Monthly Archives: August 2012

Dulu Karyawan, Eko Kini Juragan Perhiasan Perak dengan Laba Puluhan Juta/Bulan

KOMPAS.com – Menekuni
kerajinan desain perhidasan sejak
2011, Eko Filyawan kini sukses
meraup omzet tebal dari ceruk
usaha ini. Dalam sebulan,
omzetnya mencapai Rp 150 juta
hingga Rp 200 juta.
Dari omzet tersebut, laba bersih
yang didapatkan sekitar 15
persen. “Laba bersih yang saya
dapat sekitar Rp 30 juta hingga
Rp 40 juta dalam sebulan,” kata
Eko yang merintis usaha di
Gianyar, Bali.

Saat ini, ia fokus memproduksi
perhiasan berbahan perak. Ia
sebetulnya sudah tidak asing
dengan usaha perhiasan perak
ini. Di 2009, ia pernah bekerja
di sebuah perusahaan perhiasan
perak internasional yang
membuka lisensi di Indonesia.

Kala itu, Eko menjabat sebagai
production planning and
inventory control. Dengan
jabatannya itu, ia banyak
mengetahui berbagai aktivitas
produksi perhiasan perak.
Pada tahun 2010, ia pindah
bekerja ke perusahaan
perhiasan perak lainnya. Di sini,
ia menjabat sebagai manager
customer relation. Dengan
posisinya itu, ia banyak
menjalin relasi dan belajar
menangani para pelanggan.
Berbekal pengalamannya
tersebut, di tahun 2011 Eko
mendirikan usaha sendiri
bernama Kawan Bali. “Modal
awal saya tidak begitu besar,
hanya sekitar Rp 30 juta.
Soalnya, setiap pemesanan,
pembeli akan membayar uang
di muka,” ujar Eko.

Tak hanya mendesain, ia juga
mengawal produksi perak hasil
desainnya tersebut hingga
sampai ke pelanggannya. Tidak
terlalu sulit bagi Eko dalam
menjalani usaha ini, karena
relasinya sudah kuat.
Selain itu, ia juga memasarkan
perhiasan hasil desainnya
secara online . Hampir seluruh
perhiasan Kawan Bali
diproduksi rumahan dengan
buatan tangan.

Jika pesanan sedang
membeludak, ia terpaksa
menggandeng perajin lain.
Sebab, kapasitas produksinya
masih terbatas. Saat ini,
produksi Kawan Bali sekitar 300
hingga 500 buah perhiasan
dalam sebulan.
Produk perhiasan itu dibanderol
mulai Rp 300.000 hingga Rp
600.000 per buah. Ia
mengklaim, perhiasan hasil
rancangannya cukup diminati
pasar. Selain di dalam negeri,
seperti Bali, Bandung, dan
Kalimantan, ia juga pernah
mendapat pesanan dari Amerika
dan Belgia. Kini, ia mengaku
tengah menangani pesanan dari
Jerman.
Menurut Eko, perhiasannya
diminati karena desainnya yang
menarik. Selain itu, “Saya juga
berusaha membuat desain yang
tidak banyak dimiliki orang
lain,” jelasnya.

Kendati demikian, ia tetap
mengupayakan agar dari sisi
harga desainnya tidak terlalu
mahal dan bisa diproduksi
dalam jumlah besar. Hal itu
penting untuk mengantisipasi
pemesanan dalam jumlah besar.
Dalam perjalanan membesarkan
usaha ini, Eko juga pernah
mengalami kendala. Misalnya,
saat ia mendapat pesanan besar
dan menyanggupinya. Namun,
ia ternyata kesulitan memenuhi
pesanan tersebut, sehingga
akhirnya terkena penalti atau
denda.

Kendala lain, ia juga pernah
ditipu perajin. Ia menceritakan,
saat itu mendapat order besar
sehingga menggandeng perajin
lain. Untuk itu, ia memasok
perak ke perajin yang menjadi
mitra usahanya sebanyak satu
kilogram.  “Eh, malah perak itu
dibawa kabur oleh perajin
tersebut,” ujarnya. (Revi
Yohana, Revi Yohana/ Kontan)

Sumber: http://m.kompas.com/news/read/2012/05/15/14592244/dulu.karyawan..eko.kini.juragan.perhiasan.perak

Dari Hobi, Pardianto Jadi Pengusaha Produk Kulit Buaya Beromzet Ratusan Juta

JAKARTA, KOMPAS.com — Tidak
sedikit orang menjadikan produk
kulit buaya sebagai barang hobi
atau kesenangan belaka. Namanya
hobi, sekalipun mahal, tetap
mereka beli.

Akan tetapi, tidak banyak yang
lebih memilih menghasilkan
sendiri untuk dijual ketimbang
sekadar membeli atau menjual
kembali barang yang dibelinya ke
sesama pehobi. Pardianto adalah
salah satu di antaranya . Pria ini
mulai menyukai berbagai produk
dari kulit, seperti sepatu, ikat
pinggang, dan dompet, sejak
1991. Berselang delapan tahun
kemudian sebagai pehobi, ia
memutuskan terjun sebagai
pengusaha kerajinan kulit buaya
itu.

“Lambat laun, ada niat dari saya
untuk belajar bagaimana
membuatnya dari perajin lain dan
akhirnya kita bisa menghasilkan
sendiri. Daripada hanya jadi
penikmat saja yang hanya
menghabiskan uang,” ujarnya
kepada Kompas.com ditemui di
ajang pameran fashion dan
kerajinan tangan di JCC Senayan,
Jakarta, akhir pekan lalu.
Kini, melalui usaha kerajinan kulit
buaya asli dari Provinsi Papua
tersebut, ia mengaku mampu
menghasilkan pendapatan kotor
Rp 100 juta dalam sebulan. Itu
pun masih bentuk industri
rumahan dengan bantuan alat
manual non-mesin modern atau
handmade dan tidak bermerek
jual. Pegawainya pun hanya
berjumlah lima orang.
Pardianto mengatakan, populasi
buaya di Papua terbilang banyak.
Ini membuat keberadaannya
cukup membahayakan bagi
masyarakat, terutama anak-anak
di sekitar rawa, sungai, dan pantai.

Menurutnya, hewan ini pun
akhirnya menjadi salah satu
sumber kehidupan bagi
masyarakat sekitarnya. Warga
memanfaatkan buaya mulai dari
kulit, daging, gigi, telur, hingga
empedunya. Selain hasil
penangkapan, ada juga yang
ditangkarkan di suatu tempat
hingga menghasilkan keturunan.
“Kita di Papua sudah memiliki izin
dari pemda untuk
membudidayakan buaya. Kita juga
bermitra dengan konservasi
sumber daya alam di sana.
Mungkin kalau di wilayah
Indonesia barat, membunuh
buaya hal yang legal, tapi di Papua
tidak demikian,” ungkapnya.
Kulit buaya yang didapat
Pardianto berasal dari masyarakat
sekitar. Ia hargai kulit Rp 30.000
per inci. Seekor buaya ukuran
besar bisa mencapai 20 inci kulit
dan dalam 1-3 hari bisa mendapat
pasokan sekitar 200 inci. Kulit
mentah itu berbentuk kasar,
bersisik hitam, dan masih banyak
daging yang menempel.
Melalui industrinya, kulit tersebut
disamak atau dihaluskan dengan
cara manual tanpa bantuan mesin
modern. Ketika dirasa sudah
halus, maka layak pakai atau
sesuai standar dijadikan sebagai
bahan dasar kain.

Dalam sebulan, rumah
produksinya mampu
memproduksi sekitar 500 dompet,
25 tas wanita, dan 150 ikat
pinggang. Sebagian besar wilayah
pemasarannya masih sebatas di
Papua saja, seperti Timika,
Sorong, dan Merauke. Kendati
demikian, ia mengaku
penjualannya tidak pernah
merugi.
“60 persen dari total produksi
sebulan bisa habis terjual.
Kebanyakan pembeli dari
kalangan pejabat, pengusaha yang
berkunjung ke Papua, dan juga
satgas yang bertugas di wilayah
perbatasan,” ujarnya.
Wilayah Jakarta dan sekitarnya
hanya dijadikan tempat pameran.
Akan tetapi, ia juga menyadari
pasar di Jawa sangat potensial
bagi produknya. Maka dari itu, ia
juga mempunyai tempat produksi
sekaligus showroom di daerah
pasar wisata Sidoarjo, Jawa Timur,
dengan pasokan kulitnya tetap
dari Papua.

Harga lebih murah

Produk Pardianto pun direspons
cukup baik oleh konsumen, harga
yang ditawarkan terbilang murah
dibanding produk serupa di
tempat lain. “Bila saya ke suatu
toko di Plaza Senayan, sepasang
sepatu dengan merek terkenal
Hermes atau Louis Vuitton seperti
ini bisa mencapai Rp 40 juta,
dompet dan ikat pinggang Rp 15
juta, dan tas wanita bisa mencapai
Rp 400 juta,” ungkap salah
seorang pembeli saat
mengunjungi stan pameran
Purdianto.
Hanya saja, ia mengaku,
penyamakan kulit buaya dari
kerajinan Pardianto memang tidak
sehalus dengan buatan brand-
brand ternama itu yang
menggunakan mesin modern
ratusan juta rupiah. Menurutnya,
bila Purdianto mau bermodal
mesin tersebut dan memakai
merek, maka harga jual sekarang
bisa 2-5 kali lipat.

Sementara produk Pardianto
dibanderol mulai ratusan ribu
hingga jutaan rupiah, seperti
dompet dan ikat pinggang kisaran
Rp 300.000, sepatu Rp 1,8 juta-Rp
2 juta, dan tas wanita Rp 2 juta-Rp
2,5 juta. Dari ketiga barang
tersebut, Pardianto mengakui, tas
wanita dan dompetlah yang
paling laku di pasaran.
“Harga fashion kulit buaya ini
umumnya diketahui oleh
masyarakat kalangan menengah
atas. Kalau ada tamu ke rumah
lalu saya bilang harganya Rp 5 juta
dan itu asli, pasti bakal langsung
dibayar,” ungkapnya tertawa lepas
sembari menunjukkan dompet
kulit pribadinya berumur lebih
dari enam tahun merupakan hasil
produksi sendiri.

Ia mengungkapkan, butuh
permodalan yang cukup besar
bila ingin menerapkan mesin
produksi modern. Padahal,
tawaran Kredit Usaha Rakyat
(KUR) dari berbagai bank daerah
berdatangan. Namun, hingga saat
ini ia masih belum berani
mencobanya. Selain permodalan,
juga butuh perizinan, sumber
daya manusia lebih banyak dan
sebagainya.

“Saya bersyukur dengan usaha
yang sekarang ini bisa punya
rumah, tanah, dan kendaraan
pribadi. Selama 14 tahun, usaha
ini pun juga tidak pernah merugi,”
tutur pemilik CV Argo Boyo Timika
ini.(Dimasyq Ozal)

sumber: http://m.kompas.com/news/read/2012/08/14/09530268/dari.hobi.jadi.pengusaha.produk.kulit.buaya.beromzet.ratusan.juta.

Berawal dari Iseng, Ryo Kini Juragan Distro Beromzet Miliaran

KOMPAS.com — Usia muda
bukan berarti tak bisa mencapai
kesuksesan. Kusdarmawan Aryo
Baskoro membuktikan, di usianya
yang masih muda, 28 tahun, dia
mampu meraup omzet miliaran
rupiah setahun dari usaha distro
yang dirintisnya di Solo.
Kata distro alias distribution
outlet tentu sudah tidak asing di
telinga masyarakat Indonesia.

Toko pakaian jenis ini masih eksis
hingga sekarang lantaran masih
menjadi kiblat fashion anak muda
di hampir semua kota besar.
Bahkan, tidak sedikit anak muda
yang sukses menjadi juragan
distro ini, salah satunya adalah
Kusdarmawan Aryo Baskoro.

Mengusung nama perusahaan
Rawn Divisions, semua merek
yang diproduksi oleh pria yang
akrab dipanggil Ryo ini dilabeli
dengan nama Rown. Nama ini
merupakan kependekan dari Ryo
Owner atau bisa juga diartikan
tapak alias jejak kaki. “Harapan
saya, produk bisnis yang saya
bangun ini bisa menapak di mana-
mana,” ujar pemuda kelahiran
Surakarta, 9 November 1984, yang
boleh dibilang sukses menjadi
juragan distro di kotanya itu.
Ryo menjual berbagai produk
fashion seperti halnya distro lain.
Misalnya, t-shirt, kemeja, celana
jins, sepatu, dan berbagai
aksesori, seperti topi dan stiker. Ia
juga membawa Rown tidak hanya
menyasar anak muda, tetapi juga
segmen anak-anak hingga orang
tua. “Tapi, kami lebih dominan
membidik pasar anak muda,”
ungkapnya kepada Kontan.

Usaha distro yang dibangun
pemuda usia 28 tahun ini kini
memiliki omzet usaha hingga
miliaran rupiah. Dalam sebulan,
Ryo mampu memproduksi 3.000
hingga 4.000 kemeja, 2.000
pasang sepatu, 3.000 potong
celana jins, dan yang terbanyak
adalah sekitar 25.000 potong
kaus. Setiap satu desain hanya
diproduksi 30 potong.

Saat ini, Ryo memang hanya
memiliki dua gerai, yaitu di
Karanganyar dan Surakarta.
Tetapi, dia bermitra dengan
banyak distro di beberapa kota
untuk memasok produknya.
“Produk saya sudah menyebar
dari Aceh hingga Papua,” kata Ryo,
yang berencana membuka
cabang di Pontianak lantaran ada
investor yang berminat bekerja
sama.

Dua tahun terakhir, merek Rown
bahkan sudah masuk pasar
Malaysia dan Singapura. Tak lama
lagi, produknya akan juga bakal
dikirim ke Kanada. “Kalau soal
omzet yang pasti terjual lumayan
hingga ribuan pieces dengan
rentang harga mulai dari Rp
20.000 sampai Rp 800.000,” ujar
bungsu dari dua bersaudara ini.

Buah dari keisengan

Semangat bisnis Ryo sebetulnya
sudah muncul sejak berada di
kelas III sekolah dasar. “Saya
jualan gorengan dan kacang di
sekolah, semuanya mama yang
bikin. Upahnya lumayan buat
ditabung,” kenangnya sambil
terkekeh. Jualan gorengan ia
lakoni hingga duduk di bangku
SMP. Ketika SMA, dia sudah dapat
membuat desain dan sablon di
kain sarung pantai.
Ryo mulai merintis usaha distro
saat kuliah. Awal usaha ini
sebenarnya bukan berangkat dari
kesengajaan. Ketika masuk kuliah
pada tahun 2003, dia
membangun usaha patungan
bersama temannya dengan
memasarkan produk fashion
bermerek Ankles. Targetnya
adalah anggota komunitas
skateboard .

Sayang, usaha itu bubar. Ryo tak
lantas putus asa. Iseng-iseng dia
mendesain sebuah t-shirt . Tak
disangka, banyak yang meminati
desainnya itu. Permintaan pun
terus berdatangan. Pada tahun
2006, merek Rown lahir dengan
modal awal Rp 30 juta.

Awal berdiri, Ryo hanya memiliki
tiga karyawan. Ia juga menyewa
gerai seluas 3 meter x 10 meter.
Lambat laun, dari yang semula
memproduksi puluhan kaus,
permintaan bertambah menjadi
ratusan bahkan hingga kini
mencapai ribuan potong.
Pada 2008, Ryo mulai
mengembangkan usahanya. Ia
mendapat pinjaman dari bank.
“Saya meminjam Rp 100 juta
untuk pengembangan usaha.
Sekarang, aset saya sudah
miliaran,” ungkapnya tanpa mau
menyebut detail berapa besar.
Ryo juga terus menambah
karyawan, dari semula tiga
desainer, kini ia memiliki lima
desainer dan total karyawan
mencapai 40 orang. Gerai yang
semula seukuran “kamar” sudah
meluas menjadi 360 meter
persegi. “Saya sudah membuat
jenjang karier bagi para karyawan.
Namun, yang langsung melayani
pembeli saya bayar secara
harian,” cerita lulusan Jurusan
Ilmu Komunikasi Universitas
Sebelas Maret ini.

Dalam memasarkan produknya,
Ryo memakai berbagai cara jitu, di
antaranya menjadi sponsor di
beberapa acara anak muda
seperti pentas band. Untuk hal itu,
dia juga pernah menjadi sponsor
band Efek Rumah Kaca, MTV
Ampuh, MTV 100%, dan berbagai
film televisi (FTV). “Saya pantang
jualan produk rejected ,” katanya.
Ryo tak lantas puas dengan hasil
kerjanya. Ia menggunakan uang
hasil keuntungan untuk
memperluas bisnis. “Saya
berencana membuat produk jam
tangan dengan merek Rown dan
membuat sistem semi-waralaba
buat usaha ini,” ujarnya.
Ryo bilang, saat pesanan mulai
banyak, dia masih menghadapi
kendala, khususnya dalam
infrastruktur pengiriman. “Jika ada
permintaan dari luar negeri,
pengiriman sering terhambat,”
ujarnya. Ia berharap proses
pengiriman bisa lebih cepat.
(Cheppy A Muchlis/ Kontan)
Editor: Erlangga Djumena

sumber: http://m.kompas.com/news/read/2012/08/10/10291579/berawal.dari.iseng..ryo.kini.juragan.distro.beromzet.miliaran

Dulu Tukang Sapu, Kini Tri Pengusaha Sukses dengan Omzet Ratusan Juta

KOMPAS.com — Pernah menjadi
kuli dan tukang sapu, Tri Sumono
kini pengusaha sukses dengan
omzet ratusan juta. Ia mengawali
langkahnya di dunia usaha
dengan menjadi pedagang
aksesori kaki lima. Ulet dan tekun
membuat usahanya terus
berkembang.

Pepatah lama yang menyatakan
“hidup seperti roda berputar”
tampaknya berlaku bagi Tri
Sumono. Berawal dari menjadi
kuli bangunan hingga tukang
sapu, kini Tri sukses menjadi
pengusaha beromzet ratusan juta
rupiah per bulan.

Lewat perusahaan CV 3 Jaya, Tri
Sumono mengelola banyak
cabang usaha, antara lain,
produksi kopi jahe sachet merek
Hootri, toko sembako, peternakan
burung, serta pertanian padi dan
jahe. Bisnis lainnya, penyediaan
jasa pengadaan alat tulis kantor
(ATK) ke berbagai perusahaan,
serta menjadi franchise produk
Ice Cream Campina. “Saya juga
aktif jual beli properti,” katanya.
Dari berbagai lini usahanya itu, ia
bisa meraup omzet hingga Rp 500
juta per bulan.

Pria kelahiran
Gunung Kidul, 7 Mei 1973, ini
mengaku tak pernah berpikir
hidupnya bakal enak seperti
sekarang.
Terlebih ketika ia mengenang
masa-masa awal kedatangannya
ke Jakarta. Mulai merantau ke
Jakarta pada 1993, pria yang
hanya lulusan sekolah menengah
atas (SMA) ini sama sekali tidak
memiliki keahlian.

Ia nekat mengadu nasib ke Ibu
Kota dengan hanya membawa tas
berisi kaus dan ijazah SMA. Untuk
bertahan hidup di Jakarta, ia pun
tidak memilih-milih pekerjaan.
Bahkan, pertama bekerja di
Jakarta, Tri menjadi buruh
bangunan di Ciledug, Jakarta
Selatan. Namun, pekerjaan kasar
itu tak lama dijalaninya. Tak lama
menjadi kuli bangunan, Tri
mendapat tawaran menjadi
tukang sapu di kantor Kompas
Gramedia di Palmerah, Jakarta
Barat.

Tanpa pikir panjang, tawaran itu
langsung diambilnya. “Pekerjaan
sebagai tukang sapu lebih mudah
ketimbang jadi buruh bangunan,”
jelasnya.
Lantaran kinerjanya memuaskan,
kariernya pun naik dari tukang
sapu menjadi office boy . Dari
situ, kariernya kembali menanjak
menjadi tenaga pemasar dan juga
penanggung jawab gudang.

Pada tahun 1995, ia mencoba
mencari tambahan pendapatan
dengan berjualan aksesori di
Stadion Gelora Bung Karno,
Jakarta. Saat itu, Tri sudah
berkeluarga dengan dua orang
anak. Selama empat tahun Tri
Sumono berjualan produk-
produk aksesori, seperti jepit
rambut, kalung, dan gelang di
Jakarta. Berbekal pengalaman
dagang itu, tekadnya untuk terjun
ke dunia bisnis semakin kuat.
“Saya dagang aksesori seperti jepit
rambut, kalung, dan gelang
dengan modal Rp 100.000,”
jelasnya.

Setiap Sabtu-Minggu, Tri rutin
menggelar lapak di Stadion Gelora
Bung Karno. Dua tahun berjualan,
modal dagangannya mulai
terkumpul lumayan banyak.
Dari sanalah ia kemudian berpikir
bahwa berdagang ternyata lebih
menjanjikan ketimbang menjadi
karyawan dengan gaji pas-pasan.
Makanya, pada tahun 1997, ia
memutuskan mundur dari
pekerjaannya dan fokus untuk
berjualan.

Berbekal uang hasil jualan selama
dua tahun di Gelora Bung Karno,
Tri berhasil membeli sebuah kios
di Mal Graha Cijantung. “Setelah
pindah ke Cijantung, bisnis
aksesori ini meningkat tajam,”
ujarnya.

Tahun 1999, ada seseorang yang
menawar kios beserta usahanya
dengan harga mahal. Mendapat
tawaran menarik, Tri kemudian
menjual kiosnya itu. Dari hasil
penjualan kios ditambah
tabungan selama ia berdagang, ia
kemudian membeli sebuah
rumah di Pondok Ungu, Bekasi
Utara. Di tempat baru inilah,
perjalanan bisnis Tri dimulai.
Pengalaman berjualan aksesori
sangat berbekas bagi Tri Sumono.

Ia pun merintis usaha toko
sembako dan kontrakan. Sejak itu,
naluri bisnisnya semakin kuat.
Saat itu, ia langsung membidik
usaha toko sembako. Ia melihat,
peluang bisnis ini lumayan
menjanjikan karena, ke depan,
daerah tempatnya bermukim itu
bakal berkembang dan ramai.
“Tapi tahun 1999, waktu saya buka
toko sembako itu masih sepi,”
ujarnya.

Namun, Tri tak kehabisan akal.
Supaya kawasan tempatnya
tinggal kian ramai, ia kemudian
membangun sebanyak 10 rumah
kontrakan dengan harga miring.
Rumah kontrakan ini
diperuntukkan bagi pedagang
keliling, seperti penjual bakso,
siomai, dan gorengan.
Selain mendapat pemasukan baru
dari usaha kontrakan, para
pedagang itu juga menjadi
pelanggan tetap toko
sembakonya. “Cara itu ampuh
dan banyak warga di luar Pondok
Ungu mulai mengenal toko kami,”
ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, naluri
bisnisnya semakin kuat. Tahun
2006, Tri melihat peluang bisnis
sari kelapa. Tertarik dengan
peluang itu, ia memutuskan untuk
mendalami proses pembuatan
sari kelapa. Dari informasi yang
didapatnya diketahui bahwa sari
kelapa merupakan hasil
fermentasi air kelapa oleh bakteri
Acetobacter xylium .
Untuk keperluan produksi sari
kelapa ini, ia membeli bakteri dari
Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI) Bogor. “Tahap
awal saya membuat 200 nampan
sari kelapa,” ujarnya.

Sari kelapa buatannya itu
dipasarkan ke sejumlah
perusahaan minuman. Beberapa
perusahaan mau menampung
sari kelapanya. Tetapi, itu tidak
lama. Lantaran kualitas sari kelapa
produksinya menurun, beberapa
perusahaan tidak mau lagi
membeli. Ia pun berhenti
memproduksi dan memutuskan
untuk belajar lagi.

Untuk meningkatkan kualitas sari
kelapa, ia mencoba berguru ke
seorang dosen Institut Pertanian
Bogor (IPB). Mulanya, dosen itu
enggan mengajarinya karena
menilai Tri bakal kesulitan
memahami bahasa ilmiah dalam
pembuatan sari kelapa. “Tanpa
sekolah, kamu sulit menjadi
produsen sari kelapa,” kata Tri
menirukan ucapan dosen kala itu.

Namun, melihat keseriusan Tri,
akhirnya sang dosen pun luluh
dan mau memberikan les privat
setiap hari Sabtu dan Minggu
selama dua bulan. Setelah melalui
serangkaian uji coba dengan hasil
yang bagus, Tri pun melanjutkan
kembali produksi sari kelapanya.

Saat itu, ia langsung
memproduksi 10.000 nampan
atau senilai Rp 70 juta. Hasilnya
lumayan memuaskan. Beberapa
perusahaan bersedia menyerap
produk sari kelapanya. Sejak itu,
perjalanan bisnisnya terus
berkembang dan maju.

sukses menekuni usaha pembuatan
sari kelapa, perjalanan bisnis Tri
Sumono terus berkembang dan maju.
Tak lama menekuni bisnis sari kelapa,
ia kembali menjajaki peluang bisnis
baru.
Kali ini, peluang bisnis itu datang dari
salah satu perusahaan yang menjadi
konsumen sari kelapanya. Perusahaan
itu menawarinya proyek pengemasan.
“Saya diminta mengerjakan
pembuatan 3 juta saset produk
minuman susu,” ujar Tri.

Tanpa pikir panjang, ia pun
menyanggupinya. Supaya bisa fokus
menggarap proyek ini, bisnis
pembuatan sari kelapanya terpaksa
dihentikan. “Selain tenaga terbatas,
produksi sari kelapa masih seminggu
sekali sehingga tidak efisien,” jelasnya.
Selama dua tahun, Tri menggarap
proyek senilai Rp 2 miliar itu. Saat awal
mengerjakan proyek, ia langsung
mendapat bayaran separuh dari total
nilai proyek atau Rp 1 miliar.
Uang itu dipakainya buat mendirikan
perusahaan pengemasan. Selain buat
mengurus legalitas perusahaan,
sebagian juga dipakai buat
menyiapkan peralatan.

Setelah kontrak kerja sama berakhir
pada 2009, Tri kembali merambah
bisnis baru. Kali ini ia menekuni usaha
pembuatan kopi jahe merek Hootri.
Dengan memanfaatkan peralatan
pengemasan yang sudah dimilikinya,
produksi kopi ini bisa bertahan hingga
saat ini. “Sejak mendapat proyek
pengemasan saya sudah berpikir
untuk berbisnis minuman saset
seperti ini,” ujarnya
Saat ini, produksi kopi saset-nya
mencapai 1.000 karton per bulan.
Kopi tersebut dibanderol Rp 75.000
per karton yang berisi 120 saset.

Produk kopinya itu dipasarkan ke
wilayah Sumatra dan Kalimantan. Ia
sengaja menghindari pasar
Jabodetabek dan Pulau Jawa karena
tingkat persaingannya sudah sangat
ketat. “Sementara kompetitornya
banyak perusahaan raksasa yang
sudah terkenal,” ujarnya. Sampai saat
ini, Tri masih terlibat langsung dalam
semua aktivitas produksi kopi jahe
saset ini. Ia tak ingin hanya duduk dan
menanti laporan.
Hal serupa juga dilakukan terhadap
lini bisnisnya yang lain, seperti usaha
toko sembakonya. Konsep
manajemen seperti ini bukan berarti ia
tak percaya kepada karyawannya.
“Tapi justru saya ingin memberi
contoh dan semangat kepada
karyawan untuk bekerja maksimal,”
ujarnya.

Tri berharap, kelak produk kopinya
bisa semakin dikenal. Untuk itu, ia tak
berhenti melakukan inovasi. “Setelah
Lebaran kami akan merilis kopi hitam
dan kopi susu,” jelasnya.
Selain itu, ia juga berencana
memproduksi minuman kesehatan
beras merah. Setiap saset minuman
ini setara dengan sepiring nasi merah.
(Fahriyadi)

sumber: http://mobile.kontan.co.id//news/sukses-di-kopi-tri-merambah-minuman-kesehatan-3