Tenku Fahlia Kurnia, Pemilik Tifahny shop: Tangan Terampil Lebih Tampil


Sukses bisa diraih dimana saja, jjuga dari souvenir cantik buatan tangan-tangan mungil.

 

 

SEKILAS TIDAK ADA hubungannya antara pendidikan yang ditempuh Tengku Fahlia Kurnia selama tiga tahun di Politeknik Negeri Medan Jurusan Akuntansi Program Studi Perbankan dan Keuangan, dengan bisnis kerajinan tangan souvenir yang kini digenggamnya. Namun, pendidikan tersebut diakuinya banyak membantu mengelola bisnis dan keuangan. Hingga modal Rp700 ribu yang dulu dimilikinya pada Desember 2008, kini sudah berkembang menjadi ornzet Rp60 juta setahun. Keuntungan bersih yang ia kantongi mencapai setengah dari jumlah tersebut. Itu sebabnya wanita kelahiran Medan, 8 Desember 1987 ini akhirnya memilih menangani bisnis ini dengan serius ketimbang menjadi orang ‘gajian’.

 

TERBIASA WIRAUSAHA

Sejak kecil Fahlia memang sudah terlihal berbakat dalam urusan jual-beli. Pada waktu masih duduk di bangku sekolah dasar saja, ia sudah biasa berjualan es di sekolah. “Kata orangtua saya, hal ini dilakukan untuk membiasakan saya hidup mandiri,” tutur Fahlia, mengenangkan perjalanan kewirausahaannya. Dengan membawa termos es dari rumah, Fahlia menitipkan dagangannya di warung. Sepulang sekolah, dengan riang ia membawa uang basil penjualan esnya untuk ditabung. Kebiasaan itu diteruskan di sekolah lanjutan. Barang dagangannya tidak melulu es, kadang Fahlia menjual makanan kecil, sesuai dengan kebutuhan di tempatnya menitipkan barang dagangannya.

Namun, setelah selesai pendidikan, Fahlia mendapatkan pekerjaan dari salah satu perusahaan franchise minuman sebagai akuntan. “Awalnya saya tidak mau bekerja di tempat tersebut karena kurang elite dan terkenal.

 

Kegagalan bisnis cokelat membukakan mata Fahlia bahwa ia harus menemukan barang dagangan yang secara komersial bisa laris di pasar, bukan hanya menampung kreasinya.

 

Tapi, karena perusahaan tersebut baru, saya tertantang untuk ikut mengembangkannya,” kata Fahlia. Pekerjaan tersebut didapatnya tanpa sudah payah karena ia termasuk mahasiswa berprestasi. Tetapi, mungkin karena terbiasa berwirausaha inilah Fahlia tidak terlaiu antusias bekerja untuk memperoleh gaji rutin.

Imajinasi kreatif Fahlia tidak dapat dibendung oleh rutinitas. Setelah setahun, ia kembali merasa bosan dan ingin berwirausaha; membuat atau memproduksi sesuatu, Ialu menjualnya. la tidak ingin menjadi orang gajian yang pendapatannya terbatas setiap bulan. Dengan berkarya membuat benda yang akan dibeli orang, ia merasa hidupnya lebih berwarna.

Memang tak mudah mewujudkan keinginannya itu. Orangtua Fahlia keberatan bila anak mereka yang pintar itu berhenti bekerja, sebab posisinya sudah lumayan dan gajinya pun tidak kecil. Belum lagi add tawaran kerja lain yang mengalir dari sebuah bank syariah. Pendeknya, bekerja menjadi orang berpenghasilan tetap setiap bulan tampak lebih bagus ketimbang berwirausaha yang belum jelas ujung pangkalnya.

 

GAGAL DULU, SUKSES KEMUDIAN

Sebelum membuat souvenir dari kain flanel yang kini dikembangkannya di bawah bendera Tifahny Shop, Fahlia bersama dud temannya sepakat berbisnis cokelat dengan bermacam bentuk yang menarik. Sayang, di kota kecil Binjai itu, harga cokelat yang cukup tinggi tak mungkin membuat produk itu laris. Kendati banyak yang menyukainya, permintaan pasar tak cukup tinggi untuk membuat Fahlia dan teman-temannya mempertahankan bisnis itu.

“Setelah itu barulah saya terpikir untuk membuat souvenir,” kata Fahlia. “Kebetulan di Medan saat itu banyak sekali remaja dan anak muda yang sedang gandrung akan segala macam aksesori. Entah itu dompet, sarung ponsel, gantungan kunci, dan sebagainya. Saya melihat pasar aksesori dan souvenir seperti itu lebih luas ketimbang cokelat, karena harganya juga tidak mahal.”

Fahlia memilih kain flanel dan velboa sebagai bahan bakunya karena kedua bahan itu mudah diperoleh. Untuk inspirasi desain, ia Bering melihat majalah, browsing internet, ataupun mencari bentuk mini dari sebuah benda yang ada. Kebetulan pula, ia memang terampil menjahit. Jadi, pas rasanya berwirausaha dengan melakukan hal yang ia bisa dan sukai. Tentu saja pilihan ini sangat berbeda dibandingkan jika ia bekerja di tempat yang tidak terlalu disukai, atau mengerjakan hal yang membuat imajinasinya terbelenggu.

 

BIODATA

TENGKU FAHLIA KURNIA

Medan, 8 Desember 1987

Email: fahliak@yahoo.co.id

Telp: 085296699746

Pendidikan

D3 Akuntansi, Politeknik Negeri Medan, Medan

Nama Usaha

Tifahny Group (Handycraft & Souvenir dari kain flanel)

Website: http://www.tifahnyshop.com

Alamat: A Jend Gatot Subroto No.307 Binjai, Sumatera Utara 20719

Penghargaan

2009 Penghargaan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata

2009 Finalis Nasional Wirausaha Muda Mandiri

2010 Juara III Wirausaha Muda Berprestasi dari Menpora

 

Kegagalan berbisnis cokelat membukakan mats Fahlia bahwa ia harus menemukan barang dagangan yang secara komersial bisa laris di pasar, bukan hanya menampung kreasinya. Karena itu, ia harus memperhitungkan apakah target marketnya cocok dengan barang–dan harga barang–yang ia tawarkan. la percaya diri bahwa souvenir dan aksesori yang ia tawarkan akan diminati, karena desainnya unik dan menarik, plus harganya terjangkau. la menyasar konsumen yang ke mana-many selalu memakai aksesori. la juga membuat segala macam ‘amunisi’ untuk mempromosikan usahanya, mulai dari website, kartu nama, brosur, katalog, dan mengikuti banyak pameran.

Jerih payah itu berhasil. “Akhirnya usaha saya mulai dikenal orang. Tapi, kalau ingat dulu, banyak sekali hal yang harus saya lalui. Usaha ini tidak berjalan minus begitu saja. Saya pernah diejek orang ketika menawarkan dagangan. Pernah juga mengikuti pameran yang sepi dan pengunjungnya hanya sedikit. Saya juga pernah disepelekan orang karena menurut mereka, usaha saya hanya souvenir dari kain flanel yang tidak mungkin akan maju. Ketika mulai maju dan punya banyak pesanan pun saya bingung memikirkan siapa yang akan mengerjakan,” Fahlia berkisah.

 

Bukan hanya menawarkan dagangannya pada konsumen, Fahlia juga menyasar distributor yang nantinya akan memasarkan dagangannya.

 

Kisah Fahlia terus bergulir. la memilih untuk membuka toko di rumahnya sendiri, supaya pengeluaran menjadi lebih efisien. la pun menjalankan usahanya dengan cara yang agak berbeda. Bukan hanya menawarkan dagangannya pada konsumen akhir, tapi Fahlia juga menyasar pihak-pihak yang ia rebut distributor. Para distributor itulah yang nantinya juga akan memasarkan dagangannya. Untuk para pelanggan ini, Fahlia memberikan diskon, sambil berdiskusi soal desain yang kira-kira disukai konsumen. Dengan cara demikian, belum 3 tahun usaha ini berdiri, pasar Medan mulai terkuak. Ditambah dengan Riau, Makassar, dan Pulau Jawa.

Fahlia juga meluaskan ragam produksi dan segmen pasarnya. Tidak hanya anak muda, orang dewasa ia ‘tembak’ juga. Maka tak hanya souvenir dan aksesori yang dipakai orang muda, ia juga memproduksi tempat tisu, sarung toples, kaus, tas, dan lain sebagainya.

Caranya berwirausaha juga berubah. la merekrut beberapa orang ibu rumah tangga yang ingin memperoleh penghasilan, juga para tetangga yang hidupnya kurang berkecukupan. Setelah dibantu 9 orang, ia kini tak lagi harus menjahit sendiri. la lebih banyak melakukan tugas pemasaran.

“Apa lagi setelah mengikuti lomba Wirausaha Muda Mandiri, saya merasa pamor bisnis dan saya sendiri menjadi lebih meningkat. Ditambah saya mendapat banyak ilmu dengan pengarahan dari Bank Mandiri dan Rumah Perubahan. Saya merasa pelatihan dan pembinaan itu menjadikan saya lebih berkembang dan dikenal masyarakat,” kata Fahlia, menyelipkan rasa senang dalam intonasi suaranya.

 

Kebetulan ia memang terampil menjahit. Jadi, pas rasanya berwirausaha dengan rnelakukan hal yang ia bisa dan sukai.

 

Saat ini Fahlia—yang bisnisnya bisa diakses lewat situs http://www.tifahnyshop. com—sedang bekerja sama dengan pengusaha kain sutra untuk memodifikasi souvenirnya menjadi boneka. Bahkan dengan kerja sama itu, ia diundang KADIN mewakili provinsi Sumatra Utara ke Jepang untuk pameran. Selama dua minggu ia menikmati Jepang sambil mempelajari negara sakura itu dengan mata bisnisnya.

Semua diraihnya lewat kerja keras, tak malu diejek, ataupun disepelekan. la membuktikan bahwa bila seseorang sudah memiliki kemauan, maka dengan tangan-tangan mungil yang digerakkan Tuhan, dengan otak yang diputar untuk kreatif, maka setiap orang dapat berprestasi. “Dan bermanfaat tak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga orang lain,” kata Fahlia mantap.

 

TESTIMONI

Q: Mengapa memilih membuka toko di rumah?

A: Karena dengan demikian saya bisa menghemat biaya. Saya tidak memiliki toko. Rumah usaha saya itu hanya sebagai tempat stok barang untuk kemudian dikirimkan ke distributor di berbagai kota.

 

“Saat menjadi finalis wirausaha muda mandiri, saya menjadi yakin kalau inilah jalan saya yaitu menjadi mengusaha. Meskipun demikian ilmu akutansi saya tetap berkembang karena saya juga membuat laporan keuangan. Saya juga merasa lebih mudah dalam hal manajemen usaha, sehingga saya tidak merasakan penyesalan sama sekali (masuk ke bisnis ini). Setelah saya keluar dari kantor, orderan untuk produk saya mengalami peningkatan.”

 

Tips

HUKUM WIRAUSAHA #20

Mangenal Pasar dan Kegagalan

 

“Kebahagiaan tidak datang dari melakukan pekerjan mudah, tetapi dari sisa-sisa kepuasan yang datang setelah pencapaian tugas sulit yang menuntut kemampuan terbaik kita.” —Theodore Isaac Rubin

 

BANYAK ORANG TIDAK memahami mengapa mengalami kegagalan dalam berwirausaha, dan sebagai pemula, wirausahawan muda memang sangat dekat dengan kegagalan. Rats-rats orang yang mengalami kegagalan adalah orang yang memulai usaha dari dirinya sendiri dan bukan berdasarkan permintaan pasar. Jadi, orang tersebut menghasilkan sesuatu yang bisa dia buat, bukan sesuatu yang benar-benar dikehendaki pasar. Agar menjadi pengusaha yang terhindar dari kegagalan, kita harus mengenal perilaku dunia usaha dan hal-hal yang perlu kita perbaiki sebagai seorang pengusaha:

  • Mulailah dari pasar dengan melihat spa yang sesungguhnya diperlukan oleh pasar. Kalaupun kita memulai dari diri sendiri, telitilah sebaik mungkin apakah produk yang mampu kita buat benar-benar ada peminatnya, belum banyak pelaku usaha yang dapat menyediakan atau melayaninya, dan masih memungkinkan bagi kita untuk menciptakan keunikan dari hal yang ingin kita kerjakan.
  • Ingatlah bahwa Anda adalah pengusaha, bukan petani, tukang, maupun produsen. Di era sekarang pengusaha adalah orang yang menghubungkan produsen dengan pasar dan creating value. Kemampuan produksi—yang merupakan keahlian teknis dengan permodalan yang jauh lebih besar—dapat diserahkan kepada pihak ketiga, sementara pengusaha harus memperdalam keahlian mengeksploitasi pasar. Jadi memiliki fasilitas produksi adalah sah, sepanjang Anda menciptakan value untuk konsumen dan Anda melakukannya dengan pikiran adanya pasar.
  • Ada dua penyebab utama terjadinya kegagalan. Yang pertama adalah orang yang terlalu serius mempertahankan sesuatu yang sudah tidak dibutuhkan lagi, sementara yang kedua adalah orang yang terlalu banyak bermain dalam mencapai keinginannya. Supaya Anda bisa berhasil, maka jadilah manusia yang cepat membaca tanda-tanda pasar beserta perubahannya, sekaligus lebih fleksibel dalam menggunakan keahlian yang dimiliki.
  • Tidak semua usaha otomatis langsung sukses dan diminati pasar. Namun sekali usaha Anda sepi, lakukanlah sesuatu. Jangan biarkan kesepian menemani usaha Anda.

 

Dari Buku: Wirausaha Muda Mandiri Part 2: Kisah Inspiratif Anak-anak Muda Menemukan Masa Depan dari Hal-hal yang Diabaikan Banyak Orang. Oleh: Rhenald Kasali Penerbit: Gramedia.

About wirasmada

Wirausaha Muda

Posted on 06/07/2012, in Industri Kreatif and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: