Kenny dan Kevin, Usia Masih Belasan Tahun tapi Sudah Sukses Lewat Usaha Keripik Siput Pedas


KOMPAS.com — Inspirasi
membuka usaha bisa dari mana
saja. Peluang itu ditangkap
Kenny Kurniawan (14) dan Kevin
(14), yang mengawali bisnis
patungan membuat keripik
siput (bekicot). Ide ini ia dapat
ketika mengikuti kegiatan di
sekolahnya, SMP Anugerah
Pekerti, Surabaya.

Kala itu, guru mata pelajaran
Etika Lingkungan, Bangun
Pratomo, meminta Kenny dan
Kevin untuk mencari tahu soal
siput. Ketika tugas kelar,
Bangun membuka pikiran Kenny
dan Kevin bahwa binatang siput
memiliki khasiat yang sangat
tinggi dan baik untuk kesehatan.

Masukan gurunya semakin
membuat rasa ingin tahu Kenny
dan Kevin semakin besar soal
manfaat siput. Keduanya
memutuskan mencari manfaat
lain dari siput di dunia maya.
Setelah mendapat pengetahuan
yang cukup, mereka yakin usaha
siput cukup menjanjikan.
“Kita berpikir, olahan siput
belum banyak orang lakukan.

Akhirnya kita memutuskan
bisnis olahan siput yang sangat
menguntungkan. Apalagi dari
segi pesaing sedikit sekali,” ujar
Kenny Kurniawan, manajer
produksi Sipoet Zoen, kepada
Tribun, di FX Senayan, Jumat
(7/9/2012).

Usaha bersama yang dirintis
Kenny dan Kevin dimulai
pertengahan 2011. Sebelum
memutuskan untuk menjadikan
keripik berbahan baku siput,
muncul diskusi di antara
mereka. Setelah pikir-pikir,
mereka memutuskan siput
dibuat keripik sekaligus cemilan
menyehatkan.

Dengan sabar, mereka berbagi
tugas. Kevin dalam usaha ini
bertugas sebagai juru masak. Ia
mengaku suka sekali memasak
karena besar di lingkungan
keluarga yang dominan kaum
hawa. Di lingkungan ini, Kevin
ikut-ikutan belajar masak.
Kemampuannya memasak
menjadi modal Kevin.

Mengawali proses usaha ini bagi
Kevin dan Kenny cukup
mengasyikkan. Mereka sampai
harus mencari tahu di mana
mendapatkan bahan baku siput,
cara mengolah, sampai
memberikan cita rasa untuk
siput. Karena tak mungkin
mencari sendiri bahan baku
siput, keduanya memutuskan
untuk membeli siput yang
dioven setengah matang.
“Untuk mengolah siput jadi
keripik, harus dikeringkan. Kita
memutuskan membeli siput
yang setengah matang dioven.
Lalu kita goreng sendiri dan
langsung dikasih bumbu. Urusan
masak memasak langsung saya
yang menanganinya. Kalau
Kenny pegang marketing,”
terang Kevin.

Keripik siput pertama olahan
Kevin dibuat tanpa bumbu dan
masih mempertahankan rasa
orisinal. Keduanya memulai
pemasaran dengan membawa
keripik rasa orisinal ke sekolah.
Mereka berdua meminta teman-
teman dan guru untuk
merasakan keripiki siput rasa
orisinal.

Hasilnya, kebanyakan yang
merasakan keripik siput orisinal
produksi Kevin dan Kenny
belum menerima. Keduanya tak
putus asa. Justru dari teman-
temannya di sekolah, mereka
mendapatkan masukan. Tak
sedikit dari teman-teman
sekolahnya yang mengusulkan
diberi bumbu keju biar ada
rasanya.

Seusai sekolah, Kevin dan Kenny
memutar otak. Mereka sepakat
olahan keripik siput harus
diberi bumbu. Ide menaburkan
bumbu keju masukan dari
teman-teman di sekolah
ditampik Kevin. Menurutnya,
siput sudah memiliki cita rasa
tersendiri. Tapi, bumbu rasa
keju tidak pas untuk siput.
Kenny langsung mengeluarkan
ide, bagaimana jika siput diberi
bumbu pedas. Ide ini lalu
diterapkan Kevin dan hasilnya
diterima banyak orang. Apalagi,
teman-teman di sekolahnya
suka dengan yang pedas-pedas.
Muncullah ide untuk
menamakan keripik siput pedas
dengan keripik siput balado.
Setelah keripik siput balado
banyak peminatnya, sebagai
juru masak, Kevin melakukan
eksperimen dengan mengolah
keripik siputnya dengan rasa
barbeque dan rasa lada hitam.
Kevin dan Kenny puas setelah
keripik mereka ternyata
digemari adik kelasnya dan
menjadi cemilan paling dicari di
sekolahnya.
Berharap bisa diekspor
Usaha Kevin dan Kenny yang
usahanya bermodalkan awal Rp
1,5 juta menjadi tak sia-sia.

Ketika ada ajang Kidpreneur
Award 2012 yang digagas
Berani Magz dengan sponsor
Permata Bank, keduanya lolos
sebagai satu dari 10 tim finalis
dari peserta di seluruh
Indonesia sebanyak 250 tim.

Kegembiraan mereka makin
lengkap setelah dewan juri
memutuskan tim Keripik Siput
sebagai juara kedua dan
mendapat uang tunai Rp 10
juta. Bukan itu saja, tim Keripik
Siput juga menjadi juara favorit
versi Facebook dengan
memperoleh hasil polling
tertinggi. Untuk juara favorit,
mereka mendapat Rp 1 juta.
Menurut panitia, penilaian
mereka untuk gelar ini
ditentukan dari berapa banyak
orang yang mengklik tombol
“Like” di foto para finalis.
Hingga polling ditutup,
sebanyak 1.415 orang telah
memilih tim Kripik Siput ini.

“Waktu itu kita berpikir
juaranya cuma sekali, juara
favorit,” ungkap Kevin.
Salah satu nilai lebih tim ini,
menurut salah satu dewan juri,
adalah kemampuan mereka
memaparkan produknya di
depan khalayak umum. Mereka
terlihat komunikatif dan luwes
memasarkan produknya.
Ditambah, mereka terlihat
percaya diri tanpa canggung
sedikit pun.

Selama menjalani usaha keripik
siput, Kevin dan Kenny mengaku
tidak kesulitan untuk
pemasarannya. Mereka berdua
menerapkan strategi lips
marketing, pemasaran dari
mulut ke mulut. Hasilnya luar
biasa. Keripik yang mereka
titipkan di kantin sekolah
banyak digemari teman-teman.

Menurut Kenny, modal pertama
sebesar Rp 1,5 juta sudah
kembali. Modal itu awalnya
dipinjam dari orangtua Kevin
dan Kenny. Masing-masing
patungan Rp 750.000. Untuk
mengirit ongkos produksi,
pertama kali mereka masih
menggunakan kompor dan
penggorengan milik orangtua
mereka.
“Tapi sekarang modal yang kita
pinjam sudah kita kembalikan
kepada orangtua kita. Karena
maju, kita juga sudah memiliki
sendiri peralatan produksi,
seperti kompor, penggorengan,
sampai untuk packing produk,”
terang Kenny sambil
menambahkan bahwa usaha
patungan ini mendapat
dukungan keluarga.
Lewat usahanya, Kevin dan
Kenny sudah membangun
harapan bahwa produk keripik
siputnya kelak dapat diekspor.

Modal untuk itu terbuka setelah
keduanya mendapat
pengalaman berharga kala
karantina di ajang Kidpreneur
Award 2012. “Kan kita sudah
dapat masukan dari kakak-kakak
pengusaha,” terang Kenny.
Presiden Direktur Berani Magz,
H Witdarmono, menilai anak-
anak yang menjadi finalis
Kidpreneur Award 2012 sudah
mengenal uang, tetapi tidak
untuk menjadi materialistis.

Pelajaran terpenting yang bisa
diambil bahwa mereka tahu
perencanaan untuk
berwiraswasta. “Mereka berani
mengambil risiko dan mereka
ingin menjadi besar sekaligus
berjiwa sosial,” ungkapnya.
(Yogi Gustaman)
Editor: Erlangga Djumena

sumber: http://m.kompas.com/news/read/2012/09/11/0909585/kenny.dan.kevin..kecil.kecil.sudah.berbisnis

About wirasmada

Wirausaha Muda

Posted on 27/09/2012, in Kuliner. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: