum

TERBIASA MENDAPATKAN SEGALA sesuatu melalui usaha, Jerry Aurum memutuskan untuk berkecimpung dalam dunia wirausaha dalam bidang fotografi dan desain grafis. la memulai usahanya dengan membagi-bagikan kalender hasil karya kepada sejumlah perusahaan sebagai strategi promosi. Kini ia tak hanya memiliki banyak klien dari dalam dan luar negeri tetapi juga memiliki kantor yang memadai bagi bisnisnya. Kecintaannya kepada sang bunda membuatnya tergerak untuk membuat sebuah buku berjudul Femolography. Buku yang pada awalnya diterbitkan di Singapura ini menjadikan perempuan sebagai sumber inspirasi di balik lensa. Dengan bekerja secara profesional dan mampu membidik pasar dengan baik, Jerry membuktikan sebuah kreativitas menjadi penentu bagi lahirnya sebuah perubahan.

Q: Saya dengar Anda barn saja membuat blog Making a Difference Through Creativity (jerryaurum.wordpress.com). Apakah itu sebagai usaha untuk mendekatkan diri ke semua orang dan sebagai sarana untuk membagi jepretan kamera Anda ke khalayak umum?

A: Basically saya memiliki dua website. Yang pertama merupakan official website kami dan yang kedua ini – berjudul Making Difference Through Cre­ativity – merupakan respons saya terhadap rasa ingin tahu orang tentang ide, filosofi, dan hal-hal tersembunyi di balik layar pemotretan. Seperti ba­gaimana saya mendapatkan inspirasi, mengapa saya memutuskan sesuatu hal, tempat atau model untuk difoto, atau problem apa saja yang muncul selama pemotretan. Keseluruhannya diungkap secara tuntas di situs ini.

 

MENJUNJUNG LANGIT, MENJEJAK BUMI

Orang mungkin saja lantas beranggapan kalau ia terlalu percaya diri. Namun baginya, percaya diri adalah kunci utama untuk bermain dipasar premium. Jerry mengamati, kurangnya percaya diri bermain di pasar ini acap kali menjadi alasan kurang berkembangnya perancang grafis dan fotografer di Indonesia. Namun pasar premium, yang kendati memberi kontribusi besar bagi perkembangan kariernya, nyatanya tak berhasil menyihir Jerry menjadi antis dan selalu melihat ke atas.

Idealisms Jerry terhadap perkembangan dunia grafis dan fotografi, Indonesia membuatnya tak melupakan akar di mana ia mulai bertumbuh. Kemapanan yang ia peroleh serupa sumber mata air yang siap ia alirkan ke sungai-sungai yang membutuhkan kehidupan. Jerry tak lupa tanggung jawab sosial pada lingkungannya. Maka ia tak segan turun tangan membiayai proyek nonprofit seperti pameran, mengajar, hingga mengonsep desain untuk tukang roti yang jelas tak punya cukup uang untuk membayarnya. Ia sama sekali tak merasa rugi. Keyakinannya “Selalu ada keuntungan yang bisa kita dapat dari membagi isi kepala kita pada lingkungan.”

Jalan Jerry masih belum akan berhenti. Kini setelah lebih dari sewindu membangun usaha, ia mulai merambah keluar ‘halaman rumah’. Ia melanglang ke sejumlah negara untuk menjajal kemampuanya. Upaya yang mendapat sambutan baik, sebab beberapa klien telah ia miliki di sejumlah belahan bumi berbeda. Microsoft Asia, sebuah perusahaan tembakau di Pakistan, desainer terkemuka di Amerika, dan sebuah wedding organizer di Texas, Amerika, memercayakan kerja-kerja desain dan fotografi pada Jerry. Di dalam negeri tentu saja pamornya tak perlu dipertanyakan. Beberapa perusahaan otomotif terkemuka menjadi kliennya, di samping banyak pekerjaan lain. Mulai dari memotret, menjadi juri, hingga berbicara di berbagai seminar.

Arbain Rambey, fotografer senior yang kerap bekerjasama dengan Jerry di banyak penjurian lomba dan menjadi pembicara di ber­bagai seminar menilainya sebagai seorang muda yang pandai, mempunyai ambisi tinggi dan gigih memperjuangkan target yang ia canangkan. Namun Jerry tetap rendah hati. Dalam sebuah posting di blognya yang bercerita tentang proses penjurian Garuda Photo Contest di mana menjadi juri bersama sederet nama besar dunia fotografi seperti Goenadi Haryanto, Oscar Motuloh, Arbain Rambey, Agus Leonardus, Makarios Soekojo, Minoru Masujima, dan Tan Lip Seng, ia menyebut dirinya. sebagai ‘the little kid on the block’. Di tulisan lain di blognya ,ia juga tak sungkan melontarkan pujian tulus pada. Nita Azhar, seorang desainer batik asal Yogyakarta yang kali itu menjadi pembicara bersamanya. Sebab menurutnya, uraian wanita cantik itu membuatnya 1) pikir ulang seberapa banyak perhatian yang ia berikan pada kekayaan budaya sendiri dan mengolahnya secara kreatif. Jerry lantas menjadi sosok yang menarik karena pencapaiannya yang melontar tinggi ke langit tak berbatas, tak membuat kakinya abai menjejak bumi.

 

Kemapanan yang ia peroleh serupa sumber mata air yang siap ia alirkan ke sungai sungai yang membutikan kehidupan.

 

Q: Usaha Anda berawal dari hobi memotret atau dari bangku sekolah?

A: Awalnya dari hobi. Sewaktu masih kecil – sekitar usia lima tahun – saya wdah mencoba-coba kamera milik ibu saya. Lalu seat duduk di kelas dua SMA, dari lubuk hati yang paling dalam saya berkeinginan untuk serius dalam dunia fotografi. Saya buktikan dengan menghabiskan seluruh tabungan mass kecil untuk membeli kamera yang pertama.

Q: Anda menuntut ilmu di bidang yang berkaitan dengan desain grafis, sehingga latar belakang pendidikan mendukung dan sejalan dengan pekerjaan Anda. Tapi, mengapa Anda tidak bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang desain grafis?

A: Saya sempat bekerja selama tiga bulan dan tiga minggu, tetapi ternyata keinginan saya untuk menjadi seorang entrepreneur jauh lebih besar dari­pada dedikasi saya kepada kantor. Kemudian saya berhenti, namun selama bekerja saya sudah melakukan selfpromotion sendiri berupa kalender yang berisi foto-foto hasil karya saya. Kalender-kalender itu berjumlah 300 buah, Seluruhnya saya kirim ke berbagai perusahaan. Hasilnya saya mendapatkan lima client.

Q: Dan dari lima client itu, Anda bisa survive?

A: Ya, karena saya menggunakan perhitungan yang sangat sederhana. Dari 300 kalender yang saya kirimkan, saya hanya mengharapkan satu persen saja yang merespons. Artinya, tiga klien perusahaan. Katakanlah hitungan untuk satu klien yang saya dapatkan itu sebesar empat juta rupiah, maka dari tiga klien yang saya dapatkan, sudah dapat mengembalikan semua modal yang saya habiskan untuk biaya cetak. Kelima klien itu datang secara bertahap. Dua minggu datang satu, kemudian seminggu kemudian satu lagi datang, dan begitu seterusnya.

Q: Mengapa Anda menekuni bisnis yang berawal dari hobi?

A: Saya pikir itu sangat penting. Kite bisa menekuni dan menghidupi diri kita dengan sesuatu yang amat kita cintai. Sepengetahuan saya, hanya lima persen dari populasi orang bekerja yang dapat mengatakan bahwa mereka betul-betul menyukai apa yang mereka lakukan. Dari yang lima persen tersebut, hanya 40% yang mengatakan selain suka, mereka juga senang dengan penghasilan yang diperoleh. Artinya, hanya dua orang dari 100 orang. Padahal, dengan mengerjakan sesuatu yang sesuai de­ngan kesenangan maka akan terasa bedanya. Begitupun halnya dengan kepuasan atas reward yang kita dapat.

Q: Semangat dan kiat-kiat apa yang membuat Anda menjadi spesial dibandingkan fotografer yang lain? Sebab kabarnya Anda bisa bertahan hanya dengan empat atau lima order dalam sebulan.

A: Ada beberapa hal yang saya pikir secara fundamental memang harus betul-betul diterapkan. Kebetulan Indonesia adalah market yang masih sangat besar, sehingga dengan menerapkan beberapa hal yang sederhana, kita sudah berada selangkah di depan yang lain. Yang utama adalah profesionalisme. Tidak banyak orang – terutama yang berprofesi seniman – yang bisa menepati janji. Jika pemesan berkeinginan agar delivery itu terjadi besok, sebelum jam tiga sore, ya itu harus dipenuhi. Apalagi pemotretan dapat melibatkan biaya ratusan juta rupiah. Jika itu semua tergantung mood si seniman akan menjadi hal yang sangat gawat.

Q: Baru-baru ini Anda menerbitkan buku berjudul Femalography yang berisi karya-karya fotografi Anda. Di salah satu toko buku terbesar, buku ini hahkan disebut sebagai second best recommended book. Apakah ini meru­pakan salah satu usaha Anda memperkenalkan diri pada potential client?

A: Pada waktu itu saya berpikirjika di dunia komersial rata-rata kita harus molahirkan karya-karya yang memang berkaitan dengan bisnis, maka sebagai seniman kita tetap harus membuat satu jalur tempat kita bisa menuangkan ide dan kreativitas tanpa batas. Tetapi jika kita hanya membuat sesuatu sekadar hanya membuat saja namun tidak menjadi apa-apa, itu hanya akan membuang-buang uang dan tenaga. Jadi saya berpikir, mengapa saya tidak betul-betul berkonsentrasi membuat suatu project yang berjangka lonjang dan series hingga dapat dibuat menjadi buku sekalian.

Q: Dalam buku Anda ini hanya ada gambar saja, tidak ada teksnya. Apakah ini karena prinsip a picture is a million words?

A: Betul. Kebetulan saya juga tidak begitu pintar menulis.

Q: Saya juga pernah mendengar perusahaan Anda tumbuh menjadi besar. Anda lalu menambah karyawan namun kemudian Anda kurangi lagi. Mengapa hal itu terjadi? Anda kurang happy atau karena mood?

A: itu memang didasari mood. Tetapi saat ini saya mencoba untuk tidak menyerah pada mood. Kalau saya tidak sedang happy, saya akan mencari cara supaya saya bisa happy lagi tanpa merugikan diri sendiri. Dari situ saya morasa, meskipun mood kita sedang tidak baik, kita harus tetap memaksa otak untuk berpikir.

 

Namun penjejakan kaki di bumi itu tak lantas membuatnya ragu melebarkan sayapnya sejauh yang ia bisa. Maka ia merambah ke banyak branch jauh untuk membagi isi kepala. Menurut Jerry punya kiat khusus untuk sukses yakni pandai membaca dan cermat bereksplorasi dengan sejumlah eksperimen. Ia paham sekali bagaimana sulitnya berdamai dengan kondisi apresiasi yang masih terbilang belum terlalu tinggi di Indonesia.

Kini ia memetik hasil. Sebab pilihannya untuk menggelar pameran disana berlangsung sukses dan mendapat sambutan mencengangkan. Tak hanya dihadiri banyak tamu penting, Borders Bookstore Singapore juga menobatkan buku itu sebagai 2nd Best Recommended Gelar yang jarang diraih buku-buku karya orang Indonesia. Di antara setumpuk kesibukannya, Jerry rupanya masih menyimpan obsesi untuk membuat Femalography benar-benar menjadi trilogi, kendati artinya, ia harus merogoh kocek sendiri untuk membiayai pameran proyek idealisnya itu.

Lalu apa kiatnya menjaga semangat dan kreativitas berkarya ? Menjelajah pelosok tanah air dan berbagai tempat menarik di berbagai belahan dunia adalah caranya menambah wawasan agar kreativitasnya tak jalan di tempat. Ia meyakini hal ini, “Wawasan adalah sebuah modal penting bagi seorang kreator.” Dan bagaimana caranya ia menjaga semangat agar tak lelah bereksplorasi? Ternyata ia membatasi dengan hanya mengerjakan maksimal lima proyek dalam sebulan agar ia tak kelelahan. Sebab ia sangat meyakini kalau eksplorasi adalah hal yang hanya bisa dilakukan jika kreativitas menyala sementara rutinitas  adalah musuh utama baginya. Itu sebabnya ia selalu berupaya menghadirkan sesuatu yang baru dalam proses kreatifnya. “Senjata kreatif itu terus mencoba hal baru. Sekali stuck, selesai,” Jerry menandaskan.

 

 

Orang muda jangan pernah takut untuk memulai sesuatu selagi muda. Karena risiko yang timbul lebih ke­cil ketimbang kalau orang sudah tua. Tetapi jika kita telah menjadi seorang entrepreneur, ingatlah bahwa negara kita meinbutuhkan orang yang jujur yang bersedia untuk tetap bersih dalam bisnisnya. Walaupun tentu saja tugasnya menjadi banyak untuk bisa tetap berada di urutan teratas.


Hukum Wirausaha #9

Bekerja Cerdas, Bekerja Dengan Hati

 

Segala sesuatu dimulai dari pikiran. Apa yang kita pikirkan akan menentukan siapa kita, siapa kita akan menen tukan apa yang akan kita lakukan. Apa yang kita lakukan akan membentuk harga diri dan pengakuan.

– J. C. Maxwell

 

SEORANG USAHAWAN SENIOR belum lama ini memberi tahu saya tentang hal ini. “Kalau mau berusaha janganlah membisniskan wong cilik. Tetapi carilah peluang dan  bidiklah orang-orang kaya.” Pernyataan itu lama saya pikirkan karena sebagai seorang pendidik, saya selalu berhubungan dengan wong cilik.

Di kampus saya banyak bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa yang kondisi keuangannya pas-pas-an sehingga harus kami subsidi. Negara yang seharusnya menjalankan peran subsidi seringkali tidak­bisa menjalankan.

Mahasiswa berpotensi menjadi pemimpin mereka belum mempunyai kemampuan daya beli yang  memadai.

Belakangan saat terlibat sebagai social entrepre­neur, saya mulai menghayati ucapan usahawan itu. “Mengurus segmen di bawah banyak masalahnya. Selain sulit, untungnya pun hampir tidak ada, banyak komplain,” ujarnya. Orang ini ada benarnya, apalagi belakangan ini banyak politisi yang merusak mereka dengan uang. Tetapi diantara orang-orang miskin kita selalu menemukan ke­arifan dan orang-orang yang luar biasa dan ternyata juga menyenangkan.

Namun demikian segmen mana yang Anda pilih tentu saja berbeda penanganannya. Membidik pasar di bawah memang berat, tetapi pasarnya sangat luas. Seba­liknya segmen yang di atas memang menggiurkan, tetapi pasarnya sangat terbatas.

Jerry Aurum melihat potensi itu. Dia tahu membidik di atas perlu kesungguhan. Menurut statistik jumiah orang kaya Indonesia menunjukkan tanda-tanda meningkat. Tidak main-main saat ini sudah ada 23 juta orang Indone­sia yang memiliki penghasilan perkapita di atas US$7,000. Jumlah yang besar sekali bukan?

 

Pemenang tidak pernah berhenti. hanya yang berhenti tidak pernah me nang.

Pepatah Inggris

 

Berikut adalah tip membidik segmen premium saya sebut workheart— worksmart, artinya, “Put your heart  on your work, and be smart to target them.”

  • Berikan kualitas ya ng terbaik. Jangan pernah berfikir pikir orang membeli citra atau merek. Mereka pertama- tama berani membayar untuk mendapatkan kualitas. Jadi  berikanlah kualitas yang terbaik. Baik itu kualitas produk, jasa, layanan, kecepatan, penampilan, dan seterusnya.
  • Batasi produk. Produk yang berkualitas ­ditawarkan secara massal, sehingga semua orang bisa mendapatkannya dengan mudah. Produk yang berkualitas dihargai mahal maka pembuatannya dibatasi dan dijaga kualitasnya.
  • Konsistensi harga. Harga mencerminkan mutu, maka harga tidak bisa dinaik-turunkan karena ingin men­dapatkan pasar yang lebih luas.
  • Tempatkan pada segmen eksklusif. Tempatkan diri Anda dan produk Anda pada galeri tertentu yang sama segmennya dengan kualitas segmen yang Anda bidik. Jerry menerbitkan buku ekslusifnya di luar negeri dan karyanya dipajang di toko buku besar terkenal, world class.
  • Berikan penamaan dan credence. Credence ada­lah simbol kepercayaan. Lekatkan credence seperti prestasi, penerimaan, pada kalangan tertentu, komunitas yang Anda tekuni pada merek Anda sehingga timbul kepercayaan.
  • Selalu berada di depan. Kredibilitas Anda adalah ujian. Mereka melihat bukan hanya karya Anda melainkan juga Anda. The singer, not just the song. Maka selalu cipta­kan keunggulan baru, teknik baru, ilmu baru, nuansa baru secara periodik.

 

Dari Buku: Wirausaha Muda Mandiri Part 1: Kisah Inspiratif Anak Muda Mengalahkan Rasa Takut dan Bersahabat dengan Ketidakpastian, Menjadi Wirausaha Tangguh. Oleh: Rhenald Kasali Penerbit: Gramedia.

About wirasmada

Wirausaha Muda

Posted on 06/06/2012, in Industri Kreatif and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: