Buah Ketekunan Anas, Hantarkan Produk Tas Batok Kelapanya Rambah Eropa


Kerajinan batok kelapa atau
kerajinan tempurung kelapa telah
menjadi salah satu ciri khas Kota
Blitar, Jawa Timur. Bentuk kerajinan
tangan ini bermacam-macam.
Dari sekian banyak produk
kerajinan, yang cukup menonjol
adalah kerajinan tas batok kelapa.
Kerajinan ini salah satunya ditekuni
oleh Anas Faesol yang mengusung
brand Tas Bathok Koi.

Pria kelahiran Blitar, 30 September
1974 ini telah menekuni usaha
pembuatan tas batok kelapa sejak
awal tahun 2009. Selain tas batok,
ia juga memiliki bisnis penjualan
aneka suvenir aromatherapy dengan
brand Harum Aromatic di Bali.

Dari usahanya ini, Anas bisa meraup
rata-rata omzet antara Rp 120 juta
hingga Rp 150 juta per bulan,
dengan laba sekitar 10%. Anas
tertarik membuat tas wanita dari
batok karena bentuknya lebih
natural. Apalagi, Blitar amat kaya
tanaman kelapa.
Menurut Anas, motif tas yang
terbuat dari batok kelapa lebih
original dan bisa menjadi aksesoris.
Maklum, hampir semua kerajinan
dari bahan limbah ini memang
dibiarkan memiliki warna seperti
aslinya.

Kendati menjanjikan dan banyak
peminatnya, sukses yang diraih
Anas tidak didapat dalam waktu
singkat. Ia mengaku, telah
menghabiskan waktu setahun penuh
untuk melakukan percobaan guna
mencari bentuk tas yang benar-
benar pas.
Proses pembuatannya juga
memerlukan waktu dan kesabaran.
Sebab, batok kelapa yang digunakan
harus dipotong-potong dengan
ukuran 3 x 4 centimeter (cm), dan
4,7 x 4,7 cm.

Batok kelapa yang sudah dipotong
kemudian diamplas sampai halus
dan disortir dengan aneka
modifikasi sampai mengkilap.
Setelah itu dilakukan penjemuran.
Lalu potongan-potongan batok tadi
ditempel dan dijahit dengan benang
nilon ke kardus secara manual.
Kerja kerasnya ini mulai
membuahkan hasil di tahun kedua.
Produk tas yang dibanderol mulai
Rp 20.000 – Rp 190.000 per pieces
ini mulai dilirik banyak orang.

Ia mengaku, banyak konsumen
menjadikan tas batok sebagai
suvenir khas Blitar. Dalam sebulan,
ia memproduksi 3.300 pieces tas
dengan aneka ukuran. “Paling
banyak saya memproduksi 4.000
pieces,”jelasnya
Fulus ratusan juta rupiah per bulan
pun mengalir ke kantongnya. Untuk
membuat tas dari batok ini, Anas
dibantu 50 karyawan. Ia juga
memiliki empat showroom di Blitar
yang berfungsi sebagai tempat
pemasaran.

Selain lewat showroom, ia juga
menjual tasnya kepada para
pedagang di Yogyakarta. Oleh
pedagang, tasnya dipasarkan ke
sejumlah wilayah di Indonesia.
Bahkan, sampai ke mancanegara,
seperti Singapura, Malaysia dan
Italia.

Sejak tahun 2009 Anas Faesol
sukses menekuni usaha pembuatan
tas batok kelapa di Blitar, Jawa
Timur. Selain di dalam negeri,
kerajinan tas batok kelapanya juga
sudah dipasarkan hingga ke
mancanegara, seperti Singapura,
Malaysia dan Italia.

Sebelum sukses menjadi pengrajin
tas batok, Anas juga sudah sukses
menekuni usaha penjualan produk-
produk aromaterapi dan spa di Bali.
Profesinya sebagai penjual produk
aromaterapi sudah ditekuninya
sejak tahun 1999. Di Pulau Deawata
itu ia membuka toko khusus
aromaterapi dengan brand Harum
Aromatic.

Di toko itu ia menjual aneka produk
aromaterapi, seperti massage oil,
lulur aromaterapi, sabun
aromaterapi, dan produk garam
mandi. Harga produknya ini
beraneka ragam, mulai dari Rp
10.000 sampai ratusan ribu rupiah
per pieces.
Selain lewat toko, ia juga
memasarkan produk-produknya itu
lewat internet. “Saya membuat
website khusus untuk menawarkan
produk aromaterapi,” katanya.

Selama hampir tujuh tahun
menekuni usaha ini, bisnisnya terus
bertumbuh. Namun, ia tidak cepat
berpuas diri dengan sukses yang
sudah diraihnya.
Naluri bisnisnya justru bangkit
untuk merambah bidang usaha lain.

Makanya, ketika ia meilai bisnis
aromaterapinya sudah benar-benar
sukses, ia memutuskan untuk
meninggalkan usaha ini.
Maka, pada tahun 2006, Anas pun
menyerahkan toko aromaterapinya
untuk dikelola orang profesional.

Lalu, ia memilih pulang ke kampung
halamannya di Blitar untuk
memulai bidang usaha baru.
Ketika pulang ke Blitar, ia tidak
langsung menekuni usaha
pembuatan tas batok kelapa.
Namun, ia mengawali bisnis di
kampung halamannya ini dengan
menjadi penjual alat-alat kerajinan
di lokasi makam Bung Karno.

Sementara bisnis di Bali tetap
berjalan dan tetap dipantaunya.
Ia memilih berjualan di lokasi
pemakaman sang proklmator
karena ramai wisatawan. Di lokasi
ini, ia membuka empat toko khusus
penjualan produk-produk kerajinan
khas Blitar.

Produk-produk yang dijualnya
seperti tas dan dompet yang
terbuat dari batik, eceng gondokm,
dan batok kelapa. Selain itu, ada
juga hasil kerajinan kayu jati,
seperti lampu petromak, tempat
payung, dan jam dinding.

Produk-produk kerajinan itu
diambil langsung dari sejumlah
perajin di Blitar.Selain melayani
penjualan ritel, tokonya juga
melayani penjualan grosir dengan
harga lebih miring.

Selama berjualan, ia terus
mencermati minat konsumen
terhadap produk kerajinan yang
dijualnya. Ia mengaku, salah satu
produk yang paling banyak
oeminatnya adalah tas batokn
kelapa.

Dari situlah, Anas kemudian
terdorong untuk memproduksi
sendiri tas tersebut. Pada tahun
2009, ia pun mulai merintis
pembuatan tas batok kelapa dengan
brand Tas Bathok Koi.

Agar bisnisnya terus berkembang, ia
rajin melakukan perjalanan ke luar
kota untuk membuka relasi dengan
para pengusaha lainnya. Dari
situlah, produk tasnya bisa
merambah berbagai daerah di
Indonesia.

Setelah sukses menekuni usaha
pembuatan tas batok kelapa, Anas
Faesol ingin mendirikan toko pusat
oleh-oleh skala besar di Blitar, Jawa
Timur. Lewat toko itu, ia ingin
memperkenalkan produk-produk
kerajinan khas Blitar.

Anas Faesol termasuk seorang
pebisnis yang ulet dan jeli melihat
peluang usaha. Setelah sukses
menekuni usaha pembuatan tas
batok kelapa, kini ia berencana
merambah bisnis lain.
Ia berambisi untuk mendirikan toko
oleh-oleh khas daerah dalam skala
besar di Blitar. Saat ini, Anas
memang sudah memiliki empat
toko khusus penjualan produk-
produk kerajinan khas Blitar.
Namun, toko-toko tersebut masih
tergolong kecil dan terpisah-pisah.

Beda dengan toko yang akan
didirikannya nanti.
Selain barang kerajinan, nantinya
toko itu akan menjual juga produk-
produk lain, seperti jajanan khas
Blitar. Intinya, ia ingin semua oleh-
oleh khas Blitar bisa diperoleh di
tokonya. “Selama ini, pusat oleh-
oleh di Blitar masih menyebar di
sejumlah penjuru dan belum
terpusat di suatu lokasi,” katanya.
Padahal, Blitar termasuk ramai
dikunjungi wisatawan, terutama
mereka yang akan berziarah ke
makam Bung Karno.
Anas sendiri sudah menghitung-
hitung biaya yang diperlukan untuk
mendirikan pusat oleh-oleh itu.
“Butuh dana sekitar Rp 800 juta
sebagai investasi awal,” jelas Anas.

Biayanya lumayan besar karena ia
harus membeli tanah di kawasan
perkotaan. Ia menargetkan,
pendirian toko oleh-oleh khas Blitar
itu bisa diwujudkan paling lambat
dalam dua tahun ke depan.
Untuk itu, sekarang ia sudah mulai
fokus menabung. Anas mengaku
tertarik mendirikan pusat oleh-oleh
lantaran ingin memperkenalkan
produk-produk kerajinan khas Blitar
ke khalayak ramai.
Kendati berambisi mendirikan toko
skala besar, Anas tetap akan
mempertahankan toko miliknya
yang sekarang sudah ada. Keempat
toko tersebut menjual aneka oleh-
oleh, mulai dari produk kerajinan
sampai makanan khas Blitar, seperti
keripik buah dan jenang atau dodol.

Selain itu, ia juga tetap fokus
mengembangkan usaha pembuatan
tas batok kelapa yang sekarang
sedang ditekuninya. Menurutnya,
permintaan terhadap tas nan unik
ini semakin tinggi. “Tapi sumber
daya yang saya miliki belum
optimal,” katanya.
Saat ini, ia hanya bisa memproduksi
sebanyak 3.300 pieces tas batok
kelapa dalam sebulan. Namun, bila
permintaan sedang tinggi,
produksinya bisa digenjot hingga
4.000 pieces.
Anas ingin, ke depannya bisa
menggenjot lagi jumlah produksi tas
batok buatannya itu hingga
mencapai 5.000 pieces per bulan.
Anas yakin produksi sebanyak tiu
akan terserap pasar. Apalagi, bila
toko oleh-olehnya nanti sudah
berdiri. “Tentu pemasarannya akan
lebih baik,” ujarnya.

Kendati menggenjot produksi, ia
mengaku tetap memerhatikan
kualitas produk tasnya. Sebab ada
kecenderungan, jika suatu bisnis
sudah laris, maka kualitas produk
akan menurun lantaran fokus pada
permintaan tanpa memperhatikan
kualitas lagi.
Nah, Anas tak ingin seperti itu.
“Kualitas produk tetap yang nomor
satu,” tuturnya.

Selain terus meningkatkan kualitas
produk, ia juga fokus meningkatkan
kualitas pelayanan kepada
pelanggan. Misalnya, selalu
berupaya memenuhi janji kepada
konsumen. Hal itu dilakukan untuk
menjaga kepercayaan konsumen.
( Noverius Laoli)

sumber: http://mobile.kontan.co.id/news/anas-berambisi-dirikan-toko-oleh-oleh-terbesar-3/2012/09/12

Advertisements

About wirasmada

Wirausaha Muda

Posted on 25/09/2012, in Industri Kreatif. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: