Monthly Archives: September 2012

Donni, Modal Awal 300 Ribu, Kini Bisnis Buku Catatan ‘Nuwahardo’-nya Telah Beromzet 9 Jt/Bulan

Jakarta – Saat ini perkembangan
teknologi sangat pesat seperti
hadirnya komputer tablet,
smartphone dan lainnya. Hal ini
tidak meruntuhkan niat pria ini
untuk menjalankan bisnis produksi
buku catatan konvensional dengan
desain yang unik.

Adalah Donni Arifianto berani
meninggalkan karir lamanya
sebagai pelukis dan fotografer
untuk terjun ke usaha yang telah
ditekuninya selama kurang lebih 1
tahun.

Ide untuk membuat buku yang
diberi nama ‘Nuwahardo’ ini
terbesit saat ia menghadiri sebuah
acara seminar yang diisi oleh
Ridwan Kamil, seorang arsitek
tersohor di Indonesia, yang pada
saat itu menenteng buku catatan
kecil di tangannya.

“Sekarang orang hampir semua
punya smartphone, iPad. Apapun
sudah ada disana. Padahal
realitanya masih perlu media
konvensional. Waktu itu saya lihat
Ridwan Kamil bawa-bawa buku
catatan. Itu semakin membuat
saya yakin kalau ini (buku catatan)
masih dibutuhkan,” ungkapnya
saat kepada detikFinance, Senin
(10/9/12).

Dengan modal awal keberanian,
nekat dan uang Rp 300 ribu, saat
ini ia bisa mendapatkan omzet
senilai Rp 9 juta/bulan. Jumlah ini
memang tidak terlalu besar,
namun juga tidak terlalu kecil
untuk usaha pendatang baru.
Sampai saat ini, sudah banyak
kalangan yang memesan bukunya
pada pria yang akrab dipanggil Ido
ini. Mulai dari orang biasa hingga
publik figur, perseorangan,
maupun perusahaan.

“Alhamdulillah sudah banyak yang
mesan. Mulai dari perusahaan
Antam (Aneka Tambang) kemarin
pesan 100 terus repeat 25 buah
lagi. Publik figur juga ada yang
pesan, Kevin Aprilio, penulis
seperti Dewi “Dee” Lestari, Iwan
Setiawan, band Indonesia White
Shoes and The Couples Company,
banyak lagi,” paparnya.

Keunikan dari buku catatan yang
dijual Ido ini adalah semua proses
pembuatannya menggunakan
tangan sendiri atau handmade,
termasuk penjilidan dan
pengeleman, pengguntingan,
kecuali untuk proses grafir dan
laser. Bahan utama yang
digunakan adalah kertas, dan kulit
sebagai sampul.

Pemesan pun diizinkan untuk
membuat desain dan model
sendiri. Untuk desain, pria lulusan
Seni Rupa Universitas Pendidikan
Indonesia ini mengandalkan
keahlian terdahulunya sebagai
pelukis.

“Keistimewaaan dari buku ini, si
pemesan bisa pesan by request,
model sendiri tanpa minimum
order. Desainnya menarik tapi
elegan,” katanya.

Harga yang dipatok Ido untuk
‘Nuwahardo’ ini mulai dari Rp 150
hingga 175 ribu per buah,
tergantung adari ukuran buku
yang dipesan. Ia membidik
kalangan menengah ke atas sebagai
target utama pasarnya.

“Target pasarnya middle to high,
mahasiswa dan pekerja. Dari usia
20 tahun ke atas lah,” katanya.
Tak hanya dipasarkan di Indonesia,
rencananya pada bulan Oktober
nanti, produk ini akan juga
dipasarkan di negara-negara Asia.
Ia menyebut Manila dan Singapura
adalah negara yang akan
kedatangan produknya.

“Sudah ada pihak yang mau ikut
memasarkan juga. Insya Allah
nanti bakal dipasarin di negara
lain, Singapura dan Manila
Oktober nanti,” katanya.

Bagi anda yang tertarik untuk
berbisnis dengan pria ini untuk
memesan atau bahkan menjadi
reseller atau sekedar bertanya-
tanya apa yang menginsiprasinya,
anda bisa datang ke workshop
Nuwahardo di Kompleks Taman
Kopo Indah Blok E No 5, Bandung
Jawa Barat.( Zulfi Suhendra)

sumber: http://m.detik.com/finance/read/2012/09/10/112524/2013249/480/

Panut, Mantan Karyawan Ini Kini Jadi Bos Tas Rotan Kualitas Ekspor Beromzet Puluhan Juta

Jakarta – Menjadi karyawan atau
wirausahawan merupakan pilihan
bagi setiap orang. Hal ini yang
dialami oleh Panut Mulyajaya asal
Bantul, Yogyakarta.

Panut menggeluti usaha tas rotan
kualitas ekspor, setelah menjadi
karyawan selama 11 tahun pada
sebuah perusahaan mebel
berbahan baku rotan.

Berangkat dari pengalaman kerja
itu, pada tahun 2001, Panut
akhirnya mendirikan Anggun Rotan
yakni usaha pembuatan handicraft
berbahan baku rotan namun
dengan konsep produk berbeda.
Panut melihat peluang produk tas
berbahan baku utama rotan. Tidak
disangka, respons pasar terhadap
produk buatannya sangat tinggi.

“Saya ingin cari inovasi dan
produk baru, yang belum banyak
orang produksi tapi basic-nya
rotan, akhirnya ke handicraft
yakni tas,” kata Panut kepada
detikFinance saat ditemui di JCC
beberapa waktu yang lalu.
Seiring berlalunya waktu, pangsa
pasar produk tas rotan panut pun
meluas hingga negeri Sakura
Jepang dan Iran, Timur Tengah.

Selain itu, Panut mengaku pangsa
pasar produknya 50 persen
ditujukan untuk ekspor.
“Ekspor paling banyak ke Jepang,
Iran, ke Thailand juga ada,”
tambahnya.

Harga yang ditawarkan oleh
Anggun Rotan ralatif terjangkau
untuk kualitas dan model yang
ditawarkan. “Harganya Rp 50 ribu-
Rp 250 ribu karena saya produksi
sendiri pasarkan sendiri, kalau di
luar negeri jutaan,” tambahnya.
Usaha yang dijalankan Panut sejak
2001 silam ini, akhirnya berbuah
manis. Panut per bulan bisa
meraup omzet hingga Rp 80 juta.

“Dari karyawan 7 orang sekarang
40 orang, dulu omzet saya kecil
sekarang sudah lumayan. Omzet
Rp 80 juta per bulan,” sebutnya.
Bisnis tas rotan Panut selama 11
tahun ini juga penuh tantangan,
salah satunya ketika ia menerima
pesanan tas senilai ratusan juta
rupiah dari Iran. Setelah produk
pesanan jadi lantas pihak pemesan
malah tidak mengambilnya.
Namun pria lulusan Fakultas
Ekonomi Universitas Jember ini
tidak putus semangat, ia pun
memetik hikmah dari setiap
cobaan yang menerpa usahanya.
“Nilainya Rp 135 juta itu nggak
diambil,” sambungnya.

Pada kesempatan itu, Panut tidak
lupa berpesan kepada para calon
pengusaha ataupun yang sudah
berusaha. Ia mengatakan menjadi
seorang pengusaha harus optimis
dan total dalam berusaha serta
tidak takut gagal.

“Kalau setengah-setengah mending
tidak usah, jadi apa yang kita
kerjakan mesti berhasil, kalau itu
salah itu nomor dua yang penting
kita coba dulu,” pungkasnya.

Apakah anda tertarik terhadap
produk Anggun Rotan. Anda dapat
mampir ke Jalan Imogiri Km 14,
Manggung RT 02, Imogiri, Bantul,
Yogyakarta atau mengunjungi
website:
http://www.anggunrotanbag.com.
( Feby Dwi Sutianto)

Sumber: http://m.detik.com/finance/read/2012/09/28/113243/2042650/480/mantan-pegawai-pabrik-mebel-ini-kini-jadi-bos-tas-rotan-kualitas-ekspor

Rita dan Riko, Berawal dari Hobi, Curug Gentong-nya Kini Hasilkan Omzet Puluhan Juta

VIVAnews – Berawal dari hobi
hiking dan memiliki mimpi
memindahkan keindahan alam
tersebut ke rumah, bisnis ini
akhirnya dapat diwujudkan.
Curug Gentong, miniatur lanscape
yang disajikan dalam media gentong
itu hanya bermodal awal Rp5
jutaan, namun bisa meraup omzet
hingga puluhan juta rupiah per
bulan.

Rita Apriyanti (50) dan suaminya
Riko (52), mengawali bisnis ini
berdasarkan hobi. Dengan landasan
tersebut, jatuh bangun dalam
membangun bisnis tersebut
bukanlah permasalahan yang
berarti.

Menurut Rita, bisnisnya saat ini
sudah berkembang dan
menguntungkan. Bahkan, sampai
memiliki beberapa showroom
kerajinan tangan Curug Gentong.
Namun, hal yang terpenting, yakni
hasratnya dalam menuangkan
kreativitasnya dapat terakomodasi.
“Kalau kita membuat produk hasil
karya sendiri, tentunya ada
kepuasan,” ujar Rita saat
berbincang dengan VIVAnews di
Jakarta, Selasa 25 September 2012.

Rita menceritakan, Curug Gentong
ini bukanlah usaha yang pertama
kali digelutinya. Sebelum usaha ini,
dirinya pernah menggeluti produk
daur ulang pernak-pernik boneka
dengan bahan baku sedotan.
Kemudian, pada awal 2003, dirinya
dengan bermodal
pengalaman hiking beserta suami,
dari situ ide untuk menyulap
pemandangan alam ke dalam
gentong tercipta.

Rita menuturkan, pada awalnya
bukan gentong yang dijadikan
media penyajian keindahan alam
tersebut. Ia sempat menggunakan
kaleng bekas sebagai media. Tetapi,
karena ketidakpuasannya dalam
mengeksplorasi kreativitasnya di
media tersebut, dirinya mencari
media lain.
Gentong dipilih karena selain
memiliki ruang yang luas,
nuansanya juga menyatu dengan
alam.

Produksi awal kerajinan ini dibuat
guna menghiasi ruang tamu di
rumahnya. Kemudian, dirinya
sekali-sekali memberikan hadiah
kepada kawannya dengan kerajinan
ini pada saat momen-momen
tertentu. Namun, lama kelamaan,
pesanan pun mulai mengalir.

Karena antusiasme dari pasar yang
tinggi terhadap produknya, dia pun
memutuskan untuk menekuni bisnis
ini. Bahkan, kala itu, suaminya yang
masih bekerja di Grup Astra sebagai
mekanik, diminta mundur dari
pekerjaannya dan menekuni bisnis
ini.

Bermodal awal Rp5 juta untuk
membeli alat-alat pendukung,
omzet awal masih pas-pasan pada
tahun pertama saat memulai bisnis
ini. Tapi, dengan kerja keras tanpa
beban, akhirnya menuai hasil dan
dapat berkembang hingga
menghasilkan omzet hingga Rp70
juta per bulan.

“Kami tidak berpikir omzet, karena
direspons masyarakat bagus dan itu
keberuntungan untuk saya,”
tambahnya.
Curug Gentong dibanderol sesuai
dengan ukuran dan tingkat kesulitan
pemandangan yang disajikan.
Kerajinan ini dibanderol cukup
terjangkau seharga Rp200 ribu
hingga Rp1,5 juta per unit.

Saat ini, Curug Gentong memiliki
empat showroom yang tersebar di
Pulau Jawa yaitu, Depok, Cianjur,
Surabaya, dan Tangerang.
Rita mengatakan, pemasaran Curug
Gentong telah sampai ke Papua.
Selain dapat melihat langsung ke
showroom, pemesanan juga dapat
diakses melalui website http://
curuggentongku.wordpress.com/.
Hingga saat ini, hobi hiking
bersama suaminya masih terus
dilakukan. Selain untuk melepaskan
kepenatan dalam menjalankan
aktivitas sehari-hari, tradisi
tersebut juga dijaga guna mencari
inspirasi untuk menciptakan
pemandangan yang menawan.
Selanjutnya akan disalurkan melalui
miniatur pada gentongnya. (art)
( R. Jihad Akbar )

sumber: http://m.news.viva.co.id/news/read/354244-mendulang-omzet-puluhan-juta-dari-gentong

Rushdy, Resign dari Perusahaan Operator Seluler, Kini Raup Puluhan Juta dari Bisnis Lovely Jello

VIVAnews – Siapa sangka, puding
dan jelly yang biasa dijual di
pinggir jalan bisa membuat
seseorang berpenghasilan minimal
Rp50 juta per bulan. Hal itu telah
dibuktikan Rushdy, dengan
usahanya bernama Lovely Jello.

Rushdy belum lama menekuni
usahanya itu. Baru tiga tahun
bisnisnya berjalan, ia sudah
mempunyai 168 gerai Lovely Jello
di seluruh Indonesia, dari Sabang
sampai Merauke.

Keinginan pria berumur 32 tahun
ini membuka franchise (waralaba)
tersebut, bermula ketika dirinya
masih menjadi karyawan di
perusahaan operator seluler
terbesar di Indonesia.

“Saat itu, gaji saya sekitar Rp5 juta.
Itu pas, waktu saya keluar pada
Januari 2010,” ungkap Rushdy
ketika ditemui VIVAnews, beberapa
waktu lalu di Jakarta.
Sebenarnya, menurut Rushdy, ia
berkecimpung di bisnis waralaba itu
merupakan buah dari tantangan
beberapa temannya ketika masih
menjadi pegawai.

Selain bekerja di perusahaan
operator seluler, ternyata ia juga
mempunyai usaha lainnya, yaitu
berjualan es di mal dan membuat
event organizer bersama beberapa
temannya.
Ketika Rushdy mengadakan seminar
franchise, temannya menantang
dirinya agar membuka usaha
waralaba saja. Atas dasar itu, ia
yang memang sudah berjualan es di
salah satu pusat perbelanjaan di
Kediri itu, mulai fokus kepada
usaha barunya.

Akhirnya, pada Januari 2010, ia
resmi melepas status karyawannya
dan berfokus pada waralaba yang
dijalaninya hingga saat ini. “Waktu
itu, saya harus memilih, karena
keduanya tidak bisa berjalan
bersama-sama. Saya pilih usaha
sendiri,” ujarnya. (art)

sumber: http://m.news.viva.co.id/news/read/354722-meraup-puluhan-juta-dari-jajanan-jelly

Kenny dan Kevin, Usia Masih Belasan Tahun tapi Sudah Sukses Lewat Usaha Keripik Siput Pedas

KOMPAS.com — Inspirasi
membuka usaha bisa dari mana
saja. Peluang itu ditangkap
Kenny Kurniawan (14) dan Kevin
(14), yang mengawali bisnis
patungan membuat keripik
siput (bekicot). Ide ini ia dapat
ketika mengikuti kegiatan di
sekolahnya, SMP Anugerah
Pekerti, Surabaya.

Kala itu, guru mata pelajaran
Etika Lingkungan, Bangun
Pratomo, meminta Kenny dan
Kevin untuk mencari tahu soal
siput. Ketika tugas kelar,
Bangun membuka pikiran Kenny
dan Kevin bahwa binatang siput
memiliki khasiat yang sangat
tinggi dan baik untuk kesehatan.

Masukan gurunya semakin
membuat rasa ingin tahu Kenny
dan Kevin semakin besar soal
manfaat siput. Keduanya
memutuskan mencari manfaat
lain dari siput di dunia maya.
Setelah mendapat pengetahuan
yang cukup, mereka yakin usaha
siput cukup menjanjikan.
“Kita berpikir, olahan siput
belum banyak orang lakukan.

Akhirnya kita memutuskan
bisnis olahan siput yang sangat
menguntungkan. Apalagi dari
segi pesaing sedikit sekali,” ujar
Kenny Kurniawan, manajer
produksi Sipoet Zoen, kepada
Tribun, di FX Senayan, Jumat
(7/9/2012).

Usaha bersama yang dirintis
Kenny dan Kevin dimulai
pertengahan 2011. Sebelum
memutuskan untuk menjadikan
keripik berbahan baku siput,
muncul diskusi di antara
mereka. Setelah pikir-pikir,
mereka memutuskan siput
dibuat keripik sekaligus cemilan
menyehatkan.

Dengan sabar, mereka berbagi
tugas. Kevin dalam usaha ini
bertugas sebagai juru masak. Ia
mengaku suka sekali memasak
karena besar di lingkungan
keluarga yang dominan kaum
hawa. Di lingkungan ini, Kevin
ikut-ikutan belajar masak.
Kemampuannya memasak
menjadi modal Kevin.

Mengawali proses usaha ini bagi
Kevin dan Kenny cukup
mengasyikkan. Mereka sampai
harus mencari tahu di mana
mendapatkan bahan baku siput,
cara mengolah, sampai
memberikan cita rasa untuk
siput. Karena tak mungkin
mencari sendiri bahan baku
siput, keduanya memutuskan
untuk membeli siput yang
dioven setengah matang.
“Untuk mengolah siput jadi
keripik, harus dikeringkan. Kita
memutuskan membeli siput
yang setengah matang dioven.
Lalu kita goreng sendiri dan
langsung dikasih bumbu. Urusan
masak memasak langsung saya
yang menanganinya. Kalau
Kenny pegang marketing,”
terang Kevin.

Keripik siput pertama olahan
Kevin dibuat tanpa bumbu dan
masih mempertahankan rasa
orisinal. Keduanya memulai
pemasaran dengan membawa
keripik rasa orisinal ke sekolah.
Mereka berdua meminta teman-
teman dan guru untuk
merasakan keripiki siput rasa
orisinal.

Hasilnya, kebanyakan yang
merasakan keripik siput orisinal
produksi Kevin dan Kenny
belum menerima. Keduanya tak
putus asa. Justru dari teman-
temannya di sekolah, mereka
mendapatkan masukan. Tak
sedikit dari teman-teman
sekolahnya yang mengusulkan
diberi bumbu keju biar ada
rasanya.

Seusai sekolah, Kevin dan Kenny
memutar otak. Mereka sepakat
olahan keripik siput harus
diberi bumbu. Ide menaburkan
bumbu keju masukan dari
teman-teman di sekolah
ditampik Kevin. Menurutnya,
siput sudah memiliki cita rasa
tersendiri. Tapi, bumbu rasa
keju tidak pas untuk siput.
Kenny langsung mengeluarkan
ide, bagaimana jika siput diberi
bumbu pedas. Ide ini lalu
diterapkan Kevin dan hasilnya
diterima banyak orang. Apalagi,
teman-teman di sekolahnya
suka dengan yang pedas-pedas.
Muncullah ide untuk
menamakan keripik siput pedas
dengan keripik siput balado.
Setelah keripik siput balado
banyak peminatnya, sebagai
juru masak, Kevin melakukan
eksperimen dengan mengolah
keripik siputnya dengan rasa
barbeque dan rasa lada hitam.
Kevin dan Kenny puas setelah
keripik mereka ternyata
digemari adik kelasnya dan
menjadi cemilan paling dicari di
sekolahnya.
Berharap bisa diekspor
Usaha Kevin dan Kenny yang
usahanya bermodalkan awal Rp
1,5 juta menjadi tak sia-sia.

Ketika ada ajang Kidpreneur
Award 2012 yang digagas
Berani Magz dengan sponsor
Permata Bank, keduanya lolos
sebagai satu dari 10 tim finalis
dari peserta di seluruh
Indonesia sebanyak 250 tim.

Kegembiraan mereka makin
lengkap setelah dewan juri
memutuskan tim Keripik Siput
sebagai juara kedua dan
mendapat uang tunai Rp 10
juta. Bukan itu saja, tim Keripik
Siput juga menjadi juara favorit
versi Facebook dengan
memperoleh hasil polling
tertinggi. Untuk juara favorit,
mereka mendapat Rp 1 juta.
Menurut panitia, penilaian
mereka untuk gelar ini
ditentukan dari berapa banyak
orang yang mengklik tombol
“Like” di foto para finalis.
Hingga polling ditutup,
sebanyak 1.415 orang telah
memilih tim Kripik Siput ini.

“Waktu itu kita berpikir
juaranya cuma sekali, juara
favorit,” ungkap Kevin.
Salah satu nilai lebih tim ini,
menurut salah satu dewan juri,
adalah kemampuan mereka
memaparkan produknya di
depan khalayak umum. Mereka
terlihat komunikatif dan luwes
memasarkan produknya.
Ditambah, mereka terlihat
percaya diri tanpa canggung
sedikit pun.

Selama menjalani usaha keripik
siput, Kevin dan Kenny mengaku
tidak kesulitan untuk
pemasarannya. Mereka berdua
menerapkan strategi lips
marketing, pemasaran dari
mulut ke mulut. Hasilnya luar
biasa. Keripik yang mereka
titipkan di kantin sekolah
banyak digemari teman-teman.

Menurut Kenny, modal pertama
sebesar Rp 1,5 juta sudah
kembali. Modal itu awalnya
dipinjam dari orangtua Kevin
dan Kenny. Masing-masing
patungan Rp 750.000. Untuk
mengirit ongkos produksi,
pertama kali mereka masih
menggunakan kompor dan
penggorengan milik orangtua
mereka.
“Tapi sekarang modal yang kita
pinjam sudah kita kembalikan
kepada orangtua kita. Karena
maju, kita juga sudah memiliki
sendiri peralatan produksi,
seperti kompor, penggorengan,
sampai untuk packing produk,”
terang Kenny sambil
menambahkan bahwa usaha
patungan ini mendapat
dukungan keluarga.
Lewat usahanya, Kevin dan
Kenny sudah membangun
harapan bahwa produk keripik
siputnya kelak dapat diekspor.

Modal untuk itu terbuka setelah
keduanya mendapat
pengalaman berharga kala
karantina di ajang Kidpreneur
Award 2012. “Kan kita sudah
dapat masukan dari kakak-kakak
pengusaha,” terang Kenny.
Presiden Direktur Berani Magz,
H Witdarmono, menilai anak-
anak yang menjadi finalis
Kidpreneur Award 2012 sudah
mengenal uang, tetapi tidak
untuk menjadi materialistis.

Pelajaran terpenting yang bisa
diambil bahwa mereka tahu
perencanaan untuk
berwiraswasta. “Mereka berani
mengambil risiko dan mereka
ingin menjadi besar sekaligus
berjiwa sosial,” ungkapnya.
(Yogi Gustaman)
Editor: Erlangga Djumena

sumber: http://m.kompas.com/news/read/2012/09/11/0909585/kenny.dan.kevin..kecil.kecil.sudah.berbisnis