Monthly Archives: July 2012

Rohmat, Ide Kreatifnya Sukses Ciptakan Soto Jamur Instan ‘Sotoji’ dengan Omzet Menggiurkan

SIAPA yang tak tahu Soto! Makanan Indonesia yang banyak dijual di restoran, kedai, cafe, hingga di warung kaki lima. Rasanya yang menggiurkan dan enak disantap dikala hujan. Bisa Anda bayangkan, bila soto dijual dalam kemasan seperti mi instan yang sudah familiar di masyarakat.

Adalah Rohmat Sastro Sugito yang menjadi ahli dalam membuat dan meracik soto instan. Berbekal keinginan menyajikan makanan siap saji, namun tetap kaya gizi, terpikirlah membuat penganan tersebut.

“Awalnya banyak petani jamur. Nah, kalau sedang panen harganya kan jadi murah. Kalau diolah harganya jadi stabil,” katanya saat berbincang dengan Okezone beberapa waktu lalu.

Dari awalnya iseng coba-coba membuat menu dari berbagai macam jenis jamur yang ada, saat ini dia mengaku sudah mematenkan makanan yang dibuatnya yaitu “Sotoji” atau Soto Jamur Instan. Menurutnya, rasa jamur tiram-lah yang mampu diterima pasar dan enak untuk dijadikan olehan Sotoji-nya.

“Sebelumnya sempat dicoba segala jenis jamur, ada tiram, kancing, akhirnya setelah dipertimbangkan yang paling bisa diterima pasar adalah jamur tiram,” akunya.

Saat ini, usahanya ini telah menjadi sebuah perusahaan kecil dengan nama PT Tri Rastra Sukses Sejahtera. Meski diakuinya perusahaan ini masih dalam bentuk skala kecil, yang hanya memproduksi 40 dus setiap harinya, namun dia menargetkan dalam waktu dekat bisa memproduksi lima kali lipat.

“Sehari 40 dus, satu dus isi 20 pieces. masih skala kecil karena terbatas di mesin,” akunya.

Untuk memulai usaha, tentunya membutuhkan modal yang tidak sedikit. Saat disinggung berapa modal yang digunakan untuk memulai usaha yang masih tergolong hijau ini, dia enggan menyebut angka pasti. “Yang jelas, modalnya seharga satu unit mobil kijang,” katanya berkelakar.

Dalam waktu dekat, perusahaan akan segera mendatangkan mesin baru yang berasal dari Malang, Jawa Timur. Dengan datangnya mesin baru tersebut, dipastikan produksi akan bertambah menjadi sekira 500 dus per hari. Karena menurutnya, jumlah optimal yang seharusnya diproduksi adalah sekira 100 dus per hari.

“Mesin dari Malang, pokoknya produknya, semuanya dari Indonesia,” akunya mantap.

Keuntungan Sotoji

Berbicara modal, tentunya tidak terlepas dari berapa pundi-pundi yang dikantongi. Dengan rendah hati dia memastikan, setahun pertama belum ada keuntungan fantastis yang bisa diraihnya. Sebab, usahanya ini masih tergolong muda dan masih perlu banyak waktu untuk semakin maju.

Saat ini, per dus sotoji di jual seharga Rp50 ribu. Dalam sehari, perusahaan baru memproduksi 40 dus dan rencanannya akan meningkat dalam beberapa bulan ke depan. Jadi jika dikalkulasikan, pendapatan per hari Rp2 juta atau jika dihitung dalam satu bulan bisa meraup pendapatan Rp60 juta.

“Namun tahun pertama belum untung. Masih dalam tahap ekspansi pasar,” elaknya.

Franchise

Usaha yang digelutinya ini diakuinya akan dibuat sistem waralaba. Bentuk waralabanya ini juga masih dalam proses pengembangan. Dalam kedai-kedai yang sudah dimilikinya saat ini, selain dijual Sotoji kemasan, juga dijual yang sudah siap makan. Hal ini menjadi salah satu cara pemasaran Sotoji. Sebab, belum banyak yang menjual Sotoji kemasan. Karena, Sotoji baru bisa diperoleh di beberapa toko kecil.

Untuk lokasi kedainya juga baru berada di kawasan Depok. Dan dia berencana akan terus berekspansi ke pasar lokal yang menurutnya memiliki banyak peluang. “Masuk pasar luar memungkinkan kenapa tidak. Tapi fokus di pasar Indonesia karena saat ini kemungkinan terbuka masih sangat luas,” katanya lagi.

Berbicara produk tidak terlepas dari bagaimana cara pemasaran yang baik agar produk tersebut cepat dikenal oleh masyarakat. Rahmat memiliki cara unik dan jitu dalam memasarkan Sotojinya. Bagaimana caranya?

“Gerakan pertama lomba blog, menggunakan ranah online. Hal itu dilakukan karena terbatas dana. Mereka (peserta lomba) membuat blog segala hal mengenai Sotoji,” tutupnya. (wdi)

sumber: http://economy.okezone.com/read/2012/05/07/455/624856/sotoji-jualan-soto-instan-dengan-omzet-menggiurkan

Ariranto, Anak Supir Angkot Sukses Jualan Peralatan Gunung dengan Enam Outlet dan Puluhan Karawan

SETIAP orang pasti memiliki hobi untuk melepas stres maupun untuk rekreasi. Contoh saja Almarhum Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo. Salah satu cara yang beliau lakukan untuk menghilangkan kepenatan pekerjaan dengan melakukan hobinya, yakni mendaki gunung.

Hobi serupa dimiliki Peres Ariranto Pangabean. Berawal dari hobinya mendaki gunung bersama kakak dan teman-temannya, pria yang akrab disapa Peres ini telah terinspirasi untuk menjual perlengkapan gunung. Sayangnya, anak ke-3 dari empat bersaudara ini bukan terlahir dari keluarga pebisnis. Ayahnya, Timbul Pangabean, bekerja sebagai supir angkot, sementara sang ibu, Susiani beprofesi sebagai penjual sayuran yang bertempat tinggal di Kampung Tipas Mekarsari, Cimanggis, Depok.

Namun, hal tersebut tak mengahalangi Peres untuk memulai usahanya. Peres mengaku kedua orangtuanya mendukung apa yang akan dilakukan Peres. Tapi, orang yang paling mendukung Peres dalam keluarganya sang kakak kandungnya yakni Tongam Sopiantoro. Menurut Peres, kakanya itu kerap memotivasi Peres untuk lebih maju. Dukungan sang kakak, juga diwujudkan saat mereka mencari tempat yang digunakan untuk outlet outdoor miliknya di samping Universitas Pancasila, Jakarta Selatan. Outlet seluas 2×3 meter persegi tersebut, dibanderol dengan harga Rp6 Juta per tahun.

Kedua kakak beradik tersebut memang tidak mempunyai uang sedemikian besar, karenanya pada 2000 mereka mengajukan pinjaman ke bank dengan menggadaikan surat tanah milik orangtuanya. “Dulu nyari modal pinjam dari bank Rp5 juta, tapi yang cair cuma Rp2,5 juta,” kenang Peres kala berbincang dengan Okezone di salah satu outlet-nya cabang Depok, Jawa Barat beberapa waktu lalu. Alhasil untuk menambah modal tersebut Peres harus menjual kendaraan kesayangannya. “Saya sampai jual vespa waktu itu,” tambah dia.

Pasarkan Produk

Outlet pertama pun akhirnya berdiri, dengan meminjam nama sebuah gunung di Aceh, Leuser, yang kini ditetapkan sebagai merk produk outdoor-nya. “Dulu abang dan teman-temannya mendaki gunung Leuser di Aceh, lalu bersama ketiga temannya memilih nama Leuser untuk produk ini,” jelas dia.

Namun, masalah bukan selesai dengan mendapatkan tempat untuk mmbuka tempat berjualan. Masalah sebenarnya baru datang kala produk mereka muncul, yakni bagaimana cara memasarkan produk mereka. Menyewa tenaga marketing bukan opsi bagi mereka. Jangankan untuk menyewa marketing, untuk mempekerjakan seorang penjaga saja mereka belum mampu. Outlet tersebut, terpaksa dijaga bergantian oleh keduanya sekaligus melanjutkan kuliah.

Karenanya, pemasaran pun dilakukan keduanya sambil menjalankan kuliah. Berawal dari penawaran ke teman-temannya, produk keduanya pun mulai marak di antara teman-temannya. “Dulu setiap bawa barang ke kampus temen-temen malah pada tertarik. Mereka malah mampir ke outlet, soalnya kata mereka lebih lengkap di outlet,” jelas Peres.

Peres pun tidak main-main dalam menjalankan usahanya. Untuk itu, pria kelahiran Jakarta, 21 Oktober 1985 ini sengaja memilih ilmu administrasi niaga. “Saya milih kuliah ngambil jurusan administrasi niaga memang niatnya nanti mau ngembangin usaha bareng abang,” tuturnya.

Marketing yang dilakukan Peres dan kakaknya tergolong sukses menarik pelanggan. Dengan omzet awal sebesar Rp10 juta-Rp15 juta per bulan, membuat tempat yang awalnya dia sewa dipermanenkan pada 2011, sekaligus menjadi outlet resmi Leuser yang pertama.

Sukses Peres tak lepas dari tergabungnya dia dalam Ikatan Asosiasi Adventure Indonesia yang terdiri dari berbagai pengusaha dibidang jual beli perlengkapan outdoor. Peres mengaku outlet-nya kebanjiran order saat Juni sampai Desember, karena pada bulan-bulan tersebut saat libur sekolah dan banyak orang yang berlibur untuk traveling dan menggunakan peralatan gunung guna menunjang pendakian.

Motivasi

Peres mengaku dahulu tidak terpikir usahanya akan berjalan hingga saat ini. Sampai saat ini outlet yang dimilikinya sekira enam outlet di antaranya di Cibubur, Margonda Depok, Ciputat, Kramat Jati, dan Kalimalang, kawasan Universitas Pancasila. Dengan omzet mencapai Rp150 juta per outlet, Peres kini memiliki sekira 25 karyawan di enam cabang outlet Leuser miliknya. Sekira 15-17 merk peralatan gunung ia jual di enam cabang outlet-nya. Dengan permintaan konsumen yang kian meningkat setiap bulannya.

Hal ini, tak lantas membuat Peres berbangga hati. Dia mengaku sering membaca profil para pengusaha seperti Bob Sadino, Chairul Tanjung dan sebagainya untuk menginspirasi dirinya dan usahanya. “Mereka saja bisa, kenapa saya tidak, mumpung masih muda diumur saya 27 ini,” tukasnya sambil tersenyum.

Selain itu, keikutsertaan dia dalam organisasi outdoor juga mendatangkan keuntungan lain. Di setiap pertemuan dia dapat menambah wawasannya dan bertukar fikiran dengan sesama pengusaha outdoor untuk mengembangkan usahanya dan membahas kendala apa saja yang dihadapi dalam menjalankan usaha perlengkapan outdoor.

Oleh karena itu, persaingan dengan outlet outdoor lain pun dijadikan motivasi dirinya untuk terus mengembangkan usahanya, karena menurutnya jika tidak ada saingan maka usahanya tidak akan seperti yang ia jalani saat ini. Intinya, jelas dia, harus tetap berpikiran positif. “Saya percaya kalaupun enggak ada modal yang penting ada niat, jangan mudah menyerah dan yang penting bekerja keras, itu akan membawa kita pada kesuksesan,” ungkap Peres.

Menurut dia, kunci sukses lainnya adalah 25 orang karyawannya yang loyal. “Zaman sekarang orang pintar banyak, tapi orang jujur susah,” kata Peres.

Ke depan, Peres berencana akan mengembangkan usahanya dengan membuka cabang outlet Leuser di seluruh daerah di Jabodetabek. Dengan saving money 20 persen dari keuntungan yang didapat, Peres menyisakannya untuk memenuhi kebutuhan outlet-nya.  “Meskipun bapak sopir dan ibu tukang sayuran dulu, tapi sekarang saya sudah bisa mencukupi semua yang mereka perlukan,” tukas dia. (mrt/nia)
(ade)

sumber: http://economy.okezone.com/read/2012/05/13/455/628697/anak-supir-angkot-sukses-jualan-peralatan-gunung

Saptu, Kembangkan Kaos Khas Jogja Istimewa “Jogist”, Sukses Terjual Ratusan Kaos/Bulan

JAKARTA – Menunda kesenangan saat kuliah demi membuka usaha adalah kunci keberhasilan sang pemilik Kedai Digital saat memulai usahanya dibidang merchandise.

Jeli dalam melihat peluang bisnis yang besar juga menjadi inspirasi tersendiri dari seorang Saptuari Sugiharto. Kedai Digital yang dimilikinya kini telah “merajai” dunia usaha, serta produknya terlihat sudah tidak asing lagi, khususnya di wilayah Jawa.

Pria yang biasa disapa Saptu ini merupakan finalis Wirausaha Muda Mandiri 2007. Saat ini, dirinya sudah mempunyai 61 cabang Kedai Digital di 30 kota yang tersebar di Indonesia. Kedai Digital pun mempunyai konsep menghadirkan merchandise pribadi.

Mengapa akhirnya lahir Kedai Digital? Mulanya Saptu terpikir untuk membuka usahanya ketika dia melihat sebuah konser musik di Yogya. Kala itu, dirinya melihat orang-orang berebut kaos band Dewa.

“Saya pikir kok gara-gara kaos Dewa, orang sampai berantem berebutan seperti itu. Gara-gara merchandise artis. Dari situ aku berpikir merchandise itu untuk dijadikan lahan usaha,” ujarnya saat di temui Okezone.

Saptu yang lahir di Yogyakarta 8 September 1979 mengaku mulai berbisnis sejak duduk di bangku kuliah semester pertama Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1998. Ketika itu dirinya menjadi penjaga tas di kios UGM dengan gaji sebesar Rp20 ribu seminggu.

Saat ini, dia sedang mulai merambah untuk memproduksi kaos Yogya istimewa atau yang disebut dengan Jogist. Tahap penggarapan pun mulai berlangsung, dengan proses yang dimulai sejak 2011 lalu melalui penjulan online. Produk yang ditampilkannya, sebesar 30 persen bertema Yogya dan 70 persen bertema umum.

Selama kurun waktu tujuh tahun usahanya berjalan, sejak awal pertama kali membuka usaha pada 2005, dia nekat membuka cabang lagi pada 2006. Namun rencana tinggal rencana, bencana gempa di Yogya menjadi salah satu alasan tidak jadi dibuka. Namun, dirinya tidak menyerah.

“Saya enggak nyerah, waktu usaha saya terimbas gempa, saya coba lagi. Pada 2007 saya mengajak beberapa karyawan untuk mengajak menaruh saham di Kedai Digital, dari kerjasama itu menghasilkan lima cabang di Yogya,” katanya.

Bertempat di atas lahan seluas 2×7 meter yang merupakan bekas gudang becak. Dia pun menyulapnya menjadi kantor pusat. Sekarang, Saptu sudah memproduksi 60 produk merchandise.

“Dari yang tadinya hanya di sekitar Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur kini sudah merambah mulai Sabang sampai Marauke, dari Banda Aceh, hingga Jayapura. Serta akan segera opening sehingga jika ditotal sekira 37 kota,” tuturnya.

Dia menyebutkan, untuk yang benar-benar milik sendiri dan saham sendiri ada 10 kedai di seluruh cabang. Selebihnya, sebagian sahamnya dimiliki juga oleh mitra-mitranya. Saat ditanyakan soal omzet secara nasional, dia menyebutkan hampir sekira Rp800 juta sampai Rp1,2 miliar untuk keseluruhan cabang.

Saptu pun memasarkan merchandise-nya untuk personal sebesar 40 persen, serta untuk perusahaan sebesar 60 persen. Adapun untuk kebutuhan personal biasanya digunakan untuk selamatan, ulang tahun, dengan harga yang beragam.

Ekspansi Usaha

Saat ini, Saptuari tengah mengembangkan usaha kaos Jogist-nya. Dia pun sudah berhasil menjual 700 kaos Jogist dalam jangka waktu sebulan hanya dari satu kios baru miliknya. “Target saya sebulan 1.000 kaos. Per buah Rp75 ribu sampai Rp80 ribu,” singkatnya.

Dia mengakui, di kantor pusat Kedai Digital dan Jogist yang terletak di daerah Utara UGM dahulu omzetnya hanya sekira Rp20 juta per kedai. Namun, saat ini bisa mencapai Rp80 juta per kedai. Adapun, kendala yang dialaminya yakni untuk pengadaan bahan baku, karena tergantung dari bahan baku lokal yang masih terbatas. Dia pun memberikan tips bagi yang ingin membuka usaha, yakni tetap harus fokus pada usaha yang dijalankan, serta tidak mudah menyerah.

“Karena orang menyerah itu orang yang kalah di awal, banyak berinteraksi dengan Tuhan, dan perbanyak bersedakah. Rezeki akan datang unlimited. Lalu, berjuanglah dengan kelucuan dan keluguan, karena dengan hal itu kita bisa memperoleh keberuntungan dalam usaha,” tuturnya.

Jatuh Bangun Memulai Usaha

Dirinya yang lulusan sarjana geografi ini memulai jerih payahnya dengan berjualan ayam potong, celana gunung, batik, stiker. Semua dilakoninya sembari berkeliling kampus dengan menjajakan dagangannya. Semasa kuliah, dia sudah menjalankan bisnis serabutan. Ada delapan jenis usaha yang kala itu ditanganinya, mulai dari berjualan ayam, celana gunung, dan sebagainya.

“Saya mengimbau ke teman-teman mahasiswa jadilah pengusaha sebelum diwisuda, karena nanti ketika lulus akan siap langsung membuka usaha. Pak Dahlan Iskan (menteri BUMN) pernah bilang ke saya, kamu sebagai mahasiswa segera jalankan usaha, enggak apa-apa bangkrut sekarang, daripada nanti sudah tua bangkrut, sembuhnya lama. Setiap orang punya jatah gagal, habiskan jatah itu sekarang tinggal nanti berhasilnya,” ceritanya.

Sejak saat itu, usai menamatkan kuliahnya dari UGM, ia mengaku ijazahnya disimpan dengan rapih. kendati tidak digunakan karena dirinya sudah bertekad ingin menjadi pengusaha. Sang ibu pun mendukung tekadnya tersebut. Dia dan ibunya memberanikan diri meminjam uang untuk modal awal sebanyak Rp20 juta. Namun, yang cair hanya Rp15 juta, mengingat tabungan yang dimilikinya hanya Rp3 juta. Dia pun memberanikan diri menggadaikan surat tanahnya kepada bank.

“Ibu mengizinkan saya untuk meminjam uang di bank karena saya serius. Mengingat bapak sudah lama meninggal sejak saya masih duduk di kelas 5 SD,” tuturnya.

Melihat kondisinya yang sejak kecil telah menjadi anak yatim, yakni dari seorang anak tentara dan memiliki ibu pedagang di pasar Lempuyangan di Yogya, Saptu berniat agar ibunya dapat beristirahat dan dia memutuskan menjadi pengusaha. Kini, Saptu sudah berkeluarga namun belum memiliki anak. “Saya sedang menjalani proses untuk memperoleh anak,” tutupnya sambil tersenyum. (ade)

sumber: http://economy.okezone.com/read/2012/06/05/455/641939/kedai-digital-beromzet-hingga-rp1-2-m

Fauzan Raup Omzet Hingga Rp70 Juta/Bln dari Kaos Khas Medan “Kaos Medan Bah”

MEDAN – Kehidupan masyarakat yang semakin konsumtif, termasuk dalam memilih pakaian membuat prospek bisnis konveksi semakin manis. Namun, dibutuhkan kreatifitas lebih agar produk yang dihasilkan dapat memenangkan pasar pakaian yang menyajikan kompetisi yang cukup panas.

Melihat manisnya prospek bisnis konveksi, memunculkan ide bagi Fauzan (35) bersama dua rekannya Muklis dan Zulkarnaen untuk terjun ke usaha T-Shirt. Ingin tampil beda dari yang lain, desain khas Kota Medan lah yang dipilih sebagai andalan mereka. Baru dua bulan berjalan, kaos rasa Medan dengan merek dagang “Kaos Medan Bah” ini pun telah beromzetnya mencapai Rp70 juta per bulan dari pengeluaran untuk modal hanya Rp40 juta.

Kaos rasa Medan ini pun kini sudah dikenal hingga ke Bandung, Surabaya, Jakarta, Kalimantan, Semarang, Aceh dan Lampung, melalui media promosi dari mulut ke mulut dan internet, maupun brosur.

“Medan kan belum punya souvenir khusus kaos seperti Bandung dan Jogja, kalaupun ada belum semua orang bisa dapat. Medan kan punya potensi dari karakter bahasa yang khas dan unik, kami tergerak untuk memantapkan dan membuat T-Shirt dengan rasa Medan ini,” ujarnya saat Okezone berkunjung ke gerai tokonya di Jalan Abdullah Lubis, depan Masjid Al-Jihad, Medan, belum lama ini.

Fauzan mengaku, saat ini sudah terdapat 20 jenis lebih kaos dengan gambar maupun tulisan yang khas Medan. Di antaranya desain tulisan Mantap Krina, Medan Heritage, Horas, Ku Tungggu Ko Balek Medan, Cocok Kam rasa, Kreak Tapi Aktif, Kombur Molotop, Ini Medan Lae dan desain lainnya yang tidak kalah unik.

“Alhamdulillah, dua bulan berjalan, responsnya luar biasa, bahkan terkadang kita kewalahan karena stok ukuran yang tersedia habis,” katanya.

Fauzan pun berharap, hasil tangan kreatifnya tersebut bisa menjadi ikon Kota Medan, seperti makanan khas Bika Ambon dan lainnya. Untuk menjaga kualitas tetap terjaga, saat ini proses pembuatan masih dipesan dari Bandung langsung, dengan alasan bila dicetak di lokal, maka hasilnya kurang memuaskan.

Kemudian, guna menjaga ciri khas bahwa karya tersebut adalah hasil buatannya, maka hak paten akan segera dibuat. “Nah, masalah hak paten itu kan biasanya per item nama, jadi sepertinya untuk awal logo terlebih dahulu yang di patenkan dan itu akan secepatnya,” imbuhnya.

Selain T-Shirt, stiker, gantungan kunci juga sudah dibuat. Ke depan akan dibuat kembali, T-Shirt yang bisa dinikmati oleh anak-anak. Untuk harga kaosnya sendiri saat ini per item di banderol Rp80 ribu. “Untuk penjualan bisa dilakukan langsung maupun via internet dari Facebook dan website,” tandasnya. (wdi)

sumber: http://economy.okezone.com/read/2012/06/01/455/639899/wow-kaos-rasa-medan-beromzet-rp70-juta

Dari Kain Songket, Fauziah Mampu Raup Rp100 Juta/Bulan

BERAWAL dari meneruskan usaha orangtuanya, Fauziah, wanita berusia 54 tahun, merintis usaha industri rumahannya dengan membuat kain songket. Pembuatan kain songket ini memang tidak mudah, dia harus mencari pinjaman Usaha Kecil Menengah (UKM) dari BUMN untuk memajukan usahanya.

“Tadinya hanya meneruskan usaha orangtua. Namun karena terbentur modal, sempat berhenti,” ungkap wanita berkerudung ini saat berbincang dengan Okezone, beberapa waktu lalu.

Berkat konsistensinya memajukan kain tradisional, songket, Fauziah mendapat suatu binaan dari PT PLN (Persero). Menurutnya, dia mendapatkan modal dari PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebesar Rp21 juta. “Nah itu saya manfaatkan agar industri rumahan tersebut bisa berkembang lebih pesat lagi,” jelas dia.

Dengan pembinaan dari PLN, dia membanderol kain songket buatannya yang berkisar Rp1 juta hingga Rp4 juta. Menurutnya, penjualan kain songket cukup menjanjkan. Dia pun dapat menjual tidak kurang 40 potong kain songket per bulannya. Sehingga laba hasil usahanya dapat mencapai Rp100 juta per bulan.

“Tapi kalau lagi ramai sekali, sebulan bisa mencapai 40 potong. Kalau lagi biasa saja, mungkin 20 potong sampai 30 potong saja,” paparnya.

Kualitas itu Penting

Cara pemasaran kain songket pun tidak dilakukan dengan biaya mahal. Dia menuturkan, kain songket buatannya cukup dikenal berkat pelanggan-pelanggannya yang puas akan hasil karyanya. “Orang-orang tahu bisnis saya dari mulut ke mulut. Nah, kalau kualitasnya tidak bagus, nanti orang tidak mau balik ke sini lagi dong,” katanya.

Fauziah mengatakan, guna menjaga kepercayaan pelanggan, maka kulitas kain songket buatannya selalu dijaga. Menurutnya, hal tersebut cukup ampuh untuk menyiasati persaingan usaha sejenis yang tentunya cukup banyak di Palembang. “Kalau dibanding dulu, lebih maju sekarang (industri rumahan kain songket). Pokoknya kita strateginya, kualitas kainnya supaya tetap terbaik,” jelas dia.

Selain itu, dia kerap melakukan pelatihan kepada 15 orang pegawainya, untuk dapat membuat kain songket tersebut dengan baik. Ini dilakukan agar kualitas kain songketnya tetap terjaga. Selain itu, guna menjaga persaingan dengan produk serupa, dia tidak mematok harga kain terlalu tinggi. Baginya asalkan kain songketnya banyak laku terjual, itu sudah cukup baginya.

“Kalau saya prinsipnya tidak mau jual terlalu mahal. Standar saja, yang penting banyak terjualnya, tapi kualitasnya harus dijaga juga,” jelas dia.

Dia menambahkan, guna menarik banyak pemasukan, maka dia juga mempunyai pekerjaan sampingan yang masih masih berhubungan dengan kain songket. Ibu dua anak yang berdomisili di Palembang ini, menyiasati usaha kain songketnya dengan jasa menjahit baju dari kain songket yang dijualnya.

Pasalnya, tidak jarang pelanggan memintanya untuk membuatkan baju berbahan kain songket tersebut. Menurut dia, keindahan kain songket yang begitu mempesona membuat banyak orang ingin memiliki baju yang berbahan kain tradisional asal Sumatera tersebut. Fauziah menjelaskan, setelah merintis usaha industri rumahan tersebut selama 30 tahun tersebut, maka penjualan kain songket tidak lagi dipusatkan di daerah Palembang.

Meski kain songket buatannya belum beredar di luar negeri, namun dia senang orang di berbagai penjuru di Indonesia dapat merasakan hasl karyanya. “Kita hanya kirim untuk ke Jakarta, sama Medan. Tapi paling banyak ke Jakarta,” katanya.

Kunci Mempertahankan Pelanggan

Selain modal uang, menurutnya modal kejujuran juga penting dalam merintis sebuah usaha. Dia meyakini usahanya bisa sampai seperti saat ini bukan semata-mata hanya bermodalkan uang. Namun juga kejujuran yang selalu dijaga, sehingga para pelanggan selalu kembali untuk membeli kain songket buatannya.

“Pokoknya yang penting kalau mau usaha itu jujur. Misalnya kain songketnya ada cacat sedikit, ya saya bilang. Lalu harganya saya kurangin. Kalau misalkan saya bohongin dengan harga tetap mahal, padahal kainnya cacat, nanti orang atau pelanggan saya merasa tertipu, nanti tidak mau balik ke saya lagi,” jelas dia.

Meski demikian, hingga saat ini dia masih berharap usahanya dapat dikembangkan luas dan dapat go international. “Saya harap nanti kain songket buatan saya bisa diekspor. itu impian saya,” tutup dia. (mrt) (ade)

sumber: http://economy.okezone.com/read/2012/07/02/455/657622/pesona-kain-songket-mampu-raup-rp100-juta-bulan